Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 112

Posted on

Insting Penolak Kelemahan

CH 112.jpg

Penerjemah : BellCranell

—Pertarungannya sudah memanas intens.

Dua pria itu saling berhadapan, bertukar tinju secara langsung.

Tulang-tulang keras menabrak daging, otot-otot menguat, darah menetes-netes. Saling melotot, hawa berat dari nafas compang-camping, perkelahian barbar yang sungguh rusuh kala ditonton si pengamat.

“… Subaru.”

Berdiri di depan pintu masuk Makam, Emilia si pemerhati memangku tangannya di dada.

Matanya bingung, jari-jarinya goyah seakan mencari sesuatu untuk dipegang. Eksistensi yang senantiasa dapat dia andalkan di dada dan kehangatannya, dia sadari telah pergi, hal demikian masih mengikat hatinya.

Subaru telah mengatakan banyak hal soalnya di dalam Makam.

Subaru menyatakan cinta padanya, menyayanginya, dan percaya padanya.

Memori sejatinya tengah bangkit kembali setiap detik waktu berlalu.

Dia percaya ingatan salah adalah tempatnya mengawali sesuatu, lewat keyakinan itu, hingga saat ini. Begitu permulaannya, pemicunya sudah terlaksana, seberapa besar dirinya akan berubah?

Perasaan sesungguhnya yang bertentangan satu sama lain, telah berakar dalam di diri Emilia, membuatnya merasa tidak nyaman.

Bocah ini yang telah terluka dan menderita, berjuang hingga akhir demi dirinya—dia tidak ragu sedikit pun tentang perasaannya. Telah Subaru buktikan terus-menerus.

—Yang tidak dia percayai adalah dirinya sendiri.

Dia menelusuri jalan yang sedari awal sudah salah, walaupun dia sudah mengetahui ada apa di ujung sama, dia berhenti. Bimbang apakah sedang berjalan di arah yang salah, ragu-ragu meski sudah melihat  akhirnya.

Kakinya berhenti bergerak.

Apakah dia boleh berjalan lagi?

Apakah jalan yang dia terlusuri adalah jalan baru, ataukah jalan yang sama?

“—”

Dia berkeliaran dalam labirin penuh ketidaktahuan, tak tertembus.

Bahkan sekarang, dirinya tak kuasa berbicara, sadar betul tidak mampu menghentikan langkahnya, Emilia melihat kedua pria yang saling bertarung itu.

Teriakan, saling tinju, darah berceceran ke mana-mana.

Satu ayunan tangan menembus udara.

Buku-buku jari mengincar wajah—dengan kecepatan lambat.

“Cih!”

Tidak perlu menghindar jauh.

Dia memiringkan kepalanya sedikit, menghindari pukulan tanpa mengalihkan matanya sesaat pun. Kuda-kuda lawannya hancur karena ayunan kuat itu, perutnya tanpa penjagaan, Garfiel menusukkan lututnya ke usus-usus sang lawan.

Lutut Garfiel merasakan tulang rusuk serta otot-otot tipisnya, serangannya menyebar sampai usus dalam.

Mulutnya, yang sudah berkali-kali keluar ludah, memuntahkan darah tanpa henti.

“Guuh, ugh.”

Memegangi perut, gerakan mulai goyah, wajah kelihatan buruk. Subaru meraba-raba punggung belakangnya yang membungkuk, kena serangan frontal langsung menyeduh rasa pilu di tubuh bagian belakang.

Subaru berhasil menahan tendangan, namun gagal menahan serangan dari belakang dan roboh seketika. Garfiel menendang Subaru sampai-sampai tubuhnya berputar ke atas, kemudian melanjutkan serangan dengan melancarkan tinjunya ke rusuk bagian kiri.

Teriakan Subaru bergemuruh.

Jeritannya kian memberat seiring tumpahnya darah dari mulut.

Pukulannya, lututnya, kakinya. Lewat setiap sensasi tonjokan di kulutnya, dagingnya terdorong, dia bangkit kembali.

Biasanya bertarung akan membuat Garfiel gembira, namun saat ini dia merasa muak.

Serangan bertubi-tubi itu—apa manfaatnya?

“Udahlah, menyerah aja deh.”

Mengejek lawannya yang terbatuk-batuk dan memasang tampang negatif selagi muntah darah.

Garfiel gagal membuat musuhnya pingsan.

Dia bisa saja memukul kepala, menendang perut, tetapi sungguh memuakkan sampai membuatnya menahan diri.

Terlampau memuakkan, sewaktu berusaha menunjukkan perbedaan besar kekuatan mereka.

“Lu bener-bener anak puki kagak punya otak! Lu tau bener gak bisa menang! Punggung lu dah bungkuk! Pukulan lu tanpa pertahanan! Keseimbangan lu ancur, parah banget!”

“… Maap.”

“Arghhh, lu beneran gk denger! Lu tau gak rasanya mesti berantem sia-sia dan tanpa faedah ini? Jauh-jauh deh lu sono.”

Garfiel meludahkan hinaannya pada Subaru yang berusaha mengambil nafas dan menegakkan postur tubuhnya.

Subaru menyentuh tanah tatkala mencoba bangun. Menerima pukulan, wajahnya bengkak, darah mimisan menyelimuti bagian bawah wajahnya dengan darah merah. Beberapa giginya telah patah atau bahkan hilang. Isi perutnya, tulang rusuknya, tidak aneh jika ada yang terkena gangguan.

Rasa sakit hebat menjalar di tubuhnya, semestinya dia sudah pingsan. Namun ….

“Apa untungnya coba! Bukannya elu nantang gua karena ngira bisa menang! Yang elu lakuin tuh cuma mamerin secupu apa elu buat jadi samsak tinju gua! Tidur siang sono!”

“—Ugh!”

Sifat keras kepala, ceroboh, kata-kata demikian tak mampu menggambarkan kegigihan Garfiel seketika menerjang maju menuju Subaru.

Menyengkat kaki Subaru dari bawah, mendorong kakinya ke sisi tubuh Subaru kala dia terjatuh. Darah termuntahkan dari mulut pria itu ketika tendangan Garfiel menerbangkannya ke atas, lalu menyikut tulang-tulang yang tengah mengudara kembali menuju tanah.

Tubuh Subaru memantul di bumi, badannya menabrak tanah dan berbaring terlentang di tanah.

Matanya terbuka lebar, menarik nafas panjang-panjang, dan kali ini dia tidak bergerak—akhirnya telah menggebuknya sampai pingsan. Garfiel mendesah.

“Bocah ngapa ya, kau kira pertarungannya, sudah berakhir ….” kata Subaru.

“—Hah!”

Bahu Subaru terangkat saat nafasnya acak-acakan, terdengar suara dari bawahnya membuat mata Garfiel terbuka kaget.

Pria yang dipukulnya entah bagaimana seharusnya sudah pingsan, beranjak bangun lagi. “Lu gak bercanda, kan ….”

“Ya … ini tidak bercanda. Tubuhku yang kena hajar sampai separah ini … aku tidak bisa memikirkan, lelucon lucu apa pun ….”

“Bukan itu yang gua—”

“—Hahhhh!”

Memamerkan sosoknya yang bonyok, Subaru menghembuskan nafas tajam dan mengayunkan tinjunya.

Jelas saja, seberapa kuat pukulannya, menurut Garfiel dia semata-mata diserang anak kecil. Tangannya bergerak cepat dan menangkis tinju yang mendekat, lalu membalas serangan dengan meninju perutnya.

Tinju itu mengebor hingga organ-organ dalam Subaru, mengeluarkan cairan-cairan tertentu—perut kosongnya, serta aliran darah dan empedu kuning naik sampai mulut.

“Guh, ughhh ….”

“Hasilnya sama entah berapa kali lu ngelawan, berapa kali elu—”

Subaru memegangi perutnya dan gemetaran di tempat saat Garfiel sekali lagi mendesaknya untuk menyerah.

Dia tidak tahan melihat hal semenjijikkan itu. Matanya teralih, lidahnya mendecak.

“—!”

Yang melewati wajahnya adalah kepalan tangan Subaru.

“Garfiel, nge***t lu. Siapa yang menyuruhmu mengalihkan perhatian?”

Tangan kiri maju, tangan kanannya di belakang.

Melihat Subaru mengambil kuda-kuda bertarung, tekadnya tidak hilang sedikit pun, Garfiel hampir merinding.

Sesaat Garfiel tidak menganggap Subaru sebagai ancaman.

Semua orang pun tahu pemuda itu membual belaka, kesenjangan kekuatan antara dirinya dan Garfiel terlampau besar.

Subaru bisa terus saja memukul Garfiel, walaupun ribuan atau bahkan jutaan kali, perbedaan kekuatan besar membuat Garfiel bisa menghindari setiap usahanya.

Semua perjuangan Subaru setiap waktunya adalah sia-sia.

Tidak peduli berapa kali Garfiel memukul, melemparnya, sebesar apa rasa sakit yang dia suntikkan, tubuh penuh luka Subaru takkan mampu menyentuh lawannya.

“Anjing, diem ngapa!”

“Haah?”

Garfiel sedang bertarung dalam pertarungan yang sudah pasti dia menangkan, keras kepala adalah satu-satunya senjata Subaru.

Rohnya sendiri takkan buyar, perasaannya tidak akan goyah. Barangkali mentalitas itu bisa disebut kekuatan, kekuatan yang tak terikat oleh daging. Melihatnya berdiri berkali-kali setelah jatuh mungkin membuat hati Garfiel terkejang.

 Tapi, jikalau anak muda itu berharap perlawanan ini akan mengubah pemikiran Garfiel, maka tindakannya termasuk pengorbanan besar.

Jiwanya sendiri takkan tercerai-berai, takkan hancur. Konsep-konsep itu sebetulnya punya makna apa?

“Lu kira kalau berjuang terus meski tau kagak bisa menang, gua yang hebat ini bakal nahan diri? Lu pikir gua bakal capek mukulin sama nendangin lu, gua akuin deh semangat lu mantap … gua bakal kalah dan termakan emosi, maksud lo kek gitu!?”

“—”

“Jangan bercanda deh. Pertarungan lo dan gua bukan maenan! Ngehajar atau dihajar. Kagak ada pilihan lain!”

Garfiel menginjak tanah.

Kekuatan Earth-Soul-nya mulai mengisi, bumi menyuplai tubuhnya dengan kekuatan yang meluap-luap.

Dibanding saat dia selesai melawan Ram dan Otto di hutan, memaksakan tubuhnya yang penuh luka kemari, tubuhnya sudah membaik. Pukul-pukulan melawan Subaru bahkan tidak membuatnya lelah, malahan merasa dirinya seolah duduk di pepohonan dan merasakan pengobatan alamiah.

Pengaruh kecil Subaru ini dimaksudkan untuk mengguncang hati Garfiel, darimana ceritanya?

“Lu ndiri yang bilang, kan! Bakal ngajarin gua yang hebat ini bahwa gua sebenernya lemah, lu bilang gitu! Terus maksud semua ini apaan! Apaan yang lemah! Lu ngajarin apaan! Siapa yang kuat dan siapa pula yang ngedesak lu, orang goblok bin tolol di sini tuh elu!”

Garfiel ingat setiap suku kata dari deklarasi pra-pertarungan Subaru.

Betul-betul lawakan. Lucunya tidak dibuat-buat. Setiap hal dalam pria ini merupakan definisi kata penipu.

“Kagak tuh bocah, kagak Ram! Mereka berdua yang udah ngelawan gua paling tidak punya peluang kemenangan! Karena itulah gua juga ngelawan sekuat mungkin. Memeras otak dan nyusun strategi, sebagai pengganti kelemahan mereka … Usaha mereka dah cukup buat gua ngakui kekuatan keduanya. Tapi elu mana!”
Kendati Garfiel tidak tahu betul perlawanannya, Otto telah menggunakan berkahnya untuk mengakuisisi kekuatan hutan, memojokkan Garfiel. Caranya memancing Garfiel ke arah tembakan sihir maha kuat terakhir mengilustrasikan bahwa dirinya telah menggunakan seluruh kekuatan dan otaknya, semangat bertarung Otto kelewat besar sampai-sampai Garfiel dengan senang hati bersedia memuji keahlian orang selemah dia.

Serangan ofensif Ram dimulai dari serangan kejutan, biarpun menerpa Garfiel dengan perasaan pengkhianatan, sebetulnya pertarungan sempurna bagi Ram. Tanpa ampun, tiada pukulan mengenainya, pertarungan antar kekuatan murni.

Mereka berdua berjuang besar untuk melawan Garfiel, berusaha meraih kemengangan.

Gaya bertarung mereka layak dihormati. Sedemikian rupa hingga Garfiel menjunjung mereka sebagai musuh nan mulia.

“Dibanding mereka … kagak ada lagi yang lebih gegeh. Padahal lu udah gua hajar tapi terus bangkit … terus apa lagi? Elu gua hajar kek gimana pun, semangat lu kagak sirna-sirna … terus namanya apa tuh? Bahkan bilang peluang kemenangan lu itu kecil, lu masih enggak lari dari sini … mana bagian mulianye!?”

“—”

“Lu pikir gua terkesan apa? Simbahan darah lu, kaki lu yang gemetaran, bahkan kagak bisa buka mata lu bener-bener, tapi masih berani berdiri, niat lu mainin perasaan gua biar mundur? Gua bakal ngecincang-cincang lu ampe jadi daging terkecil …. Lu sebenernya mau gua jadi apa, gimana orang-orang yang berjuang demi elu?

Amarah terbesar Garfiel telah menyala dalam dadanya.

Pertarungannya jadi kacau. Garfiel merasa terhina. Bukan hanya itu, cara bertarung Subaru telah mencemari kemuliaan petarung yang telah Garfiel lawan.

“Tidur sono. Nyantai wae. Nyampah doang lu di sini, dasar tai kucing ga guna. Lu tuh cuma bisa terima kekalahan dan ngeringkuk sono di ranjang, dasar bebal.

“….”

Masih dalam posisi bertarung, Subaru disumpah kutukan demi kutukan Garfiel.

Kepalanya ogel, mata bengkaknya terpejam tapi masih bisa menatap sosok Garfiel.

Tekad bertarungnya tidak menyusut, kian membuat tampang parahnya sebagai perusak pemandangan.

Jika semua kata-kata, pukulan-pukulan ini, tidak menundukkan tekad bajanya, lantas apa yang mengalahkannya?

Bilamana rasa sakit saja tidak cukup, maka solusinya cuma satu.

“Bagaimana kalau lu aja yang bilangin dia!?”

Berbalik, Garfiel memanggil Emilia yang mengamati pertarungan dari pintu masuk Makam. Bahunya goyah karena mendadak dipanggil. Tampilan kelemahan membuat Garfiel mendecakkan lidahnya kesal.

“Nonton doang lu gak tahan, yaudah bilangin dia ngapa! Nih anak kagak dengerin kata-kata gua. Biarlah gadis tercinta berkata dirinya menjijikkan tidak berguna, bahwa usahanya tidak meraih apa pun, beban doang!”

“… A-aku!”

“Apa lagi!? Lu kagak bisa? Menurut lu dia masih punya kesempatan? Atau elu sendiri yang suka ngeliat dia kek gini? Ngeliat pria yang ngecintain lu binasa demi elu, apa elu tertipu gegara merasa dicintai, woi sadar dong!?”

“—Ah!”

Emilia membeku kaku, matanya melebar, saat sumpah-serapah menghampirinya.

Pengutaraan kejam Garfiel rasanya seakan belati telah menikam Emilia.

Seandainya tinju Garfiel tak mampu menghentikan Subaru, maka imbuh Emilia-lah satu-satunya pilihan.

Tubuhnya akan runtuh oleh Garfiel, hatinya terkoyak-koyak oleh Emilia, hal itu pasti membuatnya menyerah.

Selama menonton pertarungan, wajah Emilia beberapa kali terlihat ngeri saat menyaksikan Subaru dihajar. Tidak seperti rekannya yang punya tekad misterius, hati Emilia masih belum membesi. Dia masih gadis yang gagal Ujian dan menangis setelahnya.

Garfiel tidak berniat menegurnya.

Dikalahkan oleh Ujian, oleh masa lalumu, itu biasa. Siapa juga yang bisa meniadakan ingatan penyesalan terbesar mereka?

Konsep bahwa dirimu dapat mengatasi masa lalu, penyesalanmu, betul-betul omong kosong.

Subaru telah mencampuradukkan idealisme realistik dan fantasi mitos, orang gila. Anak ini terus-menerus berdiri di hadapan Garfiel dan mengejar fantasinya, menuntut orang lain untuk ikut satu tujuan. Subaru gilanya bukan main.

Dia sama seperti Roswaal, orang hina yang cuma punya satu visi, tidak lebih dari itu.

“Hentikan dia, akhirin semua ini! Elu sama gua! Lagi ngikutin rencana penyihir terkutuk itu. Begitu kejadiannya.”

“Aku—”

Punggung Emilia menegak seolah tersambar petir, matanya membelalak terbuka.

Mata tertawannya basah karena air mata tatkala melihat Subaru. Bibirnya labil, sorot mata Garfiel masih terkunci padanya, seraya menyuruhnya menghentikan Subaru.

Semuanya akan berakhir.

Namun—

“Emilia.”

“—”

Sebelum gadis itu sempat bicara, Subaru memanggilnya duluan.

Dia buru-buru menutup mulut dan mendengarkan seksama suara lirih Subaru. Fokus, agar tidak ketinggalan ucapan apa pun.

Kepadanya, Subaru hanya menyatakan satu hal.

“… Perhatikan aku.”

Tak lebih dari itu.

Diucapkan dengan suara lirih, praktis bergumam sendiri.

Namun Emilia mendengarnya, menatap terheran-heran, dan setelah beberapa detik kebimbangan—

“—Mmh.”

—Menaruh tangannya ke dada dan mengangguk.

“… Hah!?”

Dihadapkan dengan percakapan tak masuk akal, Garfiel berteriak bingung.

Matanya membeliak marah saat ditunjuk Subaru.

“… Dari tadi kau ini ngomel-ngomel terus, namun perkataanmu salah, Garfiel.”

“Maksud lo?”

“Mungkin bagimu, aku kelihatan seperti orang bodoh yang mengerahkan semua tenaganya meskipun tahu tidak bisa menang … tapi aku sama sekali tidak bercanda. Aku sudah belajar mati-matian soal terjatuh dalam pertarungan tak bisa kumenangkan yang isinya rasa sakit saja, berkat kau sih. Tidak akan kulakukan lagi deh.”

Wajah Subaru masih kacau-balau, namun masih bisa menatap suram.

Peristiwa yang dirujuk Subaru sama sekali tidak diketahui Garfiel, tapi tampaknya berkaitan dengan ingatan yang sangat dia benci.

Walau teraduk sentimen tersebut, kata-katanya tidak boleh diabaikan Garfiel.

“Konyol banget. Bukan lagi idealisme ataupun fantasi, lu beneran kagak ngeliat intinya. Berhenti nantanganin musuh yang kaga bisa lu kalahin … apa gunanya semua ini, woi. Apa gunanya!?”

“Bukankah sudah jelas, dasar bahlul? Aku masih … belum berhenti bertarung sejenak pun.”

Barangkali kesadarannya kian berkembang jelas seiring pembicaraan, kekuatan mulai kembali membasahi suara Subaru selagi dirinya bicara.

Kegigihannya membungkam tenggorokan Garfiel, membuatnya kesal.

“Selama aku berdiri, aku masih belum meninggalkan pertarungan …. Kematianlah yang membuatku berhenti bertarung.”

“….”

“Kau yang ngambek di momen-momen penting, tidak bisa membunuhku …. Berarti kau tidak bisa menghentikanku. Mungkin cuma sedikit, tapi aku beringsut menuju kemenangan. Kemananganku sudah haqiqi.”

“Dasar pukimak! Masalahnya bukan gua yang kagak bisa ngebunuh lo. Bisa-bisanya! Dengan perlawanan segitu doang! Lu kira bisa betulan ngalahin gua!?”

Tatkala kepala hingga ujung kakinya terluka bak tempat pembuangan barang bekas, setiap ujarnya pun menyerak. Argumen Subaru tak lebih dari bualan hiperbola. Kau tidak bisa menghentikanku kecuali membunuhku. Sebenarnya adalah pengekspresian hasratnya. Berasumsi anggapan itu sah, maksud Subaru adalah mautlah yang bisa menghentikan pertarungannya, kenapa malah membuat Garfiel terpukul?

Tentunya takkan mungkin, dan memerlukan waktu serta keajaiban besar untuk mewujudkannya.

“Gua yang hebat ini bakal ngerobek-robek perut lu, elu bisa bertarung atau enggak itu terserah! Mau elu sadar kek, atau elu yang mau menang! Kaga ada hubungannya!”

Garfiel meraung berang.

Kakinya menyedot kekuatan dari tanah, tubuhnya yang dahulu lelah berhasil mendapatkan setengah kekuatannya kembali. Lebih cari cukup untuk memutilasi Subaru.

Dia menghentak bumi, menerjang Subaru.

Menghadapi Garfiel, Subaru mengarahkan tinjunya seakan-akan senang dengan demikian. Memang sinting. Garfiel mengelak mudah, balas memukul perutnya. Menyikut lututnya ke dagu Subaru, meraihnya kala sang lawan terhuyung mundur dan menjatuhkannya ke tanah keras-keras. Garfiel mendorong tumitnya ke badan Subaru yang terbaring, musuhnya mengeluarkan dua hingga tiga jeritan kesakitan. Serangkaian serangan tanpa ampun. Setelahnya—

“… Pikirmu, sudah berakhir?”

“Apaan nih! Kok BISA!?”

Semestinya menderita luka yang bahkan lebih parah, Subaru kembali berdiri.

Menyaksikannya, terdapat sekelebat perasaan janggal nan asing yanmg mulai mengelubungi hati Garfiel.

Dia tak mampu mengalahkannya? Tak bisa menang? Tidak, bukan itu yang dia resahkan.

Kecurigaannya berpendapat, persis sebagaimana yang diujar orang ini, luka fisik saja tidak cukup untuk menghentikannya.

“Apa bagusnya mempertaruhkan hidup lo! Semisal elu berhasil ngalahin gua yang hebat ini, pikir lo blasteran penyihir itu bisa ngalahin Ujian! Lu serius mikir itu solusinya, hah!?”

“….”

“Memangnya keajaiban akan terjadi! Memangnya omong kosong itu ‘kan menjadi kenyataan! Satu banding satu juta, satu juta banding satu peluangnye elu ngalahin gua, menang pun kagak bakal bisa ngerubah satu hal pada cewek ntu! Semuanya sama aja! Saat elu lagi kacau-kacaunya, dihadapkan masa lalu berantakan … saat elu ngeliat begimana penyesalan telah menyesatkan tuh wanita, lu gak bisa ngapa-ngapain! Kenapa lu tidak paham-paham juga!”

“Sepantasnya kaulah yang mendengar pertanyaan itu!”

“—!?”

Kekurangan cukup momentum biar bisa meledak-ledak marah, memiliki berbagai emosi itu bisa jadi daya tarik. Celah-celah yang memotong tutur tanpa logika Garfiel kian jauh dari teriakan Natsuki Subaru.

“Berhenti melarikan diri, putuskanlah semuanya sendiri, Garfiel!”

“Lu ini kenapa ….”

“Berhenti menerapkan batas-batas kemampuan Emilia. Dia tidak selemah itu.”

Berada jauh, berdiri di depan Makam. Emilia menelan nafas.

“Berhenti menaruh batas diriku. Tak ada yang menyuruhku untuk berhenti, atau mengabaikan segalanya atau meringkuk ketakutan. Aku takkan pernah menyerah.”

Meludahkan darah, kilau di mata Subaru semakin kuat.

Dan ….

“Bangsat, jangan menyerah begitu saja. Kau masih bisa berbuat lebih lagi. Lebih banyak hal di luar sana. Dasar anak nakal, kau bahkan belum dewasa. Selalu fanatik pada idealisme kukuh yang kau bentuk pada saat masih tidak punya jembut!”

Subaru langsung memberitahu Garfiel bahwa kepercayaan yang dia pegang teguh, akidah yang membuat hatinya terikat pada Sanctuary, adalah memalukan.

“—”

Garfiel segera membuka mulut untuk menjawab.

Tetapi roman-romannya ada sesuatu yang menghujam dada, membuat ucapannya tidak keluar.

Terdiam seribu bahasa. Tiada yang tertutur.

Kepalanya mendidih. Bukannya dia membenarkan kata-kata Subaru. Tidak mungkin dirinya salah. Diri yang dia ramu setelah tahu tidak ada yang salah.

Garfiel tidak mungkin salah.

Lelaki ini mengklaim bahwa Garfiel salah, tidak boleh diperkenankan tinggal di sini.

“Hah … hahhh … gua paham …..”

“….”

“Gua perlu menghentikan lu. Padahal kagak ngerti lu bilang apa. Tapi buat gua mual. Lantas, gua hentikan lo, ya.”

Garfiel wajib menghentikannya.

Cara menghentikannya sudah jelas, persis seperti yang dia bilang sebelumnya.

—Selama masih bernafas, Subaru tak terhentikan.

“Kalau begitu … aku akan, membunuhmu ….”

“Emangnya bisa?”

“Bacot—Caranya selalu ada.”

Apabila Subaru tidak terhentikan kecuali mati, Garfiel kini sudah membunuh dan menghentikannya. Sekarang, di tempat ini, dia akan membuat keputusan.

—Membuat keputusan untuk mempercayakan dirinya kepada darah hewan buas keji yang bersemayam dalam dirinya.

“—OOOOOO”

Mendekap dirinya sendiri, seluruh darah di tubuhnya tergoreng dengan panas membara.

Neraka super panas dalam setiap nafas merahnya. Sel-selnya menggeliat, ototnya membengkak, ukuran tubuhnya membesar.

Anggota tubuhnya makin kekar, perutnya membesar sampai merobek pakaiannya. Bulu-bulu emas menghiasi seluruh tubuh sedangkan taring tajam mendadak menjadi pedang panjang.

Wajahnya semakin buruk rupa, dunia di sekitarnya telah berubah warna sekaligus pupilnya.

Pikirannya mulai mengabur. Akal Garfiel Tinzel telah tenggelam.

Keriangan perubahan, dan naluriah hewan buasnya makin-makin mendorong rasionalitasnya. Tatkala semuanya kembali, yang tersisa di hadapannya hanyalah seonggok anggota tubuh dan darah yang tersebar. Tubuh terakhir Natsuki Subaru.

Kecuali melakukan ini, Garfiel tidak akan bisa menghentikannya.

Dia tidak menyesali atau bertaubat karena itu.

Orang-orang yang kurang kekuatan itu buruk.

Mereka yang lemah tidak bisa melakukan apa pun. Semata-mata memiliki kelemahannya belaka.

Kesadarannya telah bubar.

Insting binatangnya menjerit girang, rahang terbuka, hendak memangsa mangsa menyedihkan—

—Penglihatan tercerai-berai binatang itu tenggelam dalam letusan kabut hitam pekat.

10 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 112”

  1. Agak monoton sih karena yang dibahas di chapter kali ini cuma itu itu aja, biasanya kan 2 scene biar jadi lebih kompleks, but yeah its fine, mungkin si teppei lagi capek kali yak.

    1. Ga bisa, Garfiel ngeganti “You” jadi “yer” kalian jadi “Y’all” dan banyak bahasa inggris lain yang kesannya jadi singkatan, contoh:

      “O-oh. W-well, got it. Jus’ holler ‘f yer need anythin’, ‘kay?”

      “C’n tell yer that y’fuckin’ got me good, I looked so frickin’ lame.”

      Kalau lu merasa ga nyaman sama terjemahan gua, silahkan cari tempat baca lain!

  2. Kalo cara ngomong garfiel di ganti “gue elu” nya

    Ntar jadi gabisa ngebedain cara ngomongnya masing2 karakter

    Sebenernya kek gini udah bener sih, lagian ini uda cocok bgt sama garfiel, coba aja sambil bayangin cara ngomong dia di anime nya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *