86 JILID 5 Prolog

Raja Mayat

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

Arcs Styrie, ibu kota Kerajaan Bersatu Roa Gracia selama milenium terakhir. Di ujung paling utara terdapat istana kerajaan, ruang tahktanya saat ini tengah remar-remar, seolah melambangkan tidak adanya berkah mtahari atas tanah utara ini.

Namun bertentangan dengan kesan istilah tanah utara bagi sebagian orang, Roa Gracia adalah negara makmur. Walaupun iklimnya tidak cocok untuk menanam biji-bijian atau buah-buahan yang umum di selatan, tanahnya subur, dianugerahi sungai besar dan memiliki urat mineral kaya. Lampu gantungnya dibuat dari mineral tersebut—emas dan berlian—memancarkan cahaya cemerlang pada dekorasi megah ruang takhta. Cahayanya menonjolkan bayangan pangeran-putri yang hadir.

Kerajaan Bersatu adalah negara militer, dan karena itulah, seluruh anggota aristokrat adalah pria dan wanita militer. Di saat yang sama, negara ini adalah monarki despotisme1 terakhir di benua. Bangsa yang masih menganut sistem nilai kuno.

Personifikasi kepercayaan itu adalah sang raja, ia mulai bicara dari singgasananya. Mengenakan seragam militer repi, dan rambut cokelat kemerahan yang memutih juga mata kecubung menandakannya sebagai seorang Viola, ras yang hidup di Kerajaan sejak zaman dahulu, sekaligus seorang Amethysta, salah satu keturunan bangsawan.

Nada suara berotoritasnya menggelegar, dalam dan berat, memberi kepercayaan pada gelarnya sebagai raja utara beku.

“Viktor, putraku.”

“Ayah.”

Orang yang menjawabnya adalah pangeran muda di akhir masa remaja, berdiri di tangga menuju takhta. Meskipun normalnya seseorang akan berlutut ketika bertemu raja, hak istimewa keluarga kerajaannya mengizinkannya berdiri tegak di hadapan sang raja. Rambut hitam kemerahannya menyerupai warna burung pemangsa, matanya ungu petir. Sementara mata ungunya adalah kunci pengenal dirinya seorang Amethysta, rona violetnya terlihat amat mencolok.

Rambutnya gelap, merah kehitaman bulu elang cukup tebal untuk menahan musim dingin utara yang tak kenal ampun, matanya berwarna violet imperial sewarna batu permata yang ditambang dari pegunungan Dragon Corpse, yang menjadi perisai negara. Wajahnya terlihat anggun dan tajam setara, ciri-ciri monster terbuat dari es.

Dia pangeran kelima, Viktor Idinarohk: komandan front utara Kerajaan Bersatu berumur delapan belas tahun—lini depan peperangan melawan Legion—dan anak termuda raja saat ini.

“Sekutu kita, Republik Federal Giad, telah membentuk detasemen independen dengan nama Divisi Penyerang 86. Apa kau mengetahuinya?”

“Ya, Ayah. Mereka unit elit bertujuan menekan wilayah penting Legion dan menipiskan barisan mereka. Selama pertempuran pertama mereka, mereka menyerang lokasi produksi dalam San Magnolia dan memukul mundur lini musuh.”

Sang pangeran menjawab pertanyaan tiba-tiba itu tanpa keraguan. Dia kembali dari lini depan, di tempat informasi terbatas dan tidak memungkinkan, hanya satu hari lalu, dan mengenai satu unit dari negara lain. Namun Viktor menjawabnya seakan soal aritmatika sederhana.

“Mereka gagal menangkap Weisel dan Admiral sesuai perintah mereka, meloloskan tipe Mobilitas Tinggi, Phönix, dan mengalami kerugian cukup besar oleh Anjing Gembala baru, jadi misi pertama mereka dapat dianggap gagal …. Tapi mereka berhasil mencapai tujuan utama. Dan mereka mengungkap dua tipe baru Legion lebih dahulu adalah pencapaian besar. Hal pastinya, memberikan negara kita cukup waktu untuk mengembangkan tindakan penanggulangan.”

“Benar.”

Seketika mata Viktor berkilauan bagaikan pedang, sang raja mengangguk dengan kepala di atas tubuh kuat berototnya. Anggukan serius dan bersungguh-sungguh.

“Telah diputuskan Kerajaan Bersatu kita akan bekerja sama dengan unit itu. Isi kerja samanya adalah pertukaran teknologi dan pengerahan personel … Vika—kau akan bergabung dengan mereka. Maju dan basmilah Legion.”

“Ah ya, Ayah. Saya akan pergi.”

Di seberang takhta megah dan mengagumkan, duduk banyak pelayan.

Bisa kerjakan sedikit tugas untukku?

Tentu, Ayah.

Sesederhana itu.

Saat para pangeran lain melihat, mencoba menahan kekesalan mereka, keduanya terus bicara.

“Operasi mendatang akan dijalankan pasukan lini kedua kita, namun setelah itu kita pastinya punya kelonggaran untuk mengerahkan pasukan demi membantumu. Berapa pasukan yang kau inginkan?”

“Saya sudah cukup dengan unit pribadi saya. Divisi Penyerang adalah pasukan seukuran brigade apa adanya, dan saya ragu front manapun benar-benar memiliki kelonggaran hingga mengirim pasukannya.”

Yang jika disederhanakan, terjemahannya adalah …

Nah, selagi menjalankan tugasnya, kenapa tidak gunakan perubahan ini untuk keuntunganmu atau semacamnya?

Nah, gak deh, Yah.

Inilah percakapan sejati dan kasual mereka.

Pangeran itu kebetulan tidak mengenakan seragam ungu kehitaman berkerah Kerajaan Bersatu … tetapi seragam hitam normal sekolahan. Tas sekolahnya tergeletak di kakinya.

Viktor terlihat seperti baru pulang.

Nyatanya, dekat pintu masuk ruang tamu1, kepala pelayan pribadi keluarga kerajaan tengah mendekap kepalanya setelah memohon kepada pangeran dengan panik tanpa membuahkan hasil untuk setidaknya tidak membawa tas sekolahnya.

Ini bukan kelalaian tidak disengaja. Kastil mewah ini dan banyak pelayannya hanyalah hal sampingan saja bagi raja ini dan anaknya, pangeran. Tidak perlu berdiri dalam upacara atau melakukan hal-hal rumit untuk tampil bermartabat. Ini pertunjukan kekuatan sederhana.

Perdana Menteri yang berdiri dekat takhta menundukkan kepalanya. Matanya ungu muda, rambut beruban mengingatkan bulu lubah serta janggut putih. Walaupun seorang Taaffe, seorang warga negara kelas dua2, pelayan tua ini naik pangkat dengan kepandaian dan kecerdasan serta telah melayani istana semenjak pemerintahan raja sebelumnya. Dia sudah terbiasa sama perilaku kurang ajar keluarga kerajaan.

“Jika saya boleh bicara jujur, Baginda, Pangeran Viktor dan Burung-Burung Penyanyi beliau adalah inti pertahanan nasional kita. Mampukah kita mempertahankan lini pertahanan kita ketika beliau absen?”

“Tahan ucapan Anda, perdana menteri. Jika hadir atau tidaknya saya menjadi sesuatu yang diandalkan pasukan untuk menjadi pertahanan kita, itu ‘kan membuktikan kelalaian pasukan kita, yang juga berlaku bagi Anda. Menurut saya, ambillah kesempatan ini untuk menguatkan pasukan Anda sendiri.”

Bahkan tidak sekilas pun memandangnya, pangeran itu memotong kata-kata perdana Menteri. Pelayan tua itu tersenyum dan menunduk lebih dalam. Keputusan mengerahkan pasukan ke Divisi Penyerang 86 sekaligus personel mana yang akan pergi, telah disetujui dewan imperial. Kesemua ini adalah untuk mengumumkan keputusannya, sebab beberapa tidak punya hak untuk berpartisipasi dalam dewan ini, lantas kata-kata perdana menteri mewaikili keraguan yang mereka semua pegang.

Maka dari itu, pertemuan ini dilakukan dengan pemahaman implisit inilah perkara yang dibahas, namun senantiasa ada yang tidak mengerti suasananya. Mengikuti pernyataan kementerian, terdapat suara keberatan dari barisan pangeran dan putri.

“Ayah! Peperangan melawan Legion ini sejak awal kesalahan Viktor! Terus memberikan tanggung jawab kepada Ular Pembelenggu gila ini semata-mata—”

“Diam, Boris! Siapa yang memperkenankanmu bicara?”

Satu teriakan dari takhta membuat pangeran ketiga menyusut mundur seakan-akan tersambar petir. Cekikikan ditahan putri pertama dan kelompok burung penyanyi istana miliknya menggema di seluruh ruangan, bersama suara pangeran kedua—yang lebih unggul dari pangeran ketiga secara de facto—mendecakkan lidahnya. Sesudah melihat putranya, darah-dagingnya sendiri, kembali ke barisan, sang raja kembali menatap anak bungsunya dengan senyuman usik.

“Misal seseorang menghitung seluruh pencapaian kalian hingga sekarang, bukan hanya hakmu atas takhta dipulihkan, namun posisimu dalam urutan penerus tentunya naik di atas Boris.”

“Saya tidak keberatan dengan itu. Statusnya hanya menyusahkan belaka. Ayah bisa memberikan penghargaannya kepada Kakak Zafar saja, seperti biasa.”

Berbicara dengan tingkah yang terlalu tak pantas di hadapan raja, tanpa menahan diri sedikit pun, sang pangeran memandang ke belakang.

“… seandainya itu saja, boleh saya pergi? Saya sudah lama tidak bersekolah, dan saya punya segunung PR untuk dikerjakan.”

Raja itu menyeringai dan melambaikan tangannya, ibarat mengusir bocah itu.

“Baiklah …. Usahakan menyelesaikannya sebelum makan malam. Aku ingin mendengar ceritamu di lini depan.”

“Sesuai kehendak Anda, Ayah.”

Baru ketika itulah pangeran kelima membungkuk dengan gaya teramat elegan kemudian berbalik pergi. Langkah kakinya berbunyi klik keras di lantai ruang takhta yang dirancang rumit dengan pola lima warna sayap kupu-kupu. Begitu dia meninggalkan ruangan, suara seseorang menenggelamkan suara langkah kakinya.

“… dasar Raja Mayat penggila boneka …!”

Siapa pun yang mengatakannya pasti bermaksud agar pangeran mendengarnya, tetapi tetap saja fitnah agak tidak dikondisikan. Tentang pemilik suara mencibir itu, pangeran kelima meninggalkan ruang takhta.

Saat dia membuka pintu, dia disambut aroma obat samar teh hitam campuran juga senyum kakak laki-lakinya.

“Selamat datang, Vika …. Meski kau sudah kembali ke kastil di malam sebelumnya, bukan?”

“Ah, Kak Zafar. Iya, aku datang terlambat, jadi tidak sempat menyambutmu.”

Vika bicara kepada kakak tertuanya yang saat ini sedang menuangkan secangkir teh sambil memasang senyum kekanakan. Zafar Idinarohk—pangeran mahkota Kerajaan Bersatu Roa gracia. Mereka berada di kamar pribadinya yang dibangun dari marmer cantik bertatahkan amber dan dihias perabotan kayu eboni dipoles.

Kedua saudara itu teramat-amat mirip, tetapi perbedaan usia sepuluh tahun membuat sosok Zafar memiliki bentuk simetri tertentu dan suaranya sesuai nada instrumen yang bagus. Rambut hitam kemerahannya yang sekarang diikat pita sutra tipis juga jepit rambut zamrud, sama dengan rambut adik laki-lakinya, begitu pula mata ungu khas keluarga kerajaan.

Duduk di kursi seberang seperti yang disuruh, Vika melihat seorang pelayan menyiapkan camilan teh dan kelopak mawar rebus-manis di atas meja dengan gerakan halus layaknya boneka mekanis. Saat pelayan itu meninggalkan ruangan, Vika bertanya, “Apa situasinya sungguh seburuk itu?”

Sesaat Zafar mengamati tanpa berkata-kata, Vika mengangkat bahu dan melanjutkan:

“Saat aku berada di garis depan, aku tidak bisa mengikuti setiap hal kecil yang terjadi di Kerajaan. Tidak mundur selama serangan skala besar sejujurnya hal yang paling bisa kita lakukan.”

“Mengingat separah apa kau berjuang, tentunya kau menyadari situasi perangnya menjadi kritis …. Kita kedapatan hasil perhitungan awal perwira staf.”

Secara elegan mengangkat satu sendok perak kelopak manis ke mulutnya, Zafar berlama-lama dengan keharuman dan rasa manis murninya. Kemudian dia melanjutkan.

“Kalau terus begini, kita takkan kesampaian musim semi berikutnya.”

Ekspresi Vika tak goyah sedikit saja.

“Jadi itulah sebabnya mereka menelan harga diri dan meminta Giad—negara yang tanahnya diambil rakyat biasa—bantuan. Pertukaran teknologi dan pengerahan personel cuma dalih untuk menutupi ego rapuh mereka,” ejek Vika. “… sampah tidak berarti. Dewan Imperial tak lebih dari sekumpulan orang tua yang mencari keuntungan sendiri.”

“Apa yang tersisa dari keluarga kerajaan bila kau merenggut keangkuhan mereka, Vika? Suruh mereka berpakaian bolong-bolong dan mereka nantinya akan segera tahu kalau kebangsawanan dan kemegahan hanyalah ilusi.”

Begitu kata putra mahkota. Darah yang mengalir di pembulunya, dikembangkan puluhan generasi selama ribuan tahun, menyombongkan keindahan tak tertandingi. Etikanya mengangkat cangkir porselennya sudah cukup membuat siapa pun menganggapnya seorang bangsawan sekali pandang.

  Melihat-lihat pangeran lebih muda yang bisa saja berpose untuk potret keluarga kerajaan, Zafar melanjutkan.

“Sesuai katamu sebelumnya, Federasi sendiri sedang di bawah tekanan, meskipun tidak pada tingkat sama. Merekalah yang meminta bantuan untuk operasi mereka, dan mereka pula yang mengambil umpan ketika kita mengusulkan pertukaran teknologi.”

Federasi mempunyai wilayah dan populasi terbesar semenjak peperangan melawan Legion pecah, dan masih memegang posisi terkuat dari semua negara lain.

Kendatipun dulunya kekuatan adidaya, Kerajaan bersatu kurang dalam hal wilayah dan populasi. Namun, Kerajaan Bersatu telah kehilangan hanya separuh pegunungan Dragon Corpse dan mempertahankan lini pertahanannya sejak saat itu, sebuah pencapaian yang Federasi sangat ingin tahu kebenaran di baliknya.

Barangkali mereka mengira senjata baru atau mungkin strategi jenis baru. Apa pun itu, mereka harapkan dapat membantu membela negara mereka. Dan tahu itu, Zafar tersenyum sedikit.

“Ya. Burung penyanyi kecilmu yang menjijikkan dan cantik.”

“Aku ragu Federasi akan menggunakannya bila tahu cara kerja mereka …. Mungkin karena itu, kan?”

Memperhitungkan teknologinya takkan berguna bagi Federasi, itu hampir takkan terlewatkan sekalipun Kerajaan Bersatu menyerahkannya.

Itulah mengapa menteri teknologi kelewat sombong itu menyetujuinya. Manusia memang bisa sangat berdosa, pikir Vika. Bahkan dalam situasi hari esok pun tidak terjamin, mereka masih fokus pada persaingan kecil.

“Federasi punya alasan lain untuk meminta kerja sama. Jadi biarlah …” tukas Zafar. “ada kondisi lain dalam persetujuan kita dengan mereka yang Ayah tak utarakan di ruang tamu. Kita pasti akan memberikannya kepada mereka. Tidak ada komplain, kuharap?”

“… Ratu Bengis.”

Carilah aku, katanya. Pesan kepada seorang perwira Divisi Penyerang pastinya memiliki arti sangat besar. Menolak menyerah atau semacam negoisasi. Mungkin saja dia mencoba memberikan beberapa informasi …. Boleh jadi terdengar berangan-angan, tetapi kemungkinan ia ingin mengakhiri konflik ini yang telah menyebar ke tanah airnya sendiri tidak benar-benar nol, tahu”

“Iya, kurasa tidak ada jaminan dia bukan orang kekaisaran eksentrik, dan bisa jadi dia memasang satu-dua pengaman kalau-kalau terjadi penyimpangan. Tetapi itu saja. Aku kaget Federasi menyetujuinya.”

“Selama ada kemungkinan Nona Birkenbaum terlibat, cukup tahu itu. Yang ada, mereka mungkin mengorek algoritma taktis Legion darinya …. Dan satu-satunya orang tersisa yang sanggup membuat keputusan semacam itu terkait karakter beliau pada saat ini, adalah kau seorang.”

“Aku belum banyak bicara dengan beliau. Malahan, para peneliti Republik lebih mengenalnya …. Oh. Tapi mereka 86, bukan? Dalam hal ini, mereka tak lagi terhitung orang hidup.”

Vika telah mendengar penganiayaan Republik San Magnolia terhadap 86. Dikepung Legion dan dinding di belakang mereka, Alba Republik memilih tidak membebaskan diri dari situasi tersebut dan malah membutakan dirinya kemudian memindahkan tanggung jawabnya ke pihak lain, mengarah ke kesimpulan menyedihkan.

“Yah, apa pun yang terjadi, aku akan bertindak seperti biasanya,” tukas pangeran lebih muda. “aku percaya keputusan Ayah dan Kerajaan …. Sekalipun aku mati, pada akhirnya kau hanya kehilangan anjing lain.”

Zafar sedikit bersungut dan memiringkan kepalanya ke Vika, yang mengangkat bahu seraya mengatakan:

“Divisi Penyerang 86. Mereka semua 86, benar …? Mereka mungkin rakyat jelata, tapi bahkan petinggi Federasi menganggap mereka sulit diatur. Sama sepertiku.”

“Vika.”

“Menyebut mereka unit elit ada ciri berkelasnya, namun yang Federasi lakukan hanyalah mengirim monster-monster ini yang tidak dapat mereka kendalikan untuk mempertahankan lini depan, mengharapkan para 86 mengikuti propaganda mereka. Tingkat keselamatan operasi pengerahan itu rendah. Unit yang ahli dalam operasi-operasi semacam itu, nilai nyawa satu anggota regu tidak berarti banyak. Seperti halnya operasi melawan Morpho.”

Tentara anak-anak dulu itu 86 juga, pikir Vika, menyipitkan mata. Nyawa yang tidak terlalu berarti? jika demikian, di masa-masa perdamaian, mereka bahkan akan lebih kurang berarti lagi.

“Seumpama kau memburu serigala, kau membebaskan diri dari anjing-anjing yang kau gunakan untuk memburu serigala itu pula. Tidak ada orang yang butuh binatang buas di masa-masa damai. Sekiranya musuh dan monster yang kau gunakan akan membunuh satu sama lain, takkan merepotkanmu mengotori tangan sendiri dengan menghabisi salah satunya.”

Zafar mengernyitkan alis cemas.

“Kau bukan binatang buas, Vika.”

“Iya. Bagimu dan Ayah, mungkin.”

Sambil nyengir, Vika menyesap tehnya. Aroma bunga manis bunga jagung yang bermekaran di ladang sebelah selatan Kerajaan berhembus ke lubang hidungnya, mekarnya yang berwarna biru tidak ditemukan di mana-mana sepanjang tahun ini.

“Tapi bisakah seluruh dunia mengatakan hal sama? Bagi mereka, aku sama seperti 86 …. Seekor monster berwujud manusia.”

Catatan Kaki:

  1. Despotisme adalah bentuk pemerintahan dengan satu penguasa, baik individual maupun oligarki, yang berkuasa dengan kekuatan politik absolut. Meskipun bermakna peyoratif, istilah despot pernah digunakan sebagai gelar di Kekaisaran Romawi Timur.
  2. Ruang tamu maksudnya di sini adalah ruangan bakal Raja nyambut tamu-tamu penting kerajaan.
  3. Warga kelas dua atau warga negara kelas dua adalah orang yang secara sistematis didiskriminasi dalam sebuah negara atau yurisdiksi politik lainnya, disamping status nominal mereka sebagai warga negara atau pemukim tetap disana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *