Share this post on:

Penggal Kepalanya!

Penerjemah: Kairi

“Hmm … Kapten? Kapten … Nouzen.”

Waktu itu, Kurena memanggilnya Kapten Nouzen. Dia baru saja ditugaskan ke unitnya, tapi sudah mendengar desas-desus tentang dirinya di medan perang sebelumnya. Pencabut nyawa tanpa kepala Sektor 86. Semua orang yang bertarung bersamanya, kecuali manusia serigala yang mengabdi sebagai letnannya, sudah mati. Prosesor terkutuk. Dia takut pada rumor-rumor itu, dan tindak-tanduk dinginnya tak mengurangi keabsahan gelarnya. Jadi Kurena jarang bicara dengannya.

Tatkala itu, Shin baru tumbuh, tubuhnya tidak ramping-ramping amat dan lebih ke kurus dan terlihat rapuh. Dia hampir tidak membuka mulut, dan ekspresinya sepertinya jarang berubah. Dia tak tampil sebagai seseorang yang memercayai orang lain. Lantas dia menjawab panggilan Kurena dengan menatapnya belaka.

Matanya semerah darah. Warna yang ditumpahkan oleh mereka yang ditakdirkan akan binasa. Menatap tatapan dinginnya membuat Kurena refleks menegang. Mungkin mereka memanggilnya pencabut nyawa sebab mengemban warna kematian dalam dirinya. Dan nama rekan-rekan gugurnya. Hati mereka. Juga tugas membawa mereka semua ke tujuan akhir tanpa gagal.

Pencabut Nyawa kami, panggil mereka padanya.

Satu-satunya suaka berharga bagi 86, yang telah ditinggalkan Tuhan.

Baru kemarin Kurena melihatnya. Melihat dirinya mengistrirahatkan seorang rekan yang terluka parah tetapi belum mati. Melihat dirinya menembakkan peluru terakhir.

“Hmm … aku ….”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Zona tempur yang diduduki Halcyon beberapa tahun lalu adalah pangkalan lini depan Teokrasi. Dan sebelum itu adalah kota tua yang kini menjadi reruntuhan. Dinding ubin putih agak gelap rasanya bagaikan batu nisan, lalu bangunan tinggi persegi panjang yang berdiri di sekitar medan pertempuran bak dinding batu bata1.

Terdapat deretan bangunan berwarna abu-abu mutiara yang serupa dengan markas garda depan Teokrasi, dan di antaranya ada menara senjata antipesawat yang dicampakkan. Undertaker mendarat di belakang menara tersebut, menetap di tanah tertutup abu.

Mantel Freya meledak dan terbakar, hancur di udara menjadi hujan percikan api. Kelima unit lain di peletonnya mendarat sesudah itu dan dalam sunyi membentuk formasi. Mereka gerak cepat usai mendarat, mengurangi saat-saat tak terlindung, kemudian berlindung di balik bangunan terdekat.

“—Peleton ke-4 dan ke-5, lapor.”

“Semua unit Peleton ke-5 berhasil mendarat, Shin.”

“Peleton ke-4 juga sama. Lanjut membantu unit peleton lain.”

Panggilan Shin segera dijawab. Kapten Peleton ke-4 bukan bagian unit pertahanan pertama distrik pertama, namun mereka sama-sama Penyandang Nama yang selamat dari serangan skala besar tahun kemarin. Keahlian dan komando mereka setara Anju, Raiden, Kurena, dan kapten-kapten peleton lain. Kapten Peleton ke-3 yang menggantikan Theo juga sama.

Skuadron Nordlicht dan Scythe tak lama setelahnya melaporkan kedatangan mereka. Dilanjutkan kelompok ke-2 dan ke-3. Seluruh unit batalion lintas udara telah mendarat dengan aman. Terakhir, Zashya menempatkan Królik di tempat teramat-amat tinggi, untuk menjadi penyampai tautan data mereka.

“Królik, melapor. Saya telah mengonfirmasi target secara visual. Memulai analisis dan mengirimkan rekaman.”

“Diterima. Semua unit, tetap siaga di posisi masing-masing dan pastikan rekaman—”

Namun Shin tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Gemuruh besar, raungan yang memecah gendang telinga yang tidak ditangkap sensor audio mengguncang unit mereka. Halcyon bangkit berdiri di sisi lain bangunan, rupa raksasanya memenuhi separuh bawah layar optik Shin.

“T-tidak mungkin …!”

“Sial, gede amat …!”

Napas tak percaya seseorang bocor ke Resonansi. Bahkan 86, veteran-veteran berpengalaman, merasa takut sekaligus kagum akan ukuran luar biasanya. Kontur kokoh pada bagian belakangnya yang bundar dan mirip bukit mengingatkannya akan babi hutan atau landak. Tingginya empat puluh meter, dan lebar keseluruhannya kira-kira tujuh ratus meter. Laksana landak raksasa tanpa duri.

Bahkan Dinosauria rasanya seperti nyamuk dibandingkan bentuk raksasa ini. Halcyon awalnya adalah Weisel, jadi setiap kali menyentuh bumi, maka memperlihatkan lubang di perutnya. Tujuannya adalah meluncurkan unit Legion yang baru diproduksi, namun kini terlihat seperti lubang kecil. Halcyon dilengkapi sensor optik yang seakan-akan untuk menutupi titik buta yang tak terhitung jumlahnya.

Di sepanjang bagian tengah punggungnya adalah sebuah struktur layaknya kipas yang seperti halnya sirip punggung ikan petarung atau ekor merak—jajaran pendingin yang digunakan semua Legion. Menyatakan fakta yang sulit dipercaya bahwasanya bahkan monster ini tidak hanya pabrik produksi sederhana melainkan mesin tempur otonom yang mampu bergerak.

Seolah-olah melihat seekor behemot yang dibangkitkan dalam bentuk mekanis mirip jarum jam. Seperti halnya naga berkepala banyak dari Wahyu Alkitab. Tapi yang menggantikan tujuh kepala tersebut adalah lima railgun 800 mm, tiap-tiapnya bergerak-gerak dan berputar mencari kerangka tanpa kepala yang bersembunyi di bayang-bayang reruntuhan.

Shin bicara, suaranya hati-hati namun tenang.

“Semua unit, ingat yang kukatakan saat pengarahan. Tujuan kita adalah menghancurkan, dan bila memungkinkan, merebut Halcyon. Peran batalion lintas udara adalah melumpuhkannya, meski sementara, dan menyibukkannya hingga Trauerschwan mencapai posisi menembaknya.”

Mereka sudah lama mengamati bentuk Halcyon selama tahap penyusunan operasi, tetapi ketika musuhnya berada tepat di depan mereka, telah terbukti akan susah merusak lawan ini dengan meriam 88 mm Reginleif. Pengeboman dari railgun kaliber tinggi Trauerschwan adalah keharusan dalam operasi ini.

“Skuadron Spearhead akan bertugas memperlambat Halcyon, sedangkan skuadron Scythe, Nordlicht, Stinger, Fulminata, dan Sarissa akan mengalihkan juga menghancurkan kelima railgun. Dari kiri ke kanan, railgun-nya akan dinamakan Frieda, Gisela, Helga, Isidora, dan Johanna.”

Selain menjadi penyampai komunikasi, Królik pun menjadi unit pendukung komando. Kelima railgun yang diproyeksikan layar optik Shin dilapisi nama-nama yang baru saja diberikan. Shin melandaskannya dari sebutan yang Yuuto berikan ke railgun Noctiluca, sisanya diisi kode fonetis2. Tidak ada niat untuk membawa sebutan itu operasi gabungan.

“Skuadron Scythe akan menangani Frieda. Sarissa akan menangani Gisela. Stinger akan menangani Helga, Fulminata akan menangani Isidora, dan skuadron Nordlicht akan menangani Johanna. Tidak ada lagi unit aktif Legion di area tempur kecuali Halcyon, tapi tetap waspada dari serangan unit-unit tak aktif.”

“Diterima,” jawab kapten skuadron Scythe. “Untungnya, ini medan perang perkotaan dengan banyak bangunan. Kita bisa mendekat dengan menarik perhatian railgun dan membiarkan bangunannya menyerap tembakannya.”

“Saya akan melacak bidikan railgun-nya,” kata Zashya. “Mengingat seberapa cepat tembakan mereka, akan sangat mustahil menghindarinya setelah menembak. Jika menerima peringatan bahwa Anda berada di bidikan musuh, prioritaskan menghindar.”

“Dan posisi skuadron artileri seperti skuadron Archer dan Quarrel adalah memberikan tembakan perlindungan untuk skuadron jarak dekat. Kami akan sembunyi di belakang bangunan, persis gerakan skuadron Spearhead ….”

Dua pasang sayap kupu-kupu yang kelihatan bagaikan dijalin dari benang perak dengan mengagumkannya telah mengepak terbuka di belakang setiap railgun. Membantu mengeluarkan panas—pertanda bahwasanya railgun siap beroperasi dalam pertempuran. Sepuluh pasang, dua puluh sayap totalnya, menutupi langit di belakang Halcyon.

Gemuruh sejumlah erangan dan jeritan melonjak naik dari perut binatang tersebut, dikeluarkan dari inti Halcyon. Salah satunya adalah suara yang pernah Shin dengar: campuran erangan dan lolongan kesakitan yang bergema dari Noctiluca. Shin menyipitkan mata selagi melihatnya.

Kuharap kau dapat kesempatan untuk membalas dendam.

Iya. Medan perang ini ‘kan mewujudkannya.

Dan kala kelima railgun dinyalakan, inti kendali mereka sendiri meneriakkan lima teriakan berbeda. Empat dari lima adalah erangan, jeritan, napas tersengal, dan tangisan kesakitan aneh … Tetapi satunya lagi adalah bisikan sedih tak asing. Ratapan dingin nan hampa seorang gadis yang gugur tenggelam di medan perang langit biru itu.

<<… dingin banget.>>

Shana.

Para-RAID mentransmisikan suara itu dari jarak puluhan kilometer, ke telinga Lena, Frederica, dan Kurena.

<Dingin banget—dinGiN BAngeT. DinginbangetDINGINBANGET dingin BANGET.>>

“Tidak …!”

Selagi Kurena menunggu isyarat tembakan pembuka batalion lintas udara, dia berdiri di atas rangka Trauerschwan. Begitu mendengar suaranya, napasnya tercekat.

Selama pertempuran melawan Noctiluca, Shana naik Menara Mirage untuk menembak runduk dari atas. Akibatnya, dia tidak bisa melarikan diri tepat waktu dan gugur dalam pertempuran. Seolah-olah binasa menggantikan Kurena yang walau keahlian sekaligus perannya adalah penembak runduk terampil, dia terlalu dilumpuhkan keraguan dan ketakutan.

Shana jatuh ke air bersama runtuhnya menara baja. Noctiluca yang telah bernavigasi di kedalaman yang sama, mungkin mengambil mayatnya dan menggabungkan jaringan sarafnya ke salah satu railgun-nya.

Bukan sebagai Domba Hitam, melainkan Gembala.

Perairan gelap nan dingin laut utara teramat-amat bersuhu rendah sampai-sampai hampir menyentuh titik beku. Penguraian jaringan otak Shana sehabis kematiannya mungkin memakan waktu lebih lama. Shin yang dapat mendengar suara-suara hantu mekanis, pastinya tahu itu.

Kenyataan itu mengguncang Kurena.

Mustahil.

Dia kira Shin memutuskan tidak menyertakannya ke batalion lintas udara sebab dia percaya kepadanya sebagai seorang penembak runduk. Tapi mungkinkah itu bukan alasan sebenarnya? Bagaimana jika kebalikannya? Bagaimana kalau Shin tidak membawanya karena tak percaya sanggup melawan Shana, yang mati dikarenakan ketakutannya? Sebab Shin menilai dirinya yang menemaninya di kondisi tersebut akan terlalu berbahaya …?

Seketika tangisan Shana mencapai mereka, layar radar Undertaker mendeteksi satu Juggernaut melompat ke depan. Dia bahkan tidak repot-repot memeriksa pengenalnya untuk mencari tahu identitasnya. Cyclops dari skuadron Nordlicht.

Shiden.

Refleks hendak menegurnya, tetapi dia pikir-pikir ulang. Karena inilah dia menugaskan skuadron Nordlicht untuk mengurus Johanna. Shiden bertindak berdasarkan ledakan impulsif, tetapi selama dia mengikuti misi, Shin bisa mengabaikannya.

“Shiden, Shana berada dalam inti kendali Johanna. Bisa kau urus?”

Dia tidak menjawab. Shin menyimpulkan dirinya barangkali mendengarnya, lantas dia arahkan pertanyaan itu ke kapten skuadron Nordlicht.

“Bernholdt, si bego ini jadi liar, pas dugaan kita. Awasi dia.”

“Aduh. Iya, semuanya berjalan sesuai dugaan …. Diterima.”

Kali ini, Shiden benar-benar menjawab, suaranya terdengar kesal: “Shin, aku dengar itu! Siapa yang kau panggil bego?!”—kata-kata itu mematikan percakapan Shin dan Bernholdt. Dia ternyata lebih tenang dari perkiraan mereka. Shiden yang memanggil Shin dengan nama asli alih-alih nama panggilan membuktikan dia tidak sepenuhnya tenang, sih.

“… nyaris mau bilang hebat karena kalian berdua sempat-sempatnya bertengkar dalam keadaan ini,” komentar Bernholdt.

“Dia tidak menghiraukan transmisi di tengah operasi. Memanggilnya bego sudah pantas …. Tapi aku mengandalkanmu.”

Bernholdt dan Vargus semestinya bisa mengimbangi Shiden, sekalipun dia melakukan trik sembrono. Itulah alasan Shin menugaskan Shiden ke skuadron Nordlicht.

Dia merasa Bernholdt tersenyum kecil.

“Cukup sudah, Kapten. Baiklah, ayo gerak, anak-anak! Kita kudu melindungi nona ini saat dia mulai gegabah!”

Diawali Cyclops yang bergerak maju dan menjadi tembakan pembuka meeka, batalion lintas udara beranggotakan delapan skuadron mulai beraksi. Mereka belari melintasi reruntuhan yang ditutupi lautan abu, menuju raksasa yang berdiri di atas mereka.

Tujuan skuadron Spearhead adalah melumpuhkan Halcyon. Untuk melaksanakannya, pertama-tama mereka mesti lengket-lengket ke musuh, dan karena itu mereka mengitari tepi luar reruntuhan kota, berharap bisa membokongnya.

Dua skuadron dilengkapi konfigurasi artileri untuk melancarkan tembakan perlindungan di pertempuran melawan railgun. Makanya, mereka bergerak mendekati sisi samping Halcyon untuk mengambil posisi menembak. Mereka sekaligus skuadron Spearhead, berkenala dalam bayang-bayang bangunan, sehingga menghindari deteksi musuh.

Di sisi lain, kelima skuadron yang bertugas mengeliminasi railgun dikerahkan di seluruh wilayah perkotaan yang luas, memanfaatkan kotanya sebagai perlindungan mereka dari bidikan turet-turet besar. Mereka menghampiri pembuluh darah leher Halcyon layaknya lima cakar. Mereka juga berperan sebagai pengalih Halcyon selagi skuadron Spearhead mendekat.

Para Reginleif sengaja menampakkan diri, tapi cara mereka melaju di medan perang tidak menunjukkan jumlah total kepada musuh. Selagi bergerak, sensor Halcyon mendeteksi mereka satu demi satu. Laras mengancam itu berbelok, dengan keras menebas angin seiring gerakannya. Beralih dari posisi melengkung yang mengartikan sedang mencari-cari musuh, ke posisi linear yang maknanya adalah sedang membidik.

Volume lolongan mereka meninggi, ibaratnya memanggil sesuatu.

“…!”

Belari melintasi jalan kota Teokrasi yang didesain bagaikan papan catur, Shin tiba-tiba berhenti. Sesudah mendengar lolongan tersebut, dia mendongak sekali. Suara itu bukan dari unit tersembunyi yang tengah dalam mode siaga. Itu suara menggelegar lain dari dalam Halcyon.

Momen setelahnya, celah terbuka di sisi pendingin, menembakkan sesuatu. Objek-objek ini bergerak di udara dalam bentuk kurva, cukup lambat bagi penglihatan kinetik manusia sehingga bisa melihatnya dengan mudah. Jumlahnya ada banyak, meringkuk dan memeluk lutut mereka ketika melesat di udara ….

Ranjau swagerak?

Tapi kenapa? Kenapa ranjau swageraknya harus sekarang? Shin tidak memahami maksud musuh, tapi dia tetap memberi peringatan. Pengalaman yang menjaga nyawanya begitu lama memberitahunya kalau rencana musuh tidak jelas artinya mereka harus lebih berhati-hati.

“Semua unit. Ranjau swagerak ditembakkan dari dalam tubuh target. Tujuannya tak diketahui, namun hindari kontak dengan—”

“—duh, turet-turet railgun-nya sudah diarahkan!”

Peringatan memotong kata-katanya. Dia berada di atas mereka untuk membantu dukungan komunikasi dan analisis pertempuran juga secara sukarela membantu manuver penghindaran.

“Cyclops, Freki Tiga, Vlkodlak, menghindar! Dan awas tembakan kedua dari Isidora sama Gisela—”

Tapi setelah itu Olivia menelan ludah gugup.

“—semua unit, menghindar! Lupakan jalur tembakan; semua orang yang berada di depan railgun, menjauhlah!”

Saat setelahnya, kelima railgun meraung bersama-sama. Tidak seorang pun di batalion lintas udara bisa langsung tahu kejadian kala itu. Tentu saja tidak, sebab kecepatan tembakan railgun adalah delapan ribu kilometer per detik. Penglihatan dinamis manusia takkan mampu melihat sesuatu yang bergerak secepat itu.

Reruntuhan kota sepenuhnya dan seluruhnya hilang.

Tidak hanya satu titik medan perang. Seolah tangan raksasa gaib telah meraup tanah dari atas. Lima titik berbeda, tiap-tiapnya punya radius lima puluh meter, disapu bersih.

Seperti halnya peringatan Olivia yang punya kemampuan melihat tiga detik ke masa depan, badai kehancuran skala besar telah melenyapkan semua bangunan dalam jangkauannya, menghasilkan luka melingkar pada reruntuhan kota.

Sesaat kemudian, deru angin berulang kali memenuhi sensor audio mereka. Selongsong 800 mm, masing-masingnya seberat puluhan ton, telah menembak dari jarak yang sangat dekat dengan kecepatan awal. Dampaknya melepaskan sejumlah besar energi kinetik yang merobek tanah, tetapi batalion garda depan tak mendengar suara ledakannya. Sejumlah bangunan berdiri dengan bentuk tak normal, seakan-akan telah ditebas bersih. Dan setelah itu para Reginleif meluncur di sepanjang penampang mereka, seolah mengingat gravitasi tetap berlaku, lalu menabrak tanah hancur reruntuhan.

Peringatan detik terakhir itu tepat waktu. 86 terbiasa tidak berdiri tepat di depan musuh mereka. Lagian, menghadapi Löwe atau Dinosauria dalam peti mati alumunium itu dengan daya tembak terlampau kecil mereka sama saja bunuh diri. Tidak satu pun Juggernaut terperangkap kehancuran beradius luas tersebut. Akan tetapi ….

“Apa-apaan …?”

… lebih banyak deru ledakan terdengar di beberapa titik lain kota. Tempat-tempat tersebut tidak bisa menghindari tembakan railgun dan ranjau swagerak meledak di sana. Seketika Shin melihat turet railgun berbelok ke arah ledakan, dia tahu alasan Halcyon menyebarkan ranjau swagerak itu.

Memeriksa tautan data, dia mengonfirmasi bahwa semua unit mereka masih hidup. Tidak ada yang diledakkan ranjau. Reginleif cepat dan Vánagandr berlapis baja tebal takkan mudah dihancurkan ranjau swagerak. Dengan kata lain, Halcyon tak menyebarkan ranjau swagerak untuk menghancurkan Feldreß, tetapi ….

“Siapa pun yang di dekatnya ada ranjau swagerak yang meledakkan diri, menjauh dan lakukan manuver menghindar! Halcyon menggunakan suara ledakan untuk melacak kalian!”

Karena mereka bertempur di area perkotaan dengan jarak pandang buruk, suara peledakan diri digunakan sebagai sinyal untuk dengan cepat memberi tahu Halcyon soal posisi musuh. Sesaat berikutnya, railgun meraung lagi. Angin melolong nyaring ketika lima tinju besi lain mencungkil tanah, mengubah bangunan-bangunan menjadi petak-petak melingkar dari tanah hangus.

Shin mendengar lima Prosesor menghembuskan napas lega sehabis nyaris tak menghindari tembakannya. Salah satu dari mereka, Bernholdt, mendecakkan lidah.

“Kurasa ranjau swagerak bisa digunakan sebagai sistem alarm …. Bonusnya, tempat manapun yang mereka ledakkan langsung hancur ….”

Puing-puing runtuh lagi. Bangunannya berdiri tercungkil, laksana sebuah pisau telah menebas bangunan berbeton atau berlogam dengan setimpal. Terus ada pula masalah suara angin melengking itu, transmisi energi kinetik yang membahana, dan radius ledakan kelewat luas tidak sesuai diameter selongsongnya.

Seluruh Juggernaut yang coba-coba mendekati Halcyon, termasuk Undertaker, terlalu dekat untuk mengawasi keseluruhan Halcyon dengan sensor optik mereka. Namun Królik yang sudah mundur, kemungkinan bisa melihat semuanya dengan baik.

“Królik, sensor optikmu menangkapnya? Bisa dianalisa—?”

“Saya baru saja melihatnya di tembakan kedua. Musuh menggunakan tembakan berantai!”

Sebelum Shin sempat bertanya lebih lanjut, Zashya mengirimkan hasil analisisnya. Rekaman yang dikirim dari data optik Królik kualitasnya sedikit rendah, tetapi hampir tak menangkap momen sebelum dampak. Sewaktu selongsong berdiameter 800 mm menyentuh tanah, targetnya diubah menjadi suatu bentuk sebesar lima puluh meter. Awalnya kelihatan macam cakram perak datar, tapi sebenarnya lebih mendekati jala.

“Begitu selongsongnya meninggalkan moncong, selongsong itu membelah dan menyebar dalam bentuk lingkaran. Hulu ledak utama di tengah serta tujuh bom kecil lainnya dihubungkan menjadi satu seperti jaring laba-laba oleh kabel molekul. Selongsongnya menghancurkan atau semata-mata menembus segalanya dalam radius lima puluh meter di jalur tembakan …. Dulu waktu zamannya perahu layar, tembakan berantai diluncurkan dengan mengikat selongsong dengan rantai untuk mematahkan tiang kapal musuh. Mirip-mirip itu.”

Memfokuskan kekuatan penghancurnya di satu titik memberikan kekuatan penetrasi luar biasa, tapi jikalau tujuannya adalah memaksimalkan jangkauan kehancuran, maka akan lebih efektif misal disebar. Jadi lebih gampang mengenai target sewaktu menembak dari jarak dekat karena lintasan tembakannya tak mudah dipengaruhi. Dengan menghubungkan ke-76 titik menjadi satu garis telah menciptakan permukaan kabel.

Kejadian ini menandai metode serangan baru. Bukan tembakan meriam jarak jauh yang mampu menghancurkan seluruh pangkalan atau menembus bungker, namun selongsong jarak dekat yang menyapu area luas.

“… ini tembakan anti- Feldreß … anti-Reginleif.”

Tembakan melawan Divisi Penyerang yang sukses mengalahkan dua unit Legion, Morpho serta Noctiluca …. Serangan penangkalan.

Pasukan pengalih telah menarik perhatian sebagian besar pasukan Legion, biar begitu, rute yang dilalui Trauerschwan dan Brigade Ekspedisi Federasi sama sekali belum bebas dari musuh. Mendapat kabar batalion garda depan telah memulai penyerangan, pasukan utama Brigade Ekspedisi Federasi akhirnya menghadapi pasukan Legion dua puluh kilometer jauhnya dari titik tembak yang telah ditentukan.

Mereka memasuki pertempuran dengan setiap unitnya bergerak dalam formasi berlian; unit pengintai yang memimpin diposisikan di depan dan belakang tiap-tiap formasi. Formasinya terdiri dari dua batalion pengintai Reginleif dan Resimen Bebas Myrmecoleo sebagai garda depan.

Ketiga kelompok itu menemui awan gelap—pasukan besar hantu-hantu mekanis, sebanyak yang disiratkan namanya. Selain itu ada pula hal unik di medan perang sektor kosong ….

“…?!”

Sewaktu Gilwiese mengarahkan bidikannya ke sisi samping Löwe, dia menelan ludah gugup tatkala kaki belakang Mock Turtle tenggelam ke tanah. Ada rongga tersembunyi di bawah lapisan abu yang menutupi tanah, dan dia menginjaknya.

Dia operasikan tuas kendali dengan cepat, tidak memedulikan teriakan Svenja. Gadis itu duduk nyaman di kursi penembak di belakangnya. Gilwiese buru-buru menyesuaikan posisi Mock Turtle lalu menarik pelatuk. Sistem pengatur tembakan presisi tinggi Vánagandr tahu telah diperintahkan untuk menetapkan bidikannya pada musuh yang berada dalam jangkauan tembak. Sekalipun unitnya memiring atau bahkan digulingkan, bidikan turetnya tetap tertuju pada musuh yang dikunci.

Turet 120 mm mengeluarkan raungan yang membuat telinga budek ketika menembak. Setelah menembus sisinya, Löwe mengepulkan api kemudian jatuh ke tanah. Karena tolak balik intens dari tembakan menyentaknya ke belakang, Mock Turtle menarik mundur kakinya dan memperbaiki postur. Baru pada saat itulah Gilwiese akhirnya buang napas.

“Maaf, Putri. Putri tidak apa-apa?”

“I-iya …. Ini tidak ada apa-apanya, Kak.”

Rupanya, ketika tolak balik tembakan mendorong mundur mereka, Svenja membenturkan kepalanya ke sandaran kursi. Si gadis Maskot berusaha mengelus kepala kecilnya biar menghilangkan rasa sakit, mengangguk berani walau matanya penuh air mata. Selanjutnya buru-buru memperbaiki gaunnya yang kini acak-acakan. Sebagai anak perempuan Archduchess Brantolote, dia berdiri sebagai simbol unit Kekaisaran dan tidak diperkenankan menunjukkan penampilan tak sedap dipandang, bahkan dalam medan perang.

Melihat sekeliling, Gilwiese melihat kaki Vánagandr di sekitarnya dan unit-unit pengintai Reginleif terjepit dan tersandung abu rapuh. Terlebih lagi, sensor optiknya dikotori sedikit lumpur aneh. Setiap kali mereka bergerak cepat, ujung tajam abu vulkanik sedikit demi sedikit membuat goresan kecil ke lensa sensor optik mereka.

Namun yang terburuknya adalah ….

“Aduh, jangan lagi—laser pengukur jarak …!” teriakan kesal bergema di radio kompi.

Seiring mencepatnya udara, tirai abu tebal pun ikut terbawa, alhasil mengganggu laser bidikan di persenjataan utama mereka. Sistem pengatur tembakan tak bisa mengkalkulasi lintasan selongsong ke target dengan benar tanpa laser bidikan; sistem pangatur tembakan menggunakan laser untuk menerapkan koreksi bidikan dan tanpa itu tak dapat mengumpulkan informasi akurat.

Dia menahan dirinya untuk berdecak; bagaimanapun dia ini di hadapan Tuan Putri. Namun Gilwiese berbisik pahit. Dia kira mereka telah dilatih secara menyeluruh dalam persiapan segala kondisi, tapi ….

“Kami tidak memperhitungkan ini. Penguasa sejati sektor kosong bukanlah Legion. Tetapi abunya.”

Tidak terlihat dari celah gedung-gedung tinggi, tapi Shin ingat pernah melihat gunung tumpukan puing di belakang Halcyon sewaktu mereka menukik ke bawah. Sisa-sisa sumber daya logam yang dikonsumsinya. Raksasa ini sepertinya berhenti di kota ini dengan tujuan mengisi kembali persediaan … artinya punya banyak amunisi cadangan.

Masalah.

Shin bisa mendengar letak ranjau swagerak, tentu saja, tapi jumlahnya kebanyakan. Dia tak sanggup mengingatkan semua anggota regunya. Medan perang perkotaan artinya ada banyak perlindungan, dan dikarenakan ranjau swagerak kira-kira seukuran manusia, baik radar maupun sensor optik bisa dengan mudah melewatkannya.

Lebih buruknya lagi, karena radar dan sensor optik bisa dihalangi oleh segala jenis penutup, Halcyon memilih menggunakan sejumlah besar ranjau swagerak menggantikan Ameise yang biasanya mengurus pengintaian.

Di medan perang jarak sedekat ini, suara ledakan apa pun bisa jadi alarm yang tidak bisa dicegah, dan karena unit yang menyebabkan ledakannya pasti akan diledakkan pengeboman railgun, akan lebih ekonomis untuk menggunakan ranjau swagerak sekali pakai.

“Semua unit—maaf, tapi aku tidak bisa melacak satu per satu ranjau swageraknya. Tapi kalian bisa dengar suara Halcyon, jadi manfaatkan itu untuk waktui penghindaran kalian—”

“Iya. Kami tahu, Shin; tidak usah memperingatkan,” kata kapten skuadron Sarissa.

“Kami Beresonansi denganmu, jadi kami bisa dengar inti kendali Halcyon railgun-nya. Begitu berteriak, tandanya harus menghindar,” ucap kapten skuadron Fulminata, mengangguk.

Shin berkedip kaget terhadap para kapten yang memotongnya. Kapten-kapten lain pun segera menimpali.

“Entah bagaimana kami akan tangani tanpa perlu kau beri tahu posisi ranjau-ranjaunya, tahu. Kau mungkin lupa, tapi kami penyintas Sektor 86 dan serangan skala besar tanpa dirimu.”

“…” Shin menarik napas dalam-dalam. “Kalian benar. Maaf.”

“Kau fokus saja dengan pekerjaanmu, oke …? Selesai.”

Para kapten menyela percakapan dengan kode radio yang tidak ada gunanya sebab sudah ada Para-RAID yang menghubungi semua orang lewat Resonansi. Raiden yang berlari di sebelahnya, membelokkan sensor optiknya ke Shin.

“Mereka semua pintar beropini, ya …? Omong-omong, baik tembakan berantai dan ranjau swagerak tidak masuk perkiraan kita. Bagaimana, nih? Jika kau mengkhawatirkannya, kita bisa saja mengirim beberapa orang dari skuadron Spearhead untuk membantu membersihkan mereka.”

“… jangan.”

Shin menggeleng kepala sehabis berpikir sejenak. Kapten-kapten lain percaya padanya untuk menuntaskan tugas ini, jadi dia harus menjawab kepercayaan itu.

“Ini tidak terduga, tapi bukannya tak bisa kita urus. Mestinya tidak masalah tetap mengikuti rencana awal …. Dan lagi, Halcyon bukan satu-satunya masalah.”

Shin menyipit dingin seraya bicara.

“Kita punya cara sendiri untuk melawannya.”

“Jadi sederhananya, kita harus berhati-hati dan jangan sampai masuk ke dalam tanah dan tergelincir abu.”

Menjadi pengintai, Reginleif-Reginleif di Batalion ke-2 Rito dan Batalion ke-3 Michihi memimpin pasukan utama Brigade Ekspedisi melawan Legion.

Berkali-kali, unit personal Rito, Milan, terpeleset dan nyaris terguling gara-gara abu. Namun lambat laun, Rito belajar caranya bertarung di medan ini.

Postur para Reginleif hampir kelihatan seakan mereka tengah berjongkok dan merangkak di tanah, jadi lubang masuk paket daya mereka sangat mudah menyedot abu. Menyumbat penyaring debunya. Oleh karena itu ….

“Kita hanya perlu berlari tanpa harus menyentuh tanah!”

Badan putih Milan mengudara. Grauwolf dan Löwe yang punya sensor minim, mengandalkan Ameise sebagai mata dan telinga mereka. Menjadikan Ameise sebagai pijakan, Milan melompat lalu mendarat dengan menginjak peluncur roket unit Grauwolf selagi berbalik menghadapnya, kemudian mendekati Löwe.

Begitu turet tipe Tank bergerak ke dirinya, Dia menghindar dengan melompat ke arah berlawanan. Ketika Löwe itu menegang yang artinya bersiap menembak, Milan menerjang bagian teratas turet dan membombardirnya dari jarak dekat, menghancurkan keseluruhannya. Rito bahkan tidak melihat targetnya yang merosot jatuh, dia malah mengalihkan mata ke unit berikutnya yang akan dia jadikan pijakan lompat.

Lintasannya teramat-amat terbatas di tengah lompatan, dan tak ada tempat berlindung dari tembakan musuh di tengah udara. Lantas dia tak melompat terlalu tinggi atau terlalu jauh. Dia melompat kecil di atas unit-unit Legion yang memadati medan perang, tak diberi kesempatan membidiknya.

“Aaaah …!”

Tembakan perlindungan dari unit-unit pendampingnya merobek barisan Legion. Tidak ada rasa takut karena mereka memang tak hidup, Legion bergerak untuk melindungi Löwe yang lebih berharga dan menghalangi Milan. Satu Grauwolf memanjat ke atas Löwe target Rito. Mengayunkan bilah frekuensi tingginya, menusukkan ujungnya ke depan untuk mencegat Milan yang mendekat ….

Melihatnya, Rito menembakkan jangkar kawat tepat di bawahnya.

“Hanya karena aku berupaya untuk tidak turun bukan berarti takkan melakukannya.”

Sembari menggulung kawat, dia mengubah lintasannya untuk bergerak ke bawah, mendarat di tanah. Di waktu yang sama, menarik jangkar tersebut, menghantamkannya ke kepala Grauwolf dengan hantaman seluruh energi kinetik jatuhnya. Rahangnya (?) keras-keras dibenturkan ke bagian atas turet Löwe, kemudian Rito memastikan untuk benar-benar membunuh Grauwolf dengan menembak peluncur roket di punggungnya. Peluru pelacak yang fungsinya adalah mengonfirmasi lintasan, memicu ledakan dalam peluncur roket, menyelimuti Grauwolf dan Löwe dalam ledakan besar.

Tentu saja, Rito tahu tak akan realistis Löwe akan hancur hanya karena ini. Sebelum apinya padam, dia tembakkan turet 88 mm-nya untuk menuntaskan pekerjaan.

Kalau saja Shin di sana, Rito bisa bertanya sudah cukup atau belum.

Reginleif letnannya memekik berhenti di sebelahnya.

“Wanjay, Rito …! Apaan tuh?!”

“Keren tidak?!” kata Rito sambil nyengir.

“Aku cuma berimprovisasi saja, kayak kapten dan Letnan Dua Rikka!”

“Aku mau ikutan juga,” tukas letnan Rito dengan sungguh-sungguh.

“Baguslah kau berhasil, Rito. Tapi jangan sering-sering …,” gumam Michihi dengan senyuman ketika mengawasi pertarungan Batalion ke-2.

Rito yang gegabah dan serampangan bukan hal baru, tapi aksi ini sepenuhnya berbeda. Keluaran akuator dan paket daya Reginleif jumlahnya tinggi sesuai berat unit, dan itulah yang memungkinkan Reginleif melakukan hal-hal itu. Tetapi unit Michihi, Hualien, punya konfigurasi peredam daya tembak yang dilengkapi meriam otomatis 40mm. Karena itulah, dia tidak tertarik meniru akrobat tersebut.

Makanya, Batalion ke-2 nampaknya mencontoh Rito. Garda depannya, serta unit penekan mulai menyerbu Legion dengan taktik serupa. Layaknya sekawanan serigala teritorial, mereka menembus barisan-barisan baja dan mulai memakan jalan kabur mereka.

Semangat itu menyebar ke Batalion ke-3 Michihi dan tak lama kemudian, dia mendengar penembak runduk skuadronnya tertawa-tawa.

“Gara-gara Legionnya teralihkan, menembak mereka gampang.”

“Pertama-tama tembak rongsokan yang menyerang garda depan, terus utamakan Löwe.”

Selagi unit penekan darat yang berdiri di barisan belakang batalion bercanda, mereka menerima permintaan bantuan.

“—pasukan musuh baru telah tiba dari kiri dan depan. Diduga sebagai bala bantuan.”

“Beri kami tembakan perlindungan sebelum mereka berkumpul kembali! Dustin, jangan sampai menembak teman sendiri!”

“Itu jelas. Diterima, Sagittarius. Jangan kena tembakan cacadku!”

Roket dan bahan peledak tak terhitung jumlahnya menghujani unit bantuan, menghancurkan Grauwolf dan Ameise. Skuadron yang meminta tembakan perlindungan sebelumnya menerjang Löwe dari tiga arah. Tanpa bantuan Ameise yang memberikan informasi sensorik, tipe Tank tak berdaya di depan Reginleif yang menyerang mereka bagai hiu kelaparan.

“….”

Bahkan Penyandang Nama berpengalaman seperti Michihi tak pernah melihat moral dan kesungguhan setinggi itu. Ini bukan keputusasaan. Ini … gairah. Semangat juang, cukup besar sampai-sampai memberatkannya.

Jika perang berakhir ….

Jika mereka mengakhiri perang, artinya 86 akan melepaskan harga diri mereka, dengan keinginan sendiri. Namun terlepas dari itu ….

Suara Howitzer terdengar bergemuruh sejenak-sejenak dari cakrawala kabur pasukan lini depan Legion. Pekerjaannya batalion artileri yang menembak dari belakang atas komando Lena. Berdiri di belakang pasukan utama brigade, mereka dengan ganasnya menembaki musuh. Unit Alkonost sudah pergi mengintai, dan menggunakan data yang mereka kirimkan, batalion melepaskan hujan api dan baja. Di sela-sela tembakan, suara Lena yang disalurkan ke para Prosesor tak ada bedanya dengan dentang lonceng perak di Resonansi.

“Vanadis kepada semua unit. Ada badai abu lain yang mendekat. Semua unit yang sudah maju, sementara mundur dulu. Aku akan kirimkan perkiraan posisi kelompok musuh. Agar tidak menembak teman sendiri, jangan tembak di luar jangkauan yang ditentukan. Serang!”

Tirai abu menghalangi laser pengukur jarak dan sensor optik umat manusia serta Legion. Kelanjutannya, raungan senapan mesin berat 12.8 mm, meriam otomatis 40 mm, peluncur roket banyak, juga senapan laras halus 88 mm mengisi udara, menembus tirai abu dengan api, asap, dan gelombang kejut.

Ratu Bersimbah Darahnya 86 telah memprediksi posisi tepat di medan perang tak kasat mata ini laksana peramal.

“… kalian semua luar biasa, tahu?” satu orang wakil perwira terdekat menyatakannya dari unit pribadinya.

Tanggapan Michihi bukan dari rasa bangga atau dalam hati, melainkan keraguan.

“Iya … sedikit saja kok luar biasanya.”

Rito, Dustin, Lena, sekaligus Shin, Raiden, dan Anju juga sama, yang tidak berada di medan perang ini. Melihat semangat juang rekan-rekannya yang bertarung seakan-akan berusaha mengakhiri perang dengan tangan mereka sendiri, membuat Michihi merasa seakan … dia hanya tidak bisa mengimbanginya. Seakan-akan mereka hanya akan belari maju dan meninggalkannya …. Tapi Michihi menelan kata-kata itu sebelum sempat dikeluarkan.

Hal itu pun sampai ke Kurena dan Trauerschwan. Pasukan utama brigade terdiri dari empat batalion Reginleif dan Resimen Myrmecoleo. Batalion ke-2 Rito dan ke-3 Michihi berdiri di formasi bagian depan sebagai pengintai dan didukung oleh ketiga batalion Myrmecoleo dari belakang yang dimuat senjata berat. Sisi samping mereka diperkuat dua batalion lain Divisi Penyerang sebagai penjaga serta, satu batalion artileri Reginleif di belakang.

Trauerschwan diproteksi dari segala arah selagi menunggu perannya. Ibarat seorang putri yang dijaga para pengikutnya—padahal, faktanya, dijauhkan karena tak berguna. Trauerschwan adalah purwarupa yang dibuat dengan tergesa-gesa yang tujuannya bukan untuk pertempuran langsung. Angsa hitam beban yang merepotkan dan tak diinginkan.

Mungkinkah, Shin dan rekan-rekan lainnya di Divisi Penyerang dari awal tak memerlukannya. Lagi pula, keputusan untuk menyertakan Trauerschwan ditetapkan setelah Kurena dan Divisi Lapis Baja ke-1 diperintahkan pergi ke Teokrasi—begitu Halcyon ditemukan di sana, dan usai disimpulkan Noctiluca barangkali punya keterlibatan.

Gara-gara keberadaan Halcyon, mereka mendapat perintah untuk memprioritaskan penghancurannya alih-alih mengambil inti kendali, dan biro penelitian meminjamkan mereka Trauerschwan untuk melakukannya. Kemudian Shin percayakan kepada Kurena sebagai penembaknya. Tetapi dari awal ….

… Shin dan Divisi Penyerang sudah menemukan cara untuk melumpuhkan unit Legion raksasa seperti Noctiluca dan Halcyon hanya bermodal Reginleif.

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Eksistensi Noctiluca itu sendiri adalah kejadian tak terduga selama operasi Mirage Spire, tetapi tatkala Divisi Penyerang pertama kali menemuinya, Noctiluca menjadi unit yang akrab. Dan mereka takkan sembarangan menjalani operasi lain tanpa penangkalnya.

Teokrasi tidak punya kapal induk besar. Mereka tak bisa mengharapkan bantuan Stella Maris. Divisi Penyerang perlu mencari cara untuk menenggelamkan Noctiluca seraya hanya mengandalkan turet 88 mm mereka. Ini adalah sesuatu yang 86, terutama komandan-komandan kelompok mereka, harus pertimbangkan.

Jadi kala markas Divisi Penyerang di Rüstkammer disibukkan persiapan operasi selanjutnya, Shin, Siri, Canaan, dan Suiu, beserta kapten-kapten regu lain di bawah mereka, bertemu untuk mendiskusikan metode mereka.

Cara tervalid untuk melawan senjata berjangkauan jarak jauh tersebut adalah artileri dengan kaliber setara atau pesawat yang dipandu. Namun 86 tak punya wewenang atas keputusan penggunaannya. Karena itu bagiannya artileri, persenjataan, dan perwira militer. Alhasil para petinggi sudah menimbang-nimbangnya dan tengah mengerjakan penangkal itu.

Peran Divisi Penyeranglah untuk mencari-cari solusi tak konvensional dari masalah tersebut.

Awalnya, Feldreß tak bertugas menembak hancur sebuah senapan artileri raksasa yang mampu mencapai jarak empat ratus kilometer secara langsung. Saat railgun ditembakkan, mereka sudah kalah. Jadi langkah pertamanya adalah menghentikannya menembak. Mereka kudu melewati jarak empat ratus kilometer sebelum railgun menembaki mereka.

Dan andaikata bisa menyusup lebih dekat dan berada dalam jarak tiga puluh meter dari panjang larasnya, maka railgun-nya tidak akan dapat menembak mereka. Selama tetap berada dalam jarak minimum tiga puluh meter itu, sang naga besar takkan bisa menghembuskan napas apinya ke mereka, sehingga dapat mereka bunuh.

Mereka mesti mencari cara. Di saat yang sama ketiga divisi lapis baja akan dikirim sekaligus, memungkinkan Federasi menguji usulan mereka di pertempuran langsung. Siri dan Divisi Lapis Baja ke-2 menyarankan untuk membidik sayap serta sirip pendingin. Canaan dan Divisi Lapis Baja ke-3 fokus menyerang bagian dalam musuh lewat pintu masuk servis dan lubang pemeliharaan, yang pernah mereka masuki sebelumnya untuk menangkap inti kendali unit Weisel dan Admiral.

Lalu Shin beserta Divisi Lapis Baja ke-1-nya akan ….

“Kita ujung-ujungnya memakai railgun dengan prioritas menghancurkan musuh. Tapi jujur, kita lebih suka menerobos lapis bajanya dan menggila di dalamnya. Lagian ada Nouzen di pihak kita. Dia bisa saja menembus masuk dengan bilah frekuensi tingginya.”

Selagi Divisi Lapis Baja ke-1 mengadakan rapat untuk mendiskusikan cara mengatasi Halcyon, Claude angkat bicara untuk memulai pembicaraan. Dia kapten Peleton ke-4 skuadron Spearhead. Seorang anak laki-laki dengan penampilan amat khas, rambutnya merah dan mata putih-perak tersembunyi di balik kacamatanya.

Baru saja diputuskan kalau setiap divisi lapis baja akan mengurus situasinya sendiri, jadi kapten-kapten Divisi Lapis Baja ke-1 telah bertemu di ruang pertemuaan keempat pangkalan. Visual dan data pertempuran melawan Morpho juga Noctiluca sedang diproyeksikan di layar holo yang tak terhitung jumlahnya, disertakan sejumlah perkiraan statistik dan … entah apa, film monster raksasa.

Selagi semua orang memusatkan pandangan mereka kepadanya, Shin semata-mata mengangkat bahu.

“Aku paham melangsungkan serangan frontal ketimbang menyerang dari belakang akan mengundang segala macam faktor ketidakpastian. Tapi mari sepakati kalau penangkal yang hanya bergantung kepada satu orang yang mampu melakukannya bukan penangkal.”

“Kau bisa saja mengajari kami aksimu itu. Terus kami akan berusaha memelajarinya.”

“Misalkan segampang itu, dia bukan satu-satunya orang gila yang memakai bilah. Dari semua orang, selama tujuh tahunnya Sektor 86, cuma orang ini yang menggunakannya, tahu?” Tohru, yang menjabat sebagai kapten Peleton ke-3 menggantikan Theo, menjawabnya.

Kebetulan, dia punya rambut pirang dan mata hijau seperti Theo, namun kendatipun dia seorang Aventura, ciri wajah, perawakan, dan auranya berbeda penuh.

“Yah, umpamanya tembakan kaliber kecil tidak bisa langsung menembusnya, gimana kalau tembak di titik yang sama berkali-kali? Kau tahu, itu, anu …. Peribahasanya bilang apa? Jika tidak bisa mengenai musuh dengan satu panah, hujani dengan panah sebusur …?”

“Mangsudmu panah bertubi-tubi?” tanya Michihi.

“Iya, itu. Makasih, Michihi. Jadi, ya, kita harusnya lakukan itu. Sehabis mengenainya sekali, kita bisa terus menembak titik itu. Dengan begitu, akhirnya akan menembus lapis baja Noctiluca sama Halcyon yang tebalnya bukan main.”

“Cuma Kurena yang bisa akurat melakukannya,” geram Raiden. “Dan apabila hanya satu orang, bukan penangkal yang sah.”

“Kurasa kita di pembicaraan yang benar. Maksudku, senapan utama Stella Maris tidak menembusnya dengan satu tembakan juga; butuh beberapa selongsong buat merobeknya. Tidak mesti tempat yang sama persis. Kita cuma perlu fokus menghujam area yang sama ….”

“Aku mengerti!” seru Rito. “Kenapa tidak buat railgun Halcyon menembak lapis bajanya sendiri?! Maksudku, sebuah railgun pastinya juga bisa untuk pertempuran anti-railgun!”

“Ide yang mantap, Rito. Nanti kami ambil pentungan khusus kami buat memukul balik selongsong 800 mm.”

“Oh, tapi sekiranya Halcyon bahkan lebih besar dari Noctiluca, kita tidak usah memukul balik selongsongnya. Tergantung dari sudut bidikannya, bisa saja dia kehilangan keseimbangan,” saran Anju.

“Bentar, Rito, Anju, bentaran,” potong Raiden. “Ini jadi berantakan. Mari diskusikan tenang-tenang. Kita diskusikan ide Tohru dahulu terus pertimbangkan Rito. Kita harus mengatur semuanya.”

Semuanya jadi cukup kacau. Olivia hadir di ruangan itu. Dia tak ikutan diskusi dengan aktif karena tak familier dengan Reginleif, namun dia akan menjawab seandainya butuh opininya. Dia malah duduk dan menulis notula, tersenyum geli dan sinis terhadap kemajuan percakapan sembari mengetik di terminal informasi.

Kurena juga di sana, berdiri diam tanpa bicara ibarat kewalahan oleh situasinya. Dia sangat-sangat ingin menyarankan sesuatu …. Mati-matian memikirkan cara untuk membantu semua orang, tetapi mereka semua getol banget, rasanya dia tidak bisa mengikuti mereka. Tiada kata terucap dari bibirnya.

Seorang pemuda berseragam yang bekerja di ruang makan pangkalan, memasuki ruangan dan meletakkan nampan yang di atasnya ada sejumlah makanan ringan. Rupanya, mereka melewatkan makan siang lagi. Mereka terlampau asyik setiap harinya dengan rapat penangkalan mereka sampai-sampai keseringan lupa sudah waktunya makan siang. Maka dari itu, staf suplai membawa makanan ringan yang bisa Divisi Penyerang santap dengan tangan, contohnya roti lapis sama mug penuh sup.

Selagi semua orang melihat makanan yang dibawa masuk, diskusinya mereda, dan mata mereka fokus menatap nampan.

“Yang ini bagus. Punyaku dilapisi roti dan dalamannya daging goreng,” kata Raiden.

Bahkan Shin yang Raiden sering bilang tidak punya indra perasa, mengambil roti lapis dan dia lihat penasaran.

“Iya ‘kan, ada acar sama … moster? Dengar-dengar ini enak.”

“Oh, aku dapat keju dan daun ara rebus.”

“Supnya lezat juga! Rasa jamur kering ini benar-benar kaya.”

Mereka sibuk sekali dengan rapatnya hingga tidak sadar sudah lewat waktu makan siang. Perut kosong membuat mereka mengabaikan rapatnya dan malahan fokus mengisi pipi. Melihatnya, seorang prajurit muda mencemooh mereka.

“Nih, kukasih tahu, kepala koki membentak kalian gara-gara lupa makan makanan yang sudah susah-susah beliau buat. Beliau bersumpah atas kehormatan jabatan koki beliau bahwasanya masakan beliau akan menghentikan rapat kalian hari ini. Nah, sudahkah tumbuh rasa hormat dalam diri kalian, anak-anak?”

“Maaf soal itu.”

“Salah kami.”

“Maaf.”

Semua orang menggeleng kepala minta maaf, sama sekali tidak meletakkan peralatan makan mereka. Pemuda itu mengangguk puas.

“Santapan kali ini adalah makanan daerahnya kampung halaman kepala koki …. Sebetulnya ada variasi lain di dalamnya yang menggunakan ikan haring yang diminyaki, tapi sulit mendapatkan ikan haring di masa-masa perang. Jadi pas perang berakhir kelak, beliau akan membuatkan kalian makanan itu.”

Satu-satunya pelabuhan Federasi diduduki Legion, jadi tentunya, mereka tidak bisa menangkap ikan haring. Namun menyebutnya saja sudah membuat Kurena terperanjat. Pas perang berakhir kelak. Itu lagi. Semua orang terus mengatakannya, walaupun itu mustahil.

“Oh iya, aku ingat pernah makan masakan ikan waktu masih anak-anak,” kata Tohru ke dirinya sendiri.

Semua orang memusatkan perhatian ke dirinya, dan dia balas dengan bahu terangkat.

“Dulu tempat tinggalku dekat laut jadi kami kerap kali masak ikan. Hidangan terbaiknya kakekku. Ada satu resep yang diwariskan dalam keluargaku untuk memasaknya … aku tidak benar-benar mau balik ke Republik, tapi mengingatnya membuatku sedikit kangen rumah.”

Melihat senyum penuh perhatiannya membuat Kurena merasa lebih tertekan. Tak peduli seberapa nostalgianya dirinya; dia takkan pernah makan masakan itu lagi. Kakek Tohru telah dibunuh Republik, jadi mereka tidak akan bisa lagi duduk sembari makan malam ikan bersama-sama.

Tapi setelah itu Claude bicara begitu saja, seakan-akan mengatakan hal jelas.

“Buat sajalah. Begitu perang berakhir, kita bisa ke laut kapan saja. Jadi saat itu memasaklah.”

“Oh, ya. Baiklah ketika perang usai, akan kubuat ulang hidangan Kakek!”

“Memasak tuh motivasimu?”

“Maksudku, kenapa tidak, ‘kan? Kita belum memutuskan mau melakukan apa sehabis perang. Jadi pikirku, apa yang membuatmu tidak mencobanya?”

“Cita rasa buatan kakek, masakan rumahnya Ibu …. Oh, ibuku bilang dia asal mana, ya? Mungkin aku akan mengunjunginya saat perang berakhir.”

Kurena membuka matanya lebar-lebar karena terkejut. Dia akhirnya tahu alasan Shin, Raiden, dan yang lainnya sungguh serius mencari cara menghentikan Halcyon.

Mereka ingin mengakhiri Perang Legion … dan membebaskan diri dari medan perang ….

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Benar. Bahkan pada saat ini, Shin berhenti melihat Kurena. Rasanya seperti meninggalkannya dan mulai berjalan jauh. Shin terfiksasi untuk mengakhiri perang yang menurut Kurena tidak akan pernah berakhir. Sibuk mencari cara membuang harga diri pejuangnya yang Kurena pegang sebagai identitas dirinya. Seolah-olah berusaha meninggalkannya.

Sebenarnya, Shin … mungkin saja sudah meninggalkannya dulu-dulu kala. Dan srbab itulah dia tak menyertakan Kurena ke medan perangnya.

Boleh saja inilah alasan Shin tidak menghubunginya sekarang.

Karena aku tidak berguna. Tidak bisa menembak waktu diperlukan. Karena tak punya kekuatan, gara-gara itu tidak bisa menyelamatkan Theo dan Shana.

Dia tidak butuh aku lagi.

Logika yang tidak masuk akal, sangking tidak masuk akalnya bila dia lebih tenang sedikit saja, dia akan menyadari betapa aneh perilakunya. Akal sehat orang hanya sebatas ini. Shin berada di lini depan, sekarang ini tengah melawan Halcyon. Tentu saja dia tak punya waktu lapang untuk menghubunginya.

Tapi Kurena tidak berpikir demikian karena sedang tak tenang. Dia benci merasa tidak berguna. Dia takut menjadi tidak berdaya. Dan ketidakberdayaan itu yang dijejalkan di depan matanya membuatnya semakin takut.

Warna rambut perak terbesit dalam ingatannya. Melihat seragam biru prusia Republik. Rambut keperakan panjang, dan mata berwarna serupa.

Iya. Sama seperti dirimu yang duduk diam ketika melihat orang tuamu ditembak mati.

… tidak. Itu bohong. Perwira itu sama sekali tak pernah bilang begitu. Dia bilang telah menyesal. Dia memohon maaf karena tak bisa menyelamatkan mereka. Terus mata itu mata siapa?

Babi-babi putih semuanya sampah.

Tidak salah lagi. Terus kenapa kau menghentikan mereka? Kenapa tidak menghalangi mereka dengan mendorong mereka …? Jika kau sangat menyayangi ayah-ibumu, kenapa membiarkan mereka ditembak alih-alih melawan seperti prajurit-prajurit itu?

Berlaku sama pada kakak perempuannya. Kurena bisa saja mencakar babi putih saat mereka datang hendak membawanya ke medan perang. Namun dia tetap diam dan tak berbuat apa pun. Dia tidak melawan. Dia membiarkannya saja.

Tapi kau tak melakukannya. Tidak bisa. Lagian …. Lagian, kau ini ….

Mata perak itu mencibirnya. Tidak … bukan perak. Mungkinkah emas. Mata siapa?

Itu benar. Lagian, kau ini ….

Kau juga anak yang tidak berdaya, tak punya kekuatan untuk menentang apa pun yang menghalangimu.

“…!”

Kurena takut orang. Dia meringkuk di hadapan dunia. Takut akan masa depan. Penyebabnya jelas. Dia tahu penyebab dirinya takut sekali untuk melangkah maju satu langkah saja.

Karena aku sebenarnya tak punya kekuatan.

Sebagaimana dirinya waktu itu, ketika tahu tidak bisa melakukan apa-apa.

Sekalipun berusaha bergerak maju, seseorang hanya akan membencinya. Walaupun dia mencoba mempertahankan kebahagiaan, seseorang akan merebutnya.

Dan saat mereka melakukannya, Kurena takkan bisa melawan lagi. Dia melemah dan membiarkan mereka mengambil semuanya lagi ….

Kurena mulai bertingkah aneh semenjak suara Shana terdengar. Lena merisaukannya selagi mengkomandoi brigade dari posisinya di pusat komando korps.

Resonansi Sensorik membagikan pendengaran dengan menghubungkan kesadaran mereka sehingga Lena bisa menangkap emosi yang diperlihatkan ibarat mereka saling tatap muka. Dan Kurena terhubung padanya lewat Para-RAID, dia jelas sedang gelisah. Ketakutan, kebingungan, dan terguncang. Dia ingin menyandarkan dirinya kepada seseorang selagi dirinya meringkuk karena takut akan ditinggalkan.

Shin sepertinya tahu itu. Dia tidak bisa bicara padanya, namun Lena tahu Shin seolah-olah lagi melirik dirinya. Shin sedang di tengah-tengah pertempuran. Dia sekarang lagi tak bisa bicara dengan Lena. Maka dari itu ….

Lena membuka bibir, kemudian Gilwiese mendadak angkat bicara.

“Boleh minta waktu Anda sebentar, Gunslinger? Letnan Dua Kukumila, bukan?”

Meskipun mereka berdua berafiliasi dengan Federasi, dia seorang komandan unit lain sekaligus perwira yang tak pernah Kurena ajak bicara. Bagi wanita muda dari 86 seperti Kurena, ini mengagetkannya. Tiba-tiba, dia lupa menjawab, namun Gilwiese tak menyalahkannya dan melanjutkan:

“Saya pernah mendengar reputasi Anda, Gunslinger. Anda selamat dari Sektor 86 yang mematikan dan mendukung peperangan Divisi Penyerang. Seorang penembak runduk 86 yang tiada tandingannya …. Dan sebab saya tahu reputasi Andalah saya tidak ingin Anda menjadi penembak Trauerschwan.

Suara seseorang menelan ludah gugup dapat terdengar lewat radio. Barangkali Kurena sendiri, mendengar suara kagetnya sendiri dengan jelas. Dia menahan napas bukan karena takut namun seperti halnya reaksi seorang anak sewaktu kesalahannya disebutkan.

“Saya telah mendengar kegagalan Anda selama operasi Mirage Spire, dan saya putuskan tidak bisa memercayakan Anda dengan Trauerschwan. Seorang pejuang yang diam membeku di waktu-waktu kritis bukanlah seorang prajurit. Saya tak boleh membiarkan Anda berdiam diri ketika tiba waktunya menembak.”

Tentara adalah layaknya senjata, dipandang efektif kala berfungsi kapan pun digunakan. Dan mereka sedang berurusan dengan senjata purwarupa yang dari awal dianggap tak bisa diandalkan. Gilwiese bahkan sampai meminta Shin dan Lena untuk mengeluarkan Kurena dari operasi. Namun orang yang tegas menolak permintaannya adalah ….

“Tetapi beliau masih bersikukuh untuk memercayakan Trauerschwan kepada Anda. Kapten Nouzen.”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Divisi Penyerang 86. Unit yang terdiri dari orang-orang buangannya Republik, 86. Gilwiese dengar 86 dipimpin oleh seorang Nouzen berdarah campuran. Dan seketika mendengarnya, dia merasakan suatu ketertarikan aneh kepada bocah ini. Dia belum pernah menemuinya, dan emosi ini teramat berat sebelah.

Tetapi dia masih merasa demikian.

Andai keluarga pejuang itu mengakui Shin sebagai bagian dari mereka, maka dia takkan memimpin unit rakyat jelata yang hina itu. Dan seumpama demikian, Gilwiese bisa menganggapnya setara dengan Resimen Myrmecoleo. Persilangan yang ditolak oleh keluarganya—sebuah alat yang berguna, yang prestasinya semata-mata untuk mengangkat derajat keluarganya.

Kepala singa dengan tubuh semut—makhluk yang ditakdirkan mati kelaparan karena tak mampu memakan mangsa yang diburunya.

Seorang anak tanpa tempat tinggal, tidak dicintai siapa pun.

Namun Gilwiese keliru tentangnya.

“Senjata ini dipinjamkan ke kita oleh Lembaga Riset Tinggi demi operasi bersama ini. Dan saya tak akan bilang wewenang untuk memutuskan bawahan kita yang mana yang akan menjadi penembaknya jatuh pada saya.”

Mereka berada di ruang rapat abu-abu mutiara di salah satu pangkalan lini depan Teokrasi. Pipa seputih susu yang memancarkan kemilau prismatik melapisi dinding. Shin berdiri di sisi lain ruangan yang didesain secara tidak biasa ini, balas menatap Gilwiese seraya bicara.

“Biar begitu, jika maksud Anda kita tidak boleh mengizinkannya hanya karena satu kesalahan, menurut saya sikap Anda sebagai komandan terlalu tak berperasaan. Jika Anda membuang prajurit manapun cuma karena satu kesalahan, maka Anda takkan bisa mempertahankan satu unit pun. Letnan Dua Kukumila yang bimbang di operasi sebelumnya; itu benar. Namun saya pikir Anda tidak punya alasan untuk menyimpulkan dirinya takkan memperbaiki diri.”

Kau tidak berhak berasumsi dia tidak akan pulih.

“Dan jika Letnan Dua Kukumila gagal lagi?” tanya Gilwiese, menekan emosi pahit yang memuncak-muncak di hatinya sendiri.

Resimen Myrmecoleo adalah unit yang baru dibentuk. Mereka tak punya kegagalan sebab dari awal memang tidak ada pengalaman tempur. Sejauh ini mereka yang paling tidak bisa diandalkan. Shin dan kelompoknya dengan pengalaman tempur tujuh tahun bisa saja menunjukkan fakta itu ke hadapannya, lalu Gilwiese takkan bisa membalas.

Namun mereka tidak lakukan. Dan bukan gara-gara Shin tak mengetahui fakta itu. Bila dia tidak sepintar itu, dia takkan selamat dari pertempurannya melawan Legion, dan 86 berpengalaman tidak akan mematuhi perintahnya. Dengan kata lain, satu-satunya alasan dia tak menyinggungnya adalah karena itu tindakan pengecut. Standar—atau barangkali harga diri—yang dia pasang pada dirinya sendiri tak memperkenankannya melakukan hal setercela itu.

Kebangsawanannyalah yang mencegahnya melakukan itu. Jadi, dia tatap Gilwiese dengan mata merah darah sama.

Blasteran Onyx dan Pyrope—pencampuran kedua kaum yang sangat tidak disukai Kekaisaran. Tetapi perawakan Shin adalah gambaran persis dari kebangsawanan Kekaisaran yang kemungkinan besar penyebab dirinya juga didiskriminasi di antara penduduk Sektor 86. Di sisi lain, Republik yang adalah tanah airnya, mebencinya sebab menjadi noda kotor 86.

Tetapi keturunan bangsawan campuran Kekaisaran ini, bocah 86, sama sekali tak merasa tidak senang terhadap seluruh kebencian tersebut sewaktu balas menatap Gilwiese.

“Kalau itu terjadi, saya yang akan mengurus kesalahannya dan mengontrol kembali situasi. Bertindak untuk menutupi kegagalan bawahan adalah tanggung jawab seorang komandan.”

Nada suaranya tegas tanpa dengki. Seakan-akan otomatis berpikir sudah jadi tugasnyalah untuk memberikan rekan-rekannya sebanyak mungkin kesempatan untuk menebus diri hingga benar kembali sambil melindungi mereka apa pun yang terjadi.

Lena juga hadir dalam perbincangan, namun dia menutup mulut. Ini adalah bukti kepercayaannya. Baik kepada Shin dan Kurena yang tak ada di tempatnya sekarang. Lena dan Shin sama-sama percaya bahwa Kurena akan bisa bangkit kembali—meskipun dia membuat kesalahan fatal dan menyedihkan di operasi sebelumnya serta merusak kepercayaan mereka kepadanya.

Melihat ini membangkitkan emosi aneh dalam diri Gilwiese. Sekiranya dia punya seseorang seperti itu …. Seseorang yang akan menjaga, melindungi, dan memercayainya. Seperti kakak laki-laki atau perempuan ….

Dan setelah bertahun-tahun merindukan hubungan sehat dan saling memercayai, dia tidak bisa, dengan iktikad baik, berlaku kurang ajar kepada mereka.

“Saya mengerti. Jika Anda sampai segigih itu menjaminnya … saya akan menghormati keputusan Anda.”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Gilwiese terus bicara, memikirkan kembali rasa kesepian dan malu yang dia rasakan saat itu. Kurena tampaknya ketakutan di sisi lain radio. Tatapan matanya jauh lebih akrab daripada Shin yang punya warna mata sama seperti dirinya.

“Kapten Nouzen meninggalkan kartu truf itu di tangan Anda sebab beliau percaya Anda akan bangkit kembali. Beliau percayakan karena beliau percaya Anda punya kekuatan.”

Mata Kurena sebagaimana seorang anak yang telah dihajar keras sekali sampai-sampai tekad melawannya hancur sepenuhnya. Mata bayi yang telah memasukkan dan mengukir ketidakberdayaan mereka ke dalam hati. Dia kenal tatapan itu. Dia sering melihatnya dalam aula tertutup kediaman Brantolonte.

Kurena sudah seperti cermin baginya. Cermin yang dia benci—yang memantulkan hal-hal yang tak ingin dilihatnya.

“Dan Anda punya kewajiban untuk menjawab keyakinan itu. Jika seseorang percaya pada Anda, dan Anda pun percaya padanya, maka Anda perlu menjawab kepercayaan mereka …. Kepercayaan itu jauh lebih sulit didapat dari yang bisa Anda bayangkan.”

Tolong jawab kepercayaan itu. Sebab dirimu diberkahi jenis keberuntungan langka, dengan hak istimewa berharga sebab telah dipertemukan orang-orang seperti mereka. Takkan ada yang percaya padaku sebesar itu atau memikirkanku sedalam itu. Tak ada yang menungguku membenarkan diri.

Kesempatan hidupmu cuma satu, dan karena kami melewatkannya bahkan sebelum lahir, tidak ada yang melirik kami. Hal satu-satunya yang kami inginkan, yang kami cita-citakan, telah direnggut sebelum sempat mengulurkan tangan dan meraihnya.

Tapi kau tidak sama. Ada orang yang percaya kepadamu. Jika mengharapkan sesuatu, mereka akan berusaha sebaik mungkin untuk mengabulkannya. Jadi percayalah kepada mereka, karena tangan mereka bahkan saat ini sedang diulurkan.

Tolong. Jangan sia-siakan itu.

“Jadi Anda harus bangkit kembali, Letnan Dua Kukumila.”

Biarpun aku tidak bisa. Sampai kini tidak bisa.

“Ada orang yang percaya kepada Anda, yang menunggu Anda berdiri lagi. Jadi ulangi itu. Lakukan setiap saat. Jawab panggilan mereka. Anda bisa membantu …. Kembalilah.”

Agar tidak berakhir sepertiku.

Tanpa sadar, penyebutan nama Shin dan suara kata-kata itu membuat Kurena merinding. Dia sadar Shin masih belum menyerah padanya. Dan tak hanya itu. Dia tidak berniat mencampakkannya walaupun dia gagal. Itu memang mengguncangnya, tapi bukan cuma itu.

Kurena tidak ingin menjadi lemah. Dia mau bertarung. Berada di sisinya.

Itulah yang dirasakannya di awal, tetapi sekarang lebih dari itu.

ᚠᚱᛖᚤᚨ

“Hmm …. Uh ….”

Kurena hendak bertanya serius. Mereka berdiri di medan perang Sektor 86, di sebuah pangkalan yang dikelilingi ladang ranjau. Tepat sehabis dirinya ditunjuk ke suatu regu pimpinan anak laki-laki yang dipanggil Pencabut Nyawa ini.

Dia melihat wajahnya yang saat itu belum akrab. Bahkan ketika Kurena takut perasaannya mungkin terungkap, sebagian dari dirinya amat berharap akan benar-benar terjadi.

“Bukannya … sakit?”

“…?”

Dia tidak merinci maksudnya, dan Shin terkesiap oleh pertanyaannya. Keterkejutannya sulit dilihat dari ekspresinya; Kurena bisa melihatnya hanya karena tepat berada di depannya. Namun inilah kali pertama Kurena melihat kapten berwajah batu ini bersikap sesuai usianya. Dan itu sudah cukup membuatnya paham.

Dia hanya seorang anak laki-laki yang satu tahun lebih tua, dan hampir setengah jalan ke masa remajanya.

“Tidakkah menembak Jute kemarin menyakitimu, Kapten Nouzen?”

Begitu dia membelai pipi Jute, tangannya berlumuran darah dan jeroan seorang teman, dia tak mengalihkan mata. Selayaknya seorang pencabut nyawa tak berperasaan, dia dengan tenang menarik pelatuk.

“Kau sembunyikankah … pas benar-benar jadi menyakitkan …?”

Sesaat, Shin terdiam. Seolah tengah mempertimbangkan mestikah dia membagikan isi hatinya dengan gadis kecil yang berdiri di depannya. Lalu dia balas:

“… sedikit saja.”

“… iya. Iya, ya, kurasa akan menyakitkan ….”

Tentu saja menyakitkan. Namun mengetahui membuat Kurena entah bagaimana merasa lega. Maka dari itu ….

“Lain kali aku bisa menggantikanmu.”

Dia mengedipkan mata merah darahnya lagi. Tapi sekarang, warna itu tak menakutinya. Menatap matanya, Kurena bicara dengan lantang.

“Aku ini benar-benar ahli menggunakan senapan, tahu? Kalau dari jarak sedekat itu, aku takkan meleset. Jadi … aku bisa menggantikanmu.”

Menggantikanmu.

Mengingat mereka …. Membawa mereka bersamamu mungkin satu-satunya hal yang dapat kau lakukan. Karena kau lebih kuat dari kami semua. Tapi kau bisa membagikan rasa sakitmu denganku … aku bisa memikul sedikit bebanmu. Jika kau perbolehkan.

Kurena merasakan jari-jarinya mulai menggigil, dia mengepalkan tinjunya erat-erat untuk menyembunyikannya. Dia takut. Takut menembak orang-orang yang tidak bisa mati, yang tak bisa diselamatkan, sehingga mereka tidak harus digabungkan dengan Legion. Orang menyebutnya belas kasih, tapi terlepas dari itu, artinya membunuh manusia lain. Itu membuatnya takut. Dia tak mau punya kewajiban melakukannya. Tapi tepatnya karena itulah dia tak tega membiarkan Shin menanggung beban itu sendirian.

Shin menatapnya tanpa kata, selanjutnya menggeleng kepala.

“Akulah yang membuat janji itu dengan mereka …. Jadi kupikir harusnya aku yang melakukannya.”

“… benar ….”

Kurena melemaskan bahu. Kurena yang merasa percakapan ini sedikit menenteramkan hati membuat dirinya malu sendiri. Akan tetapi, seketika sang Pencabut Nyawa melihat kembali Kurena … pertama kalinya, dia tersenyum di hadapannya.

“Tapi … terima kasih.”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Iya …. Pada waktu itu, dia tak bilang begitu ke Shin atau memoles keahliannya sebagai penembak runduk biar bisa berguna untuknya atau menemaninya. Adalah agar dia bisa bertarung bersamanya sampai akhir, walaupun akhir itu adalah kematiannya. Agar ketika mantel Pencabut Nyawa jadi keberatan untuk Shin, dia bisa mengambilnya menggantikannya. Sehingga dia bisa … membantunya, kendati sedikit saja.

Shin seperti keluarga, seperti kakak baginya, walau mereka tak terikat darah. Dia adalah … rekan berharganya.

Kapten Nouzen akan selalu menjadi kakakmu. Itu takkan berubah.

Letnan Esther dari Negara-Negara Armada yang bilang demikian kepadanya. Letnan Esther adalah seseorang yang hidup menggenggam harga diri—sama seperti 86—dan di akhir telah kehilangan harga diri itu. Dan dia benar; hubungan Kurena dengan Shin tidak berubah. Shin tak membelakanginya. Dia sudah mengatakannya sebelum operasi dengan mata penuh kecemasan. Dia bilang tidak akan meninggalkannya. Bahwasanya Kurena tak perlu menanggung beban itu jika ujung-ujungnya hanya akan menjadi kutukan.

Shin bersimpati dengan rasa sakitnya. Seandainya Kurena fokus saja dengan itu, bahkan kini dia bisa merasakan emosi Shin lewat Para-RAID.

Resonansi tak hanya mengirimkan kata-kata; Resonansi memungkinkan pengguna merasakan perubahan emosi yang seseorang mungkin rasakan ketika berbicara secara langsung. Tak Cuma Shin, namun Raiden, Anju, dan Lena sama-sama merisaukannya.

Dan selagi meragukan dirinya, dia hampir menyakiti mereka.

“Mayor Günter, umm …. Terima kasih.”

Halcyon mengandalkan ranjau swagerak untuk menyelaraskan bidikannya, dan tampaknya lima skuadron pengalih mulai memanfaatkan ini untuk meraih keunggulan. Tanda-tanda destruktif tembakan berantai lima railgun jelas meleset dari posisi yang skuadron duduki.

Mereka pernah bertarung di reruntuhan berdasarkan pengalaman di Sektor 86 dan Federasi; makanya, mereka tahu cara melewati ranjau swagerak terus menembaknya dari jarak yang aman sembari mengalihkan bidikan railgun. Dari komando Zashya di atas reruntuhan, kelima railgun hanya menciptakan puing-puing yang malah menawarkan banyak tempat berlindung dari tembakan senjatanya sendiri.

Akhirnya, punggung logam hitam Halcyon terlihat dari balik kumpulan bangunan-bangunan serta jalan perbukitan. Dengan mengandalkan pengalihan kelima skuadron dan memutar jauh mengelilingi reruntuhan, skuadron Spearhead pada akhirnya tiba di titik belakang punggung Halcyon.

Mereka menyebar ke belakang tempat berlindung banyaknya bangunan yang berdiri setengah runtuh di sekelilingi Halcyon.

“Seluruh batalion, masuk. Skuadron Spearhead sudah dalam posisi.”

“Diterima. Skuadron Quarrel dan Archer juga dalam posisi. Siap melancarkan tembakan perlindungan kapan pun.”

“Skuadron Scythe sekaligus skuadron pengalih mulai mendekati musuh. Jarak tersisa kira-kira dua ribu. Kita berada dalam jangkauan turet tank.”

“Kalau begitu sudah waktunya …. Ayo tunjukkan kekuatan kita!”

“Ya.”

Halcyon mungkin telah menguasai tempat ini, bak seorang penguasa yang duduk di takhtanya, tapi ….

“Ayo ajarkan mereka kalau ini medan perangnya Divisi Penyerang—medan perang Reginleif.”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Sesudah makan, kepala koki masuk sambil tersenyum, membawa mug kopi penuh krim dan gula. Begitu kelompok selesai minum kopi, mereka akhirnya melanjutkan diskusi mengenai penanganan Halcyon. Boleh jadi gara-gara kadar gula darah mereka yang naik atau efek menyegarkan dari istrirahat, namun mereka segera menyadari bahwa diskusinya sudah buntu. Bagaimanapun, mereka sudah keluar topik.

“Kalau begitu kembali ke topik,” ucap Shin, menarik perhatian semua orang ke dirinya. “Kita tidak bisa mengalahkannya dalam pertarungan artileri. Jadi kita kudu mendekat sebelum dia siap-siap menembak, bahkan sebelum menyadari keberadaan kita. Menggunakan Armée Furieuse seharusnya mempermudah bagian itu … semisal ini jadinya pertempuran laut lain, berdoa saja takkan ada badai seperti kali terakhir.”

“…bahkan selama pertempuran laut, kami mesti memanjat ke bajingan itu sebelum bisa berbuat apa pun, jadi kami mesti menyelesaikan masalah itu dahulu,” kata Raiden, mengangguk. “Para Reginleif tidak bisa lari di laut, tahu”

Shin balas mengangguk sebelum melanjutkan:

“Operasi berikutnya semestinya di daratan, jadi kurasa takkan lebih rumit dari melawan Morpho. Waktu itu, pertahanan unit terus mengurangi kekuatan kami, alhasil ujung-ujungnya jadi satu lawan satu. Tapi jikalau kita bisa menembus wilayah musuh dari udara, sepatutnya bisa sampai railgun tanpa kehilangan pasukan kita. Railgun-nya sendiri tak serapuh itu, jadi hampir kayak sasaran empuk. Naik ke atasnya seharusnya tidak susah-susah amat.”

Kali pertama mereka menghadapi Legion ber-railgun adalah satu tahun lalu, di Kota Kreutzbeck. Setelah berhasil menyergap Shin dan skuadron Nordlicht, Morpho mundur sehabis menembaki mereka, tak peduli seberapa sukses tembakannya.

Waktu itu, kelimat belas unit skuadron Nordlicht masih utuh. Dan di reruntuhan kota itu, ada banyak bangunan tinggi di sekitar Morpho. Karenanya ia memilih kabur. Dia tahu bertarung melawan banyak Feldreß di lingkungan perkotaan tidak menguntungkan, dan karena alasan itulah unit artileri Legion besar memutuskan mundur dari Kota Kreutzbeck.

“… oh ya.”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

“Tadi, pas kau menyebutkan rentetan tembakan …. Kau bilang jika asumsinya kita masuk jangkauan tiga puluh meter yang jadi tempat aman dari railgun. Dalam artian lain, kau bilang kita cukup dekat buat menempel ke musuh. Bukan kita akan mencoba menembaknya dari jauh, ‘kan?”

Prosesor-Prosesor lain berteriak sadar. Mereka punya senjata itu. Senjata yang keakuratannya sepadan laser, tanpa melukai Prosesor.

Salah satu persenjataan tetapnya Reginleif, senjata ini hanya berguna ketika Reginleif menempel di musuh, tetapi bila dalam jangkauan, bisa mengenai target dengan kuat dan akurat.

“Pemancang!”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Lima skuadron menghampiri Halcyon sambil mengalihkan perhatian railgun. Menutup jarak hingga beberapa ratus meter, mereka melesat di antara bangunan dan puing laksana panah selagi mendekat.

Meriam kaliber 800 mm berderak selagi berputar di tempat untuk mencegat target yang melaju di tanah. Selain itu, meriam otomatis antiudara dikerahkan ke seluruh tubuh Halcyon, laksana duri landak yang berdiri tegak.

“Kami sudah menduganya, bego!”

Saat setelahnya, bayangan pucat muncul di atas gedung-gedung tinggi terdekat, membidik meriam otomatis dari titik buta ibaratnya menghujat penggunaan senjata itu. Berdiam diri di lokasi yang tak dapat dilihat Halcyon, sekelompok Reginleif ini menembakkan jangkar kawat mereka di dekat atap terus menggulungnya, memanjat dengan terbang melingkar. Kelompok ini adalah peletonnya Quarrel dan Archer yang dilengkapi konfigurasi howitzer untuk dukungan artileri.

Reginleif didesain untuk bertarung di medan perangnya Federasi, di tempat berhutan atau perkotaan. Kebanyakan senjata bergerak lain susah berfungsi di tanah perkotaan. Lapis Baja mereka dan turet tank berat berkaliber tinggi mempersulit gerakan. SEbaliknya, Reginleif unggul dalam pertempuran tiga dimensi saat menggunakan bangunan tinggi untuk pijakan.

Itulah alasan pasukan kerangka tersebut diberikan kelincahan dan keluaran tinggi. Mereka muncul di puncak kota, di jantung jenis medan perang yang membut mereka tak tertandingi. Dan dari sana, mereka dapat membidik satu titik lemah yang seluruh senjata lapis baja miliki; lapis baja atas yang yang relatif tipis.

Karena itulah mereka merangkak di darat di sepanjang perjalanan, agar sekarang mereka bisa menyerang dari atas.

“Kami terus diam di tanah biar perhatianmu fokus ke kami. Selama ini itulah rencana kami, dan kau jatuh terperangkap, benar-benar percaya pada pengalihan kami!”

Dan dengan komentar mencibir itu, mereka menembak. Meriam otomatis antiudara yang melengkapi Halcyon untuk intersepsi tembakan jarak dekat telah diledakkan, tak bisa melawan sebab terpaku ke bawah tanpa berhasil mencapai apa pun.

Lima skuadron yang mendekati Halcyon memanfaatkan perhatiannya yang teralihkan, mengganti amunisi mereka dan juga ikut menembak. Serbuan bahan peledak tinggi memasuki celah 800 mm di sela-sela sepasang rel lalu memicu sekering waktunya. Teknik sama yang Theo gunakan di pertempuran Noctiluca tuk menghentikan tembakannya. Kala itu, proyektil hulu ledak antitank berdaya ledak tinggi tak sengaja meledak begitu menyentuh rel. Tapi kali ini, para skuadron menggunakan bahan peledak tinggi dengan radius ledakan lebih luas beserta seksering waktu untuk memicunya dalam laras Halcyon. Dengan membidik tepat ke sela-sela rel di jarak pendek, hasilnya akan sama.

Logam cair yang menjadi elektroda untuk memberi tenaga dan mendorong selongsong telah tercipat ke langit, mengudara karena ledakan pecahan yang terbang secepat delapan ribu kilometer per detik. Senjata besar itu didesak, ibarat mundur. Sementara itu, peleton lain dari kelima skuadron bergerak maju.

Jarak tersisa: tiga puluh meter.

Mereka terjun ke titik buta railgun. Dikarenakan laras railgun punya panjang tiga puluh meter, jadi mustahil bisa menembak ke sisi samping atau belakangnya. Meluncurkan jangkar kawat mereka untuk naik dengan cepat ke bangunan terdekat dan menjadikan sisi samping Halcyon sebagai pijakan, siluet-siluet berwarna gading bergerak ke kelima turet. Tatkala musuh besar mereka menghentak-hentakkan kaki dan menggetarkan tubuh untuk menyingkirkan mereka, para Prosesor memicu tiga dari empat pemancang mereka, menusuknya ke dalam lapis baja Halcyon untuk menahan posisi.

Seperti kali terakhir, railgun-railgun Halcyon membentangkan kabel konduktif dari masing-masing sayap-sayap berpasangnya, beberapa menusuk dari bawah bak geyser untuk mencegat Reginleif. Tetapi skuadron Quarrel dan Archer mencegah serangan ini, menembakkan selongsong berdaya ledak tinggi ke udara untuk menjatuhkan kabel-kabel itu dengan gelombang kejut sekaligus membuka jalan buat rekan-rekan mereka.

Dilindungi tekanan tak terlihat dari ledakan tersebut, para Reginleif mulai tiba di puncak lima railgun. Mendorong turet 88 mm mereka dari jarak dekat, mereka menembak.

Mereka menembakkan selongsong PLBTSLS (penembus lapis baja terstabilkan sirip lepas-sabot) dengan kecepatan awal 1600 meter per detik yang melesat sempurna … selanjutnya ditangkis lapis baja Halcyon yang dihujani percikan api. Sukar. Tidak seperti Löwe atau Dinosauria, model ini tidak perlu banyak mobilitas. Meskipun artinya bobotnya meningkat, lapis baja turetnya pun diperkuat.

Namun demikian, hal ini sudah diantisipasi Divisi Penyerang.

Mereka mengubah pilihan persenjataan ke persenjataan utama kaki kanan depan, pemancang antilapis baja 57 mm. Dari keempat pemancang yang mereka punya di empat kaki, mereka tidak menggunakan satu selagi memanjat.

Mereka tak bisa mengembangkan persenjataan baru dari awal dalam waktu sesingkat itu, tetapi mereka berhasil membuat senjata baru dadakan dari senjata yang sudah ada. Mereka cukup beruntung punya suku cadangnya. Bagaimanapun juga, hanya satu Prosesor dari keseluruhan unit yang menggunakan senjata ini, mereka jadi punya banyak kerjaan.

Pemicu. Pemancang kaki kanan depan mereka diaktifkan. Dan mendadak sesudah pemancangnya aktif, bilah frekuensi tinggi yang dipasang di sisi luar pembungkus pemancang, yang sedang menghadap ke bawah, diledakkan oleh baut peledak. Bilah frekuensi tinggi yang juga terhubung ke penutup pemancang ikut aktif sesuai prosedur. Bilahnya meluncur ke bawah menuju lapis baja turet.

Mata bilah merah-panas dicelupkan ke lapis baja tebal seperti air. Menebas masuk, dan bahkan tanpa memastikan kerusakan yang dihasilkan, Reginleif mencopot bilah dan pemancangnya. Seketika unit-unit Reginleif melompat turun, kabel ditembakkan dari belakang pelindung ledakan menuju turet. Walau Halcyon mencoba mencabutnya dengan kabel-kabel itu, bilahnya sudah masuk terlalu dalam.

Di waktu yang berbeda, pemancangnya sendiri sudah jatuh seakan-akan tersingkir, dan tanpa ada yang menahan jatuhnya, pemancang-pemancang itu jatuh mencondong ke samping. Mirip pila yang digunakan suatu kekaisaran tua untuk membuat perisai tentara musuh tak berguna. Pemancang itu menunduk seperti pilum, memberikan tekanan ke batang yang menahan posisi bilah frekuensi tinggi dan mendorongnya lebih dalam ke lapis baja turet …. Itu tidak termasuk perkiraan para Prosesor.

“Mungkin bisa kita modifikasi biar memang terjadi dengan disengaja,” Shin bertanya-tanya.

“Bakalan bagus kalau bisa …. Makin gede lubangnya, makin gampang buat dibidik!”

Bilah frekuensi tinggi ditancapkan dalam-dalam hingga tegak lurus menghadap tanah, sampai mencuat di sisi lain dan jatuh, menyisakan tebasan panjang yang menyentuh mekanisme dalam turet. Ibaratnya sejumlah binatang raksasa telah mencakar seluruh turet Halcyon.

Sekali lagi, para Prosesor mengarahkan senapan 88 mm mereka ke turet. Semuanya, termasuk yang telah melompat menjauh hingga yang memanjat Halcyon memakai jangkar kawat, dan yang tetap di darat untuk melancarkan tembakan perlindungan.

Mereka semua menarik pelatuknya bersama-sama.

Sesudah memastikan meriam otomatis Halcyon telah tiada dan kelima railgun-nya tidak bisa menembak, skuadron Spearhead menerjang maju dari tempat persembunyian. Selagi Halcyon menggeliat dan bergetar hebat gara-gara bilah yang ditancapkan ke turetnya, Undertaker melompat ke punggung, menusukkan keempat bilahnya. Sebab lubang pengerahan Halcyon digunakan sebagai pintu keluar untuk ranjau swagerak, jebakan bisa saja ditaruh di dalamnya; maka dari itu, Shin tak menyusup dari sana.

Mengayunkan bilah frekuensi tinggi yang menempel di lengan penggenggamnya, dia menebas tempurung tebal raksasa itu. Setelahnya, Anna Maria milik Olivia pun naik, memasukkan tombak frekuensi tingginya ke dua celah yang telah diukir di lapis baja Halcyon dengan akurasi mematikan. Untuk memastikan rencananya berhasil, Shin menarik salah satu pemancang di kaki depannya dan dimasukkan lagi, memicunya.

Lapis bajanya membengkok menjadi bentuk segitiga rusak lalu hancur ke dalam. Begitu kedua unit melompat untuk memberi ruang, Wehrwolf-nya Raiden dan Bandersnatch Claude menembakkan meriam otomatis mereka ke lubang. Peluru pelacak yang fungsinya untuk memastikan jalur tembakan, meninggalkan jejak bercahaya selagi meluncur di udara, memancarkan cahaya sepintas ke bagian gelapnya struktur dalam Halcyon.

Tepat di bawah kelima railgun ada sesuatu yang kelihatan semacam menara besar. Magasin, sebagaimana yang digunakan meriam 40 cm Stella Maris. Sebuah tungku daur ulang besar menyertainya, memakan puing-puing dan runtuhan untuk digunakan lagi. Di sana ada tangki budidaya yang diisi cairan perak—Mesin Mikro Cair—juga tangki penyimpanan.

Ada pula sejumlah besar mesin dan pompa di dalamnya. Shin tak tahu perihal seluk-beluk produksi amunisi, jadi entahlah mereka harus berbuat apa. Baginya, benar-benar terlihat menyerupai perut mekanis hewan raksasa.

Shin mencari-cari sesuatu yang bisa jadi inti kendalinya tetapi tidak ketemu. Di jarak sedekat ini, Shin bisa mendeteksinya bahkan tanpa indra pendengarannya—kemampuan yang mendeteksinya, membuatnya bisa mendengarnya.

Jeritan tumpang tindih beberapa Gembala yang ditempatkan secara tak merata dalam mekanisme internal Halcyon. Setiap jeritan—tidak, barangkali keseluruhan individu—dijeritkan dari tempat yang berbeda. Jaringan saraf mesin mikro menyebar ke seluruh isi perut mekanis seperti halnya tirai tipis.

Berbeda dengan Weisel yang tersembunyi jauh dalam wilayah Legion dan tak dibangun untuk pertempuran, Halcyon adalah unit Legion tempur. Dan karena ukurannya sebesar ini, membelah prosesur pusatnya meningkatkan redudansi. Halcyon sanggup menciptakan Mesin Mikro Cairnya sendiri, jadi biarpun ada kerusakan pada prosesor pusatnya, masih bisa diperbaiki di tempat. Terlebih lagi, turet tank Reginleif dan Howitzer tuh relatif lemah, meskipun secara teori mampu menghancurkan jaringan saraf, tapi akan cukup sulit melakukannya.

Jatuh-jatuhnya mereka perlu mengandalkan pengeboman Trauerschwan.

Dan untuk mempersiapkannya ….

“Bidik kakinya! Anju, kami mengandalkanmu!”

Sehubungan dengan persiapan untuk pengeboman railgun, para Reginleif telah mengatur amunisi mereka ke selongsong hulu ledak antitank berdaya ledak tinggi. Selongsong berlogam hitam dan suhu tinggi itu tanpa ampun masuk ke bekas cakaran bilah frekuensi tinggi, membakar Mesin Mikro Cair yang membentuk inti kendali turet besar.

Shin bisa melihat kupu-kupu logam terbang dari salah satu railgun, Johanna. Dia pernah melihatnya, bahkan selama pertempuran Notiluca; kejadian terbangnya inti kendali yang berupaya kabur dari kebakaran dan kehancuran. Mesin Mikro Cair telah berubah menjadi sekawanan kupu-kupu keperakan yang tak terhitung jumlahnya.

Itu inti kendalinya Johanna—milik Shana—inti kendali Shana.

“Takkan kulepaskan!”

Dengan raungan marah, dia memanjat turet Johannya yang kebakaran. Demi pertempuran ini, dia mengganti meriam sebar di lengan penggenggam senapannya ke turet tank 88 mm. Mengatur sekering waktunya di selongsong hulu ledak antitank berdaya ledak tinggi, dia mengarahkan bidikannya ke kupu-kupu keperakan yang menyebar ke langit berabu—

“Gawat, Non! Turun dari sana!”

Sesaat setelah peringatan Bernholdt sampai, peringatan kedekatan mulai menggelegar di telinganya. Begitu tersadar, dia melihat kabel listrik melesat menuju dirinya dari atas, lima cakar kabel itu hendak mengiris unitnya. Selagi berusaha tak melepaskan Shana, dia tak memedulikan lingkungannya. Kini sudah terlalu terlambat buat menghindar.

Sial. Kena aku … itu pancingan.

Menggunakan mayat rekan untuk menarik sekutunya adalah trik tertua di buku. Shiden tak menerka-nerka bongkahan besi tua itu sengaja memancingnya atau tidak, namun hasil akhirnya tetap sama. Mereka telah memancingnya.

Atau barangkali Shana hanya mau membawa mati aku bersamanya ….

Tetapi dia tersadar dari lamunan pahit-manis itu ketika selongsong hulu ledak antitank berdaya ledak tinggi terbang dari bawah, meledak di udara menyebabkan ledakan bergemuruh. Gelombang kejut ledakannya menghempas mundur kawatnya, dan selagi Shiden tercengang sekilas, satu Reginleif memanjat turet dan menabrak Cyclops, dua-duanya jadi jatuh.

Simbol skuadron Reginleif itu adalah anjing serigala yang menemani seorang dewa perang, nomor ID-nya adalah 01. Freki One. Unit Bernholdt.

“Sumpah, gadis ini susah banget diatur! Nanti kumarahi setelah operasi ini selesai, Kapten!”

Selagi jatuh, Shiden melihat ke depan dan menemukan identitas orang yang menembakkan selongsong itu. Satu-satunya Feldreß dengan lapisan cokelat pada unit udara, bentuknya mirip hewan berkaki empat—Stollenwurm. Anna Maria milik Olivia. Menggunakan kemampuannya untuk mengintip masa depan singkat, dia telah meramalkan keadaan sulitnya Shiden.

Dia tahu-tahu dikuasai amarah dan meninggikan suaranya sambil marah.

Saat ini, aku sudah sangat dekat—sedekat ini—untuk bergabung bersama Shana yang mati mendahuluiku.

“Jangan ikut campur, Bernholdt! Kau juga, Kapten!”

“Sepatutnya kami yang bilang begitu, Letnan Dua.”

Shiden tertegun lalu terdiam. Pernyataan itu memotong ledakan kemarahannya bak retakan cambuk. Suara santai namun entah bagaimana tegas itu …. Olivia-kah?”

“Tugasmu adalah menekan railgun. Kau mengajukan diri untuk tugas ini, artinya harus kau selesaikan sampai akhir. Kalau kau lebih suka bunuh diri ala kekasih dengan railgun itu, maka kau jadi penghalang dan beban operasi ini. Mundurlah.”

Sibuk menurunkan perintah ke Anju, Shin terlambat bertindak di saat-saat kritis. Selagi meluangkan waktu untuk Snow Witch, dia mengalihkan pandangan ke Anna Maria yang baru saja menyelamatkan Cyclops.

“Terima kasih, Kapten. Kapten menyelamatkannya.”

“Aku terus membuka mata untuk tetap mewaspadai kejadian tidak terduga, tapi untungnya aku di sini. Itu nyaris saja.”

Kemampuan Olivia untuk melihat tiga detik ke depan hanya punya jangkauan beberapa puluh meter di sekitarnya. Tak luas. Olivia kemudian tersenyum.

“Setelah tahu nasib Letnan Dua Rikka, aku memahami keinginanmu untuk meminimalkan korban jiwa. Tapi janganlah menanggung beban itu sendirian. Lagian, melindungi anak bandel berperilaku buruk itu tanggung jawabnya orang dewasa. Biarkan aku mengurusnya, jika kau perbolehkan.”

“… terima kasih.”

Di sebelahnya, Snow Witch bangkit dari posisi siaga, memuat persenjataan utama Reginleif yang terberat, peluncur rudal. Berganti posisi dengan Bandersnatch lalu menetapkan target. Begitu selesai, dia menembakkan semua amunisinya di satu waktu.

Dua puluh rudal terbang ke bagian dalam Halcyon. Rudal-rudal ini antilapis baja ringan, ditujukan untuk Ameise atau Grauwolf. Tidak terlalu efektif melawan Löwe, Dinosauria, atau Morpho. Meskipun rudalnya tepat sasaran, Halcyon merupakan pabrik amunisi raksasa yang memproduksi selongsong 800 mm luar biasa besar. Takkan melumpuhkannya.

Akan tetapi ….

Seketika rudal-rudal itu menyebar dalam pabrik, rudalnya langsung meledak, melepaskan berondong pecahan-pecahan swakarya. Bahan peledak yang dihasilkan pecahan-pecahan itu meledak menjadi letusan kecil tak terhitung jumlahnya.

Bahan peledaknya meledak, memberikan pecahan swakarya kecepatan tiga ribu meter per detik. Lidah api merah meraung hidup di bagian dalam pabrik. Dinding tinggi dan kedap udaranya tak punya celah apa pun sehingga mencegah apinya keluar.

Melihat satu berondong tembakan tidak cukup, Snow Witch memberi jalan unit penekan lainnya yang segera menembakkan rudalnya sendiri ke Halcyon. Lalu unit ketiga menembak pula, laksana memastikan pekerjaan mereka diselesaikan.

Tak lama setelah itu, temperatur tinggi apinya melampaui kemampuan pendingin Halcyon. Bahkan kedua puluh sayap pendingin railgun tak bisa cepat mematikan panasnya. Semua bagian Halcyon dari paket daya hingga railgun dan sistem pengisian ulangnya, di akhiri inti kendali yang tempatnya acak di dalam sana mulai kepanasan.

Begitu pula otot-otot buatan di kakinya, yang memanas setiap kali Halcyon bergerak, menopang beratnya dan memungkinkannya berjalan.

Kemudian ….

Shiden hanya dapat mendengar suara Legion sebab dia terkoneksi dengan Shin dan kemampuannya lewat Para-RAID. Kini setelah Shin berada persis di samping Halcyon, lolongan dan teriakannya keras sekai.

Erangan, teriakan, bisikan kebencian, dan jeritan ngeri. Juga erangan Shana, berputar-putar sembari berusaha melarikan diri dari api.

Dengan bantuan skuadron Archer, skuadron Nordlicht meledakkan bagian di sekitar Shana, mendesak kupu-kupu rapuh dan mudah terbakar ke area kecil. Didorong tepat ke posisi Cyclops, jadi sudah jelas mereka mencoba membantu usahanya.

Erangannya memenuhi telinga Shiden. Kini setelah Shana terbelah menjadi kupu-kupu, suaranya kurang keras dan lebih ke bisikan samar.

Dingin banget.

Jika dia menembak Shana sekarang, yang seluruh eksistensinya direndahkan menjadi dua kata, dia betul-betul akan menghilang. Shana akan tiada selamanya. Dan Shiden tak punya apa-apa lagi. Tidak ada keluarga atau kampung halaman. Budaya untuk diwariskan, warisan etnis untuk dijadikan sandaran. Tidak ada masa depan maupun impian ataupun angan-angan jelas tentang bagaimana masa kini seharusnya.

Banyak 86 lain bernasib serupa. Tetapi Shiden senantiasa berpikir entah bagaimana dia bisa mengatasinya, apa pun yang terjadi. Selama punya Shana dan anggota-anggota skuadron Brísingamen yang selalu bersamanya di Sektor 86 dan seterusnya, dia akan menemukan cara untuk bertahan.

Namun kini hari itu takkan datang.

Bukan karena dirimu yang tidak keberatan mati seperti itu—tapi dirimu yang memang ingin mati seperti itu.

Suara Shin terlintas di ingatannya. Dia bilang begitu di pangkalan abu-abu mutiara Teokrasi. Tempat yang walaupun adalah fasilitas militer, ada bau sterilnya di sana, seakan-akan menolak bau metalik tentara yang kotor. Pada saat itu, sang Pencabut Nyawa sungguh-sungguh mengetahui isi hati Shiden serta, keinginan mengerikan yang disembunyikannya.

Shin adalah orang yang pernah memendam keinginan serupa. Tidak tahu bagaimana hidup demi memenuhi harapan itu. Jadi melihat Shiden menginginkan kehancuran dengan cara yang sama seperti dirinya … membuatnya kesal. Sudah cukup membuatnya ingin menyeret Shiden dari jurang kematian, kendati Shiden menendang-nendang dan berteriak sepanjang waktu.

Takkan kubawa seseorang dengan tingkah semacam itu.

Iya. Itu benar. Karena itulah aku membuang tingkah itu. Tapi sekarang harus apa? Walau melepaskan keinginanku untuk mati selagi membunuhnya, bagaimana bisa aku hidup tanpanya? Tanpa mereka semua?

Kata-kata itu takkan pernah dia kasih tahu Shin. Dia tahu betapa menyedihkannya itu, dan dia takkan pernah memberi tahu Shin perasaan sesungguhnya karena perasaan malunya.

Jadi dia bertanya. Seseorang yang berada di sebelahnya tapi bukan seorang 86. Orang yang lebih tua, yang takkan menertawakannya atau bingung menjawab pertanyaannya.

“… hei.”

“… hei. Kapten Olivia. Boleh menanyakan sesuatu?”

Resonansi Para-RAID pribadi yang dianggap tak pantas di tengah operasi. Namun alih-alih memarahinya, Olivia mengerutkan kening saja. Cara bertanya wanita muda kasar ini yang seolah-olah memohon bantuannya, menyadarkannya kalau Shiden betulan masih gadis remaja.

“Kapten akan berbuat apa kalau jadi aku? Kalau menemui orang yang Kapten kenal di medan perang bagaimana? Kalau tidak bisa mengalahkannya tanpa mempertaruhkan nyawa …? Kalau Kapten bisa mati bersamanya?”

Waktu lama berlalu, Olivia terdiam. Orang yang Kapten kenal. Kalau dia, maka tunangannya. Tunangannya adalah korban jiwa Perang Legion, dan bisa saja dia diasimilasi. Dia boleh jadi masih berkeliaran sebagai Gembala, di suatu tempat di medan perang.

“Yah, aku akan bertarung. Mempertaruhkan nyawa, kayak katamu …. Tapi aku tidak akan mati.”

Betapa manisnya bila kematian bisa mengistrirahatkan tunangannya. Bila begitulah akhirnya. Akan jadi konklusi yang indah, puitis, dan memabukkan …. Semenenangkan hati dan semenarik kebohongan.

“Kenapa Kapten tidak mau mati?”

“Orang tua Anna masih menunggunya pulang. Di depan kuburan kosongnya. Aku mesti kabari mereka akhirnya.”

Semisal mereka menyalahkan Olivia karena tidak menjaganya, dia takkan dapat menyangkalnya. Tetapi orang tua mereka tidak begitu. Mereka senang melihatnya berkunjung setiap tahun, di hari peringatan kematiannya dan ulang tahunnya. Namun mereka pun memintanya untuk melupakannya.

Mereka terlalu baik kepadanya. Dia berhutang budi untuk membuat laporan itu.

“Aku harus melindungi tanah air yang dicintainya, dan tidak bisa kukatakan dengan tulus aku telah melindunginya kecuali semua Legion sirna. Aku harus merebut kembali pemandangan yang dicintainya …. Dan lagian ….”

Dan lagian, paling pentingnya.

“… jika aku mengalahkannya, aku akhirnya … diperkenankan menangis di kuburannya.”

Ketika pemakaman tunangannya—Anna Maria—Olivia tidak menangis. Maunya begitu, tapi tidak bisa. Tak meneteskan satu air mata pun. Karena dia tidak di sana. Iblis-iblis besi tua yang keji itu membawanya pergi. Jadi dia belum sepenuhnya diistrirahatkan, dan meneteskan air mata untuknya sekarang tidaklah benar.

“Aku harus memberikannya bunga dan menangisinya dengan benar, di setiap ulang tahun dan peringatan. Tiap tahun, hingga ajalku tiba …. Jadi aku tidak boleh mati dahulu. Tidak sampai melakukannya.”

Akankah dia menemukan cinta baru di tahun-tahun mendatang sebagaimana harapan orang tua tunangannya? Akankah dia menemui orang baru? Olivia masih belum tahu. Barangkali akan terjadi. Mungkin saja tidak.

Tetapi dia masih akan membawakan bunga untuknya setiap tahun. Dia tidak akan melupakan Anna Maria sepanjang hidupnya. Jadi sementara ini—paling tidak demi tunangannya, dia akan melanjutkan hidup.

Shiden tersenyum sedikit.

“Iya. Aku mengerti.”

Mengangguk, Shiden mengarahkan bidikan senapan laras halus 88 mm-nya ke Shana.

Baiklah, Shana. Aku belum menguburmu, dan belum mengunjungi makammu pula. Jadi kami yang bertahan—mungkin kami bisa bertemu kembali setiap tahunnya di hari operasi itu, terus kami bisa minum dan bersorak untukmu. Tapi sekarang, kami belum bisa melakukannya.

Cukupkah? Shin takkan bisa memaafkan dirinya sendiri hanya dengan itu, dan itulah alasannya dia berdiri membeku saat Lena melihat dirinya di medan perang satu tahun lalu. Kala dirinya bisa menghilang begitu saja di medan perang yang telah merenggut orang tersayangnya.

Namun sang Pencabut Nyawa lolos dari neraka itu. Jadi dia harus mencari jalan keluar juga. Lagian kalau si tolol itu bisa, mana mungkin Shiden tidak.

“Sampai ketemu lagi, Shana.”

Semua rekan-rekannya yang gugur sebelum dirinya.

Orang tuanya yang meninggal di kamp konsentrasi.

Adiknya yang gagal dia lindungi.

Dirinya, yang terjebak dalam Sektor 86.

Sampai ketemu lagi.

Aku takkan melupakan kalian semua. Kalian tidak akan menahanku lagi.

Dia menarik pelatuknya.

Dikarenakan inti kendali mereka terbakar, kelima turet railgun merosot ke bawah, seperti hewan yang lehernya patah. Panas api yang menggerogoti Halcyon dari dalam telah melebihi batas suhunya, memaksa sistem penggeraknya mengaktifkan fungsi mati darurat.

Inilah fase pertama mereka dalam rencana untuk menghancurkan Halcyon. Tugas unit lintas udara. Mematahkan kaki Halcyon dan menghancurkan taringnya—railgun—sebelum kartu truf umat manusia, Trauerschwan, siap dalam posisi menembak.

Dan mereka sukses. Meriamnya telah terbakar habis, dan otot buatannya tidak mampu menopang beratnya. Raksasa besar itu jatuh ke tanah dengan getaran mengemuruh nan keras.

Catatan Kaki:

  1. Pekerjaan tukang batu (dalam bahasa Inggris disebut “Masonry”) adalah pembangunan sebuah struktur dari “unit-unit individual” yang diikat (disatukan) dengan mortar. Istilah masonry dapat merujuk kepada “batu” sebagai unit individual tersebut.

https://id.wikipedia.org/wiki/Pekerjaan_tukang_batu

  1. Alfabet Fonetik Internasional /alfabet foˈnɛtɪk̚ intərnasional/[diskusikan] (Inggris: International Phonetic Alphabet, pengucapan bahasa Inggris: [ˌɪntəˈnæʃ(ə)nəl fəˈnɛtɪk ˈælfəˌbɛt] (pengucapan Britania) [ˌɪntɚˈnæʃ(ə)n(ə)l fəˈnɛɾɪk ˈælfəˌbɛt], [ˌɪɾ̃ɚ-] (pengucapan Amerika) ) atau disingkat IPA adalah sistem alfabet yang diterima dan dipakai secara luas sebagai medium rekam fonetik suara bahasa oral. Tidak seperti metode transkripsi lain yang umumnya terbatas pada rumpun bahasa tertentu, IPA mewakili keseluruhan fonem yang dengannya semua bahasa manusia dapat ditranskripsikan dalam bentuk tertulis dan dapat dimengerti dan diartikulasikan ulang.

https://id.wikipedia.org/wiki/Alfabet_Fonetik_Internasional

  1. Moster atau mustard (Belanda mosterd; Inggris mustard) adalah salah satu rempah-rempah yang berasal dari biji tanaman sesawi (beberapa jenis Brassica dan Sinapis) yang dihaluskan, sebelum diencerkan dengan air dan ditambah bahan-bahan lain. Rempah ini memiliki rasa agak pedas dan agak menyengat di lidah dan langit-langit mulut yang agak mirip dengan wasabi. Moster telah lama menjadi penyedap dalam khazanah boga Eropa.

https://id.wikipedia.org/wiki/Moster

  1. Bentuk jamaknya pilum, jadi pila itu pilum yang banyak, nah pilum itu sendiri adalah tombak berat yang dipake di Romawi kuno.

https://en.wikipedia.org/wiki/Pila

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments