Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 108

Posted on

Seorang Pria yang Hanya Mahir Mengatur Waktu

CH 108.png

Penerjemah : DarkSouls

Melalui mana yang berkumpul di ujung tongkat, rapalannya menulis ulang dunia―

Siulan angin menjadi bilah, berputar layaknya mata badai yang membawa kehancuran.

“―!”

Di tengah pusaran itu―target putaran pedang, Garfiel meraung ke langit.

Amukan pusaran itu menyerang tubuh Garfiel, mencukur dagingnya yang keras. Darah tumpah dari luka-lukanya, namun lompatan tepat waktu pria itu mencegahnya untuk tidak terbelah dua.

Disajikan pilihan antara menyerang balik dan menghindar, Garfiel memilih menghindar, langsung saja melarikan diri. Meski ada keraguan dalam matanya, Garfiel melindungi kepalanya dengan lengan dan merengsek keluar dari jalur bilah angin.

Tapi penyergapan ini dibuat sebagai penentu pertarungan.

Angin tidak memungkinkan Garfiel melarikan diri dengan mudah karena melukai pelariannya. Menghentak tanah, pria itu mendecakkan lidahnya terhadap tebasan tak kasat mata itu ….

“Halah, pantek!”

Kala dia mendarat, Garfiel berteriak selagi berpapasan langsung dengan bilah angin.

Menggerakkan tumitnya ke tanah, kakinya sebagai tumpuan, bagian persegi bumi mulai terangkat ke atas dan Garfiel melompat ke udara. Bilah angin menabrak tanah yang telah rusak dan menghancur-leburkan lapisan permukaannya sebelum menghilang.

Mematuhi gravitasi, segala macam hal yang ikut terbawa kembali jatuh ke tanah, mengirimkan ombak debu.

Menyaksikan pemandangan menggelikan itu, semua orang biasa pasti akan terbungkam dan bingung.

Tapi si penyerang bukan orang biasa, dan ini bukan kali pertama Ram melihat Garfiel berhasil menghindar.

“Ugh!”

“Cih!” umpat Garfiel.

Yang keluar dari gumpalan debu adalah seorang gadis yang rok pendeknya berkibar-kibar.

ilus CH 108.png

Di bawah rambut rapi berwarna jambon, pupil merahnya berkilau penuh tekad kuat. Mana keluar dari ujung tongkatnya, membengkokkan atmosfer dan mengirimkan bilah angin.

Efektif untuk serangan jangka luas daripada kelihatannya, pesawat sederhana tanpa kekurangan ini cocok bagi Ahli Sihir Angin.

Berlawanan dengan penampilannya yang rapuh, tebasan bilah angin lebih kuat ketimbang pedang biasa.

Garfiel menyiapkan cakar-cakarnya, bersiap melawan, bahkan cakarnya pun tidak bagus melawan bilah itu.

Tetap terdiam, Garfiel menurunkan kuda-kudanya, bersiap melompat mundur. Tetapi gerakannya diganggu oleh serangan Ram.

“Fula!”

“Ghk!?”

Rapalan singkat. Serangan dari kelas Sihir Angin terendah. Serangan itu menghantam Garfiel dari belakang, mengejutkannya sebelum sempat mundur selangkah. Tak ada damage. Namun menghentikannya.

Garfiel persis tepat waktu melihat Ram menurunkan tongkatnya.

“―”

Keputusan terbaik di sini apa? Sebelum Garfiel dapat mempertimbangkannya, tubuhnya bergerak sendiri.

Cakar serta taringnya, senjata bawaannya tidak cukup kuat melawan bilah angin. Dan dirinya yang lengah, membuatnya terlambat menghindar sekarang. Berarti pilihannya tersisa satu.

“RRrrararrrugghhhhh!!!”

Mengaum, Garfiel menerjang maju, menjepit kedua tangannya untuk menangkap pedang tak terlihat di antara telapak tangannya. Teknik menangkap pedang dengan tangan kosong ini cocok untuk melawan pedang biasa, namun tatkala melawan mata pedang ghaib dan tanpa bentuk, tidak begitu jelas apakah akan bagus menggunakannya.

Walau demikian, meskipun bilahnya terbuat dari angin, secara fisik Ada. Menjepit ujung bilah di antara kedua telapak tangannya, Garfiel mecegat jalannya, alih-alih terbelah dua, kulitnya cuma tergores saja.

Serangan telah gagal, pikir lambat Ram.

“Kelewat … dekat!” teriak Garfiel.

Orang itu melancarkan tendangan depan yang mengarah langsung ke badan Ram saat gadis itu mendarat.

Kakinya menembus udara dan kekuatannya cukup untuk melenyapkan lereng gunung, tetapi tidak mencapai Ram, karena tubuhnya membungkuk ke belakang. Bungkuknya sangat dalam seolah kelihatan tengah berbaring di tanah, Ram mengeluarkan pisau angin lain yang diarahkan ke kaki Garfiel.

Ugh!”

Dengan satu kaki, Garfiel melompat ke atas, menghindari serangan yang hendak memotong anggota tubuhnya dari pergelangan kaki ke bawah. Dia berhasil menghindari pisau Ram, tapi.

“Kakimu sudah tidak memijak tanah.”

Begitu bisikannya menyentuh telinganya, tumit Ram menghantam tubuh Garfiel dari atas, menjatuhkannya kembali ke tanah.

Serangan tak terduga ini adalah perbuatan Ram, si gadis berdiri dari membungkuk setelah meluncurkan bilah anginnya kemudian salto ke belakang sambil menendang Garfiel, lawannya hanya bisa menahan serangannya dengan tangan. Tulang-tulang di lengannya retak-retak dan tubuhnya terhempas ke belakang, berguling-guling dan menabrak batang pohon.

Oksigen terhembus dari paru-parunya, Garfiel memelototi Ram, pupil emasnya terbakar murka.

Tapi ….

“Ul-Fula.”

Badai angin luar biasa yang mampu menyapu seluruh wilayah hutan―dengan Garfiel yang berada di tengah-tengahnya, menelannya bersama kayu-kayu hutan serta amarah tak nampaknya.

“Ugh, aghbhak!”

Angin mengamuk itu menempel di tubuh Garfiel, melempar-lemparnya, menabrakkannya ke pohon-pohon yang membeliung.

Teroper-oper sampai dia tidak tahu berada di bawah, kiri, atau kanan, terpisahkan dari tanah membuat Garfiel tidak bisa mempertahankan dirinya, tiada pilihan lain selain dibantai sihir Ram.

Ketika angin berhenti dan amukan badai telah berlalu, Garfiel nyaris tidak bisa berdiri.

Berlumuran darah, kepalanya miring ke belakang saat dia jatuh berlutut, kesadarannya setengah hilang.


Kena jebakan 100 persen, Garfiel menelan dua serangan sihir pramungkas.

Dirinya yang masih hidup adalah karena kekuatan vitalitasnya yang mengejutkan. Musuhnya pasti mengharapkan ini dan tidak berbelas kasih.

Melihat Garfiel babak beluar, Ram mendesah singkat. Kemudian, dia memandang Otto di belakangnya, Suwen melihat seluruh serangan kejutan itu.

“Aku sudah tahu ini, tapi kau terlihat sangat menyedihkan.” ucap Ram.

“Tentu bukan itu hal yang kau katakan pada orang yang baru saja bertarung dengan penuh jiwa dan raga ….”

“Yang penting tuh hasilnya. Usahamu berhasil atau enggak? Proses yang kau perbuat itu nomor kesekian … aku katakan lagi yah : kau terlihat sangat menyedihkan.”

“Ups, wanita ini benar-benar deh. Benar yang dibilang Natsuki-san.”

Tidak menghargai sedikit pun usaha Otto, Ram tersenyum masam dan sedikit mendengus.

Hasil dari pertempuran sengitnya, Otto berhasil memberikan sejumlah damage pada Garfiel. Selain serangkaian jebakan kecil yang hanya membuatnya semakin geram, serangan terakhir masih tidak cukup mengalahkan Garfiel.

Tapi, satu hal yang Otto tidak perkirakan ….

“Sepertinya kau melupakan Divine Protection of Earth-Soul Garf.”

“Earth-Soul … apaan tuh?”

Mendengar pertanyaan Otto, Ram mendesah lagi. Menggelengkan kepala seolah terheran-heran, melihat Otto dengan sorot mata jijik, lalu menghembuskan nafas lagi.

“Kau mau kecewa sampai kapan!? Aku merasa sangat terluka nih!” ujar Otto.

“Divine Protection of Earth-Soul Garf adalah sebagaimana namanya, Divine Protection yang menganugerahkannya berkat bumi. Selama kakinya menyentuh bumi, tubuhnya dilindungi perisai tanah kokoh―Biarpun tanpa Divine Protection, Garfiel tahan terhadap Sihir Bumi. Kau menggunakan sihir kelas Al, dan pastinya Dona ….”

Menepuk dahi, Ram menutup mata dan menurunkan kepalanya.

“Keberuntunganmu terlampau buruk sampai-sampai aku tidak bisa kasihan lagi.”

“Jadi kemalangan seumur hidupku terkumpul pada titik ini!? Itu super menakutkan! Sebenarnya, Ram-san, seandainya kau tahu ini sebelumnya, bukankah akan sangat membantu sekiranya memberitahu dulu!?”

“Bukankah seharusnya Ram-sama?” pinta Ram.

“Kenapa semua orang selalu menempatkanku ke strata terendah!?”

Mengabaikan ocehan Otto, Ram mengayunkan ujung tongkatnya saat kembali menghadap Garfiel.

Semestinya dia sudah pingsan, namun staminanya yang tak terbatas betul-betul layak dikagumi. Tidak salah lagi, Garfiel adalah penghalang terbesar pembebasan Sanctuary. Dia mesti ditahan dan diawasi ketat-ketat sampai masalah sele―

“…”

Ram berhenti mendekat, alisnya agak mengkerut.

Bibirnya yang mengerucut merasakan udara kering, lidah merahnya terurai sekilas. Lalu ….

“Garf.”

“… Sial amat dah. Lu bener-bener, beneran wanita tanpa ampun, yah.”

Garfiel mengangkat kepalanya yang merosok sebagai jawaban atas panggilan Ram.

Matanya yang tajam dan terbuka berkobar marah dan benci, taring-taring berdurinya bergelemetuk, kehendak bertarungnya masih belum bekurang.

Serangan kejutan seharusnya sukses sempurna. Tidak ada yang lebih mantap lagi dari itu.

Akan tetapi, masih gagal untuk mengalahkan monster yang bernama Garfiel ini.

Darah tumpah-ruah dari tubuhnya, tapi dia melompat berdiri tanpa luka atau kelelahan sedikit pun. Semua perbuatan bilah angin seperti tidak ada apa-apanya.

Kulitnya terluka dangkal, area-area non vitalnya telah menerima serangan yang tak terperkirakan, tapi masih tidak cukup melumpuhkannya.

“Pas elu nyematkan gua di pohon dan merapalkan rapalan ntu, gua kira bakal mati. Tapi kepala gua berjalan sekuat teanga. Anehnya kagak bisa mikirin jawaban satu pun … jadi, gua berhenti berpikir.”

Tidak lagi meributkan pikiran sepelenya, Garfiel menyerahkannya kepada insting tubuh.

Naluri rakusnya memilih untuk bertahan hidup dan menggerakkan tubuhnya agar menerima damage seminimal mungkin dalam badai tak terhindarkan itu. Semuanya hasil dari naluri rasial yang terbentuk saat bertarung.

Bahkan Ram yang wajahnya datar menelan ludah terhadap insting tempur Garfiel.

Bagi Ram, yang selalu membanggakan kemampuan perkiraan kendati posisinya kurang menguntungkan dalam hal kemampuan murni, tetap pengalaman langka untuk bisa melawan musuh yang setara kekuatannya.

Pemikiran itu muncul karena Garfiel hanya mengandalkan emosinya semata.

“Woi, Ram. Kenapa elu jadi bela mereka? Apa yang ngebuat lo ngelakuin itu?”

“―”

“Lu sadar gk sih? Lagi memihak orang yang mau ngebebasin Sanctuary. Bukannya itu kagak sejalan sama kemauan Roswaal? Brengseklah dia … paling enggak, sekarang ini, dia tidak ingin Sanctuary dibebaskan.”

“Maksudmu kau lebih memahami Roswaal-sama ketimbang aku sendiri, Garf? Kita memang sudah kenal lama, jadi kau tahu ini juga? Aku takkan diam saja mendengarkan omong kosong kurang ajar semacam itu.”

“Gua tau elu ini kukuh banget. Karena itulah gua jatuh cinta sama lo. Dan karena itu juga gua kagak bisa nerima ini. Misalkan elu kagak berenti ngidolain Roswaal, terus elu memihak siapa? Kok bisa sih mereka ngerekrut elo?”

Mendengarkan perkataan Garfiel, Ram memejamkan mata.

Jarang melihat bibir Ram bergerak seperti ini seakan-akan dia menekan beberapa emosi tak terjelaskan. Mata Garfiel membelalak terhadap pemandangan ini, tapi raut wajah tersebut menghilang dalam sekejap.

“Ram … Ram hanya bertindak sesuai keinginan Ram. Hanya itu saja.”

“Dan keinginan lo … apa?”

“Untuk mewujudkan harapan paling tulus Roswaal-sama, tentu saja―tidak lebih dari itu.”

Mendengar jawaban ini, Garfiel mendesah panjang.

Ram tidak tertarik membahas kontradiksi yang rasanya kian melibet. Tak seorang pun dapat memahami isi kepala Ram. Kecuali orang yang telah membaca relung hatinya, dan meyakinkannya untuk berbuat hal-hal ini―

“Sungguh orang yang menjengkelkan, Barusu itu. Aku pun tidak paham kenapa dia melakukan itu.”

Ram menyembunyikan rasa kesal tak terlukiskan kepada Subaru.

Barangkali rasa jijik fisiologis, atau mungkin rasa mual yang telah terpupuk selama waktu-waktu kebersamaan mereka, atau malah keduanya, tapi Ram pikir hal itu tertanam jauh di dalam dirinya.

Seakan Garfiel adalah musuh bebuyutan yang telah mencuri sesuatu yang dianggapnya paling penting―itulah emosi rumit yang dirasakan kepada Subaru.

Namun demikian, gadis itu menerima ajakan Subaru, karena permintaannya mengguncang inti hatinya.

“Sepertinya kau sudah sembuh sampai bisa berdiri?”

“Kasarnya … maksudku, aku tidak keberatan kalau kau memukulku dengan sihir penyembuhan ….”
“Jangan khawatir. Ram tidak tahu sihir penyembuhan apa pun. Karena tidak perlu mengingat rapalannya sih.”

“Kaulah pelayan pertama yang sangat tidak tahu-menahu tentang penyembuhan!”

Tersiksa, Otto berusaha beranjak bangun meski kakinya gemetaran.

Tubuhnya sempoyongan, kendati sudah tidak mimisan. Berdiri saja tidak menjadikan kekuatan tempur handal.

Tapi, mengetahui keinginan bertarungnya tidak berkurang, Garfiel mendengus kesal.

“Lu … padahal ajaran terakhir gua dah ngajarin bahwa elu gk sebanding sama gua. Lu dah make kartu truf elu, dan masih ngeliat gua sehat wal-afiat kek gini? Ketahuilah waktu-waktu untuk menyerah. Jadi pecundang bukan berarti bukan pria sejati, tahu.”

“Sayangnya, aku tidak ingat pernah meninggalkan wajah suramku, dan mengubahnya menjadi wajah polos yang menyerah tanpa perlawanan. Sekalipun kehabisan tenaga, selama masih ada raga, aku akan terus bertarung. Kurang lebih, itulah yang diucapkan temanku, tepat sebelum dia mulai menerjang maju.”

“Si bangsat itu lagi?”

Garfiel mendecakkan lidah sewaktu Otto mengucapkan kata Teman.

“Bisa-bisanya elu percaya si bocah banyak bacot itu? Dia kagak punya kekuatan. Lemah. Kerjaannya bersilat lidah doang, itu aja. Orang kek gitu apa manfaatnya, hah!?’

“Manfaatnya? Oh pikir sendiri deh. Aku tidak akan benar-benar bilang Natsuki-san saat ini bermanfaat betul.”

“… Huh?”

“Tapi di masa depan nanti, beda ceritanya.”

Garfiel memiringkan kepala terhadap jawaban tak terduga itu, sedangkan senyum Otto semakin dalam.

Staminanya triknya sudah habis semua, bahkan sekarang pun, tanpa harapan samar yang masih tersisa, tiada setitik kegelisahan pun di mata Otto.

“Karena aku adalah seorang pedagang. Kurasa bukan hal buruk untuk berinvestasi pada seseorang yang mungkin sangat membantuku di masa depan nanti. Kau tahu, Natsuki-san itu … seseorang yang, cuma mungkin, barangkali akan menjadi orang besar.”

“―”

Tapi asumsi itu akan jadi kenyataan kalau dia tidak mati di sini. Jadi, Natsuki-san nantinya jadi apa, dan berapa harga yang mesti kutaruh? Selayaknya terus berusaha dan percaya untuk mengetahuinya.”

Sungguh menyusahkan, pikir Otto, selagi menggaruk kepala sambil nyengir-nyengir. Mendengarkannya dari samping, Ram mengeluarkan nafas bosan.

“Sejujurnya, aku tidak tahu seumpama ada hal dalam Barusu yang sesuai dengan kesanmu. Barusu tuh lemah, gak guna, menyeduh secangkir teh atau bahkan melakukan satu hal pun dia gak genah. Aku setuju pada Garf.”

“Itu … penilaiannya cukup seimbang.”

“Tapi, Barusu adalah seorang pria yang mahir menentukan waktu.”

Ram menegaskan, tidak memedulikan dukungan setengah-setengah Otto.

Melihat kedua pria itu bingung, Waktu, Ram mengangguk.

“Mengatur waktu. Seorang pria yang hanya piawai mengatur waktu, itulah Barusu.”

Dia adalah pria yang biasanya tidak berfaedah, membuatmu heran peran apa yang bisa dia tempati, tapi pria bernama Natsuki Subaru ini punya kecenderungan misterius yang dirinya selalu ada di saat-saat kau membutuhkannya.

Ketika Emilia kabur dari Ram di Ibu kota, Subaru melindunginya, menggantikan Ram.

Saat dia dibawa ke Mansion dalam keadaan terluka, dalam beberapa hari, terjadi pergolakan Monster Iblis. Dan lagi-lagi, ujung-ujungnya Subaru menyelamatkan anak-anak desa setelah menghabisi Monster Iblis. Sekalipun bukan kontributor terbesar, tapi kehadirannya sangat membantu.

Sewaktu Emilia kembali dari Ibu kota dan pasukan-pasukan jahat mulai menghampiri tanah desa, Subaru datang membawa bala bantuan dan dengan indahnya menyelamatkan mereka dari bahaya.

Pria bernama Natsuki Subaru punya pengaturan waktu yang absurdnya hebat.

Tak ada hal menarik darinya, juga tidak memancarkan pesona maskulin sedikit pun. Ram tidak pernah menyebutkan hal positif darinya, bahkan kadang kala dia kasihan pada Subaru, walau tidak ingat mengapa merasa seperti itu, atau kenapa terus menghantu-hantuinya.

Bagaimanapun, begitulah model seorang pria bernama Natsuki Subaru.

Dan karena itulah kali ini, Ram―

“Aman-aman saja meyakini aturan waktu Barusu ―Saat dia melihat kesempatan dan bertindak berdasarkan keyakinan akan kesempatannya, pastilah itu satu-satunya cara meraih kemenangan.

“Sepertinya kau sangat percaya pada Natsuki-san, Ram-san.”

“Panggil Ram-sama.”

“Kau kira waktu yang tepat untuk mengungkit hal itu!?”

Merasa sebal oleh pria yang ngomel-ngomel di sampingnya, sorot mata Ram membisu.

Mereka berdua percaya pada rencana Subaru. Dan mereka setuju bertarung satu sama lain, dan tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini kepada Subaru.

Mereka sadar betul telah mengulur banyak waktu, tapi ―

“Aneh, entah bagaimana, aku masih ingin bertarung.”

“Itu karena Garfiel ini tidak mati-mati setelah terkena perangkap dan serangan dadakan hebatku. Kelancanganmu ini tidak pantas, Garf ―Kami harus memberimu pelajaran.”

“Wow, nakutin banget. Kakak besar ini sungguh menakutkan. Aku mulai bertanya-tanya apakah Natsuki-san berbohong soal gadis yang tertidur itu, soalnya dia bilang si gadis sifatnya lembuat ….”

Otto menggumamkan penyataan tidak nyambung.

Ram memperkuat cengkeraman tongkat di tangannya, sekali lagi memusatkan mana di ujungnya.

Menghadapi dua orang itu yang sudah siap bertarung, Garfiel tetap diam. Mendengarkan suara mereka sambil menundukkan kepalanya, lalu dia melangkah ke depan.

“―”

Merasakan pertempuran hendak dimulai lagi, tubuh Otto dan Ram menegang. Tapi, dihadapkan dengan kebulatan hati mereka ….

Cukup sudah.”

Terdengar bisikan serak.

Membuat Otto dan Ram mengerutkan alis bersama-sama.

“Berpikir itu, sangat merepotkan

Gumam Garfiel dengan suara lelah. Dan ….

“―WRRRRRRRWRR!!!”

Gema raungan binatang buas, mengguncang hutan-hutan Sanctuary.

Semua mahluk di hutan ini gemetar dan membungkuk di hadapan dominasi Garfiel.

―Karena Ur-Beast telah datang.

3 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 108”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *