Share this post on:

Bab 4

Menara (Tegak Lurus)

Penerjemah: Aliseae

Pada kapal perang, ada perbedaan ketinggian nyaris dua puluh meter antara geladak penerbangan dan permukaan air. Bagian terbawah pangkalan musuh yang ditopang oleh pilar, berada persis di atas mereka. Pangkalannya sendiri terbuat dari balok baja yang membentuk kisi-kisi, bagaikan jaring laba-laba logam.

Bisa saja disamakan dengan kerangka baja, tapi panjang ke atasnya lebih dari seratus meter, mewujudkan sebuah benteng raksasa. Setiap baloknya selebar Juggernaut, dan celah-celah di kisi-kisinya cukup besar sampai bahkan Löwe pun bisa mudah masuk.

Unit pencegat bertahan di lantai terbawah benteng untuk menghancurkan artileri, sedangkan skuadron Spearhead menjadi garda depan dan menyerbu lebih dalam. Jangkar kawat ditembakkan, menjeratnya ke sekitar balok. Kemudian melompat, melepas dan menarik kembali jangkar kawatnya begitu mendarat.

Interior pangkalan Mirage Spire terdiri dari beberapa lantai. Agar mudah dibedakan, setiap tiga lantai ditandakan sebagai Tingkat. Ada Tingkat A (Agate) hingga E (Erze). Berdiri di Tingkat Agate Satu, lantai terbawah, Shin melihat pangkalannya, memeriksa interiornya. Dari luar terlihat besar, tapi pas masuk, ukuran absurd tempat itu malah lebih jelas. Seluruh pangkalan … satu pabrik amunisi utuh bisa muat di setiap lantainya.

Tiga balok yang saling tergabung menyusun segitiga sama sisi, dan banyak segitiga tak terhitung jumlahnya membuat kisi-kisi yang menjadi permukaan tiap-tiap lantai. Melihatnya dari atas, seluruh pangkalan tampak seperti sebuah bangun datar heksagonal yang disagga pilar. Enam pilar penopangnya setebal yang mereka lihat sekarang. Pilar-pilar tersebut meninggi sampai puncak, melintasi perancah logam polosan.

Material konstruksi bangunan vertikal dan berpenopang tiang disatukan untuk membuat pilar transparan dalam bentuk geometris. Dinding luar benteng disusun dari panel surya setengah transparan yang dilapisi material-material yang dibangun secara vertikal. Dindingnya tak membiarkan angin atau hujan menyusup, tetapi sedikit memperkenankan sinar matahari masuk.

Hari sedang fajar, tetapi badai menyelimuti matahari, lantas hanya sedikit cahaya yang menyelundup, dibiaskan panel dan memancarkan cahaya biru samar di atas Mirage Spire. Rasanya bagaikan senja ketika matahari terbenam, namun kegelapan malam belum sepenuhnya hadir. Persimpangan siang-malam, waktu warna biru suram nan dingin menyapu udara.

Bayangan biru laut tersebut meresap masuk melalui jaring-jaring lantai tiap tingkat, memancarkan pola cahaya segitiga ke interior. Setiap baloknya cukup besar untuk ditapaki atau diputari Juggernaut. Ukuran dan skala bangunan laut bertingkat-tingkat ini memusingkan, bak berada di tengah-tengah lamunan.

Lantai teratas bangunan kemungkinan tempat tinggalnya Morpho, sekaligus sebagai suplai amunisi dan suku cadangnya. Rel yang lebih besar dari beberapa balok, memanjang dari Tingkat Erze hingga ujung barat lantai terbawah. Bayang-bayang tersebut bersama ratapan hantu serta pola bayangan cahaya senja abadi yang mengalir ke pangkalan adalah latarnya. Dan di belakangsSkuadron Spearhead, bayangan berwarna metalik khas Legion tak terhitung jumlahnya bangkit sekaligus.

“Tuan Pencabut Nyawa, sesuai rencana, unit Alkonost kami akan mengintai di depan,” ucap Lerche, melompat turun dari Chaika.

Dia diikuti sekelompok Alkonost. Selain rel memanjang dari lantai teratas, satu-satunya jalan naik adalah balok logam yang berbentuk heliks ganda. Tentu saja, musuh sedang bersiap menyergap di kedua rute. Relnya tak memberikan tempat perlindungan khusus dari atas, berarti makin naik mereka, semakin mudah pula dijadikan target dari lantai atas.

Ini artinya mereka mesti naik menggunakan sesuatu yang fungsinya bukan untuk pijakan. Contohnya balok dinding atau tumpuan yang memenuhi setiap lantai. Memanfaatkan bobot ringan unit, mereka bisa menggunakan jangkar kawat untuk memanjat vertikal lurus selama operasi ini.

Tentunya Legion takkan membiarkannya. Selagi para Alkonost naik ke Agate Dua, sepasukan Grauwolf turun mengepung mereka. Di belakang, Stier menyiagakan moncong. Rupanya, komposisi pasukan pertahanan pangkalan ini adalah Grauwolf dan Stier.

Pijakan buruk pangkalan ini mempersulit pengerahan Löwe dan Dinosauria kelas berat. Sebaliknya, Grauwolf—yang ringan dan sangat cepat—serta Stier—yang sama ringannya namun punya daya tembak tinggi—lebih efektif di medan ini.

Tentu saja ada Ameise yang mengelilingi markas. Menjadi mata dan telinga untuk tipe-tipe Legion lain, mereka tengah bersembunyi, mengikuti para penjajah dengan sensor komposit mereka.

Kemampuan Shin memungkinkannya melacak posisi Legion hingga batas tertenu. Karenanya, peran kelompok pengintai adalah untuk mengimbangi ketidakmampuan Shin untuk membedakan tipe Legion yang berada di tempat, sekaligus mengurangi jumlah musuh hingga jumlah tertentu sampai 86 lain maju ke bagian pangkalan ini.

“Kita mulai dengan menghancurkan mata mereka …. Buru musuh sambil utamakan Ameise.”

Setelah selesai menurunkan dua detasemen Juggernaut, Stella Maris mulai mundur 120 kilometer—di luar jangkauan turet Löwe. Kapal induk besar adalah tipe kapal yang relatif rapuh. Jika Legion menaikinya, maka akan tenggelam, dan pasukan penyerang akan terdampar tanpa jalan pulang.

Pangkalan laut ini letaknya jauh dari daratan, dan Stella Maris adalah satu-satunya sarana untuk menyeberang laut ke titik ini. Inilah faktor paling berbahaya dalam operasi.

Lantai teratas Mirage Spire—Tingkat Erze. Di sana, Morpho yang diasumsi kehabisan amunisi, lagi beringsut di luar kanopi melingkar. Turetnya diturunkan ke sudut terendah mungkin, lalu rel railgun aktif dengan derak-derak listrik, disertai langit bergemuruh sebagai latarnya.

Tanda-tanda pengeboman.

Bidikannya ditujukan ke Stella Maris yang berlayar mundur tanpa pertahanan di hadapan selongsong 800 mm.

“… sesuai dugaan. Aku pun akan melakukan hal sama kalau jadi dirimu,” gumam Ishmael.

Persis saat itu, tiga kapal penjelajah yang telah berlayar ke tiga posisi berbeda di sekitar Mirage Spire, menembakkan turet 40 cm mereka.

Meski kapal-kapal ini khusus memburu para leviathan yang bersembunyi di kedalaman Negara-Negara Armada, walaupun kecil dan kurang dana untuk melengkapi kapal-kapal mereka dengan senjata terpandu. Maka dari itu, persenjataan kapalnya bukan untuk menghancurkan target darat. Melainkan dirancang untuk menembakkan peledak kedalaman1 sejauh beberapa puluh meter ke depan.

Akurasi pengeboman ke target angkatan laut tak tinggi-tinggi amat. Tetapi selongsong bawaan peledak kedalaman bobotnya hampir satu ton dan berfungsi untuk memburu spesies besar leviathan. Dengan jangkauan tiga puluh kilometer, peledak kedalaman tersebut melesat dengan kecepatan supersonik lebih dari 780 meter per detik. Kendati tak dibuat untuk menembus lapis baja, muatannya luar biasa besar.

Begitu meninggalkan kanopi yang melindunginya sehingga bisa menembak Stella Maris, Morpho mengekspos diri ke cuaca badai. Selongsong menghujaninya dari tiga arah. Kerak luar selongsong tersulut dari jarak dekat, memuntahkan peledak kedalaman di dalamnya.

Peledak kedalaman yang dimaksudkan untuk memburu leviathan besar menghantam bagian depan Morpho. Sebagian besar peledaknya dibelokkan lapis baja utama unit, tetapi satu peledak mengenai alas laras senapannya lalu menerbangkannya.

“—kita berhasil menghancurkan laras Morpho …. Perhitungan kita tepat. Morpho itu telah memperbanyak jumlah selongsong yang bisa ditembakkan sejak tahun lalu.”

Sekalipun mereka memprediksinya dan rencananya adalah agar kapal penjelajah menembaki Morpho seketika ia meninggalkan perlindungan kanopi, Lena tetap berada dalam Stella Maris ketika dibidik railgun. Suara mirip lonceng Lena masih tegang karena takut dan gugup. Memikirkan kondisinya, Shin mengatakannya dengan tenang.

Mereka sedang memanjat naik didahului Alkonost dan tengah menekan Agate Dua. Di lain hal, tiap-tiap komponen individual Morpho itu berat, membuat proses pemeliharaan dan pergantian amunisinya lambat. Biar begitu, jumlah selongsong yang bisa dibawanya dalam satu waktu beserta masa pakai laras adalah komponen-komponen yang bisa dimodifikasi dan ditingkatkan. Tahun kemarin, batas tembakan Morpho rupanya seratus. Berasumsi kondisinya stagnan selama operasi ini adalah perkiraan yang terlampau optimis.

 “Iya, tapi aku masih bisa dengar suaranya. Masih belum dihancurkan. Jika dia masih punya selongsong, mungkin akan kembali menembaki Stella Maris segera setelah larasnya diganti.”

Berarti itulah tenggat waktu untuk menguasai kembali pangkalan dan  melenyapkan Morpho.

Mereka mengira Mirage Spire sebagai semacam pabrik, tetapi seluruh lantainya sejauh ini kosong dan Gembala kedua—yang diduga adalah inti kendali pangkalan—berada di lantai paling atas, sama sebagaimana Morpho.

Target kedua mereka yang berada di tempat sama seperti target pertama kurang lebih menguntungkan, tapi … Shin masih tidak tahu unit macam apa Gembala satunya.

“Berapa perkiraan waktu sampai Morpho kembali mengganti larasnya?”

Dengan kata lain, batas waktu untuk menyelesaikan operasi—hitung mundur hingga musuh menembak hancur Stella Maris—adalah ….

“Interval antara pengebomannya ke Negara-Negara Armada selama satu bulan terakhir minimalnya adalah enam jam …. Kita asumsikan itulah jumlah waktunya.”

Sebab keterbatasan berat, Lena dan Vika harus memutuskan mana unit pribadi yang hendak dibawa ke kapal. Vanadis Lena punya kemampuan kalkulasi lebih tinggi, tetapi Gadyuka-nya Vika-lah yang dipilih, daya tembak superiornya yang jadi faktor penentu.

Selagi mengomandoi Alkonost yang menjadi pengintai, Vika menyipitkan mata kala menerima umpan visual Mirage Spire melalui tautan data. Dia sedang duduk dalam hanggar Stella Maris yang kini kosong karena kepergian Juggernaut.

Benteng aneh, seluruhnya terbuat dari kerangka, kayak kerangka makhluk besar yang telah punah …. Maksud pembangunannya untuk apa? Vika tidak tahu. Zashya menyebutnya gudang senjata, namun tak punya fasilitas untuk memproduksi amunisi.

Yang mereka temukan hanyalah amunisi yang nampak siap dibawa Morpho untuk dimuat ulang. Dan pangkalan ini tak semata-mata menjadi posisi artileri untuk Morpho pula. Kalau begitu, mengapa dibuat jauh sekali, di tengah-tengah laut?

Tujuan tempat ini tidak jelas. Masih samar pula asal sumber daya besi yang masuk ke pembangunan pangkalan ini. Kenapa Legion besar sekali menaruh investasi ke pangkalan ini padahal nilainya terlihat sangat rendah?

Tidak ….

“Asalnya cukup jelas.”

Ada banyak negara yang masih tertutup interfensi elektromagnetik Eintagsfliege. Banyak negara masih belum bisa dihubungi. Mana mungkin ada cara untuk memastikan negara-negara itu masih bertahan. Sekalipun salah satunya sudah binasa dalam serangan skala besar, suara-suara sekarat mereka takkan mencapai Federasi atau Kerajaan Bersatu.

Fakta kejatuhan mereka belum dikonfirmasi … bukan berarti negara-negara itu belum tamat.

Ya, Zelene pernah mengatakannya. Serangan skala besar pertama tidak hanya pertempuran gagal bagi Legion.

“… prediksimu mungkin tepat sasaran, Milizé.”

Sebagai ganti berat ringan dan daya tembak tinggi, Stier kekurangan mobilitas dan berlapis baja tipis. Mereka dianggap tipe Legion yang dioptimalkan untuk penyergapan. Makanya, mereka diposisikan di daerah yang strategis untuk artileri yang dibangun di setiap lantai.

Ditambah lagi, Grauwolf berkeliaran di pangkalan tanpa takut jurang di bawah ketika melompat lewat tempat vertikal tanpa bantuan jangkar kawat sama sekali. Mereka menerjang musuh, bilah frekuensi tinggi di kaki mereka diayunkan dengan akurasi mematikan.

Namun yang paling mengancam adalah Eintagsfliege yang berbondong-bondong turun ke Agate Tiga dari Tingkat Erze, melepaskan tirai perak dan meriam otomatis enam laras Morpho yang berputar-putar di atas mereka semua.

Mendengar ratapan Legion dan lolongan Morpho makin keras melalui Resonansinya dengan Shin, Raiden menghentikan Wehrwolf-nya terus melompat mundur. Momen berikutnya, tempat tepat di depannya dikoyak-koyak lintasan diagonal tembakan meriam otomatis. Balok besi yang dijadikan kepingan oleh berondong tembakan barusan, koplingnya terlepas dan membuat balok lainnya jatuh.

Apabila rentetan tembakan selongsong 40 mm ini mengenai mereka dari atas, bahkan akan menembus lapis baja berat Vánagandr, apalagi Reginleif. Meriam otomatis ini dimaksudkan sebagai senjata antipesawat, tapi Morpho mengganti jarak jauh dirinya dan Reginleif dengan presisi mekanis, menembak baloknya dengan akurasi mematikan. Hujan logam panas membara menimpa mereka, mengancam akan menusuk para Juggernaut bagaikan tombak.

Meriam otomatis menghabiskan beberapa ratus peluru amunisi dalam sekejap mata, sekalipun masih banyak, larasnya tak mampu berputar selamanya tanpa kepanasan. Terlepas dari ini, Raiden tidak menemukan jeda waktu cukup lama antar tembakannya. Tahun kemarin, Undertaker sendirian menebas keenam senjata Morpho. Kelihatannya, Legion belajar dari situ kemudian menaruh lebih banyak senjata pada Morpho ini.

Di ujung pandangannya, Raiden melihat satu Juggernaut melompat setelah mencapai titik tumpu. Juggernaut itu adalah anggota skuadron Spearhead yang dipimpin Shin. Ia menginvasi Grauwolf yang meluncur ke titik tumpu, lalu bilahnya diayunkan ke bawah. Jangkar kawat Juggernaut melingkar di sekitar balok lantai atas, setelah melompat dengan pilar lantai sebagai tumpuannya, ia menghindari lintasan serangan musuh.

Karena meleset dari sasaran, Grauwolf itu meluncur turun tanpa membuahkan hasil sedangkan Juggernaut tersebut mengarahkan bidikannya ke bagian belakang musuhnya.

Tapi saat setelahnya, satu ranjau swagerak yang bersembunyi dalam balok menerjangnya. Terjangannya tepat waktu, sesaat perhatian Juggernaut itu tertuju ke Grauwolf.

“…?!”

Kebetulan Raiden melihat ke arah itu, alhasil dia bisa bergerak di momen yang pas. Nyaris tak sempat, Wehrwolf menembak. Rentetan tembakan senapan mesin bergerak layaknya satu gumpalan, menabrak sisi samping ranjau swagerak, merobek dua dirinya dan meledakkannya.

Begitu Grauwolf-nya meluncur turun, Undertaker nyatanya juga memerhatikan situasinya lalu menembaknya sampai hancur. Misil di punggungnya memicu ledakan tiba-tiba, menghancurleburkan Grauwolf itu. Sensor optik Juggernaut yang diserang ranjau berbalik ke arah ledakan, terkejut.

“Terima kasih. Kalian berdua menyelamatkanku.”

“Tak apa, bung. Berhati-hati sajalah.”

Shin tampak mengangguk tanpa membalas apa pun, setelahnya menghubungkan Para-RAID-nya ke unit lain, sekaligus Yuuto. Suara tenang dan tanpa gangguan Shin memenuhi medan perang.

“Semua unit, kami mengonfirmasi keberadaan ranjau swagerak di pasukan pencegat musuh. Mereka kecil dan mudah terlewat. Jangan terlalu andalkan tautan data, tetaplah waspada.”

Mendesak mereka untuk was-was—meski suaranya sendiri terdengar seolah selalu menyarankan ini—kemudian sang Pencabut Nyawa menambahkan:

“Kita masih punya cukup banyak waktu untuk menyelesaikan operasi ini. Kita tidak boleh berlama-lama, tapi tidak perlu buru-buru juga.”

Sesudah menghancurkan musuh di blok timur laut Agate Tiga. Skuadron Thunderbolt Yuuto, mereka akhirnya menguasai Tingkat Agate. Skuadron Thunderbolt Yuuto memasuki tingkat dua, Tingkat Bertha, menggantikan skuadron Spearhead Shin. Dimulai penekanan Lantai Satu Bertha, sementara itu, skuadron Spearhead termasuk Snow Witch Anju, mengisi ulang amunisi.

Meninggalkan satu pasukan untuk menjaga Agate Tiga, mereka kembali ke Agate Dua, di sana empat Scavenger dilengkapi jangkar kawat untuk mengikuti mereka naik. Fido-lah yang pertama mencapai mereka lalu buru-buru mengisi ulang Undertaker.

Secara horizontal, pangkalan ini luas nian, tapi jarak antara lantai teratas dan terbawah kurang dari seribu meter, menempatkannya dalam jangkauan minimum senjata antitank, senapan mesin berat, ataupun misil antitank. Tentunya termasuk meriam otomatis 40 mm Morpho yang awalnya adalah senjata antipesawat.

Meskipun mundur dari pertarungan dan meluangkan waktu untuk mengisi amunisi kembali, mereka tidak boleh lengah. Sensor optik Juggernaut mereka dengan waspada menghadap ke atas, Shana angkat bicara.

“… kau jadi kepikiran sesuatu, bukan?”

Menemui orang-orang dari klan Laut Lepas menyadarkannya hal ini, tapi kalau dipikir-pikir, mungkin saja sudah jelas. Betapa berharganya harga diri.

“Melihat kematian mereka seperti itu, tepat di depan mata kita … aku penasaran kita harus berbuat apa misal berada di posisi mereka …. Dapatkah kita tersenyum seperti mereka?”

Kurena merajut alis kesal, memotong kata-katanya. Dengan singkat, seakan-akan menolak memikirkannya.

“Shana, bukan itu yang harusnya kita pikirkan sekarang.”

“Terus kapan?”

Balasannya membungkam Kurena. Shana melanjutkan, suaranya termenung, ibarat lebih banyak berpikir daripada bicara.

“Kalau kau tanyakan aku, kita belum cukup memikirkan topik ini. Andaikata kita akan kehilangan harga diri kita, maka hari itu adalah saat kita berhenti bertarung. Kita sudah saksikan sendiri tujuan akhir  kita seandainya bertarung sampai titik darah penghabisan sewaktu memanjat gunung mayat Sirin di Benteng Revich dulu …. Tapi tak pernah sekalipun kita berpikir takkan dapat akhir pahit. Setahu kita, bisa saja operasi ini akhirnya. Dan itu … adalah hal yang harus benar-benar kita pertimbangkan.”

“Barangkali, tapi sekarang bukanlah waktunya, Shana. Aku mengerti asal pikiranmu, sih.”

Raiden memotong pembicaraan mereka, dan Anju mengangguk setuju. Raiden benar. Mereka sedang di medan perang. Mereka tak boleh mengganggu kepala mereka dengan pikiran tak penting. Meski begitu, kekhawatiran Shana masuk akal, dan yang dia katakan mungkin saja benar.

Demi berjuang sekuat tenaga, mereka wajib memotong pikiran dan emosi apa pun yang tak mereka butuhkan …. Dan karena inilah pola pikir yang mereka yakini akan menyelamatkan mereka, mereka akirnya sepenuhnya berhenti memikirkan segala hal yang tak ada hubungannya dengan medan perang.

“Iya. Kita pikirkan lain kali …. Sehabis operasi ini. Seraya melihat laut.”

Tatkala itulah, mereka takkan bisa menunda pembicaraan …. Suatu hari, mereka takkan lagi bisa berdalih.

Tenaga mesin Reginleif itu besar dibandingkan beratnya yang kecil, dan mobilitas tinggi tersebut sedikit berlebihan perihal manuver horizontal di pangkalan ini. Demikianlah pikiran Shin selagi mempilot Undertaker, merasa bak lebih kuat manuvernya namun ruang untuk beraksinya lebih kecil di lingkungan ini.

Satu-satunya ruang datar yang berisikan balok-balok dari seluruh lantai dalam Mirage Spire. Selain segitiga bertumpuk itu, di permukaannya tak ada apa-apa—jurang menganga belaka. Dia bisa dengan mudah berlari di sepanjang balok, tapi lompatan vertikal mengharuskannya mendarat tepat di balok diagonal yang berdekatan, terlebih dia kudu terus-menerus memastikan seberapa jauh dirinya di sepanjang balok.

Melompat di waktu yang salah bisa membuatnya kehilangan tempat pendaratan dan jatuhlah ke dasar, yang mana situasi itu ingin dia hindari. Baloknya menawarkan teramat sedikit jarak dan lebar pengereman, jadi dia hanya bisa melompat-lompat kecil yang terhitung aman. Reginleif tak diizinkan lari kijang dan lincah di medan perang ini.

Tetapi seketika menyangkut gerakan vertikal, tenaga mesin yang tinggi dan mobilitasnya menjadi senjata kuat.

Di ujung pandangannya, dia bisa melihat pilar yang menopang seluruh bangunan, seolah-olah dirajut bersama oleh rangka baja yang menyusun menara. Di dalam sana, kemampuannya menangkap suatu kehadiran musuh, dan betul saja, suatu bentuk berwarna besi yang besar sedang menunggu. Ia memiliki delapan kaki layaknya paku baja, menjadi senjata mematikan di kondisi tertentu. Sebuah turet senjata dilapisi lapis baja tebal. Senapan laras halus 120 mm koersif khas yang sering Shin lihat sampai terasa biasa saja.

Legion Tipe Tank—Löwe.

… secara efektif ditaruh di sana sebagai meriam tetap, tetapi posisi bagus bangunan itu memberi mereka cara untuk mengerahkan tipe Legion kelas berat. Sejelas-jelasnya itu, dan walaupun titiknya cukup kuat untuk memposisikan Löwe, posisinya yang berada di banyak perancah saling berhubungan artinya jika asal meledakkannya akan berakibat bahaya.

Shin menghindari peluru PLBTSLS (penembus lapis baja terstabilkan sirip lepas-sabot) yang ditembakkan ke arahnya, berguling dari balok yang dipijaknya ke balok di bawahnya—lantai pertama tingkat tiga, Carla Satu. Kebanyakan senjata berlapis baja, termasuk Löwe, kesulitan membelokkan turetnya secara vertikal, jadi Undertaker mendekat dari bawah, di titik Löwe tak bisa menembaknya dengan mudah.

Berakselerasi maksimal, setelahnya Shin mencapai pilar tempat sembunyi Löwe. Sembari mempertahankan kecepatan ini, dia menginjak pilarnya lalu mulai berlari di sepanjangnya. Löwe mengalihkan turetnya, digerakkan hingga selaras Undertaker yang hanya menjadikan pilarnya loncatan untuk menghindar kemudian mulai berlari ke pilar terdekat lain. Tak lama sesudahnya, dia berada di atas Löwe dan belakang kepalanya.

Tubuh Löwe terjepit di tiang penopang tanpa jalan kabur selagi Undertaker menerjang ke turetnya.

Pemilihan persenjataan: pemancang kaki tembus lapis baja 57 mm.  Tersulut.

Sebuah getaran menyentak Löwe.

Pemancang elektromagnetik menusuknya, kemudian mengejang sejenak sebelum runtuh di tempat. Syok akan serangannya menjadikan panel-panel di dinding luar bergemerincing dan gemetar. Mengonfirmasi teriakan sekaratnya tak terdengar lagi, Shin menghembuskan napas.

Ini pertempuran di tempat tinggi. Satu langkah salah bisa membuatnya jatuh bebas. Lebih menegangkan dari biasanya. Mereka akhirnya sukses menembus hingga Carla Dua. Empat lantai tersisa sampai lantai teratas. Mendongak ke lantai yang memanjang di atas menggetarkan dan membuat Shin gugup. Pola geometris cahaya tidak terhitung yang menyinarkan biru tua sebagaimana warna senjanya hari yang kekal. Panel setengah transparan yang menyertai benteng serta dinding lain berbentuk kesatuan silinder prisma heksagonal, Shin merasa bak sedang berjalan dalam kaleidoskop.

Rasanya seolah ketidakmampuannya untuk merasakan pengulangan tanpa akhir, ketidakterbatasan dari bentuk ini sedang disodorkan ke depan matanya. Ujung-ujungnya, Shin tak benar-benar bisa melihat semua hal yang berada di depan matanya … menyadarkannya kalau betapa kecil dirinya. Dia betul-betul tak ada bedanya dengan lalat.

… dalam skala besarnya, manusia … tidak penting di dunia ini.

Pikiran dingin yang telah tertanam dalam dirinya di Sektor 86 terbesit di benaknya, lalu Shin menggeleng kepala untuk menghilangkannya. Bisa jadi gara-gara ucapan Ishmael di Stella Maris. Mereka yang kehilangan sejarah dan harga diri klan-klan Laut Lepas disebabkan misi ini. Seolah-olah dimaksudkan untuk memperlihatkan 86 kemungkinan masa depan mereka. Meskipun kapten itu sendiri tak bermaksud melakukannya.

Sebuah ruang biru dengan bayangan menari-nari di atas kepala dan pola geometris yang berkelap-kelip di kaki. Legion berwarna baja tak terhitung jumlahnya. Sebagaimana seseorang berkelana ke dalam spiral, pemandangannya sama saja. Theo jadi pening.

Mereka sudah masuk seberapa dalam? Kapan pertempuran dimulai, dan seberapa lama akan bertahan? Cerminan neraka berkelok-kelok, dibuat dari cermin cerminan cermin. Ruang khayalan dan gambar palsu yang kelihatan memanjang selamanya.

Sejauh mana Theo memasuki ruang aneh ini? Dia mencari apa di sini? Hendak kemanakah dia? Berada di dunia aneh ini rasanya seolah kehilangan dirinya.

Aku ….

“Nouzen, kau berada di Tingkat Dora. Sekarang bagian kami.”

“Iya, makasih.”

Entah kapan, skuadron Thunderbolt telah memanjat naik. Melihatnya, Theo sadar sudah waktunya naik lantai. Tapi tiba-tiba, Yuuto yang memimpin skuadron Thunderbolt, menghubunginya lewat Resonansi.

“Rikka? Mundurlah, ini bagian kami.”

“Huh?” Theo balik bertanya sambil melongo, setelah itu dia tersadar.

Theo salah mendengar instruksinya.

“… maaf.”

Soal mengambil alih pangkalan, skuadron Spearhead Shin dan skuadron Thunderbolt Yuuto bergantian setiap tiga lantai. Mereka perlu waktu untuk mengisi ulang amunisi dan bahan bakar, dan yang terpenting, konsentrasi seseorang akan terkikis akibat pertempuran berkepanjangan. Theo adalah bagian skuadron Spearhead Shin, berarti dia harus kembali selagi skuadron Thunderbolt menangani pertempuran.

Selagi Theo buru-buru membuka jalan untuk mereka, Yuuto tahu-tahu mulai bicara.

“Di suatu tempat aku pernah dengar suatu legenda kalau orang-orang mencoba melampaui kemanusiaan dengan memanjat menara.”

“… hah?”

“Menara di ujung dunia, terbuat dari tangga spiral. Semakin tinggi naik, semakin mereka membuang sifat buruk, prasangka, ketakutan, dan hasrat. Tatkala mereka mencapai puncak, dilepaskanlah seluruh penderitaan mereka.”

Kenapa mendadak cerita?

“Yuuto …. Kau terguncang?”

Namun begitu mengatakannya, Theo sadar kenyataannya adalah sebaliknya. Yuuto menceritakannya kisah acak untuk menyadarkan Theo bahwa ia sendiri, tengah terguncang. Jadi Theo mendengarkan saja, tidak memotongnya dengan mengatakan itu tak pantas dibicarakan di tengah-tengah operasi.

… naik tangga spiral,  sembari menghilangkan penderitaan seseorang. Sama saja membuang kenangan kebahagiaan mereka tatkala berjuang melawan musuh demi hidup mereka, diselimuti kengerian dan kemarahan. Cerita mereka senantiasa berjuang, kehilangan insting alami untuk melanjutkan hidup.

Seperti halnya Sektor 86, yang dulunya jadi kurungan mereka.

Yuuto bicara, sensor optik unitnya ditujukan ke Laughing Fox layaknya sepasang mata dingin tanpa perasaan.

“Iya. Pernyataan sebelumnya membuatku berpikir menara ini mungkin tempat itu.”

Benarkah … dia sedang bicara dengan Yuuto? Rasanya seakan nyaris tengah bicara dengan dirinya sendiri. Bak seluruh keraguan dan kekhawatiran yang dia tutup telah tercermin pada Yuuto dan dituturkan lewat kata-katanya.

“Saat aku mendengar cerita itu di Sektor 86, aku jadi kepikiran. Jika 86 naik menara itu, dapatkah mereka menaikinya tanpa membuang harga diri mereka? Ataukah harga diri mereka juga bahkan akan hilang?”

Jika mereka mati sekarang, sampaikah mereka ke titik terakhir tanpa kehilangan harga diri? Atau mereka akan tiada layaknya klan Laut Lepas dan meninggalkan segalanya di medan perang?

Ψ

Lautan meraung keras.

Ψ

“—mm ….”

Shin berkedip, mendengarkan suara dari bawah. Ratapan bak ucapan manusia. Ratapannya bukan ratapan manusia, atau apa pun yang pernah didengarnya dari Legion. Bukan kata-kata mesin, ataupun jeritan manusia. Suaranya sepenuhnya asing—suara yang tidak bisa dia bandingkan dengan suara-suara lain yang pernah dia dengar.

Dan asalnya dari bawah.

“Dari bawah laut …?”

Pasukan penyerang saat ini berada di lantai empat—lantai terbawah tingkat Dora: Dora Satu. Skuadron Thunderbolt kini tengah bertarung, selagi Shin dan skuadron Spearhead-nya mengisi ulang di lantai tertinggi Carla. Begitu selesai, mereka akan naik ke Tingkat Erze, di sanalah Morpho menunggu.

Sesudah lantainya dibersihkan, tidak ada tanda-tanda musuh, tapi Lantai Dora masih penuh musuh, dan bagian dalam Tingkat Erze penuh Eintagsfliege. Tentu saja Morpho dihalangi sayap-sayap peraknya. Seraya terus waspada dengan musuh di atas, Shin melihat ke lantai di bawahnya yang telah mereka lewati.

Jauh di bawahnya, terhalang oleh badai dan kedalaman laut, terdapat dunia yang tak seperti daratan. Tempat yang tidak dikuaasi cahaya dan udara melainkan kegelapan dan air, alamnya makhluk berdarah dingin.

Saat ini, Shin tidak mendengar suara itu lagi …. Tetapi dia yakin yang tadi bukanlah imajinasinya.

 “Lena … adakah cara untuk melihat sesuatu di bawah laut? Itu … kedengarannya seperti ada sesuatu di bawah sana.”

“Di bawah laut …? Aku periksa,” jawab Lena, mengalihkan pandangannya ke Ishmael.

Lena segera menjelaskan permintaan Shin, lalu Ishmael mengangguk bingung seraya bilang tidak mendeteksi apa-apa sekarang ini. Radarnya tidak banyak berguna di situasi ini, sebab tak seperti udara terbuka, gelombang radar terhambat ketika dipancarkan ke bawah air. Akan tetapi, sonar, adalah alat pengintai utama untuk lingkungan bawah air. Memanfaatkan gelombang suara untuk mendeteksi kapal musuh yang berada jauh atau para leviathan yang bersembunyi di kedalaman.

Ishmael mengoper perintahnya ke ruangan sonar dan tak lama kemudian dijawab.

“Kakak, ada leviathan yang bernyanyi di air. Jaraknya cukup jauh …. Mungkinkah itu penyebabnya?”

“… seriusan?” Ishmael mengerang.

Kali ini, Lena dengan penasaran memerhatikan Ishmael yang mendongak sambil bergumam getir.

“Yaelah, aku tebak kau marah karena kami terus menembak-nembak tepat di atasmu …. Tapi kumohon, jauh-jauh dari kami.”

“Leviathan …?” Shin berkedip saat Lena menyampaikan tanggapannya. “Tidak mungkin aku salah kira suara itu asalnya dari Legion, tapi ….”

Kemampuannya tidak merasakan suara fisik, namun pikiran dan kata-kata terakhir hantu yang gentayangan setelah kematian. Sulit membayangkan dirinya menyamakan teriakan makhluk hidup seperti leviathan dengan ratapan Legion.

Dia sama sekali tidak bisa menyangkal kemungkinannya. Begitu mencapai Negara-Negara Armada, dia samar-samar mendengar lagu leviathan di kejauhan. Perairan terbuka yang dijelajahi para leviathan jaraknya beberapa ratus kilometer dari pantai, tetapi suara mereka sampai daratan. Jadi barangkali lagu leviathan tidak disampaikan lewat suara tapi mirip-mirip ratapan Legion.

“Diterima. Tapi tetaplah jaga-jaga.”

“Ya, kami selalu berniat begitu. Hmm …. Kapten, Kapten tetap harus waspada juga.”

Lena buru-buru menambahkannya, suaranya ditekan. Shin berkedip kaget.

“Kemajuan mengamankan markas berjalan lebih cepat dari rencana … jika entah bagaimana kau merasa tertekan, maka—”

“… benar juga.”

Yang Ishmael beri tahu pada mereka sebelum pertempuran melawan Morpho. Beberapa jam berlalu, dan dari luar semua orang terlihat tenang. Tetapi sesungguhnya, beberapa 86 masih terguncang. Sebagai komandan mereka, Shin tahu itu. Karenanya dia mendesak mereka was-was pada sekeliling. Dia peringatkan bertarung dengan jarak pandang sangat sempit itu berbahaya. Walau demikian, mereka masih belum cukup berhati-hati.

“Diterima. Operasinya memasuki tahap akhir, jadi waktu-waktunya letih …. Kami akan berhati-hati.”

“Hmm. Untuk memperjelas saja, bukan berarti ada yang salah dari komandomu—”

“Aku tahu itu …. Lena, kami …. Paling tidak aku baik-baik saja.”

Ya, jangan resah. Aku takkan tersesat seperti di Kerajaan Bersatu. Malah jadi pelajaran bahwa aku bisa hidup tanpa harus ada orang yang dijadikan tempat berpalingku.

Kemungkinan itulah niat Ishmael …. Sesuatu dalam diri Shin telah begitu berubah sampai-sampai dirinya sendiri menyadarinya.

Maka dari itu yang perlu Lena cemaskan dalam misi ini bukanlah dia. Sesudah berpikir sejenak, dia alihkan transmisinya ke semua orang dan melanjutkan:

“—tentang tulang leviathan yang kita lihat sebelumnya. Nicole, kurasa dia dipanggil begitu? Sebenarnya pernah aku lihat sebelum perang dimulai.”

Terlepas dari perubahan topik mendadak, bukan pula topik yang ada hubungannya dengan operasi, dia bisa merasakan Lena mengangguk di sisi lain Resonansi.

“… iya.”

“Seumpama bukan karena perang, mungkin aku akan terinspirasi untuk menelitinya. Saat aku masih kecil, aku … yah, tertarik sama monster seperti kebanyakan orang, kurasa.”

Lena sepertinya paham. Terlepas dari itu, Lena sengaja membalas dengan suara menggoda.

“Aku tahu … laporan palsu yang terus-terusan kau kirimkan padaku di Sektor 86 selalu bombastis dan dilebih-lebihkan. Aku bayangkan kau benar-benar kesusahan menulis yang terakhir. Rasanya kayak kau lagi melawan monster dari kartun lawas atau gitulah.”

Lena membalas dengan ingatan lama yang sudah Shin lupakan. Shin mengerang aneh. Iya juga. Pernah begitu. Dia sangka tidak ada Handler yang betul-betul peduli untuk membaca laporannya, lantas Shin terus mengirimkan laporan yang sama selama berbulan-bulan. Dia tidak berniat menulis laporan serius, jadi dia karang saja seluruh isinya. Shin menulis laporan khusus tersebut tak lama setelah masuk militer, dulu ketika umurnya sebelas tahun …. Dipikir-pikir kembali, laporan itu sebagian besarnya serasa memalukan jika dipikirkan.

“Sekarang kau tulis laporanmu baik-baik?”

“Iya. Maksudku, kali ini ada yang baca. Semoga saja tidak kau jadikan pesawat kertas.”

  “Oh, kau tidak tahukah? Itu cara bagus buat mengukur kualitas laporan. Misalkan laporannya jelek, artinya isinya keterlaluan sedikit, jadi terbangnya lebih bagus.”

“Kejam ….”

Mendengar komandan mereka mengobrol, beberapa 86 cekikikan di Resonansi. Ketegangan mereka nampaknya mencair sedikit …. Meski perbincangan mereka tak umum, terbukti ada gunanya.

“… hati-hati di luar sana.”

“Pastinya.”

Kala percakapan tak lazim itu berhasil membuatnya tertawa, Theo bicara. Stres, girang, atau risau tak harus berdampak negatif ke operasi. Di saat-saat seperti itu, pembicaraan santai dan tak penting bisa jadi solusi efektif. Tapi dari semua orang, Theo tak pernah menduga percakapannya adalah dari Shin berwajah datar dan Lena yang kaku.

Dan tidak hanya mereka. Yuuto-lah yang pertama mengangkat topik tertentu di percakapan biasa untuk mengalihkan perhatiannya.

“Omong-omong, Shin. Rito juga sama.”

Ada jeda aneh. Rupanya Shin mengerutkan dahi.

“Kenapa tidak lakukan saja? Penelitian. Kau bisa bergabung sama Rito.”

“… penelitian kedengarannya ide bagus, tapi aku lebih suka tidak jadi pengasuh Rito.”

“Waw, jahat.” Theo terkekeh terus melanjutkan. “Kau tahu, Shin, kau ….”

Dia mencoba menanyakan pertanyaan sekasual barusan, tetapi tampaknya tidak berhasil.

“Kau yakin bergabung dalam operasi ini … ide bagus?”

Sensor optik Undertaker berputar pelan ke hadapannya. Di balik pancaran cahaya merah buatan dari sensor tersebut ada sepasang mata merah darah yang telah berkembang jauh lebih ekspresif dari sebelumnya.

Shin berubah.

Dia sudah mendapatkan keinginan hidup dengan sungguh-sungguh … dan mulai mengharapkan kebahagiaan. Dia bersedia menemui kakek-neneknya yang sebelumnya dipisahkan perang. Pencabut Nyawa ini, yang akan menyelamatkan semua orang di Sektor 86 tetapi takkan pernah menemukan suaka untuk dirinya sendiri, telah belajar cara mengungkapkan perasaannya ke Handler cengeng itu—satu-satunya orang yang mencoba menyelamatkannya.

Dia sepenuhnya berbeda dariku … aku tidak sanggup pergi ke manapun.

“Maksudku, mengikuti kami. Bertarung di perang ini. Masihkah kau menjadi seorang Prosesor? Maksudku … kau tidak harus bertarung lagi.”

Tetapi seketika dia ucapkan, dia jadi sadar. Tidak. Bukannya Shin tak perlu bertarung lagi. Theo tidak ingin Shin bertarung lagi.

Sebab sama sekali tak perlu lagi. Harga diri untuk bertarung sampai titik darah terakhir bukanlah satu-satunya hal yang dia miliki, dan medan perang juga bukan lagi tempat tinggal satu-satunya. Dan bila masalahnya begitu, Theo tak ingin Shin bertarung. Dia tidak mau dia berada di sana. Medan perang adalah tempat yang merenggut segala hal sampai tak tersisa apa pun.

Selayaknya Ishmael dan orang-orang dari klan Laut Lepas. Seberharga bagaimanapun harga diri mereka, sekuat apa pun mereka genggam, mereka mudah sekali kehilangannya. Teramat-amat mudah. Dan itu mengingatkan Theo akan sesuatu yang sepertinya dia lupakan sejak meninggalkan Sektor 86.

Harga diri adalah sesuatu yang kau dapatkan dari bertarung sampai tetes darah terakhir. Tidak lebih tidak kurang. Dan harga diri hukumnya sementara serta berubah-ubah. Tidak ada yang tahu kapan akan diambil dari mereka.

Di dunia ini tak ada yang abadi. Itu, mungkin saja, kebenaran tak terbantahkan. Kehilangan hal-hal sebab keanehan hidup memang sudah bagian dari dunia.

Dan bila itu kebenarannya, kau … kau … kau seorang … harus pergi sebelum hal lain dirampas darimu. Sebelum kehilangan segalanya. Seperti halnya kapten.

“Kau harus keluar dari perang ini …. Lupakan semua ini.”

Kata-kata itu mendekati penghinaan untuk 86. Yang ada, mendengarnya dari bibir Theo pastinya kelewat meyinggung. Tapi Shin hanya tersenyum tipis dan pahit.

“Theo …. Kau bicara sama siapa barusan?” tanya Shin.

Theo membeku. Dia menyamakan kapten lamanya dengan Shin. Inilah kata-kata yang ingin diucapkannya kepada kaptennya, dan Shin bisa langsung tahu. Entah kapan, Para-RAID-nya telah diatur sehingga hanya dirinya dan Shin yang bicara satu sama lain.

“Iya. Kau benar. Bisa jadi aku tidak harus bertarung lagi. Tidak bisa bilang sekarang aku cuma punya harga diri, ataupun medan perang sebagai satu-satunya tujuanku …. Tapi aku tidak bisa pergi ke suatu tempat kecuali bertarung. Dan lebih pentingnya lagi, aku tak mau hidup sambil merasa malu pada diriku sendiri.”

Selama tidak mempermalukan diri sendiri, aku sudah puas.

Jika tidak, maka aku takkan pernah bisa menghadap komandan armada.

“Jadi karena itulah aku ….”

Tiba-tiba, target Resonansi lain bergabung dengan percakapan mereka. Suara dingin yang datar.

“Nouzen. Kami telah menguasai Tingkat Dora.”

Shin terdiam, berikutnya memindahkan target Para-RAID-nya dari Theo seorang ke semua pasukan di bawah komandonya. Suaranya beralih dari santai ke suara komandan Divisi Penyerang.

“Diterima. Semua unit, kita memasuki lantai tertinggi. Saatnya menghancurkan Morpho.”

Ψ

Pasukan musuh akhirnya mencapai areanya. Mereka sudah cukup dekat sampai-sampai sudah memulai penyerangan. Morpho­­—dan hantu yang menghuninya—mengakui fakta ini, merasa frustasi sambil menggertakkan gigi tak nyatanya.

Semestinya tak perlu menggunakan fungsi pertahanan ini, mengingat kegunaan juga tujuan pangkalan. Tetapi tidak ada pilihan lain. Sekiranya dihancurkan sebelum selesai, mereka akan sungguh-sungguh kehilangan segalanya.

<<Colare One kepada Colare Synthesis. Aktifkan mekanisme pertahanan pada konfigurasi minimal.>>

Ψ

Di ujung penglihatan Shin, terpicu suatu ledakan petir. Semua balok-balok yang menahan perancah telah runtuh sekaligus. Lantai persis di bawah Tingkat Erze, Dora Tiga, telah roboh. Lantai kaleidoskopik bagaikan kisi-kisi telah kolaps di bawah kaki mereka.

“Apa …?!”

Shin yang baru saja menembakkan jangkar ke lantai tersebut, bersiap-siap menarik dirinya ke Dora Tiga, terlempar tanpa daya ke bawah. Yuuto dan skuadron Thunderbolt yang dikerahkan untuk melindungi mereka, juga ikutan jatuh. Sebelum sempat mengamankan pendaratan, ada ledakan petir lain, kali ini membelah dua Dora Dua.

Unit pendamping mereka buru-buru menghampiri sudut Dora Satu atau melompat ke Tingkat Carla untuk membersihkan ruang pendaratan. Hampir tidak menghindari hujan balok baja, para Alkonost dengan gesit menempel di dinding Dora Dua.

Tatkala Shin hendak melompat ke balok Dora Tiga, terjadi keruntuhan. Keruntuhan ini menempatkan Shin ke posisi buruk. Shin menyesuaikan posisi Undertaker di tengah udara, entah bagaimana sukses mendarat di salah satu balok Dora Satu.

“…!”

Dibandingkan Vánagandr, Reginleif dibuat untuk pertempuran mobilitas tinggi dan dilengkapi peredam kejut kuat. Namun keruntuhan dan kejatuhan tidak terduga berakibat kejutan berkelanjutan yang hampir membuat Shin pingsan. Kaki Undertaker membeku. Reginleif lain di sekitarnya pun tak lebih baik nasibnya; beberapanya menggantung-gantung dari balok menggunakan jangkar kawat mereka, sementara lainnya mendarat, udara merembes ke luar dari paru-paru Prosesor mereka.

Mereka semua terdiam—penampilan memalukan tak terhindarkan sebab sisi kemanusiaan mereka. Mengincar kelengahan itu, meriam otomatis putar membelah tabir Eintagsfliege ketika membidik. Kedelapan persenjataan antiudara ini mengarahkan larasnya ke bawah—ke sekawanan laba-laba lumpuh, tergantung dan membeku di antara langit dan laut.

Setelahnya Shin mendengar sesuatu turun, meluncur di sepanjang dinding benteng. Kala lantai runtuh, ada yang bangun, Shin tidak lagi diam membeku. Baik sensor optik maupun sistem radarnya tidak menangkap apa-apa, tapi Shin bisa dengar. Suara hantu. Suara mekanis.

Hanya beberapa saat berlalu, tetapi efek adrenalin menyadarkannya. Tidak bisa dihindari. Terlalu cepat untuk diikuti mata telanjang. Mereka mendongak tanpa daya selagi mesin meriam otomatis mulai berputar—

“Darya.”

“Sesuai kehendak Paduka.”

Delapan unit Alkonost menerjang Dora Tiga, terjun langsung ke tengah-tengah garis tembak meriam otomatis dan para Juggernaut. Alkonost adalah unit yang relatif kecil, tetapi moncong senapan mesinnya tidak dapat memperluas radius tembak. Posisi mereka cukup bagus untuk melindungi Juggernaut.

“Mari bertemu kembali, semuanya. Di pertempuran berikutnya.”

Meriam otomatis memuntahkan api, peluru 40 mm mereka mencabik-cabik Alkonost dengan daya tembak terlampau besar. Anggota badan tipis dan kokpitnya diremukkan, bersama Sirin yang mengisinya. Bahan-bahan peledak tinggi dalam beberapa unit untuk penghancuran diri telah terpicu lalu meledakkan mereka di tengah udara.

Gelombang kejut serta api kuat menghasilkan gelombang panas yang menyebar sampai meriam otomatis hingga ke luar benteng. Para Juggernaut nyaris tak sempat mengelak, ledakannya menerangi lapis baja gading mereka dengan cahaya merah.

Juggernaut-Juggernaut-nya entah bagaimana menghindari tembakan meriam otomatis dan ledakan gelombang panas. Lena menatap monitor dan bernapas lega, bibirnya merapat pahit. Gadis-gadis itu menyebutnya pertukaran layak …. Namun dia tak ingin terbiasa melakukan pengorbanan seperti ini.

“… maaf, Vika. Terima kasih, kau menyelamatkan kami.”

“Tak apa. Sudah jadi peran mereka.”

Pertempuran tengah berlangsung. Kalimatnya singkat, seolah mengingatkannya untuk jangan menyia-nyiakan waktu.

“Perangkap barusan.”

“Kutebak hanya bisa dilakukan sekali. Jika bisa dilakukan semaunya, berarti akan dia aktifkan begitu Juggernaut masuk.”

… lantas kesimpulan Vika sama dengannya. Mirage Spire adalah posisi artileri railgun, dan bentuknya bagai menara tinggi. Berdiri di tengah jantung laut, terpapar badai dan angin kencang tanpa ada yang menghalangi tembakannya sejauh ratusan kilometer. Membuang balok-balok yang menopangnya secara horizontal artinya Mirage Spire akan jauh lebih lemah terhadap tiupan angin. Artinya railgun takkan bisa mempertahankan akurasinya. Kondisi negatif yang tidak bisa ditoleransi Mirage Spire juga Morpho. Mereka tak bisa begitu saja menjatuhkan seluruh lantai dengan mudah.

 “Lebih merepotkannya adalah serangan unit kedua yang tak diektahui …. Analisisnya akan kuurus. Vera, Yanina, lindungi Juggernaut jika menurut kalian diperlukan bila mana mereka tak bisa menghindar.”

Para Sirin bukanlah manusia, tetapi sanggup menjalankan perintah sederhana tanpa Handler. Memerintahkan gadis-gadis mungil biasa yang menjadi kapten peleton untuk bertindak mandiri, Vika menyalakan sistem Gadyuka untuk menganalisis.

“Lerche, mundur sebentar dan kerahkan Cicada-mu …. Amati semuanya.”

Terkena ledakan hebat, sayap kupu-kupu keperakan Eintagsfliege melambai-lambai bak rumput kala mereka terbang ke langit, melepaskan selubung tipis yang mereka ciptakan dan sementara mengekspos keseluruhan Morpho ke Reginleif.

Pada dasarnya, penampakannya persis sama seperti yang Shin lawan setahun lalu. Dua sayap yang nampak dijalin dari benang perak, memanjang ke langit. Sensor optik biru mirip kunang-kunang terang yang kontras dengan garis hitam langit badai. Modul lapis baja hitam, bagaikan sisik naga. Sosok sebelas meter raksasa. Dan yang paling mencolok, sebuah laras berbentuk dua tombak—walaupun salah satunya sudah patah sekarang.

Layaknya seekor naga yang muncul dari laut, hujan dan guntur menandakan kedatangannya.

Hal tunggal yang membedakannya dari Morpho yang Shin kenal adalah empat pasang kaki logam memanjang dari tengah sayapnya. Kaki panjang nan menonjol seperti kaki laba-laba yang sedang duduk di tengah-tengah jaring perang. Di ujung kakinya terdapat meriam otomatis putar 40 mm, mirip sayap usang seekor burung sakit.

Sepasang senjata, memantulkan cahaya.

Meriam otomatis mulai berputar, tiap-tiap bidikannya ditujukan ke Juggernaut berbeda-beda.

Tembakan.

Kali ini, Juggernaut menyebar, menghindari rentetan diagonal peluru tembus lapis baja. Balok-balok tempat mereka berada cukup lebar untuk mengakomodasi ukurannya, tetapi tetap saja berbentuk pola segitiga sama. Setelah naik dari Tingkat Agate ke Tingkat Dora, mereka terbiasa bertarung di lingkungan ini.

Undertaker menghindar dengan melompat kecil berulang-ulang, mengerem begitu tembakannya berhenti. Mengarahkan bidikannya ke Morpho, berharap menyerang balik. Tetapi, bagian dasar dari lantai tertinggi, tempat yang harusnya tidak ada apa-apa—tidak, tempat mestinya dirinya tak mendengar apa-apa—sesuatu menembakinya.

“…?!”

Membatalkan tembakan, Undertaker pindah ke balok berdekatan, mengelak tombak mematikan yang meluncur ke arahnya. Tatkala Undertaker melompat ke balok lain, balok yang tadi ditapakinya telah diterbangkan, dihujani deretan peluru senapan mesin 40 mm.

Mengikutinya, sejumlah target turun dari tempat yang tidak dapat Shin lihat, sembari mengerang dan terisak-isak. Mengepung Undertaker, bergerak horizontal di sepanjang kisi-kisi seraya menembakkan sinar panas berkilauan. Unit ekstensi Weisel sekaligus para pelindung—tipe Ekstensi Tembakan, Biene.

“Cih …!”

Meluncurkan jangkar kawat ke bawah, ayunan Shin ke Carla Tiga rasanya seperti jatuh bebas, menghindari serangan mereka. Mengklik lidahnya sekali, dia melihat ke atas. Dia tak bisa melihat kedatangan Biene, ataupun meriam otomatis bersiap-siap untuk serangan berikutnya.

Artinya ….

“Kamuflase optik …!” dia mendengar desis Theo di dekatnya.

Dilingkupi Eintagsfliege yang bisa membelokkan seluruh gelombang, entah itu elektronik maupun cahaya, Phönix bisa sepenuhnya menjadi tipe Legion yang tak terlihat mata telanjang juga radar. Tampaknya Legion mulai menerapkan teknologi tersebut ke tipe lain sekarang.

Terbakar suhu intens meriam otomatis dan sinar panas Biene, sayap-sayap kupu-kupu terkelupas dari Eintagsfliege dan berubah jadi abu. Beberapa Eintagsfliege yang bertengger di balok lantai atas telah terbang ke bawah, menetap di titik terbakar kemudian menghilang …. Mereka bergabung dengan kawanan kamuflase lain, menggantikan yang telah terbakar.

Raiden mengalihkan senapan mesinnya ke musuh, harapannya bisa menyerang balik …. Namun sebelum sempat, dia mesti melompat dan menghindari tembakan meriam otomatis.

“Gawat,” semburnya pahit. “Hama sialan ini terus bersembunyi di sarang mereka.”

Tepat di bawah tempat bertengger Morpho di lantai teratas, di Tingkat Dora, Biene mundur ke bagian dalam lantai teratas setelah menembak. Tempat itu sendiri punya sejumlah balok yang disatukan hingga membentuk sebuah kisi besi tebal. Peluru meriam dan tembakan senapan mesin yang bergerak secara linear tak bisa mudah menembusnya.

“… Biene-nya hanya akan keluar kalau mau menembak saja,” keluh Anju. “Ini menjengkelkan.”

Karena Shin bisa mendengar suara mereka, dia bisa melacaknya sekalipun berkamuflase. Bisa dia lacak … tetapi ada terlalu banyak. Memperingatkan semua orang setiap kali menembak rasanya terlalu berlebihan. Dan buruknya, bukan berarti setiap meriam otomatis Morpho punya prosesor sentralnya sendiri, jadi tidak bisa Shin prediksi pergerakan persisnya …. Yang paling bisa dia lakukan adalah memperingatkan sewaktu hendak menembak.

Selagi memusatkan pandangannya ke beberapa meriam otomatis yang tidak dikamuflase, memastikan tidak mulai berputar, Shin memeriksa layar status jangkar kawatnya. Jangkar kawatnya, selain maksud dan tujuannya benar-benar merupakan garis hidupnya, lantas dia berhati-hati memeriksa adakah kesalahan atau malfungsi.

Dia tak kuasa melacak semua Biene, dan sama sekali tidak bisa melihat pergerakan meriam otomatis. Namun selama mereka masih bisa menghindar … selama dapat mengulur waktu sambil mempertahankan pasukan, mereka bisa mengumpulkan informasi dan menggunakan waktu tersebut.

“Lena.”

“… iya. Serahkan kamuflase optiknya kepadaku.”

Lena mengangguk selagi di balik seragam Federasi yang dia kenakan, Cicada-nya memancarkan cahaya ungu-perak samar. Karena inilah mereka bersikeras membawa unit yang mampu mendukung artileri ke pasukan penyerang, biarpun sanksinya total unit yang dikerahkan akan lebih sedikit.

Akan tetapi, panel eksternal benteng terbukti lebih tahan lama dari yang diekspektasikan, apalagi tembakan tabung 88 mm artileri Juggernaut tidak bisa menghancurkannya dengan baik. Beberapa pelurunya boleh jadi menyelinap melalui kanopi besar yang menutupi lantai atas, tetapi daya tembaknya belum cukup ….

Dia bisa dengar Ishmael dan Esther saling berbisik di sebelahnya. Mereka pastinya frustasi tidak bisa membantu perjuangan pasukan penyerang. Seketika layar holo menampilkan rekaman Divisi Penyerang dari benteng, mereka berbisik-bisik cepat satu sama lain.

“—tembakan perlindungan. Tidak bisakah turet utama Stella Maris membantu di sini?”

“Mungkin takkan tembus. Dan lihatlah betapa dekatnya mereka; kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan tak sengaja mengenai unit kawan.”

 “Kita lagi membicarakan selongsong 40 cm di sini. Kendatipun bukan serangan langsung, lapis baja tipis Juggernaut takkan bertahan ….”

“Terus kita gunakan senjata anti-leviathan? Dari jarak segini, dengan angin sekuat ini?”

“… tidak. Itu akan lebih buruk.”

Angin …. Anginnya!

Lena langsung menoleh. Dari luar barangkali susah, tapi ….

“Kapten, aku butuh kerja samamu …. Pinjamkan aku senjata utama Stella Maris!”

Mendengar ide Lena lewat Para-RAID, Vika angkat bicara. Sensor optik Chaika menganalisis pola serangan Biene, kini ditampilkan di jendela holo Gadyuka.

“Analisisku membutuhkan lebih banyak informasi. Nouzen, Crow, maaf, tapi aku ingin kalian bertahan sedikit lebih lama lagi.”

Dalam momen ini, 86 takkan menggerutu di hadapan permintaan tak masuk akal semacam itu. Bahkan tidak ada yang menanggapi, seakan-akan Shin sudah mengiranya, lalu Lena melanjutkan.

“Begitu analisisnya selesai, kita akan beralih ke serangan balik. Laporan masuk, Shin, Yuuto.”

Sebelum dia sempat menyelesaikan perintah tersebut, para Penyandang Nama berpengalaman dari Sektor 86 menjawab tanpa ragu-ragu.

“… kita incar meriam otomatis putar dan Biene.”

“Aku akan menyuruh semua orang menargetkannya sambil mengutamakan menghindar.”

Mereka sedang dalam tekanan konstan sebab harus menghindari rentetan tembakan tak terlihat dan deretan serangan, seraya mesti berhati-hati pada pijakan. Diharuskan naik menara di bawah kondisi-kondisi tersebut telah menekan dan melelahkan saraf mereka. Beberapanya salah belok, akibatnya kena tembak, atau lupa unit pendamping mereka ada di dekatnya dan menabrak Juggernaut lain. Lainnya berhenti di tempat yang salah, jatuh ke lantai lebih bawah. Jumlah korban dan luka-luka terus bertambah.

Melihatnya, Kurena menggertakkan gigi dalam Gunslinger. Pekerjaannya adalah mengeliminasi semua musuh yang mengancam Shin atau rekan-rekannya. Peran yang harapannya akan ditampilkan konfigurasi penembak runduk Gunslinger adalah merayap di sepanjang bangunan-bangunan yang saling berhubungan ini kemudian menembak target prioritas tinggi seperti Morpho. Inilah keterampilan yang diasahnya demi mengukir tempat untuk dirinya sendiri di sisi Shin.

Namun sekarang ini, tidak mampu mengarahkan bidikannya ke Morpho.

Kurena jadi tidak sabar. Menembak buta adalah aksi yang sulit dilakukan. Total 24 meriam otomatis putar yang menembaki mereka bersamaan. Di sisi lain, Biene mempola mereka dari lingkar luar pangkalan dengan sinar panasnya; Biene bisa menyerang dari segala arah dan menembak dari arah acak dengan sudut vertikal.

Tembakannya terlalu banyak, dan dikarenakan Shin terlambat memperingatkan, 86 dipaksa stagnan bertahan sebab tembakan Biene yang berjangkauan luas. Lantas sebab Kurena dan targetnya dihalangi jaring balok, tembakan lemah hanya sedikit pengaruhnya. Dia tidak dapat balas menyerang.

Rasa kesal berkumpul di dadanya.

“Aku … rekannya. Seorang 86, sama seperti Shin. Dan kami akan selalu sama. Kamilah orang-orang yang berjuang sampai akhir. Itu takkan pernah berubah.”

Kurena menyingkirkan paksa ingatan seseorang yang akan kehilangan harga dirinya hari ini setelah mengatakan itu.

Bidikan meriam otomatis yang ditujukan ke Cyclops-nya Shiden tiba-tiba berhenti … dan malah fokus kepada Gunslinger. Dipelototi moncong hitam, Kurena tersadar.

“Tipuan …?!” Kurena menelan ludah gugup.

Dia takkan sempat menghindar. Waktu terhenti selagi memperkirakan kedatangan dampaknya, instingnya menariknya mundur bersandar.

Tetapi saat berikutnya ….

… raungan selongsong tank 88 mm menggelegar di area ketika menghantam sisi samping meriam otomatis. Meriam otomatis tersebut terbakar, mengalami malfungsi. Usainya, Morpho melepaskan meriam, menyerupai serangga yang memotong kakinya sendiri. Meriam otomatis itu menyisakan jejak asap hitam seiring jatuhnya hingga menabrak tanah dengan keras.

Yang menembaknya adalah …. Undertaker. Shin.

“Kau tidak apa-apa, Kurena?” datang suara familier.

Kurena mendesau.

Apa-apaan …?

Air mata lega mengumpul. Iya, dia tidak apa-apa. Apa pun yang terjadi, semuanya akan berakhir dengan baik, seperti kali ini. Pencabut Nyawanya takkan … takkan mengabaikannya.

Jadi dia akan baik-baik saja.

“Iya!”

Shin menghembus napas lega selagi memastikan berhasil atau tidak melindungi Gunslinger yang termakan tipuan jelas Morpho. Ratapan yang kemampuannya rasakan bukanlah suara fisik. Tak seperti deteksi radar, tidak dapat dibagikan lewat tautan data ke yang lain. Kalau begini, batasan ini malah menjengkelkannya.

Biarpun dia bisa mendeteksi posisi Legion dan waktu serangan mereka, itu belum cukup untuk menyelamatkan semua orang. Itu amat membuatnya frustasi.

Sama sebagaimana Frederica. Dia tidak ingin mengandalkan keajaiban, dia tidak pula ingin mengorbankannya. Tetapi di saat yang sama, dia tak ingin pilihan apa pun yang dipilihnya menyebabkan kematian orang-orang yang disayanginya.

Dia tak ingin menerima begitu saja kematian para 86.

Shin tahu betapa absurdnya permintaan yang dia buat. Di satu sisi, dia mengharapkan keajaiban yang akan memperbaiki segalanya lebih dari siapa pun. Namun dirinya sendiri tidak mau menyerah dan pasrah. Misalkan ada kesempatan untuk menempuh jalan yang takkan mengorbankan seorang pun, dia mau memilihnya.

Karena, bagaimanapun … mereka telah meninggalkan Sektor 86.

Sesudah waktu yang kelewat lama, Vika akhirnya melaporkan telah menyelesaikan analisisnya. Posisi setiap Juggernaut dalam Mirage Spire telah ditransmisikan ke layar holo anjungan gabungan lewat tautan data. Setelah melirik sekilas laporan Vika, Lena mengangguk.

“Vika, sementara aku serahkan komando unit penekan area dan unit pencegah tembakan kepadamu.”

“Diterima. Kepada seluruh unit yang tadi disebutkan, sesuaikan bidikan kalian dengan instruksi yang baru kukirimkan.”

“Shin, Yuuto, pertahankan komando garda depan kalian. Aku serahkan waktu penyerangannya kepada kalian.”

“Diterima.”

“Skuadron artileri, isi ulang dan ganti amunisi ke selongsong sebar antipersonel.”

Selain bom pembakar2 mereka juga membawa selongsong sebar antipersonel, sebab ada kemungkinan Reginleif yang berlapis baja alumunium paduan, barangkali akan menghadapi pertempuran jarak dekat.

Akhirnya, Lena mengalihkan pandangannya ke komandan Armada Orphan, yang tidak di bawah yurisdiksinya.

“Kapten Ishmael.”

“Ya, kami siap.”

Shin dan Yuuto melaporkan posisi mereka sudah siap. Menatap gambar Mirage Spire di layar holo, Lena menarik napas dalam-dalam sekali dan mengirimkan dua kata kepada semua orang.

“Mulai operasi.”

Ψ

Meski boleh jadi bisa cukup cukup cepat mengganti laras yang aus, Morpho tak sempat mengganti yang rusak. Alhasil masih belum mampu melenyapkan unit musuh. Seluruh sensornya—terkecuali radar antiudaranya—sekaligus tiga set dari 24 meriam otomatis putar, sedang diarahkan ke bawah.

Diarahkan ke Biene dan Eintagsfliege yang dia komandoi sembari menembakkan rentetan tembakan terus-menerus ke musuh, tahu-tahu, sensornya menangkap sebuah suara yang menderu melalui raungan meriam otomatis berputar cepatnya. Suara lirih yang seharusnya tidak bisa didengar. Kecuali Ameise, sensor Legion relatif rendah. Morpho pun demikian. Berbanding terbalik dengan daya tembaknya yang luar biasa, sensornya cukup lemah. Suara pertempuran di bawahnya cukup membutakan sensor pendengarannya.

Tetapi masih bisa sedikit mendengar suara lolongan di kejauhan.

Ψ

Suara berwibawa Lena terdengar selagi dirinya menatap model Mirage Spire di layar holo.

“Semua unit Juggernaut, menyingkir!”

 “Tembak!” perintah Ishmael.

Atas perintahnya, turet utama Stella Maris, satu set berisi empat meriam 40 cm, menembak. Selongsong-selongsong yang ‘kan mengeluarkan isi perut apa pun yang menjadi tempat pendaratannya telah mengudara, mengguncang geladak. Raungannya mencapai artileri Juggernaut yang terletak di dekatnya.

Selongsong-selongsong tersebut terbang dari arah haluan Stella Maris, menuju atas Mirage Spire. Bergerak secepat delapan ratus meter per detik, melayang cepat ke atas menara, di sanalah sekring waktunya terpicu. Bagian luar selongsong meledak, ledakannya melepaskan peledak kedalaman kecil yang diperuntukkan memburu makhluk laut raksasa. Walaupun ukurannya bermacam-macam, masing-masingnya sepanjang dua belas meter. Peledak kedalaman masuk ke panel-panel luar Tingkat Dora kemudian meledak, memancarkan gelombang yang menyebar di suatu area luas lalu dengan mudahnya menghancurkan semua penghadang.

“—mereka bisa saja memblok selongsong 88 mm, tetapi tidak bahan peledak 40 cm. Dan juga ….”

Tatkala panelnya hancur berkeping-keping, gelombang destruktif mengalir ke bagian dalam menara. Panel-panel yang menghalangi pangkalan bak sisik naga telah diterbangkan masuk bersama angin kencang yang menghancurkannya. Tanpa panel, angin badai ganas bertiup masuk. Sebab angin kuat di luar masuk semua, tekanan internal Mirage Spire mendadak menguat.

“Tekanan angin badai ini bisa menghembuskan segala hal dari dalam ke luar!”

Tekanan anginnya mencari jalan keluar, dan saat setelahnya, kekuatan intens menabrak panel luar yang masih utuh di Tingkat Dora dari dalam, menghempaskan kesemuanya sekuat sebuah ledakan!

Pecahan biru menghujani Spire, jatuh ke air. Angin kencangnya bertiup dari Tingkat Dora, yang kini terekspos kekuatan alam yang bertiup ke atas …. Sayap-sayap rapuh Eintagsfliege kurang kuat untuk menahan angin kencang ini. Eintagsfliege mempunyai cadangan energi tinggi, tetapi massanya kecil. Partikel-partikel sinar yang mereka lepaskan dimatikan angin yang merobek sayapnya.

Dan seakan-akan menunggu celah sepintas tersebut …!

“Skuadron artileri, tembak!”

Duduk di geladak Stella Maris, skuadron artileri Reginleif menembakkan banyak misil. Peluru tabung berisikan peluru sebar antipersonel melesat ke Tingkat Dora yang tanpa pertahanan atau melengkung naik ke puncak menara, mendekati Morpho dari atas-bawah. Meledak di tengah udara, peluru-peluru sebarnya berjatuhan layaknya hujan es dan menjatuhkan hujan logam kala sekawanan tombak membumbung ke langit, keduanya menyerang Tingkat Erze.

Kanopi di atas Morpho melindungi turet besarnya agar tak rusak, tetapi perancah tiap-tiap tingkat Spire dibangun identik, sehingga tidak menghalangi jalur tembakan meriam otomatis. Peluru 40 mm bisa menembus celah-celahnya, hasilnya peluru sebar antipersonel yang lebih kecil dapat menembusnya seperti air hujan.

Akan tetapi, selongsong-selongsong ini tak mampu menembus infanteri lapis baja yang dilengkapi eksoskeleton diperkuat ditambah lagi tak efektif untuk Reginleif berlapis baja Feldreß paling minimal.

Tetapi dapat melukai target tak bersenjata yang tanpa perlindungan agar beratnya tetap ringan. Contohnya Eintagsfliege rapuh. Selagi duduk terperangkap dalam sangkar balok-balok baja, angin kencang bertiup dari sayap dan kaki mereka, Eintagsfliege tak lagi sanggup bertahan pada unit Legion yang berdiri di atas mereka. Sesaat mereka bersama Eintagsfliege yang berkerumun di sepanjang bagian bawah lantai atas, diterbangkan angin dan dihujani peluru sebar, lebih banyak Eintagsfliege berjatuhan untuk melindungi unit pendamping mereka.

Biene tak terhitung jumlahnya beserta enam belas meriam otomatis putar yang disembunyikan kamuflase optik akhirnya terungkap.

“Unit pencegah tembakan dan penekan area, sesuaikan bidikan kalian!”

Selanjutnya, Vika memberikan perintah. Seusai pengeboman, mereka kudu melanjutkan operasi dari dalam dan luar Spire. Lena sendirian tak kuat mengkomandoi kedua pasukan, jadi dia berikan perintah kepada kelom-kelompok dalam benteng, sementara Vika mengurus yang di luar.

Reginleif memiliki meriam otomatis, senjata sebar, atau peluncur roket banyak yang tiap-tiap pelurunya tersebar ke jangkauan serangan masing-masing, pandangan mereka teruju ke sayap perak yang berkibaran di angin badai. Di ujung garis tembakan mereka, beberapa Biene menampakkan diri.

Untuk menghasilkan sinar panas yang mampu menembus Juggernaut, mereka membutuhkan cadangan energi besar. Tetapi sebab persenjataan mereka salah satu yang paling kecil di antara persenjataan Legion, Biene punya cadangan energi rendah. Mereka tak sanggup menembak lama tanpa mengisi ulang daya.

Tak ada tanda-tanda menggunakan paket energi sekali pakai. Kalau begini, energi mereka dari sumber eksternal—pangkalannya seendiri. Para Juggernaut tidak bisa melihatnya saja, tetapi barangkali punya semacam koneksi kabel, atau mungkin mereka hanya menghubungkannya di saat menembak.

Pokoknya, biarpun posisi menembak mereka tampak acak, sebenarnya terbatas.

Inilah kesimpulan mereka lewat analisis Chaika. Posisi menembak Biene jauh lebih besar ketimbang jumlah mereka, artinya walaupun tidak harus berada di satu tempat untuk menembak, mereka senantiasa harus menempati paling tidak satu titik tembak untuk menembakkan sinar panas.

Jadi setiap posisi menembak mereka telah diinformasikan ke seluruh Juggernaut. Titik-titik di sepanjang titik tumpu balok logam yang tidak lagi punya kamuflase optik atau elektronik, beserta laras senjata yang dipasang di pilar, tempat Biene berdiri, kini telah dilucuti kamuflasenya.

Sebagaimana etimologi nama mereka, seperti halnya lebah tanpa sayap. Mesin berkaki enam berwarna metalik tipikalnya Legion. Menggantikan penyengat, perut mereka berisi mekanisme untuk menembakkan sinar panas dan sensor optik berkilauan. Sepasang kaki dan sengat mereka yang mirip serangga dilekatkan pada tumpuan atau pilar, mereka memasukkan bagian tubuh tersebut ke dalam lubang-lubang di tumpuan atau pilar untuk mengisi ulang daya.

Peralatan titik tembak—dengan kata lain, soket listrik yang menyalurkan mereka energi dari pangkalan.

Kaki mereka menjadi terminal yang dimasukkan ke dalam peralatan tetap tersebut, artinya Biene tidak bisa langsung kabur jikalau diserang ketika menembak. Mereka itu kecil dan ringan, efeknya lebih rentan terhadap angin kencang. Fakta Biene-Biene ini dicolokkan ke peralatan tetap dan tak bergerak sewaktu angin bertiup sama saja menyelamatkan mereka.

“Tembak!”

Meriam otomatis 40 mm dan meriam sebar 88 mm menyerang bersama-sama, juga menembakkan senapan mesin berat yang dipasang di lengan penggenggam mereka. Semua senjata itu melolong dan meraung membentuk paduan suara yang menggoncang Mirage Spire.

Mengantisipasi momen tepat, Undertaker menyaksikan kamuflase optik Eintagsfliege terlepas. Sayap kupu-kupu keperakan dirobek dan dihempas, memperlihatkan lengan pemegang senjata yang memegang tiga set 24 meriam otomatis.

Melihat tidak ada Biene di bidikannya, Juggernaut di unit pencegah tembakan mengganti cepat target mereka. Selanjutnya, semua Juggernaut yang dilengkapi tembakan runduk jarak jauh, termasuk Gunslinger, meledakkan delapan Biene yang bersembunyi di kisi-kisi.

Proyektil ledak berdaya ledak tinggi, peluru sebar, dan peluru senapan mesin terbang di udara, menembak target mereka. Biene-nya naik lantai sebab ledakan paksa.

Seluruh Tingkat Dora berkedip api merah-hitam, menghalangi sensor Morpho. Undertaker berlari menembus api yang menjilat-jilat, menuju ke atas untuk melawannya. Dua dari total empat lantai sudah hilang, jadi Undertaker menendang dinding, menempelkan jangkarnya ke tumpuan balok lalu langsung menarik naik dirinya sendiri.

Sesampainya di bagian bawah lantai atas yang mirip kisi-kisi atau sangkar, ia menembus jalan menggunakan bilah frekuensi tinggi, akhirnya mencapai lantai teratas.

Ia mendengar dua lolongan menggelegar, raungan dua hantu. Dua-duanya dari Morpho. Salah satunya kemungkinan prosesor sentral Morpho, dan satunya mungkin prosesor sekunder, artinya untuk mengendalikan meriam otomatis putar. Prosesor sekunder ditambahkan setelah kekalahan tahun kemarin, karena keutamaan Morpho telah dinaikkan.

Memutar ulang detik-detik terakhir mereka seperti kotak musik rusak, mereka meneriakkan kebencian lagi dan lagi.

Heil dem Reich. Heil dem Reich. Heil dem Reich. Heil dem Reich .…

Tepat prediksi Ernst dan ucapan Zelene, mereka adalah sisa-sisa fraksi Kekaisaran lama.

Sewaktu Shin menembus jalannya dan melompat naik, dia mendekati posisi Mprho. Kendati tidak rusak pun laras tiga puluh meter Morpho tak bisa menembak dari jarak ini. Shin sungguh berada di titik buta meriam jarak jauh. Di belakang turetnya adalah dua sayap pendingin, menghadap ke langit seiring keruntuhannya. Melepaskan kabel konduksi yang digunakannya untuk pertarungan jarak dekat, Morpho mengayunkan ujung cakarnya ke Undertaker.

Morpho jauh kurang mahir dalam pertempuran jarak dekat, dan inilah usaha terakhirnya. Tetapi Shin pernah melihat ini tahun lalu. Sayap-sayapnya kehilangan bentuk, meski begitu, kawat konduksinya menyebar naik ke udara. Kawatnya masih agak jauh dari Undertaker. Tetapi sebelum sempat melindungi dirinya, bom pembakar artileri mendarat.

Api yang dimuntahkan bom itu membakar kabel, membuatnya tak berguna. Konduktivitasnya hilang, jatuh bebas kemudian ditebas bilah Undertaker. Lalu Undertaker melompat ke belakang turet Morpho, mendarat di lubang pemeliharaan di tengah sepasang sayap terdepan Morpho.

Setahun lalu, di sinilah prosesor sentral Morpho pertama—kesatria Frederica—disembunyikan. Sama dengan saat itu, Morpho meronta-ronta seperti kelabang yang dilumuri zat asam, mencoba mengenyahkan Undertaker.

Memanggil opsi persenjataan, Shin memilih pemancang tembus lapis baja 57 mm, memicu keempatnya sekaligus. Geetarannya membuat bidikan unitnya terpaku pada badan musuh. Menahan goncangan yang hampir membuatnya menggigit lidah sendiri, Shin sekali lagi ganti senjata, kali ini memilih turet tank 88 mm.

Shin menarik pelatuknya.

Morpho terhuyung mundur sejenak seakan berteriak, dan menegang sesaat. Ia memutar turet rusaknya ke belakang, seolah-olah mencoba memukul Undertaker.

“Cih ….”

  Shin menghindar, melepaskan pemancangnya. Sebab Juggernaut sejak awal ringan, pukulan telak dari turet berat bisa berakibat fatal. Shin melompat dari punggung Morpho, menghindari lantai yang seperti kisi-kisi dan menembakkan jangkarnya ke dinding Dora Tiga.

… aku meleset.

Rupanya, dia menghancurkan prosesor sekunder yang mengendalikan meriam otomatis di lengan pemegang senjata. Sepertinya mereka menukar posisi prosesor semenjak kejadian tahun kemarin. Mendongak, dia melihat Morpho memandang angkuh dirinya. Morpho itu kehilangan seluruh persenjataan dan unit pendamping yang menjaganya. Walau demikian, kekuatan dan kebesarannya masih tersisa sebab memiliki turet terbesar dari seluruh unit Legion.

Di belakangnya, Shin melihat langit biru. Badai telah berlalu. Angin berputar-putar dan tirai abu-abu yang melingkupi Mirage Spire sejauh ini belum sepenuhnya pudar, namun lolongan deru angin sudah lebih tenang. Awannya sudah cukup menipis sampai-sampai semua orang bisa melihat fajar telah sirna selagi mereka bertarung.

Morpho naik dilatari langit tersebut. Logam cair dimuntahkan bagian luar laras rusaknya, bagai uap dingin. Anginnya mereda. Nyatanya, angin di atas berhembus kuat. Sedikit demi sedikit awan hitam mulai berputar lebih lambat, berpencar karena kehabisan kekuatan yang menahannya. Tirai awan menghilang, memperlihatkan langit biru seolah dengan dramastisnya menandai pergantian pemandangan

Langit biru cerah bersinar dari balik awan-awan tersebut, menerangi laut kelam.

Namun setelah itu langit birunya menggelap.

“…?!”

Begitu Raiden melihat ke atas, kegelapan menyelimuti bidang penglihatannya, dirinya refleks memejamkan mata. Kegelapan itu faktanya adalah cahaya terang nan menyilaukan. Terang sekali sampai-sampai layar optiknya mati sepintas karena dampak berlebihan—radiasi cahaya yang besarnya bukan main, komputer pendukung tidak bisa terus menyaringnya.

Tatapan intens membara di langit, kecerahannya saja dapat mengaburkan penglihatan seseorang melebihi kegelapan manapun. Bergerak secepat cahaya dan tidak menghasilkan suara. Mengikuti kilat kegelapan putih dan heningnya yang serasa sangat lama namun sekejap, cahaya tersebut menghilang. Layar optiknya berkedip kembali dan menampilkan lingkungan tersaring, tetapi semuanya kelihatan sedikit lebih gelap dari beberapa saat lalu.

Langitnya nampak laksana matahari musim panas cerah sedang bersinar di atasnya, ibarat cahaya lamunan yang disaring. Namun seketika Raiden linglung melihat langit biru, dia merasa ada yang salah.

Beberapa saat lalu badai menutupi langit, namun kini sudah reda, cakrawala terpecah-pecah yang terlihat dari perencah Mirage Spire rasanya lebih gelap dari yang semestinya …. Iya, perancah. Jala berlapis-lapis yang merintangi penglihatannya.

Suatu khayalan telah menetap di puncak benteng baja ini. Keseluruhan Tingkat Erze … telah dibakar sampai garing.

“… apa—?”

Dan di jantung Tingkat Erze berdirilah massa hancur, tak ada aura agung dan mengancam yang beberapa detik lalu pancarkan.

“Morpho-nya ….” Seseorang tersentak.

Larasnya meleleh seperti permen hangus, lapis baja responsif balistiknya telah jatuh dan mencair seluruhnya sampai-sampai tidak bisa diaktifkan lagi, mengekspos pelat lapis baja di baliknya. Lapisan di atasnya menguap, kilau metaliknya yang dulu perak kini pucat-pasi.

Karena logam yang menyusun tubuhnya tebal, Morpho masih belum meleleh seratus persen meskipun kelewat panas. Tetapi yang tergeletak di antara balok-balok yang sekarang tampak menyerupai papan pohon mati cacat adalah Morpho. Cahaya di sensor optiknya berkedip-kedip, pijakannya kelihatan mau runtuh.

Mereka tak mendengar ratapannya lagi.

Sesudah hening sebentar, kata-kata akhirnya keluar dari bibir Raiden.

“Barusan … barusan apa …?”

Hanya beberapa saat saja …. Tak lebih dari sekejap ….

Dalam sekejap itu, Morpho dihancurkan, diremukkan seperti serangga. Penampakan itu membungkam Lena.

“Apa …?” Ishmael terkesiap.

Dia merinding, ibaratnya baru saja menyaksikan semacam makhluk mitos.

“Musukura …!”

Mata zamrudnya tertuju ke bagian atas layar, di laut jauh asal ledakan cahaya menyilaukan tersebut. Lena menatap serba pertanyaan, lalu Ishmael melanjutkan, biarpun Lena sendiri tidak tahu dia menjawab pertanyaannya atau semata-mata bergumam sendiri sebab syok.

“Spesies terbesar leviathan ada di sana … dia menggunakan laser untuk menembak jatuh pesawat tempur dan pengebom. Bahkan Legion tak kuat menghadapinya secara langsung. Itu monster, pasti monster.

“Leviathan … melakukan ini?”

Sang penguasa lautan yang memerintah kedalaman laut lepas, jauh di luar jangkauan umat manusia. Spesies yang melarang umat manusia meninggalkan benua selama ribuan tahun.

Mereka makhluk teritorial. Kemungkinan besar bahkan punya konsep wilayah, sebab mereka membenci siapa pun yang mengganggu wilayah kekuasaan mereka, yaitu laut lepas. Penyusup manapun disingkirkan dengan kekuatan mematikan, dan semua hal yang mendekat telah diancam pergi. Mau itu manusia ataupun Legion.

Benteng ini hampir di luat laus lepas biru tua yang adalah wilayah mereka. Tidak Mirage Spire maupun Armada Orphan melanggar batas wilayah, tetapi ada pertempuran sengit di dekat perbatasan. Makhluk-makhluk murah marah mungkin sangat gelisah.

Ishmael menggertakkan gigi selagi melihat dunia yang mereka kuasai. Angkatan laut pembunuh naga Negara-Negara Armada. Sesuai gelar pembunuh naga, tujuan mereka adalah menguasai lautan, tetapi akhirnya gagal. Klan Laut Lepas mengalami ribuan tahun kekalahan, amarah dan penyesalan, yang sekarang tercermin pada tatapannya.

“… sampai akhir, kami tidak bisa mengalahkan mereka.”

“….”

“Sonarnya … masih tidak ditemukan. Tetapi dekat. Dia datang karena mengira wilayahnya diganggu. Badainya berlalu …. Dan begitu kabutnya hilang ….”

Lena kembali memikirkan saat-saat pertengahan misi. Kabut tebal menyelimuti lautan. Kabutnya diyakini sebagai efek samping gunung berapi bawah laut yang menjadi sumber energi Mirage Spire telah membocorkan panasnya ke air.

Namun tidak demikian. Legion sengaja menggunakan gunung berapi untuk menghasilkan kabut itu, bersembunyi di baliknya seperti perisai. Air bisa saja membuyarkan lasernya, alhasil selama kabut tebal tersebut memeluk Mirage Spire, Musukura tak bisa menyerang mereka.

Tanpa itu, maka para leviathan bisa bebas menyerang Mirage Spire ini. Pangkalannya berada di jantung laut, bahkan kelihatan dari jarak teramat jauh, dari jarak yang dalam jangkauan laser linier. Tanpa kabut itu, Legion takkan bisa mempertahankan posisi artileri di tempat semacam ini.

Namun karena badainya mereda, bilah-bilah angin meniup kabutnya ….

“Mereka … mereka juga menunggu badainya berakhir juga.”

Selagi berdiri diam, syok oleh pemandangan tak terduga di depan mereka, saat-saat sejenak hening mencekam berlalu. Tapi Theo segera sadar diri, wajahnya pucat ketakutan.

“… Shin?!”

Undertaker … tengah terkunci pertarungan jarak dekat melawan Morpho dan berada di dekat Tingkat Erze waktu serangannya dilancarkan. Shin di mana? Theo melihat-lihat lantai teratas, tetapi tidak ada tanda-tanda sosok putih Reginleif.

Kepanikannya makin besar. Jikalau keselamatan seorang rekan tidaklah jelas, 86 selalu memeriksa Resonansi Sensorik mereka. Para-RAID membagikan indra perasa mereka, dan bila salah satunya tak sadarkan diri atau mati, Resonansi mereka akan dipotong. Mencari tahu orangnya masih terkoneksi atau tidak adalah cara untuk sekurang-kurangnya memastikan kesadaran mereka, namun Theo terlalu terpukul untuk memeriksanya.

Malahan, dia terguncang nian, rasanya hampir aneh.

“—kalau aku tidak turun dari sana, aku sudah kena serangannya. Nyaris.”

Karenanya, ketika Theo mendengar suara tenang itu—meski gemetar sedikit—lewat Resonansi, Theo mendesah lega. Nada suaranya kayak kurang ajar mempertimbangkan pikiran tegang Theo. Dengan langkah kaki berat, Undertaker mendarat di Dora Satu, lantai Raiden dan Theo berada.

Kala lasernya ditembakkan, dia refleks turun ke Dora Dua, dan Laughing Fox kebetulan melewatkannya.

“Ayolah, jangan beraksi kayak gitu … kukira darahku akan membeku ….”

Terlepas dari komplainnya. Theo merasa lega. Sekarang ini, rasa syukurnya seperti orang beragama. Tidak apa. Shin takkan mati karena itu. Dia takkan mati seperti kapten ….

Lena memberitahunya penyebab pancaran cahaya itu lewat Para-RAID: seekor leviathan. Serangan dari spesies leviathan terbesar, Musukura.

“Jadi itu leviathan ….”

“Benaran monster …. Dia betulan ada …?”

Ini pertama kalinya mereka melihat ancaman tersebut, dan telah melampaui seluruh ekspektasi mereka. Bahkan 86 dilanda ketakutan sekaligus kagum. Mereka semua memalingkan pandangan ke perairan asal pancaran cahaya itu.

Di balik ufuk, di kejauhan sensor optik Juggernaut—yang tak bisa melihat seluruh bintang langit—tidak bisa melihatnya dengan akurat. Di sana, sesuatu gaib entah berantah sedang menatap benci mereka. Sesuatu yang sanggup menembakkan sinar membakar melintasi langit.

Menghembuskan napas, Shin memandang sekilas reruntuhan Morpho di atasnya. Permukaan terbakarnya berubah warna, tetapi angin laut sudah mendinginkannya. Saat ini, Morpho tak lebih dari tumpukan sampah, kabut panas yang menggantung di atasnya telah hilang.

Tidak ada suara. Sesuatu yang cukup lama dialaminya sampai-sampai terbiasa sebab tujuh tahun bertarung di medan perang. Keheningan adalah ciri unik senjata mematikan.

Mengekstrak prosesor sentralnya … mungkin akan susah jika sudah seterbakar ini. Yasudah mau bagaimana lagi.

“Tipe railgun: Morpho, dikonfirmasi telah dimatikan dan dihancurkan. Dengan ini aku simpulkan tujuan utama kita telah selesai …. Ayo pergi dari sini.”

“Cepatlah,” bisik Yuuto, suaranya serba kebencian tak biasa. “Kita lagi melawan hewan di sini. Kita tidak tahu apa yang akan memancingnya untuk menyerang lagi.”

Shin mengangguk.

Tapi setelah itu ….

Ψ

<<Colare Dua, mati. Colare Satu, badan rusak berat.>>

<<Serangan Musukura dikonfirmasi. Tingkat ancaman: maksimal. Meriam cahaya sebelumnya tengah mendekat.>>

<<Pertanyanan Operasi Schwertwal dianggap mustahil. Rencana Schwertwal: inisiasi protokol preservasi diri disarankan.>>

Ψ

… partikel-partikel perak terkelupas ibarat salju, merembes dari tengah-tengah puncak Mirage Spire. Menetes ke permukaan air gelap. Bak cahaya bulan yang membaur dengan rintik-rintik hujan, bagaikan pasir yang menetes di jam pasir. Partikel-partikel itu adalah kupu-kupu perak. Sekawanan Mesin Mikro Cair yang membentuk prosesor sentral Legion, telah terpisah dari keseluruhan tubuhnya. Tepat layaknya prosesor Phönix berubah menjadi kupu-kupu tiap kali ingin hancur, sosok perak cair ini sekarang beterbangan di udara.

Berbondong-bondong, suara mereka sekali lagi mulai bergema. Heil dem Reich. Heil dem Reich. Persis sebelum laser mengenai mereka, terbang ke langit, bersembunyi di antara Eintagsfliege.

“Morpho-nya ….”

Atau lebih tepatnya, prosesor sentralnya.

Tatapan Shin mendongak begitu lolongan tetap berlanjut dan kupu-kupu melipat sayapnya sehingga daya angkat mereka bisa dinamis. Mereka berjatuhan dari jahitan-jahitan perancah baja Mirage Spire seperti komet mini. Lintasan jatuhnya menoreh garis spiral tipis karena dihambat udara, berkumpul di ujung spiral menurun, meleleh bersama-sama hingga merangkai tetes perak tunggal.

Sebagaimana setetes air yang mengenai permukaan danau, mendatangkan percikan air selagi tenggelam ke laut.

Kometnya jatuh kurang dari satu detik.

“Jatuh ke air. Hancurkah …? Tidak.”

Tepat di bawah mereka, di dasar lautan kometnya jatuh, lolongan gemuruh mulai terdengar. Para Prosesor lain yang terhubung dengan Shin lewat Para-RAID bisa mendengarnya melalui Resonansi.

Pikiran teriksa dari momen-momen terakhir hantu mekanis. Seseorang yang gugur di medan perang dan tak dikuburkan, namun direnggut. Salinan jaringan saraf mereka telah diasimilasi unit Legion yang sekarang meneriakkan penyesalan tersisa mereka tanpa henti.

Bayangan logam raksasa muncul dari kedalaman. Ujung tajam dua tombak membelah permukaan air. Sesuatu besar dan memanjang yang membentang sampai tiga puluh meter, mengarah ke puncak—langsung ke Dora Tiga, tempat para Juggernaut berada.

Kupu-kupu keperakan Mesin Mikro Cair. Prosesor sentral Morpho. Shin mendengarnya selagi laras bertombak ganda sepanjang tiga puluh meter naik ke tengah puncak Mirage Spire.

“Semua unit, evakuasi ke Tingkat Dora! Turun, dia akan menembak!”

Saat berikutnya, railgun melolong. Selongsongnya terbang menuju target dengan kelewat cepat sampai tak bisa diikuti mata telanjang. Pelepasan listrik melesat melalui air seolah menembus sebuah celah. Seperti halnya komet yang menjulang naik, dari laut sampai langit, tembakan diagonal menembus Tingkat Dora.

Selongsong kaliber 800 mm, massa besarnya bergerak dengan kecepatan awal delapan ribu meter per detik. Dan tak ada yang mengekang kecepatannya. Ditembakkan dari jarak dekat tanpa sama sekali mengonsumsi energi kinetik. Seluruh balok-balok baja di jalan tembakan telah dipatahkan seolah ranting, direduksi menjadi pecahan-pecahan seraya meninggalkan benteng bersama selongsongnya. Balok-balok penopang dinding yang kehilangan sebagian besar perancahnya, telah runtuh dan jatuh serta kehilangan tumpuannya … terjun bebas bagai longsoran salju ke para Juggernaut yang sempat menghindar di detik-detik terakhir lalu menyebar ke Tingkat Carla dan lebih jauh lagi ke Tingkat Bertha.

“…!”

Juggernaut-Juggernaut itu meringkuk, sembunyi di pilar apa pun yang masih utuh sembari menunggu longsoran mematikannya berakhir. Mereka mendengar perancah jatuh dengan siulan angin ganas lalu mencemplung keras ke laut.

Unit-unit yang punya kesempatan lebih baik telah turun ke Tingkat Bertha. Mereka berpencar tanpa memedulikan skuadron ataupun peleton, prioritasnya saling jaga jarak sejauh mungkin untuk mencari tempat perlindungan. Keputusan ini menyelamatkan semua orang.

Di medan perang yang dihujani selongsong berbahan peledak yang radius ledakannya luas, berkumpul sama saja dibantai. Dalam pertempuran yang keraguan sesaat saja menetapkan hidup-mati seseorang, mempertanyakan peringatan apa pun entah semembingungkan bagaimanapun bisa berakibat hilangnya waktu penting. Para Prosesor telah diajarkan baik-baik oleh pelajaran dari Sektor 86 ini.

Di waktu-waktu krisis, mereka tahu caranya berpencar, mematuhi peringatan terlebih dahulu, kemudian bertanya setelahnya.

Kebiasaan tak sadar ini menyelamatkan nyawa mereka.

Unit musuh terus naik dari air. Lolongan menggelegar memenuhi Resonansi Sensorik, menggetarkan tengkorak Shin.

Dan ….

Ψ

<<Colare One, pemulihan berhasil.>>

<<Kerusakan prosesor sentral—dua puluh delapan persen. Tidak ada pengaruh pada kinerja pertempuran.>>

<<Colare One, penghubungan dengan Colare Synthesis berhasil.>>

<<Rencana Schwertwal, sirkuit kontrol terpadu, dinyalakan dan siap siaga.>>

<<Rencana Schwertwal: Dimulai.>>

Ψ

… kapal perang yang berhaluan menyerupai pisau ke luar dari ombak. Kenaikannya cepat sekali sampai-sampai meledak ke luar air secara diagonal, massa raksasanya menjulang di atas Juggernaut yang berdiri beberapa puluh meter di atas permukaan tanah. Bagian bawah lambungnya telah terekspos udara, menampakkan kaki terlipat yang jumlahnya tidak terhitung. Di kedua sisi dekat lambung terdapat empat sensor optik, berkilau biru selagi mengamati musuh.

Sebuah kapal besar yang beratnya mungkin melebihi seribu ton jatuh menjebur permukaan air dengan bunyi menggelegar, mengangkat pilar air besar di belakangnya. Ukurannya dua kali lipat Stella Maris. Lapis baja di geladak dan sisi sampingnya mengkilaukan metalik kusam. Laras meriam otomatis putar antipesawat 40 mm bersinar mengancam, terletak di tengah geladak dan sisi sampingnya, dan beberapanya di buritan kapal.

Di kedua sisi kapal ada railgun tembak cepat3 155 mm. Senjata antipesawat dan meriam saling bertumpul membuat pola tangga, untuk mengamankan jalur tembakan satu sama lain.

Dan di jantung benteng yang dibangun dari senjata dan meriam tak terhitung jumlahnya adalah sepasang turet yang mendominasi segalanya bak penjaga kastel. Laras mirip tombak sepanjang tiga puluh meter memanjang dari masing-masing turet tersebut. Sebuah massa besar bukan kepalang yang meski melihatnya dari atas pun akan membingungkan pandangan seseorang.

Railgun kaliber 800 mm.

Ada dua.

Mungkin untuk mengamankan jalur tembakan masing-masing, turet sisi buritan dipasang lebih tinggi daripada di haluan, melimpahkan senjata unit ini dengan ketinggian hampir lima belas meter melebihi Morpho. Ketinggian dari permukaan laut ke geladaknya lebih pendek ketimbang Stella Maris, tapi tinggi total hingga puncak anjungannya jauh melebihi Stella Maris.

Seseorang terkesiap. Bercampur ngeri. Bercampur syok.

“Itu … apa …?!”

“Tidak mungkin …. Keseluruhan kapal itu adalah Legion …?!”

Kala semburan air laut tumpah dari geladak, benang perak memanjang dari turet railgun. Dalam hitungan detik, kapalnya membentuk urat sayap, menyerupai bentuk sayap kupu-kupu. Kapal itu mulai menyinarkan aura berpendar samar seiring kepakannya, ibarat hendak naik ke langit.

Kabel radiasi dikerahkan. Railgun sudah beroperasi dan siap tempur.

Seusai memamerkan keagungan penuhnya, roh mati yang memiliki prosesor sentral Mesin Mikro Cair kapal perang besar, melepaskan teriakan perang. Jeritan bayi baru lahir. Penderitaan akan kematian.

AKU MASIH BELUM INGIN M***, TOLONG, AKU **SAKIT**, BANTU *** IBU ** DI MANA ******, SELAMATKAN *** TEMBAK ****** A ****** K ****** KAU HENTIKANLAH **LONG, MATILAH ****** RASA SAKIT *******, JANGAN **** JANGAN, PANAS *********, IBU ******** AKU, RASANYA ***** BANTU *** DI MANA *** TOLONG ***

“A-aduh …!”

Lena bisa mendengar erangan sakit ditahan-tahan dari Resonansi Sensorik ataupun radio yang berderak-derak dengan suara statis. Dia tak yakin ini sungguhan suara manusia atau bukan, ataukah jeritan menggelengarnya cukup keras sampai-sampai didengar jelas semua orang yang terhubung Resonansi.

Kalau yang lain saja seterpengaruh itu, maka semengerikan apa bagi Shin karena kemampuannya? Lena menutup telinga, rasa sakit bersemayam berat di hatinya, seolah-olah suara itu tekanan fisik.

Dia tidak mengerti yang dikatakan teriakan itu. Dia tahu teriakannya punya kata-kata, tetapi dia tak memahaminya. Rasanya seperti banyak suara dari beberapa orang berbeda berteriak sekaligus, dari pita suara dan mulut yang sama. Serasa seperti beberapa otak dipotong kemudian dijahit kembali secara asal, membentuk gabungan mengerikan lalu dijejalkan secara paksa ke tempurung kepala.

Ibaratnya paduan suara campuran yang diwujudkan dari kesadaran, kepribadian, dan ego beberapa orang mati yang disatukan.

“Apa ini …?!”

Teknologi Para-RAID sudah cukup asing bagi Ishmael. Sekarang dia dihantam kegilaan mengerikan yang bahkan membuat para 86 yang sudah terbiasa dengan hal ini, merasa kesakitan. Dia refleks melepas Perangkat RAID-nya dan melihat layar optik jembatan gabungan selagi tekanan darahnya naik kembali dan vertigo berlalu.

“Sebuah kapal perang …! Tidak ….”

Tidak. Ini bukan kapal perang biasa. Dua railgun 800 mm berdiri gagah di tengah geladaknya, membidik diagonal ke langit. Selain itu 24 railgun tembak cepat 155 mm dan lima puluhan meriam otomatis elektromagnetik antiudara.

Setiap meriam dan persenjataannya dilengkapi rel berbentuk tombak. Baik daya tembak dan jangkauannya lebih besar daripada artileri biasa.

Bahkan satu railgun saja sudah mampu membuat satu negara bertekuk lutut. Sebagaimana railgun yang menundukkan Negara-Negara Armada.

Dan yang terburuknya, mereka melihat bagian bawah lambung kapal raksasanya di saat muncul ke permukaan. Legion ini punya kaki. Jadi tidak hanya berenang. Ia bisa berjalan di sepanjang dasar laut atau darat. Dengan kata lain, mungkin saja amfibi.

Mungkin sulit beroperasi dengan baik di daratan, tetapi jika setidaknya bisa merambah sampai pantai …. Itu sudah cukup membahayakan.

“Stella Maris kepada semua unit. Dengan ini aku tetapkan ancaman baru ini sebagai tipe Kapal Perang Elektromagnetik: Noctiluca.”

Lautan ini adalah wilayahnya klan Laut Lepas. Meskipun operasi ini akan mengambil harga diri Armada Orphan dan klan-klannya, perairan ini masihlah milik mereka. Bongkahan-bongkahan besi tua tidak berguna ini tak berhak mengarunginya seolah-olah pemilik tempat ini.

“Anggap kapalnya makhluk hidup. Akan kita tenggelamkan di sini sekarang juga!”

Mendadak, satu target ditambahkan ke Resonansinya.

“—Paduka!”

Salah satu mata Vika berkedut. Zashya. Letnannya, yang dia tinggalkan untuk menangani pertempuran darat. Tak seperti sikap kikuk biasanya, ketika berada di medan perang, dia terbukti amat berbakat ….. dan dia putuskan menghubunginya di waktu-waktu sekararang.

Sudah keluar, ya?”

“Ya. Unit darat Legion mulai menyerang, dan kami memastikan musuh telah mendapatkan bala bantuan.”

Selanjutnya dia berhenti sejenak, suaranya terdengar ngeri.

“Phönix …. Mereka memproduksi Phönix secara masal ….”

Ψ

Hujan api melanda medan perang Negara-Negara Armada. Juggernaut-Juggernaut artileri yang tinggal di belakang untuk memperkuat lini pertahanan dengan pertahanan bergerak melempari medan perang dengan bom pembakar 88 mm.

Amunisi ini tidak biasa, baik untuk turet tank ataupun senjata. Api napalm dianggap sangat tidak efektif melawan senjata lapis baja. Termasuk drone-drone seperti Legion juga. Walau begitu, bom-bom api terus berjatuhan bagaikan hujan, menyebarkan api ke medan perang.

Sayap-sayap rapuh Eintagsfliege lemah terhadap api. Sayapnya mudah terbakar, akibatnya mengungkap unit-unit yang mereka sembunyikan sebab kehilangan kemampuan untuk membelokkan sinar cahaya.

Jadi tampillah mereka, mengibas serpihan-serpihan perak menyerupai salju. Anggota badan gesit yang mengingatkan seseorang akan kucing. Lapis baja perak menyilang laksana sayap burung. Sepasang bilah frekuensi tinggi memanjang dari punggung, mirip duri kadal.

Mereka menampakkan diri, satu per satu, tiap-tiapnya memanifestasikan wujud menjijikkan itu.

“Benar kata Lena,” Michihi mengakui.

“Iya. Mereka barangkali memperkenalkan tipe Mobilitas Tinggi …. Tidak kusangka akan jadi sungguhan,” jawab Rito.

Mereka berdua berada di lini pertahanan yang sama, tetapi masing-masingnya berlindung di benteng pengintai berbeda dan berkomunikasi lewat Para-RAID.

Badan model yang diproduksi besar-besaran itu sedikit lebih besar dari yang mereka lihat sebelumnya. Masih memiliki lapis baja cair sama seperti model di Kerajaan Bersatu tapi masih belum punya senjata api. Satu-satunya persenjataan tetap adalah lengan sangat fleksibel yang bersendi banyak serta bila frekuensi tinggi di ujungnya. Rupanya, bilah rantainya telah dihilangkan, sebab mengendalikannya terlihat terlalu rumit ….

Nampaknya Legion memutuskan bahwa fitur keterlaluan rumit apa pun tidaklah dibutuhkan untuk model yang diproduksi secara massal. Atau boleh jadi ada alasan lain. Bilah rantai tujuannya agar cepat menghancurkan lawan selama serangan mendadak. Tetapi sebagaimana senjata api, dianggap tak kompatibel dengan tujuan model produksi massal.

“Dan Lena juga benar soal hal lain. Tujuannya benar-benar perburuan kepala, dari tampangnya …. Sekalipun entahlah dia tahu dari mana tanpa melihatnya.”

Rito mengerang semata. Perburuan kepala. Dengan mengambil struktur otak para korban perang, Legion memutus rantai rentang hidup terprogram mereka dan meningkatkan fitur-fiturnya. Perburuan kepala adalah tatkala Legion memburu manusia untuk mendapatkan prosesor sentral lebih efisien. Itu kejadian umum di Federasi, Kerajaan bersatu, dan paling mencoloknya adalah di Sektor 86. Tindakan brutal hantu-hantu mekanik.

Di belakang barisan Phönix berdirilah barisan Tausendfüßler—tipe Transporasi Pemulihan. Tipe Legion ini jarang-jarang muncul di lini depan. Namun dikarenakan Phönix tidak punya manipulator4, Tausendfüßler kemungkinan besarnya hadir untuk mengambil kepala yang tertinggal atau menyeret siapa pun yang tertangkap hidup-hidup.

Jaringan otak terlampau mudah rusak, dan tergantung suhunya, bisa saja membusuk hingga tak bisa digunakan lagi dalam waktu setengah hari. Makanya, Legion perlu memulihkan mayat-mayat dengan cepat.

Rito mengerutkan alis tak senang.

“… kurasa kita belum cukup menghargainya.”

Bom api adalah senjata tidak konvensional, baik untuk howitzer dan Feldreß. Api-apinya cepat merobek kamuflase optik Phönix. Fakta mereka dapat menghujani senjata tidak biasa tersebut kepada Legion adalah karena sudah menyiapkannya. Ratu mereka telah menduga kemungkinan kemunculan Phönix yang diproduksi secara massal dan mempersiapkan solusinya untuk medan perang ini. Rito tak pernah membayangkan akan mampu semudah ini membakar kupu-kupu yang menyembunyikan mereka.

 “… baiklah.”

“Mereka datang.”

Phönix menekuk tubuh, seperti sekawanan hewan aneh, setelah itu dia menerjang. Seakan-akan memenuhi tantangan mereka, para Reginleif yang mereka berdua pimpin telah turun ke medan perang membara.

Ψ

Di kejauhan, pemandangan familier terungkap. Selagi pancaran sensor optik menerangi laras senjata besar kapal induk, beberapa unit menyerbu benteng terapung.

Ψ

Shin langsung tahu. Legionnya tidak tampil di radar dan bahkan tak terdeteksi sensor optik. Namun kemampuannya yang selalu mendengar ratapan hantu tiada henti, memperingatkan kemunculan dan posisi mereka.

“Semua unit, waspada! Musuh mendekat dengan kamuflase optik! Mereka kemungkinan unit-unit Phönix!”

Kepakan lembut sayap kupu-kupu serta pembiasan cahaya, sesuatu memanjat dinding luar Mirage Spire. Seperti burung pemangsa yang menukik untuk mengejar sasaran, mereka berlari vertikal menaiki perancah. Panel-panel luarnya pecah dan berjatuhan, seolah-olah menandai lintasan mereka. Jumlahnya ada empat.

Para Juggernaut berbalik ke perkiraan lintasan mereka, melepaskan tembakan begitu lewat. Turet tank 88 mm mereka menghancurkan panel-panel, diikuti rentetan tembakan senapan mesin dan meriam sebar.

Theo tak membantu mencegat. Saat mendengar peringatannya, bayang-bayang mereka sudah sampai Tingkat Carla. Para Juggernaut tadinya menggunakan jangkar kawat untuk mengungsi ke Tingkat Bertha, sekarang keputusan itu jadi senjata makan tuan. Semengesankan apa pun mobilitas musuh, mereka masih berlari vertikal melawan gravitasi. Mencoba menghindar di waktu-waktu seperti ini akan sulit.

Berondong tembakan sukses menembak hancur tiga Phönix, tapi satu berhasil menembus. Yang lolos meninggalkan para Juggernaut, lari jauh ke atas. Incarannya adalah ….

“Shin lagi? Mereka benar-benar menyukaimu, bung!” komentar Raiden.

“Kayaknya aku takkan cocok sama orang senempel itu!” Shin balas menyindir.

Biarpun bercanda, Undertaker dan Wehrwolf tetap was-was. Mereka berada di Carla Tiga yang saat ini adalah lantai tertingginya Mirage Spire, bersiap membombardir musuh begitu lewat.

Musuh masih belum kelihatan, tetapi ratapan memberi tahu Shin posisinya. Dia melompat menghindar. Bahkan Reginleif tidak bisa langsung melompat lagi, dan sesaat Undertaker mencoba menarik dirinya lebih jauh ke langit-langit, Legion itu menghampirinya ….

Akan tetapi.

“… kau kira kami tidak menduganya?”

 Sejumlah selongsong tabung 88 mm melayang di atasnya, meledak dan melepaskan peluru sebar yang menghujani benteng. Sewaktu Lena mendengar Shin mengumumkan kedatangan Phönix dan menerima perintah Vika, Lena memerintahkan unit artileri memberondong penuh.

Iya, dari awal, Lena telah memasukkan unit artileri sebagai penanggulangan khusus untuk Phönix. Pengeboman leviathan dan Morpho telah meledakkan sebagian besar atap di atas mereka, memperkenankan hujan logam menghujani ruangan tanpa penghalang dan merobek kamuflase Eintagsfliege.

Pecahan peraknya hancur, mengungkapkan lapis baja perak bergerak-gerak di baliknya. Ketika dirinya terlihat, Wehrwolf membombardirnya dari samping, merobeknya dan Eintagsfliege dengan selongsong meriam otomatis 40 mm.

Bayangan keperakan itu terlepas, menampakkan bentuk hewan gesit. Lapis baja cair bagaikan bulu burung, juga sepasang bilah ferkuensi tinggi menyerupai duri kadal atau sayap kelelawar. Saat ini tanpa daya dihancurkan tembakan meriam otomatis, namun ….

… itu Phönix sungguhan.

Akan tetapi, hewan perak lain berjongkok di belakangnya, melepaskan lolongan buatan yang belum pernah Shin dengar. Dia bangkit berdiri, sensor optiknya bersinar layaknya nyala api biru.

“Apa …?!”

Lolongan mekanis tak bisa dipahami telah keluar, unit lainnya muncul di belakang. Shin tidak mampu mendeteksi Legion statis sampai mereka diaktifkan kembali.

Bilah-bilah Phönix yang dipasang di punggung bak sayapnya berbunyi mendesing dan memunculkan panas pijar begitu diayunkan di udara. Menggunakan unit pertama untuk melindungi diri dari peluru meriam otomatis, unit kedua menerjang maju, memanfaatkan unit pendamping hancurnya sebagai pijakan.

Mengharapkan tembakan perlindungan Raiden, Undertaker begerak mengejar target, tetapi tidak bisa menghindari tabrakan. Gading bak tulang dan aliran cairan perak saling berbenturan. Dua senjata lapis baja bertabrakan secara langsung. Selagi silang-menyilang mematikan ini terjadi, Theo mendongak dari Tingkat Bertha. Begitu mereka bertempur, Shin memutar tubuh Undertaker, melindungi kokpitnya dari bilah Phönix sembari mengarahkan bilah frekuensi tingginya ke Legion itu.

Namun tak mengurangi inersianya. Kekuatan tabrakan ini menghempaskan Undertaker. Phönix bergulat dengan Undertaker yang bilahnya masih menusuknya. Sebelum Undertaker sempat mencopot bilahnya, lapis baja cair meledakkan diri dari jarak dekat, mendorong jatuh Undertaker dari benteng.

Seakan-akan balas dendam—pembalikan kejam atas Undertaker yang membunuh Phönix asli dengan menjatuhkannya ke kolam lava di pangkalan Gunung Dragon Fang.

Bilah frekuensi tinggi patah Undertaker mengeluarkan dengungan melengking selagi terbang di udara.

“…!”

Meski sudah begitu, Undertaker nyaris tidak berhasil menendang jauh Phönix—lebih tepatnya sisa-sisanya—lalu menembakkan kedua jangkarnya ke kanan-kiri, dililitkan ke panel luar dan perancah.

Tetapi, tepat di bawah mereka, railgun di bagian haluannya menembak. Satu selongsong 88 mm baru saja mengikis salah satu pilar Tingkat Carla hingga terbang ke kejauhan. Tetapi satu sentuhan selongsong tersebut mengguncang perancah seperti suatu getaran. Lantas tembakan jangkar kawatnya meleset, dan Undertaker jatuh tanpa daya, seolah-olah menggemakan kejadian Phönix jatuh ke lubang lava itu.

Getarannya menggagalkan tembakannya, hasilnya Undertaker jatuh dan disusul hujan balok baja beserta panel-panel hancur ….

“Shin ….”

Tanda Pribadi kerangka tanpa kepala membawa sekop terlalu cepat tenggelam ke kedalaman.

Para-RAID terputus. Selayaknya orang-orang yang terhubung ke Resonansi berakhir tak sadarkan diri … atau mati. Jeritan tiada henti Legion yang senantiasa tercampur ke Resonansi kapan pun Shin terhubung, juga berhenti—meninggalkan kesunyian bengis yang bergemuruh.

Catatan Kaki:

  1. Peledak kedalaman (bahasa Inggris: depth charge) adalah salah satu senjata anti-kapal selam. Peledak kedalaman biasanya berbentuk silinder yang dilengkapi dengan peledak dan sebuah pemicu yang diset untuk meledak pada kedalaman tertentu. Peledak kedalaman dapat dilepaskan dari kapal atau pesawat bertujuan untuk menghancurkan kapal selam yang sedang menyelam.

https://id.wikipedia.org/wiki/Peledak_kedalaman

  1. Bom yang terdiri atas bensin yang dicampur dengan bahan pengental, digunakan untuk memicu timbulnya api.

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/bom%20pembakar

https://en.wikipedia.org/wiki/Incendiary_device#:~:text=Incendiary%20weapons%2C%20incendiary%20devices%2C%20incendiary,chlorine%20trifluoride%2C%20or%20white%20phosphorus.

  1. Meriam tembak cepat (bahasa Inggris: quick-firing gun; dalam istilah Amerika: rapid-firing gun ‘penembakan cepat’) adalah senjata artileri, biasanya meriam atau howitzer, yang memiliki beberapa karakteristik yang berarti senjata tersebut dapat menembak dengan kecepatan tinggi. Penembakan cepat diperkenalkan di seluruh dunia pada tahun 1880-an dan 1890-an dan memiliki dampak nyata pada perang baik di darat maupun di laut.

https://id.wikipedia.org/wiki/Meriam_tembak_cepat

  1. Manipulator di sini bukan ke orang, namun lebih ke kemampuan Legion untuk nyimpen kepalanya, atau semacam itulah, blom ada penjelasan lebih detail tentang fitur manipulator ini karena kepala-kepala manusia dipasang ke Legion tuh di markasnya ga di tengah medan pperang, maka dari itu Tausendfüßler yang gantiin fitur tersebut, khusus untuk Legion Phonix, ya.

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments