Share this post on:

Untuk Membunuh Siegfried, Seseorang Harus ….

Penerjemah: Daffa NieR

“Halo.”

Rumah sakit militer di ibu kota Federasi, Sankt Jeder, relatif jauh dari pangkalan Rüstkammer. Terlepas dari itu, Annette mengintip ke kamar rumah sakit, membuat Theo dan anak-anak laki-laki 86 lain yang dirawat jadi berkedip kaget.

Angin sepoi-sepoi menyegarkan, sejuk namun tidak terlalu dingin, bertiup ke dalam ruangan lewat jendela yang sedikit dibuka. Langit musim gugur yang kelabu terlihat menyatu sempurna dengan jendela berkaca tipis.

Ketika tubuh mereka pulih, stamina anak-anak pun kembali, mereka jadi bosan dan gelisah sebab tidak ada kegiatan. Banyak teman sekamar Theo memutuskan membaca buku rumit atau mengerjakan pekerjaan rumah mereka. 86 di tempat tidur sebelah sedang mengobrol sama seorang anak yang mengintip, mencari orang lain. Theo tidak tertarik bicara dengan siapa pun, jadi dia bahkan tak melihat si anak kecil.

Entah kenapa, Theo merasa pikirannya diliputi kekosongan putih yang tidak dapat dia isi. Tanpa sadar dia jadi kosong dan linglung. Dia sama bosannya dengan 86 lain, tapi entah karena apa dia tidak tahu cara melewatkan waktu.

Dia sudah seperti itu semenjak kembali ke Federasi. Di saat Shin dan Ishmael datang menjambangi, dia punya waktu untuk merenungkan kelanjutan hidupnya. Namun sesampainya di Federasi, dia hilang semangat. Mungkin dia cuma tak ingin kelihatan malang di depan keduanya, dan sesudah dipindahkan ke sini, dia akhirnya menghabisi kekuatan mentalnya untuk membuat dirinya tetap terjaga.

Anak itu tak kenal Theo dan tentu saja tidak tahu keadaannya, jadi tak ingin bicara dengannya. Theo malah mengarahkan pandangan ke Annette dan bertanya:

“… apaan?”

“Yo. Aku rasa sekarang kau kebosanan. Jadi karena aku hanya mampir, kupikir sekalian saja beli sejumlah film biasa atau kartun yang kalian semua bisa tonton bareng.”

Dia membuka tas jinjingnya di depan televisi bersama yang besar. Penuh data media. Anak-anak cowok mulai beringsut ke sekelilingnya, meneriakkan sorak-sorai gembira.

“Waduh, Annette, kau malaikat, ya? Apa jangan-jangan Tuhan mengirimmu?”

“Ini membantu banget—kami mati gaya di sini.”

“Bentar, aku tahu film yang ini; membosankan parah.”

“Hah.” Annette mengangkat alis saat mendengar komentar yang terakhir. “Yasudah, aku ambil lagi semuanya.”

“Ah, tunggu, tunggu, baper amat? Jangan pergi! Maksudku, silakan saja kalau mau pergi—tapi filmnya tinggalin!”

“Kau mau nonton film sama mereka, bocah? Ada yang menarik buatmu?”

“Tidak, ayahku di sini, jadi aku mau pulang. Dadah, semuanya!”

“Iya, iya, dadah …. Kalian kenal orang tua anak itu?” tanya Annette ke anak-anak cowok.

“Enggak, dia anak 86 yang kelewat muda buat direkrut. Dia lihat berinta soal kami terus meminta ayah angkatnya untuk mengunjungi kami.”

sial, pikir Theo.

Kalau saja dia tahu anak itu sesama 86, dia tidak akan mengabaikannya seperti itu. Anak itu cukup peduli sampai-sampai datang memeriksa mereka, jadi mestinya dia memerhatikannya.

Anak itu menggandeng tangan seorang pria berseragam—mungkin ayah angkatnya—ayahnya mengangguk kepada mereka sebelum pergi. Theo merasa bersalah sebab tak balas melambai pada anak itu yang sudah terlanjur berbalik. Dia malah menatap Annette.

“Katamu cuma mampir?”

Annette meliriknya tanpa menjawab. Lalu dia bilang:

“Karena kau ini bosan sekali, kau benaran tidak berusaha menyibukkan diri, ya?”

“Rasanya tidak mau saja. Suasana hati lagi tak cocok, kurasa.”

Pikiran melakukan sesuatu untuk mengabiskan waktu tak pernah terpikir. Atau tepatnya, dia tidak bisa memaksa dirinya melakukan apa pun.

“Karena kau di sini, boleh bertanya? Hmm ….”

Siapa, ya, nama depan gadis Alba ini? Theo bertanya-tanya. Dia temannya Lena dan kenalan lamanya Shin, tapi Theo sebelumnya belum banyak mengobrol dengannya. Mereka bicara sebentar selama operasi di Kerajaan Bersatu dan beberapa kali waktu berpapasan. Tapi, memanggilnya, Mayor Penrose, rasanya tak pribadi dan kaku.

“Panggil saja aku Annette,” katanya.

“Terima kasih … Annette, sudah tahu mau melakukan apa selanjutnya? Kayak sewaktu perang berakhir. Atau seperti saat kau datang ke militer Federasi sehabis serangan skala besar.”

“Iya …,” gumam samar Annette.

Theo tersadar pertanyaannya sensitif, dia jadi terdiam.

“Maaf,” katanya akhirnya.

“Tidak apa-apa kok …. Ibuku mati pas serangan skala besar. Tapi aku sempat mengucapkan selamat tinggal. Dia tidak kabur,” tutur Annette seraya tersenyum pahit. Menjelang festival pendirian Republik, negaranya runtuh. Annette menyuruh ibunya mengungsi, tetapi ibunya semata-mata melepaskan genggamannya sembari tersenyum.

“Dia bilang tidak mau jadi beban atau punya penyesalan apa-apa. Dan dia bilang mau melihat teman-temannya yang tinggal di sebelah rumah. Dan Ayah—dia bilang sudah membuatnya menunggu lama ….”

Cowok-cowok lain di ruangan mulai menonton film di televisi besar. Mereka cukup peka sama keadaan sekitar jadi mendengarkan suara filmnya lewat penyuara telinga nirkabel. Karena Theo tak memakainya, filmnya seperti cuplikan bisu baginya. Anak-anak lain memusatkan perhatian mereka ke televisi, dan mereka pun tidak melihat dua orang itu.

“Omong-omong, kembali ke pertanyaanmu. Iya … aku tak terlalu memikirkannya. Saat serangan skala besar, aku sibuk bertahan hidup. Dan saat datang ke Federasi, mencari tahu cara meminta maaf ke Shin adalah satu-satunya hal di pikiranku. Untuk saat ini, aku cuma ingin menjalaninya, kurasa. Suatu hari kelak ada banyak hal yang mau kulakukan”

“Contohnya?”

“Berdandan, makan makanan enak, dan menonton film baru. Oh, sekali dalam hidupku melempar kue ke Lena sama Shin. Kue yang krimnya banyak. Terus mereka tidak bisa membalasnya.”

“… kau mau melakukan itu?” Theo tak bisa tidak bertanya.

Mana mungkin. Sesuatu sesederhana itu? segala hal yang disebutkannya hampir sepele.

“Sesuatu yang layak dilakukan,” katanya sambil mengangkat bahu. “Kayak, misal kubilang ada kios di alun-alun yang menjual roti goreng sangat enak, kau pasti mau memeriksanya, ‘kan? Bukan berarti mau membelikanmu …. Tapi fokus ke hal-hal kecil semacam itu dan setelahnya mencari hal lain buat dilakukan. Dan kau terus melakukannya sampai waktumu habis.”

Theo tersenyum sinis mendengarnya. Bukannya Annette tak ingin mati karena masih ada yang harus dilakukan. Annette masih hidup, jadi dia ingin melakukan sesuatu. Mungkin saja hidup adalah mengulangi proses itu selamanya.

Jadi seandainya pilihannya adalah antara hidup tanpa tujuan atau menikmati diri sendiri ….

“… yah, kurasa mengecek kios itu akan jadi tujuanku begitu dibolehkan pergi keluar.”

“Baguslah. Dan selagi melakukannya, bantu aku melempar pai ke Lena sama Shin. Aku yakin kita berdua berhak melakukannya. Dan Raiden juga. Oh, aku pun mau melempar kue pie ke Dustin ….”

“Buat Dustin, harus ada aku, Shin, Raiden, Kurena …. Sebenarnya, Lena juga. Dan Rito—dia kenal Daiya juga. Omong-omong, kami semua punya hak melempar kue ke dia.”

Empat bulan berlalu sejak Dustin dan Anju terdampar di Kerajaan Bersatu, tapi baru sebulan berlalu sesudah pesta dansa itu. Orang pun penasaran Dustin menunggu-nunggu apa.

“Oh, aku juga mau melempar kue ke pangeran. Entah kenapa mau saja.”

“Tentu.”

Mereka saling bertatapan kemudian cekikikan.

“Kurasa harus memikirkan mau kuapakan tangan kiriku sampai saat itu …. Oh, ya, buku sketsaku,” ucap Theo, seakan-akan mendadak mengingat bukunya hilang setelah sekian lama. “Ada di kamarku di pangkalan. Bawalah lain kali kau mampir.”

Annette tersenyum kepadanya.

“Diterima, aku urus tugas itu.”

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments