86 JILID 6 BAB 3

Posted on

TEMBAK BULAN.

Penerjemah: [E]mil

Serangan Kerajaan Bersatu akan segera dimulai. Perkiraan ini dibagikan ke sesama Legion di sepanjang lini depan Kerajaan Bersatu. Sebagaimana Eintagsfliege terus-menerus dikerahkan di atas wilayah Legion untuk mengaburkan pergerakan mereka dari sisi manusia, Kerajaan Bersatu juga menyembunyikan urusan internal dan operasi militernya dari musuh.

Namun ada peningkatan komunikasi, sekaligus peningkatan volume peralatan dan tenaga kerja yang dipindahkan pada unit transportasi. Itu tanda-tanda kedatangan serangan, dan itu sulit disembunyikan.

Terjadi di front kedua, tempat Korps Lapis Baja Ke-1 dulu ditempatkan. Kerajaan Bersatu mencoba menyerang, namun dipukul mundur terpaksa kembali ke wilayah ini, artinya mereka mesti menyerang dari sini sekali lagi jika ingin menandingi. Karenanya, Legion meninggikan pengawasan di area tersebut dan menambah jumlah mereka selagi menunggu. Niat mereka adalah menghancurkan pasukan penyerang seperti sebelumnya.

Dan bila mana pasukan manusia tidak melancarkan serangan, Legion akan menerobos pegunungan Dragon Corpse dan melangsungkan serangan terakhir ke Kerajaan Bersatu.

Matahari terbit di front anti-Kerajaan Bersatu yang langitnya ditutup lapisan perak membentang dari selatan. Waktu ini manusia anggap subuh hari—titik waktu malam paling gelap. Dengan tanda-tanda matahari belum muncul, pasukan besar Eintagsfliege yang terdiri dari beberapa ratus juta kupu-kupu yang telah mundur ke wilayah untuk mengisi ulang baterai selama malam tiba, mulai bergerak.

Mereka melintasi langit, membumbung tinggi melewati wilayah Legion dan memasuki zona perang, tempat mereka ‘kan melingkupi wilayah udara Kerajaan Bersatu dalam selimut perak tebal nan lebar.

Seketika matahari benar-benar terbit, sinarnya memantulkan sayap berkilauan mereka yang menyelimuti langit dengan warna merah tua ngeri. Fenomena serupa yang diamati front barat Federasi selama serangan skala besar lebih dari enam bulan lalu. Fajar berdarah menyerupai cahaya malam namun jauh lebih buruk.

Warna merah itu akhirnya menyingsing, dan tak lama langitnya berpura-pura memasang warna abu-abu keperakan melankolis sama selayaknya yang senantiasa terjadi selama beberapa bulan terakhir. Namun setelah itu sesuatu melintasi sang cakrawala perak. Datangnya dari belakang area yang sekarang ini diduduki pangkalan cadangan militer Kerajaan Bersatu. Sesuatu menembak ke langit, dari balik puncak bergerigi yang memanjang hingga langit.

Rabe yang memerintah langit, Ameise berpatroli, Stachelschwein yang bersembunyi di wilayah, kesemuanya mendeteksi itu di radar mereka. Unit Ameise paling dekat dengan target, bergegas mendekat ke arah jatuhnya sesuatu tersebut untuk mencari informasi visual. Radar antiudaranya lalu kehilangan sinyalnya. Rupanya bukan benda terbang, bukan pula pesawat terbang ataupun rudal. Semacam objek yang bergerak cepat di atas tanah, tetapi tampaknya tidak cocok dengan semua barang yang terdaftar dalam basis data Legion.

Sesuatu itu menyerbu keluar dari hutan konifer, kemudian sensor optik biru Legion melihat medan pertempuran salju pucat. Tak lama seusainya, sensor komposit Ameise bisa merasakannya—mendesaknya membeku ragu.

Yang dilihat sensor optik Ameise tengah menuruni lereng dengan kecepatan sinting, mengepulkan api selagi bergerak. Memiliki sejumlah besar sesuatu yang nampak bak roda akbar kebesaran.

“Menyerbu. Kontak semua unit dikonfirmasi.”

“Gelombang kedua, detasemen pengatur tembakan Divisi Penyerang 86. Melepaskan tembakan. Kita harus menuntaskan serangan kejutan ini selagi musuh lengah. Jangan biarkan mereka menangani situasinya.”

“Diterima. Detasemen pengatur tembakan, melepaskan tembakan. Menyejajarkan bidikan. Ketapel elektromagnetik, sambungkan kapasitor. Roda-roda, gelombang kedua—tembak!”

 Dikerahkan di sepanjang bagian belakang pangkalan cadangan militer Kerajaan Bersatu, sana-sini di atas lereng pegunungan Dragon Corpse, adalah rel. Seluruhnya mengarah ke selatan. Ketapel elektromagnetik telah dimuat ke bagian belakang unit Zentaur dan sekarang ini sedang beroperasi. Proyektil mereka menjerit ketika meluncur di atas rel dan melolong sesaat melayang di udara. Dilepaskan dari konektornya, proyektil tersebut ditembakkan, menggambar busur sewaktu melesat di atas gunung.

Pusat kendali Zentaur semuanya telah dihancurkan, tetapi rel mereka sekarang ini memiliki banyak kabel yang melingkari konektornya. Kabel melibet-libet memuakkan yang menembus bagian dalam Zentaur menyerupai tanaman parasit, memungkinkan pengoperasian ketapel di punggung mereka. Sisi lain kabel tersebut terhubung ke sejumlah besar kapasitor listrik, lalu kendaraan komando lapis baja detasemen pengatur tembakan. Kabelnya pun diperpanjang ke deretan Juggernaut yang mengontrol urutan penembakan dari kokpit mereka.

Mereka sendiri tidak mampu mengendalikan Zentaur, namun mereka relatif mudah dapat mengoperasikan ketapel elektromagnetiknya. Divisi Penyerang telah memburu dan mengumpulkan sejumlah besar rongsokan Zentaur sebelum operasi ini dimulai. Lebih tepatnya, mereka mengumpulkan ketapel elektromagnetik yang mereka bawa di punggung mereka.

Seluruhnya demi meluncurkan serangan udara di medan perang tempat Legion mengendalikan langit.

Ketapelnya melolong. Massa seberat beberapa lusin ton berakselerasi dengan kecepatan tiga puluh kilomter per jam dalam sekejap mata. Serangan-serangan ini mengorbankan jarak tembak dan dilancarkan dengan tahu pasti kemungkinan besarnya akan menghancurkan rel, tetapi mengizinkan Divisi Penyerang menambah bobot sangat besar ke proyektilnya. Walaupun biasanya keberatan untuk terbang ke udara, proyektilnya melepas paksa belenggu gravitasi, memekik dari rel tatkala dilempar ke langit terbuka.

Sebab prosesor sentralnya rusak, Zentaur menjadi alat tidak berbahaya. Kini berbalik melawan pasukan yang pernah mereka layani, melangsungkan proyektil sekuat tenaga. Proyektil-proyektilnya mengangkasa tinggi di atas pegunungan dan sambungan proyektilnya terlepas di udara. Mendarat di lereng selatan pegunungan, di mana lini pertahanan Legion sangat terkonsentrasi.

Proyektil-proyektil ini merupakan sepasang roda baja berdiameter tiga meter. Dikoneksikan dua silinder kecil, bentuknya mirip sebuah kumparan atau gulungan kabel. Terbang di udara satu per satu, membelah angin seiring jatuhnya.

Sensor yang dipasang dalam proyektil mendeteksi kesigapannya kemudian membenarkan posisinya kala mendarat. Begitu mendarat, objek melingkar tersebut alamiahnya mulai meluncur menuruni lereng dibantu gravitasi. Berakselerasi, sesekali memantul-mantul ke udara di saat menabrak bongkahan es padat atau rintangan lain, selanjutnya menuju lini pertahanan Legion yang terletak di kaki lereng selatan.

Perangkat dan radar IKL (Identifikasi Kawan atau Lawan) roda-roda itu aktif. Tentu saja satu-satunya hal yang terlihat hanyalah roda lain dan Legion. Menjadikan pasukan musuh di depan sebagai target dan memulai pengejaran.

Bahan bakar jet pelengkap dinyalakan, memberi tenaga penggerak lain selain gravitasi yang menarik jatuh Throne-Throne itu. Menghempas salju selagi berguling, atau barangkali bahkan menunggangi gelombang salju yang Throne singkirkan, Throne menjadi longsoran baja penyembur api. Cepat menuruni lereng selekas elang menukik.

Kecepatan turunnya ditambah kecepatan bahan bakar jet, membuat Throne lebih cepat daripada Grauwolf, jenis Legion paling gesit yang diproduksi massal. Tak lama setelahnya, roda-roda mengontak lini pertahanan Legion.

Kemudian sekring proksimitasnya diaktifkan. Bahan peledak seberat 1,8 ton yang terkandung dalam silinder, meledak persis di tengah garis pertahanan Legion.

Pemandangan ledakan tersebut mencapai pangkalan cadangan, berkat Sirin yang berada di dekatnya telah mengirimkan data visualnya. Ada dua jenis senjata berbentuk roda, satunya swagerak, satunya penghancur diri, sekalipun keduanya tidak bisa dibedakan dari penampilan. Satu tipe menyebar pecahan peluru saat meledak dan dimaksudkan melawan target lapis baja. Satunya untuk mengurus tank dan unit-unit berlapis baja lebih tebal dan melepaskan fragmen swakarya.

Pecahan pelurunya menembus Ameise, Grauwolf, dan Stier berlapis baja ringan, menghancurkan kesemuanya. Di sisi lain, fragmen swakarya merobek-robek Löwe. Dalam hal bobot, senjata penghancur diri bukanlah tandingan Löwe, apalagi Dinosauria. Namun karena senjata tersebut menuruni gunung dan digerakkan daya jatuh bebas serta bahan bakar jet yang makin mempercepatnya, senjata itu didukung kecepatan lebih tinggi yang semakin memberatkan bobotnya. Serangan langsung itu membuat Dinosauria terhuyung-huyung, alhasil ledakan tersebut menghabisinya.

Lena menyaksikan pemandangan mengesankan ini dari layar utama yang terletak di ruang kendali yang disediakan markas cadangan. Di balik seragamnya yang sedikit lebih longgar dari biasanya, ada Cicada, bersinar warna ungu pucat. Sedikit disilaukan cahaya, dia menonton hasil serangan proyektil yang diaturnya. Pikirannya kilas balik ke pengarahan operasi Gunung Dragon Fang yang disusun dengan permulaan serangan proyektil ini.

Sekarang aku akan menjelaskan detail operasi penyerangan Gunung Dragon Fang.

Tidak semua Prosesor berkumpul dalam ruangan tersebut.  Hanya para pemimpin setiap skuadron dan letnan-letnannya yang hadir, tetapi hampir seratus jumlahnya memenuhi ruang pengarahan besar.

Tujuan operasi ini sama sebagaimana kali terakhir: menhancurkan unit Weisel dan Admiral dalam pangkalan. Itu tujuan tertinggi. Selain itu, kalian diharuskan menangkap Komandan Tertinggi yang berada di pangkalan ini. Pengenal: Ratu Bengis.

Berdiri di depan peta operasi yang diproyeksikan di atas meja, Lena mengganti gambar yang ditampilkan seraya lanjut menjelaskan. Tatapannya kini tertuju pada Shin yang duduk di barisan depan. Mereka belum sempat bercakap-cakap semenjak perdebatan itu. Naturalnya jika perihal operasi mereka bicara bila perlu, namun sejak kejadian itu belum ada basa-basi biasa.

Mereka berdua sibuk menyiapkan operasi, tentu saja, tapi jelas-jelas ada jarak baru di antara mereka. Melihatnya dari atas panggung, Lena tak dapat merasakan kesedihan apa pun dari Shin, yang ekspesinya tenang dan datar seperti biasa. Tatapannya menunduk, dan dia tidak menatap mata Lena, dia sepertinya tak terlihat goyah selagi membaca dokumen di tangannya.

Rupanya, Shin memulihkan ketenangan hakiki komandan operasinya …. Dia entah bagaimana pulih. Dan nampaknya bisa bercanda biasa seperti Raiden dan yang lain.

“Unit yang berpartisipasi dalam operasi ini adalah Divisi Penyerang, selain resimen di bawah pimpinan Pangeran Viktor. Kedua unit ini, kita dikehendaki menduduki zona tempur, memblokadenya selama durasi operasi, dan mempertahankan rute aman yang memperkenankan kita keluar-masuk dari zona tempur …. Tak seperti operasi yang direncanakan sebelumnya, militer Kerajaan Bersatu takkan bisa mengalihkan perhatian pasukan Legion dari kita.”

Geger membisu nyaris terucap dari para Prosesor. Operasinya adalah terobos paksa mengerahkan hanya Divisi Penyerang dan satu resimen Alkonost. Lena bisa mendengar bisik-bisik seseorang.

Itu terlalu sembrono …. Namun di antara bisikan itu, Shin mendongak dan mengangkat tangannya, tandanya dia punya pertanyaan.

Tatapan mereka bersilangan. Mata merah tua Shin menatap dirinya dengan tenang. Lena dalam hati bertanya, Kau baik-baik saja, kan? Namun tentu saja tiada jawaban datang.

Kolonel, ada dua hal yang ingin kukonfirmasi. Pertama, apakah kita tidak bisa mengharapkan bantuan apa pun dari militer Kerajaan Bersatu? Kedua, penjelasanmu tak menyebutkan bagaimana rutenya dibersihkan untuk pasukan kita. Maka dari itu, aku harus bertanya: Siapa yang akan menangani bagian operasi tersebut?

Shin bicara dengan suara jelas. Pertanyaan ini diniatkan untuk memberi tahu semua orang. Menjadi komandan taktis Divisi Penyerang, dia sudah mengetahui jawabannya.

Tentu saja, Kerajaan Bersatu konstan menekan dan pengalihan skala kecil lini depan Legion. Lagi pula, semua ini adalah perangnya Kerajaan Bersatu. Mereka tak boleh menyimpan pasukan apa pun untuk mempertahankan lini pertahanan terakhir mereka, lantas mereka akan menyibukkan pasukan lini depan Legion, Berikutnya, perkara pertanyaanmu mengenai pengamanan rute—

Lena mengangguk sedikit.

—ada kelompok lain yang mengurusnya.

“Milizé sangat-sangat mencemaskanmu, tapi … kau menenangkan diri tepat waktu demi operasi.”

“Aku tidak boleh berdiam diri tinggal di Markas Besar padahal operasinya setidak pasti ini.”

Kendaraan transportasi berat pangkalan operasi Gunung Naga Fang sedang bersembunyi di hutan konifer dekat pangkalan cadangan. Selagi dirinya menghadap terminal informasi dan membaca ulang rencana pengarahan misi terakhir kalinya, Shin menjawab pertanyaan Vika dari Para-RAID. Lalu dia bertanya:

“Unit lainnya …. Atau, yah, senjata lain tersebut. Dibuat untuk apa? Roda monster itu?”

Layar holo Shin menampilkan cuplikan lini depan Legion yang tersembunyi jauh dalam hutan. Di sekitar zona pertempuran tersebut, Shin mampu melihat pemandangan jelas namun absurd, roda-roda misterius yang dinamakan Throne berguling-guling.

“Nampaknya, senjata itu didasarkan dari senjata pertahanan pengepungan di Abad Pertengahan. Bibiku—yang adalah mantan Amethystus—mendapatkan idenya, menjadikan senjata-senjata tersebut sebagai basis, lalu memproduksinya sebagai purwarupa. Aku pun tidak tahu beliau niatnya menggunakan itu buat apa. Kurasa itu cuma selera dan rasa estetika pekerjaan beliau.”

Gagasan menjatuhkan benda berat gampang terbakar dari atap tembok terinspirasi dari taktis pertempuran jangka panjang yang memanfaatkan energi kinetik juga daya tembak untuk menghancurkan sisi pengepung. Bahkan ada kasus-kasus di mana hewan dimanfaatkan untuk menciptakan senjata bergerak. Tetapi senjata rudal bergerak dipandu dengan bahan berdaya ledak tinggi dijejalkan di tengah dua roda lebih besar dari tinggi seseorang—itu baru belum pernah terdengar.

“… selera dan rasa estetika beliau?”

“Para Amethystus punya sejumlah perbedaan individu dalam bidang studi pilihan mereka. Aku fokus pada Kecerdasan Buatan, dan bibiku spesialis sistem pemandu …. Mengingat Peperangan Legion, fakta Kerajaan Bersatu tidak menghasilkan hal apa pun yang sebanding dengan Feldreß selama dua ratus terakhir adalah topik panas. Tentu saja, etika senantiasa jadi masalahnya.”

Dengan kata lain, senjata ini bukan dikembangkan karena kebutuhan.

Dibuat pengembangnya hanya karena pengembangnya bisa saja. Hanya itu.

“…”

Shin tanpa sadar terdiam. Firasatnya bilang ada yang tak beres.

“Kita tidak lagi dalam bahaya karena bertemu ayam jantan antitank manapun, kan?” “Tentu saja tidak …. Ayam jantan1 bakal mati kedinginan di iklim ini.”

“…”

“…”

Keduanya tak berkata apa-apa, tapi masing-masingnya punya alasan berbeda.

“… menurutmu anjing antitank barangkali efektif melawan Legion?”

Shin mesti menahan desau begitu mendengar gumam setengah serius Vika. Selama insiden Pangkalan Benteng Revich, Frederica mendeskripsikan Vika sebagai orang tolol yang kebetulan pintar, dan Shin setuju pada ungkapannya.

“Legion adalah senjata berkaki banyak, jadi tak seperti kendaraan tapak rantai, ada celah antara tanah dan perut bawahnya. Jadi misalkan kita menggunakan ranjau lipat yang bisa meledakkan kaki mereka, barangkali—”

“Mereka mungkin akan langsung menyingkir.”

“Hmm, betul.”

Vika setuju, kedengaran kecewa sedikit. Lalu mendadak kepalanya terangkat.

“Mungkin saja bisa kita ikat ranjaunya ke citah?”

“Gimana caranya membawa citah ke sini?”

“… kurasa itu, benar juga.”

Citah hidup di benua selatan; mereka adalah spesies yang punya kecepatan lari tertinggi dari seluruh mamalia. Benua selatan tersebut berada jauh di luar wilayah Legion, tentu saja, citah tak meninggali Kerajaan Bersatu. Walaupun mereka membawa hewan-hewan dari selatan hangat sana dan menaruhnya ke medan perang beku di sini, nasib mereka akan sama sebagaimana ranjau ayam jago.

Dari awal idenya menggelikan. Kelewat menggelikan sampai-sampai Shin tak repot-repot membahasnya, karena Vika mungkin menyarankannya padahal paham sepenuhnya betapa mustahilnya itu.

… mungkin.

Dan sewaktu kedua bocah melanjutkan percakapan agak tidak pantas mereka mengingat situasi terkini, Kerajaan bersatu terus menembaki Legion. Membombardir mereka demi persiapan penyerangan. Menghancurkan pertahanan musuh sebelum mengirim pasukan penyerang mereka, menindas sebanyak mungkin unit musuh sebisa mereka tuk mencegah kemungkinan serangan balik. Begitu bombardirnya usai, pasukan penyerang akan memulai serbuannya. Memikirkan tekanannya, mungkin tidak bisa menyalahkan canda tentara-tentara muda ini.

Ketika menembakkan semua Throne-nya, para Zentaur terdiam, hancur dan mengepulkan api dari beban intensnya. Tetapi kontainer lain masuk, dan para perwira pengatur tembakan mengganti program komando mereka ke program untuk mengendalikan sesuatu dalam kontainernya.

Target Throne adalah baris pertama lini pertahanan Legion yang berisikan tipe lapis baja berat yang dikumpulkan tuk menerobos lini pertahanan Kerajaan Bersatu. Tetapi isi kontainernya, sekaligus program kendalinya, bertujuan menyerang target lain.

Sementara penggantian ke kontainer kedua berlangsung, tembakan artileri berat dan mortir menghujani lini pertahanan musuh. Throne-nya membuka celah di formasi musuh, kemudian serangan terpusat menghantam lini belakang pertahanan. Kontainer kedua mengincar fasilitas-fasilitas pertahanan serta eselon di belakang, hingga jarak tembak maksimal mereka.

Sepenuhnya dan pelan-pelan, badai pengeboman membuka jalur invasi. Agar lebih lama mengulur waktu untuk penggantian kontainer, Kerajaan Bersatu bahkan membawa rudal berlandas pangkalan yang jangkauannya ditambahkan.

Kemudian penggantian program penembakan Zentaur selesai sudah. Proyektil baru dipasang pada ketapel elektromagnetik yang melanjutkan tembakan. Selongsong meriam besar melolong seketika diluncurkan ke udara, melengkung di langit sesaat bergabung bersama rentetan proyektil yang jatuh di medan perang. Beberapanya terus membumbung naik, menuju awan perak Eintagsfliege, menyisakan sayap kupu-kupu berlimpah begitu merobeknya. Yang lainnya jatuh membentuk lintasan diagonal sewaktu menabrak massa unit Legion. Lalu sekring berjangka waktu aktif … terus meledak.

Selongsong 155 mm melepaskan gelombang kejut serta pecahan peluru dalam radius 45 meter, namun bom satu ini melepas gelombang kejut beradius 1.500 meter. Ledakan kedua yang radiusnya sama sedang merekah di langit, membakar kupu-kupu rapuh sekaligus membuka lubang di selubung keperakan.

Daisy Cutter3.

Nama populer yang diberikan kepada bom tertentu yang menciptakan kehancuran dalam radius sangat besar. Orisinilnya dirancang untuk dimuat ke pesawat kemudian dijatuhkan di udara menuju targetnya. Atas alasan inilah, bom-bom tersebut disimpan dalam gudang Kerajaan Bersatu semenjak Legion menguasai sisi udara umat manusia. Dan beratnya yang hampir tujuh ton, bom tersebut tidak dapat digunakan persenjataan biasa.

Namun bagi ketapel elektromagnetik Zentaur yang sanggup dengan mudahnya meluncurkan Ameise seberat sepuluh ton, bom tujuh ton masih sangatlah mungkin.

Throne tidak pernah diaplikasikan dalam pertempuran nyata, tetapi Daisy Cutter tak pernah didesain ditembakkan dari darat atau meledak di udara. Jelas saja, sistem pengatur tembakan yang memungkinkan penggunaan-penggunaan tersebut juga sebelumnya belum dikembangkan. Semuanya buru-buru dikumpulkan demi operasi ini.

Para pengembang sistem mencurahkan hati dan jiwa mereka tuk mengkodekan program ini, memotong jatah tidur mereka sendiri untuk menyelesaikannya. Tetapi mereka mengaku tidak jago-jago amat membidik dan menembak proyektilnya. Karena itu, mereka membutuhkan personel pengatur tembakan berpengalaman atau bantuan seorang penembak.

Anju di antara personel-personel yang bertanggung jawab atasnya dan sekarang ini tengah menyesuaikan bidikan Zentaur-nya.

“… iya, aku paham kenapa tidak ada yang mau mengenakan benda ini,” komplainnya, mencubit ujung Cicada yang dikenakannya sekarang.

Dia masih relatif baik-baik saja sebab berada dalam kokpit Snow Witch, tetapi misalkan ini pusat komando, atau Vanadis, atau tempat lain yang bisa dilihat orang, dia benar-benar takkan ingin dilihat pada situasi itu. Sekurang-kurangnya, harus mengenakan mantel atau semacam kaus oblong.

Tentu dia menaruh setelan pilotnya dalam kompartemen peralatan kokpitnya kalau turun ke pertempuran atau terisolasi di wilayah musuh, tapi itu tak penting.

“Apa Lena beneran memakai benda ini di pertempuran terakhir itu …? Aku mengerti itu perlu, tapi … kek, aku kaget dia mau melakukannya.”

Kurena yang juga bertugas sebagai spesialis pengatur tembakan serta mengenakan Cicada pula, bicara dari dalam Gunslinger dengan gelagat agak gelisah. Nadanya memperjelas dia merasa tak nyaman selagi menggosok pahanya yang dikenakan pakaian tersebut.

Mereka berdua adalah salah satu prajurit Divisi Penyerang paling berpengalaman dan memimpin tembakan dukungan selama masa-masa mereka di unit elit yang mempertahankan lini pertahanan pertama front timur. Wajarlah dari semua orang yang tinggal untuk menangani dukungan artileri pada operasi ini, merekalah yang mengurus banyak Zentaur.

Dan supaya menuntaskan tugas ini dengan benar, mereka harus memakai Cicada. Keduanya mengerti alasan tersebut, tapi ….

“… saat kita pulang, aku bakal melempar bola salju tepat ke wajah pangeran bego itu.”

“Kuharap setidaknya kita takkan dihukum apa-apa kalau sekadar melakukan itu. Mau dipikir bagaimanapun, benda ini pasti semacam lelucon bodoh …. Ah Kurena, Kolonel Wenzel mentransmisikan target berikutnya.”

Karena kurangnya tenaga kerja kali ini, Grethe yang tetap tinggal selama operasi terakhir, tengah berpartisipasi dalam detasemen pengatur tembakan. Dengan kata lain, dia saat ini menjadi komandan langsung Anju serta Kurena.

Tak seperti 86, Grethe adalah seorang perwira yang mengenyam edukasi serta pelatihan secara benar, tapi Anju masih terkejut betapa serba bisanya dia. Dia tentu naik pangkat menjadi perwira lapangan biarpun usianya baru dua puluhan.

“Oh, diterima …. Regu ketiga pengatur tembakan Zentaur, seluruhnya. Sesuaikan bidikan—”

Suara derap langkah kaki yang mendekat di salju mencapai telinga Anju, kemudian diikuti suara benturan tumpul. Rupanya, seseorang sedang mengetuk lapis baja kokpitnya. Atau begitulah yang dipikirnya, namun setelah itu kanopinya dibuka dari luar.

“Anju, mereka bilang salju mau jatuh, jadi mereka menyuruhku membawakanmu mantel ekstra ….”

Seraya bicara, Dustin menyerahkannya mantel tebal milik militer Kerajaan Bersatu dan bukan Federasi. Tetapi di tengah kalimat, Dustin membeku canggung di tempat.

Dia dikirim membantu tim pengatur tembakan sebagaimana Anju, tapi ternyata, ada jeda antara mendinginkan rel Zentaur dan mengganti kapasitor. Lantas Dustin memanfaatkan waktu tersebut untuk pergi ke antara barisan Juggernaut, membagikan pakaian pelindung. Dan pertimbangan sedikit itu adalah kekhasan dan hal baik dirinya ….

Mata perak Dustin membelalak saat dia menatap Anju. Atau lebih tepatnya, pada lengkungan dan garis tubuhnya yang ditonjolkan Cicada. Anju balas menatap dan membeku di tempat. Wajah pualamnya merona merah cerah, dan hampir refleks, suara keluar dari dalam tenggorokannya:

“K—”

Tiba-tiba, teriakan melengking menembus angin dingin yang bertiup di area regu pengatur tembakan Zentaur kedua berada.

“—kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”

“Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh …?!”

Kedua teriakan itu ditelan hujan salju tebal, lantas tidak seorang pun—terkecuali para Prosesor regu kedua yang mesti menahan tawa mereka—mendengarnya.

Ledakan terakhir selongsong besar menghasilkan sekuntum bunga api mekar di langit. Rentetan tembakan terakhir ini melintasi jarak empat puluh kilometer, menembus wilayah Legion. Tetapi pengeboman yang mendahului penyerangan belumlah berakhir.

Seakan-akan memastikan dua kali pengeboman mereka berhasil atau tidak, sekelompok sayap hitam melintasi punggung bukit, mengaum sementara bahan bakar jet mereka terbakar. Sekilas bayangan abu-abu menggelapkan langit.

Formasi berukuran dan berjumlah mengesankan, terdiri dai jet-jet pengebom lama dan baru. Mengangkasa dari landasan pacu Kerajaan Bersatu menuju wilayah Legion, selagi benar-benar tanpa awak dan dioperasikan pilot otonom. Terbang ke langit yang tidak mereka kuasai, di mana Eintagsfliege dan Stachelschwein diam menunggu.

Legion yang bertahan hidup segera menanggapinya. Peringatan penguncian menyala dalam kokpit kosong jet pengebom. Eintagsfliege-nya mengerumuni pesawat, terjun ke saluran masuk udara. Mesin jet bersuhu tinggi menarik rudal antiudara, sedangkan kupu-kupu mekanis terbakar dalam mesinnya. Keempat mesin yang menaikkan jet pengebom seberat dua ratus ton satu per satu meledak.

Namun jetnya tidak berhenti. Melewati puncak dan mulai menuruni lereng seraya pelan-pelan menukik, semakin cepat yang di akhiri tabrakan kecepatan penuh. Eintagsfliege menghancurkan mesin yang memungkinkan burung logam besar ini menolak gravitasi dan terbang ke langit. Kendati mesinnya dihancurkan, pesawat-pesawat ini masih mencapai ketinggian dan kelembaman cukup hingga mampu terbang di atas puncak gunung.

Dan ketinggian serta kelembahan tersebut belum ditiadakan, walau mesinnya hancur dan pesawatnya mulai menurun. Jet-jet pengebom masih menuju arah sama seperti sebelumnya—langsung ke jalur yang akan diambil pasukan penyerang.

Tembakan antiudara gila Legion masih berlanjut, kemudian pesawat-pesawatnya tak sanggup bermanuver menghindar dan terkena serangan langsung. Tetapi belum cukup untuk menghentikannya. Senjata antiudara masih belum cukup menghancurkan massa jatuh seberat dua ratus ton.

Rudal-rudal antipesawat difokuskan pada panas yang dihasilkan mesin, sebab itulah sifat juga desainnya. Tembakan sebar mereka merobek sayap dan menghancurkan mesin-mesinnya, tetapi tetap saja, jet pengebom terus meluncur ke arah Legion.

Legion entah bagaimana berhasil menghancurkan sepenuhnya sejumlah pesawat, namun meski begitu, fragmen-fragmennya masih tunduk pada gravitasi lalu menghujani wilayah dengan kekuatan dan kelembaman sama.

Pesawat yang badannya tetap utuh, membuka kemudian mengosongkan dok bomnya. Kini telah kehilangan bentuk jet pengebomnya lalu mengudara turun seolah sekarat, burung-burung berdarah mengerahkan sisa kekuatan mereka. Kala jatuhnya, mengeluarkan kontainer penuh amunisi dan bahan ledakan, sekaligus bahan bakar berlebih.

Badan pesawat jatuh menyusuri puncak pohon sampai bawah hingga memantul tatkala menabrak padang salju sampai akhirnya roboh ke samping dengan suara bruk bergemuruh. Sewaktu jatuh, bagian-bagiannya terpental ke udara, menghancurkan Legion manapun yang gagal kabur.

Bahan bakar yang keluar telah terbakar, seolah-olah mewakili teriakan terakhir persawat ini. Seluruh bidang tanah yang dibuka pengeboman tersebut telah terbakar. Alhasil, Legion akan cepat-cepat menutup celah, namun kini, dinding api membara yang menjalar ke langit menghalangi mereka.

Bahkan menurut Lena yang merancang seluruh operasi ini, pembukaan rute invasi mereka jelas aksi akbar. Transmisi datang dari salah satu komandan regu artileri. Bagi mereka, ini wilayah juga senjata tanah air mereka. Dan mereka korbankan dengan senang hati, seluruhnya demi membuka jalan. Kekaguman atas tindakan tersebut bahkan membuat merinding suara perwira lapangan paruh baya.

“Semua susunan penembakan selesai. Rute invasi, bersih.”

“Diterima. Unit serangan pangkalan Gunung Dragon Fang, bersiap melancarkan serangan balasan.”

Lena menjawab sambil secara tak sadar menahan semua emosi suaranya. Rencana ini dirancang olehnya, maka dari itu dia tidak boleh membiarkan orang lain melihat dirinya gemetar melihat rencananya berjalan. Bagaimana komandan pasukan artileri menafsirkan nada dinginnya? Sejenak, Shin menahan napas lalu angkat bicara seolah kewalahan.

“Vanadis. Apa kau …?”

“Apa?”

“… anu ….”

Perwira itu ragu-ragu lalu menggeleng kepalanya. Misalkan dia tak mengatakannya sekarang, barangkali dia takkan punya kesempatan mengatakannya lagi. Itulah tekad orang-orang yang hidup di medan perang dan menghadapi langsung kematian.

 86 serta Sirin hendak melaksanakan mars kematian tanpa rasa takut. Dan perwira yang bicara kepada Lena, wanita yang hendak mengirim bawahan-bawahannya tanpa sedikit pun gentar dalam suaranya, dengan nada penuh salut dan rasa hormat.

“Semoga sukses. Mudah-mudahan keberuntungan berpihak kepada Paduka, sekaligus dirimu dan para bawahanmu.”

Ia kehilangan kontak Ameise patroli, Eintagsfliege yang menyelimuti langit, bahkan Dinosauria berharga yang telah dikumpulkan di lini depan untuk menerobos lini pertahanan musuh. Demikianlah, dia menyadari pertempuran melawan Kerajaan Bersatu baru dimulai.

Lapis baja putih. Tanda Pribadi seorang dewi sedang bersandar di bulan. Unit Komandan Tertinggi yang dipanggil Ratu Bengis. Baginya, pengeboman ini—yang melampaui sekadar nekat dan termasuk ranah sembrono total—masih dalam kemungkinan. Ia tak meramalkan cara yang mereka gunakan, tentu saja, tetapi skala serangan ini hingga tingkatan tertentu, masih terprediksi.

Musuh membuka sedikitnya separuh rute invasi mereka menggunakan pengeboman dan senjata penghancur diri lalu mempertahankannya dengan dinding api. Ini demi meringankan beban pasukan penyerang. Sebagian besar pasukan musuh berdiam diri di sektor cadangan lini pertahanan, di tempat mereka dapat memberi dukungan apa pun kepada pasukan pendukung.

Namun bila mana musuh tak menggunakan langkah-langkah ini, mereka akan hancur. Jadi ia tahu Kerajaan Bersatu akan menyerang, walaupun artinya menumpahkan darah nyawa mereka demi melakukannya. Dia sangat yakin akan hal itu.

Setidaknya, keluarga kerajaan unicorn pasti akan melakukannya. Para bangsawan dan keluarga kerajaan sederhananya adalah makhluk semacam itu. Mereka akan menghabiskan warga negara serta kekayaan mereka sendiri seolah membuang-buang sumber daya selama itu menjamin keselamatan mereka pribadi.

  Karena itulah tidak penting lagi baginya. Persoalan sepele, pikirnya sembari membelokkan sensor optiknya sedikit. Alasan dirinya menciptakan Legion tidaklah penting lagi.

Dia unit komandan Legion. Pengenal: Mistress. Itu saja dan tidak lebih.

<<Mistress kepada seluruh unit di eselon ini.>>

Tak satu pun Legion menjawab panggilannya. Namun sebagai pencipta mereka, dia tahu tiada yang tak mendengarkan atau berani melawannya.

<<Bersiap mencegat musuh. Basmi semua unit musuh yang terlihat.>>

    

Divisi Penyerang menerima perintah menyerang. Dua penggal kata yang mereka putuskan sebelumnya—ucapan tanpa emosi tidak dilebih-lebihkan itu—mencapai Shin selagi dirinya tinggal di kabin kendaraan lapis baja.

Di bawah tatapannya ada hutan konifer bersalju. Di luarnya, nyala api terus membara. Serangan intens hingga masuk ke tanah. Tidak ada yang bergerak di rute tanah hangus tersebut, dikelilingi dinding api yang berada di kedua sisinya. Lidah api hitam yang mengepul telah mencapai langit, di titik sebuah lubang terbentuk pada awan-awan keperakan Eintagsfliege. Biru yang semestinya ada di sana diwarnai hitam kusam, tercemar oleh pembakaran bahan bakar jet dan logam.

Dan di balik jalur api beserta bumi hangus, Shin bisa mendengar erangan, jeritan, dan ratapan kesakitan. Banyak hantu mekanis yang masih terjebak di medan perang. Shin pikir pemandangan ini sangatlah mengerikan. Mengutip kalimat Divine Comedy4, dari awal-awal bab Inferno5, yang terbesit di benaknya. Kalimat yang terukir di gerbang Neraka6:

Melaluiku adalah jalan menuju kota sedih7.

Namun biarpun yang berada di depan mereka adalah neraka, atau sekalipun mereka tidak punya petujuk apa pun ke mana mereka hendaknya pergi … jika mereka tidak maju, mereka takkan sampai ke manapun.

“Ayo.”

Lena memerhatikan dari layar utama ruang komando sesaat deretan kendaraan lepas landas. Agar mengurangi kemungkinan serangan balik musuh, mereka pergi segera seelah rute invasi terbuka dan sebelum musuh bisa memblokirnya. Pasukan penyerang tidak bersembunyi di lereng utara, tempat pasukan artileri berada, melainkan di lereng selatan, dalam hutan konifer dekat sektor cadangan lini pertahanan.

Pasukan penyerang terdiri dari kendaraan transportasi lapis baja membawa Juggernaut Divisi Penyerang serta Alknost dalam komando Vika, sekaligus para Scavenger yang mengekor mereka. Bahkan Scavenger, yang beratnya sepuluh ton, hampir tidak bersuara sewaktu melangkahi salju. Salju serta jajaran pepohonan lebat menyerap suara mesin diesel mereka, maka pasukan penyerang diam-diam menuruni lereng musim dingin.

  Terlihat sebagaimana prosesi pemakaman buruk, atau ular hitam jahat sedang merayap menuruni bukit. Dengan tak disertakannya para Prosesor yang bertugas menjadi penembak jarak jauh, seperti Anju dan Kurena, Juggernaut aktif pasukan penyerang tidak lengkap. Biarpun Sirin telah diisi ulang, Alkonost hancur selama serangan terakhir tidak dapat digantikan tepat waktu, dan sedikit jumlahnya yang dikerahkan. Karena inilah, pasukan yang dikerahkan ke pangkalan Gunung Dragon Fang lebih kecil dari yang diekspektasikan.

“…”

Namun mereka berbuat sebisa mungkin mempertimbangkan keadaan, lalu Lena memberi perintah serangan balasan. Karenanya, Lena tidak berkata apa-apa lagi. Dia telah mendetail seluruh tujuan, menyerahkan semua instruksi, kemudian memberikan segenap informasi yang mereka perlu ketahui. Sisanya ada di tangan komandan lapangan—Shin.

Apabila ada perubahan terhadap situasinya, lantas akan berbeda. Tetapi tidak ada perbedaan, alhasil Lena tidak punya hal apa pun untuk diberitahukan. Tapi tetap saja ….

Lena mengerutkan bibir. Dia merasa Frederica yang tengah menatap layar sembari menyilangkan tangan, curi-curi pandang. Lena pikir matanya … mata merah tua darahnya—sebagaimana mata Shin—menanyakannya sesuatu.

Kau terima semua ini?

… tentu saja tidak.

Lena tidak punya hal lain untuk dikatakan, tapi itu berlaku pada sisi komandannya. Sebagai seorang pribadi, Lena punya banyak kata untuk diucapkan kepada Shin melebihi tindakan yang perlu dilakukan. Dia harus meminta maaf … karena alasan ketidaksetujuan mereka pastinya karena kesalahan Lena.

Sebenarnya, dia ingin bicara pada Shin … dan dia takut, seperti halnya Shin yang tengah berdiri di depan jalan pengepungan penuh para Alkonost mati, bahwa Shin barangkali hilang bila tidak Lena utarakan.

Lena ingin memercayakan harapannya kepada Shin, satu kali lagi. Namun seorang komandan di tengah-tengah misi tidak boleh menunjukkan banyak kelemahan. Atau mungkin hanya ego dan martabatnya saja, kebanggaannya sebagai seorang komandan yang cukup berpengalaman sampai-sampai dikenal Ratu Bersimbah Darah, Reina Berdarah. Boleh jadi itulah yang mencegahnya mengungkapkan isi hatinya.

Tetapi seketika dia ragu-ragu, perkataan komandan artileri muncul di benaknya sekali lagi. Keyakinan tentara adalah menyatakan apa pun yang mengganjal ketika perlu. Karena tiada yang tahu akan datang tidaknya kesempatan mengatakannya seusai pertempuran berakhir. Kendatipun mereka bertemu lagi sesudah operasi berakhir.

Saat ini, kemungkinan mereka takkan bertemu lagi telah nampak jelas di hadapan. Dan seandainya dia takut akan celah di antara mereka lalu membiarkan pertengkaran mereka menahan kata-katanya, atau semata-mata dikalahkan harga dirinya, dia nantinya akan menyesal seumur hidup sebab tidak membicarakannya selagi bisa.

Dia mengaktifkan Para-RAID. Target Resonansinya ditetapkan ke satu orang.

“Shin.”

Dia bisa merasakan kehadiran mata Shin membelalak terkejut lewat jalur yang menghubungkan alam bawah sadar mereka ke ketidaksadaran kolektif umat manusia.

Kolonel? Ada apa—?”

“Maaf sebelumnya.” Lena memotongnya.

Lena entah bagaimana merasa apabila tidak dikatakan sekarang, lantas takkan pernah terkatakan.

“Aku terlalu mengganggu. Aku seharusnya menunggu sampai kau siap membicarakannya sendiri, tapi aku tidak yakin kau akan membicarakannya padaku. Dan itu salahku, jelas. Aku sangat, sangat minta maaf.”

“…”

“Tapi aku sungguh-sungguh ingin kau beri tahu aku … dan untuk mengandalkanku. Misal kau kesakitan, aku ingin kau mengatakannya. Aku ingin kau membolehkanku melindungimu juga.”

Baik di medan perang ataupun di luarnya. Selayaknya caramu tampil di lini depan, dan di lain waktu, cobalah lindungi aku dengan cara lebih kecil.

Aku mau mendukungmu.

“Kendati tidak ingin kau kasih tahu sekarang, aku ingin kau sampaikan suatu hari kelak … aku mau menjadi seseorang yang bisa kau ajak bicara. Seseorang yang dapat kau andalkan. Jadinya ….”

“Bukannya aku … tidak ingin bergantung padamu.”

“Iya. Aku yakin kau tidak sengaja melakukannya. Kita cuma belum cukup bicara satu sama lain.”

Mereka belum cukup berbincang hingga saling mendukung. Percaya satu sama lain. Itulah sebabnya ….

“Mari bicara. Saat kau kembali, bicara saja. Kita bisa awali dari hal paling sepele dan konyol. Dan suatu hari nanti, kau bisa beri tahu aku rasa sakitmu.”

“…”

Shin bisa jadi belum siap menjawab permintaan itu. Dia terdiam, dan Lena tersenyum padanya. Resonansi Sensorik tak memungkinkan seseorang melihat ekspresi orang lain, tetapi mentransmisikan emosi seperti percakapan tatap muka.

Suatu hari, Shin mampu memberitahunya luka yang dia sembunyikan jauh di dalam. Perihal bekas luka di sepanjang tenggorokannya. Jadi ketika datang hari dia akhirnya bersedia bicara ….

“Tolong … beri tahu aku.”

“… jadi.”

Senjata lapis baja mempertahankan kinerjanya selama tidak beroperasi lama dan tidak penting. Berlaku sama kepada semua Feldreß—Juggernaut termasuk. Lantas kendaraan transportasi berlapis baja melalui dasar lembah terbakar, bersama para Prosesor di kabin depan dan Juggernaut terkunci di ruang kargo belakang.

Supaya bertahan dari kemungkinan serangan musuh, sepertiga Prosesor tetap siaga, duduk dalam kokpit Juggernaut mereka dalam ruang kargo. Oleh sebab itu, banyak Prosesor tidak hadir di kabin. Di dalamnya, Theo menatap gadis yang duduk agak jauh darinya.

Gadis itu tak mengenakan setelan penerbang biru baja Prosesor atau seragam tempur para pengemudi. Tidak juga memakai seragam ungu tua Kerajaan Bersatu maupun seragam merah Sirin. Tidak, dia lagi memakai seragam biru Prusia menyebalkan itu. Seragam Republik. Namun rambut keperakannya, tak seperti Lena, rambutnya pendek.

“Anu, Mayor Penrose, bukan? Anda sedang apa di sini?”

“Sebuah eksperimen,” jawab singkat dan padat Annette.

Selama pertempuran di terminal bawah tanah, yang terletak di ibu kota kedua Republik, Charité, Legion mencoba menculik dan membedahnya. Dan selama pertempuran terakhir di Pangkalan Benteng Revich, Divisi Penyerang 86 telah ketahuan lalu diserang padahal gerakan mereka rahasia.

Informasi itu bocor dari mana? Apakah Kerajaan Bersatu, tempat mereka dikerahkan, ataukah Federasi? Dan jikalau komunikasi mereka disadap, apakah via nirkabel atau Resonansi Sensorik? Mereka harus mencari tahu. Seandainya mereka tidak sanggup menjaga kerahasiaan serta keamanan transmisi mereka, masa depan operasi mereka akan diancam disusupi.

“Kali terakhir, tidak terjadi apa-apa karena aku tak berada di zona tempur. Jadi aku akan pergi ke sana dan mengumbar keberadaanku melalui jalur komunikasi. Misalkan Legion mengejarku, kita akan tahu mereka mendengar transmisi kita.”

Ini akan membantu mereka menentukan mana letak bocornya.

“Jadi Anda menjadikan diri Anda umpan …? Anda aneh, tahu?”

Warga negara Republik sampai setotalitas ini demi 86 ….

Annette memahami sarkasme komentar Theo dan mengangkat bahu sedikit.

“Kita tidak ingin mengulang kesalahan sama, kan?” tukas Annette. “Setidaknya, aku tidak mau berbuat kesalahan yang sama lagi …. Jadi ya, maaf, tapi aku bakalan menahan salah satu unitmu.”

Yuuto yang sepertinya mendengar percakapan mereka, bicara dengan nada mekanis datar sesuai ciri khasnya:

“Mayor Penrose, Anda akan naik bersama Saki, yang terluka selama pertempuran terakhir. Dia bisa mempilot unitnya dengan baik, namun pertempuran penuh teramat berlebihan baginya sekarang. Kali ini kami tidak mengandalkan unit tersebut untuk bertempur, jadi tidak masalah.”

“Masa sih. Kau perhatian sekali. Aku jadi tersentuh ….” ucap datar Annette. “Juga, aku di sini sebagai asuransi kalau-kalau pangeran mati. Kalian hanya mesti mengaktifkan alat peledakan dengan menekan tombolnya, tapi mungkin saja detonatornya tidak mau meledak karena ada kesalahan. Dan kalian 86 belum cukup mengerti teknologi untuk mengurus terminal informasi yang diperlukan untuk mengoperasikannya, kan?”

“… saya rasa.”

Pertanyaan mengenai siapa yang membuat mereka kurang pengetahuan tidak diungkit Theo. Para babi putih Republik-lah yang menolak pendidikan mereka, namun dia takkan meminta tanggung jawab perwira teknis yang seumuran dengannya. Sebaliknya, dia memutuskan bercanda.

“Kalau begitu bagaimana kalau Anda tangani laporan biasa saya juga, selagi mengerjakannya?”

“Itu kerjaanmu. Karena itulah militer membayarmu. Anggap saja sebagai latihan misal harus membuatnya dan buatlah sendiri,” Annette langsung membalasnya. “Lagian, kubilang kau ini belum cukup mengerti teknologi. Perwira yang mengajarmu bilang kalian cepat memahami sesuatu. Dan kau nanti dalam masalah misalkan tidak bisa sendiri mengurus suatu hal saat diwajibkan mengurusnya sendiri, kan? Jangan harap aku bakalan membantumu padahal kau maunya nonton bokep di internet.”

Theo mendengus. Jelas dia bukan putri lemah yang tak sanggup berbuat apa-apa, meski dirinya berbeda dibandingkan Lena. Sekiranya dia sebertekad ini, berarti mereka tak perlu terlampau was-was di sekitarnya.

“Saya rasa itu benar.”

Pengeboman pendahuluan militer Kerajaan Bersatu menghancurkan seluruh Legion yang berada dalam zona ledakan, tetapi Legion yang tidak berada di sana masih utuh. Mereka berangkat, sesudah diperintah unit komandan untuk mencegat musuh.

Pasukan di baris depan bersiaga hendak bertempur, waspada akan serangan musuh dari arah lain, sementara unit cadangan disisihkan tuk mengejar dan mencegat pasukan penyerang musuh. Tampaknya musuh tengah berbaris melalui zona dan wilayah perang dengan bersembunyi dalam hutan, sehingga mereka tak tertangkap patrol Ameise.

Tetapi rute mereka gampang diprediksi. Militer Kerajaan Bersatu menembakkan artileri tersebut tuk menggantikan kurangnya jumlah mereka. Dalam hal ini, pasukan penyerang pastinya berada dalam area pengeboman—suatu tempat bergaris lurus di jalur yang telah dirobek membuka oleh serangan tersebut.

Dinding api yang dihasilkan sejumlah besar bahan bakar jet belum padam. Paling buruknya, hutan ini akan terus terbakar beberapa hari mendatang. Tetapi Legion menembus api, ke kedalaman wilayah yang belum diblokir apinya.

Bagaikan sekawanan serigala mengejar mangsa kabur, mereka mendekati pasukan penyerang dari semua arah.

“Mana mungkin ….”

Sewaktu Sirin berkemah di tempat relatif tinggi, radar mereka teramat-amat reaktif. Dan ditambah kemampuan Shin. Antara dua sumber informasi tersebut, Lena sudah menggambarkan peta dalam benaknya saat bicara.

Legion punya jumlah dan kecepatan produksi sampai mampu mengirim unit sebanyak ini melawan pasukan penyerang. Kontrasnya, militer Kerajaan Bersatu tidak kuat mengirim unit lebih banyak lagi ke medan perang ini selain pasukan penyerang Gunung Dragon Fang. Dan menilai jaraknya, biarpun mereka mengirim bala bantuan, mereka takkan tepat waktu.

Tetapi dari awal, seolah-olah tidak ….

“… kita takkan memprediksi serangan balik ini …. Kan, Vika?”

“Dikonfirmasi. Mereka bergerak di sepanjang rute yang kau prediksi, Milizé.”

Vika nyengir dalam kokpit Gadyuka. Unitnya sudah disembunyikdan dalam wilayah dari kemarin, dan dia sudah Beresonansi bersama Sirin yang dikerahkan. Kerajaan Bersatu tidak bisa cukup memproduksi Alkonost untuk menggantikan jumlah yang hilang, dan segelintir Sirin dibiarkan tidak mempilot unit.

Jadi, alih-alih menganggur, mereka digunakan untuk pengintaian. Tapi tentu saja, mereka belum cukup untuk menutupi seluruh rute invasi. Kecepatan dan jangkauan deteksi sensor mereka hanya sedikit lebih bagus ketimbang pengintai manusia. Agar pengamatan pasukan penyerang Legion bisa akurat, para Sirin harus ditempatkan di sepanjang rute yang akan mereka tempuh. Lalu rute yang ‘kan dilewati pasukan pencegat Legion yang sedang ditampilkan di layar tidak menyimpang sedikit pun dari prediksi Lena.

Lena telah tepat memprediksi pasukan musuh berdatangan dari segala arah menuju pasukan penyerang, tanpa kelewatan satu unit pun. Vika terkagum-kagum terhadap betapa dahsyat kemampuannya, meski dia entah bagaimana buta pada keanehannya sendiri.

“Kepala Penembak, musuh telah memasuki zona serangan. Tidak usah tes tembakan, kan? Hancurkan mereka.”

“Tentu saja, Paduka.”

 Kepala penembak tua itu tertawa dalam ruang kendaraan pasukan penyerang. Dia terkekeh garang, mirip singa tua. Dia tetapkan unit penyerang musuh sebagai zona pengeboman, dengan seluruh bidikan senjatanya mengarah ke musuh yang memasuki zona. Inilah taktik artileri penyergapan yang mapan:

Tembakan destruktif ofensif.

Data penembakan telah dikumpulkan dari satu dekade pertempuran.

Mereka tahu jangkauan meriam mereka dari lusinan pertempuran.

“Tembak.”

“Sesuai kehendak Anda. Seluruh port senjata, tembak!”

Satu Löwe penjaga Ameise sedang berdiri memimpin kompi mereka. Tapi mendadak, sensor optiknya menangkap bayangan siluet humanoid. Tidak ada respon dari perangkat IKL. Sosok itu elemen musuh. Dilihat bentuknya, Löwe simpulkan dia warga sipil tanpa senjata. Tingkat ancaman minimal.

Löwe santainya membelokkan salah satu senapan mesin berat ke target itu, seketika ….

Ameise mendongak dan mengeluarkan peringatan. Tetapi sia-sia saja, sebab hujan selongsong menerpa mereka secepat supersonik, semakin menghilangkan sinar mentari. Karena Löwe-nya gagal menghindari hujan baja tebal, hal terakhir yang sensor optiknya lihat adalah pemandangan tidak wajar seorang gadis berada di medan perang. Gadis berambut merah muda ini, yang di dahinya terpasang kristal ungu, tersenyum kepada Löwe yang kesadarannya menghilang.

Barisan kendaraan yang melaju melewati medan bersalju. Pegunungan Dragon Corpse tidak pernah dianggap tanah yang dapat dihuni, biarpun masuk dalam wilayah Kerajaan Bersatu. Mereka melaju melewati hutan lebat gunung tanpa menginjak banyak jejak binatang, memanfaatkan salju yang terus turun juga pepohonan untuk menyingkir dari penglihatan Legion.

Kelompok-kelompok kecil sering kali berpisah dari pasukan utama mereka dengan tujuan secara diam-diam memastikan jalan di depan tidak ada musuh. Lantas pasukan Reginleif berangsur-angsur mengecil, sesuai rencana, selagi mereka melaju masuk wilayah musuh.

Ketika mereka menuntaskan mars hari pertama, mereka melewati sebidang hutan aneh. Sampai sekarang, mereka dikelilingi pohon konifer, karakteristik utara. Tetapi di suatu waktu, pohon-pohon itu sudah tidak ada. Yang menggantikannya ke manapun mereka memandang, hanyalah gumpalan salju besar yang bentuknya menyerupai monster besar aneh.

Kehebohan menghampar 86, beberapanya berada dalam kendaraan transportasi lapis baja sementara lainnya duduk dalam kokpit Reginleif mereka. Dapat terdengar seseorang berbisik, “Apa-apaan itu …?” lewat Resonansi.

Rime ice8,” kata salah satu Handler Kerajaan Bersatu.

Handler itu bicara dengan nada bangga, ibaratnya mereka sedang mendampingi anak-anak yang melihat binatang aneh ketika bertamasya ke negeri asing.

“Fenomena alam saat lapisan tebal salju serta embun beku membekukan pohon …. Pertama kali melihatnya, bukan? Kau lihat sesuatu semacam ini hanya saat cuaca dingin atau salju turun. Syaratnya harus tepat agar terbentuk sesuatu seperti ini; kalau tidak takkan terjadi.”

“…”

Vika yang mendengarkan percakapan ini menambahkan:

“… kenapa kalian tidak berkunjung ke Kerajaan Bersatu waktu musim dingin selanjutnya misal ada kesempatan? Kami tunjukkan bukan cuma hujan atau salju yang bisa turun dari langit, tapi es pun bisa. Dan kalian bisa lihat langsung ada cahaya langit yang bukan berasal dari bulan atau bintang doang. Kami perlihatkan musim dingin asli, contohnya satu ini …. Musim dingin indah, musim yang hanya bisa kalian pandang di sini, di Kerajaan Bersatu.”

Vika terdengar agak emosional. Seakan-akan mengingat kembali pemandangan yang pernah dilihatnya bersama seseorang. Tidak satu pun 86, termasuk Shin, tahu siapa seseorang itu. Namun mereka semua tenggelam dalam kerinduan tersebut dan penuh perhatian mendengarkannya. Lalu Shin bicara, memecah kebisuan rekan-rekannya. Dia mendengar fenomena yang disebutkan Vika, tetapi belum pernah melihatnya sendiri.

“Debu berlian9. Dan aurora10 …”

“Kubayangkan ini bakalan menjadi pengalaman baru untuk kalian …. Izinkan aku mengatakan satu hal, kaum 86 dari Sektor 86. Kalian anjing-anjing perang hanya mengenal medan perang. Dunia itu lebih besar nan luas dari yang kalian ketahui. Boleh kalian hina, jika begitu ingin menghinanya …. Namun camkan bahwa kalian masih belum cukup banyak melihat dunia sampai-sampai menyerah kepadanya.”

“Aku akan mengirimkan peta perkiraan bagian dalam pangkalan Gunung Dragon Fang …. Merujuklah ke peta tersebut selagi menegaskan kembali tujuanmu.”

Sebuah layar sekunder holografik terbuka seketika suara bak lonceng perak Lena mencapai telinga Shin. Samar-samar menerangi kokpit gelap, membentuk peta tiga dimensi yang dibuat garis cahaya.

Lebih dalam dari perkiraanku, Shin merenungkannya sambil melihat peta bercahaya.

Pangkalan Gunung Dragon Fang adalah tempat yang dibangun Legion. Berbeda dengan pertempuran di Labirin Bawah Tanah Charité, mereka tak punya peta konkret apa pun mengenai bagian dalam pangkalannya. Menyelundup pangkalan musuh tanpa mengetahui struktur internalnya terlalu sembrono. Terutama mengingat keadaan terkini pasukan penyerang, tanpa adanya pasukan tuk mempertahankan jalan mundur mereka.

Lantas untuk menggantikan peta sebenarnya, militer Kerajaan Bersatu membuat peta tiga dimensi terburu-buru ini. Memanfaatkan kemampuan Shin untuk melacak pergerakan suara-suara dalam struktur, mereka memperkirakan tata letak lorong pangkalan dan fasilitas pusat.

Sesudah mengumpulkan data ini, mereka menghabiskan sepanjang malam mengerahkan seluruh kekuatan komputasi Vanadis untuk memproduksi peta ini.

Persepsi Shin tentang pergerakan tiga dimensi jauh lebih lemah dibanding persepsi pergerakan dua dimensinya, namun Löwe serta Dinosauria seberat lima puluh ton dan seratus ton masing-masingnya membuat tanah pangkalan harus cukup kukuh untuk menopang beratnya. Dan dikarenakan pangkalan ini juga menghasilkan tenaga dan memproduksi unit, mereka dapat memprediksi sejumlah fasilitas yang perlu dimilikinya.

Dengan mempertimbangkan kondisi ini, mereka mampu menggambar peta dengan perkiraan—walaupun tidak seakurat yang diminta—tata letak pangkalan. Tapi tetap saja lebih baik ketimbang menyerang tanpa tahu arah, biarpun petanya tidak berarti banyak.

“Seperti yang kau lihat, bagian dalam pangkalan dibagi menjadi beberapa sektor. Sektor pertama adalah sektor permukaan yang dekat kaki gunung dan sepertinya menampung unit produksi Weisel. Sektor kedua terletak dekat pipa vulkanik tidak aktif dan diperkirakan merupakan unit Admiral Pembangkit Listrik …. Rupanya, dibangun di sana sebab lokasinya dekat sumber panas, bertujuan mengusir panas dan mendinginkan. Fasilitas pembangkit listrik terletak berdekatan pipa vulkanik, sementara inti kontrolnya berada tidak jauh dalam area terbuka dekat kawah gunung berapi tidak aktif. Keduanya dihubungkan lorong. Terus ….”

Area peta menyala mengikuti penjelasan Lena. Dia mengirimkan data menggunakan jaringan komunikasi yang mereka bangun selagi menyiapkan jalur mundur. Pengirimannya satu cara dengan Sirin yang mengirimkan data rekaman tatkala menyelundup wilayah Legion enam bulan lalu.

“Sektor ketiga. Sektor bawah tanah yang terletak dekat pipa vulkanik tidak aktif. Diduga lokasi Ratu Bengis.”

Sektor ini posisinya di tengah model tiga dimensi pangkalan. Menyesuaikan perkataannya, sebuah titik kecil menyala terang dalam bawah tanah. Kendatipun celah di puncak gunung sekarang ini dihalangi magma dingin, tempat tersebut dulunya merupakan terowongan vulkanik. Dan tepat di sebelah area tersebut adalah sektor Ratu Bengis.

“Fungsi sektor ini tidak diketahui. Kita barangkali memperkirakannya sebagai pusat komando Legion, tapi … jumlah sejati unit Legion yang menghuninya itu kecil. Pengamatan Kapten Nouzen menyatakan bahwasanya ratu Bengis saja yang satu-satunya berada di dalam.”

Vika mendengus geli.

“Aku yakin sektor ini punya gelar. Mari kita sebut Ruang Takhta, karena tidak ada nama lain.” sang pangeran tampaknya mengangkat bahu waktu mengucapkan kata-kata tidak sopan itu tanpa menahan diri sedikit pun.

“Pembagian peran masih sama sejak pengarahan, kan, Milizé? Skuadronku dan skuadron Claymore akan menangani inti kontrol Admiral dan unit pembangkit listrik masing-masingnya, sedangkan skuadron Thunderbolt menangkap Weisel. Skuardron Nordlicht juga Lycaon akan memastikan pemblokiran zona tempur, dibantu sisa-sisa skuadron Korps Lapis Baja ke-1, serta skuadron Spearhead akan mengurus penangkapan Ratu Bengis …. Menyerbu masuk kamar tidur ratu. Barbar nian.”

Prosesor Divisi Penyerang telah dipisah menjadi empat kelompok, dua kelompok terbesarnya ikut andil dalam misi. Sebab Korps Lapis Baja ke-2 mesti mempertahankan rute mundur, pasukan mereka berkurang besar, dan Korps Lapis Baja Ke-1—beranggotakan skuadron Spearhead Shin—harus menangani pemblokadean area sekitar gunung sekaligus menyerang bagian dalam pangkalan.

Selain itu, sebab operasinya butuh penyelesaian beberapa tujuan di satu waktu—maka dari itu pasukan mereka dibagi menjadi sejumlah batalion seperti biasa—pasukan yang menyelinap ke pangkalan terdiri dari divisi sementara yang didirikan dengan menaruh Juggernaut beserta Alkonost ke skuadron sama.

“… terlebih lagi, sementara ini keberadaan Phönix belum dipastikan. Namun yakinlah dia dalam bagian kekuatan pertahanan Gunung Dragon Fang, lantas bila mana memang muncul, urus dengan cara sebelumnya.”

Pangkalan Gunung Dragon Fang dikelilingi dinding di seluruh sisinya dan mengharuskan pertempuran di tempat kecil nan sempit, menjadikannya medan perang ideal untuk Phönix. Pasuan penyerang juga pada dasarnya mengisolasi diri sendiri setelah menginjak pangkalan musuh, jadi pasukan musuh mudah memancing masuk mereka kemudian memusnahkannya. Legion tidak salah lagi ‘kan mengirim kekuatan terkuat untuk melenyapkan mereka.

“Akan tetapi, menghancurkan Phönix adalah tujuan prioritas rendah dalam operasi ini. Jangan melawannya kecuali benar-benar perlu. Menimbang waktu yang diperlukan untuk mundur dan seberapa lama bisa memblokade area operasi ini, kita cuma punya empat jam untuk menyelesaikan operasi ini …. Cepat rebut pangkalannya.”

Shin menyipitkan mata pahit selagi mendengar suara loncengnya. Dia belum meminta maaf atas pertengkaran mereka sebelumnya. Tetapi Lena sudah … kendatipun bukan salahnya. Tapi Shin masih belum. Sekarang bukan waktunya percakapan ini, tentu saja, tetapi begitu dia kembali …. Sesaat operasinya berakhir, dia mau meminta maaf. Dia pun ingin melakukan percakapan yang Lena bicarakan.

“Diterima.”

Gunung Dragon Fang. Orang-orang Kerajaan Bersatu menamakannya pada puncak tertinggi pegunungan Dragon Corpse sebab kekaguman dan penghormatan. Dan sesuai implikasi nama tersebut, menyerupai taring besar yang menonjol ke langit. Siapa pun yang melihatnya dari kaki gunung akan menyadari betapa besar puncaknya. Punggung bukit putih bersih nan tajam menjorok ke langit abu-abu batu bara.

Hutan tumbuhan runjung, terlalu lebat dan gelap untuk dimasuki manusia, membentang di kaki gunung. Unit Ameise berpatroli di celah-celahnya sembari waspada. Wilayah yang jauh dari kehadiran manusia, tetapi dikarenakan tempat itu adalah pangkalan produksi, ada Tausendfüßler mondar-mandir. Saljunya realtif tipis di sepanjang jalan yang mereka tempuh, ujung jalannya adalah lereng beku dan berbatu yang terdapat pintu logam aneh bekas ledakan di dalamnya.

Ameise di dekatnya tengah berpatroli dalam keadaan siaga tinggi, sensornya ditingkatkan.

Namun saat setelahnya, sekelompok Alkonost menerjang rangka tipis mereka dan ditindih sampai hancur. Memanfaatkan batang pohon sebagai pijakan, pasukan penyerang maju melalui puncak pohon lalu melompat tinggi-tinggi melewati celah hutan. Sebelum Ameise sempat melawan balik atau melaporkan penyerangan musuh, unit Legion telah ditembak hancur dari atas mereka. Unit yang diinjak berhamburan berkeping-keping.

Kala raungan senjata masih bergema di sekelilingnya, Lerche menyeru melalui Resonansi:

“Bersih! Tuan Pencabut Nyawa, pergilah sekarang!”

Shin tidak perlu diberi tahu dua kali. Sebelum api dan asap ledakan sirna, Shin mempilot Undertaker melalui celah. Layar optiknya menampilkan pintu tanpa pertahanan yang diledakkan.

“Vanadis!”

“Menembak! Minus lima detik. Dua, satu …. Dampak!”

Mereka menembakkan satu rudal berharga yang bergerak dekat tanah. Salah satu Juggernaut mengarahkan bidikan lasernya ke pintu diledakkan yang menjadi sinyal pemandu rudal selagi terbang menuju pintu.

Selanjutnya—ledakan.

Pintu logamnya bengkok ke dalam dan dirobek bagaikan kertas, berbunyi keras dengan suara ledakan yang menggema di permukaan batu. Kemampuan Shin merasakan beberapa Legion malang termakan ledakannya, Shin memerintahkan regu penekan dipimpin Raiden untuk menembak ke dalam.

Saat paling berbahaya dalam infiltrasi adalah ketika mereka memasuki bangunan. Mereka masuk ke dalam pangkalan gelap hanya modal pemastian suara Legion yang bersiaga dekat pintu masuk telah hilang.

Layar optik Shin menghitam dan beralih ke mode penglihatan malam beberapa saat setelahnya. Suara ujung kaki logam Juggernaut yang menginjak permukaan batu menggema berat di sekitar mereka.

Mereka lepaskan perlengkapan kaki yang dipakai untuk melewati salju, bahkan suara baut listrik meledak-ledak bergema dalam ke pangkalan.

Tempatnya luas. Kemungkinan besar tempat Tausendfüßler membawa masuk unit rusak atau rongsokan. Tempat singgah truk untuk bongkar muat unit Legion yang baru diperbaiki atau baru diproduksi.

Berikutnya yang menutupi keseluruhan langit-langit tinggi ruangan adalah …

“Seluruh unit Alkonost, muat selongsong tabung dan atur ke mode peledakan udara. Tembak!”

Alkonost segera membidik ke atas, dan di saat yang sama, sepasukan ranjau swagerak dan Grauwolf turun ke atas mereka dari udara, seolah-olah balas dendam pada unit patroli gugur. Legion ringan sedang bersembunyi dalam derek gantung serta gerakan naik-turunnya dinding batu yang dipahat kasar.

Namun bagi Shin yang sanggup mendeteksi keberadaan mereka lewat ratapan konstan, tidak menyembunyikan mereka darinya. Selongsong 105 mm yang ditembakkan mengontak Legion berjatuhan. Selongsong tabungnya meledak, menyebar tembakan gotri ke seluruh ranjau swagerak dalam jangkauan. Rongsokan mereka berjatuhan ke tanah sedangkan Grauwolf dan sisa-sisa ranjau swagerak selamat mendarat dita nah.

Juggernaut dan Alkonost menghindari kejatuhan mereka lalu berpencar ke segala arah. Di waktu bersamaan, unit pertahanan dengan Löwe sebagai intinya menyerbu masuk ruangan begitu serangan mendadak diluncurkan. Para Juggernaut yang bersiaga langsung menghadapi mereka, setelahnya dimulailah pertempuran, dengan selongsong 88 mm dan 120 mm bersiul di udara.

Huru-hara tiba-tiba terjadi dalam tempat lapang luas nan gelap ini.

Duduk jauh dalam pangkalan yang mereka gali di dalam gunung berapi yang orang-orang dari Kerajan Bersatu sebut Gunung Dragon Fang, unit komandan dikenal sebagai Ratu Bengis menggumam bisu selagi menyaksikan transmisi pertempuran dalam tempat singgah truk.

<<Begitu. Jadi itu benar-benar kau, Vika.>>

Yang digambarkan dalam rekaman optik kasar adalah Barushka Matushka militer Kerajaan Bersatu. Model komandan yang sensor dan kemampuan komunikasinya diperkuat. Terpampang di blok kokpitnya adalah Tanda Pribadi seekor ular melingkari apel—tanda yang dipastikan masuk dalam target prioritas tinggi pada angkatan darat Kerajaan Bersatu, pengenal: Hveðrungr.

Dia mengingat seorang anak kecil yang bicara dengannya beberapa kali sepuluh tahun lalu. Dia itu anak laki-laki tidak normal yang dikutuk kecerdasan serta jiwa yang menyimpang. Anak itu tidak peduli terhadap dirinya yang mungkin bertolak belakang dengan akal dan etika manusia. Namun yang mendasari tindakannya adalah kasih setia sepenuh hati juga keinginan seorang anak untuk menemui ibunya sekali lagi.

 Terjadi sebelum perang dimulai. Beberapa waktu sebelum unit komandan itu menciptakan Legion. Vika kecil hanya ingin bertemu ibunya lagi, dan harapan itu berujung melahirkan Perang Legion. Batu loncatan menuju kehancuran manusia.

Menunjukkan bahwa niat baik … pada dasarnya … hanya mendatangkan kesimpulan buruk.

Dan itulah pelajaran yang anak bijak ini—bijak, namun terlalu tak mengindahkan peraturan dunia—pasti sekarang sudah pelajari.

Dan …

Unit itu beralih ke umpan lain. Menunjukkan gambar Feldreß putih, melaju sesuka hati. Satu Feldreß Bertanda Pribadi kerangka membawa sekop, yang terdaftar di basis data Legion sebagai target prioritas tinggi—tentu saja target yang dimaksud adalah pilotnya.

Meski mantan personel militer, Legion itu tidak pernah menginjakkan kaki di medan perang. Dan baginya, Tanda Pribadi itu nampak kelewat menakutkan, seakan-akan kerangkanya melambangkan sang malaikat maut itu sendiri. Musuh ini cukup terampil dan berpengalaman hingga memasang simbol semacam itu.

Dia tidak tahu nama pilot ini dengan pewarnaannya yang khas sekali dengan kelas penguasa Kekaisaran walaupun faktanya tidak mungkin dia bisa direndahkan dari kebangsawanan seperti itu. Dan dia sepertinya takkan pernah tahu.

<<Báleygr.>>

Radar Gadyuka yang diperkuat menangkap sinyal ranjau swagerak yang mencoba menerjangnya dari titik buta. Ranjau swagerak tipe anak-anak, dibuat dengan maksud merangsang naluri orang tua yang tertanam dalam pikiran manusia, tetapi Vika tanpa ragu menggerakkan Gadyuka untuk menendangnya.

Ranjau swagerak—berpakaian pakaian anak-anak Republik yang sepenuhnya tidak cocok terhadap iklim dingin Kerajaan Bersatu—jauh tidak bisa dikenali dan alhasil dihempas.

Ranjau swagerak antipersonel melepaskan pelet logam sewaktu meledak, tetapi pelet-pelet itu tidak mampu merusak Feldreß. Karenanya, satu-satunya ranjau swagerak di pangkalan ini adalah model antitank. Mereka dilengkapi hulu ledak antitank berdaya ledak tinggi, tetapi kurang cukup kerusakannya terkecuali meledak di jarak dekat. Maka dari itu, ranjau swagerak tidak terlalu besar ancamannya selama jaga jarak dari mereka.

Tetapi meskipun tidak dalam posisi sempurna, ranjau swagerak tipe anak-anak meledakkan perangkat penghancurnya sendiri.

“…?!”

Gelombang kejut gaib terdengar di sepanjang kegelapan. Tetapi yang menyebar setelah ledakan itu bukanlah pelet maupun logam hitam pekat, melainkan asap perak bekerlip aneh.

“Cih …”

Hulu ledaknya meledak pada jarak cukup dekat sampai-sampai Gadyuka tidak sanggup menghindarinya. Tabir asap cukup tebal hingga Vika tak mampu melihat kaki unitnya, selain membutakan sensor optiknya, sementara waktu juga mengacaukan radarnya.

Gangguan ini kemungkinan besarnya disebabkan pecahan plastik aluminium disposisi yang tersembunyi dalam asap kemudian membiaskan gelombang radar. Ranjau swgerak ini bukan model antipersonel atau antitank. Seandainya mesti diberi nama, maka namanya model sekam.

Menyebalkan …

Jika ranjau-ranjau swagerak sekam ini digabung ranjau swagerak biasa—dan itu pasti—maka yang diserang akan kesulitan melawan serangan gabungan mereka kecuali kemampuannya setara Shin.

Vika menyipitkan mata mendengar suara kerikil yang diinjak lagi.

Suaranya dari belakangku.

Melihat sekeliling, dia mendapati dirinya dikepung Ameise dari seluruh sisi. Begitu asap hilang dan pandangan mereka pulih, Grauwolf juga ikut turun diikuti sejumlah besar ranjau swagerak.

Aku dikepung, kan …? Baiklah …

Di antara kelompok Feldreß ringan ini yang termasuk Juggernaut serta Alkonost, Barushka Matushka Vika adalah unit kelas berat. Dibuat khusus untuk komandan dengan sensor yang diperkuat serta fungsi komunikasi. Wajar saja Legion akan mengasumsikan dirinyalah komandan pasukan penyerang.

Atau barangkali mereka mengenal Tanda Pribadi yang terpampang di kanopi lapis bajanya sebagai tanda komandan Kerajaan Bersatu.

Melihat Gadyuka dikepung, Raiden membalikkan Wehrwolf menghadapnya. Vika dapat mendengar seseorang mendecakkan lidahnya lewat Resonansi. Tetapi Chaika, unit Lerche, semata-mata diam dan menatapnya saja. Vika menggunakan Chaika sebagai unit garda depannya dan sedari awal tidak memerintahkannya untuk melindungi dirinya.

Bibir Vika menyeringai. Cibir arogan nan tenang. “Jangan remehkan aku, dasar makanan meriam.”

Kerajaan Bersatu berbeda dari Federasi yang membiarkan infanteri lapis baja mengawal Feldreß sekaligus menangani Legion tipe ringan seperti Grauwolf, Ameise, dan ranjau swagerak. Ada perbedaan mencolok antara kedua negeri dalam hal keunggulan teknologi beserta penyaluran logam mereka, juga lingkungan dingin Kerajaan Bersatu mempersulit infanteri yang diperkuat untuk bekerja dengan baik. Maka dari itu, Feldreß Kerajaan Bersatu memerlukan sebuah fungsi yang memungkinkannya menyimpan sendiri unit-unit ringan nan kecil.

Pemilihan persenjataan. Persenjataan utama: meriam 155 mm. Mengisi selongsong tabung. Mode serangan darat. Target banyak. Senapan mesin 14 mm di depan. Senapan mesin koaksial 7.62 mm. Peluru tembus lapis baja dimuat. Peluncur granat, membuka seluruh port senjata. Proyektil peledak anti lapis baja dimuat. Mode serangan udara. Bidikan diatur.

Seluruh persenjataan, mengunci.

Tembak.

Barushka Matushka membanggakan sejumlah persenjataan berat yang tidak biasa bagi sebuah Feldreß, jadi ketika semuanya meraung bersama-sama, kesannya barusan langsung mendengar suara petir. Barushka Matushka memiliki meriam senapan dipasang di belakang ditemani dua senapan mesin terpasang di sana. Dua Peluncur granat 40 mm diletakkan di atas rangkanya, bagaikan sirip punggung.

Setiap persenjataan ini mengunci musuh berbeda selagi menembak. Proyektil dan peluru berdesing di sekitar Gadyuka, layaknya bunga balsam11 yang mengeluarkan bijinya. Selongsong gotri 155 mm yang diatur ke mode serangan darat, terpicu di atas ranjau swagerak kemudian melepaskan banyak sekali peluru gotri ke udara.

Kedua senapan mesinnya menjerit bagaikan gergaji mesin selagi berputar, memompa puluhan peluru tajam per detiknya ke Grauwolf mendekat. Granat-granat meraung bak mortir, seluruhnya melesat menuju Ameise berlainan lalu meledak ketika menyentuhnya.

Di saat pertempuran mereda, Gadyuka berdiri dikepung sektor medan perang yang sunyi-senyap. Seluruh musuhnya ditaklukkan dan dibungkam oleh rentetan tembakan tunggal itu. Persenjataan utama Gadyuka, kedua senapan mesinnya, sekaligus delapan port peluncur granat—kesemuanya dilengkapi fitur pengunci.

Inilah persenjataan serta fitur yang diberikan kepada Barushka Matushka yang memungkinkannya menghabisi kawanan musuh tanpa dukungan infanteri. Tentu saja, ini bukan fitur yang bisa mudah digunakan siapa saja. Vika sendiri memilih membidik semua targetnya di satu waktu secara manual, sebab dia nilai akan lebih cepat demikian. Namun pilot biasa memerlukan dukungan AI untuk betul-betul memanfaatkan sistem yang sukar ditangani ini.

Namun itulah satu-satunya cara Kerajan Bersatu bertahan dari Perang Legion dalam kondisi performa Feldreß mereka lebih rendah dan pasukan mereka lebih sedikit.

“Semengesankan biasanya, Paduka …. Saya tidak perlu campur tangan lagi,” ucap Lerche sambil menyeringai.

Raiden mengeluarkan, “Mmm,” terkejut, tidak berusaha menutup-nutupi keheranannya.

“Lumayan, Paduka.”

“Biasanya, akan ada perbedaan usia antara seorang perwira dan bawahannya, tapi aku sudah masuk angkatan darat sejak masih seusia kalian. Mana mungkin aku tak sanggup melakukan segini saja …. Aku tidak boleh membuat aib buruk dan mempermalukan para tentaraku karena kehilangan komandannya, kan?”

Pasukan penyerang menyapu Legion yang dikirim mencegat mereka di tempat singgah truk lalu berpisah menjadi empat tim dari sana. Setiap tim pergi ke tujuan masing-masing. Skuadron Gadyuka Vika, skuadron Claymore Rito, beserta skuadron Thunderbolt Yuuto bergerak untuk menangani Weisel dan Admiral, demi menghentikan penyebaran besar Eintagsfliege.

Di sisi lain, skuadron Spearhead masuk lebih dalam ke pangkalan untuk mencari dan menangkap Ratu Bengis. Setiap detasemen didampingi unit Alkonost yang dilengkapi fitur penghancur diri, bertujuan menghancurkan dan meruntuhkan pangkalan begitu tujuan selesai.

Tempat singgah truk punya lorong yang mengantar ke area tempat tinggal Weisel, dan jalan lain yang menuntun ke kawah gunung berapi tidak aktif tempat Admiral berada. Detasemen Rito dan Vika berpisah di sana. Skuadron Spearhead Shin mengawal skuadron Thunderbolt menuruni terowongan bawah tanah yang mengarah ke bagian dalam Weisel, tetapi berpencar dan menyerahkan pertarungannya kepada mereka selagi masuk lebih dalam ke pangkalan mencari Ratu Bengis.

Rupanya, lubang ini sudah ada dalam Gunung Dragon Fang sejak zaman dulu, dan Legion kemungkinan besar memanfaatkannya sebagai lorong. Jalan berbatu yang cukup besar hingga memperkenankan dua Dinosauria berdiri sejajar dengan senggang.

Skuadron Spearhead maju dengan waktu lambat, mengimbangi Alkonost penghancur diri selagi langkah kaki berat mereka menggema di sekitar. Persenjataan mereka telah dilepas dan mereka diisi bahan peledak sebanyak-banyaknya, karena itulah kecepatan gerakan mereka lebih lamban dari biasanya. Mereka pun ditemani Fido juga sederet Scavenger, sekaligus Alkonost standar yang bertindak sebagai pengintai juga mencegah pasukan lain yang mendekat.

Terowongannya semakin dalam nan gelap seiring jauhnya mereka masuk ke kedalaman bumi. Shin memfokuskan kesadarannya ke lolongan Ratu Bengis yang dapat dia lihat di kedalaman lebih gua ini. Dia mengingat suaranya, karena sudah repot-repot muncul langsung di hadapan mereka saat konklusi pertarungan terakhir.

Di jarak sejauh ini, Shin mengetahuinya, bahkan tanpa terlalu gigih berkonsentrasi padanya, bahwa suara yang dia dengar dahulu kini berada di kedalaman pangkalan Gunung Dragon Fang. Ratu Bengis berada di tempat yang disebut Ruang Takhta.

Dan menurut Shin ini agak membingungkan, sebab Legion sedikit mengetahui kekuatan Shin. Dalam hal ini …

Mereka di sebelah mana?

Namun kala itu, sebuah peringatan menyala melalui kokpitnya.

“…?!”

Shin tanggapi peringatannya dengan separuh perhatiannya belaka, menyimpan sebagian besar fokusnya untuk mengawasi lingkungan. Suhu unitnya naik ke level abnormal. Sudah lama mereka tak menemui musuh, dan keluaran Undertaker telah diturunkan hingga setara kecepatan jelajah saja. Namun meski demikian, suhu rangka tetap naik.

Shin memeriksa pengukur unitnya untuk mencari tahu alasannya dan langsung tersadar. Suhu luar meningkat, dan sistem pendingin berusaha mengimbanginya.

“… jadi begitu alasannya.”

Mereka semestinya mempertimbangkan ini. Pangkalan Gunung Dragon Fang adalah pangkalan produksi tenaga panas bumi untuk Legion. Terus-menerus menghasilkan cukup Eintagsfliege sampai-sampai menyelimuti langit dan melakukannya di wilayah utara yang sinar mentarinya sedikit. Karenanya, membangun pembangkit listrik dalam gunung berapi yang mendatangkan energi panas itu lebih efisien.

Tetapi bagian dalam gunung itu teramat panas tuk ditangani tubuh manusia. Sebuah fasilitas yang dibuat manusia normalnya punya cara untuk mengatur suhu, tetapi Legion jauh lebih tahan terhadap panas dan tidak memerlukan pendinginan semacam itu.

Shin bisa mendengar Raiden membuka bibir hendak bicara. Nampaknya dia mendapat peringatan sama.

“Shin. Ini ….”

“Ya. Kita tidak boleh lama-lama di sini. Seluruh unit, kita ubah sedikit rencana kita. Kurasa kita takkan bertahan empat jam dalam panas ini.”

Sistem pendingin habis-habisan menjerit-jerit selagi berupaya melawan suhu eksternal …. Lebih lama lagi menjalani operasi tidaklah memungkinkan. Dan paling pentingnya ….

“Dan kurasa aku tidak usah memberi tahu kalian ini, namun misalkan kita berpapasan dengan magma, jangan dekat-dekat. Rig kalian takkan sanggup menanggungnya …. Alumunium paduan itu lemah sama api.”

“Begitu. Jadi itu alasan formasinya aneh dan jalannya lebar.”

Vika telah mengantisipasi penyergapan, namun entah kenapa, mereka diserang divisi lapis baja yang beranggotakan Löwe dan Dinosauria dari seluruh unit. Selagi dia menghadapi gelombang musuh lapis baja lagi, Vika membisikkan kata-katanya dengan getir.

Legion tipe kelas berat punya lapis baja komposit tebal yang mengisolasi mereka dari suhu luar. Lapis baja ringannya tidak begitu tahan terhadap panas. Lapis baja tipis mereka mudah mentransmisikan suhu tinggi ke dalam mekanisme internal mereka, selain tipe yang sudah rentan memanas karena cenderung bertarung dalam pertempuran mobilitas dan kecepatan tinggi.

Sebab inilah pasukan penyerang tak menemui kelas ringan kecuali di tempat singgah truk. Dan kelemahan suhu tinggi ini pun dimiliki para Juggernaut juga Alkonost yang sama-sama berlapis baja ringan dan menjadikan pertempuran mobilitas tinggi sebagai spesialisasi mereka.

Vika menyempitkan mata ungu Imperialnya selagi melihat sisa-sisa Alkonos terbakar terkena serangan langsung hulu ledak antitank berdaya ledak tinggi. Para Sirin di dalamnya tampaknya mengabaikan peringatan tersebut dikarenakan bukan manusia, dan unitnya kepanasan hingga tidak mampu bergerak.

Kanopi bawahnya—ciri khas Feldreß Kerajaan Bersatu—terbuka, dan Sirin jatuh dari dalamnya. Bagian dalam badan Alkonost-nya barangkali sudah terbakar. Sirin yang roboh ke tanah sudah sangat termakan api sampai-sampai rupa manusianya tidak terlihat …. Seragam mereka tidak dilengkapi alat antiapi, karena mereka tidak dikhususkan untuk bertahan hidup dari pertempuran. Kerajaan Bersatu sudah lama tidak sempat memberikan gadis-gadis bukan manusia ini fitur paling dasar.

“Kerja bagus, Yanina …. Maaf.”

Vika mengirimkan perintah penghancuran diri yang menggoreng otak buatan Sirin. Gadis-gadis ini tidak punya apa pun yang mengingatkan mereka pada ketakutan dan rasa sakit, tetapi kepekaan Vika tidak sesinting itu hingga suka melihat sesuatu bersosok manusia dibakar sampai mati. Dan tentu saja, bila yang disebut hantu dalam Sirin terus berteriak, maka Shin yang satu medan perang bersama mereka akan semakin tertekan.

Rupanya, selama misi pertama Divisi Penyerang, seluruh Anjing Gembala dalam area operasi aktif berbarengan yang mana membuat Shin terlampau tertekan sampai dia pingsan. Vika tak berniat membiarkan hal itu terjadi lagi di sini.

“… aku bayangkan skuadron Claymore tengah berada dalam situasi sama selagi mereka menuju pembangkit listrik. Dari segi suhu dan komposisi musuh. Kita harusnya barangkali asumsikan kondisi-kondisi ini berlaku ke seluruh terowongan di Gunung Dragon Fang.”

Vika anggap ini artinya mungkin Phönix tidak berada di pangkalan. Phönix pun berlapis baja ringan dan dioptimalkan untuk pertempuran mobilitas tinggi. Barangkali benar-benar tidak ditempatkan di sini, sebab medan perang ini sangatlah tidak cocok untuk mereka.

Tapi bagaimanapun juga—

“Aku tak suka berada di bawah tanah. Ayo cepat selesaikan operasi ini terus kembali.”

Terowongannya terlihat kerap kali berbelok-belok seiring dalamnya mereka pergi. Skuadron Shin akhirnya tiba di area terbuka luas yang mengingatkan semacam kuil kuno. Pilar-pilar batu hancur tersebar tidak merata di sana. Pilarnya sudah runtuh, iya, tetapi masih cukup tinggi sampai-sampai mesti mendongak untuk melihatnya. Banyak ruang terbuka serta titik-titik berlindung, dan areanya luas juga tinggi, cukup untuk bermanuver sembari melompat-lompat. Medan perang sempurna buat para Juggernaut.

Tetapi seketika menyadari pancaran panasnya, Shin menyipitkan mata. Di seantero ruangan yang seperti kuil ini, kubah dari uap panas tak kasat mata menyembur keluar bagaikan geiser. Boleh jadi ada semacam celah di sautu tempat terdekat yang terhubung ke sumber panas jauh di bawah tanah. Dinding panas membara tak terlihat memanjang di ruang luas ini menyerupai suatu labirin rumit.

“… menyentuh salah satunya mungkin bakalan membuat rig kita kepanasan terus menghentikan gerakan kita,” ucap Theo.

“Bertarung di sini memusingkan. Ayo cabut dari sini.” “Pengennya begitu, tapi …”

Satu unit musuh perlahan bangkit dari belakang salah satu pilar hancur. Shin merasakan kehadirannya dengan kemampuannya sebelum kemunculannya. Suaranya familiar. Bisa jadi tidak sempat diperbaiki, sebab dua senapan mesin dan salah satu kakinya hilang. Legion sama yang sebelumnya Shin hancurkan selama kali terakhir pertarungan mereka … sewaktu dia dikalahkan.

Ia Dinosauria yang lolos dari skuadron Spearhead dan Brísingamen. Gembala yang bisa jadi adalah 86.

“Kita disergap.”

Dari jarak sejauh itu, lolongan ibarat seruan perang bergemuruh di telinga Shin layaknya guntur.

Shin menyipitkan mata selagi mendengarkan suara tersebut. Suaranya familier. Dia sudah ingat pemilik suaranya. Ingatan itu jauh lebih jelas dan lebih gampang diingat ketimbang ingatan kampung halaman serta keluarganya yang telah jatuh ke kegelapan ingatannya.

Shin mengingat kembali tahun pertama dirinya direkrut ke lini depan Sektor 86. Dia mengingat suara seorang bocah yang dikenalnya dari waktu-waktu itu, tatkala sebagian besar Prosesor kehilangan nyawa mereka.

Sudah waktunya kau memikirkan Nama Pribadi, kan?

Báleygr bagaimana? Itu nama samaran dewa. Lagian, kau punya mata merah yang indah banget.

Dia berkata demikian kemudian tersenyum … lalu mati persis di pertempuran selanjutnya.

“Kapten …”

Nama yang dibisikkan Shin adalah nama seorang rekan yang bahkan tidak dikenal Raiden.

Sesuai dugaan awal Shin, terlepas dari seluas apa area berpilar ini, dinding-dinding berudara tak nampak yang dikeluarkan geiser, menghambat mobilitas Juggernaut. Kebebasan bergeraknya jauh lebih dibatasi dari luas area yang ditampilkan layar optik mereka.

Dinding silang-menyilang yang memancarkan udara panas yang ditempatkan secara acak tidak mengizinkan mereka mudah bergerak mengelilingi musuh ditambah menghalangi kemampuan untuk menghindar cepat. Meriam 88 mm mereka itu lemah misal dibandingkan meriam musuh, lantas mereka mesti melingkari Dinosauria dan mengincar bagian belakang atau atasnya, di bagian lapis bajanya paling tipis.

Tetapi mereka mati-matian mengambil posisi ideal untuk serangan gabungan. Juggernaut-Juggernaut yang gagal melompat tepat waktu sebab penghalang dinding panas, lapis bajanya dikoyak-koyak tembakan 76 mm dari persenjataan sekunder Dinosauria. Alkonost yang tidak berhasil mendeteksi dengan tepat letak uap panas dimuntahkan gerakannya telah dihentikan dan dihujani tembakan senapan mesin.

Dinosauria-nya di sisi lain, bergerak-gerak sembari mengabaikan dinding panas. Lapis baja tebalnya mengisolasi mekanisme internalnya, memperkenankannya bebas melangkahi geiser dan mengamuk-amuk sambil mengabaikan udara membara. Mungkin memang ada kerusakan dikarenakan panasnya, tetapi belum cukup sampai menghambat pergerakannya. Sedari awal meriam 155 mm perkasanya mengartikan ia tidak butuh mobilitas setara Juggernaut. Walaupun panasnya berlebihan, dia cuma perlu berhenti sebentar untuk mendinginkan dirinya sendiri.

Selongsong yang ditembakkan juga hampir tidak terpengaruh oleh panas. Selongsong PLBTSLS melayang di udara, menembus kabut panas. Shin menghindari tembakannya dan mendecakkan lidah kesal. Legionnya tebal. Ia boleh jadi memanfaatkan dinding panas untuk melindungi dirinya sendiri, tahu betul musuhnya tidak bisa melewatinya. Ia sengaja menyergap mereka di sini dengan pemikiran itu.

Memancing musuh ke medan perang yang paling sulit mereka hadapi, ia berlindung, lalu menggunakan medan agar lebih unggul. Menggunakan gaya bertarung 86—gaya bertarung Shin.

Kita tidak boleh buang-buang waktu di sini …

Mungkin orang-orang dapat merasakan ketidaksabaran Shin, sebab dia bisa merasakan Raiden meliriknya.

“Sebaiknya jangan berpikir melakukan aksi seperti kali terakhir.”

Bertarung seperti sebelumnya, seakan-akan membuang nyawa, adalah sesuatu yang Shin tidak ingin lakukan lagi.

“Aku tahu.”

Dia bergerak melalui kegelapan putih, bersembunyi di salju. Dia sudah perkirakan pasukan penyerang ‘kan berada di sana jadi mengubur dirinya dalam tempat persembunyian ini. Tujuannya adalah turun dalam pertempuran, memotong jalan mundur musuh, kemudian menghancurkan mereka.

<<Mengaktifkan kembali. Pemeriksaan sistem.>>

<<Menerima transmisi data misi tautan data taktis.>>

<<Misi diterima. Halangi rute mundur musuh. Titik serangan dikonfirmasi. Memulai per—>>

<<Ditolak>><<Ditolak>><<Ditolak>>

<<Ditolak>><<Ditolak>><<Ditolak>>

<<Ditolak>><<Ditolak>><<Ditolak>>

<<Ditolak>><<Ditolak>><<Ditolak>>

<<Ditolak>><<Ditolak>><<Ditolak>>

<<Ditolak>><<Ditolak>><<Ditolak>>

<<Ditolak>><<Ditolak>><<Ditolak>>

<<Ditolak>><<Ditolak>><<Ditolak>>

<<Ditolak>><<Ditolak>><<Ditolak>>

<<Ditolak>><<Ditolak>><<Ditolak>>

<<Ditolak>><<Ditolak>><<Ditolak>>

<<—————>>

<<Mengonfirmasi tujuan.>>

<<Mengonfirmasi tujuan awal saat pengerahan.>>

<<Tujuan awal: Menguasai seluruh elemen musuh.>>

<<Maka dari itu, unit ini tidak boleh dikalahkan.>><<Maka dari itu …>>

<<Pembersihan unit penyintas musuh diakui sebagai tujuan yang diprioritaskan demi pencapaian tujuan awal.>>

<<Menetapkan kembali misi.>><<Target eliminasi prioritas tinggi: Báleygr.>>

Shin menyipitkan mata ketika mendengar jeritan yang tiba-tiba menembus kesadarannya. Lolongan mesin yang tidak bisa dipahami, jeritan buatan tanpa kata. Setelah melawannya dua kali, Shin sudah akrab sama suaranya.

“… itu Phönix, bukan?”

“Iya … akhirnya menunjukkan dirinya.”

Menilai fakta suara tersebut mendadak muncul walaupun Shin tidak mendengarnya sebelumnya, barangkali dia sedang dalam mode tidur. Suaranya tak datang dari Gunung Dragon Fang, melainkan jauh dari belakang—dari belakang rute penyerangan. Operasi penyerangan ini adalah penyerbuan wilayah musuh. Legion yang menunggu hendak menyergap, atau barangkali mencoba mengisolasi musuh dengan memotong jalur mundur mereka, adalah taktik yang sudah dirancang.

Lena beserta para perwira staf, juga markas besar front kedua Kerajaan Bersatu, menganggap Phönix ikut andil dalam pertempuran. Mengingat fakta persenjatannya tidak cocok untuk melawan banyak musuh di medan terbuka, bila mana Phönix dikirim ke pertempuran, maka pertempurannya adalah pangkalan Gunung Dragon Fang.

Dan jikalau tidak di sana, maka akan menyerang rute invasi yang berfungsi ganda sebagai jalan mundur. Sepertinya tebakan kedua yang benar. Posisinya cukup jauh dari Korps Lapis Baja Ke-2 yang menjaga rute mundur mereka yang bersiap mencegat Legion tersebut.

Tetapi begitu Shin bersiap memperingatkan unit lain mengenai titik kemunculan Phönix, Shin sadar.

Tidak. Itu salah.

Phönix tidak tengah menuju unit manapun yang sedang menjaga jalan mundur mereka. Dia menuju utara. Menuju …

“Lena, berhati-hatilah! Phönix sedang menuju pusat komando!”

Sesudah menerima peringatannya, Lena tidak kaget, namun cemas.

“… Phönix-nya ke sini, ke pusat komando? Kenapa …?”

Sia-sia saja. Baik dari segi strategi ataupun taktik, tidak masuk akal. Sekarang ini, Legion diposisikan mempertahankan pangkalan Gunung Naga Fang dan semestinya fokus memukul mundur pasukan penyerang. Mereka tidak perlu menyerang pasukan cadangan Kerajaan Bersatu, apalagi pusat komando sini. Hal semacam itu takkan mengubah gelombang pertempuran dalam wilayah.

Fakta mereka menyerang Pangkalan benteng Revich terakhir kali itu aneh, namun ini malah lebih aneh lagi. Kemarin, Legion masih bekerja sama dengan dua unit lapis baja, dan keberhasilan serangannya telah mengisolasi Divisi Penyerang dalam wilayah musuh tanpa tempat kabur ke manapun. Dan karena pertarungannya terjadi dalam batas-batas ketat pangkalan, di banyak tempat berlindung, Phönix sanggup menampilkan kemampuannya secara maksimal.

Tetapi kali ini berbeda. Misalkan pusat komando luluh lantak, Divisi Penyerang bisa saja berkumpul kembali ke pangkalan lain. Dan terlebih lagi, Phönix beroperasi sendirian, tanpa bantuan apa pun, di tempat yang kemungkinan medan paling buruk untuk sebuah unit yang spesialisasi pertempuran jarak dekat: dataran terbuka.

Lantas, kenapa …? Tidak. Sekarang ini, kita harus fokus mencegatnya. “Shiden!”

“Baiklah!”

Lapis baja hitam Cyclops muncul di atas salju bagaikan bayangan besar. Kerlip-kerlip musuh tidak muncul di radar Cyclops, tetapi Shiden kelewat berpengalaman sampai-sampai mampu memprediksi arah kedatangan musuh setelah menerima informasi.

Dari pengetahuannya perihal topografi daerah itu, dan persenjataan musuh, Shiden bisa memprediksi pergerakan Legion. Legion tidak bertindak sesuai logika manusia tentu saja, tetapi mereka masihlah senjata polipedal yang berjalan di darat. Medan perang yang sanggup mereka lalui itu ada batasannya.

Membentuk zona tembak di rute yang diprediksinya, Cyclops menunggu bersama seluruh skuadron Brísingamen hingga mangsa mereka masuk perangkap.

“Seluruh unit sudah ambil posisi, kan? Arahkan bidikanmu dan bersiagalah.”

Komandan regu—semuanya wanita—membalas perintahnya. Skuadron Brísingamen adalah satu-satunya Divisi Penyerang yang komandannya wanita. Prajurit wanita tingkat kelangsungan hidupnya rendah di Sektor 86, karena fisik mereka lebih kecil dan stamina lebih rendah. Dan merekalah kelima wanita yang selamat terlepas dari itu. Meskipun tubuh mereka lebih kecil daripada para pria, bukan berarti mereka kalah unggul soal keterampilan dan pengalaman.

Kerlip musuh muncul sepintas di layar radar Cyclops lalu menghilang. Mungkin ia menggunakan kamuflase optiknya. Sosoknya masih belum terlihat. Akan tetapi …

Sebagian tabir salju bergerak tidak wajar, memberi tahu Shiden sesuatu mendekatinya, diselubungi angin. Radarnya juga membeirtahunya bahwa suatu massa tengah bergerak menghampiri. Hampir instan tautan data membagikan informasi ini dengan unit lain.

“Tembak!”

Deretan peluru 88 mm meledakkan zona tembak—dari tanah sampai ketinggian tertinggi lompatan Phönix yang dicatat selama pertempuran terakhir—merangkai jaring tanpa jalan keluar. Salah satu selongsong membengkok dan merobek sebagian lanskap bersalju.

Eintagsfliege menyebar menjadi pecahan-pecahan perak, menampakkan wujud monster baja. Terbalut lapis baja berbentuk mirip pisau atau sayap dan menusuk anggota tubuh gesitnya ke salju. Skuadron sudah kenal bentuk ini.

Bayangan metalik tersebut goyah, bisa jadi tidak menyangka akan begitu mudahnya ditembak. Dia tersandung mundur dan balik badan, ingin kabur, tetapi rentetan tembakan kedua dan ketiga menghentikan perjuangan lambannya. Selongsong gotri ditembakkan kemudian meledak menyebar, merobek kamuflase optik yang melapisi tubuhnya.

Boleh jadi Legion tipe baru, mungkin saja lawan yang sengit, tetapi skuadron sudah dua kali menghadapinya. Mereka tahu cara melawannya, bahkan tanpa perintah eksplisit. Dan dengan dilepasnya kamuflase, dia tidak seram-seram amat perkara pertempuran satu lawan banyak.

Phönix-nya mencoba melompat menjauh, tetapi hulu ledak antitank berdaya ledak tinggi mengenainya. Selongsong tank bergerak seribu meter per detik dan, pada jarak ini, nyaris langsung berdampak ke target begitu ditembakkan. Hanya sepersekian detik—dengan kecepatan melampaui kemampuan penglihatan kinetik manusia—tetapi selongsongnya menghantam bayangan keperakan, sekringnya terpicu selanjutnya meledak.

Berikutnya Phönix meledak berhamburan. Terjadi teramat cepat dan gampang.

“Reaksi radar … hilang. Kehancuran Phönix dikonfirmasi …. Pekerjaan luar biasa, Shiden.”

Lena mendesah lega, berdiri di pusat komando jauh dari zona tembak. Shiden, di lain hal, tidak yakin. Terlalu cepat …. Terlalu mudah. Intuisinya yang dikembangkan selama bertahun-tahun demi bertahan hidup di Sektor 86, memberitahunya ada yang ganjal.

Ini aneh. Ya, bisa jadi itu …

Kala itulah dia mendengar Shin menahan napasnya, tepat tatkala bulu kuduk Shiden berdiri tegak tersadar.

“Semua unit, tetap waspada! Dia belum mati!”

“…!”

Yang mendorong Shiden menggerakkan Cyclops menjauh dari posisinya adalah intuisinya belaka. Naluri prajurit tajamnya merasakan sesuatu yang tidak mampu dilakukan kelima indranya; refleks yang bergerak lebih cepat dari pikirannya adalah reaksi yang hanya bisa disebut haus darah jelas.

Persis di depan matanya, sebuah unit hitam muncul, memegang bilah rantai frekuensi tingginya. Lapis baja Cyclops diserempet cuma sedikit, tetapi logamnya mengeluarkan suara pekikan memekakkan telinga.

“Phönix …!”

Sensor optik biru menatapnya sambil mengejek. Kemudian dia hilang. Kamuflase optiknya buyar mengikuti salju dan melapisi lagi. Tetapi tidak berhenti di sana.

“Shana! Dia di depanmu! Ledakkan sampai …. Hah?!”

Dia hendak menyuruh bawahannya untuk menembak ke perkiraan posisi musuh selanjutnya, namun Shiden langsung sadar dia salah. Sosok keperakan Phönix muncul sangat jauh dari dirinya. Faktanya, sejauh ini, mustahil Phönix bisa sedekat itu dalam waktu sesingkat ini.

Shana menelan ludah panik, membalikkan Melusine menghadapnya, lalu menembak. Phönix itu kena serangan langsung kemudian menyebar, tetapi sekali lagi, radar Shiden menangkap objek bergerak dari arah lain. Satu unit pendamping menggerakkan meriamnya tuk menembak Phönix tapi ditebas oleh bilah rantai sebelum sempat menembak.

Apa-apaan …?

Pemandangan sulit dipercaya ini mencapai Lena dan yang lainnya di pusat komando.

“Jenis tipuan macam apa ini …?” Frederica heran.

“Lihat kecepatannya. Bukannya lebih cepat dari kali terakhir? Atau apalah, ada lebih dari satu sekarang? Tapi kalau begitu, kok bisa mereka menipu kemampuan Shin padahal dia aktif mencoba melacak Phönix …?” Lena bertanya-tanya keras.

Setelahnya, Grethe bicara, dan Lena bisa merasakan dirinya mencondongkan badan ke depan lewat Resonansi.

“Itu palsu!   Yang menyerang adalah Phönix asli, dan selain itu cuma bagian luarnya saja …. Phönix palsu yang dibuat dari lapis baja cair!”

Bersamaan laporan tersebut, mereka menerima transmisi rekaman dari pasukan artileri, tempat Grethe berada. Mereka kemungkinan sudah memeriksa rekaman optik dari skuadron Brísingamen. Lena membuka gambar Phönix tertegun yang diambil selama pertempuran ini, di salah satu layar sekundernya.

“Periksa rekaman ini, Kolonel. Yang dibombardir cuma lapis baja cair. Yang sungguh-sungguh menyerang mereka itu Phönix asli …”

Mata Lena membelalak sdar. Yang satu ini hitam. Warna orisinil lapis baja Phönix. Tidak punya lapis baja cair.

“Phönix membuat-buat seakan bergerak cepat dengan terus-menerus mengalihkan kamuflase optik antara dirinya dan si palsu. Semisal dapat cukup mengeraskan lapis baja cairnya sampai memblok benturan, lapis baja cair itu mungkin saja sanggup menggerakkan rangkanya sendiri. Dan bila hanya mencoba memalsukan reaksi massa bergerak, maka sebesar apa pun massanya tidaklah penting. Malahan, semakin kecil, makin minim kemungkinan kena salah satu tembakan kita.”

“Dia barangkali mengendalikannya dari jarak jauh. Semisal dia menggunakan gelombang radio, barangkali kita mampu mengganggu mereka …”

“Siapa tahu? Lapis baja cair itu sejak awal punya sifat transformatif, jadi boleh saja Phönix hanya memanfaatkannya secara kreatif.”

“…”

Lena menggigit bibirnya. Tahu sebanyak ini bukan berarti mereka tahu cara memposisikan diri untuk menangani Phönix. Antara reaksi dan caranya berganti-ganti dari muncul-sembunyi, kelihatannya seolah-olah dia berada di dua tempat dalam waktu bersamaan. Ia mengalihkan perhatian mereka kemudian menghilang, membingungkan reaksi mereka sendiri dan pergerakan palsu, mempersulit prediksi tempat mana kemunculannya selanjutnya.

Mendengar situasinya, Anju dan Kurena menuju pusat komando. Snow Witch Anju punya kemampuan penekanan permukaan yang memungkinkannya membisukan si palsu sekaligus, tetapi mereka semua berangkat dari pasukan artileri yang berada di lereng berlawanan. Mereka mungkin tidak berhasil tepat waktu.

Kalau saja mereka mengetahui tujuan Phönix, mereka bisa manfaatkan untuk mempersempit langkahnya, tetapi …

Tepat ketika Lena menggigit bibir, dia sadar.

Benar, tujuannya.

Dari awal mengapa Phönix menyerang pusat komando? Tindakannya tidak masuk akal soal taktis. Fakta bahwa, bahkan sekarang, tidak ada Legion lain yang muncul untuk membantunya hampir-hampir membuktikan itu.

Mungkinkah …?

“Apa dia … sedang mengamuk …?”

Lena mengingat bagaimana Rei yang struktur otaknya terperangkap dalam Gembala, melawan Shin satu lawan satu. Jika tujuannya hanyalah membunuh Shin, dia akan melawannya bersama dukungan Legion lain. Tetapi Rei mengabaikan pilihan bijaksana dari segi taktik dan memilih melawan Shin sendirian.

Para Gembala yang masih mempertahankan struktur otak yang mereka miliki semasa hidup kadang-kadang nampak berperilaku demikian. Mereka dihantui obsesi yang masih tertinggal sampai-sampai mengabaikan logika maupun akal. Phönix seharusnya dibuat sebagai kecerdasan mekanis murni karena Legion benci kecenderungan ini, tetapi para mesin pun tidak sempurna.

Legion memelajari senjata dan taktik manusia lalu beradaptasi dengan pas. Tetapi seandainya data yang mereka peroleh keliru, kesimpulan logis yang mereka dapatkan dari data itu juga sama-sama salah. Jadi misalkan Phönix melakukan hal serupa alhasil memelajarinya dengan cara salah semacam itu …

“Tujuannya adalah …”

Dari seluruh pertempuran menghadapi Phönix sejauh ini, ia senantiasa fokus kepada Shin. Mungkin diperintahkan untuk menangkap atau melenyapkannya.

“Jadi itu alasannya ke pusat komando …!”

Rupanya, Legion mengetahui sebagian kemampuan Shin, jadi menandainya sebagai target prioritas tinggi untuk ditangkap atau dieliminasi. Lantas Legion pun tahu pihak manusia menyadari keterikatannya kepada Shin, sebab dia digunakan sebagai umpan di pertempuran terakhir.

Alhasil berpikir demikian, ditambah betapa berharganya kemampuan Shin, masuk akal sekiranya Shin akan dinomorsatukan dan diutamakan, maka Shin ditempatkan di pusat komando yang secara maksimal menggunakan kemampuannya tanpa membahayakannya terkena tembakan musuh atau Legion. Dari sudut pandang rasional murni, kemungkinan Shin berada di pusat komando rasanya tinggi.

Dan karena itulah Phönix menyerang pusat komando, biarpun tidak punya strategi bagus. Dan andai itu benar, Phönix sungguh-sungguh tidak berfungsi sesuai komando Legion.

Shin sekarang ini berada di pangkalan Dragon Fang dan musuh-musuh dalam pangkalan mungkin tahu dia berada di sana. Tetapi entahkenapa, informasi ini belum diteruskan ke Phönix. Mungkin karena tak terkait tujuan awal Phönix.

Dalam hal ini, seumpama dia tidak tahu bahwa Shin tak berada di sini …. Apabila ia tidak tahu di mana Shin sesungguhnya …

“Kolonel Wenzel. Ambil alih komando kalau terjadi sesuatu padaku.”

“Kolonel? Apa maksudmu—? Jangan!”

“Seluruh personel pengatur tembakan, tolong evakuasi …. Skuadron Brísingamen, terdapat beberapa sinyal musuh, namun hanya Phönix asli yang bisa menyerang. Maka dari itu, seumpama kita persempit targetnya, kita seharusnya dapat memprediksi lintasannya. Dan andai kita tahu asalnya dari mana, kita bisa lawan balik.”

Tidak seperti kondisi normal, dia tetap mengaktifkan nirkabelnya. Legion tidak memahami ucapan manusia, tapi semisal mereka mendeteksi sebuah tempat yang memancarkan gelombang radio, mereka berasumsi tempat itu mirip-mirip markas. Dan aset militer terjaga nan berharga akan disimpan di tempat yang sangat terlindungi seperti markas, demi menghemat fasilitas fasilitas pertahanan.

Lena menarik napas dalam-dalam. Kemudian dia bicara dengan suara keras nan bermartabat ke mikrofon. Salurannya disetel ke seluruh lebar pita, berupaya menarik binatang buas jauh di sana.

“Mabes Vanadis kepada semua unit!”

Dan benar saja, sesuatu tak nampak yang bersembunyi di salju lepas landas murka.

Setelah mendengar suara Lena lewat Resonansi dan tahu bahwa Phönix telah bergerak menanggapinya, Shin membeku.

“Apa-apaan yang kau lakukan, Baginda?!” “Lena, apa maksudnya?!”

Seruan Shiden dan Theo mengejutkan Shin yang berada sangat jauh. Pikirannya mengalir cepat sampai-sampai mau panik.

Apa yang dia lakukan …? Gila …!

Lena menjadikan dirinya umpan dan memberi tahu posisi musuh …? Tapi karena dia minta Grethe mengambil alih menggantikannya kalau-kalau kemungkinan terburuk terjadi, artinya dia sudah siap dengan skenario tersebut.

Shin mendengar sesuatu berderit. Suara giginya bergesekan satu sama lain.

Dia melakukannya di pangkalan benteng dan sekarang di sini juga …. Kenapa dia nafsu nian mempertaruhkan nyawanya seperti ini?!

Kendatipun Shin tidak mau kehilangannya. Sekalipun Shin masih belum minta maaf atas pertengkaran itu …. Tidak, walaupun dia tidak punya penyesalan, dia tak ingin kehilangan Lena. Seolah-olah dia sudah berfirasat. Meskipun Shin tidak menginginkan apa-apa, biarpun dia hidup berpura-pura telah menyerah pada segalanya, ujung-ujungnya kehilangan sesuatu masihlah menyakitkan. Mungkin menyesal tidak sempat bilang apa-apa akan lebih sakit, intinya sakit.

Aku tidak boleh kehilangannya. Tidak boleh kehilangan Lena, tidak di sini. Walau dia bertindak sendirian, aku tidak boleh membiarkannya mati sesukanya seperti ini.

“Shiden. Musuhnya dilengkapi senjata jarak dekat. Kau bisa tembak hancur kalau tahu di mana posisinya, kan?”

Shin bisa mendengar Shiden menahan napasnya lewat Resonansi. Lalu dia mengangguk tegas.

“Iya. Bisa tepat sasaran.”

“Tolong. Raiden, Theo …. Maaf.”

Dengan demikian, Undertaker mundur. Mereka kenal Shin cukup lama hingga pernyataan singkatnya cukup mengkomunikasikan semua isi kepalanya. Shin menyuruh mereka melindunginya.

“Aku mengandalkan kalian.”

Shin memejamkan mata dan mengerahkan seluruh kemampuannya. Dia melempar dirinya ke pusaran jeritan-ratapan Legion. Meski berada dalam pusaran penderitaan tanpa akhir itu, suara unit komandan terdengar lebih jelas dari yang lainnya. Lantas Shin mengalihkan kesadarannya ke jeritan mekanis kacau Phönix.

Dia barangkali unit komandan, tapi jauhnya sembilan puluh kilometer. Dan terlebih lagi, ada Gembala di dekat Shin, dan suara menggelegarnya jadi rintangan. Antara suara rekan masa lalu dan suara-suara Anjing Gembala yang kini mayoritasnya adalah pasukan Legion, sulit mencari tahu suara Phönix.

Tetapi tidak sepenuhnya tak terdengar. Suaranya tidak rusak, tidak juga statis, jadi Shin bisa mendengarnya. Menjadi hantu yang ditinggalkan tanah air hancur mereka, Legion terus-terusan berteriak mereka ingin meninggalkan dunia selama masih tinggal di sini. Shin dapat mendengarnya dari jauh.

Kemampuan Shin yang didorong sampai batas, pasti mendengarnya. Telinganya hanya mendengar dengungan. Suara gemerisik daun. Tetesan air membeku di atmosfer. Tetapi suaranya ada. Dan kapan pun Legion menyerang, tangisan mereka senantiasa meningkat, menjadi jeritan.

Dan datang serangan. Kala itu. Tepat tatkala itu. “Shiden!”

Mengikuti sinyalnya, Shiden melompat ke medan bersalju membelakangi pusat komando. Sensor optik Cyclops serta radar ditingkatkannya masih belum mampu menangkap kehadiran Phönix, tetapi kemungkinan berada di dekatnya. Sepertinya dia berhasil tepat waktu.

Antara Juggernaut dan Phönix, Phönix masih lebih cepat. Dan karena dia mesti mencegatnya sekarang, Shiden khawatir dirinya tidak keburu. Namun meskipun dia tidak bisa melihat Phönix, dia tahu posisinya di mana. Dia tahu Phönix punya badan kuat yang akan hancur jika ditembak selongsong.

Lantas dia perintahkan seluruh unit di bawah komandonya untuk melancarkan tembakan perlindungan. Gadis-gadisnya melepaskan serangan lurus beruntun dan konsisten ke pusat komando dari tempat terakhir mereka menghadapi Phönix. Phönix-nya tidak kelihatan, tapi ia tidak boleh ketahuan di tengah-tengah pengeboman. Dengan mengebom, mereka mencegah Phönix berlapis baja tipis menempuh rute terpendek menuju pusat komando.

Shiden sendiri tancap gas menapaki rute sependek mungkin begitu pengebomannya dimulai, buru-buru memperlambat Phönix sekaligus pergi ke pusat komando tempat Lena berada. Seluruhnya demi mengintersepsi musuh dan menyelamatkan Bagindanya yang bersedia mempertaruhkan nyawa. Kemudian sang Pencabut Nyawa memberi tahu kapan tepatnya Phönix menyerang, dari jauh.

Dan peringatannya pas. Persis di depannya, Shiden tahu. Shiden nyaris sanggup mendengar angin dipotong ketika bilah rantai diayunkan ke bawah. Namun yang lebih penting dari itu …

Aku lebih cepat, dasar brengsek.

Shiden menarik pelatuknya. Senapan laras halus 88 mm yang terpasang di punggung meraung saat menembak. Kendatipun tembakannya lemah tatkala ditembakkan di jarak jauh …. Tembakannya memberi hantaman mantap waktu ditembak dari dekat. Melesat dengan kecepatan 1.600 meter per detik, tembakan gotri bergerak secepat-cepatnya, kekuatannya tidak tanggung-tanggung …

… dan pemandangan yang terjadi di depan matanya telah berubah dan menakutkannya beralih.

  Dinosauria adalah monster baja yang beratnya seratus ton serta dipersenjatai kekuatan tak tertandingi meriam laras halus 155 mm. Kecepatan lajunya sedikit lebih lamban dari Reginleif. Bahkan model paling canggihnya Federasi tidak dapat mengalahkannya satu lawan satu. Hal ini terutama berlaku di medan tempur vulkanik melepuh semacam ini, di mana dinding panas gaib membatasi mobilitas mereka.

Paling buruknya, Dinosauria berbegas menghampiri mereka menggunakan taktik licik namun hati-hati, seakan-akan ia betulan salah satu peti mati alumunium Republik. Dulunya seorang 86—dan sepertinya Penyandang Nama lagi. Dia gampangnya membaca maksud mereka, ditambah lagi punya keuntungan medan serta spesifikasi mesin superior, memberinya keunggulan taktis besar.

Tapi bahkan selagi bertarung, melindungi Alkonost nonkombatan yang dipersiapkan sebagai bom bunuh diri, para Scavenger, dan kini Undertaker tidak bergerak, Raiden dan Theo masih bertempur sembari tersenyim. Lagi pula …

“Kita tidak boleh kalah.”

“Kalau dibiarkan melewati kita sekarang, rasa malunya takkan pernah bisa kita lupakan.”

Maaf. Aku mengandalkan kalian.

Suaranya terdengar putus asa. Itu pertama kalinya mereka mendengar Shin bicara begitu, selama bertahun-tahun mereka mengenalnya. Shin sudah berubah. Dia meninggalkan Sektor 86 dan menemui Handler baik hati dari Republik itu. Dan bila dia ingin melindunginya, maka pilihan membantunya ada pada mereka.

Ujung-ujungnya, mereka hanyalah 86 sepertinya. Mereka yang bertarung bersamanya di medan perang serupa dan kemungkinan besar mati mendahuluinya. Dan artinya mereka tidak bisa menyelamatkan Shin yang menanggung beban membawa orang-orang mati ke tujuan akhir mereka.

Seketika itulah sensasi dingin Sirin—sedingin kulit mayat—bergabung ke Resonansi.

“Seandainya kedua pria baik hati sekalian memperkenankan, saya, Vera, akan membuka jalan untuk Anda. Mohon gunakan untuk jalan.”

Dan sewaktu dia katakan, Sirin itu, Vera, mendorong maju Alkonost-nya. Dia abaikan panasnya geyser yang mereka hindari sejauh ini dan menyerbu Dinosauria, menembakinya selagi maju. Tembakannya dipantulkan lapis baja depan, tidak sanggup menembusnya. Dinosauria memandangnya sekilas saja, bahkan tak repot-repot meluncurkan serangan balik selagi menangani Juggernaut dan Alkonost kombatan lain.

Sesuai penilaian Dinosauria, unit Vera roboh karena kepanasan. Lalu ia merangkak dengan sisa-sisa kekuatan di kakinya, jatuh di atas lubang geiser dan memblokirnya.

Raiden serta Theo dapat mendengar cekikikan—tawa terakhir yang keluar dari bibirnya.

Kokpit Alkonost berada di tengah kaki panjangnya, di bawah badan dan turet. Kemudian lapis baja bagian bawahnya sekarang ini sedang digoreng panas yang jauh, jauh lebih parah dari sekadar meninggalkan luka bakar panas di daging manusia.

Sembari menahan rasa merinding di sekujur tubuhnya, Theo mendorong maju tuas kendali Laughing Fox. Juggernaut-nya mengikuti jalan yang baru saja ditempuh Vera. Temperatur unitnya naik cukup tinggi sampai-sampai memicu alarm, tetapi tidak lebih tinggi dari itu. Sebab dinding panas yang seharusnya menghalangi jalannya telah diblokir Vera.

Dinosauria akhirnya menyadari apa yang terjadi. Dia kalang kabut, tak yakin harus berganti posisi atau menembak, sementara itu regu penembak penahan pimpinan Raiden menghujani tembakan ke Legion, membuatnya sempoyongan di tempat.

Sudah terlambat.

“… maaf aku harus melakukan ini lagi.”

Theo melangkah melewati punggung Alkonost Vera lalu melompat.

Sebetulnya apa perbedaan antara mereka dengannya? Dia harus mengubah apa? Theo belum tahu. Tapi walaupun dia harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan teman-temannya, Theo tidak kuasa membayangkan dirinya beraksi sebagaimana Vera barusan. Dia tidak bisa dan takkan mau melakukannya. Theo tidak ingin mati, dan kematiannya mungkin membuat orang sedih …

Bukan itu yang dia inginkan. Dan bisa jadi cuma itu yang membedakannya dari gadis yang baru saja mati di hadapannya. Sementara waktu, itu perbedaan satu-satunya.

Theo menembak jangkar kawat ke salah satu pilar batu kemudian menaikkannya dengan ditarik kembali. Di tengah udara, dia bidik lapis baja belakang-atas Dinosauria. Kedua senapan mesin yang harusnya berada di sana menghentikan tembakannya sudah hilang, karena sebelumnya sudah Shin hancurkan.

“Entahlah kau dulu bagaimana … tapi kembalilah ke tempat asalmu.”

Theo menarik pelatuknya.

Tembakan berkecepatan tinggi nan cepat mengenai lapis baja hitam Phönix dan merobekya.

Selongsong tank menabrak turet dari atas hingga menembus Dinosauria.

<<––––––––––––––––––––––––––––––!!!>>

Kedua unit Legion mengeluarkan teriakan tak terdengar. Satunya kata-kata mekanis tidak jelas, satunya suara penderitaan akan kematian di masa lalu. Kemudian …

Wujud besar Dinosauria runtuh ke tanah berbatu dan berkabut menghasilkan suara gemuruh keras.

Potongan lapis baja Phönix menyembur ke udara bagaikan percikan darah sesaat jungkir balik jatuh ke tanah. Dia berguling dua kali, tiga kali, dan entah bagaimana sukses bangkit berdiri lagi. Berikutnya, lapis baja palsu meledakkan diri. Palsu itu mengerahkan seluruh energinya untuk serangan bunuh diri alih-alih bergerak, meledakkan sedikit lapis bajanya dalam serangan buta.

Para Juggernaut refleks mundur, lapis baja mereka dihujani logam. Tidak menembus pertahanan mereka, tetapi membuatnya terhuyung-huyung. Dan di momen itu, bayangan hitam kehewan-hewanan berlari menuruni lereng bersalju, menuju selatan.

Merasakan pengeboman di utara jauh dan pertarungan yang terjadi tepat di depannya dengan kemampuannya, Shin akhirnya mendesau lega.

Lena melihat Phönix melarikan diri melalui layar pusat komando.

“Aduh …. Maaf, Kapten Nouzen; dia kabur. Phönix meninggalkan lingkungan pusat komando dan menuju Gunung Dragon Fang.”

“Aku melacaknya, Kolonel Milizé. Dia menuju ke sini, sesuai katamu … barangkali berasumsi jika aku di sana, aku bakalan keluar sekarang.”

Berbeda dari Lena yang menggertakkan gigi frustasi, Shin bereaksi tenang. Boleh jadi karena kemampuannya membantunya mengikuti pergerakan Phönix. Tapi, suara Shin sungguh tidak ada emosinya sampai-sampai serasa songong bagi Lena yang gagal menghabisi musuh.

“Kalau dia mengincarku, itu malah jadi lebih mudah. Skuadron Spearhead akan mencegatnya …. Bagaimana situasimu?”

Lena mengerutkan bibir terhadap pertanyaan itu.

“Baik skuadron Brísingamen dan pusat komando masih utuh …. Tapi Ajudan Rosenfort dan Ajudan Kontrol Ares sama-sama terluka. Nampaknya, nyawa mereka tidak dalam bahaya, namun mereka tak mampu melanjutkan tugas mereka sebagai personel kontrol dan ditarik mundur.”

Mereka terkena peluru nyasar sewaktu Phönix palsu terakhir meledakkan diri. Mereka tidak beruntung diserang potongan-potongan lapis baja selagi mengevakuasi diri dari pusat komando, selagi di tengah jalan ke emplasemen pasukan cadangan. Ternyata, salah satu palsu merayap ke dekat pusat komando.

Lena merasa Shin berusaha sebaik mungkin tidak mendecakkan lidah frustasi. Frederica boleh jadi suka rela, tapi Shin malu membiarkan seorang gadis yang umurnya hanya sedikit lebih tua dari sepuluh tahun menemani mereka ke medan perang.

“… diteirma.”

“Karena posisi pusat komando terungkap, kami pindah ke Vanadis. Mempertimbangkan Ajudan Rosenfort harus mundur dari medan perang, kemampuan kita untuk mengatur dan mengamati medan perang entah bagaimana menurun, tetapi tidak menghalangi kemampuan kita untuk melanjutkan operasi.”

Sesudah mengatakan semua yang wajib dia katakan sebagai komandan operasi kepada Shin yang seorang komandan taktis di lini depan, selanjutnya Lena membahas hal lain. Shin sejujurnya, benar-benar, menyelamatkannya. Itu betul, tapi …

“Kapten Nouzen, mengenai pemberian instruksi menembak kepada Letnan Dua Iida sebelumnya …. Kau tak harus melakukannya. Jangan khawatirkan sisi sini dan fokus saja pada pertarunganmu. Kau tidak perlu melakukan hal sesembrono itu.”

Shin berada di lini depan, dan di tengah-tengah pertarungan melawan Dinosauria. Dia mungkin saja menyerahkan pertempurannya kepada Raiden, Theo, dan anggota regu lainnya agar bisa fokus memberi pengintaian untuk Shiden …. Tapi biar begitu, dia persis di depan musuh. Satu langkah keliru, dia akan terbunuh.

Tapi Lena bisa merasakan Shin merapatkan bibirnya. Dia anehnya terasa tidak senang, menampilkan ekspresi di luar karakternya tak seperti pribadi datar biasanya. Setelahnya dia membuka bibir hendak bicara, tidak berusaha menyembunyikan emosinya.

“Tidak.”

Suara sama yang Lena dengar di Pangkalan Benteng Revich, namun kali ini, rasanya lebih bersikukuh dari sebelumnya. Lena mengerutkan alis.

“Itu perintah, Kapten.”

“Aku menolak.”

“Shin.”

“Aku menolak perintah itu. Memangnya kau berhak mengatakan itu, Lena?”

Lena tersadar, entah kapan, dia telah ditetapkan sebagai satu-satunya target Resonansi Shin. Dan Shin tak memanggil pangkat Lena, yang mana itu penting di tengah operasi … melainkan nama panggilannya.

“Kaulah yang menyuruhku kembali hidup-hidup. Jadi tunggulah aku. Kita tidak bisa menyelesaikan tujuan itu misal tak punya tempat kembali. Jadi ayo kembali … Lena.”

Dan kala itu, Shin dipenuhi sesuatu semacam ketidaktegasan. Seperti kebimbangan. Mirip keraguan …. Tidak. Ditekan emosi lebih kuat, dia terdiam. Dan dengan emosi yang mencekik tenggorokannya, akhirnya Shin mengutarakan kata-kata itu, seolah-olah mengeluarkannya dengan sakit.

“Kumohon jangan tinggalkan aku.”

Kedengarannya seakan Shin memohon kepadanya. Bak anak kecil berjongkok di depan segunung mayat di tengah-tengah medan perang, mengulurkan tangan menuju cahaya yang nyaris tak dapat dia lihat. Seolah-olah mencoba menggenggam tangan ini yang bisa-bisa menghilang kapan pun.

“Aku akan kembali, itu pasti. Jadi jangan tinggalkan aku. Jangan suruh aku untuk tidak melindungimu saat kau dalam bahaya … aku tak ingin kau—kau, dari semua orang—memerintahkanku untuk meninggalkanmu.”

“Shin ….”

“Kau sudah menanyakanku hal ini beberapa kali …. Soal sesuatu yang ingin kulakukan setelah perang berakhir. Kau bilang aku boleh mengharapkan sesuatu, sekalipun tidak bisa menganggap dunia ini indah. Lena, aku …”

Ini kata-kata yang beberapa kali pengen dia ucapkan. Keinginan yang bisa dia ujar di depan kuburan Eugene. Kendati begitu, mengatakannya sekarang sangat membuat Shin kewalahan sampai-sampai penglihatannya membayang.

“Aku mau menunjukkanmu laut. Aku ingin menunjukkanmu hal-hal yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Tempat yang tidak mampu kau lihat kecuali perang berakhir. Jadi saat itu … misal kita selamat, ayo lihat laut sama-sama.”

Inilah yang mau dia katakan selama enam bulan terakhir. Alasannya bertarung—keinginannya. Tetapi mengucapkan kata-kata itu sekarang, membuat harapan itu kepada Lena, menakutkannya.

Menggapai-gapai sesuatu, mengharapkannya. Mendambakannya dari lubuk hatinya, menganggapnya benar-benar berharga, kemudian direnggut begitu saja …. Pemikiran itu menakutinya.

Dia senantiasa takut untuk berharap. Karena apa pun yang dia harapkan atau inginkan telah diambil darinya sebelumnya. Dia belajar dari sana berkali-kali bahwa dia tidak dapat mengharapkan apa-apa. Dan suatu waktu, dia sepenuhnya menyerah untuk berharap. Dia bahkan berhenti memikirkannya.

Menginginkan sesuatu—mengharapkan sesuatu—hanya menimbulkan rasa sakit. Ketakutan akan kehilangan sesuatu yang diinginkannya sedang mencekik tenggorokannya. Kengerian itu mengaburkan penglihatannya.

Tapi Shin masih tidak ingin kehilangannya …. Dia tidak tahan membayangkan Lena direnggut darinya, walaupun penyebabnya adalah Lena sendiri.

Ketakutan dan keegoisannya membuat kepalanya pening. Shin masih tidak mampu menganggap indah dunia. Dia bahkan tidak sanggup membayangkan masa depan seperti apa yang diinginkannya. Dia adalah monster yang sudah menginjak mayat orang lain, dan tiada yang bisa mengubah masa lalu.

Namun seberbeda total bagaimanapun dirinya dengan Lena, walau dia tahu kehadirannya dapat menyakitinya, Shin tetap mengharapkannya. Satu-satunya harapan yang nantinya menjadi keinginannya.

Jadi tolong …

“Itulah hal satu-satunya yang bisa aku harapkan saat ini. Aku belum mampu melihat masa depanku sendiri. Tapi tolonglah … jangan ambil itu dariku.”

Perkataannya membuat Lena kehabisan kata. Itulah kata-kata rentan pertama yang pernah Lena dengar darinya. Lena selalu mengenalnya sebagai orang yang kuat sekali. Shin konstan mendengar ratapan hantu, membawa seluruh rekan-rekan gugurnya tanpa meninggalkan satu pun, lalu bertarung lama sekali sampai mengalahkan kakaknya yang telah bergabung dengan Legion …

Lena yakin dia kuat. Tapi kenyataannya tidak. Faktanya jauh dari itu. Dia lemah, pengecut … rapuh.

Jangan tinggalkan aku.

Dulu Lena gunakan kata-kata sama selagi memohon padanya persis sebelum Shin menyongsong mars kematiannya. Dan itulah kata-kata yang telah lama ingin Shin katakan kepada orang lain. Kepada rekan-rekannya. Kepada kakaknya. Kepada semua yang sudah direbut kematian. Tetapi dia percayakan dirinya mengemban tugas membawa ingatan orang-orang yang sudah tiada, jadi dia tak bisa menuturkan kata-kata itu kepada siapa pun.

Sekalipun, di setiap langkahnya, Shin amat ingin mengatakannya. Jangan tinggalkan aku. Jangan mati lalu meninggalkanku sendirian.

Kami pergi, Mayor.

Sempat menyampaikan kata-kata itu dulu mungkin seperti benang suaka yang begitu tipis untuk digenggam.

“… tentu saja.”

Kalimat itu natural saja terurai keluar dari bibir Lena. Bukannya Shin tak mengandalkannya. Lena sudah begitu lama dipercayakan keinginan Shin. Jadi gadis itu harus menyaksikannya terpenuhi. Dialah yang memberi tahu pencabut nyawa itu bahwa dirinya boleh menginginkan sesuatu. Dia harus menjawab kata-kata itu—kedua harapan Shin yang dipercayakan kepadanya, terlepas dari kejamnya dunia.

“Aku takkan pernah meninggalkanmu. Lagian, kau menungguku, padahal sudah kubilang jangan tinggalkan aku.”

Suara-suara yang pernah Lena dengar serta kejadian yang pernah dilihatnya terbesit dalam benaknya. Suara Shin menangis seusai menembak mati hantu kakaknya di akhir perburuan lima tahun. Kata-kata membingungkan dan asal yang dia ucap sewaktu bertemu kembali tanpa mengenal satu sama lain di ladang bunga bakung merah. Wajahnya selagi berdiri diam, memandangi bukit Sirin hancur.

Lena kira dia mengenalnya, namun kini dia serasa sangat … lemah dan rapuh, seolah-olah bisa hancur kapan saja.

Bukan berarti Shin punya kekuatan untuk bertahan hidup dalam pertempuran. Dia hanya berjuang sekuat tenaga untuk tetap hidup, bersandar pada harga diri yang memotivasinya untuk bertarung sampai akhir—setitik kehormatan tersisa yang dia andalkan—sebagai tongkat penopangnya. Dia tak kebal luka. Dia cuma terlalu terluka sampai-sampai tidak ada yang sanggup menyakitinya lagi.

Dia sungguh-sungguh tidak punya apa pun untuk mendukung dirinya selain harga diri tersebut.

Jadi Lena tidak kuasa membayangkan dirinya menyakitinya lagi, menjadi tanggungan lain yang ‘kan membebaninya.

“Aku takkan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu menunggu. Aku janji. Jadi bawalah aku bersamamu. Saat perang ini berakhir, tunjukkan aku lautan dan pemandangan yang hanya aku seorang bisa nikmati jika kita menang.”

Karena Lena pengen mendukungnya. Dia ingin Shin mengandalkannya. Dia takkan membiarkan Shin memanggul seluruh bebannya sendirian. Dia tak akan mati kemudian meninggalkannya. Karenanya …

“Karena itu kau harus kembali. Apa pun yang terjadi. Kau tidak boleh meninggalkanku juga. Kau betul-betul … harus kembali.”

Dia tegasnya menyampaikan kata-kata itu selanjutnya menarik napas.

“Shin.”

Pria itu tampaknya mau mengatakan sesuatu. Lena merasa dirinya membuka mulut mau bicara, kemudian berkedip kaget.

“Terima kasih.” kata Lena.

Makasih sudah mengandalkanku …. Biarpun aku tidak bisa diandalkan.

Mereka telah memukul mundur Phönix, namun pusat komando Divisi Penyerang dan pasukan pertahanan yang mengelilinginya masih dalam kekalutan. Lini pertahanan mereka telah terbuka lebar. Phönix barangkali cuma satu unit, tetapi masih dapat menimbulkan kekacauan besar.

Legion takkan pernah membiarkan kesempatan semacam itu berlalu begitu saja.

Unit Komandan Tertinggi masih memerintahkan Legion yang menjaga lini depan untuk tetap berwaspada. Berjaga-jaga akan pergerakan militer Kerajaan Bersatu dan tetap was-was. Namun prosesor sentral Legion diatur untuk memprioritaskan target yang menyerang mereka. Otak Mesin Mikro Cair mereka dirancang menghilangkan semua elemen musuh. Kemudian pengeboman yang ditembakkan Kerajaan Bersatu sebelumnya, tidak salah lagi, sebuah serangan kepada mereka. Sebuah ancaman.

Ancaman yang harus dihilangkan apa pun caranya.

Reaksi itu namanya ketakutan. Ketakutan yang ditanggung oleh pengalaman Gembala tertentu, karena ditembak dari teramat-amat jauh oleh Legion di Sektor 86. Inilah sesuatu yang tidak disadari oleh Gembala tersebut.

Sebagian unit meninggalkan lini pertempuran. Mereka mematuhi perintah komandan Gembala mereka tuk menghabisi artileri musuh. Tetapi seketika mereka berangkat, pertarungan tiba-tiba terjadi di garis belakang, menyebabkan bagian belakang menjadi berantakan—di salah satu sudut pasukan cadangan Kerajaan bersatu.

Beberapa Feldreß yang dikirim tuk berpatroli mendapati mereka. Feldreß- Feldreß ini adalah tipe yang belum pernah mereka lihat sebelumnya di medan perang Kerajaan bersatu; Feldreß-nya berwarna putih mulus dan berjalan dengan empat kaki tipis. Feldreß- Feldreß itu terlihat semacam mayat-mayat kerangka berkeliaran mencari kepala hilang mereka.

Sekarang ini, Gembala bahkan tak berpikir mereka kelihatan akrab.

Sekelompok Domba Hitam dan Anjing Gembala dipimpin Gembala Dinosauria menyerbu Feldreß- Feldreß tersebut serta unit di belakang mereka.

Catatan Kaki:

  1. Ingat paragraf sebelumnya yang bilang para Amethysta ga punya etika kalau soal sesuatu yang ditelitinya serta, manusia suka dipasangin senjata? NAH ITU, Shin intinya nanya gini, Kita ga bakal kena senjata makan tuan bibi lu yang ga punya etika dan sapa tau masang senjata ke hewan, kan? Dan hewannya ini Ayam jantan, perumpamaan aja.
  2. Daisy Cutter adalah tipe sekring yang didesain meledakkan bom di udara atau bom di atas permukaan tanah. Sekringnya terpasang di hidung bom, akan menyulut ledakan bila menyentuh tanah ataupun objek solid apa pun.
  3. FUCK! Ini mah bukan LN lagi tapi HN, Hard Novel, bisa ae ini penulisnya ngambil kutipan dari buku Divine Comedy, buku itu tuh isinya puisi naratif panjang hasil karya Dante Alighieri, dibuat pada tahun 1308 dan selesai 1320, kemudian beliau tutup usia di tahun 1321.
  4. Karya Divine Comedy dibagi menjadi tiga bagian, dan Inferno adalah bagian pertama.
  5. Kenapa ada gerbang Neraka di situ? Karena bukunya merupakan Visiun imajinatif sang penyair tentang kehidupan setelah kematian merepresentasikan pandangan dunia abad pertengahan sebagaimana yang dikembangkan dalam Gereja Barat pada abad ke-14. Jadi ya bakalan banyak sesuatu mengenai akhirat dalam Divine Comedy.
  6. Gua udah riset dan baca dikit puisinya, men kalau pen bener-bener pahamin harus baca jadi awal, jadi prosesnya gini: Pahamin konteks kalimatnya dalam buku -> Pahamin arti kalimatnya -> Sesuaikan dalam konteks situasi novel 86 -> Terjemahin. Tapi untuk melakukannya gua butuh berjam-jam dan gada waktu, nih gua kasih terjemahannya: THROUGH me the way is to the city dolent (Canto 3). Canto (bagian) ini dimulai dengan diulang-ulangnya suara dentingan bel upacara pemakaman yang berbunyi: dolente … dolore! Itu tuh bahasa latin, yang artinya gua belum nemu, namun dolent yang berada di kalimat di atas sendiri artinya sorrowful (kesedihan). Moga lu semua paham, ehe.
  7. Rime ice terbentuk ketika tetesan cairan air yang sangat dingin membeku ke permukaan. Ahli meteorologi membedakan antara tiga tipe dasar pembentukan es pada permukaan vertikal dan horizontal dengan pengendapan air yang sangat dingin droplet. Ada juga formasi perantara.
  8. Debu berlian adalah kabut es dekat permukaan. Ini adalah sebuah fenomena meteorologi di mana kristal es mikroskopik terbentuk dari uap air yang menyublim di udara. Fenomena ini hanya dapat terjadi pada suhu atau di bawah dynamic arrest air pada titik -39 °C, jauh lebih rendah dari titik bekunya pada 0 °C. Dapat terjadi dalam bentuk cair di bawah titik bekunya dikenal sebagai pendinginan super. Debu berlian biasanya terjadi di daerah kutub (Antartika). Kabut es dapat menyebabkan berbagai tipe halo.
  9. Aurora atau cahaya kutub adalah fenomena alam yang menghasilkan pancaran cahaya yang menyala-nyala dan menari-nari di langit malam pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh Matahari (angin surya).
  10. Di dunia, tanaman Impatiens balsamina Linn. dikenal sebagai bunga balsam. Di Indonesia lebih dikenal dengan nama bunga pacar air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *