86 JILID 4 Bab 1

PANGGILAN TUGAS

 

Penerjemah: Nier Annette

Bau kematian bergentayangan samar di markas besar terpadu front barat. Operasi terakhir telah merampas nyawa beberapa ratus ribu tentara—empat korps dan lebih dari 60 persen pasukan total mereka. Kapabilitas transportasi mereka tidak sanggup menyamai jumlah jenazah yang perlu dikirim kembali, dan pangkalan harus berfungsi sebagai kamar mayat sementara waktu.

“Divisi Penyerang 86.”

Meskipun sudah musim semi, udaranya anehnya kelewat dingin seperti halnya Mayor Jenderal Richard Altner—komandan Divisi Lapis Baja ke-177 serta Pasukan Bantuan Republik San Magnolia—yang menuturkan nama divisi tersebut.

“Pasukan penyerang bergerak independen yang mempilot Reginleif, dikerahkan tuk menekan lokasi inti Legion. Alhasil, pasukan asing beranggotakan para 86 …. Jadi waktunya menyambut ratu mereka, betul?”

Setelah melihat lama kantor yang akan ditempati—perwira misi luar negeri dari Republik San Magnolia—sang ratu, dia ditatap rekan percakapannya dari balik selubung uap harum yang mengepul dari kopi substitusi.

“Pikirmu akan berjalan lancar?”

“Sekurang-kurangnya, aku tidak meragukan kekuatan tempur mereka.”

Kepala staf barat, Komodor Willem Ehrenfried, menampakkan ekspresi tenang. Wajah putihnya, karakteristik keturunan bangsawan, tersenyum tipis dan dingin.

“Mayoritas 86 yang berada di bawah perlindungan kita memanggil diri mereka Penyandang Nama—para veteran yang hidup bertahun-tahun dalam medan perang walau tingkat kelangsungan hidupnya 0.1. Bahkan dibanding tentara kita yang mengenyam pelatihan tempur tepat, mereka ada tingkatannya sendiri. Jadi dari segi taktis, tak menggunakan mereka bukanlah pilihan.”

Barangkali cuma kopi substitusi, tapi diseduh dengan bakti oleh para ajudan mereka dan disajikan dengan elok dalam cangkir kopi porselen.

Menikmati aroma kopi yang berbunga-bunga selagi meminumnya, Willem bicara lagi.

“Tentang Reginleif, kita sekarang punya gambaran kasar mengenai bagaimana praktisnya mengerahkan mereka. Perihal mobilitas, bukan tandingan Grauwolf yang bergerak dengan kecepatan penuh. Dan berkat 86, tidak lagi terjadi Legion memakan operator-operator berharga kita.”

“Aku membicarakan kondisi 86-nya sendiri, Willem,” tukas sang Mayor Jenderal Altner, kembali menaruh cangkir kopinya ke atas tatakannya.

Suara denting porselen yang bergaung mencolok telah bergema ke seluruh ruangan.

“Mereka tak kenal kedamaian, tidak punya tanah air, dan berdiri di medan perang tanpa melindungi apa pun …. Kau pikir mereka bisa bertindak sebagai pedang Federasi kalau berada di tempat yang sama dengan para petarung kita saja sudah menyebabkan perselisihan?”

Kelima 86 pertama yang tanpa sadar mereka lindungi telah menjadi bahan percobaan. Bahkan setelah diberikan hidup damai, mereka memilih tidak menerimanya—mereka tak dapat menerimanya. Pengejaran skenario tempur tanpa henti mereka hampir tidak ada harapan untuk kembali hidup-hidup membuat pasukan lain menakuti mereka. Kendatipun mereka meraih prestasi tidak tertandingi di militer Federasi, mereka dibenci sebagai monster ciptaan Republik. Satu hal yang Willem ketahui pasti adalah bila seseorang memaksa orang-orang yang dibesarkan dalam medan perang menuju kedamaian, mereka hanya akan menggelepar, bimbang, lalu akhirnya mati lemas.

“Anjing pemburu yang baik perlu watak kejam. Keterampilan pemilik yang baik diukur dengan semahir apa mereka mengarahkan kekejaman itu kepada musuh-musuh mereka, Richard.”

Cara bicara aristokrat terang-terangan tersebut tampaknya mengingkari kemanusiaan orang lain, mendatangkan sorot mata melotot tajam kepada mata kepala staf. Ditatap demikian membuat Willem mengangkat bahu elegan.

“… tentu saja, seandainya mereka tak bisa membiasakan diri dengan kedamaian, segala halnya mungkin sulit setelah perang berakhir—bukan cuma untuk mereka tapi untuk kita pula. Kita tidak ingin penjahat dalam pasukan cadangan kita sesudah peperangan berakhir.”

Mayor Jenderal Altner mengangkat alis.

“Tidak mengejutkan sama sekali, Willem. Dan kupikir kau akan bilang, Solusi kita adalah, satu peluru untuk mereka masing-masing.”

 “Kau harus mempertimbangkan biaya bahan bakar untuk membakar mayat sekaligus perawatan kesehatan mental orang-orang yang membakarnya, belum lagi dokumen penting untuk menutupi kematian mereka dan rembang patinya. Meski begitu, ujung-ujungnya akan terungkap … seperti Republik.”

Sesudah operasi eliminasi Morpho, mereka tidak cuma memastikan keselamatan Kerajaan Bersatu, Aliansi, dan Republik, namun sejumlah negara lain pula. Seluruh negara-negara itu akan tahu kekejaman yang diperbuat Republik sekarang. 86, juga dikenal sebagai Colorata, adalah minoritas Republik. Warga negara selain Republik banyak punya saudara-saudara seras dan seetnis di negara-negara tersebut.

Perlakuan Republik kepada 86 akan diketahui sebagai persekusi manusia paling mengerikan sepanjang sejarah. Reputasi ternoda itu akan tetap menjadi noda pada nama Republik di tahun-tahun mendatang—dengan asumsi, tentu saja, umat manusia umurnya masih panjang.

“Dibanding seluruh kerumitan itu, menyesuaikan mereka dengan kehidupan damai dan memberikan mereka pendidikan setara dengan akademi perwira khusus lebih efisien. Kita barangkali belum punya satu skuadron yang pemuda-pemudi bermasa depan cerah di depan mereka …. Lagi pula …”

Senyum kepala staf tiba-tiba sirna ketika menatap satu mata hitam yang membalas tatapannya.

“… dengan penaklukan Morpho juga pembebasan Republik, suasana hati orang-orang boleh jadi tengah berjaya, namun kenyataannya peperangan makin buruk. Karena kerugian luar biasa ini, kekuatan perang fornt barat anjlok, artinya pajak mesti meningkat. Kita perlu memanfaatkan anjing-anjing perang ini sekarang, selagi semua orang sedang menista Republik …. Jika tidak, 86-ah yang mendapati diri mereka paling dirugikan dari semua ini.”

 

 

Mimpi buruk yang selalu dia lihat berkali-kali.

Di tepi gurun tanpa nama, di balik medan perang terpencil dan membara, segelintir tengkorak tanpa kepala yang disinari sinar matahari bertarung melawan gelombang pasang monster metalik. Dipaksa bergerak, tanpa perbekalan atau dukungan apa-apa, para kerangka jatuh satu per satu hingga mereka hancur oleh jumlah kelewat banyak musuh.

Kemudian unit terakhir tersisa—satu unit khusus pertarungan jarak dekat—dikepung Dinosauria dan kejamnya dicabik-cabik.

Bilah frekuensi tingginya ditusukkan ke tanah bagaikan penanda kuburan kosong. Tragedinya belum berakhir, dan ketika Legion melibas kanopinya, kokpit terbuka mengungkapkan jumlah darah yang jumlahnya mustahil. Lalu mereka menarik keluar mayat terkoyak-koyak Prosesor dari sana, menjuntai layaknya boneka kain. Orang mati tak punya martabat; mereka semata-mata dicincang terpisah-pisah sedangkan kepala mereka dirampas. Lena tidak pernah tahu wajah mereka. Lantas saat sosoknya yang berpakaian seragam lapangan kamuflase gurun, diseret keluar dari kokpit, dia tidak pernah melihat wajahnya.

Sampai akhir, Lena cuma bisa menonton. Suaranya tak pernah menjangkau mereka. Dia tidak dapat menembakkan satu peluru pun untuk mendukung mereka. Dia hanya menyaksikan takdir mengerikan mereka terjadi. Berapa kali dia bangun di tengah malam, memanggil nama itu? Berapa kali dia mengaktifkan Para-RAID-nya, sia-sia mencoba menghubungi mereka, di setiap upaya gagalnya lagi-lagi menghancurkan hatinya?

Lena tak pernah melihatnya terjadi, lantas dia tak tahu pasti, namun itu nyata. Semestinya mereka mengalami nasib lebih buruk dari yang sanggup dibayangkannya. Pikiran itu saja membuatnya merinding.

Tetapi dia takkan pernah melihat mimpi itu lagi.

Di pangkalan markas besar terpadu front barat Republik Federal Giad, Lena bangun pagi itu dan memastikan pakaiannya rapi. Dia mengancingkan kemeja kakunya sampai leher dan mengenakan jaket seragam diwarnai hitamnya. Dia kenakan lencana pangkat dan sabuk senjatanya, bahkan memakai topi militernya, lalu menyisir ke samping sehelai rambut diwarnai merahnya.

Dia pakai barang-barang ini satu per satu, dengan penuh tekad, bagaikan kesatria bersiap-siap bergerak menuju pertempuran.

Dia mengintip mata perak bayangannya—warna sama dengan rambutnya—di cermin. Seragamnya dicat hitam untuk meratapi kematian bawahan-bawahannya, dan sehelai rambutnya diwarnai merah mengakui darah mereka yang ditumpahkan. Wajah tegar Ratu Bersimbah Darah, Reina Berdarah, menatapnya, basah kuyup dengan warna tersebut.

Ketukan di pintu memecah hening pagi persis ketika dia hendak mengencangkan dasinya.

“—Kolonel?”

Lena tersenyum. Dia tidak pernah tahu wajahnya …. Tidak pernah, hingga sekarang. Tetapi dia tentu kenal suaranya. Selama dua tahun terakhir, suara ini terdengar lembut mendukungnya. Suara tenang nan damai dengan pengucapan dan prononsiasi yang nyaman di telinga. Saat ini, si pemilik suara berada di sebelahnya, jadi Lena tak perlu melihat mimpi buruk itu lagi.

“Aku bangun …. Masuklah.”

Ada jeda singkat yang terasa hampir seperti ragu-ragu. Namun momen selanjutnya, pintu itu terbuka pelan, kemudian Shin mengintip ke dalam. Rambut hitam Onyx dan mata merah Pyrope. Baru kemarin dia mengetahui warna perawakannya kebalikan Rei—kakaknya. Dia mengenakan seragam biru baja bersih yang baru dikeluarkan Federasi tapi terlihat seolah-olah dia sudah terbiasa dengan pakaian tersebut. Bentuk tubuh ramping dan wajah putihnya cocok gambaran cowok pendiam yang Lena bayangkan dari suaranya, tetapi fisik kekarnya membuktikan dia menghabiskan waktu lama di medan perang.

“Kolonel, transportasi menuju pangkalan markas besar akan berangkat pada pukul 08.25. Tolong bersiap-siap sampai saat itu.”

“Oke.”

Lena memberi jawaban singkat sambil berbalik. Selanjutnya, kembali meanatap mata merah yang mencerminkan penampilan gelap Lena, dia mengangguk.

“Aku sudah siap …. Ayo.”

Pangkalan Rüstkammer baru didirikan di Wolfsland—wilayah kosong yang berbatasan dengan Kekaisaran lama serta wilayah tua yang dulunya sumber produksi dan manufaktur. Ini pangkalan unit baru Lena, Divisi 86. Pangkalan besar yang dikelilingi hutan dari gunung yang sedikit lebih tinggi sepanjang barat. Sebuah sungai tak jauh dari sana memisahkan pangkalan dari kota terdekat yang berdiri di bawah bayang-bayang sisa-sisa benteng tua.

Baraknya menampung hampir sepuluh ribu Prosesor dan personel pendukung cukup tuk memenuhi satu batalion penuh, sekaligus kasarnya pangkalan berisi seribu personal dan beberapa hanggar untuk menyimpan Reginleif. Ada pula landasan pacu untuk lepas pandas dan mendaratnya pesawat transportasi juga tempat latihan terbentang di sisi seberang yang cukup besar dibanding hutan dan sungai.

Sementara bisa dibilang pangkalannya dibangun di sebelah kota untuk kemudahan transportasi, dibangun di sana untuk membantu rehabilitasi 86 ke dalam masyarakat. Mereka tinggal di medan perang dari usia sangat muda, jadi hal demikian penting demi membiasakan mereka dengan lingkungan damai. 86 yang telah dilindungi enam bulan lalu masih diberi pelatihan—akademi perwira khusus, itu dia—juga keempat 86 senior lain seperti Raiden, kembali ke barak, berkata mereka perlu mengurus dokumen mereka, menyisakan Shin menjadi pembimbingnya.

Selagi berada di landasan pacu yang tanpa henti-hentinya memantulkan panas matahari, Shin menawarkan diri untuk mengambil kopernya dan membawanya menggantikan Lena.

“Biarkan aku yang membawanya.”

“Oh, tidak apa-apa. Kopernya tidak berat.”

Shin mengabaikan jawaban Lena, mengambil kopernya, dan mulai berjalan begitu saja. Lena pikir tidak sopan merebutnya kembali padahal Shin bersikeras membantu, jadi dia putuskan menurutinya kali ini saja.

“Terima kasih banyak.”

“Tak apa.”

Jawaban singkat yang akan langsung menciptakan jarak dengan siapa pun … rasanya nostalgik. Lena melihat tampangnya yang berdiri satu kepala lebih tinggi dari Lena dan tak mampu menahan senyum yang tahu-tahu dirajut bibirnya. Matanya tertarik ke luka merah nyaris tidak kelihatan di balik kerah seragamnya. Tanda mengerikan menjalar hingga ke sekitar leher, mirip sekali bekas luka pemenggalan kepala, ibarat kepalanya telah dipotong dan dijahit menempel kembali. Apa itu luka lama? Kelihatannya cukup tua.

Sejak menemui mereka kemarin sewaktu mengenang empat bangkai Juggernaut dan ke-576 Prosesor gugur, dia belum betul-betul bicara dengan Shin dan yang lainnya. Setelah itu, Lena diterima di markas besar terpadu front barat, dan sebab dia teknisnya wakil Republik, ada sejumlah persoalan sosial yang dia wajib datangi. Meninggalkannya sedikit waktu untuk menghidupkan kembali pertemanan lama.

Dia cuma bicara dengan Shin di mobil dalam perjalanannya menuju markas, alhasil satu-satunya hal yang dapat dia dengar adalah kejadian selama misi Pengintaian Khusus dua tahun terakhir dan bagaimana mereka sampai ke Federasi. Dia tidak sempat bertanya bekas lukanya, namun … boleh jadi lebih baik Shin sendiri yang memberi tahu Lena. Apa pun yang melabuhkan bekas luka terlampau mengerikan di hati Shin. Itu bukan subjek yang begitu mudahnya boleh Lena bicarakan.

Barangkali menyadari tatapannya tertuju kepada Shin, pria itu memanggilnya.

“… ada apa?”

“B-bukan apa-apa.”

Fakta melihatnya saja sudah membahagiakan Lena … itu terlalu memalukan nian untuk diutarakan keras-keras. Shin melirik curiga Lena selagi dia memandang ke bawah dengan pipi merona. Sesudah beberapa waktu berlalu, Shin melanjutkan perbincangan.

“Ngomong-ngomong, ternyata kau naik pangkat. Selamat.”

“Ah, iya …” jawab Lena malu-malu, tanpa sadar menyentuh lencana pangkat di kerah jasnya.

Kenaikan pangkat ke posisi perwira lapangan sulit dicapai, dan naik ke pangkat komandan seperti kolonel bahkan lebih sulit lagi. Meskipun benar memang kenaikan pangkat selama masa perang cenderung terjadi amat cepat, seorang tentara sampai pangkat kolonel di masa remajanya belum pernah terdengar.

“Ini demi formalitas saja, sungguh. Aku ditugaskan ke luar negeri, jadi tidak pantas jika sekurang-kurangnya pangkatku tidak setinggi ini.”

Sebaliknya, hanya seorang perwira berpangkat rendah yang mengajukan diri menjadi seorang komandan unit bantuan yang dikirim ke Republik. Sudah enam bulan semenjak Gran Mule runtuh, dan Republik masih punya banyak orang yang menunggu seseorang tuk bertarung menggantikan dan menyelamatkan mereka orang-orang yang tak berniat bertarung demi diri sendiri.

Rencananya adalah pasukan bantuan Federasi ditairk mundur seusai merebut kembali Sektor administratif utara dan menugaskan pasukan Republik sendiri yang tengah dilatih, mengambil alih pertahanannya dengan usaha mereka sendiri …. Namun menimbang situasinya, Lena merasa sukar berharap.

“Tapi berlaku juga untukmu, Kapten Nouzen. Kau hanya punya pengalaman militer dua tahun dengan Federasi, tapi kau pastinya menggapai cukup banyak prestasi hingga dinaikkan pangkat kapten secepat ini.”

“… semua pangkat di atasku kosong, membuktikan seberapa kacaunya Federasi.”

Shin mengangkat bahu, terlihat sedikit senyum. Lena menatap terkejut wajahnya. Dia pikir ekspresinya entah bagaimana agak melunak, walau kenyataannya dia tidak tahu bagaimana Shin sebelum hari ini. Dari balik suara santainya, pemuda 86 ini selalu menekan … sesuatu; dia kukuh sekali menekan sesuatunya, sampai-sampai kapan pun kemungkinan bisa jebol.

Alat pengatur waktu memandang wajahnya selagi menghitung mundur momen-momen hingga kematiannya. Tujuannya adalah membebaskan jiwa kakaknya dari penjara mekaniknya. Pembebasan. Bagaimanapun, kini setelah dia terbebas dari semua itu, mungkin akhirnya dia bisa damai. Bisa jadi sekarang dia dapat mengingat kembali ingatan kakaknya yang terpaksa dia habisi—meski sedari awal tidak pernah ingin melawannya—dengan tulus.

“Sekarang kau komandan taktis, kurasa kau punya ajudan dan para perwira bawahan, tapi kau datang sendirian.”

“Tidak ada yang mengajukan diri. Tapi tetap saja, aku dijadwalkan bertemu beberapa Prosesor yang mengajukan diri dan … seorang perwira teknis …. Anu, Mayor Henrietta Penrose.”

Suaranya sedikit dilirihkan saat menyebut namanya.

“…? Oh, penasihat teknis Para-RAID.”

Shin mengangguk setelah hening bingung beberapa saat. Tampaknya dia tidak mengerti mengapa Lena tersendat sebelum menyebut nama Annette.

Lena melirik ke samping. Henrietta, nama aslinya, tidak biasanya disingkat Annette, lantas Lena memanggil nama lengkapnya …. Tapi mungkin ketika Lena pertama kali bertemu dengannya, Annette memperkenalkan diri dengan nama singkatan tak biasa ini sebab dia tidak ingin diingat orang lain yang pernah memanggilnya nama panggilan berbeda. Seorang bocah—teman masa kecil—yang dia sakiti dan campakkan … dan sejak itu belum pernah menemuinya lagi.

“… kau sungguh tidak ingat.”

“Ingat … apa?”

“Lupakan.”

Lena menggelengkan kepalanya, memotong diskusi. Bagaimanapun, situasinya dia itu orang luar. Semisal Annette ingin membicarakan hal itu dengan Shin, akan dia bicarakan. Mereka jatuh terdiam sesaat namun segera setelahnya dipecahkan suara meong tiba-tiba dari kucing dalam koper Lena.

Shin melihat ke bawah, berkedip kaget.

“Seekor … kucing?”

“Dia kucing yang kau besarkan di barak skuadron Spearhead.”

“Oh.”

Tak ada tanda-tanda emosi di wajah Shin, tapi itu tipikalnya saja. Di sisi lain, si kucing, nampaknya mengenali suara kesukaannya dan mengeong kegirangan.

“Kau menamainya apa?”

“Thermopylae1.”

Atau singkatnya, TP. Shin terdiam sejenak. Itu, kebetulan, nama medan perang di mana pasukan kecil menghadapi pasukan lebih besar dalam peperangan yang peluang menangnya terlampau kecil, diakhiri tentara-tentara pasukan lebih kecil gugur terhormat.

“… bukannya Leonidas?”

“Itu benar.”

“Kau rupanya payah memilih nama.”

“Ngaca, Kapten. Kucing kecil ini menghantarkan kepergianmu, jadi dia tidak mungkin Leonidas. Dia tidak gugur terhormat dalam peperangan, kan?”

“Kurasa, tapi Thermopylae itu …”

“Yah, kau memanggilnya apa sebelum misi Pengintaian Khusus?”

Para Prosesor skuadron Spearhead tidak menetapkan nama untuk si kucing, karena bukan salah satu rekan mereka, dan Shin cenderung memanggilnya nama penulis apa pun buku yang dibacanya tatkala itu.

“Kurasa … Ougai2?”

“… jangan bilang kau membaca Takasebune3 waktu itu …! Itu malah lebih buruk …!”

Lena mengerang kesal. Subjeknya berbeda, tetapi ringkasan kasarnya adalah kisah seorang pemuda yang membunuh adiknya. Dikarenakan Shin melanjutkan misi Pengintaian Khususnya untuk menghadapi Rei—kakaknya, yang dirubah menjadi Dinosauria—yang tahu mereka mungkin saja membunuh satu sama lain atau sang kakak yang akan membalikkan situasi dan membunuhnya, membaca cerita sekonteks itu rasanya melebihi selera buruk dan langsung masuk ranah masokisme.

“Aku kebetulan saja mengambil bukunya. Tidak ada arti lebih dalam soal …. Oh …”

Shin terdiam. Mereka berada di depan hanggar terbesar, yang terhubung ke barak pertama, tempat ruang kelas dan kantor Lena. Feldreß yang nantinya akan dikirim di sana masih dalam transportasi, dan daun jendelanya terbuka, menunjukkan tempatnya kosong. Langit-langitnya tinggi dan dipasang banyak derek jembatan, dan bagian yang dianggap lantai dua hanggar dilengkapi platform sempit.

“… Kolonel.”

“…? Ada apa?”

“Aku paham kau akan sangat marah, tapi tolong, arahkan kemarahanmu padaku seorang.”

“Maaf?”

Seketika, terdengar suara cairan bak tembakan turet tank.

“Bidik!”

Lena memberanikan dirinya ketika berbalik melihatnya …

“Tembak!”

… bukan senjata api yang diarahkan padanya …

… melainkan sejumlah besar air jatuh ke kepalanya.

“Hwaaaaaah!”

Dan tentu saja, guyuran air.

Ditabrak air yang banyak sekali sampai-sampai rasanya seseorang telah menumpahkan bak mandi penuh ke atas kepalanya, Lena sekejap mata basah kuyup. Melihat ke sekitar, dia mendapati sekelompok anak laki-laki dan perempuan berseragam juga pakaian kerja, masing-masingnya memegang ember kosong. Jelas, mereka memegang air yang disiram kepadanya.

Hanya segitulah yang dapat disimpulkan Lena sekarang ini, lalu Shin—yang sudah kabur ke luar hanggar sesaat mendengar, Bidik!—kembali ke sisi Lena. Rupanya, inilah alasan dia bersikukuh mengambil kopernya. Mungkin ada semacam kesalahan, atau bisa jadi beneran merasa bersalah, karena ekspresinya agak canggung dan tidak nyaman. Kucingnya, omong-omong, bahkan tidak memedulikan penderitaan nonanya, masih mengeong berusaha menarik perhatian Shin.

“Ehh …. Yah, cuma air, jadi tidak usah khawatir …. ‘Kan, Sersan Kepala Bernholdt?”

“Pak! Kami mendapatkan airnya dari sumber air terdekat!”

Seorang prajurit di masa keemasan hidupnya berjalan ke depan platform dengan dada dibusungkan (bukan karena bangga, namun karena disiplin militer) kemudian menjawab.

“Ada juga dua orang idiot yang membawa seember cat, tapi sudah saya siramkan kepada mereka sebagai hukumannya!”

“Oh …”

Itu menjelaskan dua tentara dicat merah dan putih tengah berdiri di pojokan. Setelah melirik mereka sekilas, Shin angkat bicara. Suaranya tidak seberat Sersan Kepala, namun suara perintah Shin mengangetkannya tersalurkan dengan jelas.

“Nanti menyumbat saluran pembuangan, jadi pergilah ke sumber air di luar sebelum mandi. Pastikan mengurus kekacauan yang kau buat di lantai.”

“Ya, pak!”

Balasan mereka menggelegar dan menyesal, diterima dengan anggukan Shin. Lena masih syok.

“… apakah menyambut perwira baru dengan cara ini adalah semacam tradisi Federasi …?”

“Tidak. Federasi dibentuk baru sepuluh tahun lalu, jadi belum ada cukup waktu untuk mengembangkan tradisi semacam in—”

“Kapten Nouzen, sisihkan hal-hal sepele tidak berguna itu. Saat ini ada persoalan lebih penting.”

Seorang perwira wanita muda menghampiri mereka, sebuntel handuk mandi di tangannya. Lena berbalik dan tersentak menghadapnya. Komandan Divisi Penyerang 86, Kolonel Grethe Wenzel. Sederhananya, perwira komandannya.

“K-Kolonel Wenzel!? M-mohon maaf …!”

“Ah, tidak usah formal-formal, sayangku. Mungkin saja aku atasanmu dalam urutan kekuasaan, tapi pangkat kita sama.”

Sambil meletakkan handuk di atas kepala Lena, dia menggunakan handuk lain untuk mengeringkan seragam basah Lena. Handuknya barangkali baru saja dicuci, sebab hangat dan berbau seakan-akan telah dikeringkan matahari.

“Ada baju ganti di kamarmu, dan kamar mandinya sudah siap untukmu …. Setidaknya Kapten Nouzen cukup tahu diri menyuruh mereka memberikanmu handuk.”

“… maaf.”

“Namun kurangnya pertimbangan tersebut membuktikan dirimu masih bocah, Kapten Nouzen, dan itu imut menurut sudut pandang tertentu. Tapi mulai dari sekarang, kalau kau tak bertingkah selayaknya pembimbing tepat, dia mungkin saja membencimu.”

“Kolonel—”

“Oh, apa aku kebanyakan bicara? Tapi menurutku salahmu memperbincangkan percakapan pribadi semenarik itu dalam Feldreß yang mengarsipkan seluruh komunikasi dalam perekam misinya.”

Shin menggeram sebal. Grethe terkekeh kemudian pergi, membawa pergi handuk basahnya. Sersan Kepala di atas platform bergegas cepat.

“Kami akan tangani ini, Kolonel.”

“Aduh, Sersan Kepala Bernholdt, kau ingin mengapakan handuk yang baru dipakai seorang wanita muda?”

“Jangan bercanda seperti itu! Terutama tidak di depan Kapten! Waduh, wanita itu hampir seumuran anak-anakku! Dia bahkan mungkin belum tumbuh rambut di bawah sana!”

“… rambut, katamu?”

“Aaaaaaah, bukan apa-apa, bukan apa-apa! Pura-pura saja kau tak mendengar apa-apa!”

Percakapan heboh ini yang tidak pernah orang bayangkan antara perwira lapangan dengan bawahan perwira non-komisioner, perlahan-lahan mereda. Melihat kepergian mereka, Shin bicara dengan suara letih.

“Sementara waktu, kau harus ganti seragam …. Akan kutunjukkan ruanganmu.”

Ruangan pribadi Lena, terletak di lantai atas barak pertama, terdiri dari dua ruang: kantor sekaligus ruang tamu yang menghadap koridor, dan interior ruangan yang menjadi kamar tidurnya. Mungkin pangkalan militer, tetapi berada di zona aman ratusan kilometer jauhnya dari lini depan. Ruangan luas yang mengutamakan kenyamanan alih-alih pertahanan—cocok untuk perwira komandan—dan mungkin perabotan putih mutiara indah, barangkali dipilih dengan mempertimbangkan penghuninya adalah seorang wanita muda, itu cukup menarik.

Shin menaruh tasnya dan koper kucing ke lantai kemudian meninggalkan ruangan, lalu kucing hitam itu segera memulai eksplorasi pertama tempat baru ini dengan penuh perhatian. Keempat dindingnya ditutupi kaca berwarna, dan jendela besar kantor menyuguhkan pemandangan kota di seberang sungai.

Ada sekolah baru didirikan di salah satu sudut kota. Fasilitas khusus diperuntukkan untuk 86 yang dikirim ke kamp konsentrasi sebelum mereka sempat mengenyam pendidikan SD. Biasanya, unit seukuran regu hanya punya satu regu kesehatan mental yang ditunjuk untuk merawatnya, tetapi unit ini diberikan dua. Kendatipun menyediakan perawatan tersebut semestinya tanggung jawab Republik …

Menggeleng kepala, Lena berjalan ke kamar mandi yang terhubung ke kamar tidurnya. Uap menempel ke ubin berwarna di dinding kamar mandi, dan kelihatannya sejumlah sari bunga telah ditaruh ke air, sebab bau wangi-murni memenuhi ruangan. Dia membersihkan riasan tipisnya dan memutar keran bermodel, membiarkan air panas membasuhnya.

Kalau dipikir-pikir, dia masih belum dijelaskan mengapa hal ini terjadi kepadnaya. Dia membuka pintu kamar mandi dan memakai Perangkat RAID yang ditempatkan di atas handuknya, mengaktifkan Para RAID. Targetnya tentu saja Shin yang sedang menunggu di koridor luar ruangan pribadinya.

“Anu, Kapten …”

Panggilannya ditutup tanpa balasan. Dia menghubungkan kembali Resonansinya dan bertanya begitu panggilannya tersambung:

“Kenapa kau putus?”

Suara tanggapannya bingung.

“Menurutku, kenapa mesti sekarang Beresonansi?”

“Kita sedang di tengah-tengah percakapan.”

“… bisa kita tuntaskan nanti. Paling tidak tunggulah sampai mandimu selesai, tolong.”

Lena menolak mundur.

“Kenapa kita tidak bisa bicara selagi aku mandi?”

“Maksud kenapamu apa …?”

Ada jeda menjengkelkan di antara mereka, yang Lena terobos dengan terus menekannya.

 “Sebelumnya kau setuju-setuju saja. Saat kau memberitahuku soal Domba dan Gembala dua tahun lalu di barak skuadron Spearhead, kau, err … kau terkoneksi selagi di kamar mandi.”

“Iya …. Tapi kayaknya kau tidak setuju, jadi tidak perlu memaksakan dirimu.”

Itu …

Yah, benar, Lena lumayan malu tentang ini.

Hanya indra pendengaran mereka yang Diresonansikan, tetapi kesannya mereka bertatap muka. Lena menyadari artinya perasaan malunya akan situasi ini langsung dikirim ke Shin, membuat pemuda itu merasa gelisah.

Dan paling parahnya, suara aliran air dan napasnya, bocor keluar dari panas serta uap, juga suara air menetes dari rambut panjang macam satinnya, juga ditransmisikan.

“Tapi kali ini kita tidak bisa—Ah …”

Resonansi Sensorik berakhir lagi, dan kali ini Shin mencabut Perangkat RAID-nya, karena Lena tidak dapat menyambung kembali.

 

 

Pergi ke lantai teratas untuk memberikan dokumennya ke kantor Grethe, Raiden berhenti di depan Shin yang tengah duduk lunglai di karpet koridor, yang terdapat pola bunga putih berlatar biru. Shin sedang berdiri di depan komandan taktis—kantor—Lena, mungkin menunggunya berganti pakaian setelah sambutan kecil yang ditimpakan kepadanya. Tapi entah kenapa, Shin berlutut.

“… kau kenapa?” tanya Raiden.

“… bukan apa-apa.”

Shin menjawab sembari mengerang, memungkiri respon sebenarnya.

Pada akhirnya, Shin tak merespon hingga Lena meninggalkan kamar mandi, memakai blus dan rok, menuju kantor kemudian mengetuk pintu ke koridor yang memanggilnya.

“… mungkin ini sudah jelas, tapi sekarang kau sudah berpakaian, bukan …?”

“T-tentu saja …!”

“Baiklah …”

Sulit mendengar Shin di balik pintu kayu ek yang dibuat tebal untuk mencegah penyadapan. Lena pun kembali ke kamar mandi buat mengeringkan rambutnya dan memperbaiki riasannya, jadi mereka terus melanjutkan percakapan lewat Para-RAID.

“… soal yang terjadi sebelumnya …”

Mereka berdua merasa agak canggung, jadi perlu waktu lama untuk memulai percakapan lagi. Menurunkan pengering rambutnya, Lena mendengarkan Shin sambil mengambil kuas.

“… sebagian besar personel tempur Divisi Penyerang adalah para sukarelawan 86, tapi tidak semuanya. Ada tentara Federasi yang mengikuti perintah … dan beberapa punya kenalan di Republik.”

Tambahan tersebut membuat napas Lena tercekat. Sekitar sepuluh ribu 86 dilindungi Federasi—cukup sampai seukuran skuadron. Namun jumlahnya sedikit nian dibanding jutaan Colorata yang hidup di Republik sebelumnya. Kesepuluh ribu itulah satu-satunya yang selamat dari kekejaman tersebut. Semua orang lainnya sudah mati, baik di kamp konsentrasi selama konstruksi Gran Mule atau di medan perang Sektor 86. Republik telah merendahkan mereka hingga menjadi hewan ternak berwujud manusia, tanpa kuburan untuk jenazah mereka, dan membantai mereka.

Sebelum pecahnya perang melawan Legion, orang-orang Republik berbaur bersama orang-orang dari negara tetangga. Tentu saja beberapa punya kerabat dan teman di seberang perbatasan. Jadi begitu orang-orang dari negara tetangga mengetahui orang yang mereka sayangi telah dibinasakan …

“Perintah adalah mutlak bagi prajurit, namun bukan berarti rasa muak perihal atasan mereka adalah seorang perwira Republik akan menghilang. Ketika kau ditunjuk untuk mengisi jabatanmu, kami—Sersan Kepala Bernholdt, Kolonel Wenzel, dan aku—dapat komplain dan suara keberatan atas keputusan tersebut.”

Dia mengingat tentara Federasi di platform, berbeda usia dan ras. Mata berwarna variatif mereka sama-sama dingin memelototinya.

“Perbedaan pendapat semacam itu takkan hilang hanya dengan menutup rapat masalahnya. Yang ada, mencoba menahannya akan membuat mereka melampiaskan seluruhnya di masa depan kelak. Jadi kuizinkan mereka memberi ganjaran, sekali, saat kedatanganmu. Akulah yang memutuskan detialnya, aku bahas dengan Kolonel Wenzel dan memintanya menyetunjuinya. Karena itulah aku bilang sebelumnya, kalau kau mau marah, arahkan kemarahanmu padaku.”

Lena menggeleng kepalanya. Ganjaran semacam ini tidak lebih dari seember air. Mungkin ada ide lebih ekstrim lagi, dan Shin kemungkinannya menolak semua itu. Dia barangkali punya kepercayaan besar kepada para ajudan pengawasnya. Dan dengan melakukannya, Shin menyelamatkan Lena dari ganjaran lebih parah dan tak terkendali, walaupun Shin salah satu 86 yang berhak membalaskan dendam kepada warga Republik.

“… ini hukuman layak kepadaku. Aku tidak boleh marah …”

“Itu tidak benar.”

Shin jelas mematikan penghinaan diri Lena, ada sedikit rasa sebal pada suaranya, ada kecemasan yang mendahului sebalnya.

“Satu-satunya orang yang diizinkan memberi ganjaran pada Republik adalah kami, 86. Biarpun mereka tidak terkait, warga Federasi bukanlah bagian ini dan tak berhak balas dendam …. Terlepas dari apa yang mereka pikirkan, perbuatan mereka cuma hal absurd terang-terangan di bawah kedok keadilan dan sanksi.”

“Kapten—”

“Ujung-ujungnya, Federasi hanyalah negara manusia. Mereka dapat memegang keadilan sebagai kebijakan nasional mereka …. Namun bukan artinya mereka lebih adil atau ideal.”

Suara muram dan seraknya penuh akan sesuatu semacam amarah, seperti kesedihan …. Seperti rasa pasrah yang melingkupi kedua emosi itu.

“Dan … aku yakin sudah mengatakan ini sebelumnya, situasi di Sektor 86 bukan karena perbuatanmu atau dalam kuasamu yang bisa kau batalkan sendiri. Bukan tanggung jawabmu, Kolonel, dan bukan sesuatu yang kau seorang perlu disalahkan.”

Oleh karena itu, Shin berterus terang melanjutkan selagi Lena terdiam.

“Ganjaran sebelumnya itu kekerasan tak pantas kepadamu. Perlakuan ini tidak patut, dan kau masih bersedia menerimanya. Jadi tidak usah merasa sedih karenanya. Jika ada yang berani memperlakukanmu dengan tidak hormat, hukum mereka sesuai peraturan militer Federasi. Kau punya wewenang dan tanggung jawab untuk melakukannya.”

Tanggung jawab. Pilihan kata itu betul-betul Shin. Seandainya dia cuma mengatakan wewenang, Lena akan ragu-ragu melakukannya biar sudah mendengar penjelasan ini. Namun apabila itu tanggung jawabnya, dia harus melakukannya. Tidak ada maksud untuk mengubah perasaan Lena kala itu; hanya demi melindunginya dari ganjaran sembarangan dan di waktu yang sama, mencegahnya dijerat rasa bersalah hati nuraninya sendiri.

Shin boleh jadi berwajah Pencabut Nyawa berhati dingin dan sikap blak-blakan tak acuh …. Tetapi dia baik sekali, sangat baik. Baiknya sampai menyakitkan.

“… terima kasih.”

Pakaian baru di tempat tidurnya adalah seramgam biru baja milik Republik.

Biasanya, mereka tidak menyediakan yang berwarna hitam. Mengenakan seragam yang berlencana pangkat kolonel dan bahkan menambahkan ban lengannya, Lena berbalik menghadap cermin badan untuk memeriksa penampilannya sebelum pergi ke pintu menuju koridor.

“Terima kasih sudah menunggu, Kapten.”

Sepertinya Shin tidak benar-benar duduk di sana sambil memutar-mutar ibu jarinya, selagi menutup dokumen elektronik yang dia baca di barang semacam perangkat sebelum berbalik, berkedip kaget ketika memeriksa pakaian baru Lena. Kalau dipikir, ini pertama kalinya Shin melihatnya memakai seragam ini. Saat mereka bereuni kemarin dan bertemu lagi hari ini, dia memakai seragam hitam.

… kini Shin tahu mengapa Lena gugup sekali mengenai penampilannya sebelumnya. Dia memastikan betul-betul tidak ada yang ganjil tentang penampilannya … hampir seperti seorang gadis yang hendak pergi berkencan pertama kalinya. Lena merasa darah mengalir ke pipinya saat Shin menatap penasaran dirinya.

“… Kolonel?”

“T-tidak, bukan apa-apa.”

Lena mencicitkan jawabannya dengan suara lirih yang tentunya tidak membuatnya seakan-akan tak ada masalah.

Menyadarinya membuat Lena sadar akan segala macam detail kecil yang tidak dia sadari sampai sekarang—atau mungkin dia tidak sadar mencoba mengabaikannya. Pertama-tama, kemungkinan besarnya situasi ini terlalu merangsang bagi Lena, memperhitungkan reuni ini tidak terduga sebab seluruh komunikasi mereka lewat perantara Para-RAID, senantiasa dipisahkan beberapa ratus kilometer jauhnya. Suaranya dekat sekali, dan paling krusialnya, karena perbedaan ketinggian, mulut Shin setinggi telinga Lena.

Lena kelewat memerhatikan betapa lebih tingginya dia dari dirinya. Lena bisa merasakan hangatnya panas tubuh Shin yang memperjelas dia berdiri di samping dirinya tanpa perlu dilihat. Dia tidak tahu panas tubuh anak laki-laki bisa begitu hangat, dan entah kenapa, itu membuat Lena teramat-amat pening. Menaruh tangan ke dadanya untuk menenangkan diri, dia menarik napas dalam-dalam dan berhasil memadamkan rona di pipinya sebelum bicara seolah-olah tidak terjadi apa-apa, “Kau mau mengajakku berkeliling pangkalan, ya? Ayo pergi.”

… suaranya masih nyaring.

Lena mengalihkan pandangannya dari senyum yang tidak kuasa ditahan Shin kemudian mulai berjalan pergi, tumitnya mengklik kayu lantai. Dia merasa keberadaan Shin mengikutinya dengan bisu, setengah langkah di belakang.

Tahu Shin kebiasaan bergerak tanpa suara itu membuatnya sangat bersemangat.

“… apa yang dilakukan mereka berdua?”

Perwira berpangkat rendah dijejalkan dalam dua kamar bareng-bareng dilengkapi tempat tidur, meja, lemari, serta kamar mandi bersama.

Frederica cemberut dengan pipi dikembungkan selagi duduk di tempat tidur, kakinya menggantung sedangkan mata merah darahnya menatap angkasa.

 “Tentu mereka bertemu Grethe dan perwira staf sama-sama, tapi sekarang mereka berkeliaran di ruang pengarahan dan ruang pengarahan. Seakan melihat sepasang pengantin baru! Bisa-bisanya mereka memanfaatkan posisi mereka sebagai perwira untuk hal—”

“… uh, Frederica.”

Menyandarkan sikunya ke pintu yang separuh terbuka, Theo angkat bicara sedih.

Kau sedang apa? Menelinga lagi?”

Mata merah Frederica sekejap menoleh padanya. Theo menyadari setiap kali kekuatannya mengintip masa lalu dan masa kini orang-orang terdekatnya aktif, mata merahnya kelihatan bersinar.

“Aku tidak menguping, bego! Aku semata-mata berwaspada andai wanita itu coba-coba melakukan hal aneh selagi dia jalan di depannya.

“Santuy—Shin hanya mengajaknya berkeliling. Kolonel baru sampai di pangkalan hari ini, dan Shin itu bawahan langsungnya, jadi tidak ada yang aneh.”

“… mungkin itu benar, tapinya …”

“Selain itu, kau di sana ketika Shin mempermalukan dirinya sendiri, jadi kau sudah tahulah.”

Feldreß Federasi dilengkapi perekam misi yang merekam seluruh perubahan sensor, kamera senjata, juga persenjataan, selain pembicaraan pilot di intercom. Yang tentunya termasuk perbincangan Shin dan Lena satu sama lain—kendatipun tanpa mengetahui siapa identitas di saluran satunya—setelah eliminasi Morpho. Kebetulan, berkas data konversasi itu adalah rekaman pertama Republik selama sepuluh tahun, sekaligus catatan kontak pertama dengan orang-orang selamat dari Republik, dan dipuar ulang di depan komandan pasukan front barat … membuat Shin sangat-sangat syok.

“Itu benar! Dan ditayangkan di depan mata orang malah makin sulit menerimanya! Lagian, bukankah kita menghabiskan lebih banyak waktu bertarung bersama—Aaah?!”

Frederica seketika mengangkat kepalanya. Dia dikejutkan sesuatu yang cuma dia seorang bisa melihatnya, selanjutnya dia tersenyum kejam.

“… Theo, tampaknya nafsu makanku meningkat.”

Theo tersenyum cerah.

“Oh, yasudah. Hari ini cerah, jadi ayo makan di toko retail4 terus keluar.”

Toko retail adalah semacam toko dalam lokasi pangkalan. Frederica mulai panik.

“B-bukan, maksudku bukan itu, umm …”

“Biar kutebak. Shin dan kolonel mau ke kafetaria sekarang, dan kau berencana menghalangi mereka. Jelas.”

Dia bisa mendengar Kurena berteriak “Aaaaaah!” lanjut melaju kencang bak anjing yang barusan melihat tuannya. Jendela koridor menawarkan pemandangan kafetaria, dan Frederica bisa jadi melihatnya pula.

“Hap!”

Namun sebelum Kurena sempat lepas landas dengan kecepatan penuh, Anju berhasil menangkap Kurena dan menjatuhkannya.

“Aduh! Ada apa sih, Anju?! Lepaskan!”

“Cuma sampai sini saja, nona. Kau tahu tidak sopan ikut campur, Kurena.”

“Aduh aduh aduh aduh aduh, sendiku! K-kau akan mematahkan sesuatu, Anju! Aw aw aw aw aaaaaaaaaaw!”

Selepas menyaksikan percakapan menghangatkan hati ini, Theo berbalik kembai ke ruangan. Theo bermaksud tersenyum, tapi niat di mukanya terungkap gamblang, karena Frederica melangkah mundur selangkah ngeri.

“Kita. Makan. Di luar. Sama Kurena, Anju, dan Raiden.”

“… oke.”

Ruang makan pangkalan Federasi menyajikan makanan sama untuk semua orang, tidak melihat pangkatnya tetapi memperkenankan seseorang untuk mengontrol ukuran porsi makannya sendiri seperti sistem kafetaria bergaya prasmanan. Setelah kikuk mengisi nampannya dengan hidangan sementara Shin dan personel yang bertugas mengatur meja berusaha sekuat tenaga sampai sedikit terlalu membantu, Lena berjalan ke sebuah meja kosong.

Pangkalan ini sebagian besarnya ditempati para Prosesor dalam pelatihan perwira khusus, dan Lena sekarang ini berada di ruang makan perwira pertama, yang ternyata ruang makan paling besar. Personel dapur, campuran pekerja suplai dan personel militer, memasak di panci kukus cukup besar sampai-sampai Lena bisa duduk nyaman di sana.

Sebab ragam kuliner berbeda Federasi dan Republik, nampan Lena diisi kombinasi makanan aneh: roti hitam tebal khas Federasi, sup krim beraroma jamur yang menggugah selera, salad sayuran dimasak, semur lada merah yang kelihatannya umum di Federasi daerah selatan, kopi, juga kue tar apel. Di tengah nampannya terdapat daging panggang yang disajikan saus malaka5 yang punya aroma harum membumbung naik dari sana.

Lena potong tak sabaran dan dibawa ke mulutnya, lalu mata peraknya melebar kaget.

“Enak …!”

Shin tersenyum agak bahagia terhadap ledakan menggemaskan Lena.

“Senang kau suka.”

“Aku sudah lama belum makan daging beneran …. Apa ini daging rusa?”

Mengesampingkan semua tingkah anggunnya, Lena memakannya sepenuh hati.

“Ini … Raiden memberi tahu kami bahwa seluruh makanan dalam tembok Republik itu sintetis, jadi kupikir kau mungkin mau mencoba sesuatu berbeda. Layaklah mengumpulkan anggota pemburu di hutan belakang sana.”

“… apa kau berburu untukku?”

“Tidak, semua orang bertepatan hari itu sedang nganggur.”

Seraya bicara, Shin memasukkan makanannya sendiri ke mulut dengan kecepatan mengejutkan. Shin tetap seorang pria muda dengan nafsu makan sehat yang sebanding umurnya. Pemandangan menyenangkan melihatnya membersihkan nampannya—yang nyaris jumlahnya dua kali lipat makanan Lena—begitu cepat. Dia memang cowok, pikir Lena selagi menahan senyum.

“Para kombatan perlu menyibukkan diri mereka saat tidak ada pertempuran apa pun. Dulu di Sektor 86, kami sering berburu dan memancing bareng di hari-hari aman.”

“…”

Lena pikir itu kedengaran agak menyenangkan, namun dia tiba-tiba membuang kesan tersebut. Shin tersenyum pahit, nampaknya menyadari konflik batin Lena.

“Tak usah menunjukkan wajah itu. Bahkan Sektor 86 punya hal-hal menyenangkannya tersendiri.”

Legion berada di jalur depan mereka, dan Republik menghadang jalan mundur mereka. Serta mereka akan tahu di akhir perjalanan lima tahun penganiayaan, penghinaan, dan wajib militer paksa, mereka tak salah lagi akan mati. Medan perang sesia-sia itu, namun …

“Kami takkan melakukan hal menyedihkan seperti gantung diri cuma karena kematian kami sudah ditentukan sebelumnya, maupun duduk manis saja, menghitung hari kematian kami sampai akhir. Semisal kami harus mati, kami akan hidup setiap harinya tanpa penyesalan—selalu tersenyum di hadapan kematian. Itulah satu-satunya bentuk perlawanan kami.”

“…”

Shin bisa saja benar …. Dua tahun lalu, Lena akan Beresonansi dan bicara bersama skuadron Spearhead setiap sore, dan setiap sorenya mereka sepertinya kerap kali bersenang-senang. Ada hal menarik tentang suara jauh orang-orang saling mengobrol satu sama lain, mengejek sesama, dan berdebat gaduh karena hal-hal konyol. Mereka rakus mencari waktu-waktu berharga ini selama jeda antar pertempuran dan pertempuran berikutnya. Bahkan tanpa dipuji siapa-siapa, bahkan tanpa melindungi siapa pun, mereka berusaha hidup sepenuh hati sekalipun sepenggal hal yang menunggu mereka hanyalah kematian tanpa arti.

“… aku ingin mencoba mancing juga, suatu saat.”

Ekspresi Shin berubah jadi sedikit nakal.

“Kalau begitu kau mesti mulai menangkap serangga buat umpan.”

“Serangga.”

Sebagaimana kebanyakan gadis seumurannya, Lena benci serangga. Terutama cara mereka menggeliat dan bergerak cepat.

“Menangkap mereka terus mengoreknya keluar itu sedikit …”

“Tidak sulit. Balik saja batu di tepi sungai, nanti kau akan menemukan lebih banyak serangga dari yang kau inginkan.”

“… akan kuusahakan.”

Kala itu, ekspresi kesusahan nan sedih Lena tidak kuasa dilihat. Shin—pertama kalinya seingat Lena—tertawa keras. Lena meringis, sadar dia lagi diejek.

“… rupanya kau lebih suka merundung dari perkiraanku, Kapten.”

  “Maaf, ekspresimu kaku sekali, aku tidak tahan,” ucap Shin, masih terkekeh. “Kalau kau tidak suka serangga, mungkin sebaiknya cobalah berburu. Kesampingkan penyembelihan, kau tahu cara menggunakan senapan.”

“Yah, iya, senapan serbu …”

Sebuah ingatan mendadak melayang di benak Leya, mendesaknya meletakkan laat makannya di samping.

“… selama merebut kembali Sektor Pertama, polisi militer yang bertanggung jawab atas selter pergi berburu untuk memberikan warga Republik sejumlah daging. Mereka rasa kebosanan sama makanan sintetis …”

Selain bertindak sebagai organisasi polisi dalam tentara, tugas polisi militer termasuk konstruksi juga manajemen selter pengungsi dan tawanan perang. Disebabkan jenis perang melawan Legion, tiada pengungsi atau tawanan perang, lantas mereka cukup antusias memenuhi tugas tersebut pertama kalinya dalam waktu lama.

“Beberapa warga Republik sangat senang soal itu, tapi … anak-anak membuang dagingnya tanpa digigit sekali pun. Mereka bilang baunya seperti darah.”

“…”

Perang melawan Legion dimulai sebelas tahun lalu, yang mana jumlah waktu sama Republik berlindung dalam Sektor 85. Anak-anak yang dilahirkan dalam rentang waktu tersebut tidak pernah memakan makanan yang disiapkan dengan bahan-bahan alami, apalagi daging.

Katanya indra perasa dikembangkan saat usia muda dan sebagian besarnya dibentuk rasa kala itu.

Akibatnya, orang-orang berasumsi anak-anak ini takkan menghargai makanan apa pun yang dibuat pabrik produksi selama hidup mereka. Mereka takkan mampu menikmati santapan negara lain di luar Gran Mule.

Merasakan keresahan Lena, Shin bicara.

“Itu sama saja sebagaimana mereka yang belum pernah melihat ras lain selain Alba …. Mereka takkan bisa mengenal siapa pun yang bukan Alba sebagai sesama manusia … kan?”

Lena mengangguk. “Operasi pertama unit ini ditetapkan untuk merebut kembali Sektor administratif utara Republik. Aku sejujurnya … sedikit risau mengirimmu bertempur di Republik dalam kondisi sekarang.”

Pengucilan dan kebencian warga Republik itu tersurat kepada 86, entah menggunakan kata-kata atau cara lain.

“Tidak jauh berbeda dari waktu kami bertempur di Sektor 86 …. Tapi tetap saja, Republik cuma punya makanan sintetis? Kendati memelihara ternak stabil terlalu sulit, pastinya ada kelinci atau merpati.”

“… kami tidak punya teknologi untuk menangkap hewan, dan hampir tak ada orang yang tahu cara menyembelih dengan benar. Mungkin saja tidak ada yang sadar kita bisa menangkap atau memakannya.”

Dibanding makanan sintetis hambar tanpa rasa yang mereka sediakan untuk 86, makanan dalam Republik masih layak disebut makanan. Tidak banyak permintaan untuk makan sesuatu lebih enak dari itu.

“Yah, aku tak tahu cara memasak, jadi aku tidak berhak bicara …”

Keluarga Milizé dulunya adalah keluarga bangsawan, dan Lena adalah pewaris tunggal mereka. Pikiran mengotori tangannya bukan hanya mengartikan dia tidak pernah masak, tetapi tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Shin santainya menyesap kopi substitusi dari mugnya. “Aku juga tidak ahli masak.”

“Huh?”

Lena mendapati dirinya balas menatap Shin. Dia terlihat bisa cepat menggerakkan jarinya, ibarat sanggup melakukan apa pun, jadi Lena kira tak ada sesuatu yang tidak piawai dia kerjakan.

“Itu … mengejutkan.”

“Yah, bukannya aku tidak bisa memasak sama sekali. Tapi kata Raiden, indra perasaku sedikit …”

Kembali meletakkan mugnya ke atas meja, Shin menunjuk mulutnya.

“… tumpul.”

Memperkirakan sedikit keraguan nada bicaranya, Shin sebetulnya barangkali tidak sadar betapa tumpulnya indra perasanya. Mungkin itu wajar, karena tak seperti indra penglihatan dan pendengaran, perasa bukan indra yang punya pengukuran untuk mengukurnya. Juga, seberapa pun Raiden menjelaskan indra perasa Shin, kemungkinan tidak separah tumpul.

“Aku tak menyangkal tidak pandai membumbui, tapi kadang-kadang aku pun merasa tidak enak melakukan hal-hal semacam meninggalkan kulit telur di makanan, bukan berarti akan jadi persoalan besar gara-gara itu. Kurasa itu masih benar-benar bisa dimakan.”

“…”

Cara berpikir janggal tersebut menjelaskan setidakkompeten apa Shin itu, bahkan bagi orang seperti Lena yang tidak tahu sesuatu tentang memasak. Akan tetapi …

“Telur, hmm …? Bagaimana cara membukanya, ya?”

Lena dengar cangkangnya amat keras. Apa mungkin orang butuh palu untuk membukanya?”

“…”

Kali ini giliran Shin yang terdiam beberapa detik.

“… kau tahu sekolah punya kelas dasar memasak sebagai salah satu mata pelajaran pilihannya?”

“Ya …?”

“Kelasnya mencakup teknik dasar, seperti caranya memegang pisau dapur, tapi sementara waktu ini, satu-satunya orang yang mengambil pelajaran itu cuma Frederica … Maskot regu kami. Mungkin kau harus mengambilnya juga, Kolonel.”

“… hanya kalau kau juga ikut.”

“Tidak deh.”

“Apa? Kenapa?”

Para perwira staf intelijen di dekat mereka harus menahan tawa mendengar percakapan konyol ini.

Pada akhirnya, argumen berputar-putar mereka berlanjut bahkan setelah menyelesaikan makan mereka dan Shin mengambil cangkir kopi substitusi kedua untuk dirinya sendiri. Shin menolak mengalah, malah makin membuat Lena bertekad untuk pandai memasak supaya bisa sombong pada Shin kalau dia lebih ahli memasak. Shin mengikutinya sambil memasang ekspresi ragu selagi Lena berjalan menuju hanggar dengan langkah yang anehnya antusias.

Hanggar tersebut sepenuhnya ditinggalkan beberapa jam lalu namun kini sekali lagi penuh Feldreß yang hendak ditempatkan di sana, dan kedua tentara yang berlumuran warna putih serta merah juga baru menyelesaikan pembersihan mereka. Inilah Reginleif, senjata bergerak baru yang dipilot Shin serta teman-temannya, sekarang tertidur di sinar matahari musim semi dengan kaki panjang terlipat di bawahnya.

Melihat Feldreß tersebut, senjata yang jauh lebih diperbagus dan dioptimalkan dari Juggernaut, menggetarkan hati Lena. Feldreß putih ini, warna tulang diasah, terdapat keindahan dingin dan kejam pada drone tersebut namun juga mengesankan mayat-mayat kerangka beralamat buruk berkelana di medan perang mencari-cari kepala hilang mereka.

Lena ingat ini. Dia melihatnya dari ruang komando meriam pencegat Gran Mule, kilat cahaya putih memotong kegelapan biru fajar, menghadapi sang raksasa naga wujudnya Morpho. Dia teringat mendengar Reginleif dikembangkan menggunakan Juggernaut yang Federasi pulihkan di saat mereka menyelamatkan Shin dan kelompoknya sebagai referensi.

Berarti firasatnya mirip Juggernaut tepat sasaran …. Jadi, Shin dan kelompoknya telah menyelamatkan hidup Lena seawall kala itu. Tentu saja, penyumbang terbesarnya adalah Prosesor yang mempilot Reginleif tersebut, namun andai bukan karena mobilitas mesinnya, Shin takkan bisa mengejar dan menghancurkan Morpho. Mengingatkan Lena dia perlu mencari perwira itu dan berterima kasih kepadanya.

Dia melihat masing-masing kelima Reginleif yang berdiri sejajar tertib, masing-masingnya mempunyai persenjataan uniknya. Kemudian berhenti di depan salah satunya. Unit Shin: Undertaker.

Persenjataan tetapnya adalah empat pemancang, sepasang jangkar kawat, dan meriam laras harus standar 88 mm. Tetapi perbedaannya adalah hampir senjata pilihan khas Shin, sebuah bilah frekuensi tinggi. Lena beralih menghadap Shin, penunggangnya.

“… boleh aku sentuh?”

“…? Silahkan.”

Shin mengangguk, kebingungan, ibaratnya bertanya-tanya apa gunanya bertanya, namun ini rekan yang Shin percayakan nyawanya. Bukan sesuatu yang dapat orang lain sentuh tanpa izin. Tangan Lena menyusuri logam dingin yang dikeraskan luka-luka tidak terhitung jumlahnya.

Shin berada di militer Federasi selama dua tahun. Pertarungannya pasti teramat-amat intens hingga mengumpulkan banyak sekali luka pertempuran dalam rentang waktu sesingkat itu.

Terima kasih sudah menyelamatkannya, menjaga Shin di medan perang itu.

Menyandang nama Undertaker, sebagaimana Juggernaut Shin di Republik. Andaikan senjata punya sesuatu yang menyerupai jiwa, unit ini mewarisi jiwa Juggernaut tersebut, tidak salah lagi. Jari-jarinya menelusuri lambang unit sebuah ujung tombak yang terpampang di balik kanopi. Sesaat mata Lena menemui sesuatu yang kelihatan mirip Tanda Pribadinya—satu kerangka tanpa kepala membawa sekop—Shin angkat bicara sambil nyengir.

“Kau membaca data Juggernaut sebelum ditugaskan di sini, kan? Semua perlengkapannya standar, jadi kurasa kau tidak menemukan sesuatu ganjil di sini.”

“Itu benar, tapi … anu, ini model pertama yang datang membantu Republik, jadinya …”

Entah kenapa, dia ragu-ragu untuk memberi tahu Shin detail bagaimana Prosesor lain telah menyelamatkannya, dan dia malah menghentikannya tidak jelas. Selanjutnya Lena tiba-tiba ingat sesuatu dan, sesudah pamit sebentar, berjalan mendatangi kepala tim pemeliharaan. Dia bertukar kata sedikit dengan mereka, menerima sesuatu, dan berjalan kembali sambil memegang paket. Seorang kenalan yang kebetulan dia temui kemarin di pangkalan markas besar terpadu memberikannya paket ini, sekaligus sebuah pesan. Barang berbahaya, berarti tidak dapat Lena bawa dalam barang bawaannya, jadi harus dia bawa dalam kontainer amunisi, bersama amunisi lainnya.

“… ini apa?”

“Yah, anu, aku tidak tahu juga …”

Kotak plastik yang belum dibuka sejak meninggalkan teknisi senjata. Lena membukanya dan menukas sesuatu seusai memberikan isinya:

“Aku yakin ini milikmu, Kapten.”

Kotaknya berisi pistol otomatis 9 mm dengan magasin ganda, sejenis senjata yang digunakan pasukan lama Republik di masa lalu. Karena menghilangnya angkatan darat dari medan perang, para Prosesor 86 acap kali membawa ini, Shin melihat kotaknya dengan enggan … dan, saat berikutnya, menegang riuh.

“Kapten?”

“… Kolonel, di mana kau … menemukan ini?”

“Di luar Gran Mule, sewaktu Federasi datang menyelamatkan kami.”

“…”

Shin terdiam, wajahnya mulai agak pucat. Sukar mendeskripsikannya, sebab ekspresinya jarang-jarang berubah, namun Lena bisa merasakan perasaan gelisah dari balik wajah tanpa emosinya. Lena tidak tahu alasannya. Dari awal, pistol ini adalah pistol yang Shiden—kapten Kesatria Ratu—temukan di lautan bunga bakung lelabah merah setelah kehancuran Morpho dan pertemuan mereka dengan pasukan penyelamat Federasi.

Ketika mereka bertemu pertama kalinya setelah lama tidak bersua kemarin, Shiden menampakkan ekspresi anak kecil yang merencanakan lelucon kotor, jadi dia suruh Lena memberikan pistolnya ke kapten Divisi Penyerang (dengan kata lain, kepada Shin). Shiden bilang Shin menjatuhkannya, seraya tersenyum bak buaya kelaparan menghadap makanan lezat.

Pistol itu tampak belum lama dibuang, alhasil Lena asumsikan itu dimiliki Prosesor Reginleif yang dia duga adalah kapten Divisi Penyerang …. Namun tidak disangka Shin kebetulan berada di sana juga. Seharusnya tak mungkin. Bagaimanapun, hanya ada satu Reginleif di sana. Dia ingat itu dari perbincangan mereka.

Dia mengingat suara datar dan muda yang bicara padanya lewat transmisi yang berderak-derak suara bising. Dia tidak pernah memperkenalkan namanya, namun dia ingat Tanda Pribadi di lapis baja rusak …. Kerangka tanpa kepala memanggul sekop. Tersadar dia melihat Tanda Pribadi sama beberapa saat lalu, matanya beralih menuju Undertaker lagi.

Kerangka tanpa kepala sama memanggul sekop yang tak balas menatap, sebab kepalanya hilang, tetapi tandanya peprsis. Tanda Pribadi pencabut nyawa menguburkan orang mati. Pencabut nyawa …

… tak mungkin.

Memalingkan perhatian kembali ke Shin—ke Prosesor yang mengemudikan Reginleif tersebut—Lena menganga di depannya, membuat Shin mengalihkan pandangan. Shin tetap menolak menatap mata Lena.

Dan itu meyakinkan Lena.

“Itu kau …?!”

Mata Shin memandang sekeliling sepintas, laksana mencari jalan keluar … selanjutnya dia melemaskan bahu pasrah.

“… iya, itu aku.”

Berbanding terbalik dari sorot mata berbinar-binar Lena, Shin buang muka canggung.

“Maaf … waktu itu.”

“Hah?”

“Maksudku … aku tidak tahu kau siapa, tapi aku mengatakan hal kurang ajar kala itu …”

  “Um …”

Maaf …. Maaf? Pas itu aku bilang apa padanya, kalau dipikir-pikir?

Sebetulnya, aku … tidak ingat sama sekali …!

“T-tidak, aku putus asa saat itu … aku sebenarnya tak terlalu ingat apa yang terjadi, tapi apa aku pribadi menyampaikan hal tidak sopan? Aku, um, lumayan capek dan sedikit termangu kala itu, dan rasanya aku sudah menuturkan banyak hal tanpa pikir panjang …”

Permintaan maafnya terbata-bata. Memikirkannya kembali, berkata dia tidak ingat apa yang terjadi itu jauh lebih kurang ajar, namun baru menyadarinya ketika terlanjur dikatakan, Lena malah semakin bingung lagi.

Shin hanya nampak lega. “Tidak …. Kau sejatinya menyelamatkanku saat itu.”

Itu satu hal yang tak diingat Lena. Tatkala itu, Prosesor Federasi—Shin—bagai anak hilang dan tersesat tanpa tahu arah melangkah selanjutnya. Lena tidak tahu pertarungan apa yang Shin alami selama dua tahun sejak misi Pengintaian Khusus dan mencapai Federasi, tetapi Shin mendapati dirinya sedang menyerbu bunuh diri melalui wilayah Legion untuk melawan Morpho. Pertarungannya pasti terlampau buruk hingga Federasi memerintahkannya melakukan ini. Jadi sekiranya Lena bisa membantunya, bahkan sedikit saja …

“Alhamdulillah. Kalau begitu … aku lega.”

Sekali lagi Lena menyuguhkannya kotak senjata, dan kali ini, Shin terima.

Shn tidak bisa membawa pistol yang belum dia uji, lantas Shin kembali ke ruangannya untuk menaruh kotak senjata itu.

“—omong-omong, kok tahu pistolnya milikku? Apa seseorang memberikannya kepadamu?”

“Tepat sekali. Kemarin di markas besar terpadu, aku berpapasan dengan Cyclops—Kapten Iida. Di situlah aku mendapatkannya.”

“… Cyclops?”

“Kapten skuadron tempatku ditugaskan setelah Misi Pengintaian Khususmu.”

“…”

Pembicaraan itu sebentar memperburuk suasana hati Shin (yang mana, sekali lagi, cukup sulit mendapatinya disebabkan seberapa minimnya ekspresinya berubah).

Saat Shin melempar kotak senjata ke atas meja dengan sangat kasar, Lena mengintip ruangannya dari ambang pintu, ingin tahu tidak apakah melakukannya. Dibandingkan ruangan Lena—ruangan untuk pangkat perwira tinggi—milik Shin terlihat seperti ruangan seorang Prosesor biasa.

Dua tahun lalu, Lena berkesan Shin itu seorang kutu buku, lebih tepatnya, suka membaca tanpa memilah-milah, dan kelihatannya, Lena benar. Satu-satunya hal yang menghias ruangan dingin dan rapi ini adalah rak kecil berantakan penuh buku. Selagi Lena membaca teliti judul-judul buku di raknya, termasuk buku filosofi, teknis manual, novel bersampul tipis, dan entah kenapa buku bergambar, Lena bertanya, “… kenapa sampai sekarang tidak memberitahuku? Aku tahu militer Federasi punya klausul kerahasiaan6, tapi paling tidak kau dapat menghubungiku …”

Itu bisa dimengerti selama operasi eliminasi Morpho, karena mereka belum bertemu satu sama lain, namun Shin pastinya tahu Lena akan menjadi perwira komandan Dinvisi Penyerang. Shin menerima pertanyaannya dengan ekspresi sebal.

“Maaf. Selama operasi penyelamatan, kami selalu berada di lini depan, dan ketika Divisi Penyerangan didirikan, entah kenapa kerahasiaannya jadi lebih ketat. Kami tidak diperbolehkan menghubungi orang lain dari luar.”

“…”
         Lena sudah menanyai pasukan ekspedisi bantuan beberapa kali mengenai Prosesor kerangka tanpa kepala dan masih belum diberi jawaban, karena klausul kerahasiaan. Namun kini Lena mengingat sang komoandan, Richard, menahan tawa juga penasihatnya, kepala staf, Willem, tersenyum geli. Dia meminta berkas personel Prosesor yang biasanya tertera namanya, tapi anehnya, prosedurnya terus ditahan, dan dia belum melihatnya sampai sekarang. Lena berfirasat mereka semua terlibat di dalamnya dan bersekongkol agar keduanya tidak berhubungan …

“Dan lagi pula, tidak pernah sekali pun aku ragu kau akan mencapai kami, Kolonel.”

“Huh …?”

“Aku tidak pernah ragu kau akan mencapai tujuan akhir kami. Aku khawatir dengan menghubungimu atau menemuimu akan membuatnya seolah aku tidak percaya kau bisa melakukannya sendiri.”

“Kau ingat.”

“Tentu saja.”

Shin menyampaikannya dengan nada tenang normalnya, ibarat bukan apa-apa, namun tiada kata lain di dunia ini yang mampu membuat Lena lebih bahagia. Shin ingat—Shin percaya kepadanya dan suatu hari kelak akan mencapai mereka. Lena menggigit bibirnya. Misalkan datang waktu mengatakan apa yang harus dikatakan, maka sekaranglah waktunya, dan jika dia tidak memanfaatkan kesempatan itu lagi, dia sepertinya takkan pernah berani lagi.

Shin.”

Lena tegas memanggil namanya. Shin beralih menatapnya, menutup pintu di belakangnya. Lena batuk kering sebelum melanjutkan.

“Bisakah kita … memanggil nama satu sama lain? Di mata publik mesti menjaga penampilan, jadi itu tidak bisa diterima, tentu saja, tapi kapan pun kita tidak …”

Mayor.

86 memanggil Lena pangkatnya sebagai tanda ketidakterimaan. Mengartikan hubungan mereka sebagai penindas dan yang ditindas. Satunya babi putih duduk aman di belakang dinding dan satunya 86 terhormat yang bertarung di luar. Garis tak terlihat ditorehkan di antara mereka, menandai fakta mereka tidak cukup dekat untuk pura-pura berteman dengan memanggil nama satu sama lain.

Namun akhirnya dia berada di luar, biarpun Lena tidak berdiri di samping mereka pada medan perang.

“Selama dua tahun silam ini, aku bertarung dengan caraku sendiri, sekalipun tidak bisa dibandingkan dengnamu. Dan meskipun tak dapat mewujudkan mimpiku, sekurang-kurangnya, aku tidak pernah melarikan diri. Jadi bisakah kau memperlakukanku seperti memperlakukan yang lain …”

Seperti Raiden, Theo, Kurena, dan Anju. Sebagaimana rekan-rekan seperjuangannya …

“… dan memanggil namaku …? Bisa kau panggil aku Lena?”

Shin memandang kaget Lena, tampak terperanjat—ibaratnya Shin memanggil wanita itu namanya karena kebiasaan bukan karena itikad buruk—dan tiba-tiba tersenyum.

“Aku tak keberatan. Namun dengan satu syarat.”

“Ada syaratnya?”

“Iya.”

Ketika Lena menguatkan diri, Shin bilang:

“Tolong berhenti menampakkan wajah tragis itu.”

Perkataannya menusuk Lena bak pisau menembus jantung.

“… wajahku tidak tragis.”

Tidak tahu mengapa, suaranya canggung, ibarat hidungnya pengap …. Seolah dia hendak menangis.

“Iya, kau. Jujur … telah lama cukup menggangguku.”

Bahkan saat menyebut wajahnya mengganggu, suara dan tatapannya serba perhatian.

“Waktu aku bilang ingin kau mengingat kami, bukannya agar mengingat kematian kami. Aku tidak menyuruhmu hidup hanya agar demi menghabiskan seumur hidup untuk menebus dosa-dosanmu …. Aku tak meninggalkan kata-kata itu sebagai hukuman, sehingga ekspresimu tersiksa begitu …”

Seakan-akan menyatakan dia tidak mendakwa Lena atas hal apa pun …

“… jadi berhentilah mengenakan seragam mengerikan itu. Itu tak cocok padamu …. Dan rambut ini juga.”

Sesudah ragu sejenak, Shin dengan lembut meraih sehelai rambut panjang dan halus Lena. Helai tunggal itu diwarnai merah, berarti mewaikili 86.

“Kau tak usah melakukan ini lagi. Kau tidak punya dosa untuk ditebus. Tak ada yang mengutukmu, jadi tolong hentikanlah—berhenti mencoba menanggung beban yang tidak ada.”

Lena menggeleng pelan kepalanya.

Itu bukan beban … bukan penyesalan. Itu baju zirah. Seragamnya diwarnai hitam. Baju zirah yang kubutuhkan untuk melancarkan perlawanan sendirian di Republik, di mana semua orang lupa caranya bertarung.

“… tapi …”

Tutur yang diucapkan bibir merah mudanya tidak tahu mengujar apa.

“… tidak ada yang tersisa …. Kau dan yang lainnya, semua orang yang kukomandoi setelah kepergianmu, mereka pergi duluan dan meninggalkanku.”

Suara tenang di kepalanya memintanya berhenti, namun bisikan pahit sama-sama merayap keluar.

Pihakmulah yang mengusir mereka, pihak yang mengirim mereka ke kematian. Kau tak berhak mengatakan apa-apa, tidak berhak menangisi kesepianmu padanya.

“Tidak ada yang percaya padaku. Tak ada yang mau bertarung bersamaku …. Tidak ada yang berdiri di sampingku.”

Walaupun aku memohon kepada mereka …. Jangan tinggalkan aku …

“Kedua paman dan ibuku meninggal dunia, dan aku ditinggalkan sendiri …. Jadi jika aku tak pura-pura kuat, aku takkan bertahan. Seandainya tidak memanggil diriku Ratu Bersimbah Darah, seumpama aku tak percaya akan kebohongan bahwa aku Reina bedarah, maka aku akan …”

“… iya …”

… remuk dan hancur dari dulu sekali.

Shin memastikan kerentanan Lena dalam diamnya. Barangkali dia telah mengidentifikasikannya dari beberapa perkataan Lena. Mungkin pemuda ini, yang seusianya, memikul nama Pencabut Nyawa agar dia dapat selamat dari medan perang dengan kematian pasti …

“Tapi kau tidak membutuhkannya lagi. Kau tidak lagi sendiri …. Kau punya aku, Raiden, dan yang lain di sisimu.”

Kehangatan tubuh Shin, sedikit lebih hangat dari tubuhnya sendiri, sebelumnya membuatnya risau, namun kini serasa nyaman. Memberikan bobot pada kata-katanya dan mengisinya harapan.

“Bukannya kau ingin bertarung bersama—kami?”

Dan di situlah batasnya. Lena menempel kepada orang yang berdiri di sisinya—akhirnya—lalu menangis bak anak kecil.

“… pasangan itu, bagaimana bilangnya ya …? Pasangan merepotkan?” kata Theo, satu tangan menutup mulut Frederica sedangkan tangan satunya menyeret gadis meronta-ronta itu.

“Tak kukira harus membantu mereka agar tidak dikuntit dua orang ini seharian,” jawab Raiden, membawa orang yang sama-sama ditutup mulutnya sekaligus sama menyebalkannya.

Mereka berada di tikungan koridor tempat Lena sekarang ini sedang menempel pada Shin, menangis keras. Raiden dan Theo menyelip di bayang-bayang balik dinding, tersembunyi dari pandangan, berbisik selirih mungkin biar telinga dan indra tajam Shin tak menangkap kehadiran mereka.

Anju yang duduk di seberang koridor dan sukses mencuri dengar Shin beserta Lena menggunakan cermin tangan, tersenyum puas.

“Kalau bisa, Kurena dan Frederica perlu belajar menahan diri sedikit. Aku tahu tidak pengen melihat kakakmu direbut gadis lain, tapi setidaknya biarkan saja untuk hari ini.”

Kurena dan Frederica sama-sama meresponnya dengan erangan kesal sambil didekap—sedikit seruan protes dan keberatan yang kemungkinan besar berarti, Dia bukan kakakku!—yang semua orang diam-diam abaikan.

Rekaman percakapan Shin dan Lena usai kehancuran Morpho adalah yang tidak ingin Shin dengar apa pun yang terjadi, tapi Theo senang mereka mendengarnya. Dialah Pencabut Nyawa yang bertarung di sisi mereka dan membawa rekan-rekan mati mereka ke tujuan akhir.

Namun Handler cengeng itu memberitahunya kalimat yang selalu ingin dikatakan mereka tetapi tidak bisa, karena dialah yang membuat Shin mengangkat bebannya.

“… aku senang kolonel tidak mati.”

“Setuju.”

Anju menutup cermin tangannya.

“Dia bisa menyadari kita kapan saja sekarang. Ayo pergi dari sini.”

“Okeeee.” “Diteriiiima.”

Lena sudah susah payah merias kembali wajahnya, dan kini luntur lagi. Lena bicara, masih dengan sedikit isak tangis dalam suaranya.

“… kalau begitu aku akan mengubah rambutku ke gaya sebelumnya.”

“Kurasa paling bagusnya begitu.”

“Seragamku juga.”

“Ya.”

“… tapi sampai seragam cadangan tiba, aku akan terus mengenakan yang hitam …”

“Apa tidak bisa memakai seragam Federasi saja sampai yang cadangan tiba?”

Tidak, itu berlebihan, atau demikianlah yang akan Lena katakan sebelum berubah pikiran. Ya, dia cukup lama jadi yang digoda, jadi jawaban berikutnya adalah sedikit balas dendam kecil-kecilan.

“Apa kau … suka itu?”

“Huh …?”

Shin menatap Lena, terkejut. Tidak yakin bagaimana menjawabnya, dia membeku di tempat dengan mulut melongo. Melihat anak muda tidak acuh ini teramat bingung tidak sesuai karakternya, Lena tertawa terbahak-bahak.

 

Catatan Kaki:

  1. Hadeeeh Lena jelek bat dah soal namain makhluk. Pertempuran Thermopylae (/θərˈmɒp / thər-mop-i-lee; bahasa Yunani: μάχη τῶν Θερμοπυλῶν, machē tōn Thermopylōn) adalah pertempuran antara persekutuan negara kota Yunani, dipimpin oleh Raja Leonidas dari Sparta, melawan Kekaisaran Persia pimpinan Xerxes I selama tiga hari, pada invasi kedua Persia ke Yunani. Pertempuran ini terjadi berbarengan dengan pertempuran laut di Artemision, pada Agustus atau September 480 SM, di celah pesisir sempit Thermopylae (‘Gerbang Panas’). Invasi Persia ini adalah tanggapan yang tertunda atas kekalahan pada invasi pertama Persia ke Yunani, yang berujung pada kemenangan Athena dalam Pertempuran Marathon pada 490 SM. Xerxes mengumpulkan pasukan darat dan angkatan laut yang besar untuk menaklukan seluruh Yunani. Jenderal Athena, Themistokles mengusulkan agar pasukan Yunani menghalangi gerak maju pasukan Persia di celah Thermopylae, dan pada saat yang sama menghalangi armada persia di Selat Artemision.
  2. Mori Ōgai (森 鷗外 atau 森 鴎外) (lahir 17 Februari 1862 – meninggal 9 Juli 1922 pada umur 60 tahun) adalah novelis Jepang, penerjemah, kritikus, sekaligus dokter militer, peneliti kedokteran, dan seorang birokrat.
  3. Takasebune (Perahu Takase) merupakan fiksi sejarah karya Ogai Mori, seorang tokoh berpengaruh dalam dunia sastra Jepang sekitar 100 tahun lalu. Di bagian pertama seri ini kami hadirkan kisah dengan latar belakang akhir abad ke-18 pada zaman Edo, ketika sistem strata sosial berlaku di Jepang. Pada satu hari, seorang pria pelaku kriminal yang akan diasingkan ke sebuah pulau terpencil melangkah masuk ke dalam perahu Takase yang kecil. Perahu ini dirancang untuk membawa para pelaku kriminal ke pelabuhan di dekat pulau. Pria pucat dan kurus itu terlihat tenang menjalani nasibnya. Petugas penjaga menanyakannya sesuatu dan mendapatkan jawaban yang mengejutkan.
  4. Bahasa inggrisnya: PX (Post Exchange), adalah toko retail, kalau di indo emang biasa ada di komplek TNI, namanya indomar*t, tapi diganti namanya. Namun toko retail begini adanya jauh dari garis depan medan perang, karena kalau dah di garis depan langsung dikasih perbekalan, bukan disediakan toko retail.
  5. Malaka atau melaka adalah nama sejenis pohon yang berbuah. Dalam bahasa Jawa disebut mlåkå atau kemlåkå. Kemungkinan nama ini berasal dari bahasa Sanskerta amalaka, yang kemudian diadopsi oleh berbagai bahasa lain, proto-bahasa bahasa Melayu yang kemudiaan bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia.
  6. Untuk menjaga rahasia dagang atau biasa disebut sebagai rahasia perusahaan, pada praktiknya para pengusaha mengatur hal-hal yang menjadi rahasia perusahaan dan mencantumkan klausul kerahasiaan (confidentiality) ini dalam kontrak/perjanjian kerja pekerjanya agar tidak bocor sehingga dapat mengakibatkan kerugian. Ga beda jauh kok ama militer.