Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 109

Posted on

Salah Pilihan

CH 109.jpg

Penerjemah : KenwaySouls

“Seperti yang kita diskusikan, penduduk desa akan dievakuasi selagi aku mengalihkan perhatian Garfiel. Natsuki-san bilang jangan terlalu memikirkan uluran waktu, tapi aku lagi merasa lumayan serakah nih … jadi, bisakah aku mengandalkanmu?”

Setelah berpisah dari Subaru, sebelum berangkat dengan dua karavan umpan, Otto berbincang bersama Ram di sudut desa.

Ram menyilangkan tangannya atas permintaan Otto yang agak tidak meyakinkan, kemudian bersandar di dinding dan menutup mata. Ram berdiam diri, Otto berusaha menutup ketidaksabarannya atas desakan pertempuran yang hendak terjadi ….

“Uhm, maaf, tapi … kita sungguh-sungguh tidak punya banyak waktu ….”

“Pria tidak sabaran itu memuakkan. Sudah kubilang, tergantung kondisinya.”

Membuka satu mata, Ram segera menolak mata memohon Otto.

Percakapan ini terjadi tiga hari yang lalu, malam Subaru menantang Roswaal untuk bertaruh, dan Otto meminta Ram bertarung bersamanya.

Roswaal meminta Ram untuk meninggalkan ruangan agar orang itu serta Subaru bisa sendirian.

Dan saat Ram keluar bangunan, Otto menunggu gadis itu di luar. Dia secara akurat menerka bahwa Roswaal akan memintanya pergi sebelum membahas hal-hal penting dalam Kitab, karena itulah Otto berhasil berbincang ketika Ram lagi nganggur.

Sederhananya, tiga hari lalu, Ram beserta Otto tidak lebih dari kenalan biasa.

Interaksi mereka dapat dihitung tangan, dan Ram tidak tertarik pada pria mana pun kecuali Roswaal. Selain muka-muka akrab di Mansion Tuannya, Lewes dan Garfiel barangkali orang yang dia ajak bicara di Sanctuary.

Lantas, tatkala Otto memanggil Ram, dan wanita itu melihatnya seakan-akan melihat kerikil di pinggir jalan, Otto mesti membangun hubungan ramah dari awal.

“Hai, anu … Ram-san. Malam ini terasa nyaman, yah.”

“―”

“Halo?”

“―Ah, aku bertanya-tanya kau ini siapa. Ternyata si pesuruh yang mengikuti Barusu ke mana-mana. Aku tidak terbiasa melihatmu bersamanya, jadi aku agak kesulitan mengidentifikasi mahluk macam apa dirimu.”

“Aku bahkan bukan manusia lagi!? Kesanmu itu menyakitiku! Yah, walaupun, aku agak mengerti kenapa diperlakukan layaknya aksesoris Natsuki-san ….”

“Seorang pria yang mengaku dirinya aksesoris orang lain tidak berguna. Pergi sana.”

“Kejam amat!?”

Tindak-tanduk Ram yang tak dapat didekati langsung merobek salam ramah Otto.

Tidak berminat sedikit pun pada Otto, Ram senderan di sisi pintu dan menyilangkan tangan.

“Jadi, uh … bisa minta waktunya sebentar?”

“Entah akan aku ingat atau tidak, tidakkah kau mempertimbangkan untuk memulai percakapan dengan memberitahu namamu dulu? Entah akan aku ingat atau tidak.”

“Kenapa kau bilang dua kali bahwa kau barangkali tidak mengingatnya? Hadehhh … namaku Otto Suwen. Aku hanya seorang pedagang keliling sederhana, tapi akan aku hargai bila bisa menghafal wajah dan namaku.”

“Tergantung menarik atau tidaknya perbincangan kita.”

Meski hatinya remuk Otto tetap memberikan namanya, sementara Ram tidak menyesali perilaku songongnya.

Kendati Ram bilang dia bersedia mendengarkan, tapi akan segera dia hentikan jika ternyata tidak berguna. Otto sekali lagi serius dan memulai percakapan dengan nada berbeda.

“Ini ada hubungannya dengan yang sedang didiskusikan Natsuki-san serta Margrave, tapi … Ram-san. Apakah kau tertarik membantu Natsuki-san dan aku dalam pembebasan Sanctuary dari Penghalangnya?”

“―Sudah cukup. Satu-satunya hasrat Ram adalah memuhi harapan paling tulus Roswaal-sama. Selama aku menghormati kehendak Roswaal-sama, membebaskan Sanctuary akan sia-sia.”

“Tapi perkataan barusan adalah asumsi semuanya berjalan sesuai kehendak Margrave … benar? Ram-san, kau tahu betul peristiwa-peristiwa ini telah menyimpang, kan?”

“―”

Ottolah yang mengusulkan, di akhir perbincangannya dengan Subaru, bahwa mereka menjadikan Ram sekutu mereka.

Subaru enggan menerimanya, menurut tuturnya, Otto memutuskan bahwa itu adalah taruhan yang peluang kemenangannya bagus.

Membuka mata, alis merah muda Ram yang tanpa emosi tertuju pada Otto.

Dia menyilangkan tangannya selagi jemari di tangan kanan menyusuri sebuah tongkat di bawah roknya.

Kata-kata selanjutnya adalah penentuan apakah Otto akan memancing kemarahan Ram dalam bentuk bilah angin atau tidak.

Menahan nafas, pria itu membasahi bibir dengan lidah, Otto menampakkan senyum tak kenal takut, serupa ketika dia bertransaksi.

Tubuhnya tidak lagi kaku tatkala denyut nadinya dipercepat hingga mencapai pase yang tepat.

Sekarang, seperti biasa, sudah waktunya berdiri teguh.

“Banyak peristiwa yang telah melenceng dari rencana Margrave―dan untuk pertama kalinya, muncul peluang untuk mewujudkan harapanmu sebenarnya. Dan aku yakin Natsuki-san bersama diriku bisa membantumu.”

Jari-jari Ram bimbang, merasa ragu―kemudian melepaskan tongkatnya. Melihat ini, Otto memutuskan bahwa promosi penjualannya sukses.

Setelah mendengar tawaran Otto dan mengetahui detail-detail rencananya, Ram mengajukan beberapa syarat.

Sejujurnya, mengungkapkan seluruh rencana mereka kepada Ram adalah pertaruhan besar bagi Otto dan Subaru. Bilamana mereka salah menilai dampak tawaran mereka pada hati Ram, maka semua rencana mereka akan bocor ke Roswaal. Tetapi keuntungan dari risiko ini sangat-sangat layak.

Ram menuntut beberapa syarat sebagai imbalan dari kerja samanya, dan setelah mengetahui syarat-syarat itu masuk akal, Otto menerimanya.

Otto tidak menyebutkan detail persyaratan itu kepada Subaru. Karena dia memerlukan bantuan penuh Ram, dan penting merahasiakan beberapa aksinya.

Seandainya Otto memberitahu Subaru, orang itu takkan menghentikan mereka. Mana kala Subaru menyerah pada emosinya dan mengesampingkan rencana itu, berarti mempersembahkan takdir mereka pada peluang.

“Hidupmu tidak beruntung, benar? Aku tidak tahu bagaimana nafkahmu, tapi kau adalah pedagang yang buruk.”

“Kau beneran ingat aku ini pedagang keliling, kan!?”

Ram membalas dengus pada tekad rahasia Otto, kala raungan menderita bergema ke seluruh Sanctuary.


―Dihadapkan dengan tekanan besar binatang itu, Otto terkejut tubuhnya tidak gemetaran.

Sosok menakutkan yang menjulang tinggi di depannya adalah monster raksasa yang tingginya empat meter.

Taring bengkoknya yang memanjang, terekspos dari mulut besarnya, sedangkan cakar liku brutalnya nampak seperti sabit kematian yang hendak merenggut kehidupan. Helai-helai bulu keemasan di sekujur tubuhnya adalah kawat tebal yang mampu mematahkan bilah fana mana pun yang menyasarnya.

Hanya terlihat kilatan dalam matanya, satu warna dengan kulitnya, mempertahankan sosok Garfiel sebelum berubah. Namun kurangnya kesamaan antara perawakan masa kininya dengan beberapa saat yang lalu, membuat semua ini kelihatan tidak nyata.

Dialah Garfiel, setelah merubah tubuh manusianya menjadi harimau ganas.

Nafas berbau busuk berhembus dari dalam tenggorokannya yang menggeram-geram, memancarkan tekanan yang mampu membekukan hati semua mahluk hidup di hutan.

“―”

Secara sadar terpaksa tersenyum, Otto berharap dia bisa mengatakan sesuatu, apa saja, asalkan dapat meringankan suasana.

Tetapi tiada suara yang keluar dari tenggorokan bekunya, bahkan pipi yang semestinya tersenyum telah terurai dan jadi kaku.

Terlambat sudah, Otto sadar kenapa dia tidak gemetar.

―Bukannya dia tidak takut. Lebih mirip seperti, menghadapi Kematian tertentu, tubuh Otto tidak lagi berusaha meningkatkan peluang hidupnya.

Lagi pula, gemetar karena takut adalah mekanisme tubuh sebagai naluri bertahan hidup.

Jelasnya jiwa yang berteriak ke tubuh : Jangan menyerah! Tapi, dalam kondisi di mana semuanya tak berguna, sudah lumrah tubuh Otto tidak gemetaran.

Pria muda itu mendengarnya, sudah dia bayangkan.

Otto tahu bahwa Garfiel memiliki darah campuran binatang buas dan manusia, dirinya bisa berubah menjadi monster kapan saja.

Tetapi kenyataan melebihi imajinasi lemah Otto dan memanifestasikan mahluk yang jauh melampaui pemahaman manusia hingga menelan habis semangatnya.

Tidak disangka, di hadapan mahluk semacam ini, dia masih bisa mengatakan hal bodoh seperti Kita sudah mengulur banyak waktu, kenapa tidak hajar saja dia? Tentu saja bocah Suwen tidak mencoba melawannya. Karena dia tidak punya peluang sedikit pun.

Biar begitu ….

“Garf berubah … semua persyaratannya sudah teprenuhi.”

Gumam gadis kecil di sampingnya, suara Ram sama sekali tak berubah di depan eksistensi maha besar ini.

Otto bahkan tidak sempat bertanya, Syarat apa? Tapi gerakannya terlampau mekanis hingga lehernya berderit saat berputar, Otto melihat si gadis―melihat Ram.

Bibirnya agak rileks, dan untuk pertama kalinya, gadis itu memperlihatkan senyuman kepada Otto.

“Garf salah kaprah karena memilih pilihan ini―Kita menang.”

“―”

Kau yakin soal itu? Sindir Otto dalam benaknya, melupakan kesopanan biasanya.


―Ram mengajukan kira-kira tiga syarat atas kerja sama mereka.

“Terlepas perbedaan rencana Roswaal-sama … dan dari kehentak Kitab, kau harus mempertahankan hidup Roswaal-sama di dunia ini, apa pun yang terjadi.”

Persyaratan ini telah dipenuhi tatkala Subaru menantang bertaruh Roswaal.

Orang besar itu, yang siap meninggalkan segalanya, sekali lagi mengenakan riasan tempurnya, dan matanya yang penuh kehidupan, bertekad menghadapi dunia sekali lagi.

“Yang kedua, Emilia-sama tidak boleh kehilangan determinasi beliau untuk menantang Ujian. Jikalau dunia ini terus berlanjut walaupun menyimpang dari rencana Roswaal-sama, maka beliau pasti akan berdiri sendiri. Beliau harus diuji sebelum hari-hari penting itu datang.”

Syarat kedua ini adalah tugas Subaru dan Emilia, namun mendapati Ram bersedia mendengar permintaan Otto, sudah pria itu anggap dua syarat ini telah terpenuhi.

Ketika Otto mendengar Emilia menghilang, yang pertama terbesit adalah, “Matilah kita,” tapi Ram tidak berpikir demikian. Namun, karena Otto takut dia mungkin berubah pikiran seandainya ditanya alasannya, Otto membiarkannya saja.

Jadi ….

“Andai kau mampu menjamin dua hal ini, aku bersedia membantumu. Tapi selain dirahasiakan dari Barusu, aku masih punya beberapa persyaratan lagi.”

“Boleh-boleh, selama masih bisa aku wujudkan.”

Apabila aku bergabung dalam pertarungan melawan Garf, kau paling tidak harus memperlebar peluang kemenangan. Pertama-tama, kunci hidung Garf. Lalu, berikan damage yang besar sampai dia tidak bisa bergerak. Aku takkan bergabung dalam pertarungan sampai saat-saat itu terpenuhi, jadi harus kau lakukan sendiri. Tentu saja, melihatmu berani menawariku hal ini, sekurang-kurangnya kau punya satu kartu as yang masih tersembunyi, bukan?

“Yah … ada sedikit sesuatu sih.”

“Begitu, dugaanku benar rupanya. Kalau begitu, ini syarat terakhir ….”

“Oke.”

“Buat Garf berubah―Ini adalah ketentuan terakhir untuk mencapai kemenangan.”


ilus CH 109.png

“Indra penciumannya, masih cacatkah?”

“…”

“Menyedihkan.”

“Ugh!”

Melihat Otto begitu terpukul sampai-sampai dia tidak bisa menjawab pertanyaannya, Ram tanpa ampun menusuk pinggangnya dengan siku. Sambil merintih kesakitan, bergeliat karena perih, Otto tersentak dan mendadak ingat cara bernafas.

“A, aghh … k-kukira aku akan mati … barusan, mati gara-gara sikuan itu!”

“Dengar ya, perisai daging lembut kurus lebih baik daripada tidak sama sekali. Indra penciumannya, masih tidak bekerja?”

“Aku akan pura-pura tidak mendengarkan kalimat pertama, soal pertanyaanmu jawabannya benar. Makoil pollen adalah zat kuat pembasmi hewan, bahkan manusia akan pingsan jika menciumnya dari dekat.”

“Bahkan masih bekerja pada Garfiel, penciumannya yang berkali-kali lipat lebih sensitif. Itulah salah satu kelebihan wujud binatangnya. Waktu serta serangan yang ditujukan kepadanya … semuanya sesuai rencana.”

Menghela nafas ringan, Ram mengangkat tumitnya dari tanah dan diarahkan ke jari kakinya. Sesudahnya, Ram kembali menjatuhkan tumitnya, mengangkat lagi, dan mengulang-ulangi gerakan itu dalam gerakan latihan kaki sederhana.

Otto mengerutkan alis dikarenakan kelakuan aneh Ram, dan melirih, “H-hmm?” Otto kebingungan.

“R-Ram-san? Kau lagi apa?”

“Aku sedang pemanasan. Sedikit melemaskan tubuh sebelum mulai. Meski benci mengakuinya, Barusu benar tentang efisiensi ini.”

“Anu, bukan, bukan itu … maksudku, latihan ini untuk apa?”

“Sederhana sih.”

Melirik sekilas Otto dari sudut penglihatannya, Ram selesai pemanasan dan menutup mata. Kemudian, membuka matanya sekali lagi, kakinya terbawa ke depan― berjalan santai, dia mulai mendekati binatang itu.

“T-tunggu!?”

“Diamlah.”

Mata Otto melotot selagi melihat Ram maju. Tapi si gadis semata-mata menolak panggilannya, tidak melamban sedikit pun saat berlari mendekati harimau.

Binatang itu merunduk dan menatap tajam mata mangsanya. Terkejut oleh tindakan mahluk kecil tersebut, tubuhnya kaku sejenak, segera setelahnya, si binatang menganggap itu sebagai penghinaan.

Kemarahan muncul di mata keemasannya kala mengangkat kaki depan besar nan kekar, lebih tebal dari badan Ram, cakar-cakar ganas yang memanjam. Panjang satu cakar ini, masing-masing selebar lengan gadis mungil itu, sudah cukup untuk mengubah tubuhnya menjadi bekas sayatan panjang.

Angin menjerit tatkala Sabit Reaper dalam bentuk cakar berayun, siap merenggang nyawa Ram dari dunia ini.

―Tapi, persis sebelum terjadi.

“Kau terlampau halus, Garf―Menurutmu sedang lawan siapa?”

Sambil berjongkok dan menghindari cakar besar yang melintas di atas kepala, Ram berkata demikian kepada harimau dengan iba.

Setelah menghindari sepenuhnya ayunan itu, sang harimau melayang ketika sosok kecil Ram mengincar dadanya. Berlutut, Ram langsung berdiri tegap selagi melancarkan tinjunya yang telap siap―

“Kapan kau pernah menang adu tinju melawanku?”

“―RRGH!”

Tinjunya menerjang ke tubuh Garfiel dari bawah, menerbangkan binatang yang beratnya ratusan kilo itu ke udara.

Tubuhnya melengkung terhadap kekuatan pukulan Ram, lolongan sakit terdengar dari rahang binatang buas yang menganga itu. Gelombang kejut tersebar ke seluruh hutan dan Otto mendengar suara udara yang meledak.

“Tidak, mungkin.”

Seorang gadis yang lebih pendek satu kepala darinya baru saja menghempaskan binatang buas yang amat kolosal sampai-sampai mendongak saja belum cukup melihat seluruh sosoknya, Garfiel diterbangkan ke udara oleh satu tinju. Begitu saja, kepalan tangan Ram masih terkubur di tubuh harimau, wanita itu hanya menggunakan tangan kosong yang kian jauh menghempaskan si binatang. Pukulan demi pukulan dari tangan yang berbeda berhasil mengalahkan binatang besar yang menjerit-jerit mundur. Taringnya terbuka, mengarahkan rahang besarnya ke Ram, sayangnya gadis itu melompat, menginjak hidung si harimau, lalu dengan tendangan kuat, dia menendang hewan itu kuat-kuat sampai roboh ke tanah.

Raungannya terputus saat menabrak tanah, binatang raksasa itu menggeliat, kalang kabut, mencoba merobek-robek tubuh gadis yang bermain-main dengannya. Tapi Ram menari-nari di udara bagai dedaunan tertiup angin, mengejek serangan si harimau, melancarkan serangan ke titik-titik tanpa bulu.

Tumitnya mengincar tenggorokan Garfiel. Tangannya diapit ke sisi kanan-kiri pinggul. Tinju Ram menghantam cakar sampingnya, membuka jalan untuk tendangan langsung ke wajah si hewan buas yang tanpa pertahanan.

Menyaksikan dirinya mengalahkan si harimau ganas dalam pertempuran jarak dekat, sensasi nyata seolah tengah membaca buku bergambar mencengkeram hati Otto.

Otto menonton apa?

Melihat Garfiel membuang wujud manusianya telah membuat Otto kelewat putus asa sampai-sampai tubuhnya menyerah untuk hidup. Tapi, dia sedang menonton apa?

Setiap ayunan lengan gadis itu, tubuh Garfiel buas terdorong ke belakang karena kekuatan pukulan tersebut. Monster besar yang aumannya saja mampu membantai mahluk hidup, tak dapat mendaratkan satu pun serangan pada Ram.

Cakar-cakar murkanya menyerang secara membabi-buta, mencungkil tanah, merusak hutan, akan tetapi bentang alam yang berubah bentuk itu tidak jadi masalah bagi Ram.

Mereka bisa menang, seperti ini.

Otto merasa tolol karena meremehkan komentar sebelum pertarungan Ram.

Pernyataan gadis itu tentang mengubah wujud Garfiel dengan sengaja, kini ia mengetahui gunanya.

Sebagai hewan buas, kekuatan yang berubah luar biasa besar, tapi keunggulannya terletak pada situasi tatkala dia melawan banyak lawan. Tubuh besarnya sendiri adalah senjata, bahkan melawan satu individu, tidak mungkin dia bisa kalah.

Tetapi, ketika lawannya adalah seseorang dengan kemampuan bertarung aneh bin ajaib, beda ceritanya.

Tubuh kekar besarnya dijadikan target, cakar kuatnya yang mampu menebang pohon sangat lengah, dan kekuatan hancurnya membuat Garfiel kikuk dan tak seimbang, tidak kuasa berpindah antara serangan dan pertahanan.

Dengan tenangnya menganalisis situasi akan memperjelas semuanya.

Namun, solusi sederhana ini bisa diperhitungkan bila ada pribadi yang lebih kuat dalam kelompokmu.

Kartu liar bersahabat yang mampu menangkis transformasi Garfiel―mengamankan sumber daya berharga ini kepada tim mereka adalah kontribusi terbesar Otto dalam pertarungan ini.

“Kita bisa … kita bisa menang! Kalau begini, Garfiel akan ….!”

Mengepalkan tinjunya, Otto bersorak-sorai saat melihat harapan pertama kemenangan.

Seolah bergantung pada harapan itu, tinju Ram menghujam pipi harimau ganas itu, membuat si mahluk berguling-guling anggun di tanah, menerbangkan debu.

Dan―

“―Ugh.”

Mengerang, dan darah deras mengalir turun dari dahinya, tubuh Ram sempoyongan seolah hendak jatuh.


Aliran darah membuat daya pandangannya merah penuh, langkah panik Ram nyaris tidak berhasil mempertahankan tubuh untuk tidak jatuh.

Tajam, rasa sakit menusuk melintas tepat di atas alisnya―di bagian tengah dahi. Mendecakkan lidah, Ram merasakan sakit berdenyut-denyut dari bekas luka samar-samar.

Di belakangnya, terdengar suara teriakan serak Otto. Sangat menyebalkan.

Tidak perlu memberitahu Ram betapa buruk situasinya. Bukan salah satu serangan Garfiel yang menyerangnya. Melawan cakaran membabi-buta lebar itu, sebenarnya lebih sulit kena serang daripada menyerang. Teriakan-teriakan itu menjengkelkan. Kuingin memukulnya.

“―Hhu.”

Mengusir nafas pendek, kaki goyah Ram menghentak tanah.

Tiba-tiba, cakar harimau merauk tanah tempatnya berpijak. Gumpalan tanah tersebar seperti rentetan tembakan shotgun, bercampur tetesan merah jelas saat Ram berputar-putar, menghindari semuanya.

Ram betul-betul terpojok, entah bagaimana, dia masih bisa bergerak. Melihat celah, ia menendang rahang harimau dari bawah, membuat hewan itu meraung pilu dan Ram melancarkan tendangan-tendangan lain. Memanfaatkan momentum tersebut untuk mundur menghindar, tetapi begitu Ram mendarat, kuda-kudanya mendadak goyah.

“―Ah.”

“―WRRRR!”

Secara harfiah jarak antara dirinya dan serangan Garfiel sejauh helai rambut, gadis itu tepat waktu menjauh dari cakar tersebut meski rambutnya terpotong, helai demi helai merah muda melayang di udara.

Kebetulan saja dia tidak terkena serangan itu. Jikalau kaki Ram terpeleset, kepala Ram pasti sudah meledak seperti buah merah.

Mencicipi dekatnya maut, merasakan sesuatu tak tertuliskan menjalar di bulu kuduknya, bibir merah Ram terbuka lebar sembari menggeram.

Kenikmatan pertarungan. Bekas luka di dahinya berdenyut sakit, menyebarkan sesuatu antara perih dan gatal yang membanjiri seluruh tubuhnya.

Tanduknya yang patah. Bukti bahwa dirinya seorang Oni. Demi melepaskan kekuatan penuhnya, Ram membutuhkan tanduk untuk mengambil mana dari sumber tak habis-habis di atmosfer sekitarnya. Setelah kehilangan organ itu, tubuhnya bahkan tidak bisa mengeluarkan sepersepuluh kekuatan sejatinya.

Ram sudah tahu dirinya akan dihukum mana kala memaksakan tubuhnya.

Meski begitu, Ram berpikir bila tubuhnya masih kuat dan berhasil mengakhiri pertarungan secepat mungkin, lantas tidak mungkin dia kalah. Kendati begitu ….

“―Kau jadi lebih kuat, Garf.”

Ocehan Ram penuh emosi yang jarang-jarang dia tunjukkan kepada orang lain.

Pasalnya, Otto tak pernah melihat Ram beremosi, bahkan Subaru pun jarang-jarang melihatnya begitu. Semacam emosi yang dia tampakkan kepada satu-satunya keluarga, keluarga yang telah lenyap dari ingatannya.

Senyum lembut masih terukir di bibir Ram, kepala tangannya tanpa ampun menjotos wajah harimau itu.

Ram merasakan kulit keras yang memantul dari buku-buku jarinya. Tinjunya, setelah kehilangan kekuatannya, langsung merasakan dampak balik, mematahkan tulang tangannya. Rasanya enak. Ram bertarung. Ram hidup. Kegembiraan membunuh dan dibunuh menyelimutinya dengan euforia maha besar. Lebih lagi, lebih lagi. Masih banyak lagi setelah ini. Masih ada dimensi lain yang belum dicapai.
Tangan kanan Ram hancur, tidak bisa lagi membentuk kepalan. Harimau yang wajahnya remuk meraung-raung. Bernafas bagaikan angin topan yang mendesak tubuhnya selagi tangan kirinya membelah angin dan mencungkil kulit tipis di leher si harimau. Darah menyembur keluar, jari-jari Ram mencabik-cabik daging dan membuat lebih banyak darah bocor keluar. Semburan darah menyemprot pipinya yang putih sembari menikmati rasa pahit di lidahnya.

Seandainya tangan kanan Rem yang hancur tidak berguna, maka Garfiel akan dicekiknya. Satu lengan saja tidak cukup membungkus leher yang jauh lebih lebar dari tubuhnya sendiri.

Meraung, bergulat, menendang sekaligus mencekik pembuluh artileri si binatang, Ram menghindari cakar yang mendekat. Habis-habisan pindah posisi, salah satu jarinya terpeletak. Retakan itu rasanya nyaman, seolah-olah dia kembali ke kampung halaman.

“Bh, hoekk, ugh.”

Tarian itu terlampau menyenangkan, namun kepalanya yang pening sangat buruk. Darah tidak berhenti-henti mengalir dari dahinya, keluar lewat hidung dan mulutnya juga.

Gadis itu sudah melampaui batas, tubuhnya mulai hancur. Saraf yang mengendalikan tubuhnya telah berjuang segigih mungkin, tapi, tanpa mana yang menopangnya, tubuh Ram berangsur-angsur gagal mengikuti. Gerakan Ram cepatnya bukan main, masih mampu menghindari cakaran Garfiel. Sangat luar biasa kemampuan tempurnya sampai-sampai tak satu pun serangan mengenainya. Tapi tangan-tangan jahat itu terus mengincar tubuhnya, akhir hidupnya akan tiba bahkan sebelum cakar atau taring mana pun sampai padanya.

“―Ugh, hoek.”

Setelah berhenti sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam, sebuah zat berbentuk cairan menyembur keluar dari mulutnya.

Gumpalan darah terpercik ke tanah, seakan-akan daya hidup Ram sendiri, tubuhnya langsung kehilangan kekuatan.

Bahu si gadis merosot, kakinya roboh. Garfiel tentunya tidak melewatkan momen-momen ini. Wajahnya yang benjol-benjol dan murka memamerkan taringnya sembari mengayunkan cakar-cakarnya ke tubuh ramping Ram.

Naas―

“HAHHHHH!!! DONA!!!”

Bersamaan dengan rapalan serak itu, sebuah dinding bumi naik dari tanah.

Memisahkan Ram dan si kaki harimau, mencegat serangan persis sebelum Ram dicabik-cabik.

Tapi dalam sekejap itu pula, sebuah tangan menyeret tubuh wanita berambut pink ke belakang, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menarik Ram ke belakang.

―Entah bagaimana, dia merasa ini kali kedua dia terlempar seperti ini.

Mendongak ke atas, dia menatap langit-langit dalam linglung ketika sentimen tak tepat itu terlintas dalam benaknya. Dampak punggungnya yang jatuh duluan membuat Ram terengah-engah, tapi dia buru-buru mengangkat kepala untuk mempelajari situasi terkini.

Di depannya, di tempat dia baru saja terlempar, kini berdiri Otto yang semestinya meringkuk di samping. Nampaknya Otto tahu Ram dalam bahaya dan langsung menerjang maju.

Biar begitu, Otto takkan bisa melakukan apa-apa―

“―――WRRWRWRWR!!!”

Sang hewan buas, marah terhadap mahluk tak berdaya yang telah menyusup ke dalam pertarungannya, mengecam si pemuda dengan raungan yang mengguncang hutan. Seumpama Otto tetap diam, dia akan jadi makanan taring-taring itu. Waktu-waktu sekarang menuntut tindakan cepat, Otto mengepalkan tangannya, menginjak tanah, kemudian―

“―WRRRRR!”

―Dari tenggorokan kurusnya, terdengar raungan yang kedengaran persis sebagaimana raungan si hewan.

Divine Protection of Anima Whispering, Ram pernah mempelajarinya. Otto senantiasa membual selama mahluk pintar yang dia kontak, entah naga atau pun mahluk mini, atau bahkan serangga, Otto bisa berbicara dengan mereka. Tampaknya juga membuatnya bisa berbincang-bincang bersama Garfiel yang telah berubah menjadi hewan tanpa akal itu.

Ram tidak tahu Otto berhasil menerjemahkan apa dari raungan Garfiel.

Dan Ram juga tidak tahu tanggapan Garfiel terhadap respon Otto.

Namun saling meraung ini betul-betul memakan waktu sejenak sebelum hewan itu menggunakan cakar juga taringnya.

Pembukaan itu cukup memberitahu Ram alasan Otto melemparnya.

“―WRRRR!”

―WRRR! Aaauuu! Hei, suaraku sudah mau habis ….!”

Berjuang mempertahankan darah yang tercekat di trakea, Otto memegangi tenggorokannya saat batuk-batuk.

Obrolan itu berakhir, si harimau mengangkat cakarnya, hendak membunuh Otto dengan satu serangan. Otto mengangkat tangan di hadapannya, raut wajahnya penuh tekad, dia melepaskan teriakan putus asa itu.

“EL DONAAAAAA!”

Dinding tanah yang tebal membentang di depan Otto, dan, tidak melihat kenaikan dindingnya, Otto berbalik dan mulai berlari. Cakaran harimau itu menyayat dinding di belakangnya, menyapu gumpalan debu yang berputar-putar saat menghampiri sosok Otto―satu serangan langsung menghempaskan tubuh kurusnya bak ranting mati, tanpa henti menabrak-nabrak, menembus semak-semak dan pohon.

Tidak tahu dirinya hidup atau mati tergantung keteguhan hati Otto.

Ram tidak mempedulikan keputusan dan tindakannya. Ram yang tidak mengindahkannya adalah cara paling tepat untuk membayar perbuatan Otto.

“Garf―Banter-banternya kau salah juga karena berubah.”

Ujar Ram kepada harimau yang berbalik hendak menyerang mangsa berikutnya.

Bersandar di pohon, terbebas dari kegembiraan haus darahnya, kepala Ram telah bersih dari darah dan debu. Tangan kiri memegang kuat-kuat tongkat, dia arahkan ke Garfiel.

Mana mulai terkumpul.

“Misalkan kau punya setitik pun akal sehat, kau tidak akan mengabaikanku.”

“―”

Harimau itu mengerutkan hidung. Tidak tahu apa yang akan datang.

Mata hewan buas tanpa akal itu tidak paham arti Ram yang tengah Berdiri di tengah-tengah massa cahaya putih.

Bagi para penghuni hutan, pria ini, yang telah berubah menjadi monster dan melakukan kerusakan terhadap bumi, pepohonan, serta hutan, hanya untuk menyerang Ram, adalah penjahat kejam tak termaafkan―

“Aku tidak secerewet dirinya.”

“―!”

Menyadari sesuatu, harimau itu membungkuk rendah dan menyerbu ke arah Ram.

Tapi semuanya sudah terlambat.

“―Al Fula.”

Mana dari kemurkaan penduduk hutan berkumpul di ujung tongkat Ram, meledak menjadi semburan cahaya.

―Dan pertarungan demi melindungi hutan Sanctuary berakhir sudah.


Merasa dia baru saja mendengar raungan binatang buas, Subaru menghentikan langkahnya dan melirik ke belakang.

“Gak, gak mungkinlah.”

Kelewat cepat untuk itu, kata firasat naif Subaru.

Barangkali sudah dua puluh menit sejak dia meminta Otto untuk mengulur waktu dan meninggalkannya. Mengenai Otto yang sudah berangkat dengan kereta, meragukan sih, juga tidak mungkin situasinya jadi separah itu.

Subaru menyangka kegelisahannya pasti membuat halusinasi, sebetulnya itu pemikiran menakutkan. Seberapa cemastah diri Subaru?

“Mesti yakin, meski yakin. Otto berusaha mati-matian untuk membelikanku waktu. Dia menukas akan membocorkan segalanya tatkala Garfiel menangkapnya … dan kami tidak memberitahu para penduduk Arlam apa-apa yang tidak perlu mereka tahu, seharusnya mereka tidak jadi target.”

Setiap kali Garfiel menyerang Subaru atau pun penduduk desa saat mereka hendak pergi, Subaru mengkonfrontasi Garfiel tentang klon-klon Lewes sebelumnya, Dengan kata lain, berdasarkan spekulasi Subaru, Garfiel tidak ingin kebenaran tentang klon Lewes tersebar ke luar.

Subaru tidak tahu apa alasan yang mendasari hal demikian, tapi tampaknya Garfiel tidak bisa tenang sampai memberantas semua orang yang mengetahui kebenaran itu. Perulangan ketika dia membantai semua penduduk desa kecuali Subaru barangkali adalah hasil dari ketidakmampuan Garfiel perkara Subaru telah atau tidak membocorkan fakta-fakta Sanctuary kepada salah satu rekan pelariannya.

Perkara Garfiel akan percaya pada Subaru ketika dia bilang tak pernah memberitahu penduduk desa, adalah pertaruhan, pokoknya, Subaru mendapat keyakinan misterius bahwa bilamana dia menekankan fakta itu, Garfiel akan menerimanya.

Orang itu bukanlah tipe yang mahir menangani hal rumit, jadi Subaru pikir dia mesti menyuguhkannya hal-hal yang mudah untuk dipahami Garfiel.

“Sekiranya Otto benar, maka Ram ada di pihak kami. Kemungkinan terburuknya, selama Otto tidak terdsak, Otto takkan mendapat bantuan Ram ….”

Kalau ada sesuatu yang wajib dikhawatirkan, adalah Ram yang berlebihan memprovokasi Garfiel.

Mereka berdua sudah saling kenal lama, dan mereka berbagi masa lalu yang tak diketahui Subaru. Bila ada sesuatu yang retak di antara mereka karena masa lalu itu, akan mengantarkan konsekuensi tak terbayangkan.

Tapi alasan Ram setuju membantu mereka adalah agar Roswaal tidak bunuh diri karena dunia telah berjalan menyimpang dari Kitab, dan Ram tanpa lelah akan menempa jalan itu. Paling tidak, begitulah tafsir Subaru, dan bocah itu berpikir bahwasanya Ram akan memerlukan bantuan dirinya dan Otto untuk mencapai masa depan itu.

Bahkan jika Ram tak terkesan oleh promosi penjualan Otto, dia pasti akan setuju-setuju saja nanti.

“Aku percaya padamu, Kakak Besar-sama! Tidak peduli setidak berguna apa Otto, tolong bekerja bersamanya!”

Menyatukan tangan, Subaru mendoakan keselamatan mereka.

Tidak menyadari kedua orang itu telah pergi dan memutuskan menjambangi batas antara hidup-mati, Subaru mengakhiri doanya, kemudian ….

“Baiklah, mesti mengerjakan bagianku.”

Mencubit-cubit pipi untuk menenangkan diri, Subaru menggelengkan kepala dan melanjutkan langkahnya.

Sewaktu langkahnya memasuki pintu masuk yang terbuka lebar, jatuh suasana tak nyaman―dan keberanian Subaru terbang melawan suasana itu.

“Aduhhh ….”

Sambil menutup mulut, Subaru terpaksa menahan mual selagi terus maju.

Sensasi tak bergeming itu membuat setiap langkah Subaru terasa bak bayangan di ujung tangga. Organ-organnya bergejolak sementara darahnya seolah-olah mengalir terbalik, seakan-akan suasana kini mulai mengiris lidahnya.

Menelan rasa penolakan seolah seluruh dunia protes kepada Natsuki Subaru, laki-laki itu menarik nafas dalam-dalam setelah menghembuskan nafas kuat-kuat, wajahnya pucat pasi, menekan tangannya ke dinding selagi menyeret maju kakinya.

“Jangan … jutek-jutek begitu … rasanya … menyakitkan, tahu ….”

Setelah mengantisipasi hal ini, Subaru sudah mengosongkan perutnya.

Walau demikian, rasa mual ini membuat asam lambung di perut naik ke mulutnya.

Subaru mengenyahkan perasaan tersebut dan memaksa matanya terbuka selagi berusaha gigih merangkak langkah demi langkah menembus kegelapan.

―Dan.

“Ah, alhamdulillah―Akhirnya aku menemukanmu.”

Mencapai ujung yang rasanya seolah selamanya, pundak Subaru melega.

Di depannya, bersandar ke dinding kuno dari lorong berdebu itu, terdapat gadis yang tengah terduduk di sana sambil memeluk lututnya, menatap Subaru sambil memasang ekspresi terheran-heran.

“Su … baru?”

Walau suaranya goyah, Emilia yang memanggil namanya membuat Subaru puas.

Kemudian, pria itu membungkuk di samping gadis, dan―

“Hei―ayo bicara, Emilia-tan.”

Kembali menenangkannya karena dia tidak tahan menghadapi kesalahannya, kali ini, Subarulah yang menuturkan kata-kata itu.

3 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 109”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *