Share this post on:

Kabut Asap Biru

Penerjemah: DarkSouls

Semua lampu di ruangan itu sudah mati. Sulur asap putih rokok menari-nari di udara.

“… mengenai masalah kita yang belum diselesaikan.”

Sinar matahari masuk lewat jendela. Di luar, segalanya bermandikan cahaya putih menyilaukan di tengah hari musim panas. Musim panas Republik Federal Giad tidak sesingkat Kerajaan Bersatu, sebab berada cukup jauh dari utara beku. Musim panas Federasi di mana bunga bermekaran penuh seolah-olah mencoba merayakan kehidupan singkat mereka selama mungkin.

Ada kelopak bunga cerah sejauh mata memandang—di jalan-jalan, ladang, dan bahkan front barat, seluruhnya menunjukkan vitalitas mereka. Hijau subur vegetasi warnanya semakin tua sampai-sampai hampir nampak hitam. Tumbuh subur, membentang ke arah langit biru yang menonjolkan kejernihan unik bulan-bulan musim panas.

Siluet gelap yang duduk dalam ruang remang-remang amat kontras dengan pemandangan cerah di luar. Satu orang pria—perwira bermata satu memakai penutup mata hitam—memecah kesunyian. Dada kiri seragam abu-abu bajanya dihias batang pita. Rambutnya hitam pekat dan warna mata khas dari salah satu ras berdarah murni Kekaisaran: Onyx.

Dia komandan Divisi Lapis Baja Ke-177 front barat, Mayor Jenderal Richard Altner.

Perwira lain yang juga bersama jenderal, satu kaki palu dan lencana angkatan udara masih menempel di seragamnya, menanggapi perkataan Richard sambil meniup asap putih. Dia ketukkan jari-jari kekarnya, menjatuhkan abu ke nampan perak cantik yang ditempatkan di atas meja kayu bermosaik berwarna amber yang dipelitur.

“Divisi Penyerang 86 dari Divis Lapis Baja Ke-1 …. Detasemen yang dipimpin Ratu Bersimbah Darah dan Pencabut Nyawa Tanpa Kepala.”

“Mereka mengumpulkan sedikit terlampau banyak pengalaman. Atau barangkali harusnya kubilang mereka melihat kelewat banyak hal yang semestinya tidak dilihat,” Mayor Jenderal Altner mengatakannya dengan muram, lalu dibalas anggukan siluet-siluet lain.

Lencana yang mengidentifikasi para perwira tinggi militer Giad berkilau dari semua kerah mereka. Merekalah para jenderal yang bertanggung jawab atas front barat. Para perwira ini melanjutkan pertemuan rahasia mereka, ibarat berusaha sembunyi dari matahari musim panas.

“Kita harus segera membuat tindakan balasan.”

“Alhamdulillah, pasukan Legion kelihatannya tenang untuk saat ini. Rupanya, mereka mengatur ulang pasukan mereka. Kalau ingin lakukan, sekaranglah waktu yang tepat.”

“Bahkan mesin-mesin pembunuh itu tidak bisa tenang setelah kehilangan dua basis produksi dan salah satu unit komandannya ditangkap.”

“Itu menguntungkan kita. Memberikan kita cukup waktu untuk menyusun tindakan balasan.”

Divisi Penyerang 86. Aktivitas mereka sangatlah melebihi ekspektasi. Dalam kurun waktu tiga bulan semenjak kelahiran unit itu, mereka mnghancurkan dua pangkalan Legion. Mengumbar eksistensi Anjing Gembala dan Phönix sekaligus mengungkap kebenaran unit Zentaur yang diteorikan ditambah berhasil menaklukkan beberapanya.

Mereka merekam data video dan membawa pulang bagian sampel unit Weisel serta unit Admiral di pangkalan Gunung Dragon Fang. Dan di operasi yang sama itu, mereka menyelamatkan Kerajaan Bersatu dari krisis dan bahkan menangkap unit komandan Legion.

Mereka mengumpulkan prestasi tak tertandingi tidak hanya di keseluruhan front barat melainkan unit lain di antara sekutu mereka, Kerajaan Bersatu dan Aliansi.

“Ratu Bengis,” salah satu siluet menyembur getir. “Unit komandan yang dispekulasikan mengemban kesadaran Zelene Birkenbaum …. Kudengar yang menangkapnya si Pencabut Nyawa itu juga. Ini cukup merepotkan.”

“Bagaimanapun, tidak ada tempat untuk pahlawan di sini.”

“Tentara harus dilihat sebagai suku cadang yang bisa diganti. Kemenangan di pertempuran tidak boleh ditampung pundak seorang pahlawan.”

“… jangan khawatir.”

Satu siluet yang tetap diam sejauh ini, kepala staf front barat, Komodor Willem Ehrenfried, membuka bibirnya.

“Saya sudah melakukan sesuatu. Saya yakin Anda sekalian akan segera menerima laporannya.”

Mayor Jenderal Altner mendengus.

“Kerjamu secepat biasanya, Willem. Reputasimu sebagai pedang pembunuh Ehrenfried layak disandang.”

Kepala staf, Willem, memandanganya dengan senyum sinis. Auranya seperti saber militer terasah dengan baik yang dingin.

“Anda membesar-besarkan, Mayor Jenderal. Ini cuma dokumen. Saya hanya menandatangani sejumlah dokumen menyebalkan kemudian menaruhnya ke kotak penyelesaian.”

Dia mengangkat bahu lebay. Di satu tangannya, memegang rokok, di satunya, memegang materi tentang tindakan balasan yang disebutkan di atas. Memutuskan dia tak lagi memerlukan dokumen, ajudannya yang berdiri siap siaga selama percakapan, melangkah maju, menerima dokumen yang diberikan dan kembali ke posisinya dekat dinding.

Ajudan Willem berasal dari keluarga pelayan lama yang telah mendampingi keluarganya selama beberapa generasi. Pelayannya senantiasa bersembunyi di bayangan hingga diperlukan, muncul di sisi tuannya sebelum dipanggil, selanjutnya kembali ke tempatnya dalam bayangan begitu menyelesaikan tugasnya. Ketekunan itu adalah produk didikannya.

Ajudan ini, yang masih cukup muda, kembali ke tempatnya tanpa sepatah kata pun. Performa luar biasanya tidak mendapat pujian baik dari kepala staf atau perwira lain yang hadir. Sebelum Federasi didirikan, mereka semua adalah bangsawan berpangkat tinggi di Kekaisaran alhasil terbiasa tidak menghiraukan ajudan dan pelayan.

Ajudannya sendiri tidak perlu pengakuan pula, terkecuali sepatah dua patah kata yang tuan mereka berikan di akhir hari kerja. Mereka adalah bayangan, tidak untuk diakui. Kalau ada yang memberi pujian, berarti menunjukkan mereka amat mencolok sehingga gagal dalam tugas mereka.

Jadi para perwira cepat melupakan eksistensi si ajudan dan melanjutkan pembicaraan seolah-olah mereka tak pernah diinterupsi. Ajudan itu tak merasa tidak senang. Dia berdiri tanpa ekspresi bak boneka selama menjalankan tugasnya, bernapas selirih mungkin.

Namun mata hitamnya menatap sekilas dokumen yang baru saja diserahkan kepala staf. Selama sepuluh tahun Perang Legion berkecamuk, Federasi tidak perlu memperbaruinya, jadi sampulnya cukup tua dan lapuk.

Dokumen yang kelihatannya paling tidak cocok untuk ruangan mewah berlebihan—tapi sedikit suram—di Markas Besar front barat, penuh asap dan para perwira galak Federasi. Bahkan di tangannya, tampak menonjol dengan sampul mencolok yang warna teksnya tidak karuan.

ALIANSI WALD.

BUKU PANDUAN WISATA.

Melihatnya, ajudan itu berpikir:

Jadi dengan kata lain …. Anak-anak itu sudah melihat gudang penuh kerangka mayat di operasi Republik …. Mereka mesti memanjat tebing melewati jalan yang dibuat sisa-sisa sekutu mereka. Tentara anak-anak malang ini sudah dihadapkan pemandangan mengerikan satu per satu, oleh karenanya orang-orang dewasa berusaha menenangkan pikiran berat mereka dengan cara mengirim mereka berlibur …

Kenapa pula kepala staf dan perwira lain menghabiskan waktu istrirahat mereka dengan pura-pura jadi sekelompok biang keladi jahat yang tengah merencanakan hal buruk …?

Demikianlah monolog tanpa suara nan galau ajudan itu.

Ж

“Aku … bisa …”

Selagi berlari maju dengan anggota tubuh muda yang indah, kaki telanjang mereka menampar lantai marmer. Cahaya memantulkan kulit agak kecokelatan tapi pucat khas para gadis seusia mereka.

“… terbaaaaaaaaaaaannnnggg!”

Meninggikan suara sampai menyorak bersemangat—teriakan sangat berbeda dari biasanya—Kurena nyemplung ke kolam renang. Semprotan hangat mengalir di belakangnya. Sulit melihat batu hijau di dasar kolam karena airnya beruap, tapi cukup dalam untuk diselami tanpa masalah.

Kurena menenggelamkan dirinya sampai bagian teratas kepalanya yang berada di atas air. Kemudian mengangkat wajahnya ke atas permukaan lalu merentangkan anggota tubuhnya dan menikmati sensasi mengambang santai.

“Fyuuuuhh …. Hangat banget …”

Frederica yang kebetulan berada di zona percikan Kurena gagal menghindar tepat waktu, alisnya mengerut imut.

“Kurena! Mana sopan santunmu?! Kau ini sudah dewasa, bukan?!”

“Tapi ini pertama kalinya aku di pemandian sebesar ini …”

Iya, mereka berada di pemandian. Tapi kata pemandian tidak bisa akurat mencerminkan skala kompleks mewah itu. Tempatnya sudah dibangun dari lama, sebagai bagian villa kaisar, dan struktur kubahnya cukup besar sampai bisa dengan gampang memuat seluruh trek olahraga. Lantainya dilapisi marmer dipelitur dengan baik dan kuno. Balok-balok bangunan terbuat dari berbagai jenis batu ditaruh sangat teliti bersama-sama, menciptakan pola geometris warna-warni di lantai.

Pemandiannya sendiri digali dalam bentuk persegi panjang dan bisa dengan mudahnya digunakan sebagai kolam renang lomba. Permukannya diukir dari monolit marmer besar, dan yang mengejutkan semua orang, tak ada celah di dasar pemandian, artinya diciptakan dari satu lempengan marmer. Jawaban berapa banyaknya tangan manusia serta kuda yang diperlukan tuk membawa lempengan seraksasa itu ke atas gunung curam di zaman kuno tetap jadi misteri.

Bertempat di tengah pemandian, ibaratnya membagi dua sisi, adalah sederet patung batu dengan patung kaisar diposisikan di paling depan dan tengah. Sebelahnya ada patung nimfa, dikelilingi sekeranjang bunga mekar yang menambah bau harum ke uap air.

Dan paling pentingnya, di balik asap dan patung-patung itu terdapat pemandangan pegunungan besar yang menakjubkan. Di setiap puncak gunung ada tajuk bersalju dan mengenakan jubah zamrud pohon konifer ditemani kabut tipis keperakan.

Berdiri tenang bagaikan naga purba, beristrirahat di sepanjang Gunung Wyrmnest seperti pengikut yang mematuhi ratu mereka, dengan langit memesona menjadi latar belakang punggung bukit indah mereka. Walaupun fasilitas ini dilengkapi teknologi paling baru, sebagian besar interiornya tetap mempertahankan desain zaman kuno yang mewah nan elegan. Jendela ini menawarkan pemandangan jernih di lokasi makmur.

Keagungan negeri yang puncaknya berkabut ini belum berubah selama seribu tahun terakhir. Magnifisennya abadi.

“Aku paham keinginan kalian untuk bercanda di tempat ini, tapi …” Frederica mendesah berlebihan.

“Beneran mengagumkan …. Ini bukan pemandian karena kolam renangnya punya pemanas.”

Kata Anju saat menyelinap ke dalam air dengan gerakan pelan dan anggun yang nampaknya bertentangan dengan pendaratan gempar Kurena. Mengurus rambutnya—yang dia ikat agar tidak basah—dia rentangkan lengan kurusnya.

“Iya, rasanya enak. Agak suam hangat, tapi suhunya pas buat menikmati berendam lama.”

“Kurasa namanya pemandian air panas? Mereka mengambil air panas ini dari mata air geotermal di gunung. Dan dulu, semua ini dimiliki satu orang kaisar. Kalian percaya …?”

Michihi meratap sembari meraup air keruh di tangannya. Mata Orienta hitam pekatnya menatap kosong gambar samar yang diukir di lengkungan batu.

“Berapa banyak orang bisa muat di tempat ini sekaligus …? Membuat kalian penasaran, kan? Tapi yah kurasa begitulah cara berpikir orang biasa …”

Ucap Annette, punggungnya bersandar di bak mandi yang diukir gambar mawar merambat—kemungkinan besar mencegah tamu terpeleset. Mata peraknya mengamati area tersebut, melihat beberapa lusin gadis lain tengah mandi atau bermain air di pemandian.

Divisi Penyerang dari Divisi Lapis Baja Ke-1 yang terdiri dari seratus lebih 86 yang bergabung. Dan gadis-gadis ini adalah para penyintas jumlah itu. Mereka berada di bagian kanan pemandian yang dipisahkan patung tegak lurus. Meski sudah sebanyak itu di separuh pemandian, masih banyak ruang kosong.

Shiden yang sedang berbaring di dekatnya, menyisir rambut merah basahnya lalu mengangkat bahu.

“Yah, kalau Putri Annette mulai menyebut dirinya orang biasa, kedudukan kami, 86, bahkan lebih rendah lagi, ya?”

“Harus kuberi tahu kalau saat ini aku sungguhan tunawisma. Di sisi lain, kalian diadopsi pejabat tinggi pemerintah, walaupun cuma di atas kertas. Status sosial kalian barangkali lebih tinggi dariku sekarang.”

Annette menanggapi sindiran Shiden dengan pukulan sarkastiknya sendiri. 86 itu ditindas, dan Alba adalah penindas mereka. Tetapi batas itu mengabur dalam Divisi Penyerang, dan semakin banyak orang dari kedua belah pihak terbiasa memanggil nama satu sama lain.

Dan membicarakan Alba lain, Annette berbalik, melihat lengkungan ubin mosaik yang berada di pintu masuk pemandian. Satu sosok berdiri sendirian disana, gemetaran bak anak rusa baru lahir.

“Lenaaa. Jangan cuma berdiri di sana—Sini masuk!”

Lena tersentak mundur begitu mendengar namanya dipanggil. Dia buru-buru sembunyi di balik bayangan salah satu patung pembawa keranjang.

“T-tapi …”

Patung kuno yang dipahat berbentuk seorang gadis terlalu kecil dan tipis untuk menyembunyikan orang sungguhan. Tapi Lena hampir tidak berhasil ngumpet, sambil terus gelisah.

Lagian …

“… aku tak terbiasa melihat orang lain seterbuka ini …” baik bersekolah dan berlatih di militer Republik dia pulang perginya dari rumah jadinya tidak punya pengalaman tinggal di asrama. Bahkan di Federasi, Lena punya kamar mandi pribadi dalam kamarnya di pangkalan. Dan sekalipun dia pernah memakai kamar mandi umum beberapa kali selama serangan skala besar dan tatkala menerima bantuan Federasi, biliknya masih terpisah.

Belum pernah dia berjalan-jalan dengan seterbuka ini—tentunya tidak di ruangan terbuka penuh orang lain. Namun Annette hanya mencemooh kesulitannya. Selagi gugup, Lena terus bergerak-gerak dan menggosok pahanya, menghantarkan pemandangan lebih sensual dari niatnya. Annette serius pengen menyuruhnya berhenti. Dia merasa sebuah pintu menuju dunia lain mau terbuka.

“Menurutmu aku bagaimana? Lagian, memakai pakaian renang itu wajib di sini. Kita bukannya telanjang, jadi menurutku kau tidak usah malu-malu amat.”

“Yah, iya, tapi tempat ini …. Terlihat jelas …!”

Di sekitar pemandian dan patung-patung itu ada sekelompok pilar kuno, dan di baliknya ada pemandangan puncak gunung bersalju. Artinya, tidak ada yang menghalangi sisi luar untuk melihat pemandian ini.

Lagi pula, tempat ini orisinilnya adalah vila untuk Kaisar Giad, dan orang-orang berketurunan Kekaisaran tidak menganggap setara pelayan atau penduduk mereka. Maka dari itu, mereka tidak malu mandi sambil dilihat para pelayan mereka, ibaratnya tidak malu bertelanjang di depan serangga.

Buruknya, karena ada tindakan ekstra untuk membuat pemandangan dalam pemandian lebih jernih dan memesona, jarak pandang dari luar juga cukup bagus. Tentu saja, jika jendelanya transparan penuh, udara di pemandian akan lebih dingin, sehingga jendelanya dibuat dari kaca berpanel ganda terpisah. Tetapi kacanya didesain tak terlalu mudah dikaburkan uap, jadi pemandangannya masih cukup jelas.

Pemandangan di lokasi mereka ini artinya jika ada yang mau melihat maka mereka akan melihatnya dari sisi lain gunung, tetapi itu tidak mengurangi kecemasan Lena.

“Dan yah …. Mereka … mereka di sebelah sana …”

“Iya, tapi kita make pakaian renang.”

Annette tegasnya memotong argumen Lena kemudian nyengir padanya.

“Walaupun kau bertingkah malu-malu begitu, kau betulan memilih pakaian renang yang mesum. Ini yang kita beli bareng sebelumnya?”

“A-Annette …!”

Annette nyengir lebar-lebar ke Lena.

“Ada yang salah? Sana pamerkan. Benar katamu, dia di sebelah sana.”

“Annette!”

Pipi kemerahan Lena makin-makin merah digoda Annette. Tali putih murni diikat di sepanjang punggung dan pinggang bikini baru Lena. Waktu Grethe memberi tahu mereka acara ini terus menyuruh mereka membawa pakaian renang ke pemandian, Lena ambil cuti bersama Annette, Kurena, Anju, dan Shiden, terus mereka berlibur untuk membeli sejumlah bikini.

Mereka semua menjerit-jerit dan mengobrol kemudian membandingkan ukuran. Tamasya menyenangkan, tapi Lena pun tidak sabar betul mengenakannya selama trip. Maka dari itu, Lena membeli pakaian renang yang menurutnya paling pantas untuk hari ini.

… tapi bukannya dia sengaja milih yang mesum

Dan lagi pula, Annette juga membeli baju renangnya sendiri setelah mempertimbangkan banyak hal. Miliknya adalah bikini jingga yang kontras sama kulit pucat alami dan rambut peraknya. Kurena yang lagi mengapung di air dekatnya, memilih bikini warna hijau-zamrud tanpa tali atasan yang menonjolkan paha dan dadanya.

Baju renang Anju berwarna biru muda dan mengejutkannya, menutupi seluruh dada di bawah lehernya sampai tepat di bawah dadanya. Bajunya memang ketat, akan tetapi memperlihatkan lengkungan payudaranya. Frederica dengan menawannya berupaya tampil lebih dewasa, mengenakan bikini anak-anak berenda hitam.

Michihi memakai bikini merah dan emas yang menonjolkan bahunya menunjukkan nasab Orientanya. Dan seolah-olah membedakan warna kulit gading Michihi, baju renang Shiden terang-terangan memamerkan asetnya sebagai wanita paling berkembang di sini dengan kulit paling gelap. Bikini hitam tipis yang meninggalkan sedikit imajinasi.

Jadi, Lena pikir, bukan karena pilihan pakaian renangnya terlalu seksi atau erotis dibanding lainnya. Pakaian renang sedari awal dirancang untuk mengemukakan lekuk tubuh seseorang, dan Lena tahu mereka akan masuk ke pemandian air panas, jadi dia sengaja memilih pakaian yang paling mengekspos kulitnya.

Pikiran dirinya terekspos seperti ini, lebih tepatnya, apa yang dia pikirkan jika melihat dirinya, tidak terlintas di pikiran Lena.

Bukannya … aku mau dia melihatku seperti ini … aku tidak … berpikir seperti itu …

Tapi Lena berhasil mengerahkan keberaniannya, setelah mengangguk singkat, melangkah maju kemudian …

“Aaaah?!”

Baru saja antuasias melangkah maju, kaki Lena mendarat persis di atas sebatang sabun—khusus dibuat berwarna kuning-jeruk agar gampang dilihat—terus dia terpeleset.

Ah Lena, kau tidak apa-apa?!’ ‘A-aw, aduh …’

‘Ah, bentar, bentar, Lena, jangan berdiri! Behanya putus! Tali behanya putus!’

‘Hah? Tidak …! T-tali yang mana …?’

‘… kau tidak bisa tenang banget, Baginda. Tidak bisa ikat dengan benar apa?’

‘Ah, berhenti bergerak-gerak; aku ikatkan. Ya ampun.’

“… teman-teman, kalian tahu tidak …”

Mendengar jeritan yang datangnya dari sebelah lain patung kaisar, Theo menggerutu sambil mendesah. Kesadarannya terus tertarik ke suara percikan air, namun dia paksa dirinya untuk tidak mengintip.

“… aku sudah terbiasa sama ini semenjak berada di Sektor 86. Jujur, aku hampir tidak kuat mendengar Kurena. Tapi serius deh, ini sudah sampai batas. Tidak bisakah mereka pelankan suaranya? Atau banternya lebih baik lagi memilih kata-kata sebelum mereka jeritkan?”

“Bukan berarti kita tidak ada cuma karena mereka tidak bisa melihat kita …” gumam Raiden lelah, tatapannya tertuju ke langit-langit.

Rito sudah merah padam padahal baru masuk air beberapa saat lalu, dan Dustin terus menutup matanya dengan tangan. Marcel menyanyikan lagu mars Federasi sendirian dengan suara gemetaran, habis-habisan berusaha menenggelamkan suara para gadis.

Kehadiran cowok-cowok sepertinya memperjelas keadaan, tapi mereka sedang berada di pemandian campuran. Patung-patung yang memisahkan pemandian tidak ditaruh di sana sebagai partisi. Hanya sebagai dekorasi.

Jadi bila mereka berbalik, mereka ‘kan melihat area yang ditempati gadis-gadis itu jaraknya hanya sejauh jalan kaki singkat. Misalkan mereka berdiri, mereka bisa melihat semua hal di balik patung. Area bilas di antara patung-patung itu juga tentu saja untuk semua orang.

Kebetulan, lingkungan budaya di wilayah utara benua—termasuk hotel ini dan Federasi—kebanyakan punya pemandian yang menawarkan pemandian campuran dengan pakain renang. Karenanya, yang perempuan tentu menempati sisi kanan patung kaisar, tetapi yang laki-laki terpaksa duduk di kiri, lumpuh karena ketakutan.

Di Sektor 86, anak perempuan punya tingkat kelangsungan hidup jauh lebih rendah ketimbang anak laki-laki di sini juga. Walaupun pemandiannya cukup besar sampai pas menampung jet pengebom, entah bagaimana rasanya sempit kalau sebagiannya dihuni perempuan. Suasananya jadi sangat canggung, dan yang laki-laki memasang ekspresi rumit.

Kesampingkan Yuuto yang sepanjang waktu raut wajahnya datar, bahkan Shin yang jarang-jarang menunjukkan reaksi ke banyak hal, juga Vika yang sama sekali tidak mampu membaca suasana, diam sepenuhnya.

Suasanya tak tertahankan.

“Aku teknisnya lagi bertugas, jadi berbeda. Tapi kalian semua lagi liburan …. Aku tidak tahu di mana santai-santainya,” kata Vika.

“Lain kali, kita harusnya tukar jadwal waktu sama mereka …”

Namun mengganti jadwal waktu dengan para gadis sebetulnya bukan solusi yang bisa diandalkan. Shin merasa mencoba melakukannya dengan Lena malah akan mempertemukan dirinya dengannya. Dan itu menuntun ke pemikiran lain …

Barulah saat itu Theo pandang Shin sambil menyeringai nakal. “Kau masih hidup, Shin? Di kepalamu ada apaan, kawan?”

“… bacot.”

Mata Theo tertuju kepada Shin yang tetap diam dan menolak menatap balik. Ruang ganti di pemandian ini semuanya berbentuk bilik. Dan karena ini pemandian campuran, pintu keluar dari ruang loker mengarah langsung ke pemandian. Oleh karena itu, pintu keluarnya cuma satu. Dan di situlah Shin berpapasan dengan Lena, sepenuhnya tidak sengaja.

Kilas balik, mereka semua wajib memakai pakian renang. Keduanya sama sekali tidak telanjang. Dan bukan berarti barak-barak di Sektor 86 peduli amat untuk memisahkan jenis kelamin berbeda. Tinggal di sana beberapa tahun, 86 sudah mengembangkan sejumlah tingkat kekebalan ketika melihat lawan jenis telanjang. Sekurang-kurangnya bagi Shin dan Theo begitu.

Tapi Lena bukan 86.

Dan buruknya, dia tidak punya saudara laki-laki dan kehilangan ayahnya saat masih sangat muda. Dia besar sebagai gadis kaya dan rumahan dengan Annette menjadi satu-satunya teman dekat seumurannya.

Waktu itu, Lena membeku. Shin kehabisan kata-kata. Lalu Lena merona sampai telinga, menjerit tidak jelas, dan lari ke sisi lain pemandian. Sebenarnya jeritannya cukup mengesankan; bergema ke seluruh fasilitas.

Inilah alasan utama Lena kelewat malu-malu. Dia sangat menyadari dirinya dikelilingi lawan jenis berpakaian renang dan dia sendiri dasarnya sedang berjalan setengah telanjang. Jadi Shin teramat kaget pada dirinya yang mendadak merona kemudian kabur sambil menjerit. Karena itulah, sejak itu dia diam saja.

Atau … mungkin sumber diamnya sebetulnya bukan syok. “Jadi bikininya bertali, ya?”

“Ba. Cot.”

Shin langsung membalas. Dia sudah menyingkirkan bayangan itu dari benaknya. Atau lebih tepatnya, dia berusaha tidak mengingat-ingat. Kalau dia tidak menahan diri secara sadar, ingatannya akan bangkit. Dia nampaknya saat itu benar-benar memerhatikan.

“Lena berani juga.” “Siapa yang peduli?”

“… besar tidak?”

Kurang dari satu detik, mata merah darah Shin jadi sangat intens, tampaknya siap melubangi wajah Theo. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Shin mencengkeram kepala Theo—yang gagal menghindari cengkeramannya—lalu ditenggelamkan ke air dengan paksa.

Gadis-gadis tiba-tiba mendengar suara deburan dari sisi lain patung, tempat Shin dan cowok lain berada.

‘… uwaah! Hadeh, Shin, aku tahu yang satu itu salahku, tapi jangan langsung pake kekuatan mematikan!’

‘Tanganku tergelincir.’

‘Dalih monoton-klise macam apa itu? Setidaknya coba pikirkan sesuatu yang meyakinkan!’

‘Theo, jangan diisengin. Dia tidak ada santuy-santuynya kalau soal itu.’

‘Tidak, tidak. Ini cukup menghibur, jadi aku pengen tahu dia bisa bertahan sampai kapan. Jadilah pengorbanan mulia, Rikka.’

‘Waw, Vika, apa-apaan?!’

Mereka terdengar saling iseng dan adu mulut bercanda dari sisi lain patung.

“… sepertinya cowok-cowok lagi bersenang-senang,” ucap Annette, mengerutkan alis.

“S-selama mereka senang …” gumam Lena, tenggelam di air sampai ke mulut sesudah mengamankan lapis baja depannya.

Fakta mereka dapat mendengar Shin dan anak laki-laki sejelas itu membuat Lena cemas kalau keributan sebelumnya mungkin sampai ke telinga mereka juga. Dan jika iya …

Mereka mendengarku di saat … momen memalukan …. Malu banget …

Melihat Lena dan Annette, serta Anju yang kebetulan berdiri di antara mereka, Shana memiringkan kepala.

“Hei.”

Sewaktu mereka bertiga berpaling menatapnya penuh tanda tanya, Shana melihat mereka satu per satu kemudian membuka bibir.

“Kalian semua berdiri berurutan.”

Ketiganya saling berpandangan begitu mendengarnya. Ukuran yang dimaksud sepertinya bukan panjang rambut. Tinggi juga bukan, karena Anju-lah yang paling tinggi. Jadi artinya …

Mereka bertiga, sekaligus gadis lainnya, melihat dada masing-masing, terbungkus kain warna-warni dan mengambang di air beruap. Selanjutnya hening sejenak …

… berikutnya semua gadis bangkit berdiri dan mulai membandingkan ukuran payudara.

“Aaah, aku lebih besar dari Anju tapi lebih kecil dari Lena!”

“Dan aku lebih gede dari Annette tapi masih gedean Shana … Hmm.” “Uwah …. Hebat, Shiden. Kau nomor satu …!” “Maksudmu kecil siapa?! Aku ini rata-rata!”

“Betul tuh! Kalau Annette kecil, aku bagaimana?!”

“Aku sudah tahu soal Kurena, tapi Lena bahkan lebih besar dariku …. Aduh, aku sudah berusaha agar tidak terpengaruh, tapi rasanya frustasi banget …”

“B-barang ini cuma jadi penghalang doang! Sakit waktu keseringan bergerak, apalagi pas pertempuran. Dan rasanya panas saat musim panas! Pundakku jadi sakit karenanya!”

“Diam, bodoh! Kenapa kalian semua pengen banget menekan kancingku?! Ini keterlaluan! Serangan pribadi!” teriak Frederica, merasa tersisih.

“Diam, cebol. Balik lagi saat kau punya sesuatu buat ditambahkan ke percakapan.”

Keriuhan positif tetap berlanjut selagi gadis-gadis itu berbaris sesuai ukuran. Memangnya ada faedahnya? Siapa yang tahu …?

“Baiklah, Lena—S-sial, besar …. Kau makan apa biar punya kek gitu?!”

“H-hah? Hentikan; Jangan dorong aku …! Nah, dengar dulu!”

Lena memprotes sambil mencoba mengenyahkan para Prosesor yang mendorongnya dari belakang ke titik antara Shiden dan Kurena. Dia bicara mati-matian seelagi gadis-gadis memegang kedua lengannya.

“Aku tahu kita lagi liburan, tapi kalian ini terlalu tidak peduli! Kita memang menyewa seluruh hotel, tapi, anu, tepat di sebelah kita …”

Shin berada di sisi lain patung kaisar, cukup dekat untuk mendengar suara mereka bahkan melihatnya, seandainya dia berdiri.

“Yang cowok ada di sana! Jadi tolong bersikap lebih sopan!”

“Iya, dengerin dia! Kami beneran mau kalian berhenti!” teriak Theo, tidak sanggup lagi menahan kelakuan buruk mereka.

Sayangnya, Lena-lah satu-satunya orang yang nyatanya mendengarkan—atau persisnya, satu-satunya yang mendengar. Tawa melengking nan jelas mereka menggema sampai langit-langit. Akhirnya, satu orang bego memanjat patung kaisar dan menjulurkan wajahnya.

“Kami jelas mendengar kalian, sobat! Tapi jauh dalam hati, kalian ingin banget mengintip, kaaaann?!”

Orang bego itu Shiden, melambai sambil nyengir cerah mirip seringai buaya biasanya. Dan meskipun mereka tidak bisa menyangkal mau mendengar lebih banyak yang dibicarakan perempuan … menurut kesopanan umum mereka mesti pura-pura menolak. Jadi mereka mati-matian berupaya mengabaikan Shiden.

Tetapi pokok bahasan para gadis sekarang sedang bergantung di atas karangan bunga laurel di atas kepala kaisar, benar-benar disodorkan ke mereka, pengingat kembar naik-turun yang terus anak laki-laki coba tidak pikirkan.

“Ayolah, man-teman, mana sorak-sorainya? Paling tidak bersiul atau apalah—Fuah!”

Sebelum Shiden sempat menuntaskan kalimatnya, Shin mengambil ember dan dilemparkan kepadanya, tepat mengenai dahinya. Jemarinya melepaskan patung kaisar, kemudian jatuh ke air dengan deburan bombastis. Shin bergegas melakukannya begitu Shiden muncul, membuat Raiden bingung antara mau syok atau kesal. Fakta Shin melancarkan serangan itu seketika melihatnya teramat mengesankan, tapi …

“… serius, bung. Shiden doang yang tidak kau kasihani.”

Suara tenang serta datar Shana mencapai mereka dari balik patung.

‘Maap, Shin. Memberi perhatian Shiden di saat-saat seperti ini malah membuatnya makin bersemangat, jadi abaikan saja dia.’

Shiden betul-betul tetap tenggelam, meluapkan keluhannya. Mereka tak mengerti dia bilang apa, jelas saja, tapi barangkali semacam, Akan kubuktikan kalau kalian kegirangan! Bersiaplah. Semua yang hadir berharap dia ‘kan segera tenang.

“Tapi ya, usai mempertimbangkan semuanya, sepandanganku punyanya memang cukup akbar …” gumam Marcel selagi melihat ke sembarang tempat.

Selain menyingkap baju renang, dada Shiden terlalu besar sampai-sampai menarik perhatian sewaktu mengenakan seragamnya—dan bahkan jaket panzer-nya. Jaket tugas tulen sebagiannya antipeluru dan dibuat untuk menunjang gravitasi tinggi selama operasi intens. Bukti kelengkungan payudaranya tetap terlihat biarpun berada di bawah bahan padat semacam itu adalah hal luar biasa.

Pemikiran itu rupanya membangkitkan sesuatu dalam diri Marcel, karena dia mengepalkan tinju penuh semangat.

“Maksudku, ayolah! Pria cinta payudara! Kalian pernah melihat patung dewi? Tahukah ke semuanya punya apa? Itu benar! Tetek besar!”

“Aku tidak setuju denganmu soal itu. Opiniku, payudara itu paling mantap kalau bisa pas di telapak tanganmu.”

“… waw, Yuuto, tidak kusangka kau akan ikut campur. Dan serius tuh, ganti ekspresi wajahmu sesekali, ya? Terutama ketika pembicaraan semacam ini.”

“Dustin …. Kalau dipikir-pikir, tidak usah kutanya. Kau bagaimana, Nouzen? Aku yakin sekaranglah saat yang bagus untuk bertanya.”

“Maksudnya apa pula?!” teriak Dustin.

“Ukuran bukan hal paling penting. Tapi bukannya mereka tak peduli kita di sini, bukan berarti kita mesti membicarakan ini padahal mereka bisa mendengar,” tukas Shin.

“Katamu begitu, tapi kau juga harus hati-hati, Shin. Aku yakin kau barusan menenggelamkan Kurena malang dari komentarmu itu. Kek, beneran menenggelamkannya.”

Setelah itu, Raiden melirik Kurena yang sedang mengambang di air dengan mulut berbusa, ibaratnya kena peluru nyasar. Shin mengabaikannya, meskipun sedikit rasa bersalah merayap di wajahnya.

“Yah, idemu bagus. Kita mungkin harus meninjau ulang topik ini selama obrolan malam, meski sudah basi.”

“Uh …. Jadi maksudnya kau menanti pembicaraan perihal gadis sampai larut malam, Pangeran …?”

Rito mengerang bak mimpinya baru diinjak-injak tanpa ampun. Vika mengabaikannya, tapi anak idiot lain cepat merangkak keluar dari kayu, menjauh dari dinding tempatnya berdiri.

“Serahkan pada saya, Paduka! Kendati saya tidak kompeten, saya, Lerche, akan mencari topik yang cocok untuk Anda diskusikan—Hah?!”

Buru-buru mengambil ember yang menabrak Shiden sebelumnya, Vika tanpa banyak bicara melemparkannya ke dahi Lerche. Sesuai dengan latar belakangnya sebagai pangeran negara militan, dia melancarkan lemparan fastball1 dengan bentuk sempurna.

“Bacot, dasar anak tujuh tahun. Kau bahkan tidak tahu lagi membicaraan apa.”

“K-ketidaksadaran saya sangatlah parah …”

Lerche berjongkok dan mendekap erat titik yang dihantam ember, walaupun tidak bisa merasakan sakit. Dia menonjol di pemandian karena mengenakan seragamnya seperti biasa. 86 sudah terbiasa melihatnya, tapi Lerche bukan manusia. Dia adalah komponen drone berbentuk manusia. Gadis itu barangkali kelihatan mirip makhluk hidup, tapi bagian dalam tubuhnya semekanis Feldreß.

Dia tidak sepenuhnya tahan air dan oleh sebab itu tidak bisa masuk ke dalamnya, alhasil dia berdiri di pojok pemandian, memegang nampan yang di atasnya ada handuk ekstra, sabun, dan kendi berisi minuman dingin, juga es.

… dan sekalipun tidak relevan sama sekali, anak-anak cowok penasaran bagaimana tubuh Sirin dirancang, terkecuali kepala mereka. Kesampingkan warna rambut dan kristal saraf kuasi di dahi mereka, wajah mereka tidak ada bedanya dari manusia, namun misalkan sama saja dengan wanita asli di balik pakaian mereka, itu agak … yah … menyeramkan.

“Menarik bagaimana, anu … cewek-cewek lebih terbuka soal topik semacam itu.”

Dustin blak-blakan mengubah topik pembicaraan.

Wajah semua orang menanyakan pertanyaan, Kau mengungkit sesuatu seberbahaya itu? Membuat Dustin tersentak.

“Err …. Kau tahu betul ‘kan mereka selalu membicarakan hal-hal semacam itu …. Saat tidak ada kita …” bisik Rito.

“Sebenarnya mereka lagi membicarakan itu sekarang.”

“Iya, mereka mengatakan hal-hal semacam, Otot itu seksi, dan leher tuh seksi. Aku bisa jelas mendengarnya.”

Para gadis di sisi lain patung yang tengah menguping percakapan anak laki-laki, mengangguk bijak.

“Oh iya, otot itu seksi.”

“Yup. Dan Kendatipun kita jarang melihatnya, aku suka betapa bagus dan begarnya penampilan betis dan pergelangan kaki.”

“Bagiku, ini semua soal tengkuk leher …. Maksudku, bahu umumnya seksi juga. Tapi garis yang memanjang dari bahu sampai punggung itu …. Hmm.

“Oh, dan aku baru melihat ini pertama kalinya waktu datang ke Federasi, tapi aku suka bentuk tangan pria yang lagi memegang rokok! Itu hal bagus!”

“Bolehlah, tapi paling bagusnya itu ada di lengan. Heh. Kayak saat pria berkeringat, terus dia menarik lengan bajunya, lalu kelihatan deh garis-garis kecokelatannya …. Pembuluh darah membengkaknya …”

“Pembuluh darah lumayan seksi.”

“Dan bekas luka itu keren banget. Bekas luka yang kelihatan lukanya dulu itu sakit banget agak … bukan …. Tapiiii kalau kau bisa bayangkan ekspresi mereka pas kesakitan …. Uuh …”

“Kayak, bahkan cowok-cowok saling membandingkan bekas luka terus dipamerin.”

Bekas luka ini kudapat saat bertarung di tempat ini atau yang satu ini ketika Löwe merusak rig-ku atau sebelah sini kudapat dari memanjat pagar di kamp konsentrasi.

Itulah jenis cerita yang hanya dianggap baik 86.

Gadis-gadis itu tidak tahu penyebab mereka berganti dari obrolan kotor ke cerita-cerita tentang latar belakang luka mereka, tapi begitulah sifat basa-basi. Yang laki kemungkinan tidak tahu mengapa jadinya seperti ini pula.

Tapi Lena jadi teringat betapa penuh lukanya tubuh Shin, membuatnya meringis. Bekas luka abu-abu—beberapanya mungkin setua tujuh tahun—merusak dagingnya. Yang paling menonjol adalah bekas luka di sekitar leher. Lena tidak pernah bertanya bagaimana dia dapat itu, namun seluruh bekas luka tersebut adalah pengingat bisu akan banyaknya pertempuran dan luka-luka yang dialaminya. Kebanyakan boleh jadi kenang-kenangan dari Sektor 86.

… dan kebetulan, meskipun kabur sambil berteriak, dia … juga melihatnya dengan baik … (setidaksopannya itu). Dan tatkala dia sadar, wajah Lena memerah lagi. Dia sadar akan sesuatu semacam perbedaan jelas antara warna kulit alami pria dan bekas luka cokelat yang menjadi bukti lamanya dia di medan perang. Tubuh berotot yang rampingnya.

Dia mungkin tidak lama lagi akan berhenti tumbuh, tapi tidak salah lagi tubuhnya akan mematang sampai jadi pria sangat tampan. Bahkan kadang-kadang kala Shin yang memakai seragam normalnya kebetulan menatap Lena, susah mengabaikan fakta bahwa tubuhnya dan Lena seberbeda siang-malam. Struktur tulangnya, otot-ototnya, tekstur kulitnya …. Mata Lena bertanya-tanya.

Dan selagi dia melamunkan pikiran itu … “Lenaaaaa?”

Dia mendongak kemudian mendapati gadis-gadis 86—yang menyebar di pemandian hingga kini—mendekatinya bak sekelompok kucing menyudutkan mangsa tak berdaya.

“Hmm …?” Lena menegang.

Mereka dekat, ada banyak pula. Apalagi mata mereka terlihat berkilat-kilat seraya mengamatinya. Lena … cukup terintimidasi.

“Kulitmu, kelihatannya halus banget, Lena.”

“Tidak ada garis kecokelatan, bekas luka juga tidak …. Boleh kusentuh?”

“Jangan khawatir; sebentar saja. Colek-colek sedikit. Oke?” “Ah, er, b-bentar, aku, aah …”

Perlawanan setengah hati Lena langsung gagal. Tangan terulur dari segala arah, menotol, menggosok, dan membelai kulitnya. Lena cuma bisa menjerit lirih. Lalu Lena menyadari anak-anak lakinya sekali lagi terdiam.

Mereka yang sedikit pusing karena semua cobaan berat itu, dengan para perempuan yang bahkan lebih letih dari sebelum mereka masuk pemandian (sebab terlalu banyak bermain), mereka semua meninggalkan fasilitas dan menghabiskan waktu untuk bersantai di ruang resepsi.

Paviliun ini didirikan dari bangunan kuno, dengan halaman dalam bergaya peristyle2 yang baru-baru ini ditutup oleh langit-langit kaca. Kini tempatnya telah dijadikan hotel, berfungsi sebagai tempat istrirahat. Ada banyak sofa besar yang mengizinkan satu-dua orang untuk berbaring dengan nyaman.

Sofanya cukup luas sampai jarak antar dudukannya tidak serasa sempit, sofanya pun diperelok kain domba yang terasa selembut awan. Aula resepsi didinginkan pendingin ruangan, dan para pelayan mengenakan pakaian nasional Aliansi berjalan melintasi ruangan, membawa kendi berisi minuman dingin serta gelas di atas nampan.

Sofa-sofatnya cukup empuk buat ditekan serta, bulu yang tersebar di seluruhnya nyaman disentuh. Dikuasai godaan itu, Shin memejamkan mata tapi setelahnya membuka kelopak mata teramat-amat beratnya karena takut ketiduran. Sejumlah bagian dirinya merasa sudah puas, tapi bukannya dia berniat berhenti bersantai.

Sekitar satu bulan telah berlalu sejak operasi Gunung Dragon Fang di Kerajaan Bersatu telah berakhir. Kali ini, detasemen mereka dibebastugaskan dari aktivitas operasional, yang artinya mereka rehat dari kurikulum pelatihan perwira khusus. Karena itulah, bahkan Shin tahu sebaiknya dia mengadopsi pola pikir santai ketimbang pola pikir yang menjaga kelangsungan hidupnya di medan perang. Terutama karena dia sadar tempat ini dipilih buat mereka untuk beristrirahat beberapa lama.

Mereka berada di wilayah Aliansi Wald, negara bagian pegunungan yang terletak di sepanjang perbatasan barat daya Federasi. Spesifiknya, berada di hotel resor kesehatan di ibu kota keduanya, Hesturn. Negara ini membanggakan pegunungan tingginya di benua, Gunung Sakral Wyrmnest, yang menjadi jantung konfederasi negara-negara kecil. Terdapat sedikit daerah datar di antara puncak-puncak yang menampung negara-negara kecil ini.

Mengingat minimnya jumlah tanah layak huni dan populasinya yang sedikit, semua warga negara—baik pria-wanita—dikenakan kewajiban wajib militer. Kebijakan wajib militer universal ini memberikan kekuatan militer cukup besar kepada negara. Tujuh ratus tahun lalu, memperoleh kemerdekaannya dari Kekaisaran Giadian.

Menggantikan monarki, terbentuk suatu dewan yang beranggotakan orang-orang berpengaruh tiap-tiap negara di konfederasi. 160 tahun lalu, mereka memberikan semua hak suara kepada warga sipil, beralih ke pemerintahan Republik—seabad penuh setelah Republik San Magnolia menetapkan preseden tersebut.

“… boleh aku duduk di sebelahmu?”

Shin mendongak, tahu betul suara itu dari Lena. Dia memberi izin dengan gerakan sederhana, kemudian Lena duduk di sofa di sampingnya. Rambut perak panjangnya masih sedikit basah. Kala dia membuka bibir, dia terlihat malu dan Shin tidak paham mengapa dia demikian.

“Maaf tentang sebelumnya. Er, maksudku, soal mendadak menjerit …”

“… tidak apa-apa.”

Menurut Shin, perbincangan yang terjadi sesudahnya jauh lebih buruk. Namun mengungkitnya sekarang malah semakin menggali kuburannya. Seorang pelayan wanita menghampiri mereka, sepatu bertali tingginya berbunyi klik di lantai. Dengan gerakan halus nan terlatih dia suguhkan wadah kaca ke arah mereka.

“Anda ingin es krim? Anda sekalian sedikit bermain-main, jadi pasti menginginkan sesuatu yang dingin.”

Sangking banyaknya negara antar pegunungan yang membentuk Aliansi, ada beberapa kelompok etnis yang menyusun populasi negara bagian. Yang terbesar adalah Caerulea bermata biru. Pelayan ini kemungkinan besar berdarah campura L’asile, menilai rambut pirang gelapnya dan warna matanya yang nyaris nila. Dia memakai gaun yang memadukan warna hijau hutan tempat hotelnya dibangun dengan warna merah cerah.

“Teko ini isinya susu kental. Ini produk khas Aliansi. Kami punya banyak peternakan sapi perah, jadi kami sangatlah membanggakan kualitas produk susuk kami. Kami harap Anda menikmatinya.”

“Terima kasih.”

“Terima kasih banyak.”

Shin bersama Lena berterima kasih kepada pelayannya dan menerima minuman yang ditawarkan. Wanita itu tersenyum kepada mereka.

“Sayangnya, di masa-masa sulit ini, tidak banyak variasi makanan. Jadi kami harap Anda tidak keberatan dengan terbatasnya sajian.”

Aliansi Wald adalah negara pegunungan. Puncaknya terlampau curam sampai-sampai hingga hari ini, rel kereta api kesulitan mencapai negara ini, ditambah permukaan batu tinggi di wilayahnya mengartikan nyarisnya tidak ada tanah subur. Sedikit pertanian yang dapat mereka kelola hanya ada di lembah yang hampir tak cukup untuk mendukung kebutuhan populasi.

Normalnya suatu negara dalam posisi itu akan beralih ke teknologi dan perdagangan tuk mengimbangi kondisi lewat import. Dan betul, Aliansi mengandalkan perdagangan untuk mengatasi kekurangan pangannya. Tapi seketika Perang Legion meletus, setiap negara-negara di benua terisolasi.

Ini masalah besar bagi Aliansi yang secara paksa terputus dari rantai suplai makanannya. Sekalipun situasinya tidak seekstrem Republik—yang hampir 100 persen makanannya hasil sintesis pabrik—Aliansi harus bergantung nian pada produksi makanan pabrik untuk memberi makan populasinya.

Shin bersama Lena ditawarkan buah beku ditemani susu kental manis dan tambahan es krim serut yang rasanya langsung meleleh begitu masuk ke mulut mereka. Luar baisa segar dan sedikit sederhana. Ketika Lena memasukkan sendok ke mulutnya, matanya membelalak terbuka.

“Ini enak banget …! Belum lagi aroma harum hutan. Aku ingin tahu bagaimana cara mereka membuatnya.”

“Kurasa mereka memakai daun pinus,” jawab Shin. “Daun pinus? Oh …”

Lena menyipitkan mata penasaran pada sesendok es krimnya.

“Masakan di berbagai negara memang beda-beda …. Ini pertama kalinya aku merasakan makanan yang menyertakan jarum pinus ke bahan-bahannya.”

“Aku setuju sama pernyataan pertama, tapi aku pernah melihat bahan itu digunakan jadi pengganti daun teh untuk menetralkan bau daging di Federasi. Kami bahkan menggunakannya di Sektor 86.”

86 awalnya adalah warga Republik San Magnolia, meski Shin enggan mengakui faktanya. Memanfaatkan daun pinus untuk teh mungkin juga diintegrasikan ke dalam budaya Republik.

“Boleh jadi, tapi …” Lena cemberut marah.

“Mungkin kau harus menjambangi Sektor 86 suatu hari kelak, Lena. Kau bisa menikmati pemandangan indah puing-puing dan menghargai makanan hasil sintesis.”

Lena tentu saja menyadari nada candanya.

“Oh, aku tahu semua itu. Aku mesti memakannya berkali-kali selama serangan besar-besaran.”

“Dan kau teringat akan apa? Aku takkan murka sama jawabanmu, jadi jawab jujur.”

“Hmm …. Yah, itu …”

Salah satu lelucon lama 86. Cekikikan, Lena pura-pura merenungkan jawabannya sejenak, terus …

“Bahan peledak plastik,” kata mereka sama-sama.

Lena terkekeh, membuat bibir Shin tersenyum. Namun tawanya segera hilang, lalu dia menyipitkan mata. Aula tempat mereka berada dahulunya adalah halaman, namun kini, langit-langitnya diperlengkap kaca yang disusun dalam pola geometrik. Sinar masuk melalui kaca, menghias putihnya lantai dengan sinar berbentuk geometrik sama. Warnanya sedikit berubah tergantung waktu hari. Keindahan tanpa wujud—seni buatan cahaya.

Sinar sementara itu terpantul di mata Lena.

“Tempat ini beneran bagus. Tenang …. Dan entah mau lihat ke mana, pemandangannya indah.”

“…”

Sekecil bagaimanpun wilayah Aliansi, resor kesehatan yang mewadahi hotel ini berada jauh dari lini depan. Inilah drone polipedal pertama di dunia—Feldreß asli—dikembangkan. Bertahun-tahun lalu, penghuni pegunungan negara bagian ini menggunakan senjata-senjata tersebut untuk bertahan dari lima belas divisi tank yang dikirim Kekaisaran. Dan mereka tetap tegap walau dihadapkan ancaman Legion.

Berkat itu, api peperangan tak berujung mencapai tanah ini. Tidak ada tembakan meriam menggema di kejauhan. Tak ada kasak-kusuk hanggar. Bahkan ratapan tiada henti Legion rasanya jauh di sini. Shin tidak terbiasa akan keheningan ini.

Keributan perang senantiasa menjadi latar belakang kehidupan sehari-harinya. Raungan artileri tidak pernah berhenti, bau oli mesin dan asap senantiasa melayang di udara. Abu pasir dan debu pertempuran selalu mengawang di dunia. Karena itulah versi normal menurutnya, gagasan orang-orang menikmati ketenangan konstan ini sepenuhnya asing bagi Shin.

Tapi meski begitu …. Dia mulai merasa bisa bersantai di sini. “Ya … aku setuju.”

Masih tersisa beberapa jam sebelum makan malam, dan Lena kembali ke kamar tamunya di hotel berkali-kali untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkannya saat mandi. Lena dan Annette satu kamar, tapi Annette belum balik-balik juga. Tempat tidur mereka sudah dipersiapkan selagi mereka di luar; kala Lena kembali, dia dengan senangnya menyelam ke atas seprai diluruskan yang bersih kemudian bermalas-malasan lama.

Lena masih sedikit pening sehabis mandi. Bisa jadi dia kelewatan bersenang-senang. Apa pun alasannya, begitu dia sendirian lagi, semua ketegangan terkuras dari tubuhnya, dan kelembutan nikmat mengacaukan kesadarannya. TP, yang Lena tinggalkan di kamar, sempoyongan menghampiri seraya mengeong nyaring familier.

Lena tidak bisa membawanya tatkala bertugas di Kerajaan Bersatu. Tidak bertemu Lena atau Shin selama dua bulan membuat si kucing lebih nempel dari sebelum-sebelumnya. Merasa TP mencari kenyamanan di perutnya, Lena menepuk pelan dengan satu tangan, kemudian ia mendengkur puas.

Seketika kesadarannya mulai menyusut, Lena memikirkan ulang kejadian-kejadian sehari ini dan akhirnya berhenti di ingatan tertentu. Lena mengingat uucapan Shin padanya seusai menghadapi Phönix di medan perang beku Kerajaan Bersatu.

Kata-kata penuh permohonan, seperti perkataan anak hilang. Kata yang tidak hanya mengungkap kelemahan dan rasa sakitnya tetapi juga menyimpan keinginan paling kuatnya.

‘Aku pasti akan kembali. Jadi jangan tinggalkan aku. Aku mau menunjukkanmu laut.’

… jadi benarkah berasumsi … dia menganggapku seperti itu …?

Seketika pikiran tersebut melintasi benaknya, Lena jadi merona. Tangannya ditempelkan ke pipi sembari berguling-guling di tempat tidur.

Apa aku terlalu berasumsi …?

Tapi satu-satunya makna yang masuk akal cuma itu. Aku pasti akan kembali, katanya. Jadi jangan tinggalkan aku katanya …. Aku mau menunjukkanmu laut, katanya. Kalau dia tidak bermaksud begitu, Lena harus menafsirkannya bagaimana?!

Tapi …. Tidak …. Aku pasti kepedean …

Di hari-hari menjelang periode liburan ini, Shin menghabiskan waktunya untuk belajar di kota dekat pangkalan mereka. Lena yang sudah menyelesaikan edukasi lebih tingginya, entah kenapa juga terdaftar sebagai siswi di sana, jadi mereka sering belajar bersama. Dan melalui interaksi mereka yang kian meningkat, Shin entah bagaimana sepertinya sudah bisa memahami emosinya. Dia lebih sering tersenyum dan kadang kala bercanda.

Bagi Lena, inilah kehidupan sekolah tak terlupakan yang sungguh menyenangkan, tapi … sepanjang waktu ini, Shin tak pernah menungkit keinginannya. Emosi tulus yang dia tunjukkan pertama kali tidak lagi terlihat.

Lantas Lena menyimpulkan dia hanya berpikir berlebihan. Namun Lena tidak bisa menemukan penjelasan lain dari maksudnya …. Dan setiap kali dia pikirkan, dia akan merasa tidak karuan.

Memijat pipi memerahnya, Lena berguling-guling di tempat tidur lagi.

Ketika Shin dan Lena memperbincangkannya, mereka berada di tengah medan perang dan kondisi pikiran mereka tidak sedang memastikan perasaan masing-masing. Tapi sekarang, Lena pikir seandainya perasaannya tentang itu akan seperti ini, mestinya dia bicarakan dengan tenang bersamanya segera setelah operasi berakhir …

Tunggu, setelah operasi? Bicarakan bersamanya—dengan tenang? Tidak, tidak, tidak sanggup; tidak bisa kulakukan itu! Tidak, tidak, tidak, memalukan banget! Aku tidak bisa menanyakannya itu!

Bagaimana kalau aku …?

Aku menanyakannya …

… ternyata semuanya salah …?!

Lena berguling ke kiri-kanan di atas tempat tidurnya, tangannya saling menggenggam di depan wajah meronanya. Dia cemas bukan main dan takut sekiranya dia tidak bergerak, rasanya dia mau gila. Sedari awal, dia sibuk sekali dengan perasaan Shin sampai jadi gugupan dan tersipu malu ….

Bagaimana perasaanku padanya …?

Pintu kamarnya terbuka dengan suara berdentang.

“Aku kembali, Lena. Mereka ngasih aku air lemon. Mau? Aku lumayan yakin lemonnya hasil sintesis, tapi mint-nya beneran. Bentar …”

Menatapnya, Annette memandang bingung Lena. “… kau sedang apa?”

“Annette …!” Lena melihat temannya, merasa putus asa.

Tempat tidurnya berantakan dan ikat rambut perak berkilau yang sebelumnya dia sisir baik-baik sudah acak-acakan bukan kepalang.

“Annette, aku …. Menurutmu perasaan Shin padaku bagaimana …?”

Annette terdiam lama hingga akhirnya mendesah napas panjang nan mendalam. Seolah-olah melepaskan tekanan batin yang telah menumpuk dalam dirinya.

“… Lena.” “Ugh …”

“Mengenalmu selama ini, aku tahu kau ini bego total, tapi kurasa boleh memukulmu kali ini. Kan?”

“… maaf.”

TP mengeong nyaring seolah berteriak yang kedengaran campuran penegasan dan apatis penuh.

Shin kembali ke kamarnya, merasa sedikit pusing. Sebagian dirinya juga merasa dirinya tidak boleh terlalu berpuas diri. Tatkala dia memasuki ruangan, ingatan tertentu samar-samar muncul dalam benaknya. Menatap langit-langit kayu yang didesain secara artistik, Shin melanjutkan ingatan tersebut.

Ingatan pembicaraannya beberapa hari lalu bersama rekan-rekannya, selama masa mereka di akademi perwira khusus. Membicarakan hal sepele yang biasa-biasa saja, dan dari awal aneh kalau amemori itu merayap ke dirinya. Pemandangan yang sepenuhnya normal.

Tapi ujung-ujungnya, Lena-lah yang mengisi sebagian besar ingatan tersebut. Percakapan mereka satu bulan lalu di Kerajaan Bersatu. Tutur yang diucapkan Shin.

Jangan tinggalkan aku.

Dia harus mengakui fakta itu …. Dia harus berhenti menutup mata akan kebenarannya. Dia harus mengakui dirinya telah menghadapi keinginan sejatinya secara langsung …. Bahwa dirinya telah menyadari sesuatu yang menunjang hidupnya, walaupun itu bohong.

Perasaannya kepada Lena.

Pikiran itu membuat Shin merasa canggung, lalu dia biarkan kepalanya membentur bantal. Bukan emosi yang akrab baginya, alhasil semakin sulit diatasi. Membuatnya dalam suasana hati resah nan gelisah. Dia tidak tahu mesti berbuat apa pada dirinya sendiri.

Dia ketakutan—pasti—dan tidak mampu mengambil langkah selanjutnya. Andaikata seseorang memanggilnya pecundang karena itu, dia tidak bisa tidak setuju. Hari-hari yang mereka habiskan untuk belajar bersama selama libur, Shin berniat membicarakannya dengan Lena beberapa kali, tapi pada akhirnya, dia tidak sanggup mengatakan apa pun. Mengingat kelambanannya malah makin membuatnya depresi.

Shin tidak terlalu tahu kapan dia mulai merasa demikian. Tanpa sadar, Lena telah mengambil tempat tinggal permanen dalam hatinya. Dan ketika mereka bertemu kembali lalu mulai bertarung bersama di medan perang yang sama, tempat yang ditinggali Lena perlahan-lahan kian membesar. Hingga Shin tak mampu membohongi dirinya sendiri lagi.

 Dan saat Shin menyadari emosi ini, dia tidak bisa mengabaikannya lagi. Mengorek-ngorek ingatannya, Shin tersadar hal yang dia perbuat hanyalah dengan egoisnya memaksakan keinginannya ke Lena. Ingat kami. Lanjutkan hidup. Jangan tinggalkan aku.

Lena mengabulkan semua keinginan itu, dan Shin merasa tidak boleh membiarkan dirinya memanfaatkan kebaikan Lena lagi.

Aku menunjukkanmu laut. Aku ingin melihat laut, bersamamu. Dan kini sesaat dia sadar kepada siapa sesungguhnya keinginan itu … “—n.”

Biar begitu, keinginan itu adalah hasrat egois Shin. Lena sejauh ini menjawab semua keinginannya, tapi tidak ada alasan dia harus menjawab yang satu ini juga.

“… Shin.”

Lagi pula Lena bisa menolaknya. “Woi, Shin.”

Dan lagian, memperhitungkan seberapa besar Lena mendukungnya sejauh ini, Shin tak membalas apa-apa. Karenanya …

“Ey, goblok, aku bicara denganmu.”

Shin tersentak dan melihat sekelilingnya, lalu matanya tertuju ke Raiden yang rupanya entah kapan sudah kembali ke kamarnya. Dia lagi berdiri di pintu depan, tampang wajahnya belum pernah Shin lihat. Raiden kelihatan jengkel sekaligus muak. Seakan-akan dipaksa menelan sejenis makanan penutup yang dibenci-bencinya.

“… apaan?”

“Kau tahu …” kata Raiden, mendesau berat. “Kau betulan berubah, bung.”

Ж

Industri makanan Aliansi dilengkapi makanan pengganti sintetis serta sayur-mayur yang ditumbuhkan dengan akseleran buatan. Tetapi menimbang mereka wajib bergantung pada pabrik produksi tuk mengimbangi pasokan makanan bahkan sebelum perang, kualitasnya relatif cukup baik.

Karena negara mengandalkan perdagangan untuk memberi makan rakyatnya sejak dulu kala, masakan mereka banyak variannya. Menghasilkan rasa kombinasi wilayah utara-tengah benua sekaligus selatan. Para 86 dan Lena semuanya terpesona oleh hidangan tidak lumrah yang disuguhkan kepada mereka kemudian dengan senang hati menikmati makan malam mereka. Para pelayan di setiap meja melihatnya seraya tersenyum puas.

Sebagaimana Federasi (dan kontras dengan Republik juga Kerajaan Bersatu), Aliansi lebih suka kopi alih-alih teh. Lantas mereka menyesap kopi pengganti—yang punya aroma berbeda dari kopi Federasi yang mereka ketahui—bersamaan makanan penutup setelahnya mendesah puas.

Seketika itulah bayangan perak berdiri di pintu masuk aula besar tempat mereka makan.

“Semuanya, sudah waktunya.”

Rambut pirang pendek dan bibir dicat warna merah cerah. Berbanding terbalik dari anak-anak remaja yang memenuhi ruangan, Grethe mengenakan seragam perak khas. Suasananya mendadak menegang ketika beberapa orang berdiri menanggapi panggilannya. Lena salah satunya. Mengangguk, setelah itu dia meninggalkan kursinya.

Selagi mereka berjalan, Anju, Kurena, dan Frederica memanggilnya. Semoga beruntung di sana. Berusahalah yang terbaik. Jangan terlalu paksakan dirimu. Lena kembali ke kamarnya, membuka lemari, dan menemukan kopernya. Dia buka kemudian mengeluarkan satu set pakaian dan dia kenakan. Biru laut berpinggiran emas—seragam Republik. Pakaian prajurit yang belum dia pakai satu bulan terakhir, sejak liburannya dimulai.

Pertama kali memakainya sesudah lamanya waktu berlalu membuat pembawaannya menjadi serius secara otomatis. Meritsleting punggung pakaiannya, dia meninggalkan ruangan bersama Annette yang mengenakan satu seragam. Mereka pergi ke lobi hotel, di sanalah mereka menemui Grethe yang menunggu ditemani Shin, Vika, dan Lerche. Masing-masingnya mengenakan seragam sendiri-sendiri. Seragam biru baja, ungu tua, dan merah.

“Maaf membuat kalian menunggu.”

“Tidak apa …. Ayo.”

Mengerutkan bibir merah tua terkenalnya menjadi senyuman, Grethe berbalik dan menuntun keluar kelompok itu. Lena dan Annette mengekor tidak jauh, Shin dan Vika di belakangnya di akhiri Lerche di paling akhir.

Mereka berhenti di depan sepasang pintu ganda. Seorang penjaga pintu yang sekaligus merangkap sebagai pramuantar berdiri di sana, mengenakan seragam kuno yang elegan. Dia hadap mereka sambil hormat sempurna yang tak sesuai seragamnya, sesudah itu membukakan pintu. Inilah pengingat lain bahwasanya Aliansi adalah negara wajib militer universal, di mana pria dan wanita seluruhnya direkrut secara adil masuk militer. Di beranda, mereka mendapati kendaraan besar tengah menunggu. Kendaraannya dicat warna zaitun kusam dan cokelat jelaga. Baik di pintu depan maupun belakang terdapat lambang kambing gunung, tanduknya mengarah ke langit dengan bangga. Si pengemudi bersama asistennya turun dari kendaraan kemudian membukakan pintu kursi belakang, mengundang masuk Lena juga yang lainnya.

Kendaraan ini berfungsi mengangkut personel dan suplai di sepanjang garis belakang, di luar jangkauan tembakan musuh. Muat untuk sekurang-kurangnya sepuluh oranag. Pintu tertutup, selanjutnya mesin segera meraung hidup. Kendaraannya melaju mulus.

Melihat ke luar, mereka mendapati Theo menggeser tirai jendela untuk melambai tangan selamat tinggal pada mereka dari sisi lain kaca berwarna.

“Mohon maaf memanggil kalian ke sini, Letnan Kolonel Idinarohk, Kapten Nouzen. Biasanya, kami tak meminta bantuan personel tempur di sini …”

“Jangan khawatirkan.”

Karena sebagian besar kota Aliansi dibangun di sepanjang dataran kecil yang letaknya di antara pegunungan, cuma perlu perjalanan singkat hingga bidang pandang mereka dipenuhi tumbuh-tumbuhan hijau. Terkecuali cahaya bulan, tidak ada yang mencerahkan pepohonan yang puncak bak tombaknya mengarah ke langit malam.

Kala kegelapan menyelimuti kendaraan, Grethe membuka bibir hendak bicara, dan Shin hanya menggeleng kepala ringan. Lena serta Annette hanya ikut sebagai saksi, tetapi yang sebenarnya berperan di waktu mendatang adalah Shin dan Vika.

“Normalnya, Divisi Lapis Baja Ke-1 sekarang sudah menyelesaikan liburannya, selanjutnya kami memasuki pelatihan. Tapi peralatan purwarupa tersebut masih dalam tahap penyempurnaan, jadi jika bukan gara-gara masalah ini, kalian pada dasarnya akan tetap siaga tanpa tujuan. Berakhir bagus buat kita.”

Dua ribu Prosesor yang membentuk Divisi Penyerang dipecah menjadi empat kelompok. Dua kelompok bertanggung jawab atas kegiatan operasional. Salah satunya pelatihan, dan sisanya tengah cuti sekaligus diberikan waktu untuk studi mereka. Perihal operasi di Kerajaan Bersatu, Divisi Lapis Baja Ke-1 Shin-lah yang memasuki waktu istrirahat. Bulan itu akan berakhir, artinya mereka akan masuk masa pelatihan.

Atau semestinya demikian, tapi karena jadwal pelatihan berkisar penggunaan jenis peralatan baru, dan dikarenakan baru-baru ini dikembangkan, pengujian akhir peralatan masih berlangsung.

Inilah bagian pertukaran teknologi Aliansi dengan negara-negara tetangganya. Bukan penemuan yang sepenuhnya baru—melainkan sepasang peralatan yang digunakan Feldreß Aliansi, dipasangkan ke Feldreß Federasi dan Kerajaan Bersatu.

Kendati demikian, pengembangannya barusan dimulai satu bulan ini dan sudah nyaris selesai. Reputasi Aliansi sebagai raksasa teknologi memang layak disandang. Tapi karena mereka jelas tidak bisa memulai pelatihan dengan peralatan yang belum siap, fase pelatihan di jadwal mereka mesti ditunda.

Terkecuali Shin dan Vika, seluruh komandan dari skuadron masing-masing dibawa ke Aliansi sembari membantu pelatihan. Semua skuadron—tidak hanya Shin dan Vika—diizinkan menggunakan resor kesehatan yang biasanya digunakan pasukan sendiri, sebagai bantuan Aliansi kepada mereka.

Memikirkan kembali senang-senang ribut yang Shin saksikan sebelumnya, dia mengangkat bahu. Ya, lagian, ini artinya …

“Artinya waktu istrirahat kami diperpanjang sedikit. Dan semua orang bersenang-senang. Termasuk aku.”

“Senang mendengarnya …. Divisi Lapis Baja Ke-1 dan keenam skuadronmu yang merupakan inti unit, sudah melihat kebanyakan hal mengerikan—dan keterlaluan sering. Para petinggi memutuskan kalian perlu perhatian khusus, dan kalian punya urusan di Kerajaan Bersatu sini.”

Gunung mayat membusuk yang mereka temukan di Labirin Bawah Tanah Charité. Jalan pengepungan buatan mayat-mayat mekanis Sirin dan Alkonost-nya di Pangkalan Benteng Revich. Diskriminasi dan kebencian tak adil yang mereka alami sedari anak-anak. Kesehatan mental unit telah melaporkan bahwa para Prosesor sangat membutuhkan suatu penghilang stress.

Biasanya, tentara diberi waktu cuti untuk menghilangkan stress yang menumpuk selama aktivitas operasional. Tetapi dalam kasus 86, mereka tak punya kampung halaman atau keluarga tempat mereka berpulang. Tempat paling dekat yang bisa mereka sebut rumah adalah kota di seberang sungai pangkalan utama Divisi Penyerang di Rüstkammer, tempat fasilitas sekolah mereka berada.

Betul, mereka berada di seberang sungai, ditambah mereka bisa tinggal di fasilitas penginapan sekolah selama masa cuti, tetapi tempat itu terasa layaknya pangkalan tambahan, dan suara-suara pelatihan juga tembakan kosong masih kedengaran di udara.

Bertahun-tahun, 86 tenggelam dalam pertempuran. Mereka lebih terbiasa akan suara perang ketimbang heningnya kedamaian. Jadi bila mana mereka tak mampu mengenyahkan kehadiran perang selagi cuti, itu takkan benar-benar menghilangkan beban jiwa mereka.

“Aku yakin kalian sudah mendengarnya, tapi anak-anak lain dari Divisi Lapis Baja Ke-1 dikirim ke fasilitas rekreasi di seantero Federasi. Akan tetapi, Sersan Kepala Bernholdt dan skuadron Nordlicht menolak tawarannya, lebih suka menghabiskan waktu di kampung halaman mereka.”

“Itu masuk akal,” kata Lena.

Kebetulan, para Prosesor yang tidak hadir di sini semuanya tinggal di tempat wisata dan resor kesehatan yang dulunya milik wali sah mereka. Para bangsawan masa lalu itu masih memiliki kekuatan laten atas tempat-tempat tersebut kemudian memastikan unitnya menerima perlakuan istimewa.

“… begitu perang berakhir, aku mau membawa seluruh unit ke resor,” ucap Grethe. “Ada resor di laut selatan. Kalau tidak begitu rasanya tidak benar. Seolah-olah peperangan belum berakhir.”

Laut. Shin yang duduk di sebelah Lena, tersentak mendengar kata itu.

Grethe tidak sengaja mengatakannya, tapi …

Aku mau menunjukkanmu laut.

Hamparan luas biru yang belum pernah Lena lihat. Begitu perang berakhir.

Bersama, saat perang berakhir.

Kami berdua saja?

Lena menepis pikiran tiba-tiba itu. Sekarang sedang bekerja. Dia lagi bertugas.

Bukan waktu yang tepat.

Kebetulan saja perekam misi Reginleif menyimpan semua perkataan Prosesor yang mengendarainya. Dan karena itulah Grethe, komandan brigadir, sebetulnya mendengar ucapan Shin selama percakapan tersebut. Lena tidak tahu itu, sih. Selepas berkomentar secara tersirat, Grethe menatap serius Shin tetapi dibalas buang muka dengan sengaja dan terang-terangan.

Kopral yang mengemudikan kendaraan menahan lidahnya sejauh ini, sebab dia mesti fokus mengemudikan mobil melewati malam gelap. Namun kini dia bicara sama mereka tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

“Setelah perang berakhir, silahkan kunjungi Aliansi lagi. Sekadar jalan-jalan saja. Kami punya banyak tempat indah yang belum dikuasai alat-alat jahat itu. Kami senang jika Anda melihatnya.

“Terima kasih, Kopral.” Grethe tersenyum.

Mobil mereka segera menepi. Aliansi tidak dingin-dingin amat dan mendapatkan lebih banyak sinar mentari dari Federasi serta Kerajaan Bersatu, jadi negaranya diberkati hutan lebat. Hutan-hutannya berfungsi sebagai penutup alam dan membentuk kanopi dedaunan tebal misal dibiarkan tumbuh. Di bawahnya ada satu fasilitas yang sepertinya dibangun di atas tanah.

Tempat itu barangkali dirancang tuk berfungsi sebagai markas besar disamarkan dataran tinggi. Dijaga ketat oleh dua lapis kawat berduri ditambah dua penjaga. Lena dan 86 pernah melihat sesuatu semacam ini pada markas mereka di Federasi.

Inilah tingkat kewaspadaan yang diperkirakan seseorang dari fasilitas militer yang menjaga informasi sangat rahasia. Masuk dan tentu saja melihat ke dalam teramat dilarang. Sangkar yang menjaga rahasia pertahanan suatu negara.

Si sopir memperlihatkan kartu identitasnya yang membuka gerbang menuju pangkalan. Mereka menyusuri jalan berkelok-kelok hingga akhirnya berhenti di depan sebuah gedung. Di sana mereka harus meninggalkan mobil dan menunjukkan kartu identitas pribadi masing-masing untuk membuka pintu besi.

Sesudah menutup pintu, Grethe bertanya:

“Baiklah. Kalian tahu apa tentang situasi sekarang?”

Kedua pengemudi tidak diizinkan masuk gedung ini. Mereka tak punya izin untuk mengakses informasi di dalamnya. Karenanya, mereka semata-mata memberi hormat dan kembali ke mobil. Pertanyaan ini tidak dapat diajukan Grethe sampai sekarang.

“Interogasi gabungan yang dilakukan bagian intelijen Federasi, Kerajaan Bersatu, serta Aliansi, walau Aliansi bukan bagian operasi sebelumnya.”

“Mereka dianggap negara sahabat, dan kita tak punya alasan tuk mengecualikan mereka dari interogasi ini. Sebagai kompensasi atas ikut andilnya, mereka mengambil alih pengembangan perlengkapan baru kita.”

Aliansi Wald mengembangkan Feldreß pertama di dunia pada masa lalu demi mempertahankan wilayah pegunungan bermedan tak meratanya. Karena Aliansi punya sedikit sekali padang rumput dan lahan pertanian, banyak orang tidak bisa bekerja di produksi pangan. Bertahun-tahun lamanya, tenaga menganggur itu dipindahkan ke perdagangan, militer, penelitian, dan industri, alhasil, Aliansi punya keunggulan perihal kekuatan industri dan perkembangan teknologinya.

Maka dari itu, mereka tidak cukup cocok dengan Kekaisaran Giadaian di masa kejayaannya. Dengan besarnya wilayah mereka dan pendapatan panen serta pajak cukup besar dari banyak rakyat mereka, keluarga bangsawan besar Kekaisaran mampu menenggelamkan semua kekayaan, kekuatan industri, serta waktu luang mereka ke penelitian. Setiap keluarga bangsawan saling berkompetisi, kemudian Kekaisaran akhirnya memiliki kecakapan teknologi luar biasa.

“Tetapi dalam hal ini, nilai sejati Aliansi terletak pada netralitasnya …. Republik Federal Giad berdiri di tanah sama seperti Kekaisaran yang menciptakan Legion. Kemudian Kerajan Bersatu mengembangkan Model Mariana. Perkara tiba waktu mengungkapkan semua informasi ke negara-negara lain, menjadikan Aliansi Wald—sebuah negara netral—berpihak kepada kita akan meningkatkan kredibilitas kita. Meskipun sedikit.”

Sebagaimana Pangkalan Benteng Revich dan perkemahan pasukan cadangan, pangkalan ini menampung fasilitas utamanya di bawah tanah. Mereka naik lift beberapa lantai ke bawah kemudian keluar ke koridor dingin yang nampak buatan.

“Interogasi umum antar cabang intelijen tiga negara …” Vika, yang sampai sekarang menahan mulutnya, akhirnya membuka bibir bicara. “Dan setelah satu bulan penuh diinterogasi, mereka masih tidak dapat apa-apa?”

Mata Lena membelalak kaget. Grethe berbalik lalu menyipitkan mata kepadanya. Vika mennyampaikannya sedatar seseorang membacakan isi buku dalam ingatan. Baginya, ini lebih dari sekadar tebakan.

“Kalau tidak, perwira intelijen takkan meminta bantuan personel tempur seperti Nouzen dan diriku. Mereka mesti mempertimbangkan harga diri. Mereka anggap diri mereka sebagai orang-orang yang bertarung dalam perang informasi, tak seperti orang barbar yang menggunakan kekerasan. Memanggil personel tempur ke medan perang mereka? Sebagian besar kasus, takkan dibiarkan martabat mereka.

Grethe mendesah pendek.

“Iya. Kau benar …. Mereka tidak dapat apa-apa darinya. Nama semasa hidupnya saja tidak.”

Nama seseorang, pangkat, tanggal lahir, dan nomor identifikasi seseorang: Itulah detail yang mesti diungkap tawanan kepada penawan mereka, selayaknya yang disepakati perjanjian perang. Asumsikan, tentu saja, negara-negara terkait mematuhi perjanjian tersebut.

Legion tidak menawan, tidak pula membedakan tentara dan warga sipil tatkala membantai orang-orang. Mereka tidak diprogram mengakui perjanjian damai yang melarang penahanan dan pembunuhan warga sipil.

Terlepas dari itu, cabang intelijen harus mencari informasi dasar tersebut. Misal tidak berhasil maka akan mempermalukan nama mereka. Tetapi Legion tidak bisa dipengaruhi obat-obatan atau serum. Mereka tidak merasakan sakit, jadi mereka tidak bisa disiksa.

Petugas interogasi punya cara untuk memeras informasi dari seorang tawanan bahkan tanpa menggunakan langkah-langkah penyiksaan. Katanya seorang petugas yang terlampau terampil mampu mendapatkan informasi yang dibutuhkan tanpa menyentuh target mereka.

“Rupanya, sama sekali tidak responsif terhadap setiap dan semua komunikasi. Pembicaraan, teks …. Sepertinya tidak ada yang berhasil membuatnya bereaksi.” “… begitu. Menyusahkan,” kata Vika.

Kalau begitu, jelas saja bahkan petugas interogasi paling berpengalaman tidak mendapatkan apa-apa.

“Memangnya mungkin bicara dengannya? Apa unit itu beneran dia? Benarkah dia masih menyimpan ingatan dan kepribadian yang dimilikinya saat masih manusia dulu? Kesemuanya mulai meragukan.”

“… itulah alasan mereka memanggil kita.”

Seperti di permukaan, koridor panjang dibangun dengan desain berkelok-kelok, untuk membatasi kecepatan pasukan musuh bila mana diserang. Dan di ujung koridor terdapat pintu logam tangguh berkunci tiga. Pintunya terbuka, dan ketika masuk, suara seseorang beraksen Federasi mulai mengintruksikan mereka lewat pengeras suara. Mereka mengikuti perintah lalu memasuki ruangan sebelah.

Di sana, mereka menemui para prajurit yang berbalik menghadap mereka. Beberapanya mengenakan seragam biru baja Federasi. Yang lainnya mengenakan ungu tua Kerajaan Bersatu. Dan beberapanya mengenakan seragam kuning-cokelat Aliansi.

Di antara tentara Federasi ada seorang petugas wanita muda berambut kirmizi dan mata merah darah, ia menatap sekilas Shin. Dia tersenyum tipis yang hanya Shin seorang sadari. Shin bisa tahu dia adalah seorang perwira khusus Federasi yang menggunakan kekuatan ekstra sensoriknya.

Kemungkinan besar keturunan Maika—klan ibunya, yang memiliki kekuatan telepati. Marquis Gelda Maika memberi tahu mereka bahwa klan Maika punya keluarga cabang yang sanggup membaca pikiran orang-orang yang tidak berhubungan dengan mereka.

Jika dia tak mampu membaca pikiran target …. Wajar saja mereka mulai ragu kalau benda yang mereka interogasi itu benar-benar berakal.

Ruangan mereka berada awalnya dimaksudkan untuk menguji senjata dalam tahap pengembangan. Dindingnya diliputi pelat-pelat logam, barangkali mencegah gangguan elektromagnetik. Dinding berlapis baja memisahkan bagian ruangan mereka berada dengan bagian belakang, tepat di sampingnya ada sel tahanan besar serta ruang pengawasan sempit.

Jendelanya mungkin antipeluru dan antiledakan. Cahaya terpolarisasi diatur menyinari ruang pembatas, mengaturnya demikian agar ruang pengawasan tidak terlihat melalui jendela akrilik tebal dari dalam.

Dan di balik jendela itu …

Duduk dengan kaki dicopot, disematkan banyaknya baut yang dipasang ke lantai, ialah satu unit Ameise.

Lapis baja seputih bulan. Sensor optik emas yang dikhususkan untuk unit ini. Persenjatannya telah lama hilang sebelum ditangkap, dan ada Tanda Pribadi seorang dewi bersandar pada bulan sabit.

Ratu Bengis.

Catatan Kaki:

  1. Lemparan fastball empat jahitan adalah salah satu teknik lemparan dalam permainan bola kasti.
  2. Peristyle adalah alun-alun tengah istana.

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments