Share this post on:

Tawaran Putri Duyung

Penerjemah: Sora

Walaupun sampai akhir pun gagal menaklukkan sarang leviathan terbesar, kapal induk besar Negara-Negara Armada dibangun untuk ekspedisi laut yang membentang ribuan kilometer. Jadi kapalnya harus mampu mendukung kebutuhan ribuan anggota kru untuk pelayaran selama enam bulan.

Hal ini pun tentunya termasuk kebutuhan—makanan, air, pakaian, dan penginapan. Namun di antara fasilitas-fasilitas tersebut ada juga perpustakaan, kapel, ruang gimnastik, dan kantin. Fungsi keseluruhan pangkalan dimuat dalam kapal seratus ribu ton ini.

Dan tentu saja, kapalnya juga punya fasilitas medis sendiri.

“Kurasa fakta operasi ini adalah operasi gabungan dengan Negara-Negara Armada adalah satu-satunya hal positif di sini.”

Bayangan masif kapal induk besar yang rusak itu di pelabuhan malam hari layaknya bangkai kapal raksasa. Dustin bicara sambil mengalihkan pandangannya dari siluet gelap di kejauhan. Dia lagi berdiri di koridor rumah sakit militer yang didirikan di bukit kecil yang menghadap ke laut serta kota pelabuhan luas.

Anggota-anggota kru yang paling parah terluka selama operasi Mirage Spire telah diangkut dan dirawat di rumah sakit bukit kecil ini, walaupun prosesnya baru saja selesai. Anggota lainnya belum diizinkan untuk menjenguk mereka, jadi para penjenguk menunggu di koridor. Orang-orang yang datang untuk menghibur dan menjemput yang terluka harus menekan perasaan frustasi sebab tidak bisa menemui mereka.

Iya, yang terluka.

Contohnya orang yang memaksa mundur Noctiluca dan di tengah pertempurannya kehilangan tangannya—

“Stella Maris punya ruang operasi dan ICU juga. Pemeriksa medisnya pun tepat waktu merawatnya, jadi—,” Dustin mulai bicara.

“Aku tahu kau mau bilang apa, Dustin. Tapi tutup mulutmu.” Raiden memotong.

Suaranya nyaris seperti binatang menggeram. Dustin sudah tahu itu, tetapi tak ada gunanya mencoba mengabaikan situasi saat ini. Rumah sakit bagian samping di Stella Maris sudah berteknologi maju dan kelengkapan alatnya baik; rumah sakitnya punya beberapa kamar operasi, ICU, dan fasilitas rawat inap.

Dikarenakan Armada Orphan sering berlayar jauh dari daratan untuk menantang para leviathan, prospek mengembalikan anggota kru ke daratan tepat waktu tidak senantiasa realistis. Itulah sebabnya fasilitas kapal dibangun untuk mengakomodasinya.

Dan benar memang, Theo dikirim ke ruang operasi segera setelah diselamatkan, jadi meskipun terluka parah di bagian arteri yang memanjang dari jantungnya sampai lengan kiri, dia dirawat sebelum situasinya mengancam nyawanya. Akan tetapi ….

“Rasanya kayak … terus apa? Dia tetap kehilangan tangannya, tahu?” kata Raiden sambil mendesah.

“… maaf.” Dustin menunduk.

“Dia … mungkin diberhentikan karena luka-lukanya, ‘kan?” gumam Michihi.

“Asumsikan saja dia tidak secara khusus diminta diberhentikan, palingan mereka dipindahtugaskan ke posisi nonkombatan.”

Marcel-lah yang menjawab Michihi. Tatapan semua orang diarahkan kepadanya, tanpa balas menatap, dia melihat ke bawah kemudian lanjut bicara:

“Kita ini perwira khusus, dan negara menginvestasikan uang ke pelatihan kita. Jujur, mereka tak punya cukup personel untuk melakukannya, jadi mereka memberikan gaji di muka untuk perwira khusus baru dengan syarat nantinya akan mengenyam edukasi lebih tinggi. Jadi luka bukanlah alasan cukup untuk memecat seseorang …. Sekalipun seorang perwira mengalami luka yang parahnya bukan kepalang sampai-sampai tidak bisa bertarung lagi, negara akan mengusulkan agar mereka tetap sebagai nonkombatan.

Shin yang pernah menjadi rekannya di akademi perwira khusus, tidak hadir di sana jadi siapa pun yang mengetahui luka Marcel hanya tahu dari desas-desus saja bahwa dirinya dulu adalah pilot Vánagandr sebelum terluka dan berganti posisi menjadi perwira pengendali.

“Dan lagi, ada banyak perwira khusus yang tidak keluar dari militer karena tak punya alternatif untuk mencari nafkah, jadi mereka takkan berhenti kecuali keadaannya kelewat buruk. Dan, anu … 86, itu, uh …. Yah, dengan edukasi yang mereka berikan sebagai perwira dan perlakuan spesial, negara menghabiskan banyak uang untuk kalian …. Jadi tak bisa kubayangkan mereka akan melepaskan kalian dengan mudah.”

“Tapi ….” Anju bicara ragu, namun dia menghentikannya.

“Dia tidak bisa jadi seorang Prosesor lagi,” ucap Dustin padanya.

Tak ada 86, tak pula Penyandang Nama, sanggup mengoperasikan kendaraan tempur polipedal dengan satu tangan. Perang senjata lapis baja memerlukan reaksi sepersekian detik yang sering menjadi perbedaan hidup-mati. Terlalu sulit menangani manuver yang butuh dua tangan dengan satu tangan. Terutama Reginleif yang dikhususkan untuk pertempuran mobilitas tinggi.

Menyambungkan kembali tangan buntungnya sia-sia saja, karena sudah tenggelam dimakan ombak. Sisanya ….

“Tangan buatan bagaimana …?” tanya Raiden, seolah-olah memegang teguh harapan terakhir itu.

“—aku asumsikan mungkin bisa dibuat, jadi aku pinta beberapa perwira teknis dari Kerajaan Bersatu dan Aliansi,” kata Bernholdt datar. “Tetapi dua-duanya tidak punya anggota tubuh buatan yang cukup canggih hingga bisa bertahan dari gaya bertempurnya Reginleif.”

Negara-negara besar di utara dan selatan sama-sama membanggakan teknologi majunya. Kerajaan Bersatu mungkin saja punya anggota tubuh buatan didasarkan teknologi Sirin, dan Aliansi punya teknologi penyambung sensorik yang digunakan di Stollenwurm.

“Anggota tubuh buatan Kerajaan Bersatu digunakan untuk Barushka Matushkas lapis baja berat mereka. Tidak cukup responsif bahkan untuk Vánagandr, apalagi Reginleif. Punyanya Aliansi lebih gesit dan akurat, namun karena sistem pilotnya Stollenwurm didasari teknologi penyambung sensorik seutuhnya, teknologinya tak kompatibel dengan Reginleif.”

“Kapten Olivia juga menyebutkan tekanan mental dari teknologinya,” tambah Michihi. “sebagian besar warga negara Aliansi yang masuk militer memiliki porta1 penyambung saraf ditanamkan ke dalamnya, jadi mereka tak takut dioperasi pemasangan porta anggota tubuh buatan ke kepala mereka. Namun bagi orang luar seperti dari Federasi dan kita, rasanya kayak memasukkan objek asing ke dalam tubuh, dan kebanyakan takut melaluinya ….”

“Biarpun sampai sejauh itu, memodifikasi Reginleif untuk bekerja dengan sistem penyambung saraf akan merepotkan nian hanya demi Theo. Keduanya akan terlalu sukar dilakukan.

“Bukannya Republik punya, anu, teknologi biologis atau teknologi biologis kuasi atau semacamnya sebelum perang?” tanya Marcel khawatir. “Bisakah mereka memproduksi anggota tubuh buatan yang bisa digerakkan sebaik aslinya atau seperti itukah?”

Sebelum perang, Republik ahli dalam penlitian tentang budidaya dan penciptaan kembali jaringan biologis dari bahan buatan. Kristal saraf kuasi yang digunakan di Perangkat RAID adalah salah satu hasilnya.

Kesampingkan apakah Theo, sebagai seorang 86, bersedia menggunakan sesuatu yang diciptakan Republik atau tidak, itu jadi pilihan. Namun merasakan tatapan diarahkan kepadanya, Dustin menggeleng pelan.

“Kalau sebelum serangan skala besar mungkin bisa …. Tapi tidak lagi …. Tidak sekarang ….”

Banyak peneliti dan teknisi di balik teknologi-teknologi Republik telah disapu bersih selama serangan skala besar. Catatan mereka tidak sepenuhnya hilang, lantas teknologi-teknologi tersebut masih bisa diambil dan disempurnakan. Namun takkan selesai dalam waktu dekat.

“….”

Apa pun yang bisa semua orang lakukan untuk Theo telah dilakukan. Tidak ada lagi yang lebih baik, namun bukan berarti situasinya akan lebih gampang diterima. Raiden cuma bisa berdiam diri melankolis.

Delapan belas anggota skuadron Brísingamen telah gugur atau hilang selama pertempuran. Beberapanya terdampak penghancuran diri railgun, dan beberapa lagi gagal melarikan diri dari keruntuhan benteng laut atau jatuh ke laut terbakar. Hanya segelintir saja yang dikonfirmasi mati dan mayatnya ditemukan. Sisanya, bahkan bagian unit mereka saja tidak bisa diseret keluar dari laut.

Salah satunya adalah wakil kapten skuadron, Shana.

“Mereka bilang dia memanjat sampai lantai teratas untuk menembak musuh, karena itulah gagal kabur. Dia dari awal memang tidak ahli menembak runduk ….”

Shiden adalah salah satu dari sedikit orang yang diselamatkan tepat waktu. Lena datang menjambanginya dan tetap berdiri di pintu masuk kamar rumah sakitnya yang serasa kecil dan sempit, sebagaimana umumnya kabin kapal perang. Shiden sedang meringkuk di tempat tidurnya, perban melilit berbagai bagian tubuhnya. Lampu kabin dimatikan, dan seprai putihnya acak-acakan bagai ombak bergolak.

“… kurasa kematiannya layak.”

Tepat sebelum Cyclops jatuh ke laut, Resonansi Shiden dengan Shana terputus, tak pernah terhubung kembali.

“Katanya, ‘Dingin’. Itu kata-kata terakhirnya …. Dia mungkin kehabisan darah.”

“… Shiden,” gumam Lena.

“Kurasa sudah empat tahun lebih. Selama itulah aku mengenalnya. Awalnya kami tidak tahan satu sama lain. Saat baru bertemu kami banyak bertengkar. Tetapi setelah itu seluruh rekan-rekan regu kami mati satu per satu, jadi suka atau tidak kami harus akur. Ujung-ujungnya, hanya tersisa aku dan dia, mengubur kapten regu kami. Bahkan waktu itu, kami terus menyuruh satu sama lain untuk menggali lubang berikutnya, melempar hinaan, ‘Selanjutnya kuburanmu yang kugali’.”

Dan dari situ, awalnya adu mulut, saling membenturkan kepala, lalu bekerja sama melalui semuanya, mereka bertahan hidup dari medan perang dengan kematian pasti. Bahkan selamat dari serangan skala besar dan berjuang keluar dari Sektor 86 bersama-sama dengan bantuan Federasi.

Mereka bertahan dari semuanya, namun ….

Shiden mencengkeram rambut merah bergelombangnya.

“Jika dia mati di Sektor 86 … di medan perang yang kita ketahui, dia akan pergi ke tempat yang layak baginya. Aku tak tahu itu surga atau neraka, apalah itu, tapi aku sudah tenang begitu tahu dia sudah pergi ke sana. Bahkan tanpa kuburan, dia takkan meninggalkan mayat. Meskipun hewan memakan mayat-mayatnya, dan akhirnya kembali ke bumi … aku bisa terima. Tapi ….”

Mereka yang mati di lautan, yang tenggelam di sana …. Mayat mereka takkan muncul ke darat.

“Apa nasibnya yang tenggelam …? Mereka pergi ke tempat yang sama seperti semua orang? Adakah dia di sana saat ajalku tiba …? Ataukah para leviathan yang mengambilnya?”

Alih-alih Pencabut Nyawa menakjubkan, mengesalkan … dan bego itu?”

Lena pelan-pelan menunduk. Dia membayangkannya. Dalamnya samudera gelap, tidak tersentuh cahaya. Membayangkan tubuh Shana yang babak belur dan hancur oleh tekanan, diseret arus, serta ditinggalkan di tempat tinggal makhluk tanpa nama yang buruk.

Bila dia mati di daratan, mayatnya akan hancur berantakan, dimakan hewan haus darah dan disapu angin serta hujan. Barangkali tak beda-beda amat.

“Aku yakin kau akan menemuinya di sana.”

Lena sekilas meliriknya. Mata kiri pucat Shiden, bak salju di tempat teduh, nampaknya menyala dalam kegelapan samar. Dia kembali menatap Lena sambil mengangguk yakin dengan pelan.

Seandainya mereka mati di tempat yang sama, mereka akan menemukan tempat serupa. Semisal itulah yang Shiden dan 86 percayai setelah membuang semua kepercayaan pada Tuhan dan surga, maka itu pastilah benar.

“Karena kalian berdua 86. Dirimu, Shana, semua rekan-rekanmu—kalian akan menemukan tempat istrirahat yang sama …. Menurutku begitu.”

“… baiklah. Sehubungan pengejaran unit Legion baru, Noctiluca, dan operasi selanjutnya Divisi Penyerang.”

Divisi Penyerang 86 terdiri dari empat divisi lapis baja, dengan tiap-tiap komandan divisi mengawasi Prosesor-Prosesornya. Shin adalah komandan Divisi Lapis Baja ke-1, yang sekarang ini ditempatkan di Negara-Negara Armada. Divisi Lapis Baja ke-2 yang saat ini dalam pelatihan di pangkalan markas besar Federasi, dikomandoi Siri.

Divisi Lapis Baja ke-3 dan komandannya kini tengah cuti di sekolah dalam pangkalan, sementara Divisi Lapis Baja ke-4 dan komandannya diposisikan di Aliansi Wald. Terlepas jarak besar antara mereka, keempat kapten berkumpul lewat jalur komunikasi.

Dari anggota-anggota yang terluka di operasi Mirage Spire, hanya beberapa orang terluka parah saja yang boleh dirawat di rumah sakit militer. Yang lukanya relatif ringan disinggahkan di blok medis Stella Maris.

Shin berbaring di salah satu tempat tidur blok medis. Dia terluka seketika jatuh ke laut, dan bisa jadi karena kekurangan darah atau sebagian besar staminanya terkuras, mencoba bangun membuatnya pusing.

Dia mendesau. Siri mengerutkan alis di layar holo yang ditransmisikan dari terminal informasi di meja sampingnya sendiri, walaupun tak berniat menyalahkannya.

“Sebelum itu …. Nouzen, kau tidak apa-apa? Kau tentunya terluka, dan lagi situasi Rikka ….”

“… iya.” Shin berpikir ingin mengatakan baik-baik saja, namun dia mempertimbangkan kembali dan menggeleng kepala.

Tentu saja mereka tak baik-baik saja. Theo, seorang rekan yang bahkan selamat di misi Pengintaian Khusus bersamanya, dipaksa meninggalkan lini pertempuran. Kendati alasannya adalah luka-luka dan bukan kematian … itu rasa sakit yang takkan pernah tidak mereka sadari, mau dibahas atau tidak. Rasa sakit yang harus mereka tanggung.

“Kurasa kita semua cukup terguncang dengan ini. Kalau aku mengatakan hal yang berlebihan, silakan tegur aku.”

“Aku tahu perasaanmu. Biarpun kau tahu bisa saja terjadi, meski tadinya kau pikir terbiasa, seorang teman meninggalkan tugas aktif seperti ini rasanya … menyakitkan.”

Seorang anak laki-laki yang selayar dengan Siri mengangguk. Kulitnya gelap dan wajahnya kurus. Rambutnya cokelat kemerahan, dan memakai kecamata berbingkai perak. Dia Canaan Nyuud, komandan Divisi Lapis Baja ke-3 sekaligus kapten skuadron pertama: skuadron Longbow. Skuadron Longbow dan mantan unit pertahanan pertama front barat di Sektor 86 punya nama yang sama. Pemuda ini adalah wakil kaptennya kala itu; kaptennya gugur di serangan skala besar.

“Dan makin berlaku lagi ketika mereka adalah rekan yang bersamamu lama sekali. Suatu tempat jauh di lubuk hati, kau tak mensyukuri saat-saat mereka selamat tanpa luka apa-apa … aku tahu perasaan itu. Kami pun sama.”

Dikatakan seseorang dari layar holo yang berbeda lagi—seorang gadis berambut merah panjang yang dikepang. Suiu Tohkanya, komandan Divisi Lapis Baja ke-4 dan kapten skuadron pertamanya, skuadron Sledgehammer.

Skuadron Sledgehammer orisinil yang mana unit pertahamanan pertama di Sektor 86 front utara, telah dibantai habis selama serangan skala besar, kecuali kaptennya. Makanya, Suiu dan skuadronnya yang bertanggung jawab atas distrik kedua, mewarisi nama mereka.

“Karenanya aku ingin memberimu lebih banyak waktu buat istrirahat sebelum konferensi ini.” Siri membuang napas. “tapi di saat-saat seperti ini, militer Federasi tak bisa bertindak layaknya orang dewasa sabar dan baik.”

“Aku tidak keberatan. Mereka didesak waktu—baik konferensi dan pengaturan keseluruhan operasinya.”

Divisi Penyerang baru menemukan posisi Noctiluca pagi ini. Biarpun telegraf ke Negara-Negara Armada segera dikirimkan ke Federasi, satu hari pun belum berlalu.

“Kurasa para petinggi itu panik banget. Railgun menghancurkan empat pangkalan Federasi dalam satu hari, sekarang telah kembali. Kita tidak bisa menyalahkan mereka.”

“Mari bandingkan dan sesuaikan yang kita ketahui mengenai keadaan darurat ini sementara waktu …. Laporan Negara-Negara Armada bilang Noctiluca mengalami kerusakan berat dan kabur ke dalam air, dan keberadaannya sejak saat itu belum diketahui. Kapal induk besar tak bisa mengejar, dan juga sonar tetap di perairan wilayah Negara-Negara Armada tidak menangkapnya. Mungkin juga tidak melarikan diri ke laut lepas sebab wilayah para leviathan. Artinya bergerak di sepanjang perbatasan antara laut lepas serta wilayah perairan manusia. Benar?”

“Iya …. Negara-Negara Armada mengirimkan kapal perangnya untuk mencarinya alih-alih Stella Maris. Tapi … suara khasnya direkam selama pertempuran. Dengan terpenuhinya syarat-syarat tersebut, mereka harusnya bisa menangkap suaranya sekalipun sudah sangat jauh. Tetapi belum mereka temukan.”

Shin memberengut pahit.

“Kalau saja bisa aku lacak pergerakannya …. Maaf. Aku tidak bisa bergerak setelah operasi.”

Tatkala mendengar para penyintas lain, Theo termasuk, telah dikumpulkan untuk perawatan medis, tekanan yang tetap membuatnya terjaga mungkin habis. Semuanya tiba-tiba menghitam, dan ingatannya berakhir di sana. Ketika sadarkan diri, dia sudah di ranjang rumah sakit, dan suara Noctiluca menghilang di kejauhan.

“Aku sudah dengar seberapa parah kau terluka. Tidak ada yang menyalahkanmu. Yang ada, kau gila memaksa diri pergi ke anjungan padahal kondisi seperti itu.”

“Ditambah kau terluka selama operasi, jadi barangkali tak mampu berjalan sendiri setelahnya. Kau harusnya tetap istrirahat di tempat tidur kalau berdiri sendiri saja tak sanggup.”

“Kalau komandannya beraksi gila seperti itu, bawahan-bawahanmu pun mesti ikutan beraksi gila untuk menyesuaikan denganmu. Kau mestinya tahu itu menyusahkan orang lain.”

“….”

Shin terdiam, mengerang pun tidak. Dia tidak sengaja bertindak gila kali ini. Siri menghembus napas panjang dan gusar dari hidungnya.

“Omong-omong, kembali ke Noctiluca. Sekiranya kita boleh berharap, mungkin saja tenggelam terus mati sehabis pertempuran.”

“Tentunya tidak demikian,” Canaan memotong kata-kata Siri. “kemungkinan besarnya cuma meninggalkan jangkauan yang bisa didengar Nouzen.”

Ekspresi Siri jadi tak senang. Mengabaikannya, Canaan menyesuaikan kacamatanya dengan jari tengahnya.

“Tapi biar begitu, bukan berarti dapat bergerak ke benua utara, timur, atau barat dengan lubang mengaga di sisinya. Lagian pangkalan Legion takkan sampai sejauh itu. Noctiluca pasti membutuhkan perbaikan, dan harus mengisi ulang amunisi pula. Barangkali tak perlu bantuan untuk mengisi daya, karena menggunakan reaktor nuklir.”

“Jadi artinya kudu menemukan Weisel dan Admiral entah di mana. Tapi selain Mirage Spire, tidak ada negara lain yang melaporkan telah mendeteksi pangkalan angkatan laut Legion.”

Dari yang Ishmael kabarkan ke Shin, area lain di lautan sepanjang pantai utara benua tak cocok untuk membangun pangkalan angkatan laut di atas air. Jarak ke dasar laut dan wilayah leviathan mempersulit pembangunan pangkalan selevel Mirage Spire di wilayah tersebut.

“Lantas dari semua itu, Noctiluca pastinya bersembunyi di suatu tempat di sepanjang pantai utara benua. Dan mestinya ada pangkalan produksi Legion yang ukuran dan skalanya sesuai. Jadi misi selanjutnya Divisi Penyerang adalah mengejar Noctiluca dan di saat bersamaan, melancarkan serangan berlanjut di beberapa pangkalan produksi.”

“Tujuan kita adalah menghancurkan Noctiluca dan mengumpulkan informasi. Kita pun diperintahkan untuk mengutamakan perebutan suku cadang Weisel; terutama inti kendali mereka.”

Legion tak menggunakan ucapan manusia, dan wilayah mereka ditutupi Eintagsfliege, mereka pun tidak menggunakan transmisi ataupun terlibat hubungan eksternal atau perdagangan. Satu-satunya cara mengumpulkan informasi mereka selain mengamati pergerakan secara langsung adalah menangkap inti kendali pangkalan produksi dan mengeluarkan informasi perihal lini produksi juga hal-hal lainnya.

“Kita akan serbu Legion sebelum mereka sempat memasang posisi bertahan, yang artinya kita akhirnya dapat menggunakan perlatan baru yang tidak kita gunakan di Mirage Spire. Armée Furieuse.”

Armée Furieuse—persenjataan baru Reginleif. Menggunakannya di atas kapal induk besar di operasi terakhir dianggap terlalu susah. Lagi pula, kemungkinan meluncurkan serangan dadakan ke Mirage Spire sendiri hampir nihil mengingat konsep awal operasinya, jadi pengaplikasian peralatan baru ini ditunda.

Terlebih lagi, tatkala operasi di Negara-Negara Armada tuntas, hanya Divisi Lapis Baja ke-1 Shin saja yang telah dilatih untuk menggunakannya secara efektif. Mereka tak boleh mengungkap persenjataan baru ini ke Legion hanya untuk menyerang satu pangkalan.

“Kali ini, kelompok Siri telah menerima pelatihan yang sesuai, dan Divisi Lapis Baja ke-3-ku juga akan bergabung,” kata Canaan. “Sedikitnya kita bisa menyerang tiga pangkalan sekaligus …. Kami telah menyelesaikan pelatihannya sesegera mungkin dan sedang masuk masa percobaan. Kolonel Grethe sama komandan taktis kami tidak menyukainya, tapi yah, kita sudah terbiasa. Bagaimanapun kita ini 86.”

Mereka tak diberi liburan sehari pun di Sektor 86, dan terlepas dari itu, mereka selamat dari pertempuran bertahun-tahun. Hanya orang-orang yang bisa melatih kembali kecakapan bertarung merekalah yang bertahan hidup di lingkungan semacam itu.

“Divisi Lapis Baja ke-4 akan tetap cuti dan tinggal di markas besar sebagai pasukan cadangan, tapi kami diprioritaskan berlatih alih-alih cuti,” kata Suiu. “kita berhadapan dengan Legion; kita takkan bisa memprediksi masa depan. Kita harus menguasai Armée Furieuse secepat mungkin.”

“… dan karena kalian mengungkitnya, Kolonel Grethe lagi menjerit-jerit kayak banshee2 …. Dia terus-terusan bilang ketika perang berakhir, tidak ada dari kami yang diberhentikan sampai menyelesaikan pembelajaran dan semua mata pelajaran wajib.”

Mata Siri terlihat bengong selagi bicara. Rupanya, dia dimarahi dengan Canaan menggantikan Suiu, sebab dia ditempatkan di Aliansi.

“… lha, iya …,” kata Suiu, sambil tersenyum sedikit yang terlihat ironis. “aku hargai kalau Kolonel … kalau Federasi merasa demikian. Pertempuran bukan satu-satunya hal yang penting.”

“Jujur saja, karena mereka menyuruh kita bersekolah, aku mau hadir sampai menyelesaikan semua mata pelajaran wajib yang kita tinggalkan,” ucap Canaan. “sudah lama sekali sampai-sampai aku lupa, tapi jadi pelajar itu menyenangkan.”

“Bahkan setelah datang ke Federasi, aku ragu perang benar-benar akan berakhir atau tidak. Tapi kurasa tidak bisa terus memikirkan kemungkinan peperangannya akan terjadi selamanya.”

Selama enam bulan terakhir, Divisi Penyerang telah dikerahkan ke negara-negara yang berbatasan dengan front Federasi. Selayaknya Shin dan Divisi Lapis Baja ke-1 menemui Sirin di Kerajaan Bersatu beserta klan-klan Laut Lepas di Negara-Negara Armada, Siri, Canaan, dan Suiu punya banyak pengalaman selama misi-misi mereka sendiri.

Mereka mengalami banyak pengalaman yang mustahil didapatkan di Sektor 86, tempat mereka terjebak antara kedengkian manusia dan pasukan Legion.

“Kita para komandan bakalan lama mengejar kurikulum,” kata Shin sembari sedikit tersenyum paksa.

“Mana ada ….”

“Kau selalu kepikiran kalimat terburuk untuk dikatakan, ya?”

“Saat ini biarkan sajalah. Bisa kita keluhkan sesuka hati begitu perang berakhir.”

Keempat komandan, juga kapten regu dan letnan mereka, diekspektasikan menyelesaikan kurikulum perwira khusus selain kurikulum reguler, dan tidak satu pun sudah menyelesaikan kurikulum perwira khusus.

Mata Canaan gemetar janggal di balik kacamatanya seketika menyarankan agar kembali ke topik.

“Karena kita hendak merebut lebih dari tiga pangkalan, Federasi rencananya mengirim beberapa unit lagi. Namun sebab militer Federasi tidak punya pasukan cadangan yang bisa diambil, pasukan pribadi bangsawan-bangsawan besar akan diminta diikutkan ke dalam operasi. Jumlahnya kurang dari sepuluh resimen, tetapi untuk operasi ini mereka membawa seluruhnya.”

Hal ini menyadarkan Shin bahwa para perwira tinggi militer sungguh-sungguh di ujung tanduk. Militer Federasi tak kuat lagi maju melancarkan serangan frontal, itulah sebabnya Divisi Penyerang dibentuk. Namun sekarang mereka meminta pasukan swasta3 untuk disertakan dengan unit yang fungsinya untuk mengumpulkan informasi.

Ini menandakan bahwa para perwira tinggi militer sangat terancam oleh Noctiluca—atau lebih tepatnya, niat Legion. Atau mungkin mereka mempunyai tujuan lain dan semata-mata menyembunyikannya di balik tujuan melawan Noctiluca.

Meminta pasukan swasta dan mengumpulkannya ke unit militer—kendatipun kurang dari sepuluh resimen—bukan sesuatu yang bisa dilakukan dalam satu hari. Ini pastinya sudah mereka rencanakan sebelumnya.

Boleh jadi satu bulan lalu, ketika Shin mengungkapkan kemungkinan untuk menghentikan Legion. Salah satu kunci tujuan itu adalah pangkalan tersembunyi Legion, jadi kemungkinan mereka berpikir memasukkan tentara swasta untuk menambah pasukan Federasi yang kurang untuk merebut pangkalan ini.

“Diterima. Jadi markas mana yang harusnya diserang Divisi Lapis Baja ke-1?”

“Ya, negara yang semestinya kalian datangi setelah Negara-Negara Armada, Nouzen. Teokrasi Suci Noiryanaruse.”

Negara itu menjadi pemimpin negara-negara asli Aurata, letaknya di ujung barat laut benua. Negara asing yang lebih jauh dari Republik serta beberapa negara-negara kecil lainnya. Tidak berbatasan dengan Republik atau Federasi, dan budaya serta bahasanya berbeda penuh.

Nyatanya Republik dan negara-negara kecil di ujung barat telah porak poranda oleh Perang Legion. Dua bulan lalu, Kerajaan Bersatu mencegat transmisi yang memastikan keberadaan beberapa negara di daerah sana. Rupanya, sebelas tahun semenjak Perang Legion dimulai, mereka bertarung sambil dikepung musuh di seluruh sisi. Teokrasi Suci, letaknya di ujung paling utara barat jauh, masih dan tengah melawan Legion di tempat yang dikenal sebagai sektor kosong.

Sektor kosong adalah semenanjung tanpa penghuni bahkan sebelum Perang Legion dimulai. Sebab itulah, beberapa pangkalan produksi skala besar telah disetujui untuk dibangun di sana sejak tahap awal perang.

Akibatnya, posisi Teokrasi dalam peperangan cukup genting. Divisi Lapis Baja ke-1 seharusnya membantu mereka sebelum dikerahkan ke Negara-Negara Armada. Kemunculan Noctiluca entah bagaimana mengubah tujuan mereka di sana, tetapi masih dikirim ke tempat yang sama.

Ya.

Shin menyipitkan mata. Sektor kosong di ujung paling utara barat benua. Sebelum tak sadarkan diri di anjungan, Shin mendengar Noctiluca tengah menuju barat.

“Sudah diputuskan bahwa Divisi Lapis Baja ke-1 akan ke barat. Ke tujuan paling memungkinkannya Noctiluca … kuharap kau punya kesempatan untuk balas dendam.”

“—aku yakin kau tahu ini, tapi kami melarangmu ikut ke Teokrasi, Vika. Kita harus berhati-hati agar informasi mengenai pertahanan nasional tidak bocor, seperti burung-burung kecil menggemaskanmu.”

Sebagaimana Lena sebagai komandan taktis, serta Raiden yang menggantikan Shin sebagai komandan operasi disibukkan oleh hasil operasi, Vika punya tugas tersendiri sebagai pengeran Kerajaan Bersatu dan perwira yang dikerahkan. Dia melaporkan rincian operasi Mirage Spire dan meminta bantuan untuk melacak Noctiluca.

Sesudah menyelesaikan pertanyaan perihal masalah tersebut, kakaknya menambahkan peringatan, lalu dibalas anggukan Vika. Dia sedang di kamar dalam pangkalan tempatnya bertugas, di salah satu kota pelabuhan Negara-Negara Armada.

Teokrasi Suci Noiryanaruse. Negara gila, Noiryanaruse.

“Aku tahu, Kak Zafar. Negara itu terlalu sering berbenturan budaya dengan kita, sampai-sampai kita sebut negara gila. Negara tanpa penghormatan minimal terhadap moralitas bukanlah negara yang bisa kita percayai sebagai negara sahabat. Aku yakin Federasi tidak berniat memberi tahu detail apa pun mengenai Resonansi Sensorik ataupun kemampuan Nouzen.”

“Itulah yang kupikirkan …. Oh ya, aku mestinya memperingatkanmu hal ini juga. Untuk jaga-jaga saja.”

“Aku tahu. Takkan kukasih tahu 86 alasan Teokrasi disebut negara gila.

Zafar tersenyum elegan, seakan-akan bilang, Bagus sekali.

“Akan kuhargai jika kau bisa memanfaatkan cutimu ini untuk bertukar informasi dengan jenderal-jenderal Federasi. Persis katamu, penyerangan Mirage Spire dan Noctiluca bagiku aneh. Oh, membicarakan cuti ….”

Kakaknya, sang pangeran mahkota, bicara santai, jadi Vika menyangka akan dimarahi karena hal kecil dan biasa, jadinya dia lengah. Gara-gara itu ….

“… ada yang kau sembunyikan dariku semenjak Divisi Penyerang meninggalkan Aliansi. Benar?”

… ini betul-betul mengejutkan Vika. Sepintar-pintar dirinya, masih dikejutkan pernyataan ini. Tetapi tanpa banyak mengubah ekspresi—memang, dia percaya diri sekali hingga tidak mengernyitkan alis atau membalik sehelai rambut—dia menjawab:

“Tentu saja tidak. Aku takkan menyembunyikan apa-apa darimu, Kak Zafar.”

Legion bersiap-siap untuk serangan skala besar kedua dan berusaha memodifikasi serta meningkatkan diri.

Vika memberi tahu ayahnya, sang raja; dan Zafar, putra mahkota, bahwa ini semua adalah informasi yang diberikan Zelene kepada mereka. Dia tidak menyampaikan metode mematikan seluruh Legion karena secara realistis tidak bisa digunakan, dan membagikan informasi tersebut akan berdampak pada kedudukan Federasi di antara negara-negara lain di benua yang takkan ada gunanya.

Dia tidak membagikan informasi ini, kepada mereka pun tidak.

Senyum Zafar tetap.

“Begitu. Jadi akhirnya kau belajar menyembunyikan rahasia-rahasia yang tidak kau miliki ini … bahkan dariku.”

“… Kak Zafar.”

“Alhamdulillah. Sepertinya kau akur dengan 86, paling tidak.”

Tetapi Zafar menatapnya dengan ekspresi sangat bahagia.

“Anak-anak yang memberontak kepada orang tua dan kakak-kakak mereka lalu mulai menomorsatukan janji dengan teman-teman adalah tanda pertumbuhan …. Dalam hal ini, aku asumsikan kau tidak punya rahasia yang disembunyikan dariku.”

Zafar akan mengabaikan ini—sebab menghormati adik berharganya.

“Jika perang berakhir, bagaimana jika belajar di luar negeri di salah satu universitas Federasi? Lagian, kau hampir tak sekolah selama perang ini. Kurasa bagus untuk menikmati kehidupan seorang pelajar setelah semua ini berakhir.”

Bibir Vika tersenyum tipis dan pahit. Ekspresi yang hanya dia tunjukkan kepada ayah dan kakaknya ….

Kau bilang aku sudah dewasa, Kak Zafar, tapi Kakak terus memperlakukanku seperti anak kecil.

“Jika Kakak dan Ayah membolehkanku.”

Seketika perang berakhir …. Shin dan 86 lain akan melakukan apa? Pertanyaan itu terbesit di benaknya bukan karena tertarik tetapi ingin tahu saja. Saat mereka pertama kali datang ke Kerajaan Bersatu, mereka tak bisa menjawabnya sekarang bagaimana?

Theo akan menjawab apa sebab tidak lagi dapat berdiri di medan perang sama dengan rekan-rekannya?

Mengakhiri transmisinya, Vika mematikan terminal dan berbalik menghadap sosok yang menunggu percakapannya berakhir, tak mengucapkan sepatah kata pun.

“… berapa kali kubilang untuk jangan keluar dan menghancurkan dirimu sendiri?”

“Aib saya tak termaafkan ….”

Seusai akhirnya diaktifkan kembali, Lerche sekali lagi kehilangan sekitar separuh tubuhnya. Kali ini, bukannya hancur secara horizontal, kira-kira sebagian rangkanya hilang pada sudut diagonal. Sistem pendingin dan tenaganya dalam kondisi rusak parah. Sejumlah bagian wajahnya yang dimodelkan seorang wanita muda telah terkelupas. Dia kelihatan seperti mayat tenggelam yang dimakan ikan.

Melihatnya dari atas sampai bawah, Vika mendesah. Butuh waktu buat memperbaiki kerusakan sebesar ini.

“Baiklah, aku harus mengurus sesuatu sewaktu kembali ke Federasi, aku takkan ikut pengerahan selanjutnya, jadi aku punya waktu. Jadi pastikan jangan terlalu banyak buang tenaga.”

“Paduka, bagaimana dengan Noctiluca usai saya—”

“Kita hantam dengan serangan melumpuhkan, tapi Noctiluca-nya kabur. Karena kau tak tahu itu, kau mungkin juga tidak tahu Nouzen masih hidup. Aku rasa daftar orang-orang yang selamat dan yang gugur juga tidak kau tahu.”

“B-begitu. Jadi Tuan Pencabut Nyawa … selamat. Bagus mengetahuinya. Tuan Yuuto? Tuan Manusia Serigala? Nona Penyihir Salju? Tuan Putri Cyclops … dan Tuan Rubah, siapa yang bertahan di akhir?”

Vika berkedip datar. Waktunya tak cukup luang untuk membahas satu per satu status anggota, dan tak seperti Shin juga Lena, Vika pun tak terlalu mengenal setiap orangnya.

“Sementara ini, jangan sebutkan nama Rikka di depan Nouzen, Shuga, Emma, dan Kukumila.”

“Apakah itu artinya …?”

“Dia belum mati, tapi juga tidak kembali dengan utuh. Aku beri tahu detail dan korban jiwanya dalam laporan, biar nanti kau periksa sendiri.”

Lerche mendesa sedih. Para Sirin tak bernapas, namun Vika memungkinkan mereka mengekspresikan emosi dengan cara ini.

“Saya … mengerti. Itu … saya yakin Tuan Pencabut Nyawa sangat sedih ….”

“Kali ini jumlah korban jiwanya sangat besar. Semua orang sedih karenanya, Nouzen termasuk.”

“Pastinya …. Sepatutnya tidak dibahas di depan Tuan Pencabut Nyawa, Tuan Manusia Serigala, Nona Penyihir Salju, sama Nona Penembak.” Lalu dengan takut-takut dia menambahkan, “Paduka, saya harap penjemputan saya tidak diprioritaskan dan akibatnya tak ada nyawa yang hilang menggantikan saya …?”

Vika mengerutkan alis ketika mendengar pertanyaan tersebut. Sesuatu semacam itu akan menyusahkan seorang Sirin seperti Lerche.

“Tidak demikian, jadi jangan khawatirkan.”

Mengubah urutan korban yang diselamatkan atas nama perasaan pribadi akan mempermalukan posisinya sebagai pemimpin. Terlepas perasaannya atau para Sirin, kru penyelamat Frederica serta Negara-Negara Armada menaruh para Sirin ke prioritas terendah. Lerche kebetulan saja diselamatkan di tengah-tengah operasi penyelamatan.

“Orang lain kebetulan saja jatuh di tempat sama denganmu, jadi kau dijemput bersama mereka. Aku yakin nama orangnya Saki atau siapalah itu, dari skuadron Thunderbolt. Pastikan berterima kasih padanya jika bertemu. Kurasa kalian berdua cukup berat buat ditampung.”

Nampaknya Saki ini terkena tembakan tembak cepat secara langsung. Mereka dihempas dan jatuh dari Noctiluca, kemudian ketika sedang menunggu penyelamatan, Chaika-nya Lerche juga jatuh.

Saki entah bagaimana membuka paksa kokpit Chaika sebelum tenggelam dan menarik keluar bongkahan Lerche. Biarpun perahu penyelamat menjemputnya, sepertinya tak ada yang tahu Lerche adalah Sirin. Vika sudah pasrah dengan kenyataan bahwa Lerche telah hilang selamanya sebelum mendengar laporan datang ….

Oh ya.

Tatapan datarnya diarahkan ke luar jendela, Vika menimpali:

“Aku lupa bilang ini, tapi kerja bagus sudah berhasil kembali … aku mensyukuri itu.”

Di sudut matanya, dia melihat Lerche melengkungkan bibir dan tersenyum kecil.

“Saya berterima kasih.”

“… hmm. Jangan salah paham, oke? Aku tidak bilang yang buruk-buruk atau protes kenapa masih hidup, aku teramat-amat senang kau masih hidup, tapi ….”

Para prajurit terluka ditampung dalam sebuah ruangan besar yang diperuntukkan bagi pasien rawat inap rumah sakit. Bangunannya tua, tapi bersih sekali. Duduk di kursi bundar, Rito menatap gemetar dan emosional ke sosok yang berbaring tenang di tempat tidur.

“Aku kaget kau selamat tanpa luka, Yuuto.”

“Kita berdua.”

Tanpa luka nyaris tidak terdengar akurat bagi siapa pun yang belum melihat kondisinya. Yuuto mengangguk, dibungkus perban dan anggota tubuhnya ditutupi gips plastik. Memarnya parah dan beberapa tulang telah patah, termasuk tulang rusuk, dampaknya paru-parunya hancur—yang kelihatan dari luar.

Namun walau demikian, memperhitungkan Reginleif-nya dihancurkan turet panjang 800 mm tetapi masih hidup adalah keajaiban. Seolah-olah menyerap dampak tabrakan turet, Juggernaut-nya rusak hingga tak bisa diperbaiki.

“Dua sisi tulang rusukmu hancur dan lubang di salah satu paru-parumu rasanya kayak neraka,” kata Yuuto, suaranya tanpa emosi seperti biasa dan sama sekali tak membangkitkan rasa sakit itu. “bernapas menyakitiku, tapi mau bagaimana lagi. Membuatku mengutuk fakta diriku selamat.”

“Oh, bicara saja sakit?” tanya Rito meminta maaf. “Mungkin mestinya aku nanti saja datangnya.”

“Tidak, bagus kau di sini. Ada orang untuk diajak bicara bisa jadi pengalih perhatian, dan kau tidak mau diam.”

“Rasanya kayak hinaan,” ucap Rito sambil cemberut, namun tampaknya dia tidak tersinggung.

Yuuto selalu pendiam, tapi hari ini anehnya banyak bicara. Dia barangkali benar-benar perlu sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya dari rasa sakit. Sakitnya menyerang di setiap napasnya, dan manusia tidak mampu lama-lama menahan napas. Jadi ….

“Aku beruntung masih hidup, jadi aku takkan komplain. Ada pengalih saja sudah masuk bantuan besar.”

… dia juga perlu memalingkan pikirannya dari rasa sakit karena kehilangan rekan-rekan gugurnya. Banyak anggota skuadron Thunderbolt Yuuto telah gugur atau hilang, terutama garda depannya. Sebagaimana Shiden dan skuadron Brísingamen, skuadron mereka harus dipecah dan direorganisasi sampai operasi berikutnya. Tapi tampaknya Yuuto takkan pulih tepat waktu.

“… iya. Tapi aku yakin bernapas itu sakit, jadi aku yang banyak bicaranya sekarang. Aku kasih tahu kejadian selagi kau pingsan. Leviathan! Kurasa mereka disebut Musukura. Beri tahu aku bentuknya gimana saat kau sudah baikan!”

“… maaf, aku tidak sadarkan diri di bawah air saat dia muncul.”

“Oh iya. Terus, anu … kurasa tidak bisa menanyakan Kapten Nouzen soal itu, tapi bisa kutanya sang pangeran! Tapi aku tebak dia pasti merasa hal itu membosankan untuk dibicarakan, atau kesannya sendiri bakalan aneh …. Dia mungkin saja akan bilang rasanya enak atau seperti itulah. Kubayangkan pangeran berkomentar demikian. Kurasa nanti kapan-kapan kutanyakan saja ke kapten!”

“….”

Beneran dong, dia tidak bisa diam. Atau lebih tepatnya terlalu bersemangat sampai-sampai keluar topik. Dan di saat-saat seperti ini … persis sesuai perintah dokter.

Rito tak punya bayangan kematian yang kelihatannya membayang-bayangi banyak 86. Dia senantiasa bisa membicarakan hari esok tanpa meresahkan apa-apa. Dia melanjutkan hidup, percaya akan bisa melihat hari esok.

Aku seorang penyintas juga … aku selamat dari Sektor 86, serangan skala besar … aku bahkan selamat ketika naik menara menuju kematian di Mirage Spire. Aku selamat. Aku hidup. Jadi mungkin, aku dapat hak istimewa untuk memikirkan masa depan ….

Dia pikirkan kembali sebelum operasi dimulai—kapten kapal anti-leviathan yang menunjukkannya pemandangan cakrawala dari mercusuar. Dialah yang memberitahunya untuk menemuinya lagi, selang beberapa hari setelahnya dia berlayar menantang ombak sebagai pengalih, lalu tak pernah kembali.

Pikirannya tertuju pada Shin yang menceritakan dirinya pernah melihat kerangka leviathan pas masih muda. Perbincangan konyol dan menghangatkan hati yang menunjukkan Yuuto kalau bahkan Pencabut Nyawa berwajah batu pun ada sisi manisnya—sisi yang merasa kagum dan terpana oleh pemandangan monster raksasa.

Jadi barangkali sekarang, sudah tidak apa-apa. Mungkin saja saat ini Yuuto pun bisa punya mimpi kecil anak muda yang telah dia buang di Sektor 86.

“… kalau begitu, aku juga mau menanyakanmu sesuatu.”

Rito menatap penasaran. Yuuto mengangkat bahu sedikit, tetapi melakukan hal kecil itu saja sudah butuh banyak tenaga.

“Soal kerangka leviathan … aku mau lihat sendiri lain kali.”

Lain kali, dia akan pergi ke sana sebagai turis biasa. Sesaat perang berakhir …. Seperti yang kapten itu katakan. Keinginan terakhirnya kepadanya.

“Aku tidak tahu ini benar atau tidak … seorang anggota kru bilang beberapa jenis leviathan benar-benar lezat. Mereka iris yang segar jadi potongan-potongan kecil, masak sama ikan, terus dimakan.”

“… mereka betulan makan makhluk-makhluk itu …?”

“Yah, teknisnya mereka adalah hewan … pikirku …?”

Iya, hewan yang menembak laser ….

“… mereka terhitung hewan, ‘kan?”

“Jangan tanyakan aku, Yuuto!”

Ketika mendengar deru keras ombak melebihi suara mesin berat yang melirih, Kurena sadar Stella Maris sudah sampai di pelabuhan. Sistem Juggernaut-nya sedang mode siaga. Namun tatkala layar holo mendadak muncul di depannya, Kurena—yang lagi berjongkok dalam kokpit Gunslinger—perlahan-lahan mengangkat kepala.

Memeriksa layar, dia melihat Frederica lagi berdiri di samping Gunslinger.

“—apa?”

Kurena tak repot-repot membuka kanopi unit, malahan bertanya singkat lewat pengeras suara luar. Mendengar suara menggelegarnya, Frederica membeku.

“… s-sudah hampir waktunya para Prosesor keluar. Kau makan dulu bagaimana? Nyaris setengah hari kau di dalam sana. Berlama-lama di sana tanpa makan takkan bagus untukmu, tubuhmu pun perlu istrirahat. Jadi—”

“Aku akan baik-baik saja.”

“Tapi ….”

“Kubilang aku akan baik-baik saja …. Aku tidak makan seharian—terus apa? Di Sektor 86, kami kerap kali bertarung satu hari penuh. Kayak begitu terjadi di Federasi juga. Aku takkan bertahan di sini jika rasa lapar akan membunuhku.”

“Minggir, bocil.”

Orang lain mungkin berdiri di titik buta sensor optiknya, sebab kata-kata terakhir itu diutarakan seseorang yang tidak bisa dilihatnya. Tak lama kemudian, kanopi terangkat tanpa dia picu. Seseorang memasukkan kode sandi darurat yang semua Juggernaut miliki lalu menarik tuas pembuka kunci kanopi eksternal.

Kurena refleks melotot ke atas, kini mengunci matanya dengan sosok yang mengenakan setelan penerbang berwarna biru baja sepertinya. Seorang gadis 86, salah satu kapten peletonnya skuadron Brísingamen Shiden dan Shana. Mika.

“Ruang makan kapal terus mencatat yang sudah makan dan yang belum. Semua juru masak cemas karena satu gadis tidak muncul.”

Dia menjejalkan nampan makanan dingin ke Kurena, tapi dengan dinginnya dia membuang muka. Kening Mika berkedut.

“Ditambah lagi—aku tahu kau pura-pura sebaik mungkin biar tidak menyadari fakta ini—kita sudah berlabuh dari kapan tahu. Semua tentara terluka sudah dipindahkan, dan mereka harus mengeluarkan semua Juggernaut. Seluruh Prosesor bersiap-siap turun, kecuali yang dirawat di sini …. Mestikah kuulangi? Duduk merenung di sini akan menghalangi pekerjaan mereka. Pengarahan ulang bagaimana? Dua kapten regumu sedang tidak bisa hadir, jadinya Raiden harus menggantikan komandan operasi. Sedangkan kau bermalas-malasan padahal tidak terluka.”

Kurena melihat beberapa wajah familier dari kru pemeliharaan melihat mereka dari jarak dekat. Dia baru menyadarinya, mungkin sudah terlambat, bahwa semua Juggernaut lain skuadron Spearhead sudah diangkut dari kapal. Mungkin dia dibiarkan terakhir untuk memikirkan perasaannya.

Dan seperti kata Mika, Shin tak sadarkan diri, Raiden menggantikannya, terus Theo … segera dibawa ke ruang operasi begitu dijemput. Karena ketiganya tak bisa hadir dan Kurena berdiam diri di kokpit, perwira berpangkat tertinggi yang boleh menangani pengarahan ulangnya adalah Anju dan kapten Peleton ke-4. Kurena bisa membayangkan betapa peliknya.

Kurena memelototi Mika, berusaha menghilangkan rasa bersalahnya. Ibarat menyuruhnya berhenti mengatakan hal-hal yang masuk akal.

“… teruskan, katakanlah. Ini bukan tentang diriku yang menyusahkan semua orang; kau cuma membenciku. Lanjutkan, katakanlah. Kematian Shana adalah salahku—itu yang mau kau bilang, bukan?!”

Mika mendadak mengulurkan tangan dan meraih kerah seragam Kurena, menariknya lebih dekat.

“Kau mau aku bilang itu,” katanya, hampir cukup dekat sampai-sampai hidung mereka bersentuhan, iris emas mata hijau Aventuranya mengkilaukan amarah membeku. “tapi takkan aku mainkan permainanmu …. Shana mati karena dia bertarung. Kematiannya, dia pilih sendiri, untuk bertarung sampai napas terakhir. Dan kau … tidak menanggung kematiannya.”

Kau hanya menyorot rasa bersalahmu sehingga bisa bergelimang perasaan kasihan kepada dirimu sendiri …. Membiarkan orang lain menyalahkanmu hanya akan memberikanmu jalan keluar yang mudah. Takkan kubiarkan.

“Bukan salahmu. Bukan juga saat kau tidak bisa bertarung di tengah-tengah operasi karena mencemaskan Shin yang hilang atau Theo terluka. Bukan salahmu …! Masalahmu apa?! Shin selamat, Theo juga, anjing! Kalian begitu mudahnya selamat! Kami kehilangan Shana, Alto, Sanna, Hani, dan Meryo! Tidak ada yang kembali! Tapi kita masih hidup, jadi sekarang bukan waktunya duduk di sana sambil memeluk lututmu!”

Pupil emas Kurena mengerut. Permainanku? Begitu mudahnya selamat …?!

Dia meraih kerah Mika dan menggeram.

“Kau sebut itu mudah?! Dari mana lebih baiknya?!”

Baik Theo dan aku …. Kami 86, kami …!

“Bertarung adalah satu-satunya hal yang kita miliki. Tidak ada keluarga, rumah, apa pun itu. Jika kita kehilangan itu … bila kita bahkan tak sanggup bertarung lagi ….”

Harga diri—bekas terakhir identitas mereka. Sisanya telah direnggut Republik, hanya ada harga diri yang sulit diperoleh, tertempa di pertempuran, dan ditempa untuk bertempur.

Sekarang … hal itu pun memudar.

Jadi jika bahkan harga diri ikut hilang … bagaimana nasib kita?!

Pertanyaan itu tak pernah berdiam lama di benaknya, namun saat ini tengah menatap wajah kosongnya. Kenyataan diambilnya harga diri itu—dan harus hidup tanpanya—tengah disodorkan ke depan matanya. Dia mesti menghadapi kenyataan bahwa masa depan mereka harus berhenti menjadi 86 bisa terjadi padanya atau Theo. Terus bagaimana …?

“Mana bisa aku tenang …?”

Merengek kekanakan namun terlalu menyedihkan, Kurena mendorong jauh Mika lalu kabur. Ketika Mika meraih kerahnya dia tak sengaja menjatuhkan nampan makanan. Melihat ke bawah, dia baru menyadari perbuatannya, Mika berbalik kemudian mendapati sekarang tangan kecil Frederica yang membawa nampannya. Tahunya dia tangkap waktu Mika tak sengaja membuangnya.

“… mungkin aku kelewatan,” gumam Mika.

Dia tak bersalah sedikit pun telah menyuruh Kurena pergi, tapi Theo tak layak mendapatkannya. Meski dia bilang Theo begitu mudahnya selamat sebab masih hidup … itu tak benar baginya.

Bagi 86, tak mampu bertarung tidak lebih baik dari kematian. Lagi pula, bertarung sampai mati adalah harga diri 86. Kehilangannya berarti kehilangan satu hal yang mendefinisikan mereka di atas segalanya.

Jadi ya, sampai di kesimpulan ini akan membungkam dua orang itu. Setelah merenung sesaat, Mika sadar dia sudah kelewatan pada Kurena.

“Hei, bocil, mau makan ini?”

“Tentu saja tidak!”

Lari keluar dari hanggar ibaratnya melarikan diri dari Mika, Kurena merasakan kakinya otomatis membawanya ke blok rumah sakit Stella Maris. Ke Shin. Dia ingin mendengar suaranya. Melihat wajahnya.

… Kurena.

Seperti masa lalu Sektor 86, waktu Kurena dikuasai amarah dan kebencian kepada babi-babi putih. Shin selalu menemaninya, menenangkannya dengan suara tenteram dan tenangnya.

Melintasi belokan terakhir, Kurena berhenti. Sudah ada seseorang tengah berdiri di depan kamar rumah sakit yang ditujunya. Rambut diikatnya berwarna perak kebiruan Adularia dan mata perak menonjol. Fisiknya besar dan kekar, dia mengenakan ban lengan pendeta militer di lengan baju.

“Ah, pendeta ….”

Pendeta jangkung itu memutar kepala besar bak beruangnya untuk menghadap Kurena. Dia lebih tinggi dari Raiden, bahkan membuat Daiya dan Kujo nampak kecil. Tinggi Kurena adalah tinggi rata-rata seorang gadis, dan pendeta itu harus melihat ke bawah untuk menatap matanya. Seperti …

… seperti kelompok Alba yang memandang rendah Kurena juga kakaknya, mencibir mereka dan mayat orang tua mereka.

“… ah.”

Dia masih bisa merasakan para babi putih menjulang di atasnya. Kala itu, dia masih kecil dan muda, semua orang dewasa rasanya seperti raksasa. Tetapi pria-pria itu menyerupai raksasa kejam di mitologi. Dia berdiri membeku, pemandangan tersebut diulang dalam kepalanya. Kilat moncong membelah kegelapan malam. Udaranya pekat bau darah. Tawa iblis yang gila dan kilat-kilat perak.

Dia merasa seluruh darah di wajahnya telah dikuras habis. Balik badan, Kurena kabur.

Sehabis menerima laporan status mengenai Prosesor yang terluka parah, contohnya Theo dan Yuuto, Lena kembali ke stella Maris untuk mengunjungi yang terluka. Dia sedang berjalan di koridor sempit kapal induk besar. Persis saat ingin masuk blok medis, dia hampir menabrak Kurena yang berlari menjauh dari sana, lalu buru-buru menghindarinya.

Melihat larinya seperti kelinci ketakutan, Lena melihat kepergiannya dengan pandangan ragu. Menatap ke depan lagi, dia melihat pendeta berdiri diam di sana.

“Maaf.” Lena buru-buru menghampirinya. “Tadi dia sudah bertindak tak sopan. Sebagai wakil komandan, saya mohon maaf ….”

“… tidak, tak apa.” Pendeta itu menggeleng kepala dan berbalik menghadapnya. “Mempertimbangkan yang anak-anak itu lewati, sama sekali tidak demikian. Masuk akal dia akan takut pada rambut dan mata perakku.”

Lena mengerjapkan matanya beberapa kali karena terkejut.

“Dia … takut pada pendeta?”

86, termasuk Kurena, selalu menyebut babi putih sebagai Alba dan memperlakukan mereka dengan hina, namun Lena tak pernah melihat mereka menampakkan rasa takut.

“Kurasa dia takut kepadaku, ya. Seorang gadis sepertinya dipaksa ke kamp konsentrasi saat masih muda …. Tujuh tahun, tebakan terbaikku. Seorang anak sekecil itu diseret dan diteriaki oleh orang-orang dewasa. Pastinya menakutkan. Dia mengalami kekerasan besar pada usia itu dan tak bisa membela diri sama sekali.”

“….”

Lena terdiam, malu karena ketidaktahuannya. Dia dibesarkan di Sektor Pertama, area yang jauh sebelum Perang Legion, sebagian besar dihuni oleh Alba. Dia belum pernah melihat 86 diangkut ke kamp konsentrasi. Dia pernah membayangkan rasanya seperti apa, tetapi tak pernah menyadari intensitas situasinya.

“… kurasa tahu alasannya. Tinggiku. Pasti mengingatkan masa kanak-kanaknya ketika dipandang rendah oleh orang dewasa dan itulah pemicunya. Aku harusnya tak memandang mereka begitu lagi.”

“Pendeta ….”

“Oh, jangan khawatir. Aku sudah terbiasa sama anak-anak takut padaku. Maksudku, melihat betapa besarnya aku …. Waktu aku menemui orang murung yang lagi tidur di kamar ini, dia seperti anak kucing kecil. Dan kuberi tahu, dia takut setengah mati.”

Dia mengangkat bahu tinggi-tinggi, bak memperjelas dirinya lagi bercanda. Antara gerakan itu dan pikiran Shin lebih muda tengah meringkuk ketakutan di hadapannya, Lena menemukan senyumnya lagi. Pria itu kemungkinan bercanda karena tahu Lena merasa malu pada dirinya sendiri, dan Lena menghargai sikapnya.

Ngomong-ngomong ….

“Apakah Shin …? Kapten Nouzen masih tidur? Seawal ini?”

Mempertimbangkan Lena dan Kurena tadi berjalan-jalan, jelas terlalu dini untuk mematikan lampu. Pendeta tanpa berkata apa-apa menjauh dari pintu, membiarkannya melihat ke dalam ruangan. Dan benar memang, dia bisa mendengar napas samar dan berirama Shin.

Lampunya masih menyala. Dia berada di bagian belakang ruangan, tapi tempat tidurnya disembunyikan tirai …. Meski dia sungguh-sungguh kelihatan lagi tidur.

“Luka-lukanya sangat menyakitinya, dan dia berdiskusi sama komandan kelompok lain tentang pengejaran unit Legion baru. Pastinya menghabiskan tenaganya.”

“….”

Shin tak sekadar kelelahan karena luka-lukanya. Yang terjadi kepada Theo pun menekan emosionalnya. Biar begitu, Shin memaksa dirinya memenuhi tugasnya untuk Divisi Penyerang. Lena tahu dia cenderung melakukannya, oleh sebabnya dia datang memeriksa …. Tetapi dia merasa Shin terlalu memaksakan diri.

“Dokter militer memintanya istrirahat hari ini. Bisa kau gantikan aku menyampaikannya besok?”

Permintaannya membuat Lena berkedip kaget. Dia bisa menggantikannya, ya …. Tetapi bukannya akan lebih bagus lagi jika dari sosok seperti ayahnya?

“Saya rasa pendetelah yang harusnya menyuruhnya begitu …,” kata Lena dengan lembut.

“Dia sudah terlalu tua untuk mendengarkan kata orang yang membesarkannya. Dan lagi, akan paling efektif jika kau yang memarahinya.”

Melihat tatapan penuh arti yang diarahkan pendeta kepadanya, Lena merasakan pipinya merona.

wah, iya.

Raiden memang sudah bilang hampir semua orang mengetahuinya, kalau dia menyadarinya maka masuk akal jika pendeta juga tahu. Namun tetap saja memalukan. Melihat matanya jelalatan, pandangan pendeta itu melembut.

“Kala aku menghantarkan kepergiannya dari kamp konsentrasi, bocah itu lupa cara tertawa … atau menangis.”

Lena balas menatap, tapi dia sudah berbalik menghadap kamar rumah sakitRambut peraknya memutih, dan matanya berubah jadi warna bulan.

“Kurasa kehadiranmu …. Adalah bagian besar alasan dirinya belajar tersenyum lagi.”

Kurena kembali ke kamarnya. Anju, teman sekamarnya, sedang keluar. Kamar sebelahnya adalah kamar Frederica, dan di depannya adalah kamar Shiden.

… lalu teman sekamar Shiden adalah Shana yang takkan pernah kembali.

TP, si kucing hitam yang lagi berkeliaran dekat pintu masuk, berdiri begitu melihatnya. Dia terhuyung-huyung menghampirinya, menggosokkan kepalanya ke sepatu botnya, kemudian mengeong. Setelah sekian lama akhirnya Kurena merasakan senyum kecil merayap ke bibirnya.

“… hei, aku kembali.”

Sambil menggaruk lembut kepalanya, dia mengangkat si kucing. Bertahun-tahun lalu, Daiya menemukannya di Sektor 86. Tatkala itu masih anak kucing, walaupun Daiya yang menemukannya, sepertinya entah kenapa nempelnya ke Shin. Kapan pun Shin beristrirahat dari tugas rutinnya di hari-hari yang mereka habiskan untuk melawan Legion, anak kucing itu akan duduk diam manis di sebelahnya. Dia akan iseng mencakar halaman buku apa pun yang Shin baca, tetapi tak pernah dia usir.

Melihat kucing itu seperti berada di samping Shin, jadi Kurena selalu berada dekat keduanya. Kamar kapten sedikit lebih besar sebab berfungsi ganda sebagai kantor, dan tak lama setelahya, semua orang datang untuk bercengkerama.

“Tapi sekarang kami … kami jarang mengobrol bareng lagi,” katanya kepada TP, tidak menujukan kata-kata itu langsung ke si kucing.

Kucing hitam itu menatapnya, tidak ada manusia yang memiliki mata transparannya. Kamar tidur pangkalan dan kantornya bukan tempat yang bagus untuk main bareng. Menggantikannya, mereka punya kafetaria, tempat usaha bersama, kafe, ruang tunggu, dan ruang rekreasi. Semuanya lebih luas ketimbang kamar kecil kapten di masa lalu, jadi bisa menampung lebih banyak orang.

Tiap-tiap skuadron dengan sendirinya berkumpul di tempat mereka sendiri, biar begitu, rasanya tak seperti punya tempat khusus yang disediakan untuk mereka. Ada terlampau banyak pasang mata yang memerhatikan, plus Kurena terlalu malu bermain dengan anak kucing sambil dilihat orang sebanyak itu.

Shin sering bersama Kurena dan anggota-anggota lain skuadron Spearhead di kursi cadangan mereka di belakang ruang tunggu, tetapi akhir-akhir ini Shin lebih sering berada di ruang belajar pangkalan. Tak lama sesudahnya, Raiden dan Anju pun sama. Begitu pula Prosesor-Prosesor Spearhead lain.

“… iya, aku tahu. Aku bisa saja ikut mereka.”

Seandainya dia kesepian, dia boleh-boleh saja ikut mereka dan gabung bareng. Apabila Kurena menolak melepaskan harga dirinya, maka lebih beralasan lagi untuk pergi ke sana, tempat di luar medan perang.

Bukan berarti seolah-olah Shin, Raiden, atau Anju sudah menemukan hal khusus untuk dikerjakan di luar pertempuran. Mereka baru mulai bersiap-siap, mata mereka diarahkan ke hal samar yang barangkali ada di luar lingkup pertempuran.

Di kemudian hari dia bisa memutuskan arah masa depannya. Walau begitu, dia tetap takut. Setiap kali berpikir ingin ke ruang belajar, kakinya membeku. Dia takut dirinya menyadari masa depan setelah perang. Dia tak mau memikirkannya.

Mungkin saja banyak 86 punya emosi yang sama. Terobsesi pada medan perang, dan penolakan keras nan gigih terhadap masa depan yang menghantu-hantui mereka di baliknya. Setahu mereka, ketika melangkah melewati batas tempat familier tersebut, mereka mendapati tak punya landasan kokoh yang bisa dipijak.

Mereka tak bisa meyakini masa depan pasti akan berada di sana. Kematian mereka tak mengenal waktu. Bahkan belum tentu bisa menyambut hari esok. Hidup terlalu lama di medan perang tanpa mengandalkan siapa-siapa, rasa pasrah yang tertanam begitu dalam di diri mereka tak dapat dicabut semudah itu.

Mereka tak mampu memercayainya—bahwa hanya dengan berharap, masa depan serba kebahagiaan akan langsung datang di hari berikutnya.

Kucing dalam pelukannya mengeong. Kurena memeluknya, membenamkan wajahnya ke bulunya.

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Setelah menuntaskan tugas mereka, waktunya meninggalkan Negara-Negara Armada. Tetapi di hari kepulangan mereka pun, para Prosesor Divisi Penyerang masih suram. Tujuan operasi awal yang diperintahkan kepada mereka seketika dikerahkan di sini sudah dicapai. Noctiluca kabur, iya, tetapi itu kejadian tak terduga. Maka dari itu, mengusirnya sudah sangat baik.

Harusnya.

Burung-burung laut berteriak, tak menyadari badai dan perang yang mengamuk di seberang lautan. Suara-suara mereka bergema dari Stella Maris. Kapalnya ditambatkan di lepas pantai, layaknya kapal hantu. Dari jauh, kelihatannya tak dalam kondisi buruk, namun telah mengalami kerusakan internal parah yang membahayakan kemampuan jelajahnya.

Usai satu dekade pertempuran, Negara-Negara Armada kecil telah menghabiskan kekuatan nasional dan teknologi mereka yang dari awal sudah kurang. Mereka tak sanggup lagi memperbaikinya.

Kapal induk besar telah menyelesaikan pelayaran rahasia sekaligus operasi terakhirnya. Tidak ada gunanya menyembunyikannya dari pandangan Legion di sejumlah pelabuhan rahasia. Jadi berdirilah dirinya tanpa pertahanan di lepas pantai. Mantan-mantan krunya, sedikit para penyintas dari Armada Orphan, bahkan warga kota—semuanya terlihat seakan-akan api yang membakar mereka telah padam. Api serupa yang mereka tampakkan di hiruk-pikuk festival sebelum pelayaran telah sirna, seolah-olah tak pernah ada.

“Nanti mereka menyebut diri mereka apa? Maksudku, mereka tak bisa lagi mengaku sebagai Negara-Negara Armada.”

“Hentikan …. Semestinya kau jangan ngomong begitu.”

“Maksudku, bagaimana kalau—?”

Kita harus berbuat apa semisal berakhir seperti mereka?

Tentara muda tak bisa mengenyahkan pertanyaan itu dari diri mereka. Mereka tak bisa begitu saja menganggapnya sebagai masalah negara lain. Lagi pula, mereka pun tahu perasaan direnggutnya segala hal yang dimiliki. Ketika dibawa ke kamp konsentrasi, identitas mereka—jati diri lama mereka dirampas. Semua hal berharga yang mereka genggam, hidup yang bisa mereka jalani ….

Dan yang mengambil tidak peduli sama sekali. Jadi tahu dari mana takkan terulang lagi?

Tak seorang pun menjanjikannya.

Bahkan di Sektor 86 dulu, Shin sering kali terluka ketika beraksi gila dalam pertempuran. Jadi setelah bertahun-tahun menjadi letnannya, Raiden terbiasa berkewajiban mengurus dokumen.

Namun tak seperti Sektor 86, tempat mereka diperlakukan selayaknya suku cadang sekali pakai, Federasi memandang mereka sebagai tentara berharga. Jadi Raiden tidak diperkenankan membuat laporan setengah matang. Walau beberapa perwira staf lain menangani pekerjaan ini, tetap saja masih banyak yang dikerjakan.

Menyerah mengisi daftar periksa transportasi, Raiden mengangkat tangannya, hendak meminta bantuan.

“Hei, maaf, bisa bantu aku, Theo—?”

Matanya diarahkan ke Anju yang kebetulan di sana. Menahan decakan mulutnya, dia semata-mata melihat langit-langit.

Oh iya. Dia tidak di sini lagi.

Dia melihat Anju tersenyum kepadanya. Ada suatu kegelapan di balik mata Anju yang rasanya seakan-akan tahu Raiden tengah memaksakan diri.

“Akan kubantu, Raiden.”

“Makasih.”

“Jangan sungkan.”

Tangannya mengulur dan mengambil setengah daftarnya. Tetapi begitu membaca halaman pertama dengan mata biru langitnya, jejak kecerahan terakhir menghilang dari ekspresinya.

“… tidak mudah mengerjakannya. Lebih sulit dari perkiraanku,” kata Raiden.

Baik dirinya dan Anju, termasuk Kurena, yang saat ini tidak hadir di sana … juga, tentu saja, Shin. Kematian seorang teman bukan hal tidak biasa di Sektor 86, dan fakta itu belum banyak berubah sejak mendatangi Federasi.

Namun selamatnya seorang taman dengan harga diambilnya kemampuan bertarungnya—itu hal baru. Rasa sakit tak tertahankan yang nyaris seperti kematian, dan mereka tidak terbiasa dengan itu.

Di sudut matanya, Raiden melihat Anju menggigit bibir. Beberapa waktu lalu, Grethe mengajak gadis-gadis Divisi Penyerang agar membiasakan diri untuk berdandan, dan banyak yang menyukainya. Sekarang ini, Raiden sudah terbiasa melihat mereka dengan dandan. Anju memakai sedikit pemerah pipi di bibir merah muda pucatnya.

“Iya …. Suatu waktu, aku tidak lagi memikirkan kemungkinan kehilangan salah satu dari kita berlima,” Anju mengaku.

Kurena tidak ingin melihatnya sebelum operasi. Tetapi sehabis operasi, dia malah mendapati dirinya berdiri di pinggir pantai.  Disebabkan semacam pembalikan peran yang absurd, semua rekan-rekannya menolak menjambangi pantai sekembalinya mereka. Jadi pantainya kosong.

Keesokan harinya, segenap kru kapal induk besar dan penduduk kota membawakan bunga ke pantai untuk bersimpati kepada para Prosesor, persis ke tepi laut yang sama yang telah menelan banyak sekali manusia—juga tangan Theo.

“… Kurena.”

Mendengar suara seseorang memanggilnya, dia balik badan dan mendapati Shin berdiri di belakangnya.

“Aku barusan diizinkan menjenguk Theo. Aku mau ke sana sekarang …. Kau tidak apa-apa?”

“I-iya!” Dia buru-buru mengangguk. “Aku baik-baik saja sekarang!”

Suaranya sangat ceria sampai-sampai kedengarannya ganjal, bahkan bagi dirinya sendiri. Shin nampaknya tahu Kurena tengah menutupi semuanya, Kurena bicara seraya menatap mata merah darahnya yang penuh perhatian.

“Err, bisa sampaikan padanya aku minta maaf …? Saat itu, aku tidak bisa membantu sama sekali ….

Kurena membatu dan tak mampu menembak. Baik ketika melawan Phönix dan menghentikan Noctiluca. Walaupun keberadaannya adalah untuk membantu rekan-rekannya.

“Kalau saja waktu itu aku bisa menenangkan diri, pasti Theo takkan—”

“Kurena.” Suara muram Shin memotongnya.

Begitu balik badan, Kurena melihatnya meringis seolah-olah menahan penderitaan tak terlihat.

“Bukan salahmu. Bukan salah siapa-siapa.”

Fakta Shana mati. Fakta Shana harus bertarung.

Iya ….

“… iya. Tapi nyatanya tidak menjernihkan pikiranku kala itu.”

Dia tak bisa bertarung, karena itulah, Theo dan Shana … bahkan Shin … kalau saja keadaannya lebih baik, situasinya akan berbeda. Paling tidak, itulah perasaannya.

Karena bila kenyataannya tak begitu, maka artinya dari awal dia tidak bisa menyelamatkan seorang pun. Dan dia sungguh-sungguh tak ingin seperti itu …. Kesadaran tersebut memenuhi pikirannya seiring bulu kuduk di tubuhnya naik.

Jika dia tidak berguna di pertempuran … maka artinya tak mampu lagi menyertai pria yang dihadapinya sekarang.

“Lain kali takkan aku ulangi. Aku akan bertarung. Aku tidak akan gagal lagi, jadi ….”

“Kurena.”

“… jangan tinggalkan aku.”

ᚠᚱᛖᚤᚨ

Sinar matahari menembus tirai lalu masuk menuju lorong rumah sakit militer, memancarkan secercah cahaya samar ke lantai. Berjalan melintasi koridor parket, Shin memikirkan kembali kata-kata Kurena.

Kalau saja waktu itu aku bisa menenangkan diri, pasti Theo takkan.

Tapi nyatanya tidak menjernihkan pikiranku kala itu.

Dia berusaha menyembunyikannya, namun ekspresinya bagaikan anak dicampakkan yang ingin menangis.

Shin merasa sama. Andai saja dia tidak jatuh dari Mirage Spire sewaktu melawan Phönix? Seandainya seseorang menanyakan siapa yang harus disalahkan dari pertempuran terakhir, dia akan bilang tanggung jawab sepenuhnya ada pada kapten regu. Lena dan Ishmael masing-masingnya akan bersikeras bahwa kesalahannya ada pada mereka, namun Shin tidak mengiyakannya.

Meskipun hatinya mau berteriak dan mengaku bahwa itu salahnya, beberapa bagian pikirannya berdalih bukan betul-betul salahnya. Dirinya jatuh atau tidak, hasil akhirnya barangkali takkan beda-beda amat. Undertaker pasti sama tak berdayanya sebagaimana semua orang di hadapan Noctiluca.

Andaikata dia di sana, satu hal yang akan berubah adalah mereka tak harus buang-buang waktu mencari tahu posisi inti kendali, tetapi Stella Maris masih harus mendekat dan menembakkan senjata utamanya. Maka railgun harus dihancurkan lebih dulu, artinya pertempuran di geladak Noctiluca takkan terhindari.

Tapi yang paling penting, Shin tidak akan memprediksi tembakan terakhir Noctiluca. Dia pun tidak bisa memprediksi penggunaan Mesin Mikro Cair untuk menghidupkan kembali laras malfungsi. Bagiamanapun, seseorang harus melompat ke garis tembakan untuk mencegah Stella Maris kena tembak.

Jadi perbedaan tunggalnya adalah mungkin dia yang mengambil peran tersebut. Berpikir kehadirannya adalah satu-saunya hal yang bisa membalikkan keadaan … sehalus-halusnya ungkapan, itu pemikiran yang arogan.

Berdiri di depan nomor kamar rumah sakit yang diberikan padanya, dia melihat seseorang bersandar di pintu. Sosoknya berambut pirang, yang dipudarkan udara asin laut, serta mengenakan seragam angkatan laut nila Negara-Negara Armada.

“Hei.” Dia menyapa Shin dengan mengangkat tangan.

Shin hanya mengangguk. Ishmael melirik pintu di belakangnya.

“Negara-Negara Armada akan bertanggung jawab atas tentara yang terluka parah hingga cukup membaik sampai bisa dipindahkan. Termasuk anak ini …. Dia tidak bisa bergerak dengan benar, tapi sekarang sudah terbiasa sama rasa sakitnya. Mau dipengaruhi apa pun, dia mestinya bisa mendengarmu.”

“Iya …. Wakili kami untuk menjaganya,” kata Shin, menunduk rendah-rendah.

Dia tahu Ishmael menanggapinya dengan mengangguk serius. Melihat siluet nilanya berjalan di koridor, Shin membuka pintu kamar rumah sakit.

Tempatnya kecil, tapi luas. Jendela-jendelanya terbuka sedikit, membiarkan masuk hilir kecil angin laut. Theo sedang duduk di tempat tidur, melihat ke luar. Mendengar derit pintu, Theo berbalik melihatnya. Seketika melihat Shin, mata hijau gioknya yang terlihat menatap hal jauh dan agak melamun telah kembali memfokus, lalu berkedip sekali.

“Shin …. Kau sudah bisa jalan?”

“Kurasa harusnya aku yang menanyakan kondisimu …. Tapi iya. Aku bisa jalan.”

“Iyakah? Senang mendengarnya.”

Biarpun terluka parah sampai-sampai belum diperkenankan keluar dari rumah sakit, Theo nampak santai. Menyadari Shin sengaja tidak menjawab pertanyaannya, dia melanjutkan ibarat tidak terjadi apa-apa.

“Sementara waktu, mereka bilang tidak ada risiko infeksi,” kata Theo.

Mata gioknya punya kehampaan yang menyampaikan rasa simpati. Laksana termenung.

“Potongannya cukup bersih, kurasa. Jadi mudah ditutup dan tidak terlalu sakit lagi. Rasanya aneh saja, tahu? Bahkan saat duduk pun aku merasa ada yang ganjil, tapi buruk banget rasanya pas berdiri. Kayak tidak seimbang. Tapi ….”

Theo memandang ke bawah ke sisi kirinya, ke lengannya yang buntung dari pergelangan hingga siku dan kini tengah diperban, kemudian nyengir lemah seolah mengasihani diri sendiri.

“… aku tidak kehilangan banyak. Hanya satu tangan kecil, heh.”

“….”

“Ternyata lengan tuh cukup berat. Tidak kau pikirkan amat karena masih nyambung, tapi tubuh kita beratnya beberapa lusin kilogram, dan tangan kita punya sepuluh persen berat total tubuh. Jadi ya, berat.”

Mata gioknya tetap tertuju pada posisi tangannya yang mestinya masih ada.

“Kau tahu, dulu …. Saat di Sektor 86, sebelum bertemu denganmu, salah satu rekan reguku kehilangan seluruh lengannya dalam pertempuran. Dan harus kuambil. Sepatutnya aku ingat seberat apa lengan itu, karena waktu itu mesti kuambil …. Tapi aku melupakannya.”

Dia melupakan berat tersebut sebab kejadian masa lalu tak pernah sepenuhnya dia ingat. Atau boleh jadi, dia mudahnya tak menghiraukan seseorang yang mengalaminya. Entah itu kehilangan tangan atau tekad bertarung, kemalangan memilih korbannya tanpa pandang bulu.

“… dan reguku itu—setelahnya dia meninggal. Dia tidak bisa bertarung lagi, jadi tak dirawat sama sekali …. Dia sekadar mati kehabisan darah.”

Begitulah perawatan medis Sektor 86. Bagaimanapun juga, 86 tak dianggap manusia. Luka ringan dirawat sedemikian rupa hingga siapa pun yang kembali ke tugas aktif bisa bertarung. Tetapi yang menderita luka parah dan perlu rawat inap dibiarkan tanpa perawatan. Meski perawatan medis tepat akan menyelamatkan nyawa mereka. Republik paling benci buang-buang sumber daya untuk memperbaiki alat rusak.

“Aku … tidak sanggup bertarung lagi,” kata Theo, menatap penuh luka yang teramat mirip dengan yang diderita rekan lamanya yang tak pernah dikenal Shin.

Luka yang tidak diindahkan. Luka yang dianggap hal lumrah di Sektor 86.

“Tapi aku tidak harus mati. Aku diselamatkan, dan tidak ada yang menyuruhku untuk bunuh diri juga …. Ini benar-benar bukan Sektor 86. Aku betul-betul sudah meninggalkan medan perang. Butuh waktu selama ini sampai aku menyadarinya, namun sekarang … akhirnya serasa nyata.”

Akhirnya, mereka dibebaskan penjara tempat menunggu hukuman lima tahun mereka, tak mengharapkan apa-apa selain kedatangan maut kepada seorang pejuang. Sebesar apa pun kontrol mereka akan takdir yang mereka coba pegang, tahap kematian mereka telah ditetapkan—terlepas dari itu, mereka berhasil bertahan. Takdir abadi 86 telah ditantang dan dikalahkan.

“Sisanya hanyalah memutus rantai yang mengikatku ke tempat itu.”

Membebaskan diri mereka dari beban … dari keyakinan bahwasanya satu-satunya jalan yang bisa ditapaki adalah jalan kesakitan dan kematian. Itulah rintangan terakhirnya.

“… tak apa. Aku akan terus hidup, dan pasti akan menemukan kebahagiaan. Jika tidak, mana bisa menghadapi kapten nanti, belum lagi semua orang yang mati mendahului kita.”

“Itu—”

“Aku tahu. Kedengarannya seperti mengutuk diriku sendiri, ‘kan? Tapi itu satu-satunya hal yang bisa kupegang sekarang.”

Bertarung hingga akhir adalah kebanggaan 86. Begitulah cara mereka meninggalkan tanda, bukti keberadaan mereka. Tapi Theo tidak lagi bisa melakukannya. Lantas yang ditinggalkannya adalah ….

“Seandainya kubiarkan perasaan ini membelengguku, nantinya akan jadi kutukan. Namun sekiranya aku pegang sampai menemukan hal pribadiku … seseorang yang hanya aku yang memilikinya … sepertimu … rasanya akan seperti mimpi. Aku yakin kapten bisa mewujudkannya … karena kurasa dia juga ingin aku bahagia.”

“… Theo.” Shin membuka bibir, tak mampu menahannya lebih lama lagi.

Shin tahu dia mungkin seharusnya hanya berdiri diam mendengarkan, tapi … sudah terlalu berlebihan.

“Tidak usah memaksakan diri seperti ini …. Janganlah berpura-pura semuanya baik-baik saja.”

Mendengarnya, Theo mengubah ekspresinya jadi senyum penuh air mata. Dia tahu Shin tidak datang ke sini untuk mendengarkan ini.

“Aku tahu …. Biarkan saja aku pura-pura. Terlalu lama aku mengandalkanmu …. Mulai dari sekarang ….”

… jangan biarkan aku mengandalkanmu lagi. Jangan bilang aku masih bisa mengandalkanmu.

“… maaf. Sudah menunjukmu jadi Pencabut Nyawa kami …. Pasti jadi beban yang berat untuk ditanggung.”

Membawa nama dan hati semua rekan-rekan gugurnya hingga mencapai tujuan akhirnya. Bagi Theo dan semua orang yang bertarung bersama Shin, ini adalah suaka berharga. Tetapi bagi Shin yang diandalkan semua rekan-rekannya, itu beban tak terjelaskan.

“Terima kasih. Atas segalanya. Dan maaf. Sungguh.”

Shin refleks hendak menyangkal kata-katanya, tapi dia mempertimbangkannya kembali sejenak dan terdiam. Dia ingin mengingkari adanya beban apa pun. Tapi itu tidak benar.

“Iya …. Banyak yang mesti ditanggung. Beneran. Dari awal sampai akhir.”

Diandalkan, dipercayakan seluruh perasaan tersebut.

“Dan karena betapa beratnya itu, rasanya tidak boleh membiarkan diriku mati begitu saja terus membuangnya. Aku tak menggila di sepanjang jalan karena banyak sekali yang percaya kepadaku …. Aku mengandalkanmu dengan cara yang sama. Rasanya seumpama bisa menjadi tokoh itu untuk semua orang akan memudahkan segalanya.”

Diandalkanlah yang membuatnya terus melanjutkan hidup. Rasanya seakan-akan ketenteraman dan keringanan yang dia tawarkan kepada orang lain adalah suakanya sendiri. Hubungan semacam ini susah dipertahankan. Masing-masing dan tiap-tiap orang adalah beban berat, karena semuanya sangat disayanginya.

Setelah lama terdiam, seolah-olah mencermati jawaban Shin, Theo akhirnya mengangguk.

“… begitu.” Kali kedua dirinya mengangguk, sungguh-sungguh dan sepenuh hati. “Jadi bahkan itu pun membantu. Kalau begitu ….”

Dia mendongak, mata hijuanya sekali lagi tanpa daya dan kehilangan arah namun sedikit lega dan cerah.

“… kalau begitu kau akan baik-baik saja tanpaku, ‘kan?

“Tentu tidak. Tapi ya … bisa kami atur.”

“Kurasa aku juga bisa mengaturnya. Aku … cuma sedikit lega saja. Harga diri 86 tak akan menjadi kutukanku.”

Dia tidak perlu membiarkan harga diri 86-nya membimbingnya ke masa depan yang menantinya hanyalah hadiah kematian. Malah, dia akan membiarkan doa kaptennya menjadi kutukannya, sehingga medan perang tidak akan menjadi kuburannya.

“Sementara ini, berusahalah sekuat tenaga …. Lantas sewaktu-waktu keadaan menyulit, kita bisa minta bantuan satu sama lain.”

Tidak akan menjadi hubungan sepihak seperti hubungan mereka sekarang, hubungan satu orang yang diandalkan semua orang. Kali ini mereka akan setara.

“Hingga hari itu datang, kuharap aku bisa bilang kau dapat percaya padaku selama masa-masa sulit.”

Meninggalkan rumah sakit militer, Shin tahu dia harus mulai bersiap-siap untuk kembali bertugas sebagai komandan operasi. Meski begitu, entah bagaimana, dia mendapati dirinya berkeliaran di lorong-lorong pangkalan, kemudian berhenti di depan kerangka leviathan. Tatkala pertama kali melihatnya saat masih anak-anak, serasa bak lagi mengagumi tulang belulang makhluk mitos.

Lebih dari satu dekade telah berlalu sejak hari itu, walaupun demikian, melihatnya sekarang pun seolah melihat kerangka naga. Bahkan kini sesudah melihat penguasa absolut lautan yang besarnya sampai-sampai menjadikan kerangka ini tampak bak bayi.

Kalau begitu kau akan baik-baik saja tanpaku, ‘kan?

“… akankah?”

Shin memberi tahu Theo mereka akan mengaturnya, tapi sejujurnya, dia tak yakin-yakin amat. Dia tidak boleh menampakkan kelemahan semacam itu kepada Theo, lantas dia mengatakan yang dikatakan, tetapi tidak yakin sama jawaban tersebut.

Sebab Shin tidak bisa berbuat apa-apa. Akhir yang dihadapi Theo, kehilangan yang dideritanya pada pertempuran terakhirnya, sama sekali tidak bisa Shin apa-apakan. Tiada yang dapat mengubah masa lalu. Beberapa halnya bahkan melampaui kesanggupan Shin, dan ini tidak mampu dia kendalikan.

Selamanya tidak.

Kerangka naga di atasnya tentu saja tak menjawab. Mendesah, Shin berbalik dan mendapati Lena berdiri di depannya. Terkejut, dia mengedipkan mata beberapa kali.

“… ada apa?” tanya Shin.

“Maksudmu apa …? Kau terlambat banget, aku jadi khawatir,” jawab Lena.

Dia berjalan menghampirinya dengan senyum tegang, namun ekspresinya jelas-jelas tak menampilkan isi hatinya. Lena cukup lama mengenal Theo. Benar jika bilang sebagian besar waktunya hanya tahu suaranya, tetapi mereka masih berhubungan selama beberapa bulan. Theo yang meninggalkan garis pertempuran juga sangat membebani Lena.

“Theo bagaimana …?”

“Wajahnya tabah …. Dia bilang akan oke-oke saja dan jangan biarkan dirinya mengandalkanku.”

Theo mengatakan itu, meskipun takkan ada yang menyalahkan Theo andai melampiaskan perasaannya pada Shin. Shin sendiri menemuinya supaya dia ada kesempatan untuk mengeluarkan semua emosi terpendam dan tak tersalurkan itu—tapi Theo tidak biarkan.

“Itu … yang diucapkannya, ya?” tanya Lena, berdiri di sebelahnya.

Mata peraknya mengikuti tatapan Shin yang melihat kerangka spesimen di atas.

“Aku tidak bisa membayangkan rasa sakitnya ….”

Lena tidak merinci siapa atau apa yang dimaksudnya. Kemungkinan dia membicarakan mereka berdua. Sakitnya rasa kehilangan Theo …. Sakitnya perasaan tidak berdaya Shin ….

“… iya.”

Sekiranya tidak ada sumber kenyamanan dan kehangatan di sisinya, mungkin dia tidak dapat mengiyakan kata-kata itu. Begitu mengakuinya, kenyataan jadi kelewat berat untuk dipanggul.

“Kukira mungkin saja … bisa melakukan sesuatu untuknya.”

Inilah sentimen sang Pencabut Nyawa … yang menempatkan orang-orang dicintainya di atas segalanya ….

“Malahan, aku ingin melindungi hatinya. Tetapi ketika saatnya betulan tiba, aku tidak bisa berbuat apa pun. Sepatah kata untuk menghiburnya pun tidak. Kucoba pikirkan, ‘Harus berbuat apa? Mesti melakukan apa untuk membantunya …?’

Tetapi tidak ada yang terlintas.

“… maaf. Aku malah mencurahkannya padamu.”

“Tidak apa …. Karena itu aku ke sini.”

Lena menatap mata merah darahnya yang tak biasanya terlihat rapuh. Ibaratnya tanpa kata telah menegaskan Shin akan baik-baik saja bersamanya.

Kau tidak bisa menyelamatkan semua orang. Kau tidak bisa mengemban semua beban.

Shin mungkin tahu ini lebih dari semua orang. Pilihan Theo dan hasil akhirnya adalah tanggungannya sendiri. Dan Shin memahami itu juga. Namun sekalipun begitu, dia merasa ini sepantasnya tidak terjadi. Bahwa hasil akhir ini membuatnya sedih. Dan perasaan itu tak salah.

Fakta Shin bisa buka-bukaan menyatakan rasa sakitnya, dan fakta ketidakberdayaannya sendiri menghancurkannya— ini menjadi bukti betapa berartinya Theo bagi Shin. Dan emosi tersebut takkan terbantahkan.

Sebab itulah tidak menyedihkan untuk mengekspresikannya. Lena lebih sedikit memikirkan Shin.

“Bergantunglah kepadaku. Jika menderita, bersandarlah padaku. Akan kudukung. Kita bisa memikul semua beban bersama-sama. Kapan pun sedih atau kesakitan, aku akan … aku akan melindungimu.”

Shin itu orang baik. Orang yang menderita atas kemalangan orang lain. Namun kebaikan itu melemahkannya. Mengikisnya sampai tidak kuat menahannya lagi.

“Shin, mulai dari sekarang, aku akan menemanimu di masa-masa sulit itu. Aku akan senantiasa menemanimu. Aku takkan pernah meninggalkanmu. Aku takkan membuatmu sedih. Aku akan menjadi satu-satunya orang yang bisa kau percaya takkan pernah menyakitimu. Dan ….”

“Aku juga mencintaimu.”

“Aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu. Aku mau melihat laut lagi, dan kali ini, aku ingin melihatnya denganmu. Aku ingin kita berdua melihat laut yang kau bicarakan, bersama-sama.”

Laut utara tak kenal ampun, menyinarkan cahaya biru samar. Laut selatan di musim panas, airnya menyala dengan berbagai macam warna. Kembang api Festival Revolusi. Pemandangan musim gugur dan musim dingin Federasi yang belum pernah dirasakan Lena. Berkeliling di Kerajaan Bersatu sambil menyaksikan fatamorgana utara seperti halnya yang mereka rencanakan sebelumnya. Melihat pemandangan indah Aliansi. Banyaknya kota-kota dan negeri-negeri yang belum pernah mereka kunjungi yang letaknya di balik wilayah Legion.

Mengunjungi Sektor 86 sekali lagi dan melihat bunga-bunganya bermekaran.

Melihat semua hal yang Shin harap ingin tunjukkan kepadanya di luar medan perang.

“Aku ingin melihat segala hal yang belum pernah kulihat bersamamu. Aku ingin mengagumi senyummu saat menunjukkannya kepadaku. Aku ingin berbagi semua emosi itu. Semua suka-duka. Selamanya … kalau bisa.”

Jadi kau bisa beri tahu aku rasa sakit yang kau simpan sekarang. Agar kelak kau bisa menceritakan kisah luka di lehermu itu.

Kedua tangannya menyentuh sepanjang bekas lukanya, berdiri jinjit untuk mendekatkan bibirnya ke bibir Shin. Dia tak menolak sentuhan Lena ke bekas luka yang selalu dia sembunyikan dengan kerah seragamnya. Malahan, tangannya melingkari pinggangnya selembut mungkin kemudian menariknya lebih dekat.

Bibirnya yang terlalu sering dia gigit sendiri, rasanya ada sedikit darah. Sejenak, Lena pikir dirinya mencicipi rasa pahit air mata. Air mata yang tak Shin tumpahkan di depannya. Air mata yang tidak dia perkenankan seorang pun lihat. Seakan untuk menghapusnya, Lena menciumnya.

Layaknya ciuman sumpah, janji yang dibuat di hadapan Tuhan. Bagaikan ciuman seorang pangeran yang konon menghadirkan keajaiban.

Ciumannya adalah ciuman janji dan sumpah kepada sang Pencabut Nyawa. Ciuman Ratu bersimbah Darah yang menghadirkan keajaiban.

“Ayo, bersama-sama, di luar medan perang. Bertahan dari perang berdarah ini. Mari saksikan sampai akhir. Bersama-sama.”

Sampai maut memisahkan?

Tidak. Mereka takkan mengharapkan kebahagiaan fana semacam itu. Angin perang yang mendatangkan kematian itu sendiri, sifatnya gigih, dengki, dan akan mudahnya menghamburkan keinginan selemah itu.

Tidak, bahkan kematian pun takkan memisahkan mereka.

“Aku akan menunggu kembalimu. Aku takkan meninggalkanmu ….”

Tak ada bedanya dengan keajaiban andaikan menepati janji seperti itu di medan perang dengan kematian pasti ini. Namun karena mereka bertekad mewujudkan keinginan satu sama lain, maka berubah menjadi sumpah.

“… jadi aku ingin kau selalu kembali ke sisiku.”

Entah sekacau apa pun pertempuran di hadapan mereka, Shin harus lolos dari ambang kematian.

“Aku mau kau kembali kepadaku. Dengan selamat.”

Catatan Kaki:

  1. Dalam istilah perangkat keras komputer, sebuah porta adalah bagian yang menjadi penghubung antara satu komputer dengan komputer atau perangkat lainnya. Secara fisik, porta berbentuk outlet yang nantinya bisa dicolok dengan konektor elektronik atau kabel. Porta terdiri dari beberapa konduktor yang terkait, memungkinkan terjadinya transfer sinyal antarperangkat.

https://id.wikipedia.org/wiki/Porta_komputer

  1. Banshee adalah wanita yang membawa maut sebagai pertanda untuk seseorang .Kadang-kadang Anda melihat Banshee sebagai seorang wanita tua berpakaian compang-camping, kadang-kadang Anda melihatnya sebagai seorang gadis muda dan cantik dan kadang-kadang Anda melihatnya sebagai seorang wanita yang sedang mencuci pakaian dengan noda darah. Setiap kali dia terlihat, dia menangis dengan nada mengerikan dan menurut legenda tangisannya ini akan membawa kematian kepada anggota keluarga yang mendengarnya. Raja James I dari Skotlandia pikir dia didekati oleh seorang Banshee. Tak lama setelah itu, ia meninggal di Earl dari Atholl.

http://www.kemahasiswaanstikesdhb.com/10-mahluk-mitologi-paling-menghebohkan-dari-irlandia/

  1. Perusahaan militer swasta (bahasa Inggris: private military company, PMC) adalah perusahaan atau korporasi yang menyediakan jasa dan keahlian yang berhubungan dengan bidang militer atau bidang sejenisnya.[1] Perusahaan seperti ini juga dikenal sebagai korporasi militer swasta, firma militer swasta, penyedia jasa militer, dan secara luas sebagai industri militer swasta. Jasa-jasa yang ditawarkan perusahaan militer swasta antara lain adalah jasa logistik, pelatihan militer, pertahanan, serta jasa keamanan. Jasa PMC umumnya digunakan sebagai pendukung bagi operasi resmi suatu angkatan bersenjata, tetapi sering juga digunakan untuk pribadi, misalnya sebagai bodyguard. PMC merupakan lembaga sipil yang diberi wewenang kerjasama dengan unit-unit militer di dalam negerinya atau bahkan negara lain yang disetujui oleh departemen pertahanan. PMC biasanya dipakai pada area dengan konflik intensitas rendah, ketika pemakaian angkatan bersenjata penuh dapat merugikan secara ekonomi, diplomatik, atau politik. Namun, perusahaan-perusahaan ini juga bekerjasama dengan negara-negara untuk menyediakan pelatihan militer dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pertahanan.

https://id.wikipedia.org/wiki/Perusahaan_militer_swasta

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments