Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 123 A

Posted on

Pemburu Usus Melawan Tameng Sanctuary

CH 123 A.jpg

Penerjemah: Amicia Souls

“Paham? Total empat orang di Mansion yang perlu kita selamatkan. Mereka semua semua perempuan.” di gerbong, Subaru mengangkat empat jari sembari menjelaskan.

Pemandangan silih berganti selagi melaju di sepanjang jalan rusak. Anehnya tak ada angin atau hentakan. Sekalipun sensasinya samar mau berapa kali dialami, Subaru mengangguk kepada dua orang yang melihat jarinya.

“Pertama Frederica. Kakak kawan Garfiel kita. Anggap penyerangnya sudah ada di sana, hanya Frederica yang bisa memberi kita waktu.”

“Kakak, hmm …. Tidak berjua selama sepuluh tahun.” terlihat tidak tenang, Garfiel menggaruk rambut pendek pirangnya.

Garfiel bersikeras untuk tetap bertahan di Sanctuary. Baginya sulit menghadap Frederica yang sudah dahulu meninggalkan Sanctuary ke dunia luar.

“Kau beneran belum bertemu selama satu dekade? Meneliti Margrave dan Ram-san, kedengarannya mereka sering berpergian dari Mansion ke Sanctuary.”

“Kakak pasti canggung juga. Dia kagak pernah akrab sama si Roswaal anjing … rupanya dia juga ngirim banyak surat.”

“Rupanya?”

“Tidak gua baca, langsung kasih nenek.”

Garfiel mengalihkan pandangannya, kelihatan kesal. Sikap canggungnya di depan kakak perempuan mirip anak kecil. Reuni mereka pasti akan emosional.

Subaru mendesah. Kesan Otto perkara semua ini nampak hampir sama selagi memegang kendali. “Yang kedua pastinya Petra-chan.”

“Ya. Pelayan baru nan penuh harapan Mansion Roswaal, Petra yang kedua. Dia tuh gadis desa biasa-biasa saja, jadi jikalau dia dijadikan target, 100% buruk.”

Penyerangan Mansion Roswaal sejauh ini telah merenggut nyawa Petra 100%.

Ketiga gadis lainnya akan sangat-sangat mati, namun Petra sama sekali tidak melawan. Masuk akal seandainya dia cepat diurus.

Sekiranya Petra ingin terlindungi, mereka mesti menemukannya sesegera mungkin.

“Selanjutnya Rem. Dia adik Ram. Walau kalian barangkali takkan mengingatnya.”

“Gua masih kagak percaya, Kapten. Ram yang punya adik kembar identik. Kok bisa gua lupa, emangnya gua yang hebat ini kenal lama dia?”

“Penyebabnya adalah Kutukan, Ram sendiri melupakannya. Soal kutukan, itu jadi topik di lain hari, tapi … omong-omong, Rem tidak mendesak amat. Pembunuh yang menyerbu Mansion, Elsa, tidak menargetkan Rem. Kurasa majikannya tidak mengetahui keberadaan Rem ketika mempekerjakannya.

“Meskipun, seumpama saja Elsa menemukan Rem-san tengah tertidur di Mansion, aku ragu pertemuan itu akan berakhir damai.”

“… Kau benar soal itu.”

Kita membicarakan Elsa.

Rem mungkin tidak dalam daftar tuannya, tetapi bila Elsa menemukannya, dia mungkin akan iseng-iseng jahat. Walaupun Subaru tidak melihatnya secara langsung, Rem telah dibunuh dalam perulangan-perulangan ini. Dia hanya bisa berdoa agar Rem tidak berada dalam kamar yang kebetulan dibuka Elsa.

“Terlepas dari hal itu, bergantung pada rencana musuh tidak bisa disebut strategi hebat.”

“Aku yang mengandalkan kalian, juga mengandalkan musuh. Inilah strategi perang Natsuki Subaru, namanya Reverse Furinkazan1.”

“K-keren banget ….!”

Garfiel mengepalkan tangan, matanya berbinar-binar.

Omongan acak Subaru telah memberi Garfiel secercah harapan, hal demikian membuat Subaru merasa bersalah. Dia memutuskan bahwa nanti, ketika mereka punya waktu nyata untuk itu, dia ‘kan mengajari Garfiel mengenai Furinkazan sebenarnya.

Subaru mengerutkan alis kepada Garfiel.

“Meskipun ….”

“Maksudku, mengerikan sih keknya, tapi bisa berhasil gak?”

“Yaa, kita lagi buru-buru, kan? Memangnya ada jalan lain lagi, gua yang hebat ini bakal ngurus sendiri.”

Ucap Garfiel, kelihatan tidak senang.

Kata-katanya masuk akal benar, tapi pernyataan Subaru tak terbantahkan. Garfiel saat ini berada di luar karavan naga, memegangi benda seraya berbicara dengan Subaru dan Otto lewat jendela.

Tangannya mencengkeram bingkai jendela sambil bergantungan di sana, berada di samping karavan dengan kaki yang menyapu tanah, diseret oleh kendaraan itu.

Subaru pernah melihat seorang musuh dihancurkan oleh roda karavan, hal itu bisa terulang lagi kalau-kalau tangan Garfiel tergelincir, Subaru tidak bisa tenang.

“Andai ada yang tidak beres dan kau dihajar, tidak perlu lagi menuruti PTSD2-ku, hentikan semua aksimu di Mansion.”

“Kok gitu sih, Kapten. Suka berpikir negatif. Semuanya akan baik-baik aja. Lihat ye! Lihat ini, ini, ini, ini, ini! Ini juga ini!”

“Hentikan! Kau akan mati! Aku akan mati duluan sebelum kau!”

Bingkai jendela sebagai poros, Garfiel mulai berputar-putar hanya dengan kekuatan lengannya. Antara Divine Protection of Windbreaker atau genggaman tak manusiawi, Garfiel bisa memperagakan akrobatik ini. Pegangannya pada bingkai begitu kuat sampai-sampai bendanya melengkung dan berderit. Subaru dapat membayangkan keputusasaan setengah-setengah dari si pemilik karavan, Otto.

“Divine Protection of Earth-Soul tidak berefek kecuali kakinya menapak tanah. Kita membutuhkan Garfiel dalam performa terbaik, atau sesuatu yang dekat dengannya setelah mencapai Mansion, anggap saja ini penting”

“Aku paham. Kau tahulah, dari perspektif luar, kelihatannya kita melaju secepat kilat hanya untuk menakuti beberapa pria dalam karavan. Yang sebetulnya terjadi adalah bocah empat belas tahun yang diseret tanah dengan kecepatan tinggi.”

“Kau betul-betul menyadari betapa tidak masuk akal sudut pandang yang dikaitkan!?”

Otto masih memegang kenbali, mungkin ingin menghindari kesan pertama itu. Namun dua naga yang tanpa lelah menarik karavan, Patrasche bersama Frufoo, hampir tak memperhatikan itikad pengemudi dan berlari saja tanpa henti.

Kurang lebih merupakan alasan Garfiel bergerak akrobatik.

Sihir Emilia bisa jadi menyembuhkan luka seriusnya di Sanctuary, tapi tak menggantikan darah ataupun Mana yang terkuras.

Jarak perjalanan antara Sanctuary menuju Mansion adalah setengah hari. Kendati kedua naga itu berlari cepat, berapa lama waktu yang bisa dimanfaatkan Subaru serta kawan-kawan untuk pemulihan?

Garfiel belum berubah, Divine Protection of Earth-Soul-nya menarik kekuatan dari tanah, menjadi kartu truf mereka. Peran Subaru dan Otto adalah mengatur panggung pertarungan yang paling menguntungkan Garfiel.

“Ngomong-ngomong, kok berhenti sih, Kapten.”

“Itu tuh, yang kita bicaraain. Mesti nyelametin empat orang, kita baru denger tiga. Gua belum dengar orang terakhirnya. Siapa sih dia?”

Bangun, Garfiel mengintip dalam karavan. Tatapan ingin tahunya juga mengarah ke Otto, namun pria itu hanya menggeleng kepala dan mengangkat bahu.

“Sayangnya aku juga belum pernah menemui orang terakhir ini. Padahal tinggal di Mansion selama satu minggu … tapi tidak pernah melihat sosoknya.”

“Lu belum pernah ngeliat mukanya dia dah ngebenci lu sampai kagak pengen bertemu ama lu, lu gapapa?”

“Bukan itu alasan aku tidak pernah bertemu dengannya!”

Otto keberatan sedangkan Garfiel menatap iba dirinya.

Subaru mengayunkan tinjunya ke kursi dan mendesah.

“Yang terakhir … Beatrice, kemungkinan besar takkan mau keluar tanpa diriku.” Otto dan Garfiel menutup mulut sembari melihat Subaru.

Keseriusan suaranya boleh jadi alasan mereka percaya padanya, bahkan tidak menanyakan alasannya. Sahabat-sahabat yang percaya penuh.

“Aku mengeluarkannya. Menyeretnya dari sana. Hal itu perlu.”

Tidak satu pun. Hanya Subaru saja.

Bahkan jika Beatrice bertingkah, tidak menginginkannya.

“Kalau itu mau lu, Kapten, yasudah deh.”

“Kalau bisa, mestinya kita mengevakuasi penduduk Desa Arlam terdekat juga. Biar mereka terhindar dari kekacauan. Bagaimana kalau aku saja yang melakukannya?

Keduanya mengungkap bantuan masing-masing atas keputusan Subaru.

Sang protagonis punya peran. Pemeran pembantu juga punya.

Orang-orang yang super duper sinting nan gila pemberani lagi terpuji juga teguh.

“Terima kasih, idiot-idiot.”

“Selalu tidak bisa jujur menyampaikan rasa terima kasih, dasar idiot!”

Skala petarungan lebih intens, menyebarkan kehancuran di Mansion mewah.

Bentrokan logam dengan logam, jeritan besi dihadiri percikan api, serangan fisik lagi tebasan menghancurkan nyawa Mansion Roswaal yang diterangi cahaya rembulan.

Kaca-kaca jendela pecah berserakan. Lantai rusak menerbangkan karpet penutup, sementara lukisan yang bergantung di dinding berubah menjadi serpihan-serpihan.

“Mantap. Kau luar biasa.”

“Rasanya kagak enak denger itu, kecuali dari Ram!”

Garfiel meluncurkan tangan kanan berlapis perisainya, terarah ke si wanita yang berhasil menghindar, alhasil perisainya menabrak dinding. Garfiel mengejar pelariannya, memanfaatkan momentum lengan kanan yang berputar di udara kemudian memukulnya dengan tangan kiri.

“Sial sekali nasibmu.”

“Masih belum berakhir!”

Wanita itu berkelit. Tapi sebelum sempat mengayunkan bilahnya, Garfiel memilin tubuh dan menarik tangan kanan yang tersangkut di dinding, lalu mengirimkan tinju ke Elsa. Tante itu mengubah tebasannya jadi ke atas, salto ke belakang sembari menendang—sewaktu tinju Garfiel melewati kaki si tante, medan tempur jadi kacau.

Pukulan kiri dari belakang.

Hantaman kanan.

Kaki menyapu ke kanan dan kiri.

Pukulan lurus kanan.

Berputar kemudian menendang ke kiri.

Memukul sembari berputar-putar, Garfiel tidak menahan diri saat melawan Elsa.  Sampai-sampai tidak dapat berbuat apa-apa, semata-mata menahan serangan Garfiel belaka, merasa kakinya mencapai ujung koridor, Garfiel mengeluarkan unek-uneknya.

“Mati lu!”

Melangkah maju, Garfiel meluncurkan tinjunya.

Pukulan demi pukulan menembus udara, pantulan perak cahaya bulan menembus koridor gelap demi mengejar seorang wanita.

Tangan-tangan hewan buas, teramat kuat sampai mampu menyulap tubuh manusia menjadi onggokan-onggokan daging. Punggung si tante menghadap dinding, ia menggerakkan kaki dan menempatkan telapak kanannya ke dinding.

Berniat melawan pukulan yang mendekat, menghunuskan belati agar Garfiel tertusuk. Logam-logam bertabrakan tatkala bilah terhimpit di antara perisai. Namun ….

“Emangnya trik murahan itu berhasil!”

Rencana Elsa pasti menyelipkan belati di antara perisai. Tapi otot-otot bocah itu tidak lemah hingga membiarkan tangan kurus wanita mensukseskan rencananya.

Titik kukri masih menempati celah perisai, Garfiel memutar perisai ke samping, berniat mematahkan belatinya. Tapi sebelum sempat melakukan itu—

“Kalau menambahkan trik lain bagaimana?”

Kakinya yang menempel dinding sebagai penahan, tante itu melompat berputar ke atas.

Sekejap, kaki tante menyerang gagang belati yang terperangkap perisai, membuka celah sedikit.

Dalam celah itu ….

“Nih trik aslinya.”

“—!?”

Kini keadaan telah berbalik sepenuhnya, wanita itu memegang bilah lain, di tangan kiri. Kukri ketiga jahatnya. Ada berapa sih yang dia sembunyikan?

Bilah tipis itu dengan mudahnya menyelinap ke celah antara belati dan perisai.

Bilah maut tersebut bahkan tidak mengeluarkan udara saat dialirkan ke depan, hendak menyayat leher Garfiel. Sekalipun dia berubah, momen ini pasti telah menyentuh titik paling mematikan.

Namun Garfiel juga memilih cara jahat untuk melawan kukrinya.

“Luar biasa.”

“—Pujian lu kagak bakal ngebahagiain gua!”

Wanita itu berbisik, sangat terpesona. Garfiel menombak kepalanya ke depan.

Taring tajamnya betul-betul mengigit bilah kiri si wanita sampai terhenti. Terlihat tetesan darah dari luka kecil di sudut mulut, bau logam menusuk lubang hidungnya.

“Bau banget cuk!”

Mengalirkan kekuatan ke rahang, Garfiel mengigit bilahnya.

Meludahkan potongan-potongan logam hancur sambil mengayunkan kaki bercakarnya ke Elsa dari bawah. Kekuatan tendangan ‘kan menghancurkan tengkoraknya—tuk menangkal serangan itu, dia mengorbankan tangan.

Zat cair bercipratan di dinding dan sepanjang koridor. Garfiel menggunakan lengan baju untuk menyeka darah di wajahnya, kemudian menarik nafas dalam-dalam selagi menghadap ke belakang.

Beberapa meter jauhnya, setelah meloloskan diri dari maut, berdirilah seorang wanita. Naasnya banyak tulang patah dari pergelangan tangan hingga bahu, tangan kiri membengkok dan patah.

“Bagus banget, kabur dengan mengorbankan satu tangan. Apes amat, mulut gua sakit.”

“… Hehe, makasih. Ahh … sakit. Rasanya sakit. Aku merasa hidup.”

“Eh? Kagak Cuma motong orang lain, lu motong badan sendiri? Gua yang hebat ini kagak ngerti deh. Tadinya gua ngertiin elu.”

Wanita itu meneteskan darah selagi menampakkan senyum indah, Garfiel jadi jijik parah. Menggabungkan perisainya—dan mendapati sesuatu, di belakang si wanita.

“Woi, kak. Lu ngapain di situ? Lu liat ‘kan tadi, gua kagak bisa keren-kerenan kek gitu setiap waktu. Lakukan apa yang perlu lu lakukan.”

“… B-betul. Aku akan pergi.”

Frederica tidak sepenuhnya menonton dalam diam, tapi juga ngeri dan melumpuh.

Sebesar itulah perbedaan dimensi pertarungan antara Garfiel dengan Elsa.

Apabila Frederica terlibat dalam pertempuran, dia akan langsung mundur setelah bertukar beberapa serangan.

Dua orang ini beda kelas.

Frederica menjaga perhatiannya kepada punggung wanita ketika melihat tujuannya—kamar tidur Rem. Jaraknya beberapa meter lagi, Frederica jauh lebih dekat dari ruangan ketimbang sang pembunuh, namun tak bisa membiarkan dirinya menggapai pintu di depan sana.

Setidaknya bisa mencapai kamar itu, dia dapat mendekap Rem dan melompat keluar jendela. “Tidak perlu sewas-was itu, kakak perempuan.” ucap Elsa.

“Huh?” Frederica bingung.

“Sekarang ini, aku terpaku pada adik lelakimu. Tidak jadi soal entah urusan apa dirimu pada kamar itu, atau yang kau lakukan di sana. Sama sekali tidak tertarik.”

“—!”

Pemburu Usus bahkan tidak melirik ke belakang ketika meyakinkan keselamatan Frederica.

Mungkin dia tidak berbohong. Sepertinya bukan tipe orang yang menipu musuh lewat cara barusan, Elsa juga tidak repot-repot mesti menipunya. Terutama, siapa pun yang mendengarnya ‘kan menyadari ketulusan dalam ucapannya.

Saat ini, seluruh perhatiannya ditujukan kepada Garfiel.

Sungguh-sungguh tidak mempedulikan Frederica.

Tetapi Elsa memancarkan aura yang terlampau mengerikan sampai-sampai mampu merangkul seluruh Mansion ini. Haus darah ganas nan keji, membuat aura awalnya terasa seperti lelucon anak kecil.

“Kak.”

“—Aku percaya padamu.”

Frederica menyusuri koridor, tenggelam dalam penghantuannya sendiri saat mencapai kamar destinasi—

—Menatap Garfiel untuk terakhir kalinya, Frederica masuk kamar.

Melihatnya, bocah itu mendesah panjang.

“Kok lu tenang amat ampe kagak mikirin kakak … aneh.”

“Sungguhkah diriku terlihat seperti seorang penipu yang tak bisa kalem saat melawan rekan sehebat ini? Kini, aku milikmu sepenuhnya—Ahhh, aku tidak tahan lagi.”

Baik daya tarik ataupun sosok bersimbah darah, masih berdampingan pada perawakan menyeramkan ini. Dia malah tersenyum. Bermandikan sepasang mata yang berapi-api lagi bergairah, Garfiel melebarkan kuda-kuda dan merendahkan badannya.

“Jujur deh, lu jijik banget. Akan gua robek-robek elu, memisahkan tubuh lu.”

“Aku berjanji akan mengeluarkan isi perutmu tanpa mengotorinya.”

Tangan kirinya masih bergelantungan, tangan kanan sehat Elsa masih menyiapkan belati.

Dia membungkuk begitu rendah sampai payudaranya menyentuh lantai ….

“Akulah sang Pemburu Usus, Elsa Granhiert.”

“… Tameng Terkuat Sanctuary, Garfiel Tinzel.”

Ketika perkenalan diri selesai, Elsa bergerak.

Senyuman Elsa terbalut kegelapan kosong saat dirinya berlari, cepatnya bukan main seolah tidak terluka. Begitu pula Garfiel mendengar suara langkah kaki pertama, dinding berdebar-debar, lagi dan lagi, dari segala arah.

Elsa menghentak lantai, dinding, juga langit-langit tatkala menghampiri Garfiel. Gerakannya kencang nian sampai anak laki-laki itu tidak bisa fokus pada si target, mahluk yang gerakannya tak pernah dia lihat sepenuhnya. Sesuatu yang mendekat dengan kekuatan menakutkan ini bukanlah humanoid ataupun binatang buas.

Hal paling mengejutkannya, dia lebih cepat saat terluka.

“Menarik!”

Garfiel memamerkan taring, tertawa, dan bergerak-gerak.

Sekiranya pendekatan musuh adalah gerakan rumit, Garfiel melawannya dengan melakukan hal sama.

Meletakkan tangan dan kaki di lantai. Kemudian dari kaki belakang, dia meledak.

Garfiel bagaikan peluru seukuran manusia menembak ke koridor rumah.

Memposisikan perisai di depan, serangannya sama ganasnya dengan harimau yang diselimuti gelombang kejut hingga meluluh-lantakkan kaca jendela yang pecah menjadi percihan juga bongkahan-bongkahan dinding.

Garfiel tidak menghiraukan dampaknya, malah meraung sembari memaksakan tangannya ke lantai dan berhenti. Segera balik badan dan kakinya lagi-lagi menghantam lantai.

Gempa mengguncang Mansion itu, karpet-karpet rusak, beterbangan tersobek-sobek. Secarik kain merah menangkap Garfiel saat ia melayang—

“—!”

“Ahahahahahahahah!”

Elsa merosot turun dari langit-langit, mengayunkan bilahnya, menyerang perisai Garfiel yang membesar. Daya dorong menembus gendang telinga tatkala kehancuran mencapai tembok-tembok koridor yang berlapisi cahaya bulan.

Elsa tertawa-tawa selagi berpindah-pindah, melompat jauh ke samping. Kekuatan tebasannya telah menghempas Garfiel, membuat kepalanya menghujam dinding terlebih dahulu. Selanjutnya menerobos batu dan mendarat tanpa daya di ruang tamu.

Gumpalan debu putih membayang-bayangi ruang itu ketika Garfiel meraih kaki tempat tidur terdekatnya. Bisep-bisep membengkak sewaktu dengan mudahnya mengangkat tempat tidur seberat 100 kilogram dan dia lemparkan ke lubang yang baru saja dilewati. Duar, kabut memudar, dari belakang tempat tidur datanglah seorang wanita hitam yang melempar bilah.

Garfiel menangkisnya dengan perisai kiri kemudian memanfaatkan tinju tuk menghajar wajah Elsa yang mendekat. Sayang si wanita menghindar, serangannya mengenai kepang. Ujung rambut hitamnya menggelitik hidung Garfiel, seketika menolak rasa takut mengganjal dan langsung maju saja.

Nyaris tidak berhasil menghindari tebasan yang datang mengiris selangkangan, punggung Garfiel malah kena pukul sewaktu menembus pintu. Zona pertempuran pindah ke koridor.

Tidak sempat mengatur nafas, Elsa datang mengejar Garfiel. Bocah itu menendang pinggang kurusnya. Sebuah pukulan, meski rasanya tidak seperti dipukul. Gaya bertarung absurd Elsa anehnya membuatnya piawai dalam mengelak, dan menghindari dampak momentum dari tendangan dengan bergeser sedikit, hanya berefek pada perut. Garfiel berdiri terentang ketika bilah kukri Elsa menyabet udara, mulai mendekat.

Tidak seperti serangan sebelumnya kala terpojok. Kalau saja Garfiel mencoba menangkap dengan mulut, kecepatan juga kekuatan benda itu akan langsung mengiris kepalanya jadi dua. Keputusan spontan Garfiel menghadang sayatan bilah itu dengan perisai kanan, dilanjutkan perisai kiri, kemudian menjauh.

Logam berteriak-teriak. Hujan percikan merah dan kuning. Mata hitam membelalak kaget, dan perut si wanita lengah. Garfiel meraung selagi menghantam kakinya yang diangkat dari lantai. Mengambil kuda-kuda lalu mengarahkan taring ke tubuh Elsa, hendak merobek-robek perut.

“—!”

Menarik serangan dan menggunakan kesempatan itu untuk menarik kembali kepala merupakan insting.

Terlambat menghindar, telinga kiri Garfiel terbang dan hindarannya disertai semprotan darah. Menaruh kaki ke dinding, menghindari serangan dengan melompat ke udara. Menghindar, menghindar, menghindar, menghindar terus.

Tangan terulur Garfiel menembus langit-langit, membuat lantai atas runtuh. Menciptakan celah yang dimanfaatkan sarana pengejaran Elsa, sementara Garfiel memanfaatkannya sebagai jalan pelarian. Tangan serta kakinya mendarat di atas karpet, kemudian Garfiel menggerakkan telapak tangan untuk menahan pendarahan pada telinga yang menghilang di kepalanya.

Nafasnya compang-camping.

Menggertakkan gigi pada rasa sakit yang membara itu. Mendapati Elsa memotong asap tebal, berjalan menghampiri sambil senyum-senyum.

“Bangke … padahal gua yakin dah ngilangin tangan kiri lu.”

“Kau benar. Sakit sih. Namun luka orang bisa sembuh.”

“Jauh melebihi ekspektasi gua, perkara tangan hancur bisa sembuh, pastinya lu bukan manusia lagi.”

Atau, sudah melampaui kategori mahluk hidup.

Garfiel mungkin punya Divine Protection of Earth-Soul, namun masih memerlukan beberapa jam bila ingin menyembuhkan tangan yang hancur. Ketika berada di bumi kaya mana, dia lantas berbuat hal seenaknya. Elsa bisa sembuh selama pertempuran begitu cepat sampai-sampai kelihatan konyol.

Subaru memang pernah bilang sebelumnya bahwa dia takkan mati meskipun kau membunuhnya, kini spekulasi awal Garfiel terbukti keabsahannya.

“Singkatnya. Lu bukan manusia. Entah terlahir manusia atau bukan, pokoknya lu bukan manusia lagi.”

“Tampangmu tidak meyakinkan, ternyata kau pintar juga.”

“Udah gua bilang, gua cuma seneng dipuji begitu ama Ram. Oh ya, gua tau sesuatu soal penyembuhan gak wajar lu.”

Jari menunjuk, Garfiel menyatakan spekulasinya.

Terlepas semua hal demikian sekalipun kedengarannya mengherankan, Garfiel menyukai buku. Tak seorang pun mampu menandinginya dalam hal kekuatan di Sanctuary, hidupnya jadi membosankan, membaca adalah kegiatan membunuh waktu yang penting baginya.

Walau suka buku, Garfiel hanya membaca novel petualangan, mitos, cerita rakyat, hal-hal semacam itu. Minatnya tidak mendarat pada sesuatu yang menumbuhkan pengetahuan.

“Buku yang gua baca, ada banyak banget monster, pahlawan, sesuatu yang kagak lu tau kalau mereka tuh ada. Dan ketemu satu mahluk seperti lu.”

“… Lebih baik tidak menyamakanku dengan fantasi dari buku bergambar.”

“Bukan buku bergambar, tapi penuh huruf …. Memang ada beberapa gambar tapi kagak guna. Beneran suatu fantasi.”

Terlihat acuh tak acuh, Elsa mendengarkan Garfiel.

Waktu-waktu Elsa mendengarkan suatu percakapan sampai akhir tidak mirip impresi ganas yang dia tunjukkan selagi bertarung.

Wajah Elsa jadi pucat pasi.

“Lagi pula, lu sama kek para Penyihir tua.”

“—”

Gerak belati telah berhenti. Mata gelap Elsa merujuk pada Garfiel. Kemudian si bocah menunjuknya.

“—Lu itu Vampire!”

“Aku tidak suka meminum darah atau semacamnya.”

Sambil mendesah, Elsa menghentak tanah. Tangan kiri sudah dalam keadaan prima. Kedua tangan memegang kukri saat memperpendek jarak antara Garfiel. Memblokir tebasan wanita itu dengan mengangkat perisai, terus-terusan meluncurkan tendangan kanan—Elsa juga melancarkan tendangannya sendiri di lintasan yang sama, kaki mereka saling beradu dan terdorong jauh.

“Kagak keren! Tangan lu udah normal!?”

“Mengulur waktu demi penyembuhan telingamu? Kita setara.”

Garfiel sengaja menjulurkan lidah padanya.

Selagi berbicara, Garfiel menekan luka agar dapat disembuhkan dengan sihir. Berharap bagian-bagian telinganya yang hilang ‘kan kembali tumbuh, tetapi kiranya lukanya seperti Elsa, maka sihir penyembuhan Garfiel takkan terlalu bermanfaat.

“Lo gak nyangkal. Jadi beneran vampire?”

“Terserah orang lain sebut apa. Aku tidak menghisap darah, makananku sama-sama saja. Ketika aku berada di bawah sinar mentari, penjagaanku yang komat-kamit, tidak spesial-spesial amat.”

“Punya nyali kek gini gegara elu vampire?”

“Itu khasnya. Aku hanya suka melihat pemberani segar dan menyentuh-nyentuh usus hangat.”

“Itu lebih menakutkan lagi.”

Elsa melepas dan membuang jubah hitamnya.

Garfiel menganggap motivasi Elsa kian kuat dan mengklik giginya. Lanjut menyatukan kedua perisai.

“Dunia ini luas … sedikit yang gua jelajahin, Kapten, lebih baik lu berhasil.” setelahnya, Garfiel mengaum sembari menggerakkan perisai ke bawah terhadap Elsa yang menghampiri.

—Subaru membuka pintu, aroma ruangan itu adalah bau kertas.

Boleh jadi bau menyengat itu membawa beban seluruh hari dan tahun yang dia habiskan dalam ruang tertutup ini. Bisa kok kau sebut Ruang hampa waktu, hari tiada hubungannya di sini.

“Terjebak beberapa waktu di Sanctuary dan memikirkan banyak hal. Dan jawabanmulah sesuatu yang ingin kudengar.

“—Bagaimana bisa?”

Tanpa izin pustakawan, Subaru memasuki Arsip.

Seperti biasa, suasana dalam ruangan terasa melankolis dan hening. Tidak ada jendela yang menghantarkan sinar matahari, ataupun ventilasi. Tinggal di sini dalam waktu lama pasti akan memperburuk mood serta kesehatanmu.

Terutama saat eskpresi gadis yang dilihat Subaru terlihat kelelahan.

“Bagaimana bisa kau sampai di ruangan ini lagi, ya? Aku tak ingat pernah mengundangmu.”

“Maaf, muncul tanpa diundang adalah kebiasaanku. Mustahil melupakan saat muncul begitu saja tanpa diundang di ulang tahun temanku dan membuat semuanya jadi canggung.

Bahkan Subaru bego ingin lebih bijaksana sejak saat itu.

Meski dia bilang, Yah, aku pulang, ya! Kepergiannya justru lebih heboh, lalu tidak diundang lagi ke pesta ulang tahun siapa pun.

“Menyedihkan memang, hatiku baru saja mau hancur jadi ubah saja topiknya.”

“Kau sendiri yang mengungkit. Selalu saja begitu, melakukan hal semaumu, ya.”

“Betul, sesukaku. Entah sebenci apa dirimu, aku masih di sini.”

Subaru melihat si gadis menelan nafas.

Setelah menundukkan kepala hormat, dia melihatnya.

“Aku mengeluarkanmu dari sini, Beatrice—Kuseret kau menuju sinar matahari, tempat kita bermain hingga gaunmu penuh lumpur coklat.”

Beatrice duduk seperti biasa di tangga, memeluk diri sendiri.

Sambil mendekap buku hitam tebal seperti biasa, mata yang terlingkupi kebimbangan menatap Subaru.

Catatan Kaki:

  1. Fūrinkazan (風林火山), secara harafiah berarti “Angin, Hutan, Api, Gunung”, adalah strategi perang yang digunakan Takeda Shingen, seorang daimyo zaman Sengoku. Nama strategi perang ini diambil dari kutipan Seni Perang karya ahli strategi perang asal Cina, Sun Tzu: Secepat angin, setenang hutan, seganas api, dan sekokoh gunung.

-Secepat angin: Saat melakukan pergerakan, pasukannya bergerak secepat angin.

-Setenang hutan: Saat mereka tinggal di suatu tempat, maka mereka akan menyembunyikan keberadaan setenang hutan.

-Seganas api: Saat menyerang, pasukannya akan mengganas bak api yang membara.

-Sekokoh gunung: Saat mereka mendapat serangan, maka mereka akan bertahan sekokoh gunung.

  1. PTSD adalah kondisi mental di mana Anda mengalami serangan panik yang dipicu oleh trauma pengalaman masa lalu. Mengalami kejadian traumatis adalah hal yang berat bagi siapapun.

4 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 123 A”

  1. Jikalau ada huruf “A” pada nomor chapter ini, apakah itu menandakan adanya kehadiran chapter “B” wahai adm00n-sama?

  2. LalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *