86 JILID 4 Epilog

TERLUKA DALAM TUGAS

 

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

Kebiasaannya memaksa orang lain menulis laporan di Federasi, di mana dokumen elektronik adalah format normalnya dan menyuruh seseorang menulisnya di kertas sebagian besarnya cuma perundungan saja, adalah salah satu alasan Grethe tak tahan perwira komandan belalang sembahnya.

“—unit Legion baru yang disebutkan di atas mulai dari sekarang ditetapkan sebagai tipe Mobilitas Tinggi— Phönix.”

Duduk di belakang meja panjang bertumpuk kertas, kepala staf kelihatan sangatlah gembira.

“Selain itu, Legion cerdas yang diproduksi massal akan dinamai Anjing gembala …. Tipe baru abadi yang tidak hanya bisa berkamuflase optik—juga Legion kecil-kecil yang punya kecerdasan. Kelihatannya kita perlu memperhitungkan strategi dasar lagi. Menyebalkan.”

“Tambahan, ada Legin yang menternakkan manusia dan memenuhi gudangnya dengan kerangka. Regu kesehatan mental kita akan langsung sibuk, bukan?”

Selagi mengarahkan pandangannya pada Willem, kepala staf mengangkat tangan menyesal.

“Maaf, maaf, jangan melotot seperti itu. Kalau kutahu begini takkan kusuruh mereka menjalani misi ini.”

Walaupun mereka adalah para elit dibandingkan pasukan Federasi, 86 adalah tentara anak-anak, dan contoh asli kelima orang awal yang mereka tanggung memperjelas kerapuhan mental mereka.

Jiwa manusia bergantung pada ingatan awal mereka, ketika mereka disayang dengan tulus. Lantas 86 yang keluarganya direnggut dari mereka, martabat dirampas, dan eksistensi mereka disangkal bahkan sebelum sampai remaja, beranjak dewasa tanpa basis itu. Bertahan hidup di medan perang yang menuntut mereka untuk menjadi lebih kuat barangkali menjadikan mereka pedang ditempa dan terasah, tetapi di satu waktu, bilah mereka amat-amat rapuh.

Grethe terus menatap tajam kepala staf yang kemudian memutar kursi sambil membuang muka.

“Okelah, okelah. Akua tur liburan buat mereka. Mungkin pemandian air panas? Mau bergabung bersamaku selagi menginspeksi tempat itu?”

“Kurang ajar sekali kau santainya mengajakku berkencan? Apa kepalamu sehat?”

Ketika kepala staf mengangkat bahu tanpa kata, ajudan cakapnya mengeluarkan buku panduan penuh tempat wisata turis dari tumpukan dokumennya lalu meninggalkan ruangan. Melihat ajudan tersebut pergi, kepala staf kemudian menambahkan, “… Grethe. Ada pertanyaan yang sudah lama menggangguku.”

Suaranya jadi seirus. Grethe menatap mata hitamnya yang bersinar bijaksana.

“Kok bisa … mereka dapat ide untuk mengasimilasi jaringan saraf manusia?”

Grethe mengerutkan alis.

“Maksudmu apa?”

“Bisa-bisanya mesin, yang fungsinya hanya menghancurkan sesuatu, kedapatan ide untuk mengasimilasi sesuaut, terus belajar cara memecahkannya sedimikian rupa agar bisa menjadikannya bagian diri mereka?”

Benar juga, itu aneh. Manusia berpikir dengan otaknya, otak paling berkembang dari seluruh mamalia. Itulah sesuatu yang diajarkan ketika SMP, tetapi bukan kebenaran yang terbukti sendiri yang orang dapati tanpa diberi tahu. Katanya dulu kala, orang-orang pernah mengira organ lunak yang ada di tengkorak manusia adalah sesuatu dari usus tidak berguna yang menghasilkan dahak.

Lantas bagaimana mesin pembunuh, yang jaringan sarafnya berbeda dari komposisinya sendiri, sampai ke kesimpulan tersebut?

“Mendengar pesan yang diterima Kapten Nouzen membuatku memikirkannya, jadi aku selidiki. Zelene Birkenbaum, sang pengembang Legion. Peneliti jenius yang meningkatkan model AI yang dikembangkan Kerajaan Bersatu—alias Model Mariana—ketika dirilis melalui jaringan publik dan seorang diri mengembangkan sistem kendali Legion.”

“Tapi kurasa beliau tak kesampaian melihat Legion beraksi yang beliau kembangkan dengan mencurahkan hati dan jiwa karena meninggal sebab sakit tak lama sebelum seri pertama Ameise diluncurkan.”

“Beliau tidak ditemukan mayatnya.”

Wajah Grethe membeku kaget. “… apa?”

“Tak ada sertifikat kematian atau catatan penguburan beliau. Kemungkinan semuanya hilang dalam pergolakan pra digulingkannya kekaisaran. Namun mengingat bahkan ibu beliau saja tak melihat jenazah beliau, itu aneh.”

“…”

“Di sisi lain, aku mendapat laporan dari Kerajaan Bersatu mengenai satu unit komandan yang mereka hadapi. Identifikasinya adalah Ratu Bengis. Kebanyakan unit komandan adalah bermodel Dinosauria, tetapi yang satu itu adalah Amise. Dan Ameise dari seri pertama, dari awal-awal peperangan lagi. Sebuah model yang setahu kita, sekarang ini seharusnya tak beroperasi.”

Bagi Legion, jaringan saraf tidak rusak adalah karunia berharga. Paling tidak sampai sekarang demikian. Karena alasan inilah kebanyakan Gembala menggunakan Dinosauria—Legion tempur paling defensif dan tebal—sebagai wadah mereka. Tentu, ada pengecualian, seperti Morpho dan Admiral, tetapi tidak ada catatan kasus unit rapuh semacam Ameise digunakan.

Dan itu adalah satu-satunya jenis Legion yang dikembangkan sebelum sang pengembangnya meninggal dunia.

“Jadi, menurutmu beliau pergi ke mana?”

“… tentang Mayor Penrose …”

Setelah menemui orang-orang terlibat yang memimpin setiap skuadron di Divisi Penyerang, hanya Lena, Annette, dan Shin yang tinggal di ruang rapat, lalu Shin mendadak bicara.

“Aku terus berusaha mengingatnya sejak saat itu, dan pagi ini kurasa akhirnya ingat beberapa hal.”

“Hebat! Baguslah.”

Mengesampingkan terminal tablet yang dia ambil, Lena menepuk tangan pelan sekali, dan wajah Annette berubah ketakutan bak narapidana yang menunggu putusan dibacakan kepada mereka. Ekspresi Shin, di sisi lain, terlihat ganjilnya tak nyaman.

“Kau … jauh dari kata gadis riang—kau seperti monster kecil.”

… maaf?

“Kau mengambil satu ranting dan diayun-ayunkan. Kau melompat ke setiap genangan air terus mulai melempar-lempar lumpur ke mana-mana. Kau tidak suka main petak umpet, tapi kapan pun kau jaga, waktu habis seharian buat mencari, kemudian menangis di sungai saat permainan berakhir.”

“… Shin?”

“Kau selalu ngotot suka membuat permen, dan kau memberikanku banyak juga, tapi kebanyakannya tak bisa dimakan. Mengenangnya kembali, mungkin itulah separuh alasan aku tidak suka manisan.”

“Oh, bagian dirinya yang itu belum berubah sampai hari ini.”

Meski begitu, belakangan ini, Annette bisa membuat makanan enak sekali-sekali, mungkin itu kemajuan. Atau bukan.

“Kesalahanmu bukan kesalahan dasar kek berlebihan menambah gula atau salah campur dengan garam. Terkadang kau cuma harus mencairkan cokelat, tapi entah gimana malah mengubahnya jadi warna ungu. Dan sedengarku, kau menyuruh ayahmu mencicipi manisannya, terus dia pingsan, jadi aku tidak tahu harus melakukan apa saat kau membawakannya kepadaku. Oh, dan juga …”

Bicara berlarut-larut takkan disangka seseorang, menimbang betapa pendiamnya dia biasanya, Shin menatap Annette.

“… kau mungkin tidak tahu, tapi ibumu nantinya akan datang mengambil manisanmu terus memberikanku buatannya. Rasanya normal dan enak.”

“Duh, bodolah! …. Tidak, bentar, bentar-bentar. Apa-apaan?!”

Annette akhirnya melompat berdiri, perangkat yang dia bawa untuk merancang dokumen elektronik jatuh ke lantai.

“Aku duduk di sini, mendengarkanmu, dan kau cuma asal bicara! Kau pedang-pedangan make ranting dan main-main di lumpur sama sepertiku, dan saat kita bermain petak umpet, kau sembunyi di tempat sinting kayak puncak pohon tertinggi di semak semak dekat tetangga!

Itu buruk, dan aku tahu bagaimana tangisanmu waktu kakakmu nanti memarahimu!”

Setelah jeda sejenak, tatapan Shin kelihatan gemetaran.

“… aku tidak ingat itu.”

“Bohong, kau barusan berhenti dan memikirkannya!”

Teriakan Annette bergema di ruang konferensi, Annette bernapas berat, bahunya naik-turun. Lalu mukanya berkerut dengan ledakan emosi.

“Apa-apaan? Kau sengaja melakukan ini? Bukannya ada hal lebih baik yang bisa kau ingat, sialan …?!”

Apa yang Annette ingin Shin ingat—yang ingin dia ucapkan maaf—bukan sesuatu sesepele dan sekonyol seperti kenangan itu.

“Aku tidak bisa berbuat banyak …. Kita senantiasa berdebat seperti ini, sih.”

“Dasar bego!”

Berteriak ibarat menjejalkan kalimat itu kepadanya, Annette bergegas keluar dari ruang konferensi. Melihat kepergiannya dengan raut wajah sebal, Shin menunjuk pintu keluar.

“Berkenankah?”

“Tentu. Aku pergi deh!”

Bagusnya, Annette belum pergi kejauhan. Dia berdiri di persimpangan koridor, memunggungi dinding di pojok. Wajahnya menggambarkan kesedihan.

“… tak apa. Dia beneran tidak ingat kali terakhir kami bertengkar,” ludahnya jengkel kala Lena mendekat, tidak menatapnya.

“Fakta aku tidak menyelamatkan Shin telah menyiksaku sejak itu, tapi yang pastinya, itu tidak mengganggunya lagi. Kenapa sesuatu setidak bermakna itu bertahan dalam memorinya, kan? Tidak apa …. Dia tidak usah mengenang-ngenang lagi. Tidak sekarang ini.”

Meskipun artinya Annette takkan pernah bisa minta maaf. Walaupun mereka takkan bisa kembali ke bagaimana sebelumnya.

“Ujung-ujungnya, aku cuma bertindak berdasarkan kesan salah yang kubuat saat masih jadi anak songong. Itu hubunganku bersama teman masa kecilku … kalau dunia ini begitu kecil adalah sesuatu yang takkan pernah berubah. Jadi walaupun dia memang ingat yang lain, tidak apalah kalaupun hal-hal tak berguna.”

Annette kemudian melirik Lena.

“Contohnya saat aku bilang kita akan menikah pas sudah dewasa.”

“Hah?”

Lena balas menatap, cicit aneh keluar dari bibirnya. Annette tiba-tiba menyeringai. Ekspresi cerah dan tanpa beban pertama yang Lena lihat sejak lama.

“Bercanda doang. Sekalipun benar … Shin selalu bodoh soal ini. Ada gadis-gadis yang satu regu bersamanya dari dulu, jadi mungkin saja dia bakalan direnggut misal kau tidak agresif, tahu.”

“A-Annette …?!”

Selagi Lena panik melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain di koridor terasing ini, Annette nyengir kejam.

“Berusaha yang terbaiklah bersamanya.”

Lena tidak sedungu itu sampai tak sadar inilah cara Annette memutus afeksi tersisanya, mengucapkan selamat tinggal kepada cinta pertama semasa mudanya.

“… terima kasih, Annette.”

“Tidak usah disebutkan. Nah, sekarang ayo kerja! Seorang komandan taktis tidak boleh mengabaikan pasukannya. Takkan jadi contoh yang baik, benar?”

Lena juga tak sebuta itu sampai tidak sadar Annette sedang berpaling meminta waktu sendiri sementara waktu.

“Terima kasih … maaf.”

Barangkali Shin mengharapkan Lena kembali, sebab Shin duduk sendirian di ruang rapat kosong. Terminal informasinya menyala dan menampilkan sejumlah program aneh selagi dia menulis dokumen. Dia memanggil Lena tanpa perlu berbalik melihatnya.

“Tidak jadi masalah aku menggunakan ruangan ini lama-lama selagi tidak ada yang memesan, kan? Aku harus menulis beberapa laporan, dan kantor itu berisik.”

“Boleh …”

Para Prosesor diberikan kantor bersama, tapi karena sampai sekarang mereka diperlakukan selayaknya drone dan tidak diberikan pendidikan sepatutnya, 86 tak punya kebiasaan duduk diam dekat meja. Hasilnya kantor relatif—atau lebih tepatnya, sangat—berisik. Melihatnya dengan sudut pandan glain, kantor sangat asyik untuk bekerja tapi betul-betul tidak cocok ketika ingin fokus mengerjakan dokumen mereka.

“Sudah terbiasa menulis laporan sekarang?”

“?”

“Di Sektor 86 dulu, laporan pertempuranmu dan bahkan laporan patrolimu isinya selalu berantakan.”

Handler Shin sebelum Lena tak pernah mau repot-repot membaca laporan, dan Shin tidak perlu berpatroli, jadi isinya omong kosong ngawur terus. Kata-kata Lena mengingatkannya, Shin tersenyum masam dan tipis.

“Saat ini aku tak punya banyak pilihan. Kolonel Wenzel bisa kejam soal hal semacam ini.”

“Masa? Kalau begitu aku harusnya lebih kejam padamu.”

“… ampuni aku, tolong.”

Lena terkekeh melihat betapa tidak senangnya Shin terdengar. Tapi begitu tawanya mereda, Lena mengajukan pertanyaan yang mengusik dirinya. Apa dia …?

“Apa kau sebetulnya cuma … memikirkan Annette?”

Menghindarkannya dari ikatan rasa bersalahnya. Boleh jadi Shin betul-betul mengingat semuanya namun memilih menyebut yang tidak penting saja karena memikirkannya …

“Tidak.”

Tapi Shin menyangkalnya.

“Aku sungguhan tidak ingat sama sekali. Sudah kubilang, kami selalu berdebat, jadi pasti tidak meninggalkan banyak kesan.”

Ibarat kontras dengan dalamnya luka rasa bersalah yang tertinggal pada diri Annette.

“Aku belum bisa mengingat wajahnya dengan jelas …. Biarpun aku hanya tak punya wawktu luang untuk memikirkannya segera setelah operasi.”

Lena memiringkan kepalanya prihatin.

“… kau yakin tidak semestinya beristrirahat lebih lama? Kau merasa sangat tidak enak badan setelah operasi, kau harus diam di tempat tidur beberapa hari.”

Itu, tak salah lagi, pengaruh peningkatan mendadak Gembala yang diproduksi massal—para Anjing Gembala. Sekalipun gejala Shin tak nampak, seperti demam, Shin kebanyakan menghabiskan waktu beberapa hari sehabis operasi dengan tidur. Regu medis merawatnya, dan Shin disetujui untuk kembali ke tugas operasional penuh, tapi …

“Tidak lama lagi aku akan terbiasa. Aku seperti ini pas pertama kali mendengar Legion juga.”

“…”

Ada satu hal yang bisa Lena pahami. Walaupun kata Shin dirinya baik-baik saja, Shin tak bisa dipercayai telah sehat sepenuhnya mengenai kesehatan. Dia cenderung melelahkan tubuhnya … bahkan sampai tak sadar melakukannya.

Suara laporan berita dari layar holo merobek keheningan di antara mereka.

“Selanjutnya, kita punya pembaruan tentang operasi perebutan kembali Sektor administratif utara Republik San Magnolia.”

Melihat layar holo, Shin meraih sensor yang dipasang di tepi meja. Dia hendak mengubah saluran atau mematikannya, tapi Lena hentikan. Sayangnya, tingkah para pemutih terus berlanjut sebagaimana sbeelumnya sampai 86 meninggalkan pangkalan garnisun. Mengkritiknya serasa seperti usaha sia-sia.

Program berita menjelaskan situasi perang dengan jelas. Lini depan terkini, Sektor mana yang telah direbut kembali, berapa jumlah korban jiwa, dan jumlah musuh yang dikalahkan. Juga mendiskusikan sampel manusia yang ditemukan di Charité bawah tanah, dan meskipun beberapa kebenaran ditutupi, laporannya sebagian besar akurat. Sekurang-kurangnya, taka da upaya memalsukan situasi perang.

“—terlebih lagi, pertempuran memperebutkan terminal Charité diperjuangkan oleh Divisi Penyerang 86, didirikan dari tentara anak-anak yang diberikan perlindungan dari Republik San Magnolia, dengan kata lain 86—”

Lena melihat acaranya, terkejut melihat lporannya sedetail itu. Mendiskusikan buakn hanya pencapaian tetapi siapa yang mencapainya. Republik tak pernah melaporkan hal semacam itu, tapi seperti itulah semuanya harus berjalan …

Acaranya dilanjutkan dan menjelaskan 86. Menceritakan kelimat tentara anak-anak yang diselamatkan di front barat. Dari penganiayaan mengerikan tanah air mereka. Bagaimana seusai kejatuhan Republik, banyak anak-anak lain ditemukan mengalami perlakuan serupa.

Liputannya lalu berlanjut perihal bagaimana anak-anak ini harus menjalankan kewajibannya tuk menyelamatkan tanah air lama mereka. Sesuai kehendak sendiri.

“… hah?”

Dari bagaimana mereka bersumpah setia kepada negar abaru mereka, atas nama kebajikan mulia. Bagaimana tentara anak-anak heroik ini menawarkan raga dan nyawa mereka atas nama keadilan Federasi, untuk menyelamatkan tanah air yang pernah menyiksa mereka.

“Apaan …?”

Kisah tragis, luhur, yang sempurna. Dongeng menyedihkan namun nangis yang membuat siapa pun meneteskan air mata, marah, dan bergetar kagum dalam-dalam. Cerita yang diniatkan membangkitkan simpati mewah yang menengglamkan orang lain, disajikan dengan air mata dan dihias emosi.

“A-apa ini …? Apa artinya ini …?”

Satu-satunya hal yang bisa pasti Lena katakan adalah ini jenis liputan yang setahu Lena takkan diinginkan Shin yang tengah berdiri di depan Lena, Raiden, Theo, Kurena, Anju, Shiden, dan 86 lain.

Orang-orang ini paling membenci diperlakukan semena-mena laksana anak-anak menyedihkan …!

Tapi bertentangan kemarahan Lena, Shin cuma bersungut tidak peduli.

“Jenis siaran ini sudah berlangsung selama serangan skala besar. Mereka memperlakukan kita seolah kita layak dapat belas kasih di hari mereka menyelamatkan kita, dan makin-makin lagi seiring memburuknya peperangan … kalau mereka mau mengasihani kita dan berhak merasa murka kepada perbuatan Republik, mereka bisa dengan mudah merasa lebih unggul dan adil. Itu tujuannya.”

Federasi nyaris tak ingat betapa miripnya ini sebelas tahun lalu. Seketika Republik mengalami kekalahan telak di tangan Legion, warga negaranya memandang 86 sebagai pelampiasan frutasi mereka. Ini pun sama. Federasi hanyalah mendiskriminasi pihak lain.

Shin menatap Lena yang gemetar murka, kepala Shin memiring aneh mirip monster tanpa dosa, persis yang dilakukannya ketika berjalan-jalan di Liberté et Égalité.

“… apa kau harus marah sama hal ini?”

“Tentu saja! Kau tak bertarung dengan alasan sejumlah kejadian tragis! Diremehkan bak anak-anak menyedihkan! Benar …?”

Melemas, Lena menundukkan kepala. Ini seperti …

“Kau tidak merasa apa-apa …? Kau tak kesal pada perlakuan tempat dirimu melarikan diri …?”

“… tidak juga.”

Suara Shin kedengaran sungguh dan tulus tak mengindahkan. Lena juga mengira Shin mungkin menganggapnya kesal karena terlalu memerhatikan masalah ini.

“Itu tidak menyenangkan—harus kuakui—tapi sesudah lama waktu berlalu, baik rasa kasihan dan hinaan sama saja buat kami …. Bukannya sudah kuberi tahu? Federasi bukan utopia. Negara yang didirikan manusia, sama sebagaimana Republik.”

Selanjutnya Shin tersenyum tanpa persanaan. Entah bagaimana tersenyum lega, pasrah, dan muram.

“Manusia semuanya sama, ke manapun kau pergi. Itu saja.”

Senyum gila itu … sebra kemarahan dingin dan rasa muak. Emosi sama yang diarahkan Sektor 86 kepada babi putih.

“Shin … apa dunia ini indah?”

Ekspresinya berubah ragu terhadap pertanyaan seketika itu.

“Apa maksud—?”

“Apa dunia ini baik? Apa tempat ini bagus …? Orang-orangnya bagaimana? Mereka cantik-cantik? Murah hati? Mereka baik?”

Wajah anggun Shin, mulanya berubah bingung, pelan-pelan kehilangan seluruh ekspresinya begitu pertanyaan Lena datang bertubi-tubi. Dan tak menghiraukannya, Lena terus bertanya.

“Dunia ini … orang-orangnya …. Bisakah kau mencintai mereka?”

Tiada jawaban datang.

“Aku paham …. Tidak, itu masuk akal.”

Dunia ini tidak indah bagi mereka. Tidak, mungkin dari sananya tidak indah, tetapi tentu tidak baik. Dan orang-orangnya tak ramah, murah hati pun tidak.

Tentunya dunia ini tidak indah. Dan itu tak hanya berlaku pada Republik. Federasi pun sama …. Kepada semua orang. 86 telah menyerah kepada dunia ini, menganggapnya bengis dan buruk … dan paling besarnya adalah tanpa harapan.

“Bukannya kau tak bisa mengingat masa kecilmu. Kau tidak mau mengingatnya. Karena dengan begitu kau dapat terus memikirkan hal-hal yang hilang darimu, yang diambil darimu, sejak awal tak pernah eksis. Dengan begitu kau bisa terus percaya orang-orang itu tercela.”

86 sudah dipersekusi dan dilempar ke medan perang mematikan, dalam prosesnya, banyak hal telah dikikis dari mereka. Keluarga mereka, nama mereka, kebebasan mereka, kehormatan mereka. Namun selagi bilah kejahatan terus diayunkan, mengelupas lapis demi lapis, mereka buang masa lalu yang mereka cintai demi menjaga kehormatan mereka. Mereka harus bersedia menghapus kasihi sayang yang dulu mereka keneal, kehangatan, kegembiraan, kenangan akan orang-orang yang memberikannya.

Karena jika mereka ingat hal-hal itu, mereka nantinya ‘kan membenci ingatan tersebut.

Bahwa mereka dulunya pernah kehilangan kegembiraan, orang-orang dasarnya baik, inilah sosok sejatinya umat manusia …. Mereka ‘kan membenci dunia di depan mata mereka, sebab tak seperti hal-hal itu. Mereka akan membenci dunia dan akhirnya berubah menjadi makhluk yang sama kejinya seperti dunia. 86 akan benci persekutor mereka dan kehilangan harga diri terakhir yang mereka miliki, percaya kata vulgar adalah esensi sejati manusia.

Dan nasib sedikitnya orang baik yang mereka temui, yang bersedia mengulurkan tangan bantuan, mereka semata-mata dipisahkan menjadi pengecualian berharga dari aturannya, yang mencoba melindungi dunia dan orang-orangnya dari keputusasaan.

Karenanya 86 tak merasakan apa pun. Tidak ada penghinaan. Tidak ada nista. Tidak kepada orang-orang, tidak kepada dunia. Mereka tak punya ekspektasi pada niat baik atau keadilan. Tidak merangkul harapan sekecil apa pun …

Hingga hari ini, Shin masih tidak bisa menjawab Lena tentang adakah yang ingin dilakukannya. Dia hanya membayangkan keinginan Lena. Dia masih tak punya jawaban atas pertanyaan perihal apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri. Dia hanya pura-pura mengingat-ingat untuk mengecilkan pentingnya fakta itu. Namun Shin tidak pernah mencoba menghadapi masa lalu hilangnya.

“Kau …. Kalian semua mungkin telah meninggalkan Sektor 86. Tapi kalian masih terjebak di dalamnya. Kalian masih terjebak oleh Republik. Oleh kami—babi putih.”

Mereka melupakan segalanya supaya tak membenci orang lain.

Untuk melindungi harga diri itu, mereka harus memotong semuanya.

Bahkan persepsi sesuatu berharga telah direnggut dari mereka.

Dan karenanya Shin bersama 86 lain sama-sama saja seperti saat mereka terjebak dalam Sektor 86.

Memegang sisa-sisa harga diri terakhir dan tidak pernah memikirkan apa yang telah dipotong untuk mempertahankannya. Seperti halnya ketika berlari di sepanjang medan perang yang pasti membunuh mereka, disegel kejahatan manusia—Sektor 86, di mana seluruh dunia musuh mereka. Tanpa kebahagiaan masa lalu tuk dilihat, mereka tidak bisa membayangkan tahu kematian di masa depan.

Mereka bertahan dan meraih kebebasan. Namun harus menyingkirkan kekuatan tuk membayangkan kebahagiaan di depan, bahkan kekuatan tuk mengharapkannya.

Shin hanya menatap Lena, terdiam tanpa ekspresi. Tutur Lena kemungkinan tak beresonansi dengannya. Bayangan burung dimangsa sedang terbang disaring oleh jendela. Bayangan sayapnya jatuh di atas ruangan, ibarat menandakan keretakan di antara mereka.

Lena pikir dirinya berada di medan perang sama seperti mereka. Akhirnya menyusul mereka dan akan bertarung di sisi mereka mulai dari sekarang.

Namun tidak demikian. Mereka barangkali berdiri di medna perang sama dan pergi ke pertempuran yang sama …. Namun Lena memandang dunia dengan cara yang seluruhnya berbeda dari sudut pandang mereka.

Aku warga negara Republik. Pihak yang mencuri mereka dan menggerogoti mereka. Jadi mengatakan ini mungkin saja sikap sombong buruk. Namun meski tahu itu …

“Itu membuatku … sangat sedih.”

Setetes air mata mengalir di pipi putih mulusnya.

Republiklah musuhnya.

Bekas luka kekejaman Republik terukir pada 86, keputusasaan pada dunia ini yang mengalir terlampau dalam, bagiku—dan mungkin bagi mereka—adalah musuh terbesar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *