RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 INTERLUDE II

Posted on

Interlude: Fraksi Emilia, Penyihir, Roh, Spiritualis

Penantian Arc 5 yang akhirnya tergapai
Penantian Arc 5 yang akhirnya tergapai

Penerjemah: Gwyn, Lord of Cinder

Terdengar bunyi tulang retak-retak tatkala dampak menghantamnya, tubuhnya berputar-putar di udara lalu menabrak dinding. Tak berhenti-henti, serpihan kayu menghujani sosok yang keluar dari sebuah bangunan. Pendaratannya tergelincir di atas salju, menendang-nendang es dalam kejatuhannya.

“—”

Ia bahkan tak bergerak. Segalanya mensunyi sampai-sampai dirinya dianggap mati. Subaru menatap orang yang menabruk dinding, terlihat seorang petinju di dalam bangunan. Yang ditatap menyadari mata Subaru, kemudian menghembuskan nafas puas.

“Woi … gua berhasil dong.”

Kata seorang bocah berambut pirang sambil mengklik taring tajamnya—Garfiel.

Subaru menggaruk kepala, melihat Ram menghampiri Roswaal yang kena tinju.

“Kau benar-benar berhasil.”

Ucap Subaru.


Garfiel dan kawan-kawan ketemuan di Sanctuary setengah hari setelah Emilia mengumumkan kehamilannya, intinya begitu, di pagi hari setelah pertarungan Kelinci Besar.

Patrasche menjambangi Sanctuary sambil menarik karavan berisikan enam orang, termasuk Garfiel.

Mendengar gadis-gadis yang diselamatkan dari Mansion, Rem, Petra, dan Frederica, semuanya baik-baik saja, Garfiel dan Otto si penyelamat juga baik, hal itu membuat Subaru lega.

Namun bonus yang mereka bawa adalah, “Oh, hai, Mister.”

Panggil seorang gadis yang rambutnya dikuncir, ia diikat dan dilempar ke ujung karavan—Meili, penguasa hewan yang menyerang Mansion bersama Elsa.

Reuni tak terduga membuat Subaru membatu. Meili memanggilnya dengan nada bersahabat dan sikap yang sama seperti sebelumnya, di Mansion.

“Mau tahu tidak? Orang pirang ini sama sekali tidak tahu cara memperlakukan seorang wanita. Membungkusnya lalu ditinggalkan saja, parahhh sekali. Bukan begitu, Mister?”

“Yea. Meski aku tidak tahu apa perbuatanmu kepadaku sampai diikat seperti itu …. Pokoknya kami menangkapmu, Elsa bagaimana?”

“Entah. Tapi dia takkan selamat dari kobaran api itu, benar? Kurasa dia sudah mati. Tidak masalah bagiku sih.

Meili tidak peduli sedikit pun tentang kematian rekannya, Elsa. Subaru mengerutkan alis.

“Kau kelihatan santuy sekali saat meminta perlakuan lebih eksklusif. Aku ragu kau bisa lebih nyaman lagi dari ini. Ulahmu sungguh buruk.”

“Aku tahu. Tapi aku mengacaukannya, jadi kayak, oh yaudah. Dan jika aku pulang, Mama nanti akan memarahiku.”

“Ibumu. Aku tahu kau menyebutkannya beberapa kali di Mansion, berarti kau punya semacam sindikat …. Yah, hal lain yang akan diselesaikan setelah berbicara dengan Roswaal.”

“Kasih aku makan tiga kali sehari tanpa paprika, oke?”

Meili dengan cerianya balik badan, menandakan akhir percakapan. Mereka perlu mengurus penahanannya nanti. Bagaimanapun juga, dia adalah saksi penting dalam kejadian penyerangan Mansion.

Garfiel ternyata pintar juga karena berhasil menangkapnya.

Selanjutnya keamanan Sanctuary dan para penduduk Desa Arlam. Setelah tahu mereka yang dievakuasi dari Sanctuary aman-aman saja di kota terdekat. Kesejahteraan semua orang merasa terjamin. Tatkala Subaru menyentuh dadanya dan merasa lega, terjadi pukulan pertama.

“Sebenernya gua yang hebat ini baik banget karna tadi cuma mukul lu sekali doang.”

Garfiel mengayunkan lengannya untuk menunju Roswaal ketika Subaru menatap lubang menganga di dinding. Walau sang Kapten sedikit keberatan perihal rencana jahat Roswaal, dan mewajarkan kemarahan Garfiel.

“Satu pukulan saja sudah lebih kuat dari gabungan sepuluh pukulanku, aku bingung mesti dibilang mantep atau tidak ….”

“Jangan diem aja dong, Kapten. Ayo, sini hantam dia.”

Garfiel mendengus dan memberikan sesuatu kepada Subaru. Pria itu melihat tangan Garfiel, kemudian mendapati cabang yang dia pungut di hutan.

Cabangnya mantul, tebal dan panjang. Bak tongkat kasti kayu.

“…. Maumu bagaimana?”

“Kagak laki kalau mukulnya berkali-kali. Kesempatan lu sekali, tapi kaga bakal ada yang komplain misal dimanfaatin baek-baek.”

“Memang udah kagak laki saat kau memukulnya seperti itu!”

Apalagi Garfiel menggunakan senjata, Subaru bisa saja mendebatkan gerakan ini bisa terhitung pukulan atau tidak. Namun anak SMP itu hanya memiringkan kepala, dagunya menyentak ke lubang.

“Sepertinya tidak ada yang setuju denganmu, Kapten.”

“Hah?”

Didesak Garfiel yang penuh dendam kesumat, Subaru melihat ke luar dan mendapati Ram membantu Roswaal bangkit, sedangkan Frederica menghadapnya sambil menggantung tinju di atas kepala.

“Beranikan diri Anda, Master!”

Tangan kuat Frederica memotong udara tatkala menggerakkan tinjunya ke titik pukul Garfiel, yakni pipi kiri. Roswaal terhempas ke udara lagi, kali ini berhenti beberapa meter jatuhnya dan menabrak batang pohon. Dampaknya membuat salju jatuh dari puncak pohon, mengubur Roswaal dalam-dalam.
Melihatnya, Frederica bertepung tangan sambil mengangguk-angguk puas.

“Seriusan!? Semua orang mendukung balas dendam ini?”

“Kita mesti niat, Kapten. Kagak lucu nanti kalau tuh orang kagak bales perbuatannya. Dia kagak bakal gua sembuhin. Emilia-sama juga.”

Roswaal memunculkan kepalanya dari salju, matanya kunang-kunang, Petra dan Otto menunggu giliran mereka di sampingnya. Ram mengeluarkan Roswaal, sedangkan Emilia berdiri di dekatnya untuk menyembuhkannya saat itu juga.

“Maksudku Emilia-tan memang seorang penyembuh, ya? Dia betul-betul tak menunggu giliran tuh? Biarpun jelas berhak diikutsertakan.”

“Eh, gua pikir bakalan sulit. Omong-omong, itu doang nih tanggapan lu. Ayo dong, Kapten.”

Garfiel menyodorkan tongkat kayunya kepada Subaru. Pria itu dengan enggan menerimanya.

“Kau takkan mendengarku kecuali memukulnya?”

“Kagak ampe gitu. Rasanya lu juga pengen nampar tu wajah kont*l, kan?”

Dorongan di punggung membuat Subaru bergerak.

Garfiel mendorong Subaru dengan ibu jarinya dari atas lubang dinding. Tampaknya ia meniru tindak-tanduk pemimpinnya. Setelah dihantarkan saudaranya, Subaru mendekati sisi terdekat Roswaal.

Kebetulan Petra baru saja menampar wajah majikannya dengan kain basah kuyup.

Bunyi sabetan basah menggema ke seluruh Sanctuary.


“Ehem, oke. Sekarang karena penutupannya sudah selesai, kupikir kini waktunya membahas peristiwa terbaru dan mendiskusikan hal-hal yang mesti dilakukan di masa depan.”

Setelah berdehem, Subaru bertanggung jawab atas rapat dan melirik setiap anggota kelompok. Semua pemain penting dalam lingkaran berkumpul bersama-sama di katedral. Jumlahnya cukup banyak, hati Subaru sampai tersentuh atas perkembangan fraksi ini.

Dalam katedral terdapat penghuni lama Mansion Roswaal—Subaru, Emilia, Beatrice, Roswaal, dan Ram—bersama penghuni Mansion Roswaal baru, Otto, Frederica, serta Petra. Kemudian tokoh-tokoh utama dari Sanctuary, Garfiel dan Lewes.

“Subaru, matamu kelihatan loyo, apa kau baik-baik saja? Apa masih tidak enak badan?”

“Tidak, aku oke-oke saja. Hanya merasa sentimental. Tim Emilia berlipat ganda. Ditambah warga Sanctuary dan para penduduk desa Arlam, kau mendapatkan sosok-sosok besar.”

“… kau benar.”

Emilia mengangguk, matanya juga mirip-mirip. Setelah menunjukkan kehendaknya dengan bertahan di lini pertahanan melawan Kelinci Besar, penghuni Sanctuary dan brigadir pemuda-pemuda Arlam pastinya menganggap baik dirinya. Hanya karena seseorang dapat diandalkan dalam keadaan-keadaan darurat bukan berarti mereka seorang Penguasa, tapi dunia ini berbeda dibanding saat mereka mengasingkannya.

“Daaaan topiknya malah melenceng. Oke, kembali ke poin utama. Jadi kita semua tahu apa yang terjadi di Sanctuary dan mansion? Lantas aku agak suka tanggung jawab dari pelaku semuanya, atau menanyakan detailnya, tapi ….”

Semua orang berpaling melihat sang dalang.

Roswaal terkulai lemas di sudut katedral, berada di pangkuan Ram. Matanya terbuka kala tersadar banyak pasang mata menyorotnya.

“Oh~? Setelah kalian semua menyiksaku baik-baik, kalian masih~ ingin menyiksaku sampai puas~?”

“Kau tuai apa yang kau tanam. Emilia-tan bahkan menyembuhkanmu, jadi hentikan ocehan sampah tidak tahu malu ini. Omong-omong, aku lebih terkejut pada Ram.”

“… terkejut tentang apa?”

Subaru menjulurkan lidahnya kepada Roswaal selagi mengalihkan pembicaraannya ke Ram. Perempuan itu memegang tangan Roswaal sembari mengistrirahatkan kepala masternya ke pangkuannya, ucapan Ram mengernyitkan alis Subaru.

“Bukan, maksudku ….”

“Aku tahu kalian sedang tidak dalam kondisi prima, tapi aku terkesan kau hanya diam saja menonton pengeksekusian Roswaal. Aku hampir yakin kau akan beraksi.”

“Goblok amat, sih, Barusu …. Aku tidak percaya sama sekali kalau Roswaal-sama sepenuhnya tidak punya salah. Tapi aku memang ingin memihak beliau seketika jalannya keliru. Tentu saja aku ‘kan berpikir demikian. Dan kau bahkan tidak tahu itu? Banget-banget goblok.”

“Pembuka dan penutupnya tidak usah goblok juga, kembali ke bisnis, deh! Bagaimanapun, dengan logikamu itu ….”

“Tepat sekali. Menyerang Roswaal-sama bisa dibenarkan. Jadi aku terima kondisi buruk beliau. Aku akan merawatnya dengan penuh kasih sayang dan kebaikan sebab itulah yang membuatku nyaman.”

Seperti biasa, pameran cinta Ram agak maskulin.

Tidak seorang pun berani mengeluhkan pengabdiannya kepada Roswaal. Garfiel sendiri kelihatan dilema, tapi dia diam saja, barangkali lantaran selalu dibicarakan tanpa menyebutkan apa-apa.

“Seleramu aneh. Walau perutmu terluka bakar … semisal Betty dan nona rambut perak tidak ada, kau bakal mati oleh luka itu, kayaknya.”

Yang bicara selanjutnya ialah Beatrice, dia duduk diam di samping Subaru.

Lututnya dilipat ke dada sembari bersandar ke bahu kiri Subaru. Dia membantu Emilia merawat Ram, menghapus cedera, agar Ram pulih dengan baik.

“Saya berterima kasih, Beatrice-sama dan Emilia-sama. Tapi alangkah baiknya bila mana alasan hidup saya yang diselamatkan Anda, bukan berarti Anda boleh mencampuri urusan cinta saya.”

“Betty tidak semurah hati itu untuk melakukannya. Seandainya kau ingin mengabdikan diri kepada pria keliru ini, bahkan jika itu menyakitkan, itu hak bebasmu, kayaknya.”

“—takkan terjadi lagi.”

Beatrice membalas kasar Ram, ketika Roswaal mendengarnya dan duduk.

Mereka berdua menarik nafas, dan Subaru menelan ludah.

Roswaal tidak mengenakan kosmetik, memperlihatkan wajah tanpa riasan.

Tanpa dandanan badutnya, pria tampan itu memejam mata kiri dengan tangannya, lalu memandangi orang-orang yang berkumpul di katedral dengan mata birunya. Dia menundukkan kepala dalam-dalam.

“Aku takkan pernah lagi menggapai apa pun dari kesombongan diriku yang mengorbankan salah sebagian dari kita lagi—aku bersumpah atas nama mentorku.”

“….”

“Dan aku lebih suka Beatrice tidak meninjuku untuk yang ketiga kalinya.”

Canda roswaal selagi dia mengangkat kepala dan menatap Beatrice. Beatrice membuang muka masam.

“Yang kedua adalah hukuman atas omong kosong tololmu. Yang ketiga tidak bisa kuapa-apakan lagi, kayaknya.”

“Karenanya aku ingin tinggal. Aku lebih baik menghindari pembalasan dendam kalian semua. Garfiel dan Subaru-kun kejam sekali sampai-sampai aku bersiap mati.”

“Kau menganggap tinjuku setara dengan Garfiel? Tidak mungkin sekuat itu.” meski semangat hantaman Subaru sama besarnya.

Serangannya bersih sekali menabrak ujung dagu Roswaal, dan betapa indahnya melihat Roswaal kelewat pusing untuk berdiri.

Yang mana pun. Pernyataan Roswaal tentu terasa dari hati. Berarti Subaru tidak ragu lagi untuk mencoba mempercayainya. Nampaknya sesuatu menggerakkan Roswaal tatkala melihat Ram mempertaruhkan nyawanya untuk membakar Kitabnya, berkontribusi pada perubahan hatinya.

“Kendati kau antiklimaks mengingat kami membias sekali pada Kitab tercintamu. Aku serius berpikir menang darimu selagi kau kesusahan adalah pekerjaan terakhir di Sanctuary.”

“Tunasnya dicabut sebelum sempat tumbuh. Tiada tuturku yang bisa merubah kalahnya pertaruhan kita. Tatkala aku kalah, dan menentang kontrak juga Kitab untuk~ menghantarkan salju. Kau bertindak sangat sempurna hingga aku melakukannya.”

“… yah, itu karena Garfiel dan Emilia-tan bekerja keras.”

“Kau punya kebiasaan buruk dengan mengesampingkan namamu seperti ini. Bagaimanapun, hasilnya adalah hasilnya. Kau melampaui setiap Ujian yang aku kira mustahil, dan membebaskan Sancutary …. Aku kalah.”

“—Jadi, hei, Kapten.”

Roswaal mengangkat bahu pasrah. Subaru mendapati dirinya terbungkam, kemudian Garfiel mengangkat tangan dan memotong masuk.

Memelototi Roswaal, tatkala taring tajamnya bergemeletuk.

“Lu mikir orang itu bakal gabung ama tim kita? Jujur nih, gua masih kagak setuju ama itu.”

“Garfiel ….”

“Duh, anjing! Apa sih yang si brengsek ini pikirin atas perbuatannya ke Sanctuary ama mansion? Coba aja lu kagak ada di sini Kapten, desa dah jadi makanan kelinci terus Kakak ama gadis ini bakal dibunuh sama wanita perut itu! Kita ngelindungin orang ini, kita kagak bakal tau lagi kapan dia bakal ngiris leher kita!”

Garfiel meraung sambil menghentak tanah, katedral diterpa gempa mini. Garfiel benar. Cukup sudah bicaranya dan habisi Roswaal agar semuanya tenang, tapi itu hanya pembukaan dari penjelasannya.

Roswaal telah membahayakan semua orang di sini demi tujuannya seorang, dan Subaru berkali-kali melihat nyawa semuanya terenggut.

Dunia ini tak punya pengorbanan, semua orang bersama dan aman, adalah satu-satunya pencapaian karena dia memanfaatkan kematian-kematian itu sebagai pasal landasan sembari bekerja sama dengan semua orang.

Subaru marah sekali sampai dia ingin menampar Roswaal dan menginterogasinya. Dia ingin menuruti keinginan Garfiel, dan tidak mempedulikan Roswaal.

“Terlepas dari itu, kita perlu Roswaal.”

“Kapten!”

“Kita benar-benar membutuhkan bantuan Roswaal jika Emilia ingin memenangkan Pemilihan Raja. Bila dia kehilangan dukungan pria ini, maka Emilia tidak bisa ikut. Tentu saja kita akan buat dia membayarnya … tapi, kita tidak bisa bilang, Oke, dadah!”

“Lu nyuruh gua maafin orang yang mau bunuh keluarga gw!?”

“—”

Kata-kata emosional Garfiel menembus hati Subaru.

Entah bagaimana dia menenangkannya dengan ucapan, Garfiel takkan setuju. Dia hampir kehilangan Frederica, apalagi Lewes.

Bocah ini berlatih selama sepuluh tahun agar bisa melindungi keluarganya. Roswaal adalah musuh bebuyutan tak termaafkan.

“Aku … memaafkan Master.”

“… kak!?”

Tetapi yang membantahnya adalah darh dagingnya sendiri, Frederica, dia hampir dibunuh oleh Roswaal.

Rambut pirang panjang bergoyang seraya berkata. Mata Garfiel membelalak kaget.

“Lu ngomong apaan! Bajingan ini mau ….”

“Walau begitu, aku masih hidup. Karena kau menyelamatkanku, Garf.”

“Ngomong itu lagi! Dia mau ngebunuh lu! Sama nenek! Bukannya … bukannya gitu!”

“… Master menjagaku selama lebih dari sedekade.”

Bahu Garfiel terangkat tatkala Frederica menyipitkan mata. Tatapannya menginspirasi belas kasih, sebab dia tergerak oleh kemarahan kakaknya yang sudah dewasa.

“Agar aku mencapai tujuanku, aku menerima bantuan yang ditawarkan Master. Aku belajar banyak sejak saat itu, dan sekarang aku di sini. Dalam istilah umum, aku mengeksploitasi kemurahan hati Master demi tujuanku sendiri. Bukankah hutangnya akan lunas?”

“Jangan samain hutan ama hidup! Lu gak tau kapan dia bakal ngianatin—”

“Anu, maaf nih ketika kalian sangat antusias begini, tapi boleh aku menyela?”

Garfiel mau berdebat, tapi kali ini Otto membuat jeda.

Mata marah Garfiel menuju Otto yang mengangkat tangan. Namun Otto membiarkan cahaya itu membersihkannya lanjut berbicara tenang.

“Sekarang tenang, tenanglah.”

“Kesampingkan argumen emosional Garfiel sebentar, dan pertimbangkan kemungkinan Margrave Roswaal untuk melakukan sesuatu seperti ini lagi …. Pikirku boleh-boleh saja bilang bahwa dia tak akan, paling tidak untuk saat ini.”

“Eh? Lu bilang apaan sih bangke. Lu ini ngigo ye? Nih gua terangin dah.”

“Ingat kontraknya? Segera setelah urusan ini mencapai kesimpulan konkrit, sebuah kontrak terbentuk antara Natsuki-san dan Margrave. Benar, Margrave?”

Otto sepenuhnya tenang saat mengurus Garfiel yang mendidih.

Dia pun berani memastikan kontraknya bukan dengan Subaru, tapi dengan Roswaal. Roswaal menyadari niat Otto, matanya melebar sedikit.

“Otto-kun itu~ benar. Lantaran kontrak antara aku dan Subaru-kun, aku tidak bisa menentang arahan Subaru-kun.”

“Arahan?”

“Dia membuang Kitab dan membantu Emilia menjadi Penguasa. Itulah kontrak antara aku dan Roswaal. Dia tidak bisa aneh-aneh lagi.”

Subaru mengambil alih, Garfiel menggertak gigi marah.

Subaru memenangkan taruhannya. Roswaal terikat oleh kontrak, mencegahnya merubah masa depan hingga sesuai seperti tulisan Kitab.

Walau lain pertanyaan kalau itu dapat menjinakkan Roswaal atau tidak.

“Itu masih kagak nyelesain masalah! Misalkan kelar dan elu cuman ngomong, ‘gua gak bakal melakukannya lagi,’ kita gak bakalan tahu kalau, Pembalasan dendam Rogos lebih dari satu perbuatan!”

Teriakan Garfiel semakin menegaskan sikapnya, menciptakan perbedaan pendapat antara dua kelompok mengenai perbuatan Roswaal.

Subaru, Otto, dan Frederica menerimanya.

Garfiel dan Petra menolaknya.

Emilia dan Lewes masih netral.

Subaru perlu menunggu keputusan Beatrice dan Ram. Hubungan mereka dengan Roswaal berbeda dari semua orang.

“Petra ….”

Sebagaimana Garfiel, Petra sangat-sangat marah pada Roswaal.

Mencengkeram rok, wajahnya memerah ketika Subaru memanggilnya.

“Aku masih tidak setuju entah kau bilang apa, Subaru … -sama. Master mencoba … Tuan kita mencoba melakukan hal mengerikan kepada penduduk desa. Kendati semua orang mempercayainya. Biarpun Tuan kita orang yang baik!”

“… sungguh menyakitkan juga~ mendengar itu.”

Bahkan Roswaal mengerutkan kening tatkala seorang gadis kecil menghinanya.

Petra mungkin yang palnig mencerimkan perasaan masyarakat, tanpa motif antar fakti tersembunyi atau keadaan rumit. Bukan karena dia anak kecil. Namun karena tingkahnya jelas-jelas membicarakan kemarahan yang dia raskan kepada Roswaal sebab sebagai Tuannya, Roswaal mengkhianati pendapat jujur Petra.

Penduduk desa Arlam dan Sanctuary belum diinformasikan bahwa Roswaal adalah dalang di balik seluruh kekacauan ini.

Petra hadir di pertemuan sebagai wakil mereka, setelah sedikit demi sedikit percakapan yang dia dengar di mansion mendekatkannya ke kebenaran, dia tak pernah berbicara untuk memastikan keyakinan absolut. Mereka yakin dengan kepintarannya.

Aapbila Petra menggali jawaban sesuai anak seusianya, mereka barangkali akan menyumpah-serapah untuk menampiknya. Tapi mereka tidak.

“Aku tahu ini diulang lagi, tapi kita memerlukan Roswaal. Andaikan Roswaal kita buang di sini, kita menutup jalan Emilia. Kau tidak bisa bilang tak ingin bekerja bersamanya, atau sebaliknya, kita bisa mengikatnya untuk mendapatkannya, intinya dia bekerja bersama kita.”

“Kita kagak bakal ngeyakinin satu sama lain, Kapten.”

“Memang tidak. Jadi kita perlu kompromi. Kau ingin Roswaal melakukan apa agar dia memuaskanmu? Maaf sekali tapi membunuhnya bukan salah satunya.”

“—cih.”

Agar Garfiel tetap terkendali saat dia mulai berdiri, Beatrice berdiri. Tingginya pendek, tapi lebih dari cukup untuk membuat bocah yang hendak berdiri itu duduk kembali.

Garfiel mengklik lidahnya dan mengalihkan pandangan ke Roswaal.

“Pertama-tama ngamanin kakek dan nenek di Sanctuary. Lu bakal jamin keamanan mereka, gak peduli tinggal atau pergi. Jadi langkah konkrit pertama adalah ngabulin usaha Kakak.”

“Baiklah, diterima.”

“Gua kagak mau denger alesan-alesan soal nggk punya dana buat benerin mansion yang kebakaran.”

“Bangunan yang terbakar adalah tempat tinggal tambahan para Mather. Tempat tinggal utamanya ada di mana-mana. Tentu aku sudah bersiap-siap agar tidak jatuh ke sesuatu konyol bernama gulung tikar.”

Balasan Roswaal yang meyakinkan mengejutkan Subaru.

Berita bahwa mansion yang kebakaran adalah tempat tinggal cadangan. Dia mulai kelihatan bodoh karena khawatir tentang kediaman mereka sekarang.

“Selain itu, ada dua janji lagi … gak, KONTRAK.”

“—”

Garfiel mengangkat dua jari. Roswaal terdiam.

Garfiel menurunkan satu jari.

“Pertama yang Kapten bilang. Gua mau lu bersumpah untuk lu patuhin syarat-syaratnya. Jangan aneh-aneh lagi.”

“… ya, tentu saja. Dan yang satunya?”

“Gampang—lu langgar, taring hebat gua bakal numbuk pala lu ampe hancur.”

Hawa membunuh dingin memancar dari Garfiel.

Aura yang mestinya menusuk ke Roswaal seorang begitu intens sampai-sampai riaknya menyapu kulit semua orang bagai bilah silet.

“Baiklah—mari kita ikat kontraknya.”

Kala Roswaal menerimanya beberapa detik kemudian, dan Subaru merasa hawa membunuhnya menghilang bagaikan gelombang surut, tubuhnya menyantai dan dia menghembuskan nafas.

Garfiel duduk bersila dengan lutut menopang siku yang menumpu dagunya, terlihat tidak puas.

“… itu aja yang mau gua omongin sekarang. Lebih baik lu biarin juga, nona.”

“Tapi ….”

“Ga bakal jadiin temen atau keluarga lu seneng kalau mereka tau.”

Petra, yang sedang menangis, menatap Frederica di sebelahnya. Frederica mengangguk, dan Petra terisak dengan menempelkan wajahnya ke dada Frederica. Cukup sudah untuk melemahkan hati siapa pun.

“Omong-omong, selagi kita masih bertanya-tanya perkara bagaimana menjamin bantuan dari Arlam dan penduduk Sanctuary, dan ke mana perginya sekarang sebab mansion sudah jadi abu, juga apa yang kita lakukan, dapatkah kita bilang bahwa tanggung jawabnya selesai sudah dan kami punya hak dalam hal ini?”

Setelah menunggu isakan Petra berhenti, Subaru menyimpulkan pemikiran semua orang.

Sekiranya ada orang yang keberatan, maka mereka telah menyelesaikan tahap pertama perbincangan perihal urusan Sanctuary dan mansion. Kini mereka hanya harus membahas masalah lain satu per satu—

“Maaf.”

Namun seseorang mengangkat tangan dalam keheningan.

Dan ialah pemimpin kelompok yang belum mengutarakan opini pribadinya mengenai Roswaal, Emilia.

Tatapan semua orang terfokus padanya dan memandang Subaru, meminta izin berbicara.

“Silahkan, Emilia-tan. Jangan ragu untuk mengatakan apa pun.”

“Kalau begitu aku akan turut serta.”

Emilia mengangguk kepada Subaru dan melihat Roswaal. Roswaal mengangkat alis, nampak terkejut selagi menunggu Emilia bicara.

Dan dia bicara.

“Roswaal belum melakukan hal yang paling pentingnya. Diskusi ini tidak berakhir sampai dia mengatakannya.”

“Hal paling penting ….?”

Roswaal gagal memahami ucapan Emilia, kelihatan bingung. Subaru memiringkan kepalanya dan merenungkan apa yang hendak diungkap Emilia. Gadis itu melihat ke seluruh anggota kelompok, dan menghela nafas ….

“Saat kau melakukan hal buruk, kau harusnya meminta maaf.”

“….”

“Semua orang sudah menyuruh hal yang harusnya dilakukan Roswaal, ini dan itu untuk membuktikan pertaubatannya, dan Roswaal bersumpah atas nama gurunya untuk tak melakukan hal buruk lagi, tapi sebelum itu, bukankah mestinya mengatakan sesuatu? Roswaal, pernahkah kau menyampaikannya sekali saja? Aku tidak mendengarnya.

Pipinya merah marah, Emilia mencerca Roswaal.

Dia menuturkan hal-hal remeh hingga semua orang terdiam seribu bahasa. Tetapi Emilia sama sekali tidak bercanda, dan, sungguh-sungguh marah.

Emilia murka. Meskipun dia jarang-jarang tersulut amarah. Kecuali kejadian ini, dan Emilia sedang marah besar.

Untuk memastikan sesuatu yang sebegitu jelasnya terjadi, tapi dilupakan semua orang, dia mewujudkannya.

“Roswaal.”

Subaru melihat ke Roswaal yang terheran-heran, dan tersenyum ketika melihatnya lengah.

“Minta maaflah, Roswaal. Seumpama kita ingin bekerja sama, maka kau wajib melakukannya, sebagai seorang insan.”

“….”

Subaru satu pikiran dengan Emilia, sentimennya menyebar ke semua orang di katedral. Roswaal mengerti pada apa yang dicar-cari lautan sorot mata, lalu menelan nafas.

“… hmm, itu cukup.”

Cara Emilia tersenyum setelah melihat permintaan maaf Roswaal meninggalkan kesan luar biasa.


—Subaru menampakkan ekspresi tak terlukiskan di depan seorang wanita di peti mati.

“Betapa~ tidak sopannya wajahmu menatap guruku.”

Ujar Roswaal, ketika melirik Subaru dari samping.

Dalam ruang terdalam makam, Subaru serta Roswaal menghadap satu sama lain di antara peti mati. Agar mereka bisa bicara tanpa diganggu seorang pun.

Tapi sebelum itu ….

“Ini beneran gurumu, Penyihir Echidna itu?”

“Betul~. Tubuh beliau beristrirahat abadi dalam mantra, keindahan fana yang diawetkan. Hidupku layak sudah saat diperkenankan bertemu dengan beliau lagi sekarang.”

“Yang benar-benar harus kukatakan perihal keturunan tukang penguntit super motivasionalmu tuh, idih.”

“Beatrice memukulku di komentar yang persis~ sama.” Roswaal tampaknya bersenang-senang, tapi Subaru tak ingin tersenyum.

Beatrice bilang bahwa Roswaal mengabdikan hidupnya dengan menyalin jiwa. Subaru pernah mengguyon hal yang mirip-mirip sebelumnya, tapi tak pernah berangan itu akan benar.

Namun dia jadi setuju dengan fanatisme keluarga Margrave untuk Echidna, karena sebetulnya semuanya hanya Roswaal seorang.

“Apa kau merasa bersalah pada garis keturunanmu? Aku rasa jawabannya sudah jelas.”

“Keluarga Mather dibuat untuk tujuan itu. Aku yang memulainya, aku melanjutkannya, aku membangunnya. Tidak membuatku merasa tak nyaman, entah siapa yang mengkritik.”

“Penguntit klasik.”

“Tentu tidak. Terlepas dari itu, ada hal yang ingin~ aku konfirmasi. Soal seseorang yang kau lihat dalam Ujian, yang tidak lain merupakan guruku bernama Echidna.”

Roswaal menyipitkan mata selagi berbicara. Mata Subaru pun menyipit pula.

Ada perbedaan antara Echidna yang diomongkan Roswaal, dan Echidna yang Subaru temui di istana mimpi. Demikianlah kejutan yang didapatinya tatkala melihat wanita dalam peti mati tersebut.

Subaru menatap sosoknya sekali lagi. Rambut putih panjang dan kulit pucat. Sosok cantik, dan gaun hitam tipis. Karakteristik khas identik dengan Echidna. Tapi jelas-jelas dia orang lain.

Echidna yang Subaru kenal lebih muda dari wanita dalam peti mati tersebut. Wajahnya lebih mendekati manis ketimbang cantik, rambutnya lebih dipotong pendek dari si wanita. Mereka memang mirip. Andai kata seseorang menyebut mereka saudari, Subaru akan percaya.

Tetapi ….

“Guruku tidak punya saudari. Beliau tidak punya kakak, tak seorang pun beliau panggil putri kecuali Beatrice. Aku tahu ini lebih baik dari siapa pun.”

“Lantas, siapa Echidna dalam Ujian? Benar sih dia, tapi masa mudanya dipulihkan … bukannya terasa seperti itu juga. Mereka orang yang berbeda. Aku tahu ini bukan soal umur.”

“Semua orang yang menginterupsi Ujian pastinya terhubung. Jikalau orang ini yang mengelola Ujian, mereka seharusnya terhubung. Barangkali beberapa pihak eksternal mengambil tindakan selagi aku tidak sadar … itu mungkin. Tapi.”

Roswaal tidak melanjutkan, namun Subaru merasa dia mengabaikan hal selanjutnya sebab itu mustahil. Dia tak punya dasarnya, tetapi mungkin Roswaal lebih yakin dengan kemampuan penguntitnya. Yakin sekali bilang bahwa tidak satu orang dapat melakukan hal buruk kepada guru tanpa sepengetahuannya. Malah jadi serasa menjijikkan.

“Aku mengira kau membayangkan sesuatu yang kurang~ ajar.”

“Salahkan imajinasimu atau salahkan saja dirimu. Pokoknya, aku dan Emilia, saling melihat Echidna selama Ujian. Atau sekurang-kurangnya, seorang Echidna yang bukan ini.”

Emilia hadir ketika Subaru pertama kali melihat wanita itu di peti mati. Seketika itulah mereka menyadari bahwa wanita yang Beatrice panggil Ibu bukanlah orang yang dia panggil Echidna.

Siapakah gadis dalam mimpinya? Tanpa mencapai konklusi mana pun, Subaru akhirnya memulai percakapan dengan Roswaal.

“Kita tak bisa menggunakan sistem Ujian untuk memasuki mimpi lagi?”

“Fungsi makam dihentikan oleh kehancuran algoritmanya. Seni atasnya telah hilang, sekaligus persyaratan kompleks. Dan racun yang meresap ke dalam Makam telah lolos. Makam ini sekarang hanyalah struktur bebatuan bersejarah biasa.”

“Aku, paham ….”

Kecewa sekali dia tak bisa memastikannya, dan kecewa tak dapat menemuinya lagi, keduanya menyerang Subaru secara bersamaan. Entah kenapa, Subaru mendapati interaksi bersamanya dan para Penyihir tak buruk-buruk amat, bahkan memperhitungkan segala fakta pengkhianatannya.

Lantas kehilangan kesempatan melakukannya untuk memanggil melankolis Subaru.

“… kita kesampingkan hal-hal tak terubahnya. Jadi, kau mau mengapakan peti mati ini? Kubur dia?”

“Tidak aku kubur ataupun bakar, Subaru-kun, aku ingin kau tidak salah paham. Aku merindukan reuni dengan guruku, tapi bukan berarti sangat mendamba-damba untuk~ bertemu mayat beliau. Ini semata-mata satu langkah saja.”

“Maksudmu apa?”

Subaru mengangkat alis, waspada membengkak dalam dirinya.

Subaru mengira reuni yang dihasratkan Roswaal bersama orang tercintanya adalah pertemuan tatap muka secara langsung dengan mayat dalam Makamnya.

Tidak mempertimbangkan sampai tahu bahwa mayat Echidna sebetulnya di dalam makam, tapi hal keduanya ….

Subaru mendapati mentor Roswaal berada dalam sini, tentu mulai dia pikir. Tapi Roswaal dengan gamblangnya menolak ide itu.

“Aku ingin berbicara lagi dengan guru, darah mengalir melalui diri beliau, jiwa bernaung dalam raga beliau. Mendapatkan mayat ialah langkah pertama.”

“Kau mau membangkitkan orang mati?! Itu … dunia ini punya sihir untuk memanggil kembali orang mati!?

“Pastikan kau tidak salah paham. Kemungkinan ini ada karena yang dibangkitkan adalah beliau. Mustahil menghidupkan orang yang telah menemui maut. Od Lagna takkan mengizinkan sihir semacam kebangkitan.”

“Od Lagna?”

Wajah Subaru memberengut atas kata baru itu.

“Od Lagna itu … bagaimana, ya, tumpukan mana dalam sumber dunia. Tidak, seandainya dunia sendiri mahluk hidup, maka Od Lagna adalah penghubung, dan od-nya dunia. Walaupun kita cuma bisa membayangkan lokasi tepatnya, dan entah punya akal atu tidak.”

Od dunia … takkan mengizinkan, berarti?”

“Menjelaskannya butuh pembacaan cepat keseluruhan sejarah sihir sampai saat ini.”

“Dalam tiga kalimat.”

“Kasar sekali.”

Roswaal mengelus dagunya dan memikirkan hendak bilang apa. Kemudian mulai menjelaskan sejelas-jelasnya dan sesingkat-singkatnya sebisanya.

“Semua sihir di dunia ini dirancang oleh penyihir-penyihir masa lalu. Insiden sihir pertama adalah tatkala seorang individu dengan bakat luar biasa dalam memanipulasi mana mulai merapalkan berbagai jenis sihir. Karena kian banyak orang bisa melakukan sihir, kesenjangan dalam kemahiran mulai terlahir, sulit mengklasifikasi fenomena tanpa menetapkan nama atau kelas.”

“Sewaktu itulah sihir mendapat nama, dan dibagi menjadi tipe-tipe afinisi terpisah.”

“Ya. Selagi teknik sihir dan ilmu pengetahuan berkembang luas, orang-orang bertalenta menakjubkan mulai terlahir. Mereka merancang penggunaan baru mana, terdiversi dari bentuk sihir yang telah ada, membuat sihir baru. Perkembangan sihir senantiasa berjalan sebagai penyihir duniawi yang secara komprehensif penerapannya berlebihan dalam penemuan-penemuan baru dari para jenius terdahulu.”

“Seperti ceramah-ceramah dengki, lantaran kau salah satu jenius itu.”

“Boleh jadi aku melewati masa-masa tak menyenangkan, sekali~ atau dua kali.”

Di setiap dunia dan alam semesta di luar sana, banyak orang yang kelewat mahir terasing. Suatu kala ketika Roswaal belum dewasa, dan menderita tatapan serta rintangannya. Kendatipun saat ini dia bakal balik senyum dan diam-diam membalas dendam.

“Jadi apa hubungannya sama Od Lagna?”

“Eksistensi sihir dan kekuatan ini disebut mana. Peneliti menyelidiki topik sementara orang-orang menguji pendekatan dan metode terkait penggunaan mana yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berhasil menciptakan sihir yang efeknya mengejutkan, satu per satu mulai menonjol oleh para jenius. Setiap kasus sihir ini membuat hasil yang lebih-lebih lagi melampaui sihir-sihir sebelumnya, seperti seorang penyihir mampu mengubah geografi suatu daerah—Dan apa yang mereka lakukan, mereka semua melihat hal yang persis sama.”

“… sejujurnya aku berpikiran sama.”

Return by Death. Subaru tak bermaksud mengungkapkan persyaratannya kepada Roswaal secara rinci, tetapi tidak berlebihan bila kemampuan Subaru dengan masuk akalnya menyentuh tabu kebangkitan.

Subaru memanfaatkan Return by Death untuk mengubah takdir terkutuknya sendiri, dan menyelamatkan nyawa orang lain.

Jikalau Od Lagna menyaksikannya, tak mungkin Subaru akan melewati rintangan-rintangan kerasnya.

Kecuali, mungkin, entitas yang membiarkan Return by Death Subaru cukup kuat sampai bertahan dari Od Lagna.

“Idenya saja membuatku bergidik. Ngomong-ngomong, metodemu ini ….?”

“Maaf, tapi sekarang takkan kuberi tahu.”

Subaru menggeleng kepala dan bicara lagi, seketika Roswaal menembak pernyataannya. Mata Subaru langsung bingung sesaat dan gagal paham apa yang dikatakannya.

“Hah, apa, apa? Kau bilang apa?”

“Seperti yang kau~ dengar. Aku takkan memberi tahu metode untuk mencapai tujuan akhirku. Aku cukup yakin itu tidak ada dalam persyaratan kontrak kita.”

“Maksudku, ya, tapi … ayolah!”

“Aku akan memperjelas ini kepadamu, Subaru-kun.”

“Kata Roswaal dingin. Dia berjalan di sekitar peti mati dan menghampiri sisi Subaru, menatapnya sambil mengangkat jari.

“Aku telah kehilangan Kitab penuntun, sekaligus pandangan tentang jalan-jalan semestinya. Tapi bukan berarti tujuanku akan diabaikan sama sekali. Kontrak kita mencegahku menggunakan pendekatan masa lalu. Dan bahkan seandainya aku taruh penghalang tak berujung di hadapanmu, Garfiel akan mengorek tenggorokanku, jadi aku pun dilarang melakukannya.”

“… ya, tepat sekali. Jadi kau bisa apa? Jalan mana yang hendak kau pilih selain jalan yang mengungkap tujuanmu, dan meminta bantuan kami?”

“Sederhana—aku akan mengawasimu.”

“—”

Mengawasi. Jelas bukan kata yang mendamaikan hati, dan itu membungkam Subaru. Meski mata Roswaal menyinari rona berbeda selagi menatap Subaru, keduanya menyalakan emosi identik.

“Untungnya, tujuanmu menjadikan Emilia-sama sang Penguasa sejalan dengan jalan tujuanku. Di waktu inilah kau seharusnya mengamankan tekad besi tak tergoyahkan, mengabdikan diri kepada Emilia-sama apa pun pengorbanannya, dan menjadi seorang Ksatria penuh luka.”

Subaru terdiam seribu bahasa.

“Tapi rute itu sudah mati. Kau malah memilih jalan yang jauh lebih mematikan, lebih ramai durinya. Sekalipun aku menghormatimu, aku pun mengasihanimu.”

“Maaf?”

Dia tak dapat membiarkannya. Subaru memelototi Roswaal yang menggeleng kepala. Dia pasti melakukannya sebab kasihan pada Subaru. Menghadap telapak tangan Subaru yang kesal dan bingung.

“Di sinilah kau mesti mempelajari apa itu rasanya kehilangan sesuatu. Kau mestinya menjadi Sage, yang bahkan dalam kondisi kehilangan terus kukuh melindungi mereka yang berharga. Aku tahu bagaimana kedengarannya, tapi aku ingin menyelamatkanmu.”

“Mana bau-bau Sage-nya. Apa bagusnya menerima kehilangan!”

“Kau menolak kehilangan, memilih menyelamatkan segalanya, dan akan terluka karenanya. Kau akan berulang-ulang menderita luka tiada obat, acapkali kehilangan, mati-matian berusaha mendapatkan apa-apa yang hilang, luka tak kasat mata terus bertambah. Dan aku berempati karenanya.

“—ugh.”

“Jadi aku takkan melunak karena kau menolak menjadi Sage, dan keputusanmu adalah seperti orang Bodoh. Sudah mengiranya, ya? Lagian, kau sendiri yang memilih ini.”

Tangan Roswaal beristrirahat di bahu Subaru. Subaru gemetar hebat selagi Roswaal mendekatkan wajahnya ke wajah Subaru, dan membisikkan telinganya.

“—bila mana kau kehilangan seseorang yang perlu kau lindungi, aku akan dengan cepat membakar korban yang selamat.”

“….!?”

“Kau memilih menyelamatkan semuanya. Kau tidak boleh kehilangan salah satunya. Dunia yang serba-serbi korban tidak mengarah ke masa depan. Tatkala kau menerima masa depan yang penuh korban tak kuinginkan, aku anggap batal—kini Kitabnya hilang, kaulah satu-satunya pembimbing tujuanku, Subaru-kun. Hanya kau, dan jalanmu.”

Roswaal mendekatkan wajahnya dan sedikit mendorong dada Subaru.

Tidak kuat-kuat amat, namun Subaru mundur seakan diserang, nafasnya tersengat saat punggungnya mengenai dinding.

Pria ini, Roswaal L. Mathers, sangat menakutkan.

Konsepsinya berubah. Dia berhenti mengandalkan Kitab, dan takkan melempar Subaru atau Emilia ke musuh lagi. Dia akan membantu pria itu jika ia menginginkannya, dan akan mengerahkan segalanya untuk membukakan jalan Emilia menuju Tahkta.

Tapi mana kala Subaru membuat kesalahan sekecil apa pun, Roswaal akan segera berbalik dan merusak segalanya.

Tanpa dusta dan tipu daya. Roswaal sungguh-sungguh melakukannya.

“Apa, tidak usah sampai setakut itu.  Asalkan peranmu dilanjutkan terus, bantuan terbaikku akan menyertaimu—demikianlah kontrak di antara kita.”

“… betul-betul mengajariku untuk lebih berhati-hati soal kontrak.”

“Tugasmu adalah memastikan satu pun orang yang hadir di sini hidup, Subaru-kun. Tak kehilangan satu orang pun, mengantarkan Emilia-sama ke puncak. Jika kau mencapainya, tujuanku juga tercapai. Aku akan melihat guru lagi.”

Kepala Subaru tertegun. Roswaal mendesah panjang, dan mengangguk. Sepatunya membunyikan batu selagi memperbaiki postur tubuh.

“Atas namaku Margrave Roswaal L. Mathers, kala kita kembali ke tanah milik utama, aku ‘kan menunjukmu, Natsuki Subaru, sebagai Ksatria—janji ini akan dipenuhi.”

“—”

Penghargaan.

Sesuatu yang didamba-dambakan Subaru, hak untuk berdiri di sisi Emilia.

Mendengarnya setelah hal-hal buruk dalam percakapan lain tentu mengurangi kegembiraannya, tetapi setelah perkataannya terucap, dia pasti akan menepati janji. Tidak ada faedahnya tak mendukung Subaru.

Melihat Subaru mengangguk diam, Roswaal berbalik dan keluar dari ruangan. Pembicaraannya berakhir, pasti itu maksudnya.

Tapi langkah kakinya berhenti sebelum sempat keluar, dan balik badan.

“Oya. Memang aku bilang akan membantumu sepenuh hati~, lantas ada nih~ informasi lain.”

“… apa tuh.”

“—benar aku yang menyewa Pemburu Usus untuk membunuh Beatrice, tapi serangan ini dan sebelumnya dari Penguasa Hewan sepenuhnya tidak berhubungan denganku.”

“—hah?”

Informasi apa lagi? Pikir Subaru, rahangnya mengangat ketika Roswaal bicara. Tidak paham apa tutur Roswaal, Subaru tetap diam selagi mencari penjelasan lebih lanjut. Roswaal menutup satu mata.

“Tidak ada yang ingin ditambahkan lagi. Akulah komisaris urusan di Ibu Kota, dan menitahkan pembunuhan Beatrice. Tapi aku tidak pernah menyuruh membunuh Frederica atau Petra, dan tak sempat memberi tahu mereka hal demikian. Aku mengikuti tulisan Kitab dan menaruh perintahnya sebelum Pemilihan dimulai, tahu.”

“Tapi, tidak mungkin …. Maksudku, dia dan Elsa satu grup! Jadi!”

“Seseorang selain diriku sedang beroperasi untuk menyerang mansion, itu~ maksudnya.”

“—”

“Kesukaran nampaknya takkan ada ujungnya, dan apa gunanya melawan itu?”

Oleh pernyataan sinisnya, langkah kaki Roswaal semakin jauh.

Suaranya bergema di kepala Subaru dan membuat pikirannya berantakan selagi masih berdiri, diam nian, punggungnya bersandar di dinding dingin Makam.

Semua masalah yang harusnya selesai masih tinggal membara dalam dada.

Merasakan panas bara api, Subaru mendekap kepala, dan menghembuskan nafas dalam-dalam.


“Kau kelihatan depresi, kayaknya.”

Yang menyelamatkan Subaru dari renungan apa adanya ialah suara heran seorang gadis kecil.

Subaru duduk sambil melihat gaunnya melambai. Matanya menelusuri kain mewah dan mendapati wajah imut menatapnya, tangan disilangkan.

“Beako.”

“Entah apa Roswaal bilang apa, tapi kontraktorku kudu berhenti memasang wajah demikian. Faktanya Betty jadi kelihatan buruk, kayaknya.”

“Itu masalah serius. Padahal baru bilang betapa hebatnya aku dan wah, jadi menyedihkan.”

Subaru menampar pipi dan menggeleng kapla.

Beatrice berlutut dan selaras dengan mata Subaru, matanya merengut.

“Tampaknya dia mengatakan hal-hal buruk, kayaknya …. Aku tidak keberatan mendengar rengekanmu. Sebagai layanan khusus sementara, kayaknya.”

“Kalimat merengek ke dada gadis kecil itu tidak masuk akalnya bukan main sampai-sampai kutampik. Kalau benar-benar terlihat buruk maka aku kepalaku sudah menempel.”

“Yah, sekiranya kau kelewat nagih maka aku hadapi, kayaknya.”

Beatrice mendengus sembari berdiri. Subaru mengangkat badannya juga.

Melihat ke depan, menatap Beatrice yang melihat peti mati.

“… itu Ibumu, di sana.”

“Dan dia bukan Echidna yang kau kenal, ya.”

Tak satu pun dari mereka tahu maksudnya.

Namun Beatrice senang-senang saja bisa bersua dengan ibunya lagi, sekalipun sebagai mayat. Jikalau yang tertidur di sana adalah Echidna yang dia kenal, kekecewaan tidak cukup menggambarkannya.

Beatrice ataupun Roswaal. Walau Subaru tidak keberatan melihat Roswaal sedih, dia tak ingin melihat Beatrice murung lagi.

Lagi pula, Beatrice telah kehilangan salah satu reuni yang didamba-dambakannya.

“Aku ingin tahu nasib kristal Lewes Meyer.”

“… aku tidak tahu.”

Oceh Beatrice, Subaru tidak tahu kudu melakukan apa.

Laboratorium Echidna terletak jauh dalam hutan Sanctuary. Dalam sebuah sistem yang menghasilkan duplikat Lewes, dan Lewes Meyer asli yang bertindak sebagai inti dan operasi Penghalang di sekitar Sanctuary.

Seorang gadis bernama Lewes Meyer disegel dalam kristal di sekitar sini, sebagaimana wanita dalam peti mati. Atau begitulah.

—karena kristal Lewes Meyer telah menghilang.

Beatrice pergi ke fasilitas bersama Subaru, bertekad bertemu kawan lamanya lagi, dan kaget melihat pemandangannya. Subaru menyumpah-nyumpah karena dirinya tak sempat memeriksa fasilitas tersebut sebelumnya.

Sebuah lubang raksasa terbuka lebar di lantai tempat kristal berada, bangunan dan tubuh Lewes Meyer dua-duanya hilang.

Subaru penasaran apakah mereka jatuh ke bawah tanah yang bau tengik, kemudian menyuruh Emilia mengirim roh-roh minor ke bawah sana—tidak membuahkan hasil. Di bawah fasilitas itu ada sebuah gua yang mengarah ke hutan melalui lorong bawah tanah.

Siapa pun yang mengambil kristalnya pasti tahu keberadaan lorongnya, dan telah menunggu-nunggu kehancuran Penghalang lanjut mencuri kristal—adalah teori yang dapat dia bayangkan.

Motif si pencuri bukanlah masalahnya. Masalahnya adalah mereka mencuri kesempatan Beatrice untuk menemui temannya lagi. Dia barangkali bertingkah kuat, tapi dia pasti resah.

Subaru akan mendapatkannya suatu hari nanti, dan reuni itu akan terjadi.

Dia bertekad mewujudkannya.

“Yah, aku memang kedengaran sombong, meskipun nyatanya masih remeh.”

Subaru memutar bahu dan merentangkan tangan, dengan enggan mengakui kelemahannya sendiri.

Mengutamakan Beatrice, namun juga kekuatan Emilia dan Garfiel.

Perkara kecermatan bisa diserahkan kepada Otto, atau meski tidak suka bisa dikatakan ke Roswaal. Sisanya adalah Frederica dan Petra—dia punya orang-orang yang siap membayar banyak. Seperti biasa. Keterampilan dan kemampuan Subaru tetap lemah lagi terbatas.

“Subaru, kau nyengir-nyengir apa?”

“Hanya berpikir, ada kalanya kau lemah dan menyedihkan, tapi mendadak tidak. Aku cuma bisa menyerahkannya kepadamu.”

“Rasanya aku paham kau ngomong apa, tapi di waktu yang sama, aku tidak paham juga, kayaknya.”

Kendati tak membedakan maksud Subaru, Beatrice tersenyum, merasa bahwa Subaru mengandalkannya. Dia mengangguk.

“Oke deh.”

“Aku tidak mengira kau bisa tahu sedalam itu. Akan menyedihkan jika kau membaca isi hatiku. Tapi, yah, spiritualis jos banget. Aku tidak pernah merapalkan sihir seperti itu sebelumnya, aku bersemangat sekali.”

“… ah.”

“Biarpun lagi-lagi akan sangat mengandalkanmu jadi tidak bisa kubuat candaan. Maksudku, aku bisa bilang diriku ini spiritualis, tapi masih belum tepat banget.”

Kontraknya dengan Beatrice telah terbentuk oleh kejadian runtuhnya Perpustakaan, membuatnya terasa singkat.

Biar dia merasakan sebuah koneksi sewaktu Beatrice memanggil namanya dan dia memeluk Subaru, hal demikian saja sepertinya cukup.

“Subaru—ada hal penting yang hendak kukatakan kepadamu, kayaknya.”

“Hm?”

Beatrice kelihatan serius. Subaru memiringkan kepala, menunggunya berbicara.

“Kontrakmu dengan Betty tentu akan merubahmu menjadi spiritualis, tapi …. Betty jauh berbeda dari roh-roh kebanyakan. Jadi kau sebaiknya menganggap berbeda sedikit dari spiritualis sejati, kayaknya.”

“Wah, roh-roh lain aku yakin tidak punya hal-hal manusiawi, dan Puck satu-satunya yang berakal, ngomong, berkeliaran. Jadi aku paham kau sedikit berbeda.”

Spiritualis lain yang Subaru kenal adalah Emilia dan Julius.

Emilia pun punya kontrak dengan Puck, dan juga berhubungan dengan roh-roh minor. Julius punya banyak kontrak dengan roh kecil, lebih kuat dari roh-roh minor, dan tentunya menjadi spiritualis kuat.

Slaah satu pengecualiannya adalah roh jahat Betelgeuse—namun dia lebih suka tak mengingatnya dan hilang terlupakan waktu saja. Pengecualian adalah pengecualian.

“Betty itu … yah, sebetulnya, Betty dan Bubby berbeda dari kelaziman-kelaziman roh lain, kayaknya. Ibu …. Penyihir Echidna membuat kami, berarti adalah roh buatan. Berarti, secara logistik susah menciptakan kami secara sempurna … meskipun Betty terlampau kuat dibandingkan roh biasa, aku memang punya beberapa kekurangan, kayaknya.”

“Kekurangan ….”

Beatrice tampak malu ketika Subaru memberikan pendapatnya.

Beatrice penuh kebanggaan, dan sangat menghormati Ibunya. Pasti menyakitkan untuk mengakui bahwa dia kekurangan aspek dasar.

Namun Beatrice membuang kelemahannya dengan desahan ….

“Bubby juga Betty masing-masing punya kekurangan, tapi … salah satu kekuranganku adalah memonopoli kontraktor, kayaknya.”

“Memonopoli kontraktor?”

“Sederhananya, hanya mempertahankan kontrak Betty saja, kontraktor kehilangan kemampuan mereka sebagai spiritualis. Jadi … anu, karena kau punya kontrak denganku, Subaru, kau tidak bisa membuat kontrak dengan roh apa pun kecuali Betty. Termasuk roh-roh kecil ataupun minor, kayaknya.”

“… oke, dipahami.”

Mengerti poin Beatrice, Subaru mengangguk beberapa kali.

Menjaga kontrak Beatrice betulan menggunakan banyak sumber daya Subaru, terkait tidak bisa buat kontrak-kontrak dengan roh-roh lain.

Sedangkan Emilia boleh meminta bantuan roh-roh minor selain Puck, untuk membantunya, Subaru tidak bisa melakukannya.

“Yah itu sih mengecewakan, tapi aku terima-terima sajalah. Ada banyak manfaat untuk kontrakmu, abaikan saja kekurangannya. Dan aku takkan memperkenankanmu buat kontrak dengan beberapa roh-roh minor bego.”

“B-bagus.”

Mendengar jawabannya, pipi tegang Beatrice mulai rileks. Tetapi dia langsung menghapus mukanya, berdeham, dan ….

“M-masih ada lagi. Kendati sangat kecil dibanding yang lainnya. Tidak usah repot-repot memikirkannya, kayaknya.”

“Oke. Mumpung otakku ini masih tenggelam dalam hal asing, jadi beri tahu saja aku apa pun.”

“Anu, yah, Betty itu sedikit, yea, sedikit lebih tinggi dibandingkan roh kebanyakan, dan, gimana ya … sejujurnya jarak tempuhku tidak bagus ya.”

“Jarak tempuh … kedengaran seperti mobil saja.”

Memakan banyak MP untuk menggunakan Monster Iblis atau pemanggilan kuat dalam video game. Keseimbangan antara biaya dan daya adalah jarak tempuh, tapi kenapa Beatrice repot-repot bilang demikian?

“Hah? Tapi jarak tempuh buruk, kau menggunakan banyak sihir melawan Kelinci, dan bahkan membiarkanku menggunakan sihir juga, kau tidak memakan apa pun dariku, kan?”

“Itu menggunakan mana dari hasil simpanan periode panjang, kayaknya. Misalkan mana dalam pertempuran aku kuras darimu, ribuan dirimu pun tak akan cukup. Sebaiknya berterima kasihlah padaku, kayaknya.”

“O-oke deh. Aku membayangkan betapa tegangnya jika mencoba melakukan itu.”

Minya berturut-turut dan diakhiri Al-Shamak itu.

Satu Shamak sudah cukup menghabisi isi gudang Subaru. Mustahil dia bisa menyediakan ribuan.

“Tapi kita tidak bisa terus melakukannya, kan? Aku ini kontraktormu, jadi tentu saja mesti memberimu mana.”

“Aku mengharapkanmu menyalurkan mana. Roh buatan manusia seperti Betty dan Bubby adalah od substansional, artinya kami tidak menghasilkan mana, kayaknya. Jadi perlu menyerapnya dari atmosfer atau kontraktor. Dan aku cuma bisa mendapatkannya dari orang, kayaknya.”

“Oke …. Kalau begitu apa kabarmu di mansion?”

“… a-aku mengambil sedikit dari semua orang di sana, kayaknya.”

Beatrice pasti merasa bersalah sebabnya, karena dia memalingkan muka seraya berbicara.

Terlihat malu, tatapannya kian merah selagi Subaru menatapnya. Sementara Subaru tidak paham sebesar apa pengurasan mana di antara para roh, menurut reaksi Beatrice, nampaknya itu tidak sopan.

{Omong-omong, kau kelihatan begitu menyesal sampai tidak ingin menyelidiknya. Andaikan kita menyimpan mana yang kau kumpulkan untukku setiap harinya berfungsi, berapa banyak mana tersimpan yang masih tersisa?”

Cadangan mana milik Subaru kelewat sedikit dan Beatrice memakan banyak mana. Yang artinya mereka harus menghemat sihir kuat Beatrice, menyapu mana-nya sedikit demi sedikit.

Jadi Subaru wajib memastikan sebanyak apa mana yang masih tersisa. “—habis, kayaknya.” “… hmm?”

“Habis. Aku mengosongkan seluruh simpanan empat ratus tahunku dalam peperangan itu, kayaknya. Kehilangan Perpustakaan Terlarang pun mengambil sebagian besarnya … dan Al-Shamak terakhir adalah penghabisannya. Tidak ada lagi mana yang tersisa, kayaknya.”

Jadi, apa. Maksudnya ….

Beatrice tidak punya tabungan mana lagi.

Mana Subaru hanya cukup untuk menutupi eksistensi Beatrice dari hari ke hari.

Gadis tersebut menelan banyak sekali mana, dan tidak punya mana untuk menggunakan sihir kuat. Kontrak Subaru bersama Beatrice tak dapat meminta bantuan roh-roh minor.

“Jadi … apa kita baru saja membentuk tim roh dan spiritualis yang tidak bisa menggunakan sihir!?”

“Y-yea, aku duga kau bisa bilang begitu, kayaknya.”

“Apa ada penyebutan lain?! Apa-apaan! Kau bercanda, ini beneran terjadi!?”

Dari hasilnya, Subaru yang menjadi spiritualis hanya mendapatkan seorang gadis kecil.

“Aku betulan merisaukan masa depan kita!? Kau yakin kita akan baik-baik saja!?”

“Ups.”

“Tidak lucu tahu!”

Demikianlah terlahirnya sepasang insan yang menciptakan setengah spiritualis.

Argumen mereka bergema, jauh-jauh, melewati Makam.