86 JILID 5 Epilog

Posted on

BUNGA TIDAK BERMEKARAN DI TANAH LAPANG BERSALJU

   

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

“… Paduka.”

Orang biasa tulen pasti akan trauma melihatnya, tapi sedihnya, Vika tak merasakan apa-apa. Selagi Vika melihat Lerche yang berbaring tanpa berdaya, Vika merasa dirinya benar-benar monster berbentuk manusia dan tidak lain dari itu.

Berbaring tanpa kekuatan dekat sepatu bot militer Vika, di atas ubin batu yang ditumpuk salju cair, adalah Lerche. Dia tersisa separuh bagian atasnya saja dan mekanisme perak bagian dalamnya terekspos selagi cairan peredaran darah biru muda meluas di bawahnya sampai menjadi genangan.

Sama seperti dirinya dulu.

Menatapnya, Vika bilang, “Berhenti terus-terusan hancur, dasar anak tujuh tahun.”

“Dimengerti. Saya sungguh malu …”

Dia menganggap teguran terlalu masuk akal Vika entah bagaimana hebatnya mampu melemaskan bahunya kendatipun hanya tersisa separuh tubuh bagian atas. Sirin tak merasakan sakit. Karena mereka itu boneka mekanis yang gampang mengganti bagian rusak, mereka tak memerlukan sistem alarm makhluk hidup, tubuh tidak tergantikan yang digunakan untuk memperingatkan tekanan. Jadi gadis mesin jam yang berbaring di tengah salju dan reruntuhan itu lagi tersenyum, tidak mengindahkan kaki hilangnya, darah biru menyebar di sekelilingnya, atau organ dalam nampaknya.

Seperti dulu.

“Anda tidak apa-apa, Paduka?”

“Jelas.”

Karena kau menyuruhku melindunginya. Jadi sampai aku melindungi rakyat negara ini, hingga perang Legion berakhir, aku tidak boleh mati. Dan setelah itu … aku akan terus hidup sampai akhir …. Walaupun tidak memiliki harapan atau impian.

Karena aku percaya … itulah yang Lerche inginkan, gadis itu yang telah mendahuluiku biarpun seumuran.

“Ayo pulang, Lerche …. Menggendongmu dalam keadaan ini sebenarnya akan membuat segala sesuatunya lebih mudah, tapi berpikir mesti merakitmu lagi dari awal membuatku pusing.”

“Saya sungguh malu—”

“Cukup sudah.”

“Dan, um … jika bisa, akan sangat saya hargai kalau Anda sedikit memperbesar volume suara ke dada.”

“Apa nih, kebangkitan seksualmu?”

Mendesah, Vika mengulurkan tangan dan meraih belakang kepala Lerche, membuka kunci yang mengikat kepalanya ke leher. Vika mengangkat kepalanya. Kepala manusia lebih berat daripada, katakanlah, kucing, tapi meski dia ini bangsawan, sebagian besar hidupnya dihabiskan di medan perang. Masih lebih ringan ketimbang senapan antimateri1.

Sebagai boneka mekanik, para Sirin bahkan takkan hancur walaupun sisa kepalanya saja. usai memastikan Lerche otomatis mati ketika hilang kontak dengan sistem pendingin yang disimpan dalam dada, Vika berbalik, manset di seragamnya berkibar tertiup angin. Tangannya memegang kepala, dia melangkah melalui tudung dewi salju yang mengamuk-amuk jauh melampaui musimnya.

Rasanya seperti adegan yang tergambarkan langsung dari Salomé2, dia catat sendiri tanpa perasaan apa-apa.

Tapi, meski begitu …

“Aku belum pernah menciummu.”

Baik gadis meninggal yang menjadi basis Lerche ataupun gadis yang sedingin batu nisan ini.

Tidak seorang pun di sana mendengar kata-kata monolognya yang disambar angin.

Meninggalkan Juggernaut-nya, Rito melihat ke rute pengepungan Sirin lagi. Beberapa rekannya juga melihat ke jalan tidak natural dan aneh itu yang diukir mayat. Bertahan sampai gugur dalam pertempuran lalu hidup hingga akhir adalah harga diri 86. Itulah yang mereka yakini selagi bertarung. Merangkulnya sebagai identitas mereka, sejauh ini bertarung bersama itu, dalam pikirannya tak menyimpan hal lain.

Tapi …

Tidak susah-susah menyembunyikan ketakutannya dan perasaan merinding yang muncul dari dalam diri, Rito berpikir: Apa bedanya dari bagaimana Sirin tertawa selagi bergegas menuju akhir mereka dalam mars kematian ini …?

Rito selalu takut pada Sirin. Semua rekan-rekannya, takut akan beberapa halnya. Mereka menyeramkan. Mereka aneh sekali, dan 86 hanya bisa melihat mereka dari jauh. Yang menakutinya adalah ide gadis-gadis meresahkan ini membayangkan penghujung jalan mereka. Firasat samar di akhir pertempuran panjang, mereka ditakdirkan mati di atas mayat-mayat sendiri.

Barangkali selama ini kami serupa, semenjak Sektor 86. Dan kami terus saja mengumbar harga diri. Menyerbu kematian kami seperti mereka. Sembari tertawa-tawa.

Dia melihat Raiden berdiri di sampingnya. Dia bertarung di hanggar bawah tanah, jadi dia meringis begitu kali pertama melihat rute pengepungan. Dia melontarkan sejumlah bahasa gaul Federasi yang tak dimengerti Rito.

“Jadi ini yang membuat celana dalammu basah.” “Wakil Kapten Shuga …. Aku—” “… jangan.”

Raiden memotongnya. Telapak tangannya lalu jatuh ke bahu Rito artinya perhatian. Tapi kontras, ucapannya …

“Semua orang mungkin memikirkan hal sama. Tapi jangan utarakan …. Kau tidak perlu meragukan jalan hidup yang mengantarmu sampai hari ini.”

Baju penerbangan yang menutupinya bahkan tidak membiarkan kehangatan tangan Raiden mencapainya.

Kepala hancur Ludmilla menggelinging di salju sebelah rute pengepungan. Shin menatap tanpa kata sisa-sisa gadis sunyi itu. Di tengah rongsokan-rongsokan Alkonost, Juggernaut, dan Legion hancur, bocor campuran mesin mikro cair, sirkulasi subkutan, dan bermacam-macam minyak yang tidak dikenalnya, membuat genangan warna-warni aneh.

Saat kepala Ludmilla menggelinding, baik rambut merah mencolok dan kulit buatannya terkoyak, menjadikannya sebatas sisa-sisa abu-abu metalik. Seketika Shin ambil, retakan di tengkoraknya melebar, meremukkannya. Cairan transparan berwarna pelangi berada di intinya—prosesor sentral—dan darah biru tumpah ruah dari tengkoraknya bak anak sungai deras lalu menggenang di tanah. Shin tidak lagi bisa mendengar tangisan sedu atau ratapan darinya.

Shin terbiasa melihat mayat manusia. Sebagaimana yang mereka katakan pada Dustin selama operasi di Republik. Dan mereka pun sama-sama sudah biasa melihat kepala terpenggal kehilangan separuh wajahnya. Kejadian lumrah, pemandangan yang disaksikan sejak skuadron pertamanya di Sektor 86.

Lantas melihat Ludmilla, seorang Sirin yang dari awal tidak hidup, dengan darah yang berbeda penuh, rusak …. Melihat banyaknya dari mereka yang rusak harusnya tidak mengganggunya.

Namun … itu menyakitkan. Teramat menyakitkan.

Ya, sebetulnya itu sulit. Sedari awal sudah sukar. Dia mengingat kapten dari skuadron pertamanya yang sering menjaganya dan repot membantunya karena dia anggota baru termuda …. Dia ingat mengambil kepalanya yang terpenggal dan setengah hancur.

Kapan dia terbiasa dengan ini? Tatkala mulai menganggap fakta orang-orang mati sebagai hal biasa? Sebagai sesuatu yang tidak dibilang tak umum? Kala dia mengikis sedikit demi sedikit bagian dirinya … tanpa sadar?

Bagian-bagian orang mati yang terjebak dalam bekas Ludmilla sekarang telah tiada. Menghilang seolah dihancurkan, dan tak tersisa lagi sisa-sisanya. Paling tidak, Shin berharap demikian yang terjadi. Kilas balik, dia sering bertanya apakah mereka bersedia mati lagi. Bahkan tanpa pernah merenungkan dinginnya pertanyaan tersebut.

Kalimat yang dia dengar pernah dikatakan seseorang terbesit di benaknya. Orang itu mengatakannya di depan muka Shin. Yang lainnya lewat Para-RAID. Sesekali tidak sengaja mendengar orang lain mengatakannya. Masuk ke statis nirkabel. Dari waktu ke watku, dia mendengar kalimat itu.

Dasar monster.

“… iya.”

Itu pas, pikir Shin selagi melihat rute pengepungan. Rute pengepungan paling aneh yang pernah dibuat, dari rongsokan Legion, Alkonost, dan boneka mekanis gadis-gadis buatan. Shin harus menginjaknya dan menyeranngya, karena jika tidak, semua orang akan mati. Dia kudu menginjak-injak gadis-gadis tersebut untuk memastikan takkan ada orang lain akan mati.

Dan hal sama berlaku kepada semua orang di manapun. Republik menginjak 86, Kerajaan Bersatu menginjak Sirin, dan Federasi menginjak tentara anak-anak, Vargus, serta Maskot. Bahkan mereka yang diinjak-injak terus melangkahi kematian orang lain demi bertahan hidup di dunia ini.

Kalau begitu, andaikata inilah yang harus mereka lakukan untuk bertahan hidup

… manusia semuanya monster.

Mereka semua.

Kilau tipis salju terpantul dari turet 88 mm Juggernaut yang duduk di atas rute pengepungan, dan pertama kalinya Shin bisa melihat cahaya itu sepenuhnya dan seutuhnya buruk.

“… Shin!”

Selagi Shin berdiri diam, sebuah suara menjangkau telinganya. Dia tak bisa mendengar suara langkah kaki apa pun. Gara-gara ditelan salju menumpuk di bekas-bekas pertempuran, hanya suara seperti lonceng perak mencapainya.

Tersandung di rute bersalju tak familier, Lena berlari menghampiri, memegang tubuhnya selagi terburu-buru. Setelan penerbang tebalnya tak menghantarkan panas, jadi tidak bisa Shin rasakan kehangatan darinya.

“Nanti kau kotor kalau menyentuhku.”

“Maksudmu apa …?!”

Dia sepertinya buru-buru datang dengan panik. Seragam Lena acak-acakan, seakan-akan baru selesai setengah ganti pakaian, dia pun tidak mengenakan jaket yang melingkupi blusnya. Cuma mantel. Dia kemungkinan menjatuhkan topi militernya di suatu tempat dan paling luar biasanya dia berlari di atas tanah bersalju memakai pantofel.

“Apa sih yang kau pikirkan, ke sini sendirian? Bisa jadi masih ada Legion di sekitar sini …!”

“Tidak ada apa-apa di sini …. Kau sudah tahu itu.”

Lena tak memberi jawaban. Menggantikan kata, jari-jarinya mencengkeram lebih erat. Ibaratnya bilang Shin mungkin saja menghilang misal dia lepaskan. Shin ingin menutur apa sebabnya, tetapi suaranya tidak mau keluar.

Lena mestinya melihat pendirian rute pengepungan buatan Sirin. Dan dia harusnya tahu Divisi Penyerang wajib memanjat ini untuk meneyrang. Lantas mengapa Lena mendekatinya, tanpa rasa takut? Kenapa tetap bersama 86 yang dipangkas emosinya di medan perang sampai-sampai manusia normal sekarang ini hanya menganggap mereka monster?

Dari awal, Lena mengenal apa itu medan perang. Dia mempertahankan garis pertahanan dua bulan lamanya selama serangan skala besar di medan perang Republik tanpa membuat persiapan tempur karena yakin perang akan berakhir tak lama lagi, dengan harapan esa samar bahwasanya bantuan barangkali akan datang suatu saat.

Lena mundur berkali-kali walau secara bertahap didesak ke dinding. Bahkan Shin yang terbiasa berperang, tak sanggup membayangkan betapa putus asanya mempertahankan lini pertahanan tanpa harapan itu, tapi Lena benar-benar mengetahuinya.

Dia tahu bahwa sepuluh juta warga Republik Alba telah dibantai …. Saudara-saudara dan rekan senegaranya …. Dia tahu medan perang adalah tempat akan kematian tanpa makna, tanpa sesuatu untuk mengharapkan martabat atau kesucian hidup. Dia tahu kejahatan dan keburukan yang bisa orang-orang lakukan kala terpojok.

Jadi kenapa? Bagaimana?

Kok mampu dia tidak menyerah pada dunia ini? Bagaimana dia percaya pada nilai yang bahkan tidak lebih bermakna dari dongeng, bahwa dunia adalah tempat indah …?

Lena bilang 86 menyerah pada dunia karena kebaikan. Bahwa membenci lebih mudah daripada menyerah. Melepaskan harga diri mereka akan jauh lebih sederhana. Dalam hal ini, bagaimana …? Bisa-bisanya dia membawa idealisme semanis itu sampai-sampai tak satu orang pun kuat mendengarnya lagi …?

Kenapa? dia bertanya-tanya.

Kenapa kau bertahan? Mengapa kau terus melanjutkan hidup sambil memegang teguh harapan itu? Melepaskan semuanya akan jauh lebih mempermudah semuanya, lantas kok bisa kau terus mengharapkan itu?

Tidak datang jawaban apa-apa. Dan Shin belum cukup baik mengenalnya hingga menemukan petunjuk apa pun untuk menyimpulkannya. Dua tahun lalu, dia mengucapkan selamat tinggal kepada Lena ketika pergi menjalani misi Pengintaian Khusus, lalu dia bertemu lagi beberapa bulan silam. Dia tak tahu pertempuran apa yang Lena lalui. Entah apa yang dirasakannya, apa yang dia ratapi, dia menghargai apa, dirinya berjuang demi harapan apa. Hasrat apa yang terus mendorongnya untuk berjuang.

Shin bahkan tak pernah berpikir ingin menanyakannya. Tidak pernah mengira dia ingin tahu. Dia yakin telah mendapatkan sesuatu dengan bertemu kembali dengan Lena, tapi … begitu bertemu, dia tak berusaha memahaminya.

Pertama kalinya, Shin tersadar:

Aku tidak tahu apa-apa tentangnya.

 

Catatan Kaki:

  1. Senjata antimateri adalah sebuah senjata yang menggunakan antimateri sebagai sumber tenaga, bahan pendorong atau peledak. Secara teoretis senjata ini dapat dibuat, tetapi saat ini belum dapat diproduksi karena biaya produksi antimateri yang sangat tinggi (ratusan triliun dolar Amerika Serikat per gram) dan juga belum adanya teknologi yang mampu menyimpan antimateri dalam jumlah yang besar (karena antimateri akan saling menghancurkan dengan materi apabila keduanya saling bersentuhan).
  2. Salome adalah anak Herodias dari suami bernama Herodes Filipus (saudara Herodes Antipas, keduanya anak Herodes Agung). Lalu Herodias diperistri oleh Herodes Antipas. Sehingga Salome bisa disebut sebagai anak tiri Herodes Antipas. Herodes Antipas adalah raja yang telah memerintahkan supaya kepala Yohanes Pembaptis dipenggal. Hal ini dilakukannya karena permintaan Salome setelah melakukan tarian pada waktu ulang tahun Herodes di depan para tamu terhormatnya. Kisah ini terdapat dalam Markus 6. Namun, nama Salome tidak disebutkan dalam perikop Alkitab tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *