86 JILID 4 BAB 3

Posted on

MAJU MENUJU MUSUH

Penerjemah: Daffa Nier

“—baiklah, mari jelaskan operasinya.”

Ruang pengarahan kecil Liberté et Égalité diisi penuh. Berdiri di depan layar holo adalah Lena sang komandan. Di depannya adalah komandan unit, Grethe; lima perwira staf; komandan ke tujuh skuadron yang membentuk unit; anggota-anggota regunya sendiri; Annette, yang tengah memeriksa persoalan lain selama operasi; dan entah kenapa, satu orang Maskot.

“Skuadron berikut akan berpartisipasi dalam operasi: Spearhead, Brísingamen, Nordlicht, Lycaon, Thunderbolt, Phalanx, dan Claymore. Kita akan mengerahkan tujuh skuadron yang menyusun Divisi Penyerang 86.”

Skuadorn Spearhead dikomandoi Shin dan para penyintas mantan unit pertahanan pertama distrik pertama. Skuadron Brísingamen dikomandoi Shiden dan dikepalai mantan Kesatria Ratu. Skuadron Nordlicht dikomandoi Bernholdt dan satu-satunya skuadron yang seluruhnya terdiri dari tentara Vargus.

Letnan Dua Yuuto Crow yang mengepalai front timur seperti Shin dan Raiden, memimpin skuadron Thunderbolt, dan Letnan Dua Rito Oriya mengepalai skuadron Claymore. Letnan Dua Reki Michihi dari front utara mengkomandoi skuadron Lycaon, sementara Taiga Asuha dari front selatan memimpin skuadron Phalanx. Tujuh skuadron yang totalnya 168 tentara.

Akan tetapi, dibanding pengintaian Shin yang telah mendeteksi pertahanan Legion berjumlah pasukan seukuran satu resimen, jumlah Divisi Penyerang tampaknya serasa tidak memotivasi. Mayoritas Legion kemungkina tipe cepat Ameise dan Grauwolf, sekaligus ranjau-ranjau swagerak dan tipe Artileri Antitank—Stier—yang mahir dalam penyergapan.

“Tempat operasinya adalah terminal stasiun pusat bawah tanah Charité dan fasilitas sekitarnya.”

Peta holografik tiga dimensi terminal ditayangkan. Peta fasilitas bawah tanah masif bertujuh lantai, maksimal kedalamannya mencapai 105 meter di bawah permukaan tanah dan melebar lima kilometer ke timur dan barat.

Gumam, “Wah, merepotkan amat …” menjalar di antara para Prosesor. Penghubung ruangan utama1 yang dimaksudkan untuk menyalurkan sinar matahari, memanjang antar lantai dari atas sampai bawah. Aula utama berbentuk kubah menjadikan penghubung ruangan sebagai bagian tengahnya, dan dari sana jalan lintasan serta platform menyebar bak jaring laba-laba, ditambah terowongan kereta bawah tanah memanjang horizontal dan vertikal. Termasuk jalur peralihan2 dan jalur kereta api3, sekaligus rute-rute pelayanan4 tak terhitung jumlahnya, menjadikan medan perang sangat sempit dan kompleks. Ditambah lagi ada tujuh lantai.

Yang makin memperumit semuanya, setiap struktur lantai tidak dibangun bersumbu5 sama seperti lantai atas-bawahnya.  Lantainya dibangun spiral searah jarum jam di sekitar penghubung ruangan utama, dengan fasilitas stasiun terminal lantai pertama sampai tujuh ditempatkan 180 derajat jauhnya dari satu sama lain. Potret Labirin Bawah Tanah Charité yang terkenal, tersohor karena menolak akal sehat manusia.

“… apa warga negara Republik itu tolol atau semacamnya …?” bisik Rito dengan wajah datar, mendesak Taiga yang duduk di sebelahnya menonjok kepalanya. Jujur saja, Lena merasa sama.

“Tujuan pertama kita adalah inti kendali Admiral di aula utama di blok kelima lantai lima. Tujuan kedua adalah inti kendali Weisel sebelah blok empat lantai keempat bagian utara …. Menurut pengintaian Kapten Nouzen, spekulasinya adalah kedua Legion tidak dapat pindah dari posisi mereka.”

Tipe Pembangkit Listrik dan tipe Reproduksi Otomatis, sesuai yang disiratkan namanya, besar, fasilitas Legion seukuran kota. Itu mencegah mereka bergerak dalam fasilitas bawah tanah Republik. Mereka barangkali menggunakan dinding fasilitas bawah tanah sebagai pengganti rangka, mengubah seluruh area menjadi unit Legion.

“Selain itu, diperkirakan fasilitas pembangkit fusi nuklir Weisel terletak di tangki air darurat lantai ketujuh. Tidak usah mendekati fasilitas itu …. Lebih tepatnya, jangan ke bawah sana. Tergantung pengaturan tempat itu, ada risiko tinggi paparan radiasi.”

Berkat kemampuan Shin, mereka dapat menyimpulkan tidak ada Legion di lantai ketujuh sampai ke bawahnya. Alat elektronik Legion kemungkinan tak mampu menahan radiasi parah. Sebab tujuan operasinya bukan perebutan terminal sepenuhnya, persyaratan minimal penyelesaiannya adalah kehancuran Admiral di lantai kelima. Legion kombatan lain akan mundur dan pada akhirnya berhenti berfungsi. Karenanya, tidak ada faedahnya turun ke bawah lantai keenam.

“Skuadron Spearhead dan skuadron Claymore akan menyusup ke bangunannya dari permukaan, lewat penghubung ruangan utama stasiun pusat. Skuadron Nordlicht dan skuadron Thunderbolt akan mulai bersama-sama menyusup dari terowongan bawah tanah yang terhubung ke blok selatan lantai pertama. Spearhead dan Nordlicht akan menangani invasinya, sementara skuadron Claymore dan Thunderbolt akan menjadi bantuan.”

“Diterima.”

“Skuadron Brisingamen akan tetap di permukaan dan menjaga markas besar operasi. Skuadron Lycaon tetap menjadi pasukan cadangan. Skuadron Phalanx—”

“Aku akan meminjam mereka, kalau kau tidak keberatan,” sela Annette secara terbuka.

Sebagai penasihat teknis Resonansi Sensorik, dia menerima permintaan markas besar pasukan ekspedisi bantuan tuk menyelidiki suatu masalah. Tak berkaitan dengan operasi ini, namun keadaan meminta mereka menyelesaikan tujuan ini bersamaan.

“Baiklah …. Terlebih lagi, area operasinya kini dalam kendali Legion. Sebelum operasi dimulai, pasukan ekspedisi bantuan akan mengambil alih area sejarak sepuluh kilometer yang mengelilingi bangunan stasiun pusat. Selagi diambil alih, Divisi Penyerang akan mengeksekusi operasi ini …. Waktu blokadenya adalah delapan jam. Kita harus mengeliminasi targetnya dalam jangka waktu tersebut.”

Ujung-ujungnya, Divisi Penyerang harus mengurus bagian operasi itu juga, namun mereka sekarang ini kurang tenaga dan senjata untuk melaksanakannya.

“Infanteri lapis baja yang disediakan pasukan ekspedisi bantuan kepada kita akan mengurus titik-titik yang direbut dalam fasilitas dan relai radio menuju markas besar operasi. Bisa serahkan jalur komunikasi kepada mereka …. Itu saja. Ada pertanyaan?”

Berdiri di depan barisan kapten regu, Shin mengangkat tangan.

“Boleh bertanya sesuatu, Kolonel?”

“Silahkan, Kapten Nouzen.”

“Cobalah untuk jangan terlalu mengandalkan pengintaianku selama operasi ini.”

Lena berkedip sekali.

“Mengerti …. Tapi kenapa?”

Shin meringis sedikit.

“Sederhananya, masalah pengalaman … aku bisa mendeteksi posisi mereka dalam bidang dua dimensi dengan tepat, namun di lingkungan tiga dimensi …. Aku tak terlalu yakin pada kemampuanku untuk menentukan posisi mereka pada ruang vertikal.”

Jugggernaut yang Shin dan para 86 pilot adalah senjata permukaan. Walau mereka naturalnya berpengalaman dalam pertarungan di area-area perkotaan dan daerah pegunungan dengan berbagai tingkat ketinggian, kedua unit mereka dan musuh pada dasarnya selalu berada di darat—berdiri di permukaan sama satu bidang. Para Prosesor—termasuk Shin tentu saja—tidak berpengalaman bertarung di medan perang yang ada banyak konfrontasi di berbagai tingkat ketinggian.

“Dan lagi, karena kita bertarung di topografi sempit, bisa kita perkirakan beberapa pertempuran kecil terjadi di antara peleton-peleton lebih kecil. Melacak seluruh situasi mereka dan memperingatkan masing-masingnya akan … sejujurnya, agak sulit.”

“Kau tentu tidak berguna di momen-momen paling penting, ya, Pencabut Nyawa kecil?”

Usik Shiden, meski Shin mengabaikannya. Barangkali mereka benar-benar kucing dan anjing, namun mereka berdua sering bertengkar. Lena kaget mereka bisa terus mendebatkan hal-hal mini. Sudah seperti itu semenjak hari mereka bertemu. Ekspresi Shin biasanya tanpa emosi sampai-sampai rasanya hampir meremehkan, tetapi sekarang dia menunjukkan ekspresi kekanakan pas usianya, dan itu membuat Lena diam-diam menikmati perkelahian kecil mereka.

“Skuadron Brísingamen-ku entah bagaimana akan berhasil. Cyclops-ku adalah tipe sensor yang diperkuat, jadi aku bisa mengawasi sisi sampingku pula.”

Mata setengah terpejamnya menatap mereka berdua bolak-balik, Frederica angkat bicara, “Aku akan melacak status setiap skuadron bersama badut-badut ini. Aku barangkali tidak tahu posisi musuh, tapi mengetahui posisi unit kita mungkin memungkinkan kita untuk mempertahankan kendali situasinya.”

Gadis ini, Maskot regu, punya kemampuan misterius mengetahui masa kini dari nama dan wajah orang-orang yang dia ketahui.

Shin dan Raiden tidak membicarakan apa-apa tentangnya, dan gadis itu sendiri nampaknya membenci Lena yang tak tahu apa yang dilakukan gadis kecil sepertinya dalam militer. Namun kesampingkan itu, Lena tersenyum kepada gadis kecil yang beberapa kepala lebih pendek dari orang lain, meskipun sudah mengenakan topi militernya.

“Aku akan mengandalkan bantuanmu, Ajudan Rosenfort.”

Frederica buang muka seraya bilang, “Hmph.” suasana aneh mengisi ruang pengarahan, dan Grethe serta para perwira staf lain mati-matian berjuang menahan tawa mereka.

Kepala Kurena memiring bingung.

“Aku tidak keberatan menyerbu masuk, tapi tidak bisakah kita jatuhkan salah satu bom yang menembus tanah terus meledak itu? Salah satu dari itu …. Namanya apa, ya? Bunker Busters6?”

Bunker Buster—peledak tembus bawah tanah. Sesuai implikasi namanya, istilah umum untuk bom besar yang menembus bangunan defensif yang dibangun di bawah tanah dan meledak setelah menembus masuk ke bangunannya, sangat efisien membunuh personelnya. Jarak penembusannya bervariasi dan tergantung keadaan, mampu menembus enam puluh meter beton yang diperkuat. Meskipun bunker buster tidak cukup kuat meledakkan terminal stasiun pusat bawah tanah besar Charité sekali ledakan, menjatuhkan beberapa bunker buster jauh lebih cukup untuk menghancurkan inti kendali.

Kebetulan, sementara satu bunker buster tidak dapat dimuat senjata permukaan sebab prosedur operasi ini, mereka tahu efektivitasnya dari film monster yang kepala staf berikan kepada mereka.

Segunung kecil data media diputar setiap harinya di kafetaria dan televisi ruang tunggu. Hadiah cukup populer di kalangan 86 yang kurang hiburan semacam ini di masa muda mereka.

Lena menggeleng kepala menyangkal.

Bunker buster adalah bom yang dilengkapi hulu ledak berat dan harus dijatuhkan dari ketinggian terlampau tinggi supaya memenuhi persyaratan tingkat kecepatan, agar dapat menggunakan energi kintetik tersebut untuk penembusan. Kita tidak bisa memobilisasi sembarang jet peledak untuk menjatuhkannya di saat Legion punya keunggulan udara.”

  Kurena memberengut.

“Uhh …” Raiden menambahkan dari samping, “seandainya menjatuhkan sesuatu yang berat sekali dari atas, lalu menggali ke dalam, tapi jika dijatuhkan dari ketinggian rendah, bahkan tak meninggalkan bekas ledakan, benar? Hal yang sama di sini. bunker buster harus dijatuhkan dari tempat tinggi sekali biar bisa menembus seperti dalam film-film.”

“O-oh …”

“Karena itulah satu-satunya pilihan kita adalah menyerbu menggunakan Juggernaut …”

Shiden tersenyum tipis.

“Aku suka itu. Hei, Penakluk Wanita, ayo lomba siapa cepat mengalahkan Admiral lebih dulu: skuadron Spearhead-mu atau skuadron Brísingamen-ku.”

“Brísingamen diharuskan mempertahankan pangkalan. Apa kau akan mengabaikan misimu?”

“Bisa kau serahkan kerjaan itu ke pak tua skuadron Nordlicht. Tugas menjaga permukaan terlalu membosanku buatku.”

“… aku tak keberatan mempertahankan Mabes, tapi jangan seret aku ke urusanmu picikmu …”

Mereka berdua tidak mengindahkan gumam Bernholdt.

“Aku tidak bisa membiarkan idiot yang meninggalkan misinya seenaknya menyusup. Duduk manis dan berjagalah layaknya anjing baik.”

“Waduh,” bisik Theo. Tidak nampak di wajah Shin, tapi dia terlihat kesal padanya. Menghembus napas keras-keras seolah mengganti topik, Shin bicara sementara Shiden masih nyengir:

“Mengenai jalur infiltrasi dari terowongan, ada Legion di semua rel. Mereka hampir tidak bergerak, jadi kemungkinannya Löwe atau Stier siap menyergap …. Apa ada cara untuk mengurus mereka?”

Lena mengangguk dingin.

“Aku sudah memikirkan penanggulangannya.”

   

Di atas trek dalam jalur ketujuh menyerupai cincin di stasiun pusat Charité, dalam kegelapan terowongan yang menurun menuju lantai pertama, satu Löwe berbaring menunggu di antara bongkahan-bongkahan puing yang terbawa masuk.

Mematuhi misinya untuk tetap berjaga-jaga terhadap musuh yang mungkin atau mungkin tidak datang, ia was-was, tak pernah lelah mematuhi tugasnya.

Bahkan sulit memutar turetnya dalam terowongan satu trek sempit ini, tetapi menguntungkannya soal bertahan. Terowongan sempit artinya musuh akan senantiasa datang dari satu arah dan tidak dapat menghindar ke sisi samping. Dan bila mana musuh mendatangkan infanteri, mereka akan kelewat rapuh; satu selongsong serba guna akan menyapu mereka semua.

Walaupun Löwe-nya dihancurkan, ledakan selongsongnya akan meruntuhkan terrowongan, dan jika selongsongnya tak meledak, rangka besar Löwe akan menghalangi kemajuan musuh. Dan selagi musuhnya sibuk menghilangkan rintangan, bala bantuan akan mendatangi mereka.

Posisi kukuh, posisi yang mustahil ditembus.

Dan kala itu, sebuah cahaya bersinar dari sisi lain terowongan menuju permukaan, diikuti getaran keras dan dentuman menggelegar. Sesuatu mendekat dengan sangat cepat di sepanjang trek lingkaran tempat Löwe mengintai. Sensor Löwe punya kemampuan deteksi rendah, tetapi masih mengetahui apa yang segera terjadi.

Benar-benar bergerak secepat itu. Maju dengan karakteristik tajam dan menggemuruh yang menembus udara ruang tertutup ini, kepalanya terlebih dulu berputar ke bawah. Yang muncul di depannya adalah kereta bawah tanah sepuluh gerbong beralumunium paduan dengan kereta seret yang menggantikan rodanya, lalu bagian dalamnya diisi puing-puing serta kayu bekas. Didorong pendorong roket, menggelincir di sepanjang rel logam, meninggalkan percikan api di belakangnya selagi melaju dengan kecepatan mengagetkan. Bobotnya yang melebihi seratus ton menghantam lima puluh ton Löwe. Löwe itu menahan energi kinetik masif sesaat.

Hanya sesaat.

“Aktivasi semua kereta seret roket telah dikonfirmasi—seluruh selongsong massa bawah tanah diluncurkan, penghapusan rintangan telah dikonfirmasi, Kolonel Milizé.”

“Diterima.”

Melalui Para-RAID, skuadron melihat Letnan Dua Erwin Marcel, perwira yang memimpin Vanadis, memberikan laporannya, dan suara bak lonceng perak Lena menanggapinya. Merasakan getaran bergemuruh dari dalam terowongan meski sudah berada di dalam Wehrwolf, Raiden mengerang ketika mendengar suara Handler-nya yang terdengar lebih kaku dari dua tahun lalu.

“… penguat roket diikat gerbong kereta tanpa awak yang tidak terpakai lalu meluncurkannya ke semua jalur untuk menembus Legion yang bersiap menyergap, ya?”

Terowongan kereta bawah tanah dibangun tebal untuk memperhitungkan risiko tergelincirnya kereta, jadi sekurang-kurangnya, terowongan itu takkan runtuh mudah … tapi meski begitu, ini rasanya agak ekstrim.

“Nah, Shin …. Kau yakin kolonel ini putri ngambekan sama yang mengkomandoi kita di Sektor 86 sama dulu …?”

“… kurasa.”

Suara bak lonceng perak memerintah-merintah mereka dengan dingin dan baku. Suara pantas bagi Ratu Berdarah.

“Trek bersih—Mabes Vanadis kepada semua unit. Mulai penyusupan.”

“Ayo.”

Aula utama bangunan stasiun pusat. Di tengah langit-langit kubah terdapat panel kaca terlampau transparan tempat sinar matahari disalurkan ke bawah tanah melalui penghubung ruangan utama. Undertaker yang memimpin, 24 Juggernaut melewati kabel yang diperuntukkan mencegah penyusup kemudian menari-nari melewati sinar mentari, menembakkan jangkar mereka dan perlahan-lahan, turun secara vertikal. Tidak satu orang pun wajahnya gentar selagi mereka meluncurkan kabel dengan kecepatan maksimum untuk menurunkan unit mereka.

Sedikit sekali keleluasaan gerakan dalam posisi ini. Semisal mereka ditembaki dari bawah, mereka takkan mampu berbuat apa-apa. Di sisi lain, sinar matahari bersinar dari atas. Para Juggernaut bergerak seakan meluncur menuruni sinar matahari keemasan.

Laba-laba berkaki empat ini, dengan warna tulang putih, berlayar menyusuri cahaya, mengejar simbol kerangka membawa sekop, selayaknya monster yang mencemari kesucian suatu distrik sakral. Di waktu bersamaan, pemandangannya seakan berasal langsung dari mitologi, kesesatan, dan di satu waktu terlihat khidmat dan aneh, terpisah dari kenyataan. Tidak ada yang mengutuk ataupun mengagumi momen ini di tempat yang dulunya sering dikunjungi puluhan ribu orang setiap harinya.

Shin bisa mendengar Raiden menggerutu selagi mendengar suara-suara yang datang dari indra pendengaran terhubung mereka.

“… mereka di bawah sana, bajingan-bajingan itu.”

“Yea.”

Melewati lapisan beton tebal, mereka mencapai aula utama lantai pertama bawah tanah. Mengintai dalam kegelapan dari balik kaca terdapat siluet-siluet berbentuk siku-siku Legion yang kelewat familier.

Menatap mereka, Shin menggerakkan Undertaker untuk menendang dinding kaca. Rangka Jugernaut-nya menolak, dan momentumnya tolak balik seperti bandul, Shin mengaktifkan pemancangnya.

Pemancang 57 mm mampu menembus lapis baja atas Löwe, menghancurkan kaca dikuatkan berkeping-keping. Dikelilingi pecahan berkilauan, Undertaker dan ke-23 rekannya turun ke kegelapan aula utama.

“—mm.”

Terowongan bundar memanjang dari permukaan sampai lantai pertama bawah tanah yang gelap sepenuhnya. Mempilot Cyclops yang berdiri di ujung tiang, Shiden menghentikan laju drone-nya begitu kerlip cahaya menyala di layar radar.

Cyclops Shiden adalah model penyerbuan malam dilengkapi perangkat antena yang mirip tanduk unicorn7 dan mempertajam kemampuan komunikasi juga radarnya. Di awal perang melawan Legion, Republik mengerahkan segelintir model Juggernaut ini dalam tahap uji coba, lalu Reginleif mewarisi silsilah tersebut.

Tidak ada tanggapan dari perangkat IKL8. Kerlip putih mewakili musuh tak dikenal berubah menjadi merah sesaat kemudian begitu diidentifikasi sebagai unit musuh dengan mengambil referensi basis data. Jumlah musuh meningkat, mengecat layar radar menjadi merah beberapa waktu.

Mereka merangkak naik dari tanjakan kecil terowongan.

Sederhana, tak berlebihan, hampir mengkarikaturkan sosok manusia maju dari keempat arah dengan kecepatan jelajah musuh. Ketika dia melihat musuhnya lewat layar yang disetel ke penglihatan malam, Shiden menyeringai.

“Akhirnya muncul … aku sudah lelah menunggu kalian, bajingan.”

Seringai Shin penuh percaya diri, sedangkan mata anehnya memancarkan haus darah murni.

Seketika 24 unit melangkah ke ubin lantai berwarna, mereka dapat mendengar suara logam samar persendian musuh selagi mereka beralih dari mode siaga ke mode pertempuran. Aula besar berdiameter dua ratus meter yang di atasnya terdapat koridor melingkar di tengah dua lantai dengan jembatan gantung yang mengarah ke atasnya. Di ujung terjauhnya ada tangga lebar. Lorongnya mengelilingi aula melingkar dengan pilar besar bagaikan pohon dan sebuah lift goyang menghalangi pandangan mereka.

Kilat sensor optik menerangi kegelapan. Lengkingan nyaring bilah frekuensi tinggi bergema dan beresonansi ke seluruh ruangan. Para Juggernaut berdiri memunggungi sinar matahari yang menyaring masuk dari penghubung ruangan utama dan bergerak menyebar sewaktu suara tembakan bergema dari kegelapan.

Selongsong antitank melintas horizontal dengan kecepatan melampaui suara menembus poros kaca. Juggernaut-Juggernaut itu berpencar di sekitar aula mendirikan kelompok-kelompok kecil, dan siluet sunyi mesin Legion gesit turut mengejar cepat.

Tatkala itulah Undertaker menerobos langsung ke barisan Legion, seperti biasa.

Pasukan utamanya adalah Stier yang hendak menyergap, ditemani tipe Ameise dan Grauwolf. Legion-Legion ini dianggap Legion tempur ringan, dan tak terlihat Löwe atau Dinosauria. Mereka takkan mampu bermanuver dengan baik dalam kondisi tempat bawah tanah sempit ini. Jarak yang disukai Löwe adalah dua kilo meter, dan aula ini diameternya dua ratus meter terlalu jauh bagi mereka. Dan bila mana selongsong kuat Löwe mengenai pilar, berisiko seluruh fasilitas runtuh di sekitar mereka.

“Semua unit, hindari penggunaan baterai utama jika memusingkan. Kita semestinya bisa menangani tipe Stier dan Grauwolf ini menggunakan persenjataan sekunder kita.”

“Diterima.”

Shin berpapasan dengan Grauwolf—lalu mendadak mengerem. Bilah lawannya meleset, dan Shin menggunakan momentum itu untuk menebas Grauwolf kemudian menginjak bangkainya untuk menusukkan pemancang ke kepala Legion kedua. Selanjutnya dia melompat tajam-rendah dan mendarat di tengah-tengah peleton belakang Stier.

“Shin, kita harus mengontrol semuanya di sana dulu. Kita tidak mau tembakan Stier menghujani kita.”

Peleton Theo menembakkan jangkar kawat, melangkah naik ke lantai pertengahan lewat jalan yang ditenun jangkar. Di sela-sela pertarungan, mereka curi-curi pandang koridor yang menuju sektor berdekatan, dindingnya dicungkil dan mendapati ranjau swagerak merangkak berbondong-bondong.

… mereka ada lumayan banyak.

Shin menyipitkan matanya, memastikan jumlah total musuh di koridor atas dan aula utama. Ada batas jumlah peluru dan selongsong yang dapat mereka bawa, dan khususnya, pemancang mereka bubuk mesiunya terbatas. Senjata dingin seperti bilah frekuensi tinggi tak bisa kehabisan amunisi, tetapi dari semua orang dalam operasi ini, Shin-lah satu-satunya orang yang mempunyai bilah frekuensi tinggi di Juggernaut-nya.

Rencananya adalah selagi Juggernaut mengambil alih lantai bawah, infanteri lapis baja akan mempertahankan kendali di atas, jadi jika mereka kehabisan amunisi, masih memungkinkan untuk kembali dan mensuplai ulang.

“… aku betulan mulai kangen Fido sekarang.”

Pi.”

“Mm?”

Duduk di pojokan Vanadis yang dipenuhi layar optik tak terhitung jumlahnya, Frederia menyadari Fido tengah bolak-balik di dekat mobil komando secara tak teratur. Entah bagaimana kelihatan cemas. Laksana anjing besar yang barangkali mengira dibawa jalan-jalan tapi akhirnya ditinggalkan, mengerang protes pada majikannya yang tidak di sana.

Meregangkan tubuh di kursinya, Frederica memandang Scavenger lewat kaca jendela tebal mobil komando terus nyengir. Metafora itu lebih dari tepat; Fido memang ditinggalkan. Karena Fido lebih tinggi dan lamban dari Juggernaut, mereka tak dapat membawanya, apalagi tidak tahu cara menavigasi ruang sepit terowongan bawah tanah yang memerlukan banyak pergerakan vertikal. Telah diputuskan pada misi ini, dia hanya akan menyediakan persediaan di tempat dan tidak mengikuti mereka dalam pertempuran.

Akan tetapi, Fido, kelihatannya tak puas terhadap ketetapan ini. Dari dimulainya operasi, dia (yang cuma bisa digambarkan sebagai) ngambek karena tidak bisa menemani mereka, namun Shin terus menolak.

Mengalihkan setelan interkom ke pengeras suara eksternal, Frederica menyuarakan perintah ke mikrofon:

“Tenanglah, Fido. Tetap dalam batas!”

“Pi!”

“Semisal kau ke bawah sana dan ketembak di terowongan, kau hanya akan memblokir rute pelarian Shinei dan yang lainnya.

Apa kau coba-coba mengundang bencana pada dirimu sendiri?”

“Pi …”

Kelihatan bak melemaskan bahu sedih. Frederica tak kuasa menahan senyum.

“Jangan khawatir—dia akan kembali tanpa terluka. Orang itu takkan dikalahkan Legion. Tapi tentunya kau tahu ini, karena sudah bertarung di sisinya lebih lama? Sekali lagi situasinya akan berakhir tanpa insiden.”

“Pi.”

“Oh, kau sungguh berkelakuan baik. Aku, tentu saja juga mengerti itu. Lagian aku berada di sisi Shinei dan bertarung bersamanya selama dua tahun.”

Suara gemerincing—suara jatuh ke tanah—berasal dari belakangnya. Setelah berbalik, Frederica melihat Lena membungkuk mengambil papan klipnya.

“… maaf.”

Suara seperti lonceng keperakannya kental ketenangan palsu, dibuat-buat demi menyembunyikan nada gemetar gelisahnya. Curi pandang tampangnya, Frederica menyeringai sedikit. Marcel dan personel kontrol lain kelihatan sengaja berpaling, menutup telinga mereka dan merapalkan mantra aneh: “Ga, ga, ga dengar apa-apa.”

“Aduh, ada masalahkah, Kolonel Milizé? Apa hubunganku sama Fido dengan Shinei entah bagaimana mengganggumu?”

Ucapan lihai Frederica membuat Lena meringis. Lena sekarang teringat, meski hanya sebentar saja sebelum operasi dimulai, Shin dan Fido tampak cekcok sedikit jauh dari Vanadis.

Sudah kubilang, kali ini kami tidak bisa mengikutkanmu. Diam saja di Mabes.

Pi …!

Shin mengulanginya berkali-kali sambil terengah-engah, sementara bentuk besar Fido yang mungkin beratnya lebih dari sepuluh ton, bergoyang mondar-mandir seolah-olah menggeleng kepala menyangkal kekanakan. Kebanyakan orang bisa jadi bakalan mendekap badan mereka dan tertawa-tawa pada adegan aneh namun menyedihkan ini (Shiden beneran tertawa terbahak-bahak sampai tak kuat bergerak, dan Raiden menonton, terperangah), tapi Lena tidak menganggapnya lucu.

Lena tahu Fido adalah rekan paling lamanya lagi berharga, namun cara Shin memanjakannya lebih kelihatan mirip keterikatan biasa. Mungkin fakta Fido adalah mesin otomatis malah makin membuatnya berharga. Lena masih tak dapat menikmati pemandangan tersebut. Scavenger itu membuat ulah bagai anjing pemburu keras kepala tapi loyal. Shin mengerutkan kening ibarat sudah muak, tapi dia tersenyum sedikit.

Dan ada si gadis, Frederica. Dia memegang posisi aneh sebagai Maskot dan, seperti Shin, campuran darah Onyx juga Pyrope yang membuatnya nempel padanya seakan-akan adik perempuan betulan. Shin boleh jadi tidak menyadarinya, tapi dia nampak cukup sedikit memanjakannya. Lena sejujurnya sama sekali tak suka.

“Bukan apa-apa.”

Secara kebetulan, Frederica menyalakan sakelar pengeras suara eksternal, lalu percakapan mereka bocor keluar.

“… Sersan Kepala, apa menurut mereka kita ini seperti, penunjuk arah di pinggiran jalan atau semacamnya? Tengara lokal, cuma berdiri di sini?”

“Diam.”

Yang tinggal menjaga Mabes adalah satu-satunya skuadron Divisi Penyerang 86 yang seluruhnya terdiri dari tentara bayaran saja: skuadron Nordlicht. Bernholdt membalas pesan rekan setimnya dengan bisikan lirih-pendek.

“Bukannya itu mengesalkanmu? Kita diperlakukan layaknya dekorasi.”

“Aku menghargainya, bung. Aku tak mau terlibat dalam permainan menyenangkan anak-anak ini jika kau membayarku.”

“… tepat.”

Gampang bersemangat atau sedih pada setiap hal kecil, terlalu mencemaskan hal-hal yang tidak perlu perhatian sebesar itu … mungkin berarti segalanya pada anak-anak ini, namun Bernholdt sering kali menganggapnya buang-buang waktu. Gagasan kapten berwajah batu terlibat ke dalamnya juga …. Nah itu baru pemikiran menyenangkan. Ternyata dia bisa bertingkah sesuai umurnya.

“Jangan mengobrol tanpa faedah. Anak-anak itu lagi bertempur di terowongan. Tidak lucu kalau Mabes diserang dan diambil alih selagi mereka sibuk di sana.”

“Ya, pak …”

“Dan lagian …”

Dia mendengus saat tubuh besarnya—sekekar beruang kecil karena bertahun-tahun dihabiskan dalam medan perang—bergeser gelisah dalam kokpit Juggernaut.

“… aku tak bisa menghilangkan firasat buruk ini … aku hanya tidak menerima semuanya berjalan mulus-mulus saja melawan Legion, tahu?”

Pikirannya memikirkan sang Pencabut Nyawa. Biarpun mereka di bawah pimpinan Reina Berdarah …

“Di sana!”

Kaki kiri depan Cyclops menusuk bagaikan palu, menendang ranjau swagerak yang mencoba merayap ke atasnya. Ranjau swagerak terbelah dari benturannya, dan bagian atas-bawahnya kejang-kejang tak terkendali begitu mendarat di beton tengah-tengah trek. Saat Cyclops menginjak mayat yang bahkan dari awal tidak hidup ini, lebih banyak ranjau swagerak keluar dari kegelapan di luar koridor pemeliharaan.

Bentuk-bentuk humanoid tanpa wajah dibuat buruk itu merayap melintasi tanah dengan cepat, berkumpul di kaki para Juggernaut seperti halnya zombie dari beberapa film horor. Bisikan suara dibuat-buat mereka bertujuan menarik manusia dengan mengelabui mereka kalau ranjau swageraknya adalah anak-anak atau orang terluka, membuat mereka kian menakutkan.

Ibu. Ibu. Di mana? Ibu.

Bawa aku. Bawa aku bersamamu. Bawa aku.

Selamatkan aku. Jangan tinggalkan aku.

“Mana mungkin ada yang terpancing!”

Pusaran bisikan ini melumpuhkan kebanyakan orang dalam ketakutan, tapi Shiden cuma tertawa-tawa menampakkan gigi telanjangnya. Menginjak dan menendang, Juggernaut-nya melintasi ranjau swagerak yang berkawanan bak semut hitam. Ranjau swagerak akan terpicu bila mengontak dan kekuatan ledakannya cukup mampu menembus lapis baja permukaan Vánagandr, jadi maju menyerbu mereka menggunakan Juggernaut lapis baja tipis adalah puncak kegilaan.

Sensor yang diperkuat Cyclops mengeluarkan peringatan. Perkara kewaspadaan jarak kedekatan adalah bagian mata kanan nilanya, dia menarik mundur kendali untuk mengerem. Saat berikutnya, beberapa ranjau swagerak berwujud anak-anak turun dari koridor pemeliharaan, tepat di posisi misalkan Cyclops tidak direm Shiden. Tangan-tangan kecil melambai di udara kosong, kehilangan anggota badan, dan perut mereka, diisi bahan peledak, jatuh tanpa tujuan ke tanah.

“Otak udang.”

Dia menarik pelatuknya sambil mengejek mereka. Senapan pasang punggungnya menembakkan tembakan penghancur ranjau swagerak yang berusaha mencapai kakinya. Senapan serbu 88 mm. Mengorbankan kekuatan penetrasinya dengan imbalan daya penekan melawan Legion ringan dan senjat p ilihan Shiden pada pertempuran jarak dekat.

“Ha, mangsa gampangan! Ibaratnya dari awal kau sudah tidak bisa menang!”

Bagian-bagian senjata humanoid berserakan di seluruh beton. Menendang jauh, Cyclops menyerbu ranjau swagerak yang terus merangkak keluar dari tempat tak terduga sambil berkotek-kotek.

“Orang-orang Spearhead masih bertempur di aula utama …. Ayo sikat semuanya sebelum si Pencabut Nyawa tanpa kepala itu dapat kesempatan untuk mencuri semua mangsanya dari kita!”

Lapis baja depannya ditebas garis miring vertikal, Grauwolf terjungkal dengan suara gedebuk keras kemudian terdiam. Gema senjata meriamnya mati, dan Shin was-was memeriksa aula yang kini sunyi.

… rupanya mereka sudah menyapu bersih tempat itu.

“Kolonel. Penaklukan aula utamanya sudah selesai.”

“Diterima, Kapten Nouzen. Serahkan pembersihan sisa-sisa musuh ke skuadron Claymore dan maju menuju rute lantai kedua.”

“Diterima …. Kolonel, kau baik-baik saja?” tanya Shin, menyadari ada desah bercampur responnya.

“Hmm? … iya, selama tidak Beresonansi dengan terlalu banyak orang dalam satu waktu, atau jika hanya dengan kapten seluruh skuadron.”

Sekalipun jumlah informasi yang dibagikan lewat indra pendengaran relatif sedikit, tetap Beresonansi dengan lebih dari seratus Prosesor sekaligus untuk periode waktu yang lama itu teramat melelahkan.

Karenanya, sebagai komandan taktis, Lena Beresonansi dengan kapten setiap skuadorn saja dan komandan unit infanteri. Tidak jauh berbeda dari yang Shin alami, karena dia terhubung dengan kapten lain selain bawahan langsungnya, namun kurangnya pengalaman lebih mempersulitnya.

“Aku harus memerintahkan banyak unit dalam satu waktu selama serangan skala besar …. Tidak usah mencemaskanku.”

Suara lain menyela percakapan mereka.

“Maaf mengganggu, tapi ini Penrose. Apabila lantai pertama sudah diamankan, waktunya aku memulai penyelidikanku. Sesuai kesepakatan kita waktu pengarahan, aku akan meminjam skuadron Phalanx.”

“Letnan Dua Asuha di sini. Sesuai perkataan beliau, skuadron Phalanx dikerahkan.”

Mengikuti perkataan Annette adalah suara kapten skuadron Phalanx, Letnan Dua Taiga Asuha. Mendengar suara sungguh-sungguhnya, Shin bicara:

“—Asuha.”

“Ada apa, Nouzen?”

“Tidak, hanya saja …” bukan sesuatu yang dapat dijelaskan istilah jelas. “Firasatku buruk tentang ini. Di luar, Eintagsfliege menyebar tebal. Kita barangkali berada di luar zona perang, tapi jangan lengah.”

“Kau terlalu gelisah, pemimpin …. Diterima. Tak apa-apa—aku bukan orang ceroboh.”

“Profesor Penrose, areanya mungkin diblokade, tapi ini masih medan perang. Mundur atas perintah saya jikalau saya merasakan bahaya apa pun.”

“Aku tahu … maaf, tapi kau menghalangiku, jadi bisa menyingkir sedikit?”

Melihat kapten berkulit gelap dari skuadron Phalanx, Letnan Dua Taiga Asuha, kembali ke drone­-nya, Annette menoleh dan bersiap bekerja. Mereka berada di kantor sebuah bangunan tidak jauh dari markas besar taktis Divisi Penyerang 86. Salah satu dari banyaknya bangunan yang mengelilingi stasiun. Aula masuk luas terletak di ruang bawah tanahnya, dan di ujungnya terdapat elevator bermodel.

Di tengah-tengah aula terdapat benda bak rel berpinggiran perak melengkung yang menembus sampai langit-langit, barangkali didesain dalam bentuk Labirin Bawah Tanah Charité. Kaca atap di baliknya mungkin sudah rusak dan runtuh. Annette berjalan melewati ruangan, tumitnya mengklik lantai marmer yang redup diwarnai bayangan cahaya keperakan Eintagsfliege jauh.

Rupanya, militer Federasi telah mendeteksi gangguan Perangkat RAID yang hadir dalam bangunan ini. Telah ditemukan berbulan-bulan lalu, ketika militer telah mengumpulkan informasi selama persiapan oeprasi perebutan kembali. Menurut laporan, tidak ada masalah dengan Resonansi antar anggota regu, tetapi ada orang lain yang terkoneksi ke Resonansi, konstan menghubung dan memutus hubungan dengan cara tidak stabil.

Kedengaran bak cerita hantu tidak jelas yang sesekali orang-orang buat di medan perang. Perangkat RAID Federasi diciptakan dengan menganalisa perangkat Shin dan kelompoknya setelah mereka ditemukan, membuat salinan yang lebih inferior. Bahkan model asli Republik adalah semacam sistem tidak dimengerti yang beroperasi tanpa tahu cara kerjanya, jadi perkara performa, tidak ada perbedaan besar antara dua model tersebut.

Akan tetapi, Para-RAID adalah satu-satunya metode komunikasi yang mampu melakukan siaran di bawah gangguan Eintagsfliege. Sekiranya ada kemungkinan tidak beroperasi dengan benar, maka bisa menghalangi penyelesaian tujuan militer, lantas Annette diminta memeriksanya, dan sebab dia bersikukuh bahwa—sebagai kepala bidang itu—lebih cepat agar dia memeriksanya sendiri, dia minta datang langsung ke medan perang.

Perangkat RAID aktifnya tidak menunjukkan kelainan apa-apa. Dia memeriksa di area aman, dan tidak satu pun Prosesor skuadron Phalanx mendeteksi segala jenis gangguan pula. Berjalan-jalan di aula utama dengan tangan dimasukkan ke saku jas labnya, dia mengintip ke suatu sudut lalu terdiam.

“… jadi kau pelakunya.”

Metode perisai adalah metode penggalian didasari penggunaan silinder penggali yang dinamakan Mesin Perisai yang ukuran diameternya sama setara terowongan. Ujung Mesin Perisai akan menembus sedimen sementara segmennya ditempatkan secara strategis untuk menstabilkan terowongan. Segmennya setinggi satu-dua meter dan lebarnya beberapa lusin sentimeter, lalu terowongan yang dibangun dengan metode perisai bentuknya lingkaran, dengan bentuk geometris tersebut yang terlihat tidak ada ujungnya.

Blok timur laut lantai kedua diperkuat segmen baja seluruhnya. Berdiri di lini depan selagi mereka menuruni terowongan, Shin mendadak diserang firasat aneh ketika berada di kokpit Undertaker.

Pemandangan terowongan melingkar yang sepertinya berlangsung selamanya. Dua rel kereta yang memanjang tanpa ujung menuju kegelapan. Kabel listrik di langit-langit juga segala macam kabel tak dikenal. Lampunya dipasang berinterval teratur, sekarang diam dan mati, tidak dapat menyinarkan cahayanya lagi.

Terowongan perak mirip koridor tak berujung ini setenang makam raja mati.

Rasanya bagaikan berlari melalui mimpi buruk tiada akhir, menjadikan persepsi waktu seseorang makin mengabur. Ibaratnya mereka berada di perut ular mistis9. Mambuang indra perasa kenyataan mereka, dengan pemandangan monoton yang menjatuhkan mereka ke dalam kondisi setengah dihipnotis, membuat mereka mengira terowongan ini lebih panjang dari aslinya, bak pola geometris tanpa terlihat garis finisnya.

Selagi mereka maju menelusuri terowongan, sensasi aneh mendatangi Shin, seolah-olah tenggelam ke kesadarannya sendiri.

Kau tidak ingat kakakmu sendiri …

Mungkin itulah alasannya. Shin meringis begitu suaranya yang seperti lonceng mendadak membesit ke ingatannya.

Kakekmu mungkin ingat kakakmu dan keluargamu.

Shin. Kau sebetulnya mengingatku.

Semuanya tidak penting.

Shin takkan ingat. Tidak sekarang ini …. Dia tidak mau mengingatnya.

Suara ratapan menjangkau telinganya. Secercah cahaya persegi panjang di penghujung terowongan tanah. Shin mengonfirmasi tak ada penyergapan di pintu keluar dan maju saja, mempertahankan kecepatan jelajahnya.

Sepintas, cahaya silau membutakan matanya yang telah terbiasa akan kegelapan. Shin menyipitkan mata sambil melihat sekeliling. Terdapat kolam bundar besar di lantai, diisi sesuatu yang kelihatan mirip tungku perak cairan mesin mikro berkedip-kedip. Itu generator untuk menciptakan bahan polimer tinggi yang membentuk inti sistem propulsi Legion dan otot-otot buatannya. Ada pula mesin bubut dan pengepres untuk pengerjaan logam.

Mengamati lebih dalam areanya, Shin melihat Legion ringan seperti tipe Ameise dan Grauwolf bergerak di sepanjang lajur konveyor serta sebuah dok kering untuk mengumpulkan Löwe dan Dinosauria. Yang nampak layaknya lapis-lapis baja sedang digantung di atas pada jalur perakitan barangkali itu ranjau swagerak. Lebih dalam lagi ada mesin besar seperti kotak menyerupai pemindai yang normalnya digunakan manusia, bedanya yang satu ini lebih besar. Mungkin saja untuk memeriksa Legion komplet.

Seakan-akan bersiap-siap mencegat Juggernaut dengan kekuatan penuh seluruh Legion tersedia, semua proses terhenti. Lengan-lengan robotik itu menggeliat aneh di celah antar lajur konveyor, sekaligus derek jembatan di langit-langit, membeku di tengah operasi.

… akan tetapi.

Mereka di sini.

Ratapan kesedihan menggema dari belakang mesin, di bayang-bayang lengan derek, selagi mereka diam menunggu. Shin bisa merasakan mereka.

“… semua unit, ganti ke amunisi PLBTSLS10.”

PLBTSLS—penembus lapis baja terstabilkan sirip lepas-sabot. Tidak ada yang menjawab, namun Shin cuma perlu mendengar suara berat nan serius meriam 88 mm mereka tengah memuat amunisi.

“Dua belas unit ke kiri dan dua belasnya ke kanan menuju belakang generator—tembak mereka bersama generator-generatornya.”

Pandangan Annette tertuju pada mayat merangkak dan dehidrasi dalam ruang penyimpanan sempit yang tersembunyi di tengah panel-panel dinding. Mengenakan seragam biru baja militer Republik, dan kristal saraf kuasi di lehernya berkilau biru. Barangkali salah satu Handler Republik.

Annette tidak berpengalaman melakukan otopsi, tetapi melihat betapa keringnya tubuh ini, orang ini belum lama mati, dan berdasarkan fakta mayatnya belum membusuk, mungkin mati selama musim dingin keras. Boleh jadi sekitar waktu unit pengintaian berada dekat bangunan ini.

“Jadi kaulah yang terus menghubung dan memutus hubungan …”

Sangat sederhana. Orang ini mencoba Beresonansi dengan unit pengintaian selagi mereka masih hidup, namun tengah sekarat. Jarak fisik tak berarti bagi Para-RAID, dan tentara Republik tidak mendaftarkan tentara Federasi sebagai target Resonansi. Namun tidak pula ada akun dikenal perihal seseorang mencoba Beresonansi saat berada di ambang kematian.

Otak manusia bahkan lebih tidak bisa dimengerti dari Perangkat RAID. Menurut teori, ketika seseorang mati, kesadaran mereka tenggelam ke ketidaksadaran kolektif dan lenyap. Ada kemungkinan pada momen-momen kejadian itu, orang-orang yang terhubung manusia-manusia sekarat ini lewat Resonansi Sensorik akan merasakan semacam reaksi. Bukannya Annette berniat mengetes teori ini. Dia berpikir sejenak sembari melihat mayatnya.

Alasan unit pengintaian tidak menemukan mayat tentara Republik ini karena mereka sedang berjaga-jaga dari Legion dan bukan manusia. Úlfhéðnar—eksoskeleton yang diperkuat yang digunakan oleh infanteri lapis baja—punya kapabilitas sensorik lebih rendah dari Ameise, lalu mengingat mayat ini waktu itu, lagi sekarat dan tidak bergerak, sebagian besar panas tubuhnya hilang dan denyut nadinya lemah, malah makin sulit mendeteksinya. Annette nyaris kebetulan saja menemukannya.

… aku selalu payah soal petak umpet.

Annette menggigit bibirnya ketika pikiran itu tiba-tiba terbesit di benaknya.

Payah bersembunyi … dan mencari.

Atau lebih tepatnya, Shin dulu jago banget melakukannya.

Kapan pun Annette bersembunyi, Shin langsung menemukan dirinya, dan saat gilirannya bersembunyi, gadis itu tidak pernah bisa menemukannya. Permainan selalu berlangsung lebih lama ketika Annette yang jaga.

Dan tetap saja, petak umpet adalah permainan yang kerap dia mainkan bersama anak laki-laki itu.

Ketemu, Rita!

Karena dia senang melihat wajah tersenyum Shin kecil ketika menemukannya, di mana pun dia bersembunyi.

Kenangan mendadak itu membuat air mata menggenang di matanya. Dia menatap mayat di depannya untuk mengusir perasaan tersebut. Ketika itulah dia sadar.

“… bagaimana?”

Bagaimana bisa orang ini baru mati beberapa bulan?

Serangan skala besar Legion terjadi hampir satu tahun lalu, akhir musim panas lalu. Dia takkan pernah lupa di malam hari festival pendirian Republik, Gran Mule telah runtuh, dan dalam waktu satu minggu, Liberté et Égalité telah jatuh.

Kala itu, ibu kota kedua utara, Charité, telah diruntuhkan. Legion tak mengambil tawanan dan tidak dapat membedakan mana tentara mana warga sipil. Mustahil ada yang selamat.

Setelahnya, sisa-sisa Republik pergi semakin jauh ke selatan, dan kali berikutnya umat manusia menginjakkan kaki ke Charité tatkala itulah unit pengintaian tiba. Tidak ada personel militer Republik bercampur dalam pasukan ekspedisi bantuan pula.

Semuanya mengarah ke satu kesimpulan—seharusnya tidak ada tentara Republik yang mati di sini beberapa bulan lalu.

Apa … yang terjadi?

Tiba-tiba—

Berdiri waspada di dekat bangunan di bawah awan besar Eintagsfliege, kapten skuadron Phalanx, Taiga Asuha, mengerutkan kening merasa tidak enak, duduk aman dalam kokpit Juggernaut sebagaimana rekan-rekannya.

”—kedengarannya di bawah sana kacau.”

Rekan Taiga beberapa tahun sekaligus wakil kaptennya, Aina, menjawab sambil tersenyum.

“Aku baik-baik saja sekarang, karena aku tidak Beresonansi dengan mereka, tapi memang betulan buruk, Taiga. Aku mendengar suara Legion.”

“Iya …. Entahlah bagaimana Nouzen masih waras padahal mendengarnya setiap saat.”

Mereka boleh jadi sesama 86, tapi Shin dikirim ke unit pertahanan pertama distrik pertama dua tahun lalu—tempat pembuangan akhir untuk para Prosesor yang hidup melebihi waktu mereka sepantasnya, dan dari sana, dia dibuang ke wilayah Legion. Taiga berada di distrik delapan enam bulan lalu. Tidak ada hubungan antara mereka berdua. Taiga pernah mendengar kemampuan terkenalnya tentu saja, tetapi hanya sedikit yang masih hidup di medan perang 86 yang benar-benar mengontaknya.

Bahkan 86 berpengalaman dan Reina Beradarah jatuh panik pertama kali mereka menyentuh kemampuan Shin. Karena alasan inilah kapten dan wakil kapten mereka yang berkewajiban tetap Beresonansi sama Shin setiap waktu selama operasi, lebih dulu Beresonansi beberapa kali sebelum operasi apa pun supaya terbiasa dengan tekanannya.

Kurang lebih, idenya begitu, tapi tetap saja … berat. Beresonansi dengan Shin yang ahli pertarungan jarak dekat dan selalu bertarung dalam jangkauan tangan melawan Legion, jauh lebih sulit dari menggunakan Resonansi Sensorik di bawah keadaan lebih normal.

Sang Pencabut Nyawa yang menghancurkan Handler-nya dan 86 lain yang tak mampu menahan ratapan orang mati, ya …

Taiga mendesau, mengingat ekspresi dingin tanpa emosi dan mata semerah darah yang sepertinya terlalu pas pada julukan tersebut. Mungkin Shin bisa bertahan sebab dia terus-menerus mendengar suara tersebut, atau bisa jadi sebaliknya—paparan berlanjut menghabisi kepekaannya. Meskipun sesering itu mengontak kematian selama tiga tahun pengabdiannya, Taiga tidak mampu membayangkan tujuh tahun bertarung melawan jeritan-jeritan tersebut.

Saat itulah dia mendengar bisikan duka lirih dari Resonansi.

“… aku tidak mau mati.”

Dari awal juga ini bukan pabrik biasa. Pabriknya adalah Admiral—mereka tidak salah lagi berada dalam perut Legion yang jauh lebih besar dari Legion tipe tempur manapun—dalam perut mesin jagal yang hendak membantai habis umat manusia. Semua mesin yang terlihat adalah bagian musuh.

Pemotong laser yang digunakan untuk mengurus pekerjaan baja memancarkan sinarnya layaknya pedang memanjang. Lengan robot terdekat mengacungkan ketiga jari mereka laksana cakar elang. Sekawanan mesin bagai laba-laba tak diketahui tujuan dan namanya, sebesar anjing berukuran sedang, berbondong-bondong menuju Juggernaut, mencoba memanjat kaki mereka.

Mengelak, memotong, dan menginjak rintangan-rintangan tersebut, Undertaker berlari maju. Biarpun potongan-potongan mesin menggeliat tak terhitung jumlahnya menghalangi penglihatan Shin, kemampuannya memungkinkannya melihat tempat persembunyian Legion secara akurat.

“Anju, kita akan melewati deret gantungan dua puluh detik lagi. Ada satu Legion di bayangan derek ketiga dari kanan. Mungkin ranjau swagerak. Habisi dengan peluru sekring proksimitas11.”

“Diterima …. Letnan Dua Jaeger, jangan lupa ganti peluncur rudal ke turet tank hari ini. Ingat ganti amunisimu juga.”

“D-diterima.”

“Theo. Ada kelompok musuh di belakang Löwe. Mereka akan segera keluar.”

“Diterima …. Ah, kurasa melihat mereka sebentar—sekelompok tipe Grauwolf. Rito, urus apa pun yang kulewati.”

“Oke.”

Proyektil ledakan tinggi dimaksudkan untuk target lapis baja ringan meledak di langit-langit satu per satu, pecahan-pecahannya menghujani sesuatu yang dulunya berbentuk humanoid ke lantai. Tipe Grauwolf melompat ke Löwe setengah jadi berupaya menukik musuhnya, sayangnya diberondong jangkar yang ditembakkan horizontal.

24 Juggernaut menyerbu maju, melalui hujan api dan besi.

Mereka menerobos area produksi, sekali lagi menginvasi terowongan yang dibangun untuk rel kereta api. Kali ini, akan tetapi, diameter terrowongannya cukup besar untuk menampung delapan rel kereta api.

Rel ganda. Itulah rel kereta cepat yang mereka dengar-dengar—Legion yang mereka telah perbaiki.

Prediksinya benar, tampaknya. Tatkala itu di sinilah tujuan Morpho—untuk menghubungkan diri dengan Admiral fusi nuklir di belakang dinding Gran Mule, di tempat inilah ia bisa membidik keberadaan umat manusia di mana pun.

Ketika itulah suara sedih seorang gadis terdengar sayup-sayup di telinganya.

“Aku tidak mau mati.”

Alis memberengut, Shin sejenak mengangkat pandangannya ke arah asal suara. Datangnya dari …

“Permukaan, ya …?”

Bukan di posisi Lena …. Bukan di markas besar taktis, tetapi tempat lain.

Sekelompok tipe Grauwolf dengan ribut merangkak keluar dari sekitar bangunan, mengepung skuadron Phalanx yang berdiri defensif.

Taiga mendecakkan lidah sebal, bertanya-tanya mereka muncul dari mana.

Terminal stasiun pusat Charité—labirin bawah tanah Legion—menyebar di seluruh bawah tanah Sektor ini. Ada pintu keluar menuju permukaan yang tidak ditandai peta manapun, dan tipe Grauwolf tingginya cuma dua-tiga meter. Mereka sepenuhnya mungkin kabur lewat lubang ventilasi atau sejenisnya.

“Aina, lindungi mayor! Profesor Penrose, masuk ke dalam Estoc!”

“Diterima, Taiga!”

“Dimengerti …. Berhati-hatilah!”

Unit Aina—Estoc—merespon, beralih. Lewat layar utamanya, Taiga dapat melihat Annette berlarian melintasi bangunan panel kaca …. Dia mungkin saja seorang Alba tulen, tapi dia bukan orang jahat.

Handler One, musuh terdeteksi. Memulai pertempuran …. Seluruh unit, jangan lupa target perlindungan berada di belakang!”

Respon rekan-rekan setimnya bergema lewat Resonansi. Melihat sekitar kepada para rekannya yang berposisi tempur, Taiga mengalihkan pandangan meriam 88 mm-nya ke musuh.

“… aku tidak mau mati.”

Suara sedih bicara dalam bahasa manusia. Itu yang Shin sebut Domba Hitam—unit tentara yang menggunakan salinan terdegradasi otak manusia, konstan mengulang dan memutar ulang isi pikiran terakhirnya sebelum mati, tanpa ingatan atau kecerdasan apa pun semasa hidupnya.

“Aku tidak mau mati.”

Tapi tetap saja … menjengkelkan. Taiga teringat akan kematian rekannya sendiri yang kemungkinan akan mengucapkan kata-kata sama di akhir momen mereka.

“Aku tidak mau mati.”

Apa dia—Pencabut Nyawa bermata merah itu, yang tidak dapat menutup telinganya terhadap ratapan ini, tumbuh terbiasa mendengarnya? Ataukah dia saja yang tak tahan lagi mendengar mereka lagi, mengasihani mereka selagi dipaksa meratapi nasib buruk mereka walau sudah mati? Apa karena itulah dia kembali ke medan perang tak ada akhir ini, meski bersentuhan berkali-kali dengan kematian, untuk mengubur Legion?

Seekor Grauwolf melompat diagonal dari balik puing-puing penutup, menerjangya. Taiga tembak jatuh dengan tembakan senapan mesin beratnya dan menginjak-injak sisa-sisanya lalu beralih ke target baru, seketika itu, terjadi.

Dari belakang mereka, pinu masuk yang tidak terlihat musuh satu pun, datang kilatan cahaya.

“… hah?”

Kilatan itu ternyata percikan listrik korslet. Estoc telah dibelah dua, blok kokpitnya dipotong tengah-tengahnya dan sirkuitnya terputusnya bermekaran menjadi bunga tegangan tinggi layaknya ratapan kematian. Annette yang berlari menghampiri, membeku di tempat. Cipratan darah merah muncrat ke sinar matahari putih.

“Apa …?!”

Kemudian unit kedua yang bergulat dengan Grauwolf di kiri belakang Taiga ditebang. Unit ketiga dihantam sisi sampingnya dan dihempas mundur.

Sisi samping, atas, bawahnya, depan, dan belakang, Juggernaut dipotong dua, anggota badan tidak berfungsi mereka bergerak-gerak menggantikan teriakan saat mereka semua jatuh.

apa ini …?!

Tipe Grauwolf yang melawan mereka tidak bertingkah aneh. Persenjataan mereka sama sebagaimana Grauwolf lain: dua bilah frekuensi tinggi dan satu peluncur roket jamak.

Estoc, yang pertama hancur, bahkan dari awal tidak melawan Grauwolf.

Metode menyerang mereka tak diketahui. Hanya suara angin mengiris bergema bersama ratapan kematian tak henti-hentinya … dan jeritan rekan-rekannya merobek-robek sinar matahari.

“Sialan …. Apaan ini? Ada apa?!”

“Aina! Aina sudah—!”

“Ah—!”

Sebuah kanopi dilepaskan, dan kepala terpenggal seorang Prosesor mengudara bak lelucon buruk. Sesaat Taiga teralih, Grauwolf di depannya mendekat. Dia mendeteksi hawa membunuh artifisialnya.

Tetapi itu saja.

Kilau buram kehiataman bilah menebas tepi layar optiknya, berkedip-kedip di bawah sinar matahari.

Itulah hal terakhir yang Taiga lihat.

“…!”

Frederica mendadak berdiri, menendang kursinya. Wajahnya pucat pasi, dan mata merah darahnya membelalak. Menyadari perilaku tak biasa gadis itu, Lena berjalan cepat mendekat dari seberang kompartemen sempit.

“Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi—?”

Mata merah tuanya tidak sedang menatap Lena. Matanya membeku syok dan ngeri saat melihat tontonan suram yang terjadi di kejauhan. Selagi napasnya pendek-pendek, bibir tidak berdarahnya berhasil merajut kata-kata berikut:

“… skuadron Phalanx …”

Skuadron yang bertugas mempertahankan Annette, ditempatkan tidak jauh dari sini, di sektor yang seharusnya aman …

“… baru saja dimusnahkan …!”

Kemampuan Shin masih menangkap ratapan musuh yang tidak berada di bidang penglihatannya. Dia memberi tahu rekan satu timnya akan bahaya sekawanan ranjau swagerak yang melompat ke depan kaki Undertaker seperti gelombang air hitam. Ini sedikit kebanyakan, pikir Shin seraya menyipitkan matanya begitu melihat sosok-sosok humanoid rusak memenuhi rel kereta delapan jalur sekejap mata.

Seperti halnya 86 dulu di Republik, ranjau swagerak adalah senjata sekali pakai. Masuk akal mengirim mereka secara massal, tapi … ini tetap saja sedikit kebanyakan. Setelah menjaga sejumlah jarak, Shin hanya bisa menganggap Legion sebagai satu kelompok, dan pertempurannya melawan Morpho mengajarkan dirinya tidak mampu mendengar suara unit tidak aktif dalam keadaan statis.

Tapi tetap saja, jumlah ini keterlaluan banyaknya.

Sesosok manusia menghampirinya dari titik buta, ibarat dari penglihatan Shin sosok itu menatapnya. Shin menarik mundur kaki depan kirinya sebelum sosok itu menempel. Tidak ada gunanya buang-buang bubuk mesiu berharga pada ranjau swagerak rapuh. Namun sewaktu dia hendak menendangnya …

Tatapan itu bersilangan dengan tatapannya.

“?!”

Shin refleks melompat mundur, nyaris menabrak Raiden yang mengumpat kesal. Shin pun tak mengindahkannya. Dia memusatkan perhatiannya ke layar utamanya yang mundur seakan ketakutan.

Shin tidak mendengar ratapan apa-apa.

Mustahil.

Mereka berada di bawah tanah dan beton serta sedimen yang mengganggu komunikasi nirkabel, tetapi unit infanteri lapis baja membantu mereka mengatur relai ke permukaan. Menggunakan tautan data, Shin membandingkan status pendeteksian musuh setiap skuadron lain dengan suara-suara yang dia dengar, kemudian mendecakkan lidahnya.

Menyusahkan.

Memastikan status Para-RAID, dia bicara kepada seluruh kapten regu.

“…semua anggota Divisi Penyerang …”

Radar Cyclops menangkap kelompok musuh. Target humanoid tanpa lapis baja yang berat masing-masingnya sekitar seratus kilogram. Ranjau swagerak. Kelompok ranjau swagerak rapuh yang sangat berdempetan adalah target mudah tembakan meriam sebar. Shiden menjilat bibirnya, merenungkan kebodohan bongkahan besi tua.

Seketika itulah dia mendengar suara seseorang megap-megap dari Resonansi.

“Semua anggota Divisi Penyerang, hentikan seluruh pertempuran dan mundur—Shiden, jangan tembak!”

“?!”

Jari telunjuk Shiden melepas pelatuk di detik-detik terakhir. Cyclops melompat mundur, tangan Shiden menekan telinga kirinya. Kristal saraf kuasi yang ditanam dalam kulitnya telah dikeluarkan saat bergabung militer Federasi, bersama data variabel yang ditautkan ke manset telinganya, tetapi kebiasaan empat tahun medan perang susah hilang.

“Apa-apaan?! Aku baru mau menghabisi seluruh kelompok itu! Waktunya tepat!”

“Iya kalau mereka Legion …. Tapi yang kita bicarakan bukan Legion.”

“Hah?! Terus mereka apa—?”

Di tengah-tengah kalimatnya, Shin menyadari kebenaran. Musuhnya adalah senjata anti personel yang Legion kembangkan dalam bentuk humanoid. Mau seburuk apa bentuknya, ranjau swagerak semata-mata bentuknya manusia. Lantas jika sosok di depannya bukan ranjau swagerak, jawabannya jelas.

Sosok yang muncul dari dalam kegelapan, langkah tertatih-tatih yang menampilkan mereka kelihatan terluka, sebagaimana ranjau swagerak yang tidak bisa berjalan tegak. Namun warna keperakan mereka terlihat mencoloknya bukan main.

Mata perak Adularia menatap Cyclops. Mereka menatapnya.

Legion buka-bukaan secara tidak adil menggunakan teknologi lebih unggul mereka untuk berkembang tanpa henti dan tetap selangkah lebih maju dari umat manusia. Tetapi pemrograman mereka melarang pembuatan senjata yang terlalu mirip manusia. Bahkan ranjau swagerak yang mendekatinya, tak punya wajah manusia. Mereka tidak memiliki mulut, hidung, dan tentu saja, mata.

Berarti ini …

“Jadi apa yang terjadi …?!”

Shiden menyumpah-serapah lirih. Apa-apaan?

“… ada babi putih di sini …?!”

Catatan Kaki:

  1. Jalur yang dimaksud ini adalah shaft, yaitu jalur masuknya sinar matahari.
  2. Jalur alternatif jika jalur awal sedang tidak bisa digunakan.
  3. Jalur yang dilewati kereta api.
  4. Rute yang dicat dua garis pararel sebagai batas pinggir suatu jalan dan garis putus-putus sebagai petunjuk sumbu jalan, bisa juga buat membatasi sebelah kanan-kiri jalan supaya mempermudah pergerakan.
  5. Axis atau Sumbu, salah satu prinsip arsitektur yang paling umum, memberikan panjang, arah, menginduksi gerakan dan juga menggambarkan pandangan di sepanjang jalurnya dan harus diakhiri di kedua ujungnya oleh bentuk dan ruang yang jelas.
  6. Bunker buster adalah bom yang dirancang untuk menembus dan menghancurkan target jauh di bawah tanah, seperti bunker militer. Rusia membangun bunker buster KAB-500L yang dirancang untuk menghancurkan landasan pacu dan bangunan beton di atas tanah, dapat digunakan untuk mencapai target bawah tanah juga.
  7. Unicorn merupakan makhluk legenda berbentuk kuda dengan tanduk di dahinya. Digadang-gadang sebagai salah satu makhluk mitos paling terkenal di dunia. Beberapa teori bahkan menyatakan bahwa hewan tersebut secara bertahap sudah berevolusi.
  8. Identifikasi kawan atau lawan (IKL) atau Identification friend or foe (IFF) adalah sistem identifikasi berbasis radar yang dirancang untuk komando dan kontrol. Sistem ini menggunakan transponder yang menerima mendengarkan sinyal pengirim interogasi dan kemudian mengirimkan respons kepada pengidentifikasi. Hal ini memungkinkan suatu sistem interogasi kontrol lalu lintas udara militer dan sipil untuk mengidentifikasi pesawat, kendaraan atau pasukan sahabat yang ramah dan untuk menentukan arah dan jangkauannya dari interogator. IFF dapat digunakan oleh pesawat militer dan sipil. IFF pertama kali dikembangkan selama Perang Dunia II.
  9. Waktunya mitologi, ular mistis yang dimaksud adalah ularnya mitologi Nordik, Jörmungandr (Nordik Kuno: Jǫrmungandr, pelafalan [ˈjɔrmunˌɡandr̥], berarti “monster raksasa”) adalah ular laut yang merupakan anak dari raksasa Angrboða dan Loki. Menurut Prose Edda, Odin mengambil ketiga anak Loki dan Angrboða (Fenrir, Hel, dan Jörmungandr), dan kemudian melempar Jörmungandr ke samudra besar yang mengelilingi Midgard. Ular ini menjadi begitu besar sampai-sampai ia dapat mengelilingi Bumi dan kepalanya dapat menjangkau ekornya. Ketika makhluk ini melepaskan ekornya, maka Ragnarök akan dimulai. Musuh bebuyutan Jörmungandr adalah dewa petir Thor.
  10. Bahasa Inggrisnya adalah: Armour-piercing fin-stabilized discarding sabot (APFSDS), singkatnya peluru penembus zirah / lapis baja.