Share this post on:

Kabut Tipis Biru

Penerjemah: YoNAh

“Lagian kita tidak dapat respon kemarin.”

Sarapan disajikan dengan model prasmanan sebagaimana yang diterapkan seluruh hotel Aliansi. Sesuai klaim angkuh para juru masak, makanannya lezat. Mereka menyiapkan segunung kentang persis di depan tamu hotel lalu disajikan bersama keju cair.

Lena bicara seraya membawa gigitan terakhir ke bibirnya. Irisan kentang dibuat dari pengganti pati buatan, tetapi kejunya asli dan enak. Memastikan piring di seberangnya punya hidangan sama, dia mengangguk puas sendiri.

“Kita tahu ada kemungkinan Legion memasang perangkap tuk menarik keluar unit-unit elitnya Kerajaan Bersatu dan Federasi …. Artinya, dirimu dan Vika. Dan kalau iya, korban serangan di Kerajaan Bersatu adalah …”

“Satu hal pasti, kurasa suara yang kudengar dari unit itu cocok dengan rekaman suaranya yang diarsipkan,” jawab Shin dari kursi seberang. “Menurutku masih terlalu cepat buat mengambil kesimpulan.”

  Dia punya dua gunungan kecil telur dadar keju dan telur orak-arik metega yang diletakkan di depannya. Keduanya terlihat cukup menggugah selera, tetapi selagi Shin mencoba memutuskan mana yang mesti dicoba, koki bersikeras dia masih anak laki dalam masa pertumbuhan kemudian menumpuk porsi besar semua hidangan telur ke piringnya.

Mereka berada di rumah istrirahat yang biasanya ditempati perwira-perwira rakus, jadi para juru masak amat bersemangat menyediakan makanan untuk sekelompok prajurit muda—artinya, anak laki-laki dan perempuan dalam masa pertumbuhan yang nafsu makannya perlu dipenuhi.

Para juru masak sangatlah senang setelah semua orang makan dengan sepenuh hati tempo hari. Mereka merekomendasikan jenis roti tertentu, memberikan porsi ekstra sup panas, dan terus-menerus disibukkan isi nampan mereka.

“Lagi pula, masuk akal kemarin dia tidak merespon … aku memanggilnya dengan mikrofon yang belum nyala.”

Ж

Mereka putuskan memulai interogasinya dengan mencoba hal baru.

“Jangan utak-atik pencahayaannya …” ucap Vika. “Nouzen, cobalah bicara dengannya tanpa dinyalakan mikrofonnya.”

Berdiri di bawah cahaya samar ruang interogasi, Shin mengerutkan alis mengikuti instruksi Vika. Fakta dirinya tidak menjelaskan konteks percobaannya membuat Shin merasa aneh. Seperti ruang pembatas yang tidak membiarkan siapa pun yang berada di dalam untuk melihat keluar, yang di luar pun tidak dapat mendengar apa-apa yang di dalam. Jika mereka hendak bicara pada apa pun yang berada dalam ruangan, si pembicara mesti mengaktifkan mikrofon khusus.

“Maksudmu apa …?”

“Pikirkan kembali operasi Gunung Dragon Fang. Di saat-saat terakhir, Ratu Bengis menunjukkan dirinya kepadamu …. Mengingat dia itu komandan pangkalan yang nyaris dikuasai tangan musuh, tindakan itu bukan hanya tak masuk akal. Berbahaya juga.”

Shin terperangkap dalam danau magma di dasar Gunung Dragon Fang. Dia tidak bisa ke mana-mana dan diisolasi dalam kuburan batu padat yang bahkan memutus seluruh cara komunikasinya.

Dia bersama komandan Legion yang keberadaan unit itu di sana sudah bukan abnormal lagi, memperhitungkan markasnya di ambang kehancuran. Tempat itu tidak mengarah ke suatu tempat khusus, dan perintah yang dikirim dari sana takkan membantu.

“Mungkin saja kebetulan. Dia bisa saja mengoperasikan semacam logika yang jelas bagi Legion tapi tidak masuk akal bagi manusia. Namun kita tidak bisa mendiskreditkan peluang dirinya sengaja menampilkan diri kepadamu. Kita harus konfirmasikan itu dulu, dan bila sungguh kau yang diincarnya, maka kita mesti mencari tahu alasannya.”

Apakah Ratu Bengis yang ditangkap Divisi Penyerang adalah gara-gara semacam kekeliruan besarnya? Ataukah sengaja mengungkap dirinya kepada mereka? Dan jika demikian, tujuannya apa? Apakah dia akan melakukannya semisal ada manusia manapun di dekatnya, atau manusia itu wajib Shin?

Seandainya Shin-lah yang dicari-carinya, apakah karena dialah orang yang ingin ditangkap sang Ratu, atau sebab dirinyalah yang melihat pesan tersembunyi di Phönix? Atau karena dia berdarah keluarga kekaisaran? Atau dikarenakan dia yang pada akhirnya menghancurkan Phönix? Atau sebab suaranya mencapai sang ratu sehubungan dirinya dapat mendengar ratapan Legion? Mereka harus menemukan penggerak aksi Ratu Bengis serta, dari penggerak tersebut mencoba menduga tujuannya.

“Aku bisa mendengar suara Legion, tapi tidak bisa bicara sama mereka … aku yakin sudah memberitahumu itu.”

“Iya, aku dengar. Tapi karena kau dapat mendengar suara-suara hantu, boleh jadi suara sang Pencabut Nyawa juga bisa mencapai hantu. Aku yakin itu asumsi wajarnya.”

Ж

Tetapi hasil eksperimennya adalah Ratu Bengis sama sekali tidak merespon.

“… Legion rupanya bisa mendengar suaraku …. Ada sejumlah kasus langka di mana mereka mampu menunjuk posisiku. Tapi tidak pernah ada dialog aktual antara mereka denganku.”

“Ya. Andai kau bisa bicara sama mereka, mungkin kau …. Err. Kau tidak perlu melawan kakakmu. Tapi …”

Lena mengangguk, pelan-pelan meletakkan pisaunya lalu menempelkan jarinya ke bibir ketika mengingat kejadian di hari sebelumnya. Ameise putih itu. Sedetik, Lena pikir dirinya melihat sensor optik bak bulan Legion itu …

“Dia … kurasa dia sedang melihatmu. Sekalipun semestinya tidak bisa.”

Merasakan mata merah darah Shin menatapnya, Lena memiringkan kepala. “Apa?”

“Kau memanggil unit Legion ini seolah menyebut nama seseorang, Lena. Orang lain memanggil mereka bongkahan besi tua, tapi aku baru sadar kau tidak pernah memanggil mereka begitu.”

Lena berkedip beberapa kali mendengar pernyataannya. Iya juga, itu benar. Tetapi Shin pun sama.

“… jujur saja. Apa itu mengganggumu?” tanya Lena.

Memanggil mereka besi tua. Mendengar hantu-hantu mekanis dirujuk ke sesuatu yang sangat hina. Apakah kakaknya yang bergabung dengan Legion diperlakukan sebagai monster menyinggung perasaannya?

“Tidak bisa dibilang tak menggangguku, tapi …” Shin berhenti untuk berpikir.

Shin berusaha mengatur emosi dan pikiran yang tidak terlalu mampu dirinya kendalikan. Dia kelihatannya berhenti membiarkan segala halnya jadi tak jelas dengan bilang entahlah. Dulu di medan perang Sektor 86, dia tidak sempat atau punya waktu untuk menghadapi perasaan ini, dan dia tidak bisa menyangkal sebagian dirinya buta mata dari hal itu juga.

Misalkan ada sesuatu yang tak mau dia pikirkan atau terima, dia abaikan saja. Pura-pura tidak ada. Karena tidak ada yang berubah dengan memaksakan dirinya memikirkan atau memahaminya.

Suatu hari, cepat atau lambat, dia akan mati di medan perang. Itulah takdir semua 86. Atau paling tidak, begitulah yang ada di kepalanya …. Tapi dia selamat. Dan meski sudah terbebas dari belenggu takdir, dia masih hidup sambil sadar betul akan ancaman kematian yang menghantuinya.

Dia mesti menerimanya, tapi dia terus menghindarinya. Kemudian menyebabkan kekacauan yang menimpanya di Kerajaan Bersatu. Lantas dia tidak ingin itu terjadi lagi.

“… pikirku kau benar. Aku tidak mau mereka dipanggil begitu. Walau sudah jadi Legion, aku hanya bisa menganggap Rei sebagai kakakku. Dan Kaie serta yang lainnya, merekalah orang-orang yang mesti kubawa pergi. Aku tidak bisa memanggil Legion yang persis seperti mereka, bongkahan besi tua atau hantu mekanis.

Baik Legion yang mengasimilasi orang-orang mati dalam perang juga segelintir unit yang masih murni hantu tidak berbeda baginya. Roh-roh yang mengembara selamanya, melolong dan meratap sepanjang waktunya. Teriakan mereka semuanya terdengar sama baginya.

“Kau baik, Shin,” tukas Lena sembari tersenyum sedikit.

“… kau akhir-akhir ini sering mengatakan itu, tapi pikirmu memberitahuku hal itu saja sudah cukup, Lena?” tanyanya dengan nada meyindir.

Lena cemberut.

“Aku bilang begitu karena itu perasaan jujurku …. Dan gara-gara tidak pernah kau sadari.”

“Karena menurutku itu tidak benar.” “Ya ampun …”

Tindakannya yang perlahan merusak dirinya sendiri seperti ini tanpa sadar dan tanpa sengaja sangat mengkhawatirkan Lena. Melihatnya kelelahan tanpa istrirahat membuat hati Lena pedih.

 “… oh, dan soal peralatan baru yang perlu kita periksa. Kelihatannya interogasi Ratu Bengis bakalan lama, jadi kau fokus saja sama ujiannya dibantu Raiden dan yang lain …”

Shin mendadak terdiam, melihatnya membuat Lena cekikikan.

“Shin kau kelihatan mirip anak kecil yang mainannya barusan diambil.”

Melihat komandan operasi dan komandan taktisk mereka berbincang seakan dunia milik mereka sendiri dari beberapa meja jauhnya—seolah sepasang kekasih—Raiden menyimpulkan semuanya.

“… jadi singkatnya, nampaknya orang tolol itu akhirnya membuat keputusan.”

Raiden menceritakan mereka soal bagaimana Shin merenung dalam kamarnya kemarin. Sekarang amat jelas apa yang dia renungkan, tentu saja.

“Padahal sudah sangat jelas, luar biasanya butuh selama ini untuk memutuskan. Atau, yah, dia bahkan baru sekarang menyadarinya,” ucap Theo, tangan menopang dagunya tak sopan sambil memasukkan garpu dengan sepotong daging berminyak ke mulutnya.

“Aku belum mengenal mereka selama itu, tapi dari melihatnya saja aku bahkan bisa tahu. Sudah sejelas itu.” Dustin mengangguk sembari merobek sepotong roti pengganti.

Seorang koki meninggalkan posisinya di belakang konter kemudian berjalan ke sela-sela meja membawa sepiring besar sosis (sebagiannya dibuat dari daging buatan), menyuguhkan porsi kedua. Mengikuti anjurannya, kesemua tamu memberi ruang piring-piring mereka yang sudah penuh lalu masing-masingnya mendapat sosis ekstra.

Marcel menggigit sosis segarnya yang rasanya enak. Sosisnya pun lumayan panas, jadi dia terengah-engah sebentar baru mengunyahnya, kemudian bergabung ke percakapan setelah menelan sekali.

 “Saat ini aku sudah terbiasa melihatnya …. Tapi tidak pernah kubayangkan dia akan seperti ini saat di akademi perwira khusus.”

“Tidak usah cemas; kami juga sama,” kata Rito, seraya mengunyah kentang goreng.

“Mempertimbangkan bagaimana kondisinya di Sektor 86, bukan cuma kaget. Tidak pernah kusangka kapten wajahnya bisa begitu …” tutur Yuuto, menyisihkan semangkuk sup krim kosong.

“Selanjutnya kita harus bagaimana nih?” tanya Dustin.

“Kita harus bagaimana …?” Raiden mendesah panjang. “Yah membiarkannya mengacaukan peluangnya itu menyebalkan.”

“Pasti.” Theo mengangguk.

“Jujur saja, ini mulai membuatku kesal,” tambah Yuuto. Keempatnya mendesau bareng-bareng.

“Sepertinya kita mesti mendukungnya.”

Percakapan sama terjadi dari sisi Lena. Anju, Shiden, Annette, Michihi, beserta Shana saling berbisik selagi meja mereka diisi banyak hidangan seperti meja lainnya.

Ada dua orang lain yang tidak berminat ikut serta dalam percakapan ini. Kurena fokus memotong tiga lapis panekuk dengan pinggiran kolak beri sedangkan Frederica menggendutkan pipinya dengan roti panggang madu, ekspresi mereka agak campur aduk dan tak puas terhadap seluruh kejadian ini. Gadis-gadis lain merasa tidak enak sama mereka tapi memutuskan membiarkannya saja.

“Kurasa masalahnya di sini Lena belum menyadarinya,” kata Anju seraya memasukkan sepotong apel panggang ke mulutnya.

“Kalau kau tanya aku, fakta Baginda masih belum menyadarinya itu hampir mengesankan,” ucap Shiden, sambil menusuk sepotong daging asap yang masih mendesis dengan garpunya.

“Apalagi karena Shin, yah …. Dia juga cukup transparan …” Annette mendesau sekalian mengunyah sesendok sereal yang disajikan dengan buah kering.

“Jadi,” ujar Michihi, yang duduk di sebelah Annette yang memiringkan kepalanya. “Kita mesti bagaimana?”

Shana mengerutkan kening ketika stroberi yang digigitnya ternyata lebih asam dari perkiraannya jadi dia oleskan selai di atas baguette1 untuk menetralkan lidahnya.

“Kataku kita harusnya mendukung mereka, tapi masalahnya Lena belum menyadari perasaannya,” katanya.

“Iya …. Tapi kalau dia mundur sekarang membuatku merasa buruk.”

“Jujur, nih: tarik ulur mereka tuh mulai jadi sangat menjengkelkan.”

Semua orang yang hadir kecuali Kurena dan Frederica, mendesau serempak.

  “Kita harus awasi Lena biar kali ini dia tidak mundur.”

“—aduh. Semua desakan asmara dan hasrat ini …. Rakyat jelata menjalani hidup tanpa beban.”

Vika mengutarakan komentar muak ini selagi mengawasi pasangan Shin dan Lena juga 86 yang menyemangati mereka dari bangku penonton. Dia tidak suka tempat ramai, jadi dia sarapan dalam kamarnya dan pergi ke kafetaria cuma untuk minum kopi sesudahnya.

Awalnya, tampaknya dia menikmati pemandangan itu, tetapi kata-katanya kurang elegan alhasil memperjelas ketidaksukaannya terhadap semua ini.

Hak penerusnya dicabut. Dia ditakuti sebagai Ular Pembelenggu dan Pembusuk berhati dingin yang memainkan orang-orang mati. Tapi biar demikian, Vika itu keluarga kerajaan. Dan lebih pentingnya, dia seorang Amethystus—pewaris kemampuan ekstrasensor Idinarohk. Terlepas dirinya berniat mewariskan darahnya ke generasi berikutnya atau tidak, dia dilarang bersatu dengan orang-orang beda warna.

Setahunya, dan bahkan sebelum dia lahir, istri sahnya serta beberapa calon selir sudah ditetapkan untuknya. Tetapi itu tak hanya berlaku kepadanya namun kepada semua anggota garis keturunan Idinarohk.

Bagi garis keturunan unicorn, sesuatu seegois perasaan romantis tidak ada artinya ketika memilih pasangan. Dari awal, romansa bukanlah sifat yang manusia miliki sejak zaman dahulu. Itu konsep kontemporer yang dilahirkan modernitas, dan Kerajaan Bersatu menghargai cara lama.

Lantas gambaran pahit-manis masa muda suci berlangsung di depan matanya membuatnya merasa bosan dan sebal …. Dia sama sekali tidak iri pada mereka.

Di kursi seberangnya ada Lerche. Tangannya menangkup mug kopi yang yang dia terima. Tentu saja dia tidak bisa meminumnya, jadi dia ambil saja untuk menghargainya. Menatapnya, dia membuka bibir.

“Paduka, bukannya Anda harus, anu, mengesahkan pernikahaan Anda dengan tunangan Anda, Putri Yaroslava …?”

“Diam, dasar anak tujuh tahun.”

“Tapi!” Lerche mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya masih memegang mugnya. “Fakta Anda lama sekali menunda upacara pernikahan menyiksa sang putri, Paduka. Beliau bahkan mendatangi saya, sekadar seorang boneka mekanik, demi nasihat! Beliau menanyakan saya apakah saya mendapati beliau tak berguna atau kekurangan. Beliau meneteskan air mata pahit, ibarat embun pagi yang menetes dari mawar belum matang …. Saya tidak tahan melihatnya, Paduka.”

“…”

Vika terdiam. Dia tahu. Kejengkelannya terhadap teguran tak diinginkan ini serta sedikit penyesalan membuatnya tidak mampu berkata-kata.

Gadis itu hanya dipilih sebab berdarah keluarga kuat di Kerajaan Bersatu, cabang garis keturunan unicorn. Dia dibesarkan menjadi seorang istri yang takkan mempermalukan sang pangeran yang dia harap ‘kan nikahi. Dididik menjadi pasangan lemah lembut dan patuh yang takkan mencampuri urusan pemerintahan. Dibesarkan menjadi wanita sehat yang berani menghadapi tantangan persalinan.

Pesemaian tuk menumbuhkan generasi penerus garis keturunan Idinarohk. Dia bukan wanita muda penuh komplain. Berbanding terbalik. Dia tidak pernah menyampaikan sepatah pun kata keluhan kepada Vika dan berwatak bagus ditambah baiknya nyaris sampai dikira bodoh. Baik sekali sampai-sampai tidak mencari-cari kesalahan Lerche yang bukan hanya jauh di bawahnya dalam urutan kekuasan tetapi bahkan bukan manusia.

Namun meski demikian … “… diam.”

Dirinya, dari semua orang, menyuruhnya memilih yang lain. Gadis seidentik Lerchenlied mengatakan kata-kata itu padanya … masih terlalu berat untuk ditanggung.

Selagi dia mengawasi sarapan sentosa anak laki-laki dan perempuan, Sersan Guren Akino dari Kompi Pemeliharaan Divisi Penyerang Ke-27—kompi yang bertanggung jawab atas pemeliharaan Reginleif—mendesah.

Jujur …

Selain kru pemeliharaan, ini harusnya jadi liburan menyenangkan buat bocah-bocah bandel.

 “Bagaimana caranya menyampaikan berita ini …? Maaf mengabarkan kalian ini, tapi waktunya bekerja, para Prosesor?”

<<Memulai operasi.>>

<<Sistem dimulai, WHM XM2 Reginleif.>>

<<Mk.1 Armée Furieuse, aktif. Pemeriksaan sistem.>.

<<Zirah kaki, kopling dikonfirmasi. Selesai.>>

<<Mantel2 Freya3, beroperasi dengan normal. Tautan dimulai.>>

<<Sirkuit utama dikonfirmasi—beroperasi dengan normal.>>

<<Sirkuit sekunder dikonfirmasi—beroperasi dengan normal.>>

Menutup jendela sekunder artinya persenjataan tambahan sudah diaktifkan dengan benar. Shin menghembuskan napas tajam sekali. Dia duduk dalam kokpit gelap yang sempit, ditemani layar optik di depan matanya sebagai sumber cahaya tunggal.

Perintah menghadapi serangan mendadak telah diberikan. Huruf-huruf berkedip di layar holo persenjataan, membentuk kata-kata.

<<Lintasan, bersih.>>

<<Mantel Freya, dikerahkan.>>

“Terbanglah para Valkyrie3.”

Operator tersenyum sedikit sesaat melihat mesinnya bergerak, diberkahi mobilitas baru oleh persenjataan anyar yang bernama Mantel Freya. Bentuk ganas nan dingin Republik Federal Giad itu, dibuat dengan warna tulang dipoles, memamerkan performa yang sesuai namanya—Reginleif5, sang Valkyrie yang menandai kematian.

Tapi terlepas dari itu, mereka akan mengatasinya. Bagi sekawanan griffin6, medan perang pengungan dan batu ini adalah wilayah mereka, jadi mereka takkan dikalahkan di sini.

“Baiklah.” Operator tersenyum, bibir samar mereka melengkung kegirangan. “Ayo berangkat, komrad. Lari susuri benteng kita segesit kambing gunung dan seganas elang menukik!”

Ж

<<Operasi: Fase Satu, selesai.>>

<<Memulai Fase Dua. Mantel Freya, lepaskan.>>

Setelah pesan tersebut, layar sekunder berkedip-kedip. Baut ledakan terpicu, melepas persenjataan yang tak terlihat dari dalam kokpit.

Dan saat berikutnya, sebuah goncangan menyentaknya. “…!”

Dampak yang jauh lebih kuat dari perkiraan Shin—lebih kuat dari yang pernah dialami unitnya dalam sekejap—mengguncang Undertaker. Ketika Shin menggertakkan giginya pada getaran yang hampir-hampir membuatnya menggigit lidah, satu pertanyaan memenuhi benaknya.

Fase Dua?

Seketika itu, beberapa kerlip yang mewakili dua unit Juggernaut-nya menggelap di layar statusnya. Kerlip itu adalah …

“Shana?!”

“Mereka musuh?!”

Shin mengamati hutan di sekitar mereka dengan sensor optik Undertaker, tapi tidak ada tanda-tanda unit musuh. Akan tetapi, radar serta sensor optik unit pendampingnya mendeteksi keberadaan musuh, mentransmisikannya ke radar Undertaker lewat tautan data.

Unit tersebut tak terdaftar di basis datanya. Unit tak dikenal.

Unit musuh …. Tidak, pasukan musuh.

Operasi ini patrol sederhana, dijadwal akan segera berakhir begitu mereka memasuki wilayah musuh. Menurut pengarahan pramisi, tidak ada pasukan musuh dikerahkan di dekatnya, dan tak diprediksi adanya pertempuran.

Shin memeras otak, kemudian menggeleng kepala. Situasi di medan perang itu dinamis, senantiasa berubah-ubah. Terutama di medan berkabut ini, di mana kabut tebal mengaburkan pergerakan musuh.

Di ujung penglihatannya, dia melihat bayangan terdiam di tengah hutan. Seketika dia sadari, bayangan tersebut menggeser posisinya lalu berlindung di antara pepohonan, tetapi Undertaker melepaskan tembakan ke arahnya.

Mengubah kecepatan 1.600 meter per detik menjadi kekuatan menusuk, lanset tungsten berdiameter 30 meter meledakkan pepohonan tempat musuh berlindung, menghancurkan apa pun yang bersembunyi di baliknya. Dampak hulu ledak dikurangi pohon-pohon, tapi masih beresonansi dengan semua hal yang menyaksikannya.

Lapis baja musuh tampaknya tidak tebal. Barangkali mirip Juggernaut dan Reginleif.

Tetapi di sisi lain, kerlip-kerlip unit pendamping Shin mati satu demi satu. Sepuluh orang telah kehilangan sinyalnya. Dia menyipitkan mata, mengejutkannya, bahkan kerlip Cylcops-nya Shiden hilang. Mungkin ini penyergapan, pasukan musuh pasti cukup besar hingga mampu melakukan kerusakan sebanyak ini.

“—semua unit.”

Dia tidak bisa mendengar lolongan musuh ini. Jadi dia sambil mengawasi baik-baik lewat layar optik.

“Musuh bergerak dengan kecepatan tinggi, tetapi lapis baja mereka tipis. Jangan risaukan tempat berlindung mereka, tembak saja. Jangan andalkan panduanku juga. Pertahankan formasi kalian dan teruskan pencarian—”

Sesosok bayangan melintasi kaki Undertaker. Bukan berbentuk laba-laba merayap tanpa kepala layaknya Juggernaut. Itu jenis hewan berkaki empat besar—jenis unit berbeda.

“…!”

Sepintas setelah Undertaker melompat menjauh, getaran menjalar di tanah. Lanset logam yang nampak mirip tiang besi ditusuk di titik yang ditapaki Undertaker kurang dari sedetik lalu, mengirim semburan tanah seakan-akan area tersebut diinjak raksasa.

Lanset frekuensi tinggi.

Sebagaimana pemancang Reginleif, lanset tersebut dilengkapi mekanisme ledakan yang mendorongnya ke musuh dari jarak dekat menggunakan bahan peledak.

“—ooh!” sebuah suara memenuhi kokpit Undertaker.

Shin menyipitkan mata. Suara tersebut dimiliki orang dalam unit musuh itu. Si Operator bicara dengan pengeras suara eksternal yang sengaja dinyalakan agar Shin dapat mendengarnya. Suaranya indah, suara alto seperti dering alat musik.

Unit musuh mendarat, wujudnya cokelat tua bak serigala. Basis data masih menampilkan bahwa ia adalah unit tak dikenal. Eksteriornya menyerupai griffin. Di bahu kanannya ada lanset frekuensi tinggi, berkilauan bak taring binatang buas. Rel peluncurnya ditarik kembali, lalu lansetnya kembali ke titik perkusinya dengan suara dentuman logam berat.

Unit itu sepertinya melompat dari tebing di belakang pepohonan. Manuver ini tak sanggup ditiru Reginleif. Reginleif adalah unit yang mengutamakan mobilitas tinggi, tapi desainnya untuk pertempuran di medan datar, hutan, serta area perkotaan. Unit ini, di sisi lain, membanggakan dirinya pada mobilitas vertikal.

Kedua sensor optiknya—bagaikan mata hewan—bersinar mengejek ke Undertaker.

“Ooh, kau bahkan menghindari serangan yang dilancarkan di saat itu! Aku dengar kalian cuma bisa mendengar suara Legion!”

Shin menyipitkan mata. Tak seperti sekutunya yang hampir tidak tahu apa-apa mengenai lawan mereka, musuhnya tampak serba informasi. Tetapi tidak berpengaruh besar.

“… pikirmu, hanya karena aku tidak mampu mendengarmu, aku takkan bisa membaca polamu?”

Mengikuti instruksi selama pengarahan, Shin mematikan komunikasi radionya dan tetap terhubung ke para Prosesor lain hanya lewat Para-RAID. Karena itulah, yang baru dikatakannya tidak sampai telinga musuh. Ini bukan respon; dia cuma bergumam sendiri.

“Jangan remehkan aku.”

86 menonton takjub pertempurannya. Pada medan perang berhutan hijau yang ditampilkan di layar optik mereka, dua senjata lapis baja saling bertarung dalam pertempuran yang nyaris seimbang.

Ya, mereka sama-sama setara.

Dan itulah yang membuat 86 tak sanggup berkata-kata. Mereka semua adalah Penyandang Nama, tapi Shin-lah nomor satu di antara semuanya. Kini, sang Pencabut Nyawa mereka dapat sendirian mengalahkan Dinosauria.

Dan seseorang menyetarainya. Di pertempuran jarak dekat, bidang keahliannya lagi. Ini pertama kalinya mereka melihat hal semacam itu.

Dan hal sama berlaku untuk orang-orang di unit musuh. Mereka tidak percaya ada orang yang bisa menyamai putri heroik mereka, Anna Maria serta tarian lansetnya.

Mirip Reginleif, konsep desain unit musuh didasarkan pada pertempuran mobilitas tinggi. Ia bertarung selincah Reginleif yang membualkan kecepatan tempur yang akan melukai Operator tidak berpengalaman manapun.

Phönix lebih cepat, pikir Shin lewat kesadaran tenangnya.

Dia mengoperasikan Reginleif sekarang, tetapi nyaris selama tujuh tahun pengalaman tempurnya, Shin mempilot Juggernaut. Unit lambat dan kikuk yang kinerjanya teramat-amat menyedihkan, 86 mengejeknya dengan meneybutnya peti mati berjalan. Dan Shin terbiasa melawan Legion terlampau lincah dalam rig lemah dan lamban tersebut.

Lantas sekarang ini dia menggunakan unit dengan performa yang setimpal dengan lawannya, dia takkan lengah.

Begitu lanset frekuensi tinggi ditembak menujunya, Shin menyerang maju dari posisi jongkok, alhasil senjatanya cuma menembus udara kosong. Selagi bersilangan dengan unit musuh, Undertaker mengayun bilah frekuensi tingginya, memotong rel tembak di tengah ayunannya. Tanpa jeda, dia ganti posisi bilah kemudian menebas tubuh unit musuh.

Griffin itu mengelak dengan melompat menjauh, lalu dikejar dan jaraknya ditutup Shin. Griffin itu menendang tanah lagi, menembak jangkar kawat selanjutnya ditarik tuk menambah kecepatannya.

Turet kaliber panjang 88 mm milik Juggernaut berada dalam jarak tembak, dan sekadar diinjak pemancang di kakinya akan memberi serangan besar. Dan tatkala Feldreß mendarat, perlu waktu sesaat biar sistem penyangga juga persendiannya menyerap dampak. Maka dari itu, walau melihat sang Undertaker maju, griffin tersebut semestinya tidak bisa bergerak langsung.

Seharusnya tidak sanggup bergerak.

Si griffin mencibir ganas ke Undertaker. Selagi melompat menjauh, ia mengangkat salah satu kaki belakangnya yang terjepit kawat kuat yang memanjang sebelum kaki lainnya mendarat. Membuat rig griffin berputar di tempat dengan kaki sebagai porosnya. Kawatnya mencapai Undertaker lalu melilit kakinya.

“…?!”

Undertaker ditarik maju, kehilangan keseimbangan. Akselerasi unit musuh dibatasi sebab menarik Undertaker, hasilnya kedua unit tersebut bertabrakan lebih cepat dari perkiraan. Lebih cepat dari reaksi Shin, musuhnya menginjak bagian belakang pedang frekuensi tinggi Undertaker yang tumpul, menghentikan ayunannya.

Sekalipun begitu, dua kaki depan Undertaker mengenai blok kokpit bengkok musuh, ujungnya hampir menyentuh lapis baja.

Pemilihan persenjataan, ganti. Memicu.

Pemancang di dua kaki depannya secara akurat menembus blok kokpit musuh. Dan seketika itu, turet laras pendek musuh yang menekan lapis baja Undertaker, melolong.

Ж

<<Operasi Selesai.>>

Ж

<<Unit pribadi, rusak parah.>>

<<Unit pendamping yang bertahan: 5.>>

<<Unit musuh tersisa: 0.>>

Melihat momen-momen skor akhir ditampilkan di depannya. Shin membuka kanopi simulator. Tidak mencantumkan hasil akhir musuh terakhir yang dilawannya, tapi mungkin saja berakhir dengan kematian dua-duanya. Lebih tepatnya, Shin dipaksa membuat bentrokan mereka berujung sama-sama mati …. Atau mungkin memaksa musuh melakukannya.

  Bagaimanapun, Shin meninggalkan simulator yang dirancang sama seperti kokpit Reginleif dan bersandar di sasis7 yang disederhanakan, menghembuskan napas panjang. Ini simulator Armée Furieuse—persenjataan yang baru selesai dirancang untuk Reginleif. Sisihkan Fase Dua—latih tanding yang dijejalkan ke mereka—pikir Shin.

Bakalan susah sampai aku terbiasa …

Dia tidak terbiasa dengan akselerasi sekuat itu. Membuatnya merasa ibarat semua darah dan organ di tubuhnya tengah disedot, dan itu pertama kalinya dia merasakan sensasi semacam ini sejak lama sekali. Kelima indranya teramat-amat tidak seimbang sampai-sampai dia tidak tahu mesti menghadap ke arah mana.

Di ruang pelatihan virtual dekat simulator, sebuah kapsul yang Shin pikir kosong, membuka kanopinya, dan Operator lain bangkit dari sana. Barangkali demi meningkatkan operabilitas unit mereka, Feldreß Aliansi punya sistem kendali yang ditingkatkan dengan dihubungkan langsung ke sistem saraf Operator.

Dicabut kabel yang terhubung di sepanjang tulang belakang sampai leher Operator, ujung berbelit-belitnya berputar bak ular sewaktu jatuh lemas ke bagian dalam kokpit. Seolah melanjutkannya, Operator itu menggerai rambutnya, membiarkan rambut hitam panjangnya mengalir sampai pinggang.

“… kudengar kau jago, tapi …”

“Sang ratu diam seperti biasa, tapi rupanya mempertemukan dia dengan ratu ada efeknya.”

Mereka melihat ke bawah menuju ruang latihan virtual dari balik dinding kaca ruang pertemuan. Wanita tua yang berdiri di sebelah Grethe bicara. Rambut panjangnya diwarnai merah, matanya biru Sapphira. Postur tubuhnya tegap, seolah-olah dia dibuat dari besi sampai inti tubuhnya.

Letnan Jenderal Bel Aegis. Komandan Tertinggi pasukan pertahanan utara militer Aliansi. Dialah wanita yang menghadiri dewan penaklukan Morpho sebagai perwakilan Aliansi.

“Rekaman dari interogasi kemarin telah dianalisis, hasilnya menunjukkan ia bergerak sedikit setelah Kapten Nouzen panggil. Boleh jadi kita anggap itu reaksi terhadap panggilannya.”

Sejak Aliansi didirikan, negaranya mempraktikkan wajib militer universal. Tak pernah mendasarkan tentaranya pada laki-laki semata, dan karena itulah, ada sedikit perbedaan antara perilaku pria dan wanita di Aliansi. Tentara, khususnya, memilih menggunakan kata-kata ringkas yang singkat agar tidak mempersulit penyampaian perintah. Jadi sulit membedakan gender tentara hanya dari cara mereka berbicara.

“… dia target berharga bagi Legion. Bisa jadi itulah alasan reaksinya.”

“Saya tidak meminta Anda untuk memerintahkannya berdiri tepat di depannya.”

“Dan aku tak bermaksud memerintahkannya melakukan itu …. Tapi jika dia berkenan, takkan aku hentikan.”

Sekilas, seutas benang tensi—tipis sekali sampai-sampai bisa putus sekali sentuh—tergantung di antara kedua perwira wanita itu.

“Letnan Jenderal Aegis …. Perihal permasalahan itu … saya mendapatinya sulit. Dia adalah bawahan saya, jadi saya pinta Anda menginformasikan saya sebelum mengatur pertemuan apa pun.”

Mereka hanya datang ke Aliansi karena kalian perwira Federasi bersikukuh …. Aliansi adalah negara netral. Kami tidak memihak siapa-siapa.”

Pengecualian satu-satunya adalah ketika harus melawan Legion, musuh bersama bagi seluruh umat manusia. Namun bukan berarti mereka tak punya pandangan sendiri. Melihat 86 di bawah, Letnan Jenderal Aegis bicara bahkan tanpa melirik Grethe. Ekspresinya seperti nenek tegas menatap cucu-cucunya yang sedang bermain di halaman.

“Kolonel, aku semata-mata bicara sendiri sekarang, tapi … beberapa hari silam, kau memastikan kelangsungan sejumlah negara kecil di sebelah barat Republik, benar?”

Pasukan ekspedisi bantuan Federasi masih diposisikan di Republik, bertarung tuk merebut kembali wilayah utaranya. Kerajaan Bersatu juga ditempatkan di bagian barat Republik. Keduanya berhasil berkomunikasi dengan negara-negara itu dan stabil mempertahankan pertukaran informasi.

“Negara itu sungguh-sungguh keji. Namun jika kita terlalu dingin memperlakukan mereka, nantinya mungkin akan menyerahkan diri pada negara gila di ujung barat sana.”

jadi begitu sudut pandang Anda.

“Kami berterima aksih atas simpati Anda, Letnan Jenderal Aegis.”

Seseorang mendekat, sepatu bot militernya berbunyi klik di lantai. Selagi berjalan, mulusnya melepas pita rambut dengan gerakan terlatih, membiarkan rambutnya terurai di punggungnya bagaikan air terjun gelap.

“Tidak kubayangkan usaha terbaikku cuma dapat mengakhiri pertempuran ini dengan saling membunuh … Kau hebat banget.”

Suara mirip alto nan indahnya ada gema-gemanya, barangkali karena material dindingnya. Suara menawan jelas yang terbiasa memberi perintah. Bau mawar bulan Juni tercium dari seragam Aliansi berwarna musim gugur yang cocok dengan wajah androgininya. Terlampau mirip Anna Maria, putri heroik perang kemerdekaan Aliansi, yang turun ke medan perang berpakaian pria.

Shin tahu wajahnya. Ketika mereka diberi pengarahan tentang simulasinya, orang ini bergabung sebagai bagian personel yang dikerahkan ke Divisi Penyerang, jadi dia pernah melihatnya sebelumnya. Kalau tidak salah, namanya …

“Biarkan aku memperkenalkan diri. Aku Kapten Olivia Aegis, penasihat akademismu sehubungan pengoperasian Armée Furieuse …. Barusan pertandingan luar biasa.”

“Saya pernah mendengar Anda, Kapten Aegis. Saya Kapten Shinei Nouzen dari Divisi Lapis Baja Ke-1 Divisi Penyerang.”

“Senang berkenalan denganmu …. Oh, dan kau boleh memanggilku Olivia. Tidak perlu formalitas. Mungkin aku lebih tua darimu, tapi pangkat kita berdua sama,” kata Kapten Olivia sambil memiringkan kepala sedikit. “Atau mungkinkah kau sebetulnya lebih berpengalaman dariku? Dengar-dengar 86 direkrut pada usia muda, dan kau sudah dianggap kapten karena dirimulah pemimpinnya. Jika boleh tahu, berapa umurmu saat itu …?”

“Benar, pangkat tidak berarti apa-apa di Sektor 86. Sebenarnya, aku tidak yakin-yakin amat itu betulan masuk tugas aktifku atau tidak.”

“Jangan kaku-kaku banget …. Jadi berapa umurmu saat itu?”

“… dulu aku dua belas tahun. Sudah enam tahun sejak aku masuk militer.” “Begitu …. Aku sudah tidak sopan, Kapten Nouzen, Pak.”

Olivia memberi hormat bercanda. Menatapnya, Shin menyeringai. Bahkan dia pun tahu Olivia berusaha mencairkan suasana.

“Aku akui waktu mereka memberi tahu kami akan latihan simulasi untuk merasakan mobilitas Mantelnya, tidak kusangka akan jadi latih tanding,” ujar Shin.

“Oh? Bukannya mereka jelaskan selama pengarahan? Di pertempuran nyata, kau kemungkinan besar selalu menghadapi Legion setelah mengerahkan Mantel. Jadi selama simulasi ini, Anna Maria-ku dan Stollenwurm Aliansi kami berperan sebagai penyerang kalian.”

“Tidak, kami tidak mendengarnya.”

“Aduh …. Itu kesalahan pihakku. Sepertinya aku lalai memberitahumu bagian itu.”

Olivia mengalihkan pandangannya sedikit, nada dan ekspresinya memperjelas kalau dia bohong terang-terangan. Mereka dari awal rencananya meluncurkan serangan kejutan.

“Manuver terakhir yang dilakukan Anna Maria. Mustahil kau lakukan misal tidak sepenuhnya yakin kau tahu tindakanku. Boleh tahu caranya?”

Cara Anna Maria menggunakan jangkar kawatnya ketika mendarat tuk menjerat Undertaker lalu menutup jarak. Katanya adrenalin kadang-kadang membuat orang merasa kalau waktu bergerak lambat, tapi keputusan ini ditetapkan kurang dari sedetik. Ibarat Olivia meramalkan segalanya sebelum menembakkan jangkarnya.

“Maaf, tapi itu informasi rahasia. Bisa aku beri tahu, tapi syaratnya adalah ketika dan jika kau menjadi lawanku. Saat kau kalah dariku terus mati dalam pertempuran.”

“…”

“Canda …. Alasannya sama sepertimu. Akulah yang mereka panggil Cenayang.”

Mata biru Oliva menatap geli diri Shin. Warna tua unik—biru Safira. Merekalah ciri keturunan bangsawan Adularia. Dengan kata lain, garis keturunan yang punya kemampuan supernatural mengalir di nadinya dari generasi ke generasi. Mungkin saja rambut hitam tinta Olivia mewakili keturunan Jet juga.

“Klan ayahku dulunya klan pejuang di wilayah Rinka. Mereka punya kekuatan penglihatan masa depan. Seiring waktunya, garis keturunan bercampur lalu menipis. Aku cuma bisa melihat tiga detik ke depan.”

“Dan itu caramu …”

Stollenwurm Olivia, Anna Maria, adalah model yang dimodifikasi dan dioptimalkan untuk pertempuran jarak dekat. Gaya bertarung tak umum dalam peperangan masa kini, pikir Shin, entah bagaimana buta terhadap kelainannya sendiri.

Tetapi tiga detik di tengah pertempuran memberi keuntungan besar. Khususnya di pertarungan jarak dekat, mampu melihat tiga detik selanjutnya bisa membuat perbedaan besar.

Selagi Shin mulai merenungkan dia mesti melakukan apa bila menghadapi musuh semacam ini dalam pertempuran, Olivia tersenyum, bak membaca pikirannya.

“Wajahmu bilang kalau kau sedang memikirkan cara mengalahkanku di kali lain, Kapten. Sekilas, kau tampil datar dan tenang, tapi kau mengejutkannya kompetitif, bukan?”

“… aku sulit menerima kekalahan.”

Shin tak punya ilusi kekanakan seperti menjadi lebih kuat dari semua orang, tapi … semenjak dia mendapat posisi kapten, dia tak pernah menyerahkannya ke siapa pun.

“Aku tidak yakin pertandingan kecil kita berakhir kalah bagi kedua belah pihak. Sama-sama saling membunuh …. Namun mungkin sikap keras kepala itulah yang membuatmu mengembangkan keahlian sebanyak itu dan menggapai segala halnya. Kudengar, di akhir perang, kau sendirian menghabisi unit baru Legion, Phönix.”

Shin menatap tajam Olivia, kemudian si kapten Aliansi cuma mengangkat bahu. “Aliansi itu mengumpulkan informasi semua negara asing,” tukas Olivia sembari tersenyum, tetapi ada sedikit kekesalan pada kata-katanya.

Seakan-akan menahan amarah yang tertanam dalam.

“Kami akhirnya mulai melunasi hutang dengan pengembangan Armée Furieuse, tapi sampai sekarang, Kamilah yang secara sepihak menerima informasi dan teknologi dari Federasi serta Kerajaan Bersatu. Walaupun kami bersyukur, kami sejujurnya juga sedikit kesal dengan ini …. Tak ada hormat-hormatnya menerima sedekah.”

“Ya ampun, mohon maaf menganggu saat Anda sedang cuti, Kolonel Milizé. Dan terima kasih sudah meluangkan waktu sekalipun permintaan pertemuan saya tiba-tiba.”

“… tidak apa.”

Mereka berada di ruang pemandian yang letaknya jauh dari bangunan utama resor. Tempatnya dilengkapi gaya kemerah-merahan yang mengingatkan arsitektur kuno. Disertai meja yang diwarnai ungu Tyrian sintetis, Lena berbasa-basi bersama tamunya yang sama sekali tidak disambut

Seorang tamu mengenakan seragam biru Prusia sama seperti halnya yang dia kenakan. Seragam Republik.

“Saya sudah mendengar banyak prestasi Anda, Kolonel. Bagaimana Anda membantu bebeaskan wilayah Republik yang dipenuhi monster-monster logam tersebut—serta bantuan yang Anda berikan kepada Federasi. Luar biasa, hebat. Anda memang dewi pejuang yang Republik kita banggakan. Kedatangan kedua Saint Magnolia.”

“Kesemuanya berkat kekuatan Federasi dan Divisi Penyerang mereka—juga bantuan Kerajaan Bersatu. Dan paling pentingnya, penghargaan itu diberikan kepada para Prosesor Divisi Penyerang. Ini bukan tentang saya, Letnan Kolonel.”

“Apa maksud Anda? Semua orang di tanah air, termasuk saya, tahu kebenarannya.”

Pria paruh baya berlambang pangkat letnan kolonel ini membungkukkan badan gemuknya kepada Lena, yang cukup muda untuk jadi putrinya.

Rupanya, dia ialah seorang guru sebelum Perang Legion. Wajah bulatnya fokus tersenyum tulus dan ramah bermaksud menenangkan anak-anak.

“Kesatria Patriotik memang benar. Selama mereka betul-betul dikelola perwira cakap Republik, bahkan 86 rendahan dapat menjadi metode tepat untuk melawan Legion.”

Ekspresi Lena sedikit berubah. Lagi. Mereka lakukan lagi. Kata-kata itu terus saja keluar—kata-kata yang menghancurkan Lena oleh beban rasa jijik dan kebencian. Bukan kepada dirinya melainkan kepada orang lain.

“Andalah perwujudan persisnya, Kolonel Vladilena Milizé. Fakta unit 86 ini membuat langkah tak tertandingi pada Perang Legion di bawah komando Anda adalah bukti tak terbantahkannya.”

“…!”

Rasanya seolah kepalanya dihantam dampak kata-kata itu. Inilah ideologi Kesatria Patriotik—atau Para Pemutih, nama ejeknya 86 kepada fraksi itu. Alba Republik adalah ras superior, dan San Magnolia takkan kalah selama mereka diizinkan menguasai 86 inferior.

Membuatnya merasa malu dan jijik. Tapi bagian paling mengerikannya adalah dia … Lena, dari semua orang … dijadikan penyangga bukti omong kosong fanatik yang tidak realistis ini …

“Ugh …”

Kejutan dan amarah semuanya membuat rahangnya menegang, tapi dia entah bagaimana berhasil bicara.

“Akan saya katakan sebanyak mungkin. Divisi Penyerang 86 adalah unit yang dibawahi militer Federasi. Tentara anak-anak yang kalian panggil 86 adalah warga Federasi dan tentara yang masuk militer Federasi. Saya yang menjadi tentara Republik bukan berarti—”

“Mereka bilang, ribuan orang mati untuk membuat satu orang pahlawan, Kolonel Milizé. Jasa tidak diberikan kepada para prajuritnya melainkan kepada komandan mereka. Divisi Penyerang telah terkemuka di bawah komando Anda, alhasil pencapaiannya adalah milik Anda—dan selanjutnya, adalah milik Republik. Kita tidak boleh membiarkan Federasi terus mengambil semuanya dari kita. Penghargaan … dan 86 … takkan lama lagi akan dimiliki kita.”

“Federasi menawarkan suaka kepada 86 dari persekusi Republik!”

“Kata suaka punya arti yang menenteramkan, tetapi tidak membenarkan perampasan properti negara lain! Mereka boleh panggil kita tidak manusiawi karena memperlakukan babi selayaknya babi. Tapi apakah itu artinya mereka boleh bebasnya mengambil apa yang semestinya kita miliki?! Sungguh gagasan tidak masuk akal!!”

“86 …. Mereka bukanlah hewan ternak, bukan pula properti. Mereka manusia! Anda tidak bisa—”

Membanting tangannya ke meja, dia membungkam Lena. Letnan kolonel itu condong maju, menatap tajam ke arahnya. Putus asa.

“… Tolong hapus fitnah ini. Semua yang baru Anda katakan adalah propaganda, yang dibuat Federasi tuk mempermalukan kita. Itu bukan hal-hal yang mestinya terucap dari bibir warnga negara Republik seperti Anda.”

“…”

A … aku …

“Tolong, Kolonel. Kami memohon kerja sama Anda. Saya tidak mau mengirim murid-murid saya ke medan perang. Saya tidak ingin melihat satu pun dari mereka mati.”

Biarpun ganjarannya mengirim 86 ke kematian mereka. Lagi.

Aaah … Lena tersadar, hatinya diisi kesedihan.

Bahkan kini, seelah sekian lama, sesudah semua yang terjadi, warga negara masih tidak mengakui hak asasi manusia 86. Dan Lena akhirnya menyadari alasan mereka memihak Pemutih.

Itu karena bila mereka tidak mengembalikan 86, merekalah yang mesti turun ke medan perang.

Sistem Sektor 86 dimaksudkan untuk menjaga kedamaian dan ketertiban Republik, dan mereka mau melihatnya dipulihkan. Sebab kalau tidak, kali ini merekalah yang harusnya melangkah ke medan perang dengan kematian pasti tuk melawan Legion.

Dan mereka memanfaatkanku … aku dari semua orang … sebagai bukti kalau sistem tidak bermoral yang buruk ini bekerja …?

Lena merosot ke sofa, tidak mampu berkata-kata. Keputusasaan, kekecewaan, dan pening menguasainya sekaligus.

Semua ini karena aku. Aku … gampangan sekali. Gara-gara aku, prajurit membanggakan itu akan dipanggil babi berbentuk manusia lagi.

“Kolonel, Anda warga Republik juga. Apakah Anda tidak mencintai tanah air Anda? Anda tidak mungkin menyarankan kami mengirim anak-anak tanpa dosa kita ke medan perang!”

Suara sepatu bot militer yang berdecit di lantai mengganggu perdebatan mereka selagi seseorang menghampiri letnan kolonel, cukup dekat sampai-sampai hampir tidak sopan.

“Aku mungkin tidak punya tanah air, tapi bahkan aku pun paham orang-orang merasa loyal pada negeri mereka. Kendatipun aku sendiri tidak merasa begitu.”

Lena menegang ketika mendengar suara itu. Tidak disangka dia orangnya. Biasanya, langkah kakinya tidak bersuara, dan Lena pikir dia sedang berada di pangkalan luar terdekat.

“Tapi menurutku mengirim orang lain untuk mati demi negaramu lalu menyebutnya patriotisme adalah konklusi yang terlalu kurang dasarnya.”

Dia Shin, dengan nada tenang dan tatapan santainya. “Shi …. Kapten. Err, kukira kau sedang latihan di luar …”

“Kami sudah selesai latihan …. Dan saat aku kembali, Maskot kami bilang kau kedapatan tamu aneh. Jadi kupikir mesti memperkenalkan diri.”

Alih-alih lega, Lena malah sangat malu, dia harap tanah bakalan terbuka terus menelannya. Shin dengar sampai mana? Apa dia mendengar alasan pria di depannya, mengenakan seragam sama seperti Lena, sedang terus-terusan mengejek dan merendahkan 86?

Dan misalkan Shin mendengar semua itu, perasaannya sekarang bagaimana?

Letnan kolonel malah kontras, dia menatap bingung Shin. Ekspresinya ekspresi seorang pria yang barusan digonggong sesuatu yang dipikirnya anjing patuh.

“Kau salah satu 86 yang digembala Kolonel? Melihatmu berpakaian layaknya manusia itu menyesatkan …. Ini percakapan antar manusia. Jangan kurang ajar, sana pergi.”

“Benar, sesuai katamu. Aku seorang 86. Tapi …. Tidak, karena akulah seorang 86 …”

Ucap Shin tenang. Tiada amarah pada perkataannya. Dia bicara ibarat semata-mata menyatakan hal jelas.

“… kenapa juga aku diam saja membiarkanmu menghinaku, warga negara Republik. Bukan kau atau orang lain.”

Lena menatap kagum Shin. Inilah sesuatu yang belum pernah dia katakan sebelumnya. Hingga sekarang, dia sekadar mengabaikan semua cemooh yang diarahkan kepadanya, bertingkah seakan-akan tidak terganggu. Dia akan bilang tidak ada gunanya tersinggung atau menanggapi apa pun yang diucapkan babi putih. Karena apa pun yang mungkin dia katakan, mereka takkan paham. Karena penjelasan sebagaimanapun takkan membuat mereka mengerti kalau mereka salah.

Babi-babi bodoh itu pura-pura bisa bicara, namun sebenarnya mereka tidak mengerti apa pun yang dikatakan kepadanya. Dan sampai titik tertentu, Shin masih percaya ini. Tapi terlepas dari itu, dia takkan lagi mentoleransi penghinaan ini lagi. Suara dan mata tenang Shin mengucapkannya dengan kejam.

“Jangan kurang—”

“Aku tahu pasti posisiku, dan karena itulah aku bicara padamu. Aku bukan ternak, bukan pula komponen drone …. Sama seperti kalian yang bukan spesies lebih tinggi. Kalian hanyalah warga negara tolol yang tewas waktu serangan skala besar.”

Letnan kolonel berjalan pergi, melontarkan kata-kata kasar dan sumpah-serapah sampai mengajukan keluhan ke Federasi atas penghinaan ini. Shin cuma melihat kepergiannya, matanya benar-benar tak memedulikan semua itu.

“Komplain soal noda kotor kepada Federasi yang terdiri dari orang-orang yang mewakili semua warna. Orang itu tidak berpikir dulu sebelum bicara?”

“… Shin, maaf,” kata Lena seraya menundukkan kepala.

“Tidak usah meminta maaf. Sudah kubilang sebelumnya: Kata-kata orang sepertinya takkan memengaruhiku.”

“…”

Tangan Lena yang bertumpu di pinggangnya, kuat-kuat mencengkeram keliman rok seragam Republik biru Prusia. Pada saat ini, fakta seragamnya berbeda warna dengan seragam Shin kelewat sulit diabaikan.

“Tetap saja … maafkan aku.”

“… takkan kuhentikan kalau mau meminta maaf sesering itu, dan jika bersikeras bahwa kau sama saja dengan warga republik lainnya, takkan aku bantah …. Tapi …”

Lena mendongak, kemudian tatapannya bersilangan mata merah darahnya. Kepala menunduk Lena tercermin di matanya, dan ada sedikit kesedihan serta kecemasan di matanya. Emosi di matanya tulus.

“Kau mungkin seorang wanita Republik, tapi di saat yang sama, kaulah ratu 86. Tolong jangan sangkal itu. Jangan sekarang.”

“Waduh, Shinei …. Kau betulan jadi sosok jantan yang gagah berani, ya?”

“Bukannya menurutmu itu tidak sopan? Aku akan berhenti kalau jadi kau.”

Duduk di atas sofa berkaki singa, adalah Frederica, mengangguk bijaksana sementara mata merahnya berkilauan. Di sebelahnya, Vika, memotong kata-kata Frederica, merasa jengkel sepenuhnya. Monitor terminal seluler di tangannya mendeteksi matanya sudah beralih darinya dan otomatis mematikan hologram yang diproyeksikannya.

“Aku paham kau khawatir sama Nouzen, terutama mengingat kejadian di Kerajaan Bersatu. Tapi bukannya sudah waktunya kau berhenti terlalu nempel ke kakakmu?”

“Aku mengawasinya doang!” Frederica membalas galak.

Vika sedikit kesal menatapnya. Dia kaget Shin bisa tahan sama tingkah maskot nakal ini. Mereka barangkali punya mata merah darah dan rambut hitam sama, tapi mereka bukan saudara kandung.

… dan itu membuat Vika bertanya-tanya. Dari awal kenapa gadis ini dibawa ke Divisi Penyerang? Vika tahu pasukan Kekaisaran juga pernah mengerahkan Maskot dan dia berasumsi gadis ini dilahirkan karena nafsu tak terkendali bangsawan kelas atas. Tapi kenapa mengirimnya ke unit ini?

“Yah, kurasa menguping lebih lama lagi memang membuatku tidak sopan …” ucap Frederica, sembari menutup mata muramnya. “Shion dan yang lain bagaimana? Apa Divisi Penyerang kita tampil tanpa masalah dan menang?”

Letnan Satu Siri Shion dari Divisi Lapis Baja Ke-2 sekarang ini menggantikan Shin sebagai komandan operasi Divisi Penyerang. Di bawah komando mereka, Divisi Penyerang Ke-2 dan Ke-3 dikerahkan menuju negara-negara cekungan di pantai utara. Vika menonton laporan pertempuran mereka di program berita terminal informasinya sampai sekarang.

“Delapan puluh persen tujuan awal mereka selesai, kelihatannya. Mereka harus menerobos lini musuh lagi, tapi …. Yah, memperhitungkan seberapa banyak tontonan yang dibuat berita itu, kurasa korban jiwanya tidak banyak.”

“…?”

“Sekurang-kurangnya yang diketahui publik, Divisi Penyerang adalah kartu truf Federasi untuk melawan ancaman Legion. Dan mengetahui akhir perang masih belum di depan mata, orang-orang takkan diperkenankan mendengar perjuangan mereka, apalagi jumlah korban jiwa. Federasi takkan mampu mempertahankan moral bila mereka membiarkan berita semacam itu keluar.”

Frederica mengerutkan alis, menangkap maksud Vika. Unit yang tidak boleh kalah—gagal dalam bertugas. Dengan kata lain …

“… mereka harus terus menjadi kumpulan pahlawan, maksudmu …”

“86 punya banyak faktor yang memudahkan mereka untuk dijadikan pahlawan.”

Sejarah yang menarik perhatian orang dan kekuatan elit. Serta … tragedi. Bahkan nama juru selamat sendiri takkan tercatat dalam sejarah seandainya tidak dihukum penyaliban.

“Bagaimana unitmu? Apa mereka baik-baik saja?” tanya Frederica.

“Tidak dilaporkan berita, tapi mereka barangkali baik-baik saja. Meski penampilannya begitu, wanita itu bisa diandalkan soal menyelesaikan tujuannya …. Kalau saja dia seandal itu jika tidak di medan perang.”

“Zashya, kan? Aku tentu memahami kekhawatiranmu tentang itu.”

Zashya adalah seorang mayor militer Kerajaan Bersatu yang dikerahkan ke Divisi Penyerang bersama Vika lalu menjabat sebagai wakil pemimpin resimennya. Vika yang berada di Aliansi, dia mengambil alih komando menggantikannya.

Dia itu seorang gadis mungil dengan kacamata ketinggalan zaman yang kebesaran. Dia bakalan tersandung sendiri setiap kali berjalan menyusuri koridor dan sering menjatuhkan semua dokumen yang dibawanya. Gadis tak bisa diandalkan dan pemalu yang selalu menangis sewaktu Vika keras-keras memarahi kesalahannya.

Kebetulan, Zashya bukan nama aslinya melainkan nama panggilan yang Vika berikan. Artinya gadis kelinci kecil, tapi 86 mengira itulah nama aslinya, jadi nama Mayor Zashya tidak berubah, biarpun kesalahpahaman itu sudah dibetulkan.

“Terlepas dari itu, bagaimanapun juga dia lulus dari akademi perwira khusus dengan peringkat satu. Termasuk kursus praktik …. Tapi kesampingkan saja …”

“… apa?” tanya Frederica, gemetar membayangkan gadis itu menjalani pelatihan perwira.

Vika mengabaikannya dan melanjutkan.

“Meresahkan pekerjaannya padahal sudah kupercayakan tugasku adalah perilaku buruk untuk seorang penguasa. Pokoknya aku percayakan dirinya mengurus berbagai hal.”

Frederica terdiam sesaat. Perilaku buruk untuk seorang penguasa. Untuk seorang raja. “Tapi pikirku kau tidak berniat mewarisi takhta.”

Frederica adalah seorang maharani tanpa wilayah atau bawahan. Tapi meski demikian, itikadnya bertindak layaknya penguasa. Hingga kini, dia belum sekali pun memenuhi tugas seorang maharani—dan itu membuatnya menyesal. Penyesalan yang tidak bisa dia beri tahu siapa-siapa.

“Dan meskipun ngotot kau tidak akan menjadi raja, kau masih bertindak selayaknya bagian keluarga kerajaan?”

Vika memiringkan kepala, kebingungan. Mengapa seorang gadis yang bukan seorang keluarga kerajaan bertanya begitu?

“Masih. Karena aku yakin demikianlah semestinya aku bertindak.”

Ж

Kendati orang paling sibuk, bahkan jadwal Shin ternyata sangat senggang. Di tengah sarapannya dia mendadak teringat hari itu punya waktu luang jadinya mengajak Lena pergi ke kota berdua saja.

“Kalau kau tidak ada kerjaan. Biar tidak jenuh.”

“Iya, aku lagi menganggur; ayo!” Lena mengangguk antusias. Kemuraman yang menyelimuti kepalanya semenjak kunjungan letnan komandan itu sudah tidak ada lagi.

Untuk menjambangi kota paling dekat dengan hotel, mereka perlu menyeberang danau. Mereka naik salah satu kapal feri yang mengantar pulang-pergi penumpang, tidak seperti trem atau metro, setelahnya melihat atap-atap merah khas perkotaan Aliansi yang mulai kelihatan.

Baik Shin maupun Lena tidak memilih kota ini karena suatu alasan. Mereka membeli semacam manisan dingin dari salah satu kios yang didirikan di sepanjang alun-alun utama lalu menyaksikan seorang seniman jalan menyuruh kucing peliharaannya menari-nari. Lena menghabiskan banyak waktu menatap boneka buatan tangan yang aneh.

“… pikirmu aku bisa mengajari TP melakukan trik-trik semacam itu? Lompat terus jungkir balik semacamnya?

“TP mungkin bisa, tapi kurasa kau tidak bisa teratur melatihnya. Nanti kau manjakan,” kata Shin menggoda.

“… hmph,” dengus Lena. “Aku tidak memanjakannya. Kau saja yang dingin banget. Tapi dia masih lebih menyukaimu. Menurutku, itu tidak adil.”

 Reaksi sebal Lena membuat Shin terkekeh. Mendengarnya tertawa membuat Lena sungguh bahagia, tidak lama kemudian, dia cekikikan juga. Ada Prosesor-Prosesor lain yang datang berkunjung buat santuy-santuy, dan sesekali, keduanya mendapati wajah familier di kerumunan orang.

“Hei, itu Shin sama Lena,” kata mereka. “Coba manisan goreng yang mereka jual di sna.”

Menjadi tanah perdagangan dan niaga, budaya Aliansi telah campur aduk dengan negara-negara kecil di selatan pegunungan. Jadi kotanya cukup baru dan terasa tidak lazim bagi Lena dan Shin yang besar dan tinggal di kota-kota Republik serta Federasi.

Lena khususnya terbiasa sama dataran Liberté et Égalité, alhasi wilayah tak merata Aliansi dan kota yang dibangun di lereng curam merupakan perbedaan yang cukup menarik baginya.

Kebanyakan orang lewat adalah Caerulea berambut perak dan emas juga mata biru. Mengingatkannya akan Daiya, seorang pemuda yang tidak pernah dia temui, yang rupanya seorang Caerulea juga. Dialah yang pertama kali mengadopsi TP.

“Bahkan di Sektor 86 dulu, mereka bilang TP paling nempel denganmu …. Dia tidak dipanggil begitu dahulu, sih. Dan kita tidak kenal nama atau wajah satu sama lain.”

“Waktu itu, aku bertanya-tanya kapan kau capek bicara sama kami terus berhenti Beresonansi.”

Melihat ke depan, dia dapati Shin memasukkan beberapa kartu pos yang dia beli di toko souvenir ke tasnya. Ternyata, dia akan berikan ke kakek-neneknya. Kakek dari pihak ayah, Marquis Nouzen, dan nenek dari pihak ibu, Marquis Maika. Dia terus mengontaknya, namun karena dia baru bertemu mereka satu bulan lalu, segalanya masih sedikit canggung di antara mereka. Tapi tetap, mereka semua mencoba menjalin ikatan keluarga.

Dua tahun lalu, Shin pikir Lena adalah seorang gadis naif yang punya simpati berlebihan yang pura-pura jadi orang suci. Karenanya, dia cuma memanggilnya Handler One. Namun sekarang semuanya berbeda. Nyaris sama sebagaimana dia menghindari pertemuan dengan kakek-neneknya, saat ini dia mencoba lebih dekat dengan mereka.

Itu penyesuaian besar buat Shin. Dan melihatnya berubah menjadi lebih baik membuat Lena senang. Tapi … itu pun membuatnya merasa kesepian sedikit.

“Khususnya setelah kau mendengar suara Kaie, aku … cukup yakin kau takkan Beresonansi lagi.”

“Jujur saja … aku sedikit takut, jadi karena itulah butuh waktu lama untuk mengumpulkan keberanian.”

“Aku kaget. Bukan karena berapa lama waktu yang kau butuhkan, tapi fakta kaulah Handler satu-satunya yang Beresonansi denganku lagi meski mendengar banyak sekali suara Legion dari jarak sedekat itu.”

Shin menikmati pemandangan cakrawala musim panas yang sedingin sinarnya.

“… mengingatnya, kurasa baguslah kami tidak memaksamu menjauh.”

Nada ucapannya membuat jantung Lena berdebar kencang. Sebagian dirinya merasa dia tidak mampu mendengar apa pun yang harus Shin katakan sekarang ini. Lena masih belum siap …. Hatinya belum siap.

“E-err …”

“Huh, Nouzen.” suara seseorang tiba-tiba mengganggu percakapan mereka.

Orang itu Marchel. Shin berhenti, lalu Lena, yang tampaknya tadi tidak dilihat Marcel, sekarang baru kelihatan.

“… dan Lena. Uh, sepertinya kalian sedang melakukan sesuatu. Aku, anu, pergi dulu.”

“… tidak, tak apa …. Jangan khawatirkan,” kata Shin, memiringkan kepalanya ketika melihat toko berangka kayu yang atapnya merah di belakang Marcel. “Kau mendatangi toko aneh.”

Boneka binatang menggemaskan berjejer di etalase toko. Rupanya, itu toko mainan yang berfokus pada kerajinan tradisional Aliansi. Marcel, bermata tajam dan rambut berduri, hadir menonjol agak aneh di tengah-tengah boneka empuk halus kucing liar yang berjejeran di rak.

“Oh, ini? Aku baru sadar karena kita punya kesempatan buat pergi ke luar negeri, aku membelikan Nina hadiah. Bukannya aku suka ini …” tambahnya dengan murka, melihat-lihat berbagai boneka empuk itu.

Dia nampaknya bingung antara beli beberapa boneka kecil yang pas di genggaman tangannya atau yang lebih besar lagi di rak—besarnya sebesar gabungan beberapa boneka binatang tapi tidak terlalu berat untuk dibawa anak-anak.

Sehabis merenung beberapa waktu, Shin mengambil selembar uang dari dompetnya lalu menyerahkannya ke Marcel.

“Biar aku bantu juga.”

Marcel menatap heran dirinya sebentar, kemudian tersenyum.

“Boleh. Nanti kubilang ini dari teman kakaknya …. Takkan spesifik, biar dia tidak tahu.”

Marcel menambahkan bagian terakhirnya cepat-cepat, mengingat suatu peristiwa. Lena tidak paham maksudnya.

“… suatu hari, saat semuanya berakhir, kau harus menemuinya. Eugene terus menuliskan dirimu di suratnya, jadi nenek mereka mau menemuimu juga. Dan aku yakin Nina mau tahu tentangmu, saat dia cukup dewasa untuk mengingatnya. Meski, kupikir sebaiknya jangan kau beri tahu momen-momen terakhirnya.”

“Iya.” Shin tersenyum pahit lalu mengangkat bahu. “Pengennya dia tidak mendengar cerita buruk soal diriku lagi.”

“Yaelah … aku sudah minta maaf, bukan …? Omong-omong, maaf sudah menyela.”

Menarik salah satu boneka binatang yang lebih besar dari rak, Marcel pergi ke mesin kasir. Dia buka pintu kaca toko, dan seketika bel berbunyi, mereka mendengar sapaan si pramuniaga.

Lena yang tetap diam … lebih tepatnya, dipaksa tetap diam selama percakapan, mengajukan pertanyaan sewaktu melihat Marcel pergi.

“Kalian membicarakan siapa?”

Nina dan Eugene. Keduanya adalah nama yang asing baginya.

“Teman kami dari akademi perwira khusus—dan adik perempuannya … Ernst keras kepala kalau semua anggota skuadron Spearhead wajib pergi ke akademi perwira khusus beda-beda, dan di situlah aku bertemu dia.”

Kilas balik, Lena memang ingat bagaimana Shin, Raiden, Kurena, dan yang lainnya kelihatan punya kenalan prajurit di Rüstkammer dan berbagai pangkalan Federasi. Beberapanya prajurit berusia sama, dan beberapanya perwira nonkomisioner lebih tua yang ‘kan berterima kasih kepada Shin dan teman-teman karena sudah menyelamatkan hidup mereka suatu waktu. Lena tidak kenal satu pun orang-orang itu.

“Eugene gugur sebelum serangan skala besar, dan Marcel sepertinya kenal dia bahkan sebelum itu, jadi dia kenal Nina, adiknya. Aku pun kebetulan kenal dia juga.”

“…”

Inilah kisah yang tidak Lena ketahui, orang-orang yang belum pernah didengarnya. Dan begitu dia pikirkan, rasanya jelas menyakitkan. Sudah dua tahun semenjak Shin berangkat menyongsong misi Pengintaian Khusus dan sampai di Federasi. Dia habiskan dua tahun hidupnya di Federasi, dua tahun pengalaman serta hubungan manusia.

Tidak hanya Grethe dan Marcel. Dia membentuk ikatan dengan banyak orang yang Lena tidak kenal …. Bahkan di luar medan perang Sektor 86, dia mencoba menjalani hidupnya.

Kehidupan di Federasi …. Kehidupan tanpa Lena. Dan sekali lagi, entah kenapa … perasaan itu memenuhi dirinya dengan sedikit rasa kesepian.

“… kenapa kau datang langsung ke sini? Kau ‘kan kepala staf.”

“Kau serius bertanya begitu, Grethe? Kaulah yang melaporkan seorang perwira Republik mendatangi tempat ini, tanpa lebih dulu memberi tahu Federasi.”

Sorot mata Grethe tertuju ke kepala staf, Willem Ehrenfried, yang tengah duduk sendirian di sofa menyebarkan aura tenang santai sambil tersenyum sedikit. Salah satu kamar hotel buru-buru disiapkan atas kunjungannya.

“Kalau kau ingat, akulah yang mengatur perjalanan ini. Weißhaare tidak tahu adat datang ke tempat ini hanya akan membuat para 86 stress tidak perlu. Karenanya, aku, dengan keprihatinan baikku, datang sejauh ini untuk memeriksa masalah tersebut.”

Pemilihan katanya membuat Grethe mengangkat alis. Satu-dua warga negara Republik sekarang takkan mengganggu 86, dan Willem tahu ini sejak operasi Labirin Bawah Tanah Charité. Satu-satunya orang yang benar-benar terganggu hanyalah Lena.

“Jadi itu dalihmu.”

“Kamarnya sudah dibersihkan. Boleh bicara bebas.”

Dengan kata lain, biarpun ini fasilitas negara lain, mereka tidak usah risau masuk dalam perangkap.

“Aku yakin kau sudah tahu, tapi kehadiranmu di sini masuknya informasi rahasia. Itu termasuk keberadaan Kolonel Milizé,” ucap Willem.

Penugasan dan kegiatan unit adalah rahasia negara. Orang luar semestinya tidak tahu sedang dan lamanya waktu cuti Divisi Penyerang 86 dari Divisi Lapis Baja Ke-1. Belum lagi beberapa dari mereka dikirim ke Aliansi.

Dengan kata lain … Grethe menyipitkan mata.

Letnan kolonel itu mendatangi Lena berdasarkan informasi yang seharusnya tak bisa dia akses. Sama sebagaimana Legion yang terus menyergap dan menyerang Divisi Penyerang meskipun aktivitasnya dirahasiakan.

“Kunjungan letnan kolonel itu mengartikan dia punya akses ke kebocoran informasi ini,” simpul Grethe.

“Lalu mengungkapnya pada kita itu kecerobohan besar dirinya dan siapa pun yang mendukungnya. Yah, tidak mengagetkan. Tentara sejati Republik sudah gugur sepuluh tahun lalu mempertahankan negara mereka. Orang-orang militernya kini pemula tak berpengalaman.”

Willem mengangkat bahu.

Ajudannya yang senantiasa di belakangnya bak bayangan, tidak berada di kamar ini. “Baguslah Kapten Nouzen mengusir letnan kolonel itu. Dia pulang di hari yang sama dengan kedatangannya …. Meski begitu, misalkan kita kejar cukup cepat, kita bisa menyusulnya sebelum sampai rumah. Jalan dari sini ke Republik jauh.”

 

Ж

“Bicara dengannya tidak ada faedah. Entahlah ratu itu persisnya mau apa.”

Selagi Annette dengan marahnya menembakkan keluhan sama yang diulang petugas interogasi selama dua minggu terakhir, Shin yang lagi duduk di seberang meja Annette, menatapnya. Mereka berada di ruang tunggu dalam pangkalan bawah tanah yang memuat ruang interogasi kemarin.

Hadir pula Vika dan Lena yang sama bingungnya.

“Dia menyuruh kita datang mencarinya karena ingin mengatakan sesuatu, benar? Jadi kita datangi terus tangkap, sekarang dia mendiamkan kita? Kalau begini, kita bongkar saja prosesor sentralnya lalu cari tahu kita bisa mengorek ingatannya dengan cara itu atau tidak. Ini tolol.”

“Walaupun kedengarannya aneh, yang cukup menyeramkan itu kau,” komentar datar Vika.

“Ingatannya tidak berada di balik program terenkripsi pada prosesor sentralnya melainkan jaringan saraf. Entahlah betul-betul bisa kita keluarkan ingatannya atau tidak.” Annette pahitnya menemukan sejumlah kekurangan pada sarannya.

“Ibunya gimana …? Maksudku, tidak bisakah mereka membawanya kemari buat meyakinkannya?” saran Lena meski tidak yakin.

“Beliau terbaring di tempat tidur rumah sakit.” Vika menggeleng kepala. “Mengganggunya sedikit saja bahkan bisa membunuhnya. Tidak bisa kita jadikan orang semacam itu sebagai sandera.”

“Begitu.”

“Jangan paksakan dirimu mengatakan hal yang tidak cocok denganmu, Lena,” ucap Annette padanya. “Aku tahu betapa sulitnya kau menyarankan itu.”

Lena melemaskan bahu, dan Shin menahan desakan desahnya. Shin tahu dia ingin bermanfaat pada percakapan ini, namun Shin tidak ingin dia mengatakan hal-hal kejam sementara ekspresinya penuh rasa bersalah.

… dan Lena akhir-akhir ini tingkahnya aneh. Awalnya, Shin kira karena kedatangan Pemutih, tapi meski Shin sudah mengajaknya ke kota untuk menghiburnya, kecemasan Lena masih tidak hilang.

“Paduka, kau tahu kenapa sang ratu tidak bicara?”

Annette bertanya kepadanya.

“Jawaban pertanyaan itu sulit. Aku cuma bicara dengannya beberapa kali ketika dia masih hidup. Pesan yang dikirimnya mungkin saja jebakan untuk memancingku dan Nouzen …”

Dan dari awal senantiasa ada kemungkinan bahwa Ratu Bengis bukanlah Zelene, tetapi mereka sengaja tidak terlalu memikirkan kemungkinan tersebut. Jika benar, artinya jerih payah penangkapannya sia-sia.

Terlepas dari itu, Vika mengerutkan alis.

“Atau mungkin awalnya dia berniat membagikan informasinya tapi tidak mau kalau membagikannya ke kita. Tanah airnya itu Kekaisaran, dan Federasi pada dasarnya adalah negara yang menghancurkannya. Biarpun salah, Zelene seorang prajurit. Dia tidak suka perang.”

“Tapi beliau seorang prajurit …” Shin mengangkat alis.

“Kalau begitu biar kutanya. Kau seorang prajurit. Kau suka perang?”

… Ah.

“Mayor Birkenbaum adalah seorang prajurit, iya …. Namun dia menjadi prajurit bukan karena perang. Kakak laki-lakinya juga seorang prajurit, dan gugur dalam pertempuran. Dia bilang itulah motivasi penciptaan Legion. …. Dan sedingin lagi setertutupnyadia, reputasinya adalah layaknya seorang penyihir yang mengutuk dunia.”

Melirik Lerche yang berdiri di belakangnya, Vika mengangkat bahu bertingkah mencerca dirinya sendiri.

“Zelene sendiri terluka dan nyaris mati tatkala itu, lantas dia sepertinya sangat terdesak tuk bertindak. Tidak bisa kubayangkan dia mengizinkan dirinya menciptakan sesuatu semacam Legion kecuali dia sendiri sepenuhnya termakan gagasan tersebut …. Contohnya, kalian tidak sadarkah kalau tak satu pun unit udara Legion punya senjata? Menurutku, larangan itu bukan berasal dari masalah pengenal IKL. Namun karena Zelene benci pesawat bersenjata. Kakaknya gugur ketika pesawat kawan tidak sengaja menembakinya.”

Dia barangkali mengira tiada pesawat bersenjata yang bisa dipercaya atau orang-orang yang mengendarainya. Dan dia boleh jadi tidak suka perang sebab perang menghancurkan keluarganya—dan bahkan menghancurkan hidupnya sendiri.

“… seandainya dia sangat menentang perang, terus kenapa membuat Legion?”

“Aku tidak layak mengatakan hal ini …. Ingin menghancurkan sesuatu karena kebencian mungkin saja bukan perbuatan paling masuk akal, tapi terlampau sering terjadi.”

“Hanya sebatas itulah yang kuketahui tentang Zelene …. Tapi mungkin kau mendapat semacam petunjuk, Nouzen? Apa boleh buat, ayahmu mengenal Zelene jauh lebih baik dariku.”

“Tidak …. Kurasa aku belum pernah menemui beliau.” “Kalau begitu tidak ada …” keluh Vika.

Annette mengangkat bahu tinggi-tinggi, seolah mengguncang suasana.

“Nah, ada pemikiran aneh buat direnungkan. Andaikata terjadi sedikit berbeda, kalian berdua bisa saja jadi teman masa kecil …. Dan itu berlaku padaku juga, kalau dipikir-pikir …. Waduh, ngeri …”

“Soal teman …. Nouzen, Fido bagaimana? Kukira aneh waktu mendengar ada satu drone Republik yang betulan berkembang, tapi perkembangannya belum selesaikah?”

Jeda aneh menghampar mereka. “… Fido?” Shin mengulang nama itu, bertanya-tanya.

Dia memiringkan kepalanya ke Vika, ibarat bertanya-tanya mengapa nama itu terurai dari bibirnya. “Kau pun tidak ingat itu? Purwarupa model kecerdasan buatan yang sedang ayahmu teliti. Aku ingat beliau komplain kalau putra paling muda beliau … yang artinya, kau … menamainya Fido dan takkan mau mengganti namanya.”

Bukan Scavenger Fido tetapi Fido lain. Tapi … sedihnya, Shin tidak ingat mengenainya. Yang paling bisa dia gali dari ingatannya adalah perasaan samar bahwa mungkin ada sesuatu semacam itu di masa lalu, tetapi dia tidak bisa ingat namanya. Barangkali namanya Fido, pikir Shin, sedangkan Annette mengerang di sebelahnya.

“Duh, maksudmu robot anjing aneh itu, kan? Kurasa ayah Shin memanggilnya …. Purwarupa 008 …. Sebentar.” mata setengah terpejam Annette menyorot Shin. “Kau namakan Scavenger-mu nama yang sama? Kau beneran belum tobat dari kemampuan penamaan jelek itu, bukan? Kau bakalan membuat Lena kesusahan.”

“Jika kalian membicarakan TP, tidak bisa kubilang menghargai perbandingannya.” “Kalian jahat,” Lena bergumam sendiri sambil cemberut, yang sama-sama diabaikan Shin dan Annette.

“Kemampuan penamaanku setidaknya lebih baik ketimbang caramu menamakan sesuatu di Sektor 86,” tukas Annette, mempertahankan argumennya. “Kau mau memanggilnya Remarque, kan? Boleh jadi kau cuma pengen sinis, tapi tersirat banget, ga masuk akal aja.”

“Rita, kau ngomong begitu, tapi kena dulu mau membesarkan ayam? Ayam betina, tapi entah kenapa, dia mengejarmu kek ayam jago.”

“Ngapa, maksudmu itu aneh? Ayam tuh imut. Dan aku suka telurnya sampai serangan skala besar.”

“… oh.”

“Wajahmu kenapa?! Aku tuh juru masak lebih ahli daripada waktu itu! Oh, dan aku tidak lupa pas aku membuatkanmu sejumlah kue, terus kau bertanya itu kue atau monster!”

“… rasanya manis, iya, tapi warnanya hitam gosong dan setiap kuenya punya tiga mata.”

“Yak?! Yah, paling tidak kau tahu itu makanan panggang! Bukan berarti kau mampu mengidentifikasi makanan setelah dibakar hitam-hitam, kan?! Kau tidak bisa ‘kan, kan?! Dasar tolol! Bego! Bodoh!”

“… Ehem!” Lena keras-keras memotong perdebatan mereka.

Saat ini, mereka kembali ke pertengkaran kecil semasa kanak-kanak, tetapi seruan Lena menyadarkan mereka. Shin tiba-tiba sadar, diterpa cepat rasa bersalah tak terjelaskan sebab dirinya tidak pernah memanggil Annette sebagai Rita di depan Lena sebelumnya.

“Jadi apa yang terjadi sama …. Purwarupa 008 itu, Annette?”

“… yah, mereka membawa Shin dan keluarganya ke kamp konsentrasi, jadinya tidak pernah kulihat lagi, entah ke manapun aku mencari.”

Annette mengira purwarupa itu hancur. Entah dirampok atau rusak gara-gara kurang semangat hidup.

“Jadi hilang tanpa sisa, katamu …. Sayang.”

Vika menggeleng kepala, separuh kecewa, separuh geli. Annette menatapnya penuh tanda tanya lalu dibalasnya dengan mengangkat bahu.

“AI yang satu itu beda dengan Sirin dan Legion. AI yang sepenuhnya dikembangkan untuk menjadi rekan peliharaan. Karenanya, bila diperintahkan untuk bertarung mempertahankan seseorang, maka akan dia lakukan. Legion bukanlah manusia. Mereka tak dapat memenuhi keinginan untuk berteman dan menjadi rekan umat manusia. Yang punya tugas untuk mempertahankan orang, yang memahami kita … adalah mereka yang menganggap kita teman.”

“Jadi maksudmu …” tutur Annette, matanya membelalak syok, “… kami menggali kuburan sendiri …?”

“Annette? Maksudmu apa …?” tanya Lena.

“Maksudku, ya itu artinya! Kalau ayah Shin diberikan waktu untuk menyelesaikan proyek Fido …. Bila 86 tidak dipersekusi, Republik betulan bisa berperang tanpa korban jiwa!”

Ah …

Lena merasa darahnya membeku.

Republik memuat para Prosesor ke drone-drone mereka dengan dalih menjadi unit pemroses informasi, dan mereka melakukannya karena tidak sanggup mengembangkan Kecerdasan Buatan yang cukup tinggi tuk melakukan pertempuran otonom penuh. Sebab mereka tidak mampu mempertahankan lini pertahanan mereka tanpa mencabut hak asasi 86 kemudian mengusir mereka ke medan perang. Tapi misalkan Fido diselesaikan …. Seumpama ditetapkan sebagai kecerdasan buatan yang dapat melakukan pertempuran otonom …

“Kami bilang melakukannya karena harus. Kami gelap mata terhadap ketidakadilan padahal tahu sedang berbuat dosa besar. Kami membiarkan jutaan orang mati lalu mengungkap semuanya ke negara lain agar mereka mencela kami. Tapi semua persekusi itu bahkan dari awal tidak perlu. Kalau saja kami melakukan hal yang benar, tidak 86 ataupun warga Republik harus mati …. Itu …. Hal macam apa …?”

Annette menggertakkan giginya getir-getir terhadap perkataan Lena. Shin tetap diam, risau kalau apa pun yang dikatakannya mungkin jadi dakwaan. Meskipun tidak satu pun itu salah Lena.

Tetapi Annette dan Lena tidak menganggapnya demikian. “Ironi kejam macam apa ini …?!”

Semua kamar tamu hotel berisi dua orang. Raiden sekamar Shin. Dia lagi dalam pertemuan perkara Ratu Bengis tetapi pulang sedikit lebih cepat dari yang direncanakan, tepat sesaat Raiden menuangkan secangkir kopi segar dari ketel kamar untuk dirinya sendiri.

“Oh, hei, selamat datang kembali.”

“Ya. Makasih,” kata Shin, menerima mug yang diberikan Raiden selanjutnya menyipitkan mata merasa geli. “Tahu tidak, Kujo sama Daiya, mereka selalu memanggilmu ibu regu kita.”

“Oh …? Kembalikan mugnya; kumasukkan beberapa sendok moster8 ke kopimu.”

“Kau sudah punya moster? Kau beneran ibu regu, kan?” “Apa-apaan?”

Mereka berdua meributkan mug sebentar, sekalipun cukup hati-hati biar kopinya tidak tumpah.

“… kau sebetulnya sedang apa di sini sedini ini? Makan malam masih lama,” tanya Shin.

“Aku baru sadar sudah mencuci pakaian sebelum pesta di hari terakhir itu …. Kau mungkin mesti mencuci pakaian juga. Kau tidak mau pakaianmu kotor dan kusut di hari H-nya, kan?”

“Oke, Bu …” “Bacot.”

Setelah menghabiskan kopi mereka, keduanya saling ribut lebih lama lagi. Fakta Shin bisa dengan gampangnya mengalahkan lawannya dalam pertandingan adu mulut jadi-jadian membuat Raiden tidak senangnya bukan main.

“… omong-omong kau beneran sudah menghilangkan aura Pencabut Nyawa yang selalu kau miliki.”

Shin cuma menjawabnya dengan pandangan bertanya-tanya, lalu Raiden respon dengan duduk bersila di tempat tidur dengan dagu ditumpu tangannya.

“Apalagi kalau menyangkut Lena. Kau selalu memanggilnya Handler One, tapi sekarang kau memanggil namanya. Dan waktu kau bilang, Aku pergi, terus bilang nanti kau akan menunjukkannya laut …. Kurasa sang Pencabut Nyawa front timur tidak bisa melakukannya …. Oh ya,” Raiden menambahkan seringai. “Jangan gunakan interogasi jadi alasan kabur. Nyatakan saja padanya.”

“… diam.”

“Sekiranya kau butuh situasi untuk mengatur suasananya, bisa kami atur. Tempat dengan pemandangan malam indah gimana …? Tapi kurasa hari terakhir kita di sini momen paling mantapnya, sih.”

“Bacot … kali terakhir aku mau menyatakannya, Marcel menyela.”

“Tetap aja, sebaiknya kau nyatakan dengan cara yang akan membuatnya bahagia. Bahkan orang goblok sepertimu tahu, kan?”

“…”

Shin terdiam, menyadarkan Raiden sudah cukup lama dia mencari bahaya, lantas dia tutup mulut juga. Shin … jelas tidak senang. Layaknya anak riang yang tidak perlu memendam emosinya.

“… sekarang wajahmu bahkan bisa begitu,” bisik Raiden sendiri, agar Shin tidak mendengarnya.

Dia pelan-pelan menatap Shin.

“Apa?” tanya Shin sembari marah.

“Bukan apa-apa.”

Aku cuma berpikir kau betulan telah berubah.

Raiden mengusirnya keluar kamar, memberitahunya pemandian masih terbuka jadi dia mesti membersihkan diri. Shin pergi dengan ekspresi galau.

Raiden melihat pintunya ditutup lalu memikirkan banyak hal. Di waktu mereka bertemu pertama kalinya, dia beneran mengira menemui Malaikat Maut yang menghuni tubuh seorang bocah seumurannya. Ekspresinya, tatapannya, jantung yang berdetak di dalamnya—semuanya membeku. Tidak ada apa-apa. Terhenti.

Namun kini, bocah laki-laki sama itu tahu cara tersenyum tulus. Terutama sejak bertemu Handler cengeng berhati baik itu.

“… kurasa tidak buruk-buruk amat, ya?”

Negara yang harusnya menjadi tanah airnya telah memerintahkannya untuk mati. Kakak yang disayanginya hampir membunuhnya. Medan perang tempatnya berdiri dipenuhi Legion, dan dia terpaksa mengubur rekan-rekan tercintanya berkali-kali. Sesudah melewati semua dan lebih dari itu, hal satu-satunya yang tersisa hanyalah hati mati yang dingin seorang pencabut nyawa.

Kejahatan umat manusia dan kekejaman dunia menjadikan sosok Shin.

Tetapi pada akhirnya, dia masih bisa belajar bahwa dirinya boleh mencari suaka. Boleh bermimpi. Dia belajar bahwa masih ada setitik hal yang mungkin bernama harapan dalam dirinya. Bahwa dunia brengsek ini tidak sepenuhnya tak termaafkan.

Pertama kali dalam hidupnya, sang Pencabut Nyawa punya tujuan hidup.

Nama itu semacam kutukan. Belenggu yang mengikatnya ke salib yang dipikulnya—tetapi salib itu pun menghentikan langkahnya. Desakan menembak mati hantu kakaknya adalah kutukan sekaligus berkah: tujuan yang mendorongnya maju.

Membawa semua rekan mereka ke tujuan akhir. Berperan demikian mencegah Shin tumbang. Yang mendorongnya maju, selangkah demi selangkah, hingga akhir.

Tapi meski demikian …. Merekalah yang diselamatkan dan didukungnya.

“Kau sudah berkali-kali menyelamatkan kami …. Waktunya kami membiarkanmu menjalani hidupmu, bung.”

Di tengah jalan ke pemandian, Shin berpapasan Kapten Aegis yang lagi bicara ke para Prosesor yang tak berpartisipasi dalam tes. Melihat rambut hitam panjang sang kapten melambai bagaikan ekor, Shin kepikiran TP, anak kucing hitam yang suatu kala pernah dipungut Daiya. Cuma cakarnya yang putih, macam kaus kaki.

Tatkala itu, mereka tidak memberikannya nama dan memanggilnya apa pun yang terlintas di pikiran. Saat itu, mereka pikir Lena hanyalah Handler peternakan tidak bertanggung jawab yang hidup berpuas diri dalam keamanan dinding.

Kapan dia putuskan memberikannya ucapan selamat tinggal formal …? Mengapa dia pikir memercayakannya keinginan itu adalah hal benar? Kenapa dulu dia sangat memercayainya?

Mata Shin tahu-tahu melebar.

“Kapten Nouzen. Kami sekarang ini mempertimbangkan untuk membongkarnya. Sifat tidak kooperatifnya hanya makin membuat opsi tersebut terlihat lebih memungkinkan. Barangkali membiarkannya mengetahui maksud kita bisa jadi alat tawar-menawar …”

“Tidak.”

Shin singkatnya memotong perkataan kepala bagian intelijen. Mereka bicara dalam kamar Shin.

Melakukannya tidak berbua apa-apa. Legion tidak takut mati, dan ancaman tak menganggu mereka.

“Lupakan itu, Kepala Seksi …. Biarkan saya masuk ke ruang tahanan.” semua orang yang hadir terdiam seribu bahasa oleh saran Shin.

“Apa maksud …?” Lena refleks hendak angkat bicara, tapi Shin memotong kata pendeknya dengan sorot mata.

Matanya berkata dia tidak berniat melakukan hal sembarangan apa pun. Dia yang dulu bukanlah yang sekarang, dia yang dulu tidak terlalu ambil pusing sama kematiannya. Kepala seksi dan orang pimpinan dalam ruangan saling bertatapan—satu orang berseragam ungu dan satunya warna zaitun—sebelum menyetujui.

“Periksa apakah pengekangnya bekerja dengan sesuai. Dan siagakan senapan mesinnya kalau-kalau kita perlu menghabisinya. Menurutmu seberapa besar peluangmu membuatnya bicara, Kapten?”

“Ratu Bengis repot-repot mengungkapkan dirinya pada saya di Gunung Dragon Fang. Ia tidak mencoba membunuh saya, bahkan menuntun Raiden dan yang lainnya ke saya. Jadi semisal benar tebakan saya soal alasannya melakukan itu …”

Kunci menuju gerbang ruang tahanan ditutup baut paduan yang diperkuat, terbuka. Pintu dua lapis membuka, menyisakan satu pintu menuju bagian ruang pengawasan.

“Biarkan Para-RAID-nya menyala …” ujar kepala bagian. “Dan jangan dekat-dekat. Begitu kami merasa Kapten dalam bahaya, kami akan menembaknya.”

Gerbangnya terbuat dari logam tebal dan pada dasarnya merupakan sebuah lorong panjang. Shin melewati pintunya tanpa bilang apa-apa. Pintu itu menutup di belakangnya, setelahnya pintu menuju ruang tahanan akhirnya terbuka. Dia berdiri di batas antara ruang tahanan dan koridor, di titik material lantainya berubah, bak membatasi garis batas.

Menyadari kehadirannya, Ratu Bengis bergerak-gerak bagaikan serangga bereaksi terhadap mangsa, mencoba berdiri. Tetapi pengekang mencegahnya. Hampir seolah gerakan refleks, reaksi mekanis.

Karena, ya, Legion membantai apa pun yang berada di depan. Mau itu orang-orang, perkotaan, negara, atau pasukan, mereka injak segala hal di jalan mereka tanpa membeda-bedakan. Begitulah insting mereka. Sama sebagaimana ladang ranjau tidak memedulikan identitas siapa pun yang memicunya. Mereka senjata pembunuh tanpa pandang bulu.

Tetapi di danau magma Gunung Dragon Fang, Ratu Bengis ini melawan insting tersebut dan tidak berusaha membunuhnya. Dia semata-mata mendekat, seakan mempermainkannya. Atau boleh jadi memuji. Tapi tentu saja, senantiasa ada kemungkinan situasinya membelok jika dia lebih lama lagi menghadapinya. Jikalau Raiden dan yang lain tidak mengejarnya, dan tidak dihentikan siapa pun, keadaan mungkin berjalan berbeda.

“Aku tahu kau bisa mendengar suaraku, Ratu Legion.”

Shin pahitnya sadar tidak baik jika tak mengetahui nama panggilannya. Dia tidak bisa memanggilnya Zelene, sebab jika bukan dia, ratu bisa jadi menirunya. Dan memanggilnya Ratu Bengis tidak benar pula. Lantas memanggilnya dengan moniker ini membuat Shin jengkel.

Di Sektor 86 dulu, dia selalu menganggap nama hanyalah sekadar simbol yang digunakan untuk penandaan. Ditambah dia senantiasa benci namanya sendiri karena mirip kata dosa (sin)

Tetapi dua tahun lalu, dia tidak memberi tahu Lena namanya sampai Lena tanyakan sendiri.

Lalu kembali ke masa kini, dia ingin tahu kenapa menjalani kehidupan semacam itu.

“Kaulah yang memanggilku, bukan? Temukan aku, katamu. Dan kutemukan. Jadi kalau kau mau mengatakan sesuatu, aku dengarkan. Di sini, sekarang ini. Dan jika tidak kau jawab, aku akan pergi.”

Sulit bilang mereka menempati ruangan sama, karena ada jarak sepuluh meter di antara mereka. Tetapi saat sensor optik mirip bulan Ratu Bengis menatap lekat-lekat dirinya tanpa berkedip, Shin pikir dia melihat gelagat panik pada tatapannya.

Shin sudah merasakannya selama tujuh tahun. Haus darah monster mekanis. Dia dapat merasakannya merembes keluar dari dalam lapis baja Ameise itu. Pengekangnya berderit keras.

Dua tahun lalu, dia percaya pada Lena. Seorang gadis yang belum pernah ditemuinya dari dalam dinding. Dan dia bisa percaya padanya karena mengenalnya. Bicara keadaannya, mendengarkan apa yang dikatakannya …. Karena mereka dapat saling mengenal.

Bila mereka tidak bicara, mereka takkan dekat. Dan orang tidak percaya seseorang atau sesuatu yang tidak dia kenal. Lantas Shin putuskan melakukan ini, sepihak, tanpa mencoba mengujinya.

Derit-derit di pengekang mereda. Lapis baja putihnya diangkat sedikit, lalu cahaya keperakan samar mulai mengalir keluar darinya. Mesin Mikro Cair. Mengorek-ngorek ingatannya, Shin tahu bahwa Phönix adalah satu-satunya unit Legion yang dipastikan berkemampuan mengubah Mesin Mikro Cair menjadi kupu-kupu kemudian terbang menjauh.

Tapi Shin ingat ada unit lain yang menggunakan Mesin Mikro Cair dengan caranya sendiri. Kakaknya—Gembala Dinosauria. Tangan yang terulur darinya. Tangan yang diulurkan pelan kepadanya di akhir-akhir …. Tangan yang, seperti tangan manusia, jelas bisa mencekik semudah membelai.

“Aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Aku tidak tahu tujuanmu memanggilku atau bahkan alasan diammu sekarang. Jadi aku mau kau memberitahuku, dengan kata-katamu sendiri.”

Mesin Mikro Cair terus merembes keluar. Tapi begitu Shin mulai takut cairannya akan mewujud fisik …

<<Tinggalkan ruang tahanan ini. Evakuasi ke ruang pengawasan disarankan.>>

Bagai audio yang dimainkan dari rekaman lama. Layaknya suara makhluk tak manusiawi dan berakal yang dipaksa bicara bahasa manusia. Suara mekanis yang teramat-amat sulit didengar.

Suaranya berasal dari terminal informasi yang memungkinkan komunikasi audio yang dipasang dalam ruang tahanan. Audionya aktif tanpa disentuh siapa-siapa, membuka layar holo penuh suara statis. Tegangan dan volume suara statis ini digunakan untuk menghasilkan kata-kata manusia.

Shin bisa mendengar keributan kaget memenuhi ruang pengawasanan lewat Perangkat RAID yang berada di kerah seragamnya. Dia tidak bisa menyalahkan keterkejutan mereka. Barangkali ini perbincangan pertama antara manusia dan unit Legion sepanjang sejarah.

Shin mendengar Vika bergumam sendiri, bilang dirinya kini tahu kalau sang ratu takut membunuh Shin, walau tidak sengaja.

<<Setelah evakuasinya selesai, tanggapan pertanyaan akan dimulai. Evakuasi ke ruang pengawasan. Ini peringatan.>>

Gembala dibuat untuk mengasimilasi jaringan saraf manusia, tapi tidak diketahui seberapa banyak kesadaran dan emosi yang tersisa dari kesadaran manusia. Tetapi ketika itu, Shin yakin dia merasakannya.

Kemarahan Ratu Bengis.

<<Tekadmu bernegoisasi dengan risiko kematian sangatlah luar biasa. Akan tetapi, upaya negoisasi lebih lanjut akan dijawab penolakan. Ingatlah ini.>>

Lena menyaksikan kejadiannya sambil tertegun-terdiam. Shin tidak sengaja menunjukkan dirinya karena dia ingin mati. Lena tahu ini. Tetapi nyaris tidak ada laporan perkara unit Legion yang memperlihatkan Mesin Mikro Cair di luar tubuhnya kemudian dioperasikan sendiri. Tidak di Republik, Federasi, Kerajaan Bersatu, Aliansi, ataupun negara kecil lainnya.

Cuma ada segelintir kasus serupa, termasuk kasus Dinosauria Rei yang Shin, dan Raiden, juga teman-teman lain laporkan. Rupanya, kemampuan ini tidak umum bagi semua gembala. Mungkin saja hanya Legion yang secara eksplisit diprogram dengan kemampuan seperti Phönix, sanggup melakukan ini.

Dan karena itulah, mereka tidak mewaspadai kemungkinan Ratu Bengis menggunakan Mesin Mikro Cairnya untuk menyerang. Barangkali Legion itu kebetulan punya kemampuan untuk menggunakannya dengan cara demikian. Tetapi normalnya, Mesin Mikro Cair tidak digunakan sebagai senjata, melainkan komponen sistem kontrolnya. Sedari awal mereka tidak bergerak dengan kecepatan tak masuk akal yang dimiliki Legion normal.

Ia tidak mampu melihat Shin melalui cahaya yang dihasilkan Mesin Mikro Cair, tetapi ia tahu Shin sedang was-was. Bicara sembari cermat-cermat mencoba memastikan saat-saat tepat untuk kabur bila perlu. Dan Shin belum selangkah pun keluar dari koridor bahkan sebelum cahaya keperakan muncul, supaya dapat buru-buru pindah ke sisi lain koridor apabila diharuskan.

Shin bersedia mengambil risiko demi diskusi ini, namun dia tidak membuang-buang nyawanya. Dia lakukan demi masa depan yang dia inginkan—agar menemukan cara tuk menggapainya.

Dan melihatnya melakukan itu membuat Lena bingung. Menyadarkannya akan sesuatu. Shin benar-benar … berubah.

Seketika Shin kembali ke ruang pengawasan, tangan Mesin Mikro Cair merayap keluar dari celah-celah lapis baja Ratu Bengis, ibaratnya tidak kuat lagi menunggu lebih lama. Tangannya tak cukup panjang untuk menjangkau dinding dari posisi Ratu Bengis di tengah ruang tahanan, tetapi seakan mengimbangi panjang tangannya, jumlahnya mengagetkan.

Kembali ke ruang pengawasan membuat saraf tegang Shin melemas sedikit. Mungkin karena itulah ingatan kakaknya mencekiknya—bukan hanya tangan Gembalanya, tetapi tangan aslinya juga—terlintas disertai seluruh horor mengerikan nan jelasnya. Sepintas membuat wajahnya pucat pasi.

“Kau tidak apa-apa, Nouzen?” tanya Vika, menyadari perubahannya. “Iya … tidak apa-apa. Cuma teringat sesuatu saja.”

Vika kemungkinan sadar Shin barangkali menderita luka yang berhubungan dengan tangan, atau bisa jadi dilukai suatu Gembala.

“Kau berdiri di depannya, tahu dia bisa membuka luka lama. Kau paksakan dirimu membuatnya buka mulut …. Meskipun kau sendiri yang ngotot bicara sama orang mati itu tidak mungkin.”

“Aku masih berpikir begitu, bahkan sampai saat ini …”

Yang hidup tidak bisa berhubungan dengan yang mati. Itu aturan alam. Tidak peduli seingin apa seseorang bicara sama orang mati, hukum yang dijalankan dunia ini tetap tanpa perasaan dan tak berubah.

Tetapi di penghujung misi Pengintaian Khusus, sewaktu dia dikalahkan di kedalaman wilayah Legion …. Kakaknya boleh jadi menyelamatkannya. Mereka tidak bisa saling bicara, namun suara mereka saling menjangkau satu sama lain.

Shin mampu mendengar suara-suara hantu yang menyiratkan kebalikannya mungkin juga benar. Tapi bagaimana kalau berbincang dengan hantu sebetulnya bisa dilakukan … cuma hantunya sebenarnya tidak mengutarakan pikiran mereka dengan cara yang bisa dimengerti Shin?

Yang hidup tidak pernah bisa berhubungan dengan yang mati. Tapi bisa saja hantu yang gentayangan antara hidup-mati yang belum melintasi sungai Lethe9, masih dapat mencapai Shin yang tertambat di pantai seberang10.

Itu teori yang sedikit mengganggu Shin, namun dia takkan melarikan diri lagi dari itu.

“Aku sekadar mau berusaha sebisa mungkin … jika kita dapat sedikit saja informasi bermanfaat, kita bisa selangkah lebih dekat untuk mengakhiri perang.”

Entah kenapa Vika tanggapi perkataannya dengan senyum geli.

“Kau mau menunjukkannya laut, hmm? Begitu. Jadi kau akan melakukan apa pun demi itu.”

“Kenapa kau tahu tentang itu juga …?”

“Kenapa pula kau kira aku tidak tahu …? Lupakanlah.” sewaktu melihat wajah Shin tidak pucat pasi lagi, Vika berbalik menghadap Ratu Bengis.”

“Apa tangan-tangan itu sesuatu yang dimiliki seluruh Legion yang mengasimilasi jaringan saraf orang mati?”

Mikrofonnya menyala, tentu saja, dan jendela ruang pengawasan disetel menjadi transparan. Tetapi sang ratu tidak menjawab pertanyaannya. Vika memberi isyarat Shin melalui matanya, kemudian Shin ulangi pertanyaan itu. Kali ini, sang ratu menjawab.

<<Hanya orang-orang yang di saat-saat terakhirnya mengulur tangan seraya merasa putus asa menggila yang memiliki ini.>>

Seperti teriakan Legion, pikir Shin.

Otak mereka menggemakan jeritan itu. Pikiran mereka berubah membentuk ucapan terakhir mereka, mengulang emosi yang mereka rasakan di ambang kematian. Hasrat mereka untuk tetap hidup sekalipun tubuh mereka binasa malah memanifestasikan diri menjadi tangan-tangan tersebut.

Tidak yakin Ratu Bengis itu cuma bisa mendengar Shin atau ia sengaja menjawab pertanyaannya saja, para perwira intelijen berbisik-bisik sendiri biar tidak didengar mikrofon. Kepala bagian menekankan mereka perlu mencari cara menahan tangan-tangan yang keluar dari lapis bajanya di lain waktu.

<<Satu pertanyaan dijawab. Jawab pertanyaan secara bergantian.>>

Kata terkahir yang dituturnya sangatlah sulit dipahami. Seolah-olah bahasa mekanis diubah paksa menjadi suara. Tetapi terminal perekam barusan menangkap yang dikatakannya.

Báleygr.

Itulah pengenal Legion untuk Shin.

<<Namamu.>>

Shin menatap salah satu perwira intelijen yang mengangguk. “Shinei Nouzen.”

Dia tidak menambahkan pangkat atau afiliasinya. Ruangan itu terlindungi dari gangguan elektromagnetik. Biarpun Eintagsfliege entah bagaimana masuk ke ruangan dan mencoba menjadi penyampai, Ratu Begnis takkan bisa mengiirmkan informasi apa pun kepada Legion. Tetapi Shin memutuskan berjaga-jaga.

Ratu Bengis terdiam sejenak, seolah-olah menelan napas.

<<Nouzen. Nouzen. Keturunan para penghancur. Keturunan Jenderal Hitam Kekaisaran. Pertanyaan. Mengapa Nouzen mengkhianati tanah airnya dan membelot ke militer Federasi? Pakah karena kau rotegig? Jawab.>>

Rotegig. Mata merah. Istilah hina yang para Onyx berketurunan bangsawan murni gunakan untuk anak-anak yang darahnya campuran Pyrope. Mendengar Ratu Bengis mengatakan kata itu membuat perwira informasi dalam ruangan mengeraskan ekspresi tak senang mereka. Tapi Shin dilahirkan di Republik dan besar di Sektor 86, jadi cercaan itu tidak menyinggungnya.

“Aku bukan orang Kekaisaran.”

<<Maka kau seorang 86.>>

“… tahu dari mana?”

Andai dia Zelene Birkenbaum, seharusnya dia tidak tahui 86 itu apa. Istilah merendahkan itu tak ada semasa hidupnya.

<<Karena mereka lemah. Karena mereka rapuh. Karena mereka ras inferior yang diusir Republik. Menangkap mereka itu mudah. Mendapat informasi dari mereka itu mudah.>>

Mereka punya cara untuk mengeluarkan informasi dari otak yang diambil. Tidak …. Bahkan Gembala tidak mampu menahan insting Legion, dan barangkali arahan lebih tinggi yang dikirim unit komandan. Fakta Ratu Bengis sedang bicara bersama mereka bisa jadi sangat mungkin sebab terputus dari jaringan Legion.

“Kalau begitu siapa namamu?”

Shin kira dia paham dasar kinerja Ratu Bengis. Dia bertanya, lalu Shin menjawab. Oleh sebab itu, sekarang gilirannya bertanya. Jadi dia ajukan pertanyaan yang mestinya jadi pertanyaan pembuka.

Apa pun alasannya, pertanyaan tersebut entah apa membuat Ratu Bengis memiringkan tubuhnya. Ibaratnya bingung atau mungkin kecewa karena provokasinya tidak dianggap.

<<Diasumsikan kau sudah tahu.>>

“Aku menjawab pertanyaanmu …. Tolong jawab pertanyaanku.”

Ketika ditanya lagi, Ratu Bengis mengalihkan pandangannya ke Vika yang berdiri di samping Shin.

<<Ya. Meski tak perlu. Konfirmasikan dengan Ular Tua Polos itu.”

Vika meringis sebentar, kemudian mendesah panjang. “Jadi sungguhan kau, Zelene.”

<< Ya.>>

Ratu Bengis, Zelene Birkenbaum mengangguk sedikit. Dengan tinggi hati. Sekejam bulan yang seputih es—kekejamannya sesuai pengenalnya.

<<Namaku …. Nama yang kuketahui sewaktu masih hidup … adalah Zelene Birkenbaum. Berpangkat Mayor. Peneliti. Berafiliasi dengan Institut Penelitian Kekaisaran.>>

Dia tekankan bahwa itulah namanya tatkala dia masih hidup. Seakan secara implisit mempertegas dirinya tidak lagi manusia.

Keluar dari ruang interogasi riuh yang berisik, Lena pergi ke koridor untuk menghindari kebisingannya dan melihat dari atas. Ini pangkalan bawah tanah, dan langit tentu tidak terlihat. Dia cuma bisa melihat langit-langit kelabu buatan yang dingin.

Shin benar-benar sudah berubah. Seketika Shin menghadapi letnan kolonel republik, Shin jelas merasa jijik terhadap maksud jahatnya Dia bina ikatan dengan keluarga yang baru kembali ditemukan beserta orang-orang di sisinya dan berusaha mempertahankan ikatan tersebut. Dia balik lagi memanggil Annette, Rita. Dia sedikit demi sedikit mulai meraih kegembiraan yang dulu dia ketahui dari relung ingatannya.

Kendatipun dunia begitu dingin dan tak ramah, biarpun dia tidak mengharapkan apa pun darinya …. Dia masih menantikan masa depan, berusaha mewujudkan impiannya.

 Dan Lena pikir itu hal bagus. Dia turut bahagia, tapi … dia pun merasakan suatu rasa kesepian, seolah dia ditinggalkan. Dan kecemasan, seakan tanah tempatnya berdiri memudar.

Lena pikir Shin lemah, tapi … sampai akhir, dia benar-benar orang yang kuat. Walau seluruh kelemahan itu menyertainya, meski dia tidak bisa melihat cahaya di ujung terowongan, dia masih punya kekuatan untuk berjalan—mencapai dan menangkap satu keinginannya.

Tapi itu artinya akan tiba kala Shin tidak membutuhkannya lagi. Dan seketika Lena kepikiran hal itu, rasa takut amat berat menyelimutinya. Meskipun Shin masih butuh Lena, suatu hari nanti dia akan menyadarinya. Bahwa orang yang ingin dia tunjukkan laut … tidak harus dia.

Sebelumnya tak seperti ini. Dua tahun lalu, Shin masih terperangkap di Sektor 86. Dia ditakdirkan mati enam bulan ke depan, dan orang-orang di sekitarnya adalah sesama 86 yang bertakdir sama. Satu-satunya orang yang dia pinta untuk mengingatnya adalah Lena. Bukan berarti dia spesial dalam suatu hal. Kebetulan dia satu-satunya orang yang Shin tahu akan terus hidup.

Tetapi kini tidak seperti itu lagi. Dia selamat dari Sektor 86 dan terbebas dari takdir kematian pasti. Begitu pula Raiden dan yang lainnya. Dia tinggal di Federasi selama dua tahun, menjalin ikatan baru bersama orang-orang yang tak akan meninggalkannya.

Lantas Lena bukan lagi satu-satunya orang yang bisa hidup bersamanya.

Tetapi Lena pun tidak bisa dibilang sama. Dia sampai sejauh ini sebab Shin menyuruhnya menyusul dirinya. Lena hanya bisa bertarung karena dengan begitu dia bisa mengejar bayangannya. Tanpa Shin, dia tidak sanggup bertarung. Tanpa Shin mengandalkannya … Lena tidak mampu pura-pura kuat.

Lena ingin Shin mengandalkannya. Lena mati-matian memegang teguh peran orang yang dibutuhkannya, orang yang Shin pinta agar tak meninggalkannya. Lena ingin mendukungnya, membimbingnya …. Terus berperan sebagai orang suci untuknya, walaupun semuanya dusta.

Kebanggaan ketika bertarung mendampinginya adalah satu-satunya hal yang kupunya. Peran berhargaku sebagai acuannya. Seandainya aku kehilangan itu … jika Shin meninggalkanku … aku tidak akan sanggup melanjutkan hidup …. Dan saat dia meninggalkanku, aku tidak bisa melakukan hal yang sama … aku takkan diizinkan bergantung padanya, memohon agar jangan meninggalkanku …

Tetapi selama Lena menjadi bagian Divisi Penyerang, Divisi tersebut akan terus menjadi bukti validnya sistem pertahanan manusiawi dan maju Republik. Akan gagasan bahwa warga negara Republik tidak perlu bertarung. Akan medan perang Sektor 86 tanpa korban jiwa.

Shin akhirnya menghilangkan ilusi itu, dan Lena gelisah akan menjadi pengekang yang kelak mengikatnya sekali lagi. Jadi dia tidak boleh bergantung kepadanya. Dia tidak ingin menyakitinya—memberatkannya.

Karena, bagaimanapun, aku ini salah satu babi putih Republik …

Catatan Kaki:

  1. Baguette adalah roti yang biasanya berbentuk panjang dan ukurannya yang besar, dan memiliki tekstur sangat renyah ketika dimakan. Diameter standar baguette kira-kira 5 atau 6 cm, tetapi panjangnya dapat mencapai 1 m.
  2. Mungkin mantel yang dimaksud itu mantel Freya dari bulu burung yang membuatnya dapat berubah bentuk menjadi elang, cocok dengan Feldreß-nya Aliansi Wald yang bisa terbang.
  3. Freyja (kadang kala disebut Freya atau Freja) adalah adik Freyr, putri dari Njord, yang sering disebut sebagai Dewi kesuburan dalam Mitologi Nordik. Ia memiliki wajah yang jelita dan bahkan pernah dinobatkan sebagai dewi tercantik di seluruh Valhalla. Semua makhluk hidup yang ada di dunia mengagguminya dan banyak yang ingin mendapatkan cintanya.
  4. Valkyrie adalah dewi dalam mitologi Nordik. Dilambangkan dalam kitab lama bahwa Valkyrie adalah manusia bersayap yang membawa tongkat. Valkyrie dianggap dewa karena bijak dan biasanya membantu para prajurit Nordik dalam peperangan.
  5. Reginleif, nama yang artinya tanda kekuatan atau putri dewa-dewi.
  6. Griffin disebut juga Gryphon adalah makhluk mitologis bertubuh singa tetapi bersayap dan berkepala rajawali. … Selayaknya singa, makhluk ini menjadi “raja hewan buas” dan sebagai burung rajawali, ia menjadi “raja di udara”.
  7. Kerangka (bagian bawah) kendaraan, pesawat radio, dan sebagainya.
  8. Penyedap makanan, bentuknya seperti krim, berwarna kuning, diolah dari biji moster hitam.
  9. Dalam mitologi Yunani, Lethe (bahasa Yunani: Λήθη) yaitu keliru satu dari lima sungai di alam bawah. Lethe dikenal sebagai sungai kelupaan. Menurut Statios, sungai Lethe membatasi Elisian, tempat tinggal roh para pahlawan. Pantai seberang yang dimaksud adalah dunia orang-orang hidup.
Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments