Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 115

Posted on

Kau Takkan Pernah Serasi Dengan Gadis Seumuranmu

CH 115.jpg

Penerjemah: DarkSOULS

Subaru merasa kehilangan sesuatu yang berharga.

Sensasinya tidak seperti gerbang mana yang keberadaannya sudah pasti.

Sesuatu yang berbeda dunia, menggeliat-geliat dalam diri Suabru.

Apakah panas? Dingin? Demamnya tidak jelas.

Bagaimana bentuknya? Tampilan luarnya? Ketidakjelasannya pun tidak menampilkan apa-apa.

Renyuk-renyuk suram tersebut telah menjelajahi Natsuki Subaru, bersorak-sorak gembira karena telah dilepaskan, menunjukkan kekuatannya dan menyebar.

Namun sisa-sisanya masih berfluktuasi di sekujur tubuh Subaru sekarang.

Sensasi abnormal ini memberikan Subaru perasaan tak terlukiskan. Bukan sesuatu yang dia kenali, atau sesuatu yang dia rasakan sebelumnya. Namun Subaru memang tahu dan paham saja mengenai hal ini.

Jadi selagi mempertanyakan Mengapa? Dan Bagiamana? Dia tidak bertanya Apa? Atau Fungsinya?

Tidak repot-repot merenungkan identitas mahluk ini. Natsuki lebih mempertanyakan Kenapa, tapi baru-baru ini pertanyaannya tidak menjangkau jawaban apa pun. Berarti Subaru cuma punya satu hal untuk dipertimbangkan.

SERANGAN TAK TERLIHAT, KEPALAN TAK TERLIHAT, PUKULAN TAK KASAT MATA.

Semuanya kedengaran aneh atau sama-sama mirip, kurang keren.

Tangan hitam yang hanya Subaru bisa lihat.

Hanya Subaru yang bisa mengendalikannya, yaitu—

Kehendak Tak Nampak Dari Dewa …. Kita sebut Bukti Tak Terlihat.

“… Hah? Apa katamu?”

Menyipitkan mata walaupun kesadaran masih mengabur, serpihan-serpihan pikirannya keluar dari mulut.

Saat itu juga, wajah berambut perak terlihat di depannya saat membuka mata lebar-lebar.

Setelah beberapa kedipan, Subaru mengakui bahwa ia telah siuman dari pingsannya. Memperhatikan ikatan antara senasi lembut di bawah kepalanya dan Emilia yang dekat.

“Oh, aku diberi bantal paha oleh Emilia-tan lagi.”

“Tentu. Sudah berapa kali, ya? Diriku yang meminjamkan pangkuanku saat kau tidak sadar.”

“Anggap saja tiga kali. Harus memenangkan pertarungan besar untuk mencapai surga dunia ini.”

“K-kau sangattt tidak mengantuk sama sekali … apa kau ingat apa yang terjadi sebelum pingsan?”

“Iya dan jelas. Akan aku kenang baik-baik dan lambat, selagi kita mengobrol dan diriku menatap wajahmu ….”

Canda Subaru saat menyingkirkan beban berat di kepalanya dan mengumpulkan nyawa. Kemudian teringat rentetan pukulan yang dia derita sebelum pingsan, lalu memahaminya.

Segera meraba-raba wajah, meremas pipinya selagi melihat Emilia.

“Sial. Pikirku sudah kena hajar besar-besaran. Emilia-tan, apa aku baik-baik saja? Wajahku tidak buruk-buruk amat sampai tidak kelihatan, kan?”

“Jangan khawatir. Tidak kelihatan aneh-aneh banget.”

“Bicaramu jangan jahat-jahat gitu dong!”

Emilia memiringkan kepala bingung. Subaru menggerakkan tangannya dari pipi dan memeriksa persendiannya. Samar-samar terasa linu di bahu, tubuh bagian bawah, dan bagian lehernya. Tetapi sebagian besar lukanya tersegel, nampaknya sedang dalam proses penyembuhan.

“Subaru, kalau gerak-gerak mulu geli tahu.”

“Ah, maaf. Tidak! Aku tidak berniat macam-macam kok! Pokoknya tidak, bagaimana kalau aku coba lagi sekali untuk pemastian saja?”

“Jangan. Nanti aku usir kepalamu dari pangkuanku kalau ngomong aneh-aneh lagi. Jangan centil gitu.”

“Siapa pula yang centil?”

Setelah menanggapi pelototan kasar Emilia dengan senyum masam, Subaru bangkit dari pangkuannya.

Meskipun rasanya sakit saat berpisah, dia tidak boleh istrirahat selamanya.

Status fisiknya, dibandingkan keadaan fit, sudah menyentuh sekitar 60%. Jelas-jelas tidak sempurna, tapi masih berterima kasih atas penyembuhan Emilia.

“Terima kasih sudah menyembuhkanku. Masih bisa merapal sihir tanpa Puck?”

“Kontrakku bersama Puck barangkali sudah rusak, tetapi kontrakku dengan roh-roh kecil tidak. Dan …. Aku tidak tahu bagaimana sebutannya, tapi bukan berarti aku tidak bisa menggunakan sihir.”

“Masa? Setahuku para penyihir dan pengguna roh punya cara berbeda dalam pengendalian mana … bahwa kau tidak bisa menggunakan keduanya.”

Pelajaran yang dia petik dari Mansion Puck dan Roswaal:

Para penyihir hanya bisa menggunakan sihir yang sebanding dengan penyimpanan internal mana mereka, sedangkan pengguna roh harus menjalin kontak bersama roh agar bisa memanfaatkan persediaan mana di atmosfer tanpa batas. Begitulah kemampuan Emilia dalam menggunakan sihir, berbeda dari apa yang Subaru ketahui.

Emilia menurunkan pandangannya.

Alis Subaru mengerut terhadap reaksi anehnya. Dia mendesah nafas pelan.

“Aku juga berpikir tidak bisa … tapi, tadi aku bilang ingatan lama sudah mulai kembali. Sebagiannya adalah cara menggunakan sihir … ingatan yang ikut disegel juga.”

“Memorimu menyegel kemampuan sihir?”

“Ya.”

Dia mengangguk. Gagal paham karena mungkin Emilia tidak menjelaskannya lebih rinci. Subaru tidak mengerti kenapa kemampuannya untuk menggunakan sihir disegel dalam ceruk ingatannya. Dan muatan informasinya masa kini kelewat tersebar untuk dijadikan spekulasi. Entah bagaimana, dia menggunakan sihir barunya untuk menyembuhkan Subaru.

“Jangan pikirkan keadaannya, bilamana bisa menyembuhkanku, tetap saja bantuan besar. Bagaimana keadaan semua orang ….”

Selain itu, sebagaimana maksud Subaru, ketika dia sadari situasinya tidak cocok untuk bersantai. Subaru pastinya mengenali fakta tersebut saat ingat yang membuatnya jatuh pingsan. Subaru melawan Garfiel, Otto dan Ram yang akhir-akhir ini menghajar Garfiel juga. Apa mereka baik-baik saja?

“Kupikir situasinya tidak terlalu berisiko, tapi aku akan mencari mereka sebelum jadi pupuk hutan dan membantu—”

“Aku sangat menghargai dirimu yang mengkhawatirkanku, tapi aku oke-oke saja tanpa perlu mendengarkan perkiraan kemungkinan terburukmu.”

“Hah?”

Menggerakkan tubuhnya yang goyah, Subaru mulai melarikan diri dari Makam dan menuju hutan. Tapi mendadak suara seorang pemuda yang kaget menghentikannya. Subaru berhenti dan melirik ke belakang, mendapati seseorang duduk di tangga batu Makam—Otto Suwen, tangannya terangkat.

“Aaa, aaaa!?”

“Senangnya aku melihatmu terkejut. Maaf yah sudah mencemaskanmu, tapi karena kita sama-sama cemas, jadi kami tidak menyebutkannya, dan ….

“Hi-yah!”

“Eeuughhh!?”

Mendapati mereka baik-baik saja, senyum puas muncul di wajah Otto—saat Subaru menerjang maju. Mengendarai momentum kala melompat ke arah Otto. Terjebak di antara tangga dan Subaru, Otto menjerit.

“Ow! Aduh! Tangganya, menggelitik kepalaku—uh! R-rambutku! Aku jadi botak! Natsuki-san, kau ngapain sih!?”

“Diam, bodoh! Berhenti jadi keren begini. Kok jadi sok berjasa besar? Siapa suruh melakukan lebih dari ngulur waktu? Tahukah kau seberapa besar keberhasilan rencanaku saat mengalahkannya? Tapi kurasa jika kau tidak membantu, aku tidak bisa mengalahkan Garfiel, tapi bukannya tidak bisa bilang tidak terima kasih!” kata Subaru.

“Aku tidak tahu lagi kau ngomong apa!”

Tidak bisa menyampaikan terima kasih, Subaru bergelut dengan Otto di tangga selagi bercakap-cakap, dan Otto menendangnya. Subaru berguling menuruni tangga dan mendarat dengan punggung menghadap ke bawah.

“Yasudah, aku bersyukur kau baik-baik saja. Kematianmu akan menghantui tempat tidurku.”

“Lebih baik kita tinggalkan kebiasaan-kebiasaan eksentrik ini …. Sungguh deh, kenapa kau mendadak jadi baik?”

“Jangan terlalu memuji, kita lagi berdiskusi nih!”

“Aku tahu itu!”

Otto menepuk jidat, dan menyadari Emilia diam-diam mengawasi perbincangan mereka.

“Ah, Emilia-sama. Maaf sudah mengabaikan Anda. Walaupun semuanya salah Natsuki-san.”

“Mmn, aku menonton agar tahu ceritanya. Tidak apa.”

“Masih belum berteman …. Tidak, maksudku sedang berteman dan alhasil beginilah situasinya—Maksudku, misal kau baik-baik saja berarti Ram juga?”

Emilia dan Otto saling memandang dan mengangguk. Subaru menjulurkan lidah ke arah mereka sebelum menanyakan kondisi rekan terakhir. Otto mengangguk.

“Menilai kondisinya setelah aku terbangun, aku merasa merinding …. Untung kondisinya tidak seburuk kelihatannya. Kendati, dia terbangun saat kugendong dia ke tempat pertemuan, dan sedikit membicarakan racun manjur ….”

“Kasihan. Betul-betul bermulut kasar kepada orang asing …. Hebatnya kau bisa mengajak dia ikut berpartisipasi. Bagaimana caranya?”

“Salah satu syarat kerja samanya aku tidak boleh memberitahu ketentuannya.” Otto menutup mulut, menandakan dirinya takkan mengumbar.

Bibir Subaru bergetar, hendak mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata saja tidak akan menundukkan Otto dan malah akan mengabaikan pertanyaan lebih lanjut.

Seandainya pertanyaan pengecoh bisa membuatnya bicara, maka Subaru akan mempertaruhkan nyawanya mengikuti rencana praktis tak masuk akal.

Keras kepala, beban, sekaligus sahabat.

“Sial!”

“Aduh! Kenapa aku dipukul!?”

“Diam saja.”

Subaru mendorong bahu Otto, tidak mengindahkan keluhannya dan berbalik menghadap Emilia. Mendapati Patrasche muncul di sampingnya entah kapan dan menekan moncongnya ke rambut perak Emilia, mereka bedua tersenyum.

“Apa nih? Sejak kapan kalian jadi teman baik?”

“Beberapa hal terjadi saat kau tertidur … dan dia teramat membantuku. Dia sangatttt hebat.”

“Benarkah? Dia kebanggaan dan rekanku, gak bohong. Iya ‘kan, Patrasche?”

Subaru mendekat dan mengulurkan tangan, berniat membelai punggungnya. Tetapi naga itu menghindari sebelum bahkan ujung jarinya menyentuh, menghindari tangannya.

“Ugh!?”

“—”

Ayunan ekornya menyabet pantat Subaru, membuatnya mengerang sakit dan melompat-lompat. Subaru melihat si naga, bertanya dan menagih kepastian, kemudian mendapati mata tajamnya makin melotot dan menggeram kesal kepadanya sambil membungkukkan leher.

“Mau terjemahan?” tanya Otto.

“Tidak, aku pun tidak tahu apa maksudnya.”

Subaru menjawab pertimbangan Otto dengan gelengan kepala. Dia mendesah pelan.

“—Artinya jangan buat aku khawatir, bukan.”

“Koreksiannya, jangan terbawa suasana. Aku takkan melakukannya lagi. Bayangkan bagaimana perasaanku. Tambahan, yasudah, boleh deh, sambil marah-marah.”

“Sebetulnya ada apa sih dengan kekuatan heroine-mu? Apa kau beneran ras heroine?”

Subaru tersenyum masam dan mengulurkan tangan. Kali ini jemarinya menyentuh kulit keras Patrasche. Si naga menutup mata, menerimanya seolah tidak bisa dihindari, terima kasih Subaru kepada naga toleran ini tiada tara.

Bantuan Patrasche dalam pertarungan Garfiel, serangan pramungkas bisa berhasil karena besarnya kepercayaan dan tidak adanya keraguan.

Seperti biasa, Subaru yang rapuh ini senantiasa berhutang budi pada banyak orang setiap kali bermasalah. Apakah akan datang hari pelunasan hutang-hutang itu? Subaru meragukannya. Tapi wajib dibayar.

“Jadi ada apa dengan si takluk dan sumber segala masalah ini, Garfiel?”

“Penyembuhan Garfiel sudah selesai. Tapi lebih baik tidak mengganggunya.”

“Mengganggu?”

Subaru bingung. Emilia menggerakkan jarinya ke bibir.

“Ram sedang merawatnya, lihat saja.”

Yang dilihat Garfiel ketika dia bangun adalah wajah seorang gadis yang tak asing.

Seseorang yang ingin dilihatnnya saat terjaga, namun tidak ingin dilihat saat siuman. Perasaan yang rumit.

Tetapi Garfiel tidak menyangkal dadanya yang berdetak lebih cepat. Garfiel melirih.

“Ya … gua dah bangun.”

“Begitu. Bergerak dong. Sudah lama kau begini, kakiku mati rasa.”

“Agh!”

Begitu mereka berkomunikasi, Garfiel keluar dari sentuhan lembut kala kepalanya jatuh ke tanah. Dia memang tidak mengharapkan reaksi yang bagus, tapi sikap dingin separah ini menyakiti hatinya. Terutama tatkala harga dirinya sudah terluka, dan gebetannya sedingin es.

Menggosok-gosok kepala dan menatap Ram lekat-lekat. Dia duduk di rumput sambil melipat kaki, menepuk tempat kepala Garfiel beristrirahat, pahanya. Ram merespon tatapan Garfiel dengan, “Apa?”

“Kagak ada apa-apa …. Kek biasa, lu ini wanita yang gak ada baik-baiknya sedikit pun.”

“Kebaikanku tergantung momen dan si penerima kebaikan. Aku yang tidak baik berarti momen ini tidak demikian.

“… Apakah gua yang hebat ini dapet kebaikan itu?”

“Jelas sekali kau ingin aku bilang apa. Kau tidak seperti Barusu, Garf. Andai kata kau ingin tahu perasaan sebenarnya seorang wanita, buatlah skema yang lebih cerdas.

Garfiel menurunkan pandangannya. Kepalnya tersentak mundur saat Ram jemari Ram menyusuri dahinya.

Sentakan itu menjalar persis ke atas bekas luka yang selalu disentuh Garfiel.

Jari-jarinya menyentuh bekas luka di alisnya sambil mendesah. “Kalau dipikir-pikir … elu yang buat luka ini.”

“—Harus bertindak tegas biar tidak menyimpang. Kau kira aku menabrakkan wajahmu ke batu secara cuma-cuma begitu?”

“Rasanya sama pas lu ngehajar gua, elu yang senyum-senyum kek orang gila ….”

“Hidupku tidak abadi. Ketika melakukan sesuatu yang enggan kulakukan, tersenyum dan bersenang-senang itu baik. Mencegahku untuk berputus-asa.”

“Gimana kalo mikirin luka batin dari orang yang kepalanya bocor!”

Ram semata-mata mendesah saja, ekspresinya kian bosan.

Tentu saja. Dia tidak pernah mengaku salah, sifat keras kepalanya takkan takluk. Bangga, mulia, tangguh, ulet.

Karenanya Garfiel mengagumi wanita itu, sekaligus mendambakannya.

“… Lu gak terluka ‘kan, Ram?”

“Siapa kira. Aku meminta Emilia-sama menyembuhkan cedera beratnya, tapi barangkali masih mustahil menghapus sepenuhnya. Apa tanggung jawabmu karena melukaiku?”

“Dengan menjadikanmu istriku ….”

“Gak deh. Pikirkan lagi metode lain—Dan itu terlampau agresif bagimu, Garf. Bahwa kau berani meninggalkan yang kalah.”

“….”

Mata tajam Ram membungkam Garfiel.

Amarah di matanya merupakan kecaman karena Garfiel tidak mengakhiri pertarungan sebaik-baiknya. Dia tidak menghabisi Ram serta Otto yang tergeletak di semak-semak. Memang kelangsungan hidup mereka adalah keputusannya sendiri, mungkin hal demikian menodai kemuliaan pertarungan.

Namun Garfiel tidak kuasa menghunuskan cakarnya pada gadis yang tak sadarkan diri itu. Bahkan mengabaikan perasaannya padanya, kemudian faktor beragam lainnya, Garfiel definit tidak membunuh mereka.

Lagi pula, Garfiel tidak memiliki keberanian yang pasalnya penting bagi para petarung.

“Mengesankan sekali kau bisa menghindari rapalan sihir terakhirku.”

“… Bukannya gua pengen ngehindar. Saat gua kalah dan mulai berubah, keknya dapet semacam firasat buruk. Terus tubuh gerak lebih cepet daripada pikiran gua. Itu doang.”

Tatkala mana hutan telah disatukan, dan Ram merapalkan sihir angin terkuat, alih-alih berpikir, Garfiel menyerahkan segalanya pada naluri bertahan hidup dan menghindari bilah-bilah angin.

Firasatnya berkata terdapat angin kencang tak nampak yang melesat satu millimeter dari kulitnya. Serangan tersebut telah menghancurkan setiap pohon yang dalam jalur lesatnya hingga tak terbentuk lagi, Garfiel bukan hanya menghindari lintasan proyektil itu, namun juga menjauh dari jangkauannya.

Begitu kembali ke tempat kejadian, dia mendapati Ram dan Otto yang terbaring.

Garfiel adalah seorang pejuang sejati, dia tentu menyombongkan keselamatannya dan merenggut nyawa mereka. Tetapi, Garfiel yang perlu memberikan kesadarannya pada darah hewani bilamana ingin membunuh, pria itu jadi tidak tega.

“Gua ….”

“—”

Bukan seorang pejuang. Hanyalah orang yang punya tatanan pejuang, mengumbar ancaman kosong penuh kepalsuan.

Dengan keras kepalanya percaya bahwa bahkan orang palsu sepertinya, asalkan punya kekuatan, mampu menaklukkan segalanya dan melindungi mereka yang layak dilindungi baginya tanpa membunuh seorang pun. Tapi gagasannya tidaklah valid.

Garfiel percaya dirinya punya cukup kekuatan untuk mengalahkan sekelompok besar orang luar.

Namun pada kenyataannya dia kalah pada tiga orang dan seekor naga darat. Parahnya lagi semua orang itu bukanlah kombatan.

Jikalau seorang prajurit jahat mendatangi Sanctuary, mereka pasti sudah menghancurkan Garfiel. Beginilah dirinya setelah ngoceh-ngoceh sombong soal menjadi Penghalang Sanctuary.

—Dia merenungkan banyak pemikiran di kepala ber-IQ rendahnya ini.

Sepanjang pertarungan, bahkan di luar pertarungan, Garfiel tidak berhenti-berhenti menggunakan otak ceteknya itu.

Strategi apa yang teroptimal? Tindakan apa yang paling mantap untuk membantu semua orang? Apakah ada solusi yang tidak menyakiti seorang pun? Meskipun ada yang terluka, oke-oke saja asalkan lukanya masih bisa disembuhkan.

Hari-hari yang dihabiskannya untuk memegang idealisme ini dan berjuang sekuat mungkin adalah non-eksis, tindak-tanduknya semata-mata menyembunyikan kelemahannya belaka.

“Garf.”

“….”

“Sini aku kasih nasihat. Dengarkan baik-baik.”

“… Ya.”

Masih melihat ke bawah, Garfiel mengangguk.

Apa yang akan dikatakan Ram si gebetan Garfiel? Ucapannya biasanya kasar, tapi dia tidak pernah benar-benar memutus ikatan dengannya.

Ram lembut kepada orang-orang terdekatnya. Walaupun hubungan mereka tidak terbentuk sendiri, dia dan Garfiel sudah kenal lama, dan memang wanita itu anggap sebagai orang terdekatnya.

Namun kini Ram jelas-jelas murka. Garfiel mungkin tidak termasuk lagi. Pernyataan segera Ram merupakan perpisahan kedua insan itu, dan—

“Garf, kau ‘kan bego, jadi kalau dipikirin tidak ada faedahnya. Buang-buang waktu saja. Dengan kata lain, buang-buang hidup.”

“… Eh?”

“Kau sendiri yang bilang. Garf, menghindari sihirku tanpa memikirkan apa-apa. Dan itu persoalan utamanya. Mungkin kau tidak sadar, tapi kau lebih kuat saat tidak memikirkan apa-apa. Apa lagi saat nyeker-nyeker macam orang idiot.”

Gagal paham, mata Garfiel melebar.

Kendati mengira Ram menganggapnya tidak berguna, deklarasi barusan tertuju pada tempat yang sepenuhnya tidak terduga.

“Aku tidak menyuruhmu untuk berhenti berpikir dan berubah saja. Malahan transformasimu jauh lebih lemah ketimbang wujudmu yang bisa berpikir. Menjadi target besar, seranganmu melamban. Tetap dalam wujud manusia, fokus pada musuh, dan bertarunglah tanpa berpikir.”

“A-apaan sih!? Sejak kapan topiknya ….”

“Ini penting—Karena mulai saat ini kau akan menghadapi banyak pertempuran sebagai rekanku dan Emilia-sama.”

“—!!!”

Tenggorokan Garfiel tersumbat emosi.

Wajahnya merah padam, taringnya menajam saat berbicara.

“Pergi lu! Lu dah bermain-main ama gua, jadi musuh, ngancurin idealisme … terus masih maapin gua, dan mau gua maapin lo!?”

“Jangan tolol. Aku tidak memaafkanmu dan menuntutmu untuk melayani kami. Seandainya kami memaafkanmu dan kedudukan kita setara, kami perlu mengajukan permintaan kerja sama. Bodoh banget. Kau kalah dan kamilah pemenangnya. Aku tidak memaafkanmu, melainkan memerintahmu. Mengerti?”

“Bacot anjing!”

Garfiel memamerkan taring-taringnya kala beranjak bangun.

Tubuhnya bimbang sesaat, namun karena sebagian besar lukanya telah sembuh, tidak jadi masalah. Sembuh. Ketika mencapai pemikiran itu, hatinya lebih banyak tercakar rasa malu.

“Gua terima kekalahannya! Karena emang gua kalah! Tapi bukan berarti gua bakal nyerah gitu aja! Gua kalah, lu menang, paham gak! Tapi gua yang hebat ini masih hidup dan sehat walafiat! Kalau elu bener-bener pengen ngelanjutin rencana, bunuh aja gua! Elu semua sama pencundangnya kek gua!”

“Tidak nyambung. Apabila kami membunuhmu padahal sedang butuh-butuhnya kekuatan, itu berkontradiksi dengan tujuan kami.”

“… Tapi gua!”

“Dasar lemah!”

Sebelum Garfiel mengaum marah, Ram bangkit duluan dan menjerit.

Mata cerinya menjadi tuan rumah kemarahan kala menatap Garfiel.

Tatapannya ganas. Kelewat kuat, Garfiel seketika tutup mulut.

“Kau kalah. Kau telah kalah. Bertingkahlah seperti pihak yang kalah dan kabulkan perintah sang pemenang. Berani-beraninya berlagak di depan wanita yang kau sukai, marah-marah dan berperangai kekanak-kanakan, kapan kau puas, Garf? Deramu kepada orang lain adalah deramu sendiri saat kalah bertarung, cuma perlu mengubah pelampiasan keidiotanmu itu.”

“Agh … ah.”

Imbuh Ram tepat sasaran. Garfiel tidak mampu menjahit satu kata pun.

Sebelum pertarungan, dia telah menyampaikan masalah tertentu kepada pihak lain. Karena dia kalah, berarti sama saja mengumumkan kelemahan sendiri. Bukti tiada yang berubah dari kegilaannya ketika meneriaki segala yang dia pikir lemah.

Lantas ia tidak ngomel-ngomel lagi mengenai dunia luar yang dia pikir lemah, malah mengomeli diri sendiri yang mesti dia akui lemah.

“Terus gua ngapain!? Ketawa-ketawa kek orang goblok dan bertarung bersama dengan sekutu-sekutu lu!? Kagak bisa! Gua kalah … tapi bukan berarti gua nganggep kata-kata lu itu benar!”

Bukan dalih, melainkan pikiran sejati Garfiel.

Mengakui kekalahan. Jumlah musuhnya yang banyak tidak relevan dengan diskusinya. Sekiranya menjelaskan alasan kekalahannya, Garfiel takkan tamat.

Masalahnya adalah tidak tumbuh dalam lubuk hati Garfiel keyakinan untuk membenarkan klaim Subaru.

Banter-banternya, idealisme yang Garfiel tanamkan hingga saat ini masih tidak goyah, kendati seseorang mengajaknya bertarung bersama, dia tidak bisa mengangguk setuju begitu saja.

“Terus gua mesti apa, sama situasi setengah-setengah ini ….”

“Kalau kau tidak ingin mandek di tengah-tengah jalan, yasudah bergerak saja.”

“… Apa?”

Nafasnya masih megap-megap, Garfiel menatap Ram.

Ekspresi wanita itu masih tenang-tenang saja saat menatap mata Garfiel.

Dia melihat bayangan wajah lemah Garfiel.

Pria itu ingin memalingkan muka, namun tatapan Ram tidak mengizinkannya.

“Aku tidak tahu-menahu Barusu bilang apa, tapi masih bisa kuterka. Jadi, Garf … kau kudu konfirmasi sendiri.”

“Konfirmasi, sendiri … konfirmasi apaan?”

“Entah kau bisa berubah atau tidak, masih merengek-rengek macam anak bocah atau tidak.”

Garfiel akhirnya mengakui ucapan Ram.

Begitu memahaminya, detak jantungnya mencepat, degupannya mencapai rekor baru.

Dirinya mulai merinding.

Denyut nadinya membuas, kepalanya mendengar gema dering.

Trauma, jantungnya terbatasi rantai berduri, cukup kuat sampai-sampai seluruh tubuhnya tidak normal.

Merasa kedinginan, dia melihat ke belakang. Makam di sana menjulang seperti biasa.

—Memastikan. Sesuatu di sana.

Andai dia masuk, apa yang bisa dikonfirmasi Garfiel?

Ram mengharapkan Garfiel menemukan jawaban baru macam apa?

Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang bisa berubah.

Tetapi mengapa, setelah mengetahui demikian, apakah dia gagal menegaskan Gua kagak bakal pergi, dan ragu-ragu antara Iya dan Tidak?

“… Aku akan tahu apa di dalam sana?”

Garfiel mulai tertarik. Seratus persen. Pikirnya tidak akan ada yang berubah, namun dia juga ingin mengonfirmasikannya.

Garfiel menegang ngeri, hatinya berteriak-teriak menolak, namun jiwanya tetap meraung.

Garfiel ingin memastikan sesuatu. Perlu memastikan sesuaut.

Memastikan apakah jeritan berdarah Subaru menghadang jalannya, entah kata-kata Natsuki Subaru itu benar.

Pastikan semua yang dia hidupi sejauh ini telah keliru.

“Kau nampak teguh.”

Gemeletuk giginya, keresahan hatinya, telah menenang.

Seluruh tanda-tanda keringat dinginnya terhapus. Garfiel tanpa kata berbalik menghadap Ram.

Garfiel tidak tahu dia mengharapkan apa, kata-kata tegas penyemangatnya. Barangkali pertanyaan tentang Garfiel yang bersedia menjadi sekutu atau tidak, semua itu tidak dipikirkan Ram.

Merkea teman lama.

Ada beberapa hal yang hanya Garfiel sendiri yang paham.

Ram berhasrat agar Garfiel menemukan jalan hidupnya. Sisanya lain urusan.

Dia wanita yang baik, seseorang yang mesti dihormati, pikir Garfiel.

“Jangan khawatir, Garf.”

Mungkin gelisah karena sedari tadi dia diam saja, Ram mengeluarkan kehangatan langka dalam perkataannya. Menepuk pelan bahu Garfiel.

“Sekiranya ada hal menakutkan sampai-sampai membuatmu menangis, kuhibur kau—lagi pula hubungan kita sudah berjalan cukup lama.”