Share this post on:

Bab 3

Memasuki Badai

Penerjemah: Endwalker

Karena dia sudah terbiasa dengan kamar barak kecil serta tempat tidur sempit kapal induk besar, baginya ruangan ini luas. Bahkan berada di darat saja membuatnya gelisah, tak bisa tidur. Sebagai putra pemimpin klan Laut Lepas—anak komandan armada, Ishmael menghabiskan hidupnya di atas geladak kapal sejak masa muda. Berdiri di tanah kokoh tak goyah di bawah kakinya serasa amat aneh baginya.

Lantas kala alarm terminal komunikasinya sudah berdering padahal belum pagi, dia tanggapi dengan terhuyung-huyung setengah terjaga.

“… ya,” jawabnya dengan suara serak.

“Kakak. Maaf memanggilmu pagi-pagi sekali.”

“Esther.”

Di Armada Orphan, sang komandan armada dipandang ibu atau ayah bagi armada lain. Para kapten kapal saling menganggap satu sama lain bersaudara, dan beberapa ribu anggota kru memperlakukan sesamanya sebagai adik.

Di klan Laut Lepas, semua orang mengibaratkan senior keluarga sebagai orang tua atau semacamnya, anak-anak bayi dianggap sebagai anak bersama klan. Setiap keluarga, setiap kota punya kapalnya sendiri, mewujudkan satu klan di armada Laut Lepas. Adat itu telah turun-temurun diwariskan ke Armada Orphan, hasilnya para perwira dipanggil dengan cara aneh dan khas.

Ishmael berasal dari klan Laut Lepas yang berbeda dari Esther, jadi sebetulnya mereka bukan kakak-beradik. Tapi dikarenakan masing-masingnya kehilangan klan asal mereka dan memilih mengatur persatuan Armada Orphan, dia masih bisa memanggilnya kakak.

  Seorang kaptan yang kehilangan seluruh klannya kecuali kapal induk besar, dan seorang letnan yang kehilangan kapalnya dan sebagian besar klannya.

Banyak adik-adik yang mengabdi kepada mereka dalam keadaan sama. Armada Orphan berisikan penyintas terakhir kesebelas klan-klan Laut Lepas, terdiri dari campuran tempat kelahiran, klan, bahkan kapal. Tiap-tiapnya memanggul rasa kehilangan dan kesedihan, jadi mereka saling mendekap dan berpegangan satu sama lain.

Sebuah jahitan, armada yatim piatu.

Sang komandan armada berbagi nasib dengan seluruh anggota kru. Dan barangkali, sebagai seorang ayah, dia korbankan hidupnya supaya para bawahannya dapat melarikan diri. Oleh karena itu Armada Orphan tak punya komandan armada. Kapten kapal laksamana dan kapal induk besar dilihat sebagai kakak tertua sekaligus pewaris terakhir komandan armada yang tersisa. Memang haknyalah untuk menerima warisan peran komandan armada.

Tapi entah kenapa Ishmael tak menyukainya.

“Badai mendekat. Akhirnya.”

“Ya.”

Memang, akhirnya.

Ψ

Tengah malam, kapal induk besar Stella Maris meninggalkan pelabuhannya.

Beruntungnya, hari sedang bulan baru, tanpa penerangan malam apa pun terkecuali cahaya bintang, kegelapan meliputi segalanya. Maka berlayarlah ia, tersembunyi dalam badai. Keberangkatan rahasia. Radio dimatikan, dan lampu kapal dipadamkan.

Kendatipun gelap, sejumlah 86 masih naik ke geladak untuk melihat-lihat. Semua kru Stella Maris sedang sibuk, memenuhi peran yang ditetapkan mereka sebab kapal kini telah meninggalkan pelabuhan. Makanya, para Prosesor—yang bisa dianggap barang bawaan misalkan seseorang terlalu berlogika—sekarang menganggur.

Mereka tidak diperkenankan membawa lampu apa-apa, dan mereka diperingatkan oleh kru untuk menjauh dari pinggiran kapal, karena bisa jatuh ke laut. Beberapa 86 menjaga jarak dari geladak, kembali menatap pantai yang kian menjauh.

Keberangkatan laut malam, di waktu orang-orang biasanya tidur. Namun sesaat garis pantai berbatu memudar, orang-orang dari kota pelabuhan berkumpul di sana. Mereka tak membawa lampu apa-apa agar tak terdeteksi. Bukan cuma orang dewasa; anak-anak ada di sana, tangan mereka digenggam atau digendong orang tua. Mereka tak bilang apa-apa, semata-mata melambai.

Keberangkatan rahasia. Terompet Stella Maris tidak berbunyi. Namun demikian, orang-orang berkumpul, melambaikan tangan sambil menonton.

Pemandangan itu menyisakan kesan aneh tapi jelas.

Karena malam berlangsung singkat saat musim panas di daerah lintang tinggi, kapal-kapal Armada Orphan mesti berangkat dari pelabuhan masing-masing malam kemarin jika mereka ingin mendekati target dinaungi kegelapan.

Mereka tak menuju barat laut, menuju Mirage Spire, melainkan ke tempat berkumpul di kepulauan Flightfeather yang berada persis di utara mereka. Sekumpulan pulai berbatu kecil yang hanya bisa ditinggali burung laut. Mereka bersembunyi di tengah-tengah bebatuan bergerigi yang telah digerogoti air laut, selama satu hari seraya menunggu operasi dimulai.

Berdiri di lantai atas anjungan Stella Maris yang disebut anjungan sinyal, Lena melihat sekeliling penasaran. Mereka hendak memulai hari-hari menunggu. Mereka mesti tetap sesenyap mungkin biar tidak terdeteksi, namun dia sudah terbiasa, jadi tak masalah.

Kapal induk besar dibangun untuk perjalanan yang panjangnya enam bulan, jadi punya kapel dan perpustakaan. Ishmael bilang gratis memanfaatkannya sambil menunggu, sembari melihat-lihat anjungan sinyal.

Mendengar sepasang kaki dengan gesit naik tangga, Lena berbalik, mendapati Esther mengintip dirinya.

“Kolonel Milizé, berkenan turun ke geladak? Anda bisa melihat sesuatu yang cukup menarik di sana.”

“Geladak? Tidak, saya ….”

Dia merasa tak nyaman menolak tawaran Esther dan kru lainnya, tapi dia putuskan tidak melihat laut hingga perang berakhir. Namun ketika melihat ke bawah, dia mendadak tersadar sewaktu mendapati cahaya biru gelap. Ujung-ujungnya dia mau melihat laut. Rasa penasarannya menggelitik hati.

Memalingkan pandangan paksa, dia mengangkat kepala. Bagaimanapun, mereka telah berjanji untuk melihatnya bersama-sama tatkala perang berakhir.

Didorong isyarat kru, Anju dan Dustin naik ke geladak, tapi sesudah melihatnya, mereka tersentak tak percaya. Laut gelap bersinar bagaikan cahaya bintang, ibaratnya memantulkan langit hitam di atas.

“Waw ….”

“Ombaknya … berkilauan ….”

Perairan gelap beludru mengeluarkan bintik-bintik biru bercahaya ilusi samar, laksana debu bintang atau sekawanan kunang-kunang menyebar di atas laut. Terutama ombak menabrak-nabrak yang pasang-surut tanpa suara. Tiap kali ombaknya menghantam bebatuan atau sisi kapal, hasilnya bekas pendar cahaya yang biru dan samar.

Anggota kru yang mengantar mereka ke sini bilang kalau itu perbuatannya noctiluca1—makhluk berpendar2. Keduanya tanpa kata menonton sinar cahaya tanpa panas berwarna briu. Ada sosok-sosok lain yang berjalan di geladak penerbangan. Rupanya kru kapal telah memanggil beberapa Prosesor lain.

“Cantik …. Cantik banget, rasanya hampir tidak enak karena tak boleh berteriak buat memujinya.”

“Lagian kita lagi di medan perang … aku mau datang melihatnya lagi setelah perang berakhir.”

Mendengar ucapannya, Anju menegang. Dustin tak tahu informasi yang Zelene berikan kepada mereka. Dia mengatakan ini semata-mata atas keinginan tanpa dasar dan tidak jelasnya. Keinginan berakhirnya perang, sehingga mereka bisa hidup damai.

“Dustin, serius …?”

Dia masih belum mampu membayangkan apa jadinya. Tapi Dustin bagaimana? Dipenuhi amarah atas tindakan Republik, dia tinggalkan negaranya untuk menebus dosa-dosanya. Apa jadinya misal medan perang itu menghilang?

“Akankah kau kembali ke Republik saat perang berakhir?”

“… mungkin saja. Mereka butuh orang untuk membantu rekonstruksi. Kecuali ….”

Anju memerhatikan wajah berkonfliknya. Kalau kau melarangku, aku takkan kembali. Dustin tidak yakin harus menyelesaikan kalimatnya atau tidak. Anju tidak yakin mau menjawab bagaimana jika Dustin menanyakan itu, tapi bisakah dia manfaatkan ini untuk mengusiknya …?

Dia berdiri di sebelah Dustin. Tak sedekat ketika dirinya berdiri bersama Daiya, tapi … tentunya lebih dekat dibanding berdiri di sebelah Dustin pertama kali. Jadi Anju diliputi perasaan jarak yang aneh—perasaan canggung, namun entah bagaimana bisa menghiburnya.

Geladak penerbangan, berfungsi sebagai lepas landas dan tempat mendaratnya pesawat kapal, tidak dipasangkan susur tangga atau pagar. Duduk di sektor kapal yang tak menghalangi pandangannya, adalah Theo. Di sampingnya ada Kurena yang mencondongkan tubuhnya bak anak kucing bertanya-tanya.

“… yah, kurasa itu sejenis laut biru.”

“Iya …!”

Laut selatan. Ayo ke sana setelah perang berakhir.

Satu tahun lalu, pertama kali mereka menyerbu lini musuh ketika mengejar Morpho, Kurena mengatakannya. Kini matanya berkilauan waktu melihat cahaya biru di atas air.

Bagai debu bintang di atas mereka, cahayanya menyilaukan tapi tidak sungguh-sungguh menembus kegelapan. Hanya ilusi sinar biru. Seperti gelembung cahaya samar, nyaris di bawah ombak bergelombang. Kegelapan malam tak mengaburkannya, malah makin menonjolkan.

Melihat air membuat Theo ketakutan, seolah sesuatu mungkin bangkit dari kedalaman yang gelap, dan kata-kata itu keluar dari bibirnya sebelum bisa menghentikan dirinya sendiri.

“Kita akhirnya betul-betul berhasil … sampai laut.”

“Akhirnya berhasil?” tutur Kurena sambil tersenyum. “Kedengaran seakan tak ingin datang.”

“Mm … rasanya … kecepetan.”

Theo tak ingin memberi tahu Shin, Raiden, atau Lena. Dia bisa mengatakannya hanya karena sedang bersama Kurena.

“Kupikir kita akan melihatnya sehabis semuanya tuntas,” lanjut Theo. “Sewaktu aku tahu mau jadi apa … mau pergi ke mana ….”

“Jangan terburu-buru memikirkannya. Jangan paksakan dirimu,” kata Kurena.

Bertentangan kata-katanya, Kurena duduk meringkuk seperti anak kecil kesepian.

“Kita berteman. Kita rekanan. Dan itu takkan terjadi …. Letnan Esther memberitahuku itu. Jadi kita akan baik-baik saja.”

Apa pun yang terjadi, ikatan jalan hidup bersama 86 takkan pernah putus.

“Pikirmu begitu?”

Esther, Ishmael … keturunan klan Laut Lepas yang mereka temui di daratan ini. Mereka mirip dengan 86. Kehilangan tanah air dan keluarga mereka karena dibinasakan peperangan namun masih memilih menjalani hidup dengan bangga.

“… iya. Mungkin itu benar.”

Theo senang sempat menemui mereka. Lega datang ke negara ini. Dia bisa bertemu orang-orang yang memilih menghadapi hari-hari baru dengan senyuman meski telah kehilangan segalanya serta tersisa harga diri belaka. Selama mereka punya solidaritas, mereka akan senantiasa menemukan alasan hidup.

Jika mereka bisa menemukannya, maka 86 pun bisa.

“Kayaknya aku merasa sedikit stres tentang semua hal, tapi …. Ya, kau benar. Kita akan baik-baik saja.”

Di atasnya adalah langit malam, berjejer debu bintang di sana. Seperti Sektor 86, langit malam tanpa cahaya buatan. Dan di bawahnya adalah laut, dipenuhi kunang-kunang biru tak kekal.

Di Sektor 86 dulu, dia memandang bintang-bintang tersebut tanpa emosi apa pun. Namun kini, dua tahun kemudian, bintang-bintang itu membuatnya merasa sedikit sedih. Baik Sektor 86 dan lautan luas ini, terpisah dari daratan, bukanlah dunia manusia. Dan anehnya, suatu perasaan kesepian saat ini membebani hatinya.

Ψ

Tak sekilas pun Shin melihat rambut keperakan panjang Lena di geladak penerbangan seluas tiga ratus meter ini. Dia tadinya berpikir ingin mengajaknya kemari, tapi Vika bilang dia menjauhkan pandangannya dari laut hingga perang berakhir.

Shin tidak senang mendengarnya …. Tapi Shin penasaran setengah mati dengan jawaban satunya.

Barusan, dia sekejap melihat punggung Ishmael dekat haluan kapal. Dia tengah berlutut di geladak, rupanya tidak menyadari Shin. Dia nampaknya sedang … mencium geladak penerbangan, sehormat dan sesyukur ciuman kepada seorang ibu usia lanjut.

“…?”

Rasa ingin tahu mungil seolah keraguan menyapu diri Shin. Ishmael sedang apa?

Tetapi begitu mendengar Frederica memanggil namanya, Shin berbalik dan segera melupakannya.

 

Ψ

“Armada Mishia ke-9 kepada Armada Arche ke-8. Mengonfirmasi kedatangan di garis mulai operasi. Memulai serangan.”

Hari berikutnya. Dua armada pengalih meninggalkan armada asal mereka, berlayar langsung menuju pantai wilayah Legion sebelum mengubah arah. Masing-masing armada berbelok, menuju pangkalan Mirage Spire, dan kini berada dalam jangkauan pengeboman musuh.

“Diterima. Berkah Santo Elmo dilimpahkan kepadamu.”

Radio Armada Orphan hening. Esther diam-diam membalas doanya, tahu takkan mencapainya.

Di luar adalah malam kedua mereka di laut, hanya ditemani sejumlah bintik samar cahaya bintang yang berkilauan di balik tirai awan badai. Sang kapten, kakaknya, sekarang sedang bersiap memulai operasi dengan beristrirahat. Esther saat ini menggantikannya di anjungan gabungan.

“Perintah kepada semua kapal Armada Orphan. Bersiap-siap maju. Begitu salah satu armada pengalih memasuki pertempuran, kita berlayar ke Mirage Spire.”

“Baik, Bu. Kakak bagaimana?”

“Dia masih bisa istrirahat. Dia harus dalam kondisi prima saat armada memasuki pertempuran agar dapat menyaksikan seluruhnya dari awal sampai akhir.”

 

Ψ

“Armada Arche ke-8 kepada Armada Mishia ke-9. Umpan Nomor 5 dikonfirmasi telah tenggelam—Memulai pertempuran.”

Ψ

Dua armada umpan memasuki pertempuran, selagi diselubungi pengalihan mereka, Armada Orphan berlayar ke gelapnya malam. Di blok kabinnya, Lena sudah berganti pakaian untuk persiapan kedatangan mereka di zona operasi dalam beberapa jam. Dia mengintip ke luar dari pintu masuk kamarnya, memastikan tidak ada siapa-siapa di koridor luar kabinnya ….

… karena dia mengganti pakaian normalnya ke Cicada.

Kali ketiga dia mengenakannya, tapi bukan berarti dia sudah terbiasa. Dan walaupun dia punya … seragam kurang pas yang sudah dia siapkan setelah kembali dari Kerajaan Bersatu, dia lupa membawanya.

Jadi dia tak mau berdiri di depan kru Stella Maris dengan pakaian yang mengukir setiap lekuk dan kontur tubuhnya. Dia punya jadwal pengarahan dengan kapten kapal, dan Shin juga akan hadir.

Mungkin dia bisa pinjam pakaian kerja Anju atau Shana …?

Berpikir demikian, Lena mengintip bolak-balik koridor kosong. Gadis-gadis itu lebih tinggi darinya, jadi mungkin bisa menutupi Cicada-nya dengan pakaian mereka. Shiden pun cocok dengan deskripsinya, tetapi ada yang menghentikan dirinya meminjam pakaian.

Entah mengapa, tapi rasanya meminta Shiden bukan pilihan terbaik.

Kepalanya mengintip ke luar pintu, dia mendapati Shin berdiri di sana. Lena langsung tegang. Shin berdiam diri di tempat dengan mata sedikit membelalak begitu melihat Lena tidak memakai apa-apa kecuali Cicada.

Serat-serat saraf kuasi perak keunguan membentuk otak semu yang melapisi tubuhnya. Sebab Cicada ketat, lekuk tubuhnya dipamerkan dengan cara yang membuat orang sedikit membayangkan sesuatu. Terlebih, tak ada yang menopang beberapa bagian tubuhnya yang bergoyang setiap dia bergerak.

Dan Shin tengah melihatnya.

Kalau dipikir-pikir … sewaktu Anju dan Dustin berada di momen agak intim dalam kabin itu, mereka tak sadar Shin sebenarnya sudah masuk. Langkah kakinya sangatlah sunyi.

Kelanjutannya adalah keheningan panjang nan lama yang canggung.

“Dengar-dengar Vika pernah memberikanmu sesuatu yang namanya Cicada di Kerajaan Bersatu,” kata Shin, memecah keheningannya.

Tatapan matanya terlihat dingin dan bengis. Seolah-olah menahan-nahan amarah yang menggelegak dan meluap-luap dalam dirinya.

“Kurasa aneh memang aku tak dapat info apa-apa soal itu … sekarang aku tahu alasan tidak ada yang menjawab waktu aku tanyakan, dan Lerche terus meminta maaf padaku pas kita masih di Pangkalan Revich.”

Iya, jadinya masuk akal. Lena tidak mau memakai pakaian ini dan tidak pula menjelaskannya.

“Waktu kutanya Marcel, dia kabur, katanya belum mau mati …. Kurasa mestinya kuurus sendiri dan langsung tanya dia di situ saat itu juga.”

“L-langsung …? B-bukannya kalian berdua satu angkatan di akademi perwira khusus? K-kau tidak boleh menyiksanya ….”

“Jangan ubah topik, Lena. Ini bukan tentang Marcel.”

Oh. Kayaknya Shin benar-benar marah.

Dia mendekatinya, dekat sekali sampai-sampai hidung mereka hampir bersentuhan, Lena sampai terkejut dan mendesaknya mundur. Terlintas suatu pikiran di benak Lena selagi dengan panik mencari perlindungan dari kenyataan. Ini pertama kalinya dia melihat suasana hati Shin seburuk ini. Hal baru, dan itu sedikit membuatnya senang.

“Tidak, anu, aku tidak lagi menyembunyikannya, tapi … C-Cicada ini membantuku. Tapi sedikit … sedikit saja kok … maluku.”

Lena menghembus napas sekali, seakan-akan mengeluarkan semacam tekanan internal. Shin diam-diam balik badan.

“Aku mengerti. Akan kubunuh Vika terus kulempar mayatnya ke laut.”

“Shin …?! K-kau bilang apa?!”

“Pistolku tertinggal di hanggar, tapi sekop yang diasah sudah cukup. Pendeta bilang beliau menggunakannya untuk membunuh prajurit musuh waktu masih muda.”

“Apa yang ada di kepala beliau sampai menceritakan itu ke anak-anak?! Tidak, maksudku, kok bisa ada sekop di kapal induk besar?!”

Mustahil manusia bisa mengalahkan ranjau swagerak dengan sekop (bahan peledak yang dimiliki ranjau swagerak adalah jenis sebar yang jangkauannya lima puluh meter), dan Shin tak pernah belajar menggunakan sekop dalam pertempuran karena dia spesialisnya adalah melawan Legion.

Jadi Lena menyindir, tapi Shin menganggap berbeda maksud kalimatnya.

“Yasudah, aku tendang saja dia ke laut. Harusnya sudah cukup. Kapten Ishmael bilang kebanyakan orang yang jatuh ke laut lepas nasibnya tenggelam, jadi sempurna buat menyembunyikan mayat—”

“Shin!” teriak Lena.

“Mm.” Vika merinding.

Dia sedang berada di geladak ruang kontrol, yang mana terletak di lantai pertama anjungan. Lokasinya dijadikan ruang konferensi sementara dalam persiapan pengarahan terakhir.

“Barusan aku merasa merinding aneh ….” Gumamnya sendiri.

“Mungkin Anda mabuk laut, Paduka?” tanya Lerche, memiringkan kepala bingung.

“Kalau diungkapkan ke kata-kata, rasanya seseorang lagi menggali kuburanku. Firasat yang agak gelap.”

“Bisa jadi rasa bersalah dari pakaian porno yang kau suruh aku, Anju, dan Lena kenakan di Kerajaan Bersatu, Kurena menimpali.

Vika merajut alis rapinya.

“Maksudmu Cicada.”

“Aku yakin mungkin candaan untukmu, Paduka, tapi untuk kami tidak, tambah Anju. “Bagi kami, itu sama saja pelecehan seksual.”

“… rasanya itu salah satu fitnah yang tidak bisa kuhindari. Baiklah, aku perkenankan. Lanjutkan.”

“Mengakuinya itu bagus, tapi bukan berarti semuanya jadi lebih baik,” ucap Shiden. “Setelan itu mendesain kesukaan pribadimu atau semacamnyakah? Eww.”

Mengabaikan kerutan wajah Vika dari serangan tanpa ampun, Kurena melanjutkan:

“Barangkali baru ketahuan Shin. Akhirnya.”

“Oh ….” Vika menggeleng kuat-kuat, tidak terlihat gelisah sedikit pun. “Iya, itu buruk. Siapa yang membocorkannya?”

Vika melirik Marcel yang melambaikan tangan menyangkal.

“Hei, aku bukan mulut ember, tahu?!” seru Marcel. “Kalau aku bilang sepatah kata pun, Nouzen akan membunuhku. Sesudahnya kau akan mengkambinghitamkan aku!”

“Bagus sekali, Marcel. Seandainya kau bocorkan, Nouzen tentunya akan membunuhmu. Biar begitu, nanti kau kubangkitkan dari kematian setelah itu kukuliti daging dari tulangmu dengan cara yang paling mengerikan.”

“…?!”

“Paduka …. Itu bukan candaan jika yang mengatakannya adalah perancang Sirin. Saya meminta Anda untuk menahannya …,” kata Lerche, melihat wajah ketakutan dan pucat-pasi Marcel dengan mata iba.

Menyaksikan pasangan tuan-pelayan ini melakukan rutinitas komedi biasa mereka—kali ini termasuk Marcel—Kurena bicara dengan tingkah kucing pemarah.

“Jadi kutebak antara Shin melemparmu ke laut atau mencari kapal untuk membelah tengkorakmu, Paduka. Tanggapanmu?”

“Oh, tidak ada yang perlu dicemaskan. Aku yakin Milizé bahkan akan membela seorang ular sepertiku. Nouzen akan berhenti semisal Milizé yang memintanya.”

“….”

Lena kemungkinan besar akan melakukannya, dan Shin pasti mendengarkan.

“Paduka, tak apa-apakah jika aku sengaja salah menembakmu selama operasi berikutnya?” tanya Kurena.

Mati sekali mungkin bagus untuknya, pikir Kurena. Sedikit saja.

Melihat Shin buru-buru pergi, Lena meraih salah satu lengannya dengan kedua tangan dan menguatkan diri, entah bagaimana berhasil menghentikannya. Hanya filamen tipis Cicada yang menutupi kaki telanjangnya, lantai logam kapal perang mengikis kuku kaki Lena. Shin dipaksa berhenti, sebab mengkhawatirkannya.

“… kalau begitu setidaknya pakai ini. Simpan saja sampai kau bisa melepas benda ini.”

Shin kasarnya—hampir dengan keras—mencopot atasan kerjanya lalu ditaruh ke atas kepalanya. Selagi Lena rapikan sampai atas bahunya, Lena menatap Shin, matanya bersilangan tatapan merah darahnya.

“….”

Selanjutnya adalah hening aneh. Tak terlalu canggung, tapi ada rasa-rasa ragunya. Shin-lah orang pertama yang memecah keheningan.

“… sayang sekali kali pertama kita melihat lautan harus di medan perang.”

Ucapan itu mengejutkan Lena.

Aku ingin menunjukkanmu laut …. Aku ingin melihat laut, bersamamu ….

Satu bulan lalu, di malam pesta, di bawah kembang api. Dia memercayakan Lena keinginannya, dan orang yang dipercayakan belum memberikan jawaban jelas.

“Eh …. Yah ….”

Dengan kata lain … sudah satu bulan, dan sudah ada operasi di depan mereka. Rasa canggungnya sudah menipis sampai mereka bisa saling bicara. Shin menyiratkan sudah waktunya dia memberikan jawaban. Menyadari ini, Lena sadar diri, membuat kata-katanya tersangkut di tenggorokan.

“T-tapi masih sangat indah! Pertama kalinya aku melihat sesuatu seperti ini.”

Dan balasannya sangat, amat, dan luar biasa tidak penting. Shin mendesah lirih. Seolah-olah bilang sudah menduganya. Lena jadi makin-makin bingung.

“Oh, anu …. Ngomong-ngomong, Shin, kudengar kau dapat tawaran dari Federasi untuk belajar mengendalikan kemampuanmu, terus kau terima. Mereka bilang keluarga ibumu bersedia membantu. Bagaimana akhirnya?”

“… saat ini cuma wawancara saja. Mereka bilang kami perlu membangun kepercayaan dahulu.”

“Begitu …. Tapi kuharap kau segera belajar mengendalikannya. Kuyakin hidupmu akan lebih mudah misal memelajarinya. Selama ini aku merisaukannya, tahu.”

“….”

“Er, ah …. Huh?!”

Namun selagi ucapan Lena tertatih-tatih, Shin tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan. Dan sementara matanya membelalak syok, bibi mereka terkunci. Tak seperti malam itu satu bulan lalu, kali ini, Shin yang berinisiatif. Jenis ciuman menggigit. Ciuman rindu, desakan hati, dan hasrat. Ciuman ganas yang asing bagi Lena.

Jantungnya berdegup kencang karena gembira, andaikata waktu berputar kembali, kembali menempatkannya ke malam itu. Darah mengalir ke kepalanya, membuat dirinya bingung dan pusing. Ganasnya maskulin, keganasan yang sepenuhnya tak familier. Lena jadi sedikit takut. Tapi yang melebihi ketakutannya adalah panas dan manisnya ciuman itu yang membuatnya mabuk tak berdaya.

Lena teramat-amat menginginkannya. Dia merasakan kehangatan satu aliran darah bersilkulasi di antara dua tubuh. Dia merasakannya meleleh bersatu.

Berapa lama waktu berlalu? Bibir mereka akhirnya berpisah, kemudian mereka otomatis menghembuskan napas yang saling bercampur. Lena menegang, merah merona sampai telinga. Dia tak menyangka akan ada ciuman kejutan, membuatnya kebingungan dan tak yakin mesti berbuat apa.

“Bulan kemarin kau tahu-tahu menyerangku, aku lengah. Jadi anggap ini balasannya.”

Dia menatap mata Shin yang menatap dirinya dengan ekspresi merajuk yang hampir mirip kekanakan.

“Kapan pun kau siap menjawabnya … beri tahu saja aku.”

Ψ

Disertai dua kapal pengintai memimpin serangan, formasi melingkar Stella Maris menembus ombak tinggi, akhirnya memasuki radius badai. Awan gelap pertanda buruk melayang di langit atas sementara hujan lebat membombardir kapal, mengaburkan bidang penglihatan mereka. Setiap kali awak kapal berkedip, angin berubah arah, menyapu tabir tetesan air hujan ke arah tak menentu ketika menghantam geladak penerbangan lapis baja kapal.

Ombak yang berputar-putar di sekitar kapal menabrak dengan sudut lancip. Lambung kapal berderit tatkala air laut menggetarkan kapal.

Jarak tersisa ke Mirage Spire: 140 kilometer.

Ψ

Anjungan gabungan kapal induk besar yang berfungsi ganda untuk mengemudikan kapalnya sendiri serta memimpin seluruh armada, terbagi menjadi dua lantai yang saling berhubungan. Satu lantai menampung personel pengemudi kapal sekaligus yang memegang komando dan memberikan bantuan ke kapal-kapal lain. Satunya menampung komandan Divisi Penyerang, Lena, dan personel pengendalinya.

Anjungan gabungan dipenuhi orang-orang yang sudah memimpin peperangan sejak pertempuran Negara Armada Cleo lima tahun lalu, dan yang berdiri di posisi terjauhnya adalah Ishmael. Untuk mengantisipasi pertempuran, jendela anjungan ditutup dengan pelat baja. Ada banyak layar holo dipasang menggantikannya, menampilkan cuplikan dunia luar.

Di balik anjungan, ada angin, hujan, dan ombak ganas mengamuk. Sedikit demi sedikit berubah dari angin ekstrem ke zona badai. Amukan anginnya secepat 33 meter per detik. Artinya badai. Kekuatan kecepatannya sudah jadi pusaran merusak.

Mendengar suara pintu udara bertekanan di belakangnya terbuka, Ishmael menoleh dan mendapati Lena masuk. Entah kenapa, dia memakai seragam pria Federasi berwarna biru-baja yang kebesaran untuknya. Dia berjalan tergesa-gesa. Mungkin saja dia bergerak cepat di luar anjungan, dihempas angin terkuat semasa hidupnya. Dia menahan napas. Tapi tak perlu waktu lama hingga tersadar, lalu mata keperakannya segera menegang.

   “Kapten, waktunya pengarahan terakhir,” tukasnya.

“Oh, diterima. Esther, aku serahkan komandonya kepada—”

“Kak.” Seorang perwira komunikasi bertato anggur memotong kata-katanya.

Dia memandang dengan tatapan tajam nan dingin, matanya berona emas Topaz.

“Dari Armada Mishia ke-9.”

“… sedini ini?” tanya Ishmael, nadanya lebih keras. “Lebih cepat dari perkiraanku.”

Lena manatap. Mata hijau dingin Ishmael tak membalas tatapannya.

“… hubungi.”

“Diterima,” perwira komunikasi mengoperasikan konsolnya.

Transmisi Armada Mishia bergema di seluruh anjungan gabungan. Federasi memberikan mereka Perangkat RAID, walau begitu, komunikasinya tetap lewat radio.

“—Armada Arche ke-8, kami tahu kalian sedikit lagi tenggelam! Jawab kami!”

Mata Lena membelalak kaget. Untuk mencegah kesalahpahaman tak penting, komunikasi nirkabel di militer menggunakan bahasa standar. Sekacau apa pun keadaan pertempuran, tidak ada orang yang mengirim transmisi menggunakan bahasa kasual. Dengan kata lain, ini bukan transmisi yang ditujukan ke Armada Arche ke-8. Transmisi ini ditujukan ke Armada Orphan.

Transmisi palsu, alhasil meskipun Legion memanfaatkan gelombang udara, tetap takkan mengungkap potensi keberadaan armada ketiga.

“Ini kapal penjelajah Armada Mishia ke-9, Astra, mengirimkan pesan menggantikan kapal pimpinan Europa! Europa telah tenggelam ditembak Morpho. Armadanya hanya tersisa tiga kapal penjelajah! Kalian hanya punya dua kapal fregat dan satu kapal penjelajah, benar?!”

Satu kapal pimpinan, tenggelam. Tak hanya itu; dua armada pengalih masing-masingnya mestinya terdiri dari tujuh dan delapan kapal, dan kini jumlah keduanya dipangkas setengah.

Lena hanya bisa menelan ludah gugup. Tetapi dia kaget kepada betapa tenang dan datarnya Ishmael serta anggota-anggota klan Laut Lepas di anjungan. Saat itulah dia menyadari.

“Dikarenakan pasukan tak mencukupi, pilihan satu-satunya adalah menggagalkan misi pengarungan unit pengintai garis depan kapal induk besar. Kita lanjutkan tujuan utama. Amunisi musuh yang tersisa diduga 65 … jadikan 64 tembakan. Kita coba kurangi amunisinya sebanyak mungkin!”

Tujuan utama mereka … yang artinya, mengulur waktu hingga Armada Orphan mencapai Mirage Spire. Sebanyak apa pun kapal yang tenggelam, sekalipun seluruh armada mereka harus dikorbankan, mereka akan mengalihkan tembakan Morpho.

“Semoga berkah Santo Elmo dilimpahkan kepadamu, Armada Arche ke-8! Semoga kita bertemu kembali di bawah bintang pelayaran!”

“—ini Armada Arche ke-8. Diterima. Kami pun sama. Semoga berkah Santo Elmo dilimpahkan kepadamu. Marilah kita bertemu kembali di bawah bintang pelayaran!”

Transmisi terputus. Lena menatap Ishmael, tercengang. Mereka memang bilang akan menjadi pengalih. Betul, tapi ….

“Kau berniat membuang armada pengalih dari awal?”

“… padahal aku tak ingin kau mendengarnya,” ucap Ishmael sambil mendesau, tato burung api membara di ujung mata kirinya. “Ini masalah kami …. Masalah angkatan laut Negara-Negara Armada. Tidak ada hubungannya sama Divisi Penyerang. Tapi ya, itu benar. Mereka unit-unit bunuh diri dari awal. Kami cuma memiliki kapal latihan serta kapal rusak yang berlayar, dan kru-krunya beranggotakan tentara tua yang hendak pensiun. Tingkat kelangsungan hidup operasi ini terlalu rendah. Armada kami tidak bisa menyisihkan apa pun atau siapa pun untuk ini.”

Dan itulah alasan walau angkatan laut telah dihibahkan Perangkat RAID, armada-armada tersebut tidak menggunakannya ….

“Jikalau Negara-Negara Armada punya harapan untuk bertahan hidup, kita harus menghancurkan Morpho. Stella Maris harus sampai di sana, apa pun yang terjadi. Dan bila mana kami mesti berkorban untuk memenuhinya, maka kami akan berkorban …. Begitu armada-armada pengalih tenggelam, kapal anti-leviathan Armada Orphan—adik-adik kami—akan menjadi umpan.”

Sementara Lena terperangah dan terdiam seribu bahasa, Ishmael bicara dengan tenang tanpa basa-basi, tato burung apinya menegaskan tekadnya. Tato yang melambangkan armada miliknya, kapal yang dia awaki, dan garis keturunan orang tuanya. Tato ini terukir di sekujur tubuhnya, layaknya anggota klan Laut Lepas.

Seketika seseorang mati di lautan, biota laut dan keganasan arus laut kadang-kadang membuat wajah mayat-mayatnya tak dikenal. Lantas sejak dahulu kala, orang-orang yang tinggal di laut menandai tubuh dan pakaian mereka dengan tato asli serta pola mencolok agar dapat diidentifikasi—tak hanya di satu bagian, tetapi sekujur tubuhnya.

Tetapi kegunaannya tak hanya untuk jaga-jaga ketika wajah mayatnya hancur. Melawan para leviathan berarti sering kali, sama sekali tak ada mayat yang tertinggal. Pertempurannya intens sekali sampai-sampai tidak ada mayat tak boleh dianggap remeh. Wajah Ishmael kesannya dia telah menerima nasib mengerikan tersebut.

“… ini perang. Mau bagaimanapun, pengorbanan pasti ada. Terutama sekarang sewaktu membiarkan monster-monster bongkahan itu menggunakan meriam jarak jauh yang bisa dengan mudahnya menghancurkan kita.”

Satu tahun lalu, selama serangan skala besar, Federasi membombardir sejumlah besar rudal jelajah dalam serangan campuran, mengakibatkan kerusakan serius pada Morpho. Selanjutnya mengerahkan kendaraan bersayap aerodinamika yang bergerak seratus kilometer per jamnya untuk mengirim satu skuadron langsung ke perut musuh.

Negara kecil yang tidak mempunyai misil jelajah mahal dan kecakapan teknologi untuk mengembangkan kendaraan bersayap aerodinamika sendiri sekarang ini diancaman pengeboman empat ratus kilometer serupa. Tidak punya pilihan selain meluncurkan serangan melalui jangkauan pengeboman musuh, mereka dipaksa menggantikan kekurangan itu dengan darah warga mereka.

Mudah saja mencelanya sebagai tindakan keji dan hina. Tetapi ….

“… maaf.” Lena menunduk.

“Minta maaf atas apa?” Ishmael tersenyum lalu menggeleng kepala.

Hujan deras yang terasa ibarat menuangkan setiap tetes air yang mereka punyai ke kapal, disertai layar-layar holo menunjukkan pemandangan luar kapal diwarnai putih tirai hujan. Badai hujan yang menimbulkan tekanan kuat. Hampir terasa bak tengah merancang rencana jahat untuk mencekik dan menghancurkan kapal.

“Yah, karena kau sudah mendengarnya …. Sebaiknya kau belajar hal lain.”

Sesuatu tentang kami.

Armada Orphan tentu membawa perangkat RAID yang telah diberikan. Menghidupkannya, dia mengambil mikrofon siaran kapal. Pengumuman apa pun yang disampaikan akan mencapai setiap sudut kapal sepanjang tiga ratus meter tersebut. Target Resonansi Sensoriknya diatur ke seluruh kapten, wakil kapten, dan para perwira komunikasi kapal-kapal Armada Oprhan.

“Semua unit. Ini kapten Stella Maris, Ishmael Ahab.”

Tidak ada respon masuk. Namun awak kapal yang menjadi sumber kehidupan seluruh kapal dari seluruh armada beralih tegang perhatian.

“Posisi armada kita sekarang ini 180 kilometer dari pangkalan musuh. Dua armada pengalih sekarang ini sedang berhadapan dengan meriam artileri musuh, tetapi sayangnya mereka sedang di ambang kehancuran. Diperhitungkan Armada Orphan perlu memulai kontak dengan musuh lebih cepat dari yang diperkirakan.”

Seraya memercayai mereka, Ishmael pertama kali memanggil 86 yang bukan bawahannya ataupun bagian klan Laut Lepas.

“Kepada sekutu kita, 86. Begitu mencapai Mirage Spire, waktunya menunjukkan kelayakan kalian. Takkan lama lagi pelayarannya mungkin akan lebih oleng, tapi janganlah takut. Sebaliknya, aku sarankan untuk menganggapnya sekadar sebuah atraksi dan nikmati pengalaman. Karena aku berjanji, kapal induk besar ini, Stella Maris, tak akan tenggelam.”

Dia ulangi kata-kata itu berkali-kali. Sebagai kapten kapal induk besar dan komandan resmi armada, misinya adalah mengantarkan mereka ke tujuan. Walaupun menjadi pembela negara, dia harus mengandalkan kekuatan negeri lain. Terlebih lagi tentara anak-anak. Tentu saja, Federasi tak mengerahkan mereka dengan niat tulus. Kendati begitu, anak-anak ini terjebak dalam kemunduran Negara-Negara Armada.

Lantas dia bersumpah akan memulangkan mereka dengan selamat, apa pun yang terjadi. ‘Kan mereka antarkan kembali ke daratan. Sekalipun artinya harus menempatkan dirinya dan Stella Maris ke rasa malu dan aib mengerikan ….

“Seluruh anggota kru. Orang-orang terakhir yang selamat dari sebelas klan Laut Lepas, adik-adik perempuan dan laki-lakiku. Perkenankan aku terlebih dahulu mengungkapkan rasa terima kasihku sebagai kakak kalian atas pengabdian setia kalian sejauh ini. Terima kasih. Dan izinkan aku mengungkapkan rasa hormat terdalamku atas pilihan kalian untuk mengorbankan diri demi tanah air kalian, untuk berlayar dalam perjalanan ini bersamaku.”

Agar Stella Maris sendiri sampai markas musuh, sebelas kapal angkatan laut Armada Orphan akan menjadi umpan. Ada perahu penyelamat yang mengekor, namun lautnya berbadai, dan mereka di depan meriam 300 mm yang sanggup menggulingkan seluruh benteng. Tiada jaminan mereka bisa menyelamatkan seorang pun. Dan di laut sejauh ini, jarang ada mayat yang dibawa arus sampai pelabuhan.

Tetapi bertarung sampai mati di hamparan laut tak terjelajah adalah harga diri klan Laut Lepas.

“Musuh terakhir kita bukanlah para leviathan, melainkan monster-monster logam terkutuk itu. Akan tetapi, kematian kita akan sama terhormatnya. Marilah kita buat pelayaran ini sehebat mungkin sampai-sampai komandan armada terdahulu menangis iri. Pelayaran yang akan dipuji generasi-generasi mendatang. Marilah kita menyongsong maut dengan kobaran kemuliaan dan tekad yang akan dikenang selama ribuan tahun …. Pelayaran ini akan menjadi ….”

Seribu tahun setelahnya, keturunan mereka akan menyanyikan cerita-cerita mereka. Tak lama setelah wajah dan keberanian Armada Orphan serta Stella Maris memudar, ingatan mereka tetap bertahan.

“… pelayaran laut lepas terakhir Armada Orphan yang Negara-Negara Armada kita pernah arungi.”

Lena tersentak kaget. Di depannya, Ishmael mengacungkan tinjunya ke atas, dan perwira angkatan laut Negara-Negara Armada di sekitarnya berbuat hal sama. Lena menyaksikan tak percaya. Pelayaran terakhir? Pernah arungi? Itu kedengarannya seolah … seolah-olah mengakui Armada Orphan, pasukan militer tersisa terakhir yang mereka miliki, akan hilang selamanya dalam operasi ini …!

Vika bicara dari sisi lain Resonansi. Dia sedang menunggu di ruang kendali geladak penerbangan dalam lantai pertama anjungan gabungan, yang telah diubah menjadi ruang pertemuan sementara sebab pesawat-pesawat kapal tak digunakan dalam operasi ini.

“Kapal induk pesawat ….”

Platform pesawat yang menjadi basis kapal induk ini ….

“… memiliki proyeksi daya tembak tertinggi dari seluruh kapal perang. Tapi kelemahannya, sebuah kapal induk pesawat sangat-sangat rapuh. Perlu konvoi agar bisa mewaspadai sekitarnya, lengkap sama kapal perusak dan penjelajah untuk menangani pertahanan udara. Barulah kapal induk pesawat mampu memfokuskan diri mempertahankan superioritas udara dalam pertempuran. Tanpa konvoi, maka bisa mudah tenggelam. Barangkali kapal induk besar juga sama.”

Walaupun kapal induk besar selamat dari ini, tanpa kapal pendamping, Armada Orphan tamat sudah riwayatnya. Peperangan telah mengurangi jumlah mereka. Dan dengan kecilnya kekuatan finansial serta nasional Negara-Negara Armada, mereka takkan lagi mampu membangun kapal-kapal anti-leviathan atau pelayaran jauh yang lebih mahal.

Tanpa Armada Orphan, Negara-Negara Armada Regicide akan kehilangan simbol dan kehormatan mereka—kemampuan berlayar ke laut lepas. Mereka sungguh-sungguh membuang segalanya, bahkan harga diri, asalkan negara mereka baik-baik saja. Kekejaman tanpa arti demi negara kecil.

Dan seakan-akan tak sedikit pun terpengaruh, Ishmael terus bicara. Sebagaimana seorang kakak mengajak adik-adiknya ke perjalanan mendaki yang mereka tunggu-tunggu.

Seperti yang pernah dilakukan skuadron Spearhead, sesaat mereka menghilang ke wilayah Legion di misi pengintaian terakhir.

“Akan kupastikan pertempuran dan kematian kalian dengan kedua mataku sendiri. Aku dan Stella Maris akan menjadi pendongengmu. Bahkan seratus tahun ke depan, ketika aku tua dan jompo, akan kuceritakan keberanian kalian dengan napas-napas terakhirku. Bahkan seribu tahun kemudian, Stella Maris akan bertahan menjadi monumen keberadaan armada kita, negara kita, juga klan-klan Laut Lepas. Maka dari itu, kruku, majulah dan tampilkan kematian paling membanggakan, mengesankan, dan menyilaukan … sebesar mungkin.”

“… jadi itu perpisahan.”

Di ruang pengarahan terdekat, dengan meja komando ditempatkan di tengah-tengahnya untuk mengamati pesawat kapal, Shin membisikkan kalimat itu dengan hati berat. Penduduk kota telah berdiri di pelabuhan meski armadanya berangkat tengah malam. Mereka melambai kepada kapalnya, mengucapkan salam perpisahan terakhir.

Mereka … dan bisa jadi semua warga Negara-Negara Armada tahu. Operasi ini adalah pelayaran terakhir armada tersisa. Harga diri pelayaran laut lepas adalah simbol nasional dan moto Negara-Negara Armada, dan hari ini, akan hilang selamanya.

Armada Orphan sekarang ini tengah mematikan radionya, tetapi sang kapten, wakil kapten, dan para perwira intel menggunakan Perangkat RAID yang disediakan Federasi untuk mengirimkan pesan secara instan lewat Resonansi Sensorik. Kata-kata Kapten Ishmael menggapai tiga kapal penjelajah jarak jauh di sekitar, enam kapal anti-leviathan lebih kecil, dan dua kapal pengintai.

Dari balik tirai malam gelap dan hujan badai, siluet-siluet anjungan di bagian depan kapal penjelajah jarak jauh Benetnasch terlihat begerak. Hanya dari pancaran samar alat pengukur sebagai sumber cahaya, Kurena bisa melihat kapten dan wakil kapten saling tos dari lantai lima anjungan Stella Maris—anjungan utama.

Sebagian pikirannya samar-samar bertanya alasannya. Mengapa? Mereka melepaskan harga diri mereka. Pecahan terakhir yang membentuk mereka. Para 86 yang mereka panggil serupa. Lantas kenapa mereka tertawa seperti ini? Mereka bilang ikatan dengan rekan-rekan mereka takkan pernah berubah.

Apakah Esther bilang karena maksudnya adalah meskipun segalanya sirna, masih akan tersisa satu orang?

“Itu sangat ….”

Semua kapal induk besar kelas navigator, termasuk Stella Maris, punya haluan kapal3 tertutup yang kedap udara. Baik hanggar maupun ruang siaga berdekatan telah aman dari hujan dan angin, tapi suara kedua ruangannya masih sama-sama bergema, walau sedikit teredam.

Kedengarannya lebih seperti kerikil yang dilempar ke geladak alih-alih tetesan air hujan. Deru angin bersuara jeritan tinggi-rendah, seperti halnya seribu seruling ditiup sekaligus, ataupun teriakan perang suku-suku biadab kuno. Udaranya hangat dan tertutup, tetapi mendadak terganggu kilatan petir menyilaukan dan gemuruh guntur keras.

Suara brutal-primitif yang telah terukir dalam jiwa manusia sebagai simbol ketakutan tanpa syarat. Amarah langit. Gema menggelegar yang beberapa generasi manusia yakini sebagai auman murka dewa dan monster.

Para Prosesor yang telah menyelesaikan persiapan mereka dan sedang menunggu di ruang siaga, melihat langit sambil menahan napas. Mereka pernah mengalami badai sebelumnya, tetapi sekarang ini mereka berada di jantung laut, tanpa ada yang menghalangi badai hujan mengamuk.

Antara itu dan yang mereka dengarkan di transmisi kapal, kecemasan serta keraguan yang biasanya mereka tekan dalam hati kini naik ke permukaan.

Harga diri untuk berjuang sampai akhir …. 86 adalah orang-orang yang turun ke medan perang tanpa mencari hal lain. Jadi di mata 86, Negara-Negara Armada yang masih tetap bertekad bertarung terlepas dari segala hal yang menimpa mereka, rasanya sulit dipercaya. Bisa-bisanya mereka terus bertarung padahal sudah melepas harga diri yang mendefinisikan mereka?

Kok bisa mereka … melanjutkan hidup?

Hal ini takkan pernah bisa mereka ikuti. Semua hal lainnya telah direnggut dari mereka, jadi bila harga diri merekalah berikutnya, maka takkan ada lagi yang membentuk mereka. Biarpun hanya hal itu yang tersisa … harga diri mereka takkan bisa dirampas semudah itu ….

Selagi mereka tak terbiasa dengan pelayaran laut, sensasi goyangan kapal goyah di bawah membuat mereka tetap waspada. Lautan badai. Kekuatan ombak mengangkat dan menjatuhkan kapalnya kembali, mengguncangnya tanpa henti. Mereka terbiasa akan mobilitas intens Juggernaut, jadi goyangannya tak membuat mereka mabuk laut. Tetapi menyadari hanya ada satu lapisan besi yang memisahkan mereka dari jurang luas dan tak terbatas sama-sama mengguncang mereka.

Kesadaran itu sangat mencemaskan mereka. Tidak ada pendukung abadi yang sebenar-benarnya untuk mereka. Pijakan mereka faktanya terlampau tak bisa diandalkan dan rapuh.

Mereka pikir sudah mengetahui hal ini. Di medan perang Sektor 86, di benteng bersalju, dan saat ini laut biru luas.

Sering sekali mereka menyadari ini—bergantung pada harga diri sama saja bergantung pada sesuatu yang lemah dan tak menentu. Tidak ada yang betul-betul tak terpecahkan. Semua hal yang mereka miliki di dunia ini … tidak ada yang abadi.

Seberpengalaman dan semahir-mahirnya mereka, ketakutan itu membuat mereka tak mampu berkata-kata. Seperti anak-anak ketakutan, mereka semua menatap langit bergemuruh dengan napas tertahan selagi ia memekikkan lolongan murka yang bergejolak.

Menyingkirkan mikrofon, Kapten Ishmael menarik napas dalam-dalam dan duduk di kursinya.

“Esther, aku serahkan komando kepadamu selama pengarahan berlangsung … maaf membuatmu menunggu, Kolonel Milizé.”

“Dimengerti, Kakak.”

“Tidak …. Anu, Kapten Ishmael.”

Dia berbalik, selanjutnya mendapati Lena berlinang air mata. Ishmael tersenyum tak enak hati.

“Sudah kubilang, janganlah melihatku seperti itu …. Selama kau selalu memikirkan negeri kami, maka kami akan puas.”

Bukan hal yang harus didiskusikan di anjungan gabungan. Ada orang-orang yang menunggu pengarahan, jadi mereka pergi ke koridor, di situlah mereka melanjutkan percakapan.

“Kami senantiasa menjadi negara kecil tanpa industri besar yang dapat dibanggakan, dan kami mendukung armada besar yang dilebih-lebihkan ini dengan uang yang bukan kami miliki. Semakin lama perang, hidup makin sulit. Hanya masalah waktu saja sampai kami tak mampu mempertahankannya lagi.”

Mereka menuruni tangga sempit kapal perang, sampai di lantai pertama anjungan. Di sana, anggota kru lewat membukakan mereka jalan sembari memberi hormat.

“Kebetulan terjadi hari ini saja. Mungkin inilah akhirnya, namun kami akan melangsungkan rencana kami, jadi perbutan kami sudah benar.”

“Tidak sama sekali.”

Seketika hendak membuka pintu ruang kontrol geladak penerbangan, mereka mendengar sebuah suara di belakang. Ishmael berbalik sambil mengangkat alis, mendapati seorang pemuda di masa remaja akhir sedang berdiri di puncak tangga. Dia mengenakan seragam biru-baja yang sepertinya tak sesuai fisik berkembangnya, dan dia terengah-engah.

Theo.

“Letnan Dua Rikka.”

Lena membuka bibir hendak memarahinya, tetapi Ishmael menghadap Theo langsung. Ishmael menyuruh Lena pergi duluan, hampir mendorong paksa punggung kecilnya ke ruangan selanjutnya menutup pintu di belakangnya.

Berikutnya Theo bicara, ibarat tidak menghiraukan pertimbangan tersirat Ishmael.

“Mereka mengambil tanah air kapten, juga kehilangan keluarga sedarah, ‘kan? Sekarang kapten membuang harga diri …. Kok bisa kapten terima?!”

Yang ada, Theo takkan sanggup melakukannya. Kemungkinan ada sedikit 86 yang bisa. Tidak ada tanah air tempat berpulang, keluarga untuk dilindungi, tiada budaya yang diwariskan. Jadi membiarkan orang lain mengambil harga diri mereka—kehendak rekan-rekan mereka, yang hidup dan yang mati—tidak ada yang lebih menakuti mereka dari itu.

Jadi bagaimana bisa Ishmael dan anggota kru lain yang telah kehilangan tanah air dan keluarga mereka oleh peperangan, yang selanjutnya akan mengincar harga diri mereka … menerimanya begitu saja? Dengan senyuman lagi.

“… yah, kau tahu.”

Ishmael tersenyum, bak menerima teriakan putus asa Theo secara langsung. Dia merenungkan sesuatu sejenak, terus membuka bibir hendak bicara.

“Kau tahu, Nicole … kerangka leviathan yang kau lihat. Dia awalnya dipajang di istana gubernur kampung halamanku.”

Theo menatap curiga, seakan tidak yakin apa yang tiba-tiba dia bicarakan. Nicole. Kerangka leviathan yang ditampilkan di aula dasar.

“Begitu perang dimulai dan kami harus meninggalkan wilayah, komandan armada memuat seluruh pengungsi sebisanya ke kapal, dan entah bagaimana, menemukan tempat untuknya sebelum meninggalkan benteng. Beliau tahu perang takkan berakhir dalam waktu dekat. Bahwasanya kami takkan kembali dalam waktu yang lama. Jadi beliau bawalah Nicole …. Dipikir beliau dengan membawanya sebagai simbol tanah air kami, maka akan membantu semangat juang kami.”

Komandan armada tahu, bahkan dahulu, angkatan laut Negara Armada Cleo kemungkinan takkan menjadi simbol negara. Stella Maris pun tidak, ataupun keturunan klan-klan Laut Lepas yang menjadi kru armada.

Dan sedihnya, asumsinya benar. Perang Legion berkecamuk selama sepuluh tahun, dan komandan armada tenggelam ke dasar laut bersama kapal-kapal Negara Cleo. Kru Stella Maris lanjut bertarung di daratan untuk menutup lubang di formasi pertahanan selama serangan skala besar tahun lalu. Dipaksa bertempur di lingkungan asing, mereka gugur di sana.

Sekarang, yang bertahan dari Negara Armada Cleo adalah Nicole, Stella Maris, dan Ishmael sendiri. Sebagai bukti bahwa negara mereka pernah ada, Ishmael bersama Stella Maris ‘kan mengakhiri pengabdian mereka di operasi ini. Akan tetapi, meskipun demikian ….

“Aula tempat Nicole berada sekarang tak pernah dimaksudkan untuknya. Sesungguhnya, rangka kapal terakhir kapal torpedo yang diwariskan di kota inilah yang dipajang.”

… ada orang yang menghormati pengorbanan mereka.

“Demi kami, demi semua orang yang kehilangan rumah mereka di seluruh Negara-Negara Armada, mereka memberikan kami tempat untuk menjaga harga diri kami. Kota itu adalah kampung halaman kami pula. Saat ini, sekarang ini, kota itu adalah kampung halaman kami. Kau tahu, selalu ada hal baru yang bisa kau temui. Sekalipun kau kehilangan semuanya. Selama kau hidup, kau senantiasa bisa menemukan sesuatu yang sama berharganya. Walaupun tempat itu palsu, tapi bisa saja nyata.”

Bertentangan kata-katanya, Ishmael memandang Theo dengan senyum memudar yang labil. Samar sekali sampai-sampai bisa mudahnya meleleh dan menghilang di perairan lautan tanpa batas.

“Sejarah Negara-Negara Armada penuh kekalahan. Dan aku tidak membicarakan perjuangan kuno kami melawan leviathan. Dua negara tetangga kami adalah negara adidaya yang selalu memandang rendah kami, meremehkan kami, dan merebut seluruh wilayah sah kami. Kami mesti bekerja sama dengan mereka demi mempertahankan tanah dan armada kami, sehingga bisa bertahan …. Kami jalani berabad-abad kekalahan dan tindakan penjarahan tak terhitung jumlahnya. Namun biar kalah, meski dirampok dan tak diberikan tempat tinggal lain, kami harus terus hidup. Orang-orang Negara Armada mengetahui ini …. Jadi begitulah yang kutahu. Kami tinggal cari cita-cita baru.”

 “Bagaimana kalau mati ujung-ujungnya tidak memberikan kapten apa-apa?”

Theo menggeleng menyangkal mirip anak kecil mengambek. Suaranya meninggi sampai terdengar berteriak, tapi Theo tak berhenti.

“Kapten terus kehilangan, disangkal dan dicuri …. Setelah itu kapten mati, hampir tanpa makna …. Apa gunanya mati tanpa mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dari kapten?!”

Sebagaimana kapten lama Theo. Dia membuang masa depan, keluarga, lalu gugur dalam medan perang. Tanah air menghinanya, menyebutnya bodoh. Putranya mesti hidup seraya meragukan kepastian dan martabat kematiannya …. Dan di momen-momen terakhirnya, kata-kata terakhirnya adalah permohonan untuk jangan pernah dimaafkan.

Dia bertarung di Sektor 86, sama seperti Theo, tetapi tidak menemukan satu pun teman atau sekutu sampai akhir. Kaptennya selalu sendirian.

“Kenapa kapten terus bertahan … pada medan perang semacam itu?”

“Yah ….” Ishmael tersenyum. “Selama aku tak mempermalukan diri sendiri, aku sudah puas. Itu sudah cukup.”

Ekspresi Ishmael sama seperti kaptennya. Riang sampai-sampai dianggap bodoh. Kuat hingga dikira tolol.

“Jika tidak, aku takkan pernah mampu menatap komandan armada. Beliau mungkin sudah mati, tetapi beliau gugur mempertahankan klanku …. Jadi seandainya aku hidup dengan kepala tertunduk malu, maka kematian beliau akan sia-sia.”

Ψ

“Kak, aku kembalikan komandonya …. Kita kehilangan kontak dengan kedua armada pengalih lima belas menit lalu. Transmisi terakhir mereka adalah, ’45 tembakan tersisa. Semoga keberuntungan berpihak padamu.’

“Diterima …. Sekarang giliran kita.”

Amunisi musuh yang tersisa: empat puluh lima tembakan. Jarak tersisa: seratus empat puluh kilometer.

Ψ

Demi berbagi situasi selama mungkin dengan komandan operasi mereka, komandan operasi unit dan wakilnya—Shin beserta Raiden—sekaligus Yuuto dan letnannya tetap bersiaga di anjungan utama dalam lantai lima.

Hujan masih mengguyur tanpa ampun di kaca jendela tebal tahan ledakan, cipratan air menghalangi penglihatan luar. Ruangannya gelap, kampunya dimatikan agar tidak terdeteksi musuh.

Setelah itu jendela tersebut menyala seketika sambaran petir terang melesat melintasi langit, sesaat melukis putih cakrawala. Tak sampai beberapa detik kemudian, mereka mendengar gemuruh guntur keras di dekatnya, suaranya kelewat kuat dan berat laksana gunung es runtuh. Petir ungu menari-nari di celah-celah awan, melintas di langit kelam dan laut yang tak kasat mata disebabkan tirai badai ganas.

Berabad-abad, orang-orang menyamakan kilat dengan naga, karena rentetan berubah-ubah nyaris teraturnya mirip terbangnya makhluk mitos. Layaknya suatu celah yang menembus udara gelap dan berawan di atas mereka.

“… hei.”

Tidak jelas dia memanggil atau hanya mengatakannya saja, Shin tahu mana yang benar kala mengalihkan pandangannya ke suara bingung Raiden. Kendatipun kilatnya hilang, di luar masih terang. Tidak ada bulan—apalagi matahari—untuk mengusir kegelapan. Sesuatu semacam cahaya bintang, cerah salju, seperti cahaya biru samar kilau laut4. Cahaya redup yang telah melebur ke dalam kegelapan.

Shin tahu walaupun petir menyambar langsung kapal, maka kaca jendelanya akan tetap baik-baik saja. Meski begitu, dia masih tetap menghampiri jendelanya dengan hati-hati. Melihat ke luar, dia merasa napasnya tercekat.

Sumber cahayanya adalah Stella Maris itu sendiri.

Di tepi lambung, persis di bawah geladak penerbangan, dua dudukan senjata 40 cm dan moncongnya menyala. Anjungannya juga. Walau kegelapan menutupi haluan kapal, aliran listriknya memaksanya menyala. Cahaya tak panas berwarna biru seperti kunang-kunang.

Cahaya membingungkan ini membuat kapalnya kelihatan persis kapal hantu, mengarungi lautan selamanya dengan layar robek dan tiang patah.

Bisa saja seluruh dunia adalah semacam ilusi. Sejarah manusia, kebanggaannya. Fakta orang-orang pernah hidup. Nilai kemanusiaan, segala hal yang mereka hargai dan hormati, seluruhnya semata-mata ilusi tanpa arti.

Shin mengepalkan tinjunya erat-erat. Kekosongan yang terbesit di benaknya menghentikan alur pemikiran tersebut.

… itu tidak benar.

Mustahil itu benar.

Pintu kamar terbuka lebar, dan seorang anggota kru mengintip ke dalam.

“Anak-anak! Kita hampir sampai di wilayah Mirage Spire! Bersiaplah!”

“Diterima.”

Shin-lah orang pertama yang pergi, bersama Raiden dan yang lainnya mengikuti. Raungan keras guntur lain bergema di belakang, ibarat menghantarkan kepergian mereka.

Lena menyaksikan dari posisinya di anjungan gabungan.

“Itu ….”

Cahaya biru, ibaratnya ditinggalkan kilat yang menyambar dari langit. Bak nyala api tak panas yang berkelap-kelip. Lena bertanya-tanya fenomena ini biasa atau tidak, tapi Ishmael dan kru terlalu sibuk mengemudikan kapal untuk melintasi badai.

Raungan kosntan sirene menyalakan lampu peringatan. Teriakan-teriakan instruksi beterbangan di sepanjang anjungan. Dengan kedua armada pengalih dimusnahkan, mereka harus menyerang, meskipun gagal melenyapkan kapal induk unit pengintai garis depan. Armada Orphan sengaja memilih melewati wilayah yang ombaknya besar bukan main—wilayah yang biasanya dihindari klan.

Kapal induk unit pengintai garis depan awalnya adalah kapal dagang dan penangkap ikan yang diambil dari beberapa negara runtuh lain. Tidak dibuat untuk berlayar di lautan ganas dan maka dari itu tak dapat menerjang bagian lautan ini. Disebabkan wilayah ini tak jauh dari wilayah leviathan, Rabe tidak bisa terbang di atas wilayah ini karena takut dihancurkan.

Risiko mereka terdeteksi di sini rendah. Tetapi hanya masalah waktu saja hingga mereka meninggalkan perlindungan wilayah ini.

Jarak tersisa: seratus sepuluh kilometer.

Di lingkar luar formasi armada, enam kapal anti-leviathan memutar kemudi, memperluas lingkaran formasi. Dua kapal pengintai yang memimpin formasi memperluas barisan untuk meningkatkan jangkauan deteksi.

Mereka mengerahkan sonoboya5. Memilih tidak menggunakan radar antiudara mereka, karena akan membuat mereka lebih mudah dideteksi musuh, mereka bersiap-siap menghadapi kedekatan kapal induk unit pengintai garis depan.

Shin yang telah pindah ke hanggar, melaporkan ada Legion yang mendekat di ketinggian rendah—unit pengintai telah dikerahkan.

Sebuah transmisi melalui Para RAID datang dari kapal anti-leviathan di sisi terjauh lingkar luar—Hokurakushimon.

“Kakak. Semua orang di Stella Maris. Waktunya kami berangkat. Semoga kalian panjang umur dan sehat selalu.”

Kapten kapal Hokurakushimon adalah seorang wanita. Wanita relatif muda lagi. Meninggalkan kedua anak dan suaminya—yang bahkan bukan keturunan klan Laut Lepas—di daratan, dia pandang masa depan di hadapannya dengan senyuman.

“Dan semoga keberuntungan menyinari kalian, 86. Silakan luangkan waktu di sini di masa depan nanti, ketika kedamaian menghampiri kita.”

Hokurakushimon mengubah arah. Membelokkan sisi kanannya dari armada yang menuju ke timur, malah berlayar ke selatan. Kontur kapal menghilang di balik ombak, sesudah jaraknya cukup jauh dari armada, kapalnya menyalakan radar antiudara, memecah keheningan radio. Rupanya, seluruh kru yang dipimpin sang kapten mulai bernyanyi seiring pelayaran. Lagu pelaut petualang, berlayar ke selatan menuju laut biru. Sebuah lagu dari mimpi tak teraih.

Baik radar dan transmisi radio melepaskan gelombang elektromagnetik ke segala arah. Selama ini radio dimatikan karena takut posisi mereka dilacak dan ditemukan Legion. Dan mereka bersedia mengaktifkan radio tersebut.

Tidak lama seusainya, di luar penghalang ombak besar, dengan kontur lambung kapal yang nyaris hilang dari pandangan, suara peluncur roket yang melepaskan muatannya memenuhi udara, jalur tembak menyelimuti langit dengan asap dan api.

Ψ

Satu unit pengintai mendeteksi gelombang radar kapal yang baru mendekat. Di puncak pangkalan angkatan laut yang Negara-Negara Armada sebut Mirage Spire, Morpho menerima laporan tersebut selanjutnya membelokkan meriam 800 mm besarnya.

<<Colare One, diterima. Menem—>>

Kala mengarahkan pandangannya pada perkiraan posisi kapal musuh—atau mungkin armada musuh—unit itu tersadar. Menjadi unit Legion yang memiliki daya tembak serta jangkauan terjauh, Morpho mempunyai radar antiudaranya sendiri. Dan sistem radar ini sekarang ….

<<Membatalkan urutan penembakan turet utama. Berganti ke pertahanan antiudara.>>

… mendeteksi sejumlah objek terbang. Delapan meriam otomatis putar bergerak bersama-sama. Mengarahkan bidikannya ke objek terbang lalu membuka tembakan, menembak jatuh sebagian besar peluru roket.

<<Pencegatan target dianggap mustahil.>>

Satu roket menyelip tembakan Morpho. Peluru tabung6 tersulut dari jarak dekat, menjatuhkan bom yang dikandungnya bak hujan di atas Morpho. Meriam-meriam roket Negara-Negara Armada punya akurasi rendah, jadi mereka imbangi dengan peluncur roket banyak dan memberondongnya melalui beberapa meriam sekaligus.

Lapis baja reaktif ledakan terpicu, memblokir misil-misilnya, tetapi sekiranya titik yang sama terkena tembakan dua kali, Morpho takkan lolos tanpa kerusakan.

Musuh harus segera disingkirkan.

<<Colare One kepada unit kapal induk pengintai garis depan. Bergerak ke koordinat yang ditentukan.>>

Dengan menghitung mundur lintasan misil, hasilnya menguraikan lokasil kapal yang menembakkan peluncur roket target banyak. Turet utama memotong angin ketika berbelok, mengunci target.

<<Meminta pengukuran balistik. Menembak.>>

Ψ

“—komunikasi dengan Hokurakushimon dan Albireo, terputus. Diperkirakan mereka telah tenggelam.”

Sementara kapal anti-leviathan memancing tembakan musuh, pasukan utama Armada Orphan terus melaju menuju target. Melihat kapal-kapal saudarinya menyelesaikan tugas mereka dengan melemparkan diri ke garis tembakan, transmisi kali ini asalnya dari dua kapal anti-leviathan yang berada di sisi kanan Stella Maris.

“Di sini Altair dan Mira. Kami berangkat.”

“Kami duluan, Stella Maris!”

Seusainya, sekali lagi, mereka dapat transmisi lain. Kali ini dari dua kapal pengintai yang memisahkan diri dari armada utama. Sekarang, hanya tiga kapal penjelajah Stella Haris dan dua kapal anti-leviathan yang masih tersisa. Empat puluh kilometer hingga sampai tujuan.

Mereka menghindari ombak besar membumbung naik bagaikan benteng yang menghadang jalan mereka, namun ketika bidang penglihatan mereka bersih, mereka menemui dinding kabut putih. Fajar barusan terbit, tapi di wilayah lautan ini, kabut pagi adalah kejadian tak biasa. Saat mereka mendekati kabut, mereka sadar kabutnya berhembus tanpa henti—uap air yang dihasilkan dari kenaikan suhu air.

Mirage Spire terisolasi di tengah-tengah laut, barangkali inilah sumber kekuatannya. Sumber panasnya adalah gunung berapi bawah laut. Uapnya tercipta dari panasnya yang bocor ke laut. Lalu giliran angin utara dingin yang mendinginkan airnya, menimbulkan uap putih yang berputar ke udara.

Haluan kapal Stella Maris menembus tudung putih selagi menghampiri target. Tatkala menembus tirai kabut, kapalnya hanya berjarak tiga puluh kilometer dari pangkalan—dalam jangkauan tembak senjata kapal.

“Seluruh kapal penjelajah jarak jauh dan kapal anti-leviathan, sejajarkan bidikan kalian. Tembak dari sini kalau perlu. Tembak!”

Lima kapal tersisa melepaskan tembakan. Setiap senjata dan meriam roket menyemburkan api, bermaksud memukul mundur Morpho, sekaligus menarik perhatiannya dari Stella Maris. Senjata-senjata bergemuruh, ibaratnya meraung marah atas serangan sepihak dan kesedihan rekan-rekan mereka yang gugur di armada pengalih dan kapal-kapal.

Tak lama sesudahnya, asap senjata naik, melingkari seluruh wilayah terlepas dari amukan angin.

Selanjutnya, menerobos kabut asap tembakan, terdengar suara petir. Selongsong 800 mm jatuh diagonal, ditemani gelombang kejut besar. Kapal anti-leviathan, Tyscho, yang mengisi tempat kapal pengintai di bagian terdepan formasi, terkena selongsong.

Selongsongnya menembus geladak atas, beberapa lantai geladak pelayanan dan blok kabin, tembus sedalam jantung kapal hingga mesin, sampai pelat lapis baja lebih tebal di bagian terbawah kapal akhirnya menghentikan laju selongsong itu. Akhirnya, selongsongnya terpicu dan meledak.

Energi kinetik besar yang diakibatkan serudukan misil serta ledakan bahan peledak membelah dua Tycho. Haluan dan buritan kapal memiring ke atas, ibarat melepaskan jeritan sekarat terakhir, sampai ditelan aliran gelombang air di sampingnya. Ombak besar melahap sisa kapal, terus laut meneguknya.

Di sisi lain perairan gelap gulita, di balik tabir juga tirai angin dan hujan, lalu di ujung langit terdapat sesuatu abu-abu yang menyatu dengan langit kelam. Akhirnya bisa mereka lihat.

“Target terlihat! Waktunya, anak-anak! Siap-siap!”

Seorang perwira memasuki hanggar, akhirnya meneriakkan perintah tersebut kepada mereka. Kru geladak mengoperasikan lift, memindahkan kelompok pertama yang akan menyerang pangkalan musuh ke geladak penerbangan. Pasukan sejumlah enam unit, kaki dilipat, langsung naik sekaligus.

Di antara mereka adalah Undertaker, dan Shin yang duduk di dalamnya, mendongak. Deru angin kencang serta lolongan para Gembala di telinganya. Suara Gembala Morpho sendiri sudah ramai, mengeluarkan raungan perang cukup keras sampai-sampai kedengaran bak seluruh pasukan selagi berulang kali menembak target.

Karena geladaknya adalah untuk meluncurkan pesawat alih-alih manusia, liftnya tidak punya dinding atau langit-langit yang menghalangi angin. Seketika mereka meninggalkan hanggar, angin kencang yang dipenuhi tetesan air hujan mulai bertiup ke Juggernaut. Seraya liftnya naik lantai satu per satu dalam perjalanan ke atas, anginnya kian kencang. Tiada benda atau massa di laut yang sanggup menghentikan angin. Anginnya bertiup kencang sekali sampai Shin tak kuasa menghilangkan ketakutannya kalau Reginleif yang bahkan seberat sepuluh ton mungkin akan tetap tertiup angin.

Jika Reginleif ringan mencoba berdiri tegak di geladak penerbangan berangin, mereka bisa saja terbalik. Shin hati-hati membuka kunci di kaki unitnya, berhasil merangkak ketika turun dari lift kemudian menuju haluan kapal perang, melintasi landasan yang membentang lambung kapal ke tujuan pelayaran kapalnya. Setelah mencapai ujung jalan, dia berjongkok di depan haluan dan tetap siaga.

Kilat petir menerangi awan selagi hujan mengguyur mereka, cahaya memantul dari tetesan air hujan dan sekilas memenuhi pandangan Shin dengan warna putih. Suram dan gemuruh guntur mengisi ketakutan dan sesak napas dalam dirinya, ibarat tenggelam ke kedalaman dingin laut nan gelap yang membentang di hadapannya. Awan-awan hitam yang menampakkan diri di langit adalah seperti permukaan laut, dan geladak penerbangan yang dihajar hujan merupakan dasar lautnya.

Awan badai melingkupi langit telah melempar dunia ke kegelapan. Tetes air tak terhitung menghujam geladak, menciptakan keributan tiada henti. Volume airnya serasa seakan langitnya sendiri tengah menimpa mereka, memberi tekanan besar nan menyesakkan.

Benar, dia telah meninggalkan Juggernaut dan mengekspos tubuhnya ke cuaca, Shin kemungkinan takkan bisa bernapas. Angin dan air menghantam satu lapisan lapis baja yang menutupinya dengan tebal.

Lalu di kejauhan, satu menara baja menjulang di atasnya, puncaknya terlihat kabur. Meski latar belakangnya adalah langit badai dibungkus awan gelap, bayangannya masih kelihatan hitam selagi ia mengangkat tubuhnya.

Mungkin semacam pertahanan yang dibuat untuk mengawasi senjata musuh. Sebuah kanopi besar setebal selongsong, ditaruh di atasnya, ditopang tiang logam yang dibengkokkan sampai berbentuk cakar. Ia merayap keluar dari laur kanopi, sensor optik birunya menyala menyerupai kunang-kunang. Larasnya yang berbentuk sepasang tombak memiliki semacam sulur-sulur listrik yang menari-nari di sekitarnya.

Ia balas menatap mereka. Tatapan Dingin. Tatapan Angkuh.

Dengan bunyi kepakan keras, Dua sayap perak bersinarnya membentang ke atas.

Morpho.

“Jarak tersisa: lima kilometer. Perkiraan amunisi tersisa: satu peluru!”

“Maju sini, logam besar bajingan!”

Pertempuran artileri tengah berlangsung. Kapal anti-leviathan terakhir yang tersisa melesat langsung di lima kilometer terakhir, sementara tiga kapal penjelajah masih utuh. Salah satu kapal penjelajah, Basilicus, melaju menuju Mirage Spire, melepaskan diri dari seluruh kapal, dua meriam 40 cm-nya menembak cepat.

Selagi ditembakkan, lampu pencarinya menyala, radar dan radionya bertransmisi dengan daya penuh, kru kapal meneriakkan perintah untuk terus menembak demi menarik perhatian musuh. Dan sesuai keinginan, moncong Morpho beralih ke arah penyerbuan sembrono itu.

Bagian atas lansetnya berkilauan tatkala Morpho melepaskan suatu lengkungan yang menyambar layaknya kilat. Railgun Morpho punya kecepatan awal delapan kilometer per detik; segera setelah moncongnya meraung, selongsongnya sudah mengenai sasaran. Terlepas dari itu, Basilicus mengejutkannya menghindari garis tembakan dengan membelok tajam ke samping. Mereka tahu detail tembakan hantu yang menghuni Morpho dengan mengamati kecenderungan bidikannya di sepanjang pertempuran ini, alhasil mereka mampu bermanuver mengelak yang menakjubkan ini.

Selongsong terakhir 800 mm Morpho mencungkil ombak, mewujudkan gelombang pasang konsentris yang tak hanya melewati Basilicus, melainkan garis tembakan kapal penjelajah lain, Benetnasch dan Denebola. Tembakan mereka yang diluncurkan kalau-kalau Morpho masih punya sisa amunisi, menciptakan ledakan dan gelombang kejut yang membutakan sensor Morpho kemudian memaksanya mundur sejenak ke bawah kanopi.

Di bawah menara, Stella Maris terus melaju menghampiri dengan kecepatan tempur maksimum. Mirage Spire mendekat. Sekarang ini, jaraknya dekat sekali sampai-sampai bidang penglihatan mereka tak mampu menangkap ukuran penuhnya, kebesarannya terlihat dari anjungan gabungan. Pilar-pilar beton memanjang tegak lurus dari bawah air, masing-masingnya selebar beberapa bangunan ditumpuk jadi satu. Keenam pilar tersebut menyusun sesuatu berbentuk heksagonal, dan di puncaknya terdapat benteng berbentuk prisma enam sudut yang menjulang ke langit.

Panel surya setengah transparan melapisi lingkar luar bangunannya bagai sisik, kini diwarnai putih tetesan air hujan. Interior bangunannya tak bisa dilihat dari luar. Panjang totalnya setinggi 120 meter. Bentuknya seperti sarang naga mitos yang hidup di laut. Seluruh Mirage Spire bagaikan bangunan ditumpuk-tumpuk; berpikir mendakinya saja serasa mimpi buruk tanpa akhir.

Stella Maris mendekati fondasi benteng, salah satu enam pilar beton. Nahkodanya mungkin sama sekali tidak takut, karena dia tak melambat, nyaris menabrak pilarnya dengan sisi lebar kapal. Namun dia mengemudikan kapalnya dengan teliti sekali. Logam kapalnya tidak memekik selirih pun ketika berhenti di samping palisade7 beton yang menjulang tinggi.

Shin dan kelompoknya mengawasi dari geladak penerbangan. Sepenuhnya sama seperti tindakan bunuh diri. Begitu kapalnya maju menuju tebing beton, mereka semua menahan napas, mata membelalak kala bersiap-siap menghadapi benturan. Namun persis di depan tabrakan, kapal induk besar tahu-tahu memutar kemudi, haluan lebarnya berhenti di sebelah benteng.

Dari posisi ini, basis pilarnya searah dengan tembakan musuh, artinya pasukan penyerang bisa naik tanpa ditembaki.

Operasi telah dimulai.

Pikiran Shin beralih, bak saklar yang diputar dalam otaknya. Dia tak sadar hampir mendirikan Undertaker yang duduk meringkuk seolah dipukuli air hujan. Kesadarannya yang telah diasah dan dioptimalkan untuk pertempuran, telah menenggelamkan segala konsep ketakutan maupun tekanan dari bahaya alam.

Perintah Lena sampai ke telinganya.

“Unit artileri, tembak! Skuadron Spearhead, maju!”

Catatan Kaki:

  1. Noctiluca scintillans, umumnya dikenal sebagai kilau laut, dan juga diterbitkan dengan nama Noctiluca miliaris, adalah spesies dinoflagellata yang hidup bebas di laut. Organisme ini dapat menghasilkan bioluminesensi saat mengalami gangguan atau guncangan. Bioluminesensi diproduksi di seluruh sitoplasma protista bersel tunggal ini karena adanya reaksi luciferin – luciferase dalam ribuan organel berbentuk bola, yang disebut scintillons.
  2. Bioluminesensi atau biopendar cahaya adalah emisi cahaya yang dihasilkan oleh makhluk hidup karena adanya reaksi kimia tertentu. Hingga saat ini, bioluminesensi telah ditemukan secara alami pada berbagai macam makhluk hidup seperti jamur, bakteri, dan organisme di perairan, namun tidak ditemukan pada tanaman berbunga, hewan vertebrata terestrial, amfibi, dan mamalia. Sebagian besar plankton memiliki kemampuan menghasilkan pendaran, terutama plankton yang hidup di perairan laut dalam. Pada mikrob, bioluminesensi yang dihasilkan belum diketahui manfaatnya, sedangkan pada hewan umumnya digunakan sebagai sinyal kawin, predasi, dan perlindungan terhadap pemangsa.
  3. Haluan kapal (Inggris: Bow) adalah bagian depan dari badan kapal. Haluan kapal dirancang untuk mengurangi tahanan ketika haluan kapal memecah air dan harus cukup tinggi untuk mencegah air masuk kedalam kapal akibat ombak atau belahan air saat kapal berlayar. Untuk kapal dengan kecepatan tinggi biasanya haluan dibuat lancip sehingga gesekan antara air dengan haluan bisa dikurangi sekecil mungkin seperti pada kapal perang, sedang kapal dengan kecepatan rendah seperti pada kapal tanker bisa tidak diperlukan haluan yang lancip sekali.
  4. Noctiluca scintillans, umumnya dikenal sebagai kilau laut, dan juga diterbitkan dengan nama Noctiluca miliaris, adalah spesies dinoflagellata yang hidup bebas di laut. Organisme ini dapat menghasilkan bioluminesensi saat mengalami gangguan atau guncangan. Bioluminesensi diproduksi di seluruh sitoplasma protista bersel tunggal ini karena adanya reaksi luciferin – luciferase dalam ribuan organel berbentuk bola, yang disebut scintillons.
  5. Sonoboya (lakuran dari sonar dan pelampung/”boya”) adalah boya yang relatif kecil (biasanya dengan diameter 13 cm dan panjang 91 cm) dengan sistem sonar yang dapat dibuang/dikeluarkan dari pesawat atau kapal yang melakukan perang anti-kapal selam atau penelitian akustik bawah air.
  6. Peluru tabung adalah amunisi artileri antipersonel. Peluru tabung sudah digunakan sejak kemajuan tembakan artileri berbasis bubuk mesiu di tentara barat.
  7. Palisade adalah pagar kayu atau baja dengan variasi tinggi, biasanya dipakai untuk struktur pertahanan atau pembatas lingkungan.

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments