86 JILID 4 BAB 2

Posted on

IDENTIFIKASI:

KAWAN ATAU LAWAN

Penerjemah: NieR: Lena

Selter pengungsi adalah kumpulan tempat tinggal jangka pendek yang sudah dibangun sebelumnya. Tempatnya rongsok karena cuaca, catnya luntur sebab sinar matahari.

Selternya dijual murah ke Republik, warisan barak tua Federasi. Sederhana, bangunan seadanya yang dimaksudkan tuk berlindung dari medan perang.

Para pengungsi diperlakukan bagaikan hewan ternak, dipaksa memasuki bangunan-bangunan pinggiran medan perang ini, dan tak pernah diberi pilihan makanan, pakaian, dan suplai yang mereka terima. Sebagai ganti dukungan minimum yang ditawarkan Federasi, mereka dipaksa melakukan pekerjaan perbaikan intensif dan wajib militer.

Republik San Magnolia memang punya pemerintahan sementara, namun sebenarnya, di bawah kendali Federasi. Anjing-anjing imperialis yang nama kekaisarannya saja hilang sedang berjalan ke seluruh Republik yang menghargai perdamaian serta kesetaraan, di bawah janji perlindungan palsu.

Pemandangan anak laki-laki dan perempuan remaja bergerak pelan dengan ekspresi lesu sangat menyayat hati. Pada usia itu, mereka harusnya dalam perhatian dan perlindungan orang tua mereka serta masyarakat, bersekolah, berkecimpung dalam mode dan hobi, bercengkerama bersama teman-teman. Namun kenyataannya …

Di tengah reruntuhan yang dulunya istana megah markas bessar militer sekarang barak yang baru dibangun bertujuan untuk menampung unit baru yang akan dikerahkan musim semi ini. Divisi Penyerang 86, unit yang beranggotakan 86-86 menjijikkan.

Sekali lagi, noda-noda itu mencoba mengotori negara indah ini dengan warna kotor mereka, ibarat mereka memiliki tempat ini.

Tetapi mereka keliru. Karena inilah negara Alba yang kami banggakan.

“Kolonel Vladilena Milizé dan Kapten Shinei Nouzen. Sebagai bagian operasi kita untuk merebut kembali Sektor administratif utara Republik, aku menugaskanmu misi rahasia.”

Mereka berada di markas besar terpadu, dalam ruangan kepala staf yang tidak jelas alasannya mematikan lampunya. Duduk membelakangi jendela yang diterangi cahaya, dengan cahaya latar ruangan mengaburkan wajahnya, Willem sang kepala staf, condong maju, sikunya ditaruh di meja sambil menutup mulutnya seraya mengatakannya.

Pertanyaan yang Lena tanyakan kepada Shin lewat matanya terlalu jelas. Beginikah cara mereka memberi perintah di militer Federasi?

Namun sayanngya Shin tetap tidak berekspresi seperti biasa, berarti dia mungkin tak mempersoalkannya, atau begitulah biasanya. Atau mungkin dia cuma tidak mau bicara saja. Lena tak tahu.

Namun saat pikiran tersebut terlintas di benaknya, Willem menegakkan punggungnya dengan tingkah bosan dan kecewa.

“… apa, bukannya kalian sudah menanti-nanti? Kukira anak-anak seumuran kalian sangat senang soal misi sangat rahasia.”

“Apa penjelasan misinya?”

Kepala staf mendengus pada cara Shin mengabaikan lawakannya dengan jawaban datarnya sendiri.

“Kau benar-benar buruk, Kapten Nozuen. Aku akan memberikanmu beberapa rekaman kartun popular saat kau masih muda, jadi silahkan menikmati hiburan kekanakan ini, meski sudah seterlambat ini …. Baiklah …”

Seorang ajudan memasuki ruangan dan menyalakan lampunya sebelum mengaktifkan layar holo dan menumpukan tumpukan media dipenuhi kartun serta film di meja kepala staf.

“… ayo kembali ke topik. Aku punya misi untuk kalian, para perwira tersayangku. Sebagai bagian operasi kita untuk merebut kembali Sektor utara Republik, Divisi Penyerang 86 akan dikerahkan dalam operasi pengambilalihan stasiun pusat bawah tanah Charité, ibu kota kedua utara Republik.”

Lena menegang, Akhirnya.

“Mari mulai menjelaskan status kita sekarang ini. Ada pasukan besar Legion yang ditempatkan di utara Sektor Pertama, ibu kota Liberté et Égalité Republik. Sejak bulan Desember tahun kemarin, pasukan pendudukan dinilai tak cukup untuk merebut kembali Sektor dan dipaksa ditarik undur untuk maju lebih jauh—sekalipun aku yakin tidak perlu menjelaskannya kepada Kapten Nouzen yang dapat melacak pergerakan musuh.”

Kepala staf tersenyum sedikit pada Lena yang balas menatapnya.

“Militer Federasi menyadari kemampuan kapten untuk melacak musuh dan memanfaatkannya tuk mengikuti aktivitas mereka dalam area luas. Tak seperti negaramu yang bergantung kepada delusi akal sehat bersama, Federasi tak bisa melempar alat peringatan seperti dirinya ke medan perang.”

“Aku ragu semuanya akan berakhir baik untukku kalau Republik menganggapku sebagai alat peringatan.”

Di Republik, 86 dianggap sebagai ras tak manusiawi tanpa hak untuk bicara. Bila mana mereka mengenalnya sebagai subjek penelitian menjanjikan, Shin kemungkinan besar sudah dibedah dan diawetkan dalam cairan …. Di masa lalu, saat Resonansi Sensorik masih dalam pengembangan, banyak anak-anak dicomot dari kamp konsentrasi dan dibunuh dalam eksperimen manusia.

Lena mengingat temannya yang diam-diam tersiksa selama bertahun-tahun dengan berpikir dia telah meninggalkan teman masa kecilnya ke takdir tersebut. Mayor Henrietta Penrose, kepala peneliti teknologi Resonansi Sensorik. Teman masa kecil terlupakan Shin.

“Ya, benar …. Stasiun pusat bawah tanah Charité yang akan kau tekan adalah pangkalan produksi skala besar untuk detasemen Legion ini. Menurut pengintaian kita, diduga keempat lantah bawah menampung tipe Reproduksi—Weisel—dan lantai kelima menampung tipe Pembangkit Listrik—satu Admiral—unit kendali.”

Dengan lambaian tangan kepala staf, muncul layar holo di depan mereka, menayangkan tiga layar holografik tiga dimensi stasiun bawah tanah. Ada empat belas rute dan dua puluh lima platform serta jalur, juga fasilitas komersial skala besar disertakan yang membentang tujuh tingkat ke bawah tanah. Layarnya menampilkan struktur berbelit-belit dengan sejumlah bangunan melebar sejauh sambungan stasiun-stasiunnya.

Bahkan melihat model tiga dimensinya dari atas, orang bisa mudah tersesat, membuatnya mendapatkan nama terkenal Labirin Bawah Tanah Charité.

Shin menyipitkan mata selagi melihat-lihat model tersebut. Lena menyadarinya beberapa saat kemudian.

Sempit.

Terowongan terkecil yang panjang kali lebarnya empat meter saja.

Unit yang merupakan bagian terbesar pasukan Federasi, Vánagandr, sepenuhnya tidak mampu bergerak masuk ke dalam, dan satu gerakan salah bahkan bisa menyematkan Reginleif. Medannya tak memungkinkan Legion mengerahkan pasukan utama mereka sendiri, Löwe dan Dinosauria, namun dikarenakan merekalah pihak bertahannya, mereka bisa saja menggali lantai dan bersiap dihantam. Medan perang ini, di mana mereka bisa menyembunyikan titik lemahnya di balik lapis baja atau menjadikan kepala mereka sulit dibidik, boleh jadi sebetulnya pengaturan terburuk untuk Reginleif dan daya tembak rendahnya.

“Tujuan utamanya adalah melenyapkan kedua Legion ini. Selain itu, kami meminta kalian untuk menyelesaikannya dengan kerusakan sesedikit mungkin pada unitnya. Sangat sedikit data pengamatan perihal kedua jenis ini. Kami ingin memelajari mereka, jika bisa …. Tapi jangan jadikan prioritas. Bila melakukannya akan mengakibatkan kerugian ekstra, boleh lepaskan tujuan kedua ini.”

Sedikit catatan pengamatan Admiral dan Weisel yang bersembunyi di kedalaman wilayah Legion. Bahkan Republik beberapa kali saja menemui mereka, di awal perang.

Syukurnya, masih ada tentara aktif angkatan darat di medan perang tatkala itu, lantas mereka bisa cukup memberikan laporan mendetail perkara apa yang dilihat mereka. Dengan pemikiran tersebut, Lena mengangkat tangan.

“Boleh saya bertanya, Pak?”

Kepala staf tersenyum sopan.

“Tentu saja, Kolonel Milizé …. Senang mendengar rasa hormat kepada perwira atasan, tak seperti seorang kapten suram yang namanya takkan kusebutkan.”

Lena sekilas memandang Shin, dan Shin sendiri pura-pura tidak tahu.

“Admiral adalah tipe Legion yang menghasilkan paket energi dengan mengubah energi matahari menjadi listrik. Bagaimana bisa menghasilkan daya di bawah tanah, tanpa akses menuju sinar matahari?”

Menurut laporan, Admiral adalah Legion besar menyerupai kupu-kupu dengan sayap panel surya, disertai kawanan seukuran telapak tangan, Edelfalter: tipe Ekstensi Generator. Tidak sanggup melebarkan sayap besarnya di bawah tanah dan dari awal tiada sinar matahari untuk menghasilkan daya.

“Tepatnya, mereka tipikalnya mengandalkan pembangkit tenaga surya. Menurut laporan yang kami terima dari Kerajaan Bersatu, di antara Legion yang mereka lawan, ada Admiral yang menggunakan tenaga panas bumi untuk memproduksi listirk. Kemampuan mereka untuk beradaptasi pada situasi adalah ciri paling terkenal Legion, karakteristik kemampuan belajar tinggi mereka …. Terlebih lagi, menurut perkiraan kami, Admiral ini menggunakan fusi nuklir untuk menciptakan listrik.”

“Fusi nuklir …? Tapi itu …”

“Bahkan di Federasi sini masih hanya dalam tahap uji coba, artinya sangat mungkin ada bagi Legion. Lagi pula banyak teknologi yang dibanggakan Kekaisaran kami diwariskan ke Legion …. Inilah alasan lain Morpho menuju Republik selama serangan skala besar tahun kemarin. Semakin banyak listrik yang disediakan untuk railgun, makin tinggi kecepatan awalnya, kekuatannya dan jangkauannya. Tidak semata-mata duduk diam dalam dinding tetapi juga diberikan akses ke fusi nuklir pembangkit listrik tanpa habis … kurang lebih, Federasi kami sekaligus negara sekitar secara sepihak akan dihapus sampai menjadi abu.”

“…”

Shin-lah yang bicara berikutnya:

“Komodor.”

“Ya, kapten suramku?”

“Perwira komandan Divisi Penyerang 86 bukan Kolonel Milizé, tapi Kolonel Wenzel. Kenapa Kolonel Wenzel tidak di sini?”

“Kenapa, bukankah sudah jelas? Operasi semacam ini tidak perlu pengarahan, dan biasanya kami cuma mengirimkanmu berkas data. Hanya saja ada sesuatu yang ingin kutunjukkan kepada kalian selain pengarahan operasi ini.”

“…”

Oke, orang ini tidak bisa dipercaya, pikir Lena. Shin yang berdiri di sebelahnya, barangkali berpikiran sama.

Kepala staf bangkit berdiri, berkata akan mengantar mereka sembari meregangkan kakinya setelah mengerjakan pekerjaan kantor. Lena mengikutinya ke koridor markas besar terpadu di bawah, seketika menyadari sesuatu dan melihat sekelilingnya. Mereka tidak berjalan ke koridor masuk. Pandangan Lena beralih ke Shin yang mengamati lingkungannya dengan mata menyipit.

“Pak …”

Kepala staf, Willem, tidak meliriknya sama sekali selagi dia berjalan ke pintu di ujung koridor. Kunci ID pintu dinonaktifkan dan dia membukanya. Kemudian Willem balas menatap mereka berdua yang berdiri diam, dan menyuruh mereka masuk.

Sebuah ruangan berlangit-langit tinggi sampai-sampai lantai atas dikosongkan untuk mengakomodasiniya, dan mereka berada di lantai dua. Di bawah pagar pembatas ada kantor dipenuhi tentara mengenakan ban tim analisis informasi, menjalankan tugas mereka. Beberapa sedang menyaksikan layar holo yang diproyeksikan di tengah udara—kemungkinannya subjek analisis mereka.

Layar holo menunjukkan semacam ruangan pertemuan yang dibuat dengan skema desain Kekaisaran akhir. Suara Ernst menggelengar dari dalam ruangan, tetapi tidak ada batang hidungnya. Dia di luar jangkauan kamera.

“—komplain lain mengenai perlakuan 86, Perwakilan Primevére?”

Suaranya kedengaran sangat dingin dan kaku. Di layar, wanita dipanggil Primevére tersenyum anggun. Dia berambut dan bermata perak Alba juga mengenakan lambang bendera lima warna yang menunjukkan dirinya punya posisi di pemerintahan sementara Republik.

“Ya …. Sebagaimana yang kami bahas beberapa kali, 86 yang negara kalian rampas dari kami bukanlah senjata yang dimiliki Republik San Magnolia. Mereka adalah properti sah negara kami. Kami meminta kalian segera mengembalikannya.”

“Apa …?!”

Lena tidak sengaja berteriak, dan kepala staf mengangkat tangan untuk membungkamnya. Menatapnya, wanita itu melihat Willem nyengir samar dari balik topi militernya. Lena akhirnya melihat kebenaran di balik senyum kejam atasannya. Alasan sebenarnya memanggil mereka ke sini …

… adalah untuk memperlihatkan mereka ini

Wanita dalam rekaman tersebut—orang yang bernama Primevére—melanjutkan tuntutan sepihaknya:

86 adalah spesies lebih rendah—ternak berbentuk manusia. Federasi tak berhak menyita mereka. Sedari awal, Federasi tak ada alasan untuk meninggalkan militer mereka dalam wilayah Republik. Jadi mereka dikehendaki mengembalikan 86, memerintahkan militer mereka mundur, dan mengembalikan pemerintahan Republik ke tangan berhak Alba.

Ernst sepertinya mencemooh.

“Kami berencana memercayakan pertahanan kepada militermu begitu kami merebut Sektor utara. Namun apa kau sungguh berencana menahan Legion dengan metode itu, selain kejam, juga gagal enam bulan lalu?”

“Tentu saja. Kami Alba mendirikan bentuk pemerintahan terhebat sepanjang sejarah umat manusia: sistem di mana ras superior berdiri di atas ras-ras lain benua. Kami takkan kalah dari Legion, sebab mereka ciptaan ras lebih rendah.”

Matanya mengindikasikan dia betul-betul serius.

Bahkan Federasi yang punya wilayah dan kekuatan militer paling besar sebenua, memerlukan perubahan strategi untuk melawan Legion, tetapi dia praktisnya telah menyatakan kemenangan. Dia yakin akan keunggulan Alba di atas ras-ras lain akan segala halnya.

Orang ini—fanatik … ini—benar-benar mengatakan itu.

“Kemunduran kami enam bulan lain dikaitkan tidakompetennya 86. Kami memberikan mereka senjata luar biasa, lebih baik dari yang dapat diharapkan ternak belaka, tetapi mereka masih gagal mencapai kemenangan selama satu dekade ini. Dan dari inspeksi kami, keruntuhan Gran Mule selama serangan menyedihkan Legion itu adalah dikarenakan sejumlah kekurangan struktural pada desainnya. Itu sabotase tangan 86 yang membangunnya. Orang-orang rendahan, pemalas, berpikiran lemah itu …. Kali ini, kami akan membuat mereka bertarung di bawah komando superior dan efisien kami.

Rekamannya berakhir. Lena menatap layar gelanya, menggigit bibir.

Lagi.

Orang-orang yang berpikiran seperti ini memimpin Republik lagi …

“Jadi mereka ingin 86 menangani pertahanan Republik lagi setelah pasukan Federasi pergi. Sungguh kronis betapa kecilnya mereka memahami situasi perang dan amat menyesatkannya rasa keadilan mereka.”

Tawa cemooh dan tajam kepala staf rasanya terlalu dingin bagi Lena. Lena bahkan tidak sanggup menatap mata Shin yang berdiri persis di sebelahnya …. Tidak, dia tak ingin melihatnya. Dia mungkin menatap Lena dengan sorot mata dingin tak berperasaan sebagaimana dia menatap Alba lain.

Shin bicara biasa:

“… jadi misalkan kami tak berguna, kau berniat menuruti permintaan mereka?”

“Setelah simpati kecil warga sipil habis dan bila mana kami tak menemukan kegunaan lain kalian, mungkin saja.”

Kepala staf tidak berpaling dari tatapan dingin Shin.

“Sekarang ini tidak usah ngambek, 86. Bukannya kalian bukti hidup bahwa inilah yang akan dirasakan semua orang ujung-ujungnya?”

Shin mendesah kecil.

“… ya.”

  “Ngomong-ngomong, wanita itu dengan cepat mengumpulkan dukungan di antara warga lama Republik dan membangun posisinya dalam pemerintahan sementara. Dialah pemimpin Ordo Magnolia Suci Berdarah Murni, Berdarah Putih Murni, Kesatria Patriotik, dan tuntutan mereka adalah, yah, seperti yang kalian dengar.”

“… apa itu semacam kode nama dalam militer Federasi?”

“Aku semata-mata menyebut apa yang mereka diri mereka sendiri panggil.”

“…”

Shin mendesau berat dan jijik.

“Dan bagaimana … kesatria ini terkait dengan misi kita?”

Shin menyingkat nama mereka.

“Bisa kau anggap sebagai peringatan dan tidak lebih …. Mari berharap saja ini tak lebih dari ketakutan tidak penting diriku sendiri, oke?”

Tetapi tuntutan Kesatria Patriotik tetap tertambat di hati Lena bak duri. Dengan berkas personel 139 Prosesor yang baru diangkat diproyeksikan di udara di hadapannya, Lena duduk termenung.

86 dilahirkan dan dibesarkan dalam Republik, tetapi Republik jauh dari kata kampung halaman bagi mereka. Tetapi, suatu hari, mereka mungkin ingin kembali ke tanah kelahiran mereka. Tapi jika inilah Republik ketika saat-saat itu datang … mereka boleh jadi takkan kembali.

Kok bisa Republik …? Tanah airku, meskipun aku tidak bisa lagi membanggakannya …

TP si kucing hitam mengeong meminta perhatian.

“Kolonel … Kolonel Milizé.”

“Eeh!”

Dia mendongak melihat Grethe.

“Mohon maaf. Ada apa, Kolonel Wenzel?”

“Apa, tanyamu. Mayor Penrose dan Letnan Dua Jaeger tiba hari ini, dan ini pun hari pertama kelompok Prosesor di tugas baru mereka. Mayor dan letnan dua semestinya tiba sebentar lagi.”

Cemas memeriksa kalender holografik dan jam di meja, Lena buru-buru bangkit berdiri.

“Aku—aku harus menyambut mereka.”

Lena berniat menyapa mereka sendiri tetapi sangat dibanjiri dokumen sampai-sampai lupa. Grethe menyeringai, tangannya menghentikan gadis itu.

“Aku sudah mengirim seseorang untuk menyambut mereka. Mereka akan diajak berkeliling ruangan, jadi kau punya waktu berpakaian …. Lagian Mayor Penrose itu masih gadis juga. Kita tidak bisa meminta kehadirannya sebelum dia menghilangkan penat perjalanannya.”

“Maaf …. Terima kasih.”

“Tidak perlu berterima kasih. Ini bagian pekerjaanku.”

Tepat saat Lena mau duduk kembali, dia tiba-tiba menyadari sesuatu dan menegang ketika hendak bersandar ke kursinya.

“Kolonel mengirim siapa untuk menyambutnya …?”

Grethe memiringkan kepala penasaran.

“Kapten Nouzen, karena dia kebetulan menganggur … kenapa bertanya?”

“Shin …?!”

Shin memandang bingung perwira teknis Republik selagi sang Mayor berdiri membeku di landasan pacu, nama Shin tertutur dari bibirnya dengan teriakan sedih. Bernholdt yang membawa kopernya, ekspresinya ikutan bingung. Perwira teknis—Mayor Penrose—pucat pasi syok dan kebingungan, wajah Annette lebih pucat dari wajah pucat semua orang yang pernah dilihat Bernholdt. Sesaat gadis itu berangsur-angsur pulih dari keterkejutannya, dia mengatakan sesuatu dari bibir gemetarnya, “… Kapten Nouzen, ada sesuatu yang ingin aku konfirmasi.”

Suaranya kedengaran seoleh-oleh dihimpat segumpal emosi.

“Apakah Kolonel Milizé yang mengirimu untuk menyambutku …?”

“Tidak, Mayor Penrose, itu atas instruksi Kolonel Wenzel, komandan unit.”

Shin menjawabnya, bertanya-tanya apa tujuan pertanyaan tersebut. Perbedaan peringkat antara mayor dan kapten sendiri absolut, dan walau Shin sendiri tidak peduli pada aturan sama sekali, dia mengikuti perintah agar Lena tak kehilangan muka atas tindakannya. Shin pikir dia menyadari alasan sikap itu. Warga Republik menganggap 86 sebagai babi berbentuk manusia.

“Sekiranya Anda merasa tak senang disambut seorang 86, saya minta maaf …. Sebab Anda ditugaskan di laboratorium, saya ragu kita akan bertemu satu sama lain setelah ini.”

“Apabila itu mengangguku, aku takkan suka rela datang ke sini dari awal.”

Mayor Penrose menyemburkan jawabannya seolah-olah dirinya telah ditusuk pisau.

“… dan lagi, aku pakar teknis di bidang Resonansi Sensorik. Mau tidak mau aku harus berinteraksi dengan kalian, para Prosesor …”

“Annette!”

Suara panik bergema di landasan pacu. Tatapan mereka beralih, mereka mendapati Lena berlari cepat menghampiri. Dia mungkin berlari cepat di sepanjang jalan, karena sewaktu Lena sampai pada mereka, tangannya menyentuh lutut dan megap-megap. Melihatnya tak memakai topi militer ataupun medali, dia mungkin langsung datang ke sini.

“Kapten Nouzen, aku yang akan mengantar Mayor Penrose berkeliling. Sersan Kepala Bernholdt, tolong urus barang bawaannya.”

“Ya, bu.”

“Ayo.”

Tatapan kebingungan Shin mengikuti Lena selagi gadis itu pergi. Seakan-akan Lena mencoba menjauh dari tempat itu—darinya. Saat mereka pergi, Bernholdt mengulurkan tangan, ibaratnya meminta sesuatu, dan Shin menyerahkan topi militernya. Raiden yang kebetulan lewat, bertanya, “… tadi kenapa?”

“Mana kutahu.”

Shin pun tidak tahu apa masalahnya. Lalu dia gantian bertanya, “Ada apa?”

“Datang ke sini buat menemui beberapa pemula. Anak satu ini ketinggalan …”

Dagunya menunjuk bocah Celena yang melihat-lihat sekeliling, kelihatannya melewatkan kesempatannya untuk pergi bersama seluruh kelompok tepat waktu.

“… dan orang itu di sana.”

Raiden kemudian mengalihkan pandangannya ke bagian belakang pesawat angkut kedua. Bocah 86 berbadan mungil berhenti seketika mendapati Shin dan Raiden.

Rahangnya menganga sebelum bergumam:

“Hah? K-Kapten Nouzen?! Wakil Kapten Shuga!”

Dia bertingkah seolah-olah baru saja menyaksikan dua orang mati berjalan, tapi menurutnya, itu tidak salah-salah banget. Bocah ini, Rito, adalah bawahan Shin dan Raiden di unit yang mereka abdikan sebelum bergabung skuadron Spearhead dua tahun lalu. Setahunya, Shin dan Raiden sudah mati. Shin pun kaget menemui kenalan lama dari dua tahun lalu yang selamat, tetapi Rito menjawab:

“Wah, Kapten, jangan bilang kau beneran mokad dan beralih pekerjaan jadi pencabut nyawa betulan?! Apa sebenarnya kita sudah mati?!”

Raiden tertawa-tawa terhadap gagasan absurd itu sementara Shin mendesah dalam-dalam.

Setelah kejatuhan Gran Mule, ada warga Republik, akan tetapi sedikit yang bergabung dengan barisan dan mempilot Juggernaut. Ada pula yang memilih melindungi tanah air mereka secara langsung dan mengajukan diri bergabung dalam Divisi Penyerang. Seorang tentara.

“Letnan Dua Dustin Jaeger. Saya akan berada di bawah komando Anda mulai hari ini. Senang bertemu Anda.”

Ketika bocah Celena itu memberi hormat kikuk, mengenakan seragam Republik biru bajanya, suasana tak nyaman melintas di kelompok lima orang senior Shin. Mereka sudah diberi tahu terlebih dahulu mengenainya sebelumnya, tapi tetap saja … seorang warga Republik. Mereka merasa sungkan. Merasakan suasana gelap jatuh ke rekan-rekannya, Shin bertanya, “Kau awalnya bukan tentara—kenapa mengajukan diri? Tidak usah formal—kami semua sama sepertimu di sini.”

Dan di situlah letak perbedaan antara memperlakukan seseorang layaknya manusia dan drone.

“Diterima, pak … Eeh, maaf! Iya, aku seorang siswa sebelum serangan skala besar terjadi.”

Merasa bingung, Dustin mengubah jawabannya seketika melihat mata merah tua Shin menyipit sedikit. Seperti yang diminta, dia bicara di depan 86 dengan menghilangkan semua formalitas.

“… kau tahu, banyak teman sekelasku adalah 86 yang gugur bertempur melawan Legion. Dan aku cuma bisa menonton saja. Jadi kupikir tentu saja aku akan membawa stigma tersebut. Tapi aku tidak ingin anak-anak dan cucu-cucuku menanggungnya juga. Lantas untuk memutus siklusnya, aku … warga Republik harus bertarung.”

“Apa pun yang terjadi setelah kau mati bukan lagi urusanmu. Kau yakin soal itu?”

Dustin mengerutkan bibirnya.

“Sekalipun aku mati, pengaruh tindakanku akan tetap ada. Dan itu akan memengaruhi masa depan. Jadi jelas itu urusanku … jika kau menyertakanku, aku bertekad melakukan ini.”

“Letnan Dua Divisi Penyerang 86, Shiden Iida, kapten unit Brísingamen, pemimpin pertahanan markas besar. Senang bertemu denganmu, Pak, Kapten Nouzen.”

Unit yang kemudian dikenal sebagai kesatria Ratu berakhir memiliki lima belas anggota selamat dari serangan skala besar. Shin melihatnya, Letnan Dua Shiden Iida, alias Cyclops, selagi dia memberi hormat asal-asalan di depan kelima Prosesor berdiri di inti grup. Lena harus menahan tawa terhadap reaksi antiklimaks Shin.

Suara Shiden adalah alto serak yang susah membedakan jenis kelaminnya. Rambut merah tak terawatnya dipotong pendek, kulitnya cokelat muda, dan dia setinggi pria umumnya. Bedanya, payudaranya lebih besar dari kebanyakan wanita yang dikenal Lena, karena itulah dasi seragam Federasinya posisinya sangat miring.

Matanya kemungkinan besar inspirasi Nama Pribadinya. Mata kanannya nila gelap, kirinya seputih salju, mengesankan dia cuma punya satu mata. Matanya menyipit selagi menampakkan gigi taring tajamnya, menyeringai layaknya binatang buas.

Iya, Shiden Iida adalah seorang wanita.

Lena pernah membahasnya, dan tampaknya Shin tidak pernah menyangkanya seorang wanita. Bisa dibilang kelangsungan hidup Sektor 86 lebih tinggi untuk pria. Di medan pertempuran keras, perbedaan daya tahan dan stamina berpengaruh signifikan terhadap kelangsungan hidup. Dan karena tentara wanita normalnya tidak punya stamina fisik sebesar tentara pria, angka harapan hidup rata-rata mereka lebih pendek.

Dalam ruang pengarahan, dengan seluruh Prosesor dikumpulkan dalam satu tempat, Shiden bicara dari tengah kelompok.

“Oh ya, mainanmu sudah kembali, Penakluk Wanita? Yang kau jatuhkan di ladang bunga itu enam bulan lalu?”

Shiden nyengir sedangkan Shin menyipitkan matanya. Dia sungguh-sungguh tinggi bagi seorang gadis. Berdiri berhadapan dengan Shin yang lebih tinggi dari anak laki-laki seusianya.

“Aku tidak tahu cerita rinciannya, tapi jangan lampiaskan amarahmu sama seorang wanita yang bisa saja dia orang asing, bodoh. Itu sangat-sangat memalukan.”

“Aku tidak menyangkalnya …. Tapi apa hakmu mengatakan itu padaku?”

Shiden mendengus dan mengangkat dagu angkuh.

“Hak penuh. Aku tak peduli kau ini sang Pencabut Nyawa dari font timur atau bukan. Kau tidak berhak membohongi Baginda Kami, paham? Lagian, bukannya kau harusnya sudah mati dua tahun lalu? Paling tidak tahulah cara tinggal di kuburan, keparat.”

“… kau cuma besar mulut saja, bukan?”

Shin menjawab provokasi terang-terangan itu, tidak memendam perasaannya sekarang ini.

Mata aneh Iida berkilauan ibarat sedang tertawa sesaat itu, Shiden meluncurkan tubuh tingginya ke depan.

“Makan nih!”

Begitu dia berteriak, tendangan diagonal menuju Shin layaknya hantaman palu, Shin menghindarinya dengan menekuk tubuhnya setengah langkah ke belakang.

Kemudian Shin menghindar tipis serangan berikutnya lalu memanfaatkan sela antara serangannya untuk mencari celah, lengan Shin menyabetnya.

Untaian rambut merah pendeknya berkibaran di udara seperti percikan darah atau bara beterbangan tertiup angin.

Merefleksikan warna tersebut, mata seputih salju Iidan menyipit bagai hewan ganas.

Lena kebingungan oleh perkelahian tiba-tiba ini, dan mata serta tangan terulur tanpa dayanya bergerak ke kanan-kiri.

“Ah, er, t-tolong, tolong hentikan …!”

“Ah, biarkan mereka, Lena. Biarkan mereka bertarung.”

Demikian kata Theo, sambil duduk bersandar di kursi, punggungnya bersandar di punggung sedangkan tangannya yang dilipat di atas sandaran, memeluk kepalanya.

“Kau tahu bagaimana singa, serigala—wah, bahkan anjing liar—bertarung memperebutkan dominasi dalam kawanan? Iya, ini tuh itu. Biarkan saja mereka menyelesaikannya dengan cara sendiri.”

“Mereka bukan anjing liar—!”

Lena sadar 86 di sekeliling memindahkan kursi mereka lebih dekat supaya dapat menonton lebih jelas, terang-terangan memasang taruhan pada siapa yang mereka kira akan menang. Tidak satu orang pun berencana menghentikan ini. Kurena, Anju, dan Raiden menyaksikan kekerasan ini terungkap tanpa peduli apa pun.

“Hah, taruhannya separuh-separuh …? Masa …? Shin yang menang, sembilan dari sepuluh kemungkinan.”

“Yea, yah …. Dia mungkin Pencabut Nyawa dari front timur, tapi cerita itu sekarang sudah basi dua tahun …”

“Kutebak sebagian besar orang-orrang itu tak terlalu mengenalnya. Lagi pula, yang pasti, Lena di sini yang benar.”

“A-aku …?!”

“Kek, lihat saja mereka. Tidak lama lagi mereka akan berhenti.”

Bagaimanapun, mereka itu bukan anjing.

Seorang gadis yang berperan sebagai bandar judi (wakil kapten skuadron Brísingamen, yang cukup mengerikan) berkeliling, mengambil taruhan.

Raiden dan teman-teman menaruh bebeapa taruhan kecil pada kemenangan Shin.

“Di Republik, 86 tak peduli-peduli amat sama pangkat. Jadi kami putuskan sendiri posisi kapten dan wakil kaptennya sendiri.”

… begitukah?

Lena merasa muak karena sangat apatis dari kejadian di luar dinding sampai-sampai tak mengetahuinya, meski dia seorang prajurit.

“Tapi Penyandang Nama punya harga diri masing-masing dan takkan mengikuti siapa pun yang lebih lemah dari mereka ke pertempuran.”

“Hidup kita dipertaruhkan di sini. Mana mau kami mati gara-gara orang tolol tanpa keahlian memerintah-merintah kami.”

“Biasanya orang terkuat dipilih sebagai kapten. Tak jadi soal kalau satu unit Penyandang Namanya cuma satu, tapi kalau ada banyak di satu tempat, segala halnya biasanya diputuskan seperti ini: dengan pertarungan.”

Betapa tidak mengenakkannya ungkapan tersebut, memang sungguh-sungguh seperti hewan memperebutkan dominasi.

“Apa di skuadron Spearhead begitu juga?”

Di medan perang terakhir Sektor 86.

“Waktu itu, nama dan keahlian Shin sudah terkenal, jadi kami semua sepakat Shin jadi kapten dan Raiden jadi wakil kapten.” kata Theo.

“… dan kau memaksakan seluruh pekerjaan kotormu padaku sejak itu.”

“Yah apa dikira? Kami semua goblok soal membaca dan menulis, dan lagi, kau paling lama sama Shin.”

Seorang kapten regu mesti mengisi dokumen sebagai bagian peran mereka, dan jikalau terjadi sesuatu kepada kaptennya, sang wakil kapten akan menggantikannya. Baik Shin dan Raiden telah diberkati wali dan pendidikan lebih baik dari anak-anak seposisi mereka, jadi masuk akal membiarkan mereka menangani tugas tersebut.

“Tapi ya, kami sering bertarung memperebutkan dominasi semacam ini di regu sebelum itu. Ada Kurena dan Daiya, Kaie juga aku …. Ada pula satu orang ini sebelum kau ditugaskan menjadi Handler kami, Kujo. Dia orang paling besar dan kekar di regunya kala itu, tapi melihat gadis paling kecil di sana, Kaie, bisa menghajarnya itu gila.”

Nampaknya, Kaie memanfaatkan ukuran tubuh Kujo dan menggunakan lututnya sebagai pijakan tuk meluncurkan tendangan terbang ke tengkuknya.

Kurena mencibir Kurena yang masih menyaksikan pertarungannya dengan linglung, matanya panik.

“Takkan terjadi apa-apa. Shin tidak serius saat melawan wanita. Sebetulnya dia sekarang sangat menahan diri.”

“Yoi, saat Shin serius dia akan mulai menendang. Dia biasanya mengincar rahang juga.”

“Rahangmu pernah sekali ditendang, bukan, Raiden? Aku selalu ingin tahu bagaimana dia menggerakkan badannya saat kudengar dia mampu menendang rahang orang lebih tinggi padahal dikunci, tapi Shin benar-benar melakukannya, kan?”

“Kurasa Daiya pingsan oleh salah satu tendangan itu. Kenapa juga dia selalu membidik titik yang biasanya akan membunuh seseorang …? Oh!”

“Wah. Lumayan. Dia memaksa Shin memblok.”

Menggunakan tendangan berputar sebagai tipuan, Shiden seketika mengganti poros kakinya di tengah putaran dan beralih ke tendangan tinggi. Tidak bisa menghindari tendangan ke pelipisnya tepat waktu, Shin menahan serangannya dengan bagian atas lengan kanannya, merobek sedikit lengan seragamnya. Ujung berbentuk V sol sepatu lawannya merobek lengan Shin. Itu balasan sabetan tangan Shin. Beberapa tetes darah mengalir jatuh dari balik kain biru baja robeknya.

Mata merah darah Shin mendingin, sesuatu yang Lena bahkan belum terbiasa melihat kekerasan fisik, lihat.

“… waduh.”

“Dia membuat suasana hati Shin jadi yang itu …”

Begitu Raiden dan Theo berbisik demikian, Shin bergerak. Sesaat Shiden mencoba menarik kembali kakinya, lengan kanan Shin mendepaknya ke samping. Di waktu yang sama, dia melangkah maju tajam untuk menutup celah mereka, lalu saat Shiden melompat satu kaki sesuai perkiraan Shin, Shiden mencoba menjaga keseimbangannya, Shin mengarahkan ujung kakinya untuk menyandung kaki porosnya terus mengangkatnya.

“Ah, uwah …!”

Shiden benar-benar di tengah udara sepintas, selanjutnya Shin menangkap lehernya dan membantingnya ke lantai.

“…?!”

Kalau ini pertarungan melawan musuh asli, Shin sudah betul-betul akan menjatuhkannya ke bawah. Tetapi di tengah bantingan, Shin melepasnya, mematuhi naluri hewan Shiden, wanita itu meringkuk dan melindungi kepalanya, membiarkan gravitasi menariknya setengah jalan ke bawah. Lalu dia menabrak lantai kayu.

Dia mungkin saja gadis, tetapi besarnya seukuran laki-laki dan fisiknya ditempa medan perang. Suara benturan keras bergema di seluruh ruangan, dan Shiden terdiam.

Tak satu hadirin membuat suara secicit pun.

Diam.

Diam.

Dan diamnya makin lama.

Mendadak, wanita itu mengejang. Dia menendang dan menggunakan momentumnya untuk berdiri, berganti dari posisi terkapar sebelumnya dan jarinya menunjuk komplain.

“… brengsek! Itu akan membunuhku kalau tidak bertahan!”

“Kau kira aku peduli kalau kau hidup atau mati.”

“Kenapa kau barusan mendecakkan lidah?! Apa kau beneran mau membunuhku, bangsat …?!”

“Cih …”

“Ohhh, kau membuatku kesal …! Lihat tuh, Baginda? Orang ini bajingan yang tega menghajar seorang wanita tanpa pikir dua kali!”

“Kau duluan yang menghinaku kek anjing gila. Sekarang diamlah dan jangan jadi pecundang tak terima kekalahan.”

Shin balas menghina Shiden yang benar-benar sedang menunjuknya, dengan suara yang 10 persen lebih dingin dari biasanya. Persis terlihat seperti sepasang anak berusia sepuluh tahun sedang bertengkar. Selagi dia melihat percakapan menghangatkan hati(?) ini, Lena berharap dari lubuk hatinya mereka tidak menghiraukannya. Raiden dan Theo mendekap badan mereka dan tertawa terbahak-bahak.

Tapi tetap saja, kalah ya kalah. Shin berjalan pergi seraya menggerutu, meninggalkan Shin di tengah-tengah kelompok.

“Baiklah …”

Mata merahnya jelalatan di ruang pengarahan, penuh tekad, bahkan membuat 86 berpengalaman mengalihkan sorot mata mereka dan tersentak. Sampai sekarang, Shiden adalah Prosesor yang melayani Lena—perwira atasan mereka, Reina Berdarah—bawahan langsung.

Dia diakui sebagai Prosesor terkuat. Dan Shin dengan mudahnya mengalahkan Shiden.

“… misalkan ada orang lain yang keberatan aku memegang komando, majulah.”

Tidak satu tangan pun terangkat.

Tidak.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Aku selanjutnya …!”

Nyatanya, ada orang yang mengangkat suaranya. Melewati kerumunan, Dustin melepas jaket seragamnya antusias. Anju yang kebetulan berada di sampingnya, menghentikan langkahnya.

“Dengar, Letnan Dua Jaeger.”

Pria itu berbalik menghadapnya dan ditatap sepasang mata yang sedikit lebih tinggi darinya, laksana orang dewasa memandang anak-anak yang bicara melantur.

“Kau boleh membual setelah mengalahkanku.”

“Uh, tidak, maksudku, aku tidak bisa melawan seorang gadis …”

Anju menyeringai.

“Sini.”

Ruang pengarahan sekali lagi meledak ketika semua orang buru-buru mencoba mendapatkan kembali uang yang hilang dari taruhan sebelumnya. Shin kembali menghampiri Kurena dan Lena sementara Raiden serta Theo melambai pelan.

“Kerja bagus tadi.”

“Yea …. Ngomong-ngomong,” katanya, membalikkan pandangannya ke sudut ruang pengarahan, “apa yang Anju dan Jaeger lakukan?”

“Um. Pendisiplinan, kurasa?”

Dan begitu Shin melirik mereka …

“—hiyah!”

“Woaaaaaahhh!”

… Anju dengan gampilnya membanting Dustin ke atas bahu dan malangnya bocah itu berciuman penuh gairah ke meja terdekat.

“Annette, maaf. Aku tidak pernah bermaksud agar kalian berdua bertemu seperti itu.”

 “Tidak apa-apa.”

Hari sudah malam. Di ruangan baraknya, Annette menggeleng kepala pelan pada Lena—yang meminta maaf sedalam-dalamnya—kemudian melihat ke luar jendela. Kafetaria perwira penuh sesak hampir seratus Prosesor menikmati waktu luang mereka. Di dekat jendela itu ada Shin, duduk agak jauh dari kekacauan seraya membaca buku. Melihat bayangannya membolak-balik halaman, Annette berbisik:

“Awalnya aku juga tidak tahu dia Shin. Dia sangat …”

Dia terdiam, tapi entah bagaimana Lena tahu apa yang akan dikatakannya.

… sangat berbeda.

April 2150.

Pasukan ekspedisi bantuan Federasi akhirnya menyelesaikan tiga bulan persiapannya dan siap menyerang. Operasinya untuk merebut kembali wilayah utara Republik telah dimulai, dan alhasil, Divisi Penyerang ditempatkan di bawah pasukan bantuan yurisdiksi pasukan ekspedisi dan dikerahkan ke markas besar garnisun di markas besar Liberté et Égalité.

Namun seketika ke-168 86 yang merupakan mayoritas Divisi Penyerang ketujuh skuadron sampai pangkalan, mereka disambut dengan …. KEMBALILAH KE SEKTOR 86, 86!

KEMBALIKAN NEGARA PUTIH MURNI INI KE TANGAN MANUSIA!

… spanduk-spanduk tak terhitung jumlahnya, tergantung dan berkibar dari bangunan terbakar tinggi mengelilingi yang dulunya markas besar angkatan darat Republik dan kini menjadi basis garnisun.

Kemarin, PM (polisi militer) yang berpatroli telah melepas spanduknya, namun melihat keluar dari jendela ruang pengarahan, Lena bisa melihat lagi spanduknya mengepak di tempat sama.

Jangan lagi, pikir Lena sembari mengerutkan alisnya. Hal yang sama lagi. Pergilah, 86. Kembalikan negara putih murni kami, dan seterusnya. Pasukan ekspedisi bantuan sudah sibuk menahan garis depan dan merebut kembali Sektor utara alhasil tidak mampu mengalihkan sumber dayanya untuk menjaga ketertiban umum. Dan sebab tidak adanya investigasi perihal spanduk tersebut, beberapa warga sipil melanjutkan tindakan fanatisme tiada henti mereka kepada 86.

Dimulai hari mereka memasang spanduknya, mereka mulai bernyanyi lagu-lagu merendahkan dari tempat persembunyian aman mereka. Malam harinya, mereka akan membagikan brosur penghasut. Makin banyak grafiti marak fitnah menutupi sekeliling pangkalan, dan saluran udara penuh pembajakan stasiun radio.

Hina, ucap mereka. Pergilah, tukas mereka. Salah kalian semuanya jadi seperti ini. Mereka mengulang-ulang kalimat kebencian dan niat buruk mereka tanpa akhir, tidak pernah sekali saja sadar merekalah yang menjatuhkan takdir ini kepada diri mereka sendiri.

Seketika Shin datang ke kantornya untuk mengonfirmasi sejumlah dokumen, Shin bertanya padanya, “Ada apa ribut-ribut soal pemutih dan deterjen?”

“… pemutih dan deterjen?”

“Mereka terus bilang, Kembalikan putih murni kami.”

Lena tertawa terbahak-bahak. Tentu saja, kalau memahaminya di luar konteks, kedengaran semacam iklan deterjen.

Tapi bahu Lena segera merosot.

“… maaf.”

“Tidak usah minta maaf. Kau tidak perlu meminta maaf apa-apa, Lena,” kata Shin yang kedengaran sama sekali tidak terganggu, wajahnya menyeringai. “Tak masalah mereka bilang apa—mereka takkan mendengarkan. Mereka ibarat orang yang hanya bicara tapi tidak berbuat; kau kalah begitu memikirkan mereka. Mereka hanya bisa berkoar, dan kau boleh selalu menertawakan mereka seperti yang kau lakukan barusan.”

Shin mengangkat bahu pada tatapan balasan Lena.

“Jadi jangan biarkan itu mengganggumu, Lena …. Bukan salahmu, jadi raut wajahmu jangan begitu.”

Lena tersenyum pahit. Dia sadar Shin meresahkannya, dan itu membuatnya bahagia, tapi …

“Tapi aku terus terganggu. Aku … warga negara Republik juga.”

Biarpun tidak bisa dia banggakan, walaupun dia tak mampu mencintainya lagi, Republik masihlah tanah airnya yang melahirkan dan membesarkan Lena. Dan sebagai salah satu warga negara Republik, melihat sesama warga negaranya berperilaku begitu hina membuatnya malu dan sedih. Dan membiarkannya demikian di depan mata 86 tidak bisa diteirma.

“Meninggalkannya begitu saja walau kau tahu itu salah sama saja mendukung mereka. Tidak mengoreksi tindakan mereka itu … memalukan, sebagai sesama warga negara Republik.”

Shin terdiam sejenak. Lena kira dirinya melihat kilat mirip kemurkaan atau kemarahan di matanya.

“… kau berbeda dari mereka, dan kami semua tahu itu …. Apa pun yang mereka katakan atau lakukan tak ada hubungannya denganmu.”

“… meski begitu, menurutku itu tidak bisa dibiarkan. Kita bisa melakukan apa soal itu, Kolonel Wenzel?”

“Yah, iya, jelas bukan pemandangan menyenangkan …”

Lena menyuarakan keluhannya selama salah satu jadwal rapat mereka, dan Grethe mengerutkan alis kesal.

“Markas besar sudah menyampaikan keluhan kita ke pemerintahan sementara, dan kita telah meningkatkan area dilarang masuk, sekaligus frekuensi patrol. Lebih dari itu akan sulit dilakukan.”

“… iya, kurasa begitu …”

“Aku paham kekesalanmu, tapi polisi militer hanya bisa bertindak sesuai peraturan militer Federasi.”

Menangani ketertiban sipil dalam pangkalan dan sekitarnya adalah peran polisi militer. Dan karena hal ini sengaja dilakukan untuk menurunkan moral tentara, para PM secara aktif berusaha mencegahnya. Dan tetap saja, tidak ada henti-hentinya siaran radio yang disiarkan lewat saluran udara atau nyanyian maupun pamflet-pamflet yang beterbangan di udara.

Tempo hari, ketika satu skuadron tengah dalam perjalanan kembali ke pangkalan setelah berolahraga, mereka menemukan biji pohon ek berserakan di jalan. Tentara Federasi tampaknya tidak ambil pusing, tapi Lena, sebagai warga kota Republik, memahami arti di baliknya. Industri Republik orisinilnya adalah pertanian dan peternakan. Dan biji pohon ek tradisionalnya adalah … makanan untuk para babi.

86 mungkin lahir di Republik, namun mereka tidak pernah belajar budaya dan sejarahnya, jadi untunglah makna menghina nan jahat di balik tindakan ini hanya dimengerti warga Republik …. Tetapi Shin dan kawan-kawan duduk di kendaraan transportasi, Shin mendesah ringan, dan Raiden mendengus. Lena merasa kecemasan meremas hatinya bak catok. Satu hal pasti, mereka berdua sama-sama tahu. Mereka diam saja, pura-pura tidak menghiraukan hasad yang diarahkan kepada mereka. Dia ingin mencari cara untuk menghentikannya …

“Tidak bisa bilang kami tak peduli, tapi … 86 tak mempersoalkannya, kan?” tanya Grethe.

“… benar …”

Lena mengangguk ragu. Dia merasa aneh, atau kurang lebih merasa tak nyaman. Bukannya mereka setidak acuh Shin. Ada beberapa reaksi tak biasa sama hal ini dan itu, tetapi reaksinya masih termasuk bercanda.

Setiap kali spanduk dipasang, 86 mengikatkan boneka mainan seekor babi putih di salah satu tiang bendera tidak digunakan lalu dijatuhi hukuman eksekusi gantung. Setiap kali dimulai nyanyian menjengkelkan, hari berikutnya berubah menjadi parodi kotor. 86 akan membuat corat-coret karikatur imut babi putih di bagian belakang selebaran serta, setiap harinya kafetaria dipenuhi imitasi berlebihan warga negara Republik.

Fakta mereka tak terluka oleh hal ini tentu catatan positif, namun Lena merasa mereka harusnya lebih membencinya, menentangnya lebih terbuka. Bagaimanapun, Republiklah yang menganiaya mereka dan merampas hak mereka yang sudah tidak ada …

“Tertawa saat menghadapi kesulitan adalah bentuk perlawanan lain … aku ragu saat ini ada yang bisa mengganggu mereka atau tidak.”

“Tapi kesalahan tak boleh dibiarkan begitu saja. Dan warga Republik tidak adil melampiaskan rasa frustasi mereka kepada 86; tidak ada alasan mereka mesti menerimanya.”

Suara Lena kini disertai amarah.

“Sektor 86 tidak lagi ada. Kami tidak menguasai mereka. Mereka harusnya diizinkan menentang kebencian ini secara terbuka …”

Grethe mengerutkan kening.

“… dan bagaimana persisnya saranmu kepada mereka untuk menanganinya?”

Lena berkedip terhadap pertanyaan mendadak tersebut.

“Bagaimana …? Apa maksudmu, Kolonel Wenzel?”

“Ini kesanku setelah mengenal mereka …. Dari mengenal Kapten Nouzen selama satu tahun.”

Menemui pandangan Lena, perwira ini yang sepuluh tahun lebih tua darinya bicara dengan suara merenung. Bibirnya rata dilapisi lipstik merah, dan tak seperti Lena, dada seragamnya penuh pita dan medali pencapaian yang dia kumpulkan.

“Anak-anak itu, mereka tidak kuat. Mereka hanya mengerti saja perlu bertahan hidup, dan dalam proses menjadi kuat, mereka malah memotong segala hal yang melemahkan mereka.”

Bukannya mereka tidak terluka. Tetapi karena mereka terlampau terluka sampai-sampai mereka harus memotong semua hal yang menyakiti mereka …?

“Kau ngomongin apa …. Itu aspek kelemahan lain bagi mereka. Mengalami kebencian blak-blakan itu setiap harinya memotong semua kelemahan dari hati mereka dan menjadikan mereka mati rasa. Menyuruh mereka membela diri di hadapan kesulitan tak masuk akal ini mungkin tampaknya respon wajar, tapi … bukannya sama saja meminta mereka untuk merasakan sakit lagi?”

Kendati mereka tidak menggunakan peluru asli pada latih tanding Juggernaut yang beratnya sepuluh ton bermanuver kecepatan tinggi dan mencoba menembak sisi samping atau belakang satu sama lain itu keras bagi mereka yang tidak terbiasa menggunakannya. Dustin menyeret lelah dirinya sendiri untuk mandi sesudah sesi tanya-jawab, kemudian dilewati Rito yang berteriak, “Dibs!”

Melihat punggung mereka menyusut di kejauhan, Shin mengerutkan alis.

Karena dialah kaptennya, keputusan pasukan mesti ditugaskan ke skuadron mana ada di tangannya, dan dia kebanyakan memilihnya berdasarkan nilai mereka di akademi perwira khusus dan catatan pertempuran Republik. Pada akhirnya menghasilkan regu nyaris sama saat masih di Republik dulu, namun ada satu tentara bermasalah.

Anju bersandar di dinding menunggu Shin keluar.

“Kau tidak tahu harus menempatkan Jaeger ke mana, kan?” tanya Anju seusai melihatnya.

“… iya.”

Sekalipun tiga tahun lebih muda dari Dustin, Rito adalah Prosesor yang pernah bertugas di skuadron Shin dulu sebelum bergabung Spearhead. Dua tahun pengalaman bertempur cukup singkat bagi Prosesor bertahan hidup, namun masih lebih lama dari Dustin. Kesenjangan pengalaman dan jam terbang mengemudikan Juggernaut terlalu jelas.

Tingkat menang-kalah mereka dalam pelatihan dan Dustin yang kelelahan setelah sekali tanding sangat menjelaskannya.

“Tapi semangatnya mengagumkan sih, dan sepertinya dia tidak mau mati. Dia kurang tekad dan keterampilan nyata.”

“Aku berpikiran memposisikannya sebagai pasukan cadangan …. Tapi tidak memungkinkan untuk operasi selanjutnya.”

“… bisa perbolehkan peletonku merekrutnya?”

Shin balas menatap Anju yang menjawab sembari tersenyum samar dan pahit.

“Maksudku, apa pun yang terjadi kau ingin merekrutnya, kan? Tidak masuk akal menempatkannya di peletonmu atau Theo, karena kalian berdua itu garda depan. Raiden sering bekerja bersamamu, jadi dia sama-sama saja di lini depan. Tapi kau tidak bisa memasang pemula yang gampang ketahuan bersama Kurena yang fokus pada spionase dan penembakan jitu …. Menempatkannya di peletonku yang bertugas memberi tembakan penahan, akan lebih aman untuk kita berdua.”

Shin punya kekhawatirannya sendiri, namun Anju benar …. Menyerahkan Anju mengurus Jaeger adalah tindakan terbaik.

“Makasih …. Tapi sekiranya kau merasa keberatan—”

“Takkan ada masalah. Sama seperti semua orang lain di sini. Babi putih memang begitu …. Kan?”

Tak ada 86 hidup yang tak tahu rasanya direndahkan Republik.

“Iya.”

“Dan berlaku juga untuk kolonel.”

Shin berkedip seakan-akan tak menyangka Lena disebut-sebut, dan Anju cuma tersenyum dan mengangkat bahu.

“Seandainya kolonel berpikir seperti itu juga … dia tak lama lagi akan mengabaikan Republik. Jadi tidak usah resah perihal ini, oke?”

Shin menatap mata biru gadis yang selalu merisaukannya, sampai ke tingkat hampir menyebalkan.

“… ok.”

Semua data Para-RAID yang terakumulasi selama sesi pelatihan dan hasil inspeksi berkala Prosesor dikumpulkan Annette yang saat ini menampilkan informasinya di layar holo dan memastikannya. Tidak ada gerak-gerik ganjil sementara waktu ini, ataupun ketidakaturan pada psikologis perorangan mereka. Itu wajar, karena mereka telah menggunakan teknologi ini bertahun-tahun di Republik, tapi mendingan berhati-hati alih-alih mengambil risiko atau khilaf.

Annette suka rela melakukan ini karena menurutnya mungkin saja berguna bagi Shin—cara untuk menebus dosa-dosanya. Selagi dia membolak-balikkan halaman demi halaman elektronik, tangannya berhenti sewaktu namanya muncul, disertai foto muka.

“… Shin.”

Tanggannya yang tanpa sadar terulur telah tertegun di tengah udara. Dia menggigit bibirnya.

“—Kapten Nouzen.”

Menanggapi suara Annette dengan anggukan formal, orang yang berdiri di dekatnya berpaling menghadapnya.

“Ada apa, Mayor Penrose?”

Mata merah darah Shin. Wajah pucatnya yang nyaris tak pernah memperlihatkan emosi.

Sepuluh tahun terakhir sudah membuatnya setinggi ini, dan bentuk tubuhnya ramping tapi dikuatkan tujuh tahun pertempuran sengit. Dia bagaikan pedang tua yang diasah, ditancapkan di tanah medan perang kuno, bermandikan sinar bulan.

Shin terlalu berbeda dari sebelumnya. Dan tatapannya kepada Annette seolah menatap orang asing.

“Shin. Kau sebetulnya mengingatku, benar?”

Lena sudah memberi tahu Annette kalau Shin tidak pernah membicarakannya, dulu waktu mereka berangkat menjalani misi Pengintaian Khusus. Dia bahkan tidak pernah menyebutkan nama Annette, dan kemungkinan besarnya Shin tidak mengingatnya sama sekali.

Namun Annette rasa itu bohong. Bagaimana bisa Shin lupa Annette memanggilnya noda padahal itu perbuatan pengkhianatan buruk bagi Shin?

Annette teman sebayanya mencercanya begitu barangkali hal paling buruk di dunia ini. Dan akhirnya, gadis itu mencampakkannya. Dia bodohnya sedang marah ketika ada kesempatan untuk menyelamatkannya, dan dia membuat Shin beserta keluarga berharganya … dengan kejam dikirim ke kamp konsentrasi.

Shin kehilangan keluarganya dan terpaksa menghabiskan kurang lebih lima tahun bertarung di Sektor 86. Neraka bumi nyata.

Dan Annette-lah penyebab semuanya. Kok bisa Shin tidak membencinya atas hal itu?

Dia harus membencinya. Dan begitu dia datang menyambutnya, dia pasti harus menahan emosinya karena mereka sedang dalam kondisi formal. Atau mungkin Shin memperlakukannya seperti orang asing karena dia tidak sanggup memaafkannya. Namun kini mereka hidup di satu barak dan punya banyak kesempatan untuk bicara tanpa ada yang menghalangi. Annette pikir Shin akan segera mengatakan sesuatu …. Tetapi hari silih berganti dan dia tidak pernah mengungkitnya.

Tidak mungkin … tidak mungkin, mungkinkah …?

“Ini aku, Henrietta … Rita. Dari rumah sebelah …. Kau ingat aku, kan …?”

Tidak mungkin dia lupa …

Namun Shin semata-mata menatapnya dengan sorot mata kebingungan dan menggeleng kepala pelan.

Ahhh, dia betulan jadi lebih tinggi. Pikiran tak penting terlintas di benaknya selagi menatapnya. Bocah kecil dalam ingatannya selalu setara tingginya, dulu.

“… mohon maaf.”

Dan Shin menjawabnya demikian, dengan pandangan yang hanya akan seseorang lemparkan kepada orang asing sepenuhnya.

Annette sudah memberi tahu Lena lebih dulu dia akan bicara dengan Shin hari ini. Dia bilang bila sesuatu terjadi, itu kesalahannya sendiri, dan dia memohon pada Lena untuk tidak menghukum Shin apa pun yang terjadi, matanya menyinarkan kebulatan hati suram.

Lena menduga akan baik-baik saja. Martabat Shin sebagai 86 melarangnya berkelakuan layaknya babi putih Republik …

Dan Shin barangkali bahkan dari awal tidak mengingatnya.

Saat itu hari setelah matahari tenggelam, dan biarpun belum gelap, ruangannya remang-remang. Cahaya koridor menyinari seseorang yang sedang berjongkok di lantai.

“… Annette.”

“… dia … tidak mengingatku.”

“…”

Sudah kuduga …

“Dia sungguh tak ingat apa pun. Bagaimana kami bermain setiap harinya. Tempat tinggal kami di Sektor Pertama, atau bagaimana kami berekspedisi di halaman rumah …. Dia benar-benar tidak ingat apa-apa sebelum dikirim ke kamp konsentrasi.”

Sepuluh tahun sejak terakhir kali mereka bertemu, Shin—si anak laki-laki yang telah bertarung lama dan keras hingga mendapatkan nama Pencabut Nyawa Sektor 86—telah merenggut banyak sekali sesuatu darinya oleh intensitas pertempuran.

Untuk meredam dan mengasah bilah berarti mengikisnya. Dan demi menjadi bilah tajam yang menebas Legion, Shin membuang semua hal yang tidak bermanfaat untuk pertempuran. Annette sepertinya pertama kali tahu apa artinya bertahan lima tahun perang melawan Legion di medan perang Sektor 86. Takkan mungkin mampu bertahan hidup dengan mempertahankan kepribadian sama. Neraka semacam itu.

Kedua belah tangan Annette menutup wajahnya.

“… sekarang aku harus bagaimana?”

Dia kedengaran bak anak tersesat tidak tahu arah tanpa bisa berpaling ke siapa pun.

“Aku tahu dia bisa jadi takkan memaafkanku. Tapi aku terima-terima saja; aku masih ingin meminta maaf. Tapi aku tidak bisa meminta maaf kalau dia bahkan tak mengingatku. Jadi bagaimana caranya memperbaiki hubunganku dengan Shin sekarang …?!”

Lena melihat lantai selagi Annette bicara, suaranya kedengaran menjerit.

Lena pernah berpikir sebelumnya jika Shin melupakan semuanya mungkin akan jadi kutukan bagi Annette. Dosa perlu penghukuman. Meskipun sang pendosa tidak pernah dimaafkan, mereka dapat menebusnya dengan permintaan maaf. Tetapi misalkan dosanya dilupakan, bahkan itu pun akan mustahil ditebus.

Dosa Annette takkan dihapuskan, kendatipun cuma sepihak, tindakan kelewat egois dari sisi pelaku.

Shin mungkin tak ingat, namun Shin tentu punya pendapat sendiri akan situasinya. Tidak seperti pangkalan markas besar mereka yang punya kamar untuk semua orang termasuk perwira berpangkat juga atasannya, pangkalan tempat bertugas mereka sekarang terdapat beberapa kamar berbagi untuk Prosesor. Sendirian itu sulit. Pencarian Shin membawanya ke hanggar, di sana dia berbaring di atas lapis baja drone-nya sambil membuka buku. Akan tetapi, dia tidak membaca, tapi kelihatan melamun.

Menyadari suara sepatu hak tinggi, dia berpaling memandang Lena dan menggeleng kepala tanpa daya.

“… kuharap kau tidak kesal-kesal amat.”

“Tidak.”

Bukan salah Shin dia tidak ingat Annette …. Dia tak mengingat hari-harinya di Sektor Pertama.

“Tapi benarkah kau sungguhan tidak ingat apa pun? Er …. Walaupun kau tidak ingat, barangkali membicarakannya dapat mengembalikan sejumlah ingatan …”

“Mendengar aku punya teman masa kecil membuatku merasa mungkin saja aku punya, tapi itu saja …. Aku tak ingat nama atau wajah.”

Alamiahnya, ketika ingatan terakhir yang mereka memiliki mengenai satu sama lain adalah tentang perkelahian …

“… setelah kami mengambil alih Sektor Pertama …” gumam Shin, ekspresi sedih mirip seorang anak yatim piatu, “… dengar-dengar mereka menemukan rumah tempat tinggal keluargaku dulu, jadi aku pergi mendatanginya. Berkas personel para Prosesor mestinya sudah dihapus, tapi entah bagaimana masih utuh, dan dengan cara itu kami menemukan rumahnya.”

“…”

Lena tahu itu. Catatan orang-orang yang mati pada pertempuran disimpan dalam gudang bawah tanah di bawah markas besar angkatan darat. Sebenarnya Lena-lah yang memberi tahu militer Federasi untuk memeriksa tempat itu karena seharusnya ada sesuatu di area itu, biarpun dia tak tahu apa yang tersembunyi di tempat itu sampai dibuka.

Dua bulan setelah serangan skala besar, seorang prajurit memberitahunya lewat komunikasi nirkabel di tengah-tengah pertempuran. Seorang pendahulu memercayakan prajurit itu sebuah tugas yang dia dukung mengenai pemulihan dan penyembunyian catatan orang-orang yang sudah tiada. Dia sendiri seorang Handler yang kehilangan pekerjaan karena perang dan masuk tentara untuk mencari nafkah.

Akhirnya dia tak tahan melihat tentara anak-anak itu mati sebagai unit pemroses drone. Sesudah skuadron bertugasnya dipimpin seorang kapten awal-awal remaja telah dihancurkan sampai-sampai tak ada gunanya lagi memimpin perang, prajurit itu meminta dan telah disetujui, untuk dipindahkan ke divisi personel.

Tapi tahukah kau, Letnan Milizé, ujung-ujungnya, orang-orang takkan lepas dari dosa yang mereka perbuat.

Di saat dia mengatakannya, Lena rasa bisa mendengarnya menangis di sisi lain transmisi nirkabel.

Aku bertemu kapten itu lagi. Di barak skuadron Spearhead sama yang kau ketahui, Letnan.

Akulah yang memotret foto terakhirnya.

Kukira aku akan menggila saat itu. Tentara anak-anak yang kutinggalkan dulu masih hidup untuk bergerak menuju kematiannya enam bulan kemudian. Dan aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantunya. Tidak … aku bahkan tak pernah mencoba membantunya.

Sekarang waktuku menebus dosa. Aku … Republik akan mati di sini. Ia mati dan dilupakan. Namun mereka, mungkin seseorang, suatu hari kelak …

Mungkin seseorang akan mendengar doa-doa tulusnya. Foto-foto seluruh 86 yang eksistensi mereka disapu bersih masih disimpan, dan beberapa 86 masih hidup, seperti Shin. Sebuah jalan menuju masa lalu terlupakan bisa disusur dan diukir.

Dan dia akan mengingatnya: prajurit pemalu dan baik itu dari divisi personel yang mewakafkan nyawanya demi jalan tersebut.

“Dan bagaimana …? Rumahnya?”

“Asing.”

Bahkan melihatnya dengan mata kepala sendiri tak menyentak ingatannya …

“… aku tidak terlalu …”

Kedengarannya lebih mirip Shin tengah bermonolog sendiri.

“Aku tidak terlalu peduli soal tidak bisa mengingat masa lalu. Bahkan aku pun mampu bertarung tanpa itu. Aku bisa mengalahkan Legion kendati tidak ingat keluarga dan kampung halamanku. Malah, berusaha kelewat keras untuk ingat mungkin akhirnya akan mengganggu perhatianku dan jadi menyusahkan.”

Bisa kehilangan sesuatu adalah pengalih fokus belaka. Memiliki sesuatu untuk disayangi hanya akan membuatnya bimbang. Bila mana dia tak memotong segala hal yang tidak penting untuk pertempuran … dia takkan selamat.

“Saat yang terpikir olehku hanyalah membunuh kakakku, aku punya alasan untuk hidup. Tapi begitu aku mengingat-ingat dan sadar bahkan tidak tahu tampangnya, rasanya … rasanya sedikit kesepian.”

Aku tidak bisa mengingatnya, diriku sendiri. Ya, Shin pernah mengatakannya di Sektor 86 dulu. Karena itulah dia senang kala mendapati Lena ingat Rei.

“… aku dengar kakekmu masih hidup.”

Beliau adalah bangsawan tingkat tinggi, tokoh terkemuka di senat Kekaisaran tua dan pilar pendukung keluarga petarung—Marquis Seiei Nouzen. Sebagaimana yang Rei pernah sampaikan kepada Lena muda, nama Nouzen dikhususkan untuk klan mereka sendiri dan nama langka baik di Kekaisaran serta Federasi yang menggantikannya. Lebih tepatnya, tidak satu orang pun selain anggota klan diperkenankan menggunakannya.

Tentu saja sewaktu Shin dibawah perlindungan Federasi, marquis meminta pertemuan dengan Shin lewat Ernst karena dia yakin Shin adalah anak dari putra tertuanya yang telah kawin lari. Marquis berkali-kali meminta pertemuan ulang kepada Ernst, kepada perwira atasan Shin, Richard dan Grethe, dan baru-baru ini, bahkan kepada Lena sendiri.

Aku ingin menemuinya, katanya. Biarkan aku menemuinya.

Tapi Shin sendiri tidak mengabulkannya, jadi Lena tak berhak mengatakan apa pun.

“Kakekmu mungkin ingat kakakmu dan keluargamu…. Beliau bisa jadi punya foto mereka. Barangkali kau harus menemui beliau.”

Shin tersenyum tipis hampir lemas.

“Kenapa juga aku menginginkannya? Tidak pernah sekali pun aku bertemu orang tua ini yang mengaku dirinya kakekku. Aku tidak ingat cerita apa-apa dari ayahku untuk disampaikan padanya. Aku bahkan mau bilang apa …? Apa bagusnya buatku untuk menemuinya sekarang? Akan jadi pertemuan tanpa arti untuk kami berdua.”

Hanya akan menjadi pengingat suaram bahwa yang pernah hilang takkan pernah kembali.

Tatkala itulah Lena sadar. Shin bilang dia tak ingat, dia tidak bisa mengingatnya. Tapi mungkin bukan karena dia tidak bisa mengingatnya, melainkan …

“Sekarang ini, aku tak benar-benar ingin mengingatnya, jadi aku juga tidak mau menemuinya …. Mayor Penrose pun sama.”

Gadis yang mengaku sebagai teman masa kecil yang tidak bisa dia ingat.

“Kalau dia mau minta maaf … membuatnya seakan tidak terjadi apa-apa, sebaiknya dia melupakan diri sendiri dan jangan pernah datangi aku untuk membicarakannya.”

Lebih baik Shin tak ingat apa yang dilupakannya—apa yang hilang darinya.

Itulah pendirian Shin.

“Yah, aku rasa sudah memecahkan rekor baru kali ini. Silahkan puji aku, Lena.”

Seusai diangkat menjadi komandan taktis, Lena diberikan mobil komandan pribadi. Nama tandanya adalah Vanadis1. Kereta kuda Reina Berdarah, dilengkapi peralatan komando dan pemantauan Para-RAID canggih. Sesaat Lena menjambangi hanggar untuk menerimanya, dia tercengang melihat kendaraan lapis baja baru dan Theo berada di sampingnya.

Di sisi kendaraan terpampang siluet seorang wanita bergaun merah. Tanda Pribadi—Lena—Reina Bedarah.

Theo menyeringai puas terhadap karyanya.

“Kece, kan? Kayak logo parfum atau kosmetik. Aku pikir kita akan mendesain uang Tanda Pribadi semua orang, dan aku sudah belajar gambar sejak datang ke Federasi.”

Sebagaimana perkataannya, ilustrasi berkelas nian. Selain itu, ada semacam perasaan familier tak hanya kepada Tanda Pribadi Theo sendiri tetapi Tanda Pribadi Shin, Raiden, Kurena, dan Anju. Lena selalu mengira kelima tandanya digambar orang yang sama tetapi tidak tahu Theo yang menggambarnya.

Lena tersenyum, sekelebat perasaan geli membengkak dalam dirinya. Fakta dirinya sekarang terhitung dalam jajaran mereka membuat hatinya meluap-luap bangga, apalagi Theo mengatur kejutan semacam itu membuat Lena senang sekali.

“Kau boleh gambar babi putih bergaun merah, tahu.”

Muncul senyum di bibir Theo yang ternoda cat sebab ucapan lucunya.

“Apaaaa? Tidak, mana mungkin. Entah kenapa kau mengaitkan babi putih sama ini …. Kau masih memikirkan para pemutih itu?”

 Suatu waktu, telah diputuskan nama panggilan ordo kesatria entahlah itu adalah pemutih. Mungkin itulah alasannya boneka babi yang senantiasa mereka gantung mati itu disimpan dalam peti deterjen.

“Hmm, iya … aku bohong kalau kubilang tidak.”

“Kau tidak ada hubungannya sama mereka, jadi jangan biarkan dirimu terpengaruh. Kami sekarang sudah terbiasa.”

“Tapi … kalau kau merasa tidak tahan lagi, tolong katakan padaku. Kau sekarang punya …. Tidak, kau seharusnya berhak melakukannya.”

“Apaan? Itu membosankan. Lupakan saja itu—tak apa. Selain itu,” ucap Theo selagi mendongak, “andai aku mau melukis babi putih di Tanda Pribadimu, takkan mau aku pikirkan nanti Shin akan berbuat apa padaku. Aku belum mau mati dulu.”

“… kenapa jadi Shin?”

Sudut matanya menatap Lena.

“Hah, kau serius? Jangan bilang kau tidak sadar.”

“Sadar apa?”

Theo mendesah panjang dari kedalaman perutnya.

“Buset, dasar bebal … maksudku, saat ini, aku cuma bisa bilang Shin malang. Kek, kayak, udah jelas banget.”

“…?”

“Eh, lupakan. Kalau kau tidak mengerti, kau tidak mengerti. Menjelaskannya itu merepotkan …. Atau lebih seperti …” kata Theo, menyilangkan tangan.

Ada sesuatu pada ekspresinya yang mengesalkan Lena sedikit. Sama sepeti …. Ya, seperti ekspresi Shin kemarin, waktu bilang tidak peduli soal perilaku para pemutih.

“Bukannya Shin sudah memberitahumu untuk berhenti menampakkan wajah tersiksa itu? Dia benar, tahu. Tak ada yang menyalahkanmu apa-apa, membuat pesta iba seorang wanita sepanjang waktunya akan lebih-lebih lagi menyakitkan untuk dilihat …. Kau bisa hentikan sekarang, oke?”

Saat Shin menembakkan tiga peluru ke ranjau swagerak, Shin mengeluarkan magasinnya. Pistol laras ganda bisa membawa lima belas peluru. Dia mengeluarkan magasin yang satu peluru berada dalam kamar peluru dan dua peluru tersisa di magasin kemudian memuat magasin baru sambil berdiri lalu menembak.

Teknik itu bernama pemuatan ulang taktis. Pistol otomatis memanfaatkan tolak balik menembak untuk memuat peluru berikutnya, jadi jika kamar peluru kosong ketika mengganti magasin, peluru pertama mesti dimuat secara manual. Inti teknik ini adalah untuk mencegah disia-siakannya detik-detik penting dalam baku tembak. Melawan Legion dan kecepatan superior mereka, waktu yang diperlukan untuk memuat ulang peluru bisa menentukan perbedaan hidup-mati.

Setelah slide stop-nya tertarik mengikuti peluru terakhir yang ditembakkan, ranjau swagerak—tepatnya, proyeksi hologramnya—mati. Shin menarik kembali slide pistolnya sembari melihat targetnya naik, mempresentasikan hasil tembakannya.

Dia berada di jarak tembak pangkalan. Bahkan tidak repot-repot memerika hasilnya, Raiden yang duduk di dekatnya, melihat tanda peluru tak terhitung jumlahnya terpusat di dada unit kendali ranjau swagerak.

“Kenapa, kau kesalkah?”

“Itu—”

Shin nyaris refleks menyangkalnya tetapi malah terdiam. Dia agak enggan mengakuinya, tapi …

“… mungkin.”

“Bukan perkara wanita mata satu itu, kan …? Jadi sisanya …”

Raiden pura-pura merenung sebentar.

“Lena-tah?”

“… iya.”

Shin memastikannya karena Raiden duluan menyebutnya, tetapi … tetap saja tidak enak mengakuinya. Bukan perkataan Lena melainkan sesuatu yang mengikat haitnya.

“Aku tidak pernah ingin menyalahkannya, tapi … persoalan gangguan itu mengganggunya.”

Gangguan para pemutih sungguh tidak mengganggu Shin. Mereka setidak menyenangkan lalat yang mendenging di telinga seseorang dan tak lebih dari itu. Takkan mengganggu Shin …. Tidak setelah waktu telah lama berlalu. Selepas berurusan dengan tentara Republik—sangat sedikit makhluk manusia baik di sana—bertahun-tahun lamanya, 86 sudah terbiasa dengan ini. Semua orang paham itu. Seluruh 86 sependapat soal itu hanya saja tingkatannya berbeda-beda. Jadi tidak seorang pun merasa terganggu—apalagi berpikiran ini entah bagaimana salahnya Lena. Dan biar begitu … ekspresi Raiden agak jengkel.

“Hmm.”

“… apa?”

“Tidak ada … aku hanya bertanya-tanya. Seandainya kau hanya bisa memikirkan hal yang membuatmu paling kesal, kesalmu bisa sampai semana? Itu saja.”

Ada penghinaan antara kata bisa dan kau yang Raiden tidak utarakan. Mata setengah terpejam Shin menatapnya. Shin tak pernah mengaku blak-blakan, tapi dia tidak suka perbedaan ketinggian antara mereka berdua dari hari mereka berdua bertemu. Raiden hanya mendengus.

 “Aku warga Republik, katanya …. Apa dia betul-betul seterikat itu cuma gara-gara lahir di tempat tertentu atau kebetulan saja sewarna dengan orang-orang itu?”

86 hanya samar-samar mengingat kampung halaman dan keluarga yang membesarkan mereka, apalagi konsep tanah air rasanya tidak nyata bagi mereka. Kamp konsentrasi dan medan perang bukanlah lingkungan yang membawakan sifat kekeluargaan, lantas gagasan seseorang adalah sekaum hanya karena mereka satu ras denganmu tidak betul-betul sepemikiran dengan 86.

Andaikata 86 punya tanah air, medan perang yang mereka pilih sebagai tempat bertarung sampai tetes darah terakhir sekehendak mereka adalah tanah airnya. Kiranya mereka punya saudara, 86 yang memilih jalan hidup sama dan bertarung di sisi merekalah saudaranya. Lantas pemikiran dimiliki suatu negara cuma dikarenakan tanah atau ras yang tidak pernah kau pilih saat dilahirkan adalah asing bagi 86.

Orang-orang membentuk diri mereka sendiri, melalui darah-daging segar mereka serta rekan-rekan yang mereka andalkan. Itulah jalan hidup yang 86 anggap benar.

“Berlaku sama dengan Mayor Penrose dan Federasi juga. Aku tak mengerti mengapa mereka begitu terpaku pada masa lalu kita.”

“Iya, itu, anu, teman lamamu …. Apa urusannya? Kau betulan tidak mengingatnya?”

“Tidak sama sekali.”

Shin adalah kapten regu, dan Annette adalah penasihat teknis Para-RAID. Bahkan tanpa urusan pribadi, Shin berbincang bersamanya beberapa kali secara profesional, tiada kenangan terbesit. Walau mungkin semata-mata karena Shin tidak mencoba mengingat saja.

Ada tiga hal yang membentuk seorang pria: tanah air tempatnya dilahirkan, darah yang mengalir di nadinya, dan ikatan yang dibentuknya …. Frederica-lah yang bilang begitu, bukan? Aku masih tak paham.”

“Bukannya kau lebih mengingat hal-hal semacam itu …?”

Tidak biasa bagi seorang 86, Raiden bernaung dalam Sektor 85 selama dua belas tahun, jadi relatif lebih sedikit waktu kamp konsentrasi membersihkan kenangannya.

“Bukan berarti sekolah ibu-ibu tua itu sedekat rumah …. Dan sehabis menjadi Prosesor, itu jujur saja tidak lagi berarti …. Tanpa kusadari, aku lupa wajah orang tuaku, dan tidak bisa ingat dibesarkan di mana juga. Kurasa kau sama.”

“… pernahkah kau ingin kembali?”

Masih inginkan Raiden kembali ke tanah air yang dia lupakan? Raiden mengubah bibirnya merajut sesuatu menyerupai senyuman, tetapi perasaan yang diberikannya lebih ke rasa muak dan enggan.

Lalu Shin berpikir, Dia sama denganku. Perkara itu, mereka berdua bahkan tidak benar-benar pengen memikirkannya.

“… tidak.”

Begitu rapat strategi berakhir, Shin berdiri dan pergi. Selagi Annette sekali lagi melihatnya pergi tanpa sepatah kata pun, suara muda berbicara.

“Arahkan tatapan mesra itu padanya sesukamu, Weißhaare. Pria itu tidak berkewajiban menebak perasaanmu dengan kondisinya sekarang ini.”

Kata yang digunakan Frederica adalah istilah menghina dalam bahasa gaul Giad yang artinya rambut putih. Merujuk kepada Alba dan spesifiknya Alba Republik.

“… ya, kurasa kekuatanmu menguasai bidang itu, benar, penyihir maha melihat?”

“Gampang melihatnya kalau itulah satu-satunya hal yang ada di pikiranmu. Mata penuh penyesalanmu terus mengejar Shinei dengan tatapan serba kerinduan itu … itu menggangguku meski aku mencoba mengabaikannya.”

Frederica hampir melontarkan balasannya selagi menatap Annette.

“Kalau katanya dia tidak mengenalmu, yasudah itu akhirnya. Sisanya kau tinggal menerima itu.”

“Tapi … tapi jika aku tidak minta maaf, aku takkan bisa maju.”

Frederica mencibir hina terang-terangan, bahkan menyertakan kebencian.

“Yang kau takutkan bukan tidak mampu bergerak maju tapi tidak bisa kembali. Kau hanya ingin kembali ke hubungan semasa muda kalian, saat kau bahagia. Kau ingin membuatnya demikian agar dosamu hilang …. Sekalipun kau bilang melukai Shinei, kau cuma ingin menemukan kedamaian tanpa sekilas pun melihat bekas luka yang kau timbulkan padanya.”

“…”

Annette membeku di tempat, dan Frederica melotot dengan mata bak berapi-apinya.

Mata merah Pyrope, sama seperti Shin.

“Shinei … dan semua orang yang kalian asah sampai-sampai hanya bisa melindungi diri mereka sendiri tanpa dapat melakukan hal lain lagi. Dan apabila kau berniat memberatkan beban mereka lagi, aku ‘kan menghalangimu sebagai musuhmu.”

Lena mengajak Shin berjalan-jalan di Liberté et Égalité selama cuti mereka dengan niat membantu Annette kecil-kecilan.

Mungkin membicarakannya atau melihatnya sekali belum cukup untuk mengingatnya, tetapi pemicu yang tepat barangkali akan mengguncang ingatannya.

Pekerjaan restorasi jalan utama Liberté et Égalité telah berjalan lancar selama enam bulan terakhir sejak direbut kembali. Bangunan yang telah dibakar api peperangan, juga pepohonan di pinggir jalan dibiarkan apa adanya, tetapi puing-puingnya sudah dibersihkan, dan jalannya ramai, orang-orang berambut perak bercampur seragam biru baja. Menyaksikan pemandangan di bawah langit biru musim semi tak berubah membuat hati Lena berdebar-debar.

“… sedikit jauh, tapi apa kau mau ke Istana Lune? Pertempuran di sana kecil, jadi bangunannya tetap utuh.”

“Istana Lune?”

“Tempat dihelatnya kembang api festival pendirian Republik. Kau pergi melihat kembang apinya bersama kakak dan keluargamu …. Kita berjanji mengunjunginya kapan-kapan, ingat?”

“Ya …”

Mempercepat cara berjalannya hingga menyamai Lena, Shin berhenti selagi menggali-gali memorinya kemudian tersenyum pahit. “Kembang api …. Kita bilang akan melihatnya bersama-sama.”

“Ah …. Ya, kau benar. Kalau begitu, kita tidak bisa pergi berduaan saja. Jika tiba waktunya kembang api, kita semua bisa melihatnya bareng-bareng.”

“Saat festival dimulai, kita mungkin sudah kembali ke pangkalan …. Meski keadaannya begini, apa menembakkan kembang api sedikit berlebihan, itu pun kalau festivalnya diadakan?”

“Benar. Tapi … suatu hari. Kesempatan berikutnya yang kita dapatkan.”

Lena melangkah maju dan berhenti lalu mendongak. Ini janji nyata, janji yang bisa mereka tepati. Bukan janji terakhir yang Shin buat untuk melihat kembang api, tahu semuanya takkan terjadi. Merasakan makna tersirat di balik kata-kata itu, Shin mengangguk pelan.

“Pastinya. Suatu hari nanti.”

“Apa ada sesuatu yang pengen kau lihat sekarang, Shin? Suatu tempat ingin kau datangi? Sesuatu yang mau kau lakukan?”

Itulah kata-kata yang Lena tanyakan sebelumnya, tidak tahu menginginkan apa, karena dia dijadwalkan mati enam bulan kemudian. Namun situasinya sekarang ini berbeda. Shin bisa mewujudkan keinginan itu sekarang. Dan dia mampu mewujudkannya. Kali ini, ketika dia melihat masa depan, dia lihat apa …?

Shin pikirkan sebentar.

“Kau bagaimana, Lena?”

“Yah, mari kita lihat …” kata Lena, tersenyum tanpa sadar. “sementara ini, aku mau berburu dan memancing di desa belakang pangkalan Rüstkammer selepas misi. Dan mungkin melihat Sankt Jeder. Oh, dan lautan juga. Aku belum pernah melihatnya.”

Senyum Shin tiba-tiba makin dalam.

“Kedengarannya bagus …. Suatu hari, pasti.”

“Iya. Pasti.”

Sebetulnya, bahkan melakukan ini saja … cuma berjalan-jalan di kota seperti ini bersamanya adalah salah satu hal yang diinginkan Lena. Namun dia merahasiakannya. Melihat Lena mempercepat langkahnya karena malu, Shin mendadak bilang, “… apa kau tiba-tiba mau jalan-jalan karena masalah Mayor Penrose?”

Shin membaca isi kepalanya. Lena berhenti canggung.

“Iya … aku tahu ini bukan sesuatu yang berhak kukomentari, tapi … Annette itu teman baikku—dan kau pun juga …. Err, tapi kurasa tidak hanya membantumu mengingat Annette namun keluargamu juga …”

Dia menutup matanya dan menunduk.

“Maaf. Apa aku tidak baik?”

“Bukannya tidak baik, tapi …”

Shin memiringkan kepala pelan. Sesudah ragu-ragu sepintas, dia mengatakannya dengan tegas:

“Menurutku ini aneh …. Kenapa kau terobsesi sekali dengan hal ini?”

Lena terlihat kaget oleh pertanyaan tak terduga ini.

“Apa maksudmu, kenapa …?”

“Lena, jika baik dirimu dan Mayor Penrose setersiksa itu di masa lalu oleh perbuatan Republik, mengapa kau tidak memotongnya? Memegang hal semacam ini …. Kenapa kau memintaku ingat padahal bahkan kau pun tidak kuat menanggung masa lalu sendiri?”

Pertanyaan sangat tidak familier, pertanyaan yang hanya ditanyakan monster. Tanah air dan masa lalu seseorang adalah bagian identitasnya. Paling tidak, begitulah bagi Lena. Jadi dia menatap Shin yang mudahnya menyingkirkan semua itu sambil merasa merinding. Dia menampiknya tak lama kemudian.

Tapi keraguan tetap ada. Bisa-bisanya mereka begitu tidak memedulikannya?

Apa 86, yang bukan hanya kehilangan tanah air dan keluarga bahkan ingatan mereka, tidak sedih mendapatinya? Tentu belahan diri mereka berharap mendapatkan sedikit masa lalu itu.

“Itu karena …. Yah, masa lalu dan tanah airku adalah bagian yang membentuk diriku sekarang. Dan aku tidak bisa memotong bagian itu. Aku rasa alasan tidak mengingatnya kurang menyakitkan bagimu … karena masa lalu itu bagian dirimu juga.”

“Aku bisa jadi diriku sendiri biarpun tidak ingat tempat tinggal atau keluargaku. Dan kurasa ingatan itu tak penting bagiku, melihat diriku sekarang.”

“Tapi bukannya tak ingat kakakmu sendiri membuatmu kesepian?”

“Itu …”

Shin terdiam, seolah-olah dia kacau atau kebingungan. Sementara, mata merah tuanya gemetaran tak nyaman. Seakan-akan dia takut …

Ketakutan.

“Benar—aku tidak mau melupakannya. Tapi jika aku mengingatnya, aku akan—”

Kala itu, suara nyaring seorang anak didengar telinga mereka.

“Bu, benda berwarna-warni aneh itu apa?”

Udara tenang sore hari sekejap membeku. Seorang anak Alba yang menanyakannya, berjalan-jalan sambil memegang tangan ibunya.

Jari anak itu sedang menunjuk Shin.

“Rambutnya hitam dan kotor, terus mata merahnya serem. Kenapa ga ada orang yang menghilangkan monster seseram itu? Jangan dekat-dekat, nanti kami semua kotor!”

Sang ibu panik mencoba menenangkan anaknya.

“H-hentikan! Apa yang kau—?!”

“Ada banyak banget! Aku takut! Kita harus menghilangkan semua itu. Mereka harusnya tak di sini!”

“Cukup!”

Fakta ibunya bahkan tak mencoba mengoreksi anaknya memperjelas betapa munafik tingkahnya. Ibarat tidak mendiamkan anaknya, namun hanya menjaga penampilan saja agar ada bukti dirinya menghentikan anaknya.

Shin menatap ibu-anak itu dengan tatapan dingin …. Bukan, tatapan yang dia tujukan kepada kerikil di pinggir jalan, dan dia bilang, ibaratnya bicara ke dirinya sendiri, “Begitu. Ini pasti bisa … menghasilkan masalah nantinya.”

Dia menuturkan itu bak urusan orang lain sepenuhnya. Itu mengejutkan Lena, dan dia menahan napasnya. Mungkin dia dilahrkan di sana, tapi bagi Shin—seorang 86—Republik bukanlah tanah airnya lagi. Itu sesuatu yang Lena kira dia pahami.

Ibu itu menundukkan kepalanya berkali-kali meminta maaf, menutup paksa mulut anaknya seraya terus menyatakan betapa takut dan jijiknya mereka.

“Aku minta maaf! Anak-anak masih tidak tahu apa-apa, tapi tolong maafkan kami …”

“… mmhmm.”

Shin melambai kepada ibunya, seolah bilang tak menigndahkannya sama sekali. Ibu tersebut terus menundukkan kepala kemudian mengangkat anaknya ke pelukannya dan berjalan pergi seakan melarikan diri. Tetapi di saat dia berbalik bersama anaknya dalam pelukannya, kata-kata yang terucap dari mulutnya serta tatapan cerca menusuk yang dia lemparkan menjelaskan apa yang perlu diceritakan.

“… apa yang dipikirkan kotoran manusia rendah itu?”

Lena langsung naik pitam.

“B-berhenti di sana—!”

Dia hendak mengejar wanita itu, tetapi seseorang meraih lengannya. Dia menoleh dan hanya mendapati Shin.

“Abaikan, Lena. Jangan buang-buang tenagamu.”

“Apa—?!”

Melepas lengan Shin, Lena berbalik menghadapnya. Shin masih sepuluh sentimeter lebih tinggi darinya, meskipun dia memakai sepatu hak tinggi. Tak gentar oleh perbedaan ketinggian mereka, Lena melotot.

“Mana bisa aku mengabaikannya?! Dia baru saja buka-bukaan menghinamu! Bahkan sekarang—sampai sekarang juga! Kau datang menyelamatkan mereka! Bahkan bisa dibilang kau bertarung demi mereka!”

“Aku tidak bertarung demi Republik, tak sekali pun.”

Shin kedengaran agak tidak tenang. Mungkin menyadari keseriusan suaranya sendiri, Shin mendesau laksana mencoba melepaskan setresnya dan melanjutkan, suaranya masih ada rasa kesal.

“Aku dulunya warga Republik yang asal ngomong. Aku tidak menganggapnya hinaan …. Dan mau aku bilang apa, mereka takkan mendengarkan. Apa kau anggap serius kuikan babi, Lena? Aku pun sama. Setahu warga Republik, 86 hanyalah hewan ternak.”

Suaranya tenang bukan main dan kalem yang rasanya hampir tak berperasaan. Lena mengepalkan tinjunya.

“Shin. Aku warga Republik juga.”

Shin terdiam sesaat, kelihatan tak senang.

“Baiklah … aku minta maaf.”

“Aku tak menganggapmu hewan ternak …. Tapi aku masihlah warga negara Republik.”

“Kau berbeda dari mereka.”

“Benar.”

Lena akhirnya menyadari maksud Shin. Lena berbeda dari mereka.

“Babi-babi putih Republik itu cuma sampah berbentuk manusia, tak sepertiku …. Kau inign bilang begitu.”

86 tak tersinggung oleh perilaku warga Republik, tidak pula mencoba memperbaikinya. Lagi pula mereka hanyalah para babi putih. Mereka boleh pura-pura bicara dengan bahasa manusia, tapi mereka akan selamanya tak punya akal. Mereka sungguh-sungguh tak tahu hal baik-buruk. Itulah yang dipikirkan semua orang kepada babi putih menyedihkan.

Tak ada gunanya tersinggung oleh babi. Sekalipun kau menuntut akal sehat dari mereka, takkan mungkin mereka memahamimu, dan kau bahkan tidak dapat menyalahkan mereka. Wajar yang ditindas menganggap rendah dan membenci penindas mereka, namun pembedaan tanpa perasaan itu tetap saja …. Menyedihkan.

“Lantas dengan memanggil mereka babi, menganggap mereka dasarnya berbeda dari dirimu sendiri … kau merasa sama seperti mereka, bukan?”

Kemungkinan berbeda dari diskriminasi Alba, tapi itu hanya menunjukkan takkan pernah ada saling pengertian di antara mereka. Wajar mereka tidak akan sepaham. Tapi kendatipun Lena tak mengharapkan apa pun dari tanah air atau warganya lagi, melihat sampai sekarang pun tidak ada yang berubah membuatnya sedih. Dia akhirnya menerima kebenaraan bahwa amarah dingin dan penderitaan yang dipendam 86 sejak berada di Sektor 86 belum sembuh sedikit pun …

Untuk waktu yang lama, Shin berdiri diam. Lalu dia mengangguk jelas dan tenang.

“… iya.”

Catatan Kaki:

  1. Nama lain dewi Nordik, Freya.