Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 114

Posted on

Dusta Berujung Harapan

CH 114.jpg

Penerjemah: DarkSouls

Auman naga tanah yang mendengung hingga langit menandakan pertarungan di Sanctuary telah berakhir.

Seekor naga hitam, menabrak Garfiel yang terluka, mendaratkan serangan pramungkas dalam pertarungan ini. Si naga, Patrasche, telah berlari ke TKP seolah-olah punya hubungan telepati dengan Subaru, dan sungguh indahnya memberikan bantuan tak tertandingi di akhir-akhir pertarungan.

“—ϡ!”

Konfrontasi kedua antara Garfiel dan Patrasche di Sanctuary.

Pada hari mereka tiba di sini, Patrasche yang menarik kereta sudah bertarung melawan Garfiel saat dia datang untuk mendesak mundur para pendatang,  dan hasilnya kalah telak.

Ada suatu pembatas antara prajurit dan warga sipil. Tidak ada yang bisa menyalahkan Patrasche karena merasa terhina. Tentu saja, Subaru juga tidak menyalahkan naganya.

Tetapi pendapat Patrasche mengenai hal itu sepenuhnya berbeda.

Dia gagal melindungi tuannya, mesti menanggung aib.

Bagi naga bergaris keturunan Diana yang terkenal, penghinaan ini perlu dibayar secara resmi.

Karena Patrasche dan Subaru tidak bisa berkomunikasi secara verbal, kedatangan cepat ini bukanlah topik yang bisa mereka diskusikan dengan pemahaman penuh.

Lantas, ada beberapa bagian yang tidak bisa dia sampaikan, lalu dia demonstrasikan pemikirannya lewat tindakan.

Auman naga ini ditujukan kepada tuannya dan para leluhurnya.

Bunyinya bercampur pencapaian dan kepuasan, sebagaimana naga itu mendekatkan moncongnya ke Subaru yang semaput, pasti ada orang yang akan memahaminya.


Mendengarkan auman Patrasche yang fungsinya memulihkan kembali kehormatan, Emilia mendesah panjang.

Rasanya bernafas saja dilarang. Persisnya, pertarungannya yang membuatmu lupa bernafas.

Perhatikan sampai akhir, Subaru bilang padanya. Sembari merasakan ketidakberdayaannya sendiri, Emilia menyaksikan perlawanan mati-matian pria itu sampai titik darah penghabisan.

Subaru muntah darah, mengerang perih, babak-belur.

Siapa yang sempat menghitung berapa kali Emilia hendak memanggil dan lari menghampirinya?

Tetapi setiap kali hati lemah Emilia ingin mengkhianati perintah Subaru, kata-kata lelaki itu, perhatikan aku, dan tatapannya yang hampir tajam sempurna menghentikan suara hatinya.

Entah tindakan maupun ucapannya dapat diampuni di sini.

Membuatnya gundah-gulana, merasa sulit menanggungnya, namun Emilia tetap tidak boleh mengalihkan pandangannya.

Bukan berarti tak ada seorang pun memberitahunya demikian.

Tetapi hati Emilia sendiri yang berkiprah bahwa sama sekali tidak boleh mengambil satu tindakan pun.

Emilia tidak paham dia dihentikan oleh perasaan macam apa di dadanya.

Subaru memperlihatkan sikap keras kepala kukuh, Garfiel sudah meraung-raung ganas, pertarungannya berakhir setelah kedua pria saling baku hantam—apa pula yang mendasari pertarungan itu? Menjadi orang luar dalam situasi ini, dan seorang wanita yang berjuang memahami logika seorang pria, Emilia memahami situasi ini secara bertahap-tahap.

Tapi Subaru telah menunjukkan kekuatan dan keyakinannya dalam pertarungan ini, memberikan upaya besar untuk mengalahkan Garfiel.

Dan fakta itu memang menumbuhkan perasaan tak terlukiskan yang berkembang besar dalam hati si gadis.

Masih terhanyutkan perasaan itu, Emilia mengakui pertarungan dua orang tersebut patut dipuji.

Artinya, kepentingan pertempuran mereka mutlak tak boleh ternoda.

Lantas—

“… Roswaal.”

Satu kedipan panjang, Emilia meninggalkan kebimbangannya dan menghadap depan.

Pandangannya tertuju jauh melampaui Subaru dan Garfiel yang tergeletak di tanah, mencapai celah-celah di pepohonan jauh.

—Di sana berdirilah seorang penyihir yang tutup mulut.

“Membuat gelisah orang tahu, jika kau diam saja seperti itu. Mereka nanti berpikir kau ingin melakukan hal yang tidak-tidak.”

“Waduh~, kok semuanya jadi begini. Padahal saya sudah datang jauh-jauh ke sini, menyeret tubuh terluka, demi diri Anda dan Subaru-kun ….”

“Seandainya benar-benar itu yang kau pikirkan, maka aku ingin lebih nyantai, tapi ….” keluar dari semak-semak di depan Emilia, nampak seseorang berbadan tinggi—Roswaal.

Beberapa hari sejak kedatangan mereka di Sanctuary, Emilia cuma melihatnya mendekam di tempat tidur. Dirinya yang berkeliaran di luar sini membuat Emilia agak waspada.

Roswaal pada dasarnya adalah pendukung Emilia dalam Seleksi Raja, dan dalam segi politis merupakan satu-satunya sekutu. Orang yang membawa keluar Emilia dari hutan dan mempersembahkannya jalan menuju tahta, berkata bahwa para penduduk elf yang bersemayam di es dapat diselamatkan, adalah dia juga.

Jadi, mengesampingkan keabsurdannya, Emilia tidak pernah sungguh-sungguh menganggap Roswaal sebagai musuh, atau saingan, atau orang berbahaya sejauh ini.

Sedari beberapa detik yang lalu.

“Roh-roh kecil lagi berisik dan merasa cemas saat ini.”

“… Hmmmmmmmmmm.”

“Mereka semua bilang telah mendeteksi sesuatu yang terlampau mengancam …. Bahkan sekarang ini aku sedang melihat ancaman itu.”

Suara Emilia lirih namun tegang, dia pelan-pelan turun dari pintu masuk Makam menuju ruang terbuka. Wajah Subaru terlihat puas dalam pembaringannya, sedangkan Garfiel adalah penyesalan. Di samping Patrasche yang berdiri di tengah-tengah keduanya adalah Emilia, pasang badan untuk melindungi ketiga orang itu sekiranya terjadi sesuatu.

Melindungi tiga orang ini—pasti itulah isi benak Emilia, dengan betapa anehnya aura yang terpancar dari Roswaal.

Konsentrasi mana padat saat ini tengah mengelilingi Roswaal. Seberapa terkonsentrasi mana pria ini? Dialah Roswaal L. Mathers, orang yang menguasai keenam tipe sihir, dikenal sebagai penyihir tercakap di seluruh negeri.

Sewaktu pria ini meledakkan sihirnya hingga batas maksimal, mukjizat macam apa yang bisa terjadi?

“—”

Merasa terkelubungi mana bermassa besar, Emilia menahan nafas.

Patrasche berdiri menghalangi penglihatan Roswaal kepada Subaru, memanjangkan lehernya sambil menggeram ganas kepada sang penyihir. Emilia juga merasakan aura anomali berbahaya dari Roswaal. Melihat keduanya was-was, Roswaal mengangkat bahu, tingkahnya sama seperti biasa.

“Serem banget. Aku le~bih suka apabila Anda yang menatap seperti itu semata-mata kepura-puraan saja. Walau~pun, kodrat saya memang dibenci para binatang dan naga darat yang mana menyebalkan. Seumpama para roh merasa demikian, maka itu menjelaskan betul mengapa Beatrice tidak ramah pada saya.”

“Berhenti bermain-main. Aku yakin dia tidak senang padamu dikarenakan hal lain. Aku juga tidak tahu kiranya memang senantiasa seperti itu.”

“Ti~dak. Dahulu … sungguh dahulu, tidak se~perti itu. Zaman tanpa naga darat, orang-orang masih menunggangi lembu suram—menunggangi babi.”

“Kapan, zaman tanpa naga darat ….?”

Emilia mengerutkan alis.

Meskipun dia tidak tahu betul rincian topiknya, naga darat adalah mahluk yang terikat erat dalam kehidupan sehari-hari serta budaya juga sejarah di sekitar orang-orang—koneksi mereka dengan manusia—tentunya telah berlangsung lama.

Yang Roswaal maksud adalah di Lugnica. Emilia kurang belajar asal-usul waktu naga darat mulai digunakan secara masal di Lugnica.

Roswaal menghembuskan nafas pelan kepada Emilia yang linglung.

Entah bagaimana, mengalirkan rasa kekecewaan.

“Anda juga tidak tahu ternyata, Emilia-sama. Ya~h, sudah saya perkirakan sih. Kendati Anda dilimpahkan darah para elf yang berumur panjang, umur Anda hanya sebatas seratus tahun atau sekitaran itu … karena Anda menghabiskan sebagian besar waktu untuk tertidur dalam es, tentu Anda tidak ingat dunia di zaman dulu.”

“… Kau mengatakan hal-hal aneh, Roswaal. Misalkan kita hendak mempersoalkannya , maka kau jauh lebih muda dariku. Um, tapi semisal ukurannya waktu yang dihabiskan, maka aku kalah.”

Emilia menghabiskan waktu satu abad di dalam es, terasingkan oleh dunia dan zamannya, adalah sejarah pribadi Emilia yang dia sendiri anggap memalukan.

Bahkan dari luasnya dunia ini, Emilia semestinya menjadi populasi paling tua. Namun kekurangan pengalaman dan pengetahuan yang cocok dengan usianya.

Termasuk ketidakmampuan untuk mengalahkan Ujian, masa-masanya di Sanctuary telah memberitahu banyaknya kelemahan yang dia miliki—termasuk sekarang.

Tetapi Roswaal hanya menanggapi kekhawatiran Emilia dengan dengusan belaka, menertawakannya.

Reaksi ini sungguh tidak terduga. Alis Emilia terangkat karena terkejut.

“Tunggu, Roswaal. Mengapa kau tertawa seperti itu?”

“—Maafkan saya. Benar-benar tidak pen~ting …. Membayangkan ketidaktahuan itu menciptakan suatu situasi yang layak ditertawakan lagi menyedihkan.”

“… Maksudmu, kau menertawakanku. Sampai di situ masih bisa aku mengerti.”

Pernyataan kurang ajar Roswaal membuat Emilia geram, kewaspadaannya bertambah. Mana aneh yang menyelimuti Roswaal. Seolah-olah terdesak oleh hal-hal yang dia sajikan, gerak-gerik Roswaal kepada Emilia kini telah berubah.

Emilia belum pernah merasakan hawa jahat dari Roswaal sebelumnya.

Roswaal yang dikenal Emilia kerjaannya selalu luntang-lantung, bicaranya agak songong, dan bercanda soal pasangan sinting Puck serta Subaru, tapi seperti mereka, tidak pernah berkata kasar pada Emilia.

Karena Roswaal perlu bekerja sama dengan Emilia demi tujuannya, dan berinteraksi sambil memperlakukannya di posisi lebih tinggi, sebagai Penguasa.

Menelusuri logika sederhana, Roswaal masa kini tidak mendapatkan manfaat dari tindakan itu kepada Emilia. Dia barangkali sudah kehilangan kesabaran terhadap kegagalan beruntun Emilia dalam menantang Ujian, ujung-ujungnya menyerah. Tidak apa-apalah. Sebab jikalau situasinya demikian, dia masih bisa mengerti dan menyetujuinya.

Tetapi ada hal lain yang membuat Emilia ketakutan lebih-lebih lagi.

“Roswaal … berapa lama kau menonton pertarungan Subaru dan Garfiel?”

“—Berapa lama, ya?”

“Aku menyadari keberadaanmu di sana … semenit lalu. Ketika Subaru dan Garfiel saling adu jotos … tepat setelah Subaru menggunakan Shamac.”

Menghabisi gerbangnya yang terengah-engah, entah berapa kali Subaru sudah menggunakan sihirnya.

Menguras habis mana yang dia punya dan merapalkan sihir seakan-akan mengerahkan titik-titik terakhir kekuatannya. Alhasil mantra yang dihasilkan jadi agak tidak efektif, malah membuyar.

Kalau dipikir-pikir, saat-saat itulah Emilia paling ingin menghampiri Subaru.

Laki-laki itu menghabiskan kekuatan terakhirnya untuk melancarkan Shamac di depan Emilia sebelumnya, dan hasilnya adalah kesalahan besar.

Tentunya tak ada orang yang menyalahkan Emilia karena merenungkan sosoknya saat ini, hampir saja membuat dia berteriak. Tetapi saat Subaru menusukkan kartu as-nya yakni kristal, ke dalam bahu Garfiel, itu adalah sebuah pertaruhan lima puluh : lima puluh, sekelebat emosi yang tidak mirip kepanikan muncul di hati Emilia.

Kehilangan perasaan paling mendesak itu, Emilia menyadarinya duluan.

Memperhatikan tanda-tanda abnormal dari seseorang yang sedang memperhatikan pertarungan, seperti dirinya.

“Awalnya, kukira kau ingin membantu Subaru mana kala dia sudah mencapai batas. Sepertinya Ram dan Otto-kun berusaha menghentikan Garfiel, jadi aku bertanya-tanya apakah kau di sini juga sebagai bala bantuan. Ataukah ….”

“A~nda seratus persen benar, saya datang ke sini memang ingin membantu Subaru-kun. Saya baru ingin mengatakannya, tapi Anda tidak per~caya.”

“Bahkan tanpa Puck, sekurang-kurangnya aku masih bisa mengetahui arus mana. Kau sedang menyaksikan pertarungan yang dirimu bisa intervensi kapan saja … tapi, yang sejatinya kau tuju adalah ….”

“—”

Mata berwarna aneh Roswaal menyipit seketika melihat Emilia.

Matanya menyipit seperti itu waktu melihat pertarungan. Sihirnya yang berada di puncak kekuatan dan siap ditembakkan kapan saja, tersasar pada Subaru.

“Jawablah, Roswaal—Kau ingin melakukan apa pada Subaru?” Emilia menghadapkan kepalan tangannya ke Roswaal.

Puck tidak bersamanya. Mana yang dapat dia kendalikan terbatas. Roh-roh mungil berupaya memperingatkan Emilia, mereka takut pada Roswaal dan sihir jahat yang dia miliki.

Semisal Emilia tidak dapat mengandalkan bantuan mereka sepenuhnya, lantas dia harus melakukannya sendiri.

“Tolong, jawablah. Kalau tidak, maka aku ….”

“Kita masih jauh dari pertanyaan apa pun, dan Anda ma~sih bimbang terhadap keputusan Anda. Tiada kebahagiaan kepada Anda. Atau mungkin begitu mengharapkan niat baik orang lain? Sepantasnya hari-hari itu adalah masa-masa Anda menelan kedengkian belaka. Bagaimana bisa Anda begitu mudah terbaca seperti ini?”

“—Ah.”

Roswaal membantai kata-kata permohonan Emilia dengan hasad tak terbelenggu.

Mata heterokromatiknya sama-sama menampakkan kebencian, tidak mengakui keberadaan Emilia sedikit pun. Sama halnya berbagai wujud mana yang berputar-putar kacau dalam dirinya.

Segala halnya berjalan menuju arah yang patut dipertanyakan. Emilia tanpa sadar menyentuh dada, kemudian ingat bahwa sentuhan familier itu telah hilang, lalu menggertakkan giginya.

Kelemahannya, secara tidak sadar mencoba mempercayakan kegelisahannya kepada Puck, membuatnya depresi.

Demi menghapus kelemahan itu, Emilia memperteguh kekuatan dalam matanya tatkala menatap tajam Roswaal.

“Kau tidak ingin menjawab pertanyaanku. Maka, aku juga tidak akan—ehh,” menahan diri, begitulah perkataan selanjutnya.

Ketika Emilia hendak menyebutkannya, dan mulai mengonsentrasikan mana, sesuatu menabrak sisi kepalanya.

Terkejut saat melihat rambut peraknya rontok, Emilia melihat ke samping, dan mendapati moncong naga tanah.

Itu Patrasche. Dorongannya—atau mungkin serangan, karena kelewat kuat jika dianggap dorongan—membuat mata Emilia membeliak. Moncong hitam naga darat itu sekali lagi menjedot dahi Emilia.

“Kau ….”

Mereka tidak dapat berbicara satu sama lain, namun demikian, sepertinya Patrasche bersedia membantu Emilia.

—Tenanglah. Dengan santainya, lakukan sebagaimana seharusnya.

Merasa Patrasche menegaskan demikian kepadanya, Emilia sadar naga itu tengah bersemangat. Lantas memejamkan mata. Ketika dia berbalik menghadap Roswaal, tangannya tidak lagi menyentuh dada.

“Beneran deh …. Saya tid~ak punya kenangan yang bagus bersama naga darat.”

Melihat perubahan wajah Emilia, Roswaal merasa jengkel kepada Patrasche. Naga darat itu menghancurkan rencana si pria badut. Yang artinya, Roswaal ingin Emilia menyerangnya.

“Aku tidak tahu apa niatmu. Misalkan dia tidak menghentikanku barusan, aku akan … tapi, nampaknya kau ingin aku melakukan itu.”

“Tolong pertimbangkan hal ini. Karena saya tidak su~ka tersakiti.”

“… Semua orang juga tidak suka kali?”

Alis Emilia kian memberengut. Bibir Roswaal terlihat mengendur. Emilia tidak mengetahui arti senyum itu.

Apa pun itu, kekuatan brutal bukanlah pilihan.

“Beritahu aku, Roswaal. Jelas-jelas kau tidak seperti dirimu yang biasa. Bagaimana bisa kau … seputus asa ini, beritahu aku.”

“… Putus asa. Hmm, aduh-aduh mengejutkan sekali.”

“Seakan kau mengabaikan semuanya, kau bisa saja diserang sihir tetapi tidak mempedulikannya … kau bisa mengaku tidak sedang putus asa, tapi aku tidak akan mempercayaimu.”

Emilia memahami perilaku destruktif saat sudah mulai muak terhadap diri sendiri, dan memperkenankan dirimu berperilaku seperti orang gila. Pertanyaannya adalah apakah melampiaskannya ke dalam, atau ke luar. Emilia adalah tipe ke dalam. Barangkali Roswaal juga sama.

“Bila benar begitu, bicaralah padaku. Aku tidak tahu bisa melakukan apa, tapi aku masih bisa membantu, maksudku sampai sekarang kau sudah banyak membantu, dan ….”

“—Tidak. Sudah cukup, Emilia-sama.”

Namun suara lirih Roswaal menolak tawaran Emilia.

Cara bicaranya bernada paling datar, matanya nampak kosong ketika menatap Emilia. Riasan badutnya—di balik kosmetik lelucon itu, Emilia tahu dia sedang menekan emosinya sampai-sampai terasa menyakitkan. Gadis itu menelan ludah.

Raut wajah Roswaal kelihatan seperti telah menyerah pada semua hal di dunia ini. “Cukup … maksudmu?”

“Cukup ya cukup. Saya tidak ingin Anda mengetahui rencana ini, kedua luka dan Ujian … bahkan Seleksi Raja tida~k berarti lagi—Karena dunia ini telah berakhir.”

“Dunia telah berakhir … maksudnya apa pula? Seleksi Raja dan Ujian tidak berarti … Roswaal, maksudmu apa!?”

Emilia berteriak berang, tidak mampu memahami perkataan Roswaal. Pria itu bermandikan kecurigaan. Tetapi parasnya yang suram, serta mana yang mengelubungi tubuhnya, begitu berlimpah dalam kehampaan sampai-sampai fisiknya bisa menciut.

Hati Roswaal saat ini sedang tidak stabil.

Walau Emilia mengetahuinya, pernyataan Roswaal tidak bisa diterima gadis itu.

Yang ingin ditinggalkan Roswaal adalah segala sesuatu yang penting bagi Emilia, sesuatu tak terjelaskan yang sampai diperjuangkan Subaru habis-habisan.

Teriakan Garfiel jelas-jelas menggambarkan pendiriannya.

Ingin menghancurkan Makam, dan menolak eksistensi Ujian.

Niatnya apa dengan membuat Penghalang Sanctuary tak tertembus? Mungkin kehidupan sehari-hari yang tidak berubah, begitulah perkiraan Emilia.

Perempuan itu bersimpati kepada ketetapan Garfiel.

Tanpa pembaharuan, tidak berubah-berubah. Jalan itu sederhana lagi nyaman. Misalkan punya kehidupan duniawi yang kau habiskan sehari-harinya di tempat damai nan berharga, maka tak seorang pun bisa menyangkal keinginan untuk tetap tenggelam dalam lingkungan itu.

Tetapi Subaru dengan tegas membantah keinginan tersebut, menunjukkan kegigihannya, dan membuang jauh-jauh konsep stagnan.

Emilia identik dengan Subaru dalam hal keputusan, dia ingin adanya perubahan kepada Sanctuary. Namun alasannya tidak setegas Subaru, tidak juga dia bisa memhamai perasaan masyarakat tempat ini sebaik Subaru.

Sanctuary merupakan langkah penting untuk mencapai tujuannya, tidak lebih dari batu loncatannya. Apa yang dipikirkan orang lain mengenai perubahan karena campur tangannya? Sepenuhnya fokus pada pemikiran pribadi, Emilia gagal mengajukan pertanyaan sejelas ini.

Yang bertanya malah Subaru.

Sekali lagi membiarkan pria itu memikul bebannya, mengabaikan segalanya.

Karena Emilia sadar betul penyajian itu eksis.

Tetapi Roswaal berusaha menendang hadiah yang Subaru ambil ini.

“Roswaal … kau ingin meninggalkan apa? Kau … kau dan aku baru saja mulai, benar? Dan di tengah-tengah jalan, kau malah … ini tidak termaafkan!”

Emilia menggeram, membuat alis Roswaal bereaksi.

Segumpal kekuatan kembali pada Roswaal selagi menutupi mata biru dengan tangannya, sedangkan mata kuning gemetaran.

“Dimulai dengan Anda dan saya? Bicara apa sih?”

“Hah ….?”

“Semuanya berawal dari saya dan Guru saya—Tentu saja, bu~kan Anda. Jadi, membiarkannya berakhir semestinya adalah kebebasan diri saya dan Guru. Itu hal jelas.”

“Kau tidak bisa begitu saja melakukannya!”

Bahkan menghadapi aura luar biasa, Emilia masih berani mengangkat suara.

Dia memelototi si badut, mengayunkan tangannya ke atas.

“Mungkin berawal dari kau dan gurumu ini … tapi masalahnya tidak cuma terkait dengan kalian berdua. Kita sudah menyeret banyak orang, membuat masalah kepada banyak orang, dan terus saja seperti itu! Kau tidak bisa mengakhirinya sebebas itu!”

“Jalannya tengah mengarah ke penghujung. Jadi a~pa untungnya membiarkan semuanya berakhir se~belum kita mencapai ujung sana? Memang kita kehabisan harapan …. Tapi masih bisa menyerahkannya kepada diri kita selanjutnya dan Subaru-kun.”

“Kepada Subaru?”

Menyerahkan harapan kepada Subaru, artinya apa?

Emilia melirik Subaru yang terbaring, memperbarui kesadarannya bahwa tutur Roswaal pastinya tidak benar.

Tentu saja.

Subaru sendiri sudah berusaha lebih dari cukup. Jikalau harapan ditaruh kepadanya, lantas cowok ini akan mewujudkannya seberlebihan mungkin. Sudah selayaknya mereka tidak mendambakan lebih darinya karena pengharapan itu sendiri sudah terwujud. Saat kita punya hutang budi, sudah kodratnya untuk dilunasi.

“Bisa-bisanya kau bilang jalan yang Subaru buka mengarah ke ketiadaan? Subaru berusaha mati-matian untuk membuka jalan tertutup ini. Bukankah demikian tujuan seluruh pertarungan ini?”

“Benar atau tidaknya sama saja menuju jalan buntu. Tatkala dihadapkan jalan persimpangan ini, perjuangan apa~ pun akan sia-sia. Sebab, seluruh kronologi kejadian telah tertulis di sini.”

Roswaal mengeluarkan buku tebal hitam dari sakunya.

Melihat barang asing, Emilia merasa penasaran, meraba-raba dadanya. Matanya terbuka lebar. Buku itu memendar aura yang begitu buruk.

Tidak punya judul atau sampul depan, terlihat seperti buku biasa-biasa saja, entah kenapa melihatnya saja membuat Emilia tertekan sampai mentalnya hampir labil.

“Buku itu ….”

“Replika Kitab Kebijaksaan. Atau barangkali kitab yang lebih unggul. Bagi semua orang terkecuali diri saya sendiri, tulisannya nampak seperti coretan tak terbaca, tetapi bagi saya tidak. Kitab ini merupakan teks yang menjelaskan seluruh sejarah sejati, yang wajib diikuti.”

“Sejarah yang wajib diikuti … maksudmu seperti Batu Naga?”

“Andai kata ditelusuri kembali latar belakangnya prinsip yang diterapkah adalah sama, itulah yang Guru saya ajarkan.”

Hanya saat Roswaal mengucapkan kata Guru, emosi mengalir kembali ke matanya.

Nada bicaranya seakan membayangkan orang tercinta, seolah satu kata empat huruf itu sungguh melantunkan emosi yang tidak bisa ia kekang, sebuah diksi penuh makna. Roswaal sudah mampu memikirkan orang lain lewat cara ini, tidak ada masalahnya sama sekali. Roswaal mampu, tetapi berusaha menganggap semua yang dia lihat tidak berharga.

“Maksudmu, karena kita menempuh jalan menyimpang dari yang dikatakan kitab, kau akan merusak segalanya? Tapi apa faedahnya, lain dari kitab bukan berarti dunia telah berakhir ….”

“Anda mengatakan hal yang persis sama sebagaimana perkataan Subaru-kun. Apakah ide-ide demikian darinya?”

“—Ah!”

Roswaal cekikikan. Merasa perkiraannya tepat sasaran, Emilia menganga.

Ekspresinya membuat Roswaal mendesah bosan.

“Tutur pinjaman, opini yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Bahkan gagasan diri Anda yang menantang Ujian adalah paksaan … Wa~h, saya takkan menyalahkan Anda. Adalah saya dan orang-orang terdekat Anda yang memintanya, bukan Anda sendiri. Imbuh tertutur lewat fakta diri Anda yang nampak kosong, dan tidak kuasa melakukan sesuatu selain ini … Subaru-kun memaksakan hal-hal kejam.”

“Hal-hal kejam ….”

“Subjeknya adalah dia, jadi te~ntu saja Subaru langsung membisikkan hal demikian tanpa menjelaskan alasan logis atau apa pun perkara mengapa Ujian mesti ditaklukkan, cuma memberikan ceramah motivasi, ya? Subaru memaksakan tujuannya kepada Anda, dan mengklaim bahwa Anda mampu melakukannya bila bertekad. Betulan deh. Se~harusnya aku tahu. La~gi pula, dia dan aku keturunan yang sama.”

“Kau dan Subaru adalah sama? Maksudnya?”

“Maksudnya, kami memaksakan idealisme masing-masing kepada wanita tercinta.”

Sebuah penegasan.

Roswaal menutup satu mata, mata kuningnya tertuju pada Emilia. Senyumnya sungguh kuat seraya mengutarakan maklumat tersebut kepada Emilia yang terdiam.

“Apakah kata-kata barusan menyentuh Anda? Deklarasi yang apik bagi telinga, benar? Dia memanjakan Anda, mengekspos berbagai idealisme kepada Anda, memperlakukan Anda dengan lembut dan hati-hati bak barang rapuh. Tidak sedetik pun memikirkan bahwa Anda lemah nan cengeng, bahwa sebenarnya Anda takutan dan ingin melarikan diri saja, bahwa sebetulnya Anda mempunyai hati yang cinta pada hal-hal duniawi. Subaru tidak tertarik sedetik pun pada diri sejati Anda. Yang membuatnya tergila-gila adalah versi cantik diri Anda—Be~tulllllllll?”

“—”

“Saya juga begitu. Bersama beliau, saya jua melihat yang indah-indahnya saja. Anda memang cantik, pintar, tiada lagi yang lebih hebat dari Anda. Begitulah cara saya menggoda beliau, yang terus saya ujar, memfokuskan cinta saya seolah-olah memegang sebuah karya seni dari kaca … meskipun semuanya tidak mengandung makna.”

Berbicara cepat, Roswaal memalingkan matanya, tampak gusar.

Apakah dia membicarakan Subaru, ataukah membicarakan dirinya sendiri? Malah mungkin Roswaal sendiri tidak bisa membedakannya.

Terperangah oleh momentum, Emilia mengambil nafas pendek.

Biar dapat mengatakan apa yang mesti dikatakan, kendati terintimidasi oleh kelakuan Roswaal.

“… Itu aja nih?”

“—”

“Apa itu aja kesamaan antara dirimu dengan Subaru?”

Roswaal memandang curiga Emilia.

Hatinya mulai ragu. Kebimbangannya untuk mengujar suatu hal merupakan jawaban pertanyaan Emilia. Berarti, jelas, Emilia sendiri yang harus menjawabnya. Kudu memperbaiki pemikirannya.

“Kalau itu saja, maka ….”

“—”

“Kau dan Subaru sama sekali tidak sama.” tegas Emilia.

Benar, Subaru tidak mengatakan semacam idealisme, tidak juga menjelaskan pentingnya membebaskan Sanctuary kepada Emilia.

Tetapi argumen Subaru tentu tidak sepenuhnya tulus demi kebaikan dan sebagai penyejuk hati belaka. “Jadi, Subaru, dia bilang aku ini wanita yang menyusahkan.”

“… Apa?”

“Kenyataannya memang begitu, melakukan banyak hal tapi malah membuat masalah besar. Selalu saja meributkan apa-apa yang telah pergi, berhenti memberi orang lain harapan kosong itu. Setiap kata yang diludahkan dari mulutmu adalah dusta, kau kekurangan semuanya, bahkan dia pun tidak tahan melihatku begitu—Subaru mengatakan semua itu kepadaku.”

“—”

“Subaru memperhatikan diriku dengan benar. Kini aku pikir tidak bisa terus menunjukkan sisi burukku. Kau berpura-pura sedang melihat masa depan, nyatanya tidak melihat apa-apa. Kau tidak seperti Subaru.”

Bilamana Natsuki Subaru adalah seseorang yang hanya membayangkan sosok Emilia, dia sampai sekarang pasti masih memeluk lutut di Makam.

Garfiel juga. Jika musuhnya bukan Subaru, yang tahu lebih dari sekadar idealisme tetapi tetap memilih mendebat idealisme, maka Garfiel takkan mendengarkan.

Subaru mengetahui kelemahan Emilia, tapi masih bilang dia mencintainya.

Subaru tahu kebaikan Garfiel, tapi menuntutnya untuk berubah.

Siapa pun mereka. Kalau mereka ingin tetap terjebak di satu tempat, Subaru akan berlari dan menegur merkea.

Kau tidak boleh di sini, masih banyak hal yang dapat kau perbuat, angkat kepalamu, lihatlah ke depan, ayunkan tinjumu, kau tidak harus diam.

—Kau tidak bisa tinggal diam selamanya.

“Natsuki Subaru membuat keputusan benar di Sanctuary ini ….? Hal konyol semacam itu mustahil … kalau memang begitu, tulisan Kitab Kebijaksanaan ini ….”

“Memoriku telah bangkit, dan aku sungguh takut. Puck telah pergi, dan aku hampir saja jadi gila.”

Perbedaan antara isi kepala Roswaal dan jawaban Subaru membuat si badut kebingungan.

Emilia meletakkan tangannya ke dada, tidak untuk merasakan kehadiran di sana, melainkan detak jantungnya.

“Kupikir, tatkala mengingat semuanya, aku akan berubah menjadi orang lain. Pikirku saat teringat semuanya, kepribadian diriku selama ini adalah salah.”

Di dalam benaknya bahkan masih tayang seorang anak gadis yang tersesat.

Saat gadis itu merefleksikan gambar identiknya, seseorang yang tak dapat dikembalikan telah muncul.

Ketika ingatan-ingatan itu muncul, dunia Emilia akan berubah.

Emilia takut pada perubahan itu, lebih ingin menolaknya, tapi dia tahu perubahan itu perlu.

Entah apa perubahan itu, tetap takkan membuat jalan yang dia lalui menghilang.

Seberubah apa Emilia, meskipun dia menjadi pribadi yang jauh berbeda dari dirinya yang sekarang, bukan berarti perasaan yang dia dekap sekarang itu salah.

Emilia mungkin sedang buntu, mungkin lagi terkunci, tapi ujung-ujungnya dia akan jalan lagi.

Melihat mana arah yang menuntun ke depan, dan melanjutkan perjalanan.

“Saat aku ingin melakukan sesuatu, ketika ingin mengubah sesuatu, tatkala itulah hal yang ingin kulakukan—ada seseorang yang selalu bilang tidak apa-apa, dan menuntunku ke depan. Itulah yang aku pelajari.”

“Itu bohong!”

“Bukan kebohongan sama sekali. Subaru bilang dia percaya padaku, dan aku juga ingin percaya padanya. Walaupun perkataannya tidak masuk akal sama sekali. Meskipun ingin sekali aku timpal itu bohong …. Harus aku anggap bukan kebohongan.”

Emilia tidak ingin membiarkan label pendusta keluyuran sambil berkotbah tetang kesalahan-kesalahan Emilia yang dilimpahkan kepada Subaru. Natsuki Subaru menegaskan bahwa Emilia bisa melakukannya.

Dan saat ini, Emilia membuat dusta.

Tapi jika Emilia ingin lebih bersahabat dengan orang lain, serta meraih ganjaran usahanya, dusta itu tidak jadi dusta.

Melainkan orang-orang sebut sebagai Harapan.

“Mengubah dusta menjadi harapan, dengan melakukan hal yang kulakukan sekarang, itulah keinginanku.” tutur Emilia, sebagaimana yang mati-matian Subaru jejalkan ke otaknya.

Yang ada dalam diri Emilia, tadinya tidak bisa dia wujudkan, akhirnya berhasil ia rakit menjadi kata-kata.

Dia tidak tahu apakah jawaban ini adalah benar.

Yang mengubah hal mustahil menjadi tidak mustahil adalah aksi Emilia.

Dan dia akan melanjutkannya tanpa ragu-ragu, tanpa bimbang.

“—Konyol!”

Wajah Roswaal memucat sembari melangkah mundur.

Tenangnya yang biasa telah hancur, muka kosong yang dia pasang hingga kini, suaranya tercekik dan ekspresinya panik, merinding ketakutan terhadap jawaban Emilia. Dia menggerakkan tangan, menunjuk Emilia. Suara teriakannya serak.

“Kenapa, bagaimana! Bagaimana Anda baru mencapai jawaban itu di sini?! Kenapa Natsuki Subaru bisa mengutarakan hal yang tidak bisa kuutarakan kepada Guru!? Dia, sekarang ini! Di sini! Tidak boleh memperoleh perasaan itu!”

“Aku juga ingat yang kutakutkan. Sekarang aku tengah menguatkan hati untuk menghadapinya … kau takut apa?”

“Bukankah jelas! Penyimpangan dari ramalan Kitab! Waktu berlanjut tanpa proses sejarah yang tertulis di sini, dan tidak bisa menepati janji reuni! Memangnya apa lagi!”

“Roman-romannya bukan itu yang sedang kau lawan sekarang.”

 “—!”

Api kemurkaan membara di mata Roswaal.

Menyebutkan amarahnya karena tidak memahami mental Subaru. Roswaal ingin merasakan apa yang dia rasakan di masa lalu. Pendapat Roswaal mengenai Subaru bahwasanya anak itu adalah satu rumpun mungkin tidak salah, tetapi yang Roswaal yakini semestinya jalan hidupnya.

Barangkali dia pikir dirinya dan Subaru mesti mengikuti aliran yang sama sebagaimana mereka menghadapi kekasih masing-masing, dan pada akhirnya merasakan luka serupa.

Keyakinan tak tergoyahkan itu sekarang hampir hancur.

Begitulah perasaan Emilia perkara Roswaal yang kondisinya saat ini kacau.

“Ughhh, ada apa sih! Kenapa semuanya harus terjadi padaku!”

Roswaal menutup mulutnya, tidak peduli dengan cat yang jatuh, pipinya terpelintir.

“Apakah aku yang ditelan dalam rencananya saat pertaruhan ditentukan? Garfiel kalah, Emilia sembuh, semua itu sudah diperkirakankah? Apakah aku sudah salah sejak menyusun rencana melawan kemampuan Sage? Tapi, apa tujuannya ….”

“Roswaal?”

Terserap dalam badai pemikiran yang memusingkan, eksistensi Emilia tercabut dari kesadaran Roswaal.

Yang dia katakan terang-terangan begitu mungkin cara mengoreksi dunia yang terlanjut menyimpang dari rencananya.

Tetapi tidak ada metode untuk meraih dunia seperti itu lagi.

Emilia tidak tahu nubuat apa yang tertulis dalam kitabnya.

Roswaal terpojok. Penyimpangannya pasti besar nian.

Sangat-sangat menyimpang sampai-sampai bisa disebut sebagai dunia yang berbeda—

“—Ahh, aku paham.”

Roswaal menggumamkan sesuatu.

Suaranya kembali mengindikasikan kecerdasan, Emilia waspada karena tengah berurusan dengan rasa sebalnya. Melalui percakapan logis, mereka bisa menemukan titik kompromi dan—

“Ti~dak perlu mengkhawatirkan apa pun. Lagi pula, masih ada Kontrak. Tidak ada yang membingungkan soal apakah dia sukses mewujudkan syarat-syarat sahnya.

“Apa yang kau katakan? Roswaal, ada apa ….”

“Tidak apa. Sama sekali bukan apa-apa, Emilia-sama. Saya mohon maaf karena telah membuat Anda risau juga kesulitan. Sebaiknya Anda lanjut mewujudkan keinginan Anda, saya mengharapkan hal demikian.”

Membungkuk, Roswaal membuang sikap badutnya dan tersenyum.

Emilia tentu saja tidak setuju begitu saja. Karena berubah total dari sebelumnya, dia balik ke tindak-tanduk normalnya.

Tingkah kacaunya yang barusan dianggap lebih Murni gilanya.

“… Bertindak sebagaimana harapanmu. Kau mengharapkan apa padaku?”

“Jelas saja—Anda yang menantang Ujian, hasilnya tentu harus positif.”

Roswaal tidak menyebutkan dengan pasti siapa yang akan diuntungkan oleh hasil-hasil itu.

Barangkali Roswaal ‘kan mengikuti jalan mana pun, firasat Emilia berkata begitu.

Dia tidak mengerti mengapa Roswaal memahaminya.

Atau kenapa dia jadi secongkak itu, mengapa pula ditelan mentah-mentah dan dianggap oke-oke saja.

Banyaknya hal-hal yang tidak dia mengerti sebesar lautan. Tetapi ….

“Saat ini, kau … tentunya tidak ingin memberitahuku, benar.”

“….”

“Tidak apa-apa. Tidak akan kupaksa kok. Aku tahu tidak layak mengetahuinya sekarang—Tapi tidak bisa terus kau sembunyikan selamanya.”

“—Memang menenangkan. Apabila mengetahui kebenarannya, dan kini diri Anda telah sembuh, mari kita lihat apakah betul-betul dapat sesuai perkataan Anda.”

Mengakhiri pernyataannya yang agak mendendam, namun pernyataan yang juga Emilia rasa sebagai permohonan.

Sesudahnya, Roswaal balik badan dan berjalan. Kemungkinan besar dia kembali ke penginapan tempat istrirahatnya.

Ujung-ujungnya, Emilia tidak tahu alasannya ke sini dan menyaksikan pertarungan. Namun kumpulan mana maha besar dalam tubuhnya bak puncak keajaiban masih bertahan.

“Oh—Emilia-sama, satu peringatan.”

“Ya?”

Roswaal berhenti, mengangkat jarinya. Alis Emilia terangkat.

Roswaal tersenyum kecut pada Emilia yang posisinya lengah setelah selesai berbicara bersama orang yang punya niat buruk.

“Soal Garfiel …. Alangkah lebih baik bila Anda tidak meremehkan sifat~nya. Obsesinya tidak sedangkal itu sampai-sampai satu kekalahan dalam adu jotos bisa merubah pikirannya.”

“—Dimengerti.”

Emilia menerima peringatannya. Setelahnya, Roswaal meninggalkan tempat kejadian.

Melihatnya pergi, menyadari satu-satunya hal yang tersisa di sana hanyalah nafas Emilia serta naga darat hitam yang memelototi Roswaal sampai akhir.

Juga nafas dalam dua orang pria yang tidak sadar.

“Huhhhh ….”

Alis Emilia bergetar sembari mendesah dalam-dalam.

Mendapati mata Patrasche melebar atas responnya, Emilia tersenyum.

“Tidak apa-apa. Berkat dirimu aku bisa tenang …. Tapi yang barusan sangatttttt menegangkan. Bisa-bisa kita ribut sama Roswaal.”

“—”

“Hmm. Aku tidak suka terlibat dalam pertarungan tanpa faedah. Kenapa juga Roswaal begitu? Mungkin Subaru tahu.”

Emilia membalas mata penuh perhatian Patrasche saat dia berlutut di samping Subaru yang berlumuran darah, lalu mengangkat kepalanya pelan-pelan.

Jemarinya mengusap darah yang mengering saat membelai wajah bengkaknya. Wajah Subaru berkedut, seolah tergelitik rasa sakit.

“Perlu disembuhkan. Subaru dan Garfiel tidak suka merasa sakit.”

“—”

“Ah, tidak apa-apa, tidak perlu secemas itu. Aku juga agak memikirkan kekuatanku karena Puck tidak di sini, tapi kalau soal penyembuhan, roh-roh minor masih bisa membantu.”

Emilia berbicara dengan roh-roh di sekitarnya, cahaya samar mereka menyelimuti sosok Emilia saat meminta bantuan.

Cahaya lembut meliputi Subaru serta Garfiel, luka-luka mereka mulai disembuhkan.

Ekspresi Subaru menyantai. Emilia tersenyum tipis saat kepala cowok itu ditempatkan ke pangkuan si cewek.

Sudah berapa kali dia meminjamkan pangkuannya?

Emilia sudah diberikan banyak-banyak hal, sangat banyak sampai-sampai tidak tahu lagi cara membayarnya.

“Saat kau terbangun, ada sangatttt banyak  hal yang ingin aku tanyakan.”

Gumamnya, jari-jari Emilia menyusuri poni Subaru.

Wajah pria itu mengerut. Pipi Emilia jadi rileks.

—Sepuluh menit kemudian Otto bersama Ram muncul dari dalam hutan, Ram digendong Otto, mereka semua kembali berkumpul.

googlec60a1a085c9332b3.html

One Reply to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 114”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *