RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 BAB 124

Posted on

Woi Bego, Dengar, Ya

Penerjemah : Daffa Cahyo

—Berapa kali Subaru datang ke ruangan ini untuk menemuinya?

Kali pertama mereka bertemu, Subaru teramat mudah menggagalkan ilusi perpindahan koridor dan masuk ke Perpustakaan Terlarang.

Kesan pertama mengenai satu sama lain sungguh mengerikan.

Beatrice menguras Mana seseorang yang masih dalam proses penyembuhan, perbuatannya langsung merobohkan Subaru. Setelahnya dia mesti menahan dendam kesumat tak berkesudahan Subaru.

Mereka akan saling menghina setiap kali bersua, walaupun seiring berjalannya waktu mereka nyambung-nyambung saja, Subaru mendapati dirinya berhenti di Perpustakaan Terlarang.

Beatrice dan Subaru sudah sering ikut turnamen berteriak, saling mercerca, hampir dua bulan ini Subaru tinggal di Mansion, semuanya demi satu percakapan non-dewasa ini.

Perbincangan mereka berubah setelah Seleksi Kerajaan dimulai dan Subaru kembali dari Ibu Kota.

Beatrice menolak kehadirannya. Mengetahui masa lalunya di Sanctuary ketika Beatrice sedang absen, Subaru menemukan sejarah serta takdirnya, maka dari itu si pria paham beberapa alasan atas kekeraskepalaannya.

Lalu mengoceh seolah tahu apa-apa, mencoba memahami kesendiriannya—dan Beatrice yang telah lama kehilangan air mata setelah empat ratus tahun lamanya, tengah meratapi kesedihannya.

Tiada yang bisa dilakukan pemuda itu pada seorang gadis yang lagi letih. Keputusan mendadak membuat Beatrice merenggang nyawa, Subaru persis melihat ekspresi terakhir di wajahnya saat Beatrice melindunginya.

Ekspresi itu sudah terpatri ke dalam ingatannya. Emosinya kacau-balau, pada akhirnya Subaru kembali lagi.

—Agar kali ini, apa pun yang terjadi, Subaru akan mengeluarkannya.

“Mengeluarkanku ….?”

Beatrice kebingungan terhadap ucapan Subaru barusan. Lebih erat memeluk Kitab, menarik lutut hingga dada selagi duduk di atas tangga.

“Campur tangan yang tak perlu, kayaknya. Malahan tidak ada yang memintamu.”

“Bukan soal meminta atau dimintai. Aku mengeluarkanmu dari sini. Bagaimanapun juga.”

“Enyahlah dan suruh gadis tolol itu berikan pangkuannya, kayaknya.”

“Dasar kau … kita sedang perang! Kau bicara begitu padahal lagi perang!”

Beatrice mengungkit topik saat-saat Subaru mengemban beban lebih di Mansion ini, menguatkan suaranya semata-mata untuk mengalihkan perhatian dari rasa malu.

Beatrice mendengus dan memalingkan wajah.

“Pokoknya, bukan waktunya untuk bersedih hati di sini. Sama sekali tidak punya waktu untuk menunda semuanya. Tahukah kau apa yang terjadi di luar?”

“… Aku memang tahu beberapa tamu tak diundang telah datang ke Mansion, kayaknya. Setelah si pelayan besar dan kecil melakukan sesuatu, dua orang sinting mulai menggila, kayaknya.”

“Strateginya seperti ini karena aku tahu dia kelewat baik.”

Efek restorasi dari Divine Blessing of Earth-Soul Garfiel berarti kondisinya sekarang sekitar 80-90%. Ditambah keragu-raguannya, Garfiel adalah daya tempur yang cukup besar. Tetapi Subaru bimbang apakah dia berani membunuh lawannya, karena hal demikian akan menghambat kekuatan penuhnya, sebab itu merupakan sisi minusnya.

Sedangkan Elsa dalam kondisi fit. Subaru memperhitungkan kekuatan tempurnya yang aneh dan tak terjelaskan adalah perlombaan hebat melawan Garfiel dalam performa terbaiknya pula. Kekurangan Elsa adalah mencari kenikmatan dalam pertempuran, namun imoralitasnya absurd. Pernyataan Elsa tidak menjelaskan apakah membunuhnya berkali-kali ‘kan menutup usianya atau tidak. Hipotesis Subaru memutuskan bahwa Elsa unggul sedikit.

“Tapi apabila strateginya berhasil, Frederica pastinya menjemput Rem selagi Garfiel melawan Elsa. Petra menemui Otto, lantas tinggal satu orang pengungsi penting yang mesti dievakuasi sebelum menyelamatkan semua orang.”

“Pengungsi penting … maksudmu Betty-lah orang terakhir itu, kayaknya.”

“Ya, benar itu.”

Subaru menitahkan Petra untuk pergi menemui Otto, Otto sendiri mengamankan para penduduk Desa Arlam, mundur setelah membantu beberapa orang di Mansion.

Subaru repot-repot mendatangi Perpustakaan, semestinya Petra sudah sampai pada Otto.

“Jadi, aku mengeluarkanmu dari sini. Kalau tidak ingin lari sambil memegang tangan, nanti aku gendong atau membopongmu atau sesukamulah, jadilah gadis baik, ikutilah aku dan ….”

“Aku tidak ingin mengulanginya lagi, kayaknya. Aku tidak butuh bantuanmu, kayaknya.”

Subaru menghampiri dan mengulurkan tangannya kepada Beatrice, namun suara lirihnya menolak Subaru. Laki-laki itu berhenti di hadapan Beatrice yang menoleh memandangi ruangan.

“Dengar, ya? Ruang terisolasi yang layak dilindungi Betty, terpisah dari genggaman waktu. Ini adalah Perpustakaan Terlarang Beatrice, kayaknya. Entah sedang ada ancaman apa di luar, ancaman itu takkan mampu menggapai Perpustakaan Terlarang Betty. Ketakutanmu tidak masuk akal, kayaknya.”

“Tidak, mereka perlu bantuanmu. Keacakan Perpustakaan memang betulan menguntungkan kalau untuk sarana pelarian, betul itu … tapi, ada kelemahan fatal. Dan musuh tahu kelemahan itu.”

“Kelemahan, fatal?”

Beatrice mengerutkan alis, tak bisa membiarkan komentar itu. Namun Subaru menanggapi sorot mata tajam itu dengan anggukan, kemudian menunjuk pintu di belakangnya.

“Kekuatanmu yang secara acak menghubungkan ruang ke beberapa pintu Mansion memang kuat. Sayangnya … hanya bekerja pada pintu tertutup. Seandainya kau membiarkan pintunya terbuka, kau seratus persen akan menggapai Perpustakaan, karena kehilangan pintu sampai satu ruang saja.”

“—Ugh.”

“Tolol banget. Aku yakin kau juga tidak tahu. Aku juga penasaran mengapa tidak menyadarinya dari dulu sampai menyaksikannya sendiri.”

Subaru ingat ketika Elsa menguak rahasia Door Crossing, menemukan Perpustakaan. Bila Garfiel tidak menyibukkannya, Elsa tak salah lagi akan datang ke sini menggunakan metode yang persis sama. Kemungkinan besar akan mengambil nyawa Beatrice.

“Kendati, bukan berarti aku meremehkanmu, atau bilang kau ini lemah. Hanya saja keanehannya itu kelas ekstrim. Kalau kita bisa berhasil tanpa mengalahkannya, itu saja lebih baik.”

Andaikan mereka dapat mengalahkan Elsa maka Subaru ingin mensukseskannya, tetapi tidak jadi persyaratan penting untuk menyelesaikan seri perulangan ini. Sekiranya memang benar Roswaal-lah yang mempekerjakannya, lantas selama Subaru melewati batas waktu pertaruhan di Sanctuary, Roswaal takkan lagi menghadirkannya. Seluruh masalah lambang di Ibu Kota membuktikan Elsa yang menarik diri. Entah bagaimana, saat ini mereka kudu bertahan dari serangan Mansion dan—

“Beatrice. Tempat ini tidak aman. Misalkan kau tidak di sini, Elsa tak akan mengubrak-abrik Perpustakaan. Jadi ….”

“Darimana wanita itu tahu cara menembus Door Crossing Betty?”

“—”

Subaru meludahkan chip taruhan yang pas untuk membujuk Beatrice agar pergi.

Namun Beatrice mungkin mendengarkan mungkin juga tidak, kabar angin bukanlah sesuatu yang dicari Subaru.

Lelaki itu terbungkam. Beatrice tetap berada di atas tangga.

“Tak terbayangkan bila secara tiba-tiba tahu celah Door Crossing Betty padahal baru pertama kali menemuinya. Siapa pun orang yang memberitahukannya tentu tahu aku, kayaknya.”

“Beatrice. Sekarang bukan waktu untuk berdebat —”

“—Roswaal, ya.”

Subaru tak kuasa mengalihkannya.

Pemikiran cepatnya membuat tenggorokan Subaru tercekat.

Melihat reaksinya, Beatrice mengerti semuanya. Roswaal mempekerjakan Elsa, tujuannya adalah membunuh Beatrice. Berarti—

“Tertulis dalam Kitab Roswaal bahwa aku akan mati terbunuh, kayaknya.” tidak mengindahkan penegasan ataupun penolakan Subaru, Beatrice mendesah.

Subaru tidak berimajinasi jikalau merasa lega dalam desahannya. Tidak dapat berkomentar apa-apa, dia malah lebih menekan Beatrice.

“Berkenankah memberitahuku maksud desahan itu? Kenapa juga tampangmu terlihat setuju!?”

“Lha iya, aku setuju. Bilamana Kitab Roswaal memerintahkannya untuk berbuat demikian, lantas takdirku sudah ditetapkan pula, kayaknya.”

“Persetanlah … Kitab Roswaal hanyalah Kitab, dan Kitabmu hanyalah Kitab! Kitabmu tak serta-merta mengatakan kau akan mati karena dibunuh Roswaal, benar!?”

Sambil menunjuk, Subaru memelototi Kitab di tangan Beatrice.

Seumpama tiada yang berubah dari perualangan sebelumnya, kalau begitu empat ratus tahun yang ditulis buku itu semata-mata kertas putih kosong belaka.

Paras Beatrice berubah suram lanjut membuka halaman Kitab. Membukanya lebar-lebar dan menampakkannya ke Subaru—menunjukkan sebuah buku yang kosong-melompong.

“Tidak tertulis apa-apa. Identik sebagaimana biasanya, hanya halaman kosong, kayaknya.”

“Kalau begitu tidak perlu mati dibunuh Roswaal seperti yang Kitab katakan! Sama sajalah, kaulah yang memutuskan perbuatanmu!”

“… Masih sama rupanya, aku yang memutuskan?”

“Ya! Tidak ada yang tertulis berarti kau mesti menghadapi berbagai pilihan. Hal kecil sampai besar, kaulah orang yang memilih setiap jalannya! Jadi kau tidak perlu lagi menuruti keinginan pihak lain, entah—”

“Memangnya dalam hidup ini aku pernah memutuskan apa?” pertanyaan suram itu menghancurkan momentum Subaru.

Menatap Subaru sambil kebingungan, matanya menampakkan melankolis. Membolak-balikkan halaman kosong.

“Waktu-waktu yang dihabiskan Betty dalam Mansion Roswaal, melindungi Perpustakaan yang Ibu percayakan padaku, tanpa akhir, tanpa akhir … kapan aku punya waktu bebas? Sejak kapan Betty, yang telah hidup empat ratus tahun ditemani tulisan, pernah meninggalkan jejak di suatu tempat dunia ini? Beatrice pernah ngapain, dia siapa?”

“Bea, trice ….”

“Hidup Betty, empat ratus tahun Betty, sekosong Kitab ini. Kehampaan. Yang aku pilih, yang aku raih, yang bisa kubuktikan … tiada.”

Beatrice menutup Kitab dan meletakkannya di pangkuan. Membelai penutupnya seraya mengucap lirih:

“Aku layaknya buku kosong. Kehilanganku di sini adalah kehilangan hal kosong, teks tanpa huruf. Tak berarti bagi siapa pun, zzsssssssbuku yang disorongkan menuju rak belaka—lebih baik lagi kalau buku itu hilang, ya.”

“Bagaimana kalau ada orang yang tidak ingin buku itu hilang?”

Beatrice merasa sedang meninggalkan empat abad serta masa depannya. Subaru berhasil mengimbuh kata yang terhubung ke hatinya.

Subaru belum menemukan jawaban apa pun perkara jeritan penuh air mata Beatrice kala itu.

Kendati demikian, seandainya dia gagal berbicara saat ini, Beatrice akan menyerah.

“Kau sebut bukan apa-apa, kosong. Tapi pasti ada sebuah buku yang terjepit dalam rak buku sana. Ada orang yang tahu buku itu eksis. Bahkan mungkin ada orang yang ingin mengambil buku itu lagi nanti, kau kira mereka membiarkan semuanya menyimpang dan hancur sendiri?”

“Buku itu tak punya judul ataupun penulis, kayaknya. Andai kata orang baik hati ini memang ada, dia yang membuka buku tersebut dan melihat isinya pasti akan dikecewakan. Buku kosong tersebut juga tak ingin menjilid ekspresi kekecewaan pada si pembaca, kayaknya.”

“Kalau begitu! Kalau begitu ngapain tuh buku ada di rak!”

“—”

Wajah tanpa emosi Beatrice menatap Subaru. Rasanya mencekat, menutur seluruh dialog yang kurang makna jelas ini. Kepala Subaru mendongak, terus menjangkau hati Beatrice yang jauh.

“Andaikan seseorang yang mengambilnya hanya akan kecewa … terus untuk apa buku itu? Bukankah buku itu dibuat karena punya makna?”

“… Sang penulis membuat buku itu demi seseorang. Buku itu didesain nampak kosong untuk semua orang kecuali Orang itu, kayaknya. Sekiranya memang punya makna, maka kini makna buku tersebut telah mencapai Orang itu.”

“Kalau begitu—”

“Buku itu tak boleh dibuang sebelum sampai pada Orang itu, begitukah maksudmu, kayaknya.”

Subaru menelan nafas.

Tersadar sebelum menyuarakan kehendaknya. Beatrice melihat wajah Subaru, senyum sedih terpampang di paras si pria.

“Jelas. Bila Betty benar-benar sebuah buku … lantas ia bersedia menunggu hari itu.”

Beatrice akan menunggu hari-hari jemari Orang itu membolak-balikkan halaman.

Seumpama dia sebuah buku.

—Namun Beatrice bukan buku. Dia seorang gadis kecil, takut akan isolasi jangka panjang.

“Misalkan aku ini buku tanpa jiwa dan pikiran … maka aku akan memegang teguh perintah Ibu selamanya. Aku akan terus bisa menjadi Beatrice cantik milik Ibu selamanya, kayaknya.”

Andai dia suatu entitas boneka, tak punya hati dan terdiri dari ornamen saja, dia takkan setuju untuk bernegoisasi.

Kiranya dia entitas layaknya buku, tak tergoyahkan seiring berlalunya waktu, dia takkan pernah bersedih.

Tapi Beatrice bukanlah buku.

“Tetapi aku punya hati. Bila mana waktu berlalu tentu aku memikirkan sesuatu, sekurang-kurangnya menghilangkan rasa kepercayaanku pada yang kupercayai. Aku menderita dan bimbang, kayaknya. Banyak malam yang kuperjuangkan tuk menyelamatkan memoriku, karena telah melupakan wajah Ibu, rupa senyumnya!”

“—”

“Ada waktu-waktu diriku tidak tahan sendirian, ingin sekali menyentuh seseorang! Tapi semuanya meninggalkanku! Terserah mereka bilang apa, asalkan mengatakannya pada hal yang lebih penting dariku, tegaskan maksud mereka, tinggalkanlah aku! Ibu pergi! Roswaal pergi!—Bahkan Lewes juga pergi!”

Beatrice berteriak, wajahnya merengut, hampir meneteskan air.

Mendengar nama Lewes membuat Subaru mengingat apa yang dia dengar di Sanctuary mengenai masa lalu Beatrice. Informasi tersebut diungkapkan para Lewes, perwakilan Lewes Meyer. Pertemanannya dengan Beatrice singkat, namun ikatan cerita mereka kokoh—Karenanya masih meninggalkan bekas luka di hati Beatrice.

“—Sudahlah.”

Beatrice termakan emosi. Nada suaranya parau.

Raut wajahnya, terpelintir emosi, menuju perangai apatis seperti biasanya saat memeluk buku dalam pangkuan.

“Kitab Betty tidak menggambarkan masa depan Betty …. Aku sudah lama tahu itu. Bahkan Ibu telah lama mengabaikan nasib Betty.”

Kurangnya tulisan perihal masa depan berarti sang pemilik Kitab sudah menemui jalan buntu. Menilai Subaru yang memiliki Kitab Betelgeuse, sebagaimana Beatrice menilai buku bertulisan permanen. Menilai bahwa hal serupa terjadi pada dirinya sendiri.

“Misal takdir Betty telah dituliskan dalam Kitab Roswaal … sungguh menyedihkan, kayaknya. Namun tak memudahkanku. Tidak mungkin Roswaal akan setengah-setengah soal itu, kayaknya.”

“Seorang teman lama ingin membunuhmu … kok bisa kau masih bersantai-santai?”

“Jelas banget.”

Beatrice mengangguk.

Senyum singkat penuh kasih sayang tumbuh di wajahnya.

“Jika Kitab Roswaal menuliskan takdirku … berarti Ibu tidak benar-benar melupakanku, kayaknya.”

—Berubah

Sosok tersenyum Beatrice menyadarkan Subaru yang baru saja tenggelam dalam aliran emosi.

Berubah. Wajah Beatrice yang bersuka cita ketika berhubungan dengan cinta sang Ibu tidak disembunyikan. Subaru tahu bahwa kejadian yang terjadi ini, disebabkan kasih sayang sang ibu—ya tidak mungkinlah.

“Kau mikirin apa?”

Subaru menggigit bibir dan menahan sensasi yang terkumpul dalam diri sambil melangkah maju.

Tampang Beatrice terselubungi perhatian kala merasakan getaran merisaukan dari Subaru.

“—”

“Aku bertanya, kayaknya. Sekarang tujuanmu apa? Kalau aneh-aneh, takkan kuampuni, kayaknya. Aku sudah menerima takdir ini.”

“Nerima apaan. Kau tidak ada bedanya dengan Roswaal. Tidak, paling tidak dia sadar diri, kau malah lebih buruk. Sudah tidak tertolong lagi, justru lebih-lebih parah.”

Amarah terkumpul dalam dirinya.

Suatu emosi yang terus-menerus diperangi Subaru sejak seluruh kejadian dalam Sanctuary.

Marah pada diri sendiri ketika menantang Ujian, marah pada para Penyihir yang memainkannya, marah pada Garfiel yang meremehkannya karena keras kepala nan kekanak-kanakan, marah pada Roswaal sebab mematuhi Kitab dan mengumbar kerapuhan perasaan, marah pada Emilia dikarenakan tidak percaya diri atau yakin pada cinta Subaru—

—Kini ia marah pada Emilia, serta semua orang yang menyudutkannya sampai separah ini.

“Dasar bego. Persetan soal takdirmu, persetan soal intruksi Ibumu, semua orang di sekitarmu menganggapnya menyedihkan. Kau punya hati? Bukan buku? Tentu saja bukan, pekok. Apakah bersembunyi dalam ruangan berjamur ini membuatmu menyadarinya?”

“Be ….!”

Mata Beatrice membeliak, wajahnya terkejut—marah-marah.

Berdiri di atas tangga, roknya bergoyang-goyang sembari menunjuk Subaru.

“Kau! Kau pikir kepada siapa berkomentar seperti itu, kayaknya! Aku bego, aku bego? Beraninya kau bilang begitu … apalagi olehmu! Memangnya kau tahu apa soal Betty!”

“Aku tahu kau bego, kau sendiri pun tidak tahu itu, jelas aku lebih mengenalmu! Bego! Bego! Bego! Begoooooooooooo!”

“K-k-kau ….!”

Subaru menunjuk jari tengahnya seraya menyumpah-nyumpah, membuat wajah Beatrice merah padam sekaligus membungkamnya. Kemarahannya terlampau luar biasa sampai terdiam seribu bahasa. Mencari celah-celah semacam itu kebetulan adalah keahlian Subaru.

“Empat ratus tahun tak berarti? Anjinglah! Empat ratus tahun kau habiskan hanya untuk menangis dan memeluk lutut! Waktu selama itu semestinya untuk berpikir, mengapa selalu mengandalkan satu jawaban! Buku tidak menuliskan apa-apa berarti kau tidak melakukan apa-apa? Ga punya otak!?”

“T-tentu saja aku memikirkan sesuatu! Karena senantiasa melakukannya, ya! Memangnya kau tahu berapa kali aku menguji untuk mencari tahu apakah isi Kitab akan berubah atau tidak! Entah seberusaha apa, seberapa lama aku menunggu, sama sekali tidak berubah!”

“Karena itulah kau gak ada otak! Buku itu tidak punya apa-apa, lantas kau bekerjalah dan coba buat tulisannya muncul, parah dah, tinta tak terlihat pada kartu Tahun Baru? Tidak ada yang mengiranya! Kalau tidak berhasil-berhasil, pikirkan kemungkinan lain!”

“K-kemungkinan, lain ….”

“Jelasnya. Kemungkinan besar buku Ibumu salah.”

Beatrice benar-benar terdiam. Namun dia seketika membentaknya, menganggap bodoh kata-kata Subaru.

“Jaga mulutmu! Ibu tidak seidiot itu, kayaknya! Kau … kau tidak dapat memahami pemikiran luas Ibu!”

“Tidak, tidak paham sama sekali, dasar bego. Memangnya aku peduli pada apa yang ibumu pikirkan. Yang kita bicarakan adalah kau. Kau juga yang bilang, benar. Kau bilang tidak mungkin seidiot itu. Beneran tuh? Bukti darimana? Kau bahkan tidak pernah meragukan Ibumu sekali pun?”

“Apa, yang ….”

“Empat ratus tahun! Tersia-siakan oleh buku kosong-melompong! Orang yang kau tunggu juga tak akan pernah datang! Menghabiskan seluruh waktu sendirian, padahal bisa-bisa saja selama itu kau anggap konyol, dan tidak pernah sesaat pun memikirkannya? Serius sungguh-sungguh tidak mengira semua ini aneh!?”

Empat abad dihabiskan atas dasar kepercayaan kepada seseorang.

Bisa jadi seperti seorang mahluk murni. Walaupun sebenarnya rusak. Terutama menghabiskan hidupnya cuma untuk memikirkan orang itu, semata-mata menggubris ucapan-ucapan mereka.

Apalagi tatkala kau Beatrice, yang menyangka hasratnya takkan pernah terwujud, dan hampir menyerah.

“T-tidak mungkin Ibu bisa salah! T-tentu saja dia takkan pernah salah. Dia tuh Ibu! Emangnya kau boleh membantah perkataan Ibu sendiri!?”

“Tentu saja aku bantah! Pikirku hal-hal yang dikatakan Ibuku kurang kredibilitas! Parahnya ketika mendengar sebuah satelit jatuh ke atmosfir, satelit jatuh ke prefektur Aichi dan aku langsung girang lalu membawa-bawa teropong besar tanpa memastikan kebenarannya, meyakini perkataannya saja! Kala itu aku masih kelas 3 SD!”

Subaru tak pernah lupa hari dia dengan tulus menerimanya, menyebarkan desas-desus tentang itu, menjadi bahan tertawaan satu sekolah.

Sejak saat itu Subaru tidak pernah percaya omongan orang tuanya. Ucapan-ucapan ayahnya sudah dianggap tidak konkrit.

“Empat ratus tahun, tak pernah sekejap pun meragukannya!? Umurku bahkan belum genap dua puluh tahun, tapi sangat sering bertarung melawan ayah sendiri sampai lupa sudah berapa kali. Umurmu dua puluh kali lipatnya tapi tidak pernah merasa demikian sedetik pun, ha?”

“Kau … kau ingin aku bilang apa, kayaknya!? Aku sungguh tidak paham! Tujuanmu, inti pernyataanmu, misterius bagi Betty! Misterius!”

“Sekali lagi aku teriakkan keras dan jelas! Agar pribadi bego dirimu dan Ibumu dapat mendengarnya!”

Beatrice hendak memeluk kepala dan berputus asa saat Subaru mendekat, kemudian meraih tangannya.

Beatrice mendongak. Subaru mendekatkan wajahnya, sampai merasakan nafas satu sama lain, lanjut menegaskan sesuatu pada gadis yang berlinangan air mata.

“Jangan terombang-ambing oleh sebuah buku dan janji berumur empat ratus tahun—Jadilah orang yang memilih setiap kehendakmu sendiri, Beatrice.”

“—”

“Empat ratus tahun. Masa yang cukup lama untuk memberontak.”

Beatrice mengagumkannya sukses mematuhi setiap perintah orang tuanya.

Tekad besi untuk menepati janji itu telah melahirkan kesunyian dan rentang waktu kehampaan.

Ibunya, Echidna, nampaknya mendapati waktu-waktu dalam kesedihan itu rasanya manis, namun bagi Subaru itu tidak berperikemanusiaan.

Lupa cara menangis serta perasaan hendak menangis, persetan soal kemurnian sesuatu. Jangan membuat Subaru muntah.

Tangan Beatrice masih dalam genggaman Subaru, duduk di atas tangga, Beatrice mengalihkan pandangannya dari Subaru.

Tingginya saat duduk di tangga teratas setara dengan mata Subaru. Menundukkan kepalanya ke bawah, membiarkan bibirnya bergerak ….

“K, kalau begitu … ini, maksudmu, kayakknya. Betty, melanggar perintah Ibu.”

Subaru tidak menjawab apa-apa.

“Tinggalkan semua hal yang kau percayai selama berabad-abad ini dan terbebaslah … begitu maksudmu, kayaknya.”

Suara goyahnya perlahan-lahan kembali tenang.

Suaranya sudah terdengar tidak terkejut lagi, Subaru merasa rambutnya berdiri. Sejak datang ke dunia ini, sensasi tersebut adalah hal yang telah dia asah benar-benar. Demikianlah sensasi kehadiran yang terlalu berbahaya.

“—Menyatakan bahwa aku, Beatrice! Melanggar kontrak! Terserah kau ngomong apa!”

“—Ugh!?”

Seakan diterpa angin ribut, Subaru terhempas ke belakang.

Punggungnya menabrak lantai Perpustakaan, masih dikelubungi oleh angin yang membantingnya ke dinding. Nafasnya tercekat. Tulang-tulang di sekujur tubuhnya berderit dan penglihatannya berbayang-bayang saat mengangkat kepala.

Beatrice masih betah di atas tangga, namun wajahnya kelewat murka ketika melihat Subaru.

“Kontrak hukumnya absolut! Absolut! Khususnya kontrak antara Roh dan Penyihir. Kau ingin kontraknya dibatalkan secara sepihak, oleh seorang roh? Kau tidak mengerti apa-apa, kayaknya! Hal semacam itu tak termaafkan! Tak satu jiwa pun! Tak satu hal pun! Aku pun tak membiarkannya!”

“—!”

Subaru mendesah biar rasa sakit dalam dirinya keluar sembari beranjak bangun.

Kemarahan Beatrice tidak terpadamkan, tampang imutnya tetap kental dengan kebencian. Subaru mengangkat kepala dan tertawa jahat.

“Kau kacau, Beatrice. Belum sadar-sadar juga kau ini tidak jelas? Tentu kau sudah sadar, kan. Kau ini orang yang pintar.”

“Diam, ya.”

“Tidak, aku takkan diam. Membatalkan kontrak? Keren tuh. Kalau kau sangat tidak ingin menepati janji sampai-sampai mau mati saja, yasudah hentikan. Tidak ada yang menyalahkanmu juga.”

“Aku menyalahkan diriku sendiri! Kenapa tidak paham-paham juga, kayaknya!? Kontrak tuh absolut, dan mempertahankannya ….”

“Kenapa kau tidak paham-paham? Bila menjaga kontrak membuatmu terbunuh, seharusnya kau langgar kontrak itu dan hiduplah. Anehkah memilih cara demikian?”

Subaru dengan mudahnya membuang kontrak-kontrak yang dipegang teguh Beatrice. Anak perempuan itu tidak menutur apa-apa lagi. Subaru saat ini mungkin kelihatan bak mahluk keji tak terdefinisi. Subaru mendapati dirinya lebih membingungkan ketika menerima julukan itu.

Menepati janji memang penting, tentu saja Emilia sudah menjejalkan pemahaman itu berkali-kali karena Subaru sendiri telah melanggar janji, pria itu juga telah melalui banyak pengalaman menyakitkan sebab menghancukan suatu janji. Subaru sendiri pun tahu menjaga janji hukumnya amat penting.

Kendati begitu, si laki-laki tidak ragu-ragu untuk mengacaukan kontrak Beatrice. Alasannya baru saja dia paparkan.

Apabila ada yang menuntut agar Beatrice menunaikan janji dan mati, Subaru mengubah pola pikir orang itu dan berkata: Dia akan menghancurkan kontraknya dan memastikan keselamatan Beatrice. Subaru bahkan tidak berpikir panjang untuk melakukannya.

“Otak buruk tidak habis-habismu sudah tak tersembuhkan lagi …”

“Aku tahu tidak ada habis-habisnya, maaf mengatakannya. Tapi teramat penting jadi aku tidak menyerah.

Pendirian Subaru sudah bulat sejak awal. Dari sangat awal, mengenai masalah perasaan Beatrice.

Beatrice tidak kuasa menyembunyikan kepanikan dan kebingungannya terhadap Subaru yang menghina-hina kontrak. Tentu saja Beatrice tidak menerimanya. Kontrak adalah sesuatu yang penting bagi para roh.

 Setelah mengamati hubungan antara roh dan pengguna roh, Subaru tahu hubungan itu kuat, berat, dan tak tergoyahkan.

Ia tahu, ia pula mengimbuhnya:

Kau lebih penting dari kontrak.

“A-apakah kau, adalah … Orang itu ….”

Respon Subaru perihal kontrak sangat-sangat berlebihan.

Paras Beatrice mulai rapuh, di ambang kekacauan.

Bibirnya membicarakan orang tak penting yang Beatrice tunggu-tunggu selama ratusan tahun.

Kehadiran fiktif yang diciptakan kekejaman Echidna sehingga dia tahu Beatrice memilih siapa.

Beatrice ingin diselamatkan.

Cara Subaru mengucapkannya menggetarkan hati Beatrice sampai menangis adalah bukti paling faktual.

“Apakah ….”

Mata berair Beatrice fokus sepenuhnya pada Subaru.

Bibirnya labil, tidak bisa diam.

“Maukah … kau menjadi Orang itu Betty?”

Pertanyaan ini bisa jadi menghentikan penuh seluruh kejadian selama empat abad ini.

Bisa jadi seperti apa yang diperintahkan Echidna, menjadikannya pribadi yang diinginkan sang Penyihir. Siapatah yang dimaksud Beatrice sebagai Orang itu?

Sang Penyihir memanfaatkan putrinya tuk memuaskan keingintahuannya sendiri, membiarkannya menghabiskan empat ratus tahun dalam kesendirian.

Ganjaran atas seluruh waktu itu ada dalam pertanyaan ini.

Beatrice menahan nafas. Subaru menatap sepasang matanya lekat-lekat, kemudian mendeklarasikan:

“Apa kau dungu?—Jelas-jelas aku ini bukan Orang itu misteriusmu itu.”


Setelah persilatan lidah intens di Perpustakaan, Beatrice memungut buku-buku yang diterbangkan angin dan mengembalikannya ke rak-rak bagiannya.

Meskipun telah jatuh ke lantai, untung tidak satu pun buku terpisah dari jilidnya.

Beatrice menyesali perbuatannya karena dilakukan dalam Perpustakaan, lega karena kerusakannya kecil.

Mereka adalah rekan-rekannya yang menyertai empat ratus keterasingan.

Beatrice tidak bohong soal ingin menjadi buku. Seringkali menfantasikan dirinya menjadi tulisan-tulsian buku, sesuatu yang bisa menunggu tanpa mengguncang hatinya. Kini harapan itu bagaikan ide bodoh.

“Kupikir, itu menggelikan, kayaknya.”

Kondisi malang tempatnya terpojok.

Mengejek dirinya sendiri. Namun dalam dada kecilnya, ejekan tersebut berubah menjadi amarah.

“Orang itu … orang itu … benar-benar deh, apa yang salah padanya!”

Memikirkannya saja membuatnya emosi, nyaris saja menginjak-injak lantai.

Ingin sekali melampiaskan emosi-emosi itu pada sesuatu, sayangnya segala sesuatu di tempat ini teramat-amat berharga karena diperintahkan Ibunya.

Tidak menemukan hal apa pun untuk melampiaskan kemurkaannya, Beatrice cuma bisa menunggu emosinya mereda.

Mengembalikan buku terakhir ke rak sambil mendesah lalu membenarkan penampilannya. Lanjut duduk kembali di tangga, membuai sebuah buku hitam—dan ia berhenti.

Buku kosong. Buang saja buku itu! Dia mengatakannya semudah itu, berkali-kali pula.

Kemudian di saat-saat penting, Subaru menolak opsi yang memungkinkan Beatrice membuang jauh-jauh barang itu. Sungguh-sungguh, sepenuhnya, sangat tidak bisa dipahami sampai membuatnya marah.

“Aku lelah ….”

Namun kemarahannya tidak bertahan selamanya.

Beatrice tidak mengembungkan pipinya lagi, mengambil buku yang ragu-ragu dia pegang, kemudian diletakkan ke dada.

Ujung-ujungnya, hingga akhir, mengandalkan sesuatu adalah satu-satunya cara untuk melindungi batinnya.

Sebagaimana tulisan Kitab Roswaal, akhir Beatrice akan tiba.

Emosi macam apa yang dia rasakan selagi menunggu akhirnya?

Berakhir juga. Bukankah sentimen hebat?

Semestinya Beatrice merasakan itu, entah sekarang barulah dia betul-betul merasakannya, si gadis merasa kalah.

—Dasar otak udang. Entah bagaimana kata-kata tersebut masih bertahan, mendekam dalam hatinya.


Terhempas oleh gelombang angin, Subaru berguling-guling di koridor sampai punggungnya menabrak dinding. Sisi tubuhnya menghantam tiang, membuatnya menjerit dan menggeliat.
“Ghah! Haghhh …. M-mustahil! Di tengah-tengah pembicaraan, si idiot itu ….!”

Pintu di depannya tertutup rapat-rapat. Subaru menghampiri pintunya, wajahnya sangat kesal, namun tempat yang dia paksa buka bukanlah Perpustakaan Terlarang—melainkan ruang tamu.

Door Crossing telah diaktifkan, dan Subaru diusir dari Perpustakaan.

“Aku kelewat membuatnya sebal sampai-sampai dia mengusirku … sial, kata-kataku kacau!”

Tutur yang hendak disampaikan Subaru tidak salah, namun berlawanan cara mengatakannya dan menunjukkannya.

Alhasil Subaru terusir dari Perpustakaan, kian jauh dari keberhasilannya.

“Benar juga, tidak boleh diam di sini. Mesti menemukan Beako dari pintu lain dan ….!”

“N-Natsuki-san?”

Subaru berbalik, berpikir untuk menaklukkan pintunya melalui seleksi acak, namun suara seseorang memanggilnya. Keakraban suaranya, panggilan itu membuat Subaru tersandung dan matanya membelalak.

Pandangannya tertuju pada Otto yang mengintip dari kamar sebelah, seharusnya dia berada di tempat lain. Yang mengintip di bawah Otto adalah Petra, ia juga mengintip Subaru.

“K-kalian berdua? Kenapa masih tinggal di Mansion? Bukannya aku sudah bilang untuk menunggu dan pergi setelah membuka pintu?”

“Sayangnya, situasi di luar seratus persen telah berubah ….” Otto menggelengkan kepala, tampangnya pucat saat Subaru mendekat.

Otto tidak mungkin bercanda pada situasi-situasi seperti ini. Otto membatalkan pelariannya, pasti ada sesuatu yang melatarbelakanginya.

“Ada apa? Jelaskan secara singkat.”

“Monster Iblis. Sekawanan Monster Iblis tengah melingkari Mansion, kami tidak bisa bergerak.”

“Monster Iblis!?”

Mata Subaru membeliak lebar terhadap informasi tak terduga itu kemudian menatap Petra untuk memastikannya. Gadis itu pun mengangguk beberapa kali sebagai tanggapan.

“Anu, ada banyak Monster Iblis yang rupanya bukan seperti anjing … macam ular berkepala dua, ada juga kayak tupai, jumlahnya banyak.”

“Apa monster-monster itu tinggal di hutan terdekat?”

“Ya, tapi … penghalang sepatutnya menghalangi mereka.”

“Penghalang lagi ….”

Tatkala bencana Monster Iblis sebelumnya, penghalang antara Desa Arlam dan hutan yang mengelilingi Mansion sudah diperbaiki.

Setelahnya, mereka memprioritaskan pencarian kelemahan penghalang, bisa-bisanya ada kesalahan selama waktu singkat tersebut.

Paling pentingnya lagi, entah kenapa para binatang buas lagi mengepung Mansion.

“Seperti anak anjing dulu, salah satu dari mereka ada yang aneh ….? Bagaimana dengan para penduduk Desa Arlam? Mereka baik-baik saja?”

“Aku tidak menemukan satu pun Monster Iblis ketika mengevakuasi mereka, dan karena menggunakan kereta dari Duchess untuk kabur, mereka harusnya aman-aman saja. Patrasche-chan menuntun mereka.”

“Oke. Untunglah seperti itu.”

Seekor naga pintar lebih dapat diandalkan untuk membimbing mereka ketimbang orang sembarangan. Seraya mendoakan kebaikan Patrasche, Subaru menggertakkan giginya. Situasi berubah ke jalur tak dikenal lagi.

Serangan Monster Iblisbelum pernah terjadi sebelumnya.

Tentu saja, mengingat waktu serangan, pasti ada hubungannya dengan serangan Elsa.

“Frederica dan Rem bagaimana?”

“Kami belum bertemu Kakak Besar Frederica atau Rem-san …. Ermm, a-aku rasa mereka tidak bisa menerobos dan melarikan diri.”

“Berarti masih ada di Mansion. Untunglah monster-monster itu masih di luar, Garfiel bagaimana?”

Subaru membelai kepala Petra, memuji hati kuatnya karena tetap tenang dalam situasi mendesak. Seumpama Subaru masih seumurannya, dia sudah ngompol sambil menangis-nangis. Namun keadaan melarang mereka untuk tinggal diam.

“Kita dimana? Mansion sebelah mana?”

“Sebelah timur. Garfiel seharusnya bertarung di sebelah barat, aku sarankan kita menjauhi area sana biar terhindar dari kerusakan ….”

“Jadi, rute pelarian paling yahud adalah ….”

Tentu saja Subaru kudu membawa Beatrice juga, tetapi keselamatan Otto dan Petra penting pula. Subaru jatuh dalam renungan, membayangkan peta Manison untuk mencari rute pelarian sepasti mungkin. Akan tetapi, sebuah suara menghapus renungan Subaru:

“—Aduh? Kalian semua ternyata berkumpul di sini, menunggukukah?”

Indranya membeku, seolah-olah ada pisau yang bertengger di leher mereka, semua orang di sana membatu kaku.

Subaru segera menarik tangan Petra dan memeluknya erat-erat kemudian takut-takut melirik ke belakang.

Lebih jauh di koridor sana, diterangi cahaya rembulan, nampak langkah kaki seseorang yang mendekat. Tak lama kemudian sepasang kaki tak asing bersimbah cahaya ….

“Garfiel ngapain sih!?”

“Akan kurobek-robek keluar usus cantik kalian bertiga—”

Menghentak lantai di hadapan Subaru yang menjerit, bayangan hitam sang Pemburu Usus melesat maju.