Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 106

Posted on

Otto Suwen

CH 106.png

Penerjemah : GUAR(D)IANSOULS

Meringis karena kulitnya panas, Garfiel menendang dedaunan yang jatuh di sekitarnya.

“Berani juga lu, gua akuin kekuatan lu.”

Menggeram kesal, namun pujiannya jujur.

Perbuatan setengah-setengahmu itu ‘kan membuatmu kalah telak―itulah yang dikatakan Otto padnaya.

Berpikir Otto tidak bisa berantem, Garfiel betul-betul meremehkannya.

“Batu api … tujuan lu apa make barang kagak berguna kek gitu?”

Pemandangan penuh api menutupi visinya sebentar.

Masih gregetan, Garfiel mengingat kembali kilauan panas membakar itu.

Semua asap dan silau itu, menyengatnya, tetapi damage yang diberikan sekadar sengatan panas matahari saja.

Namun, satu hal yang pasti :

“Kalau Otto lebih banyak make tuh batu, kondisi gua bakal lebih parah ….”

Pada saat-saat fatal itu, lawannya membuat pilihan tak terduga.

Apa lagi kalau bukan tindakan belas kasih? Garfiel menghajar enteng lawannya dan berbuah kegagalan membuatnya pingsan, parahnya lagi memberinya pelajaran.

Terlampau menyedihkan sekaligus bodoh.

“Dia becanda, ya ….!”

Lebih menyebalkannya lagi, musuhnya benar-benar mengabaikannya selagi Garfiel terbutakan oleh nyala api dan Otto langsung kabur saja. Saat Garfiel berpikir hendak mengejarnya atau tidak, Otto sudah tidak ditemukan.

Hanya tanah lunak serta daun-daun yang berjatuhan. Otto sukses melarikan diri dengan cekatannya dari medan yang semestinya tidak dia kenal. Otto tidak berbohong perkara berkeliaran di hutan tengah malam.

Namun demikian, semisal berubah menjadi adegan kejar-kejaran sebenarnya, tidak mungkin Otto bisa lari dari Garfiel. Sepuluh langkah Otto akan ditutup dua langkah Garfiel. Begitulah besarnya perbedaan kekuatan ras mereka.

Namun Otto sudah mencari solusinya.

Apa-apaan nih? Ini … ugh! Anjing, hidung gua kagak bekerja!”

Tatkala Garfiel mencoba membaui Otto, bau menyengat dan menyakitkan menembus lubang hidungnya. Terhuyung karena bau busuk itu, Garfiel menggelengkan kepala saat visinya mengabur karena rasa sakit yang menusuk itu.

Dan kala itulah Garfiel melihat sebuah botol kaca bening tergeletak di tempat Otto berdiri. Si pemuda langsung tahu cairan tak berwarna yang mengalir dari botol tanpa tutup itu adalah sumber aroma menyengatnya. Cuma itu sih yang bisa disampaikan hidungnya.

“K*ntol ….! Dia pikir bisa menang gegara hidung gua kesumbat?”

Memperlihatkan taring-taringnya, Garfiel diselimuti amarah karena pilihannya semakin tipis.

Berapa banyak jebakan yang Otto terapkan kepadanya? Setiap langkah, trik-trik ini menghentikan penuh dirinya.

“―”

Menyentuh bekas luka di dahinya, megap-megap, Garfiel mengulangi kebiasaan agar dirinya tenang.

Dia menarik nafas dalam-dalam biar jantung serta paru-parunya fokus juga mengembalikan indranya karena termakan kemarahan.

Kalau dipikir-pikir lagi, tidak mungkin Otto dapat mempertahankan dirinya.

Jadi mengapa juga Otto mempertaruhkan nyawa dalam pertempuran sia-sia ini?

Lagi pula, aneh misalkan Otto menantang bertarung Garfiel.

Otto bilang tujuannya adalah mengundur waktu ―untuk menarik perhatian Garfiel sementara para pengungsi melarikan diri dari Sanctuary di rute lain.

Jikalau hal itu benar, lantas tidak mungkin Garfiel menghentikan karavan-karavan itu sekarang.

Pemikiran mengirim klon-klon Lewes untuk mengejar mereka sempat terlintas di kepala Garfiel, tapi karena dia tidak tahu lokasi wagon saat ini, usahanya akan sia-sia.

Para replika kurang akal dan pengalaman, hanya dapat menjalankan pekerjaan kasar saja.

Mereka bahkan tidak tahu cara makan kecuali disuruh, dan mana kala mereka dipaksa sampai batas, replika itu meringkuk menjadi bola-bola kecil dan menyerah saja pada kehidupannya.

Garfiel sudah muak sekaligus lelah mencari karavan-karavan naga itu.

“Pada akhirnya, orang yang bisa gua andalkan cuma diri gua sendiri. Hah! Selalu sama.”

Garfiel kehabisan pilihan, hidungnya tak lagi berfungsi.

Namun Garfiel bukanlah orang yang pesimis. Dia masih punya tubuh kuat. Dan masih punya lebih dari cukup kekuatan untuk membimbingnya menuju hutan dan mencapai tujuannya.

Apa pun tujuan Otto, dia sudah berani melawan Garfiel. Tentunya, tatkala laki-laki itu menantangnya bertarung, dia sudah bersiap-siap mencicipi cakar dan taring Garfiel.

Garfiel kini menganggap Otto bukan mangsa biasa.

Sekarang adalah perburuan yang memerlukan seluruh upayanya, dan Garfiel tidak akan berhenti sampai Otto ampun-ampunan.

―Saat Garfiel memikirkannya, dia sudah melupakan semua niat awal dan bahkan tidak sadar dirinya telah jatuh ke dalam rencana Otto.

“Lu pergi ke mana sih. Si monyet itu yang nyuruh lo, kan …. Dia ngomong apa sama lo?”

Persis sebelum berangkat ke hutan, berniat mengejar Otto, Garfiel menoleh, melihat karavan yang ditinggalkan Otto.

Peran karavan itu adalah umpan yang berpura-pura membawa pengungsi pergi. Namun dua naga darat yang menariknya adalah benar, dan selama pertarungan Otto dan Garfiel, mereka duduk diam seolah-olah bukan urusan mereka.

“Lu pikir kalo cuma duduk manis di sana kagak bakal gua sakitin? Hoo dasar licik. Beruntung gua kagak suka bunuh kecuali bener-bener perlu.”

Menggelengkan kepala, Garfiel melwati naga dan naik ke wagon itu sekali lagi.

Banyak pakaian tak terhitung jumlahnya berisi bau para penduduk yang kabur. Terakhir kalinya, Garfiel langsung pergi saat mengetahui hal demikian, tapi ada hal lain yang dia lewatkan.

Memisahkan tumpukan pakaian dengan kakinya, Garfiel melihat-lihat kursi dan dinding. Tidak ada yang menarik, setelah mengacak-acak lebih lama lagi, baru saja dia mau turun karavan, sialnya ….

“―Hah?”

Garfiel mendapati sesuatu menempel di belakang pintu karavan saat dia berbalik. Sepotong kertas putih berkibar-kibar karena tertiup angin, seakan-akan ditaruh di sana secara sengaja agar bisa dilihat dari dalam.

―Firasatnya bergemelitik, Garfiel menghampiri kertas itu, merobeknya, kemudian dibuka ditangannya.

Dan ….

“Sekiranya dirimu sangat mudah ditipu, lantas usahaku tidak sia-sia.”

Membaca pesan itu, visi Garfiel langsung merah padam.

Detik berikutnya ―kursi karavan melompat ketika gumpalan hitam di bawahnya meledak dalam ruang sempit itu, membuat badai dahsyat dalam bentuk badai serangga bersayap, menelan raungan Garfiel ke dalam ketiadaan.


―Bagi Otto Suwen muda, dunia sudah seperti buaian neraka.

“――――”

“xxxxxxxx”

“>>>>><<<<>><”

“///////////////!!!/!/”

Siang dan malam tanpa akhir, telinga Otto dibanjiri kata-kata yang tidak masuk akal baginya.

Otto duduk di lantai, merasa linglung, dan suara-suara itu akan datang, sesekali dekat layaknya bisikan, kadang kala bak tangisan jauh, terkadang seperti nyanyian tentram, dan kadang-kadang bagai jeritan kematian, terus-menerus mengingatkan hubungan antara Otto dengan dirinya.

Tidak peduli belahan dunia mana Otto muda itu jambangi, suara senantaiasa mengikuti.

Hari demi hari tanpa jeda, gema abadi dari paduan suara sumbangnya, konserto inferial tak berfaedah, tetap menjadi teman konstan Otto.

Bagaimana bisa semua orang hidup di dunia seberisik ini, seolah-olah tidak berarti apa-apa?

Dalam neraka di mana dia tak bisa memahami seorang pun di sekitarnya, Otto menanyakan pertanyaan itu pada dirinya sendiri.

Orang tuanya sering memeluknya dan menuturkan kata kasih sayang, tersenyum. Tapi seberapa banyak cinta yang dituangkan dalam tutur-tutur itu, desakan disonan akan kembali memenuhinya, tak pernah mengizinkan kata-kata itu meraih telinganya.

Tatkala orang tuanya tahu ada sesuatu yang berbeda pada putranya, mereka langsung membawanya ke dokter.

Otto tidak tertawa, menjerit, atau pun menangis. Kurangnya ekspresi emosional ini adalah karena semua stimulus eskternalnya terasa sama bagi Otto.

Jadi, terlepas kecemasan orang tuanya, Otto menghabiskan masa kecilnya dalam acuh tak acuh tanpa perasaan.

Barangkali sudah beruntung marga Suwen adalah keluarga pedagang kelas menengah, cukup kaya untuk mengirim putra mereka ke dokter.

Tapi tidak satu dokter pun dapat mengetahui bagian yang salah dari Otto. Yah, alamiahnya, karena Otto mengidap gejala tuli dari kebisingan yang kelewat berlebihan.

Otto punya seorang kakak laki-laki yang umurnya dua tahun lebih tua, dau seorang adik laki-laki yang umurnya dua tahun lebih muda juga. Tidak seperti Otto, saudara-saudaranya tumbuh sehat, dialiri kasih sayang orang tua mereka. Perhatian sang ayah-ibu berangsur-angsur pudar saat cinta yang terbagi tiga itu telah berubah menjadi dua, dan Otto jauh dari kehangatan orang tuanya.

Otto tidak dendam atau pun cemburu terhadap saudara-saudara dan orang tuanya. Saat itu, dia tidak merasakan kebencian maupun kecemburuan, apa lagi emosi. Walaupun Otto tidak paham mereka bilang apa, saudara-saudaranya berinteraksi dengan sabar kepadanya. Selain itu, wajar saja bila orang tuanya sudah lelah.

Bilamana Otto sama normalnya sebagaimana kakak-adiknya, dia tidak yakin akan berlaku baik kepada anggota keluarga anehnya itu. Karena itulah, dia berterima kasih kepada mereka.

Meski suara tidak bisa menyentuhnya, kata-kata tertulis masih memungkinkan komunikasi.

Kakaknyalah yang pertama kali menemukan hal itu saat membaca buku keras-keras di depan Otto.

Tentu saja, belajar membaca dan menulis sulitnya bukan main.

Otto tidak bisa membunyikan suara yang tepat pada kata-kata itu, kurang lebih butuh sepuluh kali lipat lamanya bagi anak biasa untuk menghafal urutan-urutan huruf.

Biarpun begitu, tidak membuatnya menyerah. Dan sayangnya, itu karena Otto tidak cukup peka kepada fakta demikian, tidak punya pemahaman mengenai kehidupan normal anak-anak sebayanya.

Terima kasih, atas segalanya.

Otto ingat jelas tangis air mata yang menuruni wajah orang tuanya ketika mereka memeluk dirinya kala bocah itu menulis kalimat demikian pada selembar kertas dan ditunjukkan kepada mereka.

Otto tidak benar-benar paham konsep bersyukur, namun sepengetahuannya, dia mesti melakukan itu. Itulah keputusan Otto muda, dan momen-momen dirinya menuliskan kata-kata ini dikarenakan itikad untuk berterima kasih, terlahir denyut dalam hatinya.

―Mungkin itu kali pertama dia menangis begitu keras. Dan betul, seperti isak tangis tersedu-sedu kedua setelah tangisan kelahirannya.

“AUWGAOHWORIJAGMNX<C”

“AOWKAWOKAWOKAWAOKWAOK”

“Wii~uu~wii~uu~wii~uu~wii~uu~”

Tidak lama setelah isak tangis keduanya, dia mulai menemukan pola-pola paduan suara neraka yang dulunya tak dapat dipahami.

Dan, sedikit demi sedikit, Otto tahu bahwa ia dapat menyortir dan secara selektif menahan suara-suara yang menyerang gendang telinganya.

Sekitar ulang tahun ke delapan Otto, dia mampu memisahkan dirinya dari kebisingan di sekelilingnya.

Otto kini bisa terbilang anak yang sehat, bagaikan sebuah berkah, degan serakah menyerap apa pun yang bisa dia serap.

Otto sudah kehilangan kesempatan mempelajari hal-hal yang seorang anak delapan tahun perlu pelajari, sekalipun dia sangat rajin menghabiskan waktunya untuk belajar membaca dan menulis, tingkah pemahamannya masih ketinggalan jauh dengan anak-anak lain seusianya. Tetapi, memanfaatkan konsentrasi baru sebagai senjatanya, Otto langsung menutup celah itu.

Sejak saat itu, potensi tersembunyi Otto mulai menonjol.

Dia tidak lagi tertinggal oleh saudara-saudaranya. Dengan kata lain, pemahaman dan kecerdasannya bahkan melampaui mereka. Kemampuan pembelajaran memukaunya, Otto segera membedakan dirinya dari bocah-bocah seumurannya―

―Dan secara spektakuler merusak hubungan sosialnya, membuatnya tidak punya teman.

“Bagaimana bisa orang hidup di dunia sulit ini seakan-akan tidak ada apa-apanya?”

Gumam Otto, memeluk lututnya, pipinya merah dan bengkak.

Saat umurnya sepuluh tahun, dia rajin belajar agar tidak mempermalukan dirinya sendiri sebagai putra pedagang. Sebagian besar anak-anak pada era itu tidak bisa belajar pas masih kecil. Otto tentu saja keluarga mampu, dapat mengenyam pendidikan bersama teman-teman sebayanya.

Satu-satunya masalah adalah bahwa usia emosi dan mental Otto tujuh tahun di belakang anak-anak lain.

Otto tidak boleh membuat kesalahan, namun saat itu, dia banyak berbuat kesalahan. Kendati akan selalu dimaafkan, karena umur Otto sudah terlalu tua untuk berbuat kesalahan-kesalahan itu, hasilnya buruk.

Lebih buruknya lagi, Otto Suwen adalah seorang lelaki yang diberkati nasib buruk.

Seumpama kau bertanya pada orang tuanya, maka kemalangan Otto sudah dimulai tatkala dirinya dilahirkan, dia hampir saja tenggelam di kamar mandinya. Dan terlepas usaha terbaik semua orang, dia selalu saja jatuh saat turun tangga, kena kotoran burung, tenggelam dalam genangan air, dan umumnya kerap kali kena sial.

Alasan dia tidak menyadari hal ini pada waktu itu adalah karena dia tidak pernah tahu konsep kemalangan.

Namun, ketika dirinya mengingat kenangan-kenangan masa lalu, Otto merinding kepada sejarahnya sendiri.

Apa yang dia perbuat pada masa lalu sampai-sampai diabaikan keberuntungan?

“Bocah besar, bocah besar, pergilah, pergi dong.”

“Kemilau, kemilau, kemilau, menjauhlah, kemilau, kemilau, kemilau.”

“Hei, monster datang. Hei, monster datang.”

Sekitar waktu-waktu itulah suara-suara yang secara otomatis diblokir Otto, mulai berubah.

Dan paduan suara yang dulunya tak masuk akal mulai penuh makna.

Biar dia masih tidak paham sebagian besar apa-apa yang dia dengar, dalam usahanya untuk mengubah kebingungan menjadi pemahaman, Otto menjumpai makna sejati neraka yang memakan awal-awal masa kecilnya.

Rupanya, Otto bisa berkomunikasi dengan mahluk selain manusia.

Sebelas tahun setelah dirinya terlahir, Otto Suwen baru sadar dia diberkahi kemampuan yang disebut Divine Protection of Anima Whispering1.

Sesudahnya, berharap menemukan batas kekuatan yang dilimpahkan kepadanya, Otto berkeliling kota untuk menguji Divine Protection-nya. Setelah berkali-kali dia coba, dia mendapati bahwa semakin cerdas si mahluk, semakin jelas pula gagasan yang dapat dikomunikasikan di antara mereka.

Kemudian, dia berbicara dengan naga darat milik keluarga di depan kakanya dan yakin punya kemampuan ini sejak masih bayi.

“Uuh, oke. Baiklah … jadi, anu … Otto. Kekuatan itu, anu, memang keren. Ya, keren banget, tapi … yah, masalahnya. Jangan menggunakannya saat ada orang lain di sekitarmu, oke?”

Mengemban Divine Protection berarti diberkati oleh dunia, namun tidak semua yang berkekuatan itu disambut baik oleh orang banyak, namun kemampuan Otto hanya berlaku pada dirinya sendiri, dan orang dapat membayangkan semua trik-trik nakal ala kekanak-kanakan dalam penggunaan Divine Protection tersebut.

Setelah berjanji pada kakaknya, wajah Otto memucat dan mengalihkan pandangannya, pemuda itu memutuskan untuk tidak memberitahu orang lain tentang Divine Protection-nya.

Kekuatannya berbahaya, bukan hanya untuknya, namun untuk orang-orang di sekitarnya pula.

Suatu rasa kewajiban menyala dalam hati muda Otto : dia harus melindungi keluarga tercintanya.

Tiga hari setelah berjanji kepada kakaknya, Divine Protection of Anima Whispering sudah dikenal banyak, dan semua teman sejawatnya langsung menghindarinya.

Adik lelakinya memergoki Otto bercakap-cakap dengan naga darat milik keluarga, dan Otto enggan memberitahu Divine Protection-nya. Otto juga menyampaikan kekhawatiran kakaknya dan bahwa kekuatan itu bisa sangat berbahaya.

Keesokan harinya, si adik menyeretnya ke depan banyak bocah-bocah untuk dipamerkan. Mereka melihatnya berbicara bersama serangga, dan, untuk kali pertama, Otto melihat neraka lagi.

Kekurangan Divine Protection of Anima Whispering adalah Otto perlu menggunakan bahasa mahluk lain untuk berkomunikasi. Sederhananya, agar orang itu dapat berbicara dengan naga darat, dan, untuk berbicara dengan serangga, dia mesti mendecit seperti serangga.

Tak lama kemudian dia dijuluki Bocah Serangga.

Sejak saat itu, Otto bertekad menyegel Divine Protection-nya, takkan pernah menggunakannya lagi. Beberapa tahun kemudian dia berhasil melepaskan julukan buruk itu juga menghapus ingatan terkutuk dari kepala semua orang.

Ketika sudah berhasil, Otto berusia empat belas tahun.

Empat belas tahun, semua dalih terhadap ketidakdewasaan mentalnya tidak lagi terjadi. Tubuhnya berangsur-angsur memasuki masa dewasa, Otto bahkan bisa digambarkan seorang yang cukup tampan.

Rambut abu-abu yang lumayan acak-acakan, sosoknya lembut. Matanya menyejukkan, dan wataknya pekerja keras. Otto muda mengherankannya punya banyak karasteristik yang mirip-mirip naluri keibuan, dan baru saja tatkala dia, bersikap sebagaimana anak seusianya, yakni mulai tertarik pada romansa―

Gobloknya, Otto mencari ribut pada seorang anak perempuan dari tokoh paling berpengaruh di kota, karena Divine Protection of Anima Whispering-nya, alhasil dia dibuang.

Kala itu adalah musim dingin, usianya lima belas tahun.


Singkat cerita, Otto terlibat dalam skandal cerita orang.

Pada malam pesta ulang tahun anak orang paling berkuasa, pacar sang putri merengsek masuk, mengoceh-ngoceh bahwa pujaan hatinya selingkuh. Garis pandangannya langsung mendarat pada Otto, yang padahal cuma berbicara pada si anak perempuan beberapa saat yang lalu.

Otto protes bahwa mereka hanya mengobrol biasa, namun pria berwajah merona itu memukulnya langsung dengan panggilan Bocah Serangga, yang tak seorang pun paham apa maksudnya.

Dan ketika Otto mendengar masa lalunya yang telah terkubur dalam-dalam, dia pun naik pitam.

Jadi, untuk benar-benar membersihkan namanya, Otto menyegel Divine Protection, dan setelah mendengarkan hampir kepada setiap mahluk di kota, ia mengetahui bahwa gadis yang dimaksud sudah berpacaran dengan tujuh pria berbeda malam itu dan dengan penuh percaya diri memberitahu pacarnya : Sepertinya kau yang ke delapan!

Setelah pria itu menghajarnya, gadis yang kencan rahasianya ketahuan langsung menyewa seorang pembunuh, alhasil Otto terpaksa meninggalkan kota kelahirannya. Mengandalkan koneksi sang ayah, dia akhirnya bekerja melayani perusahaan dagang kenalannya. Di sana, dia mempelajari perdagangan―Otto Suwen menjadi pedagang keliling pada usia enam belas tahun.

Perjalanan Otto sebagai pedagang keliling merupakan adegan serangkaian kesialan tak berujung.

Ketertarikannya pada nasib buruk tidak berkurang selama bertahun-tahun. Dia diterpa cuaca buruk setiap kali mengangkut barang rapuh, diserang bandit gunung setiap kali mengambil jalan pintas melalui bukit, dan kala dia berkemah bersama pedagang-pedagang lain, hanya Otto yang akan disengat nyamuk.

Satu-satunya alasan Otto bertahan hidup dari semua malapetaka itu adalah kemampuan bisnis luar biasanya yang mengimbangi takdir tragisnya.

Pemasukannya tidak besar, tapi kerugiannya tidak besar pula. Dengan pendapatan segitu-segitu saja yang dikenal sebagai kutukan oleh para pedagang, dia berhasil mencapai titik BEP2 ketika empat tahun berlalu dalam sekejap mata, kini usia Otto dua puluh.

Dirinya yang tak pernah putus asa atau pun pulang kampung adalah karena Furufu, naga darat yang sudah dia kenal dari kecil, Otto membawanya ketika terusir dari kota asal.

Sejujurnya Otto menyimpan perasaan rumit kepada Furufu, dialah alasan saudara-saudaranya mengetahui Divine Protection of Anima Whispering-nya. Tapi, bagi Otto masa kini, Furufu tidak lain mrupakan keluarga berharga tak terpisahkan.

Entah karena alasan apa, pedagang lain cenderung tidak suka bekerja sama bersama Otto, jadi dia menghabiskan banyak malam tanpa tidur, berbincang dengan Furufu agar tidak merasa sendirian.

Biarin aku tidur dong, ucap Furufu, namun permohonan Otto selalu membuatnya tetap terjaga sedikit lebih lama.

Barangkali wajar andai kata pedagang lain langsung menjauh ketika mereka melihat Otto meringkuk bersama naga daratnya di dekat api unggun tengah-tengah malam.

Sedangkan sebagai pengamat, hari-hari itu mungkin tampak agak lancar bagi Otto, perjuangan hidup dan mati tanpa henti. Lalu suatu hari, datanglah titik balik.

―Otto salah menilai peluang bisnis dan sungguh mengacau.

Kali ini, Otto berniat menjajal minyak. Saat itu hampir musim dingin dan minyak ‘kan terjual dengan harga mahal di bumi bagian utara, yaitu kota Gusteko, dia mendengarnya dari seorang pria berwajah merah yang punya janggut dan penutup mata. Jadi Otto menukar semua barang dagangan logamnya dengan minyak dan antusiasnya mengincar Gusteko―tapi gangguan hubungan diplomatik yang tiba-tiba menghancurkan harapan penjualan barang-barangnya.

Dan semakin menambah minyak ke api, dia dengan cepat mendapati bahwa barang-barang logam yang sebelumnya dia perjuangkan harganya selangit di ibu kota.

Sadar dia ditipu, Otto merasa kehidupan dagangnya sedang diujung tanduk.

Terkecuali dia mendapatkan cara untuk dapat membalikkan keadaannya, dia tidak punya pilihan lain selain menjual Furufu. Bukan hanya itu―dia bahkan terpaksa kembali mengemis keluarganya.

Otto tidak bisa begitu. Sudah lima tahun dia tidak melihat keluarganya, namun cinta mereka kepadanya tidak berubah sama sekali. Fakta dirinya dapat menjalani hidupnya saat ini, sesulit apa pun, semuanya karena keluarga yang tak pernah meninggalkannya sebagai seorang anak.

Sepuluh tahun pertama hidupnya, Otto tertimpa masalah berturut-turut. Sebagai balasan sepuluh tahun kebaikan itu, dia berusaha keras untuk menghabiskan sisa hidupnya untuk membalas budi.

Hutang wajib dilunasi. Bagaimanapun, Otto Suwen adalah seorang putra pedagang.

―Lantas, ketika seorang pedagang yang dia kenal menceritakan sebuah peluang untuk mendapat untung cepat, Otto langsung mengambilnya.

Pekerjaan ini tidak melibatkan barang dagangan apa pun, cuma kerja keras naga daratnya. Seseorang yang menyewa kerata naga untuk mengangkut sejumlah besar orang dari satu tempat ke tempat lain.

Tanpa pikir panjang, Otto mengaktifkan Divine Protection of Anima Whispering, kemudian menginformasikan Furufu untuk bergegas ke tempat tujuan dengan kecepatan penuh di depan orang.

Menyusuri jalan-jalan rusak, berpergian di sepanjang jalan tak diketahui, dan mengabaikan protes Furufu, Berhenti dulu, tuan muda, Otto sampai duluan.

Dan ….

“Aduh aduh aduh … kau mau ke mana sih, buru-buru begini …. DESU!?”

Gawat.

Sekelompok pria yang punya mata sinting telah mengikatnya, kemudian digulung ke tikar, kala itulah Otto menyadari kemalangannya sungguh-sungguh, mencapai puncak.

Dia terpisah dari Furufu, barang-barangnya diluciti, dilemparkan ke gua dingin, dan dibiarkan saja di sana hingga kesialan hidupnya habis.

Adakah orang yang mengerti kedalaman keputusasaan di hati Otto? Jelaslah, tak ada.

Berharap menemukan jalan pelarian dari cengkeraman jahat mereka, Otto betul-betul mengandalkan Divine Protection of Anima Whispering sebagai jalan terakhir. Namun yang menyambutnya hanyalah kesunyian yang kian menghancurkan keteguhannya―walaupun telah melepaskan kekuatan penuh Divine Protection, dan berharap bertemu neraka masa kecilnya.

Suara hiruk pikuk nan nostalgia itu tidak datang.

Serangga serta mahluk-mahluk kecil yang seharusnya mendekam dalam hutan-hutan dan gua-gua ini, semuanya bersembunyi dari eksistensi jahat itu―sementara Otto, yang sudah siap menghadapi neraka, hatinya malah hancur lebur oleh neraka berbeda.

Matanya kehilangan kebulatannya, tubuhnya lemah tekrulai. Dia tahu semuanya telah berakhir.

Dia tidak bisa berbuat apa-apa, dan gua dingin ini adalah akhir hidupnya.

Keputusasaan itu terlalu besar hingga dirinya menangis. Dan, saat itu dia mati rasa pada waktu-waktu kosong tersebut, takdir Otto Suwen mendadak terselamatkan.

“Apa-apaan! Kultus Penyihir gila itu sungguh tidak membedakan, hah! Yah mirip banget sama mereka!”

Suara teriakan menggema dalam gua itu, membawa Otto keluar dari keputusasaannya dan menyentaknya kembali ke kenyataan.

Mengangkat kepala, dia meminta bantuan. Ternyata seorang manusia hewan berwajah anjing, dan beraksen Kararagi tulen yang mendengar panggilannya.

H, huh … aku, aku menangis?

Tanpa sadar, tetesan air turun dari matanya.

Sialan … apa, apa ini, kenapa … kenapa … aku ….

Tanpa tahu alasannya, air mata yang tak tertahankan itu terus mengalir turun dan jeritan aneh memakan pikirannya.

―Karena kini dia telah dilepaskan dari keputusasaan yang menghabisi air matanya, mungkin wajar jika dia menangis.

A-aku bersyukur … tidak mati ….

Dia belum menggapai apa-apa. Dia belum membayar satu pun hutangnya.

Coba Otto mati di sana, hidupnya akan berakhir tanpa punya arti sedikit pun.

Dan karena dia selamat, Otto sekarang menyadari fakta itu.

―Setiap kali Otto menangis, rasanya hidupnya kembali dimulai.

Tangisan pertamanya adalah tatkala ia dilahirkan ke dunia ini.

Tangisan keduanya adalah tatkala ia mengenal cinta keluarga dan menemukan keberadaan hatinya sendiri.

Dan yang ketiga, adalah tatkala dia memahami arti hidupnya setelah menyerah pada hidupnya―

―Tangisan tersedu-sedu ketiga Otto Suwen terjadi hari itu.


Sebenarnya tidak ada yang menyuruhku mengulur waktu begini ….”

Tanpa berpikir dua kali, menggerakkan kakinya menginjak-injak tanah dalam setiap langkahnya, wajah Otto menyeringai.

Seperti halnya melupakan ingatan tangisannya yang tidak sedap dipandang itu, setiap memori tanigsannya terlampau penting, dan dia tidak dapat melupakannya walau sudah berusaha.

“Tapi akan kubayar hutang budiku, tidak peduli apa pun yang terjadiLagian aku ini seorang pedagang.”

―Orang itu yang telah menyelamatkan hidupnya.

Hutang budi Otto Suwen kepada Natsuki Subaru harus dilunasi.

Karena telah menyelamatkan hidupnya, Otto bersedia menggerakkan surga dan bumi untuk membalasnya.

Masuk akal bilamana seorang pedagang berpikir demikian,

―Dan lebih pentingnya lagi

Karena dia adalah temanku!!!”

Sebagai pedagang dan manusia mandiri, Otto menyuruh dirinya untuk tetap setia di sini, tepat saat ini.

Pertarungan yang takkan mungkin dia menangkan.

Walau begitu, melawan segala peluang, Otto Suwen memilih bertaruh kepada kemenangan Natsuki Subaru.

Itulah kehendak jiwa pedagangnya, sebagai butki persahabatan merkea.

―Jauh dari posisinya, dari arah karavan naga yang telah ditinggalkan, Otto mendengarkan deru hewan buas yang mengamuk.

Merasakan bahwa pertempuran sesungguhnya telah dimulai, Otto melepaskan Divine Protection-nya―kemudian, menawarkan dirinya kepada neraka tak asing itu, berniat bertarung sekuat-kuatnya, Otto berlari.

Catatan Kaki :

  1. Divine Protection of Anima Whispering, terjemahannya = Perlindungan Ilahi Bisikan Hewan. Gua biarin aja yah.
  2. BEP / Break Event Point, adalah titik impas, dimana pendapatan dari usaha sama dengan modal yang dikeluarkan, tidak terjadi kerugian atau keuntungan.