86 JILID 5 Bab 1

Posted on

MELANKOLIS MONSTER

Penerjemah: Kain[E]

Rito Oriya bergabung dengan skuadron Spearhead musim semi lalu—dua tahun setelah dirinya menjadi seorang Prosesor. Garis pertahanan pertama distrik pertama adalah tempat pembuangan terakhir para Prosesor yang sudah bertahan terlalu lama. Mereka dikirim ke sana untuk mati dalam pertempuran. Biasanya, cuma para Prosesor di tahun keempat atau kelima pengabdian mereka dikerahkan ke sana, jadi penunjukan Rito setelah pengabdian dua tahun saja relatif lebih awal …. Atau lebih tepatnya, saat itu masih awal hingga kejadian itu.

Republik percaya perang dengan Legion akan berakhir setelah sepuluh tahun. Rentang hidup Legion semestinya berakhir kala itu. Rito dan 86 lain tahu takkan demikian, namun para babi putih tidak mengetahui apa-apa soal medan perang dan ingin menyingkirkan ternak yang mereka pelihara demi perang.

Rito takkan pernah lupa hari dimulainya serangan skala besar.

Lari, bocah-bocah! Aku tidak peduli kalian sembunyi dalam dinding atau di manapunlah—keluar saja dari sini dan bertahan hiduplah!

Didesak teriakan amarah kepala senior pemeliharaan pangkalan, Rito dan dua puluh dua Prosesor yang masih hidup lain menaiki rekan terpercaya mereka—Juggernaut—dan pergi ke selatan. Tepat ketika peringatan kejatuhan Gran Mule terdengar. Persis setelah seorang Handler, gadis yang sedikit lebih tua, memproklamasikan akhir Republik dan 86.

Mereka tidak mau mati di bawah Republik. Jika mereka mesti mati, mendingan mati di medan perang Sektor 86, tempat rekan-rekan tak terhitung mereka berguguran. Pemikiran inilah yang membuat mereka tidak bergabung dengan Republik melainkan skuadron yang memanggil mereka dari sebuah benteng di Sektor 86. Kepala pemeliharaan, Lev Aldrecht, mengatakan gadis Handler itu adalah orang bisa dipercaya dan mengikutinya akan meningkatkan peluang hidupnya, namun Rito merasa sulit memercayai babi putih yang belum pernah dia temui sebelumnya.

Aldrecht dan krunya tidak mengikuti mereka.

Kami ini keparat yang mesti diam menonton kalian anak-anak berangkat menuju kematian kalian.

Entah kenapa, Aldrecht dan kru pemeliharaan lain nyengir-nyengir ketika mereka mengatakannya. Dilihat raut wajah mereka, anehnya kelihatan lega. Kru pemeliharaan Sektor 86 terdiri dari 86 yang dulunya tentara Republik dan orang-orang dewasa masih hidup yang masuk tentara di awal-awal peperangan. Memelihara Juggernaut membutuhkan keterampilan yang cukup serta pengetahuan teknis, karena mereka punya pengetahuan itu, mereka tidak disingkirkan setelah terluka dalam pertempuran, dan mereka diizinkan terus bekerja. Mereka adalah 86 yang hidupnya sedikit lebih berharga dari kebanyakan 86 lain.

Maka dari itu mereka harus menyaksikan para prajurit anak-anak ini yang hidupnya bernilai kecil, telah bergerak ke kematian mereka sepuluh tahun terakhir … Aldrecht dan krunya kemungkinan besar mengutuk ketidakberdayaan dan ketidakbergunaan mereka dari lubuk hati terdalam selama ini.

Jadi diam saja di sekitar sini dan membiarkan tumpukan besi tua membantai kami itu hukuman pantas, tahu …? Tidak bisa pergi ke mana-mana selain di sini.

Mereka akhirnya akan dibebaskan dari rasa bersalah itu. Mereka akhirnya menebus dosa-dosa mereka karena meninggalkan orang-orang ke kematian mereka …. Begitulah yang dikatakan senyum di wajah mereka sembari memanggul senapan serbu tua, senapan mesin serba guna, dan peluncur roket yang entah di mana mereka sembunyikan.

Saat 86 melarikan diri, mereka mendengar suara senjata ditembakkan dari arah pangkalan. Senjata-senjata itu lemah, bahkan jika dibandingkan Juggernaut, dan bukan senjata untuk melawan Legion. Turet 120 mm Löwe kelewat familier menggemuruh melintasi lanskap, dan senapan mesin antipersonel Ameise mencapai telinga mereka. Kemudian pangkalan jatuh ke keheningan abadi.

Ketika mereka sampai pangkalan pertahanan dekat front selatan, unit defensif pertama distrik pertama front selatan, Razor Edge, berfungsi sebagai kekuatan utama. Baru waktu itulah Rito melihat banyak sekali pasukan di satu tempat, tetapi jumlah mereka berkurang sekejap mata.

Konfliknya sudah dimulai begitu bantuan tiba. Sebuah pasukan unit terdiri senjata polipedal dan infanteri lapis baja melintasi wilayah Legion dari negara tetangga, Giad. Feldreß berkilauan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, namun entah bagaimana mereka anehnya terlihat akrab. Kilas balik, Rito menyadari salah satu Reginleif itu mungkin saja adalah milik Shin.

“… Kapten Nouzen.”

Seorang anak laki-laki yang menjadi kapten skuadron pertama Rito ditugaskan. Seorang anak laki-laki yang lebih tua tiga tahun tapi seniornya empat tahun dalam hal pengalaman pertempuran. Sesudah enam bulan berada dalam skuadorn itu, Shin telah mengakhiri masa jabatannya, dan diputuskan dia akan dikirim ke skuadron Spearhead …. Lalu Rito berasumsi dia boleh jadi sudah mati, entah dalam pertempuran atau misi Pengintaian Khusus.

Rito memberi tahu Shin bahwa Aldrecht sudah mati, tapi tidak memberitahunya saat-saat terkahir ataupun kata-kata terakhirnya. Dia pikir … Shin akan sedih karenanya. Shin yang memegang peran Pencabut Nyawa, mengemban nama dan ingatan orang-orang yang bertarung di sisinya, barangkali ingin membawa kepala pemeliharaan keras kepala itu dengan suatu cara.

Tapi Rito tak mengerti.

Tingkat korban tertinggi di antara Prosesor terjadi antara di tempat pembuangan akkhir atau sewaktu masih pemula di awal pengabdian—tatkala tidak tahu apa-apa tentang medan perang, potensi apa pun yang bisa jadi mereka miliki masih belum dimanfaatkan, dan nasib buruk sekecil apa pun mampu membunuh mereka. Rito menghabiskan enam bulan pertamanya, periode sewaktu kebanyakan pemula mati, dalam skuadron Penyandang Nama seperti Shin juga Raiden. Skuadronnya para veteran, jadi korban jiwanya lebih sedikit dibanding skuadron lain di Sektor 86 …

Dia sudah terbiasa bertempur tanpa harus melihat rekan-rekan di sisinya hancur berkeping-keping, dan dia berkesempatan belajar cara bertarung dan bertahan hidup. Dan saat Rito bersama rekan-rekannya pergi, dia mendapatkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mempertahankan rekan-rekannya dalam pertempuran, meski sedikit.

Lantas Rito masih belum terbiasa. Terhadap kengerian … Shin, yang sering sekali dimandikan Shin hingga mendapat gelar Pencabut Nyawa, mungkin takkan pernah mengerti.

Mengamati jendela kereta, Rito hanya bisa melihat gelap gulita. Duduk di kereta ini, naik ke medan perang selanjutnya, Rito menatap bayangan dirinya di jendela gelap dan bergumam sendiri dengan suara lirih agar tidak membangunkan teman-teman yang tidur di sebelahnya. Suara yang takkan menjangkau sang Pencabut Nyawa yang telinganya bahkan sanggup menangkap suara-suara hantu.

“Kapten. Sebetulnya, aku masih … masih takut mati. Dan takut melihat orang lain mati juga.”

Lolongan memekakkan telinga, bagaikan binatang buas yang tenggorokanya dihancurkan, bergema keras dari sisi lain jendela. Suara kereta cepat berjalan di sepanjang rel yang menggema melewati terowongan gelap gulita. Menggema, mengungkit suasana hati buruk pada Shin dan membuatnya mengingat hal-hal yang lebih ingin dia kubur. Saat dipaksa mendengar suara tiada henti antara nada tinggi atau rendah, Shin menelusuri kembali ingatan yang tertatih-tatih di tepi terlupakan.

Mereka berada di jalur kereta api cepat antar negara, yakni rute Eaglefrost, saat ini melewati terowongan Dragon Corpse. Jalan yang pernah menghubungkan Kekaisaran Giad dulu dan Kerajaan Bersatu telah dipulihkan sebagian dan baru-baru ini dibuka untuk penggunaan militer. Terowongan Dragon Corpse telah dibangun di sepanjang jalur ini, menjadikannya terowongan rel kereta api terpanjang sedunia.

Legion memanfaatkan segala hal yang bisa mereka temukan di tanah yang telah mereka rampas dari umat manusia demi operasi mereka, namun umat manusia pun sama. Legion mempertahankan jalur rel kereta api cepat untuk pergerakan Morpho, dan kini Highway Corridor telah direbut dan kembali di tangan manusia, mereka mulai memulihkannya untuk penggunaan militer.

Mobil penumpang perwira terdiri dari deretan kursi kotak yang berhadapan di kedua sisi. Orang-orang yang duduk di dalamnya kebanyakan mengenakan seragam warna biru baja militer Federasi, tetapi sejumlah 86 di sana juga, menambah corak lain ke dalam campuran.

Mata Shin menyipit, desah kecil terurai dari bibirnya selagi mengalihkan pandangan ke jendela hitam. Sebelas tahun lalu, selama konvoi ke kamp konsentrasi, dia mendengar suara sama dari belakang penutup mobil gerbong barang. Mereka dijejalkan dalam kereta barang yang digunakan untuk mengirim hewan ternak, dan sempit sekali sampai-sampai tak ada ruang untuk bergerak.

Sepenuhnya berbeda dari waktu itu, seketika panas tubuh banyak orang berjarak dekat, digabungkan kurangnya ventilasi, membuatnya sulit bernapas. Mengingatnya membuat hati Shin merasa tidak nyaman aneh. Dia tiba-tiba jadi sasaran ejekan dan hinaan kemudian dikirim ke tempat aneh. Tapi, dia tidak ingat orang tua atau kakaknya—perisai kuatnya—menampakkan ekspresi apa. Kala itu, Shin tuh kecil tak sesuai umurnya, dan kebingungan-kengerian konstan periode itu kini meluap di garis depan pikirannya.

Bukannya kau tak bisa mengingat masa kecilmu. Kau tidak mau mengingatnya.

Suara ibarat lonceng perak muncul dalam ingatannya, tanpa sadar membuatnya menyipitkan mata.

 Karena dengan begitu kau dapat terus memikirkan hal-hal yang hilang darimu, yang diambil darimu, sejak awal tak pernah eksis.

Dengan begitu kau bisa terus percaya orang-orang itu tercela.

bukan itu. Bukannya aku tidak mau menigngat atau semacamnya. Tapi tetap saja, aku yang tak bisa ingat sama sekali tidak menyusahkanku.

“—Shin.”

Berbalik menghadap arah suara, tatapannya tertuju ke kursi seberang, kursi Raiden duduk.

“Kita sudah hampir sampai Kota Rogvolod. Mereka bilang jauh lebih dingin di sana daripada Federasi, jadi jangan lupa pakai mantelmu sebelum turun.”

“Ya.”

Kereta apinya hanya bisa berjalan sampai terminal tepat di luar terowongan. Sehabis itu, pengukur rel kereta api harus diganti. Keretanya mengangkut beberapa ribu pasukan dan Juggernaut yang beratnya kira-kira sekitar sepeulih ton per drone.  Pengiriman ulang akan memakan banyak waktu.

 Rel kereta api memungkinkan transportasi skala besar dan cepat, memperkenankan pergerakan jauh lebih banyak pasukan dan peralatan dari kuota standar. Jadi walaupun Federasi adalah negara bersahabat di masa lalu, biarpun sekutu Kerajaan Bersatu dalam peperangan melawan Legion, mengizinkan sejumlah besar senjata dan pasukan untuk langsung memasuki ibu kota—pembuluh darah negara yang sesungguhnya—bukanlah sesuatu yang dianggap baik oleh negeri utara.

“Tapi yah, Kerajaan Bersatu, ya …? Kek, heh, kita beneran pergi lebih jauh dari perkiraan, bukan?”

“… tentunya.”

Dua tahun lalu tak satu orang pun pernah membayangkan mereka meninggalkan Sektor 86. Kereta mereka berada sekarang sedang melintasi perbatasan utara Federasi dan mengikuti terowongan yang memotong pegunungan Dragon Corpse, menuju negara tetangga yang tak pernah mereka ketahui.

Kerajaan Bersatu Roa Gracia. Tanah persenjataan, produksi minyak, dan pertambangan emas. Satu-satunya sekutu Kekaisaran Giad dan di waktu sama, perkiraan musuh konstannya. Dengan kejatuhan Kekaisaran, menjadi satu-satunya monarki despotisme di benua.

Dan medan perang selanjutnya Divisi Penyerang 86.

“—tujuan utama operasi di masa depan kita adalah menangkap unit komandan yang terletak di front selatan Kerajaan Bersatu, tanda pengenal: Ratu Bengis.”

Meski mereka adalah perwira selayaknya para Prosesor, perwira lapangan, Lena, Grethe, dan Annette, diberikan mobil terpisah. Untuk menjaga otoritas atasan sekaligus memastikan kerahasiaan. Informasi militer diungkap atas dasar keperluan saja, dan ada kesenjangan signifikan antara jumlah informasi yang diketahui perwira komandan dan Prosesor.

Mobil penumpang kelas satu mereka dilapisi panel kayu berwarna amber, dan selagi duduk mengelilingi meja parket yang di atasnya ada teh mengepul, Lena mengangguk.

“Pesan dari Legion yang Kapten Nouzen saksikan selama operasi terminal bawah tanah Charité—adalah petunjuk yang semestinya mengarah ke unit komandan, betul?”

Juga satu-satunya unit Ameise tersisa yang diproduksi selama masa hidup Mayor Zelene Birkenbaum, pencipta Legion dan seorang peneliti dari bekas Kekaisaran Giad dulu. Berkas personel Zelene tidak hilang selama pergolakan revolusi, jadi foto kepala dan wajahnya masih ada. Tim analisis informasi membagikan foto dengan satu-satunya orang yang menyakskan pesannya, Shin, yang bilang menurutnya cocok dengan wajah yang dilihatnya.

Carilah aku.

Kata-kata yang terlalu tak terjelaskan bagi umat manusia, datang dari Legion yang tidak menawan atau mencoba bernegoisasi apa-apa selama peperangan sepihak kepada negara yang sudah tidak lagi eksis.  Mungkin Shin yang sosoknya sangatlah menyiratkan keturunan bangsawan kekaisaran, adalah salah satu pemicunya. Legion sekarang ini adalah sistem otonom tidak terkendali, tetapi tidak dalam keadaan mengamuk. Yang memerintahkan mereka untuk bertarung sudah lama tiada. Mereka terus bertarung dikarenakan itu perintah terakhir yang mereka terima. Bahkan kini, Legion mematuhi kehendak terakhir dan wasiat bangsa mereka yang hancur.

Bila demikian yang terjadi, barangkali Legion menilai situasi tidak mendapat perintah baru selama bertahun-tahun itu tidak biasa dan mulai mencari majikan baru untuk memimpin mereka.

“Diyakini setiap informasi baru yang kita peroleh dengan penangkapannya mungkin saja petunjuk untuk mengakhiri perang.”

Kendatipun Zelene tak bermaksud ciptaannya menjadi seperti ini, dia masih bertanggung jawab atas perkembangan Legion. Mungkin saja dia memiliki kode penonaktifan darurat atau semacam kata sandi administrator.

“Iya. Kerajaan Bersatu setuju menyerahkan dirinya sebagai ganti kehadiran mereka dalam semua penyelidikan dan pengungkapan seluruh informasi yang kita dapatkan, jadi setelah kau menangkap atau melumpuhkan Ameise, tolong bawa pulang Zelene bersama kita. Entah kondisinya bagaimana, selama prosesor sentralnya masih utuh.”

Annette memiringkan kepala.

“Aku kaget Kerajaan Bersatu menerima persyaratannya. Mereka monarki despotisme, jadi menurut mereka, warga negara Republik dan Federasi hanyalah rakyat jelata. Kukira mereka akan sedikit merendahkan dan menyulitkan kita.”

“Artinya mereka tak punya kelonggaran untuk melakukannya lagi. Tujuan ekspedisi ini adalah pertukaran teknologi bersama mereka, tentu saja, tapi efektifnya adalah upaya bantuan dari Federasi kepada Kerajaan Bersatu.”

“Tapi benarkah itu? Kerajaan Bersatu dan Raja Burung Hantu sudah ditakuti sejak sebelum perang melawan Legion, dan kini mereka di ambang kehancuran …?”

Kerajaan Bersatu Roa Gracia saat ini adalah negara bertahan terkuat kedua, setelah Republik Federal Giad. Sementara Federasi lebih unggul dari Kerajaan Bersatu dalam ukuran populasi dan wilayahnya, Kerajaan Bersatu punya kekuatan bela negara untuk menahan serangan skala besar dan mengirim pasukan untuk membantu operasi penaklukan Morpho.

Kenapa negara sebegitu kuat itu meminta bantuan sekarang, tiba-tiba?

“Jawabannya lebih sederhana dari yang kau perkirakan. Sekarang Anjing Gembala sudah jadi sebagian besar anggota pasukan musuh, pertarungannya akan jadi lebih menantang di seluruh front setiap negara.”
Lena meringis ketika Grethe menyesap kopi substitusinya. Anjing Gembala. Legion cerdas diproduksi secara massal dengan menggunakan warga negara Republik yang ditangkap dalam serangan skala besar. Nampaknya mereka memindahkan datanya ke inti militer mereka sebelum meninggalkan lokasi produksi selama operasi terminal bawah tanah.

Sejak operasi tersebut, strategi Legion jadi lebih rumit. Tamaknya penggantian Domba Hitam—Legion yang mengasimilasi jaringan saraf rusak orang mati—dengan Anjing Gembala tengah dalam proses.

“Sesuai rencana, Mayor Penrose dan aku akan bertanggung jawab atas pertukaran teknologi. Kolonel Milizé, kau akan menjadi pemimpin komando di lini depan. Bagian unit Kerajaan Bersatu akan bergabung bersama Divisi Penyerang untuk menyelesaikan operasi ini, jadi akrabkan diri dengan pasukan mereka secepat mungkin.”

Tutur Grethe sambil menyeringai.

“Kita akan memobilisasi empat ribu orang dalam misi ini. Waktunya Divisi Penyerang 86 menunjukkan kebolehannya.”

Annette memiringkan kepala.

“Ada banyak orang yang tidak jadi sukarelawan juga. Dengar-dengar sepuluh ribu 86 telah diambil dan dilindungi Federasi.”

86 diperlakukan bak perwira spesial yang menerima pendidikan lebih tinggi selama pengabdian mereka dalam militer Federasi. Dikirim ke kamp konsentrasi sejak masa kanak-kanak, mereka tak pernah menerima pendidikan dasar. Karenanya, istilah pendidikan mereka lebih lama dari perwira khusus reguler, dan walau beberapa belajar melalui korespondensi, bimbingan mereka dipindahkan ke sekolah khusus yang didirikan di dekat markas mereka.

Dengan mempertimbangkan cuti yang dijadwalkan, seperempat pasukan di satu waktu bergantian antara sekolah dan pelatihan, jadi pasukan terbesar yang bisa dikerahkan Divisi Penyerang di waktu tertentu adalah empat ribu.

Kebetulan yang belajar dari jauh menggunakan korespondensi adalah Shin dan kelompoknya, yang pertama dilindungi Federasi. Setelah serangan skala besar dan pendirian Divisi Penyerang, mereka terlampau sibuk dengan tugas-tugas mereka dan malah mengabaikan PR. Tapi kendatipun seseorang berasumsi hanya separuh dari sepuluh ribu pasukan yang diselamatkan adalah pasukan aktif, perhitungannya tak sejalan dengan fakta mereka cuma punya empat ribu pasukan.

“Mantan angogta kru pemeliharaan menjadi mekanik Reginleif …. Beberapa anak-anak itu tak bisa bertarung. Beberapanya terlalu banyak bertarung. Lainnya kehilangan tekad bertaurng.”

Jumlahnya tak termasuk anak-anak yang dimasukkan ke kamp konsentrasi di usia sangat-sangat muda, mereka yang mengalami kesehatan mental, dan mereka yang hanya tidak ingin mengikuti wajib militer.

“Dan bagaimana anak-anak itu … anu … diperlakukan?”

Sepertinya Federasi punya masalah tersendiri, dengan sejumlah besar orang cacat dan yatim piatu yang muncul selama sepuluh tahun sedari pertama perang melawan Legion dimulai.

“Antara dikirim ke institusi khusus atau diadopsi oleh wali …. 86 diperlakukan layaknya Kapten Nouzen dan kelompoknya; merek diadopsi di atas kertas oleh mantan bangsawan dan pejabat tinggi negara. Kebanyakan cuma meminjamkan nama, tapi tidak boleh diperlakukan serampangan. Nama mereka benar-benar dipertaruhkan di sini.”

Sudah satu dekade sejak Giad bertransisi dari pemerintahan Kekaisaran menjadi demokrasi, tetapi etos mewajibkan para bangsawan—yang masih mencakup tindakan filantropi—masih kuat. Barangkali kini sistem kelas secara resmi telah dihapuskan, itulah satu-satunya hal tersisa yang mantan bangsawan miliki untuk memisahkan diri dari orang biasa. Lena mendesau lega.

“Begitu. Kalau begitu … itu, bagus.”

“Antara hal itu serta kerja sama Kerajaan Bersatu, ada saat-saat obsesi bangsawan perihal menjaga kehormatan dan martabat bisa berguna.”

Pengiriman pasukan Kerajaan Bersatu sesudah operasi gabungan juga berkat gagasan kewajiban bangsawan ini. Salah satu perwira komandannya akan bergabung bersama Divisi Penyerang sebagai perwira bantuan di bawah komandan langsung Lena. Oleh sebabnya, dia diturunkan menjadi letnan kolonel agar tak berbentrokan dengan pangkat kolonel Lena.

“Kudengar perwira Kerajan Bersatu itu keluarga kerajaan.”

“Ya, pangeran kelima, Viktor Idinarohk. Biarpun baru berusia delapan belas tahun, beliau adalah sosok berpengaruh yang menjabat sebagai komandan militer front selatan. Beliau juga wakil sekretaris institut teknologi kerajaan dan Cenayang generasi ini.”

Grethe menyebutnya dengan santai, tapi bagi Lena yang dibesarkan di Republik, kata Cenayang masih punya arti tersendiri. Pada kesempatan langka, anggota suatu garis keturunan kuno menunjukkan kemampuan supernatural ini, dan Giad yang telah dikuasai keluarga kekaisaran hingga sebelas tahun lalu, masih mempertahankan sejumlah keluarga tersebut. Beberapa Cenayang akan masuk militer, bertindak sebagai spesialis yang tampil sebaik atau kurang lebihnya sama seperti peralatan modern.

Di sisi lain, Republik, telah hilang Cenayangnya tiga ratus tahun lalu, ketika menghapus sistem golongan. Demi menghindari darah campuran dan melakukan perkawinan kerabat tanpa efek buruk, sebuah klan membutuhkan anggota keluarga dalam jumlah besar, serta aset untuk mendukungnya. Dan bangsawan tua yang kehilangan aset juga lahan mereka karena revolusi, tak sanggup mempertahankan kondisi itu.

Divisi Penyerang menyertakan dua Cenayang, yaitu Shin dan Frederica. Tapi menurut Lena dan dari akal sehat, sesuatu mengenai kemampuan ekstrasensorik itu serasa tidak wajar bukan main. Dan setelah operasi terakhir, kemampuan Shin menyebabkan kondisi fisiknya memburuk secara signifikan.

Ini bukan hal normal, tentu saja, tetapi akibat tekanan yang disebabkan pengenalan Anjing Gembala. Tapi jika kemampuannya sangatlah membebaninya, Lena jujur tidak percaya Shin harus jelas-jelas menggunakannya …. Dan Grethe mendeskripsikan Cenayang Kerajaan Bersatu sebagai Cenayang generasi ini …. Semisal mengimplikasikan tidak bisa muncul banyak di satu generasi, mungkin mengartikan kemampuan ini punya cukup efek buruk pada kesehatan seseorang hingga mengurangi masa hidup mereka …

“… hmm, apa kemampuan spesial yang dimiliki keluarga kerajaan?”

“Pangeran Viktor seorang diri mengembangkan kecerdasan buatan model Mariana, tapi mungkin mengatakan beliau mengembangkannya di saat umur beliau masih lima tahun akan jadi perbandingan beliau seorang Cenayang. Mereka adalah garis keturunan yang menghasilkan orang-orang genius dan berbakat. Beliau pun punya pencapaian mengesankan perkara mengembangkan dan meningkatkan sistem kendali Feldreß Kerajaan Bersatu …. Di sisi lain, beliau tersohor sebagai Raja Mayat dan Ular Pembelenggu dan Pembusuk—ular berbisa. Ada juga kabar burung bahwa hak atas takhta telah dicabut.”

Annette mengulang kata-katanya dengan kaget.

“D-dicabut?! Beliau tak melepaskannya? Dicabut …?” “Apalagi Ular Pembelenggu dan Pembusuk …? Itu buruk …!”

Dalam ruang lingkup budaya benua barat, ular adalah simbol korupsi dan iblis. Terutama ular berbisa yang punya bisa kuat mampu melelehkan daging seseorang dan mengentalkan darah mereka. Bukan nama yang seseorang berikan dengan penuh kasih kepada pangeran mereka.

“Terlepas dari itu, otoritas yang dilimpahkan kepadanya teramat banyak dan penting, dan pangeran mahkota yang satu ibu dengan Pangeran Viktor, kelihatannya amat menghargainya …. Ada perebutan hak penerus di Kerajaan Bersatu antara pangeran takhta dan anak-anak selir seperti pangeran kedua serta putri pertama. Pangeran Viktor adalah bagian fraksi pangeran takhta Zafar. Dia dipuji sebagai tangan kanan putra mahkota cakap dan terkenal.”

“… kau dapat semua informasi ini dari mana …?” Grethe mengangkat bahu santai.

Kami membuka ulang rel kereta api ini di musim dingin sebelum kalian tiba, dan beberapa anggota militer Kerajaan Bersatu, sejumlah kecil tentara, sudah datang-pergi sejak kala itu.”

“… benar juga.”

“Jadi tatkala itu, biro informasi mengirim orang-orang ke pihak tentara kerajaan atau mungkin memulihkan kontak yang sedari awal berada di sana … kurasa berlaku sama buat kedua belah pihak di sini.”

Bekas Kekaisaran Giad dan Kerajaan Bersatu Roa Gracia adalah monarki despotisme dan sekutu lama, tetapi di satu waktu, mereka menjadi musuh hipotesis satu sama lain. Bahkan sampai kini belum berubah selepas Kekaisaran jatuh dan umat manusia berperang melawan Legion …

“Omong-omong, Kolonel Milizé.”

Grethe bicara dengan suara santai yang biasa orang gunakan ketika membahas cuaca, jadi Lena tidak siap. Annette yang tahu kejadian berikutnya, diam-diam meninggalkan kursi.

“Apa kau bertengkar sama Kapten Nouzen?” Lena tersedak tehnya. “Hahhh …?!”

“Aku belum melihat kalian bicara sejak kembali dari Republik.”

“Anu, itu …”

Lena berpaling melihat Annette dengan tingkah memohon, tapi Annette menghindari tatapannya.

“Aku tidak ikut-ikutan.”

“Aku tak berniat melibatkan diriku ke dalam urusan pribadi kalian, tapi ini sudah terjadi kelamaan. Kalau komandan taktis kita dan kapten unit lapis baja punya masalah komunikasi, ini bisa memengaruhi operasi ke depannya.”

“Benar …”

Sudah seperti ini sedari itu.

Kalian masih terjebak oleh Republik. Oleh kami—babi putih. Itu membuatku … sangat sedih.

Sejak dia mengatakan itu, Lena masih belum punya percakapan baik dengan Shin. Bukannya mereka saling menghindar. Mereka berbincang berkaitan tugas mereka, tapi mereka tidak berbicara tentang hal lain. Jadi semua topik sepele yang mereka bicarakan saat menuntaskan laporan mereka dan pembicaraan pekerjaan atau kapan pun mereka berpapasan satu sama lain di lorong berhenti begitu saja. Yang tersisa hanyalah keheningan menegangkan, dan rasa canggung semua itu menghalangi percakapan mereka.

Situasinya telah berlangsung lama sekarang. Lena tak menyesali apa pun yang diucapkannya waktu itu, tapi dia sekarang sadar kalau salah membuat asumsi ecara sepihak. Waktu itu … saat dia mengatakannya, Shin tampaknya marah sejenak tapi menahan diri. Tetap saja ada sedikit kekesalan pada suara yang dia ludahkan:

Aku tidak … mengerti.

Dan juga ada keberatan pada suaranya, sekaligus …

Apa itu beneran buruk, Lena?

… bingung. Bingung total.

Shin dari awal tak mengerti apa yang membuat Lena begitu khawatir atau apa yang membuatnya sedih. Matanya yang menampakkan tidak paham sama sekali. Ibaratnya tidak satu pun perkataan Lena, perasaan Lena menembus Shin. Seakan-akan Shin adalah monster menyimpang tanpa dosa yang bentuknya cuma mirip manusia saja.

Pengakuan mendadak Lena sepertinya membingungkan Shin. Rasanya seolah-olah Lena menginginkan Shin menjadi seperti ini.

Tapi aku sangat berbeda dari mereka. Dan aku tidak mau berpikir kami bicara bahasa sama, melihat dunia serupa, ada di satu tempat, tetapi tidak pernah saling mengerti.

Tidak.

Lebih dari itu.

Di waktu bersamaan, mata merah tuanya terdapat campuran kemarahan dan kebingungan—dan di baliknya ada cahaya mati-nyala seorang anak terluka. Lena yakin itu. Ibarat Shin diserang seseorang yang takkan pernah dia bayangkan akan menyerangnya. Seolah tidak pernah menyangka Lena akan mengatakan itu kepadanya.

Bertarung sampai tetes darah terakhir dan bergerak ke tujuan akhir mereka adalah harga diri dan kebebasan 86. Lena mendengarnya sebelumnya. Dari mereka. Dan agar memenuhi kalimat itu, mereka kembali ke pertempuran walaupun sudah diselamatkan Federasi. Jadi memberi tahu mereka kalau mereka masih terjebak … masih berada di sektor 86, bahwasanya mereka belum bergerak satu langkah maju dari tempat mereka dulu, adalah penghinaan tak terjelaskan.

Dalihnya kesedihan, Lena menginjak-injak satu-satunya harga diri yang mereka perbolehkan miliki.

Lena tidak ingin berpikir mungkin dirinyalah yang menyakiti mereka dengan cara ini …. Begitu dia menyadarinya, Lena diserbu kebencian pribadi yang terasa laksana tenggelam dalam lautan api. Yang artinya, Lena-lah yang menghindari Shin. Lari dari fakta dia menghinanya …. Dari fakta dia akan menyakitinya.

“… Kolonel?”

Hal yang sama terjadi dua tahun lalu. Dia kira berdiri di sisi mereka, memahami mereka. Namun kebenarannya adalah dia tak sungguh-sungguh mencoba mencari tahu apa pun mengenai mereka, nama saja tidak. Dia hanya sepihak memaksakan perasaan dan kesannya kepada mereka, dan di tengah-tengahnya, melukai mereka.

“Kolonel Milizé.”

Tidak ada yang berubah. Aku tidak belajar apa-apa setelah sekian lama. Aib banget. Sangat memalukan.

“Kolonel, aku bicara denganmu.”

… bentar, tidak. Apa jadinya akau kalau dia membenciku karena ini …?!

“Hei, hentikan, Lena. Tenanglah.”

Mengangkat wajah kaget, dia mendapati Grethe dan Annette menatapnya. Lena kemudian sadar dia sedang mendekap kepala dan tanpa sadar merosot ke meja.

Grethe nyengir.

“… sepertinya lebih parah dari yang kukira.”

“A-aku minta maaf …”

“Yah, kau baru bertemu dengannya. Ketidaksepakatan atau pertikaian sesekali itu wajar.”

Bibir merah delima Grethe sekali lagi menekuk ke atas.

“Kapten Nouzen takkan berhenti di pangkalan tempat unit kita ditempatkan. Dia akan ikut kita ke ibu kota kerajaan. Kau akan punya banyak waktu untuk bicara hingga operasi dimulai. Gunakanlah waktu itu buat memperbaiki keadaan.”

“… omong-omong …”

Matanya yang masih menoleh ke jendela kereta gelap biarpun tak benar-benar melihatnya, Shin tegang saat mendengar suara Raiden.

“Kau lagi berantem sama Lena atau gimana?”

Shin sudah kalah begitu refleks menatapnya. Raiden menyandarkan sikunya ke jendela dan pipi ditopang tinjunya sementara Shin mengangkat alis.

“… kok tahu?”

“Apa maksudmu, kok tahu …? Kau lagi menyembunyikannya? Aduh, bung, kau beneran tidak punya kesadaan diri, ya?”

Mendengar suara tak percaya Raiden ternyata sungguh menyebalkan. Shin mendesah, menghentikan tatapan tak sadarnya kepada mata cokelat kemerahan Raiden, lalu berpaling kembali ke jendela menghitam.

“… kurasa bukan perkelahian.”

Shin tidak menyebutnya perkelahian, menimbang pengalaman luasnya dengan pertarungan melawan kematian dan perlakuan orang-orang yang amat penuh kebencian yang kadang diterima keturunan Kekaisaran. Dibanding itu, perbedaan opini sederhana bahkan tak diangkap cekcok.

Atau lebih tepatnya, seharusnya tidak, tapi …

“Dia bilang kita … 86, masih terjebak dalam Sektor 86.”

Raiden terdiam sejenak.

“… benarkah, sampai sekarang?”

Shin menyipitkan mata namun menahan emosi apa pun yang membuatnya berbuat demikian, karena Lena-lah yang mengatakannya. Dan pasti tidak dia katakan dengan dendam. Tetapi kata-kata itu masih menjengkelkan Shin, dan emosi jengkel itu sangat dikenal Shin.

Itu membuatku … sangat sedih.

Sesaat Shin mendengar kata-kata itu, sesuatu secara naluriah menyentaknya. Tetapi yang bangkit bersama emosi itu adalah kebingungan dan sedikit rasa sakit. Sebagiannya karena Shin tidak paham apa yang begitu digelisahkan Lena, tentu saja, tetapi yang paling membingungkannya adalah dia tak mengerti apa yang perlu diperdebatkan.

Mungkin karena jika dia merasa begitu, Shin bisa terus percaya orang-orang itu hina …? Apakah demikian agar dia takkan menyerah pada dunia ini yang dingin dan kejam?

Namun memang begitulah adanya.

Demikian cara kerja dunia. Tidak berputar di sekitar umat manusia; tak berperasaan dan apatis—dan begitu tanpa harapan. Dan itu berlaku lebih kepada manusia yang tak seperti dunia, berperilaku atas kebencian yang mereka rasakan kepada orang lain. Itu yang Shin pelajari baik-baik di kamp konsentrasi dan medan perang Sektor 86. Melihatnya berulang kali memberikan Shin seluruh pelajaran yang diperlukannya.

Lantas Shin hanya mengutarakannya …. Apa salahnya itu? Dia cuma menyatakan fakta. Mungkinkah karena Lena sedih? Gara-gara Lena mengasihaninya? Sebagaimana kata Grethe dulu, tidak seorang pun berhak mengasihani mereka. Tapi sekarang ini, Shin jujur tidak memedulikannya lagi. Pihak lain bebas mengasihani 86 semau mereka, tapi Shin tak berniat ikut campur.

Tapi kalau demikian … kenapa?

Shin tidak paham-paham amat apa yang disedihkan Lena. Dia tak ingin membuatnya sedih, tentu saja, tapi karena dia tak mengerti, dia tak tahu cara menanganinya. Susah untuk tidak merasa seakan Lena menghindarinya, tapi sebenarnya, mereka tak bicara sejak itu. Ujung-ujungnya, tidak satu pun dari mereka bersedia membicarakan masalah ini, membiarkan segala halnya ke keheningan canggung.

“—Shin. Eyy, Shin.”

Tidak disadari, Raiden melambaikan tangan ke depan wajahnya. Shin nampaknya merenung lama. Dia balas menatap Raiden yang menyeringai.

“Kau tahu, kau beneran … beneran sudah berubah.”

“?!”

“Lupakan,” jawab Raiden sebal. “yah, kalau kau, nanti juga bakal ngancurin Undertaker lagi, jadi bicaralah padanya nanti …. Maksudku, Juggernaut-mu itu Ratu Hanggar.”

Itu bahasa gaul untuk unit yang selalu rusak dan menghabiskan banyak waktu untuk diperbaiki di hanggar alih-alih di medan perang. Kesampingkan pertempuran kecil, Undertaker selalu saja rusak parah selama pertempuran besar, jadi wajarlah disebut begitu.

“… Pak tua Aldrecht selalu mengoceh-ngoceh begitu …” “Yoi …”

Aku tidak menyuruhmu buat minta maaf—aku menyuruhmu untuk mengubah caramu!

Gaya bertarung sinting itu akan membunuhmu suatu hari nanti!

Rito memberi tahu mereka dia mati selama serangan skala besar, bersama anggota kru pemeliharaan lainnya. Shin merasa sedikit emosi usai mendengarnya, tetapi sebagian dirinya tahu mungkin dia sudah mati. 86 menjadikan medan perang rumah mereka dan membanggakan diri dengan bertarung sampai titik darah penghabisan. Dan semua 86 akhirnya mati. Dan kepala pemeliharaan tua pun sama, yang berdiri bersama mereka walaupun seorang Alba.

Tetapi tetap saja …

“… aku agak berharap dia selamat.”

Raiden mengalihkan pandangannya ke Shin yang terus bicara tanpa menatapnya.

“Seandainya saja dia bisa selamat sampai pasukan bantuan datang, dia paling tidak bisa melihat foto keluarganya. Mencari jenazah mereka akan sulit, tapi dia bisa pergi ke medan perang terakhir mereka.”

Tak sepertiku yang tidak ingat keluargaku … Aldrecht yang masih ingat istri dan putrinya, bisa merasakan sedikit kedamaian itu.

Semua 86 pada akhirnya mati … Shin mengerti itu. Tapi itu bukan berarti Shin seratus persen tak tergerak oleh banyaknya kematian yang telah dia saksikan.

“… benar, begitu perang sama Legion berakhir, menjambangi kuburan seperti itu mungkin bisa dilakukan.”

Setelah mendesau berat, tubuh Raiden condong maju.

“Menurutmu bagaimana, Shin? Apa Zelene yang kau lihat kelihatannya akan mengakhiri peperangan?”

“… entahlah?”

Gugus cairan mesin mikro berwujud manusia itu tidak punya anggota badan yang bisa mengeluarkan suara, jadi Shin tak bisa merasakan emosi atau perbedaan kecil apa pun pada suaranya. Dia cuma bisa menangkap pesannya.

Carilah aku.

Tidak mungkin tahu maksudnya. Bahkan bagi Shin, orang yang kata-kata itu tuju.

“Bisalah menganggap mereka ingin bernegoisasi atau bertukar informasi, tapi berharap ada petunjuk untuk mengakhiri perang bagiku kek logika kurang bukti. Biarpun ada informasi yang Kerajaan Bersatu simpan dari kita … aku tak mengira perang ini bisa mudahnya berakhir.”

Tidak ada satu pun tempat di benua sebagai pelarian perang, dan mereka tidak ingat waktu-waktu tak demikian. Akan tetapi …

“… tapi semisal perang berakhir … kurasa itu hal bagus, dengan caranya sendiri.”

Aku ingin menunjukkannya laut.

Hal-hal yang tidak dia ketahui, yang belum pernah dia lihat sebelumnya, Eugene ingin memperlihatkan adiknya apa pun yang telah Legion renggut dari dunia. Shin belum lupa kata-kata itu. Ini alasan bertarung yang layak. Dia tidak punya ekspektasi apa-apa …. Keinginan itu sepertinya takkan terwujudkan. Tapi suatu hari kelak, bila perang berakhir.

Raiden terdiam sesaat.

“Iya. Kalau perang berakhir …”

Kornea mata mereka yang sudah terbiasa pada kegelapan, sesaat dibutakan sinar matahari namun berangsur-angsur beradaptasi oleh warna putih mencolok yang memenuhi pemandangan luar kereta.

Keduanya tanpa berkata-kata melihat ke luar jendela. Kaca anti peluru di panel jendela agak menghalangi jarak pandangnya, memberi warna kebiruan pada pemandangan luar. Negeri berbeda, tapi suramnya tetap sama. Tidak ada kombatan yang tinggal dekat front. Yang selamat meninggalkan tanah air mereka.

Serpihan abu-abu perak tebal beterbangan ke tanah. Reruntuhan tua menghias padang bersalju, membuat pemandangannya terlihat sepi sebagaimana medan perang Sektor 86; semuanya tampak membeku, dan tanah kosong membentang sejauh mata memandang.

Terminal Kota Rogvolod Kerajaan Bersatu Roa Gracia.

“Kita akan ke pangkalan dulu. Itu, Pangkalan Benteng Revich, kan?”

“Ya …. Maaf menyerahkan semua pekerjaan kotornya padamu.”

“Yah, teknisnya kau ini perwira atasanku, dan perwira staf serta mayor akan mengurus pemindahannya sendiri. Kalian dampingi kolonel dan Lena.”

Melambaikan tangannya, Theo berjalan ke kereta selanjutnya saat kontainer Juggernaut sedang diturunkan dan dimuat ulang peluru. Separuh unit akan pergi hari ini, dan separuhnya di transportasi selanjutnya. Seribu pasukan Divisi Penyerang dan Feldreß mereka akan dipindahkan ke Pangkalan Benteng Revich, di lini depan Kerajaan Bersatu. Mereka bertransportasi secara bertahap dan berjeda-jeda agar bisa menyelinap melewati pengawasan tipe Kontrol Pengamatan, Rabe.

Setelah menghantarkan kepergian rekan-rekannya, Shin berbalik melihat Kota Rogvolod. Pas dengan yang diberitahukan pada Shin di kereta, kota ini yang berada di kaki pegunungan Dragon Corpse, terlingkupi salju dingin dan tipis. Kota paling selatan yang dihuni warga sipil dan sekarang ini sedang padam listrik, membuktikan betapa hematnya mereka sama listrik.

Tak jauh dari area kota, duduk di bawah bayang-bayang bangunan besar berbentuk kubah persegi panjang diterangi cahaya bintang, terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir yang menyediakan panas kepada distrik itu.

Tiba-tiba Shin mendengar suara seseorang menginjak salju di belakangnya.

“… Nouzen.”

Berbalik menghadap pemilik suara, Shin melihat seorang pemuda bermedali kendaraan di dadanya. Dia salah satu pengontrol yang bertugas di mobil komando Lena, Vanadis, dan teman seangkatannya dari akademi perwira khusus: Erwin Marcel.

“Bukannya kau pensiun dari militer?”

“Aku tidak bisa mengemudikan Vánagandr sih. Kakiku kacau selama serangan skala besar.”

Dari suara langkah kakinya ketika menghampiri, lukanya tak menghalangi jalannya, tapi Marcel melihat kaki kanannya seraya bicara, katanya itu fraktur majemuk1 …. Ketika tulang patahnya mengiris daging dan kulit, sarafnya pun ikutan putus. Tidak menghalangi kehidupan sehari-harinya, tapi lukanya cukup parah sampai-sampai tidak bisa menyanggupi kecepatan reaksi pengambilan keputusan sepersekian detik untuk mengemudikan Feldreß.

“Lagian, apa maksudmu, Bukannya kau pensiun dari militer? tak seperti kalian 86, kami perwira khusus tidak bisa makan misalkan mundur dari militer.”

“Kau hilang dari daftar unit Divisi Lapis Baja ke-177 setelah reorganisasi, tapi namamu tidak diumumkan pada siaran korban jiwa perang. Jadi kukira kau pensiun …. Tidak kusangka melihat namamu di daftar unit komando Divisi Penyerang.”

“… tak kusangka kau peduli. Aku selalu mengira kau tidak acuh sama siapa pun dan apa pun di sekitarmu.”

Kurangnya emosi dan minat adalah hal yang dibenci Marcel tentang Shin sejak jadi perwira khusus akademi, pikirnya. Caranya begitu lepas dari neraka medan perang …. Caranya tahu kengerian dalam hati orang-orang entah bagiamana bak mengejek mereka.

“… soal Nina.”

Shin menyipitkan matanya pada nama yang mendadak disebutkan itu. Eugene adalah teman bersama dan seangkatan mereka, dan Nina adalah adik perempuannya. Shin telah lama merobek dan membuang surat yang dikirimkan kepadanya, menuntut ingin tahu mengapa dia membunuh kakaknya.

“Seharusnya tidak kukasih tahu Eugene sudah mati …. Surat itu bukan sesuatu yang harusnya diterima seseorang tepat sebelum sebuah operasi yang bisa saja membunuh mereka. Mestinya aku beri tahu saja Eugene sudah mati dan kematiannya tragis kemudian meninggalkannya, tapi aku malah keblablasan. Aku mau dia berpikir kematian kakaknya adalah salah seseorang, dan aku mengarahkannya padamu … maaf.”

Dia menundukkan kepala rendah-rendah. Shin cuma menggeleng kepala dan bertanya, “Apa kabarnya?”

Setelah gadis itu kehilangan orang tua yang tidak bisa diingatnya, satu-satunya orang tersisa—kakaknya—meninggal juga.

“Benar …. Yah, dia baik-baik saja …. Semua hal yang terjadi pada Republik, Alba di kampung halaman merasa malu. Tapi, kau tahulah, kakaknya seorang tentara, jadi dia tidak dibuli, dan dia juga tidak lama bersedih sama kematian Eugene.”

Shin memejamkan mata.

Dia tidak lama bersedih. Tidak juga menunggu kakaknya, tahu kakaknya takkan kembali.

“Itu … bagus kalau begitu.”

  “… benar.”

Setelah Marcel pergi, Frederica yang menyaksikan perbincangannya sampai sekarang, menghampiri Shin.

“… kau betulan tidak keberatan? Pria itu …. Yah …” “aku tidak peduli …. Tidak saat ini.”

Frederica menatapnya dengan mata aneh setengah terbuka, mengangkat bahu lalu menjulurkan leher, membuat kepala mungilnya terkulai. Satu-satunya orang yang pergi ke ibu kota, Arcs Styrie, adalah komandan brigade, Grethe; komandan taktis, Lena; Annette; beberapa perwira teknis terpilih; dan komandan senior skuadron serta wakil kaptennya: Shin dan Raiden, bersama Shiden serta Shana.

“Rasanya konyol bertanya sekarang ini, tapi tidak apa-apakah kau ikut sama kami ke ibu kota?”

Keterlibatannya dalam suatu operasi yang mana tentara dari negara lain terkait itu menyusahkan. Dia adalah seorang maharani, kalau hanya seorang mantan maharani yang masih bayi saat perang dimulai dan tidak secara resmi dimahkotai. Karena kemampuannya diturunkan melalui keturunannya, Shin kira tidak aman orang luar negeri melihatnya. Shin baru sekarang memulai percakapan karena tidak lagi cemas orang akan menguping mereka di sini.

“Kehadiranku adalah jawabannya, bukan?” ucap Frederica, bak tidak bertingkah lebih tinggi. “anggota Keluarga Kekaisaran Giad telah menjadi boneka para bangsawan besar selama dua abad. Sejak kemunduran Kekaisaran, keluarga kekaisaran dipaksa mencampur darahnya dengan ras-ras berbeda yang memasuki negara. Bangsawan lebih rendah tidak pernah tahu wajah kaisar, apalagi rakyat jelata, dan percaya kemampuan keluarga kekaisaran telah berkurang karena perkawinan campuran berulang kali menipiskan darah kami. Bahkan Amethystus Idinarohk akan sulit sekali mengetahui bahwa aku maharani Augusta …

Amethystus adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan Cenayang berketurunan Idinarohk selama bergenerasi,” tambah Frederica. Mereka garis keturunan yang menghasilkan genius-genius yang mampu membuat pencapaian seperti mengembangkan model AI baru per generasinya.

“Akan tetapi, aku yakin beberapa jenderal front barat menyimpan kecurigaan sama keselamatanku …. Jika tidak, rekaman percakapanmu sama Milizé sesudah kehancuran Kiriya takkan ditayangkan di depan para jenderal.”

Shin meringis sebab dipaksa hadir di pengarahan ketika rekamannya ditayangkan di depan para jenderal, waktu itu hanya dapat Shin bandingkan dengan penyiksaan. Ingatan yang tak mau dia ingat-ingat, lantas dia simpan dalam pikirannya sampai sekarang. Kendatipun perekam misi sebagian besarnya mengambil audio yang telah melalui interkom para Prosesor dan percakapan dengan pihak luar, kecil kemungkinan tidak menangkap suara Frederica—yang berada di kokpit bersama Shin—sama sekali.

Betul. Saat itu, Ernst memanggilnya Frederica.

“Jadi karena dia tahu, tak ada risiko dia mengkhianatimu?”

“Sebaliknya …”

Frederica memiringkan kepala sedikit. Hampir terlihat sedih …. Cemas.

“Aku yakin kau sudah curiga …. Tapi pria itu pria bernapas naga. Dia mengutamakan idealisme di atas segalanya dan akan membuang dirinya dan seluruh dunia ke dalam api demi menjunjungnya—dengan obsesi dan fiksasi tak tertahan. Jujur saja, tuh pria memang naga semacam itu.”

“…”

Nampak ekspresi yang terkadang tampak di wajah seorang pria yang teknisnya ayah angkat mereka yang kontras dengan tatapan ramah normalnya. Kata-kata yang setara simpatik dan hampa, berlapis ketulusan tipis di permukaan. Suatu kala, Shin menyadari kekejaman tajam di balik perkataannya.

Seumpama umat manusia harus melakukan itu untuk bertahan hidup, maka kita layak disapu bersih.

“Misalkan aku ditetapkan sebagai simbol untuk membalikkan Federasi …. Apabila umat manusia sebodoh itu hingga membahayakan Federasi dan seluruh dunia sebelum peperangan melawan Legion berakhir, demi keserakahan tidak berguna … dia mungkin berpikir kita semua lebih baik punah.”

Perubahan ke demokrasi berarti transisi dan redistribusi kekayaan. Properti serta komoditas yang dulunya hanya eksklusif dimiliki keluarga kekaisaran yang hanya sebagian kecil populasi, didistribusikan di antara penduduk. Menyebabkan peningkatan standar hidup sebagian besar orang. Namun artinya juga barang-barang mewah mencolok perlahan-lahan mulai menghilang.

Akan tetapi, di Kerajaan Bersatu Roa Gracia yang adalah negara kuat selama beberapa generasi dan kini satu-satunya monarki despotisme tersisa, keluarga kerajaan masih memegang kekayaannya. Faktanya, Roa Gracia adalah negara satu-satunya yang masih memproduksi barang mewah tersebut. Kastil kerajaan yang menjadi simbol dan kuil keluarga kerajaan, sangatlah glamor sampai-sampai Lena kewalahan.

Ruangan tempat mereka dibawa terlihat laksana dibuat untuk menjamu tamu, bukan untuk bisnis resmi. Rantai emas2 dan tanaman mawar merambat menjuntai-juntai dari langit-langit, bersama lampu kristal berbentuk bunga passiflora3, dan lantai batu akik yang dipoles bersinar laksana cermin disebar rata di bawah mereka. Semua perabotannya terbuat dari kayu eboni berhiasan malasit4, sejumlah besar mawar—yang sangat langka di utara dingin—tergeletak dalam vas berwarna batu aventurin5.

Di sudut ruangan terdapat model kerajinan barang kaca merak berkilauan, tengkorak terbuat dari opal6 yang ditempelkan di dinding seolah hadiah suatu perburuan yang kelihatan mirip fosil dinosaurus asli.

Dinding kapur putih diplester meniru pola pepohonan anggur keperakan yang digambar teramat-amat detail sampai-sampai membuat kepala orang pusing. Membicarakan banyaknya waktu yang dihabiskan orang untuk meragamnya …. Otoritas dan kekuatan absurd untuk memproduksi, mengumpulkan, dan masih mempertahankan kekayaan semacam itu …. Pengaruh maha besar dan menakjubkan.

Keluarga Milizé adalah keluarga terkenal di Republik yang membanggakan kekayaan serta sejarah besar, tetapi masihlah keluarga mantan bangsawan yang kehilangan status dan hak atas pajak selama tiga ratus tahun lalu dalam revolusi. Kekayaan di sini tingkatannya berbeda penuh.

Lena tak mengumbar perasaannya di wajahnya, tetapi dia masih kelihatan sedikit terkesima. Lena melihat Shin yang nampak tidak peduli seperti biasanya, kontras dengan dirinya. Shin sedang bersandar di punggung dan melipat tangannya—sepertinya ini kebiasaanya. Mata merah darahnya ditundukkan tampak diam merenung.

Melihat sekeliling, dia mendapati Raiden dan Shiden ikut serta sebagai pendamping. Raiden menahan-nahan menguap bak serigala kebosanan yang punya lebih banyak waktu nganggurnya, lalu Shiden merusak dasinya yang diikat erat, tetapi dia tidak terlihat kewalahan oleh pemandangan ini. Frederica duduk natural di sofa berkaki cakar burung membundar bagaikan berada di rumah sendiri dalam lingkungan mewah ini.

86 menghargai sedikit hal-hal di luar medan perang tempat mereka dibesarkan dan pertempuran fana rutin mereka. Apa pun yang menyiratkan status atau meraih rasa hormat dalam masyarakat normal tak betulan meninggalkan kesan pada diri mereka. Itulah sebabnya, interior berlimpah dan dekorasi belebihan ini berdampak kecil di mata mereka; lagian bukan berarti perabotannya bisa menyakitimu.

Gampang membayangkan mereka akan menjawab demikian, Lena tersenyum sedikit. Andai dia bertanya apakah Shin merasa tidak nyaman pada lingkungan sekitar ini, Lena membayangkan jawaban semacam itulah yang akan diberikannya. Satu-satunya hal yang mereka anggap mengintimidasi adalah Legion yang mereka lawan, dan satu-satunya hal yang mereka hargai hanyalah keterampilan dan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup dalam pertempuran. Dunia manusia—dengan aturan dan standarnya—adalah sesuatu asingnya bukan main bagi mereka.

Tidak seperti biasanya, mereka semua mengenakan pakaian formal lengkap yang normalnya disediakan untuk acara sosial. Lena tak ingat pernah melihat mereka mengenakan itu sebelumnya, dan pemandangan tersebut menenangkan saraf tegangnya sedikit.

Menurut rencana pengerahan mereka, cuma komandan brigade, Grethe, yang bertemu sang raja serta pangeran mahkota. Annette dikirim menyambut divisi tekonologi bersama Shana sebagai pendampingnya, kemudian kelompok Lena dikirim menemui pangeran kelima dalam situasi resmi, sebab pangeran kelima dan mereka adalah personel militer.

Namun orang yang dimaksud tetap saja seorang keluarga kerajaan. Orang mesti memerhatikan penampilan mereka. Lena jelas tahu, tapi bahkan Shin dan para Prosesor lainnya datang mengenakan seragam lengkap Federasi, lengkap sama medali, ban lengan, sampai ikat pinggang Sam Browne7. Mereka bahkan mengenakan beberapa pita tanda jasa yang biasanya tak mereka pakai, dijepit di dada kiri blazer mereka.

Seusai menghirup udara di paru-parunya lalu mendesau, Lena menguatkan diri. Ayo.

“Pertama kalinya aku melihat kalian semua berseragam pakaian.”

Ada jeda lama sebelum Shin akhirnya merespon, barangkali karena tatapan mata merah tuanya curi-curi pandang ke Lena.

“… itu masuk akal. Kami tidak betul-betul memakainya di luar upacara.”

Sikap kaku respon Shin membuat Lena merasa lega. Nada biasa Shin.

“Upacara?”

Lena menjawab dengan nada natural dan santai. Itu bagus.

“Seperti upacara masuk tentara …. Dan upacara penghargaan.”

“Oh.”

Setiap tentara akan secara terbuka merayakan pengabdian perang mulia mereka sekaligus menghibur orang-orang terluka karena perang sebagai cara menyemangati pengabdiannya dan melipur orang-orang terluka. Juga cara yang bagus untuk meningkatkan moral. Shiden berbeda sebab rekrutan baru, namun Shin dan Raiden yang pengabdian militer mereka kepada Federasi sudah dua tahun, telah mengumpulkan medali berjumlah sangat besar. Tentu saja terlalu dini mereka menerima medali pengabdian lama, namun mereka tentu punya medali atas kemampuan dan pencapaian mereka. Keduanya punya jumlah pembunuhan Legion yang mengesankan, jadi kemungkinannya medali mereka mengemukakan hal itu.

“Aku ingin melihatnya …. Menurutmu kalau aku meminta presiden, beliau punya foto atau rekamannya?”

Presiden sementara Federasi, Ernst Zimmerman, adalah wali resmi Shin dan tipe orang yang secara proaktif menyimpan catatan semacam itu. Akan tetapi, Shin hanya mengerutkan kening.

“Tolong jangan. Tidak ada baiknya menonton itu.”

Berarti ada beberapa catatan. Lena putuskan dia akan meminta Ernst catatannya saat mereka kembali ke Federasi. Seenggan apa Ernst memberikannya, Grethe barangkali akan berhasil.

Lena menghela napas lega atas keberhasilan upaya pertamanya melakukan basa-basi sama Shin beberapa saat.

Untunglah. Setidaknya, Shin rasanya tak membenci perkataanku.

“Er … apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kau bertingkah aneh sementara waktu ini.”

Lebih tepatnya, sejak mereka memasuki wilayah Kerajaan Bersatu. Di Terminal Kota Rogvolod, dalam kereta menuju ibu kota, dan begitu mereka diantar ke dalam ruangan yang disiapkan untuk mereka di salah satu sayap istana. Sesekali, tatapan Shin beralih ke arah tak terduga dengan gugup. Dan Shin sudah seperti itu semenjak dia datang ke ruangan ini juga. Ada sesuatu yang mengganggunya, seolah-olah seekor anjing penuh perhatian memasang telinga, mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar indra pendengaran manusia.

“Iya …”

Memutus kata-katanya, Shin terdiam sejenak. Anehnya, kebisuannya terasa ragu-ragu, seakan-akan dirinya sendiri tidak yakin ingin bilang apa.

“… aku bisa mendengar suara Legion dari dekat. Aku tak tahu angka pastinya, tapi jumlahnya cukup banyak.”

“Apa—?”

Hampir berteriak kaget, Lena buru-buru menahan diri Merasakan tatapan curiga menyorotnya dari seorang pelayan pribadi keluarga kerajaan berambut pirang dan mata biru yang berdiri di pojokan, Lena menahan suaranya.

“Kenapa kau diam saja sampai sekarang? Kerajaan Bersatu sudah tahu kemampuanmu. Kau harusnya memperingatkan kita semisal datang serangan …”

Suara Lena kedengaran tajam walau pribadinya tidak. Bersiap-siap menghadapi serangan Legion lebih dulu dapat mengurangi jumlah korban jiwa, dan tiada negeri yang berhasil mengembangkan cara pengintaian Legion dengan jangkauan atau tingkatan akurasi sebesar kekuatan Shin.

Tetapi Shin hanya merespon dengan ekspresi bingung, ibarat tak yakin dengan yang dikatakannya.

“Karena mereka terlalu dekat. Menilai seberapa dekat suaranya, mereka pastinya dari dalam ibu kota, dan yang paling dekat ada di sini, dalam kastil. Aku tidak bisa berasumsi Legion-nya menyusup.”

Bagaimanapun ibu kota nasional. Arcs Styrie berada cukup jauh dari lini depan, dengan banyaknya pertahanan berdiri di antara mereka. Sekalipun Legion menyelundup ke belakang lini depan, tidak mungkin satu pun ranjau swagerak bisa sampai sejauh ini.

“Kupikir satu Eintagsfliege entah bagaimana berhasil terbang masuk, tapi suarnaya kebanyakan. Mungkin saja Legion yang mereka tangkap untuk tujuan penelitian. Hal pastinya, kurasa takkan ada pertempuran.”

”—orang bilang, hampir. Tapi sesuai dugaanmu, tidak ada salahnya berwaspada. Mohon abaikan, jika berkenan.”

Terdengar suara asing. Menggema manis di telinga, dengan tenor membekas yang kedengaran terbiasa berpidato tetapi masih berbunyi suara anak laki-laki nyaris seusia mereka. Seorang pemuda berpakaian seragam ungu-hitam Kerajaan Bersatu berkerah tegak masuk melalui pintu yang dibukakan seorang pelayan.

Dia bertubuh kurus layaknya seorang pemuda di akhir masa remaja. Keluarga Kerajaan Bersatu biasanya menumbuhkan rambut mereka, tapi rambutnya dipotong pendek, dan punya karakteristik berkulit cerah orang-orang yang hidup di utara. Matanya sedikit sipit menyerupai harimau, wajahnya yang seimbang antara kelembutan halus dan kekejaman tak manusiawi. Roman mukanya agak androgini yang tampil sebagai bangsawan, namun entah kenapa Lena mengaitkan penampilannya dengan ular hitam kurus.

Sisik hitam pekat licin. Mata indah sewarna petir ungu.

Binatang buas berdarah dingin tanpa empati manusia.

Bocah itu tersenyum sinis, menyempitkan mata dingin bak permata berwarna ungu khas imperial.

“Maaf membuat menunggu, teman-teman terkasih. Aku Viktor Idinarohk, rekan-rekan sekalian mulai hari ini …. Izinkan aku menyambut kalian. Selamat datang di kastil unicorn.”

Sang pangeran berjalan mendekati mereka, disertai suara sepatu bot militernya yang berbunyi klik di lantai batu akik dan gemerisik lirih bajunya. Pakaian Viktor mengeluarkan bau kemenyan selatan. Lena mendapati dirinya menatapnya, melupakan seluruh gagasan tata krama dan etiket. Fitur wajah tampan pangeran kelima kontras dengan seragamnya yang secara alami mengesankan martabat mengagumkan dan terlampau kuat.

“Jadi Paduka pangeran pribadi sungguh-sungguh datang menyambut kami.” pangeran itu mengangkat alis dengan cara berlebihan.

“Aku yakin kalian sudah mendapatkan kelemahan kami …. Kerajaan Bersatu adalah tempat Model Mariana, yang nantinya menjadi dasar Legion, dikembangkan. Walaupun perang akan berakhir, negara lainnya pasti akan memandang jijik kami.”

“…”

Tidak ada kausalitas langsung antara pengembangan Model Mariana dan perang dengan Legion, tetapi semua halnya akan terjadi sebagaimana perkataan pangeran. Di saat bencana melanda, orang-orang suka mencari penyebab. Walaupun terkadang tidak masuk akal, mereka cenderung melimpahkan kesalahan pada orang lain.

“Meskipun kurasa kami lebih baik dari Kekaisaran yang mengembangkan Legion, atau tepatnya, Federasi …. Walaupun mereka tak berniat mengakui atau bertanggung jawab atasnya, mereka masih menampilkan cukup itikad baik yang mungkin takkan dituntut orang lain pada mereka. Orang-orang lebih terpengaruh oleh negara yang mengulurkan bantuan kepada tetangganya alih-alih negara yang bahkan tidak melindungi warganya sendiri.”

Selanjutnya dia mengangkat bahu dengan sikap tidak bangsawan …. Bisa jadi karena kehidupannya di militer, tetapi gerak-geriknya tidak terlihat bak keluarga kerajaan sedikit pun.

 “Lantas keluarga kerajaan melakukan kunjungan kehormatan ke mana-mana …. Tapi sekali lagi, berlaku sama, untuk Federasi.  Divisi Penyerang 86. Suatu unit elit terdiri dari pria-wanita muda dikirim sebaagai bantuan ke ngara lain. Perbuatan sama yang takkan indah sedikit pun andaikata orang-orang kasar yang melakukannya, namun ceritanya sangat berbeda ketika tentara anak-anak bermasa lalu amat tragis yang melakukan penyelamatan.”

Nnh …?!

Napas Lena tercekat di tenggorokannya. Dia telah melihat dan mengetahui rasa kasihan yang berakar pada sikap merendahkan yang sejumlah warga Federasi tujukkan kepada 86. Namun pemerintah Federasi yang mengirim mereka dengan dalih mereka akan dikasihani, berharap menggunakan 86 sebagai alat diplomatis untuk membeli simpati negara lain …?!

Orang-orang bisa serendah apa lagi?

Dia merasakan nada sedingin es dan senyum melengkung melandanya, tapi Lena cepat-cepat menampiknya.

Tidak mungkin. Orang-orang lebih dari sekadar kejam dan tidak berperasaan. Ini masa-masa perang, dan mereka barangkali mesti menunjukkan sisi terburuk mereka, tapi … orang-orang, dunia ini, sebetulnya …

“Tapi, Paduka …. Itu …”

Sang pangeran tersenyum ramah.

“Tolong panggil aku Vika. Kau boleh menyingkirkan gelar dan formalitas tanpa arti itu. Lagian itu hanya buang-buang tenaga saja di militer. Dan aku akan memanggil nama kalian semua dengan nama keluarga kalian. Seumpama kalian menganggapnya tak sopan, silahkan katakan, dan aku akan mengoreksi diriku sendiri.”

Memanggil seseorang nama panggilan mereka hanya diperkenankan orang-orang yang dekat dengan seseorang tersebut. Mempertimbangkan pribadi yang dimaksud adalah keluarga kerajaan, itu perlakuan yang ramahnya bukan main, tapi sesuai perkataannya, bukan karena kasih sayang melainkan rasionalitas. Lagi pula, dia mungkin mengizinkan mereka memanggil nama panggilannya, namun dia berniat memihak formalitas dan memanggil mereka dengan nama belakang.

Saat Lena membuka mulut hendak bicara, Vika membungkamnya dengan tangan terangkat.

“Kubilang tidak usah formalitas tanpa arti, Kolonel Vladilena Milizé. Datamu telah diungkap ke Kerajaan Bersatu, dan aku sudah membacanya terlebih dahulu. Kau tak perlu buang-buang napas untuk perkenalan.”

Kebetulan, Kerajaan Bersatu tak mengungkap informasi apa pun tentang Shin. Setidaknya, tidak ada yang didengar Lena.

“… yah, mungkin ini hal kecil tidak sopan seiring perbincangan, namun silahkan jangan ragu menganggap kita tidak punya waktu luang untuk hal-hal menyenangkan semacam itu dan maafkan aku baik-baik. Bagaimanapun …”

Viktor melirik jendela besar berpemandangan jalan-jalan ibu kota, mengisyaratkan mereka untuk ikut melihat, lalu dengan dinginnya mengerutkan bibir ke atas.

“… seperti yang bisa kalian lihat, Kerajaan Bersatu kami sedang dalam situasi terlampau kritis.”

Iya, itu terlihat jelas.

Di luar jendela, awan keperakan tebal yang rendah menyelimuti langit, dan salju berderai turun walau masih musim semi larut, menutupi semua warna lain. Bahkan di Federasi, tidak datang lagi hari-hari dingin mendadak, dan di Republik, mawar musim panas bermekaran di sekitar waktu ini. Bahkan negeri utara takkan mengalami hujan salju seolah pertengahan musim dingin di sepanjang tahun ini.

Sewaktu Lena melihat awan, dia mendapati kilat perak memantulkan cahaya dari tanah di sudut penglihatannya. Laksana pecahan logam kecil tidak terhingga memantulkan cahaya. Selayaknya kepakan sayap kupu-kupu tak terhitung jumlahnya …

“Eintagsfliege …”

“Benar. Di tanah ini, demikian dicintai oleh dewi salju putih, takkan diselubungi tudungnya hingga akhir tahun ini.”

Itu ungkapan yang digunakan Kerajaan Bersatu untuk menggambarkan musim dingin, namun tiada sedikit pun senyuman di wajah Vika. Matanya sedingin musim dingin utara yang membekukan jiwa.

“Sebab pengerahan awan logam berlapis-lapis itu—Eintagsfliege—Kerajaan Bersatu cepat mendingin. Bersama ibu kota, separuh wilayah selatan kami diselimuti sayap mereka.”

Tipe Gangguan Elektrik, Eintagsfliege, sanggup mengganggu semua jenis gelombang elektronik, termasuk cahaya. Di Sektor 86, gerombolan mereka mirip awan-awan perak yang menutupi matahari, dan di front Federasi, tempat penyebaran mereka kian intens, langitnya kelihatan terus-menerus tertutup di balik perak menindas.

Namun tidak ada kasus terdokumentasi penyebaran mereka sesignifikan ini sampai-sampai menciptakan hujan salju selama akhir musim semi, atau dalam radius sebesar ini …

“Kapan ini dimulai?”

“Sekitar Legion cerdas produksi massal yang kalian sebut Anjing Gembala menjadi kekuatan utama. Dengan kata lain, awal musim semi ini.”

Sesuai dugaan Lena.

“Wilayah pertanian selatan kami kalau begini akan hancur …. Negara ini tak terlalu diberkati sinar matahari dari awal pula, jadi mayoritas listriknya berasal dari pembangkit listrik tenaga panas bumi, berbasis batu bara, dan nuklir. Tetapi misalkan kami memindahkan seluruh pabrik produksi untuk membuat makanan, kami takkan dapat mempertahankan diri. Apabila Legion terus mempersulit situasi kami seperti ini, musim semi berikutnya, negaraku takkan ada.”

Dengan lambaian tangan, hologram tiga dimensi muncul di tengah ruangan. Peta solid yang menampilkan wilayah Kerajaan Bersatu. Sewaktu Lena melihat Shin mendekati peta, bisa jadi merasakan penjelasan datang, Lena angkat bicara, “Sekiranya mereka menggunakan taktik serupa di tempat lain, Federasi mungkin baik-baik saja sebab wilayahnya besar, namun negara lain manapun takkan bertahan.”

“Ya. Dan karena itulah kami harus menghentikan rencana mereka sekarang, selagi masih menggunakan Kerajaan Bersatu sebagai tempat uji coba. Untunglah, Federasi dan Kerajaan Bersatu punya tujuan sama. Ratu Bengis yang kalian cari-cari berada di kedalaman wilayah Legion, dalam lokasi produksi Eintagsfliege di kedalaman Gunung Dragon Fang.”

Tampilannya menunjukkan pegunungan Dragon Corpse, yaitu bagian dekat perbetasan Republik, medan perangnya Kerajaan Bersatu. Lalu beralih ke model tiga dimensi yang menggambarkan Pegunungan Dragon Fang, yang terletak jauh dalam pegunungan. Sepertinya ada pabrik produksi di sana. Hologramnya juga menampilkan perkiraan jumlah musuh dan jarak linier dari garis depan terdekat, diperkirakan tujuh puluh kilometer.

“Tujuan operasi gabungan ini adalah penyerangan dan perebutan kembali Gunung Dragon Fang serta penangkapan Ratu Bengis.”

“Tepatnya, Reina Berdarah. Kami meminta usaha terbaikmu.”

Menatap model Gunung Dragon Fang yang sesuai implikasi namanya, berbentuk taring besar yang mencuat ke angkasa dengan puncak piramida berbatu khas, Lena bicara:

“Paduka.”

“Vika, Milizé.”

“Maaf, Vika. Aku ingin kau memastikan pasukan yang akan kau komandoi selama oerpasi ini. Kudengar negaramu mengerahkan senjata tanpa awak otonom untuk mempertahankan perbatasannya.”

Inilah rahasia di balik kemampuan Kerajaan Bersatu untuk mempertahankan wilayahnya walaupun kekuatan nasionalnya lebih rendah dari Federasi. Vika tersenyum sinis kecil.

“Seeparuh otonom. Kami tidak bodoh membawa senjata otonom penuh ke pertempuran padahal contohnya saja Legion berada dekat kami. Selain itu, Kerajaan Bersatu tidak memproduksi AI otonom setingkat Legion.”

“Tapi itu …. Bahkan kau pun tidak bisa mereproduksinya, Vika?”

“Bukannya tidak bisa. Hanya saja tidak mau.”

Sang pangeran mengatakannya dengan sikap egois, ibaratnya bilang bisa dia buat kalau niat, dengan sama menggampangkan seakan mendiskusikan resep memasak sedikit lebih ruwet. Namun walaupun kelangsungan negaranya dan warga negara tak terhitung jumlahnya sedang dipertaruhkan, dia begitu gampangnya menolak kemungkinan tersebut, berkata dia tidak bersedia melakukannya.

Lena sadar dia telah melihat sekilas kejamnya darah bangsawan yang tak dikenal Republik yang menitikberatkan kesetaraan. Darah bangsawan, kurang kehangatan apa pun.

Drone yang kau gambarkan disebut Alkonost. Feldreß setengah otonom yang bertujuan memerangi kelompok besar musuh …. Dalam hal rasio, Alkonost membentuk lima puluh persen pasukan kami, setengahnya Barushka Matushkas berawak, namun unit yang tepat berada di bawah komandoku hampir seluruhnya Alkonost. Termasuk unit pribadiku, Barushka Matushkas hanya digunakan untuk mempertahankan pos komando.”

“Kau bilang setengah otonom …. Jadi mereka dioperasikan manusia dari jarak jauh—oleh para Handler, ya? Apa metode operasi ini nirkabel? Bagaimana caramu melewati gangguan elektronik Eintagsfliege?”

“Alkonost terhubung ke para Handler mereka lewat teknologi yang kalian sebut Para-RAID.”

Lena mengerutkan alis ragu. Para-RAID—Resonansi Sensorik—adalah metode komunikasi yang menghubungkan indra, sebagian besarnya pendengaran, melalui ketidaksadaran kolektif yang dimiliki semua umat manusia. Dengan demikian, mengatasi rintangan jarak, halangan fisik, dan segala macam gangguan.

Pada dasarnya menjadikannya teknologi teramat-amat inovatis, tetapi karena menggunakan ketidaksadaran kolektif manusia, Para-RAID tak bisa berkomunikasi kepada selain manusia—yaitu mesin, yang tak punya kesadaran sendiri.

Atau yang lebih tepatnya setahu Lena, semestinya tidak mengaktifkan komunikasi apa pun yang bukan manusia.

“T-tapi caranya …?”

“Aku tunjukkan sekarang. Lerche, kau di sana?”

Sang pangeran tak meninggikan suaranya, tetapi datang tanggapan dari balik pintu.

“Tentu saja.”

“Akan aku kenalkan. Masuklah.”

“Baik.”

Pintunya terbuka. Masih pada jarak yang sedikit terlalu jauh untuk berbicara, sosok itu berlutut dengan gagah.

“Senang bertemu Anda. Saya Lerche, kesatria sekaligus pengawal kerajaan Pangeran Viktor. Saya melayani sebagai pedang dan perisai beliau.”

Sosok itu bicara dengan suara jelas, terdengar nyaman, dan nyaring, seperti kicauan burung penyanyi.

“Nona Reina Berdarah dari Republik, dan Tuan Pencabut Nyawa Federasi, Tuan Wehrwolf, juga Nona Cyclops. Saya sudah mendengar banyak ketenaran militer sekalian. Terutama Anda, Tuan Pencabut Nyawa. Jika berkesempatan, saya sangat ingin dilatih Anda.

Seperti yang dibilang, suaranya seperti kicauan burung.

“Dan perkara putri cantik di sana, saya menyambut Anda di negara putih-salju kami. Saya selalu berkenan membantu bila Anda suka bermain salju, jadi jangan ragu memanggil saya kapan pun Anda inginkan.”

Sekalipun berlebihan membahasnya lagi, suaranya sangat nyaman didengar.

“… maaf—beri aku waktu sebentar.”

Vika mengangkat tangannya, berjalan menghampiri sosok berlutut kemudian berteriak ke kepala menunduknya.

“Lerche! Bukannya sudah kusuruh untuk manfaatkan kesempatan ini buat mengubah caramu bicara pada orang lain?!”

Lerche itu mengangkat wajahnya merasa kaget. Dia seorang gadis berambut emas yang dikuncir kencang dan mata hijau. Dia kelihatan seumuran Vika, artinya kurang lebih seumuran Lena dan Shin. Dia mengenakan seragam militer gaya lama terbuat dari kain berwarna merah dan didekor tali emas, dengan saber terlihat formal disarungkan di pinggangnya. Wajahnya mungil dan cantik, lalu alis tipisnya diangkat pelan-pelan memprotes.

“Apa …? Paduka, Anda bicara apa?! Inilah bukti kesetiaan saya kepada Anda, bahkan perintah Anda pun takkan menghalangi saya!”

“Pengikut mana yang menggunakan cara bicara yang akan mengganggu tuan mereka sebagai bukti kesetiaan?! Kau bego, ya, umurmu ini tujuh tahun?!”

“Nasihat yang bagus, sebagaimana obat efektif yang rasanya terlampau pahit, Paduka! Dan itulah sebabnya, walaupun menyedihkan saya, saya ‘kan memperlakukan Anda dengan rasa hormat tak ada habisnya! Melihat tindakan saya begitu diawasi membuat saya malu selamanya …!

Vika kesal mendekap kepalanya.

“Aaaah, semuanya kacau—aku bilang apa pun, kau selalu saja membalas …! Orang bodoh mana yang mengatur ciri linguistikmu …?!”

 “… dengan segala hormat, Paduka, satu-satunya orang yang mengatur saya hanyalah Anda.”

“Aku tahu itu—aku cuma menggerutu! Ya Tuhan, abaikan saja!”

“M-mohon maaf atas ketidakhormatan saya …!”

Balasan gadis itu penuh hormat tapi gundah gulana. Melihat percakapan keduanya yang terlihat tak cocok, Lena cekikikan meski merasa bersalah melakukannya. Dia ingin tahu pria macam apa Raja Mayat ini, tapi melihatnya bercanda dengan pelayan bersahabatnya membuatnya tampak tidak lebih dari seorang anak laki-laki sepantaran mereka.

“… bagaimana bilangnya? Kurasa reputasi seseorang benar-benar sudah tidak sesuai kenyataan.”

Lena membisikkannya agar Shin seorang yang bisa mendengarnya. Tapi tidak ada jawaban. Melihatnya, Lena mendapati ekspresinya anehnya kaku selagi menatap tuan-pelayan yang berdiri dekat pintu. Spesifiknya, tatapannya tertuju kepada Lerche, gadis berseragam merah tua.

“… Kapten? Ada apa—?”

Shin angkat bicara, memotong pertanyaan Lena.

“… Yang Mulia.”

Vika menyipitkan mata tertarik—mata violet imperial seekor harimau tidak berperasaan atau mungkin mata ular ganas.

“Akan kukatakan lagi, tapi Vika saja, Nozeun.” “baiklah, Vika …. Itu apa?” “Kapten …!”

Ketika Lena menyadari itu yang Shin maksud adalah Lerche, dia menegurnya. Vika, di sisi lain, tersenyum tipis.

“Ooh. Begitu rupanya gelar Pencabut Nyawamu memang pantas, benar … Lerche.”

“Ya.”

“Tunjukkan kepada mereka.”

“Baik.”

Lerche bangkit berdiri cepat, ibaratnya dia seorang kesatria yang melepas helmnya …

… melepas kepalanya, dan angkat tinggi-tinggi ke atas.

“Apa …?!”

Tak seorang pun yang hadir menyalahkan Lena karena melangkah mundur ketakutan.

“Apa …?!”

Mata bundar Frederica membelalak kaget, kemudian Raiden dan Shiden condong maju dari dinding tempat mereka berdiri. Bahkan Shin yang tak tersentak, menyipitkan mata curiga. Vika seorang yang tetap tenang.

“Izinkan aku memperkenalkannya baik-baik. Ini unit pertama Peri Buatan—Sirin. Puncak pencapaian teknologi Kerajaan Bersatu serta inti pertahanan nasional kami.”

Dengan lambaian tangan Vika, sensor terletak di suatu tempat dalam ruangan telah bereaksi, memproyeksikan hologram dekat tubuh rampingnya. Mungkin Alkonost. Model tiga dimensi menampilkan Feldreß yang lebih tipis ketimbang Juggernaut, tipis sekali sampai-sampai ragu ada lapis bajanya atau tidak. Batang tubuhnya menyertakan kokpit kecil yang tidak cukup besar untuk menampung manusia.

“Ini prosesor sentral mesin tempur semi otonom Alkonost.”

86 Tidak dianggap manusia, jadi mesin manapun yang mereka pilot takkan dianggap berawak dan disebut drone semata. Konsep yang sama … seperti halnya Juggernaut Republik.

Kepala terlepas Lache terhubung ke tubuhnya dengan tabung dan tali yang nampak mirip pembuluh darah dan saraf.

“Apa dia … manusia?”

Vika menyeringai terkekeh.

“Kau bertanya demikian setelah melihat yang baru saja kau lihat, Reina Berdarah? Ingat yang baru dikatakan Nouzen. Dan pertimbangkan … kok bisa dia begitu mudah melihat jati diri Lerche?”

Lena menelan ludah gugup. Shin bisa mendengar suara Legion—tepatnya, suara-suara orang mati yang tetap terjebak dalam hantu mekanik. Namun gadis di depan mereka takkan mungkin Legion, karena mereka tidak pernah membuat senjata berbentuk manusia. Mereka dilarang menciptakan senjata yang terlalu mirip manusia.

Dalam hal ini …

Shin bicara, seolah-olah tidak ingin Lena menyuarakan kesimpulan.

“Ia menggunakan otak orang mati … persisnya, reproduksi otak, sebagai prosesor sentralnya.”

Mata merah darahnya melotot pada Vika dengan intensitas yang berlum pernah dilihat Lena sebelumnya.

Bagi shin yang mendengar suara rekan-rekannya sesudah ditangkap Legion dan bahkan menembak mati kakaknya sendiri yang terjebak dalam kondisi itu, Kerajaan Bersatu yang membuat gadis tengah berdiri di hadapannya, bersalah atas dosa penyimpangan tiada bandingnya.

Sembarangan berjalan di sepanjang garis pemisah orang hidup dan orang mati. Menangkap jiwa orang-orang yang mendapatkan peristrirahatan kekal mereka dan menggunakannya sekali lagi untuk pertempuran …

Tatapan dingin yang membuat orang normal bimbang, tapi Vika tak meringis sedikit pun.

“Tepat sasaran, Pencabut Nyawa Sektor 86. Semua prosesor sentral gadis-gadis ini adalah reproduksi otak berdasarkan struktur otak manusia.”

Mereka punya kemiripan ganjil—atau barangkali terinspirasi oleh—Legion cerdas, para Gembala.

“Tunggu sebentar …. Bila itu awalnya otak manusia, maka …”

Suara Lena kaku dan tajam sekali sampai-sampai sulit mengenalnya. Kerajaan Bersatu adalah satu-satunya monarki despotisme di benua. Warga negaranya pada dasarnya adalah milik bangsawan.

“… di mana, dan atas alasan apa, kau mengumpulkan orang-orang pemilik otak-otak itu?”

Vika memiringkan kepala dengan tingkah geli.

“Apa kau menyindir kami para despotisme arogan memotong-motong warga kami tanpa seingin mereka? Maka kau barangkali kecewa mendengar keturunan Idinarohk tidak sebodoh itu. Kami tahu betul apa yang menunggu kami di akhir tirani tanpa perasaan ini adalah ciuman alat guillotine8 …. Komponennya diberikan secara sukarela dan diambil baru sepeninggal mereka dalam pertempuran. Andaikata seorang tentara yang suka rela mendonasikan tubuhnya terlebih dahulu ditandai hitam selama penyortiran—dan di bawah kondisi itu semata—dia menyerahkan otaknya untuk dipindai. Bahkan para sukarelawan tidak dikirim ke pemindaian misalkan ada kesempatan untuk menyelamatkan nyawa mereka, dan menjadi sukarelawan itu opsional sepenuhnya.”

Di tempat berbahaya seperti medan perang, ada lebih banyak tentara terluka memerlukan perawatan melebihi doktor untuk merawat mereka. Untuk menangani situasi semacam itu, sebuah metode dibuat untuk memastikan sebanyak mungkin nyawa diselamatkan; itulah sortir. Tindakan penanggulangan untuk memisahkan orang-orang terluka dan yang tidak masuk risiko kematian atau yang tak butuh perawatan segera dari orang-orang yang perlu resusitasi langsung.

Di antara mereka ada tanda hitam—yang dikategorikan dalam kondisi tak terselamatkan lagi walaupun dirawat. Nama itu dari warna kalung militer yang melekat pada mereka.

Merekalah orang-orang yang terlambat ditemukan atau orang-orang masih hidup tetapi terluka sampai-sampai bisa mati kapan saja.

“Struktur otak digital diproduksi melalui sel buatan, dan sesudah ingatan mereka dihapus dan kepribadian semu dipasang, otaknya ditransplantasikan ke tengkorak Sirin. Dengan kata lain, mungkin didasarkan pada orang mati, tapi mereka sendiri bukan orang mati. Aku sedikit terkejut kau masih bisa mendengarnya, Nouzen.”

“Tapi … kenapa?”

Legion menggunakan otak orang-orang mati, tetapi mereka senjata. Mereka tak punya persepsi etika dan keadilan, benar dan salah, jadi itu dapat dipahami. Tapi Vika adalah manusia … atau yang benarnya, dia seharusnya manusia.

“Kenapa? Kurasa sudah jelas. Tak seperti Legion yang terus berdatangan tidak peduli berapa kali kau mengalahkan mereka, manusia itu tidak tanpa batas. Kemampuan reproduksi kita terbatas. Jadi misalkan kita bisa menurunkan jumlah korban jiwa, kamu cuma harus mendaur ulang orang-orang yang sudah mati. Kirim serigala buat berburu serigala. Vampir untuk berburu vampir.”

Hantu untuk memburu hantu.

Penyimpangan yang membuat Lena merinding—penodaan total. Tak menyadari jijiknya Lena, Vika tersenyum. Layaknya ular. Bagaikan binatang tanpa perasaan, tidak punya konsep emosi.

Raja Mayat. Tanpa simpati dan tidak berkemanusiaan—penguasa orang mati berdarah dingin.

“D-dan … kau menyebutnya … drone …?!”

“Kata-katamu merendahkan, tapi ini sesuatu yang mesti kita biasakan. Senjata dan tentara Kerajan Bersatu yang bersatu dengan Divisi Penyerang adalah Alkonost dan Sirin. Yakni, resimen langsung di bawah komandoku.”

Demikian, pangeran utara tersenyum tenang, melihat Lena dan Shin yang bulu kuduknya naik, melotot kasar dirinya seolah-olah batu di pinggiran jalan.

“Sampai kita memusnahkan Legion atau sampai mereka menghabisi umat manusia … kuharap kita akan menikmati kebersamaan satu sama lain.”

Di salah satu sudut kastil negara yang menguasai seluruh timur laut terdapat sebuah vila Imperial. Digunakan sebagai rumah penginapan dan kamar-kamarnya enak, megah, juga indah.

Selagi berbaring di tempat tidur dan membandingkan bulu di dalamnya dengan bulu lusuh yang ada di pangkalan lini depan serta kamp konsentrasi Sektor 86, Shiden merenungkan hidup mereka sudah sejauh mana. Walau tidak bisa bilang tempat tidurnya tak nyaman atau sesuatu yang tidak bisa dia biasakan, dia merasa tidur terlalu lama di atasnya akan menjadikannya tumpul. Baik pikiran maupun tubuh.

Menepuk telapak tangannya di atas seprai berbau bunga atau aroma herbal lain, wakil kapten skuadron Brísingamen, Shana, membungkuk ke Shiden yang berbaring di tempat tidurnya sambil menghadap atas.

“Hei, Shiden.”

Tak perlu mengalihkan pandangannya ke Shana, Shiden merespon tidak niat.

“Mmn.”

“Tidak apa-apakah?”

“Iya …”

Dia tidak secara spesifik menjelaskan apa yang tidak apa-apa, tapi mereka cukup lama bersama hingga Shiden paham bahkan tanpa pernyataan eksplisit. Syoknya barangkali berlebihan. Sejak dirinya menemui pangeran sore itu, Lena sedang murung, dan Shin yang menghampirinya saat kedapatan Lena sedang berpikir dalam-dalam, sekarang ini pasti berada di sisinya.

“Kita tidak bisa berbuat banyak. Baginda telah membuat pilihannya.” “Tapi …”

Shiden mengarahkan kedua matanya ke jendela yang terletak tepat di atasnya.

“Akan lebih banyak lagi yang harus dipikirkan apakah Pencabut Nyawa kecil itu brengsek atau tidak. Tapi mempertimbangkan semuanya, tidak apa-apa, kurasa.”

Shiden memeriksa sebentar Shin aneh-aneh tidak, sekadar itu. Sama sekali bukan pengakuan.

“… tidak ada yang tahu kapan semuanya bakal berakhir. Sama seperti biasa, sungguh. Soal ini … selama aku di sisinya, aku tidak mau menyusahkannya.”

“—di sini dingin banget …. Tapi kotanya berkembang pesat! Lebih dari yang diperkirakan orang-orang perihal ibu kota dalam masa perang, kataku.”

Ibu kota Arcs Styrie Kerajaan Bersatu adalah kota tua dengan sejarah riwayat negara itu sendiri. Pemandangan kotanya mengisahkan kemakmuran, perkembangan, dan gangguan juga pergolakan tak terhitung di masa lalu, dengan pemandangan unik banyaknya gedung, setiapnya dibangun berbeda-beda pada waktu berbeda selama ratusan tahun. Trennya adalah eksteriornya dicat warna-warna cerah, gaya khas sebuah negeri ditutup salju selama setengah tahunnya.

Hari ini juga, awan Eintagsfliege menyembunyikan matahari, dan salju tipis beterbangan dari langit. Jalan raya utama penuh pejalan kaki, toko-toko dan kios warna-warni memenuhi pasar. Mengenakan mantel Federasi menutupi seragam Republiknya, Lena melihat-lihat sekeliling kota ramai dengan mata membeliak. Annette dan Grethe pun bermantel, Frederica bersama Raiden yang datang mendampingi mereka, juga melihat sekitar dengan penasaran.

Hari itu setelah sarapan, divisi kepala teknologi—seorang pria amat kurus sampai hampir mirip kerangka—mengusulkan karena mereka punya waktu luang, mereka harus pergi keluar dan melihat-lihat ibu kota, menunjukkan dengan demikian para wanita juga berkesempatan berbelanja. Sebagian tawarannya tulus dari hati, dan sebagiannya untuk meningkatkan hubungan diplomatik.

Dan betul memang, mereka mau memamerkan kelimpahan dan kemakmuran negara mereka kepada perwira lapangan pertama yang berkunjung dari luar negeri setelah satu dekade lebih tidak ada yang datang—dan dengan melakukannya juga menekan stres kekuatan pasukan mereka.

Shiden dan Shana telah melewatkan kesempatan itu, sedangkan Shin sepertinya dipanggil Vika, jadi mereka tinggal di istana. Para pengawal kerajaan mengundang kelompok Shiden untuk melihat-lihat museum militer.

“Luar biasa … pikirku itulah yang diharapkan orang-orang dari ibu kota berumur seribu tahun dari negara besar di utara, Roa Gracia …”

“Kurasa kita butuh istrirahat, agar tawaran perwira itu datang di waktu tepat. Teknologi itu agak sulit diterima.”

“Aku senang kedua belah pihak kita punya sesuatu untuk diajarkan satu sama lain perihal Para-RAID, tapi …. Biarpun mereka bilang menggunakan sukarelawan berkenan, lagi-lagi catatan eksperimen manusia … itu sedikit, semacam, benar-benar …. Kau tahulah …”

Bertukar senyuman pahit, Grethe dan Annette mendiskusikan Sirin serta teknologi terkait. Mendengar teknologi ini tidak bisa diadopsi Federasi membuat Grethe memeluk sedih kepalanya.

Beberapa bangunan yang membentuk kota glamor ini adalah barak, gudang senjata, dan instalasi militer lainnya digunakan oleh markas besar divisi ibu kota, juga banyak orang berjalan-jalan memakai seragam ungu-hitam militer Kerajaan Bersatu. Sebagaimana di Federasi, tentara dipandang sebagai subjek pantas dihormati. Seorang tentara muda wanita Beryl berjalan di dekat mereka disambut anggukan sopan seorang pria Iola berambut violet lebih tua.

Melihat sekeliling, Annette berkata, “Viola adalah warga negaranya, dan kelompok etnis lain dari wilayah taklukan adalah petani budak9, kan? Tapi melihat semuanya, petani budak bisa hidup normal.

Anak-anak berdarah Viola murni—artinya, warga negara—main bola-bolaan bersama anak-anak petani budak dari etnis lain di samping mereka seakan-akan tak ada perbedaan antara mereka. Sepasang orang berwarna beda duduk di meja sama sebuah kafe, mengobrol sembari minum kopi. Wanita Celesta tua yang mendirikan kios sekarang ini tengah semangat memperdebatkan harga satu botol besar madu bersama seorang wanita Taaffe. Negoisasinya diakhiri jabat tangan erat, setelahnya kedua orang itu menukar tagihan untuk barang dagangan kemudian berpisah dengan senyuman. “Aku akan datang lagi,” lalu “kau selalu disambut,” kata keduanya seraya memperlihatkan ekspresi senang.

Secara keseluruhan, petani budak adalah kelas pekerja, dan warganya adalah kelas menengah, dan demikian ada perbedaan pada kualitas pakaian serta barang pribadi mereka, namun petani budak tidak dianggap budak atau orang hina—tak ada indikasi beberapa anak-anak dianggap ras lebih rendah, seperti 86 dahulu.

Penjaga istana yang ditugaskan menjadi pemandu dan penerjemah kelompok Lena, tersenyum. Bahasa resmi Kerajaan Bersatu beda dialek dari Republik dan Federasi, namun karena beberapa petani budak keturunan wilayah taklukan yang punya lingkungan budaya berbeda, beberapa bicara dengan bahasa yang sepenuhnya berbeda.

“Warga negara diharapkan mengabdi dalam militer, sedangkan petani budak diharapkan menangani produksi,” jelas penjaga. “di satu sisi, perbedaan antara wajib militer dan kewajiban pajak. Namun dikarenakan situasinya demikian, keluarga kerajaan mendorong para petani budak untuk sukarela bergabung dalam militer.”

“Seperti dirinya,” ucap penjaga, menunjuk seorang prajurit. Dia seorang pria Rubis pendiam yang kelihatannya berusia dua puluh tahun, memakai lencana pangkat letnan dua, dan tersenyum dengan rasa bangga malu-malu. Artinya pendidikan tinggi terbuka untuk semua kalangan, paling tidak untuk mereka yang mampu.

Sesuai kata Vika, Kerajaan Bersatu barangkali monarki despotisme, tetapi tidak memberi tekanan politik apa pun kepada warganya. Tak melakukan apa-apa yang ‘kan menimbulkan keresahan atau pemberontakan, tidak pula menciptakan perbedaan kelas tak penting. Tidak seperti Republik yang merenggut segalanya dari 86 dengan menyita aset mereka untuk mendanai pembangunan Gran Mule dan memaksa mereka mengikuti wajib militer, menandai mereka sebagai manusia rendah.

“… Milizé? Ada apa?”

“Bukan apa-apa.”

Menggeleng kepala tidak jelas, selanjutnya Lena berkata dengan ragu:

“Omong-omong …. Aku ingin tahu ada urusan apa Vika sama Shin?”

Shin disuruh datang dengan mantelnya, dan benar saja, tangga bawah tanah yang dituntun Vika sangatlah dingin.

“Pegunungan paling utara Kerajaan Bersatu adalah pegunungan Frost Woe. Ada gua es di sana yang memanjang hingga ke bawah tanah Kerajaan, tempat mausoleum10 keluarga kerajaan dibangun. Es di sini tidak pernah mencair, jadi rasanya kelewat dingin biarpun musim panas …. Akan rumit jadinya misalkan salah satu anak pelayan sembarangan menyelinap ke sini.”

Tangganya sendiri nampaknya diukir dari batu glasial, berbentuk spiral mulus menurun jauh ke bawah tanah. Tempatnya bertatahkan cangkang serban hijau besar menyinarkan tujuh warna prisma.

Militer Federasi memberikan mantel parit yang dibuat untuk bertempur di parit-parit Federasi utara bersalju yang anti air juga anti dingin. Tapi tetap saja, Shin mengerutkan alis akan dinginnya yang menusuk paru-paru seiring napasnya. Vika yang berjalan di depan, menghembus kepulan udara yang terlihat sama.

“… di masa lalu, orang-orang berdarah bangsawan alamiahnya adalah keluarga kerajaan. Raja dipandang jelmaan Tuhan, diberkahi kekuatan unik. Telepati dan psikometri Pyrope, kecakapan bela diri Onyx, intimidasi Celena. Banyak dari mereka yang makin sedikit dan perlahan hilang sebab percampuran darah dan berlalunya waktu, tapi mereka masih tetap tinggal di tanah keluarga kerajaan dan bangsawan mempertahankan otoritas serta garis keturunan mereka. Itu berlaku untuk Kekaisaran Giad dan Kerajaan Bersatu pula. Di antaranya adalah kecerdasan berkali-kali lipat Amethysta—sederhananya, garis keturunan yang melahirkan orang-orang genius hebat.”

Hanya sepasang langkah kaki terdengar; langkah Shin tidak bersuara, dan tak ada satu orang pun di sekitarnya selain Vika. Menjadi seorang komandan, misalkan Vika punya urusan sama seseorang, maka Lena-lah orangnya, tapi dia memanggil Shin sendirian. Shin, seorang Prosesor yang biasanya dipandang tidak lebih dari sepenggal bidak.

Maksud Vika di sini tak jelas. Suaranya kental kebencian kuat yang dirasakannya ketika melihat Sirin, Shin mengajukan pertanyaan dengan suara teramat singkat. Lagian sedari awal dia tak mau susah-susah memberi hormat sama otoritas lebih tinggi.

“… kenapa kau memberitahuku hal ini?”

“Hmm? Karena kau seorang Cenayang Pyrope, tentu saja. Garis keturunan pihak ibumu, Maika, habis selama persekusi 86 …. Kukira kau akan tertarik mengetahuinya sedikit. Salahkah aku?”

“Aku tidak peduli tentang itu.”

“Hmm?”

Vika berbalik menghadapnya dengan ekspresi agak meragukan tapi akhirnya balik badan lagi dan mengangkat bahu.

“Yah, entah kau tertarik atau tidak, sayangnya ini pengantar penting untuk topik utamaku di sini. Sabar-sabarlah denganku, meskipun kau anggap membosankan.”

Vika turun dari anak tangga terakhir di tangga panjang, suara sepatu bot militernya bergema keras. Di ujung lorong tua sana tiba-tiba ada pergeseran pintu logam baru yang canggih, mengenali sesuatu yang dibawa Vika dan terbuka otomatis. Udara dingin, bahkan sebanding tangga dingin, mengalir keluar tanpa suara dari pintu masuk, namun Vika tidak menghiraukan dinginnya seketika melewati ambang pintu.

“Keluarga kerajaan adalah keturunan Amethysta terakhir yang memiliki kemampuan Cenayang, dan di waktu yang sama kami adalah penjaga dari banyaknya pengetahuan dan kebijaksanaan yang ‘kan hilang ditelan waktu.”

Cahaya menerangi kegelapan tidak dikenal, bersinar terang dan berkelap-kelip. Tempat itu adalah sebuah kubah besar yang keseluruhannya nampak buatan es, diisi warna biru transparan sejauh mata melihat. Esnya tebal sekali sampai-sampai permukaan batu di belakangnya tidak kelihatan. Biru transparan tanpa ujung, tanpa akhir.

Es-es tak terhingga menjulur ke bawah dari langit-langit kubah, rasanya semacam kapel penyembah berhala, dan jalur es memanjang lebih lagi dari area luas tempat mereka berada. Hampir serasa menjengkelkan, bahkan di sini esnya dilapisi malasit dan batu kecubung dalam bentuk bulu merak yang berkilauan dari permukaan dinding es.

Namun yang langsung menarik perhatian Shin bukanlah kolaborasi antara alami dan buatan. Ditempatkan di sepanjang dinding es kubah serta di kedua sisi lorong, bagaikan formasi kristal, tak terhitung …

… peti mati terbuat dari es.

 Peti matinya berbentuk oval dan dibuat dari perak-kaca. Setiap peti mati berisi sosok berseragam atau dibalut gaun ungu-hitam. Kebanyakan orang dewasa, tetapi beberapa peti mati berisi anak-anak atau bayi. Yang lainnya terdiri dari potongan tubuh saja yang diikat atau sejumlah barang pribadi terkubur menggantikan jenazah. Bagian dalam peti matinya penuh es terlampau transparan, dan lambang unicorn diukir di permukaan kacanya menggunakan laser dililit lapisan tipis es.

Berdiri di antara peti-peti mati, Vika beralih, ujung mantel putihnya bergerak maju.

“Dan sebagai simbol peninggalan itu, jenazah kami diawetkan. Semua orang keturunan Idinarohk diabadikan dalam mausoleum beku ini. Generasi awal kurang lebih sudah jadi mumi sekarang, jelas …. Baiklah.”

Dia menunjuk peti mati yang terletak tepat di belakangnya. Di sebelahnya masih kosong. Dalam peti mati itu ada seorang wanita merentangkan tangannya seakan-akan mengambang di atas air dengan mata tertutup lembut.

“Ini Mariana Idinarohk—ibuku.”

Jenazah wanita yang disegel dalam peti mati itu sangatlah mirip Vika yang berdrii tepat di depannya. Jikalau bukan karena perbedaan usia dan jenis kelamin, satu sama lainnya akan mirip persis. Dia tampak berusia akhir dua puluhan atau tiga puluhan dan mengenakan gaun ungu megah, warna keluarga kerajaan Kerajaan Bersatu, dan di dahinya ada tiara perak dengan potongan batu permata.

Namun tatkala itulah Shin merasakan hal janggal. Tiara perak halus yang dipasang pada jenazah Ratu Mariana. Dari semua almarhum yang dijajarkan di sini, dia seorang yang memakai mahkota. Bahkan Shin yang pengetahuan perhiasannya sedikit, tahu posisinya ganjil. Sebab tiaranya tidak dipakai tepat di atas mata.

Dan tepat di bawah pancaran keperakan tiara, garis merah lurus dipotong di dahi putihnya. Berbeda dengan orang hidup, luka yang ditimpakan mayat takkan pernah sembuh—bagian yang dibelah tak akan betul-betul tertutup.

Vika tersenyum tipis.

“Jadi kau sadar …. Benar. Mayat ibuku hilang otaknya. Karena aku yang ekstrak. Tiga belas tahun lalu.”

Takkan mungkin Shin tidak menyadarinya saat diberi tahu demikian. Legion dikembangkan dua belas tahun lalu. Dan juga …

Mariana.

“Model Mariana …”

“Ya. Kecerdasan buatan yang menjadi basis Legion, kutukan umat manusia. Komponen yang menyusunnya … adalah ibuku.”

Lebih tepatnya, otak ibunya.

Jadi begitu, pikir Shin pahit. Begitulah cara Legion menghasilkan ide absurd mengasimilasi jaringan sraf manusia untuk menggantikan prosesor sentral mereka. Semisal mereka aslinya didasarkan otak manusia, berupaya mereproduksinya, lantas mereka berfungsi sesuai rancangan, pas dengan hipotesis.

Namun tersisa satu pertanyaan.

“… kenapa?”

Pertanyaan satu itu dipenuhi keraguan. Kenapa membuatnya? Mengapa sampai menodai jenazah ibunya sendiri? Kenapa menggunakan ibumu—sekalipun hanya mayatnya—sebagai kelinci percobaan?

Namun Vika hanya mengangkat bahu semata.

“Aku ingin menemui beliau.”

Biarpun mereka seumuran, dan bertentangan dari penampilan anggun Vika, dia bicara dengan suara anak kecil.

“Ibu meninggal setelah melahirkanku … persalinanku sulit, beliau kehilangan terlalu banyak darah—sesuatu yang bisa saja terjadi selama kelahiran apa pun, dan dari yang Ayah selidiki, tidak ada kaitan muslihat jahat. Tapi …”

Setelah berhenti, Vika menatap ibunya dalam peti mati. Tangan putih itu yang barangkali belum pernah menggenggamnya.

“… aku tidak pernah tahu suara ibuku.”

Kata-kata yang mengalir dari bibirnya serba kerinduan akan sesuatu yang tidak pernah dimilikinya—dan kata-katanya bergema dengan kesepian mengerikan.

“Bahkan Cenayang Idinarohk tidak ingat kejadian setelah mereka baru saja dilahirkan. Aku bicara pada Ayah, Kakak Zafar, dan ibu susuku, menanyakan mereka apa yang bisa mereka ingat tentang beliau. Tapi tidak bisa mengisi kekosongan itu.”

“…”

“—tapi kalau begitu …”

Bibir tipisnya lalu tiba-tiba mengerut naik, tersenyum kejam dan seram. Vika nyengir, mata violet Imperialnya bersinar mengenang. Seperti monster. Seperti iblis. Entah bagaimana Shin tahu tiga belas tahun lalu, Vika yang sangat muda sampai-sampai Shin tidak bisa bayangkan dia punya senyum sama di bibirnya.

Senyuman teramat-amat polos.

“Kalau aku tak mengenal beliau—kehilangan beliau —aku cuma harus mengembalikan beliau. Pikirku begitu …. Karena jenazah beliau —otak beliau, seluruh ingatan dan kepribadian beliau masih utuh—disimpan di sini …!”

Khayalan fanatik, sama sekali tidak dibelenggu. Dia tega mencemari jenazah seseorang, menyegel ingatan dan kepribadian mereka dalam mesin, dan dengan melakukannya, melampaui kematian …. Matanya tidak ada rasa bersalah atau ketakutan pada prospek berbuat hal tabu semacam itu. Tidak ada perbedaan antara kebaikan dan kejahatan. Hanya hati amat dingin … yang hal mutlak satu-satunya adalah memuaskan keinginannya.

Perasaan merinding yang belum pernah Shin kenal sebelumnya menjalar di tubuhnya. Dia tidak bisa melihat ekspresinya sendiri tapi tahu betapa parah dan tegangnya. Sesuatu yang berdiri di hadapannya bukanlah manusia, melainkan monster polos dan lugu yang tidak tahu kemanusiaan maupun alasan.

Menelan emosinya, dia bertanya:

“… terus?”

Vika mengangkat bahu santai.

“Aku gagal.”

Orang mati tidak bisa lagi benar-benar berjalan di antara orang hidup. Bahkan Vika tak sanggup membalikkan hukumnya.

“Otak ibu hilang sia-sia, dan aku disalahkan karena menodai jasad ratu dan hak penerusku diambil. Tak apalah; dari awal aku tidak menginginkannya, tapi … di saat yang sama, aku belum menyerah sama ibuku.”

Dia kira mungkin kesalahan Vika adalah dia terlalu muda. Mungkin pengetahuannya kurang, atau boleh jadi ada yang salah pada teorinya—dia gagal karena ada yang keliru. Begitulah cara Vika memandang dunia waktu itu. Bila orang menggunakan metode yang benar, hasil yang didambakan akan didapatkan. Dia polosnya yakin bahwa dunia bekerja dengan cara semurni dan semenyenangkan itu.

Dia percaya bahwa segala sesuatunya akan berjalan lancar. “Jadi aku unggah semua dataku ke jaringan publik.”

Kala itu, dia tidak membayangkan akan menjadi tindakan yang mengguncang keseimbangan militer negara-negara sekitarnya. Dia mungkin saja anak bungsu, tapi masihlah seorang pangeran kerajaan besar. Namanya terkenal meski usianya baru lima tahun. Tulisan-tulisannya tidak tampak atau punya komposisi linguistik sesuatu yang pantas disebut tesis, dan mengingat topik absurdnya mengenai kebangkitan orang mati, kebanyakan peneliti bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Akan tetapi …

“Saat itulah kau menemui Mayor Zelene Birkenbaum.”

“Iya. Beberapa orang penasaran dan aneh menghubungiku dari berbagai negara, dan dia salah satunya.”

Salah satu dari sedikit orang yang walau umur dan gaya penulisannya kekanak-kanakan, mengakui potensi model AI baru ini adalah Zelene. Kala itu, dia tengah meneliti senjata otonom di laboratorium militer Kekaisaran.

“Aku tahu apa yang diteliti Zelene dan yang dipikirkannya saat mengembangkan senjata otonom itu—Legion. Tapi …”

Viktor tak menyangka Zelene membuat senjata itu malah berbalik melawannya. Bahwa Kekaisaran akan mengancam seluruh negara lain. Dia tidak pernah menyadari konsekuensi tindakan untuk memenuhi impiannya akan mengakibatkan—

“… ketika Kekaisaran mendeklarasikan perang, Zelene sudah mati …. Walaupun secara tidak langsung, akulah yang mencuri tanah air dan keluargamu. Kau membenciku gara-gara itu?”

Dia merentangkan tangannya. Dari pakiaan berkibatnya, nampak dia tidak membawa senjata api. Dia sungguh-sungguh tanpa pertahanan, tidak ada pendamping atau pengawal satu pun membelanya. Mungkin itu itikad baiknya. Lagi pula, Vika tidak menyuruh Shin untuk tak membawa senjata api seketika memanggilnya. Dan Shin masih membawa pistol, seperti yang biasa dilakukannya selama bertahun-tahun di Republik.

Namun Shin menjawab, pikirannya masih tertuju pada beban berat yang dipanggulnya:

“… tidak.”

Dia tidak pernah menganggap Republik tanah airnya, dan nyaris tak ingat keluarga atau apa pun dari zaman dulu. Sekiranya Vika berkata itu yang direnggut darinya, maka dia benar, tapi bagi Shin … itu tak lagi terhitung sebagai sesuatu yang hilang darinya. Laksana sama saja tidak ada sedari awal, dan bila demikian, tidak ada yang perlu dibenci …. Tidak ada yang didengki.

“Kurasa tidak dicuri dariku …. Dan meskipun iya, kau tak ada hubungannya.”

“… sekali lagi, kau bicara tak acuh, seolah tidak pernah memerlukan hal-hal itu dari awal. Walaupun kau punya seorang ibu, tidak sepertiku.”

Vika menggeleng kepala sembari tersenyum pahit. Mata violetnya dipenuhi keirihatian dan kecemburuan sesaat, hingga lenyap dalam sekejap.

“Baiklah. Sekalipun secara keseluruhan kau tidak tertarik, ini menyimpulkan pengakuanku. Mengenai topik utama, Pencabut Nyawa tanpa kepala Sektor 86.”

Bagaimana gambaran seseorang perihal ekspresi Vika tatkala itu? Ekspresinya sama-sama memohon dan satunya ngeri. Seakan-akan dia mendambakan penghakiman dan mengharapkan harapan. Seolah-olah menginginkan jawaban penegasan dan kata-kata penolakan serta, kendati senantiasa takut pada itu, dia tetap bertanya:

“Apakah ibuku … masih di sini …?”

Vika mau mendengar kedamaian abadi ibunya tetapi di saat yang sama ingin bertemu dengannya lagi.

Jadi dia memanggilku untuk ini, pikir Shin dengan suasana hati aneh. Kemampuannya mendengar tangisan orang-orang mati yang masih gentayangan sehabis kematiannya. Dengan itu, dia masih bisa tahu apakah ibu Vika masih di sini ataukah sudah mendapatkan kedamaian kematian. Bisa saja dia mencoba membangkitkannya lagi.

Akan dia coba atau menyerah … karena Viktor akan tahu ibunya ada atau tidak.

Apakah harus betul-betul terpaku pada sesuatu itu? Pemikirannya terlintas di benak Shin. Dia tak ingat wajah ibunya, tapi tak punya penyesalan terhadap faktanya. Dan meski demikian, Vika sangat ingin seorang ibu yang suaranya tidak pernah dia dengar, tidak pernah memeluknya.

Saling berhadapan dengan Vika, Shin menggeleng kepala.

“Tidak.”

Kakaknya, Kaie, dan banyak 86 yang gugur terperangkap dalam medan perang, Legion menggunakan struktur otak mereka sebagai prosesor sentral. Biarpun mereka mati dan sepatutnya kembali ke tempat asal, mereka tetap terjebak.

Tidak ada pikiran atau keterikatan tersisa, dan emosinya pastinya tak menyimpan kasih sayang pada mereka. Emosi tidak sanggup membatalkan aturan alam. Dunia … semata-mata tidak baik-baik amat hingga meninggalkan hal sebanyak itu. Tidak baik kepada siapa pun, antara hidup atau mati.

Keinginan Kiriya untuk balas dendam kepada Frederica telah usai dengan kehancuran Morpho. Dan kakaknya—kakak yang telah lama menunggunya—telah tiada begitu kehilangan Dinosauria yang berfungsi sebagai wadahnya.

Tiada. Mereka tidak ada lagi.

“Jenazah ibumu hanyalah mayat. Aku tidak bisa mendengar suara apa-apa dari beliau …. Ibumu tidak lagi di sana.”

“Kalau begitu Lerche bagaimana?”

Shin mengerutkan alis, begitu pertanyaan berikutnya mengejutkannya.

“Sirin bagaimana? Kau bisa mendengar suara mereka, kan? Lerche itu …. Mereka berada dalam tubuh-tubuh itu. Apakah jiwa-jiwa dalam gadis-gadis itu … mau mati?”

“… ya.”

Shin mengangguk, sambil bertanya-tanya kenapa Vika peduli sekali padahal mereka hanya bagian drone baginya. Namun Shin bisa mendengarnya dari mereka. Bukan jeritan atau tangisan kesedihan, namun dia bisa mendengar ratapan pada suara mereka. Suara seoranag gadis yang belum pernah ditemuinya dan tentara asing tak terhitung jumlahnya.

“Mereka terus menangis … berkata mau mati.”

Vika tersenyum samar, sedikit, namun pahit. Seringai mencela diri sendiri.

“… begitu.”

Balas menatap Vika, Shin membuka bibirnya hendak bicara. Seperti biasa, dia tidak memahami atau menempatkan dirinya dalam posisi orang di depannya.

“Boleh aku bertanya sesuatu juga?”

Vika berkedip sekali terlihat kaget.

“… boleh. Jika bisa kujawab.”

“Seingininikah kau mau bertemu ibumu, padahal belum pernah mendengar suara beliau?”

Shin mengerti pria ini tak segan-segan membelah jenazahnya. Tapi tetap saja, itu mayat seseorang, massa dan berat wanita dewasa. Dan tengkorak manusia itu keras. Tetapi Vika yang baru berumur lima tahun harus membawa pergi dan membukanya. Benarkah dia betul-betul sejauh itu tanpa alasan selain hasrat menemui ibunya lagi? Demi seseorang yang suaranya tak pernah didengar, ditemui, seseorang yang ibu dalam nama saja?

Vika kelihatan tercengang sesaat.

“Yah …. Iya. Meskipun cara mengekspresikannya berbeda, anak-anak sayang orang tua mereka. Terutama apalagi mereka tidak bisa menemui mereka …. Biarkan aku ganti bertanya padamu, apakah kau …”

Berhenti, Vika menyipitkan mata.

“… tidak mau bertemu orang tuamu lagi?”

“Tidak ada gunanya menemui orang mati lagi.”

Itulah hukum kosmik tidak bisa diubah yang Shin—yang memiliki kemampuan ekstrasensorik mendengar suara-suara orang mati—ketahui. Dia bisa mendengar suara emreka, tetapi mereka tidak lebih dari jeritan terakhir seseorang. Tak ada dialog, tidak ada komunikasi, tidak terbentuk pemahaman …. Tidak peduli sebesar apa kedua belah pihak menginginkannya.

Orang mati takkan pernah bisa hidup bersama orang hidup

“Begitu. Karenanya, kau tidak mau mengingat mereka.”

Giliran Shin menyipitkan matanya cermat-cermat. Kata-kata itu lagi.

Bukannya kau tak bisa mengingat masa kecilmu.

Kau tidak mau mengingatnya.

“… apa yang membuatmu bilang begitu?”

“Kau tidak tertarik sama silsilah almarhum ibumu. Terlepas segala hal yang direnggut dariimu, kau tak menyimpan dendam. Tapi lebih dari semuanya, ekspresi wajahmu bilang kau tidak mau menyentuh topik itu—betapa bencinya kau sentuh topik itu sendiri. Ibarat menderita luka yang tak ingin kau akui ada di sana.”

“…”

Luka.

Vika tersenyum, seakan-akan membaca hati Shin. Dia tuturkan ucapannya dengan jahat, disertai sikap dinginnya yang hampir seperti belas kasih.

“Tapi kiranya kau tidak keberatan, bukan posisiku sebagai orang asing untuk mengomentarinya …. Secara ekstrem, kecenderungan seseorang untuk mengikuti orang tuanya adalah jalan hidup lain belaka. Tapi seumpama kau bahkan tidak menolak melupakannya … pastinya, kau akan bertemu orang tuamu lagi.”

Catatan kaki:

  1. Fraktur terbuka adalah tulang patah yang jelas terlihat melalui kulit. Dikenal pula sebagai fraktur majemuk, jenis fraktur ini membawa ancaman kontaminasi dan infeksi.
  2. Laburnum, biasanya disebut golden chain (pohon rantai emas), adalah genus dari dua spesies pohon kecil dalam sub-famili Faboideae dari famili polong-polongan Fabaceae. Kedua spesies tersebut adalah Laburnum anagyroides, – yaitu laburnum yang biasa ditemui pada umumnya, dan Laburnum alpinum, – laburnum alpin (alpine laburnum). Mereka adalah tumbuhan asli pegunungan di daerah Eropa selatan, tepatnya di sekitar Perancis hingga Semenanjung Balkan.
  3. Passiflora adalah genus tumbuhan yang terdiri atas 500 spesies, merupakan tumbuhan memanjat yang berasal dari Amerika. Tumbuhan ini bisa digunakan sebagai tanaman hias (Passiflora vitifola, Paasiflora racemosa) dan sebagai makanan (Passifora edulis). Pada Passifora edulis, bijinya mempunyai rasa segar, diminum dalam sirup dan limun.
  4. Malasit (bahasa Inggris: Malachite) adalah suatu mineral karbonat hidroksida tembaga, dengan rumus kimia Cu2CO3(OH)2. Mineral hijau buram ini terikat mengkristal dalam bentuk sistem kristal monoklin, dan sering kali bentuknya bergugus (botryoidal), berserat, atau massa stalagmitik, dalam retakan dan ruang yang jauh di bawah tanah di mana terdapat genangan air dan cairan hidrotermal untuk terjadinya presipitasi kimiawi. Potongan kristal individual jarang ditemukan namun ada yang berbentuk prisma-prisma ramping atau menjarum (asikular). Bentuk semu (pseudomorf) yang menyerupai kristal azurit tabular atau gumpalan juga dijumpai.
  5. Warna hijau segar dengan kilauan yang indah.
  6. Batu mulia yang terdapat dalam berbagai macam warna dari yang tembus pandang hingga kedap cahaya, terbentuk dari silikat berair.
  7. Ikat pinggang Sam Browne adalah ikat pinggang luas, biasanya kulit, disokong oleh tali lebih sempit yang menyerupai diagonal di atas bahu kanan.
  8. Pisau pemenggal kepala yang digunakan di penjara-penjara Prancis, terkenal karena dipakai sebagai alat eksekusi hukuman mati bagi Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette.
  9. Petani budak di sini maksudnya adalah serfs, memiliki kedudukan tersendiri dalam masyarakat feodal. Atas perlindungan yang telah diberikan, petani budak akan tinggal dan bekerja di ladang milik tuan tanah. Dalam hal ini, tuan tanah berperan sebagai apa yang disebut dengan manor (seperti ‘mandor’ dalam bahasa Indonesia). Prinsipnya adalah “serf bekerja untuk semua, kesatria dan baron bertarung untuk semua, dan agamawan berdoa untuk semua.” Meski kedudukannya yang rendah, serf masih memiliki beberapa hak tertentu terkait ladang dan hak kepemilikan tertentu, berbeda dengan slave (budak). Dan dalam cerita ini, mungkin ga cuma bercocok tanam, tapi kerja dalam industri juga bisa, serf-nya sepertinya tidak sepenuhnya serf, hanya “kelas pekerja” saja tapi tidak seratus persen jadi petani.
  10. Mausoleum merupakan bangunan berdiri bebas eksternal yang dibangun sebagai monumen yang melampirkan ruang interasi atau ruang pemakaman orang.