Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 120

Posted on

Hutan Elior Kekal Membeku

CH 120.png

Penerjemah: Regulus Cornelis De Houtman

Editor: JP.Coen

Korektor: Pieter Both

Lu percaya yang ngerjain tiga orang? Foolishness

—Hutannya telah berubah drastis sampai-sampai kau lupa bentuk aslinya.

Kehancuran seperti amukan ular raksasa yang kacau. Semua pohon telah tumbang hingga tak terbentuk lagi, beberapa terputus dari akarnya dan melayang-layang di udara.

Terdapat beberapa kawah, terlalu dalam untuk melihat ujungnya, terbuka lebar di tanah yang retak-retak. Kehancuran itu begitu menyeluruh sampai-sampai seantero daerah bisa segera berubah menjadi gua yang berujung lubang neraka.

Seluruh keluluhlantak ini merupakan perbuatan satu orang, dia berdiri di tengah-tengah wilayah. Darah segar tumpah-ruah dari wajahnya, nafasnya megap-megap walau masih bisa berdiri tegak. Dia mengakuisisi Dosa yang tak cocok dalam dirinya, kekuatan dibayar hidupnya, si pencemar.

Dialah Geuse—­­­Betelgeuse Romanee-Conti.

“—”

Nafasnya compang-camping, wajahnya pucat, sangking pucatnya tidak bisa disebut pucat lagi.

Meskipun begitu, dia lebih tenang dari awal-awal konflik dimulai. Sepertinya sesuatu yang mengamuk untuk sementara telah menerima lingkungan tidak nyaman sebagai tempat persemayamannya.

Tulang dan daging Geuse diaduk-aduk dari dalam, namun masih bisa mengendalikan tubuhnya, kekuatan pinjaman itu telah meningkatkan serangan serta akurasinya.

Memegang Wewenang tersebut membuatnya bisa melancarkan sesuatu yang terlampau destruktif.

Kekuatan besar Unseed Hand membuatnya mampu memanjangkan tangan ke tempat-tempat yang tidak kuasa dia sentuh, memungkinkan ujung jarinya menyentuh apa yang tidak bisa disentuh, menyerang seseorang yang semestinya tidak bisa diserang.

Kekuatan Geuse, pemimpin Kultus Penyihir fraksi moderat sepertinya, takkan pernah menandingi para ekstrimis yang kekuatan militernya sinting. Apa lagi seseorang yang memiliki kemampuan terbesar dalam Kultus Penyihir, Uskup Agung Keserakahan, Regulus Corneas.

Geuse yang mampu melawan Regulus berubah menjadi pasta berdarah merupakan hasil dari Unsur Penyihir.

Namun, perlawanan gigih Geuse ….

“Bagaimana bisa … kau, menemukan, tempat ini ….”

Mata marahnya melotot, Geuse mencekik seuaranya kala mengangkat lengan gemetaranya.

Unseen Hand tak henti-hentinya terus mengubrak-abrik segala macam hal. Secara simultan dipukuli oleh tangan-tangan tak nampak, musuhnya lenyap ke balik gumpalan tebal debu ….

“Oh, sudah selesaikah?”

Asap yang membuyar itu mengungkapkan sosok Regulus, berdiri memasang wajah bosan sambil mengkorek kupingnya.

Perawakannya yang berdiri di sana sedang sibuk memeriksa telinga, terlepas dari hancurnya wilayah ini orang itu masih tidak apa-apa. Seolah-olah sudah pindah ke momen-momen pasca-kehancuran.

“Bahkan … setelah semua serangan itu!”

“Bagaimana kalau santai dulu dan berpikir? Berpikir sejenak tentang perbedaan. Antara kau dan aku, jelas-jelas ada perbedaan besar kekuatan. Kesampingkan hipotesis serangan kuat manapun yang kau hantamkan padaku, karena bukan itu masalahnya di sini. Tiada seorang pun yang mampu mengalahkan ataupun melukaiku. Silahkan makan Unsur Penyihir sekalian ajak Naga dan Pedang Saint bersamamu, ingat aja, ga berguna.”

“… Barangkali kau benar, begitu … walaupun sepertinya aku … telah mencuri banyak waktu darimu.” kata Betelgeuse.

“Aku tidak perlu buru-buru menghabisimu. Tidak bisakah matamu melihat? Aku di sini sebagai pendamping. Kau kira aku jauh-jauh ke sini untuk melakukan pekerjaan lain? Berada di Mansion dan dikelilingi istri-istri sudahlah cukup untuk mengisi sebagian kecil kedamaian yang aku dambakan. Tapi, yah, meski mulai membosankan.”

Regulus perlahan melangkah maju.

Dia berjalan tenang menelusuri hutan-hutan yang telah tertransogrifikasi, rukuk sampai matanya selaras dengan mata Geuse, lalu melibas pelan tangannya.

Seakan-akan menampar serangga. Geuse menguatkan diri pada apa pun yang terjadi nanti.

Meneguhkan hati kecilnya, mengorbankan daging serta darah, bersakit-sakit agar meraih kekuatan. Dia mengambil nafas dalam-dalam, bersiap menggunakan sesuatu yang berputar-putar dalam dirinya untuk lebih menghajar Regulus.

Tangan Geuse terputus sampai bahu dan beterbangan.

“Apa!?”

“Reaksimu biasa aja ah. Padahal kau sudah membuatku sebal, bisa tidak sekurang-kurangnya pasang muka penuh penderitaan yang apik untuk dilihat? Biarpun berharap saja takkan berguna.”

“aaaaaaaaaaaaaAAAAAAAAAAAAAHHHH!”

Lengannya yang memuncratkan darah ke sekeliling saat terguling-guling di tanah, mata tanpa tangan Geuse membeliak seraya menjerit.

Luka di bahunya kacau, membekaskan luka jelek seakan taring hewan buas telah menghancurkan tangannya. Tangan kanannya hilang sampai ke bahu, tangan kirinya sampai tulang lengan atas putus setengah.

Geuse kejang-kejang karena rasa sakit nan pedih itu.

Buih-buih darah keluar dari mulutnya, rasa sakitnya bukan main sampai giginya menggertak keras-keras hingga satu per satu patah. Kakinya sudah loyo pada saat-saat itu, goyah dan jatuh berlutut. Dahinya menyentuh tanah, wajah Geuse sengsara.

“Ujung-ujungnya, tekad dan determinasimu atau apalah ditambah segala macam hal yang mestinya kita bicarakan, sebesar inilah nilainya. Semua orang juga sama, jadi jangan repot-repot memikirkannya. Tidak seorang pun di luar sana yang bisa hidup tanpa kedua tangan mereka. Hiduplah selagi memuaskan segala hal dalam dunia mungilmu, berpuas-puaslah, urus saja masalah-masalahmu. Makna puas menurut kamusmu sih. Sekalipun tak ada tangan yang bisa kau pegang sekarang … konklusinya sudah jelas, betul?”

“Aaaah! AAAHHHHHHH ….”

“Jujur nih, bukannya aku suka beginian. Menyiksamu seperti ini barangkali kau anggap diriku semacam psikopat yang bersenang-senang ketika melukai orang lain, tapi itu salah kira sekaligus hinaan besar kepada kepribadianku. Aku melakukan ini bukan karena menyukainya. Tak ada satu pun hal yang kulakukan sepanjang hidup bila karena memang aku ingin melakukannya. Terpuaskan sebagaimana diriku sekarang, entah nuansa itu baik atau buruk, idealismeku adalah menolak pengaruh orang lain. Akulah si tanpa nafsu. Aku sudah terpuaskan. Kau tidak boleh membenciku. Aku sekadar mengikuti arus dan kau cuma menghalangi arusku.”

Semburan darah membasahi perbincangan mereka, raungan Geuse yang tadinya bising menjadi sunyi.

Sesudah kesunyian itu, nafas acak-acakannya mulai tenang, Geuse tengah kejang-kejang mengeluarkan simbahan darah bak serangga yang beberapa detik kemudian akan mati.

Kata-kata Regulus tidak mengemban kebencian atau permusuhan, atau apa pun itu.

Sebab sejauh ini dia menyatakan kebenaran absolut, tiada alasan untuk menyertainya dengan emosi dalam bentuk apa pun. Regulus tidak perlu menyembunyikan apa-apa, dia kelewat meyakininya.

Tindakan nekat Geuse hanya sedikit mempengaruhi Regulus Corneas, sangking sedikitnya poni rambut tidak bergoyang oleh tiupan angin sepoi-sepoi.

“Berbicara tulus, semua ini teramat antiklimaks. Aku diminta ke sini sembari berpikir ada suatu hal terjadi, dan … wah, bukannya ada situasi yang tidak kuanggap antiklimaks, paling tidak ada sesuatu darimu yang mampu membayar perjalanan ini.”

“Maaf, Uskup Agung Regulus. Aku mesti menyulitkanmu, dan perjalanan ini gagal memenuhi ekspektasimu.”

Pandora menyapa Regulus tatkala dia melihat Geuse yang hampir mokad.

Dia juga tidak kena serang Unseen Hand, berdiri di tempat yang sama pas kali pertama kedatangannya.

Mirip Regulus, pakaiannya tidak berubah seinchi pun. Tiada kotoran atau polutan yang mencemari kain putih yang menyelimuti tubuh kecil nan kurusnya, kemurnian pakaiannya terjaga, wajah cantiknya tidak terluka sama sekali.

“Maksudku bukan menyalahkanmu, pandora-sama. Aku hanya bilang semua orang hutan dan moderat tolol ini menyedihkan. Sampah-sampah tanpa usaha untuk memperbaiki diri. Mereka tidak sepertiku, duduk tinggi hingga konsep mobilisasi tidak berfaedah, mereka masih saja bersikap seperti demikian dan oke-oke saja menjadi warga biasa yang hidupnya tamat apabila tidak berjuang. Mereka menolak gagasan meningkatkan diri, dan menurut sudut pandang Keserakahanku, hasrat setingkat itu rendahnya tiada tara.”

“Tidak semua orang di dunia ini jalan pikirannya sama sepertimu, atau menjangkau tingkat yang sama. Rasa puas serta pribadimu lebih istimewa dari orang lain. Kau sempurna lagi mulia Sedangkan mereka tidak sempurna namun mulia.”

“Aku tidak piawai berdebat. Aku tak mengkomplain pujianmu, tetapi aku juga tidak bisa bilang sedang mengemis pujian. Kendati tidak perlu sampai mengundang diriku dan Ular Hitam, benar? Kau bisa dengan mudahnya menguasai hutan ini sendirian, Pandora-sama.”

Suatu tempat di hutan ini, eksis seekor makhluk penyihir nan berbahaya.

Kehadiran sesuatu menjjikkan nan jahat membuat Regulus muak, selain dirinya dari sudut pandang semua orang, pendapatnya pasti sama. Pandora mengangguk.

“Apabila kita menghitung perlawanan balik mereka, lantas aku memang bisa melakukannya. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu dipikirkan. Karena aku datang ke sini bertujuan untuk tidak melukai penduduk hutan.

“Begitu perkataanmu setelah membawa Ular Hitam sembarangan dan melepaskannya secara cuma-cuma? Aku yakin kau tidak sungguh-sungguh bermaksud untuk tidak merusak hutan … apakah kau kini menyadari kerusakannya tidak terhindari?”

“Sewaktu mengejar tujuan mulia, esensialnya beberapa nyawa harus dikorbankan. Walau demikian, seseorang tak kuasa menghapuskan semangat perlawanan padahal lagi menghadapi takdir terkutuk itu. Aku yakin keindahan roh semacam itu tidak teragukan.”

“Kau telah melenceng dari kalimat utamanya, esensinya kau bicara bahwa membunuh orang sama dengan mencapai tujuan. Ahahahaha. Sekiranya itu yang kita perbincangkan, lebih baik menyatakannya serinci dan sejelas mungkin. Dibanding membuang-buang pikiranku seharian ini, hal demikian jauh lebih istimewa.”

“Aku sangat menghargai pendekatanmu.” Pandora tersenyum memikat. Regulus mengangkat bahu.

Pria itu kembali memandang Geuse yang mungkin akan mati misal dibiarkan saja, dia berjalan untuk melancarkan serangan pramungkas.

“Bukannya aku berpikir kau akan mati karena tubuh sekarat itu, tapi menguras organ dalam dan mengekangmu akan memudahkan operasi kami. Biarpun sangat aneh membicarakan seseorang yang tidak punya tubuh.

Regulus mengangkat kaki, siap untuk menginjak dan menghancurkan tengkorak Geuse. Tapi persis sebelum dia sempat melakukannya, terdengar sebuah suara yang seketika merintangi.

“AL HUMA!”

Mematuhi rapalan sihir, dunia mana mulai membentuk suatu wujud.

Yang menyertai suara ledakan itu adalah bola es raksasa yang menutupi pandangan langit atas. Walaupun pohon-pohon sudah roboh sehingga panorama langit mudah diamati, tetapi satu-satunya hal yang perlu diteliti adalah es biru.

“Ahh … beneran deh, gak ada yang ngasih waktu istrirahat.”

Regulus mendongak dan mendapati benua es melambung di atasnya, dia mendecakkan lidah. Mendadak, bola es yang amat besar itu jatuh tepat di atasnya—

—Gempa bumi serta gelombang kejut tak terhindarkan menggepengkan Regulus sepenuhnya.

Ledakan udara dan gemuruh ini semakin memperparah penggundulan hutan yang hanya bisa digambarkan sebagai zona bencana.

Bola es itu pecah menjadi serpihan-serpihan, menabrak pepohonan hancur dan batu-batu besar, tanah hancur ditindih massa yang teramat-amat besar ini, sekali lagi berubah bentuk dalam waktu satu hari.

Bongkahan-bongkahan es putih terjatuh di udara, bergemerlapan.

Di antara kilau-kilau itu tergeletak seorang pria dan wanita berambut perak yang menyeretnya.

“Geuse! Geuse, bertahanlah! Ini … bukan … yang aku ….”

“Fort, una, sama … itukah, Anda?”

Cahaya redup kembali ke mata Geuse yang hampir kosong.

Hidupnya masih baik-baik saja, tetapi ia hampir tak sadarkan diri. Fortuna mengangguk terhadap pertanyaannya.

“Ya, ya, ini aku. Geuse, kau ….”

“Saya, tidak apa-apa … daging ini, suatu hari nanti juga akan penyek …. Para Jari yang mempercayai saya, dan mempercayakannya kepada saya, akan mengerti … lebih pentingnya, bagaimana Emilia?”

“Aku menyerahkannya kepada orang yang bisa dipercaya dan mereka melarikan diri ke hutan. Dia baik-baik saja.”

“Be,gitu … saya, senang mendengarnya ….”

“—Tidak ada yang bisa dirasa senang!”

Tepat ketika wajah Geuse yang bersimbah darah melega, suara marah-marah Regulus meneriakinya.

Karena dihantam lapisan es besar, tampang Regulus sangat ganas. Menyisir poninya, matanya menampakkan permusuhan jelas.

“Berani-beraninya kau kembali dan mendadak menghujamkan semua ini, kau ini siapa? Padahal hampir saja menumpuk kepala tuh orang, diriku, aku! Atas hal apa, atas izin siapa, kau mencuri … menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi menghalangi! Jalanku!!!”

Berteriak seolah tengah mengamuk, Regulus berjongkok dan meletakkan tangannya ke tanah. Kemudian dia ayunkan ke atas, membuat daratan menari-nari di udara, tanah lunak terbang menuju Fortuna dan Geuse.

Jumlah tanah yang tersebat tidak banyak-banyak amat. Semata-mata sesuatu yang dilakukan anak bocah, main pasir-pasiran, tingkah kemarahan bengis sekaligus kekanak-kanakan.

Fortuna melihat tanah-tanah tersebut dan mengabaikannya, buru-buru fokus merapalkan sihir untuk melancarkan serangan balik.

Tapi ….

“Jangan! Bila Anda lengah … tidak menghindari, semua tanahnya ….”

“Hah?”

Geuse menginterupsi rapalan Fortuna, meniarapkan kepalanya ke darat. Mereka berdua jatuh ke dalam bumi tanpa pertahanan, sedangkan Geuse berusaha memanfaatkan Unseed Hand-nya dan melemparkan pasangan itu jauh ke belakang.

Ketimbang mencegah atau menahan tanah-tanah tersebut, Geuse milih berguling-guling di tanah.

Tepat ketika Fortuna berteriak dan menanyakan apa rencana Geuse, dia menyadarinya.

Tatkala tanah dan kerikil-kerikil yang dilemparkan Regulus menghantam daratan, mendengung suara gemuruh tajam layaknya rintik-rintik hujan di atap menghasilkan banyak lubang-lubang mini di bumi.

Setiap lubangnya hanya seukuran butiran pasir, namun kepadatan dan ketajamannya yang jadi masalah.

Serangan misteri biasanya hanya bisa mencungkil bumi, namun satu serpihan serangan mampu menembus pohon yang masih mempertahankan bentuk aslinya.

Pohon berbatang kuat ini dipertanyakan Fortuna apakah bisa dijadikan topangan, terdapat banyak lubang-lubang kecil dan meledak menjadi ribuan keping.

Mudah membayangkan apa yang terjadi jika mengenai seseorang, darah mereka langsung meledak. Dan paling menakutkannya ….

“Kenapa kalian menghindar! Terima saja serangannya, hancurlah tubuh kalian, jadilah makanan bagi para serangga! Kau juga sama, Betelgeuse, dasar bajingan, wanita itu pula. Aku pikir-pikir kau mungkin hebat sebagai istri ke-79, tapi kau malah melakukan semua ini!”

Regulus membungkuk, lengan ke tanah seperti sebelumnya.

Mengerikannya, adalah daya hancur sekaliber ini cuma seperti naik basuh kaki saja bagi Regulus—tidak mengerahkan tenaga lebih untuk itu, semudah membalikkan telapak tangan.

Amarah dan nafsu berperang Regulus telah terpukul oleh serangan besar Fortuna, sebab tak ada yang terjadi padanya. Penyesalan, merupakan kata penjelas.

Regulus Corneas mempunyai serangan juga pertahanan yang besar. Dan kekuatan luar biasa itu terkunci dalam tubuh yang kekanak-kanakan juga egois.

Suatu entitas yang berbahaya, seolah kekuatan sebesar Naga dilimpahkan pada seorang anak—begitulah anggapan Fortuna kepada monster ini.

“Misalkan kau tidak mati, bagaimana kalau kucabut anggota tubuhmu dan kujadikan dekorasi! Kubuat kau menyesal karena telah membodohiku …  Keserakahan!”

“Tunggu sebentar, Uskup Agung Regulus.”

Ketika Regulus bersiap untuk sekali lagi menghujani Geuse dan Fortuna dengan tanah, Pandora menghentikannya. Tangan pria itu masih menempel di tanah, orang itu menoleh dan melihat Pandora. Mukanya masih berisi kemurkaan besar, bahkan saat menghadap Pandora yang ia hormati, Regulus tidak menampik amarahnya.

“… Apa, Pandora-sama? Saat ini, aku sedang marah betul karena hak-hakku dilanggar. Kau memberikanku tugas, di waktu-waktu seperti ini? Kau mau apa, menghentikanku? Perhatikan baik-baik perkataan barusan, sebaiknya jawab sekarang ….”

“Kumohon redam kemarahanmu, Uskup Agung Regulus. Aku tidak memperkenankanmu untuk membunuh mereka di sini. Tidak adakah perasaan yang menjambangimu saat menatap mereka?”

“Lihat aku sekarang, apakah aku terlihat seperti sedang merasakan sesuatu? Aku sedang tiarap dan menyiapkan serangan, jangan terkalut emosi, wanita!”

Nampaknya lupa bahwa mereka adalah sekutu, Regulus mengayunkan lengannya ke arah Pandora. Melucnurkan semprotan tanah, melesat lurus menyerangnya. Tanah-tanah itu menabrak tubuh Pandora, akibatnya dia meledak menjadi hamburan darah dan potongan-potongan tubuh.

“… Tidak mungkin.”

Fortuna bergumam terheran-heran kala menyaksikan organ-organ tubuh Pandora tercerai-berai.

Seseorang yang dia benci kini terbunuh dengan kejamnya karena putus hubungan kawan.

Fortuna sungguh-sungguh yakin Pandora punya sejumlah kartu as untuk menahan serangan Regulus, tapi saat ini, dia bertabur bongkahan merah di tanah, tanah serta daratan hancur.

“Beginilah akibat dirimu yang mengatakan hal-hal bodoh kepadaku. Bagaimana bisa seseorang tidak tahu cara bertoleransi? Jangan halangi aku. Jangan ganggu jalanku. Jangan ikut-ikutan tindakanku. Jangan melawan apa-apa yang kulakukan. Memangnya sulit apa? Hei, menurut kalian bagaimana?”

Regulus balik menghadap Geuse dan Fortuna, terdapat sinar-sinar redup dalam matanya.

Bukan waktu yang tepat untuk merayakan perang saudara musuh. Andai kata musuh yang tersisa adalah orang berkekuatan absolut, lantas situasinya tidak berubah sama sekali.

Fortuna mengerahkan sekuat-kuatnya kekuatan untuk menghantam Regulus dengan serangan kejutan itu.

Setelah diserang pun, tubuh Regulus tidak menderita luka-luka dan pakaiannya tidak lecek. Rasanya suam-suam frustasi, namun Fortuna tidak bisa mengalahkan Regulus.

Geuse juga begitu terpojok sampai tubuhnya lemas. Sekalipun Fortuna menyuruhnya untuk melakukan hal mustahil dan berperang puputan, pertarungannya tetap berat sebelah.

Fortuna hanya bisa memancing amarah Regulus, mengulur waktu agar putrinya bisa melepaskan diri dari sini. “Biarkan saya yang, melawannya …. Fortuna-sama.”

“Tapi Geuse, kau ….”

“Entah seberapa besar … darah yang saya tumpahkan, sampai semua tubuh saya lumpuh, saya masih … bisa berjuang. S-saya akan membelikan waktu, biar, Anda … bisa … melarikan diri ….”

“Jangan ngomong aneh-aneh.”

Pipi Fortuna rileks sedangkan Geuse mencoba membenarkan posisinya di lengan si wanita.

Membingungkannya Fortuna masih bisa nyengir-nyengir di saat-saat seperti ini. Wanita itu memang suka bercanda.

“Kau menyuruhku untuk meninggalkanmu dan pergi? Misalkan pengen begitu, pasti aku takkan kembali. Aku berpisah dari Emilia untuk datang ke sini, menyuruhku pergi sudah mustahil.”

“Be, gitu … lantas, mengapa … Anda, kembali? S-saya ….”

“Agar kau tidak mati. Andai kata kau mati, biarkan aku menemanimu.”

Mata ungu Fortuna tetap menatapnya, mata berdarah Geuse membelalak terbuka.

Beratnya lebih ringan karena telah kehilangan tangan, Fortuna menarik tubuh Geuse lebih dekat, kemudian menuturkan sesuatu berjarak desahan nafas.

“Dunia tanpamu, hutan yang tidak lagi kau datangi, ada apa lagi? Aku ini lemah. Aku tidak bisa bertahan hidup tanpamu.”

“Anda sama sekali tidak lemah ….”

“Aku ini lemah. Tapi bersikap kuat saat bersamamu dan Emilia, itu saja.”

Setelahnya, Fortuna menopang Geuse.

Membantu Geuse yang gemetaran, tubuh wanita itu dekat ketika membantunya.

Melihat pasangan yang kelihatan hampir berpelukan, paras Regulus menjadi jijik.

“Semangat sekali dirimu setelah berkali-kali mengabaikan pertanyaanku. Apa yang sebenarnya terjadi? Apalah semua ini? Sesudah menunjukkan sebesar apa perbedaan kekuatan kita, setelah mengajarkan kalian dengan istilah yang begitu ringkas nan padat, kok bisa kalian berpikir bisa melakukan sesuatu? Kalian mikirin apa?”

“Seorang pria yang banyak omong. Telatahmu membuktikannya, kau sendiri juga tahu, kan? Makasih atas ceramahnya, tapi kami hanya punya satu jawaban.” ucap Fortuna.

“Be, nar.”

Fortuna dan Geuse saling menatap, lalu berbicara bersama-sama:

“—Memangnya kami peduli. Bego.”

Suara mereka saling bersinggungan, Fortuna mengacungkan jari tengah sebagai tambahan bonus.

Apa pun itu, Fortuna dan Geuse mengumpulkan kekuatan sebesar apa pun yang mereka miliki.

Wajah Regulus merah padam.

“…! Baiklah! Akan kulawan kalian berdua, membantai kalian sampai jadi daging, melemparkan kalian ke mulut kotor Ular Hitam—”

“Kubilang, tunggu dulu Uskup Agung Regulus.” untuk ketiga kalinya, rencana pria itu dicegat.

Tangan Pandora turun dari atas dan menekan kepala Regulus sampai bawah, tubuhnya tenggelam ke bumi tanpa perlawanan. Sedetik kemudian dagunya terkubur ke tanah, Regulus memelototi Pandora yang muncul di sampingnya.

“Tidak ada habisnya!”

“Jikalau aku perlu menghalangi keinginanmu, maka akan kuhalangi. Sampai sekarang, tujuanku membawamu ke sini telah tercapai. Kerjamu bagus dan aku hendak mengirimmu pulang.”

“Kau menyeret-nyeret orang, tapi ketika kau terpuaskan langsung menendang orang itu begitu saja? Kau kira semua orang setuju dengan pemikiran itu? Sampai aku memuaskan rasa sebal ini dan kembali menjadi diriku yang biasa, aku takkan pernah—”

“Begitu. Baiklah. Uskup Agung Regulus tak bisa berada di sini. Dia sedang berada di Mansion, menghabiskan waktu bersama istri-istrinya.”

“Tunggu—”

Sekejap berikutnya, persis Regulus meneriakkan sesuatu, dia tak lagi terlihat.

Bukannya dia tenggelam sepenuhnya ke tanah. Cuma mengerjap saja, menghilang dari dunia ini. Tempatnya berpijak, lubang kejatuhannya menuju tanah telah hilang. Semuanya seakan telah menegaskan pernyataan Pandora, bahwasanya Uskup Agung Regulus tak bisa berada di sini.

“Si nakal itu sudah pergi, sekarang kita bisa lebih santai berdiskusinya.”

“… Boleh bertanya sesuatu dulu? Bagaimana bisa kau ke sini? Baru saja aku lihat kau mati semenit yang lalu.”

Pandora berdiri santai dan merasa semuanya normal-normal saja.

Gadis ini, senyum tenang terpampang di wajahnya, walau mestinya penuh darah. Fortuna melirik bekas jenazahnya berserakan, dan menelan ludah.

Tidak ada jejak-jejak darah yang tersisa. Sama seperti Regulus yang menghilang, mayatnya pun lenyap.

Fortuna kehabisan kata-kata. Pandora memiringkan kepala.

“Apa Kau telah ditipu matamu?”

“—!”

Fortuna bergidik.

Seharusnya mustahil Tetapi dunia telah mewujudkan kata-kata Pandora. Menghapus apa-apa yang harusnya dilihat Fortuna, digantikan dengan sesuatu yang aneh dan tak dikenal.

Mayatnya tak lagi nampak, Pandora bangkit kembali. Regulus menghilang, dampak perbuatannya juga ikut hilang. Segera setelah menyadari demikian, Fortuna menoleh ke samping dan hampir berteriak pada hal mengejutkan ini.

Berdiri di sampingnya, tangan Geuse—tangan buntung Geuse, sudah tumbuh kembali.

“Karena Uskup Agung Regulus sedang tidak hadir, hasil perbuatannya juga menghilang. Sederhana sih. Walaupun, tangan Uskup Agung Betelgeuse adalah karena kebaikanku.

Geuse memutar-mutar tangannya yang pulih untuk memastikan ulang. Mata Fortuna goyah saat melihatnya.

“Geuse, tanganmu ….”

“Bisa digerakkan tanpa masalah. Tubuh saya juga … kecuali bagian dalam, tidak bermasalah.”

“Tidak kutulis ulang hingga bedanya sampai faktor dalam tubuhmu berubah. Aku ingin memuji tindakanmu ini, serta tindakan dia yang telah kembali padamu. Pertimbangkan ini sebagai ilustrasi ketulusanku.”

Pandora adalah perwujudan kebencian Fortuna. Hal demikian belum ebrubah, tatkala Fortuna melihat Pandora, tentu dia tidak bisa menahan amarah.

Namun Fortuna tidak membayangkan bahwa lawannya akan sangat misterius nan tak terprediksi.

Fortuna tidak tahu sama sekali apa yang terjadi. Tidak mampu memahami kejadian ini. Semua hal yang terjadi hari ini di hutan tak kuasa dicerna kepala Fortuna. Satu-satunya hal yang dia pahami adalah tangan Geuse yang kembali, itu pun berkat semua kejadian aneh ini, segala halnya tengah berada di ambang kekacauan.

“Fortuna-sama, tenangkanlah!”

Pikiran Fortuna yang tertegun telah dipotong raungan.

Rasa sakit bak tamparan di pipinya membuatnya berkedip, lantas mendapati Geuse berada di sana menatapnya. Dia meraih pundak.

“Saya yakin Anda punya banyak pertanyaan, saya juga yakin Anda bingungnya bukan main. Akan tetapi, lebih baik Anda kesampingkan dahulu dan pikirkan Masa kini. Hal terpenting adalah menjaga hutan, keamanan Emilia-sama! Juga …. Mengalahkan wanita itu!”

“—Geuse.”

Mata Fortuna kembali tumbuh kehidupan. Dia memelototi Pandora.

Ya. Geuse benar. Pandora barangkali abnormal dan tak diketahui, ketidakmampuan untuk memperkirakan kejadian selanjutnya sungguh-sungguh menakutkan. Meski demikian, Pandora telah menghapuskan Regulus perkasa dari pertarungan ini, dan mengembalikan tangan Geuse.

Dengan bodohnya melemahkan kekuatan tempur sekaligus memperkuat musuh. Dia sendiri tidak sadar sedang membuat dirinya terpojok.

“Kau benar, Geuse. Yang barusan bisa dipikirkan nanti. Sekarang ya sekarang!”

“Gabungkan kekuatan kita, dan kalahkan dia! Misalkan kita berhasil mengusirnya, para pemuja lain di hutan juga akan mundur—Kita bisa selamatkan Emilia-sama!”

Sosok sang putri berkelebat di benak Fortuna.

Sang ibu sudah siap perpisahan sebelumnya adalah pertemuan terakhir mereka. Barusan tekadnya juga sudah bulat. Namun kini, Fortuna mendapati harapan baru.

Emilia akan diselamatkan. Tidak lain oleh kekuatan Fortuna dan Geuse.

“—Putih beku, perenggut waktu, telapak tangan berbalut sihir es tipis.”

Sihir yang menghantam Regulus sekarang tengah bergolak dalamd iri Fortuna, mencari tempat meledak. Rapalannya memberi wujud kekuatan itu, membidik targetnya tatkala mana berinteraksi dengan dunia.

Terdengar suara retakan kala suatu zat es berujung tajam mewujud, objek itu terlalu besar sampai-sampai stan konser tidak cukup menampungnya, tombak es.

Ujungnya mengincar Pandora. Seandainya meluncur dan menikamnya, Pandora akan termutilasi, sisa-sisa bagian tubuhnya akan berserakan ke mana-mana dan membeku hingga tak mampu dipersatukan lagi.

Di samping Fortuna, Geuse mendekap bahu, dirinya juga memancarkan tekanan.

Kekuatan mengalir di balik jubah robek-robeknya, semua luka kecuali kuka di tangannya telah kembali terbuka. Bahkan dalam keadaan memilukan itu, dia bersedia menghabiskan seluruh jiwanya demi orang-orang yang dia percayai.

Menghadapi manifestasi kekuatan mereka, Pandora bahkan tidak mengambil kuda-kuda, tersenyum saja.

“Nah, serang aku—Perkenankan diriku menikmati tekad kalian sampai batasnya.”

Kekuatna pasangan itu mengguncang dunia, segalanya demi merobek senyum Pandora, hasilnya ….


Emilia terbangun di dataran miring dan menggelengkan kepala, berhasil mengingat lokasinya selagi memandang sekeliling area.

“Benar juga … aku ….”

Tubuh kecilnya terkotori lumpur dan melihat area tak dikenal. Lutut yang tergores, kakinya sakit karena kelamaan lari.

Semua itu membebani Emilia saat dia kembali tersadar, kepanikan yang menyumbat dada serta kesadarannya yang mengingatkan kembali bahwa saat-saat ini bukanlah mimpi.

“Ibu … Geuse … Arch ….”

Orang-orang yang berharga, mereka semua mengorbankan hidupnya agar dia bisa melarikan diri.

Ketika mengingat kembali wajah mereka secara bergantian, Emilia kecil ingat dia mesti melakukan sesuatu. Semua orang yang mencoba melindunginya menyuruhnya pergi.

Mereka ingin dia lari jauh sejauh-jauhnya, keluar dari hutan.

Namun, Emilia juga memikirkan hal ini:

Pastinya ada sesuatu yang bisa dia lakukan untuk semua orang.

“Betul, itu … Segel, Segelnya!”

Segel. Kata itu melekat dalam ingatannya sebelum dia pingsan.

Pembicaraan tegas Fortuna bersama Arch. Mengenai orang-orang menakutkan yang datang ke sini mencari-cari Segel di hutan.

Segel hutan terletak jauh di kedalaman terdalam hutan tempat Emilia kecil tinggal, sebuah pintu misterius.

Pintu itu membimbingnya ke suatu tempat, hanya sebuah pintu yang tampak seperti logam berdiri di tengah-tengah hutan.

Orang dewasa menyebut tempat itu sebagai Segel. Emilia tahu letaknya.

“Harus pergi ke sana.”

Menuju Segel tidak memberikan Emilia tujuan. Dia tetap tidak tahu cara membuka pintu, bahkan kata Segel pun dia tidak paham. Tapi pasti ada sesuatu yang sungguh-sungguh penting di sana, apa lagi Emilia tahu lokasinya dimana—hal demikian sudah cukup bagi Emilia.

Motifnya bukanlah pertimbangan akan hal yang barangkali dapat dia lakukan.

Tapi suatu harapan, jika pergi kesana akan merubah sesuatu, hal itu yang mendorongnya.

“Segelnya memang ada … tapi, sebelah mana?”

Berpisah dengan Geuse, Fortuna, dan berlari menyusuri sepanjang hutan dalam dekapan Arch membuatnya berlinangan air mata, Emilia berlari menuju tempat tak diketahui, sendirian.

Mungkin hutan ini tempat tinggal Emilia, namun hutannya bukan lagi hutan yang dikenal dia. Daerah yang Emilia jelajahi terbatas pada sekitaran desa saja. Jangankan lokasi Segel, dia bahkan tidak tahu di mana ibu atau Geuse.

“Auhhh, hah ….”

Emilia meratapi ketidakberdayaannya sendiri. Tahu perlu melakukan apa, tapi tidak mampu mencapainya. Tak punya ibu yang bisa diandalkan ketika bersusah-payah di sini. Dialah yang harus bertindak dan menyelamatkan ibunya.

“Hmm?”

Perasaan tulus Emilia menggerakkan mereka yang mengawasinya.

Gadis itu menyeka air matanya, tatkala cahaya redup melewati wajahnya dan berkedip-kedip. Emilia kecil melihat ke atas, mendapati beberapa cahaya menghalangi visinya.

“Para peri?”

Emilia memanggil mereka peri. Fortuna dan Geuse menyebut entitas supranatural ini roh.

Tidak bisa bicara atau berkehendak, roh-roh yang lebih kecil menjawab permintaan setengah mati gadis itu.

Roh-roh tersebut berputar-putar di depan Emilia yang lumpuh. Mereka semua bergerak satu arah kemudian kembali lagi, terus begitu, berulang-ulang, mengemukakan tujuannya. Suara Emilia bergetar sewaktu menyadari apa maksud roh-roh tersebut.

“Kau memberitahuku, jalannya?”

Mereka tidak menjawab. Hanya naik turun yang rasanya mirip penegasan.

“Andai kata aku pergi ke sana, aku akan menemukan Segel? Ibu dan semua orang bisa diselamatkan?”

Roh itu menyala cerah.

Emilia menyeka air matanya sambil menggelengkan kepala.

Bukan waktunya menangis.

Ibu dan Geuse serta banyak orang telah menolongnya, seketika dia menangis para peri pun bahkan menghiburnya. Setelah semuanya, Emilia kecil tidak boleh takut-takut dan meringkuk di sini terus-terusan.

“Mmm … mmm, hmm.”

Roh-roh berkeliaran, seakan mengkonfirmasi apakah Emilia baik-baik saja. Si gadis mengangguk, dan sosok kecilnya bimbang, dia lagi-lagi berlari.

Mengikuti panduan para roh, melesat secepat mungkin di atas permukaan tanah kasar.

Melewati lubang-lubang, dataran curam, celah-celah pepohonan.

Beberapa titik di sepanjang jalan bisa dilalui oleh para roh, tapi Emilia tidak bisa. Dia tersandung, dahan-dahan menggaruk pipinya, jatuh ke bawah duluan, meludahkan tanah dan kembali berdiri.

Nafasnya bekerja, air mata ketakutan dan rasa sakit mulai berkumpul lagi.

Emilia menyedot ingusnya kembali masuk ke hidung, mengelap air matanya dengan tangan berlumpur, menampar lututnya sekali dan lari lagi.

Menahan rasa sakit juga luka, berlari sekuat mungkin sewaktu banyak ingatan melewati benaknya.

Ingatan tentang waktu yang dia habiskan di hutan, pertama kali dia mulai tahu sesuatu.

Fortuna adalah ibu yang keras, ibu yang paling tidak pernah memanjakan Emilia. Padahal bukan ibu kandungnya.

Emilia punya orang tua asli, seperti orang-orang normal.

Hal-hal semacam itu sudah biasa didengar oleh Fortuna berkali-kali lagi, dipercaya atau tidak dipercaya Emilia. Dia punya orang tua sungguhan. Itu membuatnya senang. Namun Fortuna juga ibu kandungnya. Setahu Emilia, kebenaran itu tak terbantahkan. Karena kejadian inilah dia memahami hal itu.

DIa tahu rasanya dimarahi. Malam-malam Emilia yang menangis dan minta ampun dipeluk, kemudian tidur bersama. Fortuna akan selalu membelai kepalanya ketika bangun sampai beranjak dari tempat tidur, agar Emilia tidak kesepian. Dia tahu lebih dari siapa pun bahwa ibunya mencintainya.

Semua penduduk desa selalu baik padanya.

Tentu ada semacam kesendirian, rasanya mereka menjaga jarak dan tidak yakin bagaimana memperlakukan Emilia. Meskipun begitu, mereka tidak pernah bilang akan menyakitinya, dan selalu berlaku baik pada Fortuna.

Dia tahu bahkan dengan Ruang Putri, semua orang telah berusaha keras agar tempat itu bagus untuk ditinggali Emilia. Mereka menyiapkan mainan sehingga tidak merasa sendirian saat di dalam sana, menjahit banyak boneka untuknya. Hitungan bonekanya makin berlipat ganda dari hari ke hari, dan Emilia sudah keburu lelah untuk memainkan semuanya. Semua boneka, setiap tusukan benang, adalah bukti kepedulian mereka kepadanya.

Emilia awalnya membenci Geuse.

Karena semua orang menjauhkannya dan menguncinya di Ruang Putri sebab kedatangan kelompok Geuse. Para orang dewasa menyembunyikannya agar bisa bersenang-senang. Kali pertama Emilia kecil keluar dari Ruang Putri dan menyaksikan Geuse serta Fortuna berbincang dan melihat Fortuna tersenyum padanya, Emilia jadi cemburu.

Geuse pikir Emilia takkan pernah memaafkannya. Tapi Geuse menangis waktu bertemu dengannya. Menangis dan menangis, menangis bahagia, Emilia memaafkannya.

Lagian, tangisan itu hangat. Emilia kembali memikirkan betapa damai pelukan Fortuna, dan menepuk-nepuk kepala Geuse. Emilia menemaninya ketika pria itu menangis besar agar dia tidak merasa sendiri. Geuse tidak berdaya, pikir Emilia. Cuma tidak berdaya. Pikirnya lagi.

“Aku … bersama semua orang, lagi ….”

Ingin tidur bareng Fortuna.

Ingin mengundang semua orang ke Ruang Putri.

Ingin bertemu Geuse menyebalkan yang bertemu Emilia, dan menginjak-injak kakinya.

Gadis itu ingin bertemu semua orang lagi.

“Karena aku, adalah gadis baik ….”

Air mata mengaburkan visinya selagi berlari, dan setelah melewati beberapa pohon lagi—Emilia menemukan Segel yang dia cari-cari, kemudian ….

“Selamat datang.”

Seorang anak berambut platina berdiri di depan pintu, tangannya membentang untuk menyambut Emilia.

“Syukurlah. Kau yang pertama kali sampai. Aku senang kau akhirnya menemukan Segel, tapi tidak menemukan kunci pentingnya. Benar-benar bahagia telah menemukanmu.”

“Kenapa … kau di sini?”

Si gadis, Pandora, menyapa Emilia dengan nada akrab dan tekanan canggung. Tenggorokan Emilia gemetaran saat dia mengajukan pertanyaan, lalu Pandora menepuk sekali tangannya.

“Hehehehe, kau pasti kaget. Sederhana sih. Segel ini penting bagiku. Sesuatu yang aku cari-cari pula. Salah satu alasan diriku mendatangi hutan hari ini. Berarti aku hanya mesti ke sini saja.”

Jawaban Pandora bukanlah yang dicari Emilia.

Gadis kecil itu mencoba menanyakan tujuannya di tempat ini. Terakhir kali Emilia kecil melihatnya, Geuse sedang menghadang dirinya dan Regulus. Bila mana dia di sini, berarti Geuse ….

“Kenapa … kau ke sini?”

Mungkin telah sadar hati Emilia hampir hancur, mata Pandora terbuka lebar. Menaruh tangan ke dadanya seakan-akan merenungkan perkataannya barusan.

“Aku minta maaf. Tanggapanku barusan aneh. Bukan aku yang kau tanyakan, kau menanyakan Uskup Agung Betelgeuse dan Ibumu.”

Pandora terlambat memahaminya, tapi dia tetap merangkum jawaban benarnya.

Jika Pandora salah terus, Emilia sudah mengakhiri semua percakapan ini tanpa mempedulikan pertanyaannya dijawab atau tidak. Walaupun dia sendiri tidak tahu Pandora menginginkan apa dari semua ini.

Senyumnya lembut.

Tidak membawa kebencian ataupun kejahatan, hanya limpahan kebaikan, niatnya tulus untuk menghilangkan kecemasan Emilia.

“Tolong jangan khawatir. Kau merisaukan Uskup Agung Betelgeuse dan Ibumu, mereka berdua baik-baik saja.”

“Huh?”

“Tidak perlu resah begitu, sebaiknya kau tanyakan betul-betul dari awal. Tidak aku tidak pula anggota Kultus Penyihir datang ke sini untuk menyakiti satu jiwa pun di hutan. Sebagaimana yang aku nyatakan, aku datang ke sini karena punya urusan dengan Segelnya. Pokoknya, tidak ingin membuat pengorbanan sia-sia.”

Ucapan Pandora penuh kebaikan, satu per satu terselip ke dalam hati Emilia yang terbebani.

Kiranya Emilia ingin mempercayai tutur Pandora, lantas Fortuna dan Geuse aman-aman saja. Mungkin takdir semua orang di hutan tidak seburuk perkiraannya.

Malahan, gadis ini baru saja bilang punya urusan dengan Segel. Berarti, begitu selesai dengan urusannya—

“Saat urusanmu soal Segel sudah selesai, mau pulang, gak ….?” Pandora tidak mengatakan apa-apa.

“Saat sudah selesai mengurus Segel, kenapa gak pulang saja? Pulang tanpa menyakiti semua orang?”

“—Kenapa mesti menyakiti, tentu aku pulang. Aku pun tidak mau mengorbankan yang tidak perlu.”

Pandora mengangguk dalam-dalam, seolah berjanji.

Kemudian Pandora menunjuk segel, lanjut memiringkan kepala ke Emilia yang berkaca-kaca.

“Aku ingin kau memberikan kuncinya padaku. Asalkan pintu ini terbuka, kami akan mundur dari hutan sesegera mungkin.”

“Kunci ….?”

“Yup. Melihat-lihat bentuk pintu Segel ini, diperlukan kunci untuk membukanya. Kau pasti punya kunci itu.”

“Aku, tidak tahu apa-apa soal itu ….”

Emilia menggelengkan kepala, tidak mengerti maksud Pandora. Emilia kecil tidak ingat ada orang yang memberikannya sebuah kunci, dari awal pun keberadaan Segel dirahasiakan darinya.

Teramat-amat mustahil Emilia mempunyai kunci Segel yang kebenarannya disembunyikan. Bahkan kesimpulan natural ini tidak perlu dipikirkan ulang.

Emilia geleng kepala.

Pandora juga geleng kepala.

“Tidak perlu merahasiakannya.”

“A-aku tidak menyimpan rahasia … aku beneran, beneran tidak tahu! Gak punya kunci apa-apa! Aku tidak pernah diberikan kunci! Aku, tidak bisa membuka Segelnya!”

“Begitu—Lantas, aku mesti menggalinya di hutan biar kuncinya ketemu.” wajah Pandora kelihatan sangat sedih. Dia menurunkan pandangan.

Sedangkan tingkah dan nada bicaranya seolah simpatik kepada Emilia, tekad besinya kemungkinan besar akan menuruti kehendaknya. Emilia goyah.

Seumpama dia tidak bisa membuka Segel di sini dan saat ini, si gadis akan menggalinya di hutan.

Menggali, sederhana, melakukan hal sia-sia. Pandora akan Menggali hutan, juga orang-orang yang hidup di sana, Fortuna, para penduduk, kelompok Geuse, untuk mendapatkan barang tersebut.

Dia adalah entitas abnormal.

Terlampau abnormal sampai-sampai Emilia yakin bahkan Fortuna pun bukan tandingan mereka.

“A-aku akan membukanya! Aku buka!”

Jadi Emilia berseru dahulu sebelum Pandora mulai berinisiatif.

Wajahnya jadi cerah.

“Kau beneran akan membukanya? Alhamdulillah. Ujung-ujungnya kuncinya ada padamu. Persis seperti perkiraanku. Lagi pula, kau ini anak penyihir.”

“Anak, penyihir ….?”

“Yup, benar. Sekarang, pengen lihat Segelnya, gak? Asalkan aku bisa menginvestigasi bagian dalam pintunya, kami akan langsung mundur.”

Menyerahkan peran itu kepada Emilia, Pandora menunggu aksi putrinya dengan gembira.

Kendati istilah barusan menghujam dada Emilia kecil, dia tidak bisa mundur lantas terus melangkah maju.

Emilia kecil melihat ke atas, pandangannya sampai ke ujung atas, tapi tetap tidak mendapati ujung pintu.

Bagai pintu besar yang hanya bisa dimasuki raksasa. Emilia kecil yang mesti membuka pintu ini kedengaran kek fantasi kosong nan hampa.

Dia berdiri di hadapan pintu. Kondisinya sehat dan baik, tapi Emilia tidak tahu cara membukanya. Kala dia mendapati Segelnya, Emilia memikirkan segala macam ide, mendorongnya, menariknya, mendakinya, itu dulu-dulu sekali.

Wujud mungil Emilia tidak menggerakkan pintu kuno ini semilimeter pun, dia bahkan tidak mendengar semacam suara retakan, apa lagi pintu terbuka.

Hari ini sama saja.

Emilia bisa mengulurkan tangan dan menyentuhnya, tapi tidak bergerak sama sekali.

“Hahh … hauhhh, huhhhh … ahhh ….”

Denyut nadinya berdegup cepat, darahnya mengalir deras di kepala.

Dadanya berapi-api, jantungnya yang berdetak kelewat kencang bisa menyembur keluar lewat mulut kapan pun. Tetapi perutnya dingin, akan diisi oleh timah.

Emilia harus menggerakkannya tapi tidak kuat.

Andaikan benda ini tidak terbuka, hal mengerikan akan terjadi pada semua orang.

Emilia tahu itu, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Teror juga keputusasaan memutihkan pikirannya, menghancurkan Emilia sepenuhnya.

“—Berpikirlah: Aku adalah kunci.”

Suara yang sangat halus itu menyelinap masuk ke telinga Emilia yang putus asa

—Aku adalah kunci.

Seperti yang diperintahkan, Emilia hanya fokus pada kata-kata itu.

Seketika, Emilia merasakan suatu beban di tangannya. Dia melihat kedua telapak tangan dan mendapati sebuah kunci perak besar kuno.

“Sebuah kunci ….”

“Kau bisa melihatnya sekarang? Kalau bisa, maka kau memang kuncinya.”

Kata Pandora riang.

Tapi ada sesuatu yang tidak wajar tentang pernyataannya. Seolah Pandora tidak melihat kunci di tangan Emilia.

“Kau … tidak, bisa melihatnya?”

“—Tidak, tidak bisa. Kunci itu hanya akan diberikan ke tangan yang punya kualifikasi. Aku yakin di dunia ini cuma dua orang yang mampu membuka kunci Segel.”

Pandora sepertinya cemburu kepada posisi itu. Dan memang, tatapannya tidak hanya tertuju pada kunci di tangan Emilia. Kendati tidak yakin apa maksud tidak bisa melihat kunci yang jelas-jelas begitu berat, Emilia balik menghadap pintu.

Kunci yang tiba-tiba muncul—namun Emilia tidak menmeukan apa-apa yang tampak seperti lubang kunci.

Pintu ini bahkan tidak punya kenop. Meskipun kuncinya besar tetap tidak bisa dibandingkan pintu ini. Bisakah kunci tua kumuh membukanya?

“—Ah.”

Ketika Emilia secara naluriah tahu cara menggunakan kunci.

Tidak perlu lagi mencari lubang kunci. Pintu itu sendiri seperti lubang kunci.

Pintu ini tidak menjaga Segel.

Semata-mata berperan sebagai topi Segel. Pintunya tidak menyegel apa-apa. Segel tersebut merupakan sesuatu yang lebih tidak penting, beroperasi di dalam pintunya.

“Sekarang, bukalah.” suruh Pandora.

Mengabulkan permintaan Pandora, Emilia melangkah maju.

Hanya menekan kuncinya ke pintu dan terbukalah, cukup terbuka. Hal demikian saja pintu ini telah terbebas dari tugasnya yang sungguh-sungguh lama.

—Misalkan pintu ini terbuka, semua orang akan terselamatkan.

“… Apa ada yang salah?”

Tetapi sesaat sebelum dia bergerak untuk menekan kuncinya ke pintu, Emilia mendadak terhenti.

Melihat jari-jari si gadis goyah, Pandora mengernyitkan alis.

Emilia tidak menjawab, alih-alih menatap kunci di tangannya. Jika dia menekan kunci tersebut ke pintu, Segelnya akan terbuka. Tapi—

“Emilia—Berjanjilah.”

Dalam kepalanya ia mendengar salam perpisahan sang ibu.

Percakapan mereka saat itu bukan tentang segel.

Tapi Emilia masih ingat. Dirinya berjanji akan menepati janji.

Emilia tidak tahu-menahu mengenai Segel. Dia tidak diperbolehkan mengetahui serba-serbi Segel.

Emilia tidak tahu tempat ini, juga tidak boleh melakukan apa-apa di sini.

Dia sudah berjanji pada Fortuna. Menepati janjinya adalah prioritas di atas prioritas lain. Emilia telah mengkhianati kepercayaannya, lantas kali ini tidak boleh melakukannya.

Tidak seorang pun akan memaafkan bila tingkahnya macam anak nakal. Tak seorang pun akan membuka pintu maaf.

Jadi, dia tidak boleh membuka Segel ini.

“A-aku, tidak bisa membukanya ….”

“—Kenapa tuh?”

“Janjinya … karena, aku sudah berjanji. Aku tidak ada hubungannya dengan Segel. Tidak boleh membukanya.”

“Begitu. Janji benar-benar sesuatu yang sangat penting. Memang hebat dan patut diacungkan jempol bagi orang yang amanah. Akan tetapi … janji tergantung tergantung pada situasi dan kondisi.”

Pandora menyelaraskan tatapannya dengan Emilia yang menggeleng-gelengkan kepala. Mengelus rambut perak Emilia.

“Aku duga janji ini adalah antara dirimu dan Ibumu. Ibumu adalah orang yang teramat luar biasa. Mengajarkanmu sesuatu yang mulai dan benar. Keinginanmu terlalu berharga dan layak ditegakkan.”

“K-kalau begitu ….”

“Tapi, suatu saat akan datang waktu kau mesti membuat keputusan yang bertentangan dengan janji tersebut. Mungkin diriku ini jahat karena menagih keputusan dari jiwa mudamu. Biar begitu, takdir dan keputusan besar takkan mempertimbangkan keadaan orang lain. Takdir mencintai mereka yang melawan cobaan, mengilhami harapan pada hasil keputusan. Harapan seperti apa yang kau cari?”

“Harapan, apa?”

Pandora mengangguk sambil tersenyum ramah.

“Iya.”

Menyerahkan tangannya ke Emilia.

“Pertama-tama adalah harapan bahwa kau akan menepati janji ibumu, tidak membuka Segel, melawan pihakku, lalu sukses mengalahkan cobaan ini.”

Pandora mengangkat tangan kanan, seolah memegang benda tak kasat mata yang disebut Harapan1.

“Kedua adalah harapan bahwa kau menentang janji ibu, membuka segel, mengabulkan permintaan pihakku, dan situasinya akan berakhir tanpa lebih banyak korban.”

Pandora mengangkat tangan kiri, lagi-lagi menunjukkan Emilia harapan palsu.

Dihadapkan dua tangan ini, Emilia jadi kaku.

Dia bahkan tidak tahu sedang bernafas, paru-parunya terasa beku. Jika mengatakan sesuatu yang ceroboh, Pandora bisa saja menurunkan kedua tangannya.

Tidak bisa menyentuh salah satu harapan yang disajikan kepadanya, malah mungkin direnggut begitu saja.

—Teror menggenggam hati gadis muda itu, tidak melepaskannya.

“Harapan mana yang kau pilih? Pilihannya ada padamu.”

Harapan kanan. Harapan kiri.

Harapan dari melanggar janji. Harapan dari mempertahankan janji.

Suara manis nan memikat Pandora.

Fortuna baik hati yang memanggil nama Emilia dengan ramah.

Dia bahkan tidak mendengar detak jantung pada momen-momen ini.

Suara menghilang dari dunia, menyisakan Emilia yang membisu.

Gadis itu tengah berpikir. Merenung. Kepalanya membara, otaknya bisa mendidih kapan saja.

Memfokuskan setiap fungsi tubuh yang dia miliki untuk berpikir, memberi kesan bahwa segala sesuatu dari leher ke bawah telah lumpuh. Tidak mendengar denyut, anggota tubuhnya sama sekali tak bergerak dan terlupakan kehendaknya.

Dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih, dia tidak bisa memilih.

Pilihan mana yang akan menyelamatkan semua orang? Dia harus apa biar semua orang terselamatkan? Dia bisa apa biar menjadi kekuatan semua orang? Mesti melakukan apa? Seseorang, beritahulah dia.

“—Ah.”

“Jadi. Begitu keputusanmu.”

Pikirannya menyatu, visinya mengabur, Emilia membunyikan suara lirih.

Melihat keputusannya, mata Pandora yang berpenglihatan jauh menurunkan pandangannya.

—Jari Emilia menyentuh tangan kanan Pandora.

Jalan untuk tidak melanggar janji, tidak membuka Segel, berharap akan keselamatan semua orang.

“Aku … berjanji, pada … ibuku, aku akan menepati … janji, ku, jadi … ibu ….”

“Sampai detik-detik terakhir, kau masih memegang teguh kata-kata Ibu, kompasmu2. Jawaban yang kau pilih menghasilkan ketidakpastian, menjeremus terbelahnya hidupmu, hal demikian aku hormati.”

Pandora mengangguk setuju saat Emilia bergelimpangan air mata.

Melepaskan tangannya dari Emilia. Gadis itu jatuh terlutut dilihat Pandora, matanya penuh kasihan.

Kalau Pandora mau, dia bisa saja mendorong tangan Emilia ke pintu selagi masih memegang kuncinya. Walaupun tidak ada hubungannya dengan apakah Emilia ingin pintu itu terbuka atau tidak, satu dorongan saja sudah cukup memojokkannya. Pandora tahu itu, tetapi tidak melakukannya.

Hal demikian adalah sesuatu yang bisa dipercaya dari anak perempuan aneh ini.

“Jadi ….”

“… Huh?”

“Harap hormati keputusanku karena telah memilah kembali metode untuk membuka Segel.”

Emilia mengangkat kepalanya, tertegun.

Pandora tidak menatap Emilia. Matanya terarah ke suatu tempat di belakangnya. Emilia mengikuti garis pandangnya, dan mendapati sosok yang melewati semak-semak. Sosok berambut perak pendek.

“Pandoraaaaa!”

Berlumuran darah, dialah Fortuna.

Dibanding terakhir kali Emilia melihatnya, ibunya terluka parah. Walau demikian, yakin mereka akan saling bertemu lagi, tahu dia hidup saja sudah menyalakan kelegaan dalam hati Emilia.

“Makan nih!” teriak Fortuna.

Rupanya tidak tahu kehadiran Emilia, Fortuna menembak enam es, menyerang Pandora tanpa ampun.

Tubuh Emilia menegang terhadap bahaya itu, Pandora melesat ke depan Emilia, melindunginya.

“Menyerang tanpa mengamati daerah sekitar tuh berbahaya.”

Setelahnya, es-es itu menusuk dada Pandora. Pinggang kurus, tangan kanan dan kiri tertikam es, dan satu es terakhir menghujam kepala platinanya.

Emilia menjerit saat melihat tubuh kecil Pandora tertembak es.

Tubuh Pandora terhuyung mundur dan jatuh ke Emilia.

Gadis itu menangkap tubuh bolong-bolong yang bermandikan darah. Dia berteriak. Semuanya terasa tidak nyata. “Emilia ….?”

Mendengar jeritan itu, Fortuna melirih bingung kala kembali tersadar. Ketimbang senang telah mengalahkan musuh yang dibencinya, mata Fortuna goyah tatkala mendapati putrinya berada di sana.

“Kenapa ada Emilia …? Seharusnya dia sudah pergi jauh ….”

“Mempertanyakannya tuh jahat. Putrimu meresahkanmu, sepenuh hati ingin membantu dengan berjalan ke situs ini. Bagaimana bisa kau sebagai ibunya tidak memuji niat baik nan murni itu?”

“—!”

Pandora berbicara dari samping Fortuna.

Mata ungunya membelalak terbuka terhadap hal tak terduga itu, pada kenyataan bahwa mayat Pandora telah menghilang dari tangan Emilia.

“Kau kelihatan sama terkejutnya seperti putrimu, kalian betul-betul mirip satu sama lain. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”

“! Aku bukan ibu kandung Emilia! Wajah lucunya dari kakak ipar!”

“Mohon maaf soal itu.”

Mulut Fortuna marah saat es-es terwujud menuruti perintah tangannya yang terangkat. Tebasannya mengiris tubuh Pandora secara diagonal, darah menyemprot ke mana-mana. Pandora ambruk lebih dulu dan terkulai di tanah.

“Berarti orang tua asuhnya adalah Ibunya. Karena itulah kau tidak keliru dalam metode untuk membesarkannya. Putrimu tumbuh menjadi gadis yang terlampau jujur dan terpuji. Orang tua sejatinya, kakak dan kakak iparmu, tentu akan bahagia.”

“Jangan bicarakan kakak dan kakak iparku!”

Mayat yang terjatuh itu menghilang seketika Pandora muncul, seakan sudah hal lazim bagi Fortuna. Wanita itu mengayunkan pedangnya ke bawah untuk membelahnya, memotong kepalanya dengan teknik ayunan belakang.

Melirik ke belakang dan menikam Pandora yang hidup kembali. Mendorongnya ke belakang, persis ke titik kejatuhan pohon, dia terjepit.

“El Huma!”

Selimut kabut nan dingin menyelimuti Pandora yang tersemat.

Terlahir patung humanoid, menyegel Pandora—dia sendiri sudah cukup indah sebagai karya dewa—selamanya tertidur di hutan menjadi milik alam.

“Penggunaan sihir tanpa pandang bulu ini akan meletihkanmu. Kenapa tidak santai sebentar dan berdiskusi bersama?”

“Tidak ada gunanya berdiskusi!”

Patung es tetap ada, namun Pandora di dalam sana tidak ada dan sudah berkeliaran. Fortuna berputar dan mendapati Pandora berdiri di tempat berbeda, Fortuna mengayunkan tinjunya. Bukan serangan sihir. Hanya pukulan fisik belaka. Menghantam langsung muka Pandora seolah dirinya tertarik ke pukulan itu.

“—Aghh.”

“E-Emilia!?”

Terhempas oleh tinju ibunya, Emilia gagal menghindar dan jatuh ke tanah. Tidak sengaja memukul putrinya, wajah Fortuna memutih selagi buru-buru menghampiri gadis yang terjatuh itu.

“Tidak! Emilia, maaf! Ibu tidak bermaksud! Bukan itu yang Ibu ….”

“Begitulah rasa sakit dipukul. Rasa sakit yang tentunya setara dengan dipukul tengah mengalir dalam hatimu. Sekarang kau mulai paham betapa tidak manusiawinya perbuatanmu?”

Tangannya menegakkan Pandora, tenggorokan Fortuna menjerit sambil mendorong si gadis. Sang ibu berdiri dan melihat sekeliling mencari Emilia yang ternyata masih berdiri di samping Segel. Tidak terlihat jejak pukulan di pipi putihnya.

“Kau mengatakan banyak omong kosong, lagi dan lagi!”

“Tapi kali ini berbeda, omonganku menghentikanmu. Apa kau tidak dapat mencurahkan sebagian kecil emosi itu kepada seseorang yang sangat-sangat kau benci? Tidak menyuruhmu untuk mencintai semua orang sebagaimana mencintai putrimu. Tapi, ada beberapa orang yang berubah setelah diberi sedikit kepedulian. Semisal aku bisa menjadi bagian mereka, lantas aku melanjutkan tujuan tanpa membuat banyak tragedi.”

“Memangnya kau siapa meminta kebaikan dariku!? Orang tua Emilia ….” baru sadar Emilia menatapnya, Fortuna buru-buru menutup mulut.

Putrinya menatap tajam-tajam wajah tegang ibu. Saat berada di depan anak perempuannya, entah seberapa besar dia membenci musuh, masih ada sesuatu yang tak boleh terucap.

“Begini saja. Bersediakah kau membujuk putrimu? Aku telah mengkonfirmasi bahwa dirinya memiliki kunci, namun tetap tidak membuka pintu. Karena masih menepati janji.”

Fortuna tidak membalas.

“Jika kau membatalkan janji, tiada rantai yang ‘kan menjerat hati kerasnya. Aku berjanji jikalau kau membuka Segelnya, kami akan meninggalkan hutan ini tanpa basa-basi. Betulan, aku berjanji. Aku akan memegang janjiku …. Kata-kata indah.”

Terimbuh tanpa candaan, kemungkinan besar hasil dari pikiran polosnya.

Namun ada perkataan dan tindakan yang tajam menyengat karena kurangnya niat buruknya.

Fortuna sudah paham nian makna ucapan Pandora barusan.

Fortuna menatap Emilia.

Gadis blasteran itu menggenggam tangan ibunya sekaligus menunggunya berbicara. Tangannya seolah-olah memegang sesuatu, sebuah kunci pintu.

Emilia akhirnya mendapatkan kunci. Dan jika Fortuna menyuruh untuk melanggar janji, dia pasti bakalan membuka pintunya. Yakin bahwa melakukan demikian akan menyelamatkan hutan.

“—Jangan tolol.”

“Tolol, kau bilang?”

“Mundur? Takkan melakukan hal lebih? Apa manfaatnya bagi kami? Setelah semuanya hancur, segalanya runtuh, semua yang kami lindungi sudah luluh-lantak, bahkan kebanggaan kami tercoreng dan musnah … apa lagi yang tersisa!?”

“Tempat yang gundul masih bisa direboisasi. Apa kau tak menganggap itu keagungan hidup?”

“Saat dikatakan para penjarah, kata itu jadi hampa dan tak berarti!”

Fortuna meraung, menunjuk Pandora.

Pandora bingung, tidak paham maksud perkataan Fortuna.

“Perjuangan memang indah. Tidak ada yang lebih hebat lagi ketimbang melanjutkan hidup—Hentikan perbincangan sia-sia ini. Setelah merampok kedamaian yang hidup kami wujudkan, ocehanmu seperti angin lalu. Kami sudah bahagia dengan semua yang ada di sini. Kaulah yang mengacaukannya!”

“Kacamata kami berbeda.” kata Pandora.

“Saat posisi kita tidak sama, pandangan kita juga tidak sama. Kalian yang selalu merendahkan kami dari tempat tinggi, kuyakin langit yang kalian lihat pada ketinggian berbeda!”

Ludah Fortuna.

Pandora kelihatan sedih, tapi Fortuna tidak peduli. Terus waspada terhadap Pandora selagi menghampiri Emilia yang berdiri di sebelah Segel.

Setelah memastikan gadis itu putrinya, Fortuna berlutut dan memeluk si gadis kecil.

“Oh, Emilia … Emilia, maaf. Kenapa kau ke sini … Arch dimana?”

“Arch … menyuruhku untuk lari ke bunga-bunga putih … jadi, aku, lari ….” dari hal itu Fortuna tahu si pemuda elf sudah mati.

Dia memeluk Emilia lebih erat, menjaga air matanya. Berapa banyak makhluk yang mati di hutan ini karena dosa para pemuja jahat?

Betul, hutan ini takkan pernah kembali ke bentuk awalnya.

“Emilia, Emilia … kau sudah menepati janji kita. Hebat. Kau hebat.

“Ibu … Ibu, aku, aku ….”

“Emilia … kaulah kebanggaanku. Harta karunku.”

Seorang anak perempuan yang dipeluk ibunya.

Pandora melihat mereka sambil memasang wajah teler. Mukanya seperti sedang memonopoli pemandangan terindah di dunia, untuk dirinya sendiri.

“Aku kelewat senang melihat cinta keluarga ini. Saling berkasih sayang sungguh-sungguh maha indah.”

“Mendengar kau yang mengatakannya membuatku muak—Segelnya akan tetap diam. Takkan kuserahkan padamu. Akan membeku dan layu di sini.”

“Tuturmu barusan, biasanya kau mengusir pihak lain?”

“Yang ingin kulakukan sekarang adalah membuang pecahan mayat bekumu ke air terjun.”

Meludahkan kutukan yang tak pernah didengar Emilia, Fortuna sekali lagi merapalkan sihir.

Pandora mengerutkan bibir, nampak sedih.

Lalu ….

“Aku akhirnya—SAMPAI!”

Suaranya kedengaran agak gila, seorang pria melayang di atas pohon dan seketika tiba di sini.

Melompat tinggi-tinggi, seolah momentum melemparnya, sampai di lokasi mengenakan jubah suci berlumuran darah. Dia adalah Geuse.

“Geuse!”

“Fortuna-sama!”

Saling memanggil nama, kerja sama mereka berdua sempurna.

Pandora berada di antara mereka di pintu masuk gua, Geuse dan Fortuna melancarkan serangan penjepit.

Tangan kiri Fortuna mencengkeram tangan kanan Emilia yang bergidik.

Emilia menatap wajah ibunya.

—Mimik wajahnya saat sorot mata menembus musuh sungguh indah sampai membuat Emilia merinding.

“Al Huma!”

“Unseen Hand!”

Fortuna merapalkan sihir terkuatnya, sedangkan Geuse memanggil segenap kekuatan Unsur Penyihir pada momen-momen terakhir ini, memanfaatkan daya tempur gaibnya. Kekuatan maha besar muncul keluar, lalu —

“—Ibu?”

—Unseed Hand menembus dada sang ibu, darah Fortuna menghujani Emilia.


Kekuatan yang menggenggam tangan Emilia telah terkuras, si kecil menonton tubuh Fortuna jatuh lemas. “sEkAraNg—ADALAH AKHIRNYA!”

Geuse berpose kemenangan sambil berteriak, melibas tangannya yang babak belur ke samping. Seolah tertarik oleh gerakan itu, tubuh Fortuna terjatuh di lintasan yang sama seperti libasan tangannya.  Anggota tubuh wanita itu melemas seperti boneka, tubuhnya roboh ke tanah seakan-akan dibuang. Darah tumpah-ruah dari badan kejang-kejangnya macam geyser, mengecat padang rumput dengan warna merah dalam sekejap.

“Itu, BERHASIL. Akhirnya … kuyakin itu ….”

Desahannya megap-megap, Geuse jatuh terlutut.

Emilia tidak melihat tatapan was-was pria itu yang tertuju pada Fortuna yang tergeletak.

Emilia mendekat, menghampiri Fortuna yang terbaring.

Punggung dan payudara Fortuna berlubang besar, lukanya sangat parah sampai-sampai jeroan hancur tubuhnya terlihat. Pendarahannya sudah lambat, Emilia duduk dalam genangan darah.

Memeluk kepala pucat ibunya, entah bagaimana bisa ditaruh di pangkuannya. Bintik-bintik merah menodai rambut perak indah Fortuna, Emilia menyeka rambut perak dengan jarinya biar bersih.

Namun jari-jari gadis kecil itu sudah terkotori darah, semakin dia sentuh, semakin penuh darah rambut Fortuna.

“Fortuna-sama! Jangan lengah, saya mohon Anda tetap waspada! Ketika saya memastikan ….”

“Geuse?”

Nafasnya tajam, Geuse beranjak bangun dibantu telapak tangannya untuk mendekati Fortuna.

Mendengar kata-kata Geuse, Emilia memanggilnya. Setelah beberapa waktu tidak melihat apa-apa, dia berkedip ….

“Emilia-sama?”

Orang itu sepertinya baru memperhatikan gadis yang duduk dalam genangan darah.

Tatapannya menunduk ke arah Emilia yang memangku kepala si wanita, tubuh lesunya terkelempai tak berdaya.

Mata Betelgeuse membelalak terbuka.

“… Tidak mungkin.” katanya.

Ekspresinya tidak percaya, Geuse menggeleng-gelengkan kepala.

Di antara dirinya yang labil dan Fortuna yang terkapar, berdiri seorang gadis platina.

Pandora tersenyum kepada Geuse saat si laki-laki melihatnya.

“Aku khawatir tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Kau telah ditipu matamu.”

“AaaaaAAHHahhahAH … AHHHHHHHH!?”

Wajah tertutupi tangan, Geuse menggaruk-garuk kulitnya, mengukir luka merah.

Sungguh kuat sampai kuku-kukunya patah, darah cerah dari kulit pipinya yang tercungkil membasahi wajah.

“Mustahil mustahil mustahil mustahil mustahil mustahil mustahil mustahil!? Apa, apa, apa, apa yang, aku lakukan!? Apa yang kulakukan? Kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa!? Mengapa aku … apa … ahhh! AHHHH!?

Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!”

Geuse telah menelan Unsur Penyihir ke dalam tubuhnya, menjaga kekuatan kacau itu tetap tertahan oleh kehendak ringan. Segala hal dalam diri Geuse beguncangan.

Karena kekuatan yang dia dapatkan dari mempertaruhkan hidupnya telah merenggut nyawa yang ia pertaruhkan untuk lindungi.

Geuse menderita penyakit batin yang tidak dapat disembuhkan, berteriak-teriak seiring hilangnya kewarasan.

“Untuk apa—aku melakukan semuanya!?”

“Semuanya, demi cinta.”

Mata Geuse membeliak, iler-iler tumpah dari bibirnya tatkala menatap langit.

Suara tenang Pandora menjawab jeritan jiwanya.

“Kau telah mengorbankan jiwamu demi menyelamatkan hidup orang tercintamu. Bukan hal biasa. Lamanya waktu yang kau curahkan kepada Kultus Penyihir adalah demi cinta itu. Semua dedikasimu adalah hasil dari cinta. Jalan cinta paling spektakuler.”

“Cinta … CINTA … cinta … cinta … cinta … cinta … cintacinta ….!”

“Betul. Tidak perlu takut atau menyesali apa pun. Semuanya tak terhindarkan. Segalanya sesuai jalur takdir. Jalur itu terus berlanjut hingga sampai pada titik ini. Segala sesuatunya.

“Demi, cinta ….”

Selagi dengan berhati-hati menggumamkan kalimat tersebut, kepala Geuse hancur berkeping-keping. Matanya kehilangan warna. Tidak bergerak, tidak berkomunikasi.

Menggumamkan bisikan yang tak terdengar tanpa akhir, seperti mayat hidup.

Melihat Guese betul-betul hancur, Pandora mendesah puas.

‘Emi, lia ….”

Sama seperti Geuse yang hancur berkeping-keing, nyala kehidupan lain mulai redup.

“Ibu.”

Dipanggil oleh suara yang kelewat lirih sampai tidak kedengaran, anak perempuan itu memanggilnya mati-matian. Momen itu, banjir darah telah berhenti.

Berarti, ibunya baik-baik saja, kan?

Emilia tidak cukup dewasa untuk dapat berpikir dan melindungi batinnya.

Fortuna, telampau lemah untuk bergerak, jelas-jelas wajahnya seperti orang mati.

“… Maaf, kak ….”

“Bu.” panggil Emilia.

“Aku tidak … mewujudkan, satu hal pun … yang kau suruh ….”

Bicaranya mirip anak kecil yang meminta maaf, Fortuna menyuarakan penyesalannya.

Darah sudah tidak mengalir dari tubuhnya, meskipun air mata masih mengalir. Emilia merasakan kehangatan tetes mata yang mendarat di jemarinya, dia berjuang mengumpulkannya.

Karena Emilia yakin tidak yakin merasa air mata itu merupakan kumpulan kehendak hidup ibunya.

“Aku tahu, kau … akan marah, kakak ipar … aku tahu kau, takkan, memaafkanku ….”

Selagi mendengarkan Fortuna bergumam tidak jelas, Emilia akhirnya tersadar.

Mata ungu Fortuna sudah lama tidak memantulkan cahaya.

Telah lama kehilangan penglihatannya, dan sepasang mata itu kian menutup karena meneteskan air mata. Dia bahkan tidak menatap wajah Emilia. Bahkan tidak tahu Emilia berada di sampingnya.

Emilia bisa menyentuhnya, memeluknya, namun tidak kuasa menjangkaunya.

Menyaksikan Fortuna yang terisak-isak bak anak bocah dan memohon-mohon maaf, Emilia—

“—Aku memaafkanmu, Bu.”

Fortuna tidak menuturkan apa-apa.

“Ibu Fortuna … sangat baik padaku … bahkan Ayah atau Ibu tidak bisa menyayangiku seperti Ibu Fortuna yang sangattttt menyayangiku.”

Fortuna masih tidak membalas.

“Jadi, tidak perlu minta maaf. Tidak perlu. Emilia akan selalu, selalu menyayangi Ibu Fortuna. Menyayangimu. Menyayangimu, menyayangimu … menyayangimu ….”

Bendungan air mata sudah bocor.

Suaranya kehilangan nada wajarnya, sedangkan air mata yang mengalir jatuh satu per satu ke wajah Fortuna.

Bila tetesan air mata itu membentuk sesuatu yang hidup, maka mukjizat terakhir di sini adalah kekuatan yang disediakan dari air mata Emilia.

“… Ibu?”

“Lia.”

Tangannya perlahan-lahan terulur, menyentuh pipi Emilia.

Sebuah tangan yang semestinya tidak bergerak mengelus pipinya, telinganya, menggelitik rambutnya. Seakan menyentuh sesuatu yang sungguh-sungguh dicintai, agar tidak menghancurkannya, diperlakukanlah dengan penuh cinta.”

“Dasar cengeng.” kata Fortuna.

Emilia tidak menjawab apa-apa.

“Aku sangatttttt menyayangimu.”

Kekuatan di tangannya menghilang, terjatuh ke tanah secara kasar.

Emilia merasa tubuh Fortuna sudah jadi lebih ringan.

Tubuhnya tidak punya kekuatan, alih-alih menambah berat pangkuan Emilia, namun Fortuna yang tertidur di lengan Emilia jadi lebih ringan.

Bagian terpenting dari ibunya, yang tidak boleh habis, sudah habis. Emilia kecil pun mengetahuinya.

Dia telah kehilangan Fortuna, sang ibu. Geuse, Betelgeuse Romanée-Conti, yang sudah hilang akal.

Juga Emilia ….

“Kini sudahkan kau bersiap untuk memilih harapan perkara membuka Segel?”

Tanya Pandora setelah berjalan ke Emilia kecil yang memegangi mayat Fortuna.

Melihat Emilia duduk, sembari memperlihatkan raut wajah tenang dan diam-diam menunggu jawaban.

Akhirnya, Emilia mengerti.

“Buka, Segel?”

“Yap. Walau sangat disayangkan, Ibumu yang berbagi janji telah meninggal. Kau tidak lagi perlu terikat pada belenggu tersebut. Bagiamana?”

Mendengarkan Pandora yang berbincang menggunakan logika, seolah normal, Emilia memahaminya.

Dia paham betul isi pikiran iblis menyerupai manusia ini.

Iblis ini melakukan apa yang ingin dilakukannya agar Emilia mengingkari janji.

Seluruhnya demi membuat Emilia melupakan arti penting janji, Pandora telah membunuh Fortuna, menyiksa pikiran Geuse, dan membabat habis hutan.

“Benar juga, aku kok lupa.”

Emilia tidak merespon.

“Kurasa mereka tidak diperlukan lagi bagimu.”

Pandora memanjnagkan tangannya ke wajah Emilia yang tidak responsive. Cahaya-cahaya redup mulai bersinar, mengelilingi Emilia, lalu memilih lengan Pandora sebagai rumah dan tempat bertengger mereka.

Roh-roh kecil.

Para peri yang menuntun Emilia menuju Segel, menunjukkannya jalan.

Terus, kenapa mereka, menghampiri Pandora?

“Aku ragu kau datang ke sini sendirian, lantas kuminta bantuan mereka. Roh-roh ini tidak berkomunikasi dengan kata-kata nmaun sangat bisa diandalkan.”

Pandora tersenyum sambil berterima kasih kepada roh-roh tersebut yang menari-nari di udara.

Sejak kapan semua ini dimulai? Emilia sendiri tidak tahu.

Kepala Emilia gemetaran saat melihat pintu Segel.

Rasanya pintu itu menghantuinya, merindukan suatu hari kala tempat itu terbuka, mengawasi Emilia hingga sekarang. Dia merasakan berat kunci di tangan. Padahal pikirnya sudah dijatuhkan di suatu tempat, namun kini ada dalam genggamannya.

“Kau memang punya kuncinya. Kalau begitu, kau tahu mesti melakukan apa.” Pandora mengangguk. Emilia pelan-pelan berdiri.

Menurunkan kepala ibunya dan perlahan-lahan diletakkan di atas rumput. Jari-jari menyusuri poninya, mengatur wajah cantik ibu yang sangat dibanggakannya. Lalu ….

“Matilah.”

—Sebilah angin dingin melesat di udara, mengiris tubuh Pandora sampai terbelah-belah.

Semburan darahnya langsung membeku. Bunga-bunga merah tua bermekaran secepat kilat.

Satu es berdiri di tengah-tengah mereka, meneybarkan kelopak bunga sanguin, sebuah mahakarya es dan kematian.

“Itu agak berbahaya. Darimana semua itu datang—”

“Matilah.”

Tombak es menusuk anggota badan Pandora, naik dari tanah dan menembus Pandora dari pangkal paha hingga atas kepala, tubuh membekunya hancur berkeping-keping.

“Tenanglah. Aku yakin dengan berdiskusi akan ada pemahaman di antara kita.”

“Matilah.”

Bola-bola es mendekat dari kedua sisi, menjepit Pandora sampai hancur, menyisakan tetes darah saja.

“Hentikanlah. Kau sejatinya gadis baik, bukan gadis yang menyakiti orang lain. Ibumu tidak pernah bilang begitu?”

“Matilah.”

Bilah es yang berputar-putar mengiris Pandora dari kaki sampai atas, menyemprotkan darah-darah merah.

“Melihatmu seperti ini membuat Ibumu sedih. Entah Ayah atau Ibu kandung, ataupun Uskup Agung Betelgeuse, tidak menginginkan ini.”

“MATILAH!”

Kabut putih menyelubungi tubuh Pandora, mengubahnya menjadi patung es. Lalu pedang es raksasa menabraknya, alih-alih mengiris malahan menghancurkan, menghantam patung Pandora sampai tidak tersisa apa pun.

Terlepas dari badai kehancuran berbalut haus darah ini.

“Situasinya sukar. Nampaknya efeknya berlawanan dari tujuanku.”

“Matilah, matilah, matilah, matilah!”

Dengan kikuk Emilia kecil mengayunkan tangannya dan menjatuhkan hujan es kepada Pandora.

Meski seluruh serangan itu mengenai Pandora, dan terus-terusan mati dalam keadaan mengerikan, dia kembali lagi sepenuhnya dalam satu kedip mata saja.

“Hahhh! Hahhhh! Huhhhh!”

Emilia hampir mendekati batasnya dalam penggunaan sihir berlebih ini.

Berulang kali merapal sihir yang tidak cocok dengannya, tubuh bagian bawah Emilia berwajah merah mulai membeku. Mana akbar yang bersemayam dalam tubuh mudanya mulai berkecamuk, gagal mencegahnya di waktu yang tepat.

“Manifestasi kekuatan itu melampaui kekusaanmu, alhasil tubuh sendiri yang terkena dampaknya, barangkali karena garis keturunanmu. Darah Penyihir tak mampu melepaskan diri dari karma itu—Mungkin kegunaan hutan ini adalah agar kau tidak membangunakn kekuatan ini.”

Emilia menggeleng kepala untuk membantah kata-kata Pandora. Kaki kanannya beneran beku, patut dipertanyakan apakah dia masih bisa berdiri atau tidak. Emilia kecil berlutut, matanya penuh haus darah selagi menatap Pandora.

Melihat sorot mata tajam nan runcing itu Pandora menggelengkan kepala.

“Sangat disayangkan sekali padahal telah berdiri hadapan tujuan terbesarku, tapi kurasa saat ini mundur saja. Sepertinya kau tidak bersedia membuka pintu dengan senang hati.”

“Matilah, matilah, matilah, matilah ….”

“Kuselesaikan hari ini dengan hadirnya garis keturunanmu, serta penciptaan Uskup Agung Dosa Besar baru. Tujuanku bisa dicapai di lain waktu.”

Logika egosentris, mengabaikan hal lain dan hanya mempedulikan diri sendiri.

Pandora tampaknya telah cuci tangan dari semua perbuatan jahatnya, seketika dia melihat serpihan putih yang melayang.

Salju.

Kekuatan sihir maha besar Emilia sedang berkecamuk, cuaca mendadak jadi ekstrem dan salju mulai jauth.

Mula-mula hanya beberapa, namun saljunya semakin kuat dan berat, tak lama kemudian datanglah angin ganas yang disebut badai salju.

“Sepertinya setiap kali kita berbicara, aku mesti membuatmu kehabisan mana sampai kita bisa berhadapan satu sama lain.”

Pandora melihat ke bawah selagi berjalan menghampiri Emilia yang menghembuskan nafas putih. Walaupun musuh bebuyutannya mendekat, Emilia tidak bisa bergerak. Tubuhnya telah membeku sampai pinggang, tangannya malah sudah lumpuh.

“Kaulah yang memancing kekuatan sinting ini, dan ‘kan terus berlanjut hingga tidurmu. Akankah mana di hutan gletser ini akan habis sepenuhnya, ataukah akan datang seekor makhluk yang mampu menangkalnya? Mau yang manapun, kurasa kau akan menghabiskan banyak waktu dalam es.”

“Matilah, matilah!

“Sayangnya aku tidak bisa mati. Aku berharap kita berdua akan sehat-sehat saja ketika esnya meleleh dan kembali bertemu. Tentu saja, saat-saat itu tidak boleh kita biarkan semuanya jadi seperti ini. Jadi ….”

Jari putih dingin Pandora menyentuh dahi Emilia.

Mata ungu Emilia penuh kebencian. Pandora tersenyum tanpa niat jahat.

“Tiada eksistensiku dalam seluruh ingatanmu hingga hari ini.”

“—Ah.”

“Jangan ragu menambahkan ingatan sesukamu. Kau betul-betul menepati janji. Aku akan senang apabila fakta itu terukir dalam hatimu, dan kau bisa melanjutkan hidup sebagaimana dirimu.”

Tubuh Emilia kecil membeku sampai ke tulang dada, wajahnya mulai membatu, tatapannya tak fokus, tetap stagnan.

Matanya berputar-putar dan air liur keluar dari mulutnya sedangkan pikiran Emilia tidak lagi berjalan.

Hancur.

Tanpa pandang bulu, tanpa perasaan, kejadian-kejadian dalam ingatannya terganti.

Percakapan mereka telah memudar, penistaan Emilia tidak menyakiti Pandora.

Janji penting yang takkan pernah memudar.

Emilia kecil menepati janji, hal itu saja dia tidak akan pernah lupakan. Emilia juga tidak pernah lupa untuk menepati janji.

Emilia menepati janji. Janji itu sendiri tertepati.

Tiada satu jiwa pun mampu mencegahnya untuk menepati janji.

“Kesimpulan apakah yang akan dijangkau hatimu, senyum macam apa yang ‘kan kau tampakkan padaku kala kali berikutnya kita bertemu? Aku tidak kuat menunggu reuni indah kita.”

Badai salju mengamuk-amuk di hutan. Pandora memegangi rambut panjangnya yang acak-acakan sesaat dia mulai berjala.

Tetap berlutut dalam keadaan pingsan, Geuse setengah terkubur dalam salju. Pandora membisikkan sesuaut padanya, pria itu berdiri dan memperlihatkan mimic tak berdaya.

Mereka berdua, Pandora beserta Geuse, berjalan bersamaan saat meninggalkan hutan bersalju.

Emilia hanya bias menyaksikan kepergiaan mereka.

Wajahnya telah membeku, hanya mata saja yang masih tersadar.

Emilia menurunkan pandangan dan mendapati sesuatu.

Di tanah, ada gumpalan salju aneh.

Seolah-olah berada di tengah bentang alam salju putih ini, ada orang yang memeluknya.

“—”

Mulutnya tidak bergerak. Dia bahkan tidak bisa menutup mata lagi.

Tubuhnya membeku, jantungnya membeku. Kesadaran Emilia—

“—Di sana.”

—Lalu ia menghabiskan satu abad penuh terbungkus dalam es yang tak mencair.

Sampai seekor roh menemukannya, roh yang mencari-carinya, seekor roh yang memberikan kehidupan di dunia ini untuk dia belaka.

—Sebelum momen-momen itu menjambangi, Emilia tetap membeku dalam es.


Dia ingat semua yang terjadi kala itu.

Kejadian-kejadian masa lalu, berangsur-angsur terungkap sejak dia siuman.

Semua kulit ingatan palsu nan pendek telah terkelupas, dan segalanya mengalir keluar.

Emilia kecil melihat semuanya hari itu. Melihat bagaimana Fortuna mati di pangkuannya, bagaimana pikiran Geuse hancur dan menjadi gila, sekaligus menyaksikan eksekutor seluruh kejahatan ini.

Emilia dewasa melipakan mereka, karena kelemahannya sendiri dan ingin saja melupakan mereka?

“Salah jika menyalahkan dirimu karena memalsukan ingatan sendiri.”

Gadis yang berdiri di samping Emilia, Echidna, dia memanggilnya.

Menyertai Emilia menonton perubahan-perubahan ingatannya, Echidna telah menyaksikan semua kejadiannya dari awal hingga akhir.

Melirik Emilia yang tengah menatap salju.

Makhluk yang kau lawan adalah Penyihir Kesombongan, Pandora. Dia mampu merubah-rubah akal sehat, Menulis Ulang kejadian, akan tetapi masih ditentukan hasratnya. Penentu kekuatannya adalah perjalanan waktu, juga kekuatanmu sendiri.”

“Kekuatan, ku ….”

“Kau tahu, kekuatanmu terlampau besar sampai-sampai tidak bisa mengendalikannya secara penuh. Bila kita membicarakan kekuatan tempur, kondisi masa kecilmu jauh melampaui Pandora. Tapi pertarungannya tidak semudah itu hingga bisa menang lewat adu kekuatan saja. Terutama tidak ketika Pandora adalah seorang Penyihir yang punya nyawa tak terbatas.”

Masih tidak jelas seberapa besar informasinya, nampaknya Echidna tahu sesuatu mengenai Pandora. Walau mimiknya sepahit sebelum-sebelumnya, dan ragu akan mendapatkan jawaban jujur jika mengajukan pertanyaan.

“… Kau tidak menghinaku seperti sebelumnya?”

“Hal semacam itulah yang aku benci. Tentu saja diriku cukup bijaksana terhadpa orang yang baru saja melihat kematian ibu mereka. Kendati orang itu adalah pelacur kotor tanpa moral.”

“Terima kasih.”

Echidna mendesah, omongannya tidak lagi terdengar menghibur.

Tahu Emilia hampir tersenyum pada sikap Echidna, gadis itu menyadari dirinya sedang berusaha mengalihkan perhatian dari ingatan mengerikan dalam sebuah pertunjukkan kejadian-kejadian yang melemahkannya.

Ingatan-ingatan yang bangkit ini mengguncang perspektif Emilia kepada dunia.

Hal-hal yang ‘kan mengubah cara hidup Emilia dari awal.

Lagi pula, Emilia akan menyelamatkan semua orang di hutan—karena itulah alasan dirinya ikut serta pada Seleksi Raja, tapi ….

“Aku ingin tahu apakah semua orang masih hidup … di hutan beku ini.” Emilia telah melihat kematian Fortuna dan Arch.

Serangan Ular Hitam adalah informasi yang absen dalam ingatan Emilia. Dia tahu keperkasaan makhluk itu, karakteristik terkutuk yang dimilikinya.

Monster Iblis Terkutuk, sang Ular Hitam menginfeksi makhluk hidup dengan ratusan wabah hanya lewat kontak fisik. Menaruh kutukan ke dalam bentang alam yang dilewatinya, mengubah wilayah itu menjadi tempat kematian yang cuma dapat ditinggali Monster Iblis terkutuk itu.

—Berapa banyak orang yang selamat sebelum desa tenggelam dalam salju?

Apakah para penyintas yang kini terbungkus dalam es tidak terinfeksi oleh sampar Ular?

Sama saja Emilia kehilangan alasan bertarung.

Memang benar, Emilia setuju-setuju saja memori itu disegel.

Bahkan Pandora tidak ikut campur, barangkali Emilia ingin melupakan peristiwa-peristiwa tersebut.

Sungguh tiada harapan dalam ingatan-ingatan itu.

“… Berdiri diam takkan menyelesaikan Ujian.”

Echidna menatap dunia salju yang sunyi.

“Masa lalu berjalan tanpa hambatan. Penantang Ujian sepertimu mesti mengakui penyesalan terbesar. Sekarang kau harus menyediakan jawaban.”

“Menyediakan jawaban untuk Ujian?”

“Ujian pertama dikalahkan dengan melupakan penyesalanmu. Kau menerima perbuatan-perbuatan masa lalumu, atau menolaknya? Apabila kau tidak mampu dan tidak menjawab pertanyaan, semuanya akan berakhir dan kau pulang dengan tangan kosong.”

Emilia lagi-lagi menghembuskan nafas panjang.

Emilia sudah memikirkannya berulang-ulang kali tentang apa yang dia perlukan untuk mengalahkan Ujian.

Tatkala dihadapkan ingatan palsu, bertanya pada diri sendiri kenapa tidak mampu mengatasinya.

Kehilangan Puck, terpaksa meraih bagian-bagian yang telah Emilia percayakan kepadanya, adalah langkah pertama terbebasnya ingatan-ingatan itu.

Kini, Emilia akhirnya berdiri di titik awal Ujian.

Walau kakinya menginjak garis start, dia sudah kehilangan garis start itu dalam hatinya.

Emilia meninggalkan hutan karena ingin menyelamatkan semua orang, menyelamatkan ibunya.

Ternyata gagasan-gagasan itu tidak idealis, melainkan realis non-fantasi.

Ibunuya mati, dia tidak tahu para penduduk desa masi aman atau tidak.

Seandainya Emilia kehilangan tujuan dirinya menelusuri jalan ini, lantas apa yang tersisa darinya?

“—Aku sudah diajarkan hal demikian.”

Persis saat hatinya mulai bimbang, sebuah tangan terulur dari cahaya dan menghentikannya.

Tangan kuat, mendorong Emilia ketika dirinya melenceng dari tujuannya.

Jangan menyerah. Lihatlah ke depan, angkat kepalamu, lihat aku.

Lagi dan lagi, terus menerus, pria itu mengatakan demikian kepadanya.

Dia tahu Emilia lemah, namun meraung-meraung dan menyuruhnya untuk tidak lemah melulu.

Sewaktu Emilia menggelengkan kepala dan bersikeras semuanya sudah berakhir, Subaru bilang tiada yang berakhir dan menariknya kembali.

Seketika Emilia ingin menyerah, mengira dirinya tidak berguna, dengan tak berdasarnya untuk kemaslahatan bersama.

Rasa sakit dari gigi mereka yang saling beradu, juga kehangatan bibir yang saling menempel, menyalakan api di hati Emilia.

“Ibu mencintaiku.”

“—”

“Aku ingin membantu Ibu Fortuna. Ingin memeluknya lagi sebagaimana kami tidur dalam satu ranjang. Ingin memberitahunya bertukas-tukas bahwa aku mencintainya juga.”

“Kau menyesal dong?”

Echidna menanyakan keputusan Emilia, bahwasanya ada dua harapan.

Dulu, kalau saja Emilia membantu Pandora dan melanggar janji, mungkin pihak Pandora akan mundur dari sana, Fortuna dan Geuse takkan mati.

Kalau saja, aku, membantunya. Memanfaatkan kata-kata tersebut untuk kembali ke masa lalu, mungkin di situlah letak masalahnya.

“Tak ada yang kusesali.”

Echidna tidak membalas apa-apa.

“Aku tidak menyesal telah menepati janji, menguatkan pendirianku saat itu. Andai ada sesuatu yang aku sesali, adalah bahwa aku tidak cukup kuat, tidak mampu memperkirakan segala sesuatunya dengan bijaksana. Aku tidak menyesal tetap setia pada ajaran Ibu dan tidak mendengarkan Pandora selamanya.”

Lagian, bukankah Fortuna sendiri yang memberitahunya?

Bahwa dia bangga pada Emilia sebab tetap teguh kepada janjinya, karena itulah dia harta karun Fortuna?

Ucapan-ucapan itu sendiri adalah harta karun yang akan bersemayam dalam diri Emilia selamanya.

“Pertarunganmu masih belum kehilangan arti?”

“Belum. Aku … tidak mampu menyelamatkan Ibu. Tapi masih tidak tahu kondisi semua penduduk desa. Semua orang mungkin menunggu di sana, menunggu diselamatkan dalam salju-salju itu. Akulah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan mereka.”

“Tanah itu sudah tercemar Ular Hitam. Sekalipun berasumsi ada penduduk desa yang masih bertahan dalam beku itu, aku ragu mereka akan bertahan lama dalam infeksi.

“Itu cuma bayanganmu saja. Spekulasi buruk. Semua orang sedang menunggu penyelamatan di salju-salju sana. Aku akan mengeluarkan mereka secepat mungkin, lalu akan menyambutku. Kemudian tertawa-tawa, merasa lega karena masih hidup.”

“Khayalan bebal.”

“Tidak, itu khayalan masa depan yang bahagia!”

Emilia melangkah maju.

Menghadap Echidna dan dia menunjuk bentang alam penuh salju.

“Takkan kubiarkan kau memvalidkan sesuatu yang belum dilihat seorang pun! Tidak akan kutelantarkan sesuatu yang ditinggalkan Ibuku! Aku akan mewujudkan idealisme Ibu!”

“Idealisme? Ibumu sedang mencari sesuatu?”

“Beliau bilang begitu. Bahwa suatu hari semua orang akan meninggalkan hutan, dan bisa hidup normal. Seperti kelompok Geues dan seluruh penduduk desa yang berteman baik, seperti Subaru yang menyatakan cintanya kepadaku, pasti akan datang suatu hari dunia ‘kan memperkenankan Ibu dan Geuse berjalan bersama!”

“Dan masyarakat desa yang membeku itu termasuk juga dalam dunia tersebut!? Setelah kau sendiri yang menjebak mereka dalam es?”

“Aku merasa sangattttttt menyesal soal itu. Aku akan terus meminta maaf, terus-terusan sampai mereka memaafkanku! Saat mereka sudah memaafkanku, akan kutunjukakn mereka dunia. Memberitahu mereka bwah tidak perlu lagi hidup sembunyi-sembunyi. Bahwa inilah dunia yang dibicarakan Ibu Fortuna!”

“—”

Mengambil nafas dalam-dalam, Emilia berteriak.

Mereka tidak lagi berada di salju, melainkan dunia bermandikan cahaya putih.

Menampik ketiadaan hawa dingin menusuk, pergi dari kejadian yang disesalinya, Emilia meninggikan suaranya.

“Aku akan berteriak sampai suara habis kepada mimpiku, agar Ibu di langit sana bisa mendengarnya!”

“—”

“Aku senang hidup di dunia yang dicintai Ibuku!”

Dunia berganti.

Melihat celah dan retak dalam ruang putih sana, Emilia akhirnya menyadari perubahan tata letak. Matanya membelalak terkejut, dan Echidna menepuk tangannya. Bertepuk tangan.

“Begitu, aku mengerti. Aku tidak mengira ini akan terjadi, namun ini melampaui bayanganku. Perhitunganku terburu-buru lagi sopan juga terpuji namun egoistik nan munafik dan memaksa.”

“Binggo. Ada yang salah soal itu?” tanya Emilia.

“Tidak, aku tidak peduli. Namun pada momen-momen inilah kau persis sama seperti ibumu.”

Echidna mengerutkan alis indah sedang Emilia bertanya.

Karena kedengarannya seperti ….

“Ibu, ku … maksudmu bukan Ibu Fortuna, kau kenal ibuku?”

“Aku kenal dia. Dialah salah satu alasan diriku amat emosional ketika berhubungan denganmu. Walau masih ada semacam kebencian tak rasional kepadanya, masih aku lamunkan: kenapa harus padamu?”

Echidna mengangkat bahu, wujudnya mulai memudar.

Emilia samar-samar merasa suatu beban menekan kesadarannya, perasaan mengamban bagaikan bangun dari mimpi yang menyelubunginya.

“Di sini akhirnya. Sehebat apa logikanya, penyelesaian masa lalu tetaplah penyelesaian masa lalu. Kau hanya harus mengambil keputusan tepat sembari mewujudkan tekad ibumu yang mengorbankan dirinya, kemudian kau manfaatkan idealismenya.

“Bebas kau bilang apa. Karena aku sudah terbiasa pada penghinaanmu.” ucap Emilia.

Tangan di pinggul, Emilia memamerkan ketenangannya kepada Echidna, tidak lama berpose terakhir. Echidna mengalihkan pandangannya.

“Masih ada dua Ujian lagi, tapi … menyebalkannya, kurasa tidak akan terlalu menyusahkanmu.”

“Masa?”

“Rasionalisasi konstan merupakan musuh alami inkuisisi diri. Ujian-Ujian yang menguji hatimu ini dihadapkan situasi mengerikan. Bisa kau sebut anugerah karena kau tidak pandai berpikir.”

“Bicaramu seolah-olah aku ini tidak berpikir, betul-betul menyebalkan.” Emilia menyampaikan ketidaksenangannya.

Sesudahnya, perbincangan mereka hampir mendekati akhir.

Echidna praktis hilang dari pandangan, penglihatan Emilia mulai berkabut. Dia tidak dapat tersadar lebih lama lagi.

“—Aku membencimu.”

“Sayangnya aku tidak teramat membencimu.”

Raut wajah apa yang dipasang Echidna saat ini? Meskipun Emilia tidak melihatnya, firasatnya tahu.

Kesadarannya mengabur.


Emilia siuman dan mengerang, punggungnya merasakan benda keras.

Ada dinding di belakangnya. Tampaknya sedang membelakangi dinding ketika dia pingsan, dinding itu masih mendukungnya.

Emilia mengulurkan tangan untuk menyentuh dindingnya dan memeriksa tulisan yang diukir kasar di sana. Berlari langsung menuju Aku mencintaimu dan tersenyum pada waktu-waktu yang tepat.

Saat ini, Emilia ingin kata-katanya lebih berarti bagi ibunya ketimbang orang lain.

“—Maaf, Ibu.”

Senyumnya melebar, suaranya menyerak, tersedak-sedak keluar dari mulutnya.

Permintaan maaf gadis itu bergema di seluruh ruangan gelap sana, begitu pula suara isakannya.

Air mata mengalir satu demi satu, tidak berhenti mengucur. Tak terbendung.

Dia memilih untuk bertindak kuat, keras kepala, takkan membiarkan Penyihir itu melihat tangisannya. Dalam Makam dirinya tidak khawatir akan diintip atau tidak, Emilia menekan wajahnya ke dinding dan menangis deras.

“Ibu … ibu ….”

Air mata mengalir jatuh.

Tangisan itu murni ditujukan untuk masa lalunya. Tangisan yang sepantasnya dia tumpahkan seratus tahun lalu.

Emilia telah melupakannya, dan karena itu tidak pernah bisa meratapi kematian ibunya. Dalam ruangan kecil tak berpenghuni ini, Emilia terus meratap.

Sehingga begitu dia keluar, tidak ada yang tahu seperti apa wajah menangisnya.

Agar dia bisa mengakhiri ini, tanpa pria yang mengungkapkan cintanya kepada sisi lemah Emilia karena laki-laki itu senang melihat wanitanya lemah.

Emilia menangis, menangis, dan menangis, terus menangis.

Berkabung pada ingatan ibunya, kasih sayang ibunya, dan segala hal yang telah dia berikan.

Emilia terus seperti ini, menangis sambil menempelkan wajahnya ke Cinta.

Catatan Kaki:

  1. Harapan yang dimaksud di sini adalah “Kotak Pandora”

    Kotak Pandora adalah guci indah yang diberikan oleh para dewa kepada wanita manusia pertama, Pandora, pada pesta pernikahan Pandora dengan Epimetheus. Akan tetapi Pandora dilarang untuk membuka kotak tersebut.

    Namun, Pandora amat penasaran dengan isi guci itu dan ia pun membukanya. Ternyata kotak itu berisi segala macam teror dan hal buruk bagi manusia, antara lain masa tua, rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, kedengkian, kelaparan, dan berbagai malapetaka lainnya. Dan dengan terbukanya guci itu, segala kejahatan pun berhasil bebas dan menjangkiti umat manusia. Semua keburukan itu merupakan hukuman dari Zeus atas tindakan pencurian api Olimpus oleh Prometheus.

    Pandora amat menyesali perbuatannya. Ketika ia kembali melihat ke dalam kotak, ada satu hal yang masih tersisa di dalam kotak dan tak mampu terbang bebas, hal tersebut adalah harapan.

11 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 120”

  1. Apakah ibu asli emilia adalah satella? Soalnya echidona tahu ibu asli emilia dan sangat membencinya.. ketika event subaru dan para penyihir ketemu satella. Hanya echidonalah satu2nya yg masih menanam dendam yg sangat besar.

  2. Kalo emilia anak satella dia bukan half-elf lg dong, soalnya bapaknya kan elf+satella half-elf= ¼elf, jd mirip ama garfiel

  3. Gw rasa Satella itu Emillia deh, karna satella pernah kasih tahu pada subaru kalau subaru pernah selamatin dia di tempat gelap dan memberinya ciuman. Dan itu persiss bgt dengan yang dah subaru lakuin ke ciuman pertama emilia.

  4. Aakkkkkkhhhh, geuss,, terlalu menyakitkan penyebab kegilaanya, bisa”nya orang yang penuh dengan keseriusan itu pikirinya rusak karna ketidaksengajaan.

    CURSEE YOU PANDORAAAA

  5. Di pengulangan sebelumnya (chapter penyerangan ke mansion abis lawan paus) Geuss pernah ketemu emilia dewasa (berjiwa loli) nggak ya?

    Kalau iya apa nggak inget dulu sayang bgt sama emilia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *