86 JILID 6 BAB 4

Posted on

DALAM SUAKANYA

Penerjemah: NieR Replicant

Ratu Bengis mendesau ketika melihat rekaman yang dia terima dari lini musuh. Satu kelompok unit bertindak serampangan disebabkan amukan Phönix. Mereka memikirkan apa, mengabaikan perintah?

Dia tak memberikan perintah untuk menyerang pusat komando musuh. Menghancurkannya takkan bermanfaat apa-apa saat ini. Musuh telah menyusup ke Gunung Dragon Fang, mengirim pasukan penyerang yang berhasil diisolasi di tengah wilayah musuh dan manfaatnya hanya sebagai pengalih saja.

Sang Ratu membiarkan pasukan penyerang menembus nyaris sampai ke tempat tinggal pribadinya, tetapi kesemua itu cuma jebakan. Dia sukses memisahkan detasemen para elit dari pasukan utama Kerajaan Bersatu, secara efektif memposisikan mereka semua dengan tepat untuk dibantai. Kalau saja pasukannya bertindak sesuai perintahnya, mereka bisa memotong jalan mundur musuh dan lebih lancar menghancurkan mereka.

Jikalau unit lapis baja tak berperilaku sendiri berakibat membuka celah di pasukan mereka, militer Kerajaan Bersatu takkan dapat melangkah biarpun pasukannya memotong rute mundur pasukan penyerang. Dan sehabis menghancurkan pasukan penyerang, Kerajaan Bersatu akan kehabisan pilihan.

Bila Kerajaan Bersatu punya populasi dan kekuatan naisonal setara Federasi, mereka akan mengiirm pasukan lebih besar tuk mendukung pasukan penyerang. Tetapi Kerajaan Bersatu tidak sanggup lagi melakukannya. Walaupun keberadaan negara mereka di ujung tanduk, mereka paling bagusnya membantu pasukan penyerang melancarkan amunisi yang mereka timbun dalam gundang mereka kemudian mengirim drone separuh otonom ke misi bunuh diri.

Saat pasukan penyerang dihancurkan, seluruh Legion hanya perlu menunggu Eintagsfliege mencekik Kerajaan Bersatu atau semata-mata mengirim sejumlah besar Dinosauria untuk menembus barisan Kerajaan Bersatu secara paksa. Namun unit-unitnya maju duluan dan melakukan sesuatu yang sangat tidak perlu.

Legion tidak bisa melanggar perintah unit Komandan Tertinggi, dan Phönix berada di bawah perintahnya. Andai dia memerintahkannya untuk kembali ke sisinya, Phönix hanya bisa menurut. Namun dia memilih membiarkan amukannya.

Sebelumnya, Phönix telah memenuhi tujuan dirinya dirancang dan diproduksi. Semua informasi yang semestinya mereka kumpulkan dari unit tersebut telah terkumpul. Tipe baru itu tidak dibutuhkan. Lantas dia pikir boleh-boleh saja membiarkannya bertindak seinginnya, untuk terakhir kalinya.

Aku memang memerintahkannya untuk menjadi paling kuat. Untuk jangan pernah kalah dari pertempuran, selalu belajar, berkembang, dan mengembangkan diri …. Walaupun itu bukan tujuan sejati Phönix.

Michihi yang bertugas mengamankan blokade di luar pangkalan Gunung Dragon Fang bersama Bernholdt, Beresonansi dengan Shin.

“Kapten Nouzen! Satu unit musuh terdeteksi di radar …. Unit Phönix!”

“Dia datang …. Seharusnya sudah habis lapis baja cairnya pas pertempuran di pusat komando, tapi kita tidak boleh lengah sampai memastikannya.”

Sesudah mengalahkan Dinosauria, skuadron Spearhead melanjutkan serangan mereka melalui koridor menuju Ruang Takhta Ratu Bengis. Sang Ratu masih belum menunjukkan tanda-tanda kabur.

Mengikuti suara dinginnya sampai ujung jalan, Shin mengoperasikan Undertaker di barisan paling depan pasukan mereka.

Koridor ini dulunya adalah terowongan vulkanik, dan lingkar luarnya berbentuk agak bundar. Selama beberapa letusan berabad-abad lalu, terowongan ini telah ditutup magma mengeras. Langit-langit berbatu rupanya runtuh sebab termakan waktu, alhasil mereka bisa melihat tengah-tengah terowongan yang tersebar bebatuan sebesar bangunan serta penampang bergerigi tak terhitung jumlahnya.

Mereka menyusuri terowongan yang dibangun layaknya tangga spiral mengelilingi puncak puncakan batu besar yang berbentuk aneh. Puncaknya menyerupai bentuk fosil semacam hewan primitif mirip naga raksasa.

Barangkali terdapat celah yang terhubung ke permukaan gunung di suatu tempat, dikarenakan cahaya samar mengalir turun menerangi mereka dari puncakan batu. Suhu di terowongan ini jauh lebih bisa diatur, artinya udara dingin bisa jadi masuk dari lokasi lain.

“Habisi, kalau bisa. Tapi jangan sembrono. Kalau menurutmu upaya apa pun akan mempersulit pertahanan blokade, biarkan saja.”

Bila mereka menghadapi Phönix, ada kemungkinan mereka akan mengalami kerugian atau bahkan disapu bersih. Dan seketika itu, pasukan di dalam fasilitas akan terjebak tanpa jalan pulang. Mereka berada di tengah-tengah wilayah Legion, dan ada pasukan Legion di luar pangkalan Gunung Dragon Fang. Michihi mungkin menyadari ini, sebab Shin bisa merasakan dahi memberengutnya lewat Resonansi.

“Bisa kami tuntaskan tanpa perlu dipertimbangkan, Kapten. Aku tahu mungkin aku cupu bagimu, tapi aku juga Penyandang Nama …!”

“Cih! Bukan, Non, kau salah paham!”

Bernholdt memotongnya, menelan ludah gugup. Suaranya serba tegang.

“Bajingan itu tidak mengincar kami …! Kapten!”

Data rekaman biasanya tak dibagikan antar Juggernaut, Karena volume data membebani sistem, dan mereka sekarang ini perlu menggunakan siaran untuk mempertahankan komunikasi nirkabel dengan pasukan di luar pangkalan. Meski begitu, kemampuan Shin membuatnya cukup mendengar apa-apa yang terjadi di luar untuk memahami situasinya.

Phönix-nya mungkin sudah melompat. Dia melompat tinggi tepat di depan Michihi dan Bernholdt. Bagaikan macan tutul salju memanfaatkan permukaan batu sebagai tempat berburunya, ia melompat tinggi, kecepatannya tak tertahan. Kemudian ia melompat lagi lalu menghilang di tengah udara. Boleh jadi sudah meninggalkan rangka hewannya dan membelah diri menjadi bentuk kupu-kupu keperakan.

Rupanya, ada jalan masuk menuju gunung di dekat puncak … yang mungkin sudah ditebak dan diperkirakan mereka. Pangkalan ini menjadi gudang pasokan Eintagsfliege yang mengudara tanpa henti. Berarti Legion sepertinya sudah menciptakan pintu masuk ke langit di suatu tempat atas nama efisiensi.

“Dia diperkirakan mengejar skuadron Spearhead. Perkiraan waktu kedatangan … tiga ratus detik misalkan menempuh rute terpendek!”

“… yah—”

Laporan pertama bisa jadi benar. Tapi yang kedua …

“—aku tidak yakin-yakin amat soal itu.”

Jeritan layaknya bisikan, mengingatkan suara sayap kupu-kupu, berkumpul di dekat mereka. Nada suara ratapan mekanis yang nyaris tak jelas makin keras di telinganya. Dan mendadak, radarnya menangkap keberadaan Phönix.

Dia berada di atas skuadron Spearhead. Memantau lewat sensor optik unitnya selagi membelakangi permukaan batu sementara bayangan perak menghampar di atas skuadron, Shin memastikan palang teleskop bidikan otomatisnya mengunci Phönix tersebut kemudian menarik pelatuknya.

Phönix disambut suara ledakan meriam yang bergema di sepanjang ruang tertutup terowongan vulkanik. Rudal hulu ledak antitank berdaya ledak tinggi terbang ke depan, tampaknya tidak lama lagi akan menembus rangka perak Phönix.

Phönix barangkali bermaksud ingin melancarkan serangan tiba-tiba, tetapi itu tidak berfungsi melawan Shin. Dia sanggup memprediksi kemunculan musuh. Dan dia tahu Phönix bisa bertahan hidup kendati badannya rusak dengan berubah menjadi kupu-kupu Mesin Mikro Cair selanjutnya berganti ke badan baru. Lagipula, bentuk asli Phönix adalah Mesin Mikro Cair yang meliputi prosesor sentralnya.

Oleh sebabnya, dia tidak mesti repot-repot melewati jalan yang diduduki Divisi Penyerang dan bertarung tanpa faedah padahal dirinya sudah rusak. Akan lebih cepat misalkan berubah menjadi kawanan kupu-kupu, menyusup pangkalan lewat celah kecil, kemudian mengenakan unit dan lapis baja cair baru.

Dan semua senjata lapis baja darat, semenjak tank tua tipe tapak rantai, memiliki titik paling rentan nan lemah yang berada di atas turet. Lantas Shin tahu kalau dia hendak menyerang mereka, maka dia akan menyerang dari atas.

Phönix itu jatuh, dan roket meluncur menghampirinya. Sang Phönix lanjut menghunus bilah rantai mirip sayapnya sekali, menusuknya ke permukaan tebing. Mengerem dirinya, lalu bentuk bak binatangnya berayun bagai bandul yang terpengaruh kelembaman, mendarat di dinding dengan postur bungkuk.

Sekring berjangka waktu pada rudal berhulu ledak antitank berdaya ledak tinggi meledak seusai jeda sejenak. Tatkkala itu, Phönix-nya sudah duluan melompat dari dinding, menghindari radius ledakan mematikan …. Terjadi sering sekali sampai-sampai Shin mengira tembakannya takkan mengenai unit ini, tetapi kecepatan reaksi Phönix masih menyebalkan.

Shin mendapati lapis baja cair di sekitar tubuhnya lebih tebal dari sebelumnya. Rupanya, jumlah lapis baja cair yang dimilikinya sekarang lebih besar. Mungkin cuma ingin lapis bajanya lebih tebal, atau boleh jadi bermaksud menggunakan palsu yang melawan kelompok Lena di medan perang ini juga.

Semua orang dalam skuadron tahu yang menyergap mereka adalah Phönix. Sebagaimana Pangkalan Benteng Revich, semua orang menyebar dengan maksud mengepungnya dalam rentetan tembakan. Masing-masing mengambil posisi aagar tidak menembak sesama sembari tetap berada di luar jangkauan senjata Phönix, selanjutnya bersiap menghujani mereka dengan selongsong.

Para Scavenger bersama Alkonost penghancur diri pindah ke posisi yang tidak menghalangi penembakan. Suara seseorang menarik napas dalam-dalam bergema lewat Resonansi.

Phönix mulai jatuh ke tengah pengepungan mereka. Bahkan dia tidak bisa mengubah arah di tengah jatuhnya, selanjutnya gravitasi menariknya ke perangkap lubang menganga di bawah. Eintagsfliege mengaktifkan kamuflase optiknya yang berkilauan seperti bubuk salju, atau pecahan bintang, kemudian menyembunyikan bentuk keperakan Phönix baik dari penglihatan manusia maupun deteksi radar.

Bagi Shin itu nampaknya aneh. Apa gunanya menggunakan kamuflase optiknya sekarang? Menyembunyikan diri sekarang itu tidak masuk akal. Dia tidak bisa mengubah lintasan jatuhnya, jadi mereka akan membidik titik pendaratannya. Terus dia mencoba menyembunyikan apa? Mungkin akan lebih jelas kian lama mereka bertarung. Barangkali dengan ini Phönix mampu mempetahankan elemen kejutan …

Dia sedang menyiapkan senjata jarak jauhnya …!

“Semua unit, berlindung! Dia mau menembak …!”

Phönix pernah membuktikan dirinya mampu membuat senjata jarak jauh dari lapis baja cairnya di pertempuran Pangkalan Benteng Revich silam. Meski ditembak dari jarak dekat banternya hanya membuat unit musuh terhuyung-huyung, tapi Shin lebih condong ke sisi hati-hati dan memerintahkan seluruh unitnya menjauh. Tetapi bentuk yang dia lihat kala ia mencoba menyergap mereka—jumlah keterlaluan banyak lapis baja cair tersebut …

Kerusakan kamuflase optik Eintagsfliege aneh sekali bagi Shin. Tahu-tahu sobek, dan dari celah sobekan, komet perak meledak. Komet itu bentuknya proyektil besar, menyerupai anak panah ballista1, senjata pengepungan yang digunakan di zaman kuno. Semacam jarum kristal, hujan duri logam yang melesat ke setiap Feldreß terlihat.

Hanya sedikit Legion yang telah keluar dari pasukan, dan pasukan cadangan mereka masih kalang kabut karena serangan Phönix. Tidak, pasukan Legion menyerang karena pasukan mereka kelimpungan.

Serangan itu ternyata bukan bagian rencana Legion juga. Satu unit rupanya bertindak sendiri. Tidak bertindak bersamaan dengan penyerbuan Phönix atau unit-unit lain yang tengah berjaga-jaga.

Tetapi banyaknya Dinosauria di unit tersebut sulit ditangani. Skuadron Brísingamen mundur untuk menjaga pusat komando bersama sisa-sisa Juggernaut tim pengatur tembakan. Lena mengatupkan gigi frustasi ketika mengambil alih komando situasi dari dalam Vanadis.

Dia tak menyangka pasukan lapis baja Dinosauria beserta Löwe yang harusnya disimpan untuk menyerang lini pertahanan Kerajaan Bersatu, akan menyerang mereka sekarang. Jumlah Legion-nya tidak sebesar satu batalion lapis baja penuh, tetapi mereka masih mengalir menuruni gunung selayaknya tanah longsor.

Mereka menerobos garis patrol, kemudian garda depan musuh sudah menyerang bagian belakang pasukan pertahanan, tempat Lena berada. Medan perangnya dalam keadaan kacau, sulit membedakan mana kawan mana lawan.

Formasi pertahanan ini sudah dibangun dengan seksama di tanah tinggi, agar memastikan pihak bertahan punya keunggulan ketika konfrontasi antar senjata lapis baja. Tapi biar sudah begitu, semuanya masihlah brutal.

Vanadis tidak dapat bertempur, tapi setidaknya bisa menembakkan senjata tetapnya. Cedera Marcel membuatnya tidak sanggup menangani manuver pertempuran penuh, tapi dia masih bisa menggunakan turet Feldreß-nya. Karena itulah, Marcel turun dari Vanadis dan bergabung ke timnya, menyerang berulang-ulang sampai larasnya mau meledak.

Lena menggertakkan giginya saat tembakan howitzer yang menembak diagonal telah dipukul mundur tembakan konstan Dinosauria.

Situasi ini … mungkin buruk banget.

“Cih …?!”

Bidikan proyektil Phönix tidak seakurat tembakan turet tank yang dibantu sistem pengatur senjata, dan semua orang yang mempilot Juggernaut di sekitar sana adalah Penyandang Nama piawai. Mereka semua bereaksi terhadap peringatan tersebut dan menghindar, jadi tidak satu pun kokpit terkena.

Tetapi beberapa terkena sistem tenaga, laras meriam, atau bagian kaki mereka. Lainnya lapis baja mereka bengkok sebengkok-bengkoknya karena dihujam energi kinetik tembakan yang melintas lebih cepat dari kecepatan suara. Sejumlah Alkonost yang secara keseluruhan kurang terorganisir juga kurang terlatih dibandingkan 86, kokpit mereka disapu bersih dari serangan langsung.

Undertaker adalah satu-satunya unit yang tidak diincar tembakan tersebut. Shin terdiam seribu bahasa pada pemandangan mimpi buruk itu. Bukannya mereka tak waspada pada potensi tembakan jarak jauh. Ini ruang tertutup, tapi cukup lebar, dan semua orang berdiri di luar jangkauan efektif serangan Phönix yang ditunjukkan di Pangkalan Benteng Revich.

Namun jangkauan serangannya sementara waktu diperpanjang ditambah kekuatan cukup sampai-sampai mematikan Juggernaut …

Phönix-nya mendarat dengan gerakan tanpa suara khas Legion, pecahan sayap kupu-kupu rusak menumpukdi kakinya. Beberapa Eintagsfliege yang selamat mengapung di sekitaran, sayap-sayap mereka tak tergores dan tidak hangus sedikit pun di pinggirannya.

Sang Phönix menampakkan diri, sosok hitamnya bertitik bintik-bintik perak tak merata. Lapis baja cair berwujud sayap tebal yang menutupi tubuhnya sebagian besar hilang. Lapis baja cair kecil yang tersisa di badannya menderakkan arus listrik nampak, memperjelas bahwa dia sudah menggunakan gaya elektromagnetik tuk mempercepat tembakan sebelumnya.

Shin sadar tembakan barusan dibuat dari lapis baja cair tebal yang dikenakannya. Sewaktu sebuah peluru tembus lapis baja diluncurkan, pelurunya mengandalkan energi kinetik sebagai dampaknya. Dan walaupun tembakan Phönix kalah cepat dari turet tank, Phönix itu menggunakan ketapel semielektromagnetik demi meningkatkan kekuatan tembakan.

Seluruhnya biar menembus jaring pengepungan sekali langkah.

Phönix itu mendadak mengguncang diri, mengeluarkan paksa gantungan buatan yang dibentuk lapis baja cair dari tubuh bak hewannya. Percikan perak menyembur di atas permukaan batu, memantulkan cahaya redup mentari. Dia mengangkat sensor optiknya sebagaimana hewan mengangkat kepala lalu menatap tajam Undertaker.

Sensornya berwarna biru dingin serba obsesi terang-terangan yang jelas. Obsesi akan Undertaker … atau mungkin Shin yang duduk di dalamnya. Tatapannya sama sewaktu pertempuran di Pangkalan Benteng Revich berakhir. Kala dia direndahkan menjadi sekawanan kupu-kupu dan berdiri di sebelah Ratu Bengis.

Tatapannya nampak tak sesuai tatapan mesin pembunuh tidak berperasaan yang semestinya membantai musuh hanya sebagai tugas, tanpa sedikit pun kebencian ataupun kegembiraan.

Saat setelahnya, bentuk hitamnya menerjang Undertaker.

“Cih …!”

Dia tidak bisa melawannya di sini. Satu langkah salah, tembakannya bisa saja mengenai salah satu rekannya. Undertaker menjauh, berharap lepas dari pengejarnya. Phönix lepas landas mengejarnya. Sesaat unit rekan-rekannya semakin menjauh, Shin sekilas melihat Juggernaut Raiden dan Theo.

Kaki unit mereka menyentak kejang-kejang, tapi mereka tidak mati. Para-RAID masih terhubung. Shin bahkan samar-samar bisa mendengar suara umpatan seseorang di Resonansi.

Dia harus tetap menyibukkan Phönix sampai mereka pulih lalu melawannya dengan bantuan mereka. Tidak … mungkin menganggap mereka pengganggu kemudian malah berbalik dan menghabisi mereka selagi tertegun. Shin tidak boleh membiarkannya …. Apa pun yang terjadi.

“… maaf.”

Mereka mungkin …. Tidak, mereka pasti marah kepadanya karena ini, atau begitulah yang Shin pikir ketika menggerakkan Undertaker melompat mundur. Raiden dan Theo serta rekan satu timnya yang berada di sana, juga Anju sama Kurena yang tidak di sana, akan sangat kesal.

Begitu pula Lena.

Kembalilah. Apa pun yang terjadi’.

Ya, aku akan kembali. Harus. Tapi kau mesti memaafkanku untuk yang satu ini.

Memanjatkan doa tanpa suara tersebut, Shin memundurkan Undertaker. Rangka putih Juggernaut bersembunyi di salah satu barisan batu di tengah jalan, keluar dari pandangan. Phönix mengangkat banyak bilah rantainya merespon, bilah tipis Phönix bergetaran sembari berputar hendak beroperasi.

Bilahnya memekik tajam mirip jeritan seorang wanita, lalu senjata memanjang itu menusuk puncakan batu besar yang berdiri di sebelah Phönix. Dipotong dan dibelah bagian bawahnya, barisan batu itu runtuh goyah lalu ambruk. Banyak batu menutup jalan di belakang Phönix.

Seakan-akan bilang takkan membiarkan siapa pun menghalangi mereka.

Ia berada di dasar terowongan vulkanik—sebuah bukaan jalan magma naik ke permukaan, andai tidak disumbat berabad-abad lalu. Sinar matahari bersinar ke bawah dari sebuah lubang batu ratusan meter di atas, disaring lapisan sayap keperakan. Namun cahayanya hanya sedikit menyinari tempat besar sana, yang cukup besar sampai-sampai bisa menampung seluruh vila Imperial.

Di situlah prosesor sentral Admiral—unit pembangkit listrik yang menggerakkan pangkalan ini—berada. Di mana ratusan juta Eintagsfliege melahap energinya. Unit-unit pengisi daya diinduksi elektromagnetik tipis membentang di sepanjang tempat ini layaknya cabang pohon metalik. Kesemuanya diselimuti kupu-kupu perak tak terhitung yang menutupinya bagaikan dedaunan.

Di bagian paling belakang ruangan terdapat inti kendali Admiral, duduk manis di sana layaknya bangkai raja naga kuno yang sudah bergabung dengan takhtanya. Dia tengah menunggu selesainya pekerjaan sejumlah besar alat pemeliharaan yang berdengung dan berputar-putar di sekitarnya.

Tapi sekarang ini, semuanya sedang terbakar selagi Vika menatap ruangan itu. Unit-unit pengisi daya, Eintagsfliege, mesin-mesin pemeliharaan …. Seluruhnya sama-sama terbakar. Semua unit dalam ruangan ini adalah tipe pendukung tanpa senjata yang mudah hancur ketika diserang.

Kupu-kupu keperakan beterbangan ramai selagi sayap-sayap rapuh mereka terbakar, terbang ke langit laksana bara tetapi hancur tanpa sisa sebelum sempat pergi jauh. Tapi Admiral yang sesungguhnya itu berbeda. Barangkali karena ukurannya terlampau besar, sensor optiknya mondar-mandir seolah meronta ketika api mencapainya, akhirnya memfokus ke Gadyuka Vika.

Dihadapkan tatapan yang mendenyutkan kebencian buatan, Vika mendengus.

“… kalau aku Pencabut Nyawa itu, mungkin aku tahu siapa kau dulunya lalu berkabung atas kematianmu.”

Namun sedihnya, kemampuan menangisi orang mati yang tidak pernah kutemui adalah tingkat simpati yang telah lama hilang dariku.

Menyaksikan tempat kremasi ini, Vika dengan dinginnya yang melebihi para Alkonost pendamping berbalik dari pemandangan ini. Seluruh tujuan mereka di sektor ini sudah tuntas. Sisanya hanyalah …

“Semua unit, kehancuran Admiral telah dikonfirmasi. Seluruh unit Alkonost sudah dalam posisi. Pihak kami siap. Pihakmu bagaimana?”

Respon segera datang dari Yuuto di skuadron Thunderbolt, dikirim untuk menekan Weisel—bersama Rito di skuadron Claymore, dikerahkan untuk menghancurkan fasilitas pembangkit listrik.

“Letnan Dua Crow bicara. Kami berhasil mengurus Weisel.”

“Kami sekarang ini sedang menghancurkan fasilitas pembangkit listrik. Alkonost kami dalam perjalanan ke sana.”

Tapi Shin tidak merespon. Vika mengerutkan alis curiga. Setelahnya dia mengalihkan target Para-RAID-nya ke skuadron Spearhead dan mengulang pertanyaannya.

“Nouzen? Kau bisa dengar aku? Tolong respon; bagaimana statusmu?”

Kali ini, dia dapat tanggapan langsung. Tetapi bukan dari Shin, melainkan Raiden.

“Paduka …. Ini Shuga. Shin tidak ada, jadi aku yang menjawab menggantikannya.”

“Maaf, tapi tujuan kami masih belum terpenuhi. Kami masih belum menemukan Ratu Bengis …. Dan Shin rupanya sedang melawan Phönix saat ini.”

Raiden getir melanjutkan laporannya dalam kokpit Wehrwolf yang rasanya lebih sempit dari sebelumnya sebab lapis bajanya bengkok. Proyektil Phönix mungkin bermassa besar dan bergerak dengan kecepatan tinggi, tetapi kekuatannya kalah dari selongsong tank. Impaknya menghentikan sebentar Juggernaut Raiden, namun kerusakannya tidak menghalangi kemampuan Wehrwolf untuk melanjutkan operasi.

Seluruh Juggernaut masih bisa melanjutkan, seperti halnya sebagian besar Alkonost, terkecuali beberapanya yang sudah diledakkan. Menilai suara Raiden, pangeran yang menjijikkannya bijaksana itu barangkali sudah mengerti situasi. Dia menanyakan Raiden dengan suara tegang.

“Phönix memisahkan kalian, bukan?”

“Ya. Kami lagi mencari Shin sekarang.”

Raiden memalingkan pandangannya ke bagian paling bawah koridor yang kini sebagiannya runtuh dicegat bebatuan besar. Ada sedikit celah di bagian teratas tumpukan batu, jadi tak sepenuhnya tidak bisa dilewati, tapi gara-gara keruntuhannya bersudut tegak lurus, puing-puingnya tak stabil, sehingga susah melewatinya. Maka dari itu jalan mereka terhalang.

Sekarang ini Shin dan Phönix berada di balik terowongan ini. Mereka tidak mendengar suara pertempuran apa-apa, jadi keduanya boleh jadi sudah pergi jauh, namun skuadron Spearhead melihat Shin dan Phönix menuruni koridor sewaktu mereka masih tertegun sebelumnya. Selanjutnya puncakan batu runtuh, menyebabkan situasi ini.

Theo tetap tutup mulut ketika terhubung lewat Para-RAID, tapi Raiden di sebelahnya bisa tahu lewat Resonansi kalau dia khawatir. Sensor optiknya Laughing Fox bergerak-gerak gugup. Para Scavenger berdiri tertib, kecuali Fido, yang sempoyongan dengan langkah cemas.

Tidak.

Raiden mengerutkan kening pahit. Shin tidak dikejar. Dia suka rela pindah dari posisi di sini untuk melawan Phönix satu lawan satu …. Agar Raiden dan yang lainnya tidak terlibat dalam pertempuran. Untuk melindungi mereka sesudah dikalahkan secara memalukan oleh Phönix.

Si bego itu …

Raiden menghibur paksa dirinya dengan berpikir menemui Shin kemudian memukulinya sampai pingsan. Namun saat ini, mereka perlu membantunya. Para Alkonost sekarang lagi menyelidiki lorong-lorong terdekat berupaya menemukan jalan di sekitar bebatuan.

Tujuan mereka, Ratu Bengis, kemungkinannya berada di penghujung jalan ini. Tetapi selama mereka tidak punya peta fungsional, mereka tak dapat menemukannya.

Vika sepertinya menahan diri untuk tak mendecakkan lidah.

“Dimengerti. Kami akan menunggu selama mungkin.”

Mereka membutuhkan kemampuan Shin bila ingin menemukan Ratu Bengis, tetapi prioritas utama misi tetaplah kehancuran pangkalan ini.

“Terima kasih.”

“Jangan risaukan. Di operasi semacam ini, ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Memeras kepala memikirkan cara mengatasinya adalah tugas komandan. Tidak usah kau resahkan …”

“… Raiden.”

Raiden mengangkat kepalanya dipanggil Theo.

“Di bawah sana, di bayang-bayang dekat bebatuan …. Dia sedang apa?”

Theo bicara, menatap seksama arah tuju sensor optik Laughing Fox. Raiden segan-segan mengarahkan unitnya sendiri ke sana dan mendapati …

“Apa …?!”

… satu unit Ameise, lapis bajanya seputih sinar bulan. Dia berdiri di depan dinding batu tempat koridor dibagi. Walaupun berada di bawah mereka, dia menatap mereka layaknya ratu penguasa yang melihat para bawahannya. Sensor optik bulat bak bulan purnamanya menyinarkan cahaya kuning tanpa perasaan yang menakutkannya serasa menyerupai sifat manusia.

Ia tak punya senapan mesin serba guna 7.62 mm dan senapan mesin berat 14 mm yang biasanya melengkapi Ameise. Dia kurang persenjataan sampai dirasa tak pantas bagi unit lini depan, seolah demikian karena kesombongannya. Kemudian yang terukir di lapis bajanya adalah Tanda Pribadi seorang dewi bersandar di bulan sabit.

Ratu Bengis.

Bukan cuma Raiden dan Theo, tetapi rekan satu regu mereka dan para Sirin sama-sama terdiam. Kepala semua orang menanyakan hal sama.

Dia … sedang apa di sini …?

Ratu Bengis tiba-tiba buang muka lalu balik badan, berjalan pergi dengan langkah tanpa suara khas Legion …. Bedanya dia juga bergerak sesantai seorang wanita yang tengah menikmati jalan-jalan biasa, yang sepenuhnya tak seperti Legion. Dia berjalan melintasi dinding batu, kemudian masuk ke salah satu koridor bercabang, menghilang di lorong.

Ibaratnya meminta mereka mengikuti. Mengejek mereka. Mata Raiden membelalak kaget.

Kok bisa dia di sini …?!

“Ayo kejar.”

“Raiden! Mencari Shin bagaimana?!”

“Ruang Takhtanya harusnya di balik tembok itu.”

Theo tercengang. Mereka awalnya menyusuri lorong ini untuk menemukan Ratu Bengis. Di bawah lokasi ini adalah sektor yang mereka sebut Ruang Takhta, dan Shin bilang sang Ratu Bengis tidak kabur. Artinya meskipun mereka melawan Phönix, dia semestinya tetap berada di sana.

Tapi entah bagaimana, Ratu Bengis yang sama itu telah melewati puing-puing dan kini berada di depan mereka. Tidak ada bukti nyata, tapi … kemungkinan ini petunjuk terbaik yang mereka punya.

“Jalan yang diambilnya memutar!”

Kejadian buruk terus saja terjadi …

Mematikan Para-RAID sepintas, Vika akhirnya mengklik lidah frustasi. Pertempuran pecah di sekitar pusat komando Lena berada dan pasukan cadangan, kini Shin menghilang.

Lerche yang menguping, memanggil Vika.

“… Paduka …. Mengenai yang dikatakan Tuan Wehrwolf barusan.”

Vika tidak mampu menahan kekeh pada nada memohonnya.

“Sudah kubilang, Lerche. Tidak pernah kumasukkan mematuhiku sebagai bagian perintah awalmu. Menurutmu mengapa aku lakukan itu?”

Dia bisa merasakan bibirnya melengkung tersenyum. Bahkan tanpa ingatannya, dia tetap patuh dan seblak-blakan Lerchenlied asli.

“Terima kasih …. Paduka, tolong izinkan saya bergabung dalam perncarian Tuan Pencabut Nyawa. Semakin lama waktu berlalu … makin banyak bahaya yang dihadapi tubuh beliau.”

“Ya …. Kita sudah selesai menguasai area ini, jadi kita harusnya punya sejumlah pasukan menganggur. Bawa mereka.”

Shin mendapati dirinya didesak ke tempat yang bisa jadi bagian terdalam terowongan batu Gunung Dragon Fang. Tempat sungguh-sungguh tertutup yang semestinya ditutupi kegelapan. Tetapi ruang besar ini cukup terang bagi Shin sampai bisa melihat tanpa bantuan.

Ruangan itu dibanjiri cahaya merah membutakan. Shin melihat-lihat sekeliling ruangan yang hendak dia masuki, berdiri di kilau merah tua yang tampaknya membias dari bebatuan karena suhu tinggi. Udaranya sendiri nampak bersinar merah.

Rekaman optik otomatis Juggernaut-nya beralih dari penglihatan malam ke mode standar. Akan tetapi, yang ditampilkan layarnya sekarang ini bukanlah jumlah sebenarnya cahaya di luar Juggernaut. Komputer pendukung otomatis memotong tingkat cahaya yang dinilai akan berbahaya untuk pemilotan, alhasil rekamannya diperbaiki.

Sumber cahaya itu berada tepat di bawah pijakan batu tegak lurus tempat Shin berdiri. Cahaya merah tua memancar dari bawah, di kedalaman yang pasti berakibat fatal semisal jatuh ke sana.

Magma.

Sebuah wadah magma cair berbahaya yang kadang-kandang melonjak bagaikan gelombang merah menyala. Magma itu mendesis di suhu terlampau tinggi, dan dalam bentuk cair berviskositas rendah. Memenuhi dasar gua luas ini ibarat danau bawah tanah.

Bahkan dari jarak sejauh ini, panas mangma yang bersinar menyebabkan suhu unitnya melonjak naik. Ujung salah satu kaki logam unit Shin menendang kerikil retak, setelah itu kerikilnya jatuh dari lubang menuju permukaan cairan merah tua. Dalam sekejap mata, kerikilnya terbakar dan meleleh.

Kanopi besar gua cukup megah sampai-sampai menutupi gedung pencakar langit. Di ujung ruangan ini terdapat dinding hampir vertikal yang berdiri layaknya tembok, disertai danau magma membentuk separuh lingkaran mengelilingi basisnya. Ujung atas dinding itu terkoneksi langit-langit gua yang bentuknya mirip kubah. Dahulu kala, lubang itu boleh jadi mengarah ke kawah vulkanik di puncak gunung.

Batu loncatan tak terhitung jumlahnya memenuhi danau magma, dan Shin bersama Phönix berdiri tidak seimbang di atas keduanya. Mereka saling berhadapan selagi berdiri di pijakan paling luas dalam gua, letaknya di sisi paling dekat ke dinding batu besar. Bentuk pijakannya lonjong menyerupai guillotine, disertai tebing terpisah di keempat isisnya. Nampaknya, dulu kala, bagian atas bagian ini telah dikikis secara horizontal dan melandai, membangun platform sangat datar dan cukup luas sampai-sampai mampu menampung alun-alun kota.

Shin dikejar-kejar sampai masuk ruangan ini dan mesti melewati jalan yang jauh lebih sempit ketimbang pintu masuk—walaupun cukup lebar untuk dilewati Löwe —yang mengarah ke platform semacam guillotine ini. Rasanya mengingatkan tangga yang dinaiki kriminal bersalah di tengah perjalanan mereka menuju tiang gantung.

 Sang Phönix menjulang tinggi di atas Shin memunggungi jalan tersebut, seolah dalam hatinya menyatakan bahwa dia takkan membiarkan Shin kabur.

“…”

Atas perintah Lena, Shin telah menghafal peta tiga dimensi sebaik mungkin. Tapi bagian ini sama sekali tidak ada di peta. Dibuat berdasarkan kemampuan Shin yang gambarnya sekadar dari jalan yang dilalui Legion. Area manapun yang tak digunakan Legion benar-benar kosong pada petanya.

Dan dikarenakan gua ini berada di luar area operasi, Shin tidak punya pasukan kawan di sekitar. Demikian pula Legion jarang-jarang melewati area ini. Menilai dari samarnya jejak kaki jamak serta kontainer kosong ditaruh di sudut platform guillotine melingkar, mereka mungkin memanfaatkan danau magma sebagai tempat pengolahan limbah.

  Dan Phönix-nya sengaja menyudutkan Shin ke tempat ini. “… kau pasti pengen banget menuntaskan ini dengan duel.”

Legion tidak dibuat memiliki konsep kemuliaan atau kehormatan, tapi bukannya mustahil tidak punya. Shin sekurang-kurangnya tahu itu mungkin. Dua tahun lalu, selama misi pengintaian khusus, dia melihat Gembala meledakkan salah satu rekannya berkeping-keping karena ingin mencegah Legion lain mengganggu duelnya. Kala itu, Dinosauria tersebut—atau lebih tepatnya, hantu kakaknya, yang tinggal di sana—terobsesi membunuh Shin.

Lantas bahkan Legion ini yang tak punya pemikiran semacam itu atau bagian apa pun yang bermuara dari manusia—dibuat agar tidak memunculkan masalah sebagaimana para Gembala yang bisa disesatkan pemikiran jaringan saraf yang mereka asimilasi—bertindak demikian.

Phönix-nya bergerak, badan hitamnya bangun. Mengangkat kedua kaki depannya sedangkan kaki belakangnya tetap di tanah. Di waktu bersamaan, sejumlah lapis baja serta rangkanya yang melingkupi kaki depannya melangkah maju dan membungkuk. Kaki depannya melipat dan bagian pelengkap berubah menjadi lapis baja ekstra yang melindungi sisi sampingnya.

Bagian poros kaki depannya melurus, lalu bagian yang terhubung dengan tumitnya menonjol. Ujung tajam porosnya mencungkil permukaan batu. Punggung dan kepalanya menekuk ke belakang, tetapi ia tidak berdiri tegak. Pusat gravitasinya tetap berada di depan bentuknya, berpose bungkuk ke depan menyerupai predator berkeliaran.

Hasil akhirnya adalah sesuatu bak dinosaurus theropoda2 kecil—seekor Deinonychus3. Bilah rantainya mengalir ke belakang, membentuk ekor mengambang dan sesuatu semacam bulu atau surai di punggungnya. Sosok ganas predator purbakala yang gesit.

Tidak …. Ada yang ganjal dari caranya menginjak tanah dengan dua kaki, dan tangannya yang kepanjangan untuk dinosaurus. Ini …

“Dia meniru manusia …”

Awalnya, lebih mendekati binatang, namun kini mengimitasi paksa sosok manusia.

Ini mungkin pilihan tepat bagi mesin tempur berkembang sendiri. Tatkala Shin melawannya di Labirin Bawah Tanah Charité, dia kalahkan dengan keluar dari Juggernaut-nya kemudian mengalahkannya menggunakan tubuh serta tembakannya sendiri. Dan kala pertempuran di Pangkalan Benteng Revich, dia dikalahkan seketika Lerche meninggalkan unitnya sendiri untuk melawannya.

Sampai sekarang, Phönix setiap saatnya dikalahkan musuh berwujud manusia. Jadi barangkali tidak sepenuhnya tak masuk akal menganggap sosok bipedal itu ideal untuk pertempuran.

Dan sejatinya, tak betul-betul tidak cocok buat pertempuran. Boleh saja tidak segesit hewan, tetapi bentuk itu punya keuntungannya. Selayaknya manusia punya dua tangan untuk menggunakan banyak senjata yang memerlukan kontrol tepat. Atau memiliki kemampuan melempar terbesar dari seluruh mamalia.

Namun tiada keunggulan tersebut yang cocok dengan gaya bertarungnya Phönix. Di penghujung pengejaran tanpa akhirnya, ia mencapai evolusi yang tidak memenuhi tujuan awalnya. Shin nyengir selagi melihatnya.

“Meniru bentuk manusia takkan menguntungkanmu. Kau hanya akan tersesat …. Seperti kau yang terobsesi padaku.”

Tujuan Phönix sekarang sepertinya adalah mengalahkan Shin sendirian. Oleh sebabnya dia mengabaikan logika taktis dan mencari Shin dengan menyerang pusat komando. Atas alasan itulah menyandera Raiden serta teman-teman alih-alih menghabisi mereka.

Karena itulah mendesak Undertaker ke danau magma ini, di mana tidak ada sekutunya yang bosa menawarkan bantuan.

Kesemua ini adalah tindakan tidak efisien tak masuk akal bagi mesin pembunuh. Perilaku yang tidak terpikirkan oleh Legion, yang mana tugas mereka senantiasa terfiksasi mengeliminasi elemen musuh di depan mereka.

Semua itu disebabkan obsesi Phönix untuk membunuh Shin. Sebuah obsesi …. Usaha tuk menambahkan suatu makhluk ke dirinya sendiri, kendati ia bukan manusia.

“Mesin sepertimu tidak butuh itu …. Dasar rusak.”

Mustahil Phönix paham nada mengejek dari suara Shin, tapi dia masih menghentak tanah menerjangnya.

Pertempuran pasukan cadangan berlanjut. Selagi Lena menyaksikan lewat layar sekunder yang menampilkan Juggernaut di bawah komandonya beserta unit-unit Kerajaan Bersatu telah dipukul mundur dan perlahan-lahan melemah, benaknya mendadak terpaku pada satu pikiran.

Kami mungkin mati di sini …

Dia mengatupkan giginya, menahan gagasan ngeri itu.

Berhenti takutan. Kau takkan mati di sini. Kau tidak boleh mati. Mati artinya meninggalkan dirinya … setelah dia memohon padamu untuk jangan meninggalkannya. Dan kau bilang takkan meninggalkan dia. Shin tidak pernah mencampakkanku. Dia kembali. Dia melampaui takdir kematian pasti dan menemukanku di medan perang bunga bakung itu. Jadi aku tidak boleh menyerah di sini …

Aku mungkin saja mati? Terus?

Kendaraan itu dilengkapi senapan rantai juga senapan mesin berat 12,7 mm untuk pertahanan diri, tapi dua-duanya kehabisan peluru. Unit-unit Ameise masih melompat di depan karavan Reina Berdarah, kendatipun sudah sepenuhnya kehilangan kemampuan bertarungnya. Begitu dia melihat senapan mesin yang dipasang di bahu para Ameise mulai berputar, Lena memberi perintah.

“Kecepatan penuh! Tabrak mereka!”

“Apa …?!”

“Mereka cuma Ameise! Berat Vanadis akan menyingkirkan mereka!”

“… ya, Bu! Pegangan kuat-kuat, Baginda!” seru si pengemudi, menyiagakan dirinya menghadapi kemungkinan terburuk.

 Sekalipun lapis bajanya ringan dibanding tank, kendaraan komando lapis baja masih ditutupi tiga puluh ton logam. Mesin dieselnya menderu ganas waktu menerjang maju.

Entah target mereka dimaksudkan untuk pertempuran atau sebetulnya bersenjata tidaklah berarti di hadapan perbedaan berat ini. Ameise sudah mengunci target mereka dan tidak sanggup menghindar tepat waktu. Vanadis tidak mampu terlalu mendesak mundur mereka sebab berat, tetapi masih tanpa ampun menabrak lalu menginjak-injak mereka. Boleh jadi gara-gara adrenalin, pemandangan jelas dan mencolok itu berlangsung terlampau lamban di mata Lena.

Dunia, dan orang-orangnya, jelek. Mereka dingin, apatis, dan kejam. Rawa medan perang ini, sejelas tiada maknanya, mungkin bentuk paling sejatinya dunia. Tapi …

Gigi Lena berderit saat mengatupkannya sekali lagi.

Nanti kau kotor kalau menyentuhku.

Itulah yang Shin katakan kepadanya ketika mereka berdiri di depan reruntuhan Alkonost, dengan suara yang terdengar tersesat dan lelah, tatapan serba kelemahan. Biarpun tidak ada apa pun dari dirinya yang akan menodai Lena jika disentuh.

Waktu itu, Shin menganggap dirinya tercemar. Lena yang menyentuhnya akan menodainya. Membuat Lena merasakan semacam luka hampa sama kapan pun Shin membicarakan ketidakpantasan rendahan umat manusia—serta sifat tanpa perasaan lagi dinginnya dunia.

Lena kini menyadari kebenaran di balik semua itu. Shin benci dunia dingin ini.

Shin benci betapa bisa tak berdaya, tidak enak dipandang, juga buruknya manusia.

Dan Shin membenci dirinya karena menjadi bagian dunia menjijikkan ini sekaligus ras manusia yang dibenci-bencinya.

Boleh jadi itulah alasan Shin bilang Lena akan mengotori dirinya semisal menyentuhnya. Alasan dia menjaga jarak darinya, sebagaimana di taman bersalju itu. Mengapa dia bersikukuh untuk tak bergantung padanya, meski sudah berulang-ulang kali mengaku Shin tak keberatan tidak mengandalkan Lena.

Ibarat Shin menganggap dirinya seekor monster tercela yang buruk, kemudian takut dia ‘kan menarik Lena ke dalam dunia tanpa ampun dan dingin sama yang dia tinggali. Soal itu, jika dia takut menyeretnya masuk …

Lena melotot pada medan perang di hadapannya, memikirkan mereka yang tak tahu apa-apa selain perang mengerikan.

Inilah dunia tanpa ampun yang kau lihat, ya? Kau tidak sungguh-sungguh mau tinggal di sini, kan …?!

Shin sedang tidak berada di depannya. Lena hanya melihat medan perang penuh gejolak sejauh mata memandang. Bukannya Shin tak memedulikan masa depan. Bukan berarti dia tidak bisa berharap. Hanya saja dia takut … keinginan dan harapannya akan direnggut lagi.

Dia teramat-amat ingin memiliki keyakinan, tetapi kejamnya dunia ini telah mencuri kemampuannya bermimpi. Kalau begini, andaikata satu-satunya hal yang dia punya adalah harga diri untuk bertarung sampai akhir … jika dia bahkan tak punya kekuatan untuk berharap lagi … misalkan hatinya dan bahkan masa depannya dirusak dunia ini …

Lena akan bertarung menggantikannya.

Dia akan melawan dunia jelek yang dilihat Shin—dunia dingin yang membelenggunya—agar dia bisa melihat keinginannya terpenuhi begitu perang berakhir.

Lena tidak boleh mati.

Vanadis menendang kabut asap dan bergemuruh saat mendarat tepat di depan sesuatu—lapis baja hitam ditambah turet 155 mm besar.

Satu Dinosauria.

Takala Vanadis mungkin saja dapat mendorong mundur Ameise seberat sepuluh ton, tapi tak berarti di hadapan monster besi seberat seratus ton. Tidak, bahkan tak sempat berbuat apa pun. Turet tanknya diarahkan ke Vanadis, waktu moncong gelap dan kosong kaliber 155 mm-nya menatap pas ke Lena.

Anehnya, dia tak merasa takut. Sebaliknya, dia menatap lurus kegelapan yang mengancam hendak membunuhnya.

Aku tidak mau mati.

Aku tidak boleh mati.

Mana mungkin aku mati.

Aku masih belum …

Saat itu, sebuah selongsong PLBTSLS (penembus lapis baja terstabilkan sirip lepas-sabot) menusuk turet Dinosauria. Selongsong uranium yang ditipiskan menggali masuk pelat lapis baja tebal dengan suara aneh, kemudian dilanjutkan raungan meriam 88 mm menabrak rangka baja. Dinosauria itu langsung terdiam, ibarat seseorang ditembak pelipisnya. Sosok erbungkamnya hancur berantakan sekejap setelahnya selagi jatuh menyusut bak boneka yang talinya dipotong.

Hah?

Lena menatap bentuk kelewat besar itu sambil terheran-heran. Apa yang barusan terjadi? Pengemudi kendaraan komando berlapis baja mungkin merasakan hal serupa. Sesuatu mendarat di samping Vanadis tertegun—sesuatu yang langkah kakinya kedengaran. Sesuatu bukan Legion.

Sensor optik Vanadis memfokus ke sosok itu. Sosoknya punya lapis baja putih, bak warna tulang dipoles, dan tubuh yang berbentuk mirip kerangka tanpa kepala. Juggernaut. Di bawah kanopinya ada Tanda Pribadi senapan berteropong.

 Gunslinger. Unit pribadi Kurena. “Kau masih hidup di sana, Lena?”

Suara tanpa basa-basinya terdengar dari nirkabel dan Resonansi Sensorik sekaligus. Sejak dan dari medan perang Sektor 86 dulu, Kurena masih berinteraksi dengan sikap sama. Gadis ini tidak banyak omong namun perhatian penuh kepada rekan-rekannya.

“Dia memintaku menjagamu. Kalau kau mati, aku takkan sanggup menghadap Shin … jadi berhenti beraksi sinting yang mungkin bakalan membunuhmu.”

Batu granit biasanya keras dan mulus, tapi paparan suhu tinggi dalam waktu lama bisa membuatnya sangat rapuh. Granit paling bagus berada di daerah minim batu dekat sumber panas. Begitu melangkah atau mendarat di atasnya dijadikan pijakan, granit suka pecah.

Jadi sedikit demi sedikit, Undertaker serta Phönix berbentrokan sewaktu ruang bergerak mereka bertahap berkurang. Pijakan batu paling kecil yang memenuhi area itu kurang lebihnya seukuran rumah warga sipil, sementara granit paling besarnya sebesar sektor kota. Tingginya tidak sama pula, beberapanya rendah sekali sampai-sampai tidak bisa turun ke sana, sedangkan ada yang menjulang tinggi di atas mereka seperti dinding yang ketinggian untuk dilompati.

Kedua unit melompat-lompat di sekitar pijakan, bahkan mengandalkan permukaan mirip dinding batu granit lebih tinggi. Bayangan hitam dan bayangan putih, keduanya dioptimalkan pertempuran jarak dekat, saling bersilangan bertujuan merenggut nyawa satu sama lain. Shin menembakkan selongsong kesekian kalinya, tetapi musuhnya bergerak cepat sekali, tembakannya meleset jauh dan terbang tinggi ke cakrawala.

“Sial …!”

Sebab lapis baja ekstra dan senapan 88 mm-nya, Juggernaut jauh lebih berat ketimbang Phönix yang berarti adanya perbedaan pada jarak lompatan yang bisa dicapai masing-masing drone. Karena itulah, jumlah pijakan yang bisa dipijak Undertaker dibatasi, di sisi lain Phönix dengan bebasnya dapat berdiri di atas bebatuan kecil berbentuk kerucut.

Shin tengah dipermainkan.

Shin memang punya keunggulan turet yang sanggup menembak jarak jauh, tetapi Phönix itu menerjang lalu mendadak mengerem yang cepatnya sampai-sampai membutakan penglihatan otomatis Juggernaut. Membidik Phönix tanpa dibantu sekutu satu saja itu sulit.

Melompat di tengah udara, Shin menembakkan jangkar ke salah satu dinding untuk mengubah lintasannya, tapi sepintas setelahnya, batu yang ditusuk jangkar telah dibelah sepenuhnya. Undertaker melompat dari salah satu pijakan yang teramat-amat panas dan membara untuk berdiri di atasnya. Sang Phönix bergerak cepat mengejarnya.

“…!”

Dengan jangkarnya yang meleset dari sasaran, Undertaker terjun ke danau magma. Shin entah bagaimana berhasil menggunakan jangkar satunya untuk menarik dirinya ke pijakan lain. Begitu dia mendarat di sana, Phönix melesat dari sudut curam, ibarat seratus persen mengabaikan gravitasi.

Karena kini cuma menggunakan dua kaki buat berjalan alih-alih empat, bentuk humanoid Phönix itu kelihatan seakan tidak cocok untuk gerakan kecepatan tinggi. Tapi kebenarannya jauh berbeda—Phönix itu bergerak lebih cepat dari sebelum-sebelumnya. Ujung runcing poros terbukanya menusuk permukaan batu. Kemampuan bersiap siaga pra lompatan Phönix yang lebih kuat memungkinkan akuatornya secara efisien mengubah hasilnya menjadi gaya pendorong.

Phönix mendorong maju dirinya sendiri dengan menendang pijakannya, kaki logamnya menjerit seketika bergesekan dengan bebatuan. Bentuk ini telah dioptimalkan untuk melawan Undertaker. Phönix itu bahkan telah meninggalkan bentuk awalnya demi melawan Shin.

Seandainya Anda memlih berada di medan perang, beginilah semestinya penampilan Anda.

Selagi Shin fokus pada pertempuran sampai mati ini, pikiran tak bermanfaat itu terbesit di benaknya. Makhluk yang dibuat semata-mata untuk bertempur semestinya hanya eksis untuk bertempur. Mereka yang memilih hidup di medan perang ini menolak segalanya terkecuali fungsi-fungsi yang diperlukan untuk bertarung.

Anda bilang akan terus bertarung, tapi Anda takkan membuang tubuh Anda yang tidak cocok dengan peperangan.

Persis kata Lerche. 86 tidaklah sempurna. Tapi terlepas dari itu, mereka tak ingin menjadi makhluk yang hidupnya hanya untuk bertempur. Itu bukan jalan hidup. Shin percaya ini sekarang, walaupun di masa lalu dia percaya kepada hal sebaliknya.

Dulu di saat dia pertama kali menyandang nama Undertaker, nama Pencabut Nyawa, sebelum menemui Raiden serta rekan-rekan lainnya, sebelum punya teman seperjuangan, sebagian dirinya percaya tidak memiliki hati akan mempermudah segalanya. Dia sungguh percaya dengan memiliki emosi akan membantunya hidup lebih lama.

Namun itu tidak benar.

Datang satu tebasan, kebetulan Shin tidak berada di posisi tepat untuk menghindar. Dia gunakan bilah tertegunnya untuk melempar salah satu kontainer tergeletak di dekatnya ke lintasan tebasan. Kelembaman kontainer membelokkan bilah rantai Phönix, sementara Undertaker menyedihkannya buru-buru menjauh di bawah kejadian tersebut bak hewan terluka.

Sedikit lapis baja Undertaker copot ketika bilah itu mengikisnya.

Anda masih bisa menemukan kebahagiaan bersama seseorang.

Benarkah itu? Barangkali benar. Shin masih tidak tahu dia menginginkan apa—atau apa yang semestinya dia inginkan. Namun sesudah itu dia ingat kembali masa lalu, di barak Sektor 86, dan barak-barak di distrik lain tempatnya mengabdi. Dia pikirkan kembali rekan-rekan yang pernah sebentar tinggal bersamanya, sebelum dia berpisah karena kematian atau perubahan tugas, juga waktu yang dihabiskannya bersama mereka.

Dia kenang kembali momen-momen dia menertawakan hal paling bodoh dan tidak berguna bersama mereka.

Itulah waktu-waktu saat dia tidak perlu memikirkan pertempuran. Shin tak pernah melupakannya, tidak sepenuhnya. Tapi dia tidak harus memikirkan pertempuran. Semenjak masa-masanya di Sektor 86, dia punya lebih dari harga diri tuk mendorongnya melanjutkan hidup. Dia senantiasa ingin lebih dari itu.

Rito serta sisa skuadron Claymore diberi perintah membantu pencarian Shin.

“Diterima. Baiklah.”

Dia menjawab perintah lalu melirik ke samping. Sekelompok Alkonost sudah maju sejauh ini bersama skuadron Claymore. Alkonost itu adalah regu bom bunuh diri yang tujuannya menjatuhkan pangkalan. Alkonost-Alkonost ini dimuat bahan peledak berat, sebesar yang disediakan kapasitasnya, dan bukan hanya hampir seluruh senjatanya dilepas, tapi sejumlah lapis bajanya juga. Alkonost bersenjata biasa lain diposisikan mempertahankan mereka sampai datangnya waktu kelompok Alkonost pertama meledakkan diri.

Shin berbicara kepada unit yang berperan sebagai komandan mereka lewat Resonansi.

“Kita dapat perintah untuk bergerak juga, anu … Ludmilla.”

“Ya. Berhati-hatilah.”

Tanggapannya tenang sembari tersenyum sedikit. Para Juggernaut mundur darinya, satu demi satu, ibaratnya mencoba kabur. Milan yang sedang duduk dalam unitnya, tinggal di belakang sebagai penjaga belakang sedangkan yang lainnya bergerak, Rito melihatnya berdiri tanpa suara di sana selayaknya angsa yang paham tanggal kematiannya telah tiba.

Dia sudah mati sebelumnya. Dan kini dia akan mati lagi—dia dan gadis-gadis itu.

Mendadak, Ludmilla angkat bicara.

“Apa kami menakutkan Anda?”

Dia membuka—kanopi Malinovka—kanopi Alkonost-nya. Seakan-akan kupu-kupu muncul dari kepompongnya, unit pengendali berbentuk seorang gadis jatuh ke rahim gunung berapi terbakar.

Dia merentangkan kedua tangannya dengan bangga. Bagai seorang martir.

“Beri tahu saya, apa kami menakutkan Anda? Cara kami mati, berkali-kali? Apakah kami membuat Anda ngeri?”

Sepintas, Rito terdiam seribu bahasa. Lagipula dia cuma seorang anak laki-laki berumur pertengahan belasan, walaupun dia tahu Ludmilla memiliki sisa-sisa orang yang gugur ketika perang dalam dirinya, ditanyai pertanyaan semacam itu oleh sesuatu yang menyerupai seorang gadis yang sedikit lebih tua darinya melukai harga dirinya.

Tapi Rito cuma mengangguk. Karena itu benar, dan Sirin ini sudah curiga.

“Iya.”

Dia mengangguk dengan sikap agak kesal. Akan tetapi, Ludmilla, tersenyum layaknya santo murah hati.

“Begitu …. Itu bagus.”

“Hah?”

“Sekiranya Anda takut kepada kami, itu karena kami berbeda dari Anda. Sebab Anda tidak ingin menjadi seperti kami, burung-burung kematian. Semisal Anda melihat kami lalu merasa takut … maka itu suatu kehormatan bagi kami.”

Ludmilla kelihatan lega bukan main, dari lubuk hatinya.

“Beri tahu saya. Seumpama demikian, Anda ingin menjadi apa? Jika Anda tak ingin menjadi sebagaimana kami, Anda menginginkan apa?”

“… aku …”

Boleh jadi itu karena dia seorang 86, tetapi kata-katanya tercekat di tenggorokannya. Sesungguhnya, 86 itu apa? Berjuang sampai akhir adalah harga diri mereka. Tapi kalau 86 ditakdirkan mati suatu saat kelak, dan konklusi finalnya adalah menjadi seperti halnya gunungan mayat itu …

Kalau begitu aku tidak mau mati.

Ya, dia tidak mau mati … namun dia takkan menjadi babi yang lari dari pertempuran dan selamat setelah dilindungi seseorang. Dia mau bertarung sampai paling akhir … tapi dia tak puas pada kematian tanpa arti. Dia pengen bertarung, dan tidak mati. Tidak sia-sia. Dengan kata lain …

Aku mau hidup. Pikirku aku mau hidup … dan mencari tujuan hidupku sendiri.”

Bertempur di medan perang yang pasti akan membunuhmu adalah harga diri 86. Sesuatu yang pernah mereka putuskan sendiri, sesuatu yang takkan mereka lepaskan kendatipun segalanya telah diambil dari mereka. Hasrat hidup dengan bangga bahkan di Sektor 86—bahkan di dunia ini.

Kematian bukanlah jalan hidup 86. Bagaimanapun, mereka sendirilah yang hidup, tidak peduli seberapa berubah atau pendeknya kehidupan …. Mereka hidup, memberontak, sampai akhir.

Namun rasanya, suatu waktu, Rito melupakan itu.

“Kami mungkin saja mati dalam pertarungan, tapi kami tidak bertarung cuma untuk mati. Kami cuma menginginkan tujuan. Mungkin kedengarannya seperti pemuas diri saja, tapi … kami mau menjalani hidup yang kami rasa memuaskan kemudian mati dengan cara yang kami terima.”

Sekalipun mereka yakin akan mati cepat atau lambat, Inilah satu-satunya hal yang takkan sanggup mereka serahkan.

“Iya.”

Ludmilla akhirnya mengangguk puas. Dia memejamkan mata, ibarat bilang inilah jawaban yang mau didengarnya.

“Itulah yang terbaik. Lagi pula Anda masih hidup. Anda boleh menginginkan sesuatu dari hidup Anda, dan Anda bebas hidup sesuai keinginan tersebut …. Kecuali—”

Kecuali, kata burung penyanyi mati itu lagi. Bagai doa. Seperti permohonan.

“—kecuali jika bisa, entah Anda mendapatkan atau kehilangan apa, jangan lepaskan hal yang Anda tolak lepaskan ini. Janganlah lepaskan harga diri itu. Jangan buang jati diri Anda. Dan semoga Anda … menemukan kebahagiaan.”

Ludmilla—dan Sirin lain secara keseluruhan—tak punya memori kehidupan mereka sebelumnya. Rito yang baru dikerahkan bersama mereka selama waktu singkat ini, tidak tahu bagaimana dirinya semasa hidup. Terlepas dari itu, Rito merasa entah bagaimana tahu apa keinginannya. Dia bisa tahu mereka bertarung demi keinginan itu.

Gadis-gadis ini melepaskannya di kehidupan masa lalu mereka. Atau barangkali mereka menyerah semata dan mati tanpa memenuhi keinginan itu. Lantas mereka ingin Rito dan para 86 yang masih hidup dan masih belum menemui ajal yang menentukan keberadaan Sirin saat ini, untuk tidak kehilangan diri keinginan mereka sendiri.

“… iya.”

Dia mengangguk sedikit. Rito masih tidak bisa menemukan kata-kata lain untuk menjawabnya. Dan Rito merasa tak mengarahkan kata-kata itu ke Ludmilla, tetapi ke semua Sirin yang tidak di sini. Juga kepada 86 lain yang, tak sepertinya, tidak selamat dari Sektor 86. Dan kepada Irina yang mati tak lama sebelumnya. Dia mengarahkan kata-kata itu kepada mereka juga.

“Kalau begitu lanjutkanlah. Dan tolong jangan lupakan saya. Meski saya hanya akan tinggal dalam ingatan Anda sebagai seekor burung yang binasa di tengah jalan.”

“Ya …. Tapi—”

Rito bicara kepada burung yang berdiri di depan matanya, yang menakutkannya setara dengan betapa tragis dan menyedihkannya burung itu. Perbincangan ini boleh jadi takkan ada di antara ingatan-ingatan gadis ini kali berikutnya mereka bertemu. Namun kini, Rito ingin memberikan Ludmilla jawabannya.

“—aku takkan lupa, dan aku ‘kan memikirkanmu … karena itulah sesuatu yang masih bisa kulakukan.”

Juggernaut-nya akhirnya menemukan pijakan cocok. Pijakannya di platform sedikit rendah, dan sistemnya memekikkan peringatan suhu tinggi. Phönix, yang menatap Shin dari tepian guillotine, nyaris melompat ke bawah sebelum menyadari rencana Shin lantas menghentikan langkahnya.

Tidak ada batu loncatan antara guillotine serta platform Undertaker berada. Lompatannya nyaris tidak sampai jika bukan karena kecakapan lompatan Phönix, tetapi terlalu jauh untuk pendaratan mulus. Dan terkecuali melompat lurus langsung ke bawah, dia mesti melakukan lompatan melingkar. Dengan kata lain, ketika Phönix itu mencapai puncak lompatan melingkarnya—di momen dia tak naik ataupun turun.

Phönix tersadar Shin bertujuan menembak jatuh dirinya kala itu, alhasil dia tidak boleh sembarangan mendekat. Melihat Phönix mati-matian mencari cara mengejarnya, Shin mencari kesempatan mundur. Dia pelan-pelan berjalan mundur ke dinding batu di belakangnya, seketika salah satu kakinya menjatuhkan pecahan batu ke dalam magma. Suara desis menyeramkan yang dibuatnya hampir tak terdengar oleh saraf tegangnya.

Karena kepanasan. Panasnya tidak sampai membuat logamnya memerah panas, tetapi pijakan ini dekat nian ke magma. Panas intens memancar ini bahkan membuat bagian dalam kokpit kedap udara terasa panas dan menyesakkan.

Tubuh manusia dirancang menangani suhu aman tertentu, tentu saja, tetapi tidak Perangkat RAID serta kristal kuasi saraf, yang menyentuh tubuhnya. Cincin logam perak Perangkat RAID mengeluarkan suara peringatan menggelengar.

“…?!”

Volumenya tak tinggi, tetapi terdengar dari belakang lehernya, mendesak Shin untuk mendinginkan diri. Dan gara-gara jeritan elektronik yang memperingatkan Shin akan kerusakan perangkat, suara Raiden beserta Lena yang sejauh ini hampir-hampir tidak didengarnya, telah hilang sepenuhnya.

Lengannya yang tanpa sadar kaku, menangkap getaran itu dan tidak sengaja menggerakkan kaki belakang Undertaker. Ujung cakar kakinya yang nyaris tak memijak sesuatu, kepeleset sedikit.

“Sial …!”

Undertaker nyaris sekali kehilangan keseimbangannya. Ia tersandung sedikit, dan dia bisa gampang bangkit kembali …. Tidak mungkin dia jatuh atau salah langkah tak terperbaiki. Tapi mereka bertarung di atas genangan magma, alhasil jatuh ke sana berarti pasti mati. Seluruh fokus Shin sejenak beralih ke kaki kirinya.

Legion itu tidak melewatkan peluang tersebut. Dia bergerak menyerang.

Dia memanjangkan bilah rantai di punggungnya, menggunakannya untuk mengait salah satu kontainer yang tergeletak di sekitarnya. Selanjutnya menggunakan bilah rantai lain yang dinonaktifkan untuk melempar kontainer tersebut. Kontainernya kosong tetapi tetap objek logam besar, dan dilempar sekuat-kuatnya. Dampaknya cukup berat sampai-sampai membuat Juggernaut terhuyung jika sampai mengenai serangan langsung … tapi serangan itu cuma tipuan belaka. Tidak mungkin Phönix berasumsi Shin akan jatuh karena ini dan betulan menembakkan turet unitnya tuk meledakkan target biasa semacam itu …

Tetapi kontainernya tak mencapai Undertaker dan malah jatuh tanpa daya di tengah jalan. Melihatnya, memubat bulu kuduk Shin berdiri tegak. Kontainernya jatuh terlalu cepat …. Kontainernya tidak kosong!

Kontainernya diisi Eintagsfliege. Mereka pura-pura mati, namun Shin hampir tak menangkap suara penderitaan mereka. Sesaat dia melihat kupu-kupu keperakan itu, dia nyaris saja membuat Undertaker melompat jauh. Setelahnya, sayap Eintagsfliege bersinar putih sembari melepaskan aliran listrik. Shin tidak perlu melihat kontainer itu untuk mengetahui isinya.

Percikan listrik menjilat sekring yang terletak di bagian paling bawah peluru, cukup cepat menyalakannya sampai membakar bubuk mesiu.

Selongsong tank dalam kontainer amunisi itu meledak.

Spesifiknya, tampaknya peluru PLBTSLS disimpan dalam kontainer. Kontainernya meledak sekali saja, dengan gas mudah terbakar mendorong selongsongnya menyebar ke segala arah. Akan tetapi selongsong PLBTSLS mengandalkan jumlah besar energi kinetik untuk kekuatannya, energinya sendiri didapat dari gas mudah terbakar dalam barel. Gas itu mendorong keluar selongsong, memberikan akselerasi yang dibutuhkan untuk bergerak cepat.

Peluru-peluru ini tak punya laras untuk mendorongnya. Pelurunya meledak sendiri, kurang kecepatan dan kekuatan yang normalnya dimiliki. Bubuk mesiu sanggup meluncurkan selongsong tajam seberat 4.6 kilogram secepat 1.600 meter per detiknya, tetapi masih kurang kekuatan penghancur bahan peledak berat.

Jadi baik selongsong tajam, gelombang kejut, maupun ledakannya akan melumpuhkan Undertaker yang sudah melompat jauh. Selongsongnya cuma menyebar, sebab tak ada laras untuk mengarahkannya ke arah tertentu. Hanya beberapa selongsong terbang ke arah Juggernaut.

Shin jungkir balik menggunakan aktuator kaki belakang Undertaker dengan kapasitas penuh, di sisi lain juga menggerakkan aktuatornya ke kiri-kanan tuk menyesuaikan postur unitnya. Selanjutnya Shin menembakkan jangkar ke dinding batu di belakangnya lalu ditarik kembali hingga jangkarnya menempel ke dinding secara vertikal. Momen sesudahnya, Phönix muncul di hadapan matanya, seusai menembus asap serta api.

“Cih.”

Shin tak sempat mengambil kembali jangkarnya. Dia lepaskan kawat yang tengah menariknya naik, meninggalkan jangkarnya terus menendang dinding tuk lari ke satu-satunya tempat kabur—udara. Phönix-nya sampai dinding beberapa saat kemudian, menghancurkan monolit granit raksasa sampai tersisa puing-puing dengan kekuatan di kakinya yang beberapa kali lebih kuat dari kaki Undertaker, seraya menerjang mengejarnya.

Phönix itu sepertinya meluncurkan dirinya dengan menekan aktuator berfidelitas tinggi melebihi kapasitas normalnya, biarpun sudah didorong sampai batas. Bagian runcing kedua kakinya retak, tetapi imbalan kerusakannya dia mampu memotong jarak antara dirinya dan Undertaker sekali lompat dan kini dalam posisi hendak menghancurkannya.

Phönix memanfaatkan ledakan tersebut untuk membutakan Shin serta menembakkan rentetan selongsong tajam agar gerakannya terbatas. Ia mendesak Shin ke posisi yang satu-satunya pilihannya adalah menghindar dengan melompat ke udara lalu bermaksud menggunakan kesempatan itu untuk menebasnya. Dasarnya adalah metode sama yang Shin gunakan di Labirin Bawah Tanah Charité juga Divisi Penyerang yang dikerahkan di Pangkalan Benteng Revich.

Metode yang bisa dibilang semacam balas dendam, Phönix menyudutkan Undertaker ke udara kemudian cepat menyusulnya. Entah dia mau menembak atau menebasnya, jikalau Undertaker ingin mencegat Phönix yang datang dari belakangnya, entah bagaimana dia mesti berbalik dan menghadapnya. Sebagai pengejar, Phönix tak perlu bertindak demikian. Karenanya tercipta perbedaan sepersekian detik ketika masing-masingnya saling melancarkan serangan.

Bayangan bilah rantai turun menuju kokpit Undertaker. Bilahnya lebih cepat. Walaupun Shin tebas sekarang, keduanya akan sama-sama mati. Pikirannya yang masih berjalan tenang kendati situasinya seperti ini, membisikkannya begitu.

Kokpitnya akan ditebas hancur, sesudah itu badan Juggernaut ‘kan kehilangan kendali kemudian jatuh ke magma.

Barangkali karena konsentrasi intensnya, waktu serasa bergerak lebih lamban selagi bilah bergetar mendekatinya. Dan walau kematian menantinya di depan, dia anehnya merasa sadar. Pikiran aneh terlintas di benaknya bahwa, kesadaran ini membuktikan kalau di jiwanya juga ada luka. Tak masalah mana temannya yang mati; dia senantiasa mampu mengesampingkan kesedihan dan kemarahan yang harus ditangani seusai pertempuran berakhir.

Dia selalu sadar untuk memotong emosi serta mempertahankan ketenangan yang dia butuhkan, kemudian berduka selepas pertempuran. Selama bertempur, dia segel amarah yang ‘kan membutakan keputusannya juga ketakutan yang nantinya melumpuhkan anggota tubuhnya, sebab itu tidak dibutuhkan.

Dia tinggalkan naluri bertahan hidup yang alamiahnya dianut makhluk hidup.

Dia anggap terpisah nyawanya dan nyawa orang lain, dengan perspektif manusianya yang direndahkan menjadi perspektif mirip mesin perang. Itulah teknik yang dibangunnya dan luka yang dikumpulkannya.

Dan pertama kalinya, Shin sadar itu adalah luka. Luka yang diperlukannya demi memenangkan perang ini, mungkin saja, namun suatu hari kelak …. Suatu hari, dia bisa jadi sampai ke titik dirinya merasa utuh meski sudah menyembuhkan luka tersebut.

Lantas demi suatu hari itu, dia ‘kan manfaatkan rasa sakitnya.

Pemilihan senjata. Pemancang kaki. Empat unit. Secara paksa melepas pemancang. Meledakkannya sekaligus.

Pelatuk.

Keempat pemancang di ujung kaki Juggernaut-nya meledak ke udara—di tempat tiada yang bisa ditusuk dan dihempas pemancang. Pemancangnya meledak sedikit. Pemancang 57 mm ini didesain merobek bagian atas lapis baja Dinosauria yang, terlepas dari titik paling lemahnya, masih relatif tebal. Dan keempatnya meledak sekaligus.

Pemancang tungsten itu sanggup merobek lapis baja tebal karena kekuatan yang dilimpahkan oleh bubuk mesiu berjumlah besar. Lantas tolak balik kekuatan itulah yang sekaligus menggerakkan pemancangnya kini mendorong naik Undertaker. Keempat kaki unitnya diberikan tenaga penggerak naik.

Alhasil tindakannya seolah mendadak menemukan pijakan di tengah udara. Di tengah lompatannya, Undertaker menendang udara lagi dan melompat lebih tinggi.

Bilah rantai Phönix menebas udara kosong di bawah kaki Undertaker. Sebab tidak lagi punya senjata proyektil, Phönix tak bisa melakukan hal sama yang dilakukan Undertaker. Sensor optik birunya semata-mata menatap Undertaker, masih dipenuhi kebencian sintetis dan haus darah, lalu Shin tanpa gentar menatap balik tatapan tersebut. Shin ayunkan bilah frekuensi tingginya ke bawah.

Phönix yang hingga kini sudah menghindari seluruh serangan yang diluncurkan Undertaker, dan begitu pula Juggernaut juga unit lain yang sejauh ini dihadapinya, akhirnya ditebas.

Rangka hitamnya dipotong, mengekspos struktur internalnya. Shin mengayunkan bilahnya lagi untuk mengonfirmasi pembunuhannya, menjadikan tolak baliknya untuk menyerang. Phönix yang refleks mempertahankan diri, mengayun ke atas salah satu bilah rantainya ke lintasan tebasan kedua. Kedua bilah bergetar itu saling berbenturan, akhirnya kedua bilah patah dan terbang jauh. Tolak balik bentrokan itu makin menjauhkan kedua unitnya.

Undertaker yang menebas dari atas, dihempas naik. Sedangkan Phönix yang ditebas, terlempar jatuh.

Juggernaut tak bisa terbang. Mereka bergantung kepada tangan gravitasi tak terlihat seperti semua hal lain di alam. Undertaker terbang melingkar setelah itu, sesudah sampai puncak lingkaran, mulai jatuh. Mereka bersilangan bilah di tempat buruk, dan kalau begini, Shin akan nyemplung ke magma.

Shin menembakkan sisa jangkar terakhirnya, mengarahkannya ke tengah guillotine. Tidak memedulikan mesin yang sudah kepanasan terpapar lingkungan bersuhu tinggi, dia tarik jangkarnya secepat mungkin untuk mengubah lintasan jatuhnya. Seusai Shin mendarat di atas guillotine dia buru-buru melepas jangkar yang terbakar.

“Ugh …!”

Shin jatuh dari ketinggian yang dampaknya tidak sanggup ditahan spesifikasi unit. Tak seperti peti mati alumunium Republik, Reginleif didesain menggunakan sistem penyangga yang melindungi pilot. Tetapi gantinya sistem penggerak unitnya tertekan, memekikkan peringatan. Aktuator liniernya pecah, ditambah sendi rangkanya rusak. Sejumlah potongan lapis bajanya jatuh lepas, memantul di atas pijakan batu keras.

Tapi di lain hal, Phönix tak punya jangkar. Dia tidak bisa bergerak ke tempat aman, sebab hitung mundur dirinya jatuh ke magma—dengan kata lain, ketinggiannya—jauh lebih rendah. Dia masih mengayun-ayun bilah rantainya, mencoba memperbaiki posisinya.

Dia nyaris tidak berhasil mendarat di pinggiran dinding batu terdekat, tetapi ujung kaki tajamnya menusuk ke dalam, membuat dindingnya terlampau rapuh untuk menahan guncangan pendaratannya. Karena pijakan Phönix runtuh sebab tak kuat menahan beratnya, wujud hitam itu sekali lagi terhuyung-huyung lalu terjatuh ke jurang.

<<…!>>

Dia mengulurkan bilah rantainya bak manusia menjangkau-jangkau terus menikamnya ke permukaan tebing. Bilah bervibrasi itu masuk ke batu dengan lancar selagi jatuh beberapa meter ke bawah, tetapi Phönix menghentikan vibrasi bilahnya alhasil berakhir menggantung stagnan di depan batu. Bagian dalam batunya merapuh, membuat monster metalik itu berayun-ayun di tengah udara.

Baik tangan ataupun kakinya tak mampu mencapai tebing, jadi dia berayun-ayun menyedihkan ibaratnya serangga tersangkut benang laba-laba. Sepiawai bagaimanapun soal mobilitas tiga dimensi, ia takkan sanggup memanjat tebing. Basis bilahnya mengeluarkan suara berderit bahaya. Bagian lengan merentangnya menjerit-jerit sedangkan magma meraung di bawahnya.

Satu-satunya cara kabur sekarang adalah meninggalkan unit ini. Rupanya, dia sudah berkesimpulan demikian, karena sekali lagi, cahaya keperakan Mesin Mikro Cairnya mulai merembes keluar dari celah lapis bajanya.

“Matilah.”

Shin memfokuskan pandangannya ke bilah rantai kemudian tanpa ampun menarik pelatuk turet 88 mm-nya. Turet itu tiba-tiba dipaksa berputar padahal sudah rusak apalagi mesti menahan kuatnya tolak balik meriam 88 mm, walaupun entah bagaimana sedikit dibasahi rem tolak balik. Sendi kaki kiri belakang Undertaker sudah retak-retak, tak kuat menahan tolak baliknya, copot, dan terhempas. Dengan ini, Undertaker kehilangan kemampuan jelajahnya, tapi bayarannya …

… selongsong PLBTSLS ditembakkan dari jarak dekat menghancurkan batuan dasar granit sekaligus bilah rantai yang menusuknya.

<<––––––––––––––––––––––––––––––!!!>>

Sang Phönix jatuh, melepas teriakan penderitaan—kurang lebih, seperti itulah kedengarannya bagi Shin—selagi jatuh ke danau berkilau berisi magma bergolak yang merah warnanya. Tapi masih mematuhi naluri bertempur dan berjuang tuk bertahan hidup. Mesin Mikro Cairnya bocor, mencoba berubah menjadi kupu-kupu dan terbang sebelum jatuh ke danau merah.

Tetapi begitu mencoba mengangkasa, kupu-kupu satu demi satu terbakar. Setiap kepakan sayapnya membuatnya lebih cepat terbakar. Bahkan belum menyentuh magma, kupu-kupu itu memancarkan cahaya merah ketika terbakar.

Layaknya kunang-kunang, laksana merah murup berhamburan terbawa angin, mengembang silau saat terbakar. Dan usai memancarkan cahaya bersinar merah tua sejenak, kupu-kupu itu menjadi abu lalu hancur.

Radiasi panas.

Bahkan Löwe dan Dinosauria takkan bertahan lama pada suhu ini, apalagi Juggernaut. Terlebih kupu-kupunya juga dekat magma, sayap tipis mereka sensitif nian akan kenaikan suhu. Jika Phönix tak mencoba kabur dari magma, dia akan jatuh total. Tetapi usahanya melarikan diri membakar sayap kupu-kupunya.

Apakah Phönix tersadar kalau fokusnya mengalahkan Shin mengantarkannya sukarela memilih medan perang ini?

Bersama kupu-kupu Mesin Mikro Cair, rangka Phönix tenggelam ke magma. Cairan merah tua memiliki viskositas rendah dan menelan lapis baja hitamnya, takdir yang juga ‘kan segera dijatuhkan kepada kupu-kupu logam.

Jeritan mekanis memudar.

Itulah momen-momen terakhir Phönix—unit yang sendirian mengalahkan dan menyudutkan Divisi Penyerang selama beberapa bulan.

Bagi Shin, Legion adalah hantu menyedihkan yang memohon untuk pergi ke tempat yang telah menolak kehadiran mereka. Domba Hitam serta Gembala sama saja, keduanya yang mengasimilasi jaringan saraf manusia, dan Domba Putih.

Phönix yang kelewat menyiksa Shin beserta rekan-rekannya di hari pertama kedatangannya. Barangkali karena itulah, Shin tak merasakan apa-apa ketika menonton kematiannya. Bahkan tidak gembira sama sekali setelah mengalahkannya, biarpun Shin tidak pernah betul-betul merasa begitu perihal melawan Legion. Yang dirasakannya sewaktu melihat hantu ini menghilang adalah kesendirian yang melanda.

“…”

Shin mendesah sekali seraya mengendurkan saraf tegangnya dilanjut membalikkan badan Undertaker. Unit itu menyeret kaki rusaknya sambil berjuang maju.

Dia merasa panas.

Shin menurunkan performa unitnya dari mode tempur ke mode jelajah, tetapi suhu unitnya tidak turun lebih rendah. Justru sebaliknya. Pengukur suhu bertahap-tahap naik menuju bagian kritis.

Suhu gua keterlaluan tinggi. Sumber panasnya terlalu dekat, tambah batu tebal yang penutupnya sedikit dan nyaris tak ada celah yang mengeluarkan panasnya ke udara terbuka luar.

Shin takkan bertahan lebih lama di sini. Misalkan dia tidak pergi cepat-cepat dari tempat ini, baik unitnya dan Shin sendiri akan dilumpuhkan panas sampai-sampai tidak mampu bergerak lagi. Berikutnya dia pasti akan mati. Jadi sebelum itu terjadi …

Dia seret kaki Undertaker yang rasanya sangat lamban dan menjengkelkan. Walau begitu, dia entah bagaimana berhasil memaksa Feldreß sulit diaturnya berbalik, memperlihatkan pemandangan keseluruhan medan perang.

Mungkin akibat dari duel yang terjadi di sini, namun sekarang, sulit mengatakannya. Kini Phönix telah tiada, dia pun tidak tahu pertempurannya di sini sudah diatur atau tidak. Tetapi jalan berbatu sempit yang dia lintasi untuk mencapai gua ini—satu-satunya jalan yang menghubungkan guillotine ke jalan masuk tunggal gua ini—sudah runtuh di tengah jalan.

“… huh?”

Berapa lama Shin menghabiskan waktu melihat pemandangan itu? Ucapannya, yang bukan keraguan maupun sangkalan, menyadarkan Shin. Yang mana pun itu tidaklah berarti. Tidak peduli betapa kerasnya dia mencoba menjelaskan ataupun menyangkal yang dilihatnya, pemandangan di hadapan matanya takkan berubah.

Jalan keluar satu-satunya dari gua ini sudah runtuh, meninggalkan jarak sekitar sepuluh meter. Dan melihatnya, Shin sampai ke kesimpulan: Artinya …

Aku tidak bisa kembali …

Tempatnya berada sekarang barangkali telah diisolasi, namun cukup lebar hingga dua unit lapis baja bisa bertarung di sana. Banyak ruang untuk lari, dan misalkan dia menggunakan jangkar kawat, Shin dapat melompati celah.

Lebih tepatnya dia bisa melompati celah jika Undertaker dalam kondisi siap fungsi. Tetapi salah satu kakinya buntung, dan kedua jangkar kawatnya hilang. Saat ini, Undertaker bisa berjalan dengan menyeret kakinya, jadi melompat beberapa meter itu mustahil. Belum lagi tak adanya material atau alat lain untuk memperbaikinya.

Shin tidak bisa keluar dari gua bawah tanah ini sendirian, dia juga tak punya sesuatu untuk meminta bantuan. Perangkat RAID-nya malfungsi, lantas tidak dapat terhubung ke Resonansi Sensorik. Batu tebal menghalangi gelombang radio, jadinya tautan data, radar, serta nirkabel takkan mencapainya pula.

Andaikata Frederica masih bersama tim kendali, dia bisa jadi sudah menyadari penderitaan Shin, namun dia terluka dan dibawa mundur dari medan perang. Raiden beserta yang lainnya kemungkinan besar mencarinya, tapi karena mereka tak tahu Shin di mana, peluang mereka menemukan tempat ini di benteng bawah tanah besar ini tidaklah tinggi. Lantas mereka tak mampu lebih lama memblokade sektor ini.

Tetapi ada masalah lain … tubuh Shin sepertinya takkan bertahan di lingkungan ini sebelum batas waktu itu berlalu.

“…”

Begitu menyadari Shin tak mampu melakukan apa-apa, tubuhnya melemas sebab keletihan.

Ah. Jadi di sinilah akhirnya. Di sini … tempat kematianku. Tanpa diketahui siapa pun. Tanpa jalan pulang.

Tanpa arti.

Sekalipun dihadapkan fakta tersebut, Shin anehnya merasa tenang. Dia tahu seharusnya tidak merasa seperti ini, tapi kebiasaan lama sulit dihilangkan. Boleh jadi itulah sebabnya. Bisa jadi karena perspektif unik tentang hidup-mati yang para 86 bangun selama sembilan tahun di Sektor 86, di mana kematian pasti yang menunggu di penghujung pengabdian militer seseorang.

Kematian senantiasa ada, selalu menanti di depan. Setiap harinya, Shin tahu dia mungkin tak bisa menemui hari esok. Jadi kendatipun dia mati hari ini, dia bisa terima. Tak perlu takut atau menghindarinya. Lagipula dia memang berjuang sampai akhir.

“… sudah cukup perjuanganku, kan?”

Menuturkan kata-kata yang takkan didengar siapa pun—perekam misi, yang biasanya akan merekam apa pun yang dikatakan Prosesor, sudah mati di suatu waktu—dia membuka kanopinya lalu melangkah keluar.

Sistem Juggernaut sudah benar-benar sunyi, mati karena panas. Sistem pendinginnya mati di waktu bersamaan, jadi suhu dalam kokpitnya mulai ke tingkat berbahaya. Shin tahu keluar cuma akan mempercepat kematiannya, tapi entah bagaimana, kemungkinan mati lemas di kokpit kedap udara terasa lebih buruk.

Dia disambut angin panas, tepatnya, udara mendesis yang menyelimuti tubuhnya. Cahaya magma menyilaukan yang tak dikurangi saringan komputer pendukung, membakar retinanya. Mungkin itu wajar. Shin sudah melihat terlampau banyak kematian. Dia mengubur kelewat banyak rekan-rekannya. Dan akhirnya datang waktu dirinya bergabung bersama mereka. Bagi 86, kematian adalah jalan hidup. Mereka mati terlalu cepat, terlalu mudah, terlalu jelas.

Sekarang gilirannya. Itu saja. Kecuali … “Seharusnya aku tidak memberitahunya.”

Dia lirih membisikkannya. Bahkan melakukan hal itu saja membuat tenggorokannya tersengat udara panas. Dia sepatutnya menginginkan masa depan. Menginginkan berarti kehilangan sesuatu Begitulah yang selalu terjadi, dan ‘kan selalu begitu. Dia ingin dirinya tinggal. Dia berjanji akan kembali apa pun yang terjadi. Tapi seketika dia menginginkan, ini terjadi.

Lena nanti sedih …. Iya, dia kemungkinan besarnya sedih. Begitulah dia. Karenanya Shin memintanya mengingat mereka dua tahun lalu. Dan dia malah berbuat sesuatu yang bukan dirinya sama sekali dan menyakitinya tanpa arti …

Apabila Shin tak mengenakan setelan penerbangnya yang dibuat untuk mencegah panas, dia takkan bisa bersandar pada lapis baja Undertaker seperti sekarang. Shin mendongak. Dia sudah lama kehilangan Tuhan tujuan doanya. Semisal dia menggunakan pistolnya, dia bisa mati lebih mudah dibanding membiarkan panas membunuhnya, tapi dia tak ingin menggunakannya. Rasanya semacam pengkhianatan.

Pengkhianatan terhadap janji untuk terus berjuang sampai tetes darah terakhir. Membawa orang-orang mati hingga akhir, ke tujuan terakhirnya. Janji yang dia buat bersama rekan-rekan seperjuangannnya sampai sekarang … juga janji kepada Lena untuk kembali hidup-hidup. Walaupun dia ujung-ujungnya melanggar janjinya.

“… Lena.”

Satu hal pasti …. Keberuntungan satu-satunya adalah Lena tak tahu bagaimana dia mati …

“Maaf.”

Tapi kemudian bayangan putih muncul di depannya.

Suara ratapan didengar Shin. Kata-kata terakhir seseorang, seperti yang diutarakan Legion. Ratapan hantu—salinan struktur otak, terperangkap dalam Legion lalu mengulang momen-momen terakhirnya tanpa henti.

Suara wanita. Suara bulan tanpa belas kasih yang tak berperasaan lagi dinding.

Shin mengangkat kepalanya perlahan, seolah-olah ditarik suatu kekuatan. Kemudian pandangannya tertuju ke satu Ameise tua, yang entah kapan muncul di hadapannya. Lapis bajanya seputih cahaya bulan, dengan Tanda Pribadi seorang dewi bersandar di bulan terukir di sana.

Ratu Bengis.

“––––––––––!”

Pada waktu itu, kengerian murni—cukup kuat sampai-sampai memudarkan pikirannya sebentar—menerpanya. Ketakutan akan kematian.

Karena Ameise adalah pengintai yang bertujuan mengumpulkan informasi, mereka dianggap salah satu tipe Legion terlemah dalam hal kekuatan bertarung. Namun itu hanya dari sudut pandang Feldreß Reginleif dan Vánagandr.

Manusia lemah yang hanya punya empat anggota tubuh takkan mampu mengalahkan Ameise. Bagi manusia, tidak berarti mereka dihadapkan Ameise atau Dinosauria. Mereka tetap dibunuh dengan cara mekanis tanpa ampun.

Seperti saat dia melihatnya di Pangkalan Benteng Revich, Ratu Bengis tidak punya senjata; tak ada senapan mesin 14 mm serba guna yang normalnya digunakan Ameise. Tapi itu tidak penting.

Berat dan tenaga mesin Ameise bisa gampang mencabik-cabik manusia dengan kakinya.

Dan satu mesin pembunuh semacam itu sekarang berada di depan matanya. Lebih cepat dari kesanggupannya mempersiapkan diri untuk mati. Kematian yang tidak dia persiapkan telah datang sendirinya.

Ya. Kematian datang ke semua makhluk. Setimpal, tanpa belas kasih … dan mendadak.

Shin kira dia bakalan mati di sini, dehidrasi dan terbakar oleh udara panas. Dia siap menerima kematian itu dengan hormat. Namun kini dia menolak sesedikit apa pun waktu yang dimilikinya untuk merangkul emosi tersebut, ibarat sesuatu berusaha memberitahunya kalau itu terlalu baik untuknya.

Dunia itu kejam, dan dia sungguh berpikir memahami ini. Bahkan sekarang, di momen final ini, fakta buruk itu dihujamkan di depan matanya.

Tipe Pengintai menghampiri. Shin refleks berdiri digerakkan insting alih-alih pikiran. Dia tanpa sadar mundur selangkah, mencoba kabur. Insting bertahan hidupnya menyuruhnya melarikan diri.

Aku tidak mau mati.

Pikiran itu mendadak dan intensnya terbesit di benaknya. Melonjak dalam dirinya yang kecepatannya nyaris setara naluriah.

Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati. Karena misalkan aku mati, aku akan memanggil dirinya. Di akhir aku akan memanggil namanya. Dan kalau aku menjadi Legion, aku akan terus memanggilnya selamanya, sampai aku hancur.

Kemampuan menangkap suara Legion—jeritan hantu mekanis—unik bagi Shin. Tidak ditemukan Cenayang lain yang mempunyai kemampuan ini. Dan tak seperti Resonansi Sensorik, tidak pula ada cara buatan untuk menciptakannya kembali. Semisal Shin mati, phiak manusia takkan pernah mendengar teriakan Legion lagi.

Tapi jika, ada kemungkinan kecil, suara teriakan Shin mencapainya …

Dia tidak mau mati. Dia tidak mau membuatnya menangis. Ya …. Dia tidak mau dirinya menangis. Dia tidak mau membuat dirinya sedih. Walaupun keinginan ini takkan terkabul, dia tidak mau menyerah. Dia berjanji untuk kembali kepada dirinya apa pun yang terjadi. Bicara pada dirinya. Dia bahkan belum minta maaf padanya …

Jadi dia tidak boleh mati di sini. Dia tak ingin mati. Dia tak ingin membuat dirinya sedih …

Aku mau dia tersenyum.

Pikiran itu muncul di benaknya, bahkan dalam situasi tidak biasa ini. Pikirannya memenuhi kekosongan yang dirasakannya semenjak pertempuran terakhir. Dia tidak boleh tidak berubah. Dia harus berubah. Tapi bagian mana dari dirinya yang harus dia ubah—dan bagaimana? Dia terus menanyakan dan menyiksa dirinya pada pertanyaan itu. Dan akhirnya, dia menemukan jawabannya.

Dia masih tidak tahu ingin menjadi siapa. Dia masih tidak mampu membayangkan masa depan yang ditujunya atau kegembiraan apa yang mestinya dia cari. Terlepas dari itu, yang ada …

Dia ingin hidup dengan cara yang ‘kan membuat Lena tersenyum.

Dan kalau bisa, dia ingin tersenyum bersamanya.

Ratu Bengis mendekat dengan langkah bisu yang sederhana. Shin refleks memberanikan diri. Tak berpaling dari Legion di depannya, dia mengulurkan tangan dan mengambil senapan serbu yang berada di kokpitnya. Dia menarik slot peluru dengan gerakan terlatih dan lihai lalu mengisi peluru pertama. Dia buka popor senapan lipat kemudian ditekan ke bahu, sebal karena prosedur tambahan.

Lapis baja Ameise tak rusak oleh peluru pistol 9 mm. Lapis baja depannya bahkan sanggup menangkal tembakan senapan 7.62 mm berukuran penuh. Musuhnya dekat, dan tak ada tempat berlindung, namun dia tidak sepenuhnya tanpa senjata. Dia masih harus mengalahkannya dan entah bagaimana bertahan.

Dia harus bertahan kemudian kembali. Dia harus kembali kepadanya.

Tentu saja, kendatipun entah bagaimana dia bisa mengalahkan dan melumpuhkan Ratu Bengis, dia sama sekali tak bisa keluar dari gua ini, namun sekarang, bukan itu yang di pikirannya. Musuh berdiri di depannya, alhasil dia wajib mengalahkannya. Emosi penting tapi bukan amarah membara dalam dirinya, mengendalikan seluruh pikirannya.

Aku takkan menyerah. Mana mungkin aku menyerah di sini. Kubilang padanya aku akan kembali …!

Sang Ratu Bengis mendekat. Dia cukup dekat untuk menyerang. Tapi, dia lebih mendekat. Ibarat memain-mainkannya. Seolah tak punya hasrat untuk menyerangnya. Setelah itu Shin tersadar. Suaranya—tangisan sedih seorang wanita—tidak penuh haus darah seperti suara normal Legion sewaktu mereka hendak menyerang.

… dari awal kok bisa Ameise ini muncul di permukaan batu sini?

Dia tidak mungkin begitu saja melompati area runtuh. Selagi Shin melihat ke sana, Ratu Tanpa Ampun muncul di belakangnya. Berarti …

Sesosok bayangan muncul di atas kaki Shin. Bukan bayangan dirinya ataupun Ratu Bengis. Bayangan aneh, persegi, dan besar …

“…!”

Sewaktu Shin menyadari apa bayangan itu kemudian mendongak—

Pi!”

Shin tak tahu apa yang dipikirkan mesin pengumpul sampah tanpa senjata. Dia melaju melalui kedalaman gua, melewati permukaan batu tak rata, selanjutnya berbelok ke sudut tanpa mengurangi kecepatannya. Fido melempar dirinya ke atas Ratu Bengis dengan kecepatan seratus kilometer per jam.

Bahkan Ameise tidak bisa mengabaikan objek sama berat yang jatuh hendak menimpanya dengan kecepatan penuh. Fido mundur ancang-ancang, ujung kakinya meninggalkan tanah selagi jatuh kaku menyamping. Saat sang Ratu Bengis roboh ke tanah dengan bunyi gedebuk, Fido menekan beban penuhnya ke atasnya.

Diinjak tanpa henti oleh berat sepuluh ton, lapis baja putih Ameise membengkok dan lepas. Ratu Bengis. Legion itu tidak punya senapan mesin bahu untuk mengenyahkan penyerang anehnya, dan meski punya, Fido terlalu dekat sampai-sampai tak bisa membidik secara akurat. Tapi mungkin karena instingnya sebagai mesin tempur, Ratu Bengis meronta-ronta kakinya berupaya menendang Fido menjauh …

“Fido, pergi dari sana!”

“Shin, diam di tempat dan jangan bergerak!”

Fido melompat menjauh—jauh lebih kikuk dibanding lompatan Juggernaut—dan momen berikutnya, suara gemuruh senapan bergema di seluruh gua. Tembakannya dilepaskan dari jarak dekat dan mengenai sasarannya nyaris setelah ditembakkan. Peluru senapan mesin 40 mm dan selongsong PLBTSLS 88 mm menukik dari atas, menembus kaki Ratu Bengis. Sekring selongsongnya disetel ke tak aktif jadinya tidak meledak saat benturan. Semata-mata menerbangkan keenam kaki Ameise dengan energi kinetik kuatnya.

Bahkan kakinya saja cukup berat dan tak terbang terlalu jauh hingga membuat Shin, yang berdiri di dekatnya, dalam bahaya. Fido berdiri di depannya, melindunginya dari pecahan sekaligus bagian-bagian mesin yang beterbangan di udara.

“Shin, kau tak apa-apa?!”

“Kau masih hidup ‘kan, brengsek?!”

Mereka datang semendadak Fido. Dinding tinggi di belakang gua ini punya sesuatu semacam langkan di puncaknya. Dalam hal ketinggian dan jarak, hanya beberapa meter jauhnya dari guillotine. Seorang manusia tidak kesampaian melompat sejauh itu, tetapi Reginleif dalam kondisi prima bisa mudah mencapainya.

Shin mencoba menjawab, tetapi tenggorokannya teramat-amat sakit karena panas. Sesudah batuk kering beberapa kali, dia tepis ketidaknyamanannya dan meraba-raba tombol interkom mencari respon.

“… telingaku sakit.”

Turet Juggernaut dasarnya adalah turet tank, jadi suara ledakannya membuat telinga Shin sakit. Tapi arti lainnya, apabila ini komplain pertama Shin, maka membuktikan dirinya tidak terluka sama sekali. Mendengarnya, Theo mencibir lalu mendesah panjang.

“Yea, kau baik-baik saja kalau masih bisa bersumpah serapah. Baguslah.”

Suaranya kemudian menegang.

“… aku bersyukur kau baik-baik saja.”

“…”

Shin hampir menjawabnya dengan permintaan maaf namun tak mampu mengutarakannya. Nyaris dua tahun lalu mereka memberi tahu Shin untuk berhenti merisaukan mereka …. Berhenti membahayakan dirinya sendiri. Tapi Shin hampir tak mematuhi perjanjian itu. Shin sendiri tahu. Dan walaupun dia merasa bersalah karenanya … minta maaf lewat kata-kata rasanya tak jujur. Jadi gantinya, dia bertanya saja:

“Kalian dari mana?”

Menilai situasinya, sepertinya mereka mengejar Ratu Bengis.

“Kau mungkin tidak bisa melihatnya dari bawah sana gara-gara bayangan, tapi ada jalan di atas dinding ini, persis di belakang kami …. Entahlah kenapa mereka repot-repot menggalinya.”

“Iya …”

Jadi itu alasannya. Usai mengatakannya, Shin batuk-batuk. Bicara membuatnya menghirup lebih banyak udara panas. Raiden mengerutkan alis khawatir.

“Jangan bicara—kau akan melukai tenggorokanmu. Undertaker tidak bisa bergerak, kan? Kami akan datang.”

“Makasih.”

“Kubilang jangan bicara. Fido, sana bawa Undertaker. Dan perihal Ameise itu …”

Pi!”

Fido memotong kata-katanya dengan bunyi bip elektronik. Raiden tentu tak mengerti, tapi Shin menjelaskan meskipun tenggorokannya sakit.

“Dia bilang para Scavenger lain akan segera datang.”

“Bisa-bisanya kau paham padahal sekali bip doang …? Yang berbelok di pertigaan sebelumnya, kan? Diterima, kita serahkan kepada mereka—”

“Tuan Pencabut Nyawaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Beberapa Alkonost dan Scavenger muncul dari pintu masuk gua yang berada di sisi lain jalan runtuh. Entah kenapa, Chaika ada di kelompok itu dan meninggalkan mereka dengan melompati celah batu.

“Anda tak terluka …?! Oh, ternyata Tuan Manusia Serigala dan Tuan Rubah!” “… sebentar, kau ngapain di sini, Lerche?”

“Saya diinformasikan para Sirin yang sedang dalam perjalanan ke sini bahwa jalan ini terhubung dari tempat pembuangan limbah Weisel, jadi kami berkumpul kembali di sana …. Oh, tapi sekarang bukan waktunya. Scavenger-Scavenger baik, tolong buat jembatan.”

Beberapa Scavenger dimodifikasi untuk membangun jembatan. Mereka model berkaki banyak yang dibuat untuk menyeberang sungai. Agar Scavenger-nya sendiri tetap ringan, jembatannya dibatasi lima belas meter panjang maksimalnya. Feldreß berat seperti Vánagandr tak bisa melewatinya, namun Juggernaut atau Scavenger bisa.

Scavenger model jembatan memasang tangga di punggung mereka dan mulai melintasi struktur terhubung sepanjang lima belas meter sementara Fido mendatangi Undertaker. Wehrwolf pelan-pelan melompati bebatuan. Pemandangan yang anehnya terlihat tenang, seperti pemandangan biasa usai berakhirnya pertempuran.

Aku diselamatkan …

Akhirnya menyadari ini, Shin pingsan karena kelelahan. Dia tiba-tiba sangat menyadari tenggorokan keringnya dan panas membara di tubuhnya.

“Hei!”

Sensor optik menatap heran Shin. Raiden mencoba menyatakan sesuatu—barangkali bertanya apakah Shin baik-baik saja—tapi terdiam. Dia mungkin langsung tahu sekali pandang kalau Shin tidak oke. Dengan mata panik, dia berbalik menghadap Laughing Fox.

“Theo, bawa Shin dan kembalilah. Aku akan awasi Fido dan para Scavenger.”

“Oki. Aku bawa separuh pasukan, oke? Peleton kelima, ketiga, pertama, kami pinjam, jadi ikuti kami. Shin, bisa berdiri? Oh, maaf, kurasa tidak bisa. Bentar …”

Laughing Fox melompat melintasi celah dan mendarat di sebelahnya. “Diterima. Laporkan kembali saat kau kembali ke posisi yang ditentukan.”

Vika mengangguk sehabis mendapat konfirmasi penangkapan Ratu Bengis dan penyelamatan Shin. Shin terluka, jadi Raiden-lah yang menangani laporan, tapi menilai nadanya, Shin tidak dalam kondisi kritis. Tak lama setelahnya, datang laporan berikutnya. Skuadron Spearhead telah mundur ke lini perang yang ditentukan …. Seluruh unit di pasukan penyerang Divisi Penyerang sudah mundur. Yang tinggal hanyalah …

Annette bicara lewat Resonansi Sensorik. Dia duduk dalam kokpit salah satu Juggernaut. Unit tersebut tidak bertempur selama berlangsungnya operasi dan tetap dilindungi unit pendampingnya.

“Jadi akhirnya kita menangkap Ratu Bengis …. Menurutmu kita dapat apa dari dia? Dia repot-repot memancing kita sehabis meninggalkan pesan untuk mencarinya. Kita bakalan dapat apa dalam peti harta karun ini?”

“Kemungkinan terburuknya, cuma tipuan untuk memancingku dan Nouzen. Kemungkinan terbaiknya, kita barangkali dapat cara untuk mengakhiri perang ini …. Realistisnya, kita sekadar dapat sejumlah informasi darinya. Terlepas dari dia berikan suka rela atau tidak.”

Seandainya Ratu Bengis benar-benar mengasimilasi jaringan saraf pengembang Legion, Mayor Zelene Birkenbaum, semestinya ada informasi yang bisa mereka ekstrak darinya. Memperoleh lebih banyak data perkara sistem kontrol Legion adalah keunggulan luar biasa.

“Dia …? Oh, kau kenal seseorang di dalamnya.”

“Kenalnya sampai bicara padanya beberapa kali, itu saja …. Omong-omong—”

Vika membuka panel kontrolnya yang diperbesar, sudah dimodifikasi untuk penggunaan pribadinya, kemudian bicara sembari mengatur segelintir kondisi di sana. Lalu selesai memasukkan pengaturan-pengaturan tersebut dan melanjutkan:

“—eksperimen yang mempertaruhkan nyawamu sudah selesai, Penrose?”

Dia menjawab sambil tersenyum sinis.

“Kenapa bertanya padahal sudah tahu, Paduka? Kebocoran informasinya bukan dari pihak Kerajaan Bersatu. Bukan dari Para-RAID pula.”

Fakta Annette menyertai pasukan penyerang belum dilaporkan ke militer Federasi. Satu-satunya yang kenal Annette di sini adalah Divisi Penyerang dan militer Kerajaan Bersatu. Shin dan Vika—yang Tanda Pribadinya sudah diketahui Legion—terus ditargetkan. Namun Annette, yang tak punya Tanda Pribadi, belum diserang meskipun berada di Juggernaut mencolok yang tak ikut berperang dan konstan bicara kepada orang lain melalui Resonansi Sensorik.

Legion tidak menyadari eksistensi Annette … atau mungkin, mereka tidak tahu dia di sana. Dalam hal ini, kebocoran informasinya bukan berasal dari Divisi Penyerang maupun militer Kerajaan Bersatu. Dan tak ada tanda-tanda Resonansi Sensorik diintersepsi.

Vika terus bicara tanpa diinterupsi. Sepertinya, bahkan hal ini pun tak cukup membuatnya merasa terkhianati.

“Kalau begitu, Federasi-kah?”

Senyum Annette rasanya menghilang, menampakkan emosi campur aduk: kebencian, hinaan, dan perasaan-perasaan intens lain.

“… ada negara lain yang sangat mengetahui keberadaanku.”

Seusai melepas beberapa tingkatan perangkat keselamatan, tombol penghancuran diri beruntun ditekan. Perintahnya dikirim melalui siaran, melintas di seantero Gunung Dragon Fang—menuju posisi Alkonost yang dilengkapi bahan peledak berada.

Mereka bersiap akan kemungkinan Vika serta Annette terluka atau gelombang radio terputus, para Sirin yang tinggal dalam Alkonost tuk mengoperasikan sekringnya secara manual bila mana perlu. Pemrograman awal mereka termasuk perintah penghancuran diri sepenuhnya jika bisa, agar mencegah Legion mencuri otak mereka. Lantas para Sirin tidak bergeming. Mereka semata-mata tersenyum, memikirkan medan perang yang ‘kan mereka pijak kali berikutnya.

Dan begitu menerima sinyal, mereka menyalakan sekring, dan bahan peledaknya meledak.

Suara ledakan sebagian besar ditiadakan batu tebal, alhasil tak ada suara gemuruh memekakkan telinga. Hanya getaran yang bisa dirasakan perut mual mereka.

Petugas medis tersenyum, mencatat betapa tak terduganya mereka harus merawat gejala kepanasan di gunung bersalju selagi mereka menyuruh Shin beristrirahat sebentar. Shin yang berbaring di kabin kendaraan lapis baja, duduk. Mereka berniat menghancurkan pangkalannya, namun mereka tak punya muatan untuk sungguh-sungguh meratakan keseluruhan gunung. Jadi walau mereka memicu ledakannya dari jarak cukup jauh dari titik pertemuan kembali mereka, Gunung Dragon Fang tetap berdiri tegak.

Tetap saja, suara ratapan yang Shin dengar sejauh ini tidak ada lagi di dasar bumi. Dia tak mendengar suara Legion ataupun Sirin yang tetap tinggal untuk memicu ledakannya. Annette bersama Vika, sekaligus Bernholdt yang mengurus blokade gunung, semuanya sudah kembali.

Dan tatkala mereka selesai menempatkan Ratu Bengis—yang diikat erat-erat dalam kontainer kendaraan lapis baja, tidak membiarkannya bergerak atau memindahkan posisinya di tengah perjalanan—sisanya hanyalah mereka cuma perlu mundur ke tempat aman.

Terdengar ketukan di pintu kendaraan—seolah salah satu ruangan istana—yang terbuka selang waktu kemudian.

“Rupanya Anda cukup terluka parah lagi, Tuan Pencabut Nyawa.” “… Lerche.”

Lerche mengintip ke dalam ruangan, berpakaian setelan penerbang merah khusus untuk Sirin. Mirip seragam biasanya, juga saber anakronistik di pinggangnya, alhasil tidak beda-beda amat dari penampilan biasanya. Rambut pirang kepangnya beserta mata hijau berkaca-kacanya pun sama biasa.

Kalau begini, baik penampilan dan suara orang mati dalam dirinya tidak lagi membuat Shin jijik.

“Apa?” tanya Shin.

“Tidak ada apa-apa. Saya hanya mampir untuk memeriksa Anda. Saya semata mendengar perawatan Anda sudah selesai dan diperintahkan untuk beristrirahat.”

Baik nada dan ekspresi Lerche menunjukkan ketenangan ganjilnya, seakan dia basa-basi saja. Namun Shin tahu Lerche pasti kepikiran sama percakapan mereka di Pangkalan Benteng Revich tempo hari. Lerche mungkin tidak menyesali perkataannya kepada Shin, tapi mungkin masih mengganjalnya.

“Mendengar kabar Anda tak terluka sangatlah melegakan …. Namun mesti saya bilang, tubuh manusia pasti betulan lemah jika suhu tinggi cukup melumpuhkan Anda.”

“…”

Meski pertempuran melawan Phönix sudah selesai, Juggernaut Shin tak mampu menahan panasnya. Shin meragukan Sirin berukuran manusia, dengan sistem pendingin yang bertujuan untuk menopang tubuh kecilnya belaka, juga bisa berfungsi di sana. Sadar Shin menyipitkan mata kepadanya, Lerche tersenyum sembari memasang ekspresi riang.

“Dan entah bagaimana, biarpun lemah, Anda lolos tipis dari cengkeraman kematian dan sadar Anda harus kembali. Barangkali Anda belajar untuk takut mati …. Kalau begini, apakah Anda akan menyerahkan perang kepada kami, para Sirin?”

Seserius bagaimanapun kata-katanya, dia bicara sesantuy biasanya. Lerche mungkin sudah menebak jawaban Shin tetapi masih ingin mendengar orangnya memastikan langsung. Itulah implikasi perkataannya.

“Yah—”

Jadi Shin menjawab dengan kalem.

“—manusia benar-benar bukan … aku sungguh bukan makhluk yang dibuat untuk berperang. Dan akan tetap sama. Tapi manusia takkan membuang tubuh mereka. Kami ini tak sempurna dan pengecut, seperti katamu.”

“Kalau begitu—”

“Tapi,” Shin menginterupsi, “terus kenapa? Martabat kalian bukan urusan kami. Kami memutuskan bertarung sampai tarikan napas penghabisan adalah harga diri kami, dan kami takkan lepaskan. Aku tidak mau mati menyedihkan. Tidak jadi soal apakah tubuhku tak berfungsi untuk bertarung atau bertahan hidup dari medan perang ini. Aku tidak boleh lari dari perang ini. Dan paling pentingnya …”

Sejenak, dia ragu-ragu tuk menuntaskan pikirannya. Dia tak terbiasa menyuarakannya. Hingga baru-baru ini, Shin yakin tidak tidak boleh punya keinginan … bahwa dia tak mau berkeinginan.”

Suatu hari kelak, aku mau bahagia bersama seseorang.

“… aku ingin hidup berdampingan dengan orang lain. Jadi aku tak bisa pilih salah satu …. Karena aku …”

Tak seperti Lerche dan Sirin lain yang sudah lama mati. Tidak seperti rekan-rekannya yang mati mendahuluinya dan arwah mereka dibawa Legion.

“… aku masih hidup.”

Lerche tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Shin.

“Anda tak ingin menyerah pada apa pun dan terlebih lagi meraih lebih banyak hal …. Sungguh pertunjukan keserakahan menyegarkan, layak bagi orang-orang hidup. Bagus sekali,” ucap Lerche, menahan tawanya tapi di bibirnya masih ada senyuman.

Dia fokuskan mata zamrud berkilaunya—mata kaca itu yang wujudnya sedikit tak manusiawi—kepadanya.

“Namun saya masih tetap bersikeras Anda tidak perlu hadir di medan perang. Saya bersumpah atas harga diri dan martabat kami, manusia.”

Burung kematian yang dibuat untuk bertempur ini menuturkan kata-kata tersebut sembari tersenyum. Shin hanya mencemooh main-main, tahu hari itu takkan pernah datang. Dia takkan membiarkannya.

“Coba saja, pedang.”

Lena telah dikabarkan selesainya operasi, namun itu semua terjadi sembilan puluh kilometer jauhnya. Dia tidak bisa melihat jejak asap naik ke langit dari puncak gunung, kendatipun ledakannya cukup kuat sampai-sampai menghancurkan seluruh pangkalan. Tapi tetap saja, tak sanggup meruntuhkan seluruh gunung. Ledakannya bahkan tidak mengguncang monolit besar tersebut.

Artinya, dari tempat Lena berada, dia tidak menemukan perubahan apa pun sekalipun dia menatap langsung gunung. Jadi unit pasukan cadangan menunggu pangerannya belaka, yang pergi ke wilayah musuh bersama burung-burung kematian dan rekan-rekan seperjuangan lain sejauh ini.

Lapisan perak yang melapisi langit sedikit demi sedikit kian menipis. Eintagsfliege adalah yang paling kecil dan ringan dari seluruh unit Legion, sehingga jumlah listrik yang bisa mereka simpan di tubuh itu kecil. Sesaat sekawanan kupu-kupu logam kehabisan energi, mereka mulai menuju selatan, dan karena tidak ada yang kembali, ketebalan awan mulai menipis.

Seperti halnya ramalan perwira staf Kerajaan Bersatu, kala Legion kehilangan pangkalan Dragon Fang, Eintagsfliege tidak dapat menetap di langit. Langit birunya, lambat laun, kembali.

Dan seketika terbit pagit di hari pertama bulan anyar di mana langit biru cerah menghampar di atasnya, pasukan penyerang Gunung Dragon Fang kembali ke pasukan cadangan.

Biru langit tebal angkasa musim panas kontras dengan puncak bersalju. Bahkan di utara, matahari awal musim panas bersinar cerah, lalu salju mulai mencair sewaktu mendadak terkena sinar mentari intens. Salju yang mencair mengalir ke sungai sebegitu cepat dan intens sampai-sampai lembah sungainya tidak lama lagi mungkin ‘kan meluap.

Pasukan penyerang kembali, melangkahi salju mencair yang lengket. Kendaraan berat menepi satu per satu, para Prosesor keluar dari kabinnya, mengenakan seragam penerbang biru baja mereka. Raiden menghampiri Lena. Shin tak bertugas, jadi Raiden mengambil wewenangnya sebagai komandan operasi Korps Lapis Baja Ke-2. Raiden memberi hormat kemudian bicara:

“Kolonel Milizé, Divisi Penyerang 86 telah kembali.”

“Kerja bagus, Letnan Satu Shion dan Letnan Satu Shuga. Juga semua orang, silahkan nikmati istrirahat layak.”

Selesailah etiket yang harus ditampilkan seorang perwira atasan kepada bawahannya. Semua Prosesor, termasuk Raiden, terlihat santai mendengar perkataannya. Beberapanya sudah mulai ngobrol, dan para Prosesor anggota pengatur tembakan buru-buru bergabung. Pasukan cadangan langsung penuh pembicaraan dan keributan.

Letnan Satu Shion dan Prosesor-Prosesor lain melewati Raiden kemudian meninggalkan kendaraan lapis baja. “Kami pulang,” beberapa orang bilang. “Kerja bagus, Kolonel,” kata yang lain. Mereka lewat, bicara masing-masing.

Dan satu sosok, berseragam biru baja dan syal hijau, mendekatinya. Setelan penerbang dan syal robek-robeknya menceritakan kisah lengkap bagaimana dirinya bertindak serampangan lagi. Guren meringis pahit ketika Fido menurunkan Undertaker yang dalam kondisi rusak total lagi, sementara Touka nyengir.

Tapi tetap, dia kembali. Seperti yang Lena harapkan. Lantas dia harus memenuhi harapan Shin. Cowok itu berjalan mendekat, kemudian dibalas sapa si cewek. Bukan sebagai perwira komandan, tetapi secara pribadi. Dia tersenyum.

“Kau bilang akan kembali.”

Shin membeku, kaget. Lena mencoba tersenyum, tapi faktanya dia menyimpan amarah. Barangkali nampak di ekspresinya, tapi Lena tidak tahu karena tidak dapat melihat wajahnya sendiri.

“Err … aku beneran kembali.” mungkin tenggorokannya sakit, karena suaranya agak serak.

Dan Lena tahu mengapa tenggorokannya sakit, makin-makin menuangkan bensin ke amarahnya.

“Raiden melaporkan keadaan di balik pemulihan Ratu Bengis. Dan medis memberikanku diagnosismu. Raiden akan tetap memegang komando sampai medis mengatakan sebaliknya. Mengerti?

Shin terdiam. Dia melihat ke belakang Lena, tampaknya mencari-cari Raiden. Setelah memikirkan kata tepat—yang mana, menurut Lena, kelihatan dia mencoba merenungkan dalih—Shin akhirnya menyerah dan melemaskan bahu.

“Maaf.”

“Sebaiknya begitu! Kenapa … kenapa kau selalu membahayakan dirimu …?!”

Alasan semacam harus kulakukan atau tidak ada pilihan lain tak terlalu berarti di sini. Lena menyuruhnya kembali, dan Shin bilang dia akan kembali. Jadi artinya Shin wajib kembali … alhasil melakukan sesuatu yang akan membunuhnya semestinya sama sekali tidak boleh.

Dan bagaimana kalau dia betulan mati …? Merasakan gelombang emosi dalam hatinya, Lena tersedak. Namun entah bagaimana dia berhasil menahan tangisnya. Di saat Raiden memberitahunya kejadian malam itu, dia tidak bisa berhenti gemetaran, sekalipun Lena tahu semuanya berakhir dengan baik.

“Aku sangat, sangat cemas …. Kalau Ratu Bengis tidak ke posisimu …. Misalkan mereka tidak menyelamatkanmu saat itu juga, kau bisa saja mati …”

  “…”

“Kau tidak boleh melakukannya. Jangan pernah melakukan hal setolol itu, lagi. Andalkan orang-orang di sekitarmu. Jangan pilih mengorbankan dirimu. Jangan pernah memutuskan hal itu lagi.”

“… maaf.”

Namun setelahnya, senyum nakal terlihat di bibirnya. Senyum riang pertama yang sudah lama tidak Shin tampakkan.

“Yah, bukannya kau sendiri beraksi sinting, Lena?”

Lena menegang canggung.

“T-tentu saja tidak.”

“Masa? Kayaknya harus kutanyakan Shiden nanti.”

“Yah, Shiden di pihakku, jadi jangan harap dia menjawab jujur,” ejek Lena.

Senyum Shin makin dalam.

“Jadi maksudmu kau beneran melakukannya.”

“Hah …? Ah!” Lena tersadar yang dikatakannya lalu tangannya menutup mulut.

Shin tertawa terbahak-bahak, bahunya naik-turun.

“Bukannya kau bilang kalau kau menunggu?”

“…”

Lena merajuk terhadap kata-katanya sendiri yang menjadi senjata makan tuan. “Terus kau mempertaruhkan nyawamu sembarangan walaupun sudah bilang begitu?” “… brengsek.”

Lena tak punya jawaban lain. Dia tak bisa memikirkan apa-apa, tapi dia juga tidak tahan diam membisu. Reaksinya membuat Shin tertawa lebih keras sedikit. Lena berbalik, ngambek, lalu Shin mengikutinya, separuh langkah di belakang. Lena kemudian melambat, dan dia berdiri di sebelahnya. Lena menatap mata merahnya terus bicara lagi.

Kali ini, kata-katanya datang dari relung hatinya, senyum Lena penuh kegembiraan tulus. Sebenarnya, dia selalu ingin mengatakan ini. Semenjak dua tahun lalu, waktu Lena bilang untuk jangan meninggalkannya. Ketika dia mengucapkan selamat tinggal pada bocah ini, yang wajahnya tatkala itu tak dia tahu, kemudian menghantarkannya.

Dia senantiasa ingin mengimbuhkan kata-kata ini. Jika dia menghantarkan kepergian Shin, dia mau mengatakan kata-kata itu sewaktu dia kembali. Dengan senyuman, selagi berdiri berhadap-hadapan.

“Selamat datang kembali.”

Shin tersenyum lembut seraya mata merah tua hangatnya balas menatap.

“Iya … aku kembali.”

Dua tahun lalu, mereka berpisah tanpa mengetahui wajah satu sama lain, hanya mengenal nama.

Enam bulan lalu, mereka berdua bicara satu sama lain setelah selamat dari kekacauan perang.

Dan tiga bulan lalu, mereka bertemu kembali di tujuan akhir mereka, akhirnya bertatap muka.

Kini, mereka akhirnya semakin dekat. Meskipun banyak hal yang tidak bisa mereka sepakati atau biarkan, biarpun mereka sepenuhnya berbeda—mereka akan bertarung agar tetap bersama, tidak peduli berapa banyak usaha yang diperlukan. Bahkan tanpa mengungkapkan emosi ini ke dalam kata-kata, keduanya memahami ini.

Catatan Kaki:

  1. Ballista adalah senjata misil kuno yang mampu melontarkan proyektil yang besar sampai jarak yang jauh. Ballista berasal dari bahasa Yunani: βάλλω (ballō, “melempar”).[1][2] Ballista dikembangkan dari senjata Yunani yang lebih awal. Ballista bekerja berdasarkan beberapa mekanisme berbeda, mempergunakan dua pengungkit dengan pegas torsi, alih-alih lecutan, pegasnya terdiri dari beberapa putaran unting yang terbelit. Versi awalnya melontarkan proyektil berupa anak panah atau batu bulat dalam berbagai ukuran. Ballista terutama digunakan dalam peperangan pengepungan. Ballista berkembang menjadi senjata yang lebih kecil, yaitu sniper, Scorpio,[3] dan mungkin polybolos.
  2. Theropoda (/θɪəˈrɒpədə/, dari bahasa Yunani yang berarti “kaki binatang”) adalah salah satu kelompok dinosaurus. Theropoda umumnya adalah karnivora, meskipun sejumlah kelompok theropoda berkembang menjadi herbivora, omnivora, dan insektivora.
  3. Deinonychus berarti ‘cakar yang mengerikan’ (Yunani: deinos yang berarti ‘mengerikan’ dan nykos yang bermakna ‘mencakar’) adalah satu genus dinosaurus pemakan daging dari keluarga dromaeosauridae berukuran sebesar macan yang hidup pada masa geologi Zaman Kapur awal sekitar 115–108 juta tahun lalu.
  4. Merah murup atau Coquelicot merupakan warna merah yang menyala sangat terang. Warna ini berasal dari warna bunga popi liar jenis Papaver rhoeas yang berwarna merah kejinggaan terang. Warna ini pertama kali tercatat digunakan pada tahun 1795.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *