Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 121

Posted on

Tolong Dia

CH 121.png

Penerjemah: Ingin Kumenangis

Menyeka air mata dan menepuk pipi.

Menyisir rambut-rambutnya yang brentakan, membenarkan pakaiannya yang lecek-lecek.

Benarkah wajahnya saat ini kelihatan mengerikan?

Puck biasanya hadir dan mengomentari penampilan Emilia, tapi dia tidak ada di sini. Walaupun, kristal bercahaya redup tanpa bentuk dari pemberian Garfiel telah meyakinkannya.

“… Sementara waktu kita tidak ketemuan dulu.” kristal dalam genggamannya menyedut keluar mana lewat ujung jari.

Puck adalah Roh Agung tanpa kontrak, dia cuma bersemayam dalam perantara namun masih mengemban mana maha besar. Bila Subaru atau Garfiel menghabiskan waktu sepenuh hari memegang penguras mana itu, mereka akan mati kehabisan mana.

Hebatnya daya peludes mana itu setara dengan jumlah mana Emilia yang pada dasarnya sudah besar. Emilia mendapatkan memori masa kecilnya, kembali ingat bahwa dia bisa menggunakan sihir tanpa bantuan para roh. Mana kala dia fokus pada gerbang semata, Emilia mampu merasakan peredaran mana yang terlampau besar.

Emilia-lah alasan Puck bisa mengambil wujud di dunia nyata. Kucing itu akan mengumbar-ngumbar bahwa dia bisa menyerap mana dari alam, tetapi nyatanya sebagian besar perbuatan Puck adalah agar Emilia tidak mengingat kembali kebesaran gerbangnya.

Semuanya semata-mata agar Emilia tidak mesti melawan ingatan terlupakannya.

“Kau benar-benar kelewat protektif.”

Tersenyum tipis, Emilia mengetuk-ngetuk kristal.

Barangkali keberatan atau tersenyum kecut, kristal itu meresponnya dengan nyala cahaya.

“… Oke. Hmm, semuanya baik-baik saja sekarang.”

Suasana hati Emilia sudah kembali normal ….

Memikirkan Fortuna atau Geuse membuat hatinya pedih, setiap kali seperti itu Emilia mesti menenangkan diri, kalau tidak dia nanti menangis lagi.

Tapi Emilia tidak boleh meringkuk selamanya. Dia punya tugas. Tentu Fortuna dan Geuse mengharapkan banyak hal padanya, mendambakan hal-hal itu darinya.

Emilia keluar dari ruang Ujian, langsung menuju lorong batu yang mengarah ke pintu keluar.

Dua Ujian lagi. Melampaui Ujian pertama tidak cukup membuat ruangan inti terbuka. Kemungkinan besar dia kudu menyelesaikan ketiga Ujiannya.

Persyaratan untuk memulai Ujian selanjutnya masih belum jelas. Keluar dan masuk Makam lagi? Ada jenjang waktunya? Yang mana pun, Ujian takkan mulai selama dia terus menangis dan berkabung. Mungkin masuk kembali adalah persyaratannya.

“Kalau Echidna aneh-aneh lagi, gimana dong? Kurasa pas momen-momen akhir dia sangatttttt kesal padaku.”

Aku membencimu, katanya. Sayangnya aku tidak teramat membencimu, balas Emilia.

Sebagian jawaban itu adalah balas dendam kepada Echidna karena wanita itu terus mencacinya terlepas Penyihir itu sendiri adalah penguasa Ujian, mungkin dia bisa lebih sedikit mengendalikan diri.

“Kuharap kau tidak marah-marah banget.”

Sambil mendoakan kebaikan Echidna, Emilia keluar Makam. Cahaya rembulan yang tumpah-ruah di ujung lorong memberitahu Emilia pintu keluar sudah dekat.

Gadis itu serta-merta melupakan Echidna dan mengangkat kepala gembira.

Masa lalu yang dia ingat jelas tidak lagi berarti.

Rasanya masih belum begitu nyata, namun masih tetap peristiwa besar tak tergantikan yang mendirikan hal-hal fundamental dalam diri Emilia.

Tapi untuk saat ini, dia hanya ingin memberitahu semua orang yang menaruh kepercayaan padanya bahwa dia telah mengalahkan Ujian.

Melihat pria yang mengatakannya, Kau bisa, lalu membalas: Aku berhasil.

Menyipitkan mata sebab tersilaukan cahaya bulan, Emilia keluar Makam—

“Saya menyambut kepulangan Anda, Emilia-sama.”

Langsung disambut oleh Ram yang memberi hormat, tak seorang pun kelihatan di sana kecuali dia, Emilia bingung.


—Waktu mundur sedikit, tepat saat Ujian Emilia dimulai.

Selagi melintasi rute yang menuju pondok tempat Roswaal memulihkan diri, berniat untuk memverifikasi motif pria itu, Subaru menelan nafas dan berhenti.

Dia tahu Garfiel sedang berjalan di sampingnya, bocah itu membelalak karena terkejut, Baginya, situasi ini begitu tiba-tiba.

Subaru telah membayangkan beberapa keadaan dan kemungkinan-kemungkinan kejadian sebelumnya, anehnya dia sendiri tidak bisa tidak heran. Walau sedikit iba pada Garfiel, Subaru menghembuskan nafas pada seseorang yang menghalangi jalan mereka.

“Tidak kusangka kau ada di sini … melihatmu membuatku merasa tidak enak.”

“Nah, mengejutkan, ya. Menurut perkataan Roz kecil, matamu cukup jeli sampai bisa mengetahui semuanya, Su kecil.”

“Dianya yang terlampau berspekulasi. Serius deh, sebesar apa sih perkiraannya terhadap diriku?”

Dari sudut pandang Roswaal, dia tahu betul kemampuan Return by Death—lebih tepatnya, Perulangan, lantas memang tepat jika semuanya seperti perbuatan Tuhan Al-Muqtadir.

Namun Return by Death sendiri tidak sesempurna itu. Sama sekali tidak mampu mengembalikan hal-hal yang terlanjur hilang. Semacam kekuatan jahat.

Menyipitkan mata, seorang gadis berambut merah muda mirip Lewes yang mereka tinggalkan di luar Makam, salah satu klon Lewes Meyer—dia tersenyum menggoda.

Subaru telah memperhitungkan keberadaannya, laki-laki itu cuma mengangkat bahu, namun reaksi Garfiel dramastis. Matanya terbuka lebar tatkala menatap wajah neneknya.

“Apa-apaan … ngapa ada nenek laen di sini? Mestinya nenek cuma atu, selain itu pasukan kloning yang mukanya mirip nenek doang.”

“Semua hal di dunia ini punya pengecualian …. Jawabannya betul. Perkirakan saja Lewes yang Gar kecil tahu sebagai perwakilan Sanctuary adalah pengawas tempat ini, lantas aku ini pengurus fasilitas-fasilitas Sanctuary. Sebuah kehendak yang dititahkan Lewes Meyer, terus-menerus melindungi tempat ini.”

“Ngomongin sistem, kau tidak setuju Sanctuary terbebas. Kurasa aneh saja tak satu pun Lewes-Lewes menentang pembebasan ini dan menyerang Garfiel. Jadi, orang yang diam-diam menghasutnya … adalah kau—Lewes Omega.”

“Omegad?” kata Garfiel.

“Wow, Kapten. Tuh nama apa.”

“Jumlah mereka ada beberapa tapi kau tidak membedakannya, sulit saja menyebut mereka semua Lewes-san. Biar mantep saja, kita panggil Lewes Alpha, Beta, Sigma, dan Theta. Namun kini ada lima Lewes-san, Omega. Hatimu tidak merasa bergetar?”

“Enggak, tuh nama keren banget buat nenek … gak adil ah.”

“Sebetulnya. Kalau kau ada banyak, nanti kuberi nama keren lagi.”

“Tapi gua cuman atu ….”

Sepertinya penemaan Subaru sangat menarik minat Garfiel. Mereka berdua mendadak membahas topik tak terduga ini sedangkan Omega mendesah.

“Terserah kau memanggilku apa, tapi seketika tidak menghiraukan aku dan ngomong berdua. Sejak kapan kalian berdua berteman baik?”

“Dua orang pria yang saling baku hantam kala matahari sore melukis cakrawala ‘kan senantiasa merajut persahabatan. Meskipun pertarungannya sendiri empat lawan satu. Benar tidak, Garfiel?”

“Lu bebas ngakuin kesalahan apa pun, Kapten.”

Tampaknya Garfiel masih tidak setuju-setuju amat dengan kekuatan jumlah, namun dia sendiri merasa sangat terpukul. Kesampingkan itu, canda mengulur waktu dan berpikirnya telah berakhir.

Subaru menghadap Omega1. Nenek itu membelai rambut panjangya.

“Sorot matamu berubah. Tidak lagi seorang bocah yang selalu saja teledor.”

“Semua topik tentang anak-anak ini masih segar, lumayanlah. Omega-san, apakah aku benar? Kau tidak seperti Lewes-Lewes lain, tidak punya rotasi? Aku tidak ingin punya Gamma, Ampersand2, Dollar3, dan Pound4 juga.”

Subaru mulai menyebutkan nama-nama macam apa pun yang bisa dia pikirkan. Mata Garfiel berbinar-binar.

Sementara Subaru terus-terusan mengabaikan tatapan kagum anak SMP berusia empat belas tahun, Omega mengelus dada ratanya.”

“Gak usah khawatir. Hanya akulah yang bertindak sebagai pengamat. Tak diragukan lagi, akulah Lewes terakhir di Sanctuary.”

“Kata-katamu tidak ingin ditarik? Lagian, siapa tahu nanti ada 20.000 orang yang wajahnya sama.”

“Kau berlebihan nian. Kalau begitu Sanctuary tidak muat untuk menampung kami.”

Ketakutan terburuknya telah teratasi, Subaru rileks.

Mengerutkan alis pada Omega yang tenang.

“Maksudku, baik sekali bersedia memperkenalkan dirimu, tapi … apa sih yang terjadi? Kau seperti kartu mati sampai sekarang, selama ini aku selalu menyangka kau berada di belakang layar. Lantas kenapa mendadak muncul?”

 Omega tersenyum.

“Alasannya tidak menarik-menarik amat.”

“Kedamaian antara kau dan Gar kecil berarti kau tahu aku ada. Kau barangkali tidak benar-benar mengenalku, tapi kali kedua kau berpikir Mungkin dia ada, aku langsung kalah. Menunjukkan batang hidungku dan berperilaku baik untuk menghadapi penilaian kalian.”

Menghadapi penilaian betul-betul kalimat berlebihan …. Pastinya lebih dari itu, kan?”

Jika Omega serius ingin mencapai tujuannya, dia bisa lebih berusaha lagi. Kendati kelompok Subaru mencurigai keberadaannya, selama dia belum tertangkap basah, Omega masih unggul.

“Sebut saja perang gerilya atau apalah, semisal kau pernah merasa sebagai penghadang, maka kau betulan penghadang. Peranmu adalah Joker yang mensukseskannya. Roswaal diam-diam saja tentang eksistensimu, dan ….”

“Kondisi Roz kecil adalah bagian dari alasan diriku muncul dengan baik begini.”

“Kondisi, Roswaal?”

Mata Subaru membelalak. Omega menggelengkan kepala.

Ada semacam elemen sinis dalam tingkah itu, juga angkuh.

“Lihatlah Roz kecil yang berdiam diri di kamarnya, nanti kau akan tahu kenapa aku menyerah. Terutama aku membantu urusannya sebagai pengurus Sanctuary, percaya bahwa idenya akan menjadikan tempat ini lebih baik …. Tapi itu tidak benar.”

Karena Subaru mengenal para Lewes lainnya, dia menganggap ucapan Omega agak kasar. Mungkin Garfiel mengartikan komentarnya amat tajam sebab tidak menyela pendapatnya mengenai Roswaal.

Manajer serta pengurus Sanctuary. Tidak jelas kapan Omega memperoleh peran itu, kemungkinan besar dia aktif lebih lama dari Alpha dan Lewes lainnya.

Tindak-tanduknya saat ini mungkin sudah dibangun sejak saat itu.

Biar begitu ….

“Tepikan dulu hal apa yang kau lakukan sampai sekarang, benarkah bila kami berpikir kau takkan menghalangi kami lagi?”

“Yah, sekiranya kau ikut memandang hal yang menurutku benar, maka kau akan tahu aku telah mencampuri banyak hal. Pembebasan Sanctuary bukanlah keinginan Lewes Meyer … tapi, zaman sudah berbeda. Seumpama era telah menghapuskan fungsi Sanctuary, lantas peranku juga tidak berguna. Aku terus maju karena punya banyak hal yang tak ingin kutinggalkan.”

Suara Omega roman-romannya sedih, kecemasan teselip perihal akhir perannya. Peran yang telah lama dia layani sudah berakhir.

Subaru tidak tahu persis bagaimana perasaan Omega ketika dia mengenang baik-baik riwayat hidupnya. Sekalipun terdapat kemauan dan keikhlasan, mungkin juga ada secercah zat kebebasan dalam dirinya.

“Keras kepala banget. Enak ye jadi nenek-nenek.”

Omega menyilangkan tangan dan menatap Garfiel yang mengklik taringnya.

“Gua juga sama. Keras kepala kek nenek Omega. Malah lebih parah lagi. Tapi Kapten mengerahkan kekuatannya, memanfaatkan jumlahnya, dan menghantam semuanya ampe ancur. Gua cuma mikir, persetanlah! Tapi sekarang … aku merasa sangat segar.”

“Gar kecil ….”

“Kek kata-kata Kapten. Sanctuary yang kehilangan Penghalangnya bukan berarti dunia yang kita tinggalin juga ikut hilang. Sanctuary di sini terhapus, tapi seluruh dunia luar adalah Sanctuary penggantinya. Nenek ama gua yang hebat ini punya kerjaan.”

Omega melihat ke bawah, merenung.

Tidak lagi cemas, alisnya mengkerut. Kelihatannya dia sedang berfilsafat.

Garfiel menutur sambil mengangguk puas.

Subaru menepuk bahu Garfiel.

“Garfiel, kau … sedang demam, ya? Kau mengujar beberapa imbuh super cermat dan memalukan barusan.”

“Kapten. Lu pikir gua punya otak buat ngomong gitu? 80% hal barusan gua dapet dari elu.”

“Masa? Aku bilang begitu? Tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak, tunggu dulu, oh sial, aib sudah terlanjut kesebar.”

Garfiel terheran-heran sesaat Subaru berjongkok ke tanah, telinganya memerah. Kemudian anak SMP itu menghadap Omega lagi dan mengayunkan tangannya, mengibaratkan jalan tebruka.

“Gua paham nenek Omega ngomong apa. Nenek juga dah ngejawab pertanyaan gua. Hanya pertanyaan soal kesalahan rencana, terus kita temui si bangsat yang buat rencana itu.”

“Terserah kau saja …. Aku ingin tahu faedahnya apa.” gumam Omega. Subaru juga mengiyakan.

Omega sampai saat ini telah merahasiakan keberadaannya. Bahkan Alpha dan para Lewes lain tidak memperhatikan perbuatannya. Karena perannya kini telah berakhir, Omega muncul di depan khalayak umum untuk pertama kalinya.

“Jika kau pergi ke Makam, Ram dan kelompok Alpha-san … saat ini, Theta-san. Mereka tengah menunggu di sana. Mereka mungkin mengetahui kejadiannya, jadi pergilah dan berbincang dengan mereka.”

“Mereka tahu apa yang terjadi, serius nih? Gua yang hebat ini kagak tau sama sekali.”

“Karena kepalamu kena tonjok terus.” timpal Subaru.

Sebetulnya jauh lebih membingungkan andai Garfiel tidak paham padahal sudah dijelaskan betul pada percakapan yang lalu-lalu. Waktu-waktu gerak-gerik naluriah Garfiel menghambat rencana Sanctuary Subaru masih melayang di benaknya.

Bagaimana pun, kerisauan Omega mungkin sia-sia. Theta tahu dirinya punya banyak duplikat, dan Ram mungkin juga tahu perihal duplikat-duplikat tersebut.

Mereka akan menerima Omega. Nah, yang jadi masalahnya adalah ….

“Biang keladi rencana jahat ini, mari kita berbincang-bincang dengan si bos badut.”


Ketika mereka memasuki kediaman Roswaal, Subaru mesti bertanya-tanya apakah pernah dia ke sini sebelumnya.

Roswaal sudah berada di kamar ini sejak Subaru pertama kali datang ke Sanctuary. Kamar yang dia datangi setiap kali ingin berbicara dengan Roswaal. Keseringan dia jambangi sampai Subaru ingat betul posisi penempatan ornamennya, namun ….

“Wah~, ternyata Subaru-kun. Baik sekali menyempatkan diri untuk datang. Meskipun kau pastinya sangat~ sibuk.”

Subaru berdiri tanpa kata, tangannya masih memegang pintu yang terbuka selagi Roswaal menatapnya, lalu berbicara dengan nada nyeleneh. Niat bercanda sambil mengangkat bahu, seketika itu hati Subaru merasa ada yang janggal. Tapi si bocah menekan pemikiran demikian dan menghadap Roswaal baik-baik.

Kamarnya berantakan betul.

Rak buku terbalik, seprai putih robek-robek tergeletak di atasnya. Tempat tidur terbelah dua, serpihan kayu di mana-mana. Sang Penyihir berdiri di tengah-tengah kehancuran ini dengan tangan yang menjatuhkan tetes demi tetes darah.

Melihat serpihan-serpihan kayu di tangannya, Subaru mengetahui sesuatu: Dia baru saja menghantam tempat tidur.

“Kapten ….”

Setelah melihat betapa rusaknya kamar ini, Garfiel maju setengah langkah ke depan, memposisikan dirinya biar bisa melindungi Subaru. Kondisi abnormal Roswaal tidak membuat Subaru was-was.

Mata emas Garfiel jelas tengah waspada. Mengedepankan tubuhnya sehingga Garfiel segera dapat menahan Roswaal bila orang itu berniat melakukan hal yang mencurigakan.

“Garfiel, kau~ sudah dijinakkan rupanya~.”

Ejek Roswaal, bibirnya memilin merah tua.

Menjaga senyum itu, Roswaal memejamkan satu mata dan membiarkan mata kuningnya terbuka.

“Perangaimu yang berubah sungguh mengejutkanku. Kau jadi melindungi Subaru-kun, berarti kau bergabung dalam grup teman-teman rianya. Dan~ karena tekadmu sudah hilang, cinta yang telah lama kau naungi kepada ibumu juga ikut hilang.”

“Roswaal, kau salah. Garfiel tidak bersekutu dengan kami bukan karena ada sedikit perubahan hati. Dia semata-mata mengubah idenya, lalu ….”

“Itu~ namanya berpikiran sempit. Kau dihajar habis-habisan kemudian diceramahi, hal demikian saja sudah bisa merubah pendirianmu. Perasaanmu amat lemah sampai kalah bertarung saja sudah mengubah perasaanmu. Sangat malih dan nista.

“Roswaal!”

Bukan Garfiel yang murka terhadap kata-kata tak berperasaan Roswaal, melainkan Subaru.

Setelah menyelesaikan ronde pertarungan besar melawan Garfiel, Subaru mulai memahami fragmen perasaannya, fragmen rasa sakit batiniahnya. Mengerti bahwa perasaan-perasaan itu tentu berharga dan tidak bisa dianggap remeh.

Roswaal tak termaafkan karena telah menginjak-injak perasaan Garfiel.

“Tarik kembali kata-katamu! Kau tidak berhak mengejek isi hati Garfiel!”

“Lemah ya lemah. Rapuh ya rapuh. Memangnya menyatakan fakta saja perlu dikritik~? Reaksi berlebihanmu justru memperkuat pernyataanku. Suatu kejadian terbalik yang membenarkan perasaan rendahan. Sungguh … tak pantas ditatap mata.”

“—!”

Subaru menghampiri Roswaal sambil marah-marah.

Tapi dia dihentikan Garfiel. Orang yang semestinya paling terluka oleh penghinaan Roswaal, Garfiel.

Subaru tahu betapa menyakitkannya dia saat perlahan-lahan melihat wajah Roswaal. Nyatanya ….

“Omongan lu kagak ngefek ke gua, Roswaal.”

Ucap Garfiel, kedua tangannya bersilangan bosan, kepalanya agak miring.

Sikap itu mengherankan Subaru dan Roswaal.

Garfiel yang biasa pasti akan menanggapinya sedari tadi, membiarkan dirinya termakan amarah dan membantah cercaan Roswaal. Namun anak bocah itu telah membuang jauh-jauh kelakuan tersebut. Begitu tenang bagaikan mandi di air panas.

“Iya sih gua kek cacing kepanasan. Sampai pagi ini gua di pihak lu, sekarang gua di pihak Kapten. Bener sih kalo lu bilang gua cepet berubahnya.”

“Setelah keyakinanmu hancur, begitu~. Ya ampun, kenyataannya kekuatan yang kau tempa sampai hari ini tidak berarti apa-apa. Sepuluh tahun … tentu bukan waktu yang singkat, hanya perlu beberapa hari untuk menggantikan doktrinmu.”

Roswaal mengangkat bahu dan menggeleng kepala. Matanya menampakkan emosi suram ketika menatap Garfiel.

“Itulah yang kusebut rendahan. Jika kau betul-betul mencintainya, lantas perasaanmu takkan pernah beralih. Kau kira sepuluh tahun dirimu dan seratus tahun Emilia bisa didoktrin semudah itu?”

Garfiel tidak membalas apa-apa.

“Kau hanya perlu berinteraksi dengan Subaru-kun beberapa hari saja. Kenapa jadi begini? Apa kau menciptakan perasaan baru yang mampu menyaingi perasaan cintamu kepadanya? Tentu tidak! Apa pun yang kau rajut dengan orang-orang sekitarmu, takkan pernah setara dengan perasaan kepada cintamu! Tak akan bisa menyamainya! Itulah definisi cinta mati!”

Roswaal menendang kasur yang jatuh ke lantai. Kasur itu terbang ke arah Subaru dan Garfiel, tetapi tidak menabrak mereka, malah menghantam dinding di belakang.

Serpihan kayu jatuh ke tanah. Deklarasi Roswaal mencuri nafas Subaru.

—Singkirkan semuanya kecuali hal terpenting.

Itulah arti mencintai bagi Roswaal.

Tiada sesuatu berharga yang dia buat sepenuh hati, tidak pula perlu membangun sesuatu yang berharga di luar itu. Perasaannya terhadap satu presensi terlampau kuat, seandainya hadir kesempatan untuk mewujudkannya, Roswaal tak akan ragu sedikit pun. Demikianlah yang Roswaal kenal sebagai cinta.

Tatkala Subaru paham isi pikiran Roswaal, badut itu menatap si anak laki-laki seakan menyadarinya.

Mata kuning Roswaal menggolak energi cinta yang menggelora.

“Kau tahu pertaruhan ketentuan kita? Pertaruhan yang kau tawarkan. Setelah taruhan itu menarikmu ke sisi termanusiawi, selanjutnya bisa apa? Kau tidak bisa apa-apa. Karena kau … kau, mahluk inferior melebihi medioker!”

Subaru tidak membalas.

“Potensi kemenanganmu adalah karena kekuatan itu. Saat kau membuangnya dan menjadi duniawi, tak lama lagi kau takkan mampu hidup normal! Tak seorang pun! Setelah bersosialisasi mampu menahan perasaan yang terukir waktu demi waktu! Itu mustahil!”

Sepuluh tahun yang Garfiel habiskan hanya untuk Sanctuary dan distorsi cintanya pada keluarga. Satu abad Emilia beserta masa lalu buruknya sampai ingin dilupakan saja, juga penyesalan yang dia tinggalkan. Dan ….

“Satu dekade, satu abad, dan empat abadku! Kau kira aku bisa mentolerir bahkan sedetik pun bahwa kau, tak seorang pun selain kau dapat membalikkan itu!”

“Karena perasaan tidak pernah berubah?”

“Tepat sekali!”

“Karena kau sudah sangat-sangat lama menyimpan perasaan itu?”

“Ya, betul itu!”

Tidak seorang pun mampu menulis ulang perasaan mereka.

Perasaan tidak akan pernah berubah atau berbelok.

Akhirnya, Subaru berangsur-angsur mulai paham. Akhirnya, rasanya dia mulai memahami Roswaal.

Roswaal ingin perasaannya diabsahkan.

Dia ingin mengkonfirmasi perasaan orang lain agar dia yakin perasaannya benar.

Lantas Roswaal ingin Garfiel terus lemah.

Dia ingin Garfiel terus terobsesi pada perasaannya, mati-matian melindungi sesuaut yang tak akan berubah.

“Serius nih, kok bisa gitu, Roswaal?” tanya Subaru.

Perasaan untuk satu orang tercintanya.

Demi membuktikannya, Roswaal terpaku pada sesuatu bak seseorang yang menyimpan perasaan cinta kepada gebetannya.

Meskipun Roswaal sepatutnya lebih tahu seperti apa rasanya menyimpan perasaan kepada orang lain.

“Kok bisa sih kau cuma melihat kelemahan cinta? Kalau kau tahu cinta mati pada seseorang merupakan perasaan kuat, kok bisa kau hanya melihat kelemahannya?”

“—Karena itu yang aku yakini.” jawab Roswaal, suaranya tercekik.

Amarah akbar terbesit di matanya, seakan-akan tengah menatap hal yang paling dia benci sejagat raya.

“Sempurna! Layaknya mempercayai kekuatan orang lain sekaligus mengharapkan sesuatu dari mereka! Aku yakin setiap orang pernah lemah! Mereka lemah, rapuh, amat kerdil, tak kuasa menyatakan cinta mereka kepada orang paling berharga di luar sana, hanya terus berpegang teguh pada cintanya, itulah yang aku percayai!”

“—!”

“Empat abad berlalu tapi tak pernah kulupakan dirinya! Waktu-waktu yang kami habiskan secara terpisah lebih lama dari yang aku habiskan bersamanya, sosoknya masih terpatri dalam hatiku dan tidak pernah pergi! Hatiku masih hancur berkeping-keping sejak perpisahan kami, tiada hal dalam diriku yang berubah!”

Roswaal melangkah maju.

Garfiel memotong laju Roswaal. Tapi si badut meletakkan tangannya ke dada Garfiel, menatapnya.

“Bukankah mudah? Sepuluh tahun mengindahkan teriakan cinta dalam dirimu, selama itu juga kau mempercayainya, tidakkah kau menikmati perasaan mencintai insan lain?”

“Bangsat ….”

“Gapapa kok, gapapa. Itulah yang mestinya dilakukan semua orang. Tak satu orang pun mampu hidup dalam kesendirian! Semua mahluk hidup sambil merajut perasaan kepada mahluk lain. Hal demikian sudah cukup … jadi, kenapa kau malah mengubahnya. Hendak mengkhianatinya. Apakah kau tidak mencintainya!?”

“Lu salah! Gua ….”

“Apa yang mengubahmu!? Tubuh berototmu dikalahkan, alhasil kau kalah? Sepuluh tahun untuk cinta, ditekuk oleh taring-taringmu yang hancur? Kalau begitu orang yang mempermalukan dan menodai sepuluh tahun itu adalah kau sendiri!”

Garfiel menampik tangan di bahunya. Dia mencoba ayunan belakang untuk mendorong Roswaal ke belakang, tapi si badut berputar menghindar. Mata Garfiel membelalak ketika Roswaal meraih tangannya dan diangkat ke udara.

“Hrah—!”

Akan tetapi, begitu Garfiel hendak melancarkan serangan puncak, dia mengangkat kakinya ke langit-langit dan berhasil mengalahkan momentum Roswaal, menyelamatkan dirinya dari bantingan belakang. Memaksa tubuhnya berputar, diberi kesempatan tiga titik sasaran serangan namun lengannya masih bergulum. Garfiel menarik lengannya yang bergulat, menarik Roswaal lebih dekat, dan menyundul dadanya.

“Ghuh ….”

“Ha! Andai saja gua kagak tau lu bisa bela diri dari Kapten, gua pasti dah kena serang.”

Melihat Roswaal yang jatuh berlutut, Garfiel memutar tangannya yang tadinya dicengkeram.

Memamerkan gigi-giginya.

“Hei Roswaal. Lu bilang orang idiot kek gua kaga bakal paham. Kagak peduli gua ama empat abad lu, tapi lu ini cuma om-om yang umurnya kagak lebih tiga puluh tahun. Malah gua belum setengahnya.”

Garfiel meraih kerah Roswaal, mendekatkan badut itu. Wajah Roswaal kesakitan. Garfiel mengerutkan hidung.

“Bukan berarti gua yang berada di pihak Kapten otomatis bakal kalah. Emang bener gua kalah. Tapi lu bilang, gua yang ceroboh ini dah baik-baik aja selama sepuluh tahun. Kepala gua kagak selembek itu buat berubah.”

“Lantas mengapa kau masih di sini ….”

“Itu karena Kapten … sebetulnya, Ram. Dia yang nyuruh pas gua kalah. Buat pergi ke Makam dan lihat Ujian. Jadi, sepuluh tahun lalu, gua ngeliat apa yang memulai perasaan ini.”

“Apa?!”

Raut wajah Roswaal syok.

“Mustahil … kau, kau tidak mungkin mampu melawan masa lalumu lagi!”

“Terserah aja bilang kagak mampu. Gua dah masuk terus lulus, melihat apa yang gua liat. Jadi, gua mulai tersadar deh.”

Roswaal memelototi Garfiel yang menggelengkan kepala. Tatapan diamnya menunggu penjelasan Garfiel.

Namun, si bocah hanya ngebuka mulutnya lebar-lebar, lalu ….

“Kagak bakal gua beritahu ama lu. Sia-sia aje.”

“Apa!?”

“Satu hal deh, kenapa gua memihak Kapten.”

Garfiel melepaskan Roswaal, menjatuhkannya ke tanah dengan punggung menabrak tanah, kemudian menatap Subaru. Dia mendesah sedikit sedangkan kekagetan Subaru sudah mencapai pucuknya.

“Tentu aja karena elu lebih enak kerja sama orang-orang yang bilang lu kuat, bilang: kami butuhin lu, ngebuat lu kelihatan lemah selamanya.”

Dengan logika yang terlampau masuk akal itu, Garfiel mamalingkan perhatiannya dari Roswaal. Bocah itu melewatinya dan berdiri di samping Subaru sambil menyilangkan tangan.

Subaru meliriknya. Mengalihkan matanya. Melirik lagi. Lagi dan lagi. Berulang-ulang, sampai—

“Apa.”

“… Tidak, bukan apa-apa. Hanya mengandalkanmu.”

Garfiel menutup mata, terlihat tidak nyaman, Subaru berbicara dan berjongkok di depan Roswaal.

Pria itu menghadap ke bawah, kepalanya terkulai, tidak mencoba menatap balik Subaru.

“Roswaal.” panggil Subaru.

Roswaal tidak membalas apa-apa.

“Garfiel melihat masa lalunya. Mungkin itu yang mengubah sudut pandangnya, tapi bukan berarti perasaan kasihnya kepada sang keluarga selama sepuluh tahun telah melemah dan goyah. Perasaannya tetap sama namun dia berubah. Bukankah hal demikian dapat dipercayai?”

Walau Garfiel tidak lagi terobsesi pada Sanctuary, perasaan Garfiel tidak menciut sama sekali. Mengetahui bahwa cinta tak terbalas kepada ibunya sesungguhnya membantunya, sebesar apa dirinya terpukul?  Meski kini dia labil dan mengaduh.

“Kau juga sama. Kami tidak menyuruhmu untuk membelokkan perasaan yang sampai saat ini kau simpan kepada seseorang. Kami hanya ingin kau mengubah caramu mengimplementasikan cinta itu. Bila tidak ada pengorbanan, tentu saja kami akan membantumu.”

“… Aku tidak bisa mentolerirnya. Lantas apa artinya jika hanya perasaan Garfiel yang berubah? Demi tujuan kita, sayangnya orang penting lain masih bertahan.”

Subaru mengulurkan tangan pada Roswaal. Tetapi si badut itu tidak meraih tangannya.

Subaru menggelengkan kepala, tidak pandai menyerah dan membicarakan Emilia saja.

“Lagian Emilia takkan mengikuti kemauanmu. Dia sendiri akan melampauinya.”

“Gadis itu tak bisa. Dia akan ditimpa penyesalan, penyesalan akan sesuatu yang semestinya bisa dia rubah, selanjutnya menangis tersedu-sedu dan menggaetmu … hal tersebut cocok baginya.”

“Memangnya ada cewek yang wajah tangisannya bagus. Bener-bener deh, pernahkah kau melihatnya menangis?”

Subaru mengingat kembali Emilia dalam Makam sebelum beradu argumen.

Anak perempuan itu memikul tanggung jawab berat, berduka karena putus hubungan dengan Puck. Wajah Emilia tidak bisa menahan tangis saat Subaru menatapnya. Menyalakan api dalam hatinya.

Pusaran amarah tak terbentuk membakarnya bulat-bulat.

“Aku belum pernah melihat seorang wanita menangis separah itu!”

“Terluka, terhina, begitulah hidup blasteran elf sepertinya. Satu darah dengan Penyihir Kecemburuan merupakan kutukan. Jelas saja dia dibenci sebagaimana membenci Penyihir.”

“Bacot, terus kenapa kalau dia itu Penyihir? Penyihir yang kau bicarakan itu tidak ada.”

Muka Roswaal menghadap ke bawah.

Subaru meraih kerah dan memaksanya mengangkat kepala, matanya murka tatkala menyelaraskan kedua kepala mereka.

Tercermin Subaru dalam mata Roswaal, pupilnya berapi-apinya mengarah kepada dunia.

Ya. Sekarang ini, Natsuki Subaru muak kepada dunia.

Terus kenapa kalau dia itu Penyihir? Sebetulnya tidak ada yang namanya Penyihir.

Kalau memang ada, lantas Penyihir itu adalah—

“Kau sebut dia Penyihir! Adalah karena kau menjadikannya demikian! Terus saja mengucap hal itu, tentu saja dia jadi lemah, jelas saja dibenci, semuanya karena tanda lahirnya, dan kau akan membuatnya menjadi Penyihir!”

Subaru mengingat pesta the para Penyihir.

Kejadian-kejadian itu terlintas di benaknya—para Penyihir tua yang diberi gelar dosa.

Minerva, Sekhmet, Typhoon, Daphne, Camilla, Echidna.

Kemudian mengingat Satella yang dia lihat kala detik-detik buyarnya mimpi itu.

Seolah-olah dapat melupakannya.

Wajahnya—sama persis seperti Emilia.

“Adakah yang pernah memberitahunya sekali saja!? Ketika dia lagi sedih, menderita, tidak apa-apa dia menangis! Namun bila tidak bisa menyeka air matanya, seseorang di sampingnya akan membantunya! Pernahkah sekali pun satu orang bilang akan menemaninya!?”

Entah hal mengerikan apa yang dilalui Emilia, dia menerimanya seakan-akan itu wajar.

Tentunya sang hati dicengkeram kesakitan dan kesedihan sampai-sampai hampir menghancurkannya.

Namun tak seorang pun pernah membiarkannya menangis, membuatnya sangat-sangat buruk dalam hal menangis.

Berulang-ulang kali menangis dan menangis, terus saja menangis, semua orang mulai mengabaikan air mata itu dari pandangan mereka, menjauh dari tangisan itu.

Namun Emilia tidak tahu itu.

Berhasil mencapai masa kini tanpa mengetahuinya, jadilah dia payah soal menangis.

Dunia yang melakukannya, dunia yang melangsungkannya—kelewat memuakkan bagi Subaru hingga membuatnya gila.

“Sekiranya hal terjelas di dunia pun tidak memihaknya, maka dirikulah yang ‘kan mengubahnya! Kau kira kutukan empat ratus tahun tidak bisa dibatalkan, akan kuajarkan kau hal itu!”

“—”

Mata Roswaal membelalak saat Subaru menusukkan jarinya ke langit.

Kondisi berubah absurd, posenya saat ini, juga pose Emilia terhadap hinaan Penyihir, sama-sama mirip—

“Aku Natsuki Subaru! Ksatria setengah-elf, Emilia!”

Suatu kali, Subaru telah melewati garis batas itu tanpa persiapan sama sekali, banyak orang mencemooh tekad gobloknya. Kalau dipikir-pikir, Subaru saat itu lebih tidak berguna dari masa sekarang.

Namun ada satu hal yang berbeda antara dahulu dan sekarnag.

Meskipun banyak orang menertawakannya, Natsuki Subaru tidak merasa malu sedikit pun.

“Emilia berusaha, Roswaal. Perempuan yang kau kira lemah ini akan merobek-robek harapan terakhirmu.”

“Memangnya, dia bisa ….”

“Kelemahan yang kau andalkan kian terlepas sedikit demi sedikit, sisanya adalah pembicaraan bersamamu … aku yakin kau akhirnya nanti akan bersedia mendengarkan.”

Kendati telah mendengar semuanya, hati Roswaal tidak tersentuh.

Om-om itu benar. Sesuatu yang dibangun selama empat ratus tahun tidak bisa diubah hanya dengan satu kata.

Sebagaimana sedekade Garfiel dan seabad Emilia dapat berubah total dengan kata-kata serta tindakan. Empat ratus tahun Roswaal juga sama. Aksi dan ucapan tim Subaru, pada akhirnya akan mempengaruhinya.

Demikianlah yang dipercayai Subaru.

“… Terlepas dari apa pun yang diperbuat semua orang, perasaanku takkan bimbang.”

Roswaal merangkak melewati Subaru. Mengulurkan tangannya yang gemetaran dan mengambil sebuah buku hitam di sebelah tempat tidur hancur, kemudian menekankannya ke dada. Kitab sah penentu masa depan.

Garfiel dan Emilia telah melampaui kelemahan yang diyakini Roswaal. Omega juga Ram telah menyimpang dari ajaran Roswaal selagi dia mencoba membangun jalan keluar.

Satu-satunya harapan bagi Roswaal adalah Kitab.

Setelah kehilangan masa depannya, Subaru ‘kan bisa berbincang-bincang bersama Roswaal.

“Aku akan, membuat salju ….”

“Terserah deh. Aku akan menghantam semua rencanamu dan menghancurkannya tanpa henti.”

Menyatakan demikian terhadap gumaman lirih Roswaal, Subaru berbalik dan keluar kamar. Mengangguk kepada Garfiel yang rasanya hendak mengatakan sesuatu, lantas dua pria itu beranjak pergi.

Setelahnya, Garfiel melihat kamar yang ditinggali Roswaal. Barangkali merasakan sesuatu padanya ketika pergi menjauh, lalu menggumam:

“Dasar bego.”


Percakapan mereka bersama Roswaal sudah selesai, Subaru meninggalkan bangunan itu dan mendesah.

Desahan dalam, meremas semua udara sampai keluar paru-parunya, mengusir segala sesuatu yang ada dalam dirinya.

“Sial. Padahal kita ingin menghentikan dirinya menyerang Mansion, tapi malah semakin mendesaknya untuk melakuakn itu.”

“Doi juga kagak jelas, ngomongin salju pula. Kagak nganggep pembicaraan kita beneran … bukan salah lu, Kapten.”

“Tidak, aku memojokkannya biarpun tidak perlu. Sekalipun aku tahu pas masuk ke sana Roswaal sudah tidak waras, aku ini melakukan apa sih?”

Roman-romannya dia sudah memahami prinsip serta motif Roswaal. Subaru jelas telah memberikan tanggapan dan perasaannya akan hal itu.

Pikirnya penting untuk memberitahu Roswaal bahwa Emilia akan memenuhi ketentuan taruhan, agar Roswaal mengakui kekalahannya.

Sayangnya—

“Melakukannya berarti kehilangan point terpenting ….”

“Gua bilangin ye, gak usah dipikirin. Bukannya gua yang hebat ini penasaran sama rencana lu, tapi yang lu omongin gak salah juga.”

“Maksudku, itu idenya ….”

“Omong-omong … pose tadi keren ugha!”

Tersenyum kepada Subaru, Garfiel menunjukkan jarinya ke langit.

Sejujurnya, pose itu dipandang negatif ketika dibawa-bawa ke dunia ini, mendapati seseorang menghargainya merupakan puncak kebahagiaan.

Demikianlah cara Garfiel menghibur Subaru.

Barangkali. Semoga??? “—Natsuki-san! Garfiel!” saat itulah seseorang memanggil mereka.

Keduanya melirik ke belakang dan mendapati Otto berlari mendekati mereka. Otto sedang mengerjakan sesuatu, dan mampir pada mereka.

“Nampaknya kalian sudah selesai berbicara dengan Margrave. Bagaimana hasilnya?”

“Ya. Kita sampai berantem.”

“Sebenarnya tujuan kita di sini apa sih!?”

Yang hendak mereka bahas adalah jebakan terakhir yang Roswaal persiapkan di Sanctuary ini, berusaha mengubah pemikirannya terhadap hal itu.

Mereka mendapati eksistensi Omega dalam perjalanan menuju Roswaal, dan pria itu terlampau keras kepala untuk merubah cara berpikirnya. Alhasil negoisasi gagal.

“Woi, cok. Jangan ikut campur sama rencana Kapten deh. Omongannya sangat keren, jadi gua enak dengernya.”

“Ingatkah kau ke sana untuk apa? Ini bukan candaan.” tidak dapat menyangkal keluhan Otto, Subaru merasa paling bersalah.

Namun Garfiel menampar keras bahu Subaru yang mengendur, dan mengetuk dahi Otto dengna jari. Melihat Otto berteriak, dibanting ke belakang dan ditahan di tanah.

“Lu benar, diskusinya gak lancar. Tapi masih ada rencana cadangan—Gua bakal ngerusuh di Mansion Roswaal.”

Garfiel tertawa terbahak-bahak seraya menjawab kritik diam Otto.

Bocah itu memamerkan taring-taringnya dan mendecak tajam.

“Serahkan semuanya sama gua yang hebat ini—gua itu yang terkuat.”


“Jadi, tiga serangkai idiot beserta satu naga pintar telah pergi mengendarai karavan menuju Mansion.”

Selesai bercerita, Ram meletakkan tangan ke dada sambil memasang wajah lelah.

Jarang sekali Ram menampakkan emosi itu di hadapan Emilia, hal demikian mengejutkan tuannya sedikit.

“Begitu, ya …. Baiklah, kurasa mereka memang mesti pergi ke sana.”

“… Hanya itu saja?”

“Itu saja. Maksudku, aku masih sedikit … sangaaatttt kesal karena mereka tidak menungguku.”

Walau sudah terlampau menyemangati, mereka tidak hadir untuk mencari tahu hasilnya. Kenapa sih. “Berarti pikir mereka aku takkan gagal.”

Jika Subaru betul-betul lebih mengkhawatirkan Emilia ketimbang orang lain, lantas dia tetap tinggal.

Subaru yang absen pasti berada di belahan dunia lain, ada orang yang lebih membutuhkan bantuannya.

Karena Emilia tahu bahwa Natsuki Subaru mempercayainya, sekiranya begitulah penjelasannya.

“Aku penasaran dia sungguh-sungguh mencintaiku atau tidak. Menurutmu bagaimana?”

“Barusu menyimpan perasaan lebih kepada Anda daripada orang lain, Emilia-sama.”

“… Hehehe, terima kasih.”

Emilia menutup mulut dan tersenyum, Ram menurunkan matanya dan merenung.

Setelah beberapa detik hening, dia mendongak lagi.

“Emilia-sama, saya minta maaf.”

“Ada apa?”

Mata Emilia membeliak.

“Janggal sekali kau meminta maaf.”

“Saya juga berpikir demikian …. Akan tetapi, inilah kali pertama saya menundukkan kepala secara tulus kepada Anda.”

Segala macam kesopanan saya kepada Anda barusan adalah kepalsuan semata, umum Ram. Emilia tersenyum kecut, sedangkan Ram menatap tajam matanya.

“Saya … tidak percaya Anda akan mampu bangkit. Ujian telah menghancurkan jiwa Anda, Roh Agung juga melepaskan dukungannya … Anda bahkan tahu Barusu telah menyembunyikan rahasia dari Anda. Saya tidak pernah mengira Anda akan mampu berdiri lagi.”

 Emilia tidak membalas.

“Walau demikian, biarpun semua hal itu menerpa, Anda masih belum menyerah. Ketika Anda meninggalkan kediaman, dan saya sadari diam-diam telah memasuki Makam … parahnya saya telah meremehkan Anda.”

Kendati begitu, waktu-waktu yang dibicarakan Ram, Emilia sebenarnya masih belum sembuh.

Dia hanya belum meninggalkan Ujian. Hal itu saja tak pernah dia pikirkan. Demikian saja sudah tegas.

“Jadi kau membantu Subaru dan Otto-kun?”

“Saya yakin bantuan ini akan terarah menuju masa depan hebat. Salah bila menganggap saya membantu mereka. Bantuan saya adalah untuk Anda.”

“… Kau mungkin benar.”

Ucapan-ucapan Subaru adalah pembangkitnya.

Subaru yang mengalahkan Garfiel merupakan bukti dari ucapan-ucapan itu. Mengalahkan si manusia harimau juga memerlukan bantuan Otto dan Ram.

Dari hasil akhirnya saja, kau langsung tahu Ram membantu Emilia.

“Kenapa kau melakukan itu?”

“—Karena penting untuk menunjukkan kesungguhan diri sendiri sebelum mengajukan permintaan.”

“—”

Selanjutnya, Ram berlutut di hadapan Emilia.

Kapan pun Ram berlaku hormat di depan Emilia, perangai itu barangkali tidak tulus, gerakannya selalu saja memegang rok dan melingkari kakinya. Masih dalam ruang lingkup tugas seorang pelayan.

Namun kali ini rasanya berbeda. Demonstrasi kesopanan ini adalah yang tertinggi bagi seluruh penduduk dunia ini yang hendak menunjukkan rasa hormat.

“Saya meminta, Emilia-sama—Tolong selamatkan Master saya, Roswaal-sama.”

“… Selamatkan Roswaal?”

“Beliau sekarang tengah terlingkupi delusi. Kutukan khayalan yang telah teramat lama mengikat hati beliau. Walaupun saya sudah bahagia dengan keadaan saat ini. Kendatipun beliau tidak pernah menujukan pandangannya kepada saya, tak pernah menganggap saya lebih dari sekadar alat tuk menggapai angan-angan itu, saya sudah bahagia.”

Masih berlutut, Ram mengungkapkan isi hatinya kepada Emilia.

Dibalik topeng tanpa ekspresinya, Ram mungkin memegang harapan itu sepanjang waktu.

“Akan tetapi, rekaan beliau tidak pernah terwujud. Dunia telah menyimpang dari tulisan Kitab yang mana dasar segalanya, apa lagi Roswaal-sama kini cuma mengandalkan secarik kertas …. Saya ingin Anda menghancurkannya.”

“Apa Roswaal akan menerimanya andai kuhancurkan?”

“Saya meragukannya. Beliau sekurang-kurangnya akan menggila. Kehilangan makna hidup dan menderita. Tapi hanya Anda satu-satunya, Emilia-sama. Anda yang mungkin mampu mewujudkan imaji Roswaal-sama … perasaan beliau, dalam dunia yang tak selaras dengan kehendak Kitab.”

Kepalanya menunduk, Ram memohon kepada Emilia.

Setengah pernyataannya gagal dikomunikasikan kepada Emilia.

Kitab Roswaal merupakan buku hitam yang ditunjukkan kepadanya. Roswaal juga menyebut-nyebut dunia yang telah menyebrang dari isi Kitabnya.

Lantas Roswaal mesti apa dalam dunia yang telah bergeser dari Kitab itu? Emilia bisa apa kepada pria yang lagi berputus asa itu?

“Aku harus apa?”

“—Saya meminta Anda untuk naik tahta.”

“—”

“Seandainya Anda menduduki tahta Lugnica. Setelah Anda mencapai hal itu, perasaan Roswaal-sama akan terpenuhi. Tolong beritahu Roswaal-sama bahwa suatu hari nanti cinta beliau akan menjadi nyata. Berikan beliau alasan hidup untuk hari ini sampai keesokan hari nanti.”

Kali pertama Emilia melihat Ram comel.

Jadi.

Jadi ….

Emosi yang menyelimuti hati Emilia tak tergambarkan, kenapa, ya ….?

Perasaan-perasaan tersebut, tak terhentikan, seakan-akan seseorang yang meremehkannya telah meminta bantuan, benarkah begitu ….?

Ram mengangkat kepala.

Cinta maha besar telah melingkupi setiap titik pupil-pupil mata ceri kecilnya yang berkilau basah.

“Tolong, Emilia-sama—Tolong dia.”

Imbuh lirih itu membuat Emilia merinding.

Rasanya bak kejutan kepada aliran darahnya, cukup untuk membayangkan bahwa sebuah tangan telah menyentak jantungnya, sekali, dua kali.

Setelah rasa merinding itu menjalar ke seluruh tubuhnya, tersisa satu hal yang bersemayam dalam diri Emilia.

Panas menggelora dalam hatinya, seolah telah tumbuh sebuah tugas.

“….”

“Kurasa aku tidak amat paham isi hatimu.”

“….”

“Tetapi.”

Menatap balik Ram, Emilia menarik nafas.

Keraguan menghilang sudah dalam hatinya.

Kecemasan menghilang sudah dalam benaknya.

Jiwanya lebih berkobar intens dari sebelum-sebelumnya.

“Ini kali pertama kau meminta sesuatu dariku.”

Jadi ….

“Akan kupenuhi, Ram. Kau percaya padaku, dan aku ingin menjawab kepercayaanmu.”

Sekarang ini, hal-hal yang wajib dilakukan dan ingin dilakukan Emilia saling tumpang tindih sampai tidak terpikirkan lagi kudu memprioritaskan yang mana. Emilia berkata sembari tersenyum:

“Tentu sesuatu yang harus kumulai, dari awal ini.”