Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 122

Posted on

Reuni yang Menghebohkan

CH 122.jpg

Penerjemah: DarkSouls

Sambil menahan nafas, langkah kaki membisu si gadis merayap dalam kegelapan.

Tubuh kecilnya bahkan tampak lebih kecil, memperhatikan kepakan pakaiannya. Tangannya menutupi mulut, karena kalau tidak, nafasnya akan bocor keluar.

Gadis itu sangat berharap detak jantungnya sendiri berhenti.

Gadis berambut pirang, Petra, berjalan menyusuri Mansion familiar sambil merasa gelisah, seolah-olah tersesat di dunia asing.

Saat ini, dia betul-betul bersyukur atas karpet lembut di atas lantai. Sulit untuk memijaknya, namun berkat itulah langkahnya tidak berisik.

Sampai-sampai bersumpah bila ada kesempatan untuk membersihkannya, dia akan dengan sungguh-sungguh menuangkan seluruh rasa syukur serta ketekunannya.

Jikalau tidak dia fokuskan perhatiannya kepada topik cucian, kakinya yang hampir tak bergerak akan terhenti. Sekarang ini pun jalannya selambat ulat, lantas apa yang terjadi andai kata dia berhenti sepenuhnya? Memikirkannya saja sudah membuatnya takut.

Petra benci koridor lebar nan panjang ini.

Gadis itu amat senang ketika dijadikan pelayan di Mansion besar ini. Meskipun dekat desa, Petra menganggap Mansion ini tempat yang terlampau jauh. Cuma masalah posisi sosial.

Gubernur sekaligus penguasa Mansion, sang Margrave, akan menjambangi Desa Arlam tak lama lagi.

Walaupun seorang bangsawan, auranya tak terasa tersohor, menertawakan dan memaafkan saja komentar tidak sopan anak-anak desa. Petra tidak pernah mendengar para penduduk desa menggibah Margrave kecuali gaya pakaiannya.

Petra juga tidak amat mempedulikan Margrave.

Namun dia senantiasa mengagumi luasnya Mansion ini.

Terbiasa tinggal di sebuah desa kecil bersama sepasang orang tua normal, Petra takkan pernah kesampaian di tempat ini. Walau dia ingin pergi ke Ibu Kota dan mendesain pakaian saat sudah besar, hal demikian hanya mimpi yang cocok dengan dirinya. Sedari kecil dia sudah menyerah untuk meraih hal-hal yang takkan pernah ia dapatkan.

Mendadak Petra ditawari pekerjaan di Mansion.

Terlebih lagi, bersama seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya, dia pula menyimpan suatu perasaan padanya. Apakah hal itu membuatnya senang? Rahasia nih, pernyataan terakhir tersimpan sedikit.

Bagaimanapun, pekerjaannya di Mansion raksasa ini merupakan awal kehidupan yang diimpikan orang seperti Petra.

Koridor-koridornya panjang, ruangan berlimpah, karenanya bersih-bersih di sini membuatnya pusing, hari-hari sibuk menghadirkan suka cita bagi hidup Petra.

 Tempat penuh aspirasi bak mimpi ini kini membuatnya sangat ketakutan.

Petra tidak tahu apa yang terjadi, atau yang sedang terjadi.

Dia cuma tahu sudah menyelesaikan pekerjaan, baru saja hendak makan malam bersama pelayan seniornya, Frederica.

Petra berdiri di atas bangku, mencuci piring, sedangkan Frederica lagi menyiapkan hidangan untuk Beatrice-sama. Tapi belum dihidangkan kepadanya.

Petra belum pernah melihat Beatrice sekali pun. Kadang kala ia malah bertanya-tanya apakah orang itu memang ada, tapi melihat Frederica, Emilia, dan Subaru yang kelihatannya mengenal dia, Petra percaya-percaya saja tanpa berkomentar.

Sang Penguasa Mansion, entah kenapa berada di suatu tempat yang jauh.

Meninggalkan pelayan Petra dan Frederica, juga dua orang dalam Mansion ini. Satunya Beatrice yang tak terlihat, satunya lagi gadis bernama Rem.

Tak satu pun dari mereka mau makan, fakta itu tidak membuat Petra senang.

Tetapi gadis kecil itu mengasihani Rem yang tengah tertidur, tak mampu melupakan betapa sayangnya Subaru memperlakukan Rem.

Wajah Subaru saat menatap paras Rem nampak jelas, sungguh terkalut emosional dan sedih sampai Petra pun cemburu.

Jadi—

“… Aku mesti menyelamatkan Rem-san.”

Kata-kata yang tidak sengaja disuarakan telah menyemangati Petra.

Setelah Frederica membuang makan malam Beatrice dan Petra membersihkan piring-piring, Frederica menyuruh Petra memeriksa ulang jadwal pekerjaan besok bersama urusan-urusan lain.

Petra benar-benar ingin membantu sisa pekerjaan Frederica, tetapi masih setengah jalan menuju kedewasaan, tubuh Petra tak kuasa menahan keletihan pekerjaan larut malam. Frederica yang mengakui semangat Petra kemudian mengantarnya ke tempat tidur sudah jadi rutinitas biasa.

Tapi malam ini, saat berjalan menuju kamar, sesuatu yang tak biasa terjadi.

—Semua lampu Mansion dimatikan.

Kegelapan mendadak ini mengejutkannya, Petra menempel ke dekat Frederica. Si senior pelayan mendekapnya lembut, dan setelah mengimbuhkan ucapan demi ucapan yang meyakinkan, ia menahan nafas.

Petra takkan lupa aura yang tiba-tiba membeku ini.

Petra pernah merasakan aura berat ini sebelumnya. Kekhawatiran yang menjalar dalam diri kian menguatkan cengkeramannya pada Frederica yang diam-diam menjauhkan tangannya.

“Petra. Jadilah gadis baik, dengar, ya—Ke tangga belakang sana, lalu pergilah. Jangan buat suara apa pun, sehening mungkin, pergilah secepat-cepatnya.”

“T-tapi, kakak bagaimana?”

“Nanti aku susul. Setelah kau keluar Mansion, pergilah ke desa. Setelah kita semua berkumpul dengan aman, tunggulah pagi baru bereskan semuanya.”

Frederica menghadap ke depan seraya mengucapkan tutur lembut itu.

Mendorong pelan Petra di belakangnya, menciptakan jarak antara dia dan Frederica. Kala itu udara berkabut menyembunyikan bulan, tiada cahaya di sana.

Tanpa banyak bicara Frederica melangkah maju.

Saat itu pula Petra mematuhi instruksi Frederica dan berjalan menyusuri koridor, jalannya berlawanan dari si kakak senior. Berhasil sampai di tangga, persis saat hendak turun, dia teringat sesuatu.

“Ini … kayak di hutan.”

Ingat betul pernah merasakan aura berat nan membekukan ini.

Aura ini ada dua bulan lalu, tatkala dia dan anak-anak desa lain masuk ke hutan.

Aura yang dia rasakan ketika berada di tengah hutan bersama mahluk sihir haus darah, nyawanya dalam bahaya.

“—Harus buru-buru.”

Baru menyadarinya, kaki Petra tidak ke bawah, tapi ke atas. Diserang penyesalan karena melanggar perintah Frederica.

Tapi dia tidak bisa meninggalkan Rem dalam Mansion yang roman-romannya identik dengan hutan.

Sebab ingat sebagaimana Subaru yang mengeluarkannya dari hutan menyeramkan itu.

“—Ah.”

Setelah memikirkan ingatan mencekam tersebut, Petra seakan merasa sudah dekat dengan tujuan.

Jangan bersuara. Sembunyikan kehadiranmu. Berpegang teguh pada aturan-aturan itu, perjalanan lambannya sudah sampai akhir.

Sampai di kamar Rem saja tidak membuat Petra kecil bisa menggotong dan melarikan diri bersamanya. Petra sangat-sangat terselimuti kepanikan sampai tidak menyadari hal demikian. Si gadis hanya fokus mendatangi kamar dan memastikan apakah Rem berada di sana, semuanya juga akan lancar-lancar saja.

Secercah kewajiban yang tidak pantas dengan tbuuh kecilnya serta takut bahwa kematiannya telah dekat, menghantuinya.

Petra tidak salah karena gagal menerka hal sejelan itu.

Beberapa langkah lagi, hanya dua kamar jauhnya, ia ‘kan sampai pada Rem.

Nyaris nihil jarak menuju destinasinya.

Telinganya mendegung keras hingga bisa-bisa meledak, suara nafasnya menyelinap keluar dari jemari.

Sedikit lagi, sedikit lagi saja—

—Sampai di kamar, Petra mendongak.

Saat itulah terjadi. Ketika itu, di jendela koridor, angin menyapu awan yang menghalangi bulan.

Cahaya rembulan masuk melalui jendela, membawakan warna kepada dunia gelap.

Kemudian Petra melihatnya.

“Aduh, pelayannya manis banget.”

Seorang wanita yang dipenuhi kegelapan berbaur bersama bayang-bayang, sedang berdiri tepat di depannya.

Antara Petra dan pintu jaraknya cuma sejauh tiga langkah.

Wanita itu tinggi, rambutnya panjang.

Pakaian sensualnya menampakkan lekuk tubuh menggairahkan. Membetulkan kepang selagi mendekat, semuanya sungguh erotis. Membuatmu tidak menyadari pisau besar berkilau-kilau di tangan kosongnya.

“Setahuku, ada dua target ditambah satu lagi. Kaulah si pelayan kecil, bukan?”

“… Uh.”

“Kau ngeri? Tidak usah khawatir—keberanianmu indah. Gadis-gadis yang diberkahi masa depan selalu punya perut yang bagus.”

Petra tak paham dia bilang apa.

Namun Petra tahu, dia yang menghampiri berarti kematian menghampiri juga.

Petra tahu itu, tetapi kakinya membeku sebab kelewat takut untuk bergerak.

Tidak sadar si wanita seksi sedang memegang pisau besar.

Tatkala pisau itu menyabetnya, hidup Petra akan terenggut.

Meski begitu ….

“Gadis baik … akan kukirimkan kau ke hadapan malaikat.”

Berdarah dingin, wanita itu mengangkat pisaunya, targetnya adalah gadis yang melumpuh.

Bilah itu mengiris udara, hendak memotong perut Petra—

“PETRA!”

Siluet besar melesat dari koridor, mencegat ke sisi antara Petra dan pisau, percikan-percikan api terbang bersamaan dengan lengkingan logam.

Pelindung Petra adalah wanita berambut panjang pirang yang berkibar-kibar, ciri yang tak asing bagi Petra.

Hanya ada satu orang dengan punggung besar dan dapat diandalkan sampai-sampai tidak bisa dianggap lagi seorang wanita.

“Kak Frederica!”

“Dasar bocah nakal, Petra. Sudah kubilang pergi … sehabis ini kau akan kuomeli.”

“Y-ya bu!”

Omel Frederica bernada tegas sembari menatap Petra.

Si gadis kecil gemetaran sewaktu dipanggil bocah nakal, alhasil mengangguk beberapa kali di belakang Frederica sambil menangis.

“Kau si pelayan besar? Besar memang berarti besar.”

Dua orang yang berbincang-bincang di depannya, wanita berpisau itu mundur sejenak dan memiringkan kepala. Kepangnya yang bergoyang-goyang tak cocok dengan keanehannya, malah kelihatan lucu.

“Ukuran tubuh besarku memang menyebalkan. Kemungkinan besar dari ayahku.”

“Maka ayahmu besar. Kalau ayahmu besar, nyalimu pasti super. Aku girang nih.”

“Hobimu tidak bisa dibilang baik.”

“Nyali wanita lebih berani dan jelas ketimbang pria. Contohnya kau.”

Frederica mengulurkan tangan ke depan sambil memasang kuda-kuda tempur.

Tangannya dilengkapi cakar cestus1, kemungkinan besar senjata yang menangkis serangan si psikopat.

Memanfaatkan tubuh besar nan kuat milik Frederica, boleh jadi senjata itu cocok untuknya, namun ….

“Sayangnya, belum cukup buat pertarungan ini.”

“Kau kelihatannya punya skill, tapi tidak sekuat aku. Karena sudah hampir mengalami kematian di Ibu Kota, skill-ku sudah semakin baik.”

“Betulkah. Aku ingin mengutuk siapa pun yang gagal menghentikanmu.” dahi Frederica berkeringat dingin.

Keindahan nan memukau yang terpancar dalam diri wanita ini membuat Frederica merasakan perbedaan kekuatan. Cuma berdiri manis, tidak melakukan apa-apa, tetapi aura pekat kematian tersebar darinya.

Sudah berapa banyak jiwa yang dia renggut sampai mampu memancarkan itu?

“Petra. Kali ini, beneran tinggalkan Mansion. Aku akan menghentikannya.”

“T-tapi, Kakak ….”

Petra melirik pintu kamar di samping mereka.

Setelahnya, Frderica paham apa yang membuat Petra memberontak dan datang ke sini. Jadi ….

“Aku tidak tahu siapa yang memanggilmu … nampaknya Petra dan aku ada dalam daftar targetmu.”

“Ya, kau benar. Kau, pelayan kecil, dan si roh. Aku tidak amat suka dengan jumlah sekecil itu, sayangnya belum pernah membelah perut roh, jadi aku sangat menantikannya. Kali terakhir tinggal satu langkah lagi, dan aku gagal melakukannya.”

“Kau sungguh-sungguh membocorkan informasi itu. Bukankah kau tidak jadi professional?”

“Tidak masalah. Nanti mulutmu juga tidak gerak lagi, dan bila kau mengeluhkan majikanku, maka kucuma perlu menutup mulutmu.”

“Dasar sinting.”

Perbincangan ini bisa-bisa membuat orang sakit kepala.

Frederica merasa ngomong dengan wanita ini tidak akan berguna. Mau bagaimanapun, Frederica sudah mendapatkan jawaban.

“Petra. Dia menargetkan kau, aku, dan Beatrice-sama. Kau paham?”

“—Ya, bu.”

Petra mengangguk sambil menyeka air mata.

Lewat percakapan terakhir itu, serta pernyataan barusan, Petra memahami maksud Frederica.

Dia gadis cerdas. Murid hebat. Seseorang yang Frederica ingin tidak mati.

“Pergilah!”

“Ya, bu!”

Petra tersandung sendiri saat berlari.

Segera, wanita berlengkapan hitam melemparkan sesuatu padanya. Empat pisau, mengiris angin selagi mengincar punggung Petra.

Bidikannya sangat tepat, sekejap cestus Frederica hampir tidak bisa menangkisnya.

Suara lengkingan logam tatkala semua pisau yang dilempar melambung.

Petra bahkan tidak menoleh ke belakang ketika melarikan diri. Sepenuhnya percaya pada Frederica. Dia mesti mengikuti perintahnya.

“Dia gadis baik.”

“Tentu, dia kebanggaanku!”

Frderica mengayunkan cestus kirinya ke si wanita yang menghindar dengan sedikit maju ke depan. Selanjutnya, menargetkan perut si wanita, Frederica menendang.

Tendangan Frederica mengebor di udara, kuat nian hingga menghancurkan dinding. Tidak seperti ibu manusia normalnya, ayah Frederica adalah blasteran keturunan mahluk-mahluk petarung. Walaupun tidak mensyukuri adanya darah tersebut yang mengalir dalam nadinya, dia berterima kasih atas kekuatannya saat ini.

Tendangan itu menghantam si wanita, matanya melebar. Buru-buru menggunakan tangan kosongnya untuk memblok tendangan, namun kaki Frederica kuatnya bukan main sampai dapat menepak tangan kurus miliknya, lalu—

“Apa!?”

“Apa ini sungguhan mengejutkanmu?”

Frederica menelan nafas. Bibir merah wanita itu menyantai seperti senyuman, semuanya kelihatan terbalik. Tatkala tangannya menyentuh kaki Frederica, dalam situasi satu kesalahan berbuah fatal, si wanita memperagakan akrobatik yang mustahil dilakukan momen itu. Menyandarkan berat tubuhnya ke tendangan Frederica dan berdiri ditumpu satu tangan. Frederica merinding terhadap wanita segemulai bulu yang hinggap di kakinya.

“Dasar laba-laba!”

“Seseorang persis bilang begitu padaku belum lama ini.”

Suaranya terdengar agak menyengat, namun tiada perasaan semacam itu dalam serangan ganasnya.

Cahaya bulan memantul dari bilahnya selagi disapu menuju leher Frederica. Kakak Garfiel cepat-cepat cepat-cepat menangkisnya dengan cestus, tetapi kedua tangannya yang semestinya menahan, kini menjerit kesakitan.

Kendati hanya menggunakan satu tangan yang jauh lebih kurus dari tangan Frederica, kekuatan genggaman si wanita sangat kukuh.

Lidah-lidah api terpercik seketika bilah saling bertabrakan dan Frederica menyengkat kaki tempat si wanita bertengger, kemudian menyasar wajahnya—

“Pilihan buruk.”

Pisau wanita tersangkut pada cakar cestus—dia manfaatkan sebagai titik momentum lompatan ke atas.

Lintasan tendangan Frederica seharusnya menghantam kejatuhannya, namun malah melewati musuh tanpa membahayakan tangan yang meraih kakinya. Dari balik rok, terintip pisau yang terbayang-bayang.

“Tunjukkan organ dalam indahmu.”

Masih terbalik, kedua pisau wanita terbang dari berlawanan arah, cukup kuat sampai mampu mengiris dua Frederica.


Menuruni tangga, Petra mengayunkan lengan kecilnya sambil berlari-lari.

Mendengar suara benturan logam-logam dari lantai atas, serta jeritan lirih Frederica.

Petra tidak tolol-tolol amat sampai tetap berpegang teguh pada keegoisannya, pemikiran keras kepala nan kekanakan yang ‘kan memperdengarkannya pada Frederica, Petra melawannya agar mampu melarikan diri.

Bahkan Petra pun yang sama sekali tak tahu mengenai pertarungan, mengetahui satu hal.

Wanita bayangan itu monster mengerikan.

Wajah Frederica kelihatan sangat ngeri, namun senyuman si wanita tidak goyah sesaat pun. Petra menyadari perbedaan kekuatan mereka. Meninggalkan Frederica berarti membiarkannya mati.

“Tapi, jika Beatrice-sama ada di sini ….!”

Satu orang terakhir yang berada di Mansion ini

Nampaknya wanita bayangan itu tidak tahu Rem hadir. Pasalnya, Petra mengira si wanita akan memasukkan Rem dalam daftar target seandainya dia ditemukan, namun selama dia dan Frederica menutupi keberadaannya di sini, kemungkinan besar si wanita mengerikan takkan menemukannya.

“Yang ini … bukan, kalau begitu yang ini!?”

Sesudah menuruni tangga, Petra membuka pintu secara acak di dekatnya dan memeriksa isinya.

Tak dapat dipercaya memang kalau Beatrice benar-benar tinggal dalam Mansion raksasa ini. Bila mana kau membuka pintu-pintu bangunan, salah satunya akan mengantarkanmu ke ruangan Beatrice. Sekuat itulah kekuatan penyihir.

Petra memerlukan bantuan penyihir itu sekarang.

Apabila orang itu ada di sini, lantas dia langsung membantu Frederica. Menghajar wanita bayangan dan melindungi Mansion impian Petra.

“Bukan di sini … di sini juga bukan … kakak!”

Kehabisan nafas dan mata berlinangan air mata, Petra hampir roboh.

Dia telah membuka semua pintu terdekat tempat tinggal pelayan. Tetapi Beatrice tidak kelihatan juga batang hidungnya. Sudah berapa lama Frederica bertarung? Petra mesti cepat, sungguh cepat, sayangnya masih belum cukup.

“Ka, kak ….”

Petra harus lari. Tapi kakinya tidak nurut.

Petra menepuk-nepuk kaki, berusaha menguatkan hatinya yang remuk. Tapi tidak cukup. Dia tidak berani. Beberapa detik lagi harapannya akan sirna.

“—Subaru.”

Hatinya terdominasi kelemahan, nama yang dia panggil dalam berputus asa sedang tidak berada di sini.

Nama yang bagi Petra adalah insan paling berani di dunia.

Dia luar biasa nan teguh, melampaui kakinya yang gemetaran selagi menghadapi lawan yang tak mungkin bisa dia kalahkan.

Seketika Petra dan para penduduk desa berada dalam bahaya nyata, dirinya pun hampir tewas, Subaru-lah penyelamat mereka—Subaru adalah nama yang dia panggil-panggil.

Sekalipun tahu dirinya tidak hadir di sini.

“Subaru, Subaru … tolong aku, Subaru.”

“Okelah, aku tolong dia.”

“—Apa.”

Menangis dan mukanya terkubur dalam tangan, suara tersebut menuntun Petra untuk melihat ke atas.

Air mata mengaburkan visinya. Seseorang berdiri di hadapannya.

Berlutut agar tatapan mata mereka sama, kemudian ….

“Maaf lama. Tapi aku di sini untuk membantumu …. Alhamdulillah, kau selamat, Petra.”

Raut wajahnya yang familiar disertai mata jahat membuat Petra tersenyum canggung.

Ekspresinya sewaktu berusaha menghibur Petra sama sekali tidak lembut, membuat Petra merasa benar-benar lega.

“Apa kau … Subaru? Kau di sini betulan?”

“Ini aku, aku di sini kok. Semuanya akan baik-baik saja sekarang.”

Subaru mengangguk baik biar Petra terlipur. Gadis itu mengulurkan tangan.

Menepuk pipi Subaru, dan ketika hendak condong ke depan, dia jatuh, untung Subaru sempat menangkapnya.

Entah halusinasi atau mimpi, dia di sini. Dia di sini untuknya.

Petra ingin sekali menikmati kelegaan hatinya—Sialnya waktu tidak memungkinkan.

“Subaru … Kakak Frederica lagi ngelawan tante-tante di lantai atas.”

“Frederica melawan siapa?”

“Tante itu hitam, bawa pisau besar … dan sangat menakutkan.”

“Tante menakutkan yang membawa-bawa pisau besar … yah, aku kenal dia.”

Subaru meringis.

Sepertinya mereka berdua paham betul betapa berbahayanya dia. Petra menarik-narik lengan Subaru. “Tolong, selamatkan Kakak Frederica! Hajar tante itu, Subaru!”

“Oke, serahkan saja semuanya padaku! Pengennya bilang begitu, tapi seumpama diriku melawan orang yang tidak bisa dikalahkan Frederica, tubuhku bakal jadi tengkorak dalam beberapa detik!”

“—”

Sesaat, hati Petra hendak terbanjiri keputusasaan.

Namun telapak Subaru menurun dan membelai lembut kepala Petra.

“Jadi aku mengirim bala bantuan yang kuatnya sampai sinting.”

Subaru mendongak melihat lantai atas, rupanya membayangkan adegan-adegan yang terjadi di sana. Parasnya antara santai dan resah, tidak bisa dibaca. “Yah, punya bocah berabe bisa buat reuninya jadi berabe.”


Beberapa detik sebelum Frederica menerima kenyataan: Perutku akan terbelah dua.

“Maap nih … tapi lu kaga diundang.”

Logam bersilangan dengan logam ditemani suara yang kedengaran sebal.

Memang berkontradiksi, tapi benar.

Suara itu terdengar penuh semangat, namun muak kepada sang lawan.

Hal demikian sudah sangat jelas.

“Kau ….”

“Sampe kapan lu mau duduk di sono!?—bangun puki!”

Bilahnya terblok, seragannya gagal, datang tendangan ke atas menuju dada si wanita. Tubuh tante itu melengkung menjadi huruf C selagi terhempas jauh, lalu si penendang menurunkan kakinya yang terangkat sambil meninju-ninju kedua tangannya.

Sepasang tangannya dilengkapi perisai perak berkilauan.

Masing-masing lengan punya perisai yang menutupi tinjunya.

“Kapten bilang, ada pepatah MENYERANG ADALAH PERTAHANAN TERBAIK.” memamerkan taring-taring tajam seraya bicara.

“Gitu deh. Defensif perisai buat serangan ofensif … pertahanan sekaligus penyerangan terbaik, dua hal gabungan itu, jadi paling mantep, kan?”

Logika tolol kelas anak-anak.

Namun pria ini menerapkan ide anak-anak tersebut, menggunakan dua perisai sebagai senjata.

Laki-laki berambut pirang memasang kuda-kuda dengan satu kaki ditempatkan jauh di belakang, fokus betul kepada lawannya ketika melirik Frederica.

“Aku benarkan, kak—Apa-apaan lu, kok jadi gede gitu!?”

Seketika, aura keprajuritannya menghilang.

Pria—tidak—mata bocah itu membelalak terbuka kala memandangi Frederica dari atas ke bawah.

“Lho—seriusan nih!? Ini kakak gua!? Bukannya kakak gua lebih kecil, mulus, wajahnya halus!? Ini bukan kakak gua, lebih mirip bro gua … aghhh!?”

“Jangan tidak sopan.” tegur Frederica.

Frederica menusukkan lututnya ke sisi badan bocah yang menatap tidak sopan.

Bocah itu jatuh ke tanah kemudian bangkit kembali perlahan-lahan. Melihat wajahnya yang pusing, Frederica menyadarinya. Bekas luka di dahi.

“Kaukah itu, Garf?”

“Ga usah dipikirin deh, lu beneran Frederica … tidak dapat dipercaya … ugh!”

“Jangan lupa untuk menganggapku sebagai kakak perempuanmu.”

Setengah berdiri, sikuan belakang membuat Garfiel kesakitan lagi. Melihatnya sakit seperti ini membuat Frederica ingat masa-masa kecil mereka, tak punya mainan di Sanctuary, menggunakan tubuh saja biar tidak bosan.

Frederica baru saja menghempaskan Garfiel yang umurnya 9 tahun lebih muda. Persis sama seperti saat itu.

“Tidak. Garf … kau yang sudah tumbuh besar.”

“Woi, kok kedengarannya jadi sarkam gini! Asal lu tau aja, gua yang hebat ini masih akan jadi lebih besar! Jangan remehkan gua selamanya!”

“Hehehe, aku tarik kata-kata barusan. Tubuhmu barangkali sudah lebih besar, tapi kau masih kecil seperti biasa.”

“Apaan itu!?”

Garfiel menampakkan gigi-giginya sambil menolak pernyataan Frederica. Berinteraksi dengan adik laki-lakinya, pertama kali setelah sepuluh tahun lamanya, membuat Frederica bahagia tak tertahankan.

Siapa kira hari-hari itu akan tiba, hari dia berbicara dengan Garfiel di luar Sanctuary.

—Seseorang yang pergi ke Sanctuary terlampau sukses. Ram, atau Emilia, ataupun Subaru? Yang mana? “Ah, Otto-sama juga bersamamu.”

Ha, orang datar itu kagak bakal dapet bayaran. Pikirkan saja soal Migurd yang membuat jembatan jatuh, hee dia tuh orang semacam itu.”

Dalam benaknya muncul sosok seorang pria berambut abu-abu yang terlihat suram.

Selagi sepasang saudara sudah mencapai kesimpulan, jauh di koridor gelap, datang sesuatu ….

“Tidak keberatankah andai aku beraksi sekarang?”

“Wah baik sekali lu, bersedia nungguin kami. Kiranya lu sebaik itu, kenapa kaga lupain aja kerjaan terus pulang ke rumah. Gua yang hebat ini gak pengen mukulin wanita.”

“Ya ampun, kau sungguh terpuji.” kata tante.

Garfiel memberi gerak isyarat seolah menepuk serangga. Si wanita tersenyum.

Frederica menepuk punggung Garfiel, karena dia sangat lengah.

“Garf. Tidak baik menghakiminya semata-mata karena penampilan feminim itu.”

“Ya, gua paham, dia kagak normal. Lagian, satu-satunya wanita yang gua perlakukan selayaknya wanita adalah Ram.”

“Misalkan kau yakin barusan kedengarannya keren, sebenarnya sih tidak sama sekali. Ram akan mencibirmu.”

“Apaan!?”

Frederica terlihat keheranan. Garfiel kembali melirik ke arahnya, marah-marah.

—Seketika itu, piringan perak terlempar dari tangan si wanita.

Cakram. Tidak, bukan cakram, melainkan pisau yang berputar vertikal gesit. Benda yang bersiul-siul di udara terlalu kencang untuk dipandang, sedang mengincar Garfiel, siap membelah kepalanya dan menyemburkan darah segar di koridor.

“Lu tau gak.”

“—”

Perisai logam berdentang bersamaan dengan hujan percik-percik api.

Pisau lempar itu mengiris wajah perisai kanan yang terangkat, pergeseran cekatan pada sudut benda menerbangkan pisaunya ke atas dan menembus langit. Garfiel tidak memperhatikannya, malah menerjang maju, melesat di atas lantai tatkala menghampiri wanita itu sambil mengangkat perisai lainnya.

“Lu udah gua suruh buat pergi dari sini, ye?”

“Aku dengar, dan inilah responku.”

Tepat sebelum tinjunya mengenai sasaran, wanita itu mundur dan menarik lengannya ke depan.

Mendadak, pisau di belakang Garfiel merobek dari langit-langit, berputar lagi membawa momentum dari belakang.

Terikat tali pada gagang pisau, terhubung dengan pisau wanita lainnya.

“Garf!”

Peringatan Frederica kelewat lambat.

Pisau berputar-putar selagi mendekati tangan Garfiel, diangkat dan hendak menabraknya, siap mengirisnya menjadi dua. Namun ….

“—Keras kepala!”

“—!?”

Baru saja Frederica mau menjangkau Garfiel, atau barangkali gagal, si anak lelaki berteriak.

Tangannya membesar dan menebal. Bulu emas melapisinya, tangannya setebal batang kayu, jelas bukan anggota tubuh manusia manapun melainkan milik hewan.

Bahkan tante itu terperangah.

Meraung, Garfiel membanting tinjunya serta perisai ke perut si tante.

Tentu saja, sama sekali tidak berusaha menghindar, pisau menonjol di lengan Garfiel. Tetapi gagal memotong seluruh anggota tubuh keras beserta seluruh bulu-bulu lembutnya.

“—Ugh!?”

“Pergi dari sini, tante!”

Tidak repot-repot memikirkan rasa sakit, ayunan tinju wanita itu menghempasnya jauh. Tidak dapat menahan daya dorong, si tante terjatuh ke tanah, terpental dan berguling-guling di sepanjang lantai. Garfiel melihatnya berguling-guling sambil mencabut pisau dari bahu. Taringnya memotong tali penghubung dan melempar pisau itu keluar jendela terdekat.

“Ha! Krugan dapat membunuh musuh tanpa menggunakan tangannya! Lu pikir gua bakal kesakitan hah, salah besar, tolol!”

“Yang tolol itu kau!”

“Dgha!?”

Garfiel bersombong diri, ketika itulah kepalan kakaknya menumpuk kepala belakang.

Garfiel sampai jongkok, menatap Frederica sebagai protes atas hukuman tiba-tiba itu.

“Gaya bertarungmu melukai diri sendiri …. Nenek bakal menangis jika melihat ini.”

“Uh, guh … gua gk tau nenek mikirin apa ….”

“Seperti itukah caramu memanggil Nenek!? Aku tidak ingat pernah membesarkanmu seperti ini!”

“Kita sudah lama tidak bertemu semenjak umurku empat tahun, akhirnya bereuni dan elu mukulin gua, malah lo yang parah!”

Garfiel menarik nafas. Frederica melihat ke depan, mendapati sosok hitam yang terbangun lesu.

Wanita itu diam-diam menegakkan diri dan membalik pisau di tangan sebelum mendapati darah menetes dari mulut di jemari, lalu dia jilat. Tumbuh senyum indah di wajahnya.

“—Memukau. Sangat memukau. Bocah lincah.”

“Jujur deh, aku yang hebat ini kagak ngeduga lu bisa kek gitu. Maaf, ngeremehin lu sedikit.

Garfiel menyatukan tangannya sembari meminta maaf.

Percakapan itu tidak tampak seperti dua monster yang saling bunuh, tentu membawa Frederica ke ruang lupa waktu sejenak. Menggelengkan kepala, kembali fokus.

“Garf! Wanita ini terkelubung misteri. Jangan lengah ….”

“Udah tau. Omong-omong. Kak … kak, lu kenal gadis yang bernama Rem?”

“…? Ya, dia ada di Mansion ini. Aku, anu, dengar-dengar dia adik Ram.

Frederica juga tidak amat yakin soal hal ini.

Pelayan itu mengenal Ram sejak kecil, namun tidak ingat tentang si adik perempuan. Tetapi Subaru menjelaskan bahwa Rem adalah adik Ram, belum lagi teramat mirip dengannya. Rupanya, Rem terkena sihir Penyihir yang membuat eksistensinya dilupakan semua jiwa di dunia.

“Dia mirip Ram?”

“Persis mirip Ram. Tapi tiada ampun bagimu bila memperlakukannya sebagai pengganti cinta.”

“Aku takkan melakukan hal bodoh seperti itu. Cuma penasaran aja—Ini serius.”

Selama pembicaraan mereka, tante psikopat memutar bahu dan kaki, memerika kondisi fisiknya.

Mungkin memberi mereka waktu berbicara. Isi kepalanya tidak jelas.

“Kak, kalau Rem itu ada di tempat ini, temukan dan bawa dia keluar. Tangan gua yang hebat ini bakal ngebantai dia.”

“K-kau ngomong apa sih? Aku akan ikut bertarung. Kita bersama-sama, peluangnya akan ….”

“Aku jadi penasaran nih.” ucap si tante.

Frederica memandangi wanita itu, pandangan tajam, namun si wanita menyembunyikan senyumnya di balik pisau.

“Tolong jangan pasang wajah menakutkan begitu. Kuyakin adik bayimu akan membuktikan kebenaran tuturnya.”

“… Garf?”

Alis Frederica mengerut bingung. Garfiel menyesuaikan sudut perisainya.

“Maaf, kak. Musuh kali ini bukan gampangan, kagak bisa mikirin apa yang terjadi di belakang.”

“Hah!”

Kau akan jadi beban, adalah maksud yang diutarakan kepada Frederica yang terdiam.

Walaupun menyadari kemampuannya sendiri bahkan tak mampu menyentuh wanita itu, rasanya masih sakit ketika mendengar dirimu teramat-amat tidak berguna sampai jadi beban.

“Jangan salah paham, kak. Gak ngatain lo beban.”

“… Terus kau bilang apa?”

“Tente ini misal jadi serius, nih tempat bakal jadi zona perang.”

Garfiel mengutarakannya sendiri, kemudian diucapkan kepada si tante. Pembunuh itu senang, seolah menjamin imbuh Garfiel. Mengotak-atik jalinan rambutnya sebelum membungkuk ke depan.

“Tepat sekali … sebaiknya kau mundur saja.”

Pertarungan—sesuatu yang hanya bisa dipahami orang-orang kuat.

Sadar betul Frederica kalah kelas, dirinya merasa amat frustasi.

Kembali bersua dengan sang adik setelah sepuluh tahun lamanya, namun tidak bisa membantu sama sekali.

“Jangan pikirin omongan sia-sia itu, kak.”

“Garf ….”

“Lihat tanga guau. Perisai-perisai ini adalah yang kita mainkan saat masih kecil. Kekuatan ini ada pada lu dan gua.”

Mata Frederica melebar.

Keresahan, kerisauan, ditambah sesuatu selain emosi tersisip dalam suaranya. Frederica merasa adik laki-lakinya telah dewasa, hatinya kian panas.

“Kapten bisa ngalahin gua dengan kekuatan jumlah. Tapi berada di kursi teratas ngerubah cerita itu.”

Melangkah maju, Garfiel menggertak gigi, mengayunkan perisai-perisainya.

“Maju sini, tante. Ini perayaan gua yang ninggalin Sanctuary. Bakal gua mulai dengan melenyapkan rintangan pertama!”

Catatan Kaki:

  1. Cestus atau caestus, adalah sarung tangan tempur kuno, sesekali digunakan di Pankration. Penggunaannya seperti sarung tinju masa kini, bedanya dibuat dari kupasan kulit, kadang-kadang pelat besi atau dilengkapi bilah dan paku, digunakan sebagai senjata.