Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 113

Posted on

Mustahil Permata Bisa Muncul Mendadak

CH 113.jpg

Penerjemah : Bell Cranell

Matanya terbuka penuh. Darah mengalir deras dalam dirinya sampai-sampai pembuluh darah bisa tersumbat. Namun tetesan merah tua dari hidung dan lukanya tidak kunjung usai—apakah dia tidak menginginkan darah? Mengeluarkannya barangkali cocok untuk otak kacaunya.

Semua pukulan yang dia terima, penglihatan Subaru agak terputus-putus saat dia menggelengkan kepala dan membuat pemikiran-pemikiran lain.

Rasanya dia berdiri di sini cuma untuk kena pukul lagi.

Subaru tidak berdiri diam saja, andai kata berasumsi hendak menonjok atau menendang balik, serangannya takkan kena. Seluruh serangan yang dia serap membuat darah muntah keluar, memasang senyum tipis sambil meneriakkan seranganmu tidak kerasa! Kembali berdiri, dan terulang lagi kejadian tersebut.

Betulan tidak kerasa.

Baik bagian dalam maupun luar tubuhnya mengerang, semua isi tubuhnya langsung pecah dan berhamburan. Tulang-tulang yang menopang tubuhnya terasa retak-retak menjadi debu, fakta segenap anggota tubuhnya masih sigap bergerak sesuai kehendak merupakan penggambaran keajaiban.

Akan tetapi, tidak satu pun hal-hal demikian adalah hasil dari mukjizat.

Setiap kali fokusnya hendak jatuh, mau buyar, dia akan diseret kembali menuju kesadaran sambil ditegur keras.

Dari dalam tubuhnya terderak rasa sakit pedih nan menusuk—kelakuan spartan yang teguh, mempertahankan otaknya kuat-kuat.

Walaupun Subaru sendiri yang mengundang rasa sakit itu, pipinya masih terpelintir tanpa henti. Menggunakan semacam trik biar dirinya tidak pingsan.

Trik seperti apa pun, macam-macam strategi Garfiel untuk menghentikan Subaru.

Namun Subaru terus-terusan bangun tanpa peduli, tidak berhasil memberikan damage yang betul-betul melumpuhkannya, semua itu adalah keputusan pribadi Garfiel.

Mana kala Subaru kena serangan terkuat Garfiel, maka bocah itu auto-mati. Satu serangan saja sudah cukup mengubahnya menjadi isi bongkahan tubuh yang tumpah-ruah ke mana-mana.

Luka parah yang diterima Garfiel dari pertarungan melawan Otto dan Ram membuatnya tidak bisa melancarkan serangan terkuat. Namun Garfiel berusaha untuk tidak melukai tubuhnya di sini, dia masih punya cukup kekuatan untuk menghabisi Subaru dalam satu gigitan dan ayunan cakar.

Hal demikian tidak terjadi karena dirinya tidak tega meninggalkan luka fatal pada tubuh lawannya apa pun yang terjadi, itu adalah keputusan Garfiel.

Garfiel baik nian—begitulah penjelasan situasi terkini.

Para Lewes, Frederica, bahkan Ram, mereka semua terlibat dengan Garfiel.

Tindakan kasar dan brutalnya membekaskan sensitivitas tak terbayangkan dalam hati Subaru. Kendati Garfiel berkata kasar, dalam hatinya, dia betul-betul gigih dan fokus untuk melindungi sesuatu.

Kalaupun dia mendapati seseorang tak termaafkan, seseorang yang hendak menghancurkan Sanctuary.

Bahkan musuhnya adalah orang semacam itu, Garfiel tidak bisa begitu saja memutuskan untuk membunuh mereka.

“—”

Subaru tahu dia tengah memanfaatkan sifat juga kebaikan Garfiel.

Memanfaatkan kepribadian Garfiel telah menjadi prinsip perlawanan Subaru selama ini. Garfiel sebagai lawannya yang kelewat baik, maka Subaru entah bagaimana yakin dirinya tidak akan dibunuh.

Terlepas hal demikian, Subaru sedang menghadapi Garfiel yang terluka parah, situasinya kacau.

Kalau saja kondisi Garfiel sedang mantap-mantapnya, Subaru seratus persen tidak bisa kabur. Karenanya dia berterima kasih kepada Otto dan Ram, mereka berdua berusaha habis-habisan mensukseskan rencana Subaru.

—Mungkinkah mereka sudah mati?

Karena kepribadian Garfiel mencegahnya untuk membunuh Subaru, tidak terbayangkan seumpama dia benar-benar merenggut nyawa Otto dan Ram. Bahkan jika betulan terjadi, pasti sudah disebutkan dalam tindak-tanduk Garfiel. Paling pentingnya lagi, sekiranya Garfiel telah membunuh Ram, lantas tidak perlu lagi dia muncul di depan Subaru dalam wujud manusianya. Takkan berubah, masih dalam wujud hewannya.

Garfiel tidak membantah pernyataan Subaru tentang kelalaiannya untuk membunuh mereka.

Berarti hasil akhir pertarungan melawan Otto, Ram, dan juga Garfiel adalah mereka bertiga masih selamat.

“—σσσσσσσ”

Garfiel memeluk diri sendiri saat tubuhnya mulai berubah.

Tangannya, kakinya, membesar bukan dua namun tiga kali lipat, ketebalan dan ukuran tubuhnya berubah menjadi sesuatu yang kuat. Cakar serta taring tajam layaknya bilah pedang sedangkan wajahnya menyerupai kucing.

Bulu keemasan melapisi kulit telanjangnya. Empat kaki ke atas tanah adalah tubuh kekarnya.

—Yang terwujud saat ini, terpantul dari sepasang mata Subaru adalah harimau emas.

Demi menghentikan Subaru harimau itu mesti membunuhnya.

Setelah berkali-kali mengayunkan tinju, sang penjaga Sanctuary akhirnya bertransformasi.

Semata-mata untuk membunuh Subaru, Garfiel membuat keputusan itu.

Garfiel akan memanggil mahluk yang tertidur di dalam dirinya, memanggil naluri binatangnya, menjadi harimau dan mengambil nyawa Subaru.

Semuanya dalam wujud hewannya, mengakhiri semua ini tanpa menyaksikan apa-apa. “Di sinilah letak kesalahanmu, Garfiel.”

Ketidakmampuannya untuk membunuh musuh, tidak tega merenggang kesadarannya dengan pukulan hebat, adalah karena kebaikannya. Memutuskan untuk melindungi Sanctuary, melindungi dirinya dan orang-orang terdekatnya, juga kebaikan.

Namun melarikan diri karena tidak kuasa melihat hasil tindakannya, semuanya demi membunuh orang yang tidak bisa dia bunuh, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebaikan. Melainkan kelemahan Garfiel.

Natsuki Subaru tidak ragu-ragu untuk memanfaatkannya.

“Kumohon, tubuhku. Jangan roboh dulu!”

Mata bengis Garfiel berubah, tercermin diri Subaru.

Tubuhnya menekuk. Pertanda bahwa sang binatang buas hendak merobek-robek Subaru.

Waktu-waktu keputusan. Subaru menggertakkan giginya dan fokus pada pusat tubuh—kepada gerbang yang terikat persis di pusar, lalu berteriak.

“—SHAMACCCCCCCCCCC!”

“—”

Tatkala harimau itu membuka mulut, dunia menjawab panggilan keras si anak muda. Kabut sehitam tinta meletus di ruang antara Subaru dan hewan buas, menenggelamkan sosok tingginya. Beberapa saat sebelum tenggelam, ia mengayunkan cakarnya, tetapi tidak mengenai apa-apa saat ditelan asap.

Begitu kegelapan menelan binatang, kekalutan menelan mahluk itu hingga tak nampak apa-apa lagi.

“Uah, ughh ….”

Kala selesai menonton peristiwa kabut, sebuah dampak seperti pukulan rasanya sedang menyerang tengkoraknya

Rasa sakit tajam mengebor ke dalam tengkoraknya dari dalam maupun luar, membuat penglihatannya memerah tua, kunang-kunang berdansa ke sekeliling. Tak seperti pedihnya pukulan tumpul Garfiel, rasa tajam ini tidak ada bandingannya, seolah-olah menguras jiwanya—Subaru berhasil memakan lara, menelannya.

Efek samping penggunaan gerbang mana, Subaru sudah diberitahu hal demikian.

Penyembuh terkuat ibu kota bilang dirinya mungkin tidak bisa menggunakan sihir lagi. Tidak menuruti syaratnya, Subaru kembali menggunakan kekuatan gerbang.

Merasa gerbang tak kasat matanya terbakar. Fondasi gerbang di pusat pusarnya berputar cepat, merasakan sesuatu yang jauh dan terpisah dari tubuhnya, sesuatu yang berbeda.

Rasa sakit karena sesuatu yang kasar, kacau, telah pupus.

 Sekaligus perasaan kehilangan pada sesuatu yang takkan kembali, membuat hati Subaru tenang.

“Terima kasih.”

Untaian yang terus dia andalkan telah terputus.

Subaru tidak komplain. Opsi yang sudah sepatutnya kurang telah benar-benar teriliminasi.

Bagaimanapun juga, berkat kekuatan itulah dia berhasil bertahan, karenanya si pemuda merasa bersyukur.

Sebab ini adalah perpisahan.

“—”

Subaru melihat ke depan.

Rapalan sihir terakhirnya telah gagal merubung wujud ganas Garfiel. Sedang kepalanya terselubung di tengah-tengah asap, tubuh bagian kanannya mengintip keluar.

Subaru sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi sekaliber ini hasilnya.

Mengeluarkan nafas lewat hidung. Gumpalan darah yang terjebak di sana mulai tumpah. Subaru menyekanya dengan lengan baju sembari melangkah maju walau kakinya goyah.

Merogoh saku. Merasakan barang keras, lega barang itu tidak rusak selama pertempuran berlangsung. Apabila barang ini hilang, habis sudah harapan Subaru.

“—”

Kabut bertinta itu mulai menipis.

Berapa detik berlalu? Sepuluh? Lima? Bahkan mungkin lebih pendek. Subaru betul-betul tidak punya keahlian sihir setitik pun dalam dirinya.

Tubuh bagian kanan harimau itu mulai nampak. Terheran-heran, tak bergerak.

Meskipun sihirnya tidak sempurna, Subaru tidak berpikir dua kali untuk melancarkannya

Tiada pertimbangan dalam tindakannya.

Kaki kanan, kaki kiri. Jauh lebih lamban dari berlari. Namun saat dia sudah mendekati mahluk besar ini—

“Tunduklah, Garfiel.”

—Dari sakunya, Subaru mengeluarkan kristal biru bersinar dan mendorongnya ke depan—menusuk lebih tepatnya.

Cahaya mendadak tumpah ruah.


 

“Setelah kontrakmu dengan Emilia terputus, kau kembali menjadi roh bebas … betul?”

“Yah, kurasa begitulah. Meskipun bebas, kekuatan individiku masih tetap kuat. Dirimu yang biasa-biasa saja takkan kuat menampungku. Lagian, entah siapa orangnya, aku tidak ingin mengontrak siapa pun kecuali Lia.”

“Jadi mana dalam dirimu … banyak banget?”

“Yap. Misalnya, Subaru, coba saja kau mengontak diriku, bahkan meminjam kekuatan dari mana sekitar …. Kira-kira kau akan mati dalam, satu hari.”

“Uh …? Kedengarannya lebih sukar dari perkiraanku. Tapi cukupkah untuk membuatmu bisa bertarung?”

“Hari yang kita bicarakan adalah waktu aku tidak terwujud dan kau semata-mata membawaku berkeliling ria. Kalau mau aku mewujud, hmm, sepertinya kau akan mati dalam lima detik. Mau coba?”

“Skip deh. Tapi, yah, sebenarnya apa maksud diriku yang punya afinitas dengan roh?”

“Ngomongin roh, barangkali lebih tepatnya kau memerlukan roh. Kendati bukan itu pula yang aku maksud … aku adalah roh unik. Aku adalah roh yang cuma cocok dengan Lia.”

“—”

“Recana kembali menyusun kontrak setelah kontakku yang sebelumnya rusak dan mengangetkan Lia benar-benar tidak terperikarakan.”

“Aku tidak menanyakan apakah rencana ini akan mengagetkannya atau tidak. Tapi … kau bercanda, ya? Keknya ideku buruk.”

“Maaf. Walaupun berhasil juga, ada masalah dalam bagian perantara … jujur saja, karena sudah sampai sini, kita barangkali bisa mengurusnya.”

“Perantara … sesuatu semacam kristal yang tergantung di leher Emilia?”

“Kristal itu betulan spesial. Sayangnya mestinya ada sesuatu yang terbuat dari bahan yang sama di sekitar ini, paling tidak kita bisa meminjam sedikit saja. Mau yang mana pun, walau aku terjebak dalam kristal, dan terpenjara seperti ini terus, mana-nya takkan ….”

“Jadi, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.”

“Hm? Apa?”

“Kesampingkan entah kontrak atau tidak, apakah mungkin memasukkanya dalam kristal bila kau menyetujuinya? Anu, selama ada suplai mana, bukan.”

“Benar. Namun mengamankan suplai mana-nya akan sangat-sangat sulit. Karena keberadaanku adalah penguras mana. Menguras dan menguras, hingga kau mati kekeringan ….”

“—”

“… Subaru?”

“Hei, Puck.”

“Hmm?”

“Jadi pengganti kristal yang kau sebutkan barusan, ada dimana?”


—Menikam bahu kanan si harimau, terpendar cahaya menyialaukan, sebuah kristal biru.

Entah dipoles atau diampelas, ujung tajam permata itu masuk ke kulit sang hewan, menghisap kekuatannya.

“—Aghh!”

Tersilaukan oleh cahaya, Subaru jatuh ke belakang seolah-olah tertiup angin ribut. Dia roboh, mundur selagi menyaksikan pemandangan di depannya, harimau yang masih menelan asap tidak menyadari kristal besar tengan tertancap di tubuhnya.

Kristal yang cukup besar sampai bisa digenggam tangan telah mengeringkan mana mahluk yang ditusuknya. Disimpan dalam saku saja sudah membuat Subaru capek.

Apa yang terjadi tatkala efeknya langsung masuk ke tubuh? Jawabannya ada di depan sana.

“—Uh, aughhhhhh!?”

Asapnya telah menghilang.

Kabutnya menghalangi pemandangan, sihirnya membuatnya mati rasa.

Pada saat dia terlepas dari semuanya, si harimau—Garfiel—telah kehilangan sebagian besar daging hewannya, telah kembali ke wujud aslinya, yaitu seorang pria humanoid.

Bulu-bulunya menyerpih ke tanah, tubuh yang sekekar beberapa gelondongan kayu kembali ke bentuk awal. Taring dan cakarnya melancip, tubuhnya retak dan berderit-derit kala kembali ke wujud manusianya.

Orang yang dengan kebingungan melihat waktu-waktu itu tidak lain Garfiel sendiri.

Matanya terngaga kaget karena Garfiel kehilangan wujud binatang dan kembali ke tubuh aslinya. Lantas tangannya terangkat, mata emasnya menatap tajam lengan manusianya yang gemetaran.

“Ini, konyol … apa-apaan ….”

“Sudah kubilang, Garfiel—Aku tidak ikut pertarungan yang tidak bisa kumenangkan.”

Kepala Garfiel mendongak dan melihat Subaru.

Pemuda itu menepuk-nepuk badan saat berdiri, wajahnya bengkak namun diam-diam tersenyum. Garfiel tahu kenapa wujudnya berubah, badannya yang masih luka-luka. Memalingkan wajah, dan mendapati benda asing tertusuk di bahunya.

“Apaan … ini? Tidak mungkin, benda ini ….”

“Aku yakin kau mengenali cahaya itu. Aku dan kau seharusnya tahu.”

“Kampret, darimana … kau ….”

“Tentu saja—Kristal Lewes Meyer. Salah satu stok permata.”

—Laboratorium yang jauh di dalam hutan. Lewes Meyer, yang menjadi pondasi penghalang Sanctuary. Kristal yang menahannnya terjebak dan membatu, bergantung pada sebagian kecil duplikat kristal guna mempertahankan fungsinya.

Secara berkala, duplikat Lewes bertukar mekanisme di dalam pangkalan kristal cahaya. Tentu saja, kristal-kristal itu tak terbatas jumlahnya. Pasokan Sanctuary ujung-ujungnya akan habis, dan tidak lagi bisa mempertahankan fasilitasnya.

“Yang artinya kristal-kristal itu mesti disetor ke sini secara berkala, bersama konsumsi dan barang-barang lain. Karena kau ini salah satu pendukung Roswaal, ada lebih dari cukup kesempatan untuk … bilang saja, mengambil beberapa.”

“Tapi, cuma gitu doang … nusuk gua, kagak bakal, makan kekuatan gua kek gini … trik macam apa, yang elu lakukan ….”

“Wah …. Mungkin ada monster biadab kelaparan yang tertidur dalam kristal itu?” jawab Subaru, nafas Garfiel terputus-putus, untuk bicara saja sudah capek.

Dia meraba-raba pundaknya, entah bagaimana berusaha menarik permata itu—namun kristal biru praktis menolak jemari Garfiel karena sudah tertanam kuat di dagingnya, tidak goyang sedikit pun.

Mendesah dalam-dalam, Subaru membiarkan tubuhnya menenang selagi melihat ke belakang.

Melihat Emilia yang diam-diam menatap resah diri Subaru. Situasi pria itu pasti sungguh mengkhawatirkannya.

Bagaimanapun, Emilia tidak menghentikan pertarungan Subaru. Gadis yang menonton diam saat keduanya bertarung serius tanpa memikirkan hal lain, pernah sekali berusaha menghentikan mereka.

Bahkan Subaru pun mengerti tidak ada sesuatu yang menegaskan kepercayaan di antara mereka.

Sesuatu di antara mereka itu adalah semacam hubungan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata ataupun wujud.

Kristal itu menjerat tenaga Garfiel.

Emilia pastinya menyadari sesuatu, melihat cahaya itu. Si cewek tidak paham isinya. Tapi tidak jadi soal jika tidak tahu. Paling tidak untuk sekarang.

“Lihat aku, Garfiel.”

“Eh ….?”

“Kalau kau ingin menghentikanku, coba saja sendiri. Jangan serahkan kepada darah di tubuhmu itu, tidak tahu sedang melakukan apa. Kaulah orang tololnya di sini.”

Subaru melangkah maju.

Tubuhnya membunyikan retakan, darah mengalir keluar tanpa henti dari suatu tempat.

Energi kehidupannya membanjir keluar. Tapi tidak berhenti, atau membiarkan tubuhnya berhenti.

“Kau hendak menghentikan kami. Kamilah yang menghentikanmu—Emilia akan menantang Makam. Sanctuary ‘kan terbebas. Kami tidak punya waktu untuk duduk manis di sini.

“Ludahin aja omong kosong goblok lu! Siapa pula yang minta! Siapa juga yang ngasih lu izin! Tempat ini, akan sebagaimana tempatnya, gak bakal berubah, kagak ada masalahnya!”

“Bukannya tidak bisa tidak berubah, tetap stagnan, seperti ini selamanya. Sesuatu seperti itu … berabad-abad lalu, sebelum Sanctuary membusuk seperti ini, seseorang pasti menyadarinya.”

“Ada orang-orang! Yang gak pengen berubah! Yang pengen sama!”

“Aku rasa oke-oke aja sih, tidak ngerubah semuanya, menjabat pelindung Sanctuary selama-lamanya. Tapi, kau taulah, ada hal-hal yang tidak bisa kau capai sendirian entah seberusaha apa dirimu.”

Waktu akan berubah, generasi akan berubah, dua hal itu akan meninggalkan Garfiel.

Ujung-ujungnya, dia kehilangan kekuatan tuk menjaga kestabilan Sanctuary.

“Seperti kita yang bergotong-royong untuk menghajarmu, nanti tiba waktu-waktu kau tak bisa mengurus semuanya sendirian. Contohnya sekarang.”

Subaru berjalan, sampai ke hadapan Garfiel.

Manusia harimau itu mencengkeram kristal di bahu, nafasnya tidak stabil namun matanya tetap kuat saat memelototi Subaru. Subaru membalas pelototannya secara langsung.

Mereka berdua tahu saling berargumen tidaklah berguna.

Lantas—

“Garfiel, mati sana. Tunduklah pada kekuatan jumlah.”

“Kenapa cara ngomongnya gitu amat!”

Garfiel mengaum.

Tinju datang dari bawah. Tapi lamban. Kristal tengah menghabisi energinya, tiada tersisa kekuatan di diri Garfiel. Subaru dengan santainya memiringkan kepala ke samping—tetapi gagal menghindar sebagaimana niatnya, jadi mukanya terhantam pukulan Garfiel. Penglihatannya membuyar.

“Siapa yang mati nih! Gua yang hebat ini bakal ngancurin Makam, elu dan kawan-kawan lo, gua iket di sini sampai mati!”

“Jadi begitu rencanamu!”

Subaru merespon dengan merentangkan kakinya yang gemetaran dan membanting tinjunya ke atas. Tak dapat dihindari, pukulan itu menonjok wajah Garfiel. Untuk pertama kalinya dalam seluruh pertarungan ini, Subaru bisa memukul telak.

Postur tubuhnya berantakan, inti tubuhnya bimbang, tangannya bahkan tidak terentang seratus persen, pukulan buruk.

Subaru tidak menyangka serangannya sekuat harapannya, namun melawan Garfiel masa kini, sudah lebih dari cukup.

“—Guh, augh.”

Menambah luka di tubuhnya, mana yang menopang tubuh sedang diserap. Kondisi Garfiel berada di ujung tanduk, serangan telak Subaru menyakitinya.

Tetapi …

“Kaga kerasa!”

“Ughhh!”

Dua kaki Garfiel menghentak tanah sekuat mungkin, posturnya merendah tatkala mengarahkan sikunya ke ulu hati Subaru. Lawannya berteriak, memanfaatkan jidatnya untuk menyundul jidat Garfiel. Mereka berdua terhuyung mundur dan merasakan sakit di tulang-tulang kepala, keduanya mengepalkan tangan saat kepala mereka saling berbenturan, serangan dua orang itu juga berhasil.

Tinju yang mendorong pipi satu sama lain, darah mulai terpancar keluar dari hidung mereka berdua. Subaru tidak bisa menahan serangan fisik lagi, sedangkan mental serta fisiknya dalam keadaan kritis.

Pendar cahaya kristal di bahu Garfiel kian meredup.

Mungkin bukti bahwa Garfiel hampir kehabisan mana, atau semacamnyalah, makin menandakan konklusi pertarungan.

“—Aghhhh!”

“Kok lu ngerengek sih!”

Begitu Subaru lengah, tinju di pipinya makin dalam, membuat parasnya terhempas.

Sejenak serangannya mengirim kesadarannya ke tempat lain.

Subaru mendadak menggertakkan gigi, rasa sakit nan memilukan karena giginya retak-retak kembali menyadarkannya.

Subaru tidak bisa mengandalkan lagi tipu muslihat dalam pertarungan ini. Kegunaan kristal itu lain, beda paralel dengan serangan barusan. Subaru harus menahan semua nyeri-nyerinya sendirian.

Lengah. Sombong. Bodoh.

Subaru selalu saja lemah, takkan mengambil peran besar dalam pertarungan.

“Karena itulah … aku tidak boleh menyerah!”

“Aghh.”

Subaru mengayunkan lengan kirinya ke bawah dan menghantam leher Garfiel, alhasil mereka berdua berguling-guling di tanah. Tubuh babak belur, Subaru meringis kesakitan selagi mencoba membetulkan postur tubuhnya. Saat itu jua kepedihan mulai mejalar di tangan kirinya, tersemat di tanah.

Dan mendapati taring Garfiel menggigit bagian atas lengannya.

“Uhhhh!”

“—ARghhh.”

“ARGHHH! Lepaskan! Itu sakit, puki!”

Subaru meninju wajah Garfiel agar tangannya terlepas dari gigitan. Lengannya terbebas bersamaan dengan taringnya, namun anggota tubuh yang tertusuk tulang tidak bisa bergerak lagi. Dan tangan kanannya—

“Lu … kena!”

Subaru mengulurkan tangan kanannya, berusaha meraih tangan kirinya, saat itu juga Garfiel meyentuh bahu Subaru.

Walaupun dia tidak kuat lagi untuk menonjok atau menendang, dia masih bisa mencengkeram.

Kekuatan maha besar sampai bisa menghancurkan batu telah melumat tulang bahu kanan Subaru.

Retakan tumpul bergema di udara bersamaan dengan erangan tanpa suara Subaru.

Lengan kiri atasnya telah dimutilasi sementara bahu kanannya hancur, keduanya tidak berguna lagi. Tangannya telah mati fungsi, mata Subaru membelalak tebruka kala Garfiel menendangnya.

“Ini akhirnya! Sekarang lu kagak bisa apa-apa lagi! Yang mestinya gua lakuin, ya ini … ngubah lu jadi ikan sarden dari awal!”

Melihat Subaru menggeliat di tanah, pipi Garfiel melilit gembira. Dia bangkit dengan kakinya yang tidak stabil kemudian meutar kepala ke langit, melepaskan suaranya.

Raungan binatang, deklarasi kemenangan. Kini Subaru semata-mata menunggu dirinya diinjak-injak, dan—

“… Berapa kali harus kukatakan, jangan asal putuskan ajalku!”

Lagi-lagi sundulan menabrak hidung Garfiel, membuat matanya berputar-putar.

Subaru menyungkurkan diri. Dia berdiri dengan tangan yang terkulai lemas. Kemustahilan. Kekonyolan. Bukan soal kekuatan tekad, namun masalahnya ada pada hal yang berbeda.

“Akhirku, akhirmu … masih belum sampai.”

“S-sial … pergi sono … berani-beraninya lu berdiri. Kagak jatoh-jatoh … gua ….”

Wajah Garfiel berputar kesakitan sembari mundur satu langkah dari Subaru.

Seolah-olah tidak kuasa menggunakan tangan dan cuma bisa berdiri saja, Garfiel takut pada Subaru.

“Apa bagusnya kegigihan ini! Orang-orang di Sanctuary, mereka semua! Semua orang tak berdaya ntu! Dunia luar nolak mereka, di sinilah satu-satunya tempat bernaung! Misal mereka ke luar! Apa yang terjadi!”

“Kau pergi dan jadilah sesuatu. Seumpama kau ingin mati di sini dengan damai, maka lakukanlah. Tidak satu pun opsi tersebut tersedia lagi di sini.”

Sekuat-kuatnya kekuatan yang dilepaskan Garfiel, segagah apa dia bertarung, tetap takkan merubah masa depan.

Garfiel sendirian tidak bisa menghentikan ancaman Kelinci Besar. Entah setangguh apa, dia akan gagal menyelamatkan semua orang di sini. Dan setiap kali orang berjatuhan, dia ‘kan kehilangan kekuatan juga, sampai dilahap oleh rasa lapar tak berkesudahan.

Bila Subaru dapat memberitahu masa depan itu kepadanya, barangkali bisa menghentikan perjuangannya.

Tapi bukan berarti Garfiel merubah pemikirannya.

Semata-mata dorongan sementara. Hatinya akan tetap tersegel dalam Sanctuary. Kala tahu bahaya telah berlalu, dia akan balik ke sini, berpura-pura bahwa Sanctuary merupakan surga dunia dan setia dalam kemandekan.

Mengabaikan penyemangat, mengabaikan bantuan, membuang semuanya, Garfiel Tinzel akan terus berkabung atas kematian ibunya dan tak berhenti-henti menghibur diri sendiri.

“Tinggalkan tempat ini, Garfiel. Blokade yang kau takuti tidaklah ada.”

“Tentu ada blokade! Gua salah satunya! Blokade tak tertembus, memisahkan dunia dalam dan luar! Gua sama nenek, dan yang lainnya! Kami bakal ngehentiin! Karena itu akhir bagi kami!”

Mereka pernah menyerah sekali. Para penduduk Sanctuary takut berhubungan dengan dunia luar, mundur ke surga mereka, dan menyerah untuk menghubungi dunia di luar hutan.

Maka Garfiel berusaha melindungi surga tertutup tersebut. Mempertegas idealisme itu. Sama saja menyia-nyiakan hidup mereka semua. Karena setiap individu bebas melakukan sesuatu sesukanya.

“Kalau begitu tembus blokadenya … di sini dan saat ini, kami!”

“Anak muda itu! Sama Ram! Mereka dah tidur selamanya! Dan lu bakal mendapatkan kedamaian juga! Membicarakan kematian! Di sinilah akhirku dan akhir kalian semua!”

“Bukankah bagus untuk menyerah saja? Jelas-jelas tidak keren! Kau kira saat menyerah dan berhenti, berjalan berarti akhir bagimu? Istrirahat sebentar dan jalan lagi! Kemungkinan hal demikian sudah terjadi berabad-abad lalu!”

Ujian membuatnya takut akan dunia luar.

Garfiel mengalami Ujian itu, Lewes dan Frederica tetap menyayanginya.

Frederica memilih menginjak dunia luar, untuk membuat tempat yang bisa dimukim para penduduk Sanctuary, suatu saat kala Penghalang telah tertembus.

Frederica akan kembali, kembali menawarkan Garfiel bantuan.

Kemudian melihat adiknya menampik bantuannya, dan berjalan sendiri lagi.

Tentu saja akan dia lakukan. Lagi pula, Frederica adalah kakaknya.

Ketika seorang adik laki-laki menangis tersendat-sendat, kakak besar mereka akan mendekapnya.

“Kau bilang Frederica pergi ke dunia luar, dan meninggalkanmu. Tapi kau salah. Salah besar, Garfiel. Kau terikat pada penghalang. Semisal ingin mengikutinya, kau bisa saja melakukannya kapan saja. Kaulah yang lalai di sini!”

“Aku … aku!”

“Kaulah yang pergi duluan, Garfiel! Lalu merengek-rengek bahwa itu salah kakakmu! Tidakkan kau pikir itu dungu!?”

Lubang di dadanya terbakar. Apa sih yang dia katakan? Dia mulai kehilangan jejak.

Jauh dalam pusarnya, inti dari inti itu, menggeliat sesuatu yang gelap.

Gerbang supranatural di balik pusarnya, menghubungkan Subaru dengan dunia luar, telah kehilangan fungsinya.

Jadi saat ini, benda dalam inti tubuhnya telah menguatkan kembali eksistensinya, tapi apa?

Masih ragu pada pemikirannya, tubuhnya, pria di hadapannya, Subaru berteriak.

“Kapan pun! Setiap saat! Tatkala kau ingin bertindak! Ketika kau ingin berubah! Saat pemikiranmu telah menyentuh garis start!”

Kegagalan, kehilangan segalanya, berkubang dalam penyesalan, lalu memeluk lututmu dan gemetar hebat.

Sekalipun merasa kecewa kepada dirimu, kepada orang lain, perasaan terasing karena ditinggalkan orang-orang tersayang adalah hal-hal yang menahanmu untuk terus maju, tersekap dalam pikiran bahwasanya kau tak berguna.

“Angkat lagi kepalamu, tempuh jalan di depanmu itu. Bagaimana bisa orang lain menyuruhmu untuk menyerah!”

Menyerah! Melepaskan! Bertekuk lutut! Kebodohan. Semuanya adalah omong kosong hambar yang tidak perlu dihiraukan.

Apabila menemukan seseorang yang menekuk lututnya, dan dirimu merasakan suatu dorongan ingin berteriak, sebaiknya kau menolong mereka.

Berusaha yang terbaik! Kau bisa melakukannya! Aku tidak tahu bagaimana kejadiannya, tapi jikalau kau gelap mata dan masa bodoh, nantinya takkan mencapai apa pun.

—Dada Subaru, terbakar.

“Benarkah aku, Garfiel!”

Memanggil nama pria di depannya, matanya melemah, wajahnya menyusut.

—Nyalinya, menyala-nyala.

“Betulkah aku, Emilia!”

Memanggil nama gadis di belakangnya, tatapannya menatap Subaru, pendirian Emilia berada di ambang kelemahan dan hal lain.

—Setelahnya, mata bocah itu teralih.

“Hei—Aku benar, kan, REM!”

Mengangkat kepalanya, mulut terbuka, mata membelalak, memanggil nama yang menopang pendiriannya.

Subaru diajari bahwa menyerah dan berhenti melawan bukan berarti adalah akhir.

Natsuki Subaru menginginkan agar kekuatan yang dilimpahkan kepadanya hari itu merambah ke semua orang di sana.

“—”

Kekuatan yang bukan milik Subaru menggeliat-geliat dalam dirinya, menjeritkan tangisan kelahirannya.

Membunyikan saat-saat kelahirannya, dan menyambut saat-saat kelahirannya.

Natsuki Subaru sebagai perantara, lagi-lagi terhubung ke dunia luar.

Panas tumpah ruah.

Di tengah-tengah tubuhnya, ada api yang membara.

Mengisi ruang di depan Subaru, tampak mata merah tua mendidih yang mengambil bentuk, mengutak-atik dunia.

“Aku!”

Garfiel melambung.

Mengangkat cakarnya dan diayunkan, memperlihatkan gigi-giginya, tidak lagi menggunakan kata-kata, tetapi tindakan langsung sebagai penyangkal pernyataan Subaru.

Tidak dapat membalas, tak kuasa menuangkan perasaan ke dalam sesuatu, hanya itulah metode yang bisa dia bayangkan.

Garfiel tidak tahu apa-apa lagi. Lantas mengarahkan cakarnya ke Subaru.

Tumpahan panas dari pendarahan Subaru berkumpul tepat di depannya, tetapi Garfiel tidak sadar. Persis di depan Subaru yang dia terjang, ada suatu lengkuk, bayangan tak kasat mata, namun Garfiel tidak tahu.

—Garfiel tidak menyadari kekuatan besar yang terulur di depannya.

Alamiahnya. Garfiel tidak melihatnya. Lebih tepatnya, tak seorang pun kecuali Subaru dapat melihatnya.

Karena sesuatu ini, hanya Subaru yang bisa kendalikan, sang Unseen Hand.

“—”

Dunia nampak bergerak dalam mosi lambat.

Sensasi ini teramat akrab bagi Subaru. Saat berada di bibir maut, atau detik-detik sebelum mengalami luka fatal, atau tatkala terkena hukuman melanggar tabu, selalu saja rasa sakit dan mendesaknya.

Namun tak seperti waktu-waktu itu, sensasi ilusiah ini, adalah untuk melindungi Subaru.

Dia jelas-jelas melihat Garfiel menyerang.

Penuh aura jahat—tapi, terasa juga ledakan emosi seorang anak kecil.

Subaru memfokuskan pandangannya pada ujung dagu Garfiel.

Entah bagaimana, dia tahu. Sebelum melakukannya, ia memahami sesuatu.

Dia cuma membetulkan bidikannya, dan membebaskan sesuatu ini.

Melakukan itu saja, kemauannya sudah terpenuhi.

—Subaru persis melakukannya.

“—!?”

Kekuatan yang terbebas itu berteriak gembira, menghajar Garfiel dari bawah.

Aliran kekuatan yang terentang mewujud menjadi suatu kepalan, memanjang bak tangan yang membanting pukulan ke wajah Garfiel di tengah-tengah lompatannya, menghajarnya hingga terbang ke langis atas. “A-apa!?” terpukul oleh serangan tak terantisipasi tersebut, Garfiel gagal membetulkan posisinya saat kembali menabrak tanah.

Dia terjatuh, berhenti di bumi. Subaru tahu dia baru saja berhasil melancarkan serangan fatal.

Secara bersamaan, beban luar biasa rasanya telah terambil dari dalam dirinya. “Ugh, ah … auuh,” Subaru jatuh terlutut, tubuhnya membungkuk dan memuntahkan semua isi perut. Namun tidak setetes pun darah keluar. Bahkan tidak kirmizi atau air liur, karena tidak ada yang tersisa dalam dirinya. Demikianlah serangan terakhir, dalam usaha habis-habisan terakhirnya.

Aliran kekuatan telah merekah dan membuyar segera setelah menghajar Garfiel.

Pusaran alirannya masih tersisa di dalam diri Subaru, tetapi tidak bisa dia tarik ulur.

Subaru masa kini, sekurang-kurangnya kekurangan kekuatan.

Jika dia memanfaatkan tangan-tangan itu lebih jauh lagi, Subaru mesti mengorbankan lebih.

Tapi, karena pertarungannya sudah berakhir, saat ini—

“Ayolah … beneran nih.”

“—Jangan, remehkan … aku ….”

Babak-belur, hampir tidak sadar.

Mulai tersisip warna putih di visinya, sungguh lelah sampai berkedip pun bisa jadi momen-momen terakhirnya.

Sudah menghabiskan kekuatan besarnya, tapi masih sadar.

Garfiel Tinzel, darah bersimbah-ruah di wajahnya, tengah beranjak bangun.

“Serius nih, kau ini sekuat apa sih ….”

“Kont*l, gua kagak bakal jatuh, kagak … kagak, kagak bakal kalah, kalah ….”

Kesadaran Garfiel sudah hilang setengahnya. Tatapannya yang tidak fokus nampaknya tertuju pada Subaru walaupun tidak menatapnya. Kekuatan semata yang membuatnya berdiri tegap, menolak desakan terakhir itu.

Seratus persen, satu dorongan saja sudah cukup merobohkan Garfiel.

Namun Subaru kelewat loyo untuk melakukannya. Jangankan menyerang, Subaru juga hampir pingsan.

Mereka berdua sudah berusaha yang terbaik, mengerahkan seluruh kekuatan membuat mereka sampai ke kesimpulan ini.

Garfiel selalu barbar, tetapi Subaru tidak, seluruh strategi mereka sudah habis.

Misalkan Otto dan Ram tidak menghabisi tenaga Garfiel dahulu, Subaru barangkali takkan bisa sampai sejauh ini.

Gagasan dirinya bisa berhasil selama mempunyai kristal biru sebagai kartu as-nya, adalah naif. Membantu mempertahankan kesadarannya, dan melemahkan Garfiel hingga batasnya. Bahkan setelah dua hal tersebut, Subaru masih belum sukses.

Kristal biru di bahu Garfiel berkedip-kedip.

Kedipan itu sebagai penyemangat sekaligus pengingat bagi Subaru yang hampir saja jatuh dalam kegagalan, tanpa disadari mendapati dirinya tersenyum masam.

Subaru, kristal, Otto, Ram.

Semua kekuatan tersebut digabungkan, masih tidak bisa mengalahkan Garfiel. Dia, tidak salah lagi, memang kuat. Subaru dengan tulus mengakui demikian. Jadi ….

“Jadi, elu ….”

“Jangan … salah pikir, Garfiel. Aku memang bilang bahwa kami akan menembus blockade itu.”

“Tidak ada seorang pun yang ….”

Langkahnya goyah, Garfiel perlahan-lahan mendekati Subaru.

Tangannya menggantung tinggi, cakar tumpul di ujung jarinya dikotori darah. Apabila menusuk Subaru, dia akan langsung tamat.

Garfiel mengerahkan seluruh fokusnya ke serangan ini.

Lantas Subaru menyadari sesuatu. Suatu getaran, gemerisik, menandakan datangnya sesuatu.

—Usaha terakhir, untuk mengalahkan Garfiel.

“Berakhirlah!?”

“—ϡ!”

Yang menenggelamkan teriakannya adalah dengung auman naga darat. Naga hitam yang menerjang maju itu menabrakkan kepalanya ke titik buta Garfiel, menyerang sisi tubuhnya dan menghempaskannya.

“—Ogh!?”

Terkena dampak yang benar-benar menerbangkannya, mata Garfiel melebar, terlempar layaknya kerikil yang ditendang.

Dia memantul sekali, dua kali, tiga kali di tanah, menendang debu-debu dan mengotori dirinya sebelum berbaring telungkup di tanah.

Garfiel tidak bergerak sedikit pun.

Melihat ini, kontributor serangan terakhir melengkungkan kepalanya, meraung-raung.

“Bagaimana nih, Garfiel ….”

Tidak menggubris Patrasche yang mengepak-ngepak penuh kemenangan, Subaru memanggil Garfiel yang terjatuh. Suaranya begitu lirih, patut dipertanyakan apakah Garfiel betul-betul mendengarnya.

Kunci yang mengakhiri pertarungan ini. Apa, ya?

Yah, sederhana sih.

Dalam pertarungan melawan Garfiel yang kuat, Subaru yang lemah tidak bertarung sendirian.

Yang artinya ….

“Ini—ini adalah kekuatan jumlah.”

“Memangnya, kagak ada … kata-kata lain apa … selain itu ….”

Garfiel yang tak bergerak menanggapi kata-kata Subaru.

Pipi pria itu merileks saat mendengarnya.

“Okelah, kumpulan perasaan semua orang, suatu ikatan kemenangan.

“Hahhhh … panteklah, MUSTAHIL PERMATA BISA MUNCUL MENDADAK ….”

Setelahnya, Garfiel terdiam.

Melihatnya, Subaru tahu dia telah menang, lalu melihat langit.

“Akhirnya mendengar pepatah yang masuk akal ….”

Pernyataan puas, Subaru meninggalkan semua kesadarannya dan seketika kolaps.

5 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 113”

  1. Ada beberapa tipoh bang bell :v ehh bang daf
    Wajah Garfiel berputar “kesaktian” saat dia mundur satu langkah dari Subaru. (harusnya kesakitan)

    Jangan … salah pikir, Garfiel. Aku memang “bila” bahwa kami akan menembus blockade itu. (Harusnya bilang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *