Ankoku Kishi Monogatari Volume 1 Bab 9

Ankoku Kishi Monogatari ~Yuusha wo Taosu Tameni Maou ni Shoukansaremashita~ 

Volume 1 

Bab 9

[Konferensi Para Pahlawan]

 

Penerjemah : DarkSoul

Sudut Pandang Chiyuki

Kami berdelapan ngumpul dalam satu ruangan.

Meskipun sudah tiga hari sejak Reiji membuka matanya, kondisi Reiji masih belum fit. Tapi hanya masalah waktu saja sampai dia sembuh seperti sedia kala.

Kami akhirnya dapat menjalani kehidupan sehari-hari kami, setelah memastikan keselamatan Reiji.

Dan sekarang, semua orang berkumpul dalam sebuah ruangan di kuil untuk membahas apa yang harus dilakukan setelah ini.

“Kupikir kita menyerah saja dengan penaklukan Raja Iblis”

Kataku.

“Kenapa, Chiyuki”

Tanya Reiji padaku.

“Kau bilang kenapa…kenapa tidak kau pikirkan saja jawabannya sendiri? Kau hampri mati tahu”

Aku memarahinya dengan perkataan itu.

Dari awal saja, aku ingin menghentikan penaklukan Raja Iblis ini kalau segala sesuatunya mulai berbahaya.

Sampai sekarang, kamilah pihak yang merenggut nyawa mereka.

Tapi, posisi kami berbalik ketika bertemu dengan Diehart.

Jujur saja, sejak awal kami memang harus menyerah pada penaklukan ini.

“Maaf Chiyuki, aku tidak berniat melanggar janjiku dengan seorang wanita”

Ucap Reiji dengan nada tegas.

Amarahku seketika naik maksimal saat mendengar perkataannya.

“KAU, KAU MEMBUAT SAHOKO DAN YANG LAINNYA SANGAT KHAWATIR TAHU! DIEHART ITU KUAT! KAU MUNGKIN MATI JIKA MELAWANNYA LAGI!”

Orang ini bahkan tidak mempedulikan nyawanya lagi kalau soal wanita.

Tapi, kebodohan orang ini jugalah yang menyelamatkanku sebelumnya.

Itulah sebabnya aku ikut berpetualang dengannya, sampai sekarang ini. Ada Shirone dan Nao. Mereka mungkin juga diselamatkan oleh orang ini.

“Salahku, tapi aku tidak berniat menyerah menyelamatkan Rena”

Tentu saja aku tahu itu. Orang ini tak akan pernah berhenti melakukan hal seperti itu.

“Errr…Chiyuki-san, ada sangat banyak orang yang disakiti oleh iblis-iblis itu. Jadi, apa kita benar-benar menyerah pada orang-orang itu?”

Kata Rino.

Awalnya, tujuan dari perjalanan ini adalah demi menyelamatkan orang-orang yang menderita karena para iblis.

Raja Iblis, Modes, adalah Raja yang menguasai semua iblis di dunia ini. Lalu, dia mulai menyerang manusia dengan menggunakan iblis-iblisnya.

Selanjutnya, Raja Iblis Modes akan menguasai dunia ini untuk menghancurkan para Dewa Elios.

Walaupun kami tidak mendengar rumor itu langsung dari Rena, rumor tersebut sudah tersebar di masyarakat publik.

Mengalahkan Raja Iblis Modes, demi mewujudkan perdamaian dunia. Itulah tujuan kami.

“Memang benar sih, tapi kita punya sesuatu yang harus dilakukan, benar? Dari awal saja, itu adalah masalah dunia INI”

Kurasa aneh sih jika kami yang dimintai untuk mengurus masalah dunia ini.

“Yah, itu benar juga sih”

Kendati aneh Kyouka setuju denganku, biarkan sajalah.

“Dari sangat-sangat awal, kitalah yang berusaha keras melawan mereka, lalu apa yang para Dewa Elios itu lakukan? Apakah mereka tidak pernah berpikir ingin menyelesaikan masalah ini sendirian?”

Beberapa dari kami, yang mendengarkan perkataan Kyouka, memasang ekspresi yang mengatakan, Kau juga tidak melakukan apa-apa kan?

Tapi ucapan Kyouka masuk akal.

Yang akan disusahkan jika Raja Iblis Modes menyerang Elios adalah para Dewa itu. Terus mengapa mereka tidak melawannya?

Fakta ini juga membuatku merasa tidak tenang.

“Betul, yang dikatakan Kyouka-san itu masuk akal”

“Hehehe”

Ekspresi Kyouka dipenuhi dengan kebanggan setelah mendengarkan kata-kataku.

“Nah, bagaimana jika kita mencari Rena dan tanya mengapa para Dewa tidak menyelesaikan masalah mereka sendiri?”

Kenapa Dewa-dewa itu membiarkan Raja Iblis begitu saja.

Kami harus komplain jika alasannya tidak masuk akal.

“Hmm, kau setuju bukan, Chiyuki-sama?”

Sekarang giliran Kaya yang balik bertanya padaku.

“Ada apa, Kaya-san?”

Sebenarnya, aku tidak begitu pintar berdebat dengan Kaya-san. Tampangnya selalu saja tanpa ekspresi bagaikan sebuah topeng, itu membuatku tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya.

Terlebih lagi, Kaya selalu saja menjaga jarak ketika mengobrol dengan orang lain. Itulah kenapa dia selalu menambahkan panggilan -sama pada semua orang. Dia tidak pernah membukakan hatinya pada kami.

“Dan lagi, bukan berarti kita tidak bisa kembali kalau tidak mengalahkan Raja Iblis kan?

Beberapa dari kami mengangguk setelah mendengarkan perkataan Kaya, kemudian menyadari bahwa kami bisa kembali jika tidak membunuh Raja Iblis.

“Selain itu, aku tidak punya pilihan lain selain bernegoisasi mengenai masalah itu. Kurasa sang Dewi tidak akan mengancam kita, meskipun hanya bercanda. Kupikir dia tidak akan mengatakan sesuatu seperti kalian tidak boleh kembali sebelum membunuh Raja Iblis.

Kami sedang membicarakan Rena, Dewi kasih sayang indah rupa.

“U~hm Chiyuki-san. Bisa minta waktunya sebentar?”

Sekarang, giliran Shirone.

“Ada apa, Shirone?”

“Begini, aku ingin tahu apa yang akan terjadi jika kita kembali? Bilang saja…bagaimana jika ada orang lain yang dipanggil untuk menggantikann kita”

Lalu orang yang berbeda akan menghadapi ujian paling sulit dalam hidup mereka, begitulah kata Shirone.

“Err~, kita seperti melimpahkan masalah ini pada mereka

Nao setuju dengan Shirone.

“Itu benar, Chiyuki. Kita harus berpikir tentang bagaimana caranya kembali alih-alih berhenti”

Mungkin, itu sama putus asanya dengan yang Reiji katakan. Tapi, aku tidak mungkin terpuaskan dengan kepulangan kami. Seseorang mungkin akan mati…

“Tapi, yahh, kalian semua. Semua orang mungkin berpikir saat ini kita sudah mati. Karena sudah enam bulan. Keluarga kita mungkin sangat cemas”

Ya, sudah setengah tahun. Mungkin waktu yang tepat untuk kembali.

“Shirone-san, kau ingin menemui teman masa kecilmu kan?”

Jadi, aku mengubah topik pembicaraannya, sekarang soal Shirone.

Aku tidak bisa meyakinkan semua orang sendirian. Aku memerlukan orang yang berpikiran sama.

“EH! Aku ingin tahu seperti apa ya, teman masa kecilnya Shirone-san?”

Sahoko mengungkit-ungkit topik tersebut.

“A~h, jadi Sahoko tidak tahu ya~. Dia pastinya seorang teman masa kecil yang membuat janji untuk bersama selamanya dengan Shirone-san, ka~n”

“T…tunggu sebentar Rino-san. Kuroki belum melakukan sesuatu seperti itu tahu!!”

Sangkal Shirone.

“Tahulah, aku berusaha untuk menemaninya di dojo keluarga Shirone karena aku agak tertarik padanya. Dia orang yang sangat biasa, tapi pria yang cukup ganteng dan keren tahu. Mungkin, dia akan popular jika Reiji tidak ada”

Walaupun aku mengetahui kepribadian teman masa kecilnya itu dari Shirone, sebenarnya, aku belum pernah bertemu langsung dengannya.

Tapi, Rino, yang bekerja sebagai model, terbiasa menatap pria-pria tamvan. Jadi, “Cukup ganteng” yang gadis ini maksud mungkin setingkat dengan pria berparas tampan biasa.

Tapi murid cowok lainnya tidak begitu mencolok karena keberadaan Reiji di sekolah. Mungkin karena itulah teman masa kecilnya tidak terlalu mencolok.

“…Ganteng? Tapi apa dia benar-benar seganteng itu?”

Shirone memiringkan kepalanya. Sepertinya dia tidak pernah menganggapnya ganteng.

“Oh~…”

Lirihan Reiji bermakna sangat dalam.

“Re….Reiji-kun pasti salah paham, kan. Aku tidak punya perasaan apa-apa pada Kuroki!!”

Shirone menjelaskannya pada Reiji dengan nada terbata-bata.

Gadis-gadis di ruangan ini, semuanya menyimpan perasaan pada Reiji. Mungkin Shirone juga tidak ingin Reiji salah paham akan sesuatu.

Menurutku, Shirone benar-benar tidak mempunyai perasaan apa pun pada teman masa kecilnya. Dia mungkin tidak bersama dengan Reiji jika dia benar-benar memiliki perasaan spesial pada teman masa kecilnya.

Tapi yah, mungkin teman masa kecilnya yang menyukainya.

Namun, Shirone bilang dia ingin minta maaf padanya karena sudah mengatakan sesuatu yang sangat jahat padanya, tepat sebelum dipanggil ke dunia ini.

“Hey Shirone-san. Bukankah kau ingin minta maaf pada teman masa kecilmu?”

Jadi, kutanyalah Shirone.

“Itu…”

Shirone gemetar kecil.

Rino dan Nao membungkuk ke depan untuk mendengar perkataan Shirone yang tersendat-sendat. Tampaknya Sahoko juga mendengarkan dengan penuh perhatian.

Kalau Sahoko dan Rino, mereka sangat tertarik karena ada peluang untuk mengurangi jumlah saingan mereka.

“Baiklah, semuanya. Bagaimana jika kita membicarakan Rena dulu? Tidak terlambat untuk memikirkan rencana ke depan setelah mendengarkan cerita Shirone kan?

Reiji memotong cerita para gadis.

“E~h”

Gerutu Rino.

Tentu saja, ada banyak hal yang harus kami tanyakan pada Rena.

Dari awal banget, kami tidak sempat menanyai banyak hal sebelum memulai petualangan kami.

Kenapa para Dewa Elios membiarkan Raja Iblis begitu saja?

Apa benar kami betul-betul tidak bisa kembali sebelum mengalahkan Raja Iblis?

Kami membubarkan konferensinya hanya dengan beberapa kata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *