Share this post on:

Kehidupan Hanyalah

Bayangan Berjalan.

Penerjemah: Kain[E] Salvation

“Selanjutnya, titik 183-570. Musuh diperkirakan sebesar satu peleton Ameise.”

“Unit dikonfirmasi melalui penglihatan. Satu peleton Ameise …. Termasuk tiga target.”

“Diterima. Gunslinger, melepaskan tembakan.”

   

   

Di perbatasan Kerajaan Bersatu lama, di wilayah Legion sepanjang wilayah selatan pegunungan Dragon Corpse, persiapan untuk serangan berikutnya tengah dilangsungkan. Detasemen lapis baja yang terdiri dari unit Legion kelas berat dipusatkan di lini depan, sementara persiapan serangan udara dibuat di belakang mereka.

Di cakrawala antara langit perak dan pemandangan salju putih menyilaukan, tiga Zentaur dan satu peleton Ameise sedang merunduk di lereng curam menghadap barat selagi salju menumpuk di atasnya. Perintah mereka adalah tetap siaga. Mesin-mesin ini tidak punya konsep bosan dan tetap diam—tanpa ketidaksenangan atau jenuh—sembari menunggu perintah untuk menyerang.

Seketika itulah dentang mendadak sebongkah logam berkecepatan dan kepadatan tinggi menembus lapis baja terdengar di udara lalu suaranya diserap salju. Salah satu Zentaur jatuh tanpa daya di tanah, ditembak inti pusatnya.

Ameise terdekat memutar sensor komposit mereka menghadap Zentaur yang telah jatuh bak tali bonekanya terpotong. Dan ketika jatuh, dua unit Zentaur tersisa masing-masingnya ditembaki. Peluru kecepatan tinggi tembus lapis baja itu melesat dengan kecepatan awal 1600 meter per detik—lebih cepat dari gema api tembakannya.

   

   

Tatkala Ameise mengakui nasib Zentaur, mereka tidak sempat menyampaikan berita serangan musuh ke unit Komandan Tertinggi mereka. Ameise benar-benar tidak berdaya melawan tembakan peluru 88 mm dengan akurasi laser, ditembakkan secepat operasi mekanisme pengisian otomatis mereka.

“Penekanan target dan unit periferal selesai, Tuan Pencabut Nyawa.”

“Diterima. Kurena, ganti posisi. Targetmu selanjutnya adalah pengecoh. Ludmilla, titik 202-358. Diduga unit lapis baja yang sebagian besarnya terdiri dari Löwe. Harap konfirmasi.”

“Tolong tunggu sebentar. Kompi Malinovka, berganti posisi. Pindah ke titik—”

Selagi mendengarkan percakapan Shin dengan komandan Kompi Malinovka—Sirin bernama Ludmilla—Kurena membangkitkan Gunslinger dari posisi merunduknya. Dia berada di tengah hutan pohon konifer hitam, puncaknya bagaikan tombak yang dihunuskan ke langit. Selayaknya duri di punggung naga.

Salju lebat yang berjatuhan dari cabang-cabang terdekat selagi tolak balik tembakannya mengguncang udara, tergelincir jatuh dari badan unitnya. Salju takkan meleleh pada suhu ini, alhasil putihnya bertahan dan seperti tepung. Langit di atas hutan zona perang ini yang relatif dekat wilayah Legion, memang tertutup lapisan perak. Nampaknya di belakang Eintagsfliege yang membentuk tudung keperakan ini adalah unit komandan mereka, Rabe.

Jadi agar menyembunyikan siluetnya dari mereka, lapis baja Juggernaut Kurena diwarnai putih cat kamuflase. Namun tetap saja, begitu dia menembak, gemuruh turet 88 mm membocorkan posisinya. Karenanya, sebelum pengintai udara menyebalkan itu mendekat, Kurena menggunakan cabang-cabang tebal sebagai pelindung untuk secara cepat dan hati-hati ganti posisi Gunslinger.

Shin yang juga mengawasi zona perang serta Alkonost yang bertugas mengonfirmasi dan memulihkan target mereka juga mengulang siklus berlindung-ganti posisi. Pasukan penyergapan bertubi-tubi ini—yang terdiri dari skuadron Spearhead serta kompi tunggal Alkonost—relatif kecil, jadi mereka mesti menjalankan misi sambil menghindari pertarungan langsung sesering mungkin.

“Kerja bagus, Nona Gunslinger. Darya, mundur.”

Dia mendapat transmisi lewat Resonansi Sensorik dari Sirin yang bertugas memimpin pengintaian di depan—Darya. Rambutnya merah jambu dikepang dan bahkan kelihatan lebih muda dari Sirin-Sirin lain yang dibuat mirip gadis muda.

Mereka bekerja sama di Pangkalan Benteng Revich hingga sekarang setelah pindah ke pangkalan cadangan. Berkat operasi gabungan berkali-kali mereka, Kurena dan Prosesor lain terbiasa berkooperasi. Keseluruhan pasukan yang diatur berpartisipasi dalam operasi Gunung Dragon Fang lebih kecil dari sebelumnya, namun pasukan invasinya sendiri tidak beda jauh dibanding draf asli rencana.

Biar begitu, Kurena masih belum terbiasa berkolaborasi dengan gadis-gadis ini yang menganggap diri mereka suatu eksistensi barang bisa dibuang.

“Tapi sesungguhnya, lebih baik menyerahkan tugas ini kepada kami. Ini barangkali zona perang, tapi kita masih beroperasi di dekat wilayah Legion. Misi ini terlalu bahagia bagi kehidupan manusia.”

“Bukan berarti … kalian bisa beraksi seperti ini, kan?”

Kurena hampir menyebut mereka barang bisa dibuang tapi tepat waktu menahan dirinya. Dia tak mau mengatakannya. Itu kata-kata sama yang diutarakan babi putih kepada 86. Tapi Sirin berbeda dari 86.

Kami tak seperti makhluk-makhluk ini. Kami barangkali mirip, tapi tidak seperti mereka.

“… itu mungkin benar. Sejauh ini kami ahli pertempuran jarak dekat, jadi kami tak membanggakan kehebatan tembakan yang Anda lancarkan, Nona Gunslinger. Tapi jika Anda berkenan meminjamkan kami data penembakan dan Juggernaut Anda supaya bisa kami analisis tekniknya. Dan begitu kami mendapat pengalaman tempur cukup ….”

Kurena mengerutkan bibirnya rapat-rapat terhadap saran itu.

“Mana mungkin ….”

Aku cuma punya ini. Medan perang inilah satu-satunya tempat aku diizinkan berada di sisi Shin. Aku ingin dia membawaku pulang bersamanya di hari kematianku dalam peperangan. Sejak hari itu, aku dan Shin tidak lagi setara. Aku bukan lagi seorang penyelamat; aku jadi seseorang yang ingin diselamatkan. Aku tidak mampu mendukung Shin …. Dia takkan mengandalkanku. Bahkan sekarang, selagi dia disiksa sesuatu. Jadi sekurang-kurangnya, ini …. Mana mungkin ….

“… kuserahkan kepada siapa pun.”

“Diterima. Skuadron Spearhead dan kompi Malinovka, mundur dari area pertempuran.”

Shin mendesah saat perintah mundur Lena datang dari pusat komando pangkalan cadangan. Seperti biasa, gambar dunia putih diproyeksikan ke layar optik. Sudah setengah bulan dia membuat keputusan itu. sebagian dirinya merasa telah melarikan diri dari Lena. Dia pribadi menyibukkan diri dengan persiapan operasi, ngumpet dalam pertempuran dan tugas sehari-hari yang menyertainya. Seluruhnya demi upaya untuk menunda tugas yang dia sadari harus dilakukannya.

Shin perlu melakukan sesuatu yang sejauh ini tidak sanggup dia perbuat; dia harus membayangkan masa depannya sendiri.

Sekalipun dia pahami, setengah bulan telah berlalu, dan dia masih tidak tahu apa yang semestinya dilakukan. Dia tahu sedang berdiri diam tidak melakukan apa-apa, namun tidak bisa bergerak.

Lagian tidak punya tujuan untuk diperjuangkan. Tak ingin melakukan apa-apa. Tiada tempat ingin dikunjunginya, tidak ada visi yang ingin diwujudkannya. Walaupun dia tanpa henti menanyakan pertanyaan ini, dia tak bisa dapat jawaban apa-apa. Dia hanya punya kekosongan yang dia rasakan setiap saat.

Satu-satunya hal yang dia sungguh rasakan adalah perasaan mendesak membara dalam hatinya. Begitu dia sadari, emosinya melonjak naik memaksanya melakukan sesuatu.

“Kau boleh mengharapkannya.”

Shin membisikkan kata-kata itu lirih sekali hingga tidak ditangkap Para-RAID dan nirkabelnya dimatikan. Lena bilang dia ingin kebahagiaan untuk semua orang. Namun itu ….

“Apa yang harus dilakukan orang-orang yang tidak mengharapkan apa pun …?” Apa yang harus diperbuat orang-orang yang tidak bisa menjawab doanya …?

Kelihatannya, gambar ladang bunga di atas dinding ruang makan adalah kesamaan seluruh pangkalan lini depan Kerajaan Bersatu.

“Serius deh, kok bisa kau kepikiran operasi-operasi ini?”

Pangkalan cadangan di front kedua Kerajaan Bersatu adalah pos terkini 86. Dikepung hutan dan pegunungan yang dialiri sungai besar. Berbeda dari kesan tandus yang diacu kata negeri utara, Kerajaan Bersatu diberkahi keindahan alam. Ada banyak bahan alami untuk dimasak.

Raiden bicara dengan mulut penuh sup ikan yang direbut pelan-pelan untuk mengeluarkan cita rasa penuh bahan-bahannya …. Barangkali rasanya sedikit kelewat beraroma bagi orang yang tidak terbiasa memakannya. Lena tersenyum.

“Dulu saat aku memimpin skuadron Brísingamen dan selama serangan skala besar, aku harus bertarung mengerahkan segalanya. Meski, kuakui kali ini aku mengambil sedikit … yah, banyak waktu tidur pengembang sistem.”

Lena mencoba tak terlalu memikirkan objek yang dikirim Vika selain barang-barang yang hendak mereka gunakan.

Theo sembari memegang garpu, menambahkan:

“Ngomong-ngomong, kudengar Anju dan Kurena akan dipisahkan dari unit lain selama operasi Gunung Dragon Fang. Begitu juga pasukan penembak runduk dan pasukan penekan di skuadron-skuadron lain.”

 “Aku berterus terang tidak bisa menunjukkan kelayakanku dalam benteng musuh,” ucap Anju.

“Aku cukup yakin bisa tepat sasaran bahkan di tempat sempit, sih,” kata Kurena menggerutu.

Raiden mendesau putus asa.

“Itulah alasannya kami menggunakan keahlianmu untuk menghancurkan unit musuh.”

“Kali ini, Kerajaan Bersatu tidak dapat meminjamkan pasukan apa pun untuk melindungi kita selagi kita menyerang …. Meminta kalian berdua menahan musuh dari belakang saat kami masuk akan lebih membantu daripada ikut.”

Setelah mendengar kata-kata itu dari Shin, Kurena berseri-seri bangga. “Betul! Serahkan saja padaku!”

“… ya ampun, gadis, pikiranmu ini pendek ….” tukas Frederica dengan jengkel. “Kuharap kau tidak jatuh ke pelukan orang hina.”

Maaf?!”

Sesaat Kurena loncat berdiri, menjatuhkan kursinya dengan bunyi gedebuk, Shin, Raiden, serta Theo masing-masing mulai mengoper beri jamur asin unik Kerajaan Bersatu ke nampan Frederica.

“Aaah! Apa yang mau kau lakukan?!”

“Kali ini kau keterlaluan, Frederica,” ucap lembut Anju.

“Hmph! Lihat itu? Shin, Raiden, dan Theo ada di pihakku!”

Kurena membusungkan dada. Bertentangan kata-kata kekanakannya, gerakannya menonjolkan lekuk dewasanya yang membuat Frederica menggeram murka. Mendengar percakapan itu, Lena terkekeh. Semua 86 tampak depresi semenjak pertempuran di pangkalan Revich, tapi nampaknya mereka mulai pulih.

Sebenarnya, tidak ada yang betul-betul diselesaikan. Namun mereka rupanya berubah sejak datang ke pangkalan lini depan ini—ke medan perang. Shin dan para Prosesor lain kembali cerianya dan kecakapan tempurnya. Mereka mungkin masih muda berusia pertengahan hingga akhir masa remaja, tetapi mereka tetaplah 86—para pejuang yang selamat dari Sektor 86 bertahun-tahun. Mampu menyesuaikan pola pikir dengan cepat adalah keterampilan alami yang kudu mereka kembangkan.

“Dan bukan cuma kalian berdua. Garda belakang dan unit gabungan Vanadis akan tinggal ….”

Suara riuh, “Benar, Pencabut Nyawa kecil!” menyela Raiden yang menoleh ke meja terdekatnya. Shin mengabaikan teriakan itu. Lena berpaling menghadap Shin tapi dirinya tidak balas menatap. Terpikir olehnya semenjak datang ke pangkalan ini, Shin belum bicara dengannya di luar masalah pekerjaan. Pria itu menunduk dalam renungnya, pura-pura tidak sadar mata wanita itu tertuju kepadanya.

Kapan kali terakhir mereka bicara? Ah, iya, setelah konferensi besar, di taman terang dan bersalju itu. Yang sesaat itu, Shin menunjukkannya ekspresi memandang rendah … tetapi kebingungan bak anak hilang.

Itu apa …?

“Orang-orang Shiden, ya …? Aku tahu pasukan utama Kerajaan Bersatu cukup parah, tapi mereka sudah paskah untuk mempertahankan markas besar?”

“Hei, Pencabut Nyawa Kecil! Jangan abaikan aku! Aku tahu kau bisa mendengarku!”

“Tidak usah mengulangnya. Aku bisa mendengarmu baik-baik. Duduk manis dan jadi anjing penjaga baik, kek biasanya.”

“Ahahahaha! Akhirnya kau mengakuiku, ya?! Jangan khawatir. Unitku akan menjaga Baginda. Tidak sepertimu, Pencabut Nyawa kecil!”

Mereka berdua sepertinya memulai argumen riuh tidak berfaedah. Melihat mereka berdua bertengkar membuat bibir Lena tersenyum dan mengembalikan kecemasan mengganggu itu ke dalam pikirannya.

Setidaknya, sementara.

    

   

Fungsi utama ruangan itu adalah kantor milik anggota keluarga kerajaan, tetapi masih berfungsi sebagai markas lini depan. Sesaat Lerche memasuki ruangan yang jauh lebih suram daripada ruangan lain di istana, dia mendapati tuannya masih menatap dokumen elektronik holografik yang melayang di udara.

“Paduka, pangkalan tidak lama lagi akan memadamkan lampu. Anda harus bersiap tidur …. Atau, saya yakin Anda mesti istrirahat dahulu. Saya akan menungkan Anda teh.”

“Terima kasih …. Tapi sebelum itu …. Hei.”

Melepas kacamata yang dia kenakan untuk pekerjaan kantoran, tuannya diam-diam memanggil namanya.

“Lerche.”

Bicara dengan nada kasual, namun Lerche menutup bibirnya. Sirin tidak dilengkapi indra apa-apa selain pendengaran dan penglihatan juga tidak ada fungsi pernapasan atau pencernaan. Tetapi satu-satunya pengecualian adalah kemampuan mereka mengubah ekspresi wajah.

Mata ungu dingin Vika menatapnya selagi Lerche berdiri diam di pintu kantor. Lerche pikir dia mengerti mengapa orang-orang yang berusaha mengumpat Vika memanggilnya ular. Ketika dia menatapnya seperti itu, rasanya sesuatu yang sepenuhnya bukan manusia mengunci pandangannya. Ular hitam berdarah dingin dan menawan. Cara mata ungu Imperial itu melotot padanya, seakan-akan melihat jiwanya, memang menakutkan.

“Apa yang kau katakan kepada Nouzen selama operasi terakhir?” “… tidak ada yang spesial.”

“Bohong. Dia menghindarimu sejak penyerangan terakhir. Dan dia tidak rentan-rentan amat sampai menjaga jarak dari kalian semua karena kalian itu burung kematian atau boneka mekanis. Artinya dia tidak menghindari para Sirin; dia menghindarimu. Dan penyebabnya pasti sesuatu yang kau katakan. Apa aku benar?”

Ekspresi Lerche menegang. Pertanyaan yang datangnya dari pria yang memberikan kesadarannya dan tujuannya. Lerche harus menjawab. Sebagai ciptaannya, sebagai orang yang mengakuinya sebagai pedangnya, dia tidak boleh menolak. Namun ….

“Paduka …. Bahkan saya punya kata-kata yang ingin saya simpan sendiri.”

Aku—Sirin tunggal bernama Lerche ini—telah gagal menjadi gadis bernama Lerchenlied. Meskipun aku dibuat dari jenazah beliau, diproduksi dengan harapan menciptakan beliau kembali, aku hanyalah wadah tak berguna yang gagal menangkap esensi beliau.

Namun terlepas dari itu Vika masih membiarkan dirinya tetap di sisinya sebagai pengawal personal, Lerche tidak boleh memberi tahu Vika apa yang dia beri tahu kepada Shin. Pernyataannya sebagai seseorang yang tidak hidup lagi, dia takkan pernah bisa mencapai kebahagiaan bersama orang lain … Artinya selama Vika berada di sisinya, Vika takkan menemukan kegembiraan.

Cadangan jaringan saraf dan kepribadian kuasi Sirin disimpan dalam pabrik produksi. Walaupun Sirin dihancuran dalam pertempuran, mereka bisa mudah diproduksi lagi. Tetapi Lerche tidak demikian. Struktur otak dan kepribadian kuasinya tidak bisa diproduksi. Dia tak punya cadangan—satu-satunya salinan pikiran dan kepribadian Lerche hanya berada dalam tengkoraknya.

Lerche … adalah wadah Lerchenlied satu-satunya.

Namun ini tidak disebabkan batasan teknis apa pun. Itu yang diinginkan Vika. Lerchenlied bersedia menyerahkan jenazahnya kepada Vika untuk menjadi Sirin, tetapi itu dikarenakan keinginan tuannya, Vika. Setidaknya itulah yang dipercayai Vika. Lantas ketika menyangkut Lerchenlied seorang, Vika yakin kebangkitannya haruslah satu kali saja. Bila mana Lerche sekarnag ini hancur, Vika akan membebaskan jiwanya.

Alhasil dia tidak boleh memberi tahu Vika kalau Lerche menyebut dirinya palsu yang takkan membahagiakan siapa-siapa padahal Vika sangat menyayangi Lerchenlied. Takkan pernah.

Vika mendengus.

“Aku tahu itu. Tidak pernah aku masukkan arahan untuk selalu menuruti perintahku saat aku pertama kali memprogrammu, tahu …? Aku bertanya padamu terlepas dari itu. Kau memberitahunya apa?”

Vika tak memerintahkannya untuk menjawab. Dia memintanya menjawab.

Lerche mengerutkan wajah sedih. Seluruh Sirin diberi kemampuan mengubah ekspresi wajah mereka, kendatipun senjata. Mereka diberikan wajah, suara, mata, dan kulit manusia. Sejujurnya, fitur-fitur ini tak penting untuk pertempuran dan cuma untuk menurunkan tingkat produksi. Dan biar begitu, telah dilakukan penelitian untuk memproduksi fitur tersebut menggunakan bahan buatan.

Dasar konsep Sirin adalah tubuh mekanis yang dilahirkan dari keinginan Vika sebagai seorang anak yang ingin menciptakan wadah hidup baru buat ibu meninggalnya. Ide itu diperkuat ke dalam pertempuran dan disederhanakan untuk tujuan produksi massal.

Dan sekalipun mereka mesin tempur produksi massal …. Walaupun mereka tiruan terbatas sosok manusia asli …. Mereka masihlah boneka yang menjadi ibu meninggalnya dan gadis yang dicintainya. Boneka-boneka yang bisa jadi manusia.

Tentunya sebagai pencipta, Vika tak ingin mengirim mereka ke medan perang dan diperlakukan bagaikan suku cadang. Jadi teganya dia menolak menjawab padahal Vika sudah memberi banyak sekali kasih sayang kepada mereka? Dia harus menjawab. Walau jawaban itu akan terus menyakitinya.

“… sesuai keinginan Anda, Paduka.”

   

   

“Kurasa masuk akal selama setengah bulan kita ditempatkan di sini, kita mengumpulkan banyak sekali.”

Kru pemeliharaan Reginleif Divisi Penyerang 86 termasuk sejumlah besar staf servis 86. Sersan Guren Akino dan Kopral Touka Keisha yang bertugas menservis Undertaker, adalah dua contohnya.

“Maksudku, sulit karena Legion tidak ingin kita menggunakan kembali atau mendaur ulang sisa-sisa mereka. Terutama soal tipe kombatan seperti Löwe. Mereka memanggang prosesor sentral bersama fungsi lain untuk melindungi data rahasia. Tetapi karena barang-barang ini lebih dari pendukung logistik, hanya prosesor sentral yang menggoreng diri sendiri …. Jadi teorinya, kita harusnya bisa menggabungkan sesuatu dengan mendaur ulang sisa-sisa mereka.”

Sisa-sisa unit Legion hancur berserakan di hanggar tidak terpakai. Guren bicara pada Shin yang muncul untuk laporan status selagi ibu jarinya menunjuk reruntuhan. Dia adalah pria jangkung berambut kemerahan yang luntur gara-gara paparan sinar matahari, beserta sepasang mata biru berkilat sinis.

Touka adalah Sapphira berdarah murni dengan rambut emas tergerai yang kelihatan beda sendiri dari seluruh penampilan kasar kru pemeliharaan. Selagi bicara, wajah cantik-jelitanya tersenyum.

“Tapi pada dasarnya, ini teknologi yang sudah digunakan semenjak sebelum peperangan. Bahkan Federasi menggunakannya, jadi kurasa Legion tak peduli-peduli amat kita memilikinya. Kita terbantu saat operasi semacam ini, sih. Tidak wajib repot-repot membuatnya dari awal.”

Mereka berdua adalah bagian kru pemeliharaan yang dulunya ditempatkan di pangkalan sama sebagaimana Shin di Sektor 86. Kala itu, Shin konstan menghancurkan Juggernaut-nya, alhasil dia kudu sering-sering mendatangi mereka untuk servis. Karena itu, mereka mengingat Shin dari bertahun-tahun lalu.

“Tapi yah, tidak kusangka kau jadi kapten. Tidak disangka cebol kecil dulu itu sudah tumbuh jadi pria ini.”

… tetap saja, mereka sejajar selama tahun pertama Shin masuk militer. Diperlakukan seperti ini seakan masih anak-anak, itu menjengkelkan. Guren nyengir melihat Shin yang menatapnya dengan bisu. Di senyumnya ada pahit sedikit.

“Tapi kau cuma besar doang, ya? Masih menghancurkan Reginleif sesering menghancurkan Juggernaut dulu. Soal itu, kau belum berubah sedikit pun.”

Shin berkedip beberapa kali mendengar pernyataannya.

“… belum?”

Dia berada di pangkalan sama dengan Guren tujuh tahun lalu. Dulu saat masih percaya Rei yang mencoba membunuhnya adalah salahnya. Dan waktu itu dia yakin suatu tempat dalam hatinya, rekan-rekannya yang senantiasa mati dan meninggalkannya … entah bagaimana itu salahnya. Sebenarnya mereka saja yang terus-terusan dikirim ke medan perang paling berbahaya.

Namun sejak itu, dia sudah dewasa. Suaranya berubah. Dia menemukan beberapa rekan yang hidup melalui pertempuran bersamanya, dan Shin pikir entah bagaimana dia sudah berubah. Dia percaya itu. Tapi ….

Dia belum berubah? Semenjak hari-hari itu? Sungguh?

Guren tersenyum, tanpa menyadari keraguan yang muncul dalam diri Shin.

“Iya. Kau sedikit lebih kuat dari sebelumnya, dan terlihat lebih bisa diandalkan …. Namun caramu terjun ke bahaya itu sama saja. Caramu bertarung selalu membuatku bertanya-tanya kau ini mau mati atau tidak.”

Bahkan sewaktu meninggalkan hanggar, Shin masih terbebani perkataan Guren. Touka yang berdiri di samping mereka, nyengir-nyengir tetapi tak menyangkal kata-kata Guren.

Benarkah dia belum berubah? Tidak dalam dua minggu terakhir, karena dia sadar perlu berubah …. Namun semenjak Sektor 86? Benarkah?

“Shin.”

Koridor pangkalan Federasi Bersatu selalu rumit, seolah-olah dibentuk mengikuti semacam labirin. Sesampainya di persimpangan koridor, Shin berhenti kemudian menatap orang yang memanggilnya: Kurena.

Sebelum sadar siapa dia, Shin mengerutkan alis bingung lalu bertanya:

“… penampilanmu kenapa?”

“Huh …? Ah!”

Kurena melirik pakaiannya dan tiba-tiba merona. Walau begitu, Shin tidak tahu apa yang membuat Kurena malu. Jaket seragam Kurena dilepas dan menutupi lengannya, selain itu dasi blusnya tidak diikat. Shin pribadi tidak terlalu peduli tapi masih harus bertanya karena teknisnya itu pelanggaran peraturan militer.

“Ini, err, ah …. Bukan apa-apa!”

Kurena entah kenapa bingung nian tentang ini. Selagi mengayun-ayun lengannya bergerak tanpa arti, Shin dengan mudahnya menyadari dari penglihatan kinetiknya kalau salah satu tangan Kurena sedang memegang kalung leher perak keunguan.

… kalau dipikir-pikir, Kurena sama Anju dijadwalkan memeriksa semacam perlengkapan tipe pendukung untuk operasi mendatang. Tidak tahu karena apa, tak ada yang mau menjelaskan perlengkapan macam apa itu. Frederica, Lena, dan anehnya bahkan Vika tidak mau membicarakannya di depan Shin. Shin pernah bertanya Marcel apa perlengkapannya, tapi dia membisu kaku dan ekspresinya sangat pucat.

Entah bagaimana setelah tenang kembali, Kurena melanjutkan percakapan.

“Lupakan itu. Anu …. Hei, Shin.”

Mata emasnya menatap.

“Apa kau, seperti … panik sekarang?”

“…”

Shin menyipitkan satu matanya.

… sial. Aku berusaha menyembunyikannya agar tak seorang pun … agar Lena tidak sadar. Aku tidak mau itu memengaruhi cara mereka memandangku.

Hatinya berat karena cemas, Kurena melihat Shin yang cemberut ibarat luka terbukanya disentuh. Wajah Shin sepertinya nampak begini gara-gara Kurena tahu dia tengah memperjuangkan sesuatu. Shin tidak boleh membuat seorang pun—yakni Kurena—merisaukannya.

Dia selalu … menanggapku sebagai adik perempuan merepotkan, bukan? “… maaf. Apa itu mengganggumu?” tanya Shin.

“Tidak, tidak, tak apa. Bukan itu maksudku. Aku hanya mau kasih tahu sesuatu.”

Kapan Kurena sadar Shin terlihat segelisah apa? Itu di saat mereka datang ke pangkalan Kerajaan Bersatu ini selama dua minggu pelatihan mereka untuk serangan mendatang. Gejolak emosinya adalah seketika Kurena menghabiskan sebagian besar waktunya bersama Shin. Saat itulah ketika dia lebih dekat dengannya daripada Lena, dan membantunya adalah satu-satunya hal yang dia bisa—sebagai seorang penembak runduk.

Dia tahu Shin sedang gundah gulana. Mencoba pergi ke suatu tempat jauh, suatu tempat yang bukan di sini. Seolah-olah sesuatu mendesaknya buru-buru pergi, kendati Shin sendiri nampaknya tidak tahu tempat itu di mana. Jadi dia tidak ke mana-mana. Dia terjebak di tempat, dan kurangnya kemajuan itu malah menambah kepanikannya.

Terlepas dari fakta dirinya tidak tahu mesti pergi ke mana, Shin dari awal takkan pergi ke manapun.

“Err … misalkan kau sulit berubah, kau tidak perlu memaksakan diri untuk berubah.”

Sejenak, mata Shin membelalak sedikit. Kurena menatap langsung dirinya seraya bilang:

“Sejak kita meninggalkan Sektor 86 dan datang ke Federasi, semua orang menyuruh kita untuk tidak jadi diri sendiri. Tapi kau tahu? Kita sampai sejauh ini karena menjadi diri sendiri, jadi tidak apalah kalau kita tetap seperti ini.

Dan saat mengatakannya, Kurena sadar: Yang dia coba katakan bukanlah, Kau tidak perlu berubah. Melainkan, Tolong jangan berubah. Karena jika mereka berhenti menjadi 86 dan menjadi sesuatu lain ….

Kau memilih berada di tempat lain yang bukan medan perang …. Satu-satunya tempat aku bisa bersamamu.

“Jadi kupikir kau tidak perlu mencoba berubah kalau tidak mau. Tidak usah berekspresi sedih begitu. Menurutku kita bisa tetap begini.”

Tolong jangan berubah. Tetaplah jadi dirimu sendiri. Kukira kita tidak bisa membuat pilihan itu sekarang, namun aku masih ingin hubungan kita tetap seperti ini, sesama 86 yang akan bertarung dan mati bersama-sama di satu medan perang.

“Kurasa kau tidak perlu berubah.”

Ekspresi Shin mengeras. Tampaknya dia barusan memahami sesuatu.

“… benar. Sejauh ini kita baik-baik saja.”

Sekalipun kelak mereka kehilangan seluruh kekuatan dan mati dalam pertempuran, mereka paling tidak tahu sudah berjuang hingga akhir. Itu sumber harga diri mereka, dan biarpun mereka menjadi semacam orang yang hanya dapat mengharapkan takdir tersebut, itu sama sekali tidak salah. Hidup dan mati seperti itu bukan hal memalukan.

Begitulah cara mereka selamat dari Sektor 86, tempat kematian pasti. Mereka memutuskan memegang harga diri, dan mereka tidak ingin membuangnya. Jadi itu tidak salah. Dari cara, bentuk, atau wujud, itu tidak salah. Dan lagi ….

“Tetap saja, bukannya aku tidak ingin berubah. Aku harus. Aku sadar perlu mengharapkan sesuatu. Jadi ….”

Itu tidak salah. Mereka boleh apa adanya, kalau ingin hidup sendiri. Atau bersama seseorang yang jalan hidupnya sama, seperti 86 lainnya. Tapi itu tidak benar jika mereka ingin berdampingan dengan orang lain. Karena jalan hidup itu akan menyakiti orang itu.

Shin memalingkan mukanya dari mata emas yang menatap lekat berharap-harap, tahu betul betapa kejamnya itu.

“Kita tidak bisa tetap seperti ini.”

   

   

Ada yang salah dari Shin. Itu yang dirasakan Lena beberapa hari terakhir. Dari depan mereka tidak punya masalah untuk dibicarakan. Pengerahannya, persiapannya, dan laporan untuk operasi yang akan datang teratur semua, dan Shin setenang dan sedatar biasanya.

Tetapi serasa ada sesuatu yang mengganggunya. Lena tidak bisa menghilangkan perasaan itu, dia pun tidak tahu masalahnya. Jadi Lena memutuskan mengungkitnya sendiri.

“Menurutmu ada yang mengganggu Shin?” “Kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri?”

Mendongak dari tempat duduk di kantornya, Lena mendapati Raiden duduk di sofa kecil dekatnya, satu tangan memegang cangkir teh dan ekspresinya menatap kesal. Ibarat bilang, Untuk apa kau bertanya padaku?

Lena mengerutkan kening terhadap tanggapannya. Shin takkan menjawab pertanyaan tersebut walau Lena tanyakan, dan karenanya dia menanyakan Raiden, teman dekat Shin. Mungkin misal Raiden yang mengungkit pertanyaannya, Shin akan betul-betul menjawabnya …. Raiden tentu saja menyangkalnya, tapi memikirkan Shin memberi tahu sesuatu yang tidak ingin dia beri tahu kepada Lena langsung membuat diri Lena tidak senang.

“Kau bagaimana, Shiden? Dia memberitahumu sesuatu?”

“Baginda, kau pasti sedang dalam situasi sangat buruk. Memangnya Pencabut Nyawa kecil dan aku cukup rukun sampai-sampai bisa curhat? Kau tahu tidak begitu.”

Benar saja, setiap kali mereka bertemu, mereka bakalan mulai adu bacot dan bertengkar mirip anak kecil.

“Aku selalu berpikir seperti kata pepatah: Kalau mau adu mulut kau harus dekat dengan orangnya ….”

“Nah, tidak, mana ada. Aku dan Pencabut Nyawa kecil seratus persen tidak suka satu sama lain. Seperti serigala dan harimau, kami musuh alami. Aku tak cocok secara genetik, aku dan dia.”

“… serigala dan harimau bukan musuh alami, dan si harimau yang akan menang. Kalian masing-masingnya yang mana?”

Langsung mengabaikan lelucon Raiden, Shiden menjejalkan kue teh lagi ke dalam mulut dan mengunyah berisik tanpa sopan santun.

“Tapi ya, bahkan aku pun tahu ada yang janggal dariniya. Bukan berarti dia bicara sama seseorang soal itu. Kau boleh saja menyuruhnya mengaku, Baginda. Kau ini perwira komandannya.”

“Itu ….”

Itu benar.

Itu benar. Semisal bawahannya menunjukkan masalah yang akan mengganggu kesuksesan operasi, sudah kewajiban Lena untuk antara memintanya membicarakan masalah tersebut atau memerintahkannya menyelesaikannya sendiri. Dan bila dua-duanya tidak bisa, Lena perlu mengeluarkannya dari operasi.

“… maksudku bukan itu.”

Lena ingin mengandalkannya sebagai teman, bukan perwira komandan …. Lena melemaskan bahunya.

Tapi tetap saja, seorang perwira komandan masih harus memikirkan kewajibannya.

“Shin, sekiranya ada yang mengganggumu, aku siap mendengarkan.”

“Ada apa tiba-tiba begini?”

Lena tidak tahu bagaimana mengarahkan percakapannya ke topik, jadi dia putuskan gas langsung ke intinya. Shin menjawab pertanyaannya dengan ekspresi kebingungan. Frederica yang kebetulan berada di kantor Lena ketika itu, entah kenapa mendesau.

“Kau kelihatannya merenungkan sesuatu lama ini. Aku berkenan mendengarkan misal kau mau membicarakannya, atau aku bisa tingkatkan frekuensi sesi konseling regulermu.”

“Aaah ….” Ekspresi Shin sesaat jadi sedih.

Tapi dia segera menahan emosinya dan menggeleng kepala.

“Ini masalah pribadi. Bahkan bagiku sendiri tidak mengganggu.”

“Tapi akan jadi masalah seandainya mengganggu operasi ….”

“Aku yakin selalu mengesampingkannya selama operasi tempur …. Ataukah ada masalah?”

Lena kehilangan kata-kata. Jujur saja, kemampuan Shin untuk menyelesaikan tujuan operasi tidak ada cacatnya. Namun Lena tidak bisa menghilangkan perasaan ada yang dipaksakan dan dibuat-buat perkara ekspresi yang ditampakkan Shin sekarang di wajah tabah dan pucatnya. Shin terlihat sama seperti biasa, tetapi ada yang berbeda. Ibaratnya ada yang goyah di balik fasad itu, tapi dia mesti merahasiakannya dari Lena.

“Yah, tidak, tak ada masalah, tapi ….”

Shin tidak kepikiran apa pun untuk membantahnya. Dan begitu Lena terdiam, Shin masih belum memberitahunya apa-apa. Di sisi lain, Frederica memandang mereka berdua dengan ekspresi dilema. Seketika itulah ketukan pintu memecahkan hening canggung. Annette mengintip ke ruangan. Untuk mengimbangi kekurangan tenaga, dia dan Grethe juga datang ke lini depan bersama Divisi Penyerang lain.

“Lena, apa perbincangan ini akan lama? Aku mesti meminjam Kapten Nouzen saat sudah selesai. Kau tahulah, untuk persoalan itu.”

Lena mengangguk bingung sedangkan Shin menatapnya penuh tanda tanya. Itu permasalahan yang dia diskusikan bersama Annette sebelumnya, tetapi bukan sesuatu yang dapat mereka bicarakan di depan orang lain.

“Iya, tapi kau juga bisa bahas di sini.” Annette tersenyum.

“Ayolah. Asumsikan saja dia bilang ke kita kesulitan menerapkannya selama operasi. Kau mau dia mengatakannya di depan perwira komandannya …? Aku ragu kapten akan peduli, dan ujung-ujungnya dia katakan juga. Tapi perhatianlah.”

Itu benar.

“Ya, kau benar …. Lanjutkan, Kapten. Mohon maaf.”

Shin menghembuskan napas ketika meninggalkan kantor bersama Annette. Mungkin saja kebetulan, tapi dia diselamatkan. Ketika Lena menanyakannya apakah sesuatu mengganggunya, Shin sangat terkejut. Dari semua orang, dia tidak mau Lena menyadari ada yang salah darinya, tapi sepertinya, terlihat di wajahnya.

Bayangan ekspresi Lena yang terganggu dan suara cemas bak lonceng muncul di benaknya lagi.

Sekiranya ada yang mengganggumu, aku siap mendengarkan’ … tapi tidak bisa kuberi tahu.

Bagaimana bisa dia utarakan padahal tidak pernah mewujudkan keinginannya? Mengatakan dirinya ingin berubah tapi tidak tahu caranya? Bahwa dia tak ingin menjadi beban baginya …. Bahwa dia tak ingin menyakitinya lagi?

“Itu saja intensi kita. Menurutmu bagaimana bagi komandan lapangan? Lena bilang jangan setujui jika menurutmu akan menghalangi penyelesaian operasi.”

“Kupikir takkan menghalangi operasi, tapi ….”

Annette membawa Shin ke salah satu beberapa gudang yang berisi amunisi serta paket energi yang disiapkan untuk operasi di masa depan. Shin menjawab pertanyaannya, berdiri di salah satu pojokan sambil membaca dokumen elektronik yang Annette berikan.

“Manuver tempur Reginleif bisa merusak tubuhmu bila tak terbiasa …. Menurutku akan berat bagi seorang nonkombatan sepertimu, Mayor Penrose.”

Annette mengangkat bahu santai.

“Bahkan Frederica pernah naik Reginleif sebelumnya, kan? Kalau anak kecil aja bisa, kenapa aku tidak.”

“… diterima. Aku akan panggil seseorang untuk mengantarmu. Aku sarankan membiasakan diri terlebih dahulu, Mayor. Aku juga bisa mengatur sesi latihan untukmu, misal kau mau.”

“Terima kasih. Kau perhatian sekali,” ucap Annette.

Kemudian dia mulai menggodanya sedikit.

“Kupikir kau akan mendengarku sih. Pada akhirnya kau nurut-nurut juga waktu aku memintamu melakukan hal konyol.”

Annette berkata demikian dengan tahu pasti Shin tampaknya tidak ingat banyak masa lalu mereka. Yang dia ingat palingan yang paling sepele dan tak penting. Respon Shin selalu antara santainya bilang: aku idak ingat atau jawaban singkat: mungkin. Annette mengharapkan hal sama, tetapi Shin anehnya terdiam.

“… Kapten?”

“Aku tidak ….”

Shin buang muka, agar dia tidak bisa menatapnya.

“… aku takkan sungguh setuju kalau kau memintaku melakukan hal konyol …. Rita.”

Mata Annette membelalak kaget, namun saat berikutnya, dia menurunkan alis sementara senyum sedih terlihat di bibirnya.

“Benar, aku bukan cuma Mayor Penrose, kan?”

Rita. Nama yang senantiasa Shin panggil sebelum dia dikirim ke kamp konsentrasi. Kedua orang tuanya telah meninggal—satunya bunuh diri, satunya mati dalam serangan skala besar—dan tidak pernah Rita beri tahu Lena nama panggilan ini. Setelah tahu Shin tidak mengingatnya ketika bereuni, dan dipikirnya tidak ada yang akan memanggilnya dengan nama itu lagi.

“Kau ingat sesuatu tentang aku?”

“Tidak sepenuhnya. Rasanya ada lebih banyak hal yang tidak bisa aku ingat dari yang bisa, tapi ….”

Shin menarik napas pendek sekali.

“Kenyataannya, aku tidak pernah kehilangan ingatan itu. Jadi kurasa harus meminta maaf karena sampai sekarang tidak ingat.”

“Tak apa. Bukan salahmu tidak bisa ingat apa-apa …. Dan kalau kau ingat semuanya, akulah yang mestinya meminta maaf.”

Mendadak merasa ditatap, mereka melihat sekeliling dan mendapati Fido mengintip mereka dari balik bayang-bayang salah satu kontainer. Annette mengusirnya dengan lambaian tangan. Scavenger tidak mungkin punya kehendak atau emosi sendiri, tetapi cara sensor optik bulat dan besarnya menatap mereka kesannya dia mengkhawatirkan Shin. Sangat imut.

Catatan tidak pentingnya, Fido adalah nama sama yang Shin berikan kepada anjing peliharaan hidupnya. Kebiasaan penamaan sederhananya belum matang sama sekali.

Annette tidak tahu persis kapan dia ingat Rita, tapi dia barangkali menunggu saat-saat tepat untuk membahasnya. Lena agak tersiksa baru-baru ini terhadap fakta Shin yang kelihatannya memikirkan sesuatu, jadi mungkin ada kaitan sama perubahan kondisi mentalnya.

Iya, Lena. Sekarang ini, Annette bukanlah teman masa kecil pemuda di depannya … melainkan teman Lena.

“Oh, dan perihal sebelumnya. Kupikir andai tidak ikut campur, semuanya akan jadi menyebalkan, tapi jangan terlalu mengkhawatirkan Lena. Sudah berhari-hari dia kepikiran kau bertingkah aneh. Dia harus mengumpulkan keberanian untuk menanyakan itu, jadi jangan terlalu menepisnya, oke?”

“…”

Annette sadar, merespon diam dengan raut-raut sebal di saat situasinya menyusahkan baginya masih belum berubah. Sudah sepuluh tahun, dan dia tetap bertingkah layaknya anak kecil.

Namun itu mungkin karena, di satu sisi, dia benar-benar masih anak-anak. Shin adalah seorang 86 yang mengabdi lima tahun di medan perang dirinya ditakdirkan mati. Dia seharusnya tak punya masa depan dan tak perlu memikirkan apa yang terjadi ketika dewasa.

Jadi dia tidak boleh menjadi sesuatu yang bahkan tidak pernah dia pikirkan. Orang dewasa mati duluan, dan hanya anak-anak tersisa di Sektor 86. Mereka tak punya orang tua atau guru maupun kakak untuk menjadi contoh.

Ketika itulah Annette sadar:

Itu … buruk banget.

Tidak tahu tujuan. Hidup tanpa tahu menginginkan apa ….

“Hei, kuharap aku cuma terlalu memikirkan, tapi …. Mungkinkah yang mengganggumu itu ….”

Mendadak, mata merah darah di depannya mendingin. Setelah mengalami perubahan sikap Shin ini pertama kalinya, Annette menelan ludah gugup.

“… Legion?”

“Iya …. Maaf. Reguku barangkali akan diturunkan sekarang.”

Berarti dia harus pergi.

“Benar. Berhati-hatilah di luar sana.”

Bahkan sehabis beberapa menit kepergian Shin, Lena masih diliputi suasana hati buruk. Frederica yang tetap diam sampai sekarang, membuka bibirnya untuk bicara.

“… tidak ada bagusnya terburu-buru, menurutku.”

Menoleh menghadapnya, Lena mendapati mata merah darah Frederica tak tertuju padanya, namun menelusuri gerakan Shin dari seberang dinding bertulang tebal.

“Shinei tidak sekuat yang kau kira. Dia tidak pula memahami dirinya sendiri …. Dia penuh keraguan soal itu, dan sudah lama meragukannya. Jadi langsung mencecarnya jawaban malah makin memojokkannya ….”

“…?”

Shin … tidak salah?”

“Tidak mungkin ….”

“Tentunya, kau ingat pertama kali bertemu Shinei.”

Lena berkedip sekali. Pertama kali bertemu dengannya? Di sebelah tugu Juggernaut? Bukan ….

“Maksudmu ketika kita melawan Morpho, kan?”

“Iya. Pikirkan kembali bagiamana Shinei waktu itu. Dia …. Tingkahnya—itu juga bagian diri Shinei. Bagian dirinya yang takkan mau dia tunjukkan kepadamu.”

Seketika, alarm nyaring berbunyi di kantor kecil tersebut. “Apa nih?!” teriak Frederica. “Alarm ini …!”

Semestinya tidak ada perburuan hari ini, namun beberapa unit dikirimkan ke zona perang, menciptakan pengalih bertujuan mengaburkan rencana Legion. Dan skuadron yang dikerahkan itu ….

 “Mereka ditabrak serangan balasan Legion dan terpaksa mundur …!”

Ketika Shin sampai hanggar, beberapa anggota skuadron Spearhead sudah hadir. Dia mengikuti rambut merah tua Kurena selagi bergegas menuju ruang siaga dan memanggil Guren. Pasukan yang mereka peringatkan kalau-kalau terjadi keadaan darurat telah dikerahkan, namun jumlah musuh terlalu besar. Mereka tidak punya cukup kekuatan untuk menahan barisan hingga sekutu terpencar-pencar mereka bisa mundur ke tempat aman.

“Guren, skuadron Spearhead akan dikerahkan …. Sudah siap?”

“Tentu saja. Aku bukan kru pemeliharaan ahli bila melihat-lihat rongsokan Legion membuatku lupa memperbaiki rig, tahu?”

Mengalihkan pandangan, Shin sekilas melihat Touka menempel di Undertaker saat selesai memuat amunisi ke dalamnya. Fido dan Scavenger lain berbaris selagi diisi paket energi cadangan, magasin, dan beberapa persenjataan lain yang eksklusif digunakan sejumlah unit.

“Ada badai salju di luar sana …. Baik-baiklah.” “Oke.”

Shin mengangguk, lalu selagi berjalan pergi, membuka syalnya sebentar untuk memasang Perangkat RAID-nya. Membungkus syal di lehernya lagi, dia mengaktifkan Resonansi Sensorik. Divisi Penyerang tidak punya banyak perwira, jadi perwira staf secara teratur diberi hak memerintah-merintah. Shin tidak menghubungi komandan; dia semata-mata Beresonansi agar memahami situasinya sebelum ikut pengarahan.

Situasinya sangatlah buruk. Transmisi anggota skuadron datang berbondong-bondong, suara mereka bercampur kebingungan: Peleton kedua terisolasi. Kehabisan amunisi. Kami dikandaskan. Meminta penyelamatan …. Letnan Dua Irina Misa, gugur dalam tugas.

Wajah gadis dewasa yang pernah menjadi wakil komandan Rito terbayang di benak Shin. Tak seperti Rito, dia orangnya patuh dan penurut. Dia menemani Rito, salah satu rekan regu Shin di Sektor 86 sebelum dipindahkan ke skuadron lain. Dia menyertai Rito sampai serangan skala besar.

Shin mengingat senyum tanpa tawanya dan percakapan tak berkala mereka. Tapi hanya ingatan samar, dan ketika pikirannya menajam bersiap bertempur, ingatan itu tidak banyak membangkitkan emosinya. Dia buang pikiran itu ke sudut beku pikirannya.

Sekarang tidak butuh emosi. Pikirannya yang diasah bagaikan pisau tajam memberitahunya demikian. Ketika Shin memasuki ruang pengarahan, sebuah suara memanggilnya dari samping.

“Shin.”

Suara Lena yang berusaha mengatur napasnya. Perangkat RAID-nya terpasang di leher, sesuai. Sebagai komandan taktis mereka, dia tentu mendengar laporan kematian. Mata peraknya diselimuti kesedihan mendalam. Tapi saat berikutnya, dia tekan dengan tekadnya sendiri.

“Kita akan memulai pengarahan setelah semua orang berkumpul. Pengarahannya cepat, jadi kau bisa berangkat SEGERA.”

“Diterima.”

Dia membuka pintu dan membiarkan Lena masuk duluan. Anggota skuadron yang sudah berada di sana langsung masuk ke dalam. Langkah kaki gugup dan suara yang terlambat sampai hanggar dapat terdengar di latar.

Shin memerhatikan rambut peraknya bergelombang selagi lewat, dan ketika itulah dia sadar: Lena sedang berduka. Kata-kata dan perilakunya tidak menampilkan apa-apa, namun itu hanya karena dia menekan emosinya sebab bagian dari tugasnya sebagai komandan. Namun kematian Irina membuatnya sedih.

Namun Shin tidak merasakan kesedihan apa-apa. Tentu saja, sebagiannya karena pola pikirnya telah berubah dalam persiapan perang. Medan perang tak menawarkan kelonggaran untuk berduka atas kematian seorang teman. Sedih dan duka baru ada setelah pertempuran berakhir—jika tidak, mereka hanya akan mengikuti kawan mereka yang sudah masuk ke liang kubur. Shin tahu persis itu dari tujuh tahun berperang.

Namun lebih dari itu. Bagi 86, kematian adalah jalan hidup. Seorang 86 mati tidaklah aneh, itu normal. Berlaku kepada semua orang …. Bahkan pada Shin sendiri. Sebagian dirinya sungguh-sungguh percaya ini ….

Shin merasakan getaran kecil di sekujur tubuhnya. Dia cuma dapat menganggap dirinya sendiri sebagai monster. Monster yang menapaki jalan sepi menuju medan perang, diaspal mayat rekan-rekannya. Hanya monster yang menerima begitu saja kematian orang-orang terdekatnya.

Shin kira sekarang sudah tahu bahwa ini bukan jalan hidup—hidup seolah-olah seseorang akan mati keesokan harinya, bergegas menuju kematian, melangkahi mayat, haus akan akhir … mana mungkin itu jalan hidup. Pikirannya tersadar dia harus punya harapan untuk masa depan, meskipun tidak bisa dibayangkan.

Namun rasanya seakan-akan seseorang mencengkeram lengannya. Ibarat begitu bergerak maju, seseorang memeluknya erat-erat sampai tidak bisa melepaskan cengkeramannya. Tetapi ketika dia berbalik, dia bertatap muka dengan dirinya sendiri—Shin versi muda, dari sebelum suaranya pecah. Shin yang barusan menginjakkan kaki di Sektor 86, kala orang-orang mulai memanggilnya Pencabut Nyawa karena semua orang senantiasa mati meninggalkannya.

Shin muda tersenyum padanya. Bagaimanapun ….

Lebih baik hidup ibaratnya mati besok, berpikir kematian hanyalah jalan hidup 86. Aku sebaiknya tidak memikirkan masa depan yang takkan kuraih—atau masa depan apa pun.

Dan kau sama. Kau mencari kematian di Sektor 86, bersama jalan diaspal mayat.

Monster yang terobsesi akan kematian.

“…!”

Shin menyadari kebohongan yang dikatakannya pada dirinya sendiri, dan itu membuatnya ketakutan. Tapi emosi itu pun bahkan hampir otomatis disingkirkan sesaat setelahnya. Disingkirkan oleh kesadarannya yang teramat-amat terbiasa akan medan perang dan kini lebih seperti mesin daripada manusia.

Alasan dia tidak sanggup membuang identitasnya sebagai 86 adalah karena dia tidak mampu melepaskan harga dirinya. Karena suatu tempat dalam hatinya, dia masih mengharapkan takdir itu. Takdir kematian pasti kelak ….

Hari itu bersalju sewaktu mereka dikerahkan untuk mendukung unit mundur, sesuai perkataan Guren. Badai salju rupanya sudah berkecamuk sejak sebelum fajar. Tudung putih menghalangi visibilitas sensor optik mereka, sistem pembidik dan bidikan laser mereka tidak jauh lebih baik. Namun kondisi tersebut juga berlaku kepada Legion. Skuadron Spearhead dikomandoi Shin yang mampu menentukan posisi musuh tanpa bergantung kepada bidikan, jadi dengan kata lain, mereka sebetulnya diuntungkan.

Angin gunung kadang-kadang meniupkan hamparan angin bersalju ke atas mereka, dan hutan konifer kosong menjulang di depan bagai bayangan gelap dalam putih menyilaukan. Bila mereka melewati hutan, anginnya tak akan sekuat itu.

Undertaker Shin was-was memimpin skuadron Spearhead melalui jalan gelap tanpa trek. Salju padat di iklim di bawah nol dan mengeluarkan suara berderak ketika menginjaknya. Dekatnya ratapan para hantu mengingatkannya bahwa mereka telah menyusup ke zona pertempuran.

Shin memeriksa layar radar yang nyaris tidak mendeteksi kerlip-kerlip biru kawan mereka, lalu memanggil.

“Rito.”

Resonansi Sensorik terhubung. Memastikan orang yang dia panggil sudah mati atau tak sadarkan diri, tapi respon Rito hampir terlambat. Bak dilumpuhkan ketakutan besar sampai-sampai suaranya tidak bisa langsung keluar.

“Kapten.”

Nada suaranya—Shin mendengarnya berkali-kali di medan perang. Suara gentar seseorang yang dilanda ketakutan ketika melihat kematian orang lain atau kemungkinan kematian sendiri.

“Kapten, aku … aku tidak mau seperti mereka. Seperti Sirin. Aku tak ingin seperti itu, jadi aku ….”

Shin melihat kokpitnya. Rito masih dihantu-hantui peristiwa itu. Bayangan para gadis yang tertawa-tawa pada kematian sia-sianya, serasa seperti cerminan akhir 86 yang sudah dekat. Seperti halnya bukti sumpah dan harga diri perjuangan mereka hingga tetes darah terakhir tiada artinya. Dia mulai meragukan satu hal yang mendukungnya. “Rito, mundur …. Bawa semua orang yang masih hidup kemudian pergilah dari area tempur.”

Shin dinginnya memberi tahu Rito: Kau yang sekarang tidak bisa bertarung. Mereka yang sukmanya dihancurkan ketakutan akan kematian dan kegilaan pertempuran, yang meragukan diri mereka sendiri dan membeku, tidak punya tempat di medan perang. Dan bila Rito tak mendengarkannya, dia akan mati lalu para Prosesor lain di skuadronnya akan menyusul.

“… d-diterima.”

“Kita punya Shiden … skuadron Brísingamen datang dari belakang. Bergabung kembalilah dengan mereka sementara ini.”

Rito entah bagaimana bisa merespon dengan anggukan kemudian menarik mundur kelompoknya. Shin melangkah maju laksana menggantikan mereka dan mengalihkan Resonansi Sensorik ke bawahannya.

“Seluruh anggota skuadron Spearhead, kita akan memasuki pertempuran. Menentukan posisi mereka, perkiraan pasukan Grauwolf dan Stier, masing-masingnya sebesar batalion. Dan ….”

Shin memicingkan mata seketika mendengar sesuatu: jeritan dingin yang menggema di telinganya bagaikan petir—semacam dentuman meriam—bahkan di jarak sejauh ini. Mensinyalkan Legion yang telah mengasimilasi jaringan saraf orang-orang gugur: Domba Hitam, serta versi lanjutannya, Anjing Gembala.

Dan berikutnya ada unit komandan pasukan hantu yang suaranya lebih keras dan jelas ketimbang unit tentara. Para Legion yang telah mengabsorpsi otak orang mati tidak lama seusai kematian mereka dan masih mempertahankan kecerdasan, ilmu pengetahuan, beserta ingatan yang mereka miliki semasa hidup.

“… ada Gembala. Kemungkinannya Dinosauria.”

Dinosauria adalah monster baja yang memiliki daya tembak serta lapis baja terkuat dari seluruh tipe Legion produksi massal. Regu Shin maju melalui hutan bersalju sembari menjaga jarak di antara setiap unit. Mereka bermaksud melawan musuh kuat ini dengan waspada dan bergerak melalui medan naik-turun yang takkan memberikan banyak pijakan rangka besarnya atau kebebasan bergerak.

 Baru saat itulah salju tebal yang menumpuk di atas salah satu batu besar yang memenuh medan perang telah jatuh secara tidak wajar. Bayangan besar melompat keluar dari salju pucat baru jatuh, mengungkap bentuk logam besarnya dari balik tirai putih.

Benar-benar terjepit di bawah salju tebal. Walaupun tingginya empat meter dan berat seluruhnya seribu ton, wujud besarnya masih bergerak tanpa suara khas Legion. Dia menerjang ke sisi samping Undertaker selagi Juggernaut itu memimpin seluruh pasukan.

Dia terpancing.

“Tembak!”

Semua anggota pasukannya sudah diberi tahu tempat persembunyiannya dan segera menembak. Shin menghindari serbuan Dinosauria dengan gerakan hampir seolah berguling kala rentetan peluru PLBTSLS 88 mm (penembus lapis baja terstabilkan sirip lepas-sabot) menghujaninya.

Shin tahu musuh akan menembaki Undertaker dan menggunakan dirinya sebagai umpan untuk melancarkan serangan balik sempurna ini. Tetapi kecepatan reaksi Legion memungkinkannya menghindarinya. Rangka kolosalnya melompat ke udara dan tatkala mendarat, menendang kabut salju tebal. Pohon-pohon konifer yang tertimpa serudukan biasa Dinosauria terjatuh dengan suara gemuruh.

Dinosauria selanjutnya menggerakkan dua senapan mesin berat yang terduduk di atas turetnya, masing-masingnya membidik target berbeda. Turet meriam 155 mm dan persenjataan kedua koaksialnya semuanya mengunci target berbeda-beda. Juggernaut berpencar, menghidari garis tembakna. Shin menggerakkan Undertaker selagi mengawasi monster logam tersebut, memutar Juggernaut-nya sehingga bisa mendekati titik buta Dinosauria sesuai taktik yang ditetapkan.

Caranya menyerang barusan ….

Dinosauria ini kelihatannya bertindak ibarat tahu bagaimana Shin dan pasukannya bergerak. Sementara kedua negara menggunakan Feldreß, filosofi desain di balik unit Federasi berbeda dengan Kerajaan Bersatu. Karena beroperasi pada konsep berbeda, rangkanya juga didesain beda. Strategi yang bisa mereka gunakan juga berbeda.

Barushka Matushka menggunakan turet jarak jauh, turet kaliber 125 mm dan sistem kendali senjata presisi tinggi untuk menjatuhkan musuh dengan daya tembak kuat dan tembakannya dibantu akurasi tajam laser. Reginleif, kontrasnya, spesialisasi pertempuran mobilitas tinggi. Bahkan saat dikerahkan di Kawasan pertempuran dan medan sama, posisi serta strategi yang bisa mereka terapkan itu berbeda.

Dan ini kawasan pertempuran Kerajaan Bersatu. Legion di wilayah ini menghadapi dan menyesuaikan tindakan penanganan yang efektif melawan Barushka Matushka. Namun Dinosauria ini sepertinya akurat membaca aksi dan gerakan skuadron Spearhead serta Reginleif mereka.

Artinya ….

“Itu 86.”

“Kelihatannya.”

Shin buru-buru menjawab keluhan lirih Raiden. Yang paling akrab dengan taktik skuadron Spearhead—taktik 86—tidak lain adalah 86 sendiri. Dan merekalah orang-orang paling mahir dan berpengalaman di negara-negara sekitar yang bisa diubah menjadi Domba Hitam juga Gembala.

Dan pelengkapnya ….

Shin menyipitkan mata. Dinosauria ini, lolongan ini ….

Suara ini ….

Suaranya familier. Suara seseorang yang bertarung di sisinya pada Sektor 86 tetapi tidak lama. Kata-kata terakhir hantu melolong tanpa akhir itu sendiri tidak akrab, jadi siapa pun itu pastinya tidak mati di depan mata Shin. Tapi ….

“Selamatkan kami.”

Kaie yang suatu waktu menginginkan hal serupa, telah tiada. Kebanyakan Domba Hitam sekarang dianggap usang dan digantikan Anjing Gembala lebih efisien. Berarti Kaie, yang dijadikan Domba Hitam, kini telah dibuang. Tetapi beberapanya masih terjebak, sepertinya. Beberapa yang dijadikan Gembala masih tersisa.

Aku harus merebut kembali mereka. Aku berjanji membawa mereka bersamaku. Dan menurutku janji itu … tidak perlu aku ragukan.

“Raiden …. Aku tangani satu ini. Seperti biasa, aku mau kau mengurus musuh di sekitar dan ambil alih komando selagi kau melindungiku.”

Tapi jawaban Raiden disertai keraguan.

“Bentar, bukannya kita memberi tembakan perlindungan pasukan yang mundur? Kita harus bertahan sampai skuadron Rito selamat. Kita cuma harus menahan benda ini. Tidak usah susah-susah menghancurkannya.”

“Itu 86 …. Aku mau mengambilnya kembali.” Raiden terdiam sejenak.

“… diterima. Tapi jangan lakukan hal gila. Aku suruh sisa regu melindungimu.”

“Sekali lagi, dia kayaknya berniat menjatuhkan Dinosauria itu sendirian.”

Frederica berbisik pahit selagi menatap peta yang hanya dapat menunjukkan pertempuran antara Undertaker dan Dinosauria digelar beberapa kilometer jauhnya dalam bentuk kerlip-kerlip.

Lena menunduk, merasakan ketakutan pada gumam Frederica. Legion mampu menampilkan sesuatu yang jauh melebihi kesanggupan manusia. Tapi bahkan di antara mereka, Dinosauria adalah tipe terkuat. Feldreß yang dipilot manusia biasnaya takkan mampu menandinginya.

Shin anggap perlu menggunakan senjata jarak dekat untuk menyerang titik lemah Dinosauria serta Löwe. Lena tak bermaksud membantah pemikiran Shin. Meskipun dia berpengalaman dalam mengkomandoi pertempuran, dia tak punya pengalaman menghadapi Legion secara langsung dan tidak berhak meragukan pilihan Shin. Tidak setelah bertahan tujuh tahun habis-habisan melawan Legion.

Tetapi Lena tetap merasa gelisah. Dia bisa mendengar para Prosesor lain di skuadronnya berteriak, “Nouzen, jaga jarak.” “Kami tidak bisa menembak kalau kau sedekat itu.” “Kami mohon, mundurlah.”

Tentu saja Shin tak merespon.

Dia rupanya terlalu fokus pada pertempuran hingga tidak mendengarkan mereka. Sama ketika menghadapi Phönix di terminal bawah tanah …. Dan sewaktu mempertaruhkan nyawanya melawan Dinosauria yang dirasuki hantu kakaknya, Rei.

Kapan pun dia seperti itu, Lena sedikit takut. Ibaratnya dia rela tertatih-tatih di tepi kematian …. Dan suatu hari, dia barangkali sungguh-sungguh jatuh dan takkan pernah kembali.

“… Shin.”

Shin selalu punya kekuatan untuk bertarung dan bertahan hidup. Tapi baru-baru ini, dia tampaknya ….

“Kau tidak apa-apa …?”

Lapis baja musuh cukup tebal sampai-sampai mampu menangkal tembakan senapan laras halus 155 mm-nya sendiri dari titik buta. Meriam 88 mm Reginleif takkan mampu menembusnya. Dinosauria menghentak tanah dingin, bobot beratnya meruntuhkan pohon selagi menyerbu Shin.

Shin mempilot Undertaker dengan liar untuk menghindarinya, memanfaatkan berbagai macam formasi batuan dan tonjolan—bahkan batang pohon konifer sebagai pijakan. Selagi Dinosauria menghindari tembakan Reginleif, Shin mencoba menembak titik tertitipis lapis bajanya.

Awalnya seharusnya dia itu 86. Nampaknya dengan paksa maju menuju hutan konifer yang biasanya medan tidak cocok untuk Dinosauria, tapi sekalipun sikapnya tampak ceroboh, dia hati-hati memilih posisinya, menyembunyikan lapis baja belakang-atasnya dari penglihatan setiap saat. Waspada terhadap bobot ringan Juggernaut dan memerhatikan taktik mapannya menaiki medan menggunakan jangkar kawat ditambah memanfaatkan ketinggian tersebut untuk menembak dari atas.

Sulit mengalahkannya.

Biarpun bagian selain lapis baja depan dapat ditembus meriam 88 mm, dan pemancang di kaki Reginleif mampu menembus lapis baja atasnya, Shin masih harus bergerak sangat cepat. Cukup cepat sampai-sampai melukai siapa pun yang bukan Prosesor amat terbiasa bertarung dalam kecepatan ini.

Tetapi sekalipun pertempurannya susah, masih mungkin Reginleif menang. Setidaknya, tak seberapa dibanding melawan kakaknya dalam peti alumunium itu.

Dua senapan mesin putarnya mengganggu, sebab konsisten menembakkan rentetan peluru. Shin meluncurkan selongsong hulu ledak antitank berdaya ledak tinggi dengan sekring proksimitas dan sukses menghancurkannya. Lalu pelan-pelan menghampiri Dinosauria dilanjut memotong salah satu kaki yang menopang berat seribu tonnya.

Entah bagaimana, Shin tahu serangan balik akan datang. Dia menghindari tendangan kaki bak tiangnya bahkan tanpa melihat. Kemudian menghindari tendangan kedua-ketiga dengan lompatan kecil, tetapi kaki kanan belakangnya masuk jauh ke dalam salju membeku.

“Cih …!”

Undertaker berhenti di tempat. Kakinya tersangkut salju. Semuanya terlihat bergerak lamban. Seketika turet 155 mm berbelok membidiknya, dia mengaktifkan pemancang di kaki terperangkapnya untuk melepas paksa. Pemancang 57 mm meledakkan bubuk mesiu, membuang kaki yang terjebak dalam salju. Sementara itu, dia gunakan tiga kaki tersisanya untuk melompat ke kiri, menghindari garis tembakan.

Berikutnya raungan tembakan turet tank dan gelombang kejut peluru yang menyerempetnya menderu-deru di lapis baja Undertaker. Turet utama Dinosauria butuh waktu sesaat setelah menembak, dan persenjataan kedua di kanan turet tidak bisa membidik Shin dari posisi ini. Kedua senapan mesinnya sudah hancur.

Artinya sekarang ini, Shin bebas menembak tanpa khawatir diserang balik. Bidikannya sudah diatur melacak garis pandangnya, dan jarinya bergerak ke pelatuk turet 88 mm—

Tiba-tiba terdengar peringatan: Kaki pemancang kanan belakang telah rusak.

Suara alarm melengking ini diperuntukkan untuk memperingatkan Prosesor, menyeret Shin kembali ke akal sehatnya. Saat ini, dia sekali lagi akan menjadi gambaran mesin perang—monster yang terobsesi akan kematian.

Selayaknya monster menuju kematiannya sendiri di medan perang, dia mudahnya melupakan kata-kata yang memintanya kembali hidup-hidup ….

Dan pada momen sadar itu terdapat celah. Alarm yang menggelegar di telinganya memungkinkan musuh menutup jarak. Kemudian wujud besar Dinosauria yang pada jarak itu memenuhi keseluruhan layar optiknya, kakinya dikebelakangkan kemudian diangkat bak senjata.

“…!’

Shin refleks menarik mundur tuas kendali, memaksa Undertaker melompat. Terlambat mengelak, tetapi upayanya paling tidak meminimalkan guncangan mendatang yang lebih banyak diputuskan secara refleks alih-alih kesadaran. Kedua kakinya meninggalkan tanah sewaktu melompat ke samping, dan momen berikutnya, datang dampak guncangan. Shin menaikkan salah satu kaki Undertaker untuk memblokir serangannya, tetapi suara benda patah bersama jangkar kawatnya sampai ke telinga Shin. Sistem kendali mengeluarkan suara melengking.

Kemudian Shin pingsan.

“Hah …?”

Apa yang baru saja terjadi?

Lena tidak bisa langsung memproses yang dia saksikan lewat layar utama Vanadis. Sesuatu yang dia tidak percaya barusan terjadi. Sesuatu yang tak pernah dia duga-duga, itu melampaui pemahamannya.

Kerlip Undertaker dihempas dari posisinya, ke arah berbeda dari posisinya beberapa waktu lalu. Reginleif-nya bergerak tak sesuai kendali Prosesornya dan terlempar bagaikan sampah, berguling-guling di tanah sesaat sampai berhenti. Tetap tidak berdaya dan diam di tanah, kendatipun musuh tepat di depan muka sedang menekannya.

Shin barusan … diserang …?

Wehrwolf dan Laughing Fox berdiri menghalangi Dinosauria yang hendak melancarkan serangan lain. Keduanya menembak, mengalihkan perhatiannya. Dinosauria diprogram memprioritaskan target paling mengancam terlebih dulu. Selagi Theo dan Raiden beraksi, Juggernaut lainnya buru-buru mendatangi Shin.

Kerlip Undertaker tetap ada di layar radar. Sinyalnya belum pudar, jadi tidak rusak parah. Tapi tidak bergerak. Para-RAID-nya tak mau terhubung.

Marcel mengerang frustasi.

“Kenapa dia tidak …?!”

Lena merasa sama. Dia bisa saja menghindari serangan itu. Dia seharusnya menghindar. Lena tahu dia bisa, karena dia sering melihatnya selama sesi pelatihan, dan baik dalam pertempuran besar-kecil. Reginleif bergerak dengan kecepatan yang akan melukai tubuh pilot normal, tapi Shin mengoperasikannya dengan santai.

Tidak, melampaui kemampuan yang Lena lihat. Selama lima tahun lamanya, dia mengoperasikan peti mati logam yang bahkan tidak sanggup menahan tembakan senapan mesin, dan walau demikian, dia menerjang barisan musuh, melawan mereka menggunakan senjata jarak dekat tanpa terkena satu serangan pun. Lima tahun lamanya, dia bertahan di sektor 86.

Dia sama sekali tidak pernah diserang satu pun Legion. Meskipun dia Gembala.

Jadi … kenapa?

Tapi Lena tetap tertegun sepintas. Tak lama seusai itu dia beralih ke perwira kontrol. Reginleif dilengkapi banyak sistem yang Juggernaut—yang semestinya drone—tidak miliki.

“Bagaimana anggota tubuh vitalnya?!”

“Kita sudah baca. Denyut nadi, tekanan darah, dan pernapasannya seluruhnya dalam kisaran aman. Tapi dia tidak menanggapi peringatan ….”

Frederica mengujar komentarnya sendiri, wajahnya pucat karena ketakutan. Mata merah darahnya menyinarkan merah delima—bukti kemampuannya bekerja.

“Sepertinya dia tidak terluka berat. Kuyakin hanya tak sadarkan diri saja. Raiden dan yang lainnya juga memanggil, tapi tidak dia tanggapi.”

“Cepat jemput dia! Shiden, kerahkan skuadron Brísingamen dan lindungi mereka!”

Di kultur dan negara manapun, ruang rumah sakit selalu terlihat steril dan berwarna putih. Lantas begitu matanya terbuka, dia menghadap langit-langit yang dianggap tak diketahui dalam pikirannya serta, di waktu yang sama entah bagaimana familier. Biasanya, fasilitas rumah sakit dijaga kebersihannya untuk mencegah infeksi. Maka dari itu ruangannya dibuat putih, agar kotoran bisa mudah ketahuan.

Sadar dia diliputi pikiran tidak berarti, Shin menekan tangannya ke seprai dan duduk. Merasakan sensasi tidak enak sesuatu menempel pada dirinya dan menyadari suatu bayangan di sisi penglihatannya, tangannya menyentuh keningnya. Merasakan sensasi kering plester melekat di dahi, berfungsi menahan kain kasa. Rupanya, di atas mata kirinya ada luka sayat, dekat bekas lukanya.

Bekas luka itu dia dapatkan dari pertarungan melawan kakaknya. Tatkala itu mereka berada di wilayah dalam Legion, tanpa terlihat satu pun fasilitas medis. Lukanya dijahit tangan amatir, jadi meninggalkan bekas luka.

Dia pernah melawan Gembala Dinosauria kala itu juga, tapi …. Dia tidak teralihkan dan fokus pandangannya pada lawan besar selama pertempuran. Shin menggertak gigi frustasi. Jari-jarinya menelusuri kulit keningnya.

Ini baru pertama kali terjadi. Tidak sekali pun dia hilang konsentrasi karena sebuah pertanyaan membebani pikirannya dan membiarkan musuh mengalahkannya.

Shin bisa mendengar suara kain tebal seragam militer bergerak di balik tirai tipis yang mengelilingi tempat tidurnya …. Seseorang yang duduk di samping tempat tidurnya, terbangun.

Sesaat Shin mendengar kata-katanya, tirainya dibuka pelan. Mata Shin yang terbiasa dengan keremangan kokpit dan kegelapan kelopak mata menutupnya, sekilas dibutakan cerahnya lampu. Shin refleks menyipitkan mata dan menatap sepasang mata berwarna aneh. Satunya nila tua dan satunya seputih salju.

Pemilik mata itu mengangkat tangan santuy lalu melambai.

Kulitnya cokelat dan rambutnya merah tidak terawat.

“Ey.”

“… ngapain di sini?” tanya Shin dengan satu mata tertutup.

Shiden terkekeh, tidak menghiraukan sikap Shin.

“Kau berharap siapa yang di sini? Dan, sapaan tanpa terima kasih, huh, Pencabut Nyawa Kecil? Raiden mengurus laporan menggantikanmu, terus Baginda membersihkan kekacauanmu, jadi aku ke sini mengawasimu … lagian, aku yang mengeluarkanmu dari medan perang, tahu?”

“…”

Melihat sekeliling, dia sadar sedang berada di bangsal rumah sakit pangkalan cadangan, dalam ruangan pasien luka ringan yang tidak butuh perawatan intensif. Setelan terbang lapis baja tebalnya telah dilepaskan, dan seragam cadangan dilipat di meja samping. Kala menyadari kain biru tua ditaruh santai di atasnya, Shin bergerak menyentuh lehernya. Dia tidak dapat merasakan syalnya, tentu saja. Sudah diambil ketika dia dirawat.

Tatapan Shiden tertuju pada bekas luka dilehernya, tapi tak bilang apa-apa.

“Dokter bilang kepalamu terbentur tapi tidak ada tanda-tanda gegar otak. Tetapi mereka pengennya kau istrirahat di sini satu-dua hari untuk jaga-jaga saja. Mereka menjahit beberapa bagian tubuhmu.”

Ibu jari Shiden menunjuk ke dahi untuk menggambarkannya.

Kemudian senyumnya hilang ketika bertanya:

“Kau ingat apa yang terjadi?”

“Kurang lebih.”

Shin bisa mengingatnya dengan sangat jelas, dia harap melupakannya.

“… Dinosauria-nya bagaimana?”

“Itu hal pertama yang kau tanyakan …? Yah, iya, dia Gembala. Dan 86 lagi …. Sedihnya, dia berhasil lolos. Tujuan kita lagian bukan untuk mengalahkannya.”

“Juggernaut-ku bagaimana?”

“Tampaknya bisa mereka perbaiki, entah bagaimana …. Walaupun mekanismu …. Uhhh, Guren namanya, ya? Dia berteriak-teriak gila, jadi pastikan kau menjambanginya nanti. Dia bilang kau masih merusak rig-mu setiap saatnya dan belum dewasa sama sekali.”

“Iya ….”

Melompat mundur membunuh sebagian besar dampaknya, tapi Juggernaut Shin masih menerima tendangan langsung Dinosauria. Sudah bagus dia bisa kabur dengan kerusakan yang bisa diperbaiki.

“Masuk akal dia bilang begitu. Aku menyusahkannya lagi.” kali ini, Shiden-lah yang memandangnya dengan mata tertutup satu.

“Kau sengaja bilang begitu atau gimana dah? Mereka tak peduli rig-mu rusak; mereka pedulinya kau terluka atau tidak. Bego.”

Shin dibawa langsung ke pusat medis, sementara rangka rusak Undertaker dibawa ke hanggar sendirian. Masuk akal Guren terkejut. Dia melihat bangkai Undertaker, tapi Shin tidak di sana.

“… tidak kusangka kau membuat kesalahan bodoh seperti itu. Hei ….”

Tubuh bagian atas Shiden condong maju dari kursi lipatnya. Dia menyorot langsung Shin dengan mata tanpa ejekan atau tawa. Mata dingin seseorang yang bertahun-tahun bertahan di sektor 86, meskipun tidak menghabiskan lebih banyak waktu seperti Shin.

“… kau baik-baik saja?”

“…”

Shin menunduk, mengalihkan pandangannya. Dia tahu itu bahkan tanpa bilang apa-apa.

Dia sedang tidak baik-baik saja.

Shin tak tahu masa depan apa yang dicita-citakan atau diharapkan. Seluruh waktu yang dia habiskan untuk memikirkannya, masih tak dapat menemukan keinginan apa pun. Ataupun cara apa saja untuk mengisi kekosongan dalam dirinya. Shin tahu tidak bisa terus hidup dengan senantiasa menyerbu kematian, tapi Shin sadari dirinya terobsesi akan kematian yang mengelilinginya. Dia kira sedang menghadapi kematian secara langsung, tetapi kenyataannya itu hanyalah alasan agar tidak berharap pada masa depan.

Kini dia bahkan tak mampu melepaskan diri dari pertempuran yang sampai sekarang selalu mampu diperjuangkannya. Sejauh ini, selama pertempuran, dia bisa melepaskan dan melupakan segalanya, tetapi penderitaan ini menahannya. Sekarang, dia harus meragukan dirinya sendiri. Dia tidak bisa bilang tak ada masalah pada dirinya lagi.

“Ini bukan cuma karena kejadian di pangkalan benteng, kan …? Tentu itu pemandangan buruk. Mungkin kelihatan seperti akhir kita. Tapi kau semestinya tidak memikirkannnya sekarang. Sia-sia. Setidaknya sekarang.”

Shiden menyipitkan mata heterokromatik dinginnya.

“Aku kasih tahu. Keadaanmu sekarang ini, kami tidak boleh membiarkanmu menjadi bagian pasukan penyerang di operasi berikutnya, Komandan Operasi. Aku akan pinta Lena agar membuatmu tetap berjaga-jaga di Markas Besar. Mempertimbangkan kemampuanmu, palingan kau nanti di pangkalan-pangkalan juga, mengkomandoi pertempuran dari jauh … hal sama yang kau katakan kepada Rito. Kalau kau tidak bisa fokus pada pertempuran, kau cuma akan jadi beban semua orang.”

“Aku tahu,” responnnya pahit.

Shiden benar …. Betul-betul hal sama yang dia katakan kepada Rito. Shiden mendengus sambil memandang Shin.

“Hmph, kau betulan depresi, ya …? Kau bahkan tak membalasku …. Pokoknya, manfaatkan waktumu untuk istrirahat. Tetap di sini beberapa hari dan jangan pikirkan itu semua sama sekali. Juga, Lena histeris padamu, jadi pastikan perbaiki semuanya di sana …. Ah—”

Suara sepatu hak tinggi terburu-buru melangkah lantai mendekati mereka. Seseorang nampaknya bergegas masuk ruangan.

“Shiden! Mereka bilang Shin sudah bangun ….”

Lena berlari masuk ke ruangan, sepenuhnya melupakan wibawa dan sikap anggun perwiranya, kemudian berhenti begitu melihat Shin. Dia merona sejenak, melihat dirinya tidak mengenakan setelan penerbangan hanya kaos dalam, lalu dia menggeleng kepala mengusir pikiran tersebut dari benaknya. Mata keperakannya kemudian basah air mata.

“Shin …. Alhamdulillah ….”

Tatapannya membeku sedikit di depan mata Shin, dan wajah lembutnya berubah kesakitan ketika melihat kain kasa dan luka di baliknya. Shin selanjutnya sadar Lena bisa melihat bekas luka lehernya. Karena syalnya telah dilepaskan bersamaan setelan penerbangannya.

Tangan Shin langsung bergerak ke lehernya mencoba menyembunyikan lukanya. Dia tak memberi tahu Lena bahwa kakaknyalah yang melukainya dan tidak berniat membagikan cerita itu sama sekali. Oleh karena itu, dia tidak mau Lena melihatnya. Gerakan refleksif itu menahan napas Lena sepintas. Shin yang waktu itu sedang menunduk, tidak menyadari reaksi sedih Lena.

“Luka-lukamu ….”

“Cuma luka di dahiku ini. Tidak lebih.”

Shin tahu dia punya sejumlah kecil luka lainnya, tapi tidak dia sebutkan. Dia hampir tak merasakan sakit apa-apa sekarang ini. Hanya luka minor, dan Shin bahkan tak mengakuinya.

“Kau bilang begitu, tapi aku bisa melihat perbanmu …. Sumpah deh …. Dokter militer bilang kau perlu istrirahat beberapa hari ke depan, jadi kembali saja ke kamarmu dan istrirahat saja.”

“… maaf.”

“Ya, maaf kau tidak bisa lolos tanpa omelan kali ini, Kapten …. Apa yang terjadi? Ini bukan dirimu.”

“Ah, Baginda. Soal itu sudah aku marahi, jadi jangan terlalu banyak mengomelinya.”

Shiden ikut campur pada pembicaraan mereka, tapi Lena abaikan. Diremehkan membuat Shin merasa buruk, jadi dia bangkit dari tempat tidurnya kemudian mengenakan atasan seragamnya.

“Pikiranku tidak bisa diam … terus kehilangan fokus. Takkan terjadi lagi.” “Kehilangan fokus …?”

Lena ragu-ragu sebentar tapi akhirnya memutuskan dia perlu menegurnya kali ini sebagai perwira komandan. Alisnya diangkat dan bicara sambil menatap tajam sedikit.

“Ini karena apa pun yang akhir-akhir ini mengganggumu, bukan? Karena itulah kau berbuat kesalahan. Apa aku salah?”

“….”

“Sudah kubilang bakalan jadi masalah bila malah memengaruhi operasi. Aku memintamu menyelesaikan ini dengan menghadiri sesi konseling lebih lanjut, atau konsultasi bersamaku kalau tidak bisa menanganinya sendiri … aku akan dengarkan, apa pun yang akan kau katakan. Itu tugasku …. Dan itu yang kuinginkan. Kau kelihatan seolah sesuatu mengganggumu, seakan didesak …. Semua orang merisaukanmu. Dan begitu juga aku …. Ada apa, Shin?”

Selagi bicara, seringainya perlahan-lahan melunak, dan mata peraknya menatap serius Shin …. Tetapi Shin mengalihkan pandangannya.

Shin tidak bisa bilang pada Lena dirinya adalah faktor berbahaya bagi dunia yang diharapkan Lena. Bahwa Shin masih menuju kematian alih-alih masa depan yang didambakannya. Bahwa Shin saat ini tidak pantas berada di sisinya, dan walaupun dia ingin mengubah ini, dia tak tahu caranya.

Shin tidak ingin dirinya, dari semua orang, tahu kekosongan yang menggerogotinya dari dalam.

“Bukan apa-apa.”

Lena meringis gelisah.

“Kau tidak bisa bilang begitu padahal wajahmu seperti itu. Beri tahu seseorang mungkin membuatmu merasa lebih baik—”

“Tidak ada apa-apa.”

“Kau bohong …. Kau selalu bilang itu, tapi kau tidak baik-baik saja, kan? Kalau kau kesakitan, aku tidak keberatan mendengarkan …. Tidak, aku mau kau memberitahuku. Aku, umm, ingin mendukungmu, dan ….”

Shin kesal terhadap percakapan tak produktif mereka dan menyerang dengan nada keras.

“Tidak ada …. Tak ada hubungannya denganmu, dan tidak ada yang mau kuberi tahu.”

Dan baru setelah itu Shin menyadari yang dikatakannya. Mata besar Lena membelalak, sepertinya membeku di hadapannya. Lalu basah, ibaratnya retakan menembus kedalaman pualam itu.

“… kenapa kau bilang begitu?”

Suaranya mengandung hawa dingin yang belum pernah Shin dengar sebelumnya.

“Kau bilang tak ada apa-apa, tapi jelas dari wajahmu ada yang tak beres. Kau kelihatan sakit, kek menderita, tapi tidak pernah bilang apa-apa. Kau tidak mau membicarakannya denganku …? Apa aku setidak bisa diandalkan itu? Apa aku benar-benar tak cukup baik untuk membantumu? Bukannya kita …?”

Air mata menurun dari matanya dan membasahi pipinya. Satu demi satu. Shin memandang syok saat air matanya mengalir deras layaknya air menembus bendungan. Shin tahu dia mesti mengatakan sesuatu, namun pikirannya kacau, dan dia gagal memikirkan apa-apa.

Dan sesaat Shin tidak bisa berkata-kata, ekspresi Lena hancur di depannya.

“Bukannya kita bertarung bersama …?”

Pertanyaan Lena bergema laksana jeritan. Dan tanpa menunggu jawaban, Lena berbalik kemudian lari.

“H-hei! Baginda … Lena!”

Shiden tergesa-gesa mengikutinya. Suara sepatu bot militer beratnya perlahan-lahan semakin menjauh. Namun Shin tidak bisa bergerak. Dia tetap diam di tempat seiring suara langkah kaki mereka meninggalkannya.

   

   

Berapa lama dia berdiri di sana? Sesaat keributan dan suara langkah mereka hilang, Shin akhirnya sadarkan diri. Meskipun dia mengejarnya, Lena sudah lama tidak mau mendengar. Shin mendesah panjang dan menginformasikan dokter rumah sakit bahwa dia akan kembali ke kamarnya sebelum pergi.

Begitu dia meninggalkan rumah sakit, suara seseorang bicara kepadanya dari samping. “Kau tidak mengejarnya, Nouzen?” “… kau menonton?”

Punggung Vika bersandar ke dinding dekat pintu geser rumah sakit dan mengangkat bahu santai.

“Setidak berperasaan apa pun aku ini, bahkan aku pun tahu agar tidak mengganggu situasi canggung tertentu. Aku tahu kata-kataku tidak selalu diterima.”

Vika kemudian memalingkan pandangan ke koridor, mensinyalkan arah kepergian Lena. Shin menjawab sehabis mendesau pendek.

“Aku tahu mesti minta maaf.”

Shin tahu ini pasti salahnya, tapi entah dia salah apa. Shin menggentaknya, dan itu jelas-jelas salah. Shin melukainya, dan itu tidak benar. Tetapi yang menyakiti Lena bukanlah kata-kata tak sensitifnya, melainkan percakapan sebelum itu. Dan Shin tidak tahu letak kesalahannya di mana.

Bila Shin menilai semata-mata dari yang Lena katakan, masalahnya adalah Shin belum memberi tahu apa-apa kepadanya. Tetapi masalah yang dia perjuangkan sekarang ini tak ada hubungannya sama Lena. Shin tidak ingin membuatnya risau tanpa arti, jadi beban. Dia tidak ingin Lena tahu penderitaan yang dialaminya, yang semakin dia nyatakan semakin menyedihkan.

“Minta maaf padahal tidak tahu apa salahku … malah makin menyakitinya.”

Shin hanya menyakitinya. Dulu—sekarang juga.

Itu membuatku … sangat sedih.

Vika memiringkan kepala, wajah tampannya kehilangan senyumnya yang biasa.

“Kau ternyata pengecut.”

Komentarnya membuat Shin lengah sepenuhnya.

“Pengecut …?”

“Iya, dan maksudku bukan dalam pertempuran. Faktanya, kau ini tidak kenal takut sampai-sampai dibilang nekat, dan dalam konteksnya itu berbahaya, pikirku. Tapi intinya ….”

Dengan punggungnya yang masih bersandar di dinding dan tangan dilipat, Vika mencondongkan tubuh dan kepala terangkatnya menatap Shin. Tinggi mereka kira-kria sama, tapi Shin cuma lebih tinggi sedikit dari Vika. Sebab perbedaan tinggi tipis itu, mata ungu Imperial Vika mendongak ke mata merah darah Shin. Mata ungunya nyaris terlihat buatan dan mirip monster.

“Meski sebagai pihak ketiga, aku bisa tahu. Sesuatu menyumbat pikiranmu.”

Dia pura-pura merenung, agar sebenarnya tidak harus berpikir.

“Bukan berarti kau tidak tahu apa perbuatan salahmu. Kau hanya tidak mau memikirkannya. Kau seperti itu juga tentang keluargamu, kalau dipikir. Bukannya kau tidak bisa ingat; kau hanya tidak mau ingat. Kau tak ingin membuka luka lama …. Katamu tidak tahu berbuat salah apa-appa, bahwa kau tidak ingat. Namun menurutku, nyatanya, kau tidak mau pikirkan. Kau tidak mau berharap.”

“Itu ….”

Diberi tahu semua hal ini membuat Shin secara insting menyangkalnya. Bilang dia tidak bisa mengharapkan masa depan, tidak punya masa depan. Ini jalan pikirannya, namun dia tersadar sebenarnya dia tidak betul-betul ingin mengharapkan masa depan. Dia percaya kematian hanyalah cara bagi 86 untuk tidak mengharapkan masa depan.

Dalam hal ini, Shin pun harus mengakui bahwa perasaannya, bahwa berpikir tidak adanya masa depan adalah salah. Dia akan mengharapkan masa depan serta keinginannya … tetapi dia tidak boleh membiarkan dirinya berharap. Dan begitu dia menyadarinya, Shin tanpa sadar menutupi perasaannya, pura-pura tidak ada yang terjadi.

Namun pemilik mata ungu itu tertawa-tawa, tidak melewatkan kejapan emosi itu.

“Oh ya, aku belum bilang, ya …? Aku kenal ayahmu. Aku bicara sama beliau. Ayahmu, Reisha Nouzen adalah seorang peneliti kecerdasan buatan, seperti Zelene. Mau aku kasih tahu perbincangan kami? Kau sebaiknya mendengarkan, dengan asumsi itu tidak menyentuh luka terbuka apa pun.”

“…?!”

Perkataan mengejutkan itu membaut napas di tenggorokan Shin tercekat.

Jadilah anak baik … Shin ….

Shin tidak bisa mengingatnya sekarang. Tapi dia tahu sungguh-sungguh mengingat mereka. Suara ibunya dan senyum di bibirnya. Ibu-Ayahnya, kakaknya …. Semua wajah dan suara itu. Iya, dia ingat semuanya. Kemudian dia tersadar, di waktu yang sama, bahwa dia tidak mau mengingat.

Dan mengingatnya bukan hanya membuatnya benci memori itu. Namun karena memori tersebut terlalu mirip dengan hal-hal yang dia inginkan. Jenis kebahagiaan yang digambarkan Lena. Shin menyadari ingatannya dan kebahagiaan Lena sebutkan itu sama, dan karena itulah Shin tidak bisa membiarkan dirinya mengingatnya.

Maka dari itu, Shin tidak mau memikirkan kebahagiaan tersebut. Dia tak ingin mengingatnya. Karena kalau dia ingat, menjangkaunya, mendambanya, lalu sekali lagi menjadi …?

Itu membuatnya takut.

“… mungkin itu benar.”

“Akhirnya kau akui …. Orang-orang seusiamu lebih baik mati ketimbang membiarkan orang lain melihat kelemahan mereka. Tapi itu malah akan mengganggu orang sekitarmu. Misal kau terluka, ungkapkan sajalah. Dan memikirkan Milizé, aku akan blak-blakan mengatakannya sebab menontonnya jadi sangat menyebalkan—tetapi masalah Milizé juga sama. Katamu tidak mau membebani Lena, tapi penolakanmu untuk mengandalkannya dianggap kurang kepercayaan, dan itu menyakitinya.”

Sang pangeran mengangkat bahu, tidak sadar yang dia katakan tidak pantas dengan umur sekaligus merendahkan.

“Kau harus meminta maaf padanya jika bisa …. Dan ini dari pengalaman, tapi seumpama ada sesuatu yang mau kau katakan kepadanya, mestinya kau katakan selagi masih ada kesempatan. Karena begitu kesempatan itu hilang, hanya tersisa penyesalan.”

“… kau baik amat hari ini, Ular Pembelenggu.”

Shin tanggapi sarkastik usaha membencinya, namun Vika sepertinya tidak keberatan.

“Iya …. Karena Lerche.”

Shin menyipitkan mata seketika mendengar nama itu.

“Anak umur tujuh tahun itu mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan. Jadi anggaplah ini permintaan maaf. Biasanya aku takkan peduli-peduli amat sama kekacauan batinmu, tapi sesudah tahu Lerche-lah yang memicu ini, aku tidak boleh diam mengabaikannya.”

Kemudian Vika bicara, suaranya tanpa emosi ibarat menatap sesuatu yang sudah keterlaluan dan tidak bisa diperbaiki lagi.

“Dan sekarang kau mau menemukan kebahagiaan bersama seseorang.”

“…”

“Tidak ada bedanya bagiku isi pikiranmu. Tapi misalkan itu yang kau rasakan sesungguhnya ….”

Berikutnya Shin sadar bahwa Lerche memang didasari pada saudari sepersusuan Vika. Orangnya sendiri tidak pernah menceritakan gadis itu, namun Lerche sedikit berbagi. Siapa sebenarnya yang ingin bahagia bersama seseorang …?

“Walaupun kau tidak ingin mengharapkan kebahagiaan, kau betul-betul mengira tak mengharapkannya akan mengeluarkanmu dari kesedihan …? Tidak. Entah kau menginginkan kebahagiaan atau tidak, kau nantinya tetap kehilangan seseorang, dan rasa kehilangan itu perih. Rasa sakit paling tak tertahankan.”

Pangeran Ular itu tersenyum tipis. Dan dalam senyumnya, dia lanjut bicara sambil menyimpan amarah mendalam dan terang-terangan.

“Dan orang yang kau rindu masih hidup. Oleh sebab itu, jika ada yang mau kau katakan padanya, kusarankan katakan sekarang. Sebab kalau kau kehilangan dirinya … kau takkan bisa mengatakan apa pun lagi kepadanya. Tapi aku yakin kau tahu betul itu.”

Setahu Shiden, ini pangkalan negara lain, pangkalan yang tak dikenalnya. Budaya Kerajaan Bersatu sedari awal agak berbeda dari Sektor 86 juga Federasi, begitu pula tata letak fundamental dari strukturnya. Dan pangkalan cadangan ini sengaja dibangun membingungkan, biar menyesatkan para penyusup, berarti strukturnya jauh lebih sulit dinavigasi.

Lena mengenakan sepatu pantofel kaku dan tidak pandai lari, lantas sebenarnya sejauh apa dia pergi? Sehabis mencari di setiap sudut, Shiden akhirnya menyusul Baginda yang terpuruk di atas meja sudut ruang pengarahan kosong. Grethe tengah duduk di sampingnya, terlihat kaget oleh tingkah laku tidak biasa Lena. Raiden berdiri tidak jauh namun tidak dekat pula dari Lena, rupanya merasa terganggu karena tidak mampu memecah kesunyian. Dia menatap Shiden dan bertanya tanpa suara.

Ada apa?

Shiden juga menjawab tanpa suara.

Dia berantem sama Shin brengsek itu.

Oh, jadi begitu.

Raiden mengakhiri percakapan singkat mereka dengan bahu terangkat lelah. Shiden merasa sama. Sekilas terlihat ada yang mengganggu Shin. Dia biasanya menyimpan perasaannya, seperti Shiden sendiri, jadi dia bersimpati kepadanya. Namun membentak Lena, dari semua orang Lena yang dibentaknya?

Shin sepintas kelihatan tenang, tapi sebenarnya kesabarannya sedikit. Susah mengetahui ini karena kapan pun dia tak suka sesuatu, dia cepat tutup mulut. Terlebih lagi, dia tidak peduli sama orang yang tak dia kenal baik, sekalipun mereka memusuhinya.

Lalu fakta Shin dan Lena bertengkar … artinya dia tidak sanggup menjaga ketidakpedulian serta nada datarnya lalu naik pitam. Mungkin ini menunjukkan bahwa Shin menganggap Lena sebagai seseorang yang dekat baginya—atau bisa jadi, seseorang yang ingin dia dekati.

Tapi kesampingkan itu, Baginda sedang duduk di depan mata Shiden sekarang. Sulit mencari tahu Lena sadar atau tidak kalau Raiden sedang bicara diam-diam; Shiden yang buru-buru masuk ruangan mengikutinya; atau bahkan Grethe yang duduk di sebelahnya. Lena duduk diam menunduk. Rambut perak panjangnya tergerai bagaikan kupu-kupu yang sayapnya basah di tengah hujan.

“Um … kau tidak apa-apa, Baginda?”

Kepala Lena masih terkulai, dia menggumamkan jawabannya, suaranya sayu.

“Maaf.”

“… untuk apa minta maaf?”

“Maksudku …” Lena terisak. “Seorang komandan menangis di depan bawahannya, cuma karena salah satu tentaranya menolaknya …”

Rupanya Vladilena pikir itu memalukan. Grethe yang duduk di sampingnya tersenyum pahit.

“Rasanya seakan kau menyalahkanku di sini.”

Lena mengangkat kepala kaget terhadap pernyataan tidak terduga itu.

“… mana mungkin?

Lena bicara sangat santai padahal biasanya dia kaku sekali, tapi tidak seorang pun, termasuk Grethe, keberatan. Grethe menjawab, senyum sama terpasang di bibirnya.

“Seorang perwira komandan tidak menampilkan emosi di depan bawahannya. Itu jelas, tapi kenyataannya seorang perwira komandan adalah sesuatu yang kau jabat ketika jauh lebih tua dari anak-anak seumuranmu. Di usia bisa mengendalikan emosi sedikit lebih baik, sampai tingkatan tertentu. Jadi orang-orang berekspektasi kita tidak berteriak atau menangis.”

Seseorang menjadi perwira normalnya setelah menyelesaikan pendidikan tinggi mereka, berarti paling awal mereka akan mencapai pangkat letnan dua di usia dua puluhan. Meski begitu, mereka diperlakukan anak baru oleh perwira non-komisioner veteran dan mengkomandoi satu unit dengan bantuan para perwira ini.

Setidaknya perlu beberapa tahun, tergantung kemampuan individu seseorang, untuk sampai pangkat letnan satu atau kapten. Mereka takkan dipromosikan menjadi perwira lapangan sebelum sampai usia tiga puluhan. Letnan satu atau kapten di usia remaja sangatlah luar biasa, apalagi Lena yang merupakan seorang perwira lapangan.

“Fakta kau punya tanggung jawab yang dipaksakan kepadamu padahal masih muda dan belum bisa mengatur emosi membuktikan betapa kacaunya seluruh situasi ini … itu kesalahan kami—kesalahan orang dewasa—bahwa kami tidak sanggup memperbaikinya sebelum ini terjadi. Jadi tidak usah menguatkan dirimu seperti ini.”

Lena menurunkan alisnya terlihat menyedihkan.

“Tapi aku … seharusnya menjadi contoh kepada Prosesor ….”

Lena menyadari selepas semuanya, ini yang paling sukar ditanggungnya. Dia jujur tak memedulikan martabatnya sebagai seorang perwira, namun dia tak ingin 86 kecewa kepadanya. Dia tidak pengen mereka melihatnya sebagai … putri rapuh yang akan menangis atas rasa sakit sekecil apa pun.

Dia sudah beberapa kali meneteskan air mata menyedihkan di depan Shin, dan itu membuatnya makin ingin tidak tampil sebagai putri cengeng. Vladilena ingin menunjukkan mereka ini bukanlah diri sejatinya.

“Mereka semua tahu kerjamu bagus, jadi mereka takkan berpikiran buruk tentangmu cuma karena kau menitikkan air mata. Adanya, mereka pikir kau lebih menawan …. Kan?”

Grethe menatap usik Raiden yang terang-terangan mengabaikan wanita itu. Grethe jelas membicarakan seseorang yang tidak di sini, tapi dia tak lebih jauh membahasnya. Lena kemudian menjawab pertanyaan itu.

“Aku bertengkar dengan Shin.”

Mengatakannya makin-makin membuatnya sedih, sekali lagi matanya berlinang air mata.

“Kelihatannya ada sesuatu yang telah lama mengganggunya. Kukira dia menjauh hanya karena operasi terakhir, tapi baru-baru ini, dia malah lebih aneh. Jadi kubilang aku bersiap mendengarnya jika dia ingin bicara.”

Sang Ratu Bersimbah Darah terisak-isak seperti anak kecil.

“Tapi dia bilang bukan apa-apa. Dia takkan memberitahuku apa-apa …. Dia tidak mau mengandalkanku.”

Baik Grethe dan Raiden sama-sama diam dan tanpa kata menuturkan, Oh … yang terlintas di pikiran mereka. Ya, tentu saja Lena akan terluka karena itu.

Kapten Nouzen benar-benar cowok tulen … renung Grethe.

Aku mesti menyeretnya ke sini dan bertukar tempat dengannya.

Pemikiran Raiden mengenai masalah ini sedikit berbeda.

“Dia bilang tidak mau membicarakannya denganku …. Bahwa dia tak ingin bicara denganku.”

“Astaghfirullah ….” bahkan Grethe sampai memutar matanya. “Itu …. Ya, aku mengerti. Tapi sudah kubilang sebelumnya, kan? Ketidaksepakatan atau pertikaian sesekali itu wajar. Kalau tidak berselisih, aku pikir kalian malahan terlalu jauh. Semakin berbentrokan dua hati, semakin dekat keduanya. Kalau kau bertengkar dan nanti berbaikan … boleh jadi sebaiknya lakukan selagi perang berkecamuk.”

“Dia benar, Baginda. Kau bilang sendiri kalau mau adu mulut kau harus dekat dengan orangnya.”

“…”

Namun dalam hal ini Lena tidak berpikir demikian.

“… kalau saja aku Raiden ….”

Lena sendiri heran betapa bersut dan kekanakan suaranya.

“Kalau saja aku Raiden atau Theo, Shin pasti akan bicara padaku. Dia pasti mengandalkanku.”

Tidak sepertiku. Dua kata terakhir itu tidak pantas sekali diucapkan sampai-sampai entah bagaimana berhasil Lena telan. Faktannya, kapan pun dia membicarakan Raiden, Theo, Anju, Kurena, sekaligus Marcel, orang seangkatannya dari akademi perwira, Lena entah kenapa merasa terasing. Dia bahkan kadang-kadang merasa demikian dari Fido (yang tidak bisa bicara), Vika, serta Dustin.

Shin kelihatan berbeda dari mereka dibanding ketika Shin normalnya bicara dengannya. Ekspresi Shin berbeda di sekeliling meeka. Shin lebih kasar, tidak suka menghindar, berleha-leha, dan … ya, tidak dibuat-buat.

 Ibarat tidak menahan diri. Seolah bicara pada orang setara. Perasaan yang Lena rasakan, dan itu membuatnya frustasi.

“Yah … aku tidak tahu soal itu.” Raiden tersenyum pahit kepadanya.

Senyuman mengejutkan dan aneh yang menyimpan penyesalan mendalam. Dia tatap Lena sembari nyengir namun entah apa mirip tersenyum pahit.

“Ujung-ujungnya, kami hanyalah 86, sama sepertinya. Namun dia Pencabut Nyawa kami …. Dan karenanya kami bisa bertarung di sisinya, tapi tidak dapat berbuat apa-apa untuknya …. Seperti dirimu.”

“Kapten.”

Selagi Shin menuju kamarnya di sektor perumahan di pangkalan, Shin berhenti kala mendapati Rito menunggu dirinya.

“Kudengar kau terluka … itu salahku, bukan? Maaf.” “… tidak.”

Shin menggeleng kepala ringan. Itu bukan salah Rito. Shin tidak bisa menyalahkan Rito atas keadaannya. Lagi pula dirinya sendiri seragu dan segelisah Rito. Anak muda itu menatap langsung Shin dengan mata besar akiknya, kedalamannya serba penyesalan dan rasa sakit.

“Kapten. Mengenai operasi berikutnya … serangan Gunung Dragon Fang, anu ….”

“… kau lebih ingin tinggal di Markas Besar?”

Shin menuntaskan kalimat Rito, sebab kata-katanya gagap penuh keraguan. Operasinya menakutkan, mengingat sebesar apa pasukan Legion dibandingkan pasukan mereka. Bahkan tidak ikut andilnya Rito saja sudah jadi pukulan menyakitkan …. Tapi Shin takkan memaksa seseorang yang tidak mau bertempur. Siapa pun yang berperang tanpa seingin mereka … kemungkinan takkan kembali.

Tetapi yang mengagetkan Shin, Rito menggeleng kepala kuat-kuat.

“Tidak, malah sebaliknya, Kapten. Jangan keluarkan aku dari operasi. Aku … akan menyelesaikan ini sebelum waktunya pengerahan.”

“Tapi … bukannya kau ketakutan?”

Bukankah dia takut akan kematian yang menantinya di penghujung pertempuran …? Takdir yang menyambut 86?

“Aku takut.”

Rito akhirnya menjawab, bibir putih-pasinya mengerucut. Dan dia mengatakan ini seraya menolak menutup-nutupi semuanya, dengan tatapan seragu sebelumnya. Akan tetapi ….

“Tapi aku … aku tidak boleh lari dari pertempuran. Aku benci betapa memalukannya itu terdengar.”

Seorang 86 yang memilih bertarung sampai tetes darak terakhir tidak diperbolehkan melakukan sesuatu seburuk melarikan diri. Mereka tidak boleh jatuh ke sesuatu setercela itu.

“Aku tidak ingin … membuang identitasku sendiri.”

Sekalipun dia masih meragukan apa identitasnya.

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments