86 JILID 6 Bab 1

Posted on

di Hutan para Manusia Serigala

Penerjemah: Isn’t that right? Kaine!?

Pasukan Legion yang menuju Pangkalan Benteng Revich mengubah arah begitu pangkalannya direbut kembali. Tanggapannya, bala bantuan Kerajaan Bersatu menerobos pasukan garda depan musuh dan sampai di pangkalan sehari kemudian.

Serangan Legion sekarang ini tertunda bekat bala bantuannya …. Mereka hanya bisa menunda belaka. Mereka tidak bisa balas menyerang, mendesak Legion mundur, atau bahkan bertahan. Dengan kata lain, tidak Divisi Penyerang 86 ataupun pasukan Korps Lapis Baja ke-1 Kerajaan Bersatu akan selamat di medan perang ini.

Sayangnya, Pangkalan Benteng Revich harus ditinggalkan terlepas dari perjuangan mati-matian Divisi Penyerang dan para Sirin untuk kembali merebutnya. Truk transportasi putih unit bantuan beserta kendaraan transportasi biru baja Divisi Penyerang meninggalkan pangkalannya dengan damai sedamai prosesi pemakaman.

Selagi Lena duduk di kompartemen penumpang penuh sesak dalam salah satu kendaraan transportasi berat, Lena memandangi pemandangan salju suram lewat jendela kaca antipeluru.

Dia menatap dasar tebing terjal—tempat istrirahat singkat menyedihkan mereka dari medan perang, pangkalan yang mereka ambil alih dari Legion dan akhirnya gagal dipertahankan. Perhatiannya dialihkan ke salah satu sudut tebing, di tempat sisa-sisa jalan pengepungan nyaris tak terlihat.

Para Sirin serta Alkonost yang rela mengorbankan tubuh mekanik mereka demi membuat jembatan mengerikan tersebut, dianggap informasi rahasia berharga oleh Kerajaan Bersatu. Terutama kaum Sirin, sebab susunan jaringan saraf mereka akan terlampau berharga bagi Legion.

Kerajaan Bersatu mencoba memulihkan apa pun sebisa mereka dalam waktu singkat ketika mereka menduduki pangkalan, tetapi yang tersisa harus dihancurkan bahan peledak seluruhnya.

Mereka menyerahkan hidup mereka demi umat manusia namun tidak dikabung sebagai manusia.

86 yang pengabdiannya selama oeprasi Pangkalan Benteng Revich tidak kalah penting juga mengalami dampak parah. Meski tangguh dalam pertempuran, mereka harus tetap memperjuangkan nyawa mereka dalam kondisi cuaca bersalju yang tak biasa mereka rasakan. Dan walau dihalangi keadaan, mereka tetap berhasil memukul mundur Legion. Tetapi dari sudut pandang taktis, upaya mereka tak membuahkan hasil, dan mereka mundur dari misinya tanpa dapat apa-apa. Tidak seorang pun mengatakan sepatah kata semenjak meninggalkan markas. Perasaan kalah menggantung di udara layaknya asbut tebal.

Rute pengepungan buatan rongsokan Alkonost sekaligus tubuh-tubuh rusak Sirin jelas merupakan elemen pertempuran paling menghantui. Orang-orang mati memenuhi parit, membentuk gunung reruntuhan agar 86 bisa memanjat tebing. Batu nisan besar menandai tempat boneka berwujud manusia dihancurkan dan diinjak-injak sampai mati seraya tertawa-tawa.

Melihatnya disiarkan di layar saja sudah cukup mengerikan, tapi 86 menyaksikannya terjadi di depan mata mereka. Kemudian mesti berjalan menapakinya, sengaja menginjak mayat gadis-gadis itu, mengakui pengorbanan mereka seiring lajunya.

Penderitaan mental mereka tidak terukur.

Shin yang kini duduk di seberang Lena juga berada di sana. Lena mengerutkan kening, mengingat ekspresinya saat melihat sisa-sisa gunung Sirin. Dia kelihatan bak anak tersesat dan kebingungan yang sekejap bisa saja lenyap dalam salju. Bahkan Shin yang selamat dari horornya Sektor 86 dengan kematian pasti yang mengejarnya setiap hari, menunjukkan ekspresi itu.

Menoleh ke sisa kompartemen, Lena melihat para Prosesor tidur tanpa suara, setengah tenggelam ke kursi mereka. Tak satu pun terlihat hendak membuka mata dalam waktu dekat.

Shin juga bersandar di sandaran keras, lengan disilangkan dan mata tertutup. Dia menampakkan ekspresi biasa yang nyaris terlalu tenang, namun dia nampak pucat. Masih belum melepaskan letih beberapa hari yang dia kumpul selama pertempuran pengepungan.

Dia lagi tidur, kan …?

Lena pelan-pelan mengulur tangan dan meraih selimut yang dilempar ke sisinya. Suhu tubuh seseorang menurun ketika mereka tidur, dan kendaraan transportasi berat itu ber-AC, jadi dia membayangkan Shin takkan dapat banyak istrirahat jika kedinginan. Berjuang melawan ruang sempit kompartemen, Lena perlahan-lahan membuka selimut. Tapi begitu Lena mau menyelimutinya, mata merah tua Shin terbuka lebar.

“… Lena?”

“Eeh!”

Shin berkedip beberapa kali dan menatapnya bingung. Sadar betapa dekatnya mereka, Lena refleks melompat mundur. Dia melepas selimut ketika melompat lalu jatuh lembut ke pangkuan Shin.

“…? Ada apa?”

“E-enggak. Engga, err …”

Lena kembali duduk di kursinya secepat kilat. Kemudian menegakkan punggung dan menaruh tangan ke lutut dengan gerakan amat formal. Akhirnya, dia bicara sambil memutar wajah memerahnya ke arah acak.

“Kukira kau sedang tidur. Jadi aku …”

“Oh …”

Jawabannya lesu, dan reaksinya masih agak lamban. Lena memberengut cemas.

“Kau pasti lelah. Istrirahatlah.” “Belum. Kita masih berada di wilayah musuh.”

  Shin menggeleng kepala pelan, tahu dia takkan bisa tidur lagi.

“Bala bantuan Kerajaan Bersatu menangani patrol dan pertempuran. Jumlah mereka lebih dari cukup, jadi kau tidak harus memaksakan diri, Shin …. Tak apa. Ini bukan Sektor 86.”

Ini bukan medan perang sepi di mana seluruh pertarungan dan kematian ditanggung 86 seorang. Ini bukan Sektor 86, di mana seluruh dunia melawanmu.

“Aku tahu kau mungkin menganggap sifat manusia soal adalah mengorbankan orang lain demi menyelamatkan diri mereka sendiri. Tapi sifat manusia juga untuk bertarung melindungi tanah air seseorang dan orang-orang yang mereka sayangi. Jadi … tidak apa-apa, sungguhan.”

“…”

Shin tidak bilang apa-apa. Dia hanya menunduk melihat lantai. Kedipan matanya sudah selesai, ibarat menahan desakan untuk menutup mata. Tatapannya tak fokus. Dia sepertinya kelelahan.

“… Lena, kau …”

Kata-kata yang terurai dari bibirnya tidak terasa seakan ditujukan kepadanya, tetapi pada dirinya sendiri.

“… kau masih bilang begitu …? Bahkan setelah melihat itu …?”

Lena berkedip sekali terhadap pertanyaannya namun segera mengangguk waktu mengerti maksudnya: kata-kata yang suatu kala pernah dia katakan kepada Shin.

Apa dunia ini indah?

Dunia ini … orang-orangnya …. Bisakah kau mencintai mereka? “Kenapa kau bisa begitu …?”

Pertanyaannya singkat namun serasa terlampau memohon sampai-sampai Lena tidak mampu menahan senyum tipis nan sedihnya. Shin telah sepenuhnya menyerah dari dunia ini, dan baginya, pemandangan rute pengepungan yang dibuat Shin dengan tubuh mereka sendiri serasa bagaikan simbol seluruh kejahatan dunia dikumpulkan dalam satu tempat.

Jembatan tubuh itu mewakili kebenaran pahit dunia. Dan Lena tak memercayainya, tapi mungkin saja itu benar. Tapi ….

“… kau salah. Aku …. Bahkan aku tetap mengira orang-orang itu hina.”

Ada saat-saat Lena merasa merinding jijik pada kejahatan dunia; di tanah airnya yang tidak malu menganiaya 86; bagaimana laporannya terus-menerus diabaikan; bagaimana laporannya terus disalahpahami; pada sikap apatis semua orang; melihat para bawahannya yang dia kenal namanya, mati berbondong-bondong.

Belum lagi tumpukan mayat banyaknya orang-orang tanpa nama yang binasa dalam serangan skala besar.

Lena pribadi merasa muak pada dirinya sendiri—tidak pernah menanyakan nama siapa pun sampai diberi tahu kelalaiannya; karena tak pernah menganggapnya ganjil.

Dunia dan orang-orang tidak semuanya indah dan baik hati. Ada beberapa yang sangat tidak enak dipandang sampai-sampai tak kuat menghadapinya secara langsung.

Tapi tetap saja …

“Tapi …. Itu menggangguku. Seandainya dunia memang begitu, semua orang …. Tidak, aku …”

Sebelum hati Lena sampai puncak keputusasaan, dia menghentikan diri dan menggeleng kepala. Tidak salah lagi Shin kelelahan. Tubuh dan pikirannya pasti menjerit minta istrirahat.

“Maaf. Kita harusnya selesaikan obrolan ini nanti …. Lupakan dan santai saja sementara ini. Kalau kau tidak bisa tidur, istrirahatkan saja matamu.”

Lena menarik selimut yang tadi jatuh dan kali ini ditarik ke bahunya …. Tentu saja membuat tangannya mendekati wajahnya. Punggung tangan menyentuh pipi Shin, lalu Lena cepat membuang pikiran tentang betapa dinginnya Shin terasa. Gantinya, dia selipkan ujung selimut di tengah punggung Shin dan kursinya agar getaran kendaraan tidak menjatuhkan selimut itu.

Setelahnya si gadis kembali ke kursi sendiri dan mengawasi. Mematuhi kata-katanya, Shin memejamkan mata, dan tak lama kemudian tubuhnya melemas.

Dia pasti lelah sekali sampai-sampai tidak mampu membuka mata, jadi tidak Lena bayangkan dia bisa terjaga lebih lama lagi. Kursi kendaraan transportasi itu keras, duduk di atasnya sama sekali bukan pengalaman nyaman. Tapi meski begitu, Shin bisa bersandar dan tidur dalam waktu singkat.

Wajah tidurnya ternyata kelihatan muda dan cukup cocok usianya. Lena tak sanggup menahan desakan tersenyum, tapi dia segera mengerutkan alisnya lagi. Alasan dia tidur semudah itu bukan cuma kecapekan dari pengepungan. Tangisan hantu Legion mereda ketika kelompok besar bubar. Dan Sirin pun tiada.

Beberapa hari terakhir, dia bertempur di daerah jeritan mimpi buruk hantu-hantu mekanis seantero ratusan kilometer konstan menggelegar di telinganya. Menempatkan tekanan mental signifikan padanya. Lebih buruknya, Shin tidak terbiasa pada pertempuran pengepungan. Menantang benteng kuat dan berkali-kali meluncurkan serangan tak efekif telah melemahkan semangat juang seseorang. Penatnya parah sekali sampai-sampai begitu ada kesempatan, dia langsung tertidur.

… kenapa?

Lena mengerutkan bibirnya rapat-rapat. Berulang-ulang hal terbalik terjadi. Lena mengutarakan kesedihan, rasa sakit, dan rasa bersalah yang membebani dirinya, lalu Shin terima dan menghiburnya.

Tapi kenapa Shin tidak pernah bilang-bilang dia kesakitan? Mengapa tak bergantung kepadanya …?

 

 

Peta holografik muncul di atas meja biang mutiara yang dilapisi kayu eboni dipelitur.

“Seusai serangan Legion baru-baru ini, lini kedua dan area taktis Korps Lapis Baja ke-1 telah jatuh.”

Pengarahan ini diadakan di istana kerajaan Kerajaan Bersatu Roa Gracia, dalam ruang konferensi yang dikhususkan untuk dewan perang. Pengarahan ini dihadiri para perwira militer dan keluarga bangsawan yang bertanggung jawab atas operasi militer. Bahkan orang-orang yang masih berada di lini depan muncul dalam bentuk holografik serta melihat peta tiga dimensi di atas meja.

Garis holografik peta menelusuri bentuk salah satu zona perang Kerajaan Bersatu: penghujung pegunungan Dragon Corpse, di negara wilayah utara. Pasukan Kerajaan Bersatu ditempatkan di utara, sementara Legion berbaris di sepanjang selatan. Di antara kedua pasukan tersebut ada dataran rendah yang menjadi medan perang lini kedua.

Saat ini, pasukan Kerajaan Bersatu telah dipukul mundur ke puncak gunung utara, terpaksa mundur ke perkemahan cadangan mereka. Pasukan utama Legion telah memenuhi dasar gunung utara, dan sebagian besar peta diwarnai merah tua dengan titik-titik merah menandakan pasukan musuh.

“Legion sekarang ini tengah mendirikan perkemahan di daerah ini. Menurut perkiraan Cenayang Divisi Penyerang, adalah batalion musuh dalam perkemahan ini. Pengintai kita melaporkan bahwa batalion tersebut sekelompok unit lapis baja, kebanyakannya Löwe dan Dinosauria. Aman berasumsi mereka tengah bersiap melancarkan serangan lain.”

Ini salah satu taktik khasnya Legion untuk menerobos lini musuh. Mereka akan menekan pertahanan periferal dengan mengirimkan kumpulan Dinosauria yang memiliki daya rusak luar biasa kemudian tekan front depan dengan unit tambahan. Mereka mengulangi taktik ini melawan Kerajaan Bersatu, Federasi, Aliansi, dan bahkan melawan Republik San Magnolia, ditindaklanjuti Morpho menghancurkan dinding mereka.

“Semisal mereka menerobos bala bantuan kita di pegunungan Dragon Corpse, medan perang selanjutnya akan berada di dataran selatan. Ini tanah pertanian Kerajaan Bersatu—sebagai garis hidup kita. Semisal api peperangan menghanguskan area itu juga …. Walaupun saya tidak ingin terdengar tak sopan, sementara Yang Mulia berserta kastil beliau bertahan, Kerajaan Bersatu sendiri akan tamat.”

Tensi tak tertahankan bahkan berdasarkan standar negara militeristik ini menghampar di suasana dewan perang. Kalau begini, sama saja pasukan cadangan tidak bisa mundur ke medan perang manapun. Semisal mereka tak mempertahankan posisi …. Misalkan mereka tak sanggup merebut lebih banyak wilayah, maka takkan punya masa depan.

“Dan ada juga masalah penurunan suhu sebab gangguan Eintagsfliege yang terjadi semenjak awal musim semi. Jikalau kita tidak mengurusnya di musim panas, lahan pertanian selatan akan gagal panen.”

Duduk di singgasana di ujung terjauh ruangan, sang raja mendesah sedikit.

“Jadi umur kerajaan kita tinggal satu bulan setengah. Legion sialan …. Membiarkan lalat-lalat mereka mengudara sepanjang waktu juga pastinya sangat menekan mereka.”

Legion paling besarnya menghasilkan energi melalui pembangkit listrik tenaga surya. Seberadaptasi bagaimanapun mereka, bahkan mereka akan kesusahan bertahan di udara tempat sinar matahari jarang muncul, dan terlebih lagi selama musim dingin. Inilah alasan mereka mengandalkan pembangkit listrik tenaga panas bumi pula.

Dan sayap-sayap Eintagsfliege hanya bisa membawa mereka ke ketinggian tertentu. Demi menutupi langit selatan Kerajaan Bersatu, mereka harus mengandalkan angin dan kemampuan peluncuran jarak jauh Zentaur. Artinya mereka memerlukan pangkalan yang dapat meluncurkannya, cuma ada beberapa tempat untuk memungkinkannya.

Salah satu tempat tersebut adalah markas Legion yang memproduksi cadangan listrik panas bumi besar mereka.

“Gunung Dragon Fang …. Kita harus menghancurkan markasnya apa pun yang terjadi. Dan secepatnya.”

“Sesuai kehendak Anda, Yang Mulia. Kita harus menyelinap melalui pertahanan Legion, dan tahan pengerahan Eintagsfliege. Dengan demikian kita akan menghentikan produksi unit mereka …. Bila kita tak bisa melakukannya, juga mendorong keluar mereka dari front kedua, negara kita tidak punya masa depan.”

Sang raja mengangguk sekali kemudian bertanya:

“Bagaimana soal Divisi Penyerang, Zafar?”

Pangeran mahkota yang merupakan komandan pusat pasukan front kedua, mengangguk. Unit yang mereka pinjam dari negara tetangga akan menjadi kunci operasi perebutan Gunung Dragon Fang. Bilahnya masih tajam.

“Para perwiranya menuju ibu kota mengantisipasi operasi, sedangkan pasukan utama mereka sekarang ini sedang dicadangkan. Kita harus menunggu suplai mereka diisi kembali Federasi …. Tetapi mereka adalah pedang penentu kita untuk memerangi hantu-hantu mekanis. Mengerahkan mereka untuk hal tak penting hanya akan menghancurkan bilah mereka.”

“Mereka bisa dikerahkan, ya?”

Sang raja mengacu pada pedang perkasa dipinjamkan mereka oleh Federasi sekaligus burung-burung maut yang enggan dibanggakan Kerajaan Bersatu. Zafar tersenyum tipis, laksana pedang dihunuskan dari sarungnya.

“Tentu saja.”

 

 

“… tentang menyetok ulang Juggernaut yang hancur selama operasi Pangkalan Benteng Revich—semestinya kita mendapatkan jumlah yang diperlukan pada suplai terjadwal berikutnya. Federasi masih berusaha menyetok ulang dan menutupi kerugian dari serangan skala besar, jadi kita tak punya untung atau semacamnya, tapi Kolonel Wenzel berhasil mendapatkan yang dibutuhkannya dari mereka.

Meskipun dia perwira non-komisioner paling tua di antara mereka sekaligus sekadar kapten unit Vargus yang merangkap menjadi skuadron Nordlich, Bernholdt masih menjadi asisten Shin. Beberapa meja dibawa ke dalam ruangan, lalu Bernholdt bicara selagi Shin berdiri di depan mereka.

Sementara operasi perebutan Gunung Dragon Fang tengah dirancang ulang, Lena dan perwira-perwira lain, bersama sekelompok Prosesor seniornya Shin, Bernholdt, beserta komandan-komandan skuadron. Diperintahkan kembali ke ibu kota. Ruang umum vila Imperial yang berfungsi ganda sebagai kantor bersama kapten.

Dari jendela membentang pemandangan bersalju—pemandangan tak cocok mengingat musim panas nyaris tiba di depan mereka.

“Para petinggi dewan perang seharusnya tidak lama lagi selesai rapat, terus operasinya barangkali dimulai begitu kita dapat suplai. Keadaannya cukup tegang, bahkan sejauh ini dari lini depan. Aku yakin situasi perang cukup buruk sampai-sampai mereka tidak mau duduk manis menunggu pasokan kita dari Federasi tiba di sini …. Tapi terlepas dari itu …”

Shin-lah satu-satunya kapten dalam ruang umum; yang lainnya keluar punya tugas sendiri-sendiri. Bernholdt melanjutkan sehabis lesunya melihat sekeliling ruangan dan sekali lagi memastikan Shin seorang yang hadir.

“… kau baik-baik saja, bung?”

“… apa maksudmu?”

“Jangan tanyakan aku itu. Kau kelihatan sedikit lebih baik sekarang, tapi pas merebut kembali pangkalan benteng kau memerintahkan kami mundur? Suaramu gemetaran.”

Shin mengerutkan bibir. Bangkai-bangkai Sirin yang bergelimpangan di tanah lapang bersalju, fakta Shin mesti melangkahi mereka, menghancurkan tubuh mereka di lajunya—seakan perwujudan jalan yang mesti dia tempuh untuk sampai ke tempatnya hari ini, jalan yang dibangun di atas mayat rekan-rekan dikorbankannya.

Dulu, dia selalu berpikir:

Manusia semuanya monster.

86 sudah tahu apa yang menunggu mereka di akhir perjalanan—pahala akan harga diri sakral mereka—adalah gunung mayat-maya tertawa. Namun harga dirilah yang mereka miliki semata. Mereka tidak dapat mengubahnya sekarang.

“… takkan memengaruhi operasi.”

“Iya, tidak kuragukan, tapi …. Waw, kau betulan depresi. Tak kusangka kau mengakuinya begitu saja.”

“…”

Sial.

Bernholdt menertawakan iseng kecil-kecilannya sedangkan Shin meringis.

… ini menyebalkan.

“Hey, aku cuma lega kau bertingkah sesuai usiamu, tahu? Bahkan kami para tentara pun syok ketika melihat rute pengepungan. Mungkin jauh lebih sulit bagi kalian anak-anak.”

“Kalian bagaimana?”

“Yah, kami Vargus adalah manusia hewan. Kami takkan mau mati seperti boneka-boneka itu, tapi masih lebih baik ketimbang kematian tanpa arti. Oh, mati tanpa arti yang kami maksud itu mati kek orang tua yang ngorok dalam tidurnya di tempat tidur nyamannya.”

“Manusia hewan?”

Bernholdt sesekali menyebut Vargis demikian. Hewan berwujud manusia …. Dan dia senantiasa mengatakannya dengan nada bangga. Bernholdt mengangguk.

“Iya, mereka biasa memanggil orang-orang yang diusir ke luar dari kota dan desa begitu. Mereka memperlakukan orang-orang itu selayaknya serigala, bukan orang; orang-orang ini tidak bisa hidup di antara manusia dan tak pantas diperlakukan demikian.”

“Kukira itu hukum Sali1 …? Konsep cukup tua.”

“Malahan, aku harusnya bertanya kok bisa kau tahu soal itu … aku tahu kau ini kutu buku, tapi bagaimana bisa.”

“Asal-usul Raiden tertanam dalam mentalitas manusia hewan itu, jadi ya, aku pernah dengar. Rupanya, nenek moyangnya benci ideologi itu alhasil pindah dari Kekaisaran ke Republik.”

“Huh. Jadi itu alasannya Letnan Satu Shuga dipanggil Wehrwolf. Kalau dia dari Kekaisaran, para pendahulunya dari sekelompok Vargus atau apalah …. Setelah itu mereka berada di Republik, di sana mereka diperlakukan bagaikan binatang berbentuk manusia. Sungguh nasib buruk.”

“…”

Latar belakang Nama Pribadi Raiden adalah di saat Shin pertama kali bertemu dengannya, dia jauh lebih buas dan cenderung menggertak dan menyerang semua orang yang menghalanginya. Sebagian besarnya gara-gara hinaan.

Bernholdt sepertinya tak sadar Shin menghindari tatapannya dan melanjutkan:

“… omong-omong. Kami Vargus semacam manusia serigala: orang buangan tidak loyal yang dicampakkan di pesisir Kekaisaran. Kekaisaran tidak rugi apa-apa kalua membiarkan kami mati, tak seperti petani budak, jadi mereka selalu bolak-balik merekrut kami tatkala waktunya perang dan secara teratur mengirim kami tunjangan supaya kami patuh. Kelas prajurit bawahan yang dibebaskan pajak dan diberikan persediaan baik selama masa perang dan damai—adalah kami, Vargus …. Meski, karenalah itu rata-rata warga tidak mau berurusan dengan kami lagi.”

Dan bahkan saat Kekaisaran digulingkan dan usainya Federasi didirikan menjadi penggantinya, perpecahan antara mantan Vargus dan penduduk lain tetaplah ada. Vargus tidak punya kewarganegaraan Federasi tetapi sama-sama penduduk Federasi. Mereka tidak diizinkan memasuki akademi perwira atau sekolah pelatihan militer, tetapi orang-orang di medan perang ini masih diperlakukan bak pasukan tentara bayaran.

Oleh karena itu, mereka manusia hewan. Hewan yang tidak lagi hidup di antara manusia.

“… pernahkah kau berpikir mencabut ideologi itu?”

“Tidak juga. Kami bergenerasi-generasi menjadi tentara pencari nafkah. Begini lebih mudah buat kami.”

Bernholdt tenang sempurna seraya bicara, tidak getol atau tidak puas. Suaranya memperjelas yang dikatakannya.

“Berabad-abad, kami hanyalah berperang. Haus akan pertempuran mengalir di nadi kami, tahu? Jadi masuk akallah kami tak akur sama warga, dan kami juga tidak tahan hidup damai di kota …. Ujung-ujungnya, serigala tetap serigala sampai mati. Kami tidak bisa jadi manusia, dan dari awal kami ga pengen jadi manusia.”

“…”

Kami hanya punya harga diri. Dan tidak ada yang mengubahnya.

Menatap Shin terdiam, Bernholdt mendadak tersenyum. Rambutnya abu-abu tua dan bermata emas. Sesuai deskripsi pria itu mengenai dirinya, dia entah bagaimana mengingatkan Shin akan serigala tua. Tanpa perasaan dan brutal.

“Jangan hilangkan sisi imutmu itu, dengar? Kalian 86 tidak mau menjadi sesuatu yang bukan manusia, bukan?”

“Baiklah, seperti yang kalian ketahui, tujuan kita masihlah menghancurkan pangkalan Gunung Dragon Fang.”

Sebuah ruangan umum disiapkan dalam istana untuk menggelar dewan perang. Vika bicara sewaktu peta holografik medan perang muncul di atas meja parket apik, dan sejumlah layar holo lain diproyeksikan dari terminal informasi seluler. Selain Vika dan Lena, Grethe sebagai komandan Divisi Penyerang juga hadir, sekaligus kapten-kapten skuadron Divisi Penyerang juga perwira staf resimen Vika.

“Korban jiwa Divisi Penyerang selama pertempuran terakhir mestinya tidak membahayakan misi ini. Korban jiwa di resimenku juga masih dalam parameter bisa diterima.”

“Ya.”

Akan tetapi ini tidak memperhitungkan banyaknya Sirin yang sudah mati. Para tentara resimen Vika kelihaitannya trauma oleh cobaan berat tersebut sebagaimana 86. Para Handler yang secara emosional terikat kepada bawahan-bawahan mereka mengalami demoralisasi.

Namun Vika nampaknya tidak terlalu mengindahkan keresahan para prajurit dan nampak hampir teramat-amat tenang.

“Masalahnya ada di kekuatan utama Kerajaan Bersatu. Mereka sibuk menahan lini depan Legion. Termasuk sibuk mengurus suplai. Kita tidak bisa mengharapkan mereka mengirim pasukan pengalih seperti kali terakhir. Berarti kita tidak bisa menjalankan operasi serangan yang kita susun sebelumnya.”

Lena menganggap suara dan ekspresi tenangnya dengan perasaan campur aduk. Dia tahu Vika lagi memikirkan tindakan balasan juga, dan hanya bertindak demikian sebab tahu mengungkap kekhawatiran takkan menguntungkan sama sekali. Dan biar begitu, Lena merasa reaksinya tidak wajar. Berbeda dari Lena, Grethe bicara dengan nada tak acuh.

“Mau kita tembus pertahanan Legion seberapapun, kita harus menyeberang tujuh puluh kilometer …. Tidak, sekarang karena sudah mundur ke front kedua, jadi sembilan puluh kilometer. Kita diharapkan melewati jarak itu dan menekan pangkalan Gunung Dragon Fang. Kita harus memikirkan ini dari awal.”

Sebuah layar holo baru terbuka, menampilkan jumlah Legion. Ikon-ikon unit membentuk formasi persegi panjang di seluruh peta. Melihatnya, Lena meringis. Seluruh pertempuran mereka seperti ini, tapi …

Kami Legion, karena kami banyak2. Kalimat itu benar. Pasukan mereka maha besar.”

Legion juga tidak tanpa kerugian dari pertempuran terakhir, tetapi jumlah mereka tak berubah. Legion berhasil mengisi kembali kekuatan hilang mereka dalam rentang waktu singkat. Kemampuan Weisel untuk memproduksi massal unit dengan aman di lini belakang Legion secepat dan semenjengkelkan sebelumnya.

Mereka tidak boleh mencoba menembus lini depan Legion secara langsung. Idenya tidak masuk pertimbangan. Upaya apa pun untuk masuk paksa pertahanan musuh memerlukan pasukan yang beberapa kali lipat lebih besar dari sekarang ini.

Ada opsi memisahkan formasi musuh untuk mendaratkan serangan terpusat di titik pasukan mereka lebih tipis, tetapi ada batasannya. Divisi Penyerang hanya seukuran brigade, dan usaha apa pun yang mungkin mereka perbuat tuk memecah kekuatan utama musuh kemungkinannya gagal mencapai hasil diharapkan.

Ketika itulah Lena mendapat ide.

“Bagaimana kalau penjatuhan udara3 …?”

Misalkan Legion bisa melakukannya, kenapa mereka tidak bisa?  

“Mustahil. Legion punya Stachelschwein yang diposisikan di wilayah Kerajaan Bersatu juga. Terlebih lagi, jumlah Eintagsfliege yang dikerahkan di sini jauh lebih padat ketimbang di Republik ataupun Federasi.”

Selain gangguan elektromagnetik, Eintagsfliege juga mampu melakukan tindakan ofensif terhadap pesawat. Mereka akan mengerumuni pesawat kemudian terbang langsung ke mesinnya, dihancurkan dari dalam. Ancaman ini ditambah Stachelschwein beserta meriam antiudara mereka, membuat infiltrasi wilayah udara Legion jadi terlalu sukar.

“Kalau begitu barangkali mesin rudal—”

“Kerajaan bersatu tidak punya tipe mesin rudal manapun yang sanggup menopang berat pasukan garda depan.” Vika memotongnya dan mendongak. “Kolonel Wenzel. Tahun kemarin, selama operasi penaklukan Morpho, Federasi menggunakan kendaraan bersayap aerodinamika untuk mengangkut pasukan garda depan Kapten Nouzen. Akhirnya pendaratan darurat, tapi apakah Federasi kebetulan punya lebih dari satu?”

Lena berkedip kaget mendengar ucapan Vika. Pertama kalinya dia mendengar itu. Kendaraan bersayap aerodinamika? Berlayar persis di atas tanah dan langusng menuju wilayah Legion? Saat Shin dan kelompoknya masih berada di bawah komando langsung Grethe, ukuran mereka hanya satu skuadron saja.

Benarkah Grethe yang senantiasa bersikap layaknya orang dewasa matang dan bertanggung jawab, sungguh-sungguh melakukan hal senekat itu?

“Hanya ada satu unit Nachzehrer …. Itu kendaraan bersayap aerodinamika yang disebutkan barusan. Dan jatuh selama operasinya. Semua purwarupa dan material yang dipunyai pengembang telah dirampas dan dibongkar. Tidak ada yang tersisa. Dan meskipun keendaraannya masih utuh, kami cuma punya satu.”

 “Dan sekalipun tidak kuat menahan berat sebesar itu. Pangeran barangkali tak punya cukup pilot untuk mengudarakan lebih dari satu.”

“Aku mengemudikannya sendiri selama operasi itu, tapi tidak punya pengalaman terbang di langit Kerajaan Bersatu. Dan sekalipun ini kurang ajar, aku ragu negara pangeran punya pilot yang sanggup menerbangkan apa pun yang bukan pesawat transportasi.”

“Aku akui jet tempur dan pengebom kami cuma mengumpulkan debu dihanggarnya.”

Vika mendesau, diam-diam mengakui mereka kekurangan pilot. Kemudian Lena lanjut bertanya:

“Tidak bisakah kita buka rute invasi menggunakan rudal atau artileri?”

“Sistem pemandu rudal takkan beroperasi dalam kondisi ini, dan artileri berat tidak memberi kerusakan efektif cukup kepada Dinosauria. Para Dinosauria dapat menyerang langsung melalui tembakan Skorpion. Itu yang mereka lakukan dalam serangan skala besar.”

“…”

Jadi daya tembak utuh juga bukan jawaban, biarpun bisa dia tebak begitu. Ketika hening menyelimuti ruangan, Lena memutar otak. Sesuatu …. Pasti ada sesuatu. Semacam cara mengangkut Juggernaut atau membuka rute menuju Gunung Naga Fang. Pasti ada …

Mata Lena membelalak tersadar.

Mungkin kami bisa …

Vika jelinya menyadari perubahan ekspresi Lena. “Kelihatannya kau memikirkan hal brilian, Milizé.”

“Tidak …” Lena jujur tak bisa bilang idenya itu brilian. “Tapi kurasa lebih baik ketimbang meminta Divisi Penyerang menyerang sesuai rencana. Dan bagaimana Sirin? Aku harus tahu berapa jumlah mereka yang bisa kita harapkan untuk pertempuran ini.”

Vika mendengus. Wajahnya terlihat tersinggung, seolah-olah Lena mengajukan pertanyaan dengan jawaban jelas.

“Kau tidak paham? Gadis-gadis itu tuh senjata. Dan perihal perang, orang harus mengutamakan kuantitas di atas kualitas. Mereka tidak bisa dianggap persenjataan canggih sekiranya tak bisa diproduksi massal, bukan?”

 

 

Suara sepatu bot militer mengklik lantai bergema dari belakang Shin. Langkah kakinya kedengaran cukup agresif memperhitungkan kecepatannya. Menilai panjang langkah sosok mendekat, mereka lebih pendek dari Shin—tapi jauh lebih berat, seakan-akan kerangka dan organ mereka seluruhnya buatan logam dan dilapisi otot serta kulit buatan.

Shin merasakan Rito yang mengekor di belakangnya, menelan ludah lalu terhuyung mundur selangkah dari sosok itu.

“Senang bertemu Anda lagi, Tuan Pencabut Nyawa.”

Sedang menghadap koridor parket, Shin berbalik dan mendapati gadis relatif tinggi. Rambutnya berwarna merah membara, merah nian hingga tak alami. Dia mengenakan seragam merah yang dikhususkan untuk gadis-gadis itu, dan dia punya kristal saraf kuasi ungu ditanam di dahi.

Dia bicara dengan suara sama yang menuturkan kata-kata yang sangat jelas Shin ingat.

Mari, semuanya. Silahkan.

“… Ludmilla.”

Ada getaran di suara Shin. Dia tak mampu menahan hati merindingnya, tapi gadis mekanik itu hanya menjawabnya dengan senyuman. Senyum anggun yang tidak menghiraukan kengerian orang-orang berdiri di depannya—senyum wajah sama persis yang diingatnya.

“Ya, pengenal unit saya adalah Ludmilla. Saya diizinkan dikerahkan ulang. Anda boleh menggunakan dan membuang saya sesuka Anda.”

Wajah dan ekspresi serupa yang mereka saksikan dihancurkan pada rute pengepungan berisikan rongsokan-rongsokan Alkonost dan Sirin.

Gunakan dan buang …? Bisa-bisanya kau bilang begitu sambil tersenyum …?!” serak Rito, terperanjat.

Tetapi ekspresi Ludmilla tak goyah. Dia tidak menyalahkan ketakutan pria itu maupun menunjukkan penyesalan apa pun pada tindakan masa lalunya.

“Kami senang melayani Anda. Jadi tolong gunakan kami sekehendak Anda.”

“…”

Para Sirin sebagaimana Legion—seperti Domba Hitam, Gembala, dan Anjing Gembala. Mereka senjata dibuat dengan mengasimilasi jaringan saraf orang-orang gugur dalam tugas. Struktur otak mereka, data pertempuran, serta kepribadian semu mereka seluruhnya disimpan aman dalam Kerajaan bersatu, di sanalah mereka bisa diproduksi massal, sejenis senjata modern.

Shin tahu semua ini. Dibandingkan Ludmilla yang mereka lihat telah mati beberapa hari lampau, Ludmilla ini cuma mempunyai kepribadian semu, juga data pertempuran dan kemungkinan ingatan sama dari beberapa hari terakhir sebelum operasi. Dalam hal ini, Shin tidak bisa menganggap kedua Ludmilla sebagai orang sama perihal tingkatan teknis. Tapi …

Begitu …. Ini … menakutkan …

Shin menganggapnya mengerikan. Beberapa hari lalu, gadis ini mati …. Tubuhnya tergeletak hancur di medan perang. Namun di serangan berikutnya, dia akan kembali segera ke garis depan, bertarung seperti sebelumnya. Kelihatan persis sama. Suara, ekspresi, ingatan, dan tingkah laku serupa.

Ibaratnya tidak terjadi apa-apa.

Gadis-gadis ini yang diperlakukan laksana barang buangan—seperti 86—terus bangkit dan terjun ke medan tempur. Yang harusnya satu kematian malah menjadi kematian berkali-kali selama seperlunya. Hidup mereka dianggap tidak lebih dari sampah. Dan mereka sendirilah yang mengemban pola pikir ini.

Bagi manusia yang di tingkat tertentu, tanpa akhir terpaku pada cara dan alasan kematian mereka, inilah penyimpangan terbesar yang bisa dibayangkan.

Memperlakukan kematian layaknya kematian. Tidak ada arti. Tanpa nilai.

Mereka dihadapkan gagasan tidak perlunya signifikasi atau manfaat apa pun tentang itu—atau dalam hal ini kehidupan pra kematian.

“… benar.”

Selagi Lena berjalan menyusuri koridor menghubungkan ruang konferensi kastil menuju vila Imperial yang menjadi barak mereka, Lerche berpapasan dengannya.

“… ah.”

“Wah, ternyata Nona Reina Berdarah.”

Lena menghentikan langkah, dan Lerche menyapanya tanpa emosi apa pun di suaranya. Anggota tubuh yang hilang selama pertempuran terakhir masihlah utuh dan melekat di tubuhnya, tiada tanda luka lain yang dia alami selama pertempuran itu …. Tidak juga bekas luka di lehernya yang membuktikan kepalanya hanyalah satu-satunya bagian dirinya yang selamat dari kejadian baru-baru ini.

Lerhe menekan kepalan tangannya ke bagian tengah dada memberi hormat tangan di depan jantung yang umum di Kerajaan bersatu.

“Unit Sirin Pertama, Lerche, sekali lagi beroperasi penuh, sesuai yang bisa Anda lihat. Saya bermaksud rajin melayani sebagai pedang berkilau demi Kerajaan bersatu dan Divisi Penyerang 86. Silahkan gunakan saya sesuka Anda.”

“Aku … mengerti. Itu, err … lebih cepat dari yang kukira.”

Lena sengaja menghilangkan kata perbaikan. Lerche semata-mata tersenyum, sepertinya tidak tersinggung.

“Menurut saya membutuhkan waktu lebih lama. Seluruh bagian tubuh saya hanya bisa diganti di bengkel Paduka …. Sirin lain suku cadangnya dirakit terlebih dahulu dalam pabrik produksi dan pangkalan-pangkalan lini depan, dan hanya perlu memasang kepribadian semu serta data pertempuran terbaru sebelum aktivasi. Mereka nyaris bisa langsung kembali dikerahkan kendati tubuh mereka hancur sepenuhnya—seperti halnya di pertempuran sebelumnya. Faktanya, ada banyak Sirin berpengenal dan berpenampilan sama yang dikerahkan secara bersamaan di unit-unit berbeda.”

“…”

Bagi Lena, gagasannya kelewat meresahkan, namun Lerche dengan bangganya mendeskripsikan keberadaan mereka sebagai senjata. Ini memperjelas bahwa Kerajaan Bersatu hanya memandang gadis-gadis ini sebagai komponen senjata. Tidak lebih dari barang-barang industri yang diproduksi massal.

Punya suku cadang serta unit siap siaga di pabrik dan pangkalan adalah hal wajar perihal persenjataan modern. Reginleif punya sejumlah unit cadangan yang disisihkan untuk setiap skuadron dan batalion. Shin contoh agak unik, namun bahkan di sektor 86, dia disiapkan satu-dua cadangan Juggernaut pribadinya, Undertaker.

Namun melihat logika sama diterapkan kepada gadis-gadis ini yang sangat mirip manusia, rasanya pelanggaran etika bagi Lena.

“… apa tidak sakit?”

“Maksud Anda apa?”

Pertanyaannya dijawab setenang itu membuatnya kehabisan kata-kata. Lerche barangkali terbiasa melihat orang-orang bereaksi seperti itu, tetapi dia tersenyum penuh pengertian dan lanjut bicara:

“Menurut Anda selongsong meriam dapat menjerit kesakitan saat disimpan dalam pabrik atau gudang? Atau bahkan momen-momen sebelum peledakannya? Manusia hanya menghindari kemungkinan perang dikarenakan eksistensi mereka bukan untuk perang. Namun kami, Sirin, adalah senjata. Kami diciptakan tuk menghancurkan musuh. Mati bersama musuh kami adalah kebanggaan tersendiri. Kami tidak menganggapnya menjijikkan. Yang ada …”

Lerche mengalihkan pandangannya ke sebuah pedang hias tua yang dipajang di dinding belakang Lena.

“… pedang itu jauh lebih menyedihkan dari yang bisa kami bayangkan. Dibuat untuk menebas musuh kemudian hancur di tengah sengitnya pertempuran. Namun takkan pernah memenuhi takdirnya. Kemajuan teknologi perang membuatnya ketinggalan zaman, menurunkannya menjadi barang hiasan yang selamanya dilihat semua orang dengan memalukan …. Anda pun sama.”

Kata-kata tidak terduga itu membuat Lena terdiam, dia hanya dapat menatap gadis itu yang sedikit lebih pendek darinya, lalu berkata:

“Kalian mengasihani kami?”

Lerche berdiri dengan punggung menegak kemudian mengangguk kaku dan bakti.

“Memang. Manusia membenci perang dan takut akan kematian yang didatangkannya. Tetapi tetap berada di medan perang …. Anda bertanya apakah saya sakit, namun saya mesti menujukan pertanyaan sama kepada Anda. Tidak seperti kami, bila mana Anda mati maka berakhirlah. Ada banyak sekali hal yang Anda ingin lakukan yang tak ada kaitannya sama pertempuran. Waktu Anda di dunia ini diperuntukkan lebih dari peperangan, namun Anda menyia-nyiakannya dengan berperang. Bukannya itu eksistensi menyakitkan?”

“… kau mungkin benar. Akan tetapi …”

Jawaban menyakitkan atau tidak jelas menyakitkan. Hal pasti adalah, Lena tidak bisa mengklaim dia senang atau gembira berada di medan perang. Dia kemungkinan takkan pernah bsia terjun ke perang seperti yang dilakukan Sirin selama pertempuran terakhir, tertawa-tawa ibaratnya takdir jahatlah yang mereka dambakan belaka. Sebenarnya dia tidak mau bertarung sama sekali.

Namun.

Pikirannya beralih ke Shin dan para Prosesor lain di skuadron Spearhead yang dia ajak bicara kala itu …

“… 86 memilih bertahan hidup di medan perang ini. Maka aku memilih bertarung di sisi mereka.”

Lerche memiringkan kepala bingung.

“Wah, wah … saya rasa benar kata orang tunawisma. Kian dekat Anda pada sesuatu, kain sulit pula melihat esensinya.”

Mata hijau Lerche memantulkan sinar matahari dengan transparansi berbeda dari mata manusia asli.

“Maksudmu apa …?”

“Saya berpendapat bahwa Tuan Pencabut Nyawa, dan 86 lainnya, faktanya tidak ingin berada di medan perang.”

“… semua orang betul-betul memikirkan masalah ini, bukan?”

Meksipun dikasih tahu mencampur kelopak manis dan buah yang telah disajikan bersama teh adalah perilaku buruk di Kerajaan Bersatu, Frederica tak terlalu mengindahkan peringatannya. Salah seorang pelayan pribadi keluarga kerajaan lebih tua nampaknya menyukainya dan secara reguler menaruh porsi ekstra besar berbagai jenis gula hias di piring kecil peraknya.

Tehnya kepenuhan kelopak manis, tapi Frederica tidak menyentuhnya, malah menatap termenung ke dalam cangkir seraya bicara. Duduk di seberanngya, Raiden mengangkat alis. Mereka berada di ruang berjemur vila, tapi tamannya saat ini diselimuti salju monokromatik menyesakkan.

“… iya. Itu masalah, oke.”

Dia mengingat jalan pengepungan yang harus mereka lintasi, terbuat dari bangkai-bangkai Alkonost dan Sirin, kemudian gambaran yang dibayangkannya. Rito serta para Prosesor muda lain tampaknya begitu terpengaruh, biarpun mereka tidak ungkapkan perasaannya.

Tetapi efek peristiwa traumatis kepada masing-masing mereka kelihatan jelas. Laporan mereka lebih sering dipenuh kesalahan kecil dari biasanya. Banyak Prosesor belum menerima pendidikan sekolah dasar dan tidak ahli membaca atau menulis. Namun meski sudah dipertimbangkan, kesalahan mereka melebihi kesalahan normal.

Mereka tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan di depan mata. Pikiran mereka di alam lain, tidak fokus pada apa yang ada di tangan. Mereka tak memeriksa dokumen baik-baik, meski berhubungan persoalan hidup-mati.

“Jika dibandingkan denganmu, kau kelihatan oke-oke saja.”

“Iya, karena aku tidak di sana melihatnya. Aku cuma lihat ketika semuanya sudah berakhir.”

Dia tidak menonton Sirin mengorbankan diri untuk merangkai rute pengepungan itu, dan Raiden tidak harus melgnkahi sisa-sisa mekanikmereka untuk naik. Tetapi bahkan 86 lain yang tidak berada di sana melihat kejadiannya—cuma kebetulan saja melihat pemandangannya sesaat melawan sisa-sisa pasukan musuh—terguncang oleh pemandangannya.

Fakta dirinya tidak tergoyahkan bisa jadi karena baru melihatnya sesudah kejadian.

Tidak, boleh jadi … sebab dia bilah yang paling minim kikisnya di antara mereka.

Sampai usia dua belas tahun, Raiden dilindungi dalam Sektor Republik 85. Berarti dia lebih sedikit dijadikan sasaran kebencian Republik, dan lebih banyak melihat kebaikan manusiawi ketimbang rekan-rekannya.

Aku mungkin saja kehilangan banyak hal di Sektor 86, tapi … masih ada hal-hal yang belum hilang dariku.

Frederica menatapnya penuh perhatian, ibarat sedang memeriksa semacam luka.

“Dan … kau memikirkan apa saat melihat mereka?” tanya Frederica, “aku tak mau berakhir seperti itu.”

Responnya singkat, dia dia baru sadar betapa kasar nadanya setelah selesai bicara. Dia mendecakkan lidah sedikit agar Frederica tidak mendenganrya.

Situasi kami buruk dan hanya bisa berbuat sedikit. Kami sampai sekarang belum menyadarinya saja.

Raiden buang muka, tidak mampu menatap mata mungil dan merah darahnya. Rasanya tatapan merah tua itu mampu membaca isi hatinya, membakar setiap kebohongan dan tipuan yang mungkin dia katakan.

“… aku tahu kau pengen bilang apa. Kalau aku merasa seperti itu, terus kita harus melakukan apa? Kita harus melakukan hal beda apa agar tidak berakhir seperti mereka? tapi aku pun tidak tahu.”

Para Sirin berbeda dari 86. Sudah pasti. Tapi bedanya apa? 86 harus harus beramal lain apa supaya mencegah mereka menjadi mayat-mayat terlupakan di atas tumpukan-tumpukan rongsokan? Itu pertanyaan yang Raiden—dan boleh jadi rekan-rekannya juga—tidak bisa jawab.

Sebetulnya ….

Dia mengerut bibir membentuk seringai pahit.

Aku tidak mau tahu boleh jadi jawaban jujur pertanyaanmu. Benci kuakui, tapi itu ….”

Suatu waktu Shin pernah mengatakan hal semacam itu.

Tidakkah ingin kau ingat?

Keluarganya. Kampung halamannya. Masa depan yang samar-samar dia impikan saat itu. Periode waktu dirinya bahagia.

Raiden menolaknya, dan Shin sepertinya merasakan hal serupa—tidak keduanya ingin ingat. Tidak, lebih tepatnya, mereka tak ingin memikirkannya sama sekali. Mereka tidak mau memikirkan masa depn yang beraninya mereka perhitungkan.

Lagi pula, seorang 86 harus percaya bahwa …. “… itu bukan sesuatu yang boleh kami harapkan.”

“Ternyata, mereka akan memutuskan secara spesifik operasi berikutnya kapan pun.”

Mereka kemblai ke istana kerajaan dan menunggu detail-detail misi berikutnya mereka diselesaikan. Tapi sekembalinya mereka, semua orang di istana kelihatan memandang dingin dan muak mereka. Bukan salah 86 Kerajaan Bersatu harus mundur ke lini kedua, tapi tetaplah fakta mereka dikerahkan dan tak mencapai apa pun.

Theo-lah yang angkat bicara, duduk di salah satu ruangan vila Imperial yang berfungsi ganda sebagai barak mereka. Jelas orang lain akan meremehkan mereka. Karena Divisi Penyerang menghindari perkelahian tak penting, mereka seringnya tinggal di villa.

Mereka tahu orang lain cuma menganggap mereka sebagai pengamuk haus darah dan sejak bergabung militer, mereka pun tahu kerap dilihat sebagai senjata.

“Maksudku, mereka tidak boleh membiarkan kita 86 numpang makan-tidur selamanya. Lagian Kerajaan Bersatu lagi dalam posisi sulit …. Tapi tetap saja …”

Dia mendongak dan bicara pada sosok yang menatap lesu ke luar jendela.

“Kau baik-baik saja, Kurena?”

“Apaan? Aku baik-baik saja; tidak lihat?”

Kurena mungkin menjawab dengan suara lebih masam dari yang diniatkannya. Dia sudah seperti ini sejak merebut kembali Pangkalan Benteng Revich …. Sedari penyerbuan itu, dia terus-terusan gelisah seperti kucing terluka nan mengerikan yang menolak upaya siapa pun untuk mendekatinya.

Shin, Raiden, Anju, dan Theo sendiri sama …. Berlaku kepada seluruh 86, sungguh, meskipun beda-beda parahnya. Kurena menyipitkan mata emas kepada Theo, sipit sekali seolah-olah kesal sama diamnya.

“Kita berbeda dari benda-benda itu.”

Dari unit prosesor senjata tanpa awak itu—Sirin. Sirin yang tertawa-tawa bangga selagi diinjak dan dihancurkan.

“Kita tidak sama dengan mereka. Maksudnya, itu jelas, kan? Aku tak tahu mengapa semua orang begitu memikirkannya. Mereka …. Para Sirin—kita bukan mereka.”

Tapi Theo dapat mendengar suara berderit dari gigi mengatupnya di balik kata-kata itu. Dia bicara menyangkal, seakan-akan memprotes dirinya sendiri.

“Gunung mayat itu …. Itu bukan mayat kita.” “Benar.”

Sirin dan 86 itu berbeda. Gadis-gadis itu menertawakan prospek diinjak-injak tidaklah mewakili masa depan yang harus dinantikan 86. Dia tahu itu. Itu … semestinya begitu.

“Tapi kau tahu, keknya …. Apa yang membuat kita amat berbeda? Kita 86 tidak tahu jawabannya, dan kupikir … karenanya tidak bisa kita sangkal. Aku merasa sama ….”

Mereka akhirnya akan menemui kematian. Dan ketika itu, akankah 86 mampu tertawa bangga? Tatkala mati tanpa arti? Mereka sangat menyadari kemungkinan itu. Dan mereka tak punya cara konkret untuk mengingkarinya. Itulah sebabnya ….

“Menurutku kita semua cuma … takut.”

Bahkan Shin pun ketakutan …. Bahkan Kurena yang menutup bibirnya rapat-rapat dan mengalihkan pandangannya juga ketakutan.

“Kau tidak apa-apa, Letnan Dua Emma …? Uhhh, maksudku … Anju. Kau mampir lagi.”

Dipanggil panggilan canggung dan malu-malu itu, Anju mengangkat kepalanya dari meja kantor umum. Dia mematikan dokumen elektronik mengenai persenjatan dan suplai peletonnya kemudian mengangkat bahu dan menjawab.

“Aku kayaknya merasa begitu, tapi …”

Kembali melihat asal suara, dia ditatap mata perak dan rambut berkilau sekilau biang mutiara yang sudah tidak asing baginya. Ciri-ciri satu-satunya anggota di Divisi Penyerang yang mengenakan seragam pria berwarna biru baja Prussia. Dia sedikit lebih pendek dari Daiya dan setiap kali mencoba memandangnya, Anju senantiasa merindukannya sesaat.

“… kau benar-benar tidak terpengaruh oleh ini, ya, Dustin?”

Dia buru-buru menyusuri rute pengepungan bersama mereka. Di sisi lain, Lena, Vika, dan Frederica hanya menonton kejadiannya lewat layar pusat komando, sedangkan Annette dan Grethe tidak hadir sama sekali dan hanya mendengar serba-serbi pertempurannya setelah kejadian. Mereka semua bukan 86 ….

“Bukannya aku belum pernah melihat segunung mayat sebelumnya, selama serangan skala besar. Maksudku, err ….”

Selama serangan skala besar musim panas lalu, Republik paling terpukul. Seluruh negeri dimakan pasukan Legion, apalagi selama musim panas. Dinding dan ladang ranjau yang mereka bangun telah dikepung Legion, dan mereka tak bisa lari ke mana-mana.

Mesin pembunuh tidak menawan dan tak membeda-bedakan antara personel militer serta warga sipil. Mereka membantai sebagian besar populasi Republik sejumlah sepuluh juta …. Bahkan tidak sempat mengkremasi jenazah mereka.

“Mungkin ini tidak sopan, tapi aku tidak begitu paham kenapa kau sangat terganggu oleh ini. Operasinya buruk, tapi, anu … kau tahu. Saat kami melihat sampel otak, hanya tersisa kerangkanya saja. Sirin tak seburuk itu, jadi sejujurnya tidak tahu kenapa kau sangat terganggu.

Pikiran Dustin mengembara kembali ke penemuan Shin selama operasi Labirin terminal bawah tanah Charité. Sampelnya telah diekstrak, seperti benda biasa, dari kepala orang hidup.

Telah dibelah terbuka, dan otak-otaknya telah diekstrak lalu ditempatkan dalam sebuah silinder tanpa adanya moral kemanusiaan apa pun. Dan meski menyaksikan hal mengerikan bukan main, Shin tidak sedikit pun menunjukkan reaksi emosional.

Tatapan merah Shin melintasi mayat-mayat itu tanpa setitik saja emosi, seakan-akan kesemuanya sebatas benda.

Dingin itulah yang membuatnya layak menyandang julukan: Pencabut Nyawa. Namun selama operasi terakhir, dia berbeda. Dia melihat gadis-gadis mekanik itu senangnya melompat ke dalam jurang dan menyusun rute pengepungan dengan tubuh mereka. Pemandangan ngeri, tapi tidak jauh berbeda dari mayat yang mereka lihat di terminal. Tetapi tak seperti kala itu, Shin menunjukkan keraguan.

“… begitu. Kau benar-benar berbeda dari kami.”

Menatap tumpukan rongsokan itu rasanya melihat masa depan mereka sendiri. Mereka menyerbu kematian mereka, bersikeras harga dirilah yang mendorong mereka, seraya tertawa-tawa. Dan walaupun Dustin syok melihatnya, dia sendiri tidak bisa membayangkan dirinya berada di sana.

Sekalipun pemandangan sama, Dustin dan Anju melihat hal berbeda. Biar mereka berada di satu medan perang, dan Dustin rela memilih bertarung di tempat sama dengan Anju, seorang 86 dan seseorang yang bukan 86 itu beda. Kendatipun keduanya tak punya tanah air atau tempat berpulang lagi.

“… maaf.” Dustin menunduk.

“Jangan. Seharusnya tidak usah meminta maaf soal ini … Tapi ….”

Yang ingin ditanyakan Anju adalah pertanyaan kejam. Barangkali kedengaran ibarat dia menyalahkannya sebagai warga Republik. Dan meski bukan itu itikadnya, Anju masihlah seorang 86 dan Dustin adalah orang Republik, jadi boleh jadi rasanya seperti menyalahkan.

“… Dustin, menurutmu faktor hilang apa yang akan membuat kami seperti dirimu? Kami perlu memegang teguh apa … untuk tetap normal?”

“…”

Setelah mendengar pertanyaannya, Dustin memalingkan muka. Pertanyaan itu jujur dan sepertinya bukan penyalahan. Tetapi tetap membuat keretakan di antara mereka makin nyata. Menjadikan kekosongan tak terjelaskan pada tatapan Anju—kata-katanya—menjadi kelewat jelas.

“Kupikir kau salah …. Bukannya kalian tidak normal atau yang mirip-mirip dengan itu; hanya perbedaan nilai. Tapi ….”

Berhenti sebentar mencari-cari kata tepat, Dustin bicara lagi.

“… pikirku cara hidup kalian ini seperti siksaan. Ibaratnya bersedia mengikat diri kalian sendiri.”

Kami 86. Kadang-kadang begitulah Anju menggambarkan dirinya dan yang lain kepada Dustin. Mereka mengambil nama yang dipaksakan Republik, bermaksud merendahkan diri dan menjadikannya milik mereka dengan bangga. Tapi dari sudut pandang Dustin, nama itu kutukan.

Harga diri yang mereka bawa di saat yang sama, adalah kutukan yang mengikat mereka selayaknya belenggu. Hidup demi sesuatu dan hidup demi menjadi sesuatu—itu memberikan mereka tujuan, sekaligus kutukan yang menghalangi mereka untuk hidup demi alasan lain.

Dustin percaya sampai batas setiap orang hidup terikat kepada sesuatu. Seperti nasab. Atau bahasa, masyarakat, atau emosi. Nilai seseorang dan masa lalu yang menuntun ke masa kini. Entah sebebas apa mereka percaya diri mereka, kebebasan absolit tidaklah ada.

Namun ….

“Kapan pun kalian memanggil diri kalian 86, rasanya bagiku kalian tidak bisa menjadi apa-apa selain 86. Seakan bilang kalian tidak bisa berharap menjadi apa pun selain diri kalian sekarang ini ….”

 

 

Svetlana Idinarohk adalah kakak—ayahnya—sang raja tujuh tahun lebih tua, menjadikannya bibi Vika. Dan sebagaimana Vika, Svetlana adalah Cenayang keturunan Idinarohk—seorang Amethystus generasi sebelumnya. Ruang tamunya punya jendela separuh lingkaran dengan bingkai dekorasi berbentuk kipas lipat. Sinar matahari samar masuk dari taman membeku hampir tak menembus kaca berlapis ganda.

“Aku mendengar kejadian pertempuran terakhir kalian, Vika sayang. Pertempuran cukup mengerikan.”

Kemmapuan garis keturunan Idinarohk adalah peningkatan kecerdasan dan kreativitas seseorang. Melimpahkan seseorang kecakapan mental yang nampaknya mengabaikan logika serta batasan teknologi kontemporer. Tetapi entah kenapa, kemampuan inventif itu nampaknya hanya terwujud pada satu orang di waktu tertentu. Setiap kali seorang Amethystus baru lahir, yang sebelumnya mendadak kehilangan kemampuan inventif mereka. Karena itulah, selalu ada satu Amethystus saja.

Selama bertahun-tahun, Cenayang Idinarohk mengajukan banyaknya teori mengapa hal ini terjadi, tetapi tak satu orang pun cukup tertarik menyelidiki cukup dalam persoalan ini. Satu orang Amethystus akan mengakibatkan gangguan di dunia manusia. Semisal ada dua-tiga dalam satu waktu, raja pastinya kesulitan mempertahankan takhta.

“Aku bertemu Stanya …. Baginda memucat takut. Sekalipun tahu beliau mengirimmu menuju pertempuran …. Kau benar-benar kurang bakti kepada orang tua.”

“Oh, dan bibi tidak mencemaskanku, Bibi Svetlana?”

Svetlana tersenyum. Roman wajahnya lebih halus dari yang orang perkirakan mempertimbangkan fisik kecilnya, dan dia terlihat sangat mirip seorang gadis muda. Orang-orang kesulitan percaya dia lebih tua dari raja.

“Ular Idinarohk seperti kita tidak gampang terbunuh di medan perang. Kita menggali setiap sudut-celah dunia dan membedah temuan kita. Kendatipun kehancuran menimpa seluruh ciptaan, kita ular-ular berbisa akan nyengir dan mengamati semua fenomena itu. Mati sebelum dunia mati adalah rasa malu terbesar kita …. Jika kau mati, aku akan awetkan jenazahmu dengan kedua belah tangan sendiri. Ah, haruskah aku buat hiasan rambut dari rusukmu?”

Vika tersenyum tanpa kata. Dia sadar betul dirinya adalah ular yang melenceng dari akal sehat manusia. Namun di depannya adalah Svetlana yang penuh kasih menepuk kepala seekor anjing tengah tiduran di pangkuan gaunnya. Tidak, bukan kepala anjing—tengkorak anjing.

atau

Imbalan kecerdasan belebih mereka, banyak Cenayang Idinarohk keihatannya kekurangan hal krusial: rasa etika dan empati mereka. Fakta Vika telah dihilangkan hak penerus atas takhtanya tidak aneh dalam sejarah garis keturunan kerajaan.

Ruang pertemuan di istana sekarang dulunya adalah—ruangan besar penuh sayap kupu-kupu—didirikan monarki Idinarohk pertama, seorang Amethystus dikenal sebagai raja gila. Dia menyalurkan seluruh kekayaan negara musim dingin untuk membiakkan ribuan kupu-kupu di salah satu rumah kacanya, cuma untuk membunuh semuanya secara tiba-tiba.

“Seperti keinginan bibi, Bibi Svetalana. Karena inilah aku tidak boleh kalah dari Legion sekarang ini. Aku meminta bantuan bibi. Tolong bukakan gudang persenjataan bibi.”

Svetlana menyipitkan mata mengusik dengan sedikit kasih sayang.

“Kau masih jauh dari kata dewasa. Vika sayang.”

Vika menatap jelas bibinya, terkejut oleh kata-kata itu. Senyum sama di bibirnya, Svetlana mendongak, bulu matanya memberi bayangan tebal di atas mata violetnya yang sedikit lebih biru ketimbang Vika.

“Aku tahu dalam hatimu tidak suka pura-pura jadi tentara …. Lerchenlied, aku yakin itu namanya? Apakah gadis skylark4 emas itu sebegitu berharganya bagimu? Burung penyanyi kecil itu telah lama mati sekarang, tetapi kata-katanya masih mengikatmu.”

“Ya …. Sama sebagaimana Ayah begitu menyayangi Bibi Svetlana.”

Stanya. Sang raja punya beberapa saudara-saudari kandung, tapi satu-satunya yang diizinkan memanggil nama panggilannya adalah Svetlana.

Senyum bibinya semakin dalam.

“Sepertinya begitu …. Baiklah. Terserah dirimu saja dan ambil apa pun yang hatimu inginkan. Bagaimanapun aku tidak pernah bisa menolak permintaan putra adik laki-laki berhargaku.”

 

 

“Konferensi besar?”

“Ya. Rincian operasi telah diputuskan, jadi kita perlu meminta persetujuan Baginda, perdana Menteri, dan senat selama konferensi besar tersebut.”

Shin mengintip ke peta operasi holografik. Shin tidak pernah melihatnya di Sektor 86, tapi akhirnya dia terbiasa selama tinggal di Federasi. Lena mengangguk selagi Shin melihat peta dan mengulang pernyataan Lena.

“Dengan kata lain, kita perlu menjelaskan uraian operasi kepada para petinggi Kerajaan Bersatu. Pangeran mahkota yang memimpin front kedua akan menangani sebagian besar presentasi, tapi aku juga harus menjawab sejumlah pertanyaan. Akulah perwira komandan skuadron yang akan melangsungkan operasi Gunung Dragon Fang.”

Shin terdiam sebentar untuk berpikir kemudian bicara:

“Detail front kedua …. Detail itu harusnya disimpan komandan korps atau bahkan mungkin seluruh pasukan. Kurasa itu … sesuatu yang seorang komandan batalion tidak harus ketahui. Begitulah caraku menafsirkannya, kan?”

Shin sendiri tidak perlu hadir, formalitas pun tidak.

“Ya …. Dan juga, Sirin akan dikerahkan kembali dalam operasi ini, tapi kau tidak keberatan? Maksudku …. Mengingat yang terjadi kali terakhir.”

“Secara pribadi, aku lebih suka mereka tidak menemani skuadron Spearhead.”

Lena mengondak kaget. Dia tidak menyalahkan cara bicara Shin yang ibarat menghindari Sirin. Malah, Lena hampir memperkirakan ini.

“Apa kehadiran mereka membebanimu?”

‘Tidak, aku cuma tak bisa membedakan mereka dari Legion.’

Legion menggunakan Mesin Mikro Cair yang dibuat dari jaringan saraf orang-orang mati, sementara otak Sirin dibuat dari neuron sintetis yang direproduksi otak orang-orang tak terselamatkan. Dalam artian keduanya masih digenggam pikiran terakhir para almarhum. Kemampuan Shin sama-sama menganggap keduanya sebagai hantu.

“Aku bisa kebingungan, terutama selama pertempuran jarak dekat … aku mampu memebdakan suara-suara itu setelah terbiasa, sih. Jadi kalau bisa, aku lebih ingin mereka berada di kompi tersendiri atau suruh mereka menjadi regu pengintai kita.”

“…”

Lena mendesah berlebihan.

“Bukan itu maksudku. Aku tidak bertanya itu bakal membahayakan operasi atau tidak. Aku ingin tahu itu mengganggumu atau tidak. Kalau bagi pribadimu.”

Shin berkedip beberapa kali terhadap peringatan tak terduganya. Walau pertanyaannya diutarakan seperti itu …

“Mereka sama seperti Legion … aku sekarang sudah terbiasa.”

Kemampuan Shin untuk mendengar suara-suara hantu dari awal jangkauannya luas, dan dia konstan mendengar Legion berjumlah banyak. Segelintir suara ramai masuk itu takkan mengubah tekanannya. Mirip-mirip bagaimana orang-orang yang tinggal di lautan akhirnya berhenti mendengar deru ombak, Shin tak merasa terlalu terbebani oleh suara terus-menerus para hantu.

Lena terdiam sejenak. Diam singkat nyaris seperti merajuk.

“Kau terus bilang begitu, Shin, tapi … kau tidur sehabis pertempuran di terminal bawah tanah Republik. Dan juga setelah merebut kembali pangkalan.”

“Anjing Gembala yang dikerahkan selama pertempuran di terminal meningkatkan volume suara mereka, jadi pertempuran itu …. Maksudku, bukannya malam hari aku tidak tidur.”

Shin memang tidur di malam hari tanpa masalah, lebih ajaib rasanya sewaktu dia lelah.

“Aku tahu, tapi maksudku bukan itu … aku cuma khawatir kau tidak pernah bilang sedang lelah di saat-saat itu.”

Kemudian Lena berhenti sebentar dan tubuhnya condong maju, ibarat menggunakan momen itu untuk mengumpulkan keberaniannya.

“Kemarin aku bicara sama Lerche.”

Raut wajah Shin mengeras pada nama yang tiba-tiba disebutkan itu. Lerche. Dia dan burung-burung mekanisnya dirasuki tangisan-tangisan orang mati. Shin sekali lagi mengingat gunung puing-puing yang terrdiri dari tubuh mereka. Tawa itu masih menggema di telinganya.

Dan Shin ingat yang dikatakan Lerche kepadanya.

Anda masih hidup.

Harga dirinya pada akhirnya akan mendesaknya menjadi bagian tumpukan mayat itu—bahkan harga dirinya itu tidak berarti bagi seorang tentara.

Anda masih bisa menemukan kebahagiaan bersama seseorang.

Perubahan sikap Lerche mengejutkannya. Dan terlepas dari itu, dia tidak mampu membantahnya.

Sebenarnya ….

Pikiran lain nyaris saja terbesit di benaknya, tetapi di momen-momen terakhir dia tekan pikiran itu. Tidak diperbolehkan memikirkan kata-kata tersebut.

Kalau aku pikirkan, aku ….

“Dia bilang kau tidak benar-benar ingin berada di medan perang—”

“Aku bisa mengatakan hal sama padamu, Lena.”

Shin memotongnya. Shin tidak mau memikirkannya. Dan terlebih lagi, dia tak mau mendengar Lena mengucapkan kata-kata itu kepadanya. Shin tidak mau dia meragukan harga dirinya. Bertarung sampai tetes darah terakhir adalah jati diri 86, dan dari semua orang dia tidak suka Lena meragukannya. Dan sekalipun 86 menyadari betapa tanpa artinya harga diri itu … mereka hanya punya itu.

Shin baru sadar usai memotongnya dia tidak kepikiran kalimat selanjutnya, tapi tetap dia ambil kesempatan tersebut untuk meneruskan:

“Lena …. Pernahkah kau berpikir aku tidak ingin bertarung lagi …? Maksudku, aku paham kau suka rela memilih bertarung, tapi …”

Dia buru-buru mengoreksi, melihat mata Lena kabur sekilas. Shin tidak tahu apa-apa tentangnya …. Dia bahkan tidak berusaha tahu. Dia menyadarinya saat di benteng sisi tebing bersalju. Lena menginginkan apa? Dia bertarung sejauh ini demi apa? Kok bisa dirinya tidak menyerah pada manusia?

Bahkan sekarang ini Shin ingin tahu pertanyaan itu.

“… tapi biar begitu, kau lihat rute pengepungan itu. Dan kau lihat Republik runtuh …. Pernahkau kau berpikir, Cukup sudah? pernahkah kau merasa tidak mau melanjutkannya …? Bisa-bisanya tidak … merasa seperti itu?”

Lena tahu betapa bisa biadab dan mengerikannya orang-orang. Dia tahu betul dunia ini bisa jadi tempat berbahaya, bahwa dunia manusia tidak semuanya berisi hal-hal indah. Tapi walau begitu, dia masih tak menyerah.

“Itu karena …? Hmm, yah. Itu karena dunia ini masih punya hal-hal layak untuk dicintai?”

Shin berhenti sejenak, ragu-ragu. Shin berjuang menuturkan kata-kata itu karena terasa terlalu hampa baginya.

Shin tahu orang-orang bisa berbudi dan baik, seperti pendeta yang melindunginya dan kakaknya di kamp konsentrasi Sektor 86; seperti kapten di skuadron pertamanya yang bertarung bersamanya kemudian mati, meninggalkannya tugas membawa semua rekan-rekannya ke tujuan akhir mereka; seperti temannya dari akademi perwira khusus yang bertarung demi kesejahteraan adiknya; seperti perwira Federasi yang mendorongnya maju, biarpun mereka akan terdampar di wilayah musuh.

Shin hanya bisa menganggap mereka pengecualian aturan tersebut, tapi Shin tahu Lena berpikiran lain. Barangkali perbedaan seberapa banyaknya mereka mengalami kebaikan yang melekat pada umat manusia. Atau mungkin jalan yang mereka lalui hingga sampai ke tempat ini dan hal-hal yang dilihat mereka sepanjang perjalanannya sangatlah berbeda.

Lena berkedip kaget beberapa kali terhadap pertanyaan tiba-tiba itu berikutnya membungkuk maju gembira.

“Tiba-tiba kenapa bahas itu?”

“… kaulah yang memulai percakapan ini, Lena. Kau bertanya padaku apakah aku bisa mencintai dunia ini.”

“Maaf, aku hanya sedikit kaget saja sama betapa mendadaknya ini, tapi … aku senang kau menyinggung subjek ini. Baiklah ….”

Lena tersenyum lalu memejamkan mata.

“Kupikir bukan hanya ada sesuatu yang layak dicintai. Ada cukup banyak keindahan di dunia ini yang melebihi keburukannya—cukup kebajikan untuk mengimbangi kekurangannya, yang membuatku mencintainya. Bukannya aku belum menyerah sebab belum melihat cukup banyak kekejaman. Hanya saja ….”

Lena berhenti dan mencoba meramu kata-kata tepat.

“… aku ingin percaya … ingin percaya bahwa dunia ini masih bisa menjadi tempat orang-orang dapat hidup bahagia dan damai.”

Itulah kata-kata yang tak diharapkan Shin. Bukan berarti selama masa hidup Lena dia merasakan banyak keindahan, memungkinkannya melihat sejumlah kebaikan bawaan dunia yang tak sanggup dipahami Shin.

“Kau ingin percaya, ya …?”

… percaya pada dunia indah yang masih jauh dari pandangan dan di luar jangkauan.

“Iya. Karena aku mau bahagia. Aku pengen semua orang bahagia juga. Dan aku tak mau hidup di dunia yang tidak ada semua hal itu. Aku tak ingin hidup di dunia yang semua orang tunduk pada kebencian dan absurditas. Aku benci konsep tempat semacam itu, dan karenanya ….”

Dunia adil dan baik. Shin pikirkan ulang kata-kata yang pernah diutarakan kepadanya selagi berdiri bersama di bawah langit berbintang pada malam bersalju itu. Lena membicarakan dunia di mana niat baik dan kebaikan dihargai, seolah-olah mendoakannya.

Keinginannya bukan agar orang baik dihargai, namun kepada semua orang, setara, untuk mengenal kebahagiaan.

“Dan karena itulah …. Bukannya aku tidak bisa menyerah. Hanya saja aku tidak ingin menyerah. Aku tak mau mengakui medan perang dan cara Republik memperlakukan Sektor 86 adalah wajah sejati umat manusia. Tidak pula berkenan menerima hal itu takkan bisa berubah. Karena jika begitu orang-orang takkan menemukan kebahagiaan. Aku ingin …. Dan aku ingin kau bahagia juga ….”

“…”

Shin tidak bisa merasa demikian. Tiada masa depan untuk diharapkan. Dia sanggup hidup bahkan tanpa mengejar kebahagiaan. Dalam pikirannya, dia bertarung karena ingin menunjukkan Lena lautan, namun bahkan mungkin itu pun berbeda dari gagasan kebahagiaan menurut Lena, lantas Shin tidak perlu percaya pada dunia ini. Shin tak punya alasan untuk mencintai dunia.

Shin samar-samar mengira dirinya dan Lena sungguh-sungguh berbeda satu sama lain. Tidak harus dalam hal pengalaman individu serta jalan yang mereka tempuh dalam hidup. Pandangan mereka mengenai kehidupan juga cara berinteraksi dengan dunia sepenuhnya berbeda. Jalan hidup mereka, keadaan pribadi mereka—setiap aspek pribadi mereka itu kontras.

Lena bilang Shin akan memperbincangkan subyek ini. Dan barangkali dia perbincangkan, dalam artian Shin mencoba memahami pihak lain. Tapi menerima jawaban atas pertanyaannya malah membuat keretakan di antara mereka makin jelas. Mereka terlalu jauh untuk benar-benar memahami satu sama lain …. Jauh sekali sampai-sampai misal saling menggapai, tangan mereka takkan bertemu.

Shin tidak tahu Lena sampai pada kesimpulan sama selama operasi Labirin Bawah tanah Charité. Sekalipun mereka berdiri di tempat serupa, keretakan di antara mereka tetaplah ada.

Lena tersenyum, tidak menyadari hati kacau Shin. Senyumnya seindah sekuntum bunga. Ya, bagaikan Teratai perak bermekaran bangga meski berada di lumpur.

“Aku ingin kau bahagia juga …. Maka dari itu aku ingin percaya pada dunia ini. Itulah mengapa aku mencintai dunia ini.”

Shin berharap tanpa harapan bahwa kebahagiaan ini—suka cita yang tak dapat dia harapkan—akan diturunkan kepada dunia yang dicintai Lena ….

 

 

Lena curiga ada yang tidak beres ketika pengawal Vika datang terlalu awal pada konferensi besar, kemudian memaksa Lena pergi ke ruangan lain entah kenapa, di sana sejumlah besar pelayan wanita istana menunggunya.

“Err, Vika?”

Lena mendapati Vika mengenakan seragam Kerajaan Bersatu biasa, kecuali kali ini, disesuaikan untuk sebuah upacara. Dia tidak mengenakan pita pangkat standar, tapi memakai sejumlah medali dan lencana serta tali besar yang menjulur diagonal ke bawah dari bahunya. Dia pun memasang lambang unicorn Kerajaan Bersatu alih-alih lencana kerahnya.

“Ini … konferensi, kan?”

“Benar sekali.”

Vika mengangguk santai selagi Lena menekannya dengan mata berairnya.

“Terus kenapa aku harus memakai benda ini …?!”

Dia mengenakan gaun dengan kain luar tipis yang disulam bergaya elegan, berkelim panjang, mewah, dan tergerai. Kain kasa perak transparan indahnya melengkapi lapisan lapislazuli di bawahnya. Belahan juga lengan panjang gaun tersebut dihias mnik-manik kristal dengan pola ekor merak dan berkilau setiap kali dia bergerak.

Kendatipun tentu dia anggap gaunnya anggun dan indah, entahlah mengapa dia dipaksa memakainya. Dilengkapi seluruh manik-manik kristal menjadikan gaunnya seberat seragamnya. Keliman rok seragamnya sependek gaun ini, tapi didandani begini tetap membuatnya cemas dan gelisah.

Tapi bahkan merasa gelisah pun tantangan selagi memakai pakaian ini, karena sepatu hak yang dipakainya lebih tipis dan tinggi dari biasanya. Keliman sutra gaunnya bergemerincing.

Ekspresi bingung Vika balas menatap Lena.

“… menurutku kau terlihat bagus memakainya. Ada keluhan? Oh, kau pasti kecewa Nouzen tidak di sini melihatnya. Aku bisa saja memanggilnya ke sini sekarang ju—”

“Bukan itu! S-Shin tidak ada hubungannya sama ini! Tidak, maksudku, kenapa?! Mengapa aku pergi ke konferensi militer mengenakan ini alih-alih seragamku?!”

“…? Wajarlah seorang wanita mengenakan gaun ke acara formal, meski mereka itu personel militer. Memang mungkin konferensi militer, tapi ayah dan kakakku akan hadir. Lebih mirip dewan Imperial alih-alih dewan militer, terus terangnya.”

Suara Vika tidak terdengar iseng sama sekali. Rupanya, dia nampaknya tidak paham kenapa Lena bertanya demikian. Dengan kata lain, di Kerajaan Bersatu, pakaian formal wanita adalah gaun, sekalipun dia itu personel militer. Mungkin saja adat sejarah negara ini, mengingat mereka tidak bisa mengirim tentara wanita ke medan tempur. Mereka hanya bertugas sebagai perwira tinggi.

Tapi tetap saja, menghadiri konferensi militer memakai gaun berjumbai …?

Lena adalah putri keluarga mantan bangsawan, jadi dia terbiasa mengenakan gaun. Tetapi seragam dan gaun dikenakan untuk acara berbeda dan perlu keadaan emosi berbeda. Malahan, Lena tidak bisa membayangkan hadir di dewan perang mengenakan gaun malam.

“Kolonel Wenzel …!”

Dia berpaling ke Grethe meminta bantuan, tapi perwira itu semata-mata mengangkat bahu, dia sendiri memakai gaun abu-abu. Dia bawa beberapa gaun lebih dulu karena dia hendak menghadap raja. Gaunnya berkerah tinggi dan eksotis disertai keliman pendek yang berkesan otoritas dan ada siluet maskulinnya.

Seandainya Lena diberi tahu terlebih dahulu, dia juga akan menyiapkan gaun model itu juga. Gaunnya cantik dan menyerupai seragam.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Operasi terakhir kita gagal, jadi mungkin kita mestinya tidak melakukan hal apa pun yang nanti dianggap suatu penghinaan. Lagian, kau kelihatan manis.”

“… oh. Jadi di Republik dan Federasi, wanita memakai seragam sebagai pakaian lengkap mereka juga. Itulah alasan kalian, Iida, dan Rosenfort berseragam ketika pertama kali bertemu denganku, walau latar waktunya militer.”

Vika akhirnya tampak menyadari perbedaan budaya. Dia mengangguk, kelihatan puas.

“Setidak-tidaknya, kami hanya memakai seragam selama acara formal dan upacara, Paduka. Meski, wanita memang mengenakan gaun untuk pesta seusai upacara—atau pernikahan.”

“Aku mengerti. Kalau begitu, gaun ini takkan sia-sia setelah susah payah kami jahit …. Kau boleh simpan seluruh setnya, Milizé, jadi ambillah saat kau pulang. Aku bayangkan akan berguna sampai kau menemukan orang untuk mendampingimu.”

“Seseorang untuk …”

Lena merona terhadap implikasinya. Selain orang tua, satu-satunya orang yang akan mendampingi wanita bergaun adalah ….

… pacarnya atau suaminya.

“Aku—aku tidak punya orang semacam itu!”

“Oleh karenanya, hingga kau menemukan seseorang itu. Atau tepatnya ….”

Vika tampak menatap kasihan Lena.

“Aku ragu yang kupikirkan benar, tapi jangan bilang kau belum sadar?”

“Sadar apa?!”

“Begitu, jadi belum sadar. Itu agak disayangkan …. Aku bahkan menyebutnya menjengkelkan. Ternyata kalian berdua seperti itu ….”

Vika menggeleng kepala; kesedihan yang Lena tidak pahami—atau mungkin, dia tidak ingin pahami.

Walaupun para pejabat tinggi orang-orang sibuk, keberlangsungan eksistensi Kerajaan Bersatu akan bergantung kepada keberhasilan operasi mendatang. Setelah diskusi panjang, konferensi akbar akhirnya jeda.

Duduk di sudut ruang konferensi besar, Lena mendesau. Sebagian besar pejabat telah meninggalkan ruangan, jadi hanya sedikit yang tinggal. Grethe sedang bicara pada hadirin perwira militer untuk bertukar informasi, dan Vika pergi, bilang dia punya urusan sama bibinya.

Nampak tidak ada orang yang mau berinteraksi dengan perwira Republik. Negara yang sebentar lagi mau tamat, dan unitnya juga menderita kekalahan menyakitkan. Lena tidak keberatan tak diajak bicara. Konferensi ini dihadiri Baginda Raja, dan kebanyakan orang di sini adalah pejabat senior. Biarpun tidak perlu dikatakan lagi dia sedang diintimidasi.

Seketika itulah seseorang berdiri di sampingnya, menjaga jarak sopan.

“Mohon maaf, Nona. Berkenankah Anda berbincang bersama saya?”

“Ya, tentu saja ….” respon Lena, membalikkan wajahnya untuk melihat sosok itu, lalu mendapati dirinya sendiri kaku.

Dia memakai seragam ungu tua, lambang unicorn Kerajaan Bersatu menggantikan lambang pangkat. Rambutnya cokelat kemerahan dan diikat pita panjang serta jepit rambut zamrud.

Terakhir, sepasang mata ungu yang belakangan ini Lena terbiasa melihatnya.

“P-Paduka Pangeran Mahkota …!”

“Ya, namun harap tenang. Saya semata-mata datang menyambut Anda sebagai seorang kakak dan berterima kasih telah mendukung Vika. Saya pun ingin memanggil komandan operasi 86, tapi sayangnya, keadaan konferensi ini tidak memungkinkan.”

Sang pangeran mahkota, Zafar, memandangnya sambil tersenyum lembut. Dia dan Vika lahir dari satu ibu, lantas mereka berdua sangat mirip. Tapi dalam hal tinggi dan lebar bahu, Zafar fisiknya lebih menyerupai pria dewasa, juga ekspresinya lebih tenang dan penampilannya lebih dewasa juga bijaksana.

“Aku yakin dia menyulitkan Anda, mesti sendirian menghadiri konferensi ini …. Anak itu tingkahnya tidak menentu, tapi saya harap Anda bisa akur dengannya.”

Kata-kata dan senyumnya membuat Lena menatap heran dirinya. Mereka entah bagaimana mengingatkan ekspresi dan suara Rei dulu sewaktu menemunya bertahun-tahun lalu.

“Paduka, bagaimana—?”

“Zafar saja cukup, Kolonel Milizé.”

“… Pangeran Zafar, bagaimana, umm, pendapat Anda mengenai Pangeran Viktor?”

Dalam perebutan kekuasaan Keluarga Idinarohk, Vika adalah bagian fraksi Zafar. Vika nyatanya menghormati dan menghargai kakak pihak ibunya dengan caranya sendiri. Lena tahu itu. Dia setahu itu dari cara Vika membicarakannya. Namun Lena tidak tahu pasti bagaimana pendapat Zafar tentang Vika.

Meskipun sudah jadi tradisi Kerajaan Bersatu, mereka masih mengirim seorang anak yang hanya sepuluh tahun ke medan perang, di sana dia bisa saja ditinggalkan di waktu-waktu krisis. Dan Vika berperang tanpa memulihkan hak atas takhtanya.

Sebagian dirinya bertanya-tanya apakah keluarga kerajaan menganggap Vika—yang mengembangkan Sirin, senjata aib terbesar umat manusia—sebagai pria cakap tetapi dalam hati memandangnya jijik.

Tetapi melihat pria di hadapannya, dan ekspresi wajahnya ….

“Dia adik laki-laki berharga saya …. Biarpun menilai dari pertanyaan tersebut, saya asumsikan menurut sudut pandang orang luar, Anda mendapatinya cukup aneh.”

“…”

Aneh bahkan tidak menjelaskannya.

“Hmm. Divisi Penyerang bekerja sama dengan Sirin Pangeran Vika, jadi ….”

“Aaah, benar itu. Saya sudah terbiasa dengan mereka sekarang, tapi …. Ya, saya paham.”

Zafar berhenti sejenak untuk berpikir.

“Kolonel, apakah Anda mengetahui bencana Babilonia?”

Lena dibuat linglung oleh pertanyaan tiba-tiba yang rasanya tidak berkaitan, tapi dia mengangguk singkat.

“… ya, sejauh yang diajarkan sekolah.”

Dahulu kala, umat manusia membangun menara besar untuk mencapai takhta Tuhan di surga. Ambisi ini menimbulkan murka-Nya yang selepas itu mengutuk umat manusia, memaksa mereka berbicara dalam berbagai bahasa. Menciptakan berbagai bahasa dan menjadi sumber konflik manusia.

Itu cerita dari Alkitab Perjanjian Lama. Seketika Republik menghapus keluarga kerajaan tiga abad lalu, ia pun melarang agama yang menjadi pendukung mandat kerajaan. Maka dari itu, sebagian besar cerita alkitabiah tidak sering diceritakan atau diturunkan dalam Republik. Banyak orang di Republik bahkan tak tahu konteks Ulang Tahun Suci, meskipun dirayakan setiap tahunnya.

“Dalam mitos yang mendahului Alkitab, umat manusia membangun menara sehingga doa-doa mereka barangkali menjangkau surga, namun para dewa salah mengira manusia mencoba menyerang mereka dan mengutuk sebab alasan itu. Bahkan dewa-dewa sedang berusaha saling memahami di antara mereka sendiri. Lantas sulit memahami makhluk tidak sempurna layaknya manusia. Ironis, mungkin …. Tapi bagaimanapun ….”

Zafar terdiam lalu melihat langit, seolah-olah menatap menara yang dibuat oleh harapan orang-orang dari negeri nan jauh.

“… sepandangan saya, fakta umat manusia mulai bertengkar satu sama lain sesudah mereka tidak bisa memahami sesama itu cukup mencolok. Berarti mereka tidak betul-betul percaya satu sama lain ketika bicara dalam bahasa yang sama.”

Manusia punya kebiasaan bertengkar, tetapi asalnya bukan dari kemampuan bicara dan kesepakatan. Asalnya dari kurang kepercayaan. Mereka saling menatap dan tidak mampu menemukan sesuatu yang layak dipercaya.

Lena merasa kata-kata itu menusuk hatinya. Zafar kemungkinan tidak bermaksud demikian. Mana mungkin dia tahu percakapannya dengan Shin, kaena belum pernah menemuinya. Tapi tetap saja, Lena merasa Zafar membicarakan mereka berdua.

“Walaupun dua orang tiba-tiba mulai bicara dengan bahasa berlainan, keinginan mereka sama. Andai mereka tahu fakta itu, mereka akan percaya satu sama lain meski mereka kehilangan kemampuan berkomunikasi …. Dan dalam hal ini pun sama. Walau dia ular berdarah dingin, saya ‘kan membalas sayangnya selama dia menyayangi saya. Saya yakin dalam afeksi itu, tiada hal lain.”

Sekalipun Vika betul-betul dan seutuhnya berbeda dari Zafar dalam segala hal.

“Dia boleh jadi tidak mengerti apa yang membuat orang sedih atau kenapa mereka berduka. Namun dia tentu paham saat Ayah dan saya mulai sedih dan mencoba tidak membuat kami sengsara …. Dan itu pun sudah cukup bagi saya. Dia barangkali tidak hidup mengikuti logika dan nilai-nilai yang saya anut, tapi dia masih mencoba menyayangi saya dengan caranya sendiri …. Dia adik laki-laki berharga saya.”

“…”

Dan betapa Lena bertindak berlawanan dengan hal ini?

Itu membuatku … sangat sedih.

Shin dan sisa 86 lain menyerah kepada dunia, menganggapnya tempat kejam dan dingin. Mereka buang kepercayaan dan harapan mereka terhadap dunia. Mereka lepaskan suka cita apa pun yang dapat mereka ingat, sekaligus masa depan membahagiakan yang mungkin mereka nantikan.

Itu membuat Lena sedih.Tapi lebih menyedihkannya lagi adalah Shin tidak mengerti mengapa ini membuatnya sedih. Karena perilakunya—bak monster tanpa dosa berwujud manusia—celah antara mereka kian lebar. Itu menyakitinya dan membuatnya bertanya-tanya apakah mereka akan saling memahami.

Aku ingin dia memahamiku. Kuharap dia lebih sepertiku ….

Lena tidak sadar mulai mengharapkan itu. Dia mengaku ingin memahami 86, padahal sebenarnya, dia tidak pernah berusaha memahami mereka. Walau dia tidak bisa mengerti mereka, dia paling tidak bisa mencoba menghormati jati diri mereka.

Namun sebaliknya, Lena berharap mereka memahami dirinya. Secara sepihak.

Kau sungguh arogan.

Ya. Arogan dan angkuh. Merasa sok benar dan berpikiran sempit ….

“… Pangeran Zafar.”

Lena menggigit bibir memerahnya, berusaha mati-matian menjaga nada bicaranya tetap stabil yang malah membuat suaranya terdengar aneh. Zafar sopannya pura-pura tidak menyadari.

“Ya?”

“Jika Anda dan Pangeran Viktor berbeda sekali satu sama lain, bagaimana … caranya menjaga hubungan Anda?”

“Oh, itu sangat sederhana. Beberapa hal saya setujui, sementara beberapanya saya tidak membiarkannya. Segelintir hal saya hormati, sementara lainnya sesuaikan dengan pemikiran saya. Kami berdua menghormati batasan satu sama lain sampai menemukan titik kompromi. Begitulah cara normal orang-orang berinteraksi …. Meskipun, perlu waktu bertahun-tahun untuk sampai sini.”

“Itu …. Ya, itu benar …. Anda benar.”

Mungkin ada keretakan di antara mereka. Mereka bisa jadi berbeda memandang dunia. Tapi seandainya memahami satu sama lain, sedikit demi sedikit, maka pastilah, Lena suatu hari akan bisa berada di sisinya.

Dan ada hal-hal yang dapat dia percayai …. Sesuatu yang bisa dipercayainya bahkan dari dua tahun lalu, sebelum mereka sungguh-sungguh bertemu langsung. Ketika mereka bersatus penindas dan yang ditindas …. Ketika mereka semua beda bukan kepalang.

Lena mengepalkan tinjunya erat-erat dari balik lengan bajunya. “Terima kasih banyak, Paduka.”

“Biasanya, sopan santunnya adalah saya ‘kan mendampingi Anda kembali ke barak, tetapi sayang sekali, saya masih punya urusan untuk ditangani di sini. Saya akan memanggil seorang pendamping, jadi tetaplah bersama beliau sampai Anda kembali.”

Waktu Lena di konferensi besar telah berakhir. Vika membimbing Lena ke pintu keluar menuju luar halaman istana, tapi alih-alih ke jalan masuk, malah melewati istana. Jalan beraspal kecil di antara taman menuju vila Imperial yang digunakan Divisi Penyerang.

Sangat konstras dengan interior istana hangat dan cerah, kegelapan malam musim dingin menyelimuti taman. Menyadari hawa dingin menggigit, Lena tinggal di bagian dalam istana dan taman selagi melihat sekeliling.

Malamnya berbintang dan mengejutkannya cerah. Lena bisa melihat bintang sama yang dia tatap bersama Shin sebelum Pangkalan Benteng Revich direbut. Kala itu, sepertinya Shin mau memberitahunya sesuatu namun malah terdiam. Lena duga dia akan bilang nanti, tetapi pertempuran pengepungan terjadi segera setelahnya, mereka tidak pernah membahasnya lagi.

Shin pengen bilang apa waktu itu? Dia ingin mengungkapkan apa?

… apakah menanyakannya sekarang hal tepat untuk dilakukan …?

Vika berteriak kecil. Lena fokus ke langit, tapi Vika melihat sesuatu di jalan bersalju. Rupanya, penglihatan malamnya eksepsional tidak seperti kucing. Dia itu ular yang melihat dunia apa adanya tanpa mengandalkan cahaya.

“Di sana dia. Baiklah, Milizé. Istrirahatlah malam ini.”

Rupanya, Shin tidak berniat bicara sama siapa pun dia yang membawa pulang Lena ke vila, karena orangnya sendiri cepat-cepat balik badan lalu pergi. Saat dia berjalan pergi, langkah kakinya tak bersuara di atas karpet tebal. Lena tahu dia sudah pergi sebab gemerisik pakaiannya dan bau parfum kolonyenya5 menipis.

Dan tidak lama usai Vika pergi, suara gemerisik salju diiringi langkah kaki pelan mencapai telinga Lena. Bahkan dia yang biasanya tidak bersuara ketika berjalan, tidak demikian ketika menginjak jalan salju rapuh.

Ekspresi Lena bersinar sewaktu melihat sosoknya terlihat jelas disinari cahaya bintang yang dipantulkan salju.

“Shin!”

“Shin!”

Shin menatap Lena yang berseri-seri saat mendapatinya, dari dalam kegelapan taman bersalju. Dia berhenti di tempat.

Aaah ….

Dia mendadak sadar. Apa yang membuat segala sesuatunya sreg? Mungkin cahaya sekitar sini rasanya teramat terang untuk matanya, karena dia sudah terbiasa akan kegelapan malam. Atau mungkin fakta Shin melihatnya mengenakan gaun dan riasan pertama kalinya, alih-alih seragam.

Shin sendiri tidak tahu alasannya, tetapi tiba-tiba jelas saja. Lena tak berada di medan perang atau pangkalan militer, tetapi di tempat tanpa perang berkecamuk. Gadis itu berdiri di sana tidak berseragam, namun pakaian untuk masa damai.

Shin teringat akan dalam dan jauhnya celah tidak bisa diperbaiki antara mereka. Dunia yang mereka lihat itu berbeda. Dunia yang mereka inginkan itu berbeda. Berarti, dengan kata lain, bahwa dunia mereka berada—yang mengizinkan mereka hidup—juga berbeda.

Lena tidak membutuhkanku.

Shin menganggap penampilan Lena sekarang adalah sebagaimana sepantasnya Lena. Lena bukanlah bagian kekacauan medan perang, tetapi di dunia damai dan tenang. Lena layak hidup di dunia bebas konflik.

Medan perang bukanlah dunianya. Dia tak perlu tahu perselisihan dan kematian …. Absurditas perang tidak rasional tak bertempat di dekatnya.

Dan Shin yang hanya mengenal perang dan jerih payahnya, juga tak punya tempat di sisinya. Dia cuma tahu konflik, dan hanya di tengah pertempuranlah dirinya menempa identitas diri. Meskipun bertarung sampai akhir, dia tidak sanggup membayangkan apa yang berada di balik perang yang terlihat tanpa ujung ini ….

Shin bahkan tidak mampu membayangkan dunia seperti apa yang Lena inginkan. Shin ingin menunjukkan laut kepadanya—yang mana bisa dibilang mengimajinasikan masa depan bersamanya. Tapi Lena tidak butuh Shin untuk bertahan hidup.

Justru sejatinya berbanding terbalik. Keberadaannya hanya akan menyakiti Lena. Lena itu ingin semua orang bahagia, sementara Shin tidak mampu membayangkan apa kegembiraannya. Jalan hidupnya bisa jadi senjata untuk menyengsarakannya.

Sudah gadis itu katakan beberapa kali, namun Shin bahkan tak sanggup memahaminya:

Itu membuatku … sangat sedih.

Dirinya yang tidak bisa mengharapkan amsa depan sendiri hanya akan melukai Lena. Sang Pencabut Nyawa yang gagal memahami fakta sederhana itu telah memperlebar kerenggangan di antara mereka lebih dari apa pun. Pria itu bahkan tak mencoba memahaminya …. Shin bahkan tidak mendekatinya.

Lena bilang dia sedih karena dirinya. Lena terluka. Dan Shin terus menyakitinya.

Serigala tidak bisa hidup di antara manusia. Monster medan perang yang bertahan dengan menginjak-injak mayat—monster yang tercemar kejahatan dunia ini—tidak dapat berjalan di samping simbol kemurnian ini.

Dunia yang mereka harapkan, dunia tempat tinggal mereka—cara hidup mereka sangatlah berbeda.

Alhasil Shin menyadari kebenaran meresahkan. Dari awal mereka tidak bisa bersama.

Vladilena menganggap dirinya gelisah, tapi kelelahan mentalnya lebih besar dari yang dibayangkannya. Tersenyum tegang merasakan betapa kaku tubuhnya saat Shin menatapnya, Lena cepat-cepat menuruni tangga batu menuju taman. Sementara itu Shin menghampiri, barangkali memikirkan cara berjalan canggung Lena di sepanjang jalan beku, kemudian Nouzen menatapnya.

“Kau datang menjemputku.”

“Iya. Walaupun masih dalam lingkungan istana, ini sudah malam.”

Sesuatu perihal tingkah tenangnya saat menjawab membuat Lena merasa nostalgik, meskipun mereka hanya berpisah selama beberapa jam. Seorang penjaga bergegas dari istana, memberikan mantel yang kelihatannya dia lupa bawa pulang, lalu dia kenakan dibantu Shin. Dia beralih menatap laki-laki itu. Mungkin dikarenakan cahaya salju, wajah seputih marmernya serasa dingin dan lebih datar dari sebelum-sebelumnya.

“Maaf …. Membuatmu menunggu.”

“Tidak masalah.”

Jawabannya pendek. Barangkali khawatir pada Lena yang harus berjalan menapaki sepanjang jalan es menggunakan sepatu hak tinggi, Shin sejenak ragu-ragu … tidak, lama waktu berlalu sampai dia pelan-pelan mengulurkan lengannya. Gadis itu sesaat kaku …. Dia tahu mengulurkan tangan terhitung sopan santun bagi seorang pria di waktu sekarang, tapi ….

Aku tak tampil …. Tidak pantas … kan …?

Lena selalu sedikit pemalu di acara sosial semacam pesta. Dia jarang-jarang didampingi seperti ini. Tapi tidak bisa disangkal susah jalan dengan sepatu hak ini …. Jadi Lena mengumpulkan keberanian dan menerima isyaratnya.

Dia memegang lengannya dengan gerakan yang nampak terlalu malu-malu. Dia tidak bisa menggaet tangan Shin, jadi dia semata-mata memegang lengan bajunya. Setelah itu, Shin mulai berjalan bersama Lena di sisinya. Shin bahkan lebih jarang mendampingi seorang wanita ketimbang Lena didampingi seorang pria, jadi cara berjalan mereka canggung sejadi-jadinya.

Salju berderak di bawah seiring langkah dua pasang kaki mereka. Shin kelihatannya menyamai kecepatan jalan Lena, karena dia berjalan lebih lamban dari biasanya. Dia normalnya bergerak sunyi sekali tanpa mengeluarkan suara apa pun, lantas mendengar suara langkah mereka berdua sinkron terasa memuaskan.

Iya, Shin menyesuaikan kecepatannya.

Shin selalu memikirkannya, walau tanpa sadar …. Selalu mengulurkan tangan. Sedangkan Lena berdiri diam, lumpuh oleh kerenggangan di antara mereka … Shin masih bicara kepadanya, mencoba memahaminya sekalipun jaraknya jauh.

Dan dia ingin menjawab perasaan itu.

“Shin, kalau aku ….”

Itulah kata-kata yang sudah sering dia tuturkan. Sejak jarak mereka ratusan kilometer jauhnya, dipisahkan Gran Mule. Sebelum Lena tahu nama dan wajah Shin—atau takdir kematian pasti yang menunggu shin. Dan begitu mereka bereuni, dipikir Lena akhirnya pendampingnya dibebaskan dari takdir itu.

“Setelah perang ini berakhir …. Tidak, bahkan sebelum berakhir …. Kau mau melakukan apa? Ada tempat yang ingin kau datangi? Sesuatu yang ingin kau lihat?”

Ekspresi Shin membeku. Selanjutnya dia berkata dengan suara dingin dan sinis:

“Ini lagi?”

Dia beneran benci membicarakan ini ….

Ucapan itu baginya kedengaran menyalahkan dirinya. Tentu saja maksud Lena bukan itu, tetapi seperti penghukuman berulang-ulang. Seakan-akan Lena memberi tahu karena Shin menyerah pada dunia, tidak kuasa melihat dunia seperti dirinya, Shin membuatnya sedih.

Shin mendesah dan terus bicara dengan suara datar. Dan biarpun suara itu menjauhkan Lena, rasanya bak Shin pun menahan rasa sakit tidak terjelaskan.

“… tidak, tidak ada apa-apa. Sudah kukasih tahu sebelumnya, menurutku dunia bukan tempat yang indah.”

“Iya, bisa kubayangkan. Itu … bagaimana caramu memandang dunia.”

Lena tak nyamannya menyampaikan kata-kata yang tidak betul-betul dia yakini sebelum bicara dengan Zafar. Di dunia ini, Shin tak percaya apa-apa. Tidak menantikan apa-apa. Dan dia tidak boleh menyalahkan Shin karenanya …. Sesedih bagaimanapun Lena dibuatnya, tidak ada yang berhak mencela perasaan Shin melihat kehidupan yang dia jalani.

Pria itu kehilangan keluarganya, rumahnya, dan kebebasannya. Didesak ke suatu kematian pasti. Dia mesti memandang buruk dunia sebab itulah satu-satunya cara dia tidak menyerah sepenuhnya. Baginya, hidup tidak ada indah-indahnya.

Di mata Lena, itu pandangan suram …. Tapi tidak bisa bilang Shin salah. Yang pasti, dunia nampak demikian baginya.

Bagimu, bekas luka itu adalah harga dirimu.

Iya, bekas luka. Lena dan Republik mengukir bekas luka terdalam yang pernah bisa dibayangkan dalam benaknya. Dan selagi bertanya-tanya di bawah langit berbintang pangkalan benteng, Lena tidak boleh begitu saja menyuruhnya menghilangkan bekas luka tersebut. Lena tidak boleh setanpa perasaan itu merampasnya, biarpun luka itu sangat-sangat menyakitinya.

Bagi Shin bekas luka itu adalah bagian dirinya. Barangkali justru karena terlalu banyak hal telah direnggut darinya sampai-sampai luka itu lebih berarti dari yang disangka Lena. Dalam hal ini, Shin perlu menerima bekas luka dan keputusasaan sebagai bagian dirinya. Mungkin saja ada perbedaan antara dua itu, tetapi perbedaannyalah bagian yang mendefinisikan Shin sebagai seseorang …. Dan Lena tak boleh mengabaikannya.

Ada sesuatu dalam dirinya yang Lena yakini. Sesuatu yang dia ketahui sejak mereka berada di Sektor 86—dan sebelum menemuinya secara langsung. Yakin akan kekuatannya. Harga dirinya. Iseng kekanakan yang terkadang dia perbuat, dan waktu-waktu dia bertingkah sesuai usianya. Juga kebaikan yang kelihatannya tidak sadar dia miliki—sisi lain fasadnya yang sedingin es.

Wanita itu memutuskan meyakininya. Mereka mungkin tidak senantiasa saling memahami, tetapi tidak peduli sejauh apa jarak antara mereka, Lena akan meyakini bagian itu.

“Tapi tetap saja ….”

“Tapi tetap saja ….”

Shin hampir tidak bisa fokus perkataan Lena. Dia seketika merenung. Pertanyaan Lena barusan menjadi pukulan melumpuhkan, meski secara tak sengaja.

Adakah yang ingin kau lakukan begitu perang ini berakhir?

Lena sudah beberapa kali menanyakannya, dan Shin masih belum bisa memberi jawaban. Bukannya tidak punya—dia punya—tapi tidak bisa mengutarakannya.

Aku ingin menunjukkanmu laut.

Tapi itu keinginan yang diabut sendiri dan tidak lagi bisa membaginya dengan Lena. Sesaat menyadari itu cuma akan menyakitinya saja. Andai dia mencoba berada di sisinya seperti sekarang, dia cuma akan menyayat hatinya. Dia tidak bisa berjalan di sampingnya.

Dan alasan itulah Shin tidak dapat memberikan jawaban sebenarnya. Dia tidak mau memegang tangan yang diulurkan kepadanya. Yang Lena dambakan, keinginan Lena agar semua orang bahagia adalah hal yang tidak sanggup diberikan Shin. Shin cuma akan memberatkannya.

Jadi aku takkan berharap bisa menunjukkanmu laut lagi. Takkan lagi.

Kebetulan, baik Lena dan Shin tenggelam bukan main dalam renungan masing-masing sampai tidak satu orang pun memerhatikan langkah mereka. Dan akibatnya ….

“… aaah?!”

Shin berhenti berpikiran negatif sewaktu gadis berambut perak di sebelahnya tiba-tiba tersungkur ke tanah seraya memekik histeris.

“Lena?!”

Fakta dirinya refleks menangkap si gadis dalam pelukannya kendatipun sedang melamun beberapa waktu lalu adalah berkat refleks manusia supernya. Namun dia ragu-ragu sejenak. Entah kenapa, dia terlampau takut menyentuh Lena. Jadinya terlambat mendukungnya dengan baik dan menangkapnya dengan sikap canggung dan tidak nyaman.

Fragmen biru transparan melayang di tepi penglihatannya. Rupanya, mereka menginjak bongkahan es padat dan terpeleset. Sementara waktu ini, Shin bertanya apakah gadis dalam pelukannya baik-baik saja. Bongkahan esnya cukup keras jadi tidak pecah saat menahan berat mereka, dan sepatu hak tingginya menginjak bongkahan itu.

“Kau tidak apa-apa …? Pergelangan kakimu terpelintir?” “A-aku baik-baik saja. K-kurasa.”

Suara seperti loncengnya lebih melengking dari biasa, tapi Shin tidak tahu alasannya. Dia tidak sadar suaranya kedengaran berbeda. Lagi pula, Lena dari awal sudah dekat dengannya, tetapi dia mendekap dekat dirinya yang hendak jatuh ke belakang. Dengan kata lain, walaupun dia tidak terlalu mendekapnya saat ini, Shin memang melingkarkan lengannya ke punggung Lena dan sedang memegangnya lumayan erat.

“Yakin tidak apa-apa? Kalau kau keseleo, mungkin rasa sakitnya baru terasa nanti …. Kalau kau tidak yakin, aku akan menggendongmu sampai barak.”

“T-tidak! Tak apa …. Shin, aku … aku bisa berdiri sendiri.”

Setelah mendengar suara cicit lirihnya, Shin akhirnya menyadari posisi mereka sekarang ini. Dia jadi sangat sadar betapa dekat wangi parfum violetnya.

“Ah, maaf …!”

Dia buru-buru melepaskan Lena tetapi baru dilakukannya setelah tanpa sadar memastikan kaki Lena di tanam dalam-dalam di tanah. Shin resah tumit kecilnya nanti patah, menyebabkannya terhuyung ketika dilepaskan.

Lena menunduk, wajahnya lebih memerah dari yang pernah dilihat Shin. Hening berat bertahan lebih lama dari perkiraan Shin, membuatnya kian risau. Tepat kala mulai bertanya-tanya apakah harus meminta maaf lagi, Lena tiba-tiba tertawa. Dia terkekeh, suaranya bagaikan dentang bel.

“A-aku minta maaf …. Tapi …!”

Dia terus terkekeh, badannya condong maju seolah dilipat dua.

Tidak lama kemudian Shin tidak tahan dan bertanya:

“Ada apa?”

“Bukan apa-apa, hanya saja …. Kau beneran baik.”

Shin kebingungan oleh kata-kata seketika itu. Dia tidak tahu mana baiknya perkataan atau perbuatan selama perbincangan ini.

“Seakan kau selalu tidak melihat siapa pun, tapi kau tidak pernah berhenti peduli dan tidak pernah meninggalkan seorang pun ke takdir mereka …. Dan kau terus membantuku, seperti ini.”

“… kau melebih-lebihkan.”

“Tidak kok. Tuh ‘kan? Bahkan sekarang juga ….” kata Lena. “Kau menangkapku. Kau cemas aku terluka. Kau memerhatikanku.”

Tukas Lena sembari menyeka air mata menggenang di matanya karena tertawa berlebihan. Dia betul-betul tidak menyadarinya …. Membantu orang itu alami buatnya sampai-sampai tidak tahu itu namanya kebaikan.

Iya. Karena itulah aku percaya padamu.

Karenanya Lena bisa terus mendoakan kebahagiaannya, kendati tahu Shin sendiri tidak bisa bahagia.

“Shin aku ingin melanjutkan percakapan kita sebelumnya …. Aku tidak hendak bilang aku sedih. Aku tak menarik kembali yang kukatakan sebelumnya, tapi takkan kubahas lagi. Hanya saja ….”

Lena tak berniat menarik kembali pernyataan sebelumnya …. Namun andai membuat Shin menatapnya dengan ekspresi pilu, takkan Lena katakan lagi. Akan tetapi, dia punya satu hal lain yang ingin disampaikannya sekarang ini.

“Biarpun dunia yang kau lihat tidak indah …. Meskipun dunia manusia itu kejam …. Kalau saja kau masih punya harapan terlepas dari itu ….”

Shin akan bilang dia kuat hidup tanpa mau apa-apa. Bahwa dia adalah dirinya sendiri, bahkan tanpa masa lalu untuk kembali. Tetapi misalkan suatu hari tiba dia bisa berharap lagi ….

“Seumpama kau menemukan sesuatu yang kau inginkan untuk dirimu sendiri di dunia ini … maka aku ingin kau tahu boleh-boleh saja menginginkannya. Sekalipun dunia ini terlihat sekejam dan setanpa perasaan seperti biasa. Kita tidak lagi berada di Sektor 86. Keinginanmu bisa menjadi kenyataan. Aku cuma … ingin kau mengingatnya.”

Seumpama kau tak mengharapkan apa-apa maka tak apa. Aku sungguhan kepengen kau mengharapkan sesuatu, tapi sekarang ini, tidak apa. Tapinya aku tak mau kau menegur diri sendiri dengan bilang tidak berhak mendambakan sesuatu untuk dirimu sendiri.

Hanya itulah yang ingin Lena sampaikan sekarang, tetapi mulutnya terus saja mengoceh, menyatakan sedikit keinginan pribadinya. Walaupun tidak tahu apakah akan tetap berada di sisi Shin di hari dirinya mulai berharap lagi, Lena tanpa sadar masih membuat keinginan untuk tetap bersamanya ketika Shin mengharapkan sesuatu.

“Dan kalau kau tak keberatan …. Jika tiba waktunya, tolong beri tahu keinginanmu padaku.”

Shin terdiam seribu bahasa melihat senyum berbunga-bunga ini. Lena tak tahu apa keinginannya, dan karena itulah dia bisa bilang demikian. Dia bicara dengan cara sama layaknya seorang anak mengumbar impian masa depan mereka, tidak lebih dari itu.

Tapi ….

“Kau boleh mengharapkannya.”

Benarkah? Shin akhirnya menemukan sesuatu yang diinginkannya—alasan bertarung. Memperlihatkannya laut. Menunjukkannya hal-hal yang belum pernah dia lihat sebelumnya dan bermandikan senyumnya.

Apakah Shin betul-betul bisa mengharapkan itu? Dia berharap demikian.

Dia terkejut oleh lonjakan emosi dalam dirinya, dan tatkala itulah dia tahu. Dia ingin punya harapan. Jika dia bisa dimaafkan karena punya harapan—tidak, meskipun dia tak dimaafkan …. Dia menginginkannya.

Shin tahu akan menyakitinya, tetapi masih ingin berada di sisinya. Akhirnya dia menemukan sesuatu untuk diperjuangkan, dan dia tidak mau melepaskannya sekarang. Meskipun tahu dia tidak boleh menyentuhnya, harus menjauhkannya, dia masih menangkapnya tatkala dia jatuh. Satu momen itu, dia melupakan kerenggangan di antara mereka—dia melupakan seluruh kegelisahannya—dan memperlakukannya seperti biasa.

Aksi bawah sadarnya menceritakan segalanya. Kini dia tak rela melepasnya. Dia masih menganggapnya monster dan tahu hanya bisa melukainya. Tapi walau begitu …. Tidak, karena itulah—

—dia tidak boleh tetap seperti ini.

Dia takkan mungkin bisa bersama gadis yang menginginkan masa depan ini, tidak selagi hatinya masih membawa kekosongan yang menghalanginya untuk memiliki harapan. Bila yakin dirinya akan menyakiti Lena, maka dia harus berubah.

Dia perlu berubah berubah andaikan ingin bertarung di sisinya.

Dirinya sendiri mau apa? Bagaimana caranya berubah? Akankah dia sungguh-sungguh mampu membayangkan masa depan—sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya …?

Catatan Kaki:

  1. Hukum Sali merupakan kodifikasi hukum-hukum tertulis, baik hukum perdata semisal hukum waris, maupun hukum pidana misalnya hukuman atas tindak pidana pembunuhan. Hukum Sali mempengaruhi pembentukan tradisi hukum tertulis yang berlanjut sampai ke zaman modern di Eropa Barat dan Eropa Tengah, khususnya di negara-negara bagian Jerman, Prancis, Belgia, Belanda, sebagian Italia, Austria-Hongaria, Rumania, dan negara-negara di semenanjung Balkan.
  2. Markus 5:9 (Versi Paralel).
  3. Penjatuhan udara adalah sebuah jenis pengangkutan udara, yang dikembangkan pada Perang Dunia II untuk mensuplai ulang pasukan yang tak dapat diakses di tempat lain, yang diri mereka sendiri telah menjadi angkatan udara. Dalam beberapa kasus, ini dipakai untuk merujuk kepada serangan udara itu sendiri. Penjatuhan udara awal dilakukan dengan menjatuhkan atau menyebarkan bundel-bundel terikat dari udara.
  4. Sanma merupakan sekelompok burung yang berada dalam keluarga lark (Alaudidae), dengan genus Alauda. Karena sering terbang di langit, burung ini dalam literatur perburungan internasional disebut juga sebagai skylark.
  5. Minyak kolonye atau air kolonye (bahasa Prancis: Eau de cologne, harfiah: air Köln) adalah parfum yang berasal dari Köln (bahasa Prancis: Cologne), Jerman. Sekarang, eau de cologne adalah istilah umum untuk formula wewangian yang mengandung minyak atsiri sebanyak 2-5%. Bahan dasarnya adalah etanol.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *