Share this post on:

RUMAHKU ISTANAKU.

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari.

Dia sampai di alamat sesuai, mendapati dirinya menghadap gerbang kediaman yang kebesaran untuk dimiliki satu keluarga. Gerbang itu sepenuhnya membatasi bagian dalam-luar kediaman, pagarnya bagaikan barisan tombak panjang mengarah ke langit.

Shin tetap diam di depan gerbang, menatap kediaman. Kediaman mantan klan prajurit tersohor Kekaisaran—keluarga bangsawan Marquis Nouzen. Bahkan sekarang, setelah melepas semua wilayah dan posisinya di mahkamah, Keluarga Nouzen masih memiliki properti pribadi yang seukuran seluruh distrik kota. Mereka pun punya sejumlah bisnis pribadi dan mempertahankan beberapa pengaruh laten dalam militer. Memang, keluarga bangsawan yang dulu salah satu penguasa nyata Kekaisaran.

Di sini hiduplah seorang pria tua yang masih memegang posisi kepala keluarga tersebut: kakeknya.

Mereka meninggalkan pangkalan lebih dari dua bulan lalu, tetapi kembali kesana memberi perasaan seolah-olah mereka sungguhan di rumah. Selama dua bulan terakhir, musim berganti ke musim panas, dan angin sepoi-sepoi nyaman mengalir masuk dari jendela terbuka. Angin serasa sejuk dan berbau tanaman hijau, selepas melewati hutan yang mengelilingi pangkalan.

Merasakan angin bertiup ke arahnya, Lena mengalihkan pandangannya dari jendela kembali ke kantornya. Dia mendengar suara para tentara tengah berlatih, dan suara pengerjaan pemeliharaan peralatan juga obrolan biasa, ditangkap telinganya. Keributan rutinan pada hari yang normal di pangkalan.

“Semestinya sementara waktu kita tidak punya misi baru, jadi bersantai-santailah, Vika.”

Pandangannya tertuju ke Vika yang mengangkat bahu sembari berbaring di sofa panjang dalam kamar.

“Malah, aku lebih pengen memanfaatkan waktu ini untuk berlatih manuver Alkonost dan menyempurnakannya. Front barat Federasi terlalu berbeda dari Kerajaan Bersatu dalam hal topografi. Kebanyakan hambatan dan situasi tak terduga untuk ditangani Alkonost di sana.

Modifikasi semacam itu sama seperti modifikasi yang mesti diterapkan pada unit-unit Divisi Penyerang begitu dikerahkan ke Kerajaan Bersatu. Alkonost dibuat untuk beroperasi di medan perang bersalju utara, berarti tak cocok untuk bekerja di wilayah Federasi. Kecuali …

Ketakutan Lena jelas tampak di seluruh wajahnya, karena Vika terus bicara setelah menatapnya.

“Sebagaimana di Kerajaan Bersatu, para Sirin dimatikan dan disimpan dalam hanggar ketika mereka sedang tidak latihan atau beroperasi. Dan dalam hal latihan, kami tak berniat menggunakan tempat latihan pangkalan ini, tapi tempatnya jauh dari sini …. Kami takkan membebani Nouzen, jadi tolong wajahmu jangan begitu.

Lena tak kuasa menahan senyum pahit. Nampaknya kekhawatiran dirinya amat jelas.

“Aku hargai pertimbangannya, Vika.”

“Lagian kemampuan Nouzen berharga bukan kepalang untuk pengintaian. Kita tidak boleh memberinya tekanan di luar pertempuran, supaya dia tidak hancur saat kita paling membutuhkannya … setidaknya, dia nampak tidak menghiraukan Lerche.”

“Iya.”

Vika mungkin saja benar; pertanyaan berulang-ulang, Kau yakin? Dari Lena serta pertanyaan konstan Lerche, Anda tidak memaksakan diri Anda, kan? Sepertinya tidak menimbulkan tekanan tak penting kepada Shin. Pria itu bahkan mengeluh tak sesuai kepribadiannya, bertanya apakah sampai sebegitunya mereka tidak memercayai dirinya. Lena sering merecoki Shin karena dipikirnya reaksi Shin itu imut, tapi pikiran ini, dia sembunyikan sendiri.

“Aku yakin bahkan Federasi mau mengendalikan kemampuannya atau bagaimana pokoknya mereplikanya secara mekanis …. Aku bersedia menelitinya, kalau kau izinkan.”

Vika yang bicara tanpa emosi dan nada canda jelas memicu tanggapan singkat Lena.

“GA.”

“Ya, kuduga begitu.” sang pangeran mengangkat bahu santuy, memperjelas dirinya tak tersinggung sama sekali.

Sebelum mereka meninggalkan Kerajaan Bersatu, Pangeran Mahkota Zafar memberikan Lena daftar yang agak panjang mengenai Hal-Hal Yang Jangan Pernah Perkenankan Vika Lakukan. Lena catat dengan bijsakana, sih, tidak memberi tahu Vika tentang ini adalah hal terbaik.

Lagi pula, di daftar itu terdapat kalimat ditulis merah di paling atas yang menyatakan: Vika. Kalau kau baca ini, aku yakin sekarang kau sudah tahu, tapi jangan pernah, apa pun yang terjadi, melakukan semua atau satu saja hal-hal yang terdaftar di sini. Tidak satu pun. Tanpa terkecuali. Kau pun sama sekali tidak boleh menafsirkan besar-besaran perkara hal-hal yang tertulis di sini.

Dan entah kenapa, Lena merasa Vika dua kali lipat lebih berbahaya dari dugaannya. Agar daftarnya teramat-amat penting, daftarnya ditandatangani baik oleh pangeran mahkota dan sang raja sendiri. Dokumennya terus terang membuat Lena ketakutan. Memangnya bocah ini melakukan apa selain mengembangkan Sirin? Rasa penasaran Lena tidak sebanding ketakuannya, dan dia tak berani mengubah pertanyaan itu ke kata-kata.

“Kau yakin oke-oke saja diperlakukan bak perwira nonkomisioner, Vika …? Kau sudah menghabiskan beberapa waktu di sini. Adakah yang membuatmu tak nyaman? Kalau ada yang kau inginkan, bisa coba kami tampung selama masih masuk akal.”

Federasi sukses mengerahkan pasukannya di Kerajaan bersatu, lantas waktunya Kerajaan Bersatu memenuhi kesepakatannya dan mengerahkan para personel yang akan mengabdi di Divisi Penyerang. Komandan pasukan tersebut adalah Vika, yang sekarang menjadi perwira komandan unit Alkonost sekaligus bawahan langsung perwira komandan taktis. Dia diintegrasikan ke rantai komando Divisi Penyerang sebagai letnan kolonel.

Mengingat pangkatnya, dia diberikan akomodasi perwira lapangan, yang mana tentu jauh lebih baik ketimbang yang didapat tentara bayaran. Namun ini standar seorang prajurit, bukan keluarga kerajaan.

“Di Kerajaan Bersatu, keluarga kerajaan tak mendapat perlakuan istimewa dalam hal akomodasi. Yah, barangkali di pangkalan militer, kami dapat, tapi di lini depan, kami tidak diperlakukan berbeda. Aku tidak punya komplain soal kamarku atau perlakuan orang kepadaku. Soal pangkalan dadakan, tempatnya bagus. Kecuali …”

“Iya, apa?”

“… di sekitar sini cukup panas.”

Kata Vika dengan jengkel ketara dan jelas, sesaat membuat mata Lena membelalak terheran-heran kemudian tertawa terbahak-bahak. Vika tidak salah. Dia dibesarkan di utara, dan sampai beberapa waktu lalu, dia berada di medan perang bermusim dingin buatan yang diperpanjang oleh Eintagsfliege. Namun kini, Vika dilempar ke terik awal musim panas dan berjuang membiasakan diri dengan iklim.

“Ini tidak boleh ditertawakan. Pernah ke negaraku di tengah musim dingin? Katanya orang luar gambarkan seakan dinginnya sampai membekukan jiwa. Bahkan sejumlah penduduk asli negara kami bilang begitu.”

“Maaf. Aku pengen banget berkunjung suatu hari nanti, sih.” Suatu hari pas perang berakhir.

“Ya, datang berkunjunglah. Aku yakin kau bakalan suka panas neraka ini saat itu.”

Lena tersenyum.

“Iya, suatu hari nanti.”

Lalu Lena mengubah topik pembicaraan.

“Divisi Penyernag dan Korps Lapis Baja Ke-1—yah, Kapten Nouzen akan disisihkan dari operasi tempur sementara waktu sehabis operasi ini. Kita akan pindah ke kota tetangga, keduanya untuk cuti dan menggunakan fasilitas pendidikan mereka …”

“Aku sudah tahu. Faktanya, bukannya kau dapat cuti dari kemarin? President Zimmerman mengundang mereka kembali, kuyakin?”

“Iya. Dia wali resminya kelompok Shin, jadi mereka pulang kepadanya. Shin dan Frederica sudah balik …. Dan hari ini, Shin …”

Lena memejamkan mata, senyum di bibirnya. Shin selalu menolak pikiran itu sejauh ini, tapi hari ini, pertama kalinya, dia bilang mungkin ingin menemui pria itu.

“… pergi menemui kakeknya. Marquis Nouzen.”

Seketika masuk aula, Shin mendapati lambang kerangka tanpa kepala menghunuskan pedang yang terpampang di dinding. Simbol familier. Sangat familier, faktanya. Sampai-sampai menghentikan Shin dan tanpa sadar mendongak melihatnya. Identik dengan Tanda Pribadi sang kakak yang menjadi dasar lambangnya.

“Lambang ini diwariskan turun-temurun pada garis keturunan Nouzen sejak pendiriannya.”

Kepala pelayan tua yang mengajaknya berkeliling dan berada di depan, berbalik lalu menjelaskan. Dia mengenakan jas berekor anakronistik serta kacamata berlensa perak dan berdiri dengan punggung ditegakkan. Kepala pelayan ini pun sepertinya tak mengeluarkan suara ketika berjalan. Gerakannya ibarat meluncur di lantai, bak bayangan mengintai.

“Lambang ini pun muncul di sampul buku bergambar yang tuan berikan tuk merayakan kelahiran Anda sekaligus kakak Anda. Bukunya menyimpan prestasi nenek moyang Anda, sedikit dikoreksi agar lebih jelas bagi anak-anak …. Ayah Anda kawin lari ke Republik namun masih secara rutin mengirim surat-surat ke tuan. Tuan bersikukuh menolak menjawab satu pun surat tersebut namun mengirimkan buku-buku bergambar itu. Beliau bilang mesti membuat pengecualian untuk peristiwa baik.”

“…”

“Kakak Anda tak terlalu perhatian pada bukunya, tapi ternyata, itu buku favorit Anda … saya dengar sewaktu menjadi tentara Republik, Tanda Pribadi unit Anda juga menggunakan motif kerangka. Apakah Anda mengingat buku bergambar ini? Barangkali, Anda masih merasa terikat?”

“… tidak.”

Si kepala pelayan bertanya dengan sedikit harapan dan ekspektasi pada suaranya, tapi Shin semata-mata menggeleng kepala. Dia tidak mengingatnya. Tak bisa ingat, paling tidak masih belum. Tapi Rei mungkin ingat. Dia selalu membacakannya saat Shin masih muda—buku bergambar yang disukai Shin.

Shin pikir akhirnya dia tahu kenapa Rei menjadikan lambang ini Tanda Pribadinya. Awalnya, Shin kira itu tindakan sinisme karena dia tidak bisa mati. Tetapi sesudah bereuni dan diselamatkannya, Shin terus memikirkannya.

Dan sekarang dia tahu.

Kak, tidak … tidak pernah sesaat pun kau sungguh-sungguh membenciku, kan?

“Menurutmu Shin sudah ketemu kakeknya?”

Korps Lapis Baja Ke-1 sekaligus skuadron Spearhead, sudah dari kemarin. Karenanya, tidak banyak wajah yang bisa dikenal di toko retail pangkalan. Menjelang siang, ruang makan hampir kosong.

Theo-lah yang bicara, duudk di meja dekat jendela, sinara matahari bersinar masuk. Kurena yang duduk di seberangnya, melirik ke samping. Keluarga dan kampung halaman para 86 telah direnggut oleh Republik, dan banyak dari mereka yang tak punya rumah tempat mereka berpulang entah mereka sedang cuti atau tidak. Beberapa, seperti Shin, adalah imigran generasi pertama ke Republik dan masih punya sejumlah kerabat, tetapi mereka minoritas.

Jadi banyak 86 yang tidak berada di pangkalan sekarang, namun mereka bukannya pulang. Malah, mereka berbelanja di luar atau bersenang-senang di kota tetangga. Raiden bersama Frederica kembali ke kediaman Ernst, sedangkan Anju pergi berbelanja bersama Dustin yang tengah mengajaknya berkeliling karena dia belum akrab dengan kota-kota Federasi.

Kurena masih belum bilang apa pun. Dikarenakan mereka baru saja kembali, para koki berusaha sebaik mungkin untuk menyajikan makan siang, tapi Kurena tidak menyentuh makanannya. Sesuatu—memikirkan seseorang yang tidak di sini—mengganggunya. Theo tersenyum masam.

“Yaelah, mukamu jangan begitu. Mereka cuma bertemu dan mengobrol sebentar. Shin bakalan kembali.”

Orang itu kenal orang tua Shin, walau Shin sendiri tidak ingat apa-apa. Bagi Shin, menemui kakeknya hanya mengingatkannya akan hal-hal yang telah hilang darinya. Namun itu tidak benar. Ini kesempatan untuk mengambil kembali hal-hal yang hilang darinya, paling tidak dalam beberapa hal.

Sekarang dia mau mendapatkan kembali ingatan itu. Jadi Shin pilih menemui kakeknya—pertemuan yang sampai kini dia tolak.

“Tak apa. Dia barusan pergi. Tidak lama lagi dia akan kembali.” “… tapi …”

Kurena mulai mengatakan sesuatu tapi terdiam. Theo rasanya tahu Kurena pengen bilang apa. Saat ini, Shin akan kembali ke saat sebelumnya. Tetapi keesokan harinya mungkin tak demikian. Dan kendatipun kala itu mereka tak berpisah. Hari itu pasti akan datang. Hubungan mereka mungkin saja takkan putus; mereka boleh jadi tidak saling mengucapkan selamat tinggal, tapi rumah tempat mereka kembali—tempat mereka pilih tinggal—pada akhirnya akan berbeda.

Dan andaikan mereka mati di Sektor 86, hari itu takkan pernah datang. Waktu kematian boleh jadi beda, tapi mereka akan mati di tempat sama. Kematian pasti akan setimpal mendatangi mereka semua. Lantas mereka tidak pernah memikirkan hal ini. Mereka lebih baik tak memikirkannya.

Namun mereka tetap bertahan. Mereka masih hidup.

“Berlaku juga buat kita, Kurena.”

“…”

“Kita tak punya apa-apa, tapi masih harus kita pikirkan: Apa yang harus kita lakukan ke depannya? Mulai dari sekarang kita harus hidup bagaimana?”

Shin memasuki ruang tamu yang dituntun kepala pelayan, dua sosok yang nampaknya menunggunya bangkit berdiri. Salah satunya adalah seorang pria tua tinggi, rambut hitam yang sebagian besarnya memutih. Dia punya sepasang mata hitam bagai elang. Di sebelahnya adalah wanita tua yang terlihat baik, kontrasnya, cukup pendek dan wajahnya bulat. Rambut putihnya dirias elegan.

“Kau …” si pria tua, Marquis Nouzen, angkat bicara.

Dia dengar sesuatu putus asa, seolah pria tua itu hampir memegang erat pertanyaannya. Shin merasa dirinya tersedak sedikit oleh nada suaranya. Bagaimana harusnya dia menjawab pertanyaan itu? Akhirnya, dia berhasil mengangguk kecil sebelum menundukkan kepala. Tiada lagi yang terlintas dalam pikiran.

Kesadaran itu membuat Shin menggigit bibirnya. Dia tahu akan seperti ini, tapi tetap saja, dia tak merasakan apa pun. Mestinya pria ini adalah kakeknya, namun menghadapnya tidak membawa emosi besar.

Mereka mungkin punya hubungan darah, tapi meski demikian, pria ini Shin anggap orang asing.

Dan diingatkan fakta itu … membuatnya sedikit bersedih. Dadanya serasa sesak.

Tetapi berbeda dari pergulatan internal Shin, Marquis Nouzen mulai emosional, matanya berkaca-kaca.

“Kau sudah dewasa. Dan kau memang sangat mirip dengan mereka. Kau menyandang wajah putraku, Reisha, dan putri klan Maika.”

“Rambut dan fisikmu dari keturunan Nouzen, tapi wajahmu—mirip Yuuna. Contohnya warna matamu,” wanita itu menambahkan dengan lembut.

Shin memerhatikan warna merah matanya yang tersembunyi di balik kacamata bulatnya. Mata merah tua Pyrope. Shin dengar pasangan Marquis Nouzen—nenek Shin—sudah meninggal sejak dulu. Dan sebab bangsawan Kekaisaran tidak suka gagasan mencampurkan garis keturunan berbeda, wanita itu tidak mungkin istri baru kakeknya.

Menyadari tatapan kebingungan Shin, Marquis Nouzen mendeham pengertian.

“Beliau adalah Marquess Gelda Maika …. Ibunya ibumu. Nenek dari pihak ibumu. Kupikir kalau kau akan menemuiku, kau harus menemuinya juga.”

Marquess Maika tersenyum dan menundukkan kepala hormat. Marquis Nouzen menekuk bibirnya ke atas dengan lembut.

“Baiklah, kita harus mulai dari mana? Bagaimanapun, bagimu, kami cuma orang tua asing. Kita mungkin berhubungan darah, tapi aku yakin banyak hal yang tidak ingin kau ceritakan kepada kami.”

“Saat ini, mari minum teh bersama. Kau suka manisan? Aku bawa selai, rasa stroberi dari rumah kaca kami. Tolong bawa pulang, sebagai hadiah.”

Marquess Maika bicara seraya tersenyum, dan Shin perlu waktu hingga tersadar dia menunggu jawaban. Shin membuka bibirnya, mencari kata yang tepat. Mereka rasanya jauh sekali darinya sampai-sampai mesti mencari-cari kata yang tepat untuk dikatakan setiap waktunya. Tapi misalkan dia tak menjawab, Shin takkan bisa betul-betul bicara bersama mereka.

Shin mungkin belum merasakan emosi apa-apa kepada mereka. Mereka adalah orang asing yang baru dia temui pertama kalinya. Dan terlepas dari itu … orang-orang ini mengenal ayah-ibunya. Mereka mengingat kehidupan yang dia alami seketika Shin masih bahagia.

“… saya pribadi tidak terlalu suka yang manis-manis. Tapi maskot unit dan atasan saya barangkali akan sangat senang mencicipi ini …. Terima kasih banyak.”

Marquis Nouzen tersenyum hangat.

“Baiklah. Mari mulai dengan itu … aku ingin menyajikan makan malam yang paling sesuai seleramu, tapi sedihnya, aku tidak tahu preferensimu. Kepala kokiku sedang berdiri di aula saat ini, kehabisan akal. Aku harus memberinya petunjuk sekecil apa pun. Kau akan tinggal untuk makan malam bersama, kan? Jika cocok, kau boleh bermalam di sini.”

“… tidak.”

Shin intinya bisa tahu betapa tenangnya sang kakek ketika dia mengatakannya, kakeknya butuh keberanian besar untuk mengutarakannya. Dan itu membuat Shin tersenyum terlalu alami sambil menggeleng kepalanya.

Lena juga kehilangan keluarganya di serangan skala besar. Dia pun tak punya rumah untuk kembali, sekalipun lagi cuti. Jadi Shin bilang ke Ernst pagi itu bahwa dia kepikiran mengundangnya datang sewaktu mereka membawa pulang Theo dan yang lainnya.

Shin harus pergi ke tempat dirinya berada—Lena berada.

“Saya hari ini akan pulang …. Ada seseorang yang menunggu saya.”

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments