Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 105

Posted on

Jebakan Pedagang Keliling

CH 105.jpg

Penerjemah : ArthyomSouls

“―”

Hidungnya mengendus, kekesalannya mendadak menghentikannya.

Sosoknya terbawa langkah-langkah kaki yang secepat angin tiba-tiba berhenti. Menghentakkan kaki kananya ke tanah lembut-lembut, menyapu awan debu, Garfiel membungkuk, memutar kepalanya ke sana kemari―mengendus dan merasakan aroma udara.

Dia berada di hutan sekitar Sanctuary, mencari Lewes yang hilang di dalam Penghalang.

Garfiel sudah memeriksa semua tempat yang pikirnya sang nenek berada di sana, bolak-balik sampai lupa berapa kali demi mencari sosok kecil yang dia kenal.

Sementara itu, jantungnya berpacu dalam kepanikan karena firasatnya buruk.

Lelaki itu dapat merasakan bahwa semuanya tidak berjalan lancar. Orang luar itu sedang melakukan sesuatu di sekitar Sanctuary, bahkan Lewes pun bertingkah aneh―nenek itu bahkan tidak mengontak Garfiel saat hendak membuat keputusan.

“Sial … ada apa sih ini.”

Mencakar rambut pirang pendeknya, Garfiel menyusuri bekas luka putih di dahinya.

Sudah jadi kebiasaan Garfiel untuk menyentuh bekas luka ini setiap kali dia linglung, hilang ide, atau bahkan hatinya yang tidak tenang, sebagai pengingat untuk tetap santai.

Menyentuh-nyentuh bekas luka itu, Garfiel ingat kala dia berada pada kondisi tertololnya―ketika dia menerima luka seumur hidup ini―dan segera kembali tenang.

Sebagian besar orang yang mengenal Garfiel akan menghakimi bahwa kepribadiannya kasar dan kurang ajar. Mereka memperoleh kesan demikian dari tingkah laku serta penampilan aneh Garfiel, sebetulnya, semua itu salah.

Dalam kenyataannya, Garfiel Tinsel mengejutkannya berkepala dingin dan percaya diri, terus-menerus mendesak dirinya untuk berpikir.

Bocah itu menjadikan masalah ini sebagai pendisiplin dirinya―sebab dia tahu betul kekuatan otot saja tidak cukup untuk mendapatkan maunya.

Garfiel perlu tahu mesti melakukan apa agar harapannya terwujud? Untuk menjawab pertanyaan ini, Garfiel pelan-pelan mengembangkan pemikiran tak tergoyahkan itu. Tapi―

“Tetap saja … semua orang pergi ke mana saja, melakukan sesuatu sesuka mereka … cih.”

Selagi frustasi dan menderita, Garfiel memamerkan gigi-gigi taring tajamnya, mendengus-dengus.

Memang, situasinya kian lama makin jauh dari kuasanya. Tetapi karena pemikiran tak tergoyahkan itu membutuhkan keyakinan tak tergoyahkan pula, Garfiel tidak jago kalau soal berpikir fleksibel.

Selama ini, Garfiel hanya punya satu jawaban, dan satu sikap, terhadap pembebasan Sanctuary.

Terlepas rute-rute bercabang tak terhutung dalam keputusannya, hal demikian tidak boleh dia izinkan. Lantas, Garfiel telah berusaha sebaik mungkin untuk memikirkannya sampai akhir.

Namun keputusan unilateral Lewes serta taktik licik pihak luar tak pernah dipertimbangkan.

Sedihnya, meskipun Garfiel tidak pernah berhenti berpikir, Garfiel tidak punya pengalaman atau kecerdasan apa pun untuk digunakan. Yang dia miliki hanya kegigihan, tak lebih dari itu.

“―Ugh.”

Mengendus tajam, pupil-pupil emas Garfiel menyipit menjadi satu garis lurus.

Menangkap aroma ini, rambut di punggungnya berdiri tegak sembari menekuk lutut cepat, kemudian melompat―melanjutkan perjalanannya. Menginjak ranting-ranting pohon dan memanfaatkannya sebagai perantara untuk meluncurkan dirinya lebih cepat dan tinggi, menembus dedaunan tanpa ada yang menghentikan, mengejar aroma itu.

“Semuanya menyatu … mereka ngerencanain apaan, sih!?”

Mengklik taringnya, Garfiel menuangkan rasa sebalnya selama meraung.

Menggeram layaknya binatang buas, mata Garfiel berkobar murka.

Yang ditangkap hidungnya adalah bau busuk mahluk hidup yang sangat menyengat. Bau keringat, bau rumput dan tanah yang diinjak-injak, bau busuk kengerian yang merembes keluar dari tubuh manusia panik, bau busuk, busuk, busuk, busuk―

“―!!!”

Kurang lebih bau massa manusia yang bergerak.

Lebih dari sepuluh, hampir lima puluh. Hanya ada satu kelompok di Sanctuary yang berjumlah sebesar itu saat ini.

―Para pengungsi dari desa dekat Mansion Roswaal.

Mahluk-mahluk tak tau diuntung yang melarikan diri ke sini mencari perlindungan. Mereka merencanakan apa? Apakah ini pembayaran mereka kepada semua orang yang menerimanya?

“Keparat-keparat itu … jangan main-main sama gua ….!”

Pemuda nista berambut hitam pendek terbesit dalam benak Garfiel.

Lelaki itu, yang mata tajamnya sangat kontras terhadap kesembronoannya yang menonjol.

Namun tatapan anak itu sesekali jernih juga menusuk, seolah-olah mampu melihat isi hati Garfiel.

Mata itu, yang selalu memandang tempat tak dikenal, mengingatkan Garfiel pada orang lain yang dia benci. Dan Garfiel membenci orang itu karenanya.

Tidak salah lagi, pemuda yang tak pernah ia sukai ini melatarbelakangi semuanya.

Para pengungsi bergerak atas perintahnya, hal itu sangat jelas. Entah karena alasan apa, mereka menaruh kepercayaan besar kepada remaja ini.

Bocah remaja itu tidak kuat, tidak pula punya kekuatan spesial, dan satu-satunya kelebihannya adalah mengoceh-ngoceh. Setahu Garfiel, orang itu adalah mahluk paling menjijikkan, lemah, goblok, dan egois di dunia.

Namun kini, Garfiel berpikir semestinya dia mengurus orang itu dari awal.

Peluangnya banyak, bocah lelaki itu membuat Garfiel lengah, namun tekad menakutkannya yang berdarah-darah di tengah berbagai penghadang luar biasa membuat Garfiel tetap sabar.

Dan hadiah atas kebimbangannya adalah kesukaran ini.

Lebih parahnya lagi, semua pasukan yang mengancam stabilitas Sanctuary sekarang tengah mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa dirinya kehilangan Lewes, satu-satunya keluarga, mereka jadi bebas melakukan apa pun. Tidak peduli apa pun yang terjadi, Garfiel takkan membiarkan satu orang pengungsi pun meninggalkan Sanctuary.

Keadaannya akan berbeda apabila terjadi beberapa hari lalu, tapi situasinya kini telah berubah.

“… Bangsat-bangsat itu jangan-jangan tahu Nenek dimana?”

Di tempat yang Garfiel sebut sebagai Tanah Percobaan dan Lewes sebut kursi nenek moyangnya, adalah kristal tempat seorang gadis bernama Lewes Meyer tengah tertidur.

Jujur saja, ketertarikan Garfiel terhadap kristal itu sangatlah kecil.

Meskipun gadis tidur di sana persis sama seperti keluarga satu-satunya, bila orang di dalam sana berbeda, maka Lewes Meyer asing baginya. Seandainya semua mahluk yang nampak mirip Lewes dianggap Lewes, maka Garfiel sudah punya 20 nenek.

Mustahil Garfiel mampu memendam kasih sayang dan empati kepada mereka, dan laki-laki itu memang tidak berniat memendamnya.

Garfiel memegang wewenang penuh atas para replika berwajah neneknya. Walau begitu, temperamennya menyatakan bahwasanya dia bersedia melakukan segalanya untuk tidak menggunakannya.

Garfiel tidak suka menyuruh-nyuruh orang, dan melihat seseorang mematuhi setiap titahnya akan menumbuhkan rasa jengkel tak terjelaskan.

Itulah yang dia rasakan kepada gadis di dalam kristal itu.

Garfiel tidak menyimpan perasaan lain kepada Lewes Meyer dalam kristal selain hal itu. Biarpun Garfiel sering menganggap dirinya berwawasan luas, tapi berhati besar adalah persoalan lain.

Pemuda itu tidak punya banyak hal untuk diberi. Dia hanya punya sepasang tangan, kaki, dan satu tubuh.

Hanya ada itu saja yang dapat ia tawarkan, dan sangat penting untuk memilih kepada siapa dia menawarkannya.

Lantas, Garfiel semata-mata merawat orang-orang tercintanya saja.

“Jadi … kalau elu-elu pada pikir gua bakal woles-woles aja, salah semua, dasar naif.”

Menendang keras batang pohon, Garfiel melompat tinggi di atas hutan.

Dia menekuk lutut selagi jungkir balik di udara sebelum mendarat kemudian mengirimkan hujan daun yang jatuh di belakangnya.

Tanah ambruk di bawah kakinya, juga raungan naga darat yang menderu mengisi celah-celah antara pepohonan.


Dampak pendaratannya berdampak ke beberapa meter muka bumi, Garfiel pelan-pelan meluruskan punggungnya.

Kali ini, Garfiel menajamkan penciumannya bukan untuk melacak aroma, namun untuk menunjukkan amarahnya. Membunyikan lehernya dan menggertakkan taring, Garfiel melihat lurus ke depan dengan mata menyala-nyala penuh amarah.

Di hadapannya ada dua karavan naga yang saling berbaris.

Kehadiran hawa membunuh Garfiel telah mengejutkan para naga darat sehingga mereka jadi sangat gelisah sedangkan si pengemudi dengan panik berusaha menenangkan mereka.

Bagi Garfiel, wajah si pengemudi ini tidak asing.

“Persis pas gua penasaran siapa yang ngendarain, ternyata abang tukang bacot ini. Hah! Harusnya dah gue tebak. Soalnya cuma elu doang yang cocok jadi pengemudinya.”

“Pernyataan itu buruk … oh, lupakan saja, aku tahu betul anggapan semua orang padaku ….”

Garfiel merogoh saku celananya, sementara si pengemudi―seorang pemuda yang wajahnya panik, rambutnya abu-abu gondrong, dialah Otto, orang itu tersenyum masam.

Piawai dalam memegang kendalinya, tatkala berhasil menenangkan naga yang gelisah itu, Otto mendesah pelan.

“Lu kek nganggep biasa aja, tapi biasanya naga darat langsung kabur saat gua ngancem mereka serius.”

“Sulit kuyakinkan mereka untuk tidak terjadi hal demikian, tahu. Lagian, sudah kuberitahu mereka sebelumnya bahwa kau akan datang.”

“Hah―?”

Tidak mempercayai perkataannya, telinga Garfiel berkedut-kedut saat mendengar pernyataan Otto.

Garfiel tanpa sadar menyentuh jidat selagi melangkah maju, berniat menanyakan Otto maksud ucapannya.

“Maksudnya apaan sih? Lu pikir bisa cabut dari sini gegara keadaan Sanctuary lagi kacau begini, terus ujung-ujungnya elu kegep ama gua. Kejadiannya kek gitu, kan?”

“Ya, kau betul sangat. Memanfaatkan situasi kacau adalah teknik para pedagang. Tetapi ketika aku baru saja dijanjikan hadiah besar kalau berhasil tanpa masalah, eh ketangkep ….”

“…”

Otto membenamkan wajahnya ke tangan, rencananya hancur. Tapi, merasakan rasa santai tertentu dalam gerak-gerik dan tukas Otto, kebingungan Garfiel semakin menjadi-jadi.

Ini bukanlah sikap seorang yang rencananya baru saja digagalkan. Malah, bukankah ekspresinya sama persis seperti Roswaal kala semuanya berjalansesuai skemanya?

“Tingkah sama muka nge**** lu itu … bener-bener mirip kek bangsat yang paling gua benci.”

“Umpatan buruk lagi … tapi, hanya untuk referensi, boleh bertanya aku ini sama seperti siapa? Aku sungguh-sungguh ingin mengembangkan hubungan kita mulai dari sekarang.”

“Hah! Gua sama elu? Jangan buat gua ketawa deh, bodoh―pukimak yang paling gua benci lagi mendekam di kamar ternyaman di Sanctuary, lagi dapet perawatan VIP.”

“Aku mengerti, aku mengerti … pastinya berat, saat orang yang paling membuat hatimu merasakan cinta ditikung sama rival cintamu. Aku turut berduka terhadap keadaanmu.”

“Lu mau gua nutup mulut lu secara paksa? Oi?”

Garfiel mendecakkan lidahknya karena kesal ketika Otto mengejek perasaannya kepada Ram.

Memang benar, Garfiel bisa menyelesaikan ini dengan paksa kapan saja. Upaya pelarian ini sudah gagal tatkala Garfiel menangkap mereka.

Mereka tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Tapi selama mereka tidak memaksa pergi, Garfiel merasa tidak perlu bersikap kasar pada mereka.

Rencana pertamanya adalah menyelesaikan cepat masalah ini dan kembali ke Sanctuary.

Prioritas Garfiel adalah memelihara Sanctuary, dan perkara ini cuma masalah kecil-kecilan.

“Ngomong-ngomong, sekarang rencana kabur lo dah gagal. Kalau bajingan ntu di sini, suruh dia keluar. Lebih baik dia mulai minta maap karena udah buat semua hal gak guna ini, kalau enggak ada hukumannya.”

Garfiel memerlukan sarana pelampiasan rasa frustasinya yang terpendam.

Lagi pula, Garfiel perlu tahu apa yang dipikirkan pemuda itu―Natsuki Subaru―membuat aksi seperti ini.

Baru selang beberapa hari ketika dia membual bahwa dirinya akan menerobos Ujian dan membebaskan Sanctuary.

Walaupun Subaru sudah gila, namun kegilaannya itu kecepetan. Sejujurnya, jika masalahnya begitu sangat susah diselesaikan.

Sudah waktunya Garfiel menyadarkannya―

“Ehh, sayang banget nih, sepertinya tidak bisa deh.”

“Hah?”

“Kau tidak sadar apa? Kau sendiri yang bilang kan, aku tengah melakukan sesuatu sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang paling kau benci. Jadi, kau kira aku akan menurutimu?”

“―”

Ambigu dan memutar-mutar, Garfiel tidak paham sindiran Otto.

Namun Garfiel tahu pengutaraan itu tidak bisa dia biarkan begitu saja. Dan paling pentingnya lagi, fakta dia berperilaku serupa dengan pria yang paling ia benci itu―Roswaal―maksudnya semua ini sudah direncanakan.

“… Lu ngerencanain apaan sih?”

“Benar juga. Membicarakan orang yang kita berdua kenal, kurasa bisa kau sebut Aku sungguh-sungguh sedang merencanakan sesuatu?”

Otto menggosok hidungnya saat mengatakan ini, sepertinya dia baru saja melakukan sesuatu yang nakal. Garfiel baru saja menyipitkan mata, dan barulah menyadari semua keanehan kejadian ini.

Ada dua karavan, Otto, dan dua naga di depannya―Tapi tidak ada pengemudi di tempat duduk karavan belakang. Mirip-mirip seperti itu.

“Kok bisa … pas naga-naga ini kaget terus mengguncang gerbongnya … kagak keliatan satu pun wajah penumpang?”

“Hmm, iya yah, kenapa enggak?”

Otto mengangkat bahu, pura-pura bodoh, tidak melakukan apa pun terhadap Garfiel yang mendekati karavan. Garfiel buru-buru melompat ke bagian belakang gerbong lalu membuka tirai penutup dek penumpang.

Dan, kala dia melihat ke dalamnya, Garfiel menggeletukkan gigi.

“―Tidak ada orang di sana, tahu?”

“Kagak mungkin … gh. Ada apaan sih ini! Padahal gua ngendus bau banyak orang di dalem karavan kuda yang lagi gerak ini ….!”

Meludah ketika ia melangkah masuk ke geladak penumpang, kalimat Garfiel mendadak berhenti.

Di kakinya, berserakan di seluruh dek, adalah tumpukan pakaian. Kertas-kertas yang tak terhitung jumlahnya―pria, wanita, orang dewasa, serta anak-anak, semuanya dijadikan satu.

Sementara itu, dihadapkan dengan pemandangan ini, pipi Garfiel berkerut saat menyadari bahwa hidungnya baru saja tertipu oleh trik yang kelewat sederhana ini.


“Cih … tipuan terkutuk ….!”

“Aku menyuruh wagon lain untuk menunggu sebentar sebelum berangkat, mereka semua semestinya sudah meninggalkan Sanctuary melewati rute berbeda saat ini. Bahkan kakimu takkan bisa mencapainya tepat waktu.

“Rute berbeda? Lu ngomong apaan sih. Kagak ada rute lancar lain selain jalan ini! Palingan tersesat sampe gua nyamperin mereka. Dan gua juga bisa nembus Penghalang, kalo elu gak tahu.”

“Oh benar, aku tidak tahu banyak mengenai dirimu. Tapi ….”

Melompat dari karavan dan mendarat tepat di hadapan Otto, Garfiel melangkah maju setelah mendengar jawaban Otto yang terdengar murka.

“… Aku ragu kau mengetahui banyak tentang diriku.”

“―”

“Kau ini tipe orang yang tidak mempedulikan seseorang sepertiku. Dan kerjaanmu semata-mata menghina, menghina dan menghina orang-orang seperti Natsuki-san dan aku yang tidak melakukan apa-apa selain berbicara. Alhasil, kau tidak memperhatikan pekerjaanku, bahkan yang lagi aku lakukan sekarang.”

“Lu ngomong apaan sih ajg?”

“Maksudku, aku berkeliaran di hutan selama beberapa hari terakhir dan menghabiskan malam di kandang bersama naga darat bukan tanpa alasan. Aku nemenukan rute pelarian yang tidak bergantung pada jalan ini dan aku beritahu mereka!”

Otto mengayunkan kedua tangan seraya mengumumkan hal itu sambil memasang ekspresi penuh kemenangan.

Mendengarnya, Garfiel menganga dan matanya membelalak.

Beritahu? Beritahu siapa? Pengemudi karavan ini? Sama sekali tidak ada hubungannya dengan yang dia imbuhkan tadi. Terkecuali, Otto berbicara dengan naga darat? Kalau begitu, maka ….

“Si bangsat itu kejam amat ngasih lu tugas ….”

“Apa!? Aku agak kesulitan menerima interpretasi itu barusan!”

Melihat Garfiel bersimpati kepadanya, Otto protes. Sepertinya setiap kali Garfiel melihatnya di Sanctuary, tindak-tanduk Otto seperti ini, jadi untuk saat-saat ini kelihatan normal.

Tetapi, melihat perilaku normal dalam momen-momen ini, jadi tidak normal.”

“Pokoknya, elu balik sekarang deh. Nanti gua cari gerbong laen abis ntu gua seret balik pula.”

“Mereka tersebar ke berbagai arah sekarang, jadi kau tidak bisa menangkap mereka. Tapi kalau kau masih ingin mengejar mereka, aku disuruh bilang begini: ―Para pengungsi tidak tahu-menahu tentang Sanctuary dan Lewes-san. Kau tidak rugi apa-apa dengan membiarkannya. Jadi, menurutmu bagaimana?”

“Tuh orang sudah ngerencanain ini dari awal ….?”

Pesan itu sepertinya disampaikan oleh Subaru.

Pria itu paham benar kenapa Garfiel tidak ingin mereka pergi. Meskipun membuatnya kesal karena jadi semakin terlibat dalam urusan orang, apabila perkataan Otto benar, maka dia tidak lagi punya alasan untuk mengejar para pengungsi.

“Lu harap gua percaya itu ….?”

“Mencurigakan, bukan? Tapi aku kasih tahu, ya : Tak seorang pun dari kami, Natsuki-san termasuk, ingin memperburuk hubungan kita dengan para penduduk Sanctuary. Malahan, kami bersyukur melihat Sanctuary terbebas dalam kondisi paling bersahabat … dan kini, kelihatannya kau menghalangi harapan kami.”

“… Gua kagak tertarik sama sekali buat nyari temen atau ikut campur. Selama elu-elu pada tetep tinggal.”

“Kenapa sedetail itu?”

“Dan ntu tidak bisa dinegoisasikan.”

Otto menunjukkan raut wajah terheran-heran, sedangkan Garfiel mendesah berat.

Kendati dia menyuarakan kecurigaannya, Garfiel memutuskan barangkali itulah kebenarannya. Fakta bahwa Subaru meninggalkan pesan tersebut berarti dia tahu alasan Garfiel melarang semua orang ini pergi―jadi, alamiahnya, akan masuk akal seandainya Subaru menyimpan rahasia apa pun yang dia temukan tanpa sepengetahuan para pengungsi.

“Tunggu … kenapa sampek segigih ini cuma untuk ngeluarin mereka dari Sanctuary? Apa yang buat orang itu pikir para pengungsi akan terluka kalo tinggal di sini? Kenapa kagak percaya aja sama orang-orang yang hendak lu jadiin teman?”

“Kalau begitu, aku bisa memikirkan sebuah nama yang paling tepat sebagai jawabannya. Tapi aku juga bertanya pada Natsuki-san, dan dia bilang itu untuk jaga-jaga saja. Sekaligus mengulur waktu.”

“―”

Tatkala Garfiel mendengar kata mengulur waktu, parasnya menegang. Kenapa juga mereka perlu mengulur waktu? Garfiel membasahi bibirnya, dan ….

“Lu ngapain sih ….?”

“Cuma memastikan seorang pemuda dan pemudi dapat bersenang-senang bersama tanpa diganggu orang-orang usil, tahu.”

Ekspresi lelah namun gigih, Otto menggelengkan kepala pelan. Garfiel baru saja hendak menolak jawaban sembrono ini, tapi melihat wajah Otto, dia terhenti. Karena wajahnya bukan wajah-wajah pembohong. Yang artinya Otto mengatakan kebenaran. Dan pemuda serta pemudi yang dia maksud, adalah Subaru dan Emilia.

“―”

Segelitik firasat kuat segera memberitahunya bahwa dua orang itu tidak boleh saling bertemu. Darah hewan yang mengalur di nadinya secara naluriah mengetahui hal itu.

Wajah Garfiel memfokus ketika dia berbalik ke hadapan desa.

Andaikan dia membiarkan Subaru dan Emilia saling bertemu, akan terjadi sesuatu yang tak terperkirakan. Sanctuary akan terbebas, dan―

“―”

Tidak mungkin mereka akan sukses, kata rasionalitas Garfiel.

Dia sendiri melihat seburuk apa mental Emilia dihajar tanpa ampun oleh Ujian. Dan baru saja kemarin dia kehilangan dukungan utama hatinya.

Bagaimana bisa gadis itu, dihancurkan dan dipukuli oleh mimpi buruknya sendiri, pulih dalam rentang waktu sehari?

Namun naluri Garfiel berteriak-teriak menyuruhnya bergegas ke sana dan menghentikan mereka.

Dalam Ujian Masa Lalu―sekalipun masa lalunya berbeda, semua penantang dihadirkan ingatan paling terlarang mereka.

Garfiel menyaksikan ingatan tersebut saat dia dengan bodohnya melangkah ke Makam.

Memikirkannya saja membuat seluruh darah di tubuhnya mengalir deras, sedangkan hatinya mulai menghampa.

Dari waktu itu sampai kini, pria itu senantiasa menguatkan dirinya, terlampau kuat sampai-sampai takkan mengkhianati keputusannya. Sedalam itulah Ujian menyayat hatinya.

“Situasinya berubah. Aku kembali ke Sanctuary. Mesti kucari dan mengubah permikiran mereka sebelum ….”

“Dan kau pikir aku akan membiarkanmu?”

“―”

Sewaktu Garfiel balik badan, hendak menuju desa, Otto menghentikannya.

Tetapi respon Garfiel sungguh keras.

“―Ugh, kuh.”

“Bacot lu, tidur bentar gih. Kagak punya waktu ngurusin elu.”

Menutup jarak mereka lewat satu langkah saja, Garfiel menggerakkan tinjunya ke perut Otto.

Tidak mengincar tulang rusuk, Garfiel langsung menghantam usus Otto, menghempaskannya, mulutnya berbusa saat jatuh ke tanah.

Garfiel sudah berusaha tidak kasar-kasar amat padanya. Orang itu mengerahkan kekuatan yang cukup untuk membuatnya pingsan, tapi bila diperhitungkan dengan trik yang Otto mainkan, Garfiel lebih enteng.

Menglik lidahnya pada Otto yang jatuh, Garfiel mengubur tumitnya ke tanah, lalu―

“―Kau … mau ke mana ….?”

“―!?”

―Seketika dia hendak lari cepat, Garfiel ertahan.

Kaget, dia melirik ke belakang, mendapati Otto telah berdiri bangun.

Memegangi perut, batu-batuk dan mengeluarkan air liur, tetapi masih sadar.

“Waduhek? Gua kagak pengen ngebunuh lo, tapi tonjokan barusan harusnya udah buat lu pingsan, kok bisa sih!”

“Benarkah …? Yasudah … kurasa … aku lebih kuat dari perkiraanmu. Yah … sepertinya latihan sehari-hariku tidak sia-sia. Pepatah bilang, tubuh seorang pedagang keliling adalah modal terbesar mereka … jadi penting menjaga kesehatan ….”

Otto cekikikan, di sisi lain Garfiel yang berang berbalik.

Satu pukulan lagi Otto langsung roboh.

Tidak lagi menahan diri. Garfiel mengincar langung kepalanya. Walau meninggalkan bekas luka, tapi akan langsung membuatnya pingsan.

“Yang satu ini akan sakit, lebih baik kau bersiap-siap yah ….”

“Kau masih … ingin enteng ….? Tahukah kau … perbuatan setengah-setengahmu itu ‘kan membuatmu kalah telak!”

Ketika Garfiel mencondongkan badannya ke depan, bersiap-siap melancarkan serangan berikutnya, Otto balas berteriak.

Memeloti si manusia macan dengan mata merah, Otto menganyunkan lengannya sekuat mungkin.

Detik berkutnya, dedaunan melayang menutupi pandangan Garfiel, sesaat membuatnya lengah.

“Apa-apaan―!?”

Terperangan oleh inisiatif barusan, tubuh Garfiel membeku.

Dan―

“MAKAN NIH―!!!”

Bersamaan dengan teriakan serak Otto, pendar cahaya menembus dedaunan itu―

―Tubuh Garfiel tertelan ke dalam sinar merah yang membutakan.

3 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 105”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *