Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 116

Posted on

Bersama Nenek, Bersama Ibu, Bersama Kakak, Sebagai Cucu, Sebagai Putra, Sebagai Adik

CH 116.jpg

Penerjemah: Garfiel Tinzel

“Maaf saat Anda sedang semangat-semangatnya, Emilia-sama, tapi Garf dahulu yang masuk ke Makam.”

Kalimat pertama Ram setelah menyelesaikan perbincangannya dan kembali ke kelompok bersama Garfiel.

Mata Subaru melebar. Emilia dan Otto juga sangat terkejut.

“Garfiel menantang Ujian … serius nih?”

“Terserius dari yang serius. Benar bukan, Garf?”

Ram mengangguk dan menatap Garfiel yang berdiri di sampingnya.

Perbedaan tinggi badan mereka tidak jauh-jauh amat, terlepas Garfiel sedikit lebih tinggi dari Ram. Menyusuri poni kusutnya yang bersimbah darah kering, dia mengalihkan pandangan seolah tidak ingin berbicara.

Ram menjewer telinga Garfiel.

“Kau dengar tidak, Garf? Berani sekali kau mengacuhkan kami.”

“Aughh! Aduhduhduh! Woi, Ram!? Kuping gua yang hebat ini hampir copot! Parahnya … lagi berdarah!”

“Nampaknya instropeksi dirimu setelah dihajar habis-habisan oleh kami tidak berfungsi. Sekali lagi, pihak kita masih punya Emilia-sama, yang tidak menghabiskan staminanya sedikit pun. Kau tahu apa yang terjadi kalau memberontak?”

“A-aku … aku tidak berniat melakukan hal kejam ….”

Semua orang penuh luka-luka dan kondisinya berada di puncak kelelahan—kecuali Emilia, gadis itu tidak ikut bertarung dan masih prima.

Pertarungan yang baru saja berakhir tujuannya utnuk tidak melibatkan Emilia, Ram menggunakan fakta tersebut untuk mengancam Garfiel. Penyemangat yang mengerikan.

“Ya, gua paham. Kalau kita berantem lagi, gua yang hebat ini kagak bakal menang. Divine Protection of Earth-Soul mengembalikan banyak kekuatan … tapi masih tidak cukup buat bertarung.”

“Leganya. Aku sungguh-sungguh tidak ingin melawanmu lagi. Pikirku tadi akan mati. Kau menduduki posisi kedua atau ketiga dalam peringkat bulan ini.”

“Natsuki-san, berapa banyak pertarungan yang kau hadapi? Serem amat.”

Subaru mengingat pertarungannya melawan Garfiel dan merasa merinding. Otto membayangkan kegaduhan pertarungan dan merasa merinding. Pengalaman berada di ambang maut ini menempati posisi kedua atau ketiga—tapi menimbang-nimbang dirinya yang pernah mati, mungkin bahaya yang dihadapinya di sini tidak terlalu parah.

“… Kok bisa gua jadi kedua atau ketiga?”

“Begitu deh posisimu. Kedua atau ketiga. Kalau kita ke dunia luar masih banyak hal yang terjadi.”

“Ha! Mulut lancarmu takkan mampu mengaitku. Ada orang yang mengintai dalam bayangan rencana jahat.”

Garfiel menendang jauh-jauh tantangan Subaru, dan menelusuri bekas luka di dahinya.

Mata emas tajamnya kemudian melihat pemandangan di belakang Subaru dan kawan-kawan—tertuju pada Makam sunyi.

“Piawai Bersilat lidah sekaligus punya kekuatan sejati … gua masih gak percaya lu bisa keduanya. Nah, gua coba make idealisme lu yah, abis itu gua putusin sendiri.”

“Kau memutuskan apa?”

Emilia bertanya lirih pada Garfiel.

Cowok itu menatap si cewek. Si cewek balik menatap.

Mungkin pertama kalinya mereka sungguh-sungguh saling berhadapan.

Emilia menerima tatapan mengerikan Garfiel. Kendati begitu, mata kecubungnya tidak goyah sedikit pun.

Barangkali masing-masing mendapati sesuatu di mata lawan, mereka berdua tersenyum.

Garfiel menggertakkan taringnya, sedangkan Emilia menyentuh dada, sebelum akhirnya mengingat sesuatu dan berhenti.

Melihat demikian, Garfiel meraih bahu kiri.

“Nhhh, hah ….!”

Kristal biru yang menonjol di bahunya terbebas.

Bahu Garfiel mengalami pendarahan, secara paksa menghentikan aliran darahnya dengan menguatkan otot-otot. Mata Emilia membelalak saat dia melemparkan kristal itu kepadanya.

“Ah, uh ….”

“Ambil saja. Mungkin elu doang yang betulan bisa megang benda ini.”

Emilia segara menangkap kristal itu, memandang sejenak Garfiel yang berbicara blak-blakan.

Lantas menerima permintaannya ketika kilau-kilau kristal ditangan membuatnya menelan ludah.

Pendar cahaya di permata itu meredup-menyala, seakan sangat gembira karena Emilia menangkapnya.

Subaru menyilangkan tangan ketika menonton dari samping. Masih sama walau dia tidak mengujar apa-apa, pikir Subaru.

“Makasih, Garfiel.”

“Gua cuma ngebuang sesuatu yang mengganggu. Kagak perlu berterima kasih sama gua.”

Garfiel seketika melihat langit.

Warna oranye melintasi panorama, hendak menyambut malam. Tak lama lagi Ujian akan dimulai.

“—Akan gua periksa. Entah lu yang salah atau emang gua.”

Bahu Garfiel menembus angin saat dia berbalik.

Berjalan menuju Makam—tempat mimpi buruk yang mengukir kenangan hitam di masa kecil.

Setelah sekian lama, Garfiel akan melihat apa di sana?

“Hei, Garfiel.”

Sebuah panggilan dari belakang menghentikan Garfiel yang penuh tekad.

Mendecakkan lidah dan balik badan, mendapati Subaru menghentikannya sembari mengangkat tangan. “Ngapa?”

“Tidak bermaksud menahan tekadmu atau apalah. Tapi mengingat masih ada waktu sebelum Ujian dimulai ….”

Meskipun sepenuhnya mengganggu tekad Garfiel, Subaru menggaruk kepala.

Nampak kesulitan mengatakan sesuatu. Garfiel mengklik taringnya untuk mendesak Subaru.

Si pembicara mendesah.

“Paling tidak kenakanlah baju. Kau cuma mengenakan cawat yang bisa jatuh kapan saja, ada batas-batas moral di sini, dan kau baru saja melewatinya.”

Masih bergaya barbar meski angin sepoi-sepoi menggelitik kemaluannya.

Urat-urat di kepala Garfiel mendidih. Ram menghembuskan nafas heran.

“Bener-bener penampilan tidak senonoh.”


—Setelah berpakaian dan memasuki makam, Garfiel merasa dirinya memenuhi syarat-syarat Ujian.

Udara terasa basah dalam lorong berbatu.  Silir-silir angin lewat membawa debu, membuat Garfiel bersin-bersin.

“Tidak boleh berlama-lama di sini.”

Gumamnya bergema di koridor. Tiada balasan.

Merasakan tanah kokoh di bawah kakinya selagi menelusuri Makam lebih dalam lagi.

Tanpa sadar denyut nadi Garfiel kian cepat.

Dia menantang Ujian, dia pula akan melihat konsekuensinya. Dia sudah siap untuk itu. Namun masih tidak bisa diam, karena ingatan Garfiel adalah sesuatu yang membangkitkan rasa takut akbar tak terlepaskan.

Mengalaminya lagi akan merubah sesuatu, hatinya berteriak-teriak. Apa yang berubah dari Garfiel saat menyaksikan malapetaka itu lagi? Dia tidak pernah melupakannya sesaat pun.

Ingatan yang telah bangkit itu membuat otaknya mendidih.

Untuk apa melihatnya lagi semata-mata untuk memperjelas ingatannya?

“… Bodoh. Gua di sini karena emang pengen periksa.”

Garfiel mengolok dirinya sendiri ketika rentetan pemikiran itu terlintas di benaknya, bersikeras untuk tidak melepaskannya.

Mencengangkannya, Garfiel bisa setuju pada Ram yang mengomel dan mencemoohnya. Dia tidak ingin tahu ataupun menyadari bahwa dirinya adalah seorang penakut.

—Namun jika dia adalah tipe pria yang tunduk pada kerapuhan dan sifat alamiah perempuan, terus bagaimana?

“—”

Kakinya berhenti di atas jalan berbatu.

Memusatkan perhatiannya pada tanah di bawahnya. Gelombang kekuatan hangat mengalir dari sumbernya, berkah bumi kepada Garfiel serta Divine Protection of Earth-Soul-nya.

Tubuhnya mungkin terluka, bonyok, dan letih, tapi menyentuh tanah saja sudah cukup untuk memulihkan tubuhnya, kekuatannya makin bertambah.

Apa lagi tatkala dia masih bertahan walau tengah dihajar habis-habisan. Karena dia sudah beristrirahat sebentar, kondisi Garfiel mestinya sudah 40% dari kekuatan terkuatnya. Dia bisa saja menghancurkan Makam.

Subaru, Ram, dan kawan-kawan takkan mampu menghentikan amukan Garfiel. Sungguh-sungguh mengeliminasi upaya keras mereka untuk mengalahkan Garfiel. Bisa dia hapuskan saat ini juga.

Mereka setolol itu sampai tidak memikirkannya?

“Bajingan monyet.”

Tentu saja mereka memikirkannya.

Emilia barangkali menampik konsep meragukan seseorang, dan Otto mungkin kelewatan beberapa sekrup penting, lupakan saja mereka. Berasumsi Subaru dan Ram tidak menelusuri kemungkinan itu lebih lanjut.

Pikir mereka walau Garfiel sudah kembali kuat, dia tidak akan membumihanguskan Makam.

Apa mereka meremehkannya, ataukah cuma percaya saja padanya?

Garfiel tidak tahu yang mana.

Apakah ada solusinya setelah dia mengalahkan Ujian?

“… Bodoh.”

Sesudahnya, Garfiel lanjut berjalan. Memikirkan hal-hal rumit bukan keahliannya. Kurang bisa memanfaatkan kepala yang masih stagnan dalam kehidupan dan pertarungannya. Terlepas dengan panik menitahkan otaknya bekerja karena seseorang dulu menyuruhnya demikian.

“Lebih banyak berpikir saat bertarung, Garf. Membuatku senang jika kau melakukannya.”

“—Eh.”

Garfiel ingat orang yang menyuruhnya berpikir dalam hidupnya.

Karena itulah dia sungguh-sungguh dengan ketulusan hati nan terdalam terus menjalankan gagasan tersebut.

Orang yang menyuruh Garfiel berpikir saat bertarung akhirnya bilang lebih baik tidak berpikir dalam pertarungan. Lebih dari terlampau absurd.

“Kagak jelas nih … huh?”

Hati kecilnya tersenyum.

Persis ketika dia berusaha menahan senyum, Garfiel melihat ujung koridor.

Sebuah ruang persegi menyambutnya. Ruang Ujian.

Lampu samar-samar dalam ruangan yang terselimuti kegelapan. Garfiel melangkah masuk, entah bagaimana tidak merasa stress lagi, kemudian melihat pintu batu di bagian belakang ruangan.

Pintu ini akan terbuka setelah ketiga Ujian diselesaikan. Walaupun belum pernah dia lihat terbuka, Garfiel tidak ingin mengetahui kebenarannya. Tidak juga apa pun yang berada di dalamnya.

Sekiranya dia berdiri diam dan menunggu, Ujian seharusnya sudah dimulai.

“—Eh?”

Garfiel menyilangkan tangan, bingung selagi mengamati seluruh ruangan, alisnya naik. Visi nokturnal Garfiel mendapati suatu keanehan. Dia menyipitkan mata untuk memastikan apa keanehan itu, dan—

“—Pertama-tama, hadapi masa lalumu.”

Sebuah suara.

Seketika, visinya melayang, kesadarannya terenggut.

Masa lalu, ada di sini.


“Kukira kau tidak akan ke sini lagi—senangnya.” Tatkala kesadarannya sudah mewujud, Garfiel terasdar bahwa dirinya sedang berdiri di hutan.

Menoleh, dan mendapati pemandangan hutan yang familier—tapi dibandingkan pemandangan yang diketahui Garfiel, hutan ini agak Muda. Perbedaannya hanya beberapa tahun, tetapi karena tempat itu adalah bagian kehidupannya, Garfiel dapat dengan mudah menunjuk perbedaan-perbedaannya.

Inilah masa lalu.

Dan dia sedang dalam mimpi, mimpi menantang Ujian.

Setelah menerima fakta-fakta demikian dengan lapang dada, Garfiel memeriksa keadaannya.

Anggota tubuhnya masih ada. Segala sesuatu dari leher sampai atasnya, mata juga hidung serta telinga dan sebagainya masih eksis. Membuka mulut dan menggigit bibirnya keras-keras, taringnya menusuk layaknya bilah tak terpoles.

Dia baik-baik saja, tidak ada masalah. Sebetulnya luka-luka yang dideritanya sebelum memasuki Makam telah sembuh.

“Luka-luka dari kehidupan nyatamu tidak terbawa ke sini, tempat ini hanya membawa benakmu belaka. Jika kau punya luka yang cukup serius sampai kepalamu terpengaruh, lantas tak akan sembuh meskipun masuk ke dunia mimpi. Luka-lukamu sudah diperiksa, sebagai contoh, orang yang tidak punya tangan di dunia nyata saat diundang ke dunia ini, tangan buntungnya akan kembali muncul dan ….”

“Bacot banget deh. Kagak tau apa gua ga merhatiin lu?”

“Aku memang tahu. Meskipun begitu, aku hanya berbicara saja denganmu. Aku lebih suka jika kau menghargai perasaan gembiraku karena reuni panjang kita telah tiba.”

Mau tidak? Ucap seseorang yang tersenyum bak boneka di hadapan Garfiel.

Dari atas hingga bawah, mengenakan gaun hitam pemakaman, rambut dan kulitnya putih murni. Senyumnya amat kuat sampai-sampai mampu memikat pria manapun, tapi lewat sekali pandang saja sudah jelas senyumnya kosong.

Wajah itu tidak berubah sedikit pun dari yang diingat Garfiel. “Gua yang hebat ini udah dewasa, tapi lu gk berubah-berubah.”

“Karena aku sudah mati. Kematian, hanya saja jiwaku masih terjebak di dunia. Tidak peduli berapa lama waktu telah berlalu, aku tidak bisa berjalan bersama dengan mereka yang hidup. Topik yang terlalu batiniah, kan? Bukan sepertimu saja.”

“Sepertiku kok, hanya orang-orang yang kenal deket gua aja tahu. Pertemuan kita dah lama dan itu juga sekali doang. Kita juga kagak bicarain banyak hal penting.”

“Mungkin seperti itulah citraku dihadapanmu. Namun aku bertanya-tanya apakah ada hubungannya dengan lamanya waktu aku menatapmu.”

“—Cih.”

Garfiel tahu tidak bisa mengalahkannya dalam perdebatan.

Selagi menahan dorongan untuk mendecakkan lidahnya, Garfiel memelototi sang Penyihir yang berdiri di sana, tak memasang wajah jahat sekerut pun—Echidna.

Barangkali berperan sebagai inspektur Ujian, Echidna telah menemani Garfiel seperti ini sejak kali terakhir pertemuannya. Tidak mempedulikan manusia sepertinya yang hatinya telah remuk karena Ujian, tetapi memastikan bahwa dia tidak melewatkan satu pun peristiwa yang sedang berlangsung, karena rasa penasaran besarnya.

Makin-makin tidak ingin berbicara dengannya, Garfiel melihat hutan.

Andai kata daerah ini adalah masa lalu yang sudah dimulai, lantas kedatangan para aktor dan aktris hanya masalah waktu.

Garfiel tidak berniat menyenangkan penyihir ini, karena Echidna sudah senang dengan berbicara.

“Acuh banget.”

Echidna bahkan menganggap sikap Garfiel menyenangkan saat berdiri di samping si pria sembari membelai rambut putihnya sendiri.

Momen-momen ini, waktu Garfiel mengawasinya dari samping, terjadi suatu perubahan.

“—”

Dihadapkan dengan sebuah kejadian yang dia tahu akan datang, Garfiel menelan nafas.

Tepi hutan—dia berada di sana, garis pemisah penghalang yang membedakan Sanctuary dalam dan luar.

Berada di sekitar Penghalang saja sudah membuat mereka hilang kesadaran, dan mendapat perasaan buruk kala akal sehat mereka mulai kacau-balau.

Di sekeliling garis batas ini tampak empat sosok.

Salah satunya adalah Lewes berambut pink, penampilannya identik dengan masa sekarang.

Sosok lainnya adalah seorang gadis yang mungkin berusia sepuluh tahun, punya rambut pirang indah nan halus—Frederica.

Dan yang berdiri di seberang Lewes serta Frederica adalah seorang wanita, rambutnya pirang diikat ekor kuda, wajahnya ramah.

Tangannya sedang membuai seorang bayi. Seorang anak berambut pirang, matanya kelihatan keji.

“Ah … I-ibu ….”

ilus CH 116.png

Saat dia melihat wanita itu dan mengenali sedang memegang tangan siapa, suara lirih keluar dari bibirnya.

Namun panggilan kepada ibunya tidak meraih empat orang itu.

—Biasanya. Tak seorang pun dapat mengganggu masa lalu.

“Seandainya kau menyentuh mereka semua. Tak ada ucapan yang mampu membuat mereka tersenyum. Aku tahu kedengarannya konyol, tapi aku agak kasihan karena dirimu dipaksa menonton sesuatu yang kejam.”

Perasaan sang Penyihir, hendak membuatnya berteriak. Diem PUKI!

Namun mata Echidna saat dia memperhatikan Garfiel, wajahnya berubah sedih, tidak tampak jahat. Namun kejadian ini tidak dipersiapkan secara jahat oleh sang Penyihir itu sendiri.

Bagaimana cara mewujudkan penyesalan para penantang, bagaimana pula para penantang melawannya—bagaimana hasil akhirnya? Hanya itu yang dicari Ujian.

“—”

Garfiel gemetaran. Keempat orang itu sedang mengobrol.

Pernyataan mereka, kata-kata mereka, suara mereka, tak ada yang mencapai Garfiel.

Mereka membuka mulut, mengeluarkan suara.

Tetapi ketika suara tersebut melintas di udara dan menabrak gendang telinga Garfiel, tak ada makna pasti yang terbentuk.

Wajah Lewes pahit. Frederica menggigit bibirnya agar tidak menangis.

Ibu mereka terlihat khawatir, sedangkan Garfiel dalam buaiannya tersenyum senang.

Tak ada suara yang menyertai kejadian menyedihkan ini dalam ingatan Garfiel.

Garfiel muda menyimpan isi percakapan ini dalam ingatannya. Jadi semua pembicaraan mereka tidak dimengerti Garfiel masa kini.

Namun kenangan ini masih tersisa samar dan pirau.

Kejadian ini dibuat kembali, putaran pertunjukkan ini membuatnya gusar.

“Aku ingin tahu mereka membicarakan apa. Kau tahu tidak?”

“Jangan ngomong—Ujung-ujungnya lu bakal ngasih jawaban bego.”

Mengingat-ingat kejadian setelah ini, Garfiel tahu mereka memperbincangkan apa.

Ibunya ingin pergi ke dunia luar, sementara Lewes dan Frederica tengah meyakinkannya untuk tetap tinggal. Garfiel muda tidak dapat ikut dalam percakapan, hanya dibuai ibunya dan menikmati kenikmatan itu.

“—Aghhh!”

Desakan tak tertahankan menyerang Garfiel, membimbingnya untuk melangkah maju.

Alis Echidna terangkat ketika Garfiel menghampiri keempat orang itu. Dia berdiri persis di samping mereka, tetapi tak seorang pun menggubrisnya. Garfiel masa kini menatap kakaknya, yang lebih pendek darinya, Lewes yang tidak berubah, dirinya sendiri dan ibunya, secara langsung.

Dipeluk oleh ibunya, Garfiel muda tersenyum polos.

Membuatnya sebal. Bocah ini tidak tahu selanjutnya terjadi apa, dia bahkan belum cukup umur untuk ikut meyakinkan ibunya agar tidak pergi, diam sambil tersenyum.

Cara mengukur penyesalan dan keputusasaan dari dirinya yang diam manis di sana sembari senyum-senyum?

“Ugh! Aughhh! AGHHHHHH!”

 Garfiel mengayunkan tangannya ke atas, cakarnya merobek udara.

Ingin menusukkan cakarnya ke muka bayi yang bahagia dan memberinya keputusasaan. Garfiel masa kini ingin membuat si bayi tahu betapa ruwet keputusannya.

Tetapi cakar-cakarnya hanya melewati wajah si bayi, bahkan melewati lengan ibu yang memeluknya.

Garfiel bisa saja menghentakkan tanah dan menggunakan berkahnya untuk menghempaskan mereka, tetapi tidak terjadi apa-apa. Ayunan lengannya kian lebar, siluet ibunya terbelah, tetapi tidak ada perubahan apa-apa.

“Kenapa! Gua! Ditunjukkan semua ini!”

Mengayunkan lengannya tanpa hasil. Lalu menyerang tanah.

Tetapi kehancurannya tidak sampai ke dunia ingatan, tetap stagnan.

Tidak mampu melampiaskan kemarahannya atau menghapus masa lalu, suaranya bergetar, Garfiel balik badan dan memamerkan taringnya kepada Penyihir.

“Sama aja! Kagak berubah sama sekali! Gak berubah entah ibu bilang apa, atau apa yang terjadi padanya entar! Lu puas sekarang!?”

“Kau bebas menyerang sembarangan, tapi bukankah agak egois menyalahkanku atas hal ini? Jelas bukan salahku mengungkapkan masa lalu … tapi kaulah orang yang tahu, tahu tempat ini, dan kembali lagi. Bila kau mengharapkan perubahan, lantas orang yang semestinya gagal untuk berubah bukanlah aku. Melainkan dirimu.”

“Gua?”

“Benar-benar deh. Tempat ini belum berubah karena kau belum berubah. Kau tidak dapat menerima masa lalu sebelum menerima perubahan dirimu. Seumpama kau menerima perubahan, atau memilih untuk tidak berubah, maka kau mampu melewati Ujian. Sebenernya, ada seorang anak laki-laki yang memilih perubahan, hal demikian betul-betul melampaui masa lalunya.”

Garfiel tidak mampu merakit satu kata pun sebagai tanggapan karena Echidna memberitahu pemenang sebelumnya.

Mudah bagi Garfiel untuk mengabaikannya jika hanya omongan Echidna tak berarti apa-apa. Namun bila perkataannya benar, maka—sewaktu Garfiel memikirkannya, dia ketakutan.

Seseorang yang pernah melewati masa lalu sebelumnya.

Sanctuary belum terbebas. Orang ini yang melampaui masa lalu mereka tidak berhasil menaklukkan Ujian berikutnya. Meski begitu, berasumsi mereka berhasil mengatasi masa lalu—

“T-tidak … lu gak bisa nipu gua! Perlu darah blasteran untuk memenuhi syarat penantang Ujian! Tidak mungkin orang lain selain mahluk berdarah campuran selain gua atau kakak gua yang dateng ke Sanctuary! Artinya! Orang yang lulus itu masih ada di Sanctuary! Dan nih orang yang lulus Ujian sekaligus mengalahkan masa lalunya kagak ….”

Ada. Garfiel ragu-ragu untuk mengujar kata terakhir.

Penyihir itu sukses memprovokasinya, dan ketika dia hampir saja meragukan pikirannya sendiri, argumen balasan malah jadi senjata makan tuan. Apa Garfiel betul-betul di pihak yang benar?

Penyihir itu tersenyum senang. Bukan menyambut kehancuran pada kebohongannya, bukan pula menyambut debat Garfiel.

Raut wajahnya seperti penunggu, penunggu sesuatu yang lebih menggelitik rasa penasarannya.

“Orang yang lulus ini tidak apa?”

Dari nada pertanyaannya saja, Garfiel sudah tahu.

Echidna mencari sesuatu. Menunggu untuk melihat apakah, dari informasi yang disampaikan Garfiel, dia bisa atau tidak menggenggam solusi.

Kemudian Garfiel tersadar.

Siapa sang Penyihir ini, siapa Echidna, siapa yang dia bicarakan.

“Tidak mungkin ….”

Garfiel membicarakan persyaratan penantang Makam.

Namun ada pengecualian.

Penyihir itu tidak secara langsung menyatakannya, spekulasi Garfiel belaka.

Tapi kemungkinan besar, menjadi Apostle Penyihir Keserakahan sama saja memenuhi syarat penantang Ujian.

Garfiel kenal satu orang yang menjadi Apostle.

Bukankah sudah dia beritahu Garfiel sebelumnya?

—Aku sudah menghadapi Ujian, melihat masa laluku.

“Tapi, dia bilang kagak bisa melupakan masa lalu, dia sendiri bilang ga bisa ngelewatin Ujian ….”

“Kau tidak berpikir mengatakan hal-hal itu bisa menghindari konflik unfaedah? Ataukah ingin menyembunyikan kebenaran itu dari orang-orang, mungkin saja?”

“Diem, gua kagak ngomong ama lu. Jangan ikut campur!”

Ucapan Echidna membuat otak Garfiel kacau balau.

Memang benar mengakui bahwa dia—Natsuki Subaru—pernah menantang Ujian. Dia tahu bahwa Ujian berarti melawan masa lalu sebelum Garfiel sempat mengatakan apa-apa.

Garfiel mengingat kembali saat-saat Subaru bilang dirinya gagal melampaui Ujian. Pria itu sangat terheran ketika tahu Subaru memenuhi syarat, alhasil tanpa sengaja mengakhiri percakapan sebelum menanyakan hal-hal di dalamnya, tapi—

“—Ah.”

 Paras Subaru kala itu bukan paras seorang pria yang dihajar masa lalu tak terkalahkan. Dia memang kelihatan frustasi seakan gagal menjangkau sesuatu, tapi bukan sosok seorang pria yang menyimpan masalah pribadi. Wajahnya tercermin pada air kamar mandinya, Garfiel mesti melihatnya setiap hari.

Gerak-gerik Subaru saat dia menyerang Garfiel tidak menampakkan wajah, menyuarakan, ataupun menyatakan hal-hal dari seorang pria yang telah lama dihantu-hantui masa lalunya.

“Dia … mengalahkan, Ujian? Kau mampu mengalahkan Ujian?”

“Hipotesis saja, seandainya sesuatu yang dia limpahkan kepadamu semacam ceramah sombong, masuk akal ‘kan dia berkhotbah bukan tanpa alasan?”

Benak tercerai-berai Garfiel kembali memikirkan adu jotos melawan Subaru.

Dua orang itu sama-sama berusaha sekuat mungkin untuk tetap sadar. Tidak ingat seluruh teriakan Subaru. Pokoknya tidak boleh menyerah. Dia mesti berada di sini sekarang, mengingat kata-kata dan mempertanyakan dirinya sendiri.

Subaru bilang apa? Apa yang diteriakkannya?

Masa lalunya, dirinya yang mandek, penghalangnya, Sanctuary, keluarganya.

Nasib mereka yang berputus asa, mereka yang berhenti bergerak?

Kiranya kau ingin memulai sesuatu, kau bebas memulai apa pun.

—Kalau begitu kau akan tetap pergi terlepas semua halnya?”

Suara familiar menggapai telinga Garfiel.

Suara yang sepatutnya tidak dia dengar.

Karena bukan suara seseorang yang menginterupsi Garfiel, bukan juga suara yang bisa diinterupsi Garfiel.

“Ya, aku pergi. Aku tahu akan sangat merepotkanmu, Lewes-sama.”

“Tidak perlu meresahkannya. Masalahnya adalah perasaan anak-anak.” Suara-suara itu mirip suara keluarganya, dan suara tak familier keluarganya.

Suara-suara tersebut cocok dengan gerakan Lewes serta wajah masamnya, juga tindak-tanduk ibu yang menghadapnya.

Untuk pertama kalinya, Garfiel mendengar suara sang ibu.

“—”

Dia menelan nafas saat kejadian itu menarik perhatiannya.

Sang ibu menatap Garfiel dengan penuh kasih sayang di lengannya, membuainya lembut-lembut. Frederica mencengkeram ujung rok ibu mereka sambil menatapnya, lalu mengeluarkan suara.

“I-ibu …. A-aku … aku ….”

“Maaf, Rica. Aku tahu ibu akan membuatmu khawatir.”

“Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja. Tapi, Garf ….”

“Haruskah aku bawa dia juga? Tapi ibumu ini suka labil. Aku yakin dia akan mengalami banyak hal buruk. Rica, kau adalah gadisku yang sangat bisa diandalkan, tolong rawat dia.”

Frederica, walaupun sedih, menyampaikan salam selamat tinggal kepada ibu mereka.

Garfiel tidak paham kenapa saudara perempuannya menyetujui kepergian ibu mereka dari Sanctuary. Lewes, ketika meraih bahu Frederica yang gemetaran, juga menghormati keputusan ibu mereka.

“Gar, ibumu akan pulang nanti.” ibu mereka mengangkat Garfiel.

Tidak memahami determinasi ibunya, ibu Frederica tersenyum riang. Memeluk putranya erat-erat. Mencium jidatnya.

Di titik jidatnya yang kini punya bekas luka.

“Aku akan kembali dengan ayahmu. Sampai saat itu, tunggulah aku.”

“—Ah!”

Matanya penuh cinta, suaranya penuh kasih sayang.

Agar tidak kehilangan ingatan tak terlupakan ini, lagi dan lagi, ibunya mencium Garfiel bayi.

Akhirnya, menyerahkan Garfiel muda kepada Lewes.

Lewes memeluk Garfiel erat-erat saat Frederica dan ibunya saling mengangguk. Kemudian ibunya memeluk Frederica, dahi putrinya dicium-cium juga.

“—Hahh, ugh. Uhhh, arghhh …. AAGHHHH ….”

Menyaksikannya, Garfiel jatuh terlutut. Apa yang dia saksikan sekarang ini?

Garfiel tidak tahu. Belum pernah menyaksikan itu sebelumnya.

Seharusnya kenangan masa mudanya, ketika dia tidak mengetahui apa-apa, tatkala menantang Ujian, lalu melihat sesuatu yang lebih tanpa harapan, kejadian yang dihiasi keputusasaan.

Walau Garfiel mengingatnya baik-baik, sekalipun ingat perasaan jelas yang tertinggal dalam ingatannya, Garfiel yakin ingatan itu berharga dan makin menguatkannya.

Seluruh ancaman kosong, sepanjang hari-harinya hingga sekarang, ia buat untuk menyembunyikan kesendirian serta kesedihannya—seluruhnya lenyap, hancur, sebab sesuatu yang berbeda seratus persen menimpanya.

Apa ini? Memori ini apa?

Bukankah ibunya mencampakkan Garfiel dan kakaknya, menyuruh masing-masing pribadi mencari kebahagiaan sendiri?

Tidakkah dia mengusir gangguan itu dari hidupnya dan bertekad menempuh jalannya sendiri?

Sungguh-sungguh terbalik.

Sang ibu meninggalkan anak-anaknya, pergi begitu saja. Menjelaskan mengapa Garfiel mampu menciptakan orang yang dulunya Garfiel Tinzel.

Garfiel masa kini menyadari kejadian itu tidak absah dan menyimpang, barikade teguhnya berubah menjadi dinding rapuh, dunianya runtuh.

Garfiel tidak tahan saat perpisahan keluarganya sampai pada akhir waktu.

Ibunya yang enggan berpisah, menyentuh Frederica serta Garfiel untuk terakhir kalinya, mempercayakan semuanya pada Lewes saat mengambil tasnya dan berbalik keluar hutan.

Dia berhenti berkali-kali di sepanjang jalannya. Melirik ke belakang, kepada Frederica yang melambai-lambai. Melihat Lewes memegang tangan Garfiel yang dilambai-lambaikan kepada ibunya, dan sang ibu balik melambai.

Ibu Garfiel menguatkan diri dan mulai berjalan lagi. Berhenti lagi. Melihat ke belakang. Berkali-kali, dan berkali-kali, sampai ibunya keluar hutan—

“—Apa!?”

Persis saat Garfiel bangkit dan hendak mengikutinya, penglihatan pria itu mengabur.

Dunia berubah, bukan karena tetesan air mata Garfiel. Berubah karena suatu alasan jelas.

Tepi pandangannya dikelubungi cahaya putih, hutan-hutan menghiang. Seperti akhir dunia. Akhir tak terduga membuat Garfiel berbalik menghadap Penyihir di belakangnya, dan berteriak.

“Kenapa! Kenapa akhirnya begini! Awalnya aja belom ….”

“Tidak, sudah berakhir. Tidak perlu melihatnya lebih lanjut. Bukan aku yang menentukan selesainya mimpi atau tidak, melainkan dirimu sendiri. Selamat, Garfiel. Kau telah menulis ulang masa lalu.”

“Apa maksud ….!? Berhenti memainkan gua! Gua yang hebat ini pastinya punya peran di waktu-waktu selanjutnya!”

“Tidak perlu melihat kejadian selanjutnya, seandainya kau telah membayangkan beberapa teori tentang kejadian selanjutnya, kau tetap tak bisa menginterupsinya.”

“Uhhk—”

Kau tidak bisa mengubah masa lalu, ujar sang Penyihir.

Wajah memerah Garfiel memucat saat dia jatuh berlutut lagi.

Dia tahu perasaan sebenarnya sang ibu. Sekarang kejadian ini.

Takdir ibunya setelah meninggalkan tempat ini masih tidak berubah?

Ibunya meninggalkan Sanctuary demi Garfiel dan Frederica, demi mencari ayah mereka. Tapi tiba-tiba mendapati perjalanan ibunya kacau.

—Bukankah keadaan tanpa harapan ini makin jadi lebih suram?

Bukankah ingatan keputusasaan yang baru saja menjadi harapan dihantam oleh kebuntuan? Bukankah dirinya mesti berubah setelah melihat ini?

“Ibu mencintaimu dan aku, Garf.”

Garfiel mengangkat kepalanya.

Menatap Garfiel saat lelaki itu berlutut di hadapan Frederica muda. Gadis itu melihatnya. Seharusnya masa lalu buta, tidak bisa berinteraksi, namun kakaknya berinterkasi.

“Ibu kita meninggalkan Sanctuary demi keluarga kita. Apa membuatmu tidak senang?”

“Jangan bercanda! Terus ngapa kita dicintai! J-jangan todong ingatan aneh ke gua. Gua ….!”

“Betapa lebih mudahnya untuk dicintai.”

Kata Frederica muda, agak mengejek Garfiel.

Perbedaan tinggi badan mereka secara harfiah adalah antara anak dan orang dewasa. Namun Frederica tidak mempedulikan tingginya, berbicara secara langsung dan menatap adik laki-lakinya.

“Yakin cintamu tak terbalas membuatmu mengaku benar.”

“Tidak!”

“Kau mencintainya, dan ibu mencintaimu … mestinya kau tahu ini, kau tidak lagi bisa membenarkan dirimu yang lalai di luar, kesalahan-kesalahanmu di Sanctuary.”

“Tidak! Tidak, tidak! Elu gak tau apa-apa … lu kira apa yang terjadi sama ibu!”

“—Aku tahu kok.”

Garfiel marah-marah saat meraung, sewaktu sebuah kejutan menampar wajahnya.

Wajah Frederica sirna. Dia menatap Garfiel, sekaan-akan menahan emosi.

—Dia bilang apa?

“Tentu saja aku tahu. Seandainya kita menduga setelah ibu pergi dari Sanctuary, dia akan tidak beruntung untuk sesaat saja … informasi itu sampai ke telingaku.”

“Terus … apa!?”

“Dan tentu saja kau paham informasi ini tidak menjamahmu. Kau bukan bocah remaja lagi, Garf.”

Frederica tahu betul nasib ibunya.

Bahkan Garfiel pun paham alasan tidak memberitahu Garfiel muda.

Siapa juga yang memberitahu seorang anak bocah bahwa ibunya menemui ajal kejam?

Kalau saja Garfiel tidak mengintip isi Ujian dalam Makam, anak itu takkan pernah tahu. Dia tahu karena telah menginjak-injak banyak pertimbangan serta kebaikan yang berupaya untuk mencegahnya mencari tahu.

“Sebenarnya, kau ingat ibu mencintiamu.”

“….”

“Kau sendiri yang melukai titik yang dicium ibu, titik sentuhan terakhirnya, berpura-pura semuanya tidak terjadi.

Jemari Garfiel menyentuh bekas luka di dahi.

Luka itu belum ada saat dia masih kanak-kanak.

Luka itu ada setelah menantang Ujian pertama. Masih halu, Garfiel membenturkan kepalanya ke dinding, menyakiti dirinya sendiri hingga lukanya permanen.

 Bekas luka ini adalah sisa-sisa lukanya kala itu. Kebenaran di balik belas luka ini adalah, tentunya apa-apa yang baru saja diucapkan Frederica.

“Sudah berakhir.”

Lirih Frderica.

Tanpa sadar, dunia kehilangan seluruh bentuknya.

Hutan telah musnah, begitu pula kepergian ibu dan Lewes. Bahkan sang Penyihir tidak kelihatan, dunia semata-mata menyisakan saudara-saudari itu.

“Biarpun kau menggunakan luka untuk menyembunyikannya, kau tidak bisa menghapus masa lalu. Tidak juga menghapus kebenaran dirimu yang dicintai.”

“Terus … gua mesti apa?”

Garfiel bertanya lemah pada Frderica.

“Semisal akhir ibu gak berubah, maka dunia luar masih menakutkan. Pergi keluar, Nenek dan semua orang keluar, masih nakutin.”

“Kau kudu menanyai kakak kecilmu dulu sebelum membuat jawaban?”

“Gua tau bakal jadi begini! Tapi itu doang yang bisa gua tanyain. Ayolah, kasih tau …. Kak, kenapa lu ….”

“Kau ingin melakukan apa, Garf?” interupsi Frderica yang memiringkan kepala.

Kalimat Garfiel macet. Dia ingin melakukan apa? Bukan itu yang mereka bicarakan. Itu yang mesti dia lakukan. Itu yang dia tanyakan.

“Kau ingin melakukan apa, Garf?”

Wajahnya agak jengkel, Frederica mengulang-ulang pertanyaan itu.

Garfiel menahan nafs.

“Gua pengen melakukan apa yang orang-orang cari.”

“Apa yang dicari orang-orang?”

“Gua pengen begitu … melakukan apa-apa yang dicari orang-orang dalam diri gua.”

“Mengapa kau merasa demikian?”

“Karena … merekalah yang membuatku teringat.”

Teringat apa? Frederica tak bertanya secara langsung. Bola mata mirip Garfiel sang kakaklah yang bertanya.

“—Ingat bahwa ibu mencintaiku.”

—Dunia mimpi hancur menjadi debu, masa lalu telah binasa menjadi ketiadaan.


Subaru melihat paras Garfiel yang nampak sehabis dirukyah.

Subaru menghabiskan sekitar satu jam bergelisahan di luar Makam sambil menyilangkan tangan, menunggu sabar. Kelompok itu cemas, tidak menatap atau bicara satu sama lain, karena mereka menunggu kejadian selanjutnya.

“Jadi, soal rencana kita bagaimana jika dia mengingkari janji dan menghancurkan Makam?”

… Lelucon yang diucap Otto biar susana tidak tegang, dia mengatakan sesuatu yang sungguh tidak cocok dengan situasi sekarang, alhasil ditendang oleh Ram, tetapi kondisi di luar Makam sangat sunyi.

“… Gar kecil.”

Lewes ikut berkumpul bersama mereka, wajahnya gelisah sembari menengadahkan tangan di depan Makam.

Lewes sekarang adalah Theta, mau Lewes manapun, mereka semua menyayangi Garfiel.

Kelompok itu terdiri dari 5 orang yang siap memukuli Garfiel, sekaligus pengubah hati Garfiel yang telah memasuki Makam. Kedua peristiwa itu sedikit mengejutkan hati Lewes.

Emilia melihat Makam itu dengan tegang saat dia berdiri di samping Subaru.

Meski alamiahnya dia juga ingin tahu hasil akhir, kala Garfiel keluar Makam, giliran Emilia masuk.

Adu argumen di dalam Makam, dan pertarungan antara Subaru dan Garfiel sesudahnya.

Subaru tidak tahu ada perubahan macam apa dalam mentalnya. Tetapi ekspresi gerah Emilia membuktikan dia sangat-sangat peduli terhadap Gariel, merasa tidak takut kepada Ujiannya sendiri. Idealnya bukan pertanda buruk.

“—Ah!”

Subaru merenung baik-baik, mendadak Otto menunjuk Makam dan berbicara.

Dia hendak mengatakan hal tolol lagi, pikir Subaru sambil meringis, Ram buru-buru menguatkan buku-buku jari. Namun kali ini kesimpulan mereka kelewat terburu-buru.

“Gar kecil!”

Lewes berdiri dan berlari menuju Makam. Mengikuti pandangannya, Subaru sadar terdapat bayangan hitam yang muncul di pintu masuk Makam.

Rambut pirang pendek, bekas luka di dahi. Tatapan tajam, gigi bertaring bak bilah yang berkilauan seperti Mutiara.

Walau sosoknya mini dan postur membungkuk, masih memancarkan aura mengerikan yang menghantui.

Garfiel Tinzel.

“Lihat, kubilang apa—aduhh!”

Ditendang lutut Ram, Otto jatuh ke rumput.

Tapi, tak seorang pun menghiraukan penderitaan Otto, mereka malah lari menghampiri Garfiel. Subaru buru-buru menaiki tangga batu untuk menghubunginya. Lewes sampai duluan dan berdiri di hadapan Garfiel, terbungkam dan tidak tidak tahu harus berkata apa.

“G-Gar kecil. Anu, aku ….”

“Jangan pasang muka yang tidak nenek biasanya. Maaf ngebuat khawatir.

“Gar kecil.”

Setelah berkata demikian, Garfiel menggerakkan kepalanya ke atas kepala kecil Lewes.

Menepuk-nepuk kepala neneknya—teramat-amat songong, tapi melihat ketinggian mereka, pas-pas saja bagi keduanya. Melihat Lewes tidak komplain, sikap mereka akan dianggap biasa-biasa saja.

“Bagaimana, Garf?”

Ram naik tangga, mengikuti Lewes dan Subaru, kemudian memanggil Garfiel.

Ramlah yang memberikan dorongan langsung kepada Garfiel untuk menantang Ujian. Sadar akan keadaan saat ini, sekelebat bayangan wajah risau Subaru melintas di ekspresi Ram. Garfiel bersenandung dalam benaknya.

“Lu gak bisa liat apa hasilnya? Keknya lu ngarepin lebih.”

“Entah kenapa kedengarannya macam anak SMP yang sombong karena baru coba menguntil, yasudahlah … kau berhasil?”

“—Keknya gua dah jadi pribadi baru.”

Garfiel mendesah dalam-dalam lewat hidungnya. Semua orang langsung paham, tetapi sentimen yang muncul berbeda penuh.

Garfiel telah melampaui Ujian, dan meraih kesimpulan masa lalunya.

Berarti satu langkah lebih maju dalam pembebasan Sanctuary, sebagai bukti bahwa Ujian tidak tidak masuk akal atau mustahil diselesaikan.

“Baiklah. Teruskan semangatmu dan tempuh Ujian lainnya, juga—”

“Diem. Ujian yang gua coba cuma kali ini aja. Bukan urusan gua buat nyelesainnya. Betul?”

“Yap, kau benar. Sisanya serahkan padaku. Tidak boleh dicuri.”

Garfiel memelototi Emilia, gadis itu menerima sorot mata langsung.

“Penyihir itu lagi ngerencanain sesuatu. Hati-hati ye.”

“Hah? Kau memberikan nasihat? Terima kasih deh. Akan kuingat baik-baik.”

Cara Garfiel menyemangati orang, walaupun roman-romannya sinis. Emilia menerima penyemangatnya dan menendang jauh-jauh sikap sinis tersebut.

Garfiel memalingkan muka. Melihatnya membuat Subaru tersenyum—kali ini pandangan Garfiel tertuju pada Subaru.

Alisnya terangkat saat Garfiel menggaruk pipi.

“Uh, gua perlu, benar … yahhh.”

“Apa nih? Tsundere tidak cocok denganmu. Kau tuh mesin pembunuh berdarah dingin, kenapa kita tidak bertarung saja.”

“Gua kagak paham lu ngomongin apa, tapi gua tau lu ngejek gua. Gua hajar lu … eh, gak deh, lupakan aja.”

Garfiel mengayunkan tangan, dan menurunkannya lagi.

Perilaku mencurigakan Garfiel, atau sikap yang tidak tepat telah membingungkan Subaru.

Ram tersenyum juga, seolah-olah paham semuanya.

“Garf.” Panggil Ram.

Setelahnya, dia menyenggol pinggul Garfiel.

Garfiel mendesah, menggelengkan kepala pasrah.

“Barangkali karena elu gua bisa lulus Ujian. Makasih ye.”

“… Kau barusan berterima kasih?”

“Kaga bakal gua omongin lagi. Tapi, jadi ingat sesuatu yang pengen gua ingat. Jadi pergi ke sana … sangat bermanfaat. Anjinglah!

Mungkin rasa malunya memuncak saat berbicara, wajah Garfiel merah padam sembari menunjuk-nunjuk Subaru yang membelalak.

“Dengar ya! Gua yang hebat ini emang kalah, Ujian ngubah gua. Tapi! Bukan berarti gua bakal nganggep semua ocehan lu tuh bener terus nurut-nurut aja! Bicara lu besar, bilang bakal ngubah Sancutary! Kalau perubahan ntu bakal nyakitin para penduduk yang tinggal di dalemnya, nggak bakal gua ampunin!”

“U-uhh … b-betul, masuk akal juga ….”

Cara bicara Garfiel penuh ancaman, Subaru terperangah namun masih bisa mengucapkan beberapa kata.

Subaru tidak bisa mutlak menjaminnya. Tapi dia berjanji akan berusaha sekuat mungkin untuk menciptakan hal-hal baik. Hal itu sudah pasti—persis saat hendak mengatakannya ….

“Jadi gua bakal merhatiin lu, bener-bener GG atau cuma omdo—Lebih baik lu berusaha, KAPTEN!”

“—”

Garfiel dengan penuh semangat menampar bahu Subaru, menatapnya tajam-tajam seraya mengutarakan deklarasi besar itu.

Panggilan dan tingkah laku tak terduganya membuat Subaru tertegun sampai-sampai sulit bereaksi.

Selama penundaan itu, Garfiel menjauh dari Subaru dan turun ke bawah tangga bersama Lewes. Seakan-akan takut jika seseorang melihat wajahnya.

“Garfiel, wajahmu sangattttt merah.”

Mungkin sekilas melihat wajahnya yang berpapasan, Emilia berbicara sembari menahan senyum.

Berarti telinga Subaru tidak menipunya.

“Kapten … bukan aku pemimpin kelompok ini, Emilia pemimpinnya.”

“Tapi kelompokmulah yang mengalahkan Garfiel. Dia mengaku kalah dari pertarungan satu lawan satu, berarti Kaptennya adalah kau. Hebat bukan, Kapten?”

Emilia tersenyum lembut, Subaru linglung mesti merespon bagaimana.

Ram menyerempet badan samping Subaru.

“Udah, terima aja.”

Dia mengangkat bahu.

“Tuh anak juga tidak tahu harus melakukan apa saat terbawa perasaan. Biarkan saja dia.” ucap Ram.

“Tapi. Aku tidak ahli-ahli amat menjadi Kapten, dan juga ….”

“Kesampingkan kekuatan pertarungan, kau lebih tua darinya, Barusu, paling tidak beri dia keringanan. Garf itu seorang anak bocah walau penampilannya begitu. Memangnya kau tidak merasa punya adik laki-laki?”

“Tunggu dulu.”

“Apa lagi?”

“Bisa beritahu rinciannya?”

“Rincian apa?”

“Garfiel lebih muda dariku?”

“Oh.”

Ram mengangguk paham.

“Kau tidak tahu, ya? Garf lebih muda darimu, Barusu.”

“Umurnya berapa.”

“Aku yakin tahun ini dia empat belas tahun.”

“Empat belas!? Empat belas … kau chuuni(1)!?”

Berita yang sungguh sangat tak terduga itu membuat suara Subaru menyerak karena kaget.

Serta-merta setuju saja dipanggil Kapten oleh Garfiel keras kepala yang tingkahnya macam anak bocah.

“Seorang anak SMP yang lagi bandel-bandelnya … tiada mimpi buruk yang lebih parah lagi dari ini ….”

Gumam Subaru, suaranya bahkan terasa lebih lelah sekalipun pertarungan sudah selesai.

Catatan Kaki :

  1. Chuuni = Anak smp kelas 2

3 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 116”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *