Share this post on:

Di Manakah sang Burung Biru selama Ini?

Penerjemah: Jessie

“Jadi besok kau kembali ke Federasi, ya, bocah?”

Tentara terluka parah yang tetap dirawat di rumah sakit Negara-Negara Armada satu per satu dipindahkan ke rumah sakit Federasi. Theo yang terakhir. Dia dijadwalkan akan dipindahkan besok. Masa tinggalnya di kota tepi pantai utara ini rasanya sudah cukup lama serta, di saat yang sama semuanya seperti berlalu dalam sekejap mata.

“Iya …. Hmm. Terima kasih sudah bersedia menjaga saya selama ini …,” kata Theo sambil menunduk sedikit.

Ishmael mengerutkan kening lalu melambaikan tangan sepele.

“Hentikanlah. Kamilah yang mestinya berterima kasih.”

“Tapi, Kapten.”

“Aku sudah tidak lagi punya kapal untuk kukapteni, bocah.”

“… tapi Kapten ‘kan seorang kapten kapal. Saya tahu kapten sibuk, tapi kapten selalu menjenguk saya.”

Ishmael akan datang membawa mawar yang terlalu merah, dan mengambil kesempatan karena tentara yang dirawat tidak bisa membawa masuk makanan lezat lokal yang biasa digunakan penduduk Negara-Negara Armada untuk menarik turis.

Kali pertama, dia datang memakai kain besar, pura-pura jadi hantu. Gurauan basi yang cukup membuat Theo menjerit dan melempar benda kepadanya. Menyebalkan dan berisik …. Dan Theo sejujurnya berterima kasih atasnya. Dia akan jauh lebih depresi jika dibiarkan sendirian. Nanti pikiran tak diinginkan akan merusuh dalam benaknya.

Barangkali sedari awal sebaiknya dia dengarkan saja Ishmael dan merenungkan kata-katanya. Soal tinggal di dunia ini, meskipun kehilangan harga diri yang amat kau pegang.

Tak bisa merangkai kata yang tepat, Theo bergumam lirih.

“… saya boleh jujur?”

Pengakuan yang tidak dapat dia ungkapkan pada teman-temannya, Shin pun tidak. Dia tahu itu malah akan membebaninya, dan Theo tak menginginkan itu. Mengatakannya sekarang hanya seperti sebatas keluhan saja. Kedengarannya dia jadi merengek, dan dia tidak mau teman-temannya memikirkan rengekannya. Namun pria ini … mungkin akan mendengarkan.

“Saya tidak mau … berhenti jadi seorang Prosesor.”

Selagi Theo bicara, sesuatu yang basah mengalir di pipinya dan menetes ke lantai.

“Saya tidak pernah menginginkan perang, tapi saya tentu ingin bertarung bersama mereka sampai tidak ada lagi pertarungan yang dilawan. Saya mau pergi dengan mereka ke operasi selanjutnya … saya benci ini. Saya benci semuanya berakhir seperti ini, padahal segalanya masih belum jelas.”

“… iya.” Ishmael mengangguk rendah-rendah.

Mata zamrudnya sedalam dan setakterukurnya lautan selatan. Theo tidak mampu mengingat ayahnya, tetapi matanya boleh jadi berwarna sama.

“Pastinya terasa begitu. Aku tidak akan bilang akan memahami perasaanmu, tentu saja. Hanya saja tidak sesederhana itu.”

“Kapten tidak mengerti. Maksud saya, Stella Maris—”

“Benar. Itu pelayaran terakhirnya.”

Kerusakan dari Noctiluca tak membuat kapal besar itu sepenuhnya tak sanggup bergerak, namun Negara-Negara Armada tidak bisa memperbaikinya. Sebagaimana Divisi Penyerang yang sudah diberitahu selama operasi, mereka tak bisa lagi membangun ulang Armada Orphan. Seluruh material yang mereka miliki hanya digunakan untuk meningkatkan potensi pembangunan ulang armada setelah perang. Tapi berapa lama mereka bisa terus mengatakan itu? Sekalipun peperangan berakhir, mereka butuh waktu berabad-abad untuk mengambalikan armada ke masa keemasannya.

Kapal induk besar, kapal anti-leviathan, kapal jelajah …. Pembuatannya tidak dilakukan atas inisiatif Negara-Negara Armada. Melainkan lewat bantuan Kekaisaran Giad.

Dan teknik pembuatan kapal tidak berguna dalam Perang Legion. Baik Theo ataupun Ishmael tak tahu seberapa banyak pengetahuan itu akan diwariskan ke generasi mendatang. Bisa saja tak diturunkan, atau bisa jadi, Federasi tidak akan berkenan membantu pembangunan ulangnya. Armadanya tidak akan pernah dibuat ulang.

“Aku berhenti menjadi bagian dari klan Laut Lepas. Begitulah keadaannya selama bertahun-tahun kami memburu potongan-potongan suku cadang itu.”

Namun Ishmael tetap harus melanjutkan hidup. Memegang teguh kehidupan, agar tak mempermalukan mereka yang sudah gugur.

Ishmael melakukannya. Theo pun juga. Dan maka dari itu ….

“Saya harap saya juga menemukan suatu hal,” kata Theo. “Hal baru untuk dipegang.”

“Akan kau temukan. Tidak usah buru-buru. Aku mencari dan mengembara bertahun-tahun. Karena itulah … saat kau tersesat, tidak tahu lagi mau ke mana, aku akan mendengarkan, bocah. Lagi pula kita berhubungan. Kendatipun hubungan itu seribu tahun lamanya.”

Dia bilang hal yang persis sama ke Theo sebelum operasi Mirage Spire. Namun kali ini, Theo tersenyum sarkastik. Dia tidak lagi merasakan penolakan dan penyangkalan gamblang yang selama ini menyelimuti dirinya.

Frederica pernah bilang kalau orang terdiri dari tanah air tempatnya dilahirkan, darah yang mengalir di nadinya, dan ikatan yang dibuatnya. Kata-kata itu ada benarnya, namun di waktu bersamaan, salah juga. Orang-orang dan tentunya 86, tidak bisa cuma sekadar memegang identitasnya. Mereka butuh tempat berpulang. Orang-orang untuk diajak hidup bersama. Semua orang butuh.

Namun dulu, bahkan sampai sekarang—mereka tidak sendirian. Mereka punya rekan-rekan. Theo punya Shin, Raiden, Anju, dan Kurena. Rekan-rekan tersebut adalah tempatnya berpulang, ikatan yang membentuknya. Mereka saling membentuk satu sama lain, saling mendukung.

Bahkan kini, ketika tidak sanggup bertarung lagi, dia masih ingin percaya dirinya bisa kembali ke sisi mereka jika menginginkannya. Sebab itulah dia bisa menjalani hari-hari tanpa kehilangan jati dirinya.

Karena rekan-rekannya memperbolehkan Theo menaruh kepercayaan kepada mereka.

Dan di titik inilah dia menyadari Grethe dan Ernst—Federasi juga mencari mereka.

Ikatan darah. Ikatan tanah air. Hal-hal yang hilang dari mereka.

Bisa didapatkan lagi.

Hal-hal itu tidak dimilikinya sejak lahir, seperti keluarga atau tanah airnya. Itulah hal-hal yang dia raih di ujung jalannya. Biarpun kehilangan semua itu, dia masih bisa menemukan hal baru untuk dipegang dan tempat anyar untuk ditinggali. Dia bisa menemukan seseorang untuk diandalkan selama waktu-waktu terberatnya. Contohnya kerabat yang punya hubungan seribu tahun ini.

“… makasih, Paman,” ucap Theo.

Ishmael mengernyitkan kening tak nyaman.

“Paling tidak panggil aku kakak. Ayo, katakanlah.”

Theo tersenyum. Ibarat senyum keponakan kepada paman jauh yang hanya sedikit lebih tua darinya.

“Tidak, ah.”

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments