Share this post on:

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

Sekembalinya Lena dan yang lain ke pangkalan Rüstkammer, laporan operasi bersama dengan militer Teokrasi dan situasi pasukan mereka telah ditayangkan beberapa hari di berita. Juga, dari yang mungkin atau mungkin tidak dianggap kesalahpahaman, Resimen Myrmecoleo yang membantu menjemput batalion lintas udara sesudah kekalahan Halcyon entah bagaimana telah didramatisi menjadi menyelamatkan 86.

“Tidak salah, tapi sangat … dibumbui.” Lena berhasil membingkainya dengan cara paling diplomatis sebisanya.

Gilwiese (yang digambarkan sebagai bangsawan muda setia kepada archduchess) dan Svenja (yang usia muda sepuluh tahunnya dihilangkan dan dipanggil kecantikan tiada tara) menarik banyak perhatian media. Program berita rasanya nyaris bak tabloid. Lena memandang seluruh situasinya dengan senyum ironis.

Enam bulan sejak Divisi Penyerang pertama kali dikerahkan, media dan publik mulai menganggapi pencapaian serta kesuksesan militer mereka sebagai hal yang wajar. Mereka mulai kebosanan. Kini setelah dapat topik anyar untuk menarik perhatian; mereka butuh pahlawan baru buat diteladani.

Lena mencatatnya dengan senyum aneh bahwa, barangkali berkebalikan dengan Svenja, Gilwiese takkan cukup senang dengan perhatian ini. Grethe semata-mata mengangkat bahu.

“Aku duga Archduchess Brantolote yang menyusunnya. Itulah alasan diciptakannya resimen itu.”

“Dan mereka akan berperan menjadi si bodoh untuk mengalihkan perhatian massa,” tambah Vika dengan nada tak acuh. “Seorang archduke takkan mengagungkan tindakan prajurit mereka sendiri hanya demi memonopoli semua sorotan.”

Lerche yang perbaikannya sudah selesai selagi Divisi Penyerang berada di Teokrasi, seperti biasa sedang berdiri di belakangnya. Lalu melihat kertas yang baru saja dikirim dari markas besar terpadu Federasi.

“Kita tidak boleh membiarkan media melaporkan ini. Sampai bisa digunakan dengan praktis, kau harus sembunyikan bahkan dari warga sipil negaramu sendiri, agar Legion tak mengetahuinya.”

“—baik.”

Semenjak operasi di Negara-Negara Armada, Divisi Penyerang telah diberikan arahan lain, tak cuma menghancurkan posisi-posisi penting Legion. Mereka dikehendaki untuk menangkap inti kendali unit komandan Legion.

Selama penyerangan simultan ini, tak hanya Divisi Lapis Baja ke-1 Shin yang sukses dalam tugas ini, tetapi Divisi Lapis Baja ke-2 dan Resimen Bebas yang menyerang posisi lain pun membawa pulang inti kendali sejumlah unit Weisel.

Dan hasil upaya itu adalah gunungan kecil kertas yang menumpuk di depan mereka. Benar saja ini kertas dokumen, bukan tulisan elektronik yang normalnya digunakan Federasi. Ini tindakan pencegahan agar Legion entah bagaimana tidak bisa memanfaatkan informasi penting ini.

“Lembaran spesifikasi teknis untuk memproduksi massal Morpho, Noctiluca, dan Halcyon. Dan lebih pentingnya lagi, ada lokasi beberapa posisi komando Legion. Ini tangkapan besar.

“Iya. Dan jika begitu, maka ….”

Sepanjang perjalanan dari Teokrasi ke Federasi, lima Prosesor menyatakan perasaan mereka ke Kurena, entah apa alasannya.

Mereka tahu hati Kurena tertambat pada Shin, dan begitu mendengar kabar dia akhirnya melepaskan perasaannya, mereka mampir untuk mengungkapkan perasaan kepadanya. Kurena kenal dua orang, dua lainnya hampir tak pernah bicara dengannya, dan satunya adalah orang seumuran dari peletonnya. Dia bilang telah menyembunyikan perasaannya, tetapi dia selalu mengaguminya.

Diinginkan seperti ini rasanya canggung geli. Tetapi sementara dia menghargai mereka yang mempertimbangkan situasinya, Kurena merasa sebal sebab itu artinya mereka menunggunya ditolak.

Gara-gara emosi aneh yang terkumpul di benaknya, Kurena berjalan menyusuri koridor pangkalan. Berbelok di tikungan, dia berpapasan dengan Theo yang barusan meninggalkan kamarnya.

“Oh, hai, Kurena. Selamat datang kembali.”

Nada suaranya ringan. Sama seperti biasa.

“Makasih …. Akhirnya keluar dari rumah sakit?”

“Iya, aku dipulangkan beberapa waktu lalu. Hari ini ke sini untuk mengambil barang-barangku.”

Sesuatu mencuat dari lengan bajunya yang menggantikan tangan kiri hilangnya. Itu … bukan tangan palsu, namun sebuah kail, entahlah untuk apa fungsinya. Menyadari tatapan Kurena, Theo tertawa kecil.

“Oh, ini. Keren, ga? Kapten Ishmael mengirimkannya untukku.”

Kurena merasa bersalah memikirkan ini, baik pada Theo dan Ishmael, tapi … itu membuatnya ngeri.

“Itu, uh, kau tahulah …. Rasanya kayak buaya memakan tanganku.”

“Oh …. Yang itu. Yah, kurasa begitu bagi bajak laut ….”

Dia mengangkat tangan kailnya sambil membawa-bawa tas besar di bahu. Mungkin dia mampir ke sini untuk mengambilnya. Dan karena kamar ini teknisnya adalah tempat tinggalnya, fakta dia datang ke sini buat mengambilnya menyiratkan suatu hal.

“… kau pensiun?”

Senyum memudar dari mata gioknya ketika balas menatap. Tiada kemarahan ataupun kesedihan saat Kurena menyentuh luka itu. Rasanya tenteram. Bagai air hangat.

“Yah, aku tak punya rencana untuk pensiun. Belum saja. Tapi harus rehabilitasi, dan karena bekerja di cabang militer berbeda kurikulumku pun akan berubah.”

Dia tak bisa menjadi Prosesor di cabang lapis baja. Jadi dia akan menempuh jalan lain. Dan bisa jadi, akan meninggalkan militer.

“Aku akan mencari tahu rasanya pergi dari medan perang sedikit lebih awal dari kalian semua,” kata Theo sembari tersenyum cerah. “Orang-orang yang keluar karena alasan serupa membantuku …. Dan seumpama terjadi pada orang lain, aku bisa bantu mereka.”

“Iya.” Kurena mengangguk kembali sambil tersenyum.

Sekalipun Theo tak bisa tinggal di medan perang, walaupun tidak bisa bertarung, dia bisa menemukan hal baru untuk membentuknya. Perlu waktu, tapi bisa dia lakukan. Bagaimanapun juga mereka sudah menegaskan diri mereka sebagai 86.

Jadi Kurena bisa percaya padanya dan dirinya sendiri. Sebab kini … dia tak perlu takut lagi. Dia dapat menghantarkan kepergiannya dengan senyuman.

“Iya. Sampai ketemu nanti, Theo.”

“Jadi hasil analisis inti-inti kendali itu sudah keluar. Para petinggi Federasi benaran termotivasi soal ini, ya?”

“Mereka menyuruh kita mendapatkan inti kendali itu karena mereka pikir itu penting atau perlu dan mereka selesaikan cukup cepat. Barangkali membuktikan Federasi betulan merasa telah terdesak.”

Lena dan para perwira lain telah menerima hasil analisis, dan kabar ini juga sampai ke Shin, kapten regu sekaligus letnan mereka. Makanya, Shin dan Raiden yang masing-masingnya adalah kapten dan wakil kapten Divisi Lapis Baja ke-1, tidak aneh kalau ikut mendiskusikan persoalan ini.

Tapi itu cuma pura-pura dari percakapan yang sebenarnya mereka bicarakan.

Sinar matahari musim gugur yang samar masuk ke koridor barak pangkalan Rüstkammer. Persisnya saat ini dua tahun lalu, tempat pembuangan akhir distrik pertama Sektor 86, mereka diperintahkan untuk pergi menjalani misi Pengintaian Khusus. Mars kematian mereka. Dan seperti waktu itu, matahari musim semi menyinari mereka.

Raiden bicara singkat. Dia tak membicarakan laporan hasil resmi ke Lena, tetapi mengenai hasil tersembunyi yang hanya mereka ketahui.

“… mereka menemukannya.”

“Iya.”

Ernst langsung melaporkannya ke Shin, Raiden, Kurena, dan Anju, serta Theo sebelum meninggalkan pangkalan. Ini adalah intelijen rahasia yang cuma diketahui mereka berlima.

Pangkalan tersembunyi yang diperkirakan merupakan titik transmisi yang dapat mengirim perintah penghentian ke seluruh unit Legion adalah salah satu dari pangkalan-pangkalan komando yang mereka dapati.

Kelihatannya gagasan mengakhiri Perang Legion lewat cara konvensional tidaklah mungkin. Bahkan Federasi mulai merasakan krisis. Tetapi kunci yang dibutuhkan untuk menghentikannya sekarang ada dalam genggaman Ernst.

Alhasil yang terjadi berikutnya sudah jelas.

Mereka berbelok di koridor, di sana mendapati Anju, dan di belakangnya … adalah Frederica. Mata merah tuanya yang membara dengan tekad tengah menatap Shin. Dia pun mendengar kabar tersebut.

Mereka masih harus menunggu Ernst dan pihak lain menyelesaikan langkah politik mereka untuk memastikan keselamatan Frederica. Dan operasi berikutnya akan besar, lantas militer harus mempersiapkannya.

Tapi biar begitu, saat semuanya selesai ….

“Kita akan lancarkan serangan balik.”

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments