Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 123 B

Posted on

Kebahagiaan Sesungguhnya Terlefleksi di Air

CH 123 B.jpg

—Penerjemah: HugoSouls

—Menarik nafas, dia kembali menantang Makam yang baru saja ditinggalkan.

Dalam Makam berbatu sana, terasing dari cahaya bulan, sinar samar semata-mata hanya berasal dari dinding. Tempat-tempat perkembangan mana tidaklah lazim, fenomena alam semacam itu menyediakan penglihatan.

Akan tetapi, pencahayaan alami tersebut tidak biasanya berada dalam struktur batuan buatan manusia. Kemungkinan besar telah bersedimentasi oleh faktor-faktor dalam bangunan.

Mekanisme layaknya biotik, adalah fungsional selama Mana yang dimaksudkan sudah menimbun—merasakan pencahayaan dalam Makam dasarnya adalah dari itu atau semiripnya, Emilia menarik nafas dalam diam.

Di Makam, gadis itu merasakan kehadiran roh-roh mini dari kejauhan. Bukannya mereka akan pergi. Roh-roh kecil seperti Mana sekitar yang berada di mana-mana. Muncul pertanyaan mengenai apakah kau bisa merasakan eksistensi mereka atau tidak, ataukah cukup kuat untuk dirasakan atau enggak, namun kehadirannya tentu ada di suatu tempat dunia ini.

Persepsi khusus demikian adalah dari sistem penghasil cahaya di dinding.

Makam agak menyimpan banyak mana ke dalam juga ke luarr. Mana dalam Makam tersimpan pada volume yang stagnan, jumlahnya tak pernah lebih atau kurang.

Tingkat mana yang diperlukan untuk melestarikan cahaya-cahaya dinding terlampau sedikit sampai-sampai roh-roh kecil tak dapat mewujudkan diri, maka dari itu keberadaaan mereka di Makam ini romannya kelam.

Meski sudah berasumsi roh-roh minor di sini sudah hadir, mereka akan langsung dilemahkan oleh lingkungan ini.

“Makam sangattttt jahat bagi para pengguna roh.” Emilia menggumamkan kesimpulan pribadi.

Barangkali mengalahkan Ujian pertama bisa membebaskan dirinya dari semacam perasaan terpojok. Akhirnya cukup tenang untuk mengamati keadaan sekitar, kesan Emilia tentang Makam amat buruk.

Bukan ancaman besar bagi para penyihir yang merapalkan mana dalam diri. Namun bila mereka menghabiskan simpanan mana, lantas mereka takkan bisa mengisinya, Penyihir bergerbang kecil juga akan kesulitan di dalam Makam.

 Walau kekuatan tempur Emilia atau Roswaal takkan terpengaruh. “Aneh … aku hampir-hampir tidak bisa merasakan seorang pun di luar.”

Kekuatan Penyihirnya kembali, perasan Emilia akan Mana telah meningkat. Sewaktu berada di luar Makam, Emilia merasakan begitu banyak entitas sampai tidak bisa menahannya. Bisa jadi dia mengambil Mana dari semua mahluk, bisa juga entitasnya sama semua, berangsur-angsur menarik persepsinya. Benaknya kelewat kosong. Emilia mesti segera belajar cara mengendalikannya.

Tetapi pertempuran di balik layar itu ditunda sementara karena dirinya berada dalam Makam.

Dia malah perlu menunggu Ujian.

Jujur saja Emilia tidak tahu opsi mana yang lebih bagus.

“Ram memohon padaku. Harus fokus.” Emilia memikirkan Ram, dia meminta-minta pada Emilia sambil menundukkan kepala.

Ram tak pernah memperlihatkan kelemahan semacam itu, kala itu dia menampakkan emosi intens. Bagaimana bisa Emilia membayarnya selain mengabulkan permintaannya?

Subaru kembali ke Mansion tanpa menanyakan hasil Emilia, berarti percaya padanya. Tindakannya mengungkap keyakinan teguh bahwasanya Emilia mampu melewatinya. Emilia wajib membalas kepercayaan Subaru. Sebetulnya, dia kudu berusaha lebih lalu mengejutkannya.

“Aku senang mereka percaya padaku, tapi masalahnya bukan itu.”

Meskipun mereka sedang terburu-buru, Emilia menampik kenyataan mereka yang pergi tanpa menenemuinya. Si gadis sepatutnya mengejutkan mereka dan bersungut-sungut. Mereka berdua sungguh-sungguh perlu perbincangan serius setelah semuanya berakhir.

“Omong-omong, perasaan ini … Ujian telah tiba.”

Tatkala dirinya memasuki Makam, kulit Emilia merasakannya.

Lumayan tak yakin bahwa keluar dan memasuki Makam akan cukup bagi Ujian untuk mempersiapkan diri, tetapi udara dingin dalam Makam terus menyampaikan kebenaran padanya.

Tidak perlu ditunda-tunda lagi.

Dalam ruang Ujian, Ujian kedua tengah menunggu Emilia.

“Aku sudah melihat masa lalu. Kalau begitu, selanjutnya apa …?” pipinya menegang, hampir kaku, sambil mengelus-elus perut.

Memanfaatkan ketidakaturan pernafasannya sebagai penentu apakah sarafnya menguat atau tidak. Nyatanya begitu.

—Ruang Ujian tidak berubah kala menyambut Emilia.

Satu jam pun belum sejak kepergiannya. Tentu tidak berubah.

Kemungkinan ruangan ini sendiri menyetor muatan Mana yang lebih besar, tempatnya agak lebih jelas ketimbang di lorong. Pintu belakang ruangan tetap tertutup rapih seperti biasa. Apakah yang menunggunya di sana tatkala melewati Ujian Ketiga?

Saat Emilia memikirkannya ….

Saksikanlah, masa kini yang semestinya tidak kau saksikan.

“—Eh.”

Emilia mendengarnya.

Berdengung dalam telinga, suaranya sendiri.

Seketika memikirkan maksud masa lalu yang semestinya tidak kau saksikan, kesadarannya memudar.

Sensasi menusuk telah merobek-robek pikiran serta jiwa Emilia dari raganya, menyeret insannya menuju dunia lain.

Tidak berdaya, Emilia meringkuk di dinding Makam sebelum pingsan.

Visinya mengabur. Otaknya kian surut. Akal sehatnya sayu. Kesadarannya tenggelam.

“Subaru.”

Tidak yakin bibirnya mengucap apa barusan, Ujian telah dimulai.


“Hei-hei, Lia. Kau mau pergi kemana, sini deh.” dihentikan oleh suara lembut barusan, Emilia balik badan.

Seorang wanita berambut perak pendek mengajaknya menuju meja makan. Matanya tampak jahat. Suaranya merdu. Mengindikasikan wanita ideal bagi Emilia.

“Ibu, Fortuna ….”

“…? Masih setengah-sadar? Kau bergadang lagi. Kau bukan anak-anak, tidak boleh menyulitkan orang lain.”

Fortuna mendekat, menegurnya sambil mengetuk dahi Emilia.

Menekan tanda merah samar di jidatnya, Emilia membuka mata lebar-lebar.

“Woah.”

Suara takjub terselip di bibirnya tanpa sadar. Sekuat itulah hati Emilia tersentuh oleh pemandangan tersebut.

Kali pertama Emilia melihat Fortuna mengorbankan kenyamanannya dan mengenakan celemek. Celemek putih berumbai yang kelewat menyertai kerpibadian Fortuna, namun sangat cocok dengan sosok cantiknya.

“Ibu, kau manis.”

“—Kata siapa itu? Kau benar-benar setengah-sadar.”

Pipinya memerah sedikit, Fortuna meraih bahu Emilia dan membalik badannya. Mendorong punggung Emilia, kemudian ….

“Cuci mukamu di sungai. Nanti kau tidak ngomong aneh-aneh lagi karena air dingin membangunkanmu. Walaupun akan sama-sama saja meskipun sudah terjaga sepenuhnya.”

“I-ibu ngomong apa sih? Itu tidak benar. Aku gak setengah tidur … dari awal juga aku gak ngomong aneh-aneh.”

“Darimana kau belajar ngomong begitu? Aku sangatttttt khawatir semua orang mengusikmu dan menjejalkan hal semacam itu dalam kepalamu. Nanti aku interogasi Arch.”

Emilia cemberut. Tapi Fortuna hanya balas mengangguk, tidak menyerah sedikit pun. Kendati kaget karena pendapatnya sendiri tidak berhasil, Emilia menurunkan bahu dan mulai berjalan ke sungai.

“Aduh, hai, Emilia. Kau kelihatan kesal.”

“Duh, benar deh. Fortuna-sama ngomel-ngomel, ya? Pasti dia bangun kesiangan.”

“Sekarang Emilia sudah cukup dewasa. Aku yakin dia perlu waktu merenung.”

Keluar rumah dan mulai menyusuri jalan menuju sungai, para elf desa memanggilnya.

Sekelompok elf yang lebih tua duduk di meja yang dikelilingi oleh akar pohon tebal sembari mengobrol. Emilia dengar-dengar mereka seusia Fortuna, semua orang termasuk Fortuna sendiri menganggap Emilia muda.

“Selamat pagi. Kalian semua beraktivitas lebih awal.”

“Kau yang kesiangan, Emilia.

“Emilia, kaulah yang kesiangan. Hebat memang membantu pekerjaan Ayahmu, karenanya masa mudamu terbuang sia-sia apabila tidak dimanfaatkan untuk bersenang-senang.”

“Betul, betul. Kau itu lucu, Emilia, berbahagialah selagi masih lucu.”

“Seandainya aku semuda dan semanis kau, Emilia, aku akan bersepeda ke seluruh desa.”

Emilia bingung soal istilah bersepeda di desa, selagi para wanita menatap satu sama lain dan tertawa-tawa, cekikikan. Detail percakapan mereka kurang lebih tidak dipahami Emilia, untung semua orang bersuka ria.

Mendapati dirinya bergembira, Emilia menyantai.

“Nah, jauh lebih baik ketimbang menggerutu. Senyum, senyum, senyum dong.”

“—Oke.”

Setelah menunjuk Emilia yang tersenyum, jemari wanita itu menarik pipinya hingga membentuk seringai.

Kata-kata mereka masuk akal, Emilia langsung tersenyum dan mengangguk.

Melambaikan kepergian kepada para wanita, Emilia melanjutkan perjalanannya menuju sungai.

Menyisik akar pohon yang berbonggol-bonggol, melewati celah di dedaunan hijau. Mendengar bunyi gemericik aliran air, Emilia berlari kecil, wajahnya berseri-seri.

“Akuuu—sampaiii!”

“Wogh!? Emilia!?”

Seketika menyingkirkan cabang-cabang dan menonjolkan kepala, dia melihat seseorang sedang handukan di depannya, terlihat kaget. Menyadari bahwa si penyusup adalah Emilia, mata pemuda itu jelalatan dan bingung—

“Ah.”

“Auh.”

Emilia menutup mulut saat kaki pemuda itu terpeleset dan terjun ke sungai.

BYUR. Semburan air terbang saat pemuda itu jatuh ke sungai.

“Arch! Kau tidak apa?”

Berdiri di atas kejatuhannya, Emilia melihat ke bawah dan memanggilnya.

Gelembung-gelembung air muncul satu per satu, di ikuti seorang pemuda berambut pirang yang naik ke permukaan. Mengelap wajahnya dengan tangan, kemudian mengangkat tangan kepada Emilia yang mengamati.

“Aduh, Emilia! Jangan ganggu orang yang baru saja selesai mandi!”

“Maaf. Kukira tidak ada orang di sini … tapi aku lega orangnya kau, Arch.”

“Maksudmu apa!?”

Emilia menepuk dada lega. Arch berteriak mengutuk keanehan perilakunya.

Satu jari menyentuh bibir dan mendemum.

“Maksudku, kita ‘kan dekat, Arch, jadi kau akan memaafkanku.”

“Oh ….”

“Aku, selalu menganggapmu sebagai seorang kakak … jadi kau melewatkannya dan memaafkanku, kek gitu.”

“Siapa bilang. Bangke … kau tidak tahu aku merasakan apa ….”

Arch bergumam kesal sambil memasukkan mulut ke air, membuat gelembung-gelembung. Menenggelamkan pernyataan terakhir biar Emilia tidak dengar.

“Aku ke sini untuk mandi. Boleh melompat ke sebelahmu?”

“Hah? B-bego! Jangan mandi, di tempat terbuka seperti ini dong. Kau super tidak boleh! Malu sedikit ngapa! Memangnya kau mau terus-terusan menjadi anak kecil!?”

“Nuhh ….”

“Jangan nuhhh!”

“Wehhh ….”

“Jangan wehhh juga!”

Setelah bersiap untuk melompat ke sungai, Emilia mencibir larangan Arch. Emilia tidak yakin kenapa dia sangat panik, pokoknya hari ini Arch jahat. Barangkali pria itu dongkol karena terpeleset dan terjatuh ke sungai.

“Arch, maaf.”

“Err, anu … k-kenapa kau mendadak patuh begitu?”

“Pikirku kau tidak teramat suka jatuh. Maaf. Biarkan aku mandi dong. Kalau tidak, Ibu Fortuna tidak membolehkanku makan.”

“Itu pola pikir anak bocah!”

Arch berteriak sambil menepuk kepala.

Berhenti mengayuh-ayuh macam anjing, dan sesaat sedikit tenggelam ke air. Artinya, sejenak saja, dia mengalihkan perhatian dari Emilia.”

“Wuh.”

“Ah!”

Setelah berceria, sinar matahari menerangi bulu mata Emilia, lalu—dia terjatuh.

Rambut keperakan terurai ke belakang saat jatuh jari kaki dahulu ke air.

Kontak air Emilia tidak membuat cipratan besar karena kekuatan tenggelamnya kecil, gadis itu sampai dasar dalam sungai.

Di air jernih, mata terbuka Emilia melihat ikan serta tanaman yang bergoyang-goyang di dekat arus. Kakinya menyentuh dasar sungai. Merasakan sensasi geli pasir tatkala naik. Wajahnya muncul di samping Arch.

“—Fuahh.”

“Jangan! Fuahh!”

Emilia merapikan rambut basahnya, menjauh dari Arch yang berteriak.

Arch mengerutkan alis, barangkali ingin marah-marah lagi namun tahu kalau itu tetap tidak menghentikan Emilia. Mendesah dalam-dalam dan berjalan ke belakang Emilia.

“Rasanya segar, Arch.”

“Sebab kau terjun sendiri jadi rasanya begitu. Aku terdorong, diterpa air saat kau melompat, rasanya buruk.”

“Oke. Aku senang kau ikut bersenang-senang.”

“Kau beneran gadis yang optimis, Emilia ….”

Merasa terpuji, Emilia mengapung di atas air sambil membusungkan dada.

Arch memalingkan mata dan menggaruk hidung. Pipinya merah. Namun airnya dingin. Mungkinkah dia demam?

“Apa kau baik-baik saja? Kau marah karena jatuh ke airkah?”

Bila begitu, tentu saja Arch akan mengujar perbuatan Emilia, walaupun sudah meminta maaf.

Sedangkan Emilia ingin menyeret Arch keluar sungai dan segera menyembuhkannya dengan sihir.

“Enggak, bukan itu, jangan khawatir. Bukan itu alasannya …. Anu, Emilia. Bersama seorang cowok, seharusnya kau tidak … maksudku, di sekitar orang-orang, semestinya tidak buka-bukaan. Apalagi bersama orang asing.”

“…? Arch, kau dekat denganku, kan?”

“Bahkan bersama orang yang dekat denganmu! Emm … t-tapi boleh di sekitarku.”

“Tidak bersama Ibu?”

“Bersama Fortuna-sama, aku, dan wanita itu!”

Meneriakkan Emilia sementara si gadis sendiri kebingungan, Arch menggigit bibir, mukanya kian memerah. Kemudian dia menyelami air dan mengoceh-ngoceh, menghilang dari penglihatan Emilia yang mengerutkan alis … tatkala mencapai tepi sungai, dia beranjak ke tepian.

“Oke, kau juga keluar, Emilia. Semisal hanya pengen melek saja, biasanya kau cuma membasuh wajah, bukan mandi. Kurasa Fortuna-sama tak menyuruhmu mandi di pagi hari.”

“Sebetulnya, kau barangkali benar …. Aku tidak membawa baju ganti.”

“Serius nih, kau ngapain sih ….”

Ucap Arch, nampak heran ketika melihat tingkah ceroboh Emilia.

Emilia mulai berenang menghampirinya, pria itu melesat ke dalam hutan dan kembali dengan handuk.

“Keringkan badanmu dengan ini, bungkus ke seluruh tubuh dan pulang ke rumah. Duh, kau memang anak kecil entah berapa pun usiamu.”

“Ahaha, maaf, Arch. Makasih sudah meminjamkanku ini.” bahkan Emilia menyadari perbuatannya setelah semuanya berakhir.

Tangannya yang terulur meraih lengan Emilia dan menariknya dari sungai, Emilia mengambil handuk dan mengeringkan rambut panjangnya. Rambutnya berkilau perak di bawah sinar mentari, tampak tebal karena disatukan air.

“… Rambutku selalu sepanjang ini?”

“Kau ngomong apa sih? Kau sudah lama menumbuhkannya. Rambutmu sewarna dengan Fortuna-sama, indah pula.”

Handuk menyerap air, Arch menimpanya dengan pernyataan demikian.

Mendengarkan kata-kata Arch perlahan-lahan menyadari kebenarannya, tapi sejak kapan Emilia memanjangkannya?

Walau merasa ada yang tak beres, Emilia memindahkan fokusnya dari keabnormalan itu. Mengeringkan rambut basahnya lalu tubuhnya. Setelahnya, mendekati bibir sungai kemudian memenuhi tujuan awalnya, yakni mencuci muka—

—Mendapati parasnya terpantul di air, tenggorokan Emilia tersedak.

Kulit pucat. Mata kecubung. Bibir merah muda. Rambut perak panjang nan berkilau. Kesemuanya adalah komponen persis tubuhnya. Tiada yang berubah, tiada pula yang aneh.

Seolah-olah ….

Hal-hal aneh, hal-hal absurd, hal-hal tidak benar, adalah apa yang dia lihat di sini.

“Uh, ah ….”

Menepuk, menampar pipi, nafas Emilia megap-megap.

Paru-parunya seakan kejang-kejang. Tak mampu bernafas dengan benar. Nalurinya menyempit, tekanan yang berdenyut lagi menyakitkan mengalir ke seluruh tubuh.

“Emilia, ada apa?”

Menyadari kondisi tak biasa Emilia, Arch berkata dengan suara lirih.

Emilia terus menatap pinggiran sungai, membeku, Arch menyentuh bahu dan menepuk kepalanya dari belakang.

“Kau melihat sesuatu yang ganjil di sungai?”

“… Gak kok.”

“Apa perutmu mulai sakit? Aku tidak bisa menggunakan sihir penyembuhan, jadi aku kudu mengantarmu ke seseorang ….”

“Bukan, bukan itu.”

Merasakan sentuhan telapak tangan Arch juga mendengar suaranya. Namun tetap tidak menggeser perhatiannya dari air.

Arch mengikuti mata Emilia, sepertinya tahu dia sedang melihat apa. Lalu dengan ragu-ragu menunjuk Emilia yang tercermin di atas air.

“Apa ada sesuatu di wajahmu? Tapi sama-sama saja sih, cantik seperti biasa.”

“Wajah orang dewasa ….”

“Huh?”

“Wajahku dewasa … belum pernah aku melihat wajahku sebelumnya.”

Melihat tampang tak dikenal di atas air, Emilia bergumam dengan suara gemetar.

Menggerakkan jemarinya untuk memeriksa apakah muka ini mungkin bukan miliknya, tetapi pantulan air menyalin gerakannya dan membantah kemungkinan tersebut. Wajah ini miliknya. Belum pernah terlihat sebelumnya, dan itu milik Emilia.

“Aku ….”

Setelah memperhatikan satu titik teraneh, lebih banyak bermunculan hal yang tidak pada tempatnya.

Emilia melihat ke bawah. Dadanya telah tumbuh. Rambutnya jua.

Tubuhnya lebih besar dari yang dia ingat, harusnya ada perbedaan besar antara dia dan Arch.

Persepsi orang-orang tentangnya juga percakapan bersamanya telah berubah sedikit.

Berapa kali sudah orang-orang bilang bahwa dia bukan lagi anak kecil?

Tidak. Emilia bukan anak kecil lagi.

“—Aku harus pergi.”

“Emilia?”

Gadis itu berdiri, kepalanya sedikit berayun ketika balik badan.

Hutan yang dia lewati, dan desa. Rumah tempat Fortuna menunggu.

Dia harus kembali ke sana.

Dia tidak tahu mesti melakukan apa, hal demikian saja merupakan kebenaran tak tergoyahkan.

“Arch, maaf. Aku akan kembali ke Ibu Fortuna.”

“Y-ya … tak apa, kau oke-oke saja?”

“Aku baik sekarang. Maaf mengganggu pemandianmu. Aku baik tanpa handuk.”

Emilia melepas handuk dan memberikannya ke Arch yang linglung.

Memastikan Arch mengambilnya sebelum lari sembari bertelanjang kaki. Secepat mungkin kembali ke rumahnya—dan di belakangnya.

“Emilia!”

Dia mendengar Arch.

Hatinya kukuh bahwa dirinya tak punya waktu untuk menunggu, namun berhenti juga. Seakan-akan seseorang bilang untuk tak pernah membicarakan satu hal pun yang dituturkan Arch.

Emilia melirik ke belakang. Arch mengangkat tangan.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kiranya kau meresahkan sesuatu, kau senantiasa bisa mengungkapkannya padaku! Karena aku … karena aku seperti kakakmu!”

Meski labil sesaat, Arch menyemangati Emilia.

Entah kenapa, mendengarnya membuat suatu eksistensi dalam dada Emilia mendidih.

Benar-benar senang mendengar imbuh tersebut.

Emilia merasa sesuatu yang berkembang dalam hatinya berbeda dari kebahagiaan biasa.

“Benar! Terima kasih, kakak!”

Emilia balas melambai terhadap Arch yang memerah, kemudian melanjutkan larinya.


“Aku yakin sudah menyuruhmu untuk membasuh wajah, kok bisa seluruh badan jadi basah kuyup? Ibumu bingung.”

Mendesah sambil tercengang ketika menyambut putrinya yang kebasahan di rumah.

Kendati sebagian besar rambutnya sudah kering, pakaian putih Emilia masih menempel di kulit dan air menetes dari rok.

“Maaf, Ibu. Aku agak … sangatttttttttttt setengah sadar.”

“Aku bilang basuh wajahmu biar kantuknya hilang, kau malah kelewat semangat. Benar-benar seperti anak kecil entah berapa pun usiamu. Apa ada yang melihatmu dalam kondisi ini?”

Rasanya memalukan ketika seseorang melihatmu bak tikus tenggelam, barangkali begitulah maksud ibunya.

Kemudian, ajaibnya, dia tidak berpapasan dengan seorang pun dalam perjalanan pulang.

“Tidak, tidak apa. Hanya dilihat Arch.”

“Hmm … Arch. Yah, kalau dia sih … tapi aku curiga Arch mulia memandangmu berbeda ….”

“Ibu?”

“Ah, erm, gak, bukan apa-apa. Nah, sini.”

Emilia menunduk. Fortuna kelihatan pasrah dan membelai kepala Emilia, lanjut meraih tangan putrinya dan ditarik ke dalam rumah. Namun air terus menetes dari pakaiannya.

“Ibu, rumahnya nanti basah semua.”

“Cuma perlu handuk kering untuk membersihkannya. Omong-omong, aku punya handuk, keringkan dirimu dengan itu dan ganti baju di kamar. Aku akan buat sarapan begitu kau kembali.”

Rumah ini terbuat dari pohon berlubang, tercipta dengan menuang Mana ke dalam punjung tua tuk mengubah bentuk bendanya. Rumah Emilia didirikan langsung oleh Ibunya, tempat bersemayam yang cukup besar bagi dua orang saja. Lantai dua punya dua kamar masing-masing untuk satu orang, sedangkan lantai pertama untuk ruang makan dan dapur belaka.

Kalau dipikir-pikir, ruangannya mewah—Kalau dipikir-pikir, pernyataannya agak aneh. “Ayolah, sini.”

“Ugh.”

Sebuah handuk langsung ditempelkan ke wajahnya. Tatapan Emilia keberatan terhadap Fortuna, namun melihat sorot mata Ibunya sambil bertolak pinggang langsung membuat Emilia menyerah.

Bau handuk di wajahnya mirip matahari. Mengeringkan dirinya saat balik ke kamar di lantai dua.

Kamarnya sederhana.

Fortuna juga sederhana, tapi Emilia tidak teramat suka dekorasi tanpa faedah. Kamarnya punya perabotan terminimal mungkin, ditemani beberapa perlengkapan tambahan. Ada kotak kayu berisi pakaian, letaknya di samping Emilia yang lagi berjongkok. Mengambil pakaian acak dari kotak itu dan buru-buru mengganti pakaian basahnya.

Sebagaimana kamarnya, Emilia sama sekali tidak ingin memperindah pakaian.

Lalu menarik pakaian berlengan pendek, panjangnya cukup untuk menutupi tubuh bagian atas serta bawah. Kemudian mengganti daleman, sesudahnya ia keluar kamar —Selagi mati-matian berusaha untuk tidak melihat benda di sebelah kotak pakaian.

“Ibu Fortuna, aku akan mencuci pakaian basahnya sendiri, jadi ….”

“Duh Gusti. Berbakti sekali Anda.”

“—”

Emilia menaruh cucian di keranjang dan menuruni tangga, suara seorang pria menyambutnya.

Nafas Emilia macet ketika mendengarkan suara baik nan penuh kasih sayang. Gadis itu melihat meja makan.

Biasanya hanya ada Fortuna dan Emilia di meja makan itu, jadi orang di kursi ketiga pastilah spesial. Kursi yang Fortuna keluarkan dari dalam rumah digunakan khusus untuk tamu.

Seseorang yang duduk di kursi tersebut tentu familiar bagi Emilia. “Geuse.”

“Benar sekali, senang bertemu dengan Anda lagi, Emilia-sama. Nah, adakah hal berbeda yang terjadi pada Anda?”

“Aku? Tidak, sama-sama saja. Geuse, kau kelamaan. Aku tidak tahu kau datang ke sini hari ini, ada apa sebenarnya?”

“Anda tak tahu?  Saya yakin telah meminta Jari-Jari saya untuk menghubungi Anda sebelumnya ….”

Pria berwajah lembut, Geuse, menyentuh dagu sambil merenung. Orangnya baik hati dan kelihatan sungguh-sungguh bingung, namun Emilia seketika mengenal pelakunya.

Meninggalkan Geuse dan mengintip dapur, melihat Fortuna menutup mulut, menahan gelak tawa.

“Ibu, kau merahasiakannya.”

“Hehe, benarkah aku? Mungkin aku lupa saja.”

“Kurasa tidak. Kursi Geuse ada di sana, kau membuat makanan untuk tiga orang.”

“Ah, matamu tajam. Kau biasanya lumayan kikuk, tapi peka soal hal-hal ini.”

Fortuna mengedipkan mata pada Emilia dan bersiul sembari mengambil hidangan. Menyerahkannya kepada Emilia.

“Bantu aku atur meja, ya, Lia. Kau tidak bisa masak, paling tidak bantu aku mengatur hal-hal semacam ini.”

“Hmph … mengganti topik pembicaraan. Aku tidak bisa masak karena Ibu tidak mengajariku.”

“Nanti kau mencampur gula dan garam, aku juga enggan membiarkan seorang gadis yang bahkan tidak bisa memegang pisau di dapur.”

Memotong bantahan Emilia, Fortuna mengatur hidangan-hidangan di meja. Walaupun putrinya tidak puas, dia tetap mengekor di belakang sang ibu sampai ke meja.

Sedang duduk, Geuse melihat hidangan beraroma mantap itu sembari tersenyum.

“Saya merasa terhormat karena berkesempatan mencicipi masakan Anda, Fortuna-sama. Rasanya tak berubah, entah sebanyak apa yang saya nikmati.”

“Mulai lagi deh, dengan gamblangnya bicara demikian.”

“Saya semata-mata mengungkapkan perasaan terjujur.”

“Itu licik.”

Geuse bingung, entah kenapa nampak agak sedih.

Menyaksikan perbincangan mereka menumbuhkan senyum pada Emilia. Melihat mereka sudah cukup membuat Emilia lupa terhadap bantahannya.

“Kalau makanan Ibu sangat membuatmu senang, mengapa tidak tinggal di sini juga.”

“Apa—Emilia!”

Sambil meletakkan piring besar penuh sayur di tengah meja, Emilia menguasai topik pembicaraan dan mencoba mengucapkan kalimat itu. Segera, Fortuna tampak panik dan wajahnya memerah saat melirik Geuse.

“J-jangan aneh-aneh begitu. Geuse punya banyak hal yang mesti ditangani, dia hanya menyesuaikan waktu di antara jadwal sibuknya untuk mampir ke sini dan ….”

“Saya sangat bahagia terhadap tawaran itu, Emilia-sama. Bila memungkinkan, saya akan tinggal di sini. Hal demikian adalah pasti.”

Fortuna buru-buru menolak sementara Geuse menjawab tenang, dua-duanya saling berlawanan. Deklarasi Geuse membunuh kata-kata Fortuna dan dia terduduk di kursinya, tubuhnya kian menyusut.

Melihat kedua orang itu, Emilia juga duduk.

—Adegan di depannya ini terlihat sangat alami bagi Emilia.

“Ibu, Geuse, jikalau kalian berdua tidak keberatan, kenapa tidak lakukan saja. Lagian juga tidak ada yang ‘kan menghentikan kalian. Ah … kecuali aku yang menghentikannya?”

Jelas Fortuna dan Geuse memikirkan hal lain.

Barangkali mereka tidak ingin melangkah melampaui batas karena kehadiran Emilia. Akan tetapi, kerisauan Emilia adalah—

“Tidak.”

“Tidak.”

—Langsung ditolak mentah-mentah, sama sekali tidak dianggap.

Mata Emilia membelalak. Fortuna dan Geuse saling menatap, tersadar mereka berdua mengatakan hal yang sama, kemudian tertawa.

“Tuh, kalian berdua sangattttt serasi.”

“Jangan godain kami, Emilia. Geuse, bilangin juga dong.”

“Benar, Emilia-sama. Fortuna-sama adalah orang yang luar biasa. Seandainya orang seperti saya melebihi sambutan mereka, justru akan membebani beliau dengan rumor tak menyenangkan.”

“Hmmmpff. Tapi, menurutku hal itu sudah ada dari dulu.”

Geuse merendah hati ketika mengangkat topik mengenai Fortuna. Emilia melihat kesedihan dalam sepasang mata ibunya, kemudian ia mengangkat jari.

“Lagi pula, semua orang senantiasa bilang padaku pas keluar rumah. Untuk tidak merepotkan Ibu Fortuna atau Ayah Romanée-Conti.”

Melihat reaksi mereka berdua kala mendengarnya sangat lucu.

Emilia menutup mulut untuk menahan tawa, mengatur nafasnya, dan ….

“Aku serius. Saat bergadang semalaman, fokus meneliti perbedaan buku-buku lama yang kau berikan, Geuse, juga peta … semua orang memujiku karena sudah membantu pekerjaan Ayah.”

“S-siapa yang bilang ….”

“Tehena-san di seberang jalan, Mitto-san dan nenek Tansei.”

“Rupanya si tiga serangkai penggosip ….!”

Membayangkan wajah mereka yang melayang di udara, Fortuna menggigit bibir karena kesal.

Alisnya jatuh terliputi kemurkaan, wajahnya sedikit menakutkan.

Emilia mengimbuh, cup-cup, untuk menghiburnya, lalu ….

“Pokoknya, semua orang berpikir begitu. Dan aku juga, anu, ermmm, memikirkannya, luamyan sering, dan, hmm, uhh … itu ….”

“Emilia-sama, jangan terlalu memikirkannya.”

“T-tidak! Pikirku itu hebat! Tapi rasanya seolah Ibu dibawa pergi, jadi aku tidak bisa tenang!”

Semua orang sudah siap penuh kalau-kalau beneran terjadi, tapi mereka bertiga malah labil.

Meskipun masalahnya cuma satu, Emilia lebih suka emosinya tak menghalangi keputusan mereka.

Lagian, menurut sudut pandang Emilia, mereka cocok nian.

“Kurasa akan sangattttttttttt luar biasa. Kalian berdua wajib memikirkannya.”

Fortuna dan Geuse terdiam.

“Tidak seorang pun di hutan, tidak juga aku, akan menghentikanmu. Takkan kubiarkan seorang pun bilang kalian payah atau tidak bisa!”

Tangan Emilia memukul meja seraya berbicara penuh semangat.

Lantas menyadari bahwa dirinya terlampau bersemangat, ia sendiri jadi kaget. Mereka berdua menatap si gadis kecil yang membelai rambut dan duduk sendiri.

“J-jadi … sisanya kuserahkan pada kalian, para pemuda.”

“Aduh, Emilia, darimana kau belajar semua ini?”

Fortuna tampak terheran-heran terhadap komentar Emilia yang parasnya mendidih. Namun ekspresi sang ibu segera terhapus digantikan tawa ….

“Hee, hahahaha.”

“Ahaha, Emilia-sama … memang benar, Anda sudah dewasa. Saya kurang tegas karena mengira tiada yang berubah.”

“Betul itu, Geuse. Dialah putri kebanggaanku, tentu saja dia berubah.”

“Ya, saya meremehkan beliau.”

Fortuna dan Geuse saling memandang dan tertawa.

Suasana yang menyelimuti mereka berdua lebih hangat dari sebelumnya, Emilia merasakan perkataannya sendiri telah membawa suatu perubahan.

Mereka berdua dilingkupi kehangatan.

Tatapan mereka tentunya menghadirkan nuansa yang berbeda.

—Pemandangan yang sangat-sangat membahagiakan.

“… Emilia?”

Fortuna menatap Emilia dan memanggil namanya.

Sang putri menelan nafas dan mengubur wajahnya di tangan. Buru-buru menyeka air mata yang ‘kan tumpah dari matanya, kemudian menutur, “Ah.”

“Sepertinya ada yang nyelip dalam mataku. Selipannya sangattttt besar.”

“Sebesar itukah? Kau tidak apa-apa?”

“Aku tidak apa-apa, hanya seukuran kepalan tangan.”

“K-kau yakin tidak apa-apa?”

“Aku tidak apa-apa!”

Emilia menggosok kuat-kuat matanya sambil berdiri.

Meninggalkan meja makan dan pergi ke lantai atas.

“Aku mau menotolkan obat tetes mata. Biar mataku segar dan selipannya jatuh.”

“Mata kecubungmu sangat indah, Emilia, jangan dibuang. Matamu persis seperti saudara laki-lakiku yang indah.”

“Sama juga sepertimu, Ibu.”

Barangkali tak mengharapkan tanggapan itu, mata Fortuna membelalak kaget. Emilia melihat ekspresi geli Geuse, dia sendiri juga tertawa.

Emilia tersenyum ketika kakinya mendarat di tangga. Kembali melirik mereka berdua.

“Kalian berdua sarapan sana. Aku akan segera kembali.”

“Kalau dingin jadi tidak enak, cepat kembali, ya.”

“Mmm, segera.”

“Kalau begitu kami akan sabar menunggu Anda, Emilia-sama.”

Fortuna dan Geuse menghantarkannya, Emilia menarik nafas panjang.

Melihat ke belakang sekilas, menatap mereka berdua di meja bawah.

“—Aku sayang kalian.”

Setelahnya, Emilia kembali ke kamar.

Menutup pintunya dan mendesah panjang, memeras seluruh udara dalam dirinya.

Ususnya seolah terlilit, menyempit. Menampar pipinya untuk menenangkan diri, menggelengkan kepala, lanjut berjalan ke sudut ruangan.

Di samping kotak Emilia ada suatu barang panjang nan tipis terbungkus kain. Emilia tidak pernah meraihnya sampai sekarang, namun ….

“Seandainya tidak kuhadapi, nanti takkan mulai-mulai.”

Memberinya keberanian.

Menyusuri bibir dengan jari, mengingat kehangatan saat menarik pembungkusnya.

Tirainya tersisih.

Di baliknya ada cermin bulat sempurna yang dipoles komplet sebagai pantulan Emilia dari kepala hingga jari kaki—

“—Apakah kejadian kebahagiaan ideal ini memberikanmu sesuatu?” —Seorang penyihir berambut putih berdiri di tempat bayangan Emilia seharusnya.

7 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 123 B”

  1. LalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalalaLalalalalalalalala

  2. Translit terus mang…Jangan kasih kendor,translit teruss ampe mampuss,Ahh…~~ Otakku Bergetar..~~

  3. Aaakkkhhhhh, sekali lagi kemungkinan masa depan yg terjadi, tdk terduka geuse orang yg seperti ini sebelum menjadi Uskup.
    ONOREEE PANDORAAA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *