Share this post on:

Medan Perang Abu

Penerjemah: Melina

Abu berjatuhan layaknya salju.

Shin berjalan di hanggar sementara, memakai sarung tangannya dan seketika suara seorang perwira pengendali dari Noiryanaruse menggelegar ke seluruh bangunan. Aksennya aneh; intonasi suaranya menjadikan semua perkataannya seperti doa.

Hanggarnya penuh Reginleif yang dibariskan. Semuanya adalah unit-unit Divisi Lapis Baja ke-1—atau batalion garda depan, sebab mereka dipanggil ke dalam operasi ini. Jumlahnya lebih sedikit dibandingkan pertama kali Divisi Penyerang dikerahkan, jadi Stollenwurm dan Alkonost mengisi bagian-bagian yang kosong.

Tanda Pribadi Laughing Fox tidak terlihat di manapun.

… Theo.

Terlintas pikiran di benaknya kalau Theo barangkali sedang dipindahkan ke rumah sakit Federasi sekarang. Lalu menggelengkan kepalanya pelan-pelan. Operasi baru akan dimulai. Bukan waktunya merenungkan hal lain.

Salah satu karakteristik fasilitas militer Teokrasi Suci adalah fasilitas tersebut dibangun dengan tujuan sepenuhnya terisolasi dari luar. Kombinasi dinding luar dan jendela transparan yang dirancang khusus membuat sebuah segel kedap udara di sekeliling hanggar sementara tempat Shin berada. Sedangkan udara disaring oleh ventilasinya.

Mungkin sebab itulah hanggar ini tak ada bau-bau umum debu atau logam terbakar, hasilnya adalah suasana ruang keagamaan yang suci dan bersih. Rasanya sama sekali bukan seperti instalasi militer. Dinding, lantai, serta langit-langitnya dari bahan-bahan berwarna mutiara keabuan yang ada kilau khususnya.

Berdiri di tengah-tengah pemandangan ini adalah bayangan hitam besar. Berdiri di depan barisan Reginleif, rangka besarnya nyaris menyentuh langit-langit. Lapisan berwarna abu-abu gelapnya yang bak bayangan malam mengisyaratkan semua kehidupan ‘kan jatuh ke tidur abadi.

Armée Furieuse. Penunggang Hantu.

“Kalau begitu mari konfirmasi operasinya, Kolonel Vladilena Milizé.”

Dibanding desain militer Federasi yang tak sebersih itu, markas besar Korps Angkatan Darat ke-3 Teokrasi Noiryanaruse, Shiga Toura, kelihatan semacam tempat suci sakralnya kaum pagan.

Panjang dan lebar atap elips dihias sesuatu yang terlihat seperti vena daun perak, sementara langit-langitnya sendiri dari kaca buram1. Lantai dan dindingnya dipoles bagaikan cermin, dicat warna abu-abu mutiara yang berkilau seperti serpihan pelangi.

Bagian dalam kubah kaca2 terdiri dari layar holo berbentuk khusus yang menampilkan segala macam rekaman. Gambar bercahaya diproyeksikan ke tengah udara, membuat konsol panel sentuh. Proyeksi-proyeksi ini dioperasikan oleh tentara bertudung. Ditambah seragam abu-abu mutiara, kesannya mereka seorang biksu.

Separuh bagian depan kubah kaca markas besar memproyeksikan peta operasi ke layar holonya. Seraya Komandan Korps Angkatan Darat ke-3 bicara, satu titik di seperempat peta utara, wilayahnya Legion, mulai berkedip-kedip.

“Target kita berada di sektor kosong. Kita harus menghancurkan unit Legion baru yang telah maju sekitar tujuh puluh kilometer dari lini depan—tipe Pabrik Penyerang yang disebut Jiryal Cuckoo. Pasukan yang berpartisipasi adalah Korps Angkatan Darat ke-3, Shiga Toura, dan Korps Angkatan Darat ke-2, I Thafaca. Selain itu, kali ini akan disertai Brigade Ekspedisi Federasi—Divisi Lapis Baja ke-1 Divisi Penyerang dan dua resimen yang merangkai Resimen Bebas Myrmecoleo.”

Suara yang wibawanya kecil dan abstrak ini terdengar bergema seolah bunyi dentingan pecahan kaca tak terhitung jumlahnya saling bertabrakan. Resonansinya bergema seakan-akan derai lembut tetes air hujan di atas tanah liat. Lena dengan bingung balas menatap sosok tersebut … dua minggu setelah Divisi Lapis Baja ke-1 dikerahkan ke Teokrasi Suci, dia tidak terbiasa oleh kehadiran komandan korps ini.

Merasakan tatapan Lena, gadis lembut dan mungil dengan rambut seemas sinar matahari ini cekikikan.

“Sepertinya para komandan negara-negara barat sudah terbiasa dengan saya sekarang, tetapi ketika pertama kali bertemu, mereka sedikit terperangah. Melihat seseorang setercengang itu adalah kejutan yang memuaskan.”

Dia adalah jenderal suci kedua, Himmelnåde Rèze.

Gadis ini adalah komandan korps Korps Angkatan Darat ke-3 Teokrasi Suci yang bekerja sama dengan Lena serta Divisi Penyerang selama ekspedisi ini.

Iya, komandan korps.

Tergantung negaranya, definisi korps bisa saja berubah, namun biasanya adalah unit besar yang terdiri dari beberapa divisi dan mencakup sekitar seratus ribu tentara. Grethe memimpin satu brigade dan resimen yang lebih kecil dari divisi, namun fakta dirinya dilimpahkan kewenangan tersebut padahal masih umur dua puluhan adalah pengecualian sebab kondisi perang. Seorang gadis remaja menjabat sebagai komandan korps itu lebih dari sekadar luar biasa. Itu aneh.

Memang, pangkatnya tidak setinggi Vika yang memimpin pasukan darat tanah airnya—yang terdiri dari beberapa korps. Namun Kerajaan bersatu adalah monarki despotik di mana raja memegang wewenang tertinggi militer, lalu Vika adalah pangerannya. Wajar saja anak raja akan dipercayakan sejumlah kekuasaannya.

“Mohon maaf, Jenderal Kedua Rèze. Saya dengar ini tak dianggap tidak lazim di Teokrasi Suci sini, namun ….”

“Tolong panggil aku Hilnå. Kolonel kurang lebih seusia kakak perempuanku. Aku akan senang jika Kolonel memperlakukan aku seperti seorang adik perempuan.”

Lena tidak mampu menyembunyikan kebingungannya, dan Hilnå tanggapi dengan tawa kecil nyaring yang nyaman didengar. Rambut pirang tergerai dan halusnya sesamar sinar matahari musim semi. Mata Hilnå bercorak emas yang seterang dan sehangat awal sore hari. Bahunya mulus seperti sayap angsa dan lengan halusnya disembunyikan pakaian putihnya. Dia memegang tongkat komando yang lebih tinggi dari dirinya; tongkat berbentuk tabung kaca dengan tambahan lonceng yang berbunyi setiap kali digerakkan.

Senyum indahnya yang tak berubah, nadanya sama sekali tidak mengandung kebencian.

“Memang sifat manusia yang lebih menyukai kebejatan, dan umat manusia sering kali diajarkan untuk terus mengejar hal duniawi dan hina. Maka dari itu, saya tidak bisa menyalahkan orang asing yang tidak mematuhi ajaran teguh keyakinan suci Noirya kami. Saya terutama tidak mengharapkan pengertian dari orang-orang Republik berderajat rendah yang menolak mengabdikan diri pada tugas dewi bumi. Kami mengetahuinya selama tiga abad dan tak keberatan.”

“….”

Sebelum berangkat, Grethe sudah memperingatkannya tentang hal ini. Dia menjelaskan cara berpikirnya Teokrasi Suci kemungkinan akan membingungkannya, jadi dia beri tahu lebih dulu. Memikirkannya, Lena mendesah dalam hati. Setiap kali bicara sama Hilnå atau perwira staf Teokrasi, dia menyadari betapa berbedanya nilai inti mereka.

Negara-negara barat jauh—dengan Teokrasi Suci di pusatnya—memeluk agama bernama Noirya. Mereka anggap dewi bumi dan takdir yang diatur-Nya sebagai kedewataan yang absolut. Keyakinan tersebut mendasarkan bahwa sang dewi menganugerahkan orang-orang suatu peran yang harus mereka penuhi. Semua jiwa yang dilahirkan ke keluarga mereka demi memenuhi peran ini.

Noirya adalah agama nasional Teokrasi Suci, dan doktrinnya dipatuhi dengan sungguh-sungguh, bahkan dianggap lebih utama daripada hukum negara. Di Teokrasi Suci, seseorang tidak memilih profesinya sendiri, dan rumah tangga dilihat sebagai faktor paling penting dalam pernikahan. Individualisme dan kebebasan memilih sama sekali tidak ada.

Seorang perwira militer Teokrasi yang selama ini berdiri diam perhatian di sebelah Hilnå, berdeham keras. Bahu Hilnå berkedut, seolah baru saja ditegur.

“Ah …. Mohon maaf. Barusan aku mengatakan hal tak sopankah?”

Mata emasnya jelalatan gugup, seakan kucing dimarahi. Iya, terlepas perkataannya, Hilnå tidak bermaksud apa-apa dengan itu. Hanya saja secara fundamental cara berpikirnya sedikit tak seperti Lena.

Dan lagi, bahasa Teokrasi Suci berbeda dari bahasa umum Republik dan Federasi. Akan tetapi, Hilnå, bicara dengan bahasa umum sama seketika Lena dan Divisi Penyerang dikerahkan ke Teokrasi Suci, untuk mengakomodasi mereka. Bicaranya lancar sekali sampai-sampai Lena terkadang lupa ini bukan bahasa pertamanya.

“Tidak, jangan biarkan itu mengganggu Hilnå …. Juga, Hilnå, jangan ragu memanggil saya Lena.”

Ekspresi Hilnå menerang. Dalam hal ini, dia adalah seorang gadis yang tiga tahun lebih muda dari Lena.

“Oh, terima kasih banyak, kak Lena!”

Perwira staf batuk kering lagi. Kali ini, Hilnå mengangkat bahu tinggi-tinggi. Pandangan mata perwira staf itu tetap ke depan, namun pandangannya ada kasih sayang lembut yang diarahkan ke seorang adik perempuan serta rasa hormat mendalam yang ditunjukkan ke tuan putri menawan mereka. Hati Lena jadi hangat. Komandan korps kecil ini pasti sangat dicintai bawahan-bawahannya.

“Kalau begitu, Hilnå, ada yang mau  saya tanyakan. Kok bisa Hilnå menemukan Jiryal Cuckoo padahal jaraknya tujuh puluh kilometer dari lini depan?”

“Para peramal di divisi ramalan mendeteksinya,” jawab Hilnå.

Melihat mata kebingungan Lena, perwira staf menambahkan:

“Kami memanggil orang-orang yang berkemampuan psikis Heliodor sebagai peramal, Kolonel. Mungkin lebih bagusnya digambarkan sebagai kemampuan mendeteksi dini ancaman yang mendekati diri pribadi dan kerabat serta rekan. Tak seperti kewaskitaan Pyrope dan penglihatan masa depan Sapphira, para peramal tak dapat mengamati ancamannya secara nyata, namun gantinya radius efektif deteksi mereka jauh lebih luas. Perwira-perwira peramal dari generasi kami sanggup mendeteksi seluruh area di sekitar negara-negara sahabat ujung barat jauh.”

“Para peramal dipercaya sebagai salah satu alasan besar Teokrasi Suci kami dan negara-negara tetangga mampu mempertahankan tanah air mereka. Katanya di zaman kuno, jauh sebelum Teokrasi Suci didirikan, ada sebuah ramalan yang jangkauan deteksinya melebihi seratus ribu kilometer.”

Mengingatkan Lena akan Shin yang kemampuannya seluas keseluruhan Republik hingga front barat Federasi …. Walaupun seratus ribu kilometer rasanya seperti angka yang dilebih-lebihkan.

Hilnå melanjutkan:

“Sesuai ucapan perwira staf, para peramal tidak punya penglihatan nyata mengenai ancaman yang mereka rasakan. Kami mengirim pengintai jauh ke dalam wilayah Legion, dan demikianlah cara kami menemukan raksasa itu, Jiryal Cuckoo.”

“Dari pengamatan awal Teokrasi Suci, Halcyon diperkirakan merupakan versi peningkatan Weisel. Untunglah artinya mewarisi kecepatan gerakan lambat Weisel yakni beberapa kilometer per jam.”

Tidak seperti Federasi, Republik, Aliansi, dan Kerajaan Bersatu, yang punya bahasa umum sama dengan aksen berbeda-beda, bahasa Teokrasi Suci beserta negara-negara barat jauh memberi aksen unik kepada para penuturnya. Maka dari itu, Shin dan perwira-perwira Federasi kesulitan menyebut kata-kata mereka.

Karena itulah, tatkala militer Federasi berkomunikasi dengan sesama, mereka menggunakan sebutan berbeda untuk tipe Pabrik Penyerang: Halcyon. Seperti halnya Teokrasi Suci, nama itu bersumber dari citra burung dunia bawah.

Halcyon3. Burung legendaris yang konon hidup di lautan utara.

Melihat ke depan, Frederica melangkah maju dan memberengut.

“… biar begitu, ini cukup merepotkan. Singkatnya, berarti Halcyon telah bergabung dengan Noctiluca. Aku yakin kita bisa tetap menyebutnya Noctiluca.”

“Itu cuma teori, mengingat situasinya. Kita tidak bisa memastikannya sampai menghancurkannya kemudian menyelidikinya.”

Walaupun sebetulnya, kemampuan Shin sudah cukup untuk mengonfirmasi perkara itu. Setibanya di Teokrasi Suci, dia mendengar Noctiluca, dan tak lama kemudian menyimpulkan sumber suara tersebut serupa dengan yang militer Teokrasi Suci gambarkan sebagai Jiryal Cuckoo.

Tetapi di luarnya, mereka mesti berpura-pura informasi ini tidak lebih dari sebuah hipotesis. Mereka bahkan tak boleh mengungkap keberadaan Para-RAID ke Teokrasi Suci, dan secara ketat diperintahkan agar hanya menggunakan radio untuk berkomunikasi sehingga merahasiakan keberadaan Perangkat RAID.

“Benar …. Kalau begitu karena Legion ini bisa saja Noctiluca, mengapa tak menembaki kita padahal sudah masuk jangkauan efektifnya?”

“Kita sedikit di luar jangkauan efektif, jadi barangkali bermaksud membombardir lini depan dan belakangnya lini belakang sekaligus. Begitu prediksi kami, dengan ukuran sebesar itu, tidak mungkin bisa menembak dan bergerak di waktu bersamaan.”

Sejauh bagaimanapun jarak tembak musuh, kecepatan gerakannya sangatlah lambat. Dia harus berhenti bergerak tiap kali menyerang, jadi taktik teroptimalnya adalah mendekat sedekat mungkin terus menembak dan menyapu seluruh barisan musuh sekali geerak.

Dengan demikian, Shin menyipitkan mata. Masuk akal bila Teokrasi panik.

“Jangkauan Morpho atau Noctiluca, tergantung dari mana musuh menembak, bisa saja dengan mudah membombardir seluruh wilayah Teokrasi. Seburuk-buruknya, satu unit Legion ini dapat menghancurkan keseluruhan negara.”

“Jadi, anu, misi kita adalah menghancurkan Halcyon sebelum mencapai posisi menembak yang diprediksi, ‘kan?”

Rito memimpin Batalion ke-2 menggantikan Yuuto, dan Michihi mengomandoi Batalion ke-3. Mereka diposisikan lima belas kilometer di depan Armée Furieuse, dekat lini depan.

Mereka berada di gudang pasokan amunisi dan bahan bakar yang disamarkan. Bahkan gudang prefabrikasi yang disamarkan punya warna abu-abu mutiara. Seorang penerjemah Teokrasi memberi tahu mereka agar sebaiknya duduk di Feldreß karena kedap udara. Lantas mereka naik ke kokpit unit masing-masing. Rito bicara sambil memanggil peta operasi ke layar optiknya.

Dia merasakan senyum sarkastik Michihi lewat Para-RAID dan radio yang diaktifkan bersama-sama.

“Bagiku ini melewatkan banyak langkah, Rito. Kedengarannya ibarat kita semua bakalan menyerbunya.”

“Aku tahu, aku tahu. Pertama-tama, militernya Teokrasi akan melancarkan serangan ke Legion secara langsung untuk menahan mereka. Di sisi lain batalion garda depan Kapten Nouzen dan kita-kita di pasukan utama akan bersembunyi, bukan? Orang-orang Teokrasi kuat banget. Mereka sanggup sendirian mengurus pengalihannya.”

Bahkan dari sudut pandang mantan tentara anak-anak seperti Rito, militer Teokrasi terlihat teliti, disiplin, dan tangguh. Fasilitas serta peralatan mereka jauh lebih sedikit dibanding negara besar seperti Federasi, namun semangat juang mereka tinggi dan kedua unit yang dikerahkan ke lini depan serta tentara yang menjaganya terus siap siaga.

Tapi rasanya mereka lagi menyembah komandan korps. Mereka membawa-bawa potret dirinya kemudian akan berdoa di depan gambarnya setiap kali ada kesempatan atau menyebut namanya. Bendera yang ada gambar wajahnya berkibaran di sekitar mereka, lalu pujaan tentara yang wajahnya ditutupi bisa didengar di mana-mana. Intensitas religius seluruh kejadian ini rasanya tak menenangkan, tapi yang paling parahnya ….

“… jelas itu yang paling ngeri.”

Rito cepat-cepat mengarahkan pandangannya ke para prajurit. Tentara Teokrasi yang berjalan di luar hanggar dilingkupi seragam penerbangan abu-abu mutiara yang menutupi seluruh tubuh mereka dari kepala sampai kaki, mereka pun memakai topeng dan kacamata yang menyembunyikan wajah dari pandangan. Mereka mempilot Feldreß berbentuk aneh yang sewarna dengan seragam mereka.

Pemandangan itu laksana deretan kuda megah yang ditunggangi kavaleri  tak berwajah di tengah salju abu.

“Aku mengerti maksudmu, tapi mereka tak punya pilihan. Medan perangnya Teokrasi …. Sektor kosong penuh dengan abu.”

Semenanjung Severed Head, letaknya di paling ujung barat benua. Atau nama lainnya—sektor kosong. Tanah kosong ditutup abu vulkanik yang telah menghujaninya selama beberapa abad. Gunung berapi di tengah semenanjung telah aktif, mengepulkan asap dan abu vulkanik berjumlah besar alhasil tanahnya tak ramah untuk kehidupan manusia.

Karena keseluruhan penduduk negara dan satwa liar melarikan diri dari daerah sana, sebidang tanah tersebut telah ditinggalkan selama ratusan tahun. Saat ini, matahari telah dihalangi abu dan asap yang membentengi langit, dan permukaannya dihalangi lapisan abu tebal. Logam berat yang dibawa magma telah mencemari perairan, menciptakan tanah tak bertuan sesungguhnya.

Sebagian besar Legion penyerang yang dihadapi Teokrasi menjadikan sektor kosong sebagai wilayah pengaruh utama mereka. Makanya, medan perang Teokrasi berpusat di sekitar wilayah vulkanik ini.

Karena inilah seragam Teokrasi aneh dan desain Feldreß-nya unik.

Abu vulkanik merupakan hasil semburan magma cair dari bawah tanah yang naik ke permukaan sebagai partikulat padat. Pada dasarnya adalah pecahan kaca alami yang sangat mini. Bagian ujungnya teramat tajam dan mudah merusak kulit serta bola mata. Menghirupnya dalam waktu lama bisa menyebabkan kerusakan serius pada paru-paru. Sederhananya, bukanlah medan perang yang bisa manusia hadapi dengan tubuh tanpa perlindungan.

Oleh sebabnya, seluruh tentara Teokrasi memakai pakaian lingkungan, tak terkecuali, kapan pun berjalan ke luar hanggar. Katanya, militer mereka tak punya pangkat yang sesuai dengan tentara infanteri. Alih-alih dihadiri infanteri, Feldreß-nya Teokrasi menggunakan unit ekstensi bergerak kecil untuk memberi tembakan perlindungan di medan perang.

Rito bisa mendengar Michihi tertawa kecil.

“Tapi kau akur sama pilotnya ‘kan, Rito?”

“Wah, iya. Aku tidak mengerti mereka ngomong apa, tapi main sama mereka cukup menyenangkan.”

Pilot-pilot tersebut adalah tentara anak-anak yang seusia para Prosesor. Mereka cukup penasaran saat melihat orang asing pertama kalinya sejak kali terakhir yang tak bisa mereka ingat. Kapan pun ada waktu, mereka akan menjambangi barak-barak Divisi Penyerang untuk bercengkerama. Mereka membagikan manisan, main kartu, atau sekadar berkompetisi hobi favoritnya militer, push-up.

Di penghujung hari, mereka uji nyali dengan tebak-tebakan teh, berharap tidak dapat teh yang dicampur saus cabai sama rempah-rempah khusus Teokrasi. Paling tidak sampai Shin dan seseorang yang kelihatan seperti perwira senior Teokrasi menginterupsi dan memarahi mereka.

Kebetulan ketika itulah mereka menunjukkan potret komandan korps ke Rito. Seorang gadis Citrine dengan rambut pirang cerah dan mata emas. Mereka menyimpan potret-potret ini kayak harta berharga, ibarat menyuguhkan gambar putri peri.

Rema refoa, Himmelnåde. Tsuriji yuuna, Rèze.” Kasarnya artinya, “Kami menghormatimu, Nona Himmelnåde. Rèze, sang bintang pemandu kami ….”

Perwira staf yang menghadiri pengarahan mereka mengartikan arti kata-kata tersebut. Perwira ini bisa bahasa Federasi, dan kala mengucapkannya, dia taruh tangannya ke saku dada seragam abu-abu mutiaranya. Mungkin ada liontin atau semacamnya di dalam yang berisi potretnya, sebab dia nampak seperti pemeluk agama yang saleh saat melakukannya.

Perbuatannya adalah definisi dari penyembahan; kafanatikan; keyakinan.

86 yang tidak percaya adanya Tuhan ataupun surga, tak kenal satu seorang pun yang pernah bersikap begitu.

Di luar hanggar, tempat Reginleif berdiri siap, Rito bisa mendengar pujaan sama dari seluruh medan perang bersalju abu sektor kosong. Inilah yang memberitahunya bahwa operasi telah dimulai. Prajurit-prajurit tanpa wajah Teokrasi berteriak memuji tuan putri pejuang mereka.

Rema refoa, Himmelnåde!

Tsuriji yuuna, Rèze!

Maka dimulailah tahap pertama operasi. Korps militer Teokrasi meluncurkan serangan mereka, menjadi pengalih.

Ibarat menjawab pujaan gembira lewat jalur komunikasi, Hilnå mengangkat tongkat komandonya di satu tangan, menggetarkan bagian teratasnya yang layaknya mutiara untuk membunyikan loncengnya. Lonceng kaca berdentang dengan jelas dan dingin.

“Demi takdir negeri dan harga diri rakyatnya, Shiga Toura, maju! Pertempuran di negeri ini adalah perang kita. Kudoakan peran kalian dijalankan dengan sempurna!”

Perintah Hilnå kelewat jelas dan bergema jauh nan manis di sepanjang medan perang abu. Namun saat setelahnya, gema lirih suara bak pasir silka yang berkilauan digantikan raungan juga teriakan tempur tentaranya.

Pemandangan itu membuat Lena terperangah. Dia tak pernah memerintahkan pasukan sebesar ini.

“Ini … luar baisa,” katanya, terkagum-kagum.

Hilnå lebih muda dari Lena, namun kepemimpinan dan keahlian komandonya menakjubkan. Reaksi pasukannya hanya dapat dijelaskan dengan kalimat pengabdian sungguh-sungguh—bahkan bisa disebute fanatisme. Tatapan Hilnå tetap tertuju ke layar depan, dan tidak melirik Lena sama sekali. Di layar tersebut ada lambang unit Korps Angkatan Darat ke-3, Shiga Toura: seekor kuda abu-abu belang-belang yang cepat.

“Semua orang tua, saudara-saudari, dan anak-anak korpsku telah dihabisi Legion,” kata Hilnå.

Mata Lena membelalak kaget. Mereka yang lahir di Teokrasi punya profesi yang telah ditentukan oleh keluarga yang melahirkan. Prajurit dilahirkan oleh keluarga tentara, yang artinya seluruh prajurit yang gugur selama sebelas tahun terakhir adalah kerabat para prajurit yang sekarang tengah bertempur.

Lima divisi yang membentuk korps ini semuanya menghormati simbol berkibaran tersebut, mengernyitkan bibir merah mereka seolah menahan air mata.

“Aku pun sama.”

Komandan korps lima belas tahun ini adalah bagian dari keluarga pejuang.

“Aku kehilangan keluargaku karena Legion. Keluarga Rèze adalah keluarga para santo dengan pengaruh politik yang cukup besar. Untuk menghormati peran tersebut, tatkala perang pecah sebelas tahun lalu, anggota Keluarga Rèze menjadi jenderal perang. Dan mereka semua mati. Semuanya … kecuali aku.”

Santo adalah gelar yang diberikan kepada pendeta tertinggi dari agama Noirya. Dalam Teokrasi, pendeta dipandang sebagai pejabat pemerintah, sekaligus komandan militer.

Namun biarpun Hilnå terlalu muda untuk berdiri di medan perang selama terjadinya perang, seluruh keluarganya yang tiada …. Pertarungannya pasti terlampau sengit.

Mata Hilnå yang seemas matahari terbenam, sesaat dipenuhi cahaya terang. Namun sewaktu dia berbalik, wajah pucatnya meraih kembali senyum lembut sebelumnya.

“Karena mereka tahu semua orang sangat menyukaiku. Kami kehilangan keluarga kami, bagaimanapun …. Semua orang kehilangan keluarganya.”

Juggernaut-Juggernaut yang berdiri dekat Armée Furieuse telah diberikan perintah. Mempilot Wehrwolf, Raiden berdiri dekat Shin dalam mode siaga dan mengaktifkan interkom dengan satu tangan. Shin berbalik dan melihat ke arahnya.

“Shin, Korps Angkatan Darat ke-3 dan ke-2 Teokrasi telah melaksanakan pengalihannya. Kita juga harus segera bergerak, agar pas jadwal.”

“Diterima. Frederica, sana ikut siap-siap pergi.”

Selagi mata merah darah memandangnya dan bicara dengan suara tenang, Frederica mengangguk patuh. Di operasi ini, Frederica takkan menetap di pusat komando bersama Lena tetapi bergabung dalam pertempuran sebagai personel pengamat, memanfaatkan kemampuannya. Dia dikerahkan bersama pasukan utama brigade di belakang lini depan, seperti Rito dan Michihi, di sanalah dia bekerja dengan batalion artileri.

“Sementara unit pengalih Teokrasi memancing Legion menjauh, batalion garda depanmu akan maju ke belakang lini depan dan menahan jangkauan operasi Halcyon. Di sisi lain, kami di pasukan utama akan masuk melalui celah pengalih dan maju enam puluh kilometer ke wilayah Legion untuk menghancurkan Halcyon … benar? Kau tahu sendiri, aku paham betul sama situasinya. Kau bisa mengandalkanku.”

Shin mengangguk. Namun mendadak, Frederica menatapnya, senyum hilang dari bibirnya.

“Sudahkah mengumpulkan tekad untuk menggunakanku, Shinei?”

Dia tak membicarakan perannya sebagai asisten pengamat di operasi ini. Maksudnya adalah menggunakan wewenangnya sebagai maharani terakhir Kekaisaran untuk mematikan Legion secara permanen.

“… jujur, lebih baik tidak,” kata Shin sambil buang napas.

Dia seorang 86, dan dia membanggakan pertarungan hingga tarikan napas penghabisan. Menaruh nasib umat manusia ke bahu seorang gadis dan mengorbankan satu orang anak untuk mengakhiri perang …. Kebaikannya merupakan sesuatu yang tidak dapat dia terima ….

Namun karena sifat bersikerasnya, salah satu rekannya tak mampu lagi bertarung. Sepahit apa pun mesti dia akui, Dia tak memalingkan pandangannya dari kenyataan kejam yang tak tahu rupanya di masa depan.

“Tapi aku ingin pengorbanan Theo menjadi yang terakhir. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuknya, tapi aku bisa mengubah ini …. Harus bisa.”

Tak hanya demi sesama 86 atau rekan-rekannya dari Divisi Penyerang. Agar hidup banyak tentara di sepanjang medan perang yang melawan Legion tidak direnggut.

Frederica terus menatapnya dan tulus menuangkan pikirannya ke kata-kata. Sehingga Shin tak mesti menanggung beban keputusannya seorang.

“Sudah kuberi tahu, ‘kan? Bahkan aku pun takkan selamanya jadi anak kecil. Raiden dan Vladilena sudah menanyakanmu hal ini, dan akan kutanyakan juga. Andalkan aku, sebagaimana kau mengandalkan mereka, tidak ada bedanya dengan meminta bantuan rekan dalam pertempuran …. Jangan sungkan.”

“Takkan kulakukan sampai aku siap. Fakta diriku yang tidak mau mengorbankanmu takkan berubah.”

“Sepertinya aku dikutuk dengan seorang kakak yang keterlaluan protektif …. Tapi yasudah. Kau takkan mau bertindak sama seperti halnya Republik.”

Dia bicara sembari tersenyum masam, kemudian ibaratnya menyadari sesuatu, dia menambahkan:

“… akan tetapi, sehubungan kartru truf merepotkan yang mereka buat kali ini. Seprotektif bagaimanapun dirimu, aku minta jangan pernah menempatkanku dalam hal semacam itu lagi.”

“Iya ….”

Desain Halcyon terinspirasi dari Weisel dan Noctiluca—dan besarnya bukan main. Turet 88 mm Reginleif takkaan memberi kerusakan signifikan. Bahkan turet 120 mm Vánagandr atau 125 mm-nya Barushka Matushka kurang kekuatan untuk menghancurkannya.

Sebab itulah senjata baru ini diperkenalkan. Inilah alasannya mereka perlu personel pengamat. Karena senjata baru ini adalah ….

“… ini cuma taruhan nyawa lain lagi, bukan?” tanya Frederica dingin.

“Fakta kali ini mereka punya tindakan pencegahan sudah terhitung peningkatan, sih,” jawab Shin.

Tiba-tiba, sebuah suara memotong percakapan mereka.

“Aku yakin mereka yang kekurangan senjata dalam skala dan kebesaran angsa hitam kami akan bicara dengan cemburu. Karena inilah aku mendapati rakyat jelata rendahan sangat tidak menyenangkan. Persis serupa anekdot usang tentang rubah3 yang mencela hal yang tidak bisa didapatkannya, rakyat jelata memandang bangsawan dengan kecemburuan kecil.”

“… mohon maaf?” Frederica mengangkat alis.

Walaupun pertanyaan lebih baiknya adalah ….

… ini siapa?

  Shin terkejut oleh suara merendahkan yang menyela percakapan mereka. Suaranya beda sekali, bukan suara yang seseorang dengar di pangkalan militer.

“Dari awal, fakta kerangka-kerangka rapuh itu adalah pasukan utamanya alih-alih Vánagandr kakakku yang hebat itu gabsurd! Kau tataplah unit ini dan ketahuilah keagungan sejati seorang kesatria yang membanggakan!”

Suara bernada tinggi … seorang gadis muda. Frederica tanpa sadar mengalihkan pandangannya ke si pembicara yang sehelai rambutnya baru saja masuk penglihatannya. Melihat lebih jauh ke bawah, dia ditatap sepasang mata emas.

Ia masih anak-anak yang kira-kira berusia sepuluh tahun. Rambut merah tua yang hampir sewarna bunga mawar dikuncir dua menjuntai dari kepalanya mirip sepasang telinga anjing. Sekalipun berada di lini depan, dia memakai gaun sutra merah dan memiliki tiara bertahktakan batu permata merah.

Dia, dalam istilah paling sederhana, adalah gadis yang sangat merah.

Shin tak mengenalnya, namun terbiasa melihat hal semacam itu di ekspedisi; dia seorang Maskot. Agar memastikan kehancuran Halcyon dan mengumpulkan informasi penting, unit lain dari Federasi bergabung dengan Divisi Lapis Baja ke-1 Shin.

Shin sendiri memasuki medan perang ketika masih sesusia gadis itu, dan dia juga sudah terbiasa melihat Frederica di sini. Namun dibanding Maskot-Maskot militer Federasi, Sirin-Sirin Kerajaan Bersatu, dan korps muda Teokrasi, melihat gadis muda di medan perang sudah jadi biasa banget. Namun kendati dia lebih lama menyadari ini ketimbang kebanyakan orang, situasinya tak kalah jelas.

“Maksudmu absurd?” tanya Frederica seraya mengangkat alis.

“Ah …!” gadis Maskot tersebut berteriak dengan tingkah kagetnya yang tidak ditutupi.

Frederica tertawa terbahak-bahak (mungkin tawanya adalah balasan komentar gadis itu), lalu si gadis menatap Frederica, sudut matanya terangkat marah.

“Beraninya!? Dasar orang barbar kurang ajar!”

“Maaf?! Yang kurang ajar di sini tuh malah kau!”

Shin mendesau lelah.

Michihi menegur Rito tentang ini, tapi dia sendiri mendapati Teokrasi sedikit menakutkan. Tentara tanpa wajah mempilot Feldreß asing berwarna abu-abu mutiara yang berkilauan didampingi drone-drone kecil …. Tapi yang paling aneh adalah cara militer Teokrasi memperlakukan dirinya sendiri. Bukannya terlihat kejam, mereka kelihatan tengah berbaris hendak berziarah.

Ada yang membuat Michihi tak berdaya dan rapuh dari itu. Mungkin gara-gara 86 tak percaya adanya Tuhan atau surga.

Interkom berderak nyala, dan dia mendengar sebuah suara yang tak mencapainya dari Resonansi Sensorik.

“Apakah Nona gugup? Janganlah khawatir, Resimen Myrmecoleo akan melindungi seluruh rakyat lemah Teokrasi sekaligus kalian anak-anak rapuh dari Divisi Penyerang.”

Belai lembut suara itu punya intonasi halus tak mengenakkan khasnya bangsawan lama Giad. Kekaisaran Giad adalah negara yang bangsawan dan pangeran-putrinya lebih banyak dari negara lain di benua, dan rupanya, ada banyak aksen bangsawan.

Aksen khusus ini berbeda dari yang digunakan Richard, yang mana teknisnya adalah orang tua angkat Michihi, dan kepala staf, Willem. Rasanya tidak familier, yang barangkali jadi tidak enak di telinga.

Michihi mendesah lirih, desahan yang takkan didengar pemuda ini. Michihi tahu dia memikirkan dirinya dengan caranya sendiri. Michihi melihat sekeliling, melihat bahwa sosok selain Regeinleif-nya sendiri, Hualien, ada satu unit lagi dalam hanggar. Berdiri dengan delapan kaki kuat, rangka mengesankannya dilapisi lapis baja komposit tebal. Dilengkapi dua senapan mesin berat dan senapan laras halus 120 mm yang bahkan sanggup menghancurkan Löwe atau Dinosauria.

Lapisannya bukan lapisan berwarna baja Federasi, namun warna sinabar5 cerah.

Inilah Feldreß utama Federasi—Vánagandr M4A3. Sebuah unit yang berafiliasi dengan pasukan yang dikirim bersama mereka pada operasi ini.

“Resimen Bebas Myrmecoleo … benar?”

Dia tak terlalu penasaran perihal mereka, namun Grethe menjelaskan keadaannya terlebih dahulu. Mereka dulunya adalah tentara pribadi bangsawan besar, dan kini diintegrasikan ke tentara Federasi. Sinabar tak hanya dipasangkan ke Vánagandrs mereka, namun juga ke Úlfhéðnar—eksoskeleton yang dikenakan infanteri lapis baja yang menjadi unit pendamping mereka.

Memang, para bangsawan tampaknya cenderung dramatis. Pelapisan ini merupakan warna jelas dan mencolok yang takkan menyamarkan unit mereka baik di medan perang abu Teokrasi atau medan perkotaan maupun hutan-hutan di front barat Federasi.

Malah satu-satunya kegunaan warna mencolok semacam itu adalah menonjolkan unit-unit tersebut di segala macam medan perang. Perang modern diatur rasionalitas. Sudah tidak zaman lagi kesatria berjalan-jalan mengenakan baju besi mengkilap.

Lapis baja merah tajamnya memantulkan cahaya samar hanggar bagaikan cermin. Dikarenakan lapis bajanya kinclong. Barangkali sudah dilapisi ulang dan dipoles untuk pertempuran pertama yang sebenarnya. Sangat kontras dengan Reginleif yang punya bekas luka serta goresan tak terhitung jumlahnya dari pertempuran tiada akhir sampai-sampai tidak dipedulikan lagi.

Vánagandr ini tak tersentuh sebab tidak pernah mengenal pertempuran.

“Aku tahu niatmu baik, tapi aku tak mau diperlakukan seperti anak kecil sama anak baru di pertempuran pertamanya … tolong, aku lebih suka kau tidak mengguruiku, terima kasih.”

Kelima divisi dari Korps Angkatan Darat Ketiga Teokrasi dikerahkan dan memasuki pertempuran. Sambil membuang napas,  Hilnå menatap Lena dan kepalanya memiring penasaran.

“Menurut Kak Lena orang-orang dari Resimen Lapis Baja Bebas bagaimana? Saya belum punya banyak kesempatan untuk bicara dengan mereka ….”

Kalau begitu sudahkah dia bicara dengan 86? Lena bertanya-tanya. Brigade Ekspedisi diberikan barak terpisah dari militer Teokrasi.

“86 cukup ramah ketika mereka menyapa saya di hanggar, ruang pertemuan, atau koridor. Kami juga main sedikit,” ucap Hilnå.

Jadi dia sudah bicara sama mereka.

Hilnå berseri-seri saat membualkan keahliannya bermain cocok kartu.

“Kudengar mereka para elit yang menjadikan medan perang sebagai rumah mereka, tetapi aku terkejut sekali dengan sikap ramah mereka. Rupanya hubungan 86 dengan sesamanya juga baik.”

“Lagi pula mereka semua rekanan yang sama-sama bertahan dari medan perang Sektor 86.” Lena tersenyum seraya menjawab, ada sedikit kebanggaan dalam suaranya. “Sayangnya tentang pertanyaan Hilnå … maaf, saya adalah perwira Republik. Saya tidak tahu hal-hal yang berkaitan dengan rahasia militer Federasi.”

Beberapa perwira staf mendesak Marcel mewakili Lena, lalu dia membuka bibir hendak bicara.

“Mereka awalnya adalah sisa-sisa resimen yang dibentuk untuk mempertahankan wilayah para bangsawan lama ….” Tatapan Marcel jelalatan, seakan-akan mencari perlindungan dari tatapan ingin tahu di mata besar, jernih, dan emasnya Hilnå. “Di masa kekaisaran dulu, para pemimpin punya resimen pribadi. Sewaktu kekaisaran jatuh, kebanyakan digabungkan ke militer Federasi, namun sejumlah bangsawan berpengaruh mempertahankan beberapa resimen itu sebagai tentara pribadi. Kebanyakannya beranggotakan para bangsawan muda atau anak-anak keluarga cabang yang punya keturunan dengan bangsawan-bangsawan lama tersebut.”

Di kekaisaran, kaum bangsawan adalah orang-orang dari kelas pejuang. Wajib militer bukanlah tugasnya rakyat jelata melainkan hak istimewa yang hanya diberikan kepada kelas penguasa.

“Jadi orang-orang Myrmecoleo kemungkinan besarnya adalah anak-anak dari mantan bangsawan. Tuan mereka adalah Keluarga Brantolote, keluarga Pyrope yang kuat, jadi saya rasa mereka mungkin bangsawan-bangsawan Pyrope muda.”

“Begitu ….” Kata Lena termenung.

“Oh, iyakah …?!” Hilnå beraksi dengan penuh semangat.

 Mereka berdua mengangguk, terkesan oleh penjelasan mulusnya. Memang, komandan dan perwira-perwira resimen Myrmecoleo yang mereka temui di pengarahan semuanya tampan dan rapih, sebagaimana yang seseorang harapkan dari bangsawan muda. Akan tetapi, ekspresi Marcel yang menjelaskannya terlihat tak mengenakkan.

“Tapi …. Soal itu …. Mereka ….”

Berjalan gelisah di hanggar sementara adalah seorang gadis kecil dari Teokrasi. Gadis muda berumur enam-tujuh tahunan—bahkan terhitung muda menurut standar Bernholdt dan tentara Vargus yang terbiasa melihat Maskot.

Dia membawa tongkat beraksesoris pembakar dupa yang dipahat menyerupai pilar kristal. Diacungkan ke atas kepala tentara Teokrasi, dia menuturkan semacam doa sebelum tentara berperang. Kemudian menghampiri Bernholdt dan pasukannya. Pembakar dupa di ujung tongkatnya berayun seiring gerakannya, jadi pasukan Vargus mesti menunduk-nunduk. Seorang penerjemah muda militer Teokrasi bergegas menghampiri dengan ekspresi gugup.

“Mohon maaf sekali perwira nonkomisioner Federasi. Di Teokrasi kami biasa menerima berkah ini sebelum berangkat bertempur. Saya harap Anda sekalian tak terganggu—”

“Ah, tidak, tak apa. Terima kasih, Non.”

Gadis itu tak memahami bahasa Federasi, jadi dia dengan takut-takut melihat antara si penerjemah dan Bernholdt. Bernholdt malah berjongkok dan bicara dengan tinggi setara. Menyadari dia berterima kasih pada dirinya, mata gadis itu berbinar dan balas tersenyum.

Setelah itu Bernholdt mendapati sekelompok orang berpakaian warna mencolok lewat koridor yang terhubung ke hanggar. Resimen Myrmecoleo.

“Bagaimana?” Bernholdt memanggil mereka.

“Mereka bisa memberi berkat sebelum berangkat ke pertempuran pertama kalian.”

Namun dibalas lirik pun tidak, apalagi dengan kata-kata. Mereka lewat begitu saja, fisik mereka dibesarkan dengan baik dan dikembangkan persis seperti anggapan orang-orang mengenai perwira teladan. Tetapi cara mereka berjalan melewati Bernholdt dan rekan-rekan Vargus-nya kesannya mengabaikan mereka seolah-olah anjing liar.

Tentara Vargus mendengus.

“Kami sudah terbiasa sama mereka. Mereka terus seperti itu sejak ditempatkan di sini. Orang-orang aneh.”

“Yah, itulah bangsawan. Para penguasa tak pernah memperlakukan orang lain dengan kesopanan dasar manusia.”

Bukan mereka dianggap bak hewan buas seperti yang dilakukan warga kekaisaran. Tetapi para bangsawan kekaisaran lebih ke tak menganggap manusia orang-orang selain sesama bangsawan. Baik yang dulunya warga kekaisaran atau hewan, mereka sama-sama tak pantas dipandang oleh seorang bangsawan, apalagi diajak bicara.

Sebab hingga tingkatan tertentu mereka memperlakukan semua orang setimpal buruknya, Bernholdt tahu tak ada gunannya tersinggung. Untunglah, gadis itu pun juga tidak merasa demikian, dia malah berlari ke para Prosesor skuadron Scythe untuk memberi berkat.

“Aku tak mengerti. Dulu waktu kita melayani bangsawan, mereka senantiasa memberikan kita sekaleng bir setiap kali menikah, atau pas salah satu ayah kita gugur dalam pertempuran,” ucap salah satu tentara Vargus.

“Iya, karena kita melayani pejuang Onyx,” tukas Bernholdt.

“Oh …. Yah, mungkin sebab itu.”

Bernholdt dan sesama Vargus-nya dilahirkan dalam wilayah bangsawan Onyx. Gara-gara mereka pernah jadi prajurit Onyx, anak-anak bangsawan Pyrope makin-makin menganggap mereka sebagai perusak pemandangan. Para perwira Pyrope terus berjalan tanpa suara, memalingkan kepala merah tua mereka atau bahkan melihat sepintas pun tidak.

Perwira yang memimpin mereka adalah sosok kesatria wanita bangsawan, rambut emasnya dikepang erat. Para perwira pria muda yang mengikutinya punya rambut disisir sempurna dan kuku terawat rapi, mereka juga memakai setelan terbang yang sesuai ukuran tubuh.

Mereka adalah contoh cemerlang rupa bangsawan.

Tetapi seketika itu Bernholdt mendadak berbalik.

Sebentar ….

Ada yang janggal. Para Pyrope ini punya rambut dan mata merah. Dan mereka dipimpin seorang perwira berambut emas.

“… hm.”

Pertengkaran berisik kedua gadis ini berlanjut, membuat Shin kesusahan.

“Di awal tadi, angsa hitam apa? Apa maksudmu? Burung itu, Trauerschwan, dikembangkan oleh lembanga penelitian dan dipercayakan ke Divisi Penyerang! Jangan angap milikmu sendiri, dasar gadis kurang ajar.”

  “Tapi tentara Resimen Myrmecoleo pemberani kami yang dipercayakan untuk mengangkutnya ke Teokrasi! Kalian 86 takkan sanggup membawa senjata serapuh itu!”

“Itu aku akui, karena jadi keledai angkut adalah satu-satunya pekerjaan yang cocok buat Vánagandr lambatmu.”

“S-sana berkaca padahal Reginleif pengecutmu bagusnya buat berkeliling doang …!  Dan berani-beraninya kau mengaku Maskot, seorang dewi kemenangan, kalau pakaianmu saja pengap begitu!”

“Kurasa seorang gadis yang memandang medan perang seperti ruang dansa akan bilang begitu. Kau mau jadi apa dengan pakaian mencolok dan tak praktis itu? Mau memikat Legion dengan lagu dan dansamu?”

Memutuskan dirinya tak ada hubungannya sama situasi terkini, Raiden berjongkok dalam kokpit Wehrwolf-nya, sementara Shin terjebak di tengah-tengah pertengkaran kedua gadis. Lebih spesifiknya, Frederica mencengkeram baju penerbangnya, mencegah Shin kabur.

“Cukup! Ini memalukan!” gadis bergaun itu menghentak frustasi, sepatu hak tingginya mengklik lantai. “Sembunyi di belakang punggung kakakmu, ya? Pengecut!”

“Iri, ya? Dasar orang kampungan tidak berguna!”

“K-kau … dasar … papan cuci!”

“Cebol kecil!”

Shin tak tahan lagi.

“Hentikanlah. Jangan bertingkah tidak dewasa,” katanya kepada Frederica.

“Dan kau pun tidak sopan, Tuan Putri,” suara lain memotong perdebatan mereka.

Kedua gadis itu langsung bungkam. Walaupun mereka terdiam, mereka masih saling melotot dengan aura permusuhan nyata, bagaikan dua anak kucing yang mau mendesis. Shin beralih menghadap seseorang yang menghentikan gadis satunya.

Suaranya akrab. Shin bertemu mereka sebelum dikirim ke sini dan beberapa kali menemuinya di Teokrasi selama pengarahan dan sesi latihan bersama.

“Maaf bila Maskot kami menuturkan hal tak sopan, Kapten. Anda juga, Maskot kecil.”

Pria berfisik kurus dan wajah halus karakteristiknya bangsawan lama kekaisaran. Setelan penerbangan lapis bajanya berdesain identik dengan standar militer Federasi, tetapi ada warna sinabarnya. Medali unitnya adalah simbol monster aneh yang mana persilangan antara singa dan semut raksasa.

Komandan mantan Resimen Lapis Baja Bebas Archduchess Brantolote—

“… Mayor Günter.”

“Sebagaimana yang saya katakan berkali-kali sebelumnya, Anda boleh memanggil saya Gilwiese …,” katanya, mendekat sambil melemaskan bahu.

Dia tampak semuda orang dua puluh tahunan. Rambutnya merah cerah dan bermata merah tua khas Pyrope, seperti Frederica dan Shin. Gadis itu balik badan lalu mendekati Gilwiese seraya menangis. Dia jauh lebih tinggi darinya, jadi Gilwiese mesti berjongkok untuk menerima pelukannya.

“Ah, Kakak! Ini tak bisa diterima! Jangan biarkan 86 biadab yang vulgar ini jadi pasukan utama! Tidak bisakah kita pertimbangkan kembali?!”

“Ini lagi …?” katanya, mengganti wajah enak dipandang dan tampannya menjadi ekspresi teguran terbaiknya. “Itu sangat tidak sopan, Putri. Ini kali pertama Putri menemui kapten dan Maskot Divisi Penyerang, bukan? Seharusnya beri salam yang benar.”

Gadis yang dipanggilnya, Putri, pipinya cemberut, namun Mayor itu tak mengalah. Akhirnya, si gadis menjepit ujung gaunnya dengan hormat.

“… Dewi Kemenangan Resimen Bebas Myrmecoleo, Svenja Brantolote. Senang bertemu dengan Anda, Kapten Shinei Nouzen, dan penghujat nakalnya.”

Dia menyebut nama belakang Shin, yakni Nouzen, dengan aksen aneh. Keluarga Brantolote adalah penguasa Resimen Myrmecoleo sekaligus Keluarga Pyrope yang merupakan oposisi Keluarga Nouzen, pilarnya keluarga-keluarga Onyx di Kekaisaran Giad.

Frederica membuka bibir hendak membalas provokasi terang-terangan ini, tetapi Shin bungkam dengan menarik topi prajuritnya sampai hidung.

Kau malah akan memperumit. Diamlah.

Kebetulan ….

“… saya kira pasukan Anda ditempatkan di markas Brigade Ekspedisi. Bukankah Anda semestinya berada di lini depan bersama Letnan Dua Michihi, Mayor?” tanya Shin.

“Yah, Anda tahu ….” Gilwiese mengalihkan pandangannya, kuku terpotong sempurnanya dengan canggung menggaruk pelipisnya. “Saya malu mengakuinya, namun putri kecil di sini ketiduran. Kegelisahan prapertempuran membuatnya terjaga.”

“Kakak!” Svenja berteriak, pipinya memerah.

“Meskipun menunggu seorang nona selesai berdandan adalah tugas seorang kesatria, saya mustahil mengutamakan hal itu alih-alih operasi. Jadi saya tinggalkan wakil komandan saya untuk menangani pasukan utama kemudian menyuruhnya pergi lebih dulu. Seharusnya tidak perlu waktu lama untuk mengejar satu peleton Vánagandr, jadi saya akan berkumpul kembali dengan mereka sebelum pertempuran betul-betul dimulai …. Dan lagi, saya memang ingin bertukar kata dengan Anda sebelum operasi dimulai, Kapten Nouzen.”

Tatapan tajam Shin tertuju pada Gilwiese yang sekadar mengangkat bahu.

“Sang Pencabut Nyawa yang memimpin 86, Nouzen berdarah campuran. Saya selalu bertanya-tanya apa yang terlintas di pikiran Anda selagi bertarung. Mungkinkah sama seperti kami? Pikir saya.”

“…?”

Tatkala itulah Shin tersadar. Rambutnya hitam Onyx dari ayahnya, namun kakaknya, Rei, rambutnya merah tua Pyrope dari ibunya. Rambut merah Gilwiese punya corak berbeda dibandingkan rambut kakak dan ibunya. Mengambil referensi rambut merah tua Svenja yang punya corak alami Pyrope, memperjelas warna merah khusus Gilwiese yang terlihat tak murni.

Rambutnya diwarnai. Dan mata Svenja itu emas—mungkin tanda mata yang bercampur dengan keturunan Heliodor. Shin tak teramat-amat memikirkannya, namun mengingat-ingatnya kembali, dia punya kesan bahwa semua perwira Resimen Myrmecoleo adalah kaum Pyrope yang bercampur dengan garis keturunan lain.

Para bangsawan kekaisaran membenci percampuran garis keturunan. Dan selama sepuluh tahun semenjak kekaisaran menjadi Federasi, budaya itu tak memudar.

Jadi itu alasannya, pikir Shin pahit.

Simbol unit mereka adalah kepala semut. Monster kepala singa dan tubuh semut. Dua spesies terpisah bercampur menjadi satu. Unit yang terdiri dari anak-anak bangsawan yang meski berketurunan bangsawan, tak dapat sepenuhnya diterima karena warisan campuran mereka.

“Namun sepertinya saya keliru. Marquis Nouzen adalah kakek yang baik bagi Anda, bukan? Terkecuali …. Jika demikian, mengapa Anda bertarung?”

“….”

Shin mendesau singkat …. Suatu kala Eugene menanyakannya pertanyaan sama.

“… Mayor Günter, operasinya sudah dimulai. Kita tak punya banyak waktu untuk—”

Gilwiese memandangnya sambil tersenyum canggung.

“Iya, karena itulah saya hanya menanyakan satu hal itu …. Saya akan sangat menghargai seandainya Anda menjawabnya.”

Dia ingin Shin, yang mana anak campuran darah kekaisaran, serta di waktu yang sama, bukan pion keluarga bangsawan, menjawab pertanyaan tersebut.

“… karena perang.”

Perang telah merenggut keluarganya dan banyak rekan-rekannya. Sektor 86 merampas masa depan dan kebebasannya. Sungguh-sungguh bencana. Seperti halnya tembakan listrik kejam yang membuntungi sebagian lengan Theo juga sebagian masa depannya bersamanya.

“Saya ingin mengakhirinya. Sekalipun nampaknya aneh bagi Anda, Mayor.”

“Tentu. Bagaimanapun, tatkala perang ini berakhir, takkan ada yang memperlakukan Anda dan teman-teman Anda sepantasnya pahlawan lagi. Anda sekalian akan kembali menjadi anak-anak. Anda semua barangkali pejuang cakap, tetapi tak lebih dari itu. Terlepas dari itu, Anda masih ingin mengakhiri peperangan?”

“Sebab saya tidak ingin menjadi pahlawan.”

Gilwiese tersenyum samar dan pahit.

“Begitu … saya jadi iri. Saya …. Kami tak bisa sekuat itu. Saya harap kami tidak begitu, kalau bisa. Bahkan sampai sekarang masih berharap.”

Menjadi pahlawan.

Bangsawan lama kekaisaran memegang kebanggaannya sebagai prajurit. Menjadi yang memerintah, dengan menjadi yang terunggul di medan perang. Dan resimen ini dibentuk oleh orang-orang yang tidak diterima keluarga-keluarga tersebut, sebab darah campuran mereka.

Boleh jadi, tepatnya karena tidak diterimalah mereka bersusah payah membuktikan status mereka sebagai bangsawan.

Tatkala Gilwiese bicara dengan wajah serius demikian, Svenja komplain dengan menarik lengan baju penerbangannya yang berwarna sinabar.

“Dan persisnya karena itulah aku bilang begitu, Kak!”

“Putri, sudah kubilang: Tidak bisa.”

“Kalian bersaudara?”

Nama keluarga mereka berbeda, namun sebab asal mereka diduga sama, teramat-amat mungkin mereka benaran bersaudara.

“Itu pertama kalinya Anda menanyakan saya sesuatu,” ucap Gilwiese, alisnya mengernyit bercanda.

Shin kelihatan sedikit kaget, lanjut Gilwiese tertawakan sebelum menjawab:

“Bukan saudara kandung, tapi cukup dekat. Bukan hanya Putri di sini, melainkan kami semua di Myrmecoleo adalah rekanan dan kakak-beradik. Beberapa dari kami terhubung dengan darah, ya, namun beberapa lagi tidak. Saya bayangkan berlaku sama bagi Anda.”

Divisi Penyerang. 86 yang hidup dan gugur di medan perang Sektor 86. Sesudah berpikir sejenak, Shin mengangguk. Dalam hal ini, Gilwiese benar. Resimen Myrmecoleo dan 86 punya hubungan yang mirip. Mereka tidak terikat darah, namun bersaudara sebab menjadikan medan perang sama sebagai rumah mereka dan harga diri jadi ikatannya.

“… iya, sama,” balas Shin. “Kalau begitu, saya serahkan adik perempuan saya kepada Anda, Mayor.”

“Letnan Dua Kukumila, ya?” Gilwiese mengangguk tegas. “Beliau akan aman bersama saya, Kapten.”

Setelah itu dia tersenyum santai dan sarkastik.

“Begitu pula angsa hitam bermasalah itu.”

“Ya.”

Rancangan rencana ke-1.720 Lembaga Penelitian Tinggi, Angsa Hitam Maut— Trauerschwan.

Trauerschwan sudah dalam pengembangan namun tidak selesai tepat waktu untuk menghentikan Morpho selama serangan skala besar. Pengenalannya ke medan perang diputuskan karena penemuan Noctiluca dan Halcyon.

Railgun-nya Federasi.

Halcyon terlalu besar untuk ditantang Feldreß semata. Alhasil Trauerschwan menjadi kunci utama mereka untuk menghancurkannya dalam operasi ini. Michihi dan Rito dikerahkan bersama pasukan utama mendahului mereka. Mereka ditugaskan untuk menjaganya selagi maju ke wilayah Legion. Trauerschwan, dari seluruh maksud dan tujuannya, merupakan kartu truf Brigade Ekspedisi Federasi.

Railgun-nya Legion dikembangkan untuk menyerang dan melancarkan serangan balik dari jarak empat ratus kilometer yang tidak masuk akal, menghancurkan musuh dengan satu tembakan destruktif. Kini mereka punya railgun jarak jauh dan kaliber tinggi sendiri untuk melawannya.

Namun sekarang ….

“Saya mengerti ini masihlah purwarupa setengah jadi, tetapi saya rasa terlalu cepat untuk membawa railgun itu.”

Semestinya jadi railgun jarak jauh dan kaliber tinggi, tapi masih dalam purwarupa yang dikembangkan. Kecepatan awalnya dua ribu sampai tiga ribu meter per detik melampaui kecepatan maksimal meriam artileri, namun jauh dari kecepatan awal Morpho yaitu delapan ribu meter per detik.

Hal sama berlaku pada berat hulu ledak yang mendorongnya. Mampu menghancurkan Löwe dari ratusan kilometer jauhnya, namun kalkulasi awal menunjukkan bahwa untuk menghancurkan Halcyon dengan andal, maka perlu ditembakkan dari jarak dua belas kilometer jauhnya—jarak terlampau pendek, tak layak disebut meriam jarak jauh.

Sekelompok manusia bersetelan penerbangan dengan warna sinabar mendekat, sepatu bot militer mereka menginjak lantai. Perwira wanita berambut pirang yang memimpin mereka, seorang kapten, memberi hormat sambil sekilas memandang Shin dan Frederica.

“Mayor, waktunya berangkat.”

“Dimengerti, Tilda. Putri, ayo pergi. Terima kasih atas percakapannya, Kapten Nouzen.”

“Baik, Kak.” Svenja mengangguk.

Tidak sedikit pun tertarik dengan sikap kapten wanit tersebut, Shin merasa ada yang mencurigakan sama perbincangan Gilwiese dan Svenja.

“Anda membawa Maskot Anda ke lini depan?”

Tak seperti Regineif yang hanya punya satu kursi, Vánagandr punya kokpit dengan dua kursi dan dari awal memang Feldreß yang dimaksudkan untuk dipilot dua orang. Baik kursi penembak dan pilotnya punya kontrol untuk mengoperasikan Vánagandr seorang diri jika terjadi keadaan darurat.

Maka dari itu, Vánagandr bisa membawa Maskot—yang tak mampu mempilot atau menembak—ke medan perang dengan menduduki salah satu kursi, namun ….

Anggukan Gilwiese disertai senyuman jujur dan ramah.

“Tentu saja—beliau adalah Dewi Kemenangan kami.”

Melihat kelompok sinabar berjalan pergi, Frederica melirik Shin.

“Kau menyuruhku ke Trauerschwan dan menunda keberangkatanku selama mungkin agar mereka tak menemuiku, bukan, Shinei?”

“… iya.”

Namun perbuatan itu hanya mempercepat takdir. Fakta Frederica yang bertanya demikian menyiratkan dirinya memahami itu. Saat Svenja memperkenalkan diri, Shin tak menyempatkan Frederica memberi tahu namanya, dan pembicaraan dengan Gilwiese adalah biar mencegah pembahasan itu.

“Aku tak tahu para jenderal bilang apa soal para Brantolote, tapi jangan khawatir. Keluarga Günter adalah keluarga cabang Brantolote juga pengikut dekat keluarga kekaisaran. Dekatnya sampai-sampai ibarat serigala melindungi anak-anaknya, kau akan baik-baik saja asalkan tidak bermaksud jahat pada mereka.”

“… iya, mereka sudah memperingatkanku.”

Sebelum dikerahkan, Mayor Jenderal Richard memberi tahu Shin bahwa kendatipun Divisi Penyerang diperkenankan bicara dengan orang-orang Myrmecoleo, dia sepatutnya berhati-hati di sekitar mereka. Dia diberi tahu perihal persaingan mereka dengan bangsawan Pyrope selama masa-masa terakir kekaisaran—persaingan antara fraksi keluarga kekaisaran, dan fraksi Dinasti Baru, yang berusaha merebut hegemoni.

Archduchess Brantolote adalah pemimpin fraksi Dinasti Baru tersebut. Menjadikannya musuh maharani terakhir Kekaisaran Giad, Augusta—yang segelintir orang kenal sebagai Frederica.

Biarpun kekaisaran telah jatuh dan Federasi bangkit menggantikannya, mereka belum berubah. Dan salah satu metode perampas untuk menetapkan legitimasi mereka atas takhta adalah dengan menikahi seorang wanita dari keluarga kekaisaran lama. Artinya andai Frederica menjadi maharani, maka Dinasti Baru akan diuntungkan semisal berhasil merebutnya.

Tetapi bukan itu satu-satunya alasan Shin kelewat berhati-hati di sekitar Gilwiese.

“Kesampingkan fraksinya, secara pribadi aku tidak memercayainya … tidak tahu pasti alasannya, tapi ….”

Shin menyipitkan mata, memikirkannya kembali. Terjadi selama pertemuan pertama, di Federasi dulu …. Dia merasakan hal tak mengenakkan dari Gilwiese yang membangkitkan ingatan tak diinginkan. Bisa jadi semacam suatu posesi. Seakan-akan pria itu hanya hidup demi suatu tujuan, dan selama tujuannya tercapai, dia tak keberatan mati.

“Dia mengingatkanku dengan diriku sendiri …. Dengan diriku yang dulu berada di Sektor 86.”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

“Vanadis kepada semua unit batalion garda depan. Berganti ke fase 2. Bersiap-siaplah.”

“Diterima.”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Begitu situasi mulai jelas, Shiden menghampiri Shin.

Ketika itu hari pertama mereka di Teokrasi, persis di hari dia mendengarnya.

“Bawa aku bersamamu. Harus aku—harus aku yang mematikannya.”

Kemarin-kemarin Shin dapat merasakan semua unit Legion di sepanjang medan perang Sektor 86 Republik. Jangkauannya betul-betul jauh. Sebelum mereka pergi jauh ke barat Republik dan mencapai tanah Teokrasi, dia tak bisa mendengar suara-suara Legion. Namun sesampainya di sana, dia tahu Noctiluca sedang berlindung dari pengejaran Divisi Penyerang di tempat ini atau tidak.

“Shiden,” katanya.

“Jangan repot-repot menyembunyikannya dariku. Jika perasaan ibamu begitu, kuberi tahu kalau itu bukan urusanmu.”

Shiden lebih tinggi dari kebanyakan wanita, pandangan matanya dan Shin kurang lebih selaras. Shiden raih kerahnya dan memelototinya tajam-tajam. Mata Shin bak darah membeku. Di pertemuan pertama mereka, dia dapati ekspresi apatis Shin menjengkelkan, namun sekarang dia membencinya.

“Takkan kubiarkan siapa pun merenggut hakku untuk mengistrirahatkannya. Bahkan kau pun tidak—”

Mata aneh Shiden menatapnya dengan amarah binatang terluka. Dengan dingin membalas tatapannya, Shin bicara lagi.

Shiden.”

Yang datang adalah suara dewa pejuang yang pernah menguasai medan perang Sektor 86—suara gagah dan berwibawa. Shiden terdiam seperti anak kecil yang baru dimarahi. Memanfaatkan momen kejut itu, Shin membebaskan diri dari cengkeramannya, meraih dasinya dan menariknya lebih dekat.

“Tenanglah. Kau sendiri yang bilang. Aku tidak bisa membiarkanmu bergabung dalam operasi dengan keadaanmu yang begini.”

Keadaanmu sekarang ini, kami tidak boleh membiarkanmu menjadi bagian pasukan penyerang di operasi berikutnya, Komandan Operasi.

Shiden mengatakan ini sebelum operasi Gunung Dragon Fang.

“Nanti kau mengalahkannya, terus apa? Misal berpikir kau bisa mati begitu saja setelah mengistrirahatkannya, kau takkan kubawa. Bukan karena dirimu yang berpikir oke-oke saja mati seperti itu—tapi dirimu yang memang ingin mati seperti itu. Dan takkan kubawa seseorang dengan tingkah semacam itu. Satu orang bego punya niat mati sudah cukup buat membahayakan semua orang.”

Kau ini beban.

Shiden menggertakkan gigi. Dia paham maksud Shin. Pahit mengakuinya, tapi itu hal yang jelas. Bagi seorang kapten, bagi seorang komandan, itu adalah pilihan yang benar. Dia tidak boleh membawa siapa pun yang dirasanya akan membahayakan misi. Perasaan geram atau amarah apa pun yang dirasakannya tidaklah bisa Shin masukkan dalam pertimbangan.

Dan bukan berarti karena keseimbangan operasi ini yang sulit diatasi sampai-sampai menyertakannya itu ide buruk. Nyawa semua orang berada di tangan Shin entah mereka menuju medan perang manapun. Shin harus tetap berkepala dingin.

Sekalipun Shiden tahu itu keputusan yang masuk akal, perasannya tak terima.

Kau … siapa … bicara padaku ibarat tahu semua hal tentang ini …?

“Mati sambil mengistrirahatkannya …? Kau tahu apa soal perasaan itu?!” geram Shiden.

“Segalanya,” jawab dingin Shin. “Aku ingin mengistrirahatkan kakakku selama misi Pengintaian Khusus.”

Shiden membelalak kaget. Misi Pengintaian Khusus. Operasi dengan tingkat keselamatan 0 persen, diperintahkan Republik untuk memastikan 86 seratus persen mati. Perintah eksekusi terselubung yang dipaksakan kepada Shin dua tahun lalu.

Fakta dirinya ingin mengistrirahatkan kakaknya, mengartikan kakaknya, sesama 86, tentunya telah diasimilasi oleh Legion.

“Aku bertarung di Sektor 86 hanya untuk melakukannya. Dan aku berniat untuk mati begitu mencapainya …. Namun aku menghindari kematian. Aku selamat. Dan sesudah itu … yah … kau lihat bagaimana aku jadinya sehabis bertarung sama Morpho.”

Tahun kemarin, waktu fajar, usai perburuan naga raksasa itu. Dia berdiri bagaikan anak hilang di tengah-tengah kupu-kupu logam biru, Reginleif putih pucatnya penyok-penyok dan rusak.

Kala itu, Shiden pikir penampilannya jelek.

“Kau bilang aku menyedihkan. Dan andaikan Lena tidak datang membantu, saat itu aku sudah mati menyedihkan. Dan kau sedang menuju ke sana … kau takkan kubawa. Tidak kubiarkan orang sepertimu menyongsong kematian.”

Begitu orang semacam ini mengalahkan target mereka, maka mereka akan kehilangan alasan hidup sekaligus bertarungnya … kemudian menyambut kematian mereka. Shin tidak membiarkan itu terjadi kepadanya.

Shiden menggertakkan gigi. Kemudian buang napas kuat-kuat, seolah-olah melampiaskan emosinya.

“… kau suka bicara kasar bahkan di saat-saat seperti ini, ya? Seseorang sepertiku? Kau bisa saja menyingkirkan bagian itu.

“Kau yang perlu waktu selama itu buat membahas itulah yang kubicarakan. Sekarang kau sedang bukan dirimu.”

“Iya, iya, tentu, terserahlah. Kau selalu benar, bukan?”

Dia berpaling dengan tatapan sarkasme, menggaruk kasar kepalanya. Dia kembali menjadi pengganggu Shin seperti biasa.

“… kau benar. Aku bukan diriku sekarang. Jadi akan kubetulkan. Aku akan kembali ke diri biasaku sebelum operasi dimulai. Jadi ….”

Dia melirihkan kata-kata itu, laksana menyadari kebencian yang meluap-luap dalam dirinya, namun terus dia tahan.

“… beri aku sedikit waktu sebelum kau memutuskan meninggalkanku, oke?”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

“Yah, bagaimanapun juga, aku berhasil tepat waktu bergabung dengan batalion garda depan, tapi ….”

Seusai kehilangan skuadronnya, Cyclops-nya Shiden saat ini menyertai skuadron Nordlicht. Dia bersama kelompok pertama yang dikirim bersama Shin dan separuh skuadron Spearhead. Mengangkat panggilan tak terduga dari Shiden, Shin menatap sekilas Cyclops dari dalam kokpit Undertaker. Dia sedang melekatkan Armée Furieuse ke unitnya. Sebuah pengumuman dalam bahasa Federasi datang dilanjutkan bahasa teokrasi menginformasikan mereka bahwa batalion garda depan hendak berangkat. Penutup hanggar terbuka,dan para Prosesor memastikan kanopi mereka telah disegel. Personel tanpa pakaian protektif dievakuasi ke ruangan aman.

“Tapi Kurena bagaimana? Kau yakin akan meninggalkannya?”

Suaranya tidak bermaksud mengusik. Suaranya prihatin. Shin mengedipkanmata. Dengan dengungan menggelegar, penutup depan hanggar terbuka menyamping, selanjutnya langit-langitnya terlipat ke belakang, mengungkap langit abu. Melihatnya lewat layar optik, dia menjawab:

“Aku tidak meninggalkannya, tidak bermaksud juga. Kurena seorang penembak runduk. Dia punya peran untuk dimainkan di tempat lain.”

Kokpit familier Gunslinger penuh ekstensi konsol dan layar sekunder. Kabel konversi dan nonstandar dipasang acak-acakan dengan lakban. Meski kokpitnya sempit, Kurena dengan penuh semangat menunggu keberangkatannya.

Selagi pasukan Teokrasi jadi pengalih, pasukan garda depan siap-siap pergi. Di belakang pasukan garda depan dan lebih jauh lagi adalah kekuatan utama Brigade Ekspedisi Federasi, bersembunyi sementara dalam hanggar. Di sana berdiri barisan Reginleif yang tak asing, sekaligus tubuh merah tua Vánagandr-nya Resimen Myrmecoleo.

Bersama mereka adalah purwarupa railgun-nya Federasi, Trauerschwan. Dan yang menetap di bagian atas rangkanya adalah Gunslinger, yang dinaiki Kurena.

Trauerschwan dibuat dengan menjadikan Morpho sebagai musuh teoritisnya, alhasil besarnya seraksasa Morpho itu sendiri, tinggi sepuluh meter dan panjangnya tiga puluh. Namun tidak seperti Morpho yang menyerupai naga jahat dalam legenda, Trauerschwan tampak bak angsa raksasa tengah berjongkok—sekiranya orang-orang lihat dengan seksama.

Bagaimanapun juga, Trauerschwan masihlah sebuah purwarupa yang dikeluarkan langsung dari laboratorium. Tidak ditujukan untuk pertempuran nyata dan ditutupi perisai debu yang tampak seolah-olah disebarkan dengan buru-buru. Kakinya kelihatan seperti koleksi suku cadang acak yang digabungkan, tiap-tiap kakinya punya pelapis dan tingkat noda yang berbeda-beda. Bagian kontrol pada kaki di kedua sisi tubuh berdiri secara asimestris, seakan-akan membuktikan betapa terburu-burunya mereka dibangun sesudah kejadian itu. Sejumlah tali menjuntai keluar layaknya pembuluh darah, yang merangkak naik dan terhubung ke Gunslinger.

Sebab sistem pengatur tembakannya belum selesai, Gunslinger-lah yang menjadi penggantinya.

Bahkan lebih buruk daripada Juggernaut-nya Republik, yang sering kali disebut peti mati alumunium. Tapi Kurena puas dengan prospek penanganan senjata jelek ini. Dia menyenandungkan lagu kecil membahagiakan. Kakinya dijuntai-juntai riang, mirip anak kecil yang semangat saat mau jalan-jalan.

Karena dia gembira. Kurena senang dipercayakan hal ini.

ᚠᚱᛖᚤᚨ

“Kurena.”

Ketika Shin menyerahkannya buku petunjuk Trauerschwan, Kurena merasa seakan baru saja diberikan undangan ke pesta dongeng. Pesta malam menawan di suatu kastil yang diterangi cahaya bulan, ajaibnya sampai-sampai menariknya keluar dari kain yang diselimuti abu. Pesta menawan di mana selama satu malam, dia bisa memakai gaun perak dan sandal kaca.

Buku petunjuknya adalah kumpulan berkas tanpa jilid, memang, sebuah buku petunjuk dadakan yang dibuat di tempat. Namun tidak masalah. Hatinya melompat kegirangan saat menerimanya.

“Sesuai pengarahan, kami mengizinkanmu menjadi penembak Trauerschwan.”

“Iya …!”

Mereka lagi berada di koridor blok perumahan Teokrasi; blok tersebut telah ditetapkan untuk Divisi Penyerang dan lokasinya dalam pangkalan militer sebelah belakang front utara Teokrasi. Koridornya pun berwarna abu-abu mutiara. Lorong-lorong tersebut bentuknya segi delapan dan, aroma dupa dibakar rasanya berseliweran di udara.

Bau kayu gaharu memenuhi udara, seolah meredam bau darah dan baja.

Purwarupa railgun, Trauerschwan. Faktor keseluruhan dan masalah belum terselesaikan seputar fitur-fiturnya telah diperdalam pada pengarahan. Setelah mempertimbangkan dan mengusahakan semuanya, hasilnya memang sebuah purwarupa yang tidak dikehendaki untuk pertempuran langsung. Bisa menembak, namun sistem pengatur tembakannya belum kelar. Kekurangan sistem pendingin pula, yang mana esensial agar dapat bertahan dalam pertempuran berkepanjangan.

Tentu punya mekanisme pengisian ulang otomatis, namun itu pun masih purwarupa dan perlu dua ratus detik untuk memuat ulang sepenuhnya. Selambat apa pun kecepatan gerakan musuh, Trauerschwan paling-paling bisa menembak satu-dua tembakan. Dan sebab bidikannya diarahkan manusia, tembakannya wajib akurat.

Dan Shin meninggalkan tugas penting ini di tangannya.

Shin percaya padanya. Masih membutuhkannya. Hal ini membuktikan demikian, dan itu membahagiakannya.

Hatinya berdebar-debar kegirangan. Rasanya saat ini dia sanggup tepat sasaran menembak target sekecil mungkin di jarak sejauh-jauhnya.

Namun di waktu bersamaan, walau hatinya meledak-ledak, beberapa sudut dingin dalam hatinya memperingatkan bahwa kali ini tidak boleh gagal. Pikiran ini mengintai dalam benaknya layaknya gletser berbahaya.

Gletser itu adalah kegelisahannya. Sebenarnya, dia sangat cemas. Bagaimanapun, Shin percaya padanya hingga tak ragu menaruh tanggung jawab besar ini tepat di pundaknya. Shin yakin dia cukup ahli. Dia tak boleh mengecewakannya, apa pun yang terjadi.

Dia tidak boleh mengkhianati kepercayaannya.

Kali ini pastinya, dia akan berguna untuk Shin serta yang lain.

“Aku bisa melakukan ini.”

Dia tuturkan kata-kata itu ibarat menegaskan ulang sumpahnya untuk berjuang sampai napas terakhir bersama orang lain. Dia memeluk buku panduan, dicengkeram ke dadanya seakan-akan takut seseorang akan mengambilnya.

Di satu sisi, cuma itu yang dia miliki. Selain harga diri dan keahliannya yang dia asah demi tetap berada di sisinya, dia tidak punya apa-apa lagi.

“Kali ini, aku takkan meleset, apa pun yang akan terjadi. Jadi tenang saja. Aku bisa melakukan ini.”

Shin mengerutkan alis, merasa resah.

“Jangan khawatirkan. Aku percaya padamu … kau tidak akan kutinggalkan.”

Jangan tinggalkan aku.

Itulah kata-kata yang keluar dari bibir Kurena tepat seketika mereka mundur dari Negara-Negara Armada. Dia menyuarakan keinginan mendalamnya untuk tetap bergantung kepadanya.

“Iya, aku tahu.” Kurena mengangguk sembari tersenyum, seperti halnya dirinya mengharapkan Shin mengatakan itu juga. “Betulan. Tapi aku seorang 86 juga.”

Dia adalah seseorang yang akan bertarung sampai akhir.

“Bertarung sampai mati adalah harga diri kami, dan aku ingin melindungi harga diri itu juga.”

Tapi begitu dia mengatakannya, Shin memberengut. Dia mengutarakan kata-kata itu padanya sewaktu meninggalkan Negara-Negara Armada, terus dia tanggapi dengan tatapan serupa. Setelah merenung sesaat, tidak yakin harus menyatakan isi pikirannya kali ini atau tidak, Shin membuka bibir.

“Kau bilang kita tidak harus berubah, ‘kan?”

“… iya.”

Misalkan menyulitkan bagimu, kalau begitu tidak apa-apa tak berubah.

“Kalau kau tidak mau berubah, jadi apa adanya tak apa. Tidak masalah. Tapi jika kau pikir tidak berubah … jika kau mempertahankan harga diri itu baknya kutukan—”

Mata Shin terlihat lebih hidup ketimbang di Sektor 86 atau medan perang Kerajaan Bersatu. Di Kerajaan Bersatu, serasa seperti didorong kegelisahan rapuh selagi berjalan di atas tali, tertatih-tatih di ujung tanduk. Dan di Sektor 86, mata merah darahnya sedingin permukaan lautan membeku.

Tetapi suatu kala, es itu telah mencair, dan dia menjadi seperti permukaan danau tenang. Kurena melihat pantulan dirinya di mata tersebut. Sepasang mata itu memandang khawatir dirinya, seakan-akan sedang menahan rasa sakit mendalam.

Shin tepat berada di depannya, lantas mengapa … mengapa dia terasa teramat-amat jauh?

“—kalau begitu itu bukan beban yang terpaksa kau pikul.”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

“Pendinginan rel ketapel selesai. Semua sambungan dikonfirmasi telah terkunci. Daftar periksa terakhir selesai.”

Kakinya melepaskan jeritan logam yang keras saat berputar. Membawa beban dua rel yang panjangnya sembilan puluh meter serta peredam tolak balik berbentuk luku.

Di hanggar, relnya dilipat ke belakang bak sayap, tetapi sekarang sudah dilebarkan dan didorong ke atas, laksana ujung tombak yang menunjuk langit. Tanpa memperhitungkan relnya pun, panjang keseluruhan mesinnya sudah empat puluh meter, berdiri sejajar dengan badan Morpho yang mengagumkan.

Lapisannya bukan warna metalik khas Federasi, melainkan warna cokelat tua negara asalnya, yakni Aliansi. Hitam pekat, warna para Penunggang Hantu, tentara spektral yang bergerak maju di tengah malam.

86 pernah melihat pemandangan serupa beberapa kali. Mirip mekanisme yang digunakan untuk meluncurkan kendaraan aerodinamika bersayap, Nachzehrer, selama operasi pengejaran Morpho, sekaligus unit pendukung Legion yang mereka rampok selama operasi Kerajaan Bersatu, Zentaur. Dan akhirnya, mekanisme sama digunakan pada ketapel di geladak penerbangan Stella Maris untuk meluncurkan pesawat yang diangkut kapal.

“Persiapan peluncuran Mk. 1 Armée Furieuse selesai.”

Reginleif, menyerupai 24 wyvern hitam pekat, berdiri pelan-pelan di atas relnya.

“Barangkali sudah terlambat menanyakan ini, tapi Anda dikerahkan ke Divisi Penyerang sebagai instruktur, benar, Kapten Olivia?”

Sebab Raiden mesti mengambil alih rantai komando jikalau kapten tak bertugas, dia tidak bisa dikerahkan di saat bersamaan dengan Shin. Shin memimpin Peleton ke-1, sementara Raiden adalah Peleton ke-2 dari pasukan garda depan.

Para Juggernaut di peleton Shin duduk di ketapel Armée Furieuse, menunggu perintah tuk dikerahkan. Mereka berdiri lebih dari sepuluh meter di atas tanah, tempat Raiden berada. Selagi melihat ke atas, dia memindahkan fokusnya ke Peleton ke-3, di sana satu Stollenwurm cokelat berdiri di antara unit-unit putih.

Theo menjadi garda depan Peleton ke-3, dan seseorang mesti mengisi kekosongan yang tersisa ketika dia tak hadir. Maka Olivia, sebagai spesialis pertarungan jarak dekat, bergabung dalam operasi. Kontribusinya disambut baik, namun ….

“Mestikah Anda menjadi bagian unit tempur langsung? Apalagi kelompok garda depan ….”

“… yah, apakah ada aturan yang menyatakan seorang instruktur tidak diperbolehkan bertarung di lini depan?”

Jawab Olivia sambil mengepang rambutnya dalam Anna Maria. Raiden bisa mendengar suara rambutnya berseliweran selagi diikat, dan suara tali mengikat yang digerakkan jari-jarinya. Kedengarannya mirip nian dengan suara pendekar pedang kuno yang tengah menghunus pedang mereka atau seorang pemanah menarik tali busur.

“Ini pertempuran perdana Armée Furieuse, dan unit garda depan adalah unit pertama yang menggunakan Mantel dalam pertempuran langsung. Sebagai seorang operator Mantel berpengalaman, sekaligus instruktur kalian, masuk akal bila aku bergabung dengan kalian.”

Di Kerajaan Bersatu yang militeristik, kecakapan bela diri adalah harga dirinya para bangsawan, bahkan bagi para pangeran yang mempilot Feldreß. Letnannya Vika sekaligus wakil misi ini, Zashya, juga sama. Jika diperlukan, sudah jadi tugas putri bangsawan Roa Gracia untuk melindungi pewaris dan wilayahnya. Belajar cara mempilot Feldreß atau menggunakan senjata api dengan cara sama selayaknya tentara infanteri tidak dipandang memalukan, melainkan suatu kebajikan yang harus disanjung.

“Bu. Kami sudah memasang lapis baja semaksimal batasan berat, namun Alkonost adalah unit lapis baja ringan. Mohon pertimbangkan itu dalam pertarungan.”

“Aku tahu. Terima kasih, Kapten.”

Zashya membalas peringatan sopan bawahannya dari posisinya di garda depan. Rambutnya dikepang dua, dan mata violetnya disembunyikan kacamata. Dia biasanya menaiki Barushka Matushka khususnya yang dispesialkan untuk gangguan komunikasi serta peperangan elektronik.

Namun Barushka Matushka adalah unit terlalu berat untuk dijadikan bagian pasukan garda depan. Jadi gantinya, dia naik Alkonost yang punya peralatan perang elektronik yang diaplikasikan dengan terburu-buru. Pasukan garda depan adalah unit skala kecil yang akan diisolasi dalam wilayah musuh. Saat itu, interferensi elektromagnetik Eintagsfliege akan mengganggu gelombang udara, menghalangi bantuan informasi pasukan garda depan dari Vanadis.

Tergantung situasinya, tautan-tautan data internal batalion garda depan bisa saja terputus. Lantas tuk menggantikan pasukan utama, Zashya beserta unitnya, Królik, akan memberikan bantuan kepada batalion garda depan. Normalnya, para Sirin yang diperintahkan menjadi penyampai komunikasi, tapi ini kali pertama Divisi Penyerang menggunakan Armée Furieuse. Dan situasi senjata baru digunakan pertama kali adalah situasi yang rentan terhadap kejadian tidak terduga. Sirin tak fleksibel tidak boleh menangani hal ini. Lantas Zashya yang menggantikan.

Seluruhnya demi penguasanya, kepadanyalah dia ‘kan mempersembahkan daging dan darahnya.

“Kita akan maju atas nama Pangeran Viktor. Królik, dikerahkan untuk memenuhi misi. Kuserahkan komando pasukan darat di tanganmu.”

Kendatipun bagian Divisi Penyerang, Dustin merupakan orang paling tidak mahir di antara para Prosesor. Alih-alih ditempatkan di batalion garda depan, dia diposisikan di pasukan utama Brigade Ekspedisi, yang ‘kan digerakkan bersama Trauerschwan.

Penugasan biasanya sementara diubah, dan dia ditaruh di lini depan—meninggalkan skuadron Spearhead. Tetapi ketika itulah dia mendengar suara di Para-RAID-nya.

“Dustin.”

Anju?

Dia memeriksa pengaturan Resonansi dan mendapati dirinya seoranglah target percakapan ini. Dustin duduk. Sebagaimana anggota skuadron Spearhead lain, dia bagian batalion garda depan. Anju didesak apa hingga menghubunginya seperti ini?

“Ada ap—?”

“Kau bilang tidak akan mati dan meninggalkanku, ‘kan?”

Bahkan selagi bicara, Anju memikirkan enam bulan terakhir ini. Hari-hari yang mereka habiskan bersama di Divisi Penyerang dan pembicaraan tidak terhitungnya dengan Dustin. Orang-orang Negara-Negara Armada yang dipaksa membuang harga diri mereka. Theo, yang jalan menuju tujuannya terputus di tengah jalan.

Beberapa hari yang lalu, dia berpapasan dengan Shin dan Kurena lalu mendengar percakapan mereka. Dia dengar yang Shin katakan kepada Kurena setelah memercayakannya dengan peran penembak Trauerschwan.

Mengubah harga diri—yang harusnya menjadi sebuah harapan atau impian—menjadi kutukan.

Pikiran itu telah berlama-lama dalam kepala Anju sejak saat itu. Dia pun bertanya-tanya apakah berlaku kepadanya pula.

Aku masih punya perasaan sama Daiya ….

Itu tidak bohong. Tapi—

Aku tidak punya perasaan sama kepadamu.

Itu, faktanya, adalah sebuah kebohongan.

Jika dia tak merasakan apa-apa, dia takkan meraih uluran tangannya selama pesta itu. Dia takkan menjelajahi gua itu bersamanya …. Dia takkan melihat laut yang disinari cahaya pendar Noctiluca, bersamanya. Bukan sebagai teman, namun … lebih dari itu?

Tetapi dia masih belum mampu menjawab perasaannya, karena melakukannya terasa seperti pengkhianatan. Artinya melupakan Daiya.

Rasanya dia menggunakan ingatan Daiya sebagai dalih untuk tidak bergerak maju ….

Daiya … tidak akan senang sama betapa pengecutnya aku, bukan?

Dia menarik napas panjang-panjang kemudian dihembuskan tanpa suara, agar Dustin tidak dengar. Entah kenapa, dia merasa sangat … takut. Tapi dia menahan perasaan tersebut dan bicara.

“Bisa aku percayai kata-kata itu? Karena aku juga pasti akan kembali ke sisimu.”

Sejenak, mata Dustin membelalak. Namun setelah itu dia mengangguk tegas.

“Tentu saja!”

“Kepada seluruh Brigade Ekspedisi Federasi, tentaranya, dan 86. Ini komandan Korps Angkatan Darat ke-3 Teokrasi, Himmelnåde Rèze. Aku mengandalkan bantuan kalian pada pemusnahan tipe Pabrik Penyerang, Halcyon.”

Tatkala pasukan Federasi terhubung ke frekuensi yang diniatkan, suara seorang gadis bicara pada mereka lewat  komunikator nirkabel. Kurena mengangkat kepala terkejut.

Ini dia, jenderal kecilnya Teokrasi. Dia hanya dua sampai tiga tahun lebih tua dari Frederica dan beberapa tahun lebih muda dari Kurena. Dia sering muncul di barak-barak Divisi Penyerang, alhasil Kurena mengenalnya. Bahkan mereka sempat bicara, meskipun singkat. Tepatnya beberapa hari lalu …. Iya, sekitar waktu Shin memintanya menjadi penembak Trauerschwan.

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Seketika pasukan Federasi terhubung dengan frekuensi yang ditujukan, suara seorang gadis berbicara kepada mereka lewat kabel, kalau begitu itu bukan beban yang terpaksa kau pikul.

Harga diri mereka. Cara hidup mereka, berjuang sampai nyawa mereka habis.

“Itu …!”

Itulah kata-kata yang tidak dapat diterima Kurena. Dia sangat ingin menentang dan mendebatkannya, tapi Shin mengangkat tangan dan memotongnya. Merasakan tajamnya tatapan Shin, dia mengikuti pandangannya seraya menelan amarah.

Sekitar di sudut ruangan ada patung pilar berbentuk dewi, terbuat dari kaca seputih mutiara. Cahaya yang bersinar menembusnya dibiaskan menjadi cahaya prismatik. Cahaya dewi bersayap tanpa kepala yang katanya menghormati benua itu sendiri.

Berdiri di bawah bayangan pilar tersebut ada seorang gadis kecil berambut pirang panjang. Dia samar-samar mirip peri.

“A—aku minta maaf …! Aku tidak bermaksud menyela, mengintip, atau menguping …!” ucapnya dengan kebingungan, wajahnya memerah sampai telinga.

Ketika itulah Kurena mengerti gadis di depan mereka salah paham tentang dirinya dan Shin.

“T-tidak! Kami tidak begitu!” seru Kurena, tetapi begitu dia menyadari perkataannya, dia malah makin-makin panik.

Dia kerap kali menyangkal perasaannya, namun tidak pernah di depan Shin. Tapi sementara Kurena terlihat kelabakan, Shin menatap gadis itu, dia kaget oleh hal lain.

“Anda komandan korps Teokrasi, benar? Jenderal Kedua Rèze …. Anda sedang apa di sini?”

“Komandan korps?!” teriak Kurena.

“T-tidak, aku hanya mengambil alih peran orang tuaku ….” Kata Hilnå dengan panik.

Usai tampak menenangkan diri, dia bicara lagi—matanya jernih dan emas layaknya matahari terbenam.

“Aku hendak menyapa kalian, 86. Sebagaimana yang kalian katakan, aku adalah komandan korps, maka dari itu, aku datang sebagai perwakilan korpsku untuk menyambut kalian sebagai penyelamat kami.”

Senyum tumbuh di wajah bersih dan sucinya.

“… sebagai orang-orang yang mengenal perang dari bayi, seperti aku.”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Suaranya sama, tapi entah bagaimana, terdengar lantang dan jelas bahkan lewat suara statis rusak dari komunikator nirkabel.

“Selamatkan kami dari keadaan buruk kami, pahlawan negeri asing …. Semoga berkat dewi bumi melindungi kalian. Semoga taring baja tunggangan baja kalian takkan tumpul, dan semoga perisai kalian tetap kukuh.”

Dia barangkali mengubah wajah polosnya ke eskpresi marah paling galaknya terus berdiri tegak dan teguh sebisa mungkin.

Selamatkan kami dari keadaan buruk kami, katanya.

“Baiklah.”

Dia nyatakan kata-kata ini sebelumnya.

Tangan kanannya tanpa sadar menyentuh pistol di pahanya. Pistol otomatis 9 mm dengan pin tembak internal. Senjata yang diberikan kepadanya oleh Federasi, seperti 86-86 lain, untuk membunuh dirinya di kemungkinan terburuk juga mengakhiri hidup rekan-rekan gugurnya.

Dia tak pernah menembakkan pistol untuk tujuan ini. Sebab semenjak berada di Sektor 86, orang lain senantiasa menanggung beban itu untuknya.

“Kapten Nouzen, batalion garda depan akan segera berangkat. Ini akan menjadi penggunaan operasional Armée Furieuse pertama kita. Tolong … tetaplah berhati-hati.”

Batalion garda depan akan merambah jauh ke dalam wilayah Legion. Takkan ada tempat kabur. Satu kesalahan bisa mengakibatkan Shin dan kelompoknya terdampar di tengah wilayah musuh. Ketakutan akan kejadian itu terus-terusan membuat hati Lena teramat resah selama operasi.

Lebih buruknya, ada kemungkinan Rabe atau Stachelschwein mendeteksi mereka, dan bila mana itu terjadi, batalion garda depan takkan punya perlindungan. Operasi ini jauh lebih berbahaya ketimbang kunjungan-kunjungan mereka yang sebelumnya.

Pada operasi sebelum ini, Shin terjatuh dari Mirage Spire dan mencebur laut. Nanti kalau dia tidak kembali bagaimana? Lena merinding; rasanya seperti es menelusuri punggungnya. Lena tak mampu menahan ketakutannya, biarpun sudah berusaha sebaik mungkin ….

Namun hanya Shin balas dengan senyum sinis.

“Aku masih ingat perintah yang kau berikan kepadaku saat kita kembali dari Negara-Negara Armada, Lena …. Kurasa tidak bisa lupakan walaupun mau.”

“Shin …!” Lena meninggikan suaranya, bingung oleh sikap iseng dalam suaranya.

Karena saat ini, Shin sedang menyentuh bibirnya sendiri. Lena dapat rasakan lewat Resonansi. Ketika mereka membuat janji itu, Shin menciumnya …. Mereka pun sudah berciuman beberapa kali sebelum itu. Ini bisa terjadi karena hanya mereka berdua yang Beresonansi, tapi ….

Tidak, perekam misi Reginleif mencatat semua perkataan pilot selama operasi. Rekaman tersebut beberapa kali mempermalukan Shin, jadi dia mengambil pelajaran dan menjaga ekspresi verbalnya ke hal-hal yang rabun tanpa konteks tepat.

Namun Lena tahu konteksnya, dan itu masih membuatnya malu. Kalau nanti Grethe menanyakan maksudnya selama pengarahan ulang bagaimana?

tidak akan terjadi apa-apa. Nanti kusuruh Shin saja yang menjelaskan.

“Ini rencana balas dendamu? Karena seandainya terjadi sesuatu, kau kuseret juga.”

“Oh, jadi kau sadar sudah melakukan sesuatu yang membenarkan balas dendamku. Aku jadi penasaran bolehkah aku menggalaukan satu bulan kau menggantung perasaanku sebelum kita pergi ke Negara-Negara Armada.”

“Wah, tentu …. Maksudku …. Ini kedengarannya kayak alasan, tapi tidak ada jalur komunikasi fisik ke pusat pelatihan, dan mereka tidak membiarkan kita mengirim surat apa pun. Dan fakta aku yang tak mengindahkannya satu bulan penuh membuatku merasa canggung … Hmm ….”

Semakin bicara, semakin sadar dirinyalah yang salah.

“… maaf.”

Lena mendengar Shin cekikikan.

“Mana bisa aku mati persis setelah akhirnya kau membalas perasaanku, ‘kan?”

Jadi jangan cemas. Aku akan baik-baik saja.

Lena tersenyum mendengar kata-kata tersirat itu. Karenanya, Lena membuat sumpah itu, mengharapkan suatu keajaiban. Waktu itu dia memikirkan cara membalasnya.

“Iya …. Dan juga, Shin? Aku sebetulnya masih menyimpan mantelmu, buat jaga-jaga sewaktu aku memakai Cicada …. Kau biasanya pakai kolonye, ‘kan? Baunya seperti bau badanmu. Kadang-kadang … memakai mantelmu menenangkanku.”

“—?!”

Dia dengar Shin tiba-tiba batuk. Rupanya, ini mengejutkannya. Lena jadi terdengar sedikit mesum, tapi dia merasa Shin pantas mendapatkannya, lantas dengan mulusnya dia lanjutkan.

“Mungkin akan kupinjam buat setiap operasi mulai dari sekarang. Bisa kupeluk erat-erat kapan pun merasa risau.”

“….”

Dia terdiam, sepertinya membayangkan sesuatu … Lena memutuskan menghentikannya. Semestinya jangan dia goda lagi sebelum operasi.”

“Akan kukembalikan begitu operasi selesai … akan aku kembalikan langsung setiap kalinya. Jadi tolong … berikan aku kesempatan itu.”

Tolong … hati-hati.

“Jaga dirimu.”

“Aku—,” ucap Shin, tetapi dia hentikan dan mengoreksinya. “Sampai nanti.”

Lena melebarkan matanya mendengar dua kata pendek itu. Dia tak bilang, Aku berangkat. Bibirnya tersenyum. Setidakpantas bagaimanapun itu, Shin tidak bicara kepada perwira atasan, melainkan rekan. Atau mungkin … kepada seseorang yang dia nyatakan sumpah akan hidup bersama. Pergantian kalimat tersebut membuat Lena senang.

“Iya—berhati-hatilah!”

“Jalan bersih! Armée Furieuse, memulai peluncuran!”

Jalan mereka sebenarnya, tentu saja tidak bersih sama sekali, dengan Eintagsfliege yang memenuhi jalan mereka. Terlebih lagi, lazimnya Feldreß berpilot takkan dilempar ke udara untuk menghabisi Eintagsfliege. Tapi untunglah, di situasi ini tidak ada yang mencandainya. Sebuah pelontar6 yang mirip dengan balok awal7 menarik Reginleif selagi meluncur melintasi rel. Perasaan diluncurkan itu adalah berkat akselerasi intens ketapel elektromagnetik. Shin pernah mengalaminya saat simulasi dan selama peluncuran Nachzehrer, tetapi tidak bisa membiasakan diri dengan perasaan itu. Sekejap mata, ketapelnya telah pindah dari satu ujung rel ke ujung satunya. Kemudian berhenti di ujung rel dengan suara keras, lalu kuncinya lepas.

Reginleif merupakan Feldreß ringan, namun beratnya masih sepuluh ton. Dan berat tersebut dilempar ke udara dengan kekuatan penuh menuju langit utara nan jauh.

Mk. 1 Armée Furieuse, diproduksi Aliansi Wald.

Sebuah ketapel elektromagnetik yang tujuannya untuk meluncurkan Feldreß ke langit, sehingga bisa maju melintasi tempat atas sana sesuai namanya yang diambil dari gadis perang lalu turun ke medan tempur.

Sebuah sistem yang memungkinkan Reginleif lepas landas, seperti halnya Nachzehrer atau jet tempur, menjadikannya persenjataan udara.

Melepaskan cengkeraman gravitasi, Reginleif mencapai ketinggian, rangka-rangka mereka dilapisi persenjataan udara lain—alat penggerak yang disebut Mantel Freya.

Mantel mitos yang ‘kan mengubah siapa pun pemakainya menjadi elang. Sama dengan namanya, memperkenankan Reginleif terbang di udara sambil mengaburkan penampakan mereka.

Sebab senjata permukaan tidak punya bentuk aerodinamis yang memperkenankan mereka menjaga keseimbangan serta ketinggian, Mantel Freya menyelimuti mereka dan memberikan pelepasan8. Mantel Freya pun disertai dua pendorong roket untuk mengangkat sepuluh tonnya ke udara. Saat pelepasannya meninggalkan pelontar, kedua roket menyala dan sayap stabilisasinya dilebarkan.

Tatkala mencapai daya dorong. Mantel Freya bergegas ke langit. Tepat nama mantelnya, diselubungi serpihan perak tipis seukuran bulu burung yang membelokkan cahaya dan gelombang radio, terus berkedip-kedip setiap saat.

Sehabis mendapatkan sayap api dan bersembunyi di balik bulu-bulu, Reginleif membumbung.

Saat Gilwiese melihat ke atas dari lini depan, dia tak bisa benar-benar melihat para Juggernaut yang berlayar di langit. Mereka terbang di ketinggian dan kecepatan yang tak dapat dilihat orang-orang di darat. Gilwiese sekadar menatap, tahu mereka pasti berada di langit abu berawan atas sana, setelah itu dia bergumam sendiri.

“Sepasukan hantu yang terbang di langit, dipimpin oleh dewa perang, dewa kematian. Mereka adalah Penunggang Hantu.”

Dewa pejuang yang memimpin pasukan hantu-hantu itu juga merangkap sebagai pencabut nyawa yang mengatur jiwa-jiwa prajurit yang sudah mati. Orang-orang yang gugur dalam perang berkumpul ke sang dewa, mempersembahkan jiwa mereka untuk berbaris menyongsong pertempuran mulia di bawah kepemimpinannya selamanya.

Namun bagaimanakah perasaan sang dewa prajurit tentang itu?

Menggeleng kepala sekali, Gilwiese membangkitkan Vánagandr-nya. Unit yang dilapisi warna sinabar dalam Resimen Myrmecoleo, berbanding terbalik dengan warna metalik lumrahnya Federasi. Tanda Pribadi di sisinya adalah kura-kura laut dengan kepala anak sapi—nama pengenal: Mock Turtle.

“Mock Turtle kepada semua unit—kita ikut berangkat.”

Serpihan perak yang menutupi Mantel Freya juga bagian luar Juggernaut sejatinya adalah sayap Eintagsfliege. Atau lebih tepatnya, tiruannya. Divisi Penyerang sukses menyerbu dan menaklukkan pangkalan-pangkalan produksi Legion di masa lalu. Salah satunya merupakan pangkalan Gunung Dragon Fang, di sanalah mereka menangkap Zelene. Di momen yang sama, mereka pun mengambil sejumlah sampel, yang mana kelak digunakan untuk menciptakan alat ini.

Bulu-bulu elang metalik yang mengganggu, membiaskan, dan menyerap segala macam gelombang elektromagnetik, termasuk cahaya. Selama pengembangannya di Aliansi, alat itu dijuluki Bulu Elang Putih.

Kemampuan gangguan elektromagnetik Mantel memungkinkannya menyembunyikan Reginleif baik dari Rabe yang terbang tinggi di atas mereka serta dilengkapi radar antiudara, dan radar Stachelschwein di daratan.

Tetapi asupan mesin pesawat jet masih akan menyedot bulu-bulunya yang akan menghancurkan mesin layaknya pekerjaan Eintagsfliege. Namun Mantel Freya menggunakan pendorong roket yang tak harus menghirup udara untuk pembakarannya dan sanggup terbang melalui awan-awan bulu perak ini. Akan tetapi, tidak terlalu efektif sebagai pengganti mesin jet. Satu-satunya kegunaannya adalah meluncurkan benda-benda lebih ringan dari jet tempur, mendorong para Reginleif dalam perjalanan satu arah.

Selagi Reginleif melangit di udara, suhu di luar unit cukup rendah sampai-sampai bisa membekukan paru-paru seseorang di ketinggian ini. Shin memeriksa altimeternya. Mesin roket menyelesaikan pembakarannya kemudian, dikarenakan tugasnya selesai, dibuang dari Mantel.

Yang menggantikannya adalah sepasang sayap dan tenaga penggerak untuk meluncur telah diungkap dan dibentangkan. Mesin roket tidak efektif bukan main untuk penerbangan nyata. Bahkan militer Federasi jarang-jarang menggunakannya pada pesawat-pesawatnya, hanya digunakan untuk meraih ketinggian yang dibutuhkan selanjutnya mengumpulkan energi kinetik yang akan dimanfaatkan untuk meluncur turun. Maka turunlah para Reginleif, bagai pasukan hantu.

Sayap buatan menangkap angin, mengubah lintasan unit dari naik menjadi turun perlahan. Shin merasakan darah dan organ-organnya bergeser ke atas, menimbulkan sensasi mengambang yang asing dan aneh. Dia menegang—manusia adalah makhluk yang tidak bisa terbang, dan berada di ketinggian setinggi itu membuat naluri mereka takut akan jatuh dari sana.

Mereka menukik diagonal dari langit dingin. Unit-unit udara mulai turun dengan cepat ke kedalaman wilayah musuh.

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Bahkan di medan perang paling utara ini, laporan dari unit patroli Legion yang telah menghadapi pasukan musuh dengan cepat ditangkap Rabe yang terbang tinggi di langit. Kala menerima satu laporan itu dari Tausendfüßler yang bergerak cepat di sepanjang lini depan untuk keperluan suplai ulang, Rabe tidak panik. Ia semata-mata berhenti sebentar sebelum memutuskan arahan.

<<Sisa-sisa unit yang tidak terdaftar dalam basis data terdeteksi. Diduga sebagai mesin roket.>>

Tetapi tak ada laporan mengenai musuh yang menyusup ke sektor terkait. Baik Ameise yang mengawasi lini depan ataupun Stachelschwein yang mengamati langit di area belakang tidak mengetahui apa-apa. Dan radar Rabe sendiri tidak menangkap apa pun.

Tetapi mengingat suhu mesin yang ditemukan, mesinnya belum lama dinyalakan kemudian terjatuh. Tak mungkin sebuah mesin belum ditemukan yang dimiliki suatu unit hancur tak diketahui. Artinya kemungkinan dibuang dalam perjalanan.

Asalnya dari serangan udara yang menggunakan semacam mekanisme gangguan elegtromagnetik untuk menipu radar.

Boleh jadi menyerupai taktik Legion sendiri yakni memasang pendorong roket dan peluncur ke Ameise agar memungkinkan mereka terbang dari atas. Dalam hal ini, tujuan unit musuh adalah ….

<<Eagle Five kepada Plan Ferdinand. Tetap waspada.>>

<<Plan Ferdinand kepada Eagle Five. Diterima.>>

<<Fitur terintegrasi diaktifkan. Colare Synthesis, siaga aktivasi.>>

<<Melusine One, siaga aktivasi tempur.>>

ᚠᚱᛖᚤᚨ

“Kita ketahuan.”

Shin menyipitkan mata begitu mendengar lolongan Halcyon, mengartikan telah masuk keadaan tempur. Tetapi, nampaknya sensor optiknya atau unit-unit antiudara familier lain belum melihat mereka. Legion kemungkinan besar telah menemukan mesin yang dijatuhkan. Bulu Elang Putih sepatutnya menyembunyikan Reginleif bahkan dari jarak sedekat ini. Di sisi lain, bayangan metalik besar mulai kelihatan. Mereka berada di atas posisi pendaratan yang direncanakan.

Tentu saja, kemampuan Shin untuk mendengar para hantu sayup-sayup sudah lama mendeteksi lolongan Halcyon.

“… andai tahu ini yang terjadi, aku akan lebih cepat menguasai benda ini,” gumam Shin. Dia bicara lirih agar tidak ditangkap Para-RAID selagi memandang sekilas Cyclops.

Mereka lanjut turun sementara badan besar Halcyon semakin dekat di bawah mereka. Sebagaimana Phönix menggunakan Eintagsfliege untuk kamuflase optik, Mantel Freya bahkan menolak sinar cahaya tampak yang dipancarkan radar. Sensor optik biru Legion masih belum mendeteksi Reginleif. Dalam perlindungan Mantel, Feldreß membelok ke arah gedung-gedung tinggi terdekat.

Titik pendaratan mereka adalah reruntuhan bekas pangkalan militer Teokrasi yang dibangun di atas tempat yang dahulu adalah sebuah kota. Bangunan-bangunan itu bak penanda kuburan raksasa, selanjutnya mereka menyembunyikan Undertaker dan para Reginleif lain dari pandangan Halcyon. Tanah abu-abu kian dekat. Digabungkan altimeter Shin, sepasang sayap deselerasi dikembangkan, dengan cepat membatasi kecepatan jatuh unit.

“Mantel Freya, dilepaskan.”

Tampilan layar holo muncul, sesudah itu sayap dan pelepasan unit ditutup. Segera setelahnya, kekuatan kuat mengguncang Reginleif. Dampak intens pendaratan menembus badan Feldreß saat menendang awan abu vulkanik.

Valkyrie-Valkyrie seputih salju telah turun ke medan perang abu dan perak.

 

Catatan Kaki:

  1. Frosted glass adalah kaca yang mana memiliki fitur translucent dan buram yang dihasilkan oleh proses lebih lanjut seperti proses acid etching, sandblasting, kaca tarik, atau dengan laminasi..

Frosted Glass? Pembahasan Tentang Kaca Buram

  1. Kaca yang bentuknya kubah, gitu deh.

https://www.istockphoto.com/id/vektor/kubah-kaca-bentuk-bola-dan-belahan-bumi-realistis-berbagai-ukuran-laboratorium-dan-gm1264553623-370401462

  1. Halcyon” adalah nama untuk burung dalam legenda Yunani yang secara umum berkaitan dengan cekakak. Pernah ada kepercayaan kuno bahwa burung ini bersarang di permukaan laut, dimana burung ini ditenangkan agar bertelur diatas sarang mengapung.

https://id.wikipedia.org/wiki/Halkyon#:~:text=%22Halcyon%22%20adalah%20nama%20untuk%20burung,agar%20bertelur%20diatas%20sarang%20mengapung.

  1. Kepala gua pusing mikirin ini.

https://en.wikipedia.org/wiki/The_Fox_and_the_Grapes

  1. mineral berwarna cokelat kemerahan yang terdiri atas sulfida merkuri yang digunakan sebagai sumber air raksa.

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sinabar

  1. Pelontar yang dimaksud adalah bagian dari mekanisme ketapel, klo dalam konteks kapal itu tuh bagian ketapel yang berada di sepanjang geladak penerbangan, pesawat terbang dipasangkan di pelontarnya kemudian diluncurkan ketapel untuk membantu lepas landasnya.

  1. Balok awal adalah alat yang digunakan dalam olahraga atletik oleh atlet sprint untuk menahan kaki mereka pada awal perlombaan sehingga mereka tidak tergelincir saat mereka mendorong pada suara pistol.
  2. Pelepasan yang dimaksud mungkin adalah payload fairing, di bahasa inggrisnya fairing doang, tapi yang paling tepat mengenai itu menurut gua adalah payload fairing, kerucut yang digunakan untuk melindungi pesawat ruang angkasa (muatan kendaraan peluncuran) terhadap dampak tekanan dinamis dan pemanasan aerodinamis selama peluncuran melalui atmosfer. Baru-baru ini, fungsi tambahan adalah untuk menjaga lingkungan yang bersih (Cleanroom) untuk instrumen yang presisi.

https://id.wikipedia.org/wiki/Pelepasan_muatan

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments