86 JILID 3 BAB 9

Posted on

O Datanglah Imanuel

 

Penerjemah: YoRHa Bunker

Pemandangan biru di hadapannya adala hasil kupu-kupu biru tak terhitung jumlahnya, mereka membentangkan sayap metaliknya selagi menyelimuti medan perang sejauh mata memandang. Mereka mirip Eintagsfliege, sebagaimana Admiral yang mereka layani, sayap-sayap unit Legion ini berfungsi sebagia panel surya.

Tipe Ekstensi Pembangkit Listrik: Edelfalter.

Kaleidoskop kupu-kupu mekanis terlihat bak pecahan langit telah membeku dan menyerpih. Mereka tetap menyembunyikan sosok mereka dalam kegelapan subuh hari namun seketika melebarkan sayap bersama-sama lalu terbang jauh seakan-akan melarikan diri dari laba-laba metalik putih yang merayap di wilayah mereka. Laras senjata tak terhitung jumlahnya dipasang ke tanah bagaikan batu nisan, barangkali sisa-sisa pertempuran masa lalu. Pecahan lapislazuli beterbangan di udara layaknya kelopak bunga.

Di sisi lain medan perang, di atas rel kereta delapan jalur, satu unit Legion berdiri bagaikan naga jahat dalam legenda-legenda, membusungkan tubuh terlampau panjang nan berbahayanya sekaligus membawa laras senapan melebihi tiga puluh meter di punggung. Menjadi senjata terhebat yang digunakan dalam perang terakhir melawan umat manusia, artileri rel ini hanya bisa dideskripsikan kata agung.

Modul lapis baja hitamnya menyerupai sisik naga, dan rel yang terdiri dari laras-laras tampak bagaikan dua tombak, membelakangi langit. Ada sensor optik biru yang akan orang-orang duga sebagai bentuk kepalanya, bersinar mengerikan mirip lelatu. Enam persenjataan jarak dekatnya—meriam otomatis putar enam laras 400 mm—gemetar mengeluarkan kabut panas akibat tembakan sebelumnya.

Bahkan membuat Dinosauria kelihatan kecil, Legion produksi massal yang paling besar, keseluruhan tingginya 110 meter dan panjang total sekitar 40 meter, kupu-kupu besar menjulang tinggi sampai langit subuh. Sayapnya yang nampak ditenun dari benang perak—barangkali komponen yang bertugas mendinginkannya—menaburkan sesuatu yang terlihat semacam debu bintang ke langit.

Dialah Morpho.

Begitu Undertaker melompati bukit, sensor optik dan meriam Vulcan Morpho segera membidik Undertaker. Dia barangkali berdiam diri menunggu meskipun kehilangan sinyal Undertaker, dan gerakan Shin efisien juga cepat.

Tapi belum cukup.

Undertaker melompat lagi dan berhenti sewaktu mendarat. Akuatornya yang dirancang kuat mengantisipasi pertempuran manuver tinggi, berderit ketika berfungsi. Meriam Vulcan yang dikerahkan ke arah semestinya agar bisa mengunci musuh, tidak bisa menanggapi gerakan tersebut tepat waktu.

Kala itu rasanya tatapan mereka saling bersilangan, Shin sudah mengunci teleskop Undertaker kemudian menarik pelatuk meriam 88 mm-nya.

 

 

Gerakan itu …!

Dari sisi lain cahaya biru yang dipancarkan Edelfalter, Kiriya dihadapkan pemandangan unit musuh baru yang tengah bermanuver setangkap predator berburu. Dia tercengang. Musuhnya melompat mundur diagonal rendah, jungkir balik di tengah udara dan mendarat dengan posisi berubah, kemudian mengeksekusi rem mendadak begitu sampai di bawah.

Bahkan Kiriya yang mempilot Feldreß eksklusif keluarganya sebagai keturunan para petarung semasa hidup, sulit percaya ada pilot manusia di balik manuver menantang maut itu. Dan terlepas dari semuanya, pemandangan meriam 88 mm tetap terpaku padanya sepanjang waktu.

Feldreß cacat tersebut bergerak secepat kilat, bagaikan mimpi buruk putih, selayaknya mayat berkeliaran mencari kepala hilangnya. Di bawah kanopi tersebut ada tanda pribadi kerangka tanpa kepala membawa sekop.

Ah.

Ekstasi gila bercampur pikiran sedingin esnya disertai sedikit perasaan lega.

Kau berhasil. Kau benar-benar layak muncul di hadapanku. Aku tidak mengharapkan lebih lagi.

Kiriya bisa merasa Shin menarik pelatuknya. Mereka dipisahkan dua lapisan lapis baja dan jarak relatif tiga ribu meter, namun Kiriya dapat jelas merasakannya.

Kurang dari ini akan tidak menarik.

 

 

“… masih sangat-sangat kurang dalam,” gumam Shin, menatap asap hitam yang keluar dari salah satu modul lapis baja Morpho. Tembakannya tidak menembus sepenuhnya. Terlalu pekat asap hitam yang dihasilkan dari dampaknya.

Lapis baja reaktif eksplosif. Jenis lapis baja unit yang bereaksi kepada ledakan hulu ledak antitank dengan meledakkan bahan peledak di permukaan lapis baja. Menggunakan ledakan tuk memencar sebaran logam yang dihasilkan dari hulu ledak dan dengan demikian mencegah penetrasi.

Legion menghargai Morpo. Mereka mengabaikan teori ortodoks yang menyatakan bahwasanya artileri berat normalnya cuma punya lapis baja yang tebalnya hanya cukup untuk menahan pecahan selongsong, malah memberikannya lapis baja berat kalau-kalau terkena serangan melumpuhkan.

Hulu ledak antitank tidak beguna. Artinya selongsong tembus lapis baja kecepatan tinggi juga biasanya takkan efektif dijarak sejauh itu.

Namun … ini tidak ada bedanya dari saat mesti berhadapan melawan Löwe atau Dinosauria dalam peti mati alumunium tersebut.

Tatapan dan kedengkian musuh menusuknya. Dia mengalihkan tubuh besarnya—yang keberatan untuk digerakkan di luar rel—ke arahnya selagi ke enam meriam otomatis berputar membidiknya seakan-akan punya kehendak sendiri.

Morpho mau menembak. Shin mengarahkan unit sebelah kirinya dengan gerakan terlampau refleksif sampai-sampai tak melintas sebagai pikiran di benaknya. Segera setelahnya diikuti percik-percik api di moncong, kemudian peluru senapan mesin melesat di permukaan menuju sisi kanan Undertaker. Melihat sekilas lalu mengulang aksi penghindarannya, Shin menghindari berondong kedua lalu melompat menjauh ketika di tengah-tengah berondong ketiga memanaskan senapan mesin Morpho.

Meriam enam laras Vulcan berputar-putar tatkala ditembakkan. Kendati mampu melancarkan rentetan serangan berat, rentetannya cepat menghabisi pelurunya dan mudah memanas. Dengan kata lain, tidak bisa lama mempertahankan kecepatan tembakannya. Undertaker maju memanfaatkan jeda sejenak rentetan tembakannya dengan melompat pendek berselang-selang serta rem darurat yang luar biasa untuk dilihat.

Mata merah tenang Shin tidak pernah goyah bahkan kala raungan berat meriam bergema hingga bagian terdalam dirinya serta desing selongsong menembus angin merobek gendang telinganya. Cahaya buatan stabil tersebut semata-mata memantulkan cahaya samar layar hologramnya

Republik membuang 86 ke medan perang, dan pengalaman yang mereka peroleh di sana membentuk tubuh mereka mudah beradaptasi, petarung pengalaman kelewat efisien—meskipun sesekali bertingkah aneh. Jadi di tengah-tengah pertempuran, pemikiran kemanusiaan apa pun dalam anak-anak ini telah dikurangi. Ironisnya, menjadikan setiap bagian diri mereka sebagaimana mesin tempur tanpa emosi Legion.

Takut pada musuh bukan pilihan. Dan hal ini terbukti benar terutama bagi Shin yang piawai bertarung dari jarak dekat sebagai garda depan.

Supaya bisa menyelinap melewati bilah musuhnya sekaligus menghindari deretan peluru mereka, Shin butuh konsentrasi tingkat ekstrim yang menghilangkan seluruh cengkeramannya akan kemanusiaan. Dia menekan seluruh perdebatan emosi, kesedihan, rasa sakit, dan penyesalan, juga pikiran-pikiran tidak penting lainnya, dan dia kubur dalam-dalam di benaknya, membiarkannya mudar terlupakan. Lebih gampang demikian, lantas datanglah bisikan suara dari suatu sudut hati mengerasnya. Dengan begitu, dia tidak usah memikirkan hal-hal sia-sia di tengah pertempuran.

Dia bisa melupakan semuanya dan segalanya.

Sangatlah … mudah.

Sebagian dirinya menyadari alasan di balik kegilaan kesatria yang berdiri di hadapannya, yang wajahnya tidak pernah dia ketahui—hantu ini, menggila karena perang dan pembantaian.

Betapa mudahnya … menjadi seperti itu?

Jeda rentetan tembakan lain, dan Shin mengubah arah tembakannya. Morpho tersebut sesaat menghentikan tembakannya untuk mendinginkan senapan mesin miliknya, dan Shin memindahkan pandangan ke meriam otomatis di belakang sebelah kiri musuhnya. Sistem Juggernaut secara otomatis melacak gerakan tatapannya dan mengunci target, lalu dia tekan pelatuknya begitu palang teleskopnya memerah. Tidak peduli sekuat apa pun lapis baja Morpho, meriam otomatisnya takkan mungkin diperkuat.

Ditembak hulu ledak antitank ke bagian mekanisnya, meriam Vulcan berhamburan. Sementara api hitam mengepul, kilat melesat menembus langit muda. Kawanan Edelfalter menjauh, seakan-akan dikejutkan, sedangkan Undertaker cepat-cepat melewati kawanan kupu-kupu biru dan api yang diciptakan tembakannya.

  Jarak tersisa: dua ribu meter. Musuh berada dalam jangkauan persenjataan utamanya, meriam 88 mm. Di jarak ini, pertempurannya tidak berbeda dari melawan Löwe atau Dinosauria.

Fakta tidak bisa kabur begitu sudah dikunci itu berlaku bagi meriam 1.600 meter per detik Undertaker juga railgun 8.000 meter per detik Morpho.

Dan kala Shin sudah sedekat ini, tembakan Vulcan tidak dapat menyebar. Morpho kurang mobilitas destruktif yang dimiliki Löwe dan ukuran turet absurdnya yang dibanggakan membuatnya lebih mudah dijadikan target.

Mengelak rentetan tembakan sapuan samping terus-menerus, Shin mendekat dari kiri. Morpho punya tiga meriam di masing-masing bagiannya, namun seandainya didatangi dari satu sisi samping, rangka masifnya saja menghalanginya menembak dari sisi berlawanan. Separuh meriam otomatisnya disegel, Morpho mesti meningkatkan siklus rotasi untuk mempertahankan kecepatan tembakan sama.

Yang satu sudah sampai batas, rupanya kehabisan peluru dan satunya kepanasan, tidak sempat didinginkan dan mengepul asap hitam.

Jarak relatif: seribu meter.

 

 

Sekalipun darah penyihir mengalir di nadinya, dia memang layak dipanggil pewaris nama Nouzen—keturunan terakhir mereka. Menyaksikan Feldreß putih memanfaatkan jeda sepintas yang nyaris tak dapat disebut jeda untuk menyelinap melewati rentetan tembakan tanpa henti yang harfiahnya ratusan tembakan per detik, Kiriya tidak bisa menahan kagumnya.

Kepala dingin beraksi di jurang pemisah hidup-mati. Serta sifat licik tuk melumpuhkan dan mengikis senjata Kiriya. Juga tidak adanya tanda sedikit pun ketakutan yang memengaruhi aksi-aksi tersebut. Misalkan dia berada di Kekaisaran—bersamanya di sisi majikannya—tanah airnya mungkin tetap segemilang zaman nenek moyang mereka.

Keputusan strategis untuk menangkap dan memanfaatkan kinerja ini dengan menaruhnya di unit komandan merayap ke pikirannya, tetapi Kiriya mencibir ide itu. Menangkap hidup-hidup target jauh lebih sulit ketimbang menguburnya dan sesulit itu saat lawannya semengancam ini.

Jarak relatif antara mereka adalah 1.012 meter. Dia bergerak semakin dekat. Penilaiannya benar; meriam 88 mm-nya, lebih kecil daripada kaliber 120 mm, tak sanggup menembus lapis bajanya bahkan dalam jarak ini. Namun, cara nekatnya mendekat …. Hampir seolah-olah dia menyerbu kematiannya. Bukan berani; tetapi bodoh.

 

 

Duduk di dalam kontainer Fido, tersembunyi di balik sebuah bukit besar, Frederica mengawasi pertempuran dengan kemampuan spesialnya. Saat dia berada di benteng Kekaisaran, dia sering melihat pertempuran Pengawal Kekaisaran, dan selain Kiriya, ada beberapa pengawal lain dari klan Nouzen. Namun bahkan dibanding mereka semua, Shin itu luar biasa.

Kecakapan latennya diwariskan lewat garis keturunan dan bakat dari lahirnya. Lima tahun berjuang melawan kematian memoles keterampilan-keterampilan tersebut membuatnya menjadi salah satu petarung paling mahir dalam sejarah klannya, mungkin paling kuat dari mereka semua. Bila Kiriya masih hidup, meski ada jarak empat tahun di antara mereka, Shin mungkin saja masih lebih jago.

Tapi Kiriya bukan manusia lagi. Dia adalah senjata, dilengkapi laras 4.000 mm kuat, lapis baja jauh lebih tebal dari Juggernaut dan meriam Vulcan. Dan bagi Undertaker yang ahli dalam pertempuran jarak dekat, Kiriya adalah musuh terburuknya.

Undertaker menutup jarak mereka, harfiahnya hampir menyelinap melewati tabir peluru tiada ujung. Satu langkah salah, bahkan satu manuver dieksekusi dengan keliru, ‘kan menentukan hasil duel ini.

Melihatnya saja membuat hatinya sakit karena cemas.

“… Pi.”

Kontainernya bergetar selagi Fido bergoyang gugup. Barangkali Scavenger setia ini ingin keluar langsung dan membantu pertarungan tuannya melawan naga metalik raksasa. Mungkin mengekspos dirinya ke tembakan musuh menggantikannya atau menjadi pengalih perhatian tuk menciptakan celah menyerang. Satu-satunya hal yang menghentikan Fido melakukannya adalah karena harus menjaga Frederica. Sebab satu-satunya perintah tuannya adalah mengembalikannya ke Federasi apa pun yang terjadi.

“… maafkan aku.”

Pi.”

Dia hanya tersenyum melihat bagaimana reaksinya yang mirip anjing patuh, setelah itu Frederica memfokuskan matanya. Satu hal yang pasti, dia harus melihatnya sampai akhir.

Kemudian dia sadar.

Kesatria klan Nouzen mempilot Feldreß spesial, berbeda dari Vánagandrs, dan bahkan menyetelnya agar sesuai spesifikasi per orangan. Di sisi lain, Reginleif lapis baja ringan kecepatan tinggi adalah Feldreß luar Kekaisaran dan sejarah pengembangan Federasi, yang fokus pada unit lapis baja berat—daya tembak tinggi.

Hal itu pun berlaku untuk model unik yang dipilot Kiriya. Lapis bajanya komposit tebal, sebuah turet tank 120 mm dan rangka masif juga sistem tenaga penggerak untuk mendukungnya. Gaya bertarung Kiriya didasari penggunaan rangka beratnya dengan paket daya besar untuk menginjak-injak lawannya.

Dan dia mengingat seorang pemuda yang mati di hari dia bertemu dengannya.

Rekan Shin, memberitahunya.

Kau tahu kegagalan total legendaris Shin?

Dia coba-coba membuat Vánagandr melompat di latih tanding selama latihan manuver tempur. Dia langsung didiskualifikasi karena cara mempilotnya berisiko.

Meski begitu, itu prestasi hebat dalam kemampuan mempilot, Frederica tidak kaget mendengarnya. Karena dia sudah tahu seseorang yang mampu melakukannya …

Tubuhnnya condong maju, mencoba fokus pada sosok Kiriya yang terpantul di benaknya. Lapis baja tebal, dapat memblok peluru tembus lapis baja 88 mm. Meriam kaliber 800 mm besar. Rangka memanjang yang kuat mendukungnya, mengingatkan Kiriya akan bentuk naga. Bentuk besar yang membutuhkan delapak trek rel—empat kali lipat jumlah rel yang dibutuhkan kereta normal untuk bergerak—tuk menahan beratnya.

Tapi.

Kiriya ini bisa melakukan hal sama …!

“—Shinei, jangan …!”

Laras panjang memang tidak diuntungkan jika musuhnya bergerak ke samping. Bicara mudah ketimbang berbuat, tentu saja …. Tapi sebagian besar kasus, senjata harus mengurangi jarak jauhnya ketika berusaha untuk berotasi ke jarak dekat. Ironisnya, tipe Artileri Jarak Jauh ini diserahkan ke sistem senjata yang atributnya berlawanan. Walaupun tidak demikian, Kiriya takkan pernah membiarkan musuhnya memanfaatkan kelemahannya …

“Kau tidak boleh sembarangan mendekatinya! … Kiri, awalnya, seorang operator yang fokus pada pertarungan jarak dekat, sama sepertimu!”

Sang naga raksasa menggeliat. Kaki tombak tidak terhitung jumlahnya menghentak rel, meluncurkan separuh wujud besarnya tinggi-tinggi ke udara selayaknya ular mengangkat kepala. Saat sampai puncak, dia memutar tubuhnya dan berbalik, turun ke jalan setapak di sisi berlawanan seperti gelombang logam.

Disentak cakar tajam dan dihancurkan beban kelewat besar, kerangka rel—yang beratnya sendiri beberapa ton—remuk, hancur, dan dinaikkan ke langit. Dia menghancurkan sarana trasportasinya sendiri. Beberapa layar modul eksplosif jatuh dari lapis bajanya sendiri. Meriam artileri beratnya—tidak pernah dimaksudkan bergerak secepat itu—kemungkinan besar mekanisme dalamnya rusak oleh gerakan cepat ini.

Namun sebagai gantinya …

… tiga dari senjata anti udara tak tersentuhnya kini dialihkan ke arah Undertaker.

“Ap—?”

Waktu hampir berhenti seketika Shin merasakan garis tembakan ketiga senjatanya tertuju pas pada Undertaker. Dia berada di tengah baku tembak. Ke arah manapun dia coba bergerak, tiada jalan keluar.

Ibarat untuk memastikannya dua kali lipat, turet 800 mm yang sampai sekarang diam, membelok ke arahnya. Listrik di dasar pusat turetnya bergemericik, laksana menunjukkan pengisian dayanya telah selesai.

Dari kegelapan pekat di sisi lain ujung bak pedang meriamnya, Shin bisa mendengarkan suara penderitaan mendalam dan kebencian …

“Shin! Mundur!”

Dan saat berikutnya, sesuatu berdampak di permukaan turet Morpho. Sumbunya mati dan meledak. Kaget, turet monster besar tersebut goyah sewaktu tembakan meriam otomatis menyerangnya.

Menggunakan sisa kakinya dan jangkar kawat untuk mendaki bukit, Wehrwolf menembak otomatis kekuatan penuh. Perhatian Morpho berpaling kepadanya.

Minggir, pengganggu.

Kekesalannya terdengar jelas. Peluru memantul dari tubuhnya, persenjataan utama Morpho membelok ke arah Wehrwolf dengan guncangan berbahaya, suara geraman keluar dari dalam mekanismenya. Sesudah selesai berputar, turet menyemburkan tembakan yang kedengarannya kurang mirip auman melainkan gelombang kejut semata. Terkena serangan langsung, Wehrwolf terhempas jauh dari puncak bukit. Shin tidak tahu Raiden lolos tepat waktu atau tidak.

 Pada saat singkat ketika perhatian meriam menjauh darinya, Undertaker menghindari lintasan tembakan meriam Vulcan, tetapi ketiga senapan mesinnya sekali lagi dikerahkan, membidik pergerakannya. Dengan delapan belas laras senjata dan tembakan setengah lingkaran di ekornya, Shin wajib mundur untuk menghindari lintasan tembakan yang menyapunya dari samping. Bidikan sistem kendali senjata Morpho. Kala mengunci sasaran, senapan mesin anti udaranya akan melacak dan membidiknya otomatis selama dalam jangkauan efektif.

Jarak relatif mereka sekali lagi melebar menjadi seribu meter. Ketiga senapan mesin yang seharusnya Shin taklukkan juga persenjataan utama Morpho tetap utuh.

Ini …

Senyum sedingin es tidak sengaja nampak di bibir Shin.

Ini … boleh jadi skakmat.

Namun bertentangan dengan pikiran merembet ini, mata beku Shin menjelajahi situasi, sibuk mencari-cari cara selagi insting tempurnya terbangun sepenuhnya. Meriam Vulcan mulai berputar lagi sesudah berhenti sekilas untuk mendinginkan mesinnya.

Selagi dia bertarung laksana berada di situasi bahaya, dalam rentang waktu sepintas itu yang rasanya seakan kekal …. Begitu dia dalam posisi menembak, untuk menerobos maju menuju musuh, pada momen-momen sama itu …

Tiba-tiba.

Target Resonansi baru terhubung ke Para-RAID-nya.

 

 

Perangkat RAID Federasi dikembangkan berdasarkan data perangkat saraf kuasi yang diambil dari tanda data model manset telinga yang ditanamkan ke tubuh Shin juga teman-temannya. Pengaturan target koneksinya disapu bersih ketika catatan militer Republik mereka dihapus, tapi jika semata-mata dihapus, memulihkan data hilang tak terlalu sulit.

Pengaturan pemulihan itu diam-diam dipasang ulang ke Perangkat RAID 86 iseng-iseng oleh para peneliti. Lagi pula tidak seorang pun dari Republik pernah berpikir untuk Beresonansi dengan mereka, dan tidak ada yang tahu pengaturannya ada. Cuma candaan, dipasang kembali untuk menghormati para pengembang orisinil perangkat.

Tapi pengaturan tetap saja pengaturan. Dan bila mana kondisinya sesuai, masih tetap berfungsi sebagaimana seharusnya.

Contoh, misalkan seseorang hendak menetapkan target Resonansinya ke semua penerima dalam jangkauan selain diri mereka sendiri, Resonansi Sensorik akan aktif …

 

 

“Kepada seluruh Juggernaut di sepanjang dinding benteng!”

Shin kala itu tak mengenal suaranya. Tatkala Perangkat RAID dikembangkan secara berbeda, suaranya yang sepatutnya terdengar jelas di bawah kondisi normal tersebut, berderak-derak statis dan bising.

“Arah 120, jarak 8.000, memuat peluru tembus lapis baja—Tembak!”

Saat berikutnya, seluruh tubuh Morpho terkena dampak ledakan. Bukan ledakan destruktif tembakan artileri 155 mm dan 203 mm, yang akan mengelupakn lapis baja ringan dan sekadar gelombang kejutnya akan menghancurkannya. Serangan ini datangnya dari peluru kaliber lebih lemah dan kecil. Tetapi jumlah tembakannya mencengangkan. Berapa banyak meriam dari siapa pun yang memerintahkan rentetan tembakan terkonsentrasi sebanyak ini? Hulu ledak melesat rendah nan cepat yang bergerak hampir sejajar tanah dengan kecepatan melebihi persepsi penglihatan kinetik manusia yang mungkin ditembakkan simultan dari turet tank tak terhitung jumlahnya.

Setelah menghancurkan relnya—satu-satunya cara bergerak—makhluk lamban itu hanya bisa duduk manis selagi dihujani tembakan meriam. Peluru anti lapis baja yang menusuk Morpho tidak bisa menembus lapis baja beratnya, tetapi membuat Kiriya menegang seakan-akan bangun dari tidurnya kala tembakan konsekutif dan pecahan-pecahannya meledak di lapis baja reaktifnya.

“Lanjutkan tembakan dan jikalau ada serangan balik, hindari serangan sebebas gerakanmu sendiri! Unit tak dikenal!”

Itu pertanyaan sepihak terlampau tidak jelas, tetapi Shin entah bagaimana tahu suaranya dimaksudkan ke Undertaker.

 “Kau mencoba menghampirinya, kan? Akan kami tahan, jadi ambil kesempatan itu untuk menyerang!”

Tembakan bombardir. Gelombang kejut dan nyala apinya. Lapis baja reaktifnya meledak. Kilat menyilaukan dan dampak bertubi-tubinya tidak berhenti. Kesemuanya membuat prosesor sentral Morpho yang terbuar dari mesin mikro cair tertegun, mematikan seluruh radar anti udaranya sebentar. Seakan-akan mengincar celah tersebut, rudal jarak pendek terbang ke langit di atas Morpho. Sulut selongsongnya terpicu dan meledak. Proyektil swagerak menghujam Morpho layaknya hujan tombak, menembus lapis bajanya, sisa-sisa meriam Vulcan, dan kaki tersegmentasi tidak terhitung banyaknya.

Pertama kali, binatang besar itu kehilangan keseimbangan. Tubuh baja besarnya membungkuk ke belakang nampak menderita dan jatuh.

Tanpa sistem penyangga kaki-kakinya yang melunakkan dampak, tanahnya berguncang dengan bunyi keras.

“Semua unit, tahan tembakan! Sekarang kesempatanmu!”

Shin tidak perlu diberi tahu. Begitu rudalnya meledak, dia pacu Undertaker dengan kecepatan penuh. Menutup jarak terpendek di antara mereka dalam waktu sedikitnya kurang dari sepuluh detik, Shin bersalto ketika Morpho mengarahkan railgun-nya ke arah Shin sebagai upaya terakhir, akhirnya sampai jangkauan pertempuran jarak dekat, bidang keahliannya.

Tiba-tiba, badannya merinding bagai sengatan listrik.

Refleks menarik mundur tuas kendalinya, unitnya mendadak mengerem. Bukan terawang atau prediksi, semata-mata gerakan didasari perasaan musuhnya masih menyimpan kartu as. Shin tak sempat bergerak lebih lanjut dari itu.

Seketika garis pandangnya naik begitu saja, rekaman di layar utamanya berubah, terisi warna perak.

 

 

Jangan remehkan aku …!

Kendatipun seluruh tubuhnya mendidih, dikoyak-koyak hujan kobaran api mendadak, Kiriya takkan berhenti bertarung. Lapis baja melingkupi tubuhnya berguncang saat memaksakan perintah tuk melepaskan pecahan selongsong eksplosif dan pecahan pengikis yang mengigit lapis bajanya,

Aku masih bisa bertarung. Biarpun aku harus merenggut mereka semua bersamku, aku masih—masih membunuh mereka semua!

Kenapa?

Suara yang anehnya tenang melintas dalam kesadarannya. Suara Kiriya sendiri dari empat tahun lalu, di saat dia masih punya tubuh yang dapat dewasa. Dari suatu waktu, sekalipun suaranya sudah berat dari dulu-dulu, suara itu masih lebih berat dari suara orang dewasa. Suaranya dari empat tahun lalu, sama sekali tak berubah.

Kenapa kau sampai segigih ini? Kenapa kau sering bertarung? Kenapa kau … mencoba membantai semua orang seperti itu? Bahkan saudara terakhirmu yang masih tersisa yang belum pernah kau temui?

Kiriya tertawa, bahkan tanpa bibirnya yang dikerutkan ke atas atau tenggorokan membuat suara.

Bukannya sudah jelas? Karena aku cuma bisa bertarung. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah melempar diriku lebih dulu ke medan perang membara ini. Tidak tersisa apa-apa lagi untuk mengisi kekosongan dalam intiku, yang bisa juga disebut jiwaku, hanya api perang dan konflik tak berujung yang bisa mengisinya.

Melihat musuh yang terefleksi di sensor optiknya, Kiriya berputar menghadap kokpit itu. Ketika pukulan samping bertubi-tubi (tidak salah lagi akan membuat orang lebih waras tersentak) menyerang sisi tubuhnya, Kiriya menyerang kerabatnya serampangan, ibaratnya bilang tidak ada lagi yang berarti. Bahkan nyawanya pun tidak.

Jika itu akan membuatmu …

Kata-kata tak sadar itu tiba-tiba terucap dari luar pikiran mendidihnya.

Kau, yang tidak punya apa-apa, sama sepertiku ….

Jika itu menjadikanmu sepertiku, aku akan melakukan apa pun

 

 

Asal banjir perak itu adalah kabel tak terhitung jumlahnya yang terputus.

Empat sayap Morpho terbuka lebar, kabelnya menjulur bagaikan semburan perak yang melesat maju secepat kilat. Dari perspektif sang naga raksasa, kabel-kabel itu adalah helai rambut, tetapi masing-masing kabelnya setebal lengan anak-anak.

Menyusur ke bawah, kabelnya menembus masuk ke tanah, mungkin mengebor ke dalam dengan ujung runcingnya. Tanah beterbangan ke udara, beterbangan ke area di depan Undertaker yang seketika mengerem tatkala seluruh kejadiannya dimulai. Lumpur di tanah menciprat-ciprat, menempel di pemancang kanannya.

Kemudian—

“…!”

Setelah cahaya ungu melintas di depan matanya, tubuh Shin syok. Setiap layar optik, layar holo, dan pengukur di Undertaker memutih. Undertaker terlempar mundur, terhuyung oleh listrik yang mengalir lewat tanah, dan Shin berhasil tipis mencegah mesinnya terguling.

Layar utamanya berkedip-kedip hidup kembali, beberapa pengukur pun menjadi normal. Tetapi layar holonya tak mau pulih, dan sejumlah alat pengukur masih menampilkan gambar-gambar acak, lampu peringatan menyala. Dan sewaktu bau beberapa bagian terbakar memenuhi kokpit tertutupnya …

… dia mendongak dan mendapati kabel panjang tak terhitung Morpho merayap dari segala arah, dengan tubuh utama yang tersembunyi di antaranya. Kabel-kabel untuk pertempuran jarak dekat …. Legion sangatlah waspada kehilangan Morpho, mereka melengkapinya penanggulangan atas skenario apa pun.

Sebuah turet tank dikembangkan dan didesain dengan tujuan memusatkan kekuatannya ke titik minimal demi menembus lapis baja tebal musuh, pilihan buruk meledakkan sekaligus kabel-kabel entah seberapa banyak itu. Jaringan kabel tidak merata yang menusuk tanah tampaknya punya pola tak beraturan, namun sejatinya tidak ada satu pun celah cukup besar untuk diselip Juggernaut, dan upaya apa pun untuk menerobos masuk hanya akan makin erat menjerat Juggernaut.

“Kapasitor kelebihan beban telah dikonfirmasi …. Itu kabel konduksi. Senjata jelek …”

Suara dari sisi lain sambungan merasa amat tegang dan gelisah. Kelihatannya mereka juga tidak mengantisipasi ini.

“Hindari kontak dengan kabelnya. Kabelnya dialiri elektrik yang menggerakkan benda raksasa itu dan railgun-nya. Senjata dan tenaga penggerakmu kemungkinan takkan berhasil …. Ini bukan rintangan yang seorang petarung jarak dekat sepertimu, bisa atasi.”

Kalau begitu aku harus melakukan apa?

Shin tak betul-betul mengutarakan kata-kata itu, namun sepertinya orang di sisi lain mengangguk.

“Soal ini—?”

Saat itu, pemilik suara di sisi lain sambungan serasa menyipitkan matanya dingin, ketika suara pembangkit semangat juang sejati setajam pisau melintas.

“Kami akan menangani ini.”

Ketika itu, rudal lain terbang ke udara. Beberapa kabel menekuk dan melengkung mirip cambuk, menampar proyektil mendekat dari samping. Menyerang dari kedua sisi, rudalnya dipotong menjadi irisan bulat. Namun yang tumpah dari dalamnya bukan bahan peledak, tetapi cairan berlumpur teramat-amat kental.

Seketika cairannya menyebar ke udara, gravitasi mulai berpengaruh, menjatuhkannya ke Morpho. Lapis baja dan kabel hitam Morpho basah kuyup warna cokelat selagi cairannya menempel erat.

Setelahnya:

“—lima detik …. Dua, satu …. Pembakaran.

Sekring berjangka waktu diaktifkan. Cairan mudah terbakar telah dibakar detik itu dan berkobar.

––––––––––––––––––––––––?!

Jerit hening mengguncang udara sekaligus tubuh Morpho sendiri sesaat api mulai membakarnya. Seolah cara balas dendam aneh kepada taktik Legion sebelumnya yang mengasapi mereka menggunakan api—pengeboman bom pembakar.

Morpho itu menggeliat, tidak dapat bergerak sebab relnya hancur dan kakinya hilang. Kaki sendi tersisanya meleset dari trek jalurnya dan menginjak tanah, jatuh ke rawa di bawah karena tidak mampu menopang beratnya yang lebih dari seribu ton.

Tidak seperti manusia yang terbakar sampai mati sesudah terlalap api beberapa ratus derajat celcius, tubuh Legion terdiri dari logam yang bahkan kuat menahan api 1.300 derajat.

Lapis baja berat mencegah panasnya memasuki mekanisme internal mesin, dan tidak punya pilot yang akan tersedak mati gara-gara oksigennya dibakar.

Namun tetap saja, insting manusia masih tersisa dalam logam naga membuatnya bergetar ketakutan pada api. Selagi dibakar dalam api cairan mudah terbakar, listrik yang mengalir di kabelnya mati. Sirkuitnya dimatikan darurat karena paparan suhu tinggi dan paparan panas mendadak telah menurunkan konduktivitas kabel logam. Kehilangan kemampuan untuk menghantarkan listrik, kabelnya kini hanya kabel tipis.

Kabelnya ditarik selagi naga tersebut menggeliat dan meraung-raung bisu, kabelnya keluar dari tanah satu per satu, berseliweran di udara.

Nyala api laparnya menjilat-jilat hari subuh berwarna ungu kebiruan, mengacaukan segalanya. Dan kala itu terjadi, Shin mendorong maju tuas kendalinya.

Sensor optik biru Morpho berbelok ke arah Undertaker yang melompat mendatanginya seakan diluncurkan. Fokus kepada Shin, seluruh kabel menusuknya berbarengan, ujungnya yang bak cakar melengkung turun menuju mangsa mereka. Shin sekilas melihat langit sebelum kabelnya mengayun turun. Kabel sama yang memotong rudal kendali seakan memotong mentega satu menit lalu.

Dia bisa mendengar seseorang memanggilnya dari nirkabel:

“Masih bergerak …?! Gawat! Tolong! Hindari!”

… tidak.

Mata merah Shin menganggap setiap kabelnya sebagai badai tebasan yang turun menujunya, setiap tebasan dari sudut berbeda-beda dan diluncurkan pada selang waktu sedikit berbeda. Konsentrasinya mencapai puncak di momen-momen yang terasa berlangsung selamanya. Dia tahu kabel mana yang ‘kan menghalangi jalan yang hendak dia lewati menuju Morpho—dan bagaimana menghindari atau memotongnya. Kabelnya masih terbakar, konduktivitasnya masih hilang. Membuat kabel-kabel itu tidak lebih dari musuh yang sedikit gesit.

Shin melompat rendah tajam ke depan. Tebasan pertama turun dari atas menuju Feldreß keperakan. Keduanya saling bertemu, dan pedang yang Reginleif ayunkan di detik-detik terakhir memotong kabelnya secara horizontal. Momentum pendaratannya membuatnya tetap terbang lurus maju, memungkinkannya menghindari tebasan kedua dan menerobosnya selagi menghindar. Kabel ketiga dan keempat datang secara diagonal dari kedua sisi, Shin cegat keduanya dari arah berlawanan dan lanjut membersihkan sisa-sisa tombak satu per satu dengan cepat sembari bergegas maju.

Proyektil kaliber kecil nyelip lewat banjir kabel bak tombak satu demi satu, membentuk parabola selagi melonjak naik, sekring berjangka waktu tersebut meledak di udara. Gelombang kejut yang dihasilkan ledakan-ledakan tidak terhitung di bawah kabel-kabel penebas membentuk perisai gaib yang menangkis kabel-kabelnya dari Undertaker.

Undertaker menyerbu maju dilindungi perisai tersebut, menghindari tebasan lain menggunakan salah satu turet artilerinya yang ditusuk ke tanah layaknya penanda kubur sebagai pijakan untuk melompat ke udara. Tetapi memaksa Shin melompat ke udara yang tidak bisa bergerak menghindar bebas, adalah rencana Morpho, kemudian dia menjatuhkan serangan membelah kepadanya.

Iya …. Aku benar-benar takkan tahan sama orang tipe itu.

Begitulah pikir Shin, mengingat percakapannya dulu bersama Frederica.

Aku tak akan tahan sama orang terlampau lugas itu. Shin terlihat terpaku sekali menampakkan bagian dirinya yang cacat dari lahir dan rusak tidak bisa diperbaiki, ibarat bilang aku sama sintingnya seperti dia.

Membuatku muak.

Shin menembak jangkar kawat. Sewaktu jangkarnya menembus lapis baja terbakar Morpho, Shin menariknya, turunnya bukan jatuh bebas, namun kecepatan yang lebih cocok dibilang hendak menabrak. Pedang kanan Shin ditebas, seutuhnya diledakkan, menjadikannya pengorbanan satu-satunya, dia mendarat di punggung naga besar itu.

“Frederica …. Mana kesatriamu?”

Dia menanyakan pertanyaan tak penting ini, karena menembak mati kesatrianya adalah keinginan dan hasratnya. Kendatipun praktiknya Shin yang menarik pelatuknya, bagian Frederica adalah bertekad menunaikan perbuatannya.

Shin bisa merasakan tubuh Frederica menggigil dari sisi lain Resonansi.

“… Kiri … itu …”

Sesaat, Frederica mendapat penglihatan.

Di taman depan Adler Holst—istana takhta Kekaisaran tua yang tidak membuatnya merasa nostalgia—berpakaian seragam hitam-merah kekaisaran, berdirilah Kiriya, memarahi seseorang dengan sikap kaku biasanya.

Subjek omelannya adalah seorang anak laki-laki bermata merah darah campuran dengan fisik mirip sepertinya, biarpun beberapa tahun lebih muda, mengabaikan ocehan tetuanya dengan ekspresi tak tertarik. Itu makin-makin mengeraskan teriakan Kiriya, dan seorang pemuda intelektual berkacamata—kakak laki-laki anak itu—menengahi keduanya.

Itu pemandangan yang tidak pernah terjadi dalam kenyataan.

Kemampuan Frederica memungkinkannya melihat masa lalu dan masa kini. Bearti ini hanyalah ciptaan keinginannya, sebuah ilusi. Tapi andai … andai perang ini tidak pernah terjadi. Andaikan perikatan pewaris Nouzen dan seorang wanita berdarah Pyrope, campuran darah mereka tidak dilarang, mengakibatkan mereka kabur ke Republik. Seandainya tradisi itu tidak ada.

Andaikata Kekaisaran sedikit lebih baik kepada rakyatnya sendiri, negeri-negeri lain, kepada sesama warganya … boleh jadi pemandangan ini nyata. Dan dialah keturunan terakhir yang bisa mewujudkannya.

Maharani muda itu menggigit bibir merah mudanya.

Jika begitu … aku tahu apa yang harus kulakukan mulai dari sini.

“Kiriya …”

Keraguannya hanya sesaat. Frederica memilih untuk tidak melarikan diri dari tekad yang dia butuhkan untuk membunuh orang penting baginya.

“Di belakang turet utama. Di celah antara sepasang sayap pertama.”

Melihat-lihat punggung Legion yang dia tempel, tatapan Shin tertuju kepada palka pemeliharaan yang mencuat dari titik yang Frederica tunjuk. Memotong lebih banyak kabel yang menjulur dari pusat sayapnya, dia berlari melewati pilar api napalm. Sang Morpho meraung, kakinya menendang-nendang liar seperti halnya kelabang yang disiramkan cuka di atasnya. Selagi mengguncang tubuh seberat seribu ton itu, geliatnya nyaris menerbangkan Juggernaut ringan.

“Cih …!”

Merentangkan keempat kakinya, dia juga mengaktifkan pemancangnya. Pemancangnya menggali paksa ke lapis baja Morpho, lalu gantinya sentakan kuat yang bahkan membuat Shin—yang terbiasa akan manuver mobilitas tinggi—menggertak giginya kesakitan, Undertaker dilekatkan dan distabilkan ke punggung mesin.

Di sisi lain, Morpho meronta-ronta dan mengamuk, meliuk kemudian memutar turetnya ke atas bak hewan yang menantang dewa-dewi. Dia telah mengisi railgun-nya dengan lebih banyak listrik daripada sebelumnya—cukup hingga hampir mengamuk. Gelombang kejutnya merobek udara selayaknya kilat menjalar di larasnya. Mata Shin terbuka lebar begitu sadar niatnya.

Absolut mati bersama-sama.

Dia ingin membawa mati Shin …!

Emosi yang mengalir dalam diri Shin kala itu … anehnya, bukan ngeri atau rasa sesal, namun rasa lega meluap-luap.

Jadi ini.

Inilah akhirnya.

Ledakan terlampau lemah nan lembut bergema di seluruh medan perang, membungkam segalanya.

Sumber suara itu adalah tembakan pistol. Jauh di luar jangkauan efektif dan sekalipun mengenainya, kurang kekuatan untuk menembus lapis baja Legion—senjata terakhir yang dimaksudkan mengakhiri hidup seseorang.

Insting Legion yang memerintahkan Kiriya tuk menghabisi seluruh elemen memungkinkan telah memacu sensor optik retak-retaknya beralih melihat arah tembakan.

Demikian sistem Juggernaut mengenalnya sebagai target bersenjata tak dikenal dan otomatis memfokuskan lensanya.

Frederica berdiri di sana, dikepung kawanan kupu-kupu biru, pistol di tangannya. Bibir pasinya membuka:

“Kiri …”

Dan tatkala itu, naga metalik itu tidak salah lagi melihat majikannya, sang maharani.

“Putri.”

Suaranya kental dengan kelegaan mendalam.

Frederica lalu menurunkan moncong pistolnya pelan-pelan dan diarahkan ke pelipisnya.

Kenapa …? Apa kau takkan datang menghentikanku, kesatria tersayangku? Bila tidak kau hentikan aku akan mati. Aku berdiri di sini, di tempat tembakan bunuh dirimu akan merenggutku. Aku ‘kan memadamkan apimu dengan daging dan darahku …

“Putri!”

Hasrat membunuh Morpho langsung memudar bagaikan kabut. Guntur yang mengalir di larasnya mati mengecil.

Dan saat itulah, Shin menarik pelatuknya.

Dari sudut matanya, dia mendapati Fido bergegas maju dan dengan terampil meraih Frederica menggunakan lengan dereknya. Bahkan tak menyia-nyiakan waktu untuk memasukkannya ke kontainer, dia berbalik dan melaju secepat-cepatnya.

Mengetuk, diikuti benturan. Hulu ledak tembus lapis baja kecepatan tinggi diisi dengan sejumlah besar energi kinetik menembus lapis baja Morpho dan mekanisme dalamnya, menggoreng prosesor sentral dengan intensitas panas khusus untuk melenyapkan uranium. Bagian dalam Morpho terbakar.

“–––––––––––––––––––––––––––!”

Morpho itu meraung seketika mesin mikro cairnya mendidih dan bergolak. Shin meringis saat raungan tersebut mengguncang gendang telinganya. Api hitam dimuntahkan dari binatang raksasa itu, mereduksi mesin mikronya menjadi abu keperakan. Pemandangan ini jelasnya bukan main mengingatkan Shin akan kematian kakaknya. Sang kakak yang kata-kata terakhirnya tidak pernah sungguh-sungguh sampai padanya sebelum dia menghilang. Tangan kakaknya yang menghilang, kata-kata menghilangnya yang gagal Shin raih tepat waktu.

Terjebak dalam kurungan Morpho, kesatria Frederica meratap. Tutur terakhirnya, kebencianya kepada semua kehidupan, sebenarnya teriakan kepada orang yang senantiasa dia cari-cari.

Putri.

Putri.

Putri.

Akhirnya aku bertemu denganmu lagi, tapi …!

“… cukup sudah.”

Gumam Shin, tahu perkataan itu takkan menjangkaunya. Seperti halnya dia tidak dapat meraih tangan terbakar dan mundur kakaknya. Sebagaimana suara kakaknya yang memudar, tidak pernah bergema lagi di telinganya.

Orang mati itu masa lalu. Tiada yang mengubah kepergian mereka, dan kedatangan masa depan menghapus mereka terlepas apa pun keinginan seseorang. Yang hidup tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan mereka.

“Sekalipun kau berlama-lama, tidak ada gunanya. Kau takkan dapat apa-apa. Jadi … menghilanglah saja.”

Saat itu, Shin merasakan mata hitam menatapnya. Dan tatapan itu entah kenapa penuh rasa kasihan.

Itu … berlaku sama kepadamu juga. Kau, yang, sepertiku, tidak punya apa-apa. Tidak … bahkan lebih berlaku kepadamu.

Bagaimanapun … bukankah kau mencoba mati bersamaku?

Ketika Shin sadar, dia berdiri di depannya. Bulu kuduk tubuhnya naik. Wajah mereka sama. Barangkali karena Shin belum pernah melihat wajah kerabat jauhnya sehingga dia membayangkan wajahnya sendiri menggantikan wajah kerabatnya, atau mungkinkah mereka sungguh-sungguh mirip. Cukup mirip sampai-sampai Frederica menyamakan keduanya sesering mungkin.

Atau boleh jadi … dia bukan lagi kesatria Frederica …

Mengatur kembali mata hitamnya—satu-satunya hal yang membedakan dua orang itu—sisi Shin, dia mencibir kejam. Warna bulan baru. Warna sama seperti kakaknya pada malam yang ditakdirkan dulu itu.

Benar. Kau tidak punya apa-apa.

Tak ada yang dilindungi. Tiada tempat berpulang. Tidak ada yang diinginkan atau tujuan hidup. Tak ada yang memanggil saat-saat terakhirmu. Tidak satu orang pun. Tidak ada satu saja … alasan untuk hidup.

Hantu itu mengulurkan tangannya hendak mencengkeram lehernya. Tangan itu bukan tangan kakaknya, mungkin bukan tangan Kiriya pula. Jari-jarinya yang keras keseringan menggunakan senjata api dan mengemudikan sebuah senjata lapis baja, adalah tangan Shin sendiri …

Tangan yang mencekiknya menusukkan kukunya ke bekas luka yang diukir kakaknya …. Satu-satunya hal yang tersisa darinya adalah bukti keberadaan kakaknya.

Mata hitam itu mencibir.

Bukannya kau menipu kematian hanya untuk menembak mati dirinya? Bukankah kau hidup hanya demi tujuan itu? Lantas kini kau menggapainya …

… kau ini tidak penting.

Kau tak punya alasan untuk tetap hidup, di mana pun kau berada.

Jadi kenapa …?

Kenapa kau masih hidup?

Mereka mencibir.

Kau berharap semuanya akan berakhir begitu kau membunuhnya, bukan? Kau yakin sekali akan berakhir. Dan ujung-ujungnya, sekali lagi …

… kau sendirian.

“…!”

Sebuah penglihatan melintas di depan matanya. Dia melihat sosok kakaknya menjauh berpakaian seragam kamuflase, satu Juggernaut diledakkan, dan ekspresi terakhir banyaknya rekan-rekan yang harus dia tembak mati sebab tidak bisa lagi menyelamatkan mereka.

Kenapa …? Kenapa semua orang … selalu mati …?

Dan meninggalkanku …?

 

 

Legion tidak suka yang namanya informasi rahasia bocor di kejadian penangkapan mereka, alhasil mereka mengambil banyak langkah pencegahan untuk tidak membiarkannya terjadi, seperti enkripsi kuat dan panel ledakan. Bagi Morpho malah makin berlaku lagi, kartu as berharga mereka. Sensor khusus yang mendeteksi kerusakan fatal pada prosesor sentral, memicu penghancuran diri lewat sirkuit independen.

 Tidak dipicu dengan maksud mengikutkan orang lain ke dalam ledakannya, namun itu ledakan dari serangan eksplosif besar yang cukup kuat sampai memusnahkan Goliath seberat lebih dari seribu ton dan laras tiga puluh meternya. Membakar sekawanan kupu-kupu yang beterbangan di dekatnya, menghanguskan kontainer atas Fido selagi menutupi Frederica untuk melindunginya dari ledakan serta, meledakkan Undertaker—yang masih berada di atas mesin—menghempasnya laksana daun tertiup angin.

 

 

Rupanya, Shin pingsan sebentar. Ketika dia membuka mata, dia bisa lihat langit fajar ditampilkan layar optik retaknya. Mendongak membuatnya merasa klaustrofobia aneh menyapu dirinya, mendesaknya mendorong tuas kanopi ke bawah. Dia tahu di luar sana tak ada yang akan mengancamnya, dan meski ada, dia tidak terlalu memedulikannya sekarang.

Mungkin rangkanya membenjol, sebab kanopinya macet sedikit hingga akhirnya terbuka, namun langit biru yang membentang di hadapannya serasa semenekan dan seberat yang dia lihat di gambar tersematkan yang ditampilkan pada komputer. Biru langit cerah yang serasa seperti hendak runtuh kapan pun menghancurkan segalanya oleh bebannya.  Shin mendesah dalam-dalam dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kepala, memejamkan mata.

Entah kenapa dia merasa amat … lelah.

Pantang mundur adalah harga dirinya. Bertarung sampai tarik napas penghabisan adalah identitas yang dipilih 86, dan itulah yang dibawa sejauh ini. Tapi mungkin dia semata-mata mengembara di distrik pertama medan perang, mencari-cari tempat pas untuk mati sesudah mengubur kakaknya. Dia berharap agar hantu mekanik segera mengakhiri dirinya, hantu kecil yang bahkan tidak bisa mati dengan benar, sebagaimana kakaknya.

Kalau saja kau tidak ada.

Itulah yang pernah dikatakan kakaknya kepadanya—sesuatu yang dikatakan ulang banyak sekali orang. Tapi dia tetap hidup, karena dia bertujuan mengistrirahatkan hantu kakaknya. Dia dapat mentolelir dan memaafkan fakta dia hidup karena dia mesti membebaskan jiwa kakaknya. Dan begitu tujuannya tiada, tak ada lagi alasannya untuk hidup.

Hidupmu ke depannya masih panjang. Itulah ucapan terakhirnya, ucapannya adalah hadiah perpisahan. Kakaknya benar-benar tidak ingin berpisah dengan adiknya dan mendoakan masa depannya akan membahagiakan dari relung hatinya.

Namun bagi Shin itu hanyalah kutukan.

Waktu yang lama. Masa depan yang lama akan penderitaan.

Shin tidak pernah menginginkannya. Dia betul-betul menantikan momen dia akan bertemu kakaknya, dan ke semuanya akan berakhir kala mereka membunuh satu sama lain. Dan walau begitu …

Kak …. Kenapa kau meninggalkanku sendirian lagi? Kenapa kali ini kau tidak bisa membawaku bersamamu …?!

Seandainya saja kau melakukan itu, aku takkan merasa seperti ini …

“Rrrhh …”

Sesuatu seperti geraman hewan liar, seperti tangisan, terurai dari bibirnya. Dia menutup matanya dengan tangan, merasa sesuatu panas menyatu di balik kelopak matanya. Namun tidak datang apa-apa … Pencabut nyawa. Tak pernah sekali pun dia menganggap nama lain tersebut menjijikkan. Dia ‘kan membawa ingatan rekan-rekan matinya bersamanya, dan tidak pernah dia menyesal berjanji membawa mereka.

Tapi kenapa …? Kenapa semua orang meninggalkanku? Kenapa mereka semuanya meninggalkanku …? Kenapa semua orang … begitu mudahnya … begitu semaunya … menghilang …?

Shin merasa mendengar seseorang berteriak, meminta untuk tidak ditinggalkan. Dan andai saja dia sendiri bisa menukas kata-kata itu … akankah seseorang, siapa pun, tetap berada di sisinya?

Dia melihat bangkai membara Morpho. Tempat peristrirahatan terakhir kesatria Frederica. Pria yang belum pernah dia temui seumur hidupnya, yang mirip sekali dengan Shin namun tidak terlalu mirip pula dengannya. Sisa-sisa dari yang dulunya hantu tanpa hubungan darah, tanpa negeri yang bisa dipanggil rumah, cuma bisa ada dalam medan perang.

Dan di waktu yang sama, takdir paling pasti hantu yang kendati sudah menjadi Legion selalu punya seseorang yang dirindu-rindukan. Misalkan Shin menjadi Legion, nama siapa yang akan dia panggil? Dia tidak bisa menangis ke siapa pun. Dan itu terasa … hampa nian.

Mendengar derap langkah kaki santai menghampiri, Shin mendongak sebal. Berlari di sepanjang pecahan-pecahan lapislazuli tersebaran yang mengotori area itu, Frederica mengampu tangannya di tepi kokpit dan mengintip ke dalam.

“Kau kelihatan kek mayat dalam peti mati. Sangat tidak mengenakkan.”

Shin mendengus lemah dari balik mata terpejamnya. Kokput tertutup benar-benar serasa bak peti mati, dan lapislazuli yang bersebaran bagiakan bunga kuburan menghiasi petinya.

“… benar.”

“Jawaban macam apa itu, bodoh …? Kapan kau berhenti teramat-amat keras memaksakan dirimu?”

Dia mencoba tersenyum tetapi tidak berusaha menyembunyikan kelopak mata memerah dan membengkaknya atau bekas air mata yang membasahi pipi porselennya.

Bahu Frederica tetap terangkat sejenak kemudian mendesau, mengendurkannya lagi.

“Maaf … pistol yang kau percayakan padaku …”

Melihat tangan mungil dan gemetarannya, Shin mendapati retakan besar menjalar dari port ejeksi sampai ke rangka di depannya.

Mungkin terkena pecahan peluru. Retakannya tampak memanjang dari bagian dalam badan sampai laras, kerusakan fatal buat senjata.

“… ya.”

Bahkan sesudah pergi jauh sampai Federasi, pistol yang menguburkan rekan-rekan sekaratnya adalah hal satu-satunya yang tidak terpisahkan darinya. Tapi anehnya, dia tak merasakan emosi khusus tengah melandanya sekarang.

Satu tangan Shin mengambilnya dan lempar jauh-jauh.

Gumpalan logam dan resin diperkuat membuat suara datar saat mendarat di antara bangkai kupu-kupu biru tak terhitung jumlahnya. Mata heran Frederica menelusuri lintasan jatuhnya.

“… k-kau tidak harus membuangnya.”

“Silinder dan larasnya retak, dan bukan model Federasi, jadi tidak bisa aku perbaiki.”

Digunakan pasukan angkatan darat lama Republik, tapi modelnya sejatinya dihasilkan salah satu pabrik senjata Aliansi.

Bila Shin serius mencari, mungkin dia bisa menemukan suku cadangnya untuk memperbaikinya, tapi dia tak terikat-ikat amat dengan pistol itu.

Frederica gugup melihat ke tempat pistolnyat terjatuh.

“Kenapa …? Bukannya itu pistol yang mengistrirahatkan rekan-rekan sekaratmu? Jadi, bukankah, bukti ikatanmu dengan mereka? Kau tidak boleh melepasnya cuma karena rusak.”

Shin tertawa pada kata-kata hampa tersebut. Ikatan?

“Aku tidak keberatan …. Pada akhirnya, aku hanya menggunakannya sebagai alasan untuk kembali ke medan perang.”

Walau dia berjanji membawa mereka bersamanya … dia hanya mengembara, mencari tempat mati. Mereka tidak ingin dibawa menjalani perjalanan konyol lagi menyedihkan bersamanya.

“Itu—!”

Ekspresi Frederica beralih meringis kesakitan seraya berteriak.

“Itu salah …! Kau tidak harus memikul beban itu demi alasan semacam …”

“…”

“Apa sih yang baru kau lepaskan? Aku pikir … bahwa janji yang kau buat sama reakn-rekanmu, yang kau rasakan sewaktu membuat sumpah itu, menyakitimu sekarang …”

Tetes air transparan menetes di pipi pucatnya, mencerminkan cahaya fajar.

“Hatimu sudah sangat membeku, panasnya emosi yang kau rasakan untuk rekan-rekanmu hanyalah rasa sakit. Itu sakit. Tapi misalkan rasa sakitnya keberatan untuk kau tanggung, kau cuma mesti bergantung kepada orang lain …. Tidak ada orang yang membantumu memikul beban, itu tuh masa lalu …”

Shin menyipitkan mata, mendengarnya bicara ibarat dia tahu hal-hal yang Shin belum beri tahu padanya. Mengingat kemampuannya, tidak bisa mencegah Frederica melihat masa lalu Shin sampai titik tertentu—lagian Shin pun tak mampu mengendalikan kekuatannya sendiri—tapi mendengarnya bicara seoah tahu segalanya itu tidak menyenangkan.

“… mengintip lagi?”

“Bego. Karena kau terus memikirkan orang-orang mati …. Kau boleh mengaku sudah melepaskan mereka, tapi kau membawa mereka bersamamu, karenanya mereka bisa kulihat. Ada banyak, tapi kau hadapi secara langsung, tidak pernah berpaling sekali pun dari mereka …. Bisa-bisanya kau jadikan mereka sebagai dalih, idiot?”

Menyeka matanya dengan kasar menggunakan buku-buku jari mengepalnya, dia berbalik menghadap Fido yang menunggu mereka dari dekat.

“Fido, sana ambil pistol yang si tolol ini lempar. Nanti aku bantu cari jadi kita berdua pasti menemukannya.”

“Jangan bergerak, Fido. Kita tidak punya waktu untuk disia-siakan buat itu.”

Sensor optik Fido berkedip-kedip, seakan-akan matanya berputar terhadap perintah saling bertentangan. Tetapi setelah membunyikan bip bertanya, Fido menjangkau Frederica, mencengkeram kerahnya layaknya anak kucing dan dilempar ke kokpit.

“A-apa yang kau lakukan?”

“Tentu saja, kami membawamu kembali. Dengan kerusakan sebesar ini, kalau musuh baru muncul, kita akan dalam masalah.”

Mereka masih jauh, namun Shin bisa merasakan Legion yang telah menyadari gangguan ini mulai mendatangi mereka. Keempat pemancangnya rusak, dan indikator peringatan tidak berhenti-berhenti berkedip, memperingatkannya bahwa sistem tenaga penggerak telah tertekan karena manuver tidak masuk akalnya. Shin barangkali tidak peduli-peduli amat soal kematian, namun dia harus mengembalikan Frederica. Dia harus memastikannya, namun pasukan utama militer Federasi semestinya bergerak menuju posisi mereka.

Sekiranya dia bisa menghindari pertempuran cukup lama sampai bergabung kembali dengan mereka …

… terus apa? Perlu sesaat hingga dia sadar betapa bodohnya pertanyaan tersebut. Perang melawan Legion belum berakhir. Setelah ini tetap berlanjut. Dan dia akan bertarung dalam perang itu … sampai hari dia akhirnya kalah dan mati. Dan perkara alasannya bertarung …. Apa yang dia pertarungkan …. Itu pertanyaan yang takkan sanggup dia jawab. Pertanyaan yang senantiasa secara tak sadar dia tidak jawab.

Eugene akan bilang apa apabila, kala itu, Shin menjawab pertanyaannya dengan memberitahunya bahwa dia bertarung untuk mati? Seumpama itulah yang dia pertarungkan, seharusnya bukan Eugene yang mati tatkala itu …. Dialah yang mati.

Shin ditarik keluar dari renungnya saat tubuh kecil Frederica memeluknya.

“… sekarang apa?”

“Jangan bicara seperti itu kepadaku, bodoh …. Saat kita bergabung kembali dengan pasukan utama, cutilah dan istrirahat. Kalau tidak, segera, kau akan …”

Berpelukan dengan tubuhnya sendiri—dingin sebab udara subuh-subuh iklim utara—Frederica punya kehangatan khas seorang anak, dan itu bahkan lebih menjengkelkan buat Shin. Namun entah bagaimana, dia tidak dapat memisahkan Frederica dari dirinya, lalu dia melihat ke langit atas. Sebagian dirinya berharap dari lubuk hati terdalamnya langit itu akan menimpanya.

Matahari terbit, dan sekawanan kupu-kupu beterbangan, mengepakkan sayap mereka seakan diusir cahaya pagi. Angin lapislazuli sejenak naik. Sinar mutiara mother-of-pearl memenuhi bidang penglihatannya kemudian tersebar ke atas, seolah-olah dihirup langit.

Katanya kupu-kupu adalah, terlepas budaya, wilayah, atau usianya, adalah simbol jiwa-jiwa orang mati yang kembali pulang—

Tanpa sadar dia mengulurkan tangannya, namun jemarinya tentu cuma menangkap udara. Dia hanya sekadar bisa melihat cahaya biru samar sirna ke langit ….

Mendesah sekali, dia mengaktifkan sistem penyegelan kokpit. Kanopinya menutup. Sebuah indikator menyala, menandakan kokpitnya kedap udara.

Berbeda dengan Juggernaut Republik, kokpit model Federasi diatur untuk melindungi pilotnya dari senjata biologi atau kimia. Dia mengaktifkan kembali sistem utama yang berpindah ke mode siaga.

Layar holo informasi akhrinya dipulihkan dan dihidupkan, lalu layar optik menghitam telah menyala.

Sesaat layar optiknya menyala, tiba-tiba serba cahaya warna merah muda.

Kelopak bunga merah beterbangan tertiup angin. Ibaratnya bunga bakung lelabah merah1 yang hampir diinjak kawanan kupu-kupu biru telah memanjangkan kelopak dan benang sarinya membentuk pola radial, semuanya mengangkat batang merah unik mereka bersama-sama.

Seluruh tanah lapang dipenuhi bunga. Lautan bakung lelabah merah tumbuh secara masal, diwarnai merah khasnya yang tergantung musim, kadang kala tidak ada kelopak bunganya. Begitu angin meniupnya, bunga-bunganya bergemerisik seolah monster yang berbicara dengan suara tak terdengar. Kelopak-kelopak bunga yang dirobek kaki-kaki robotik sesekali mengepak di dunia merah yang meluas sejauh mata memandang.

Dan suatu waktu, dia muncul, terengah-engah. Di sana berdiri seorang gadis berpakaian seragam militer biru, mata dan rambutnya berwarna perak cerah.

 

 

Kilat putih yang mencabik subuh hari dapat terlihat di monitor ruang kendali meriam pencegat Gran Mule.

Lena berjalan melintasi karpet merah bunga bakung lelabah, berhenti di depan Feldreß tak dikenal dengan kakinya yang terkubur di bawah bunga. 

Jenis yang secara konsep berbeda dari Feldreß Republik. Ada empat sendi, kaki lincah, dan kerangka aerodinamis yang disederhanakan berwarna putih mengkilap.

Dilengkapi satu meriam 88 mm pada lengan dudukan senjatanya dan punya bilah frekuensi tinggi di kedua sisi—salah satu bilahnya hancur. Terdapat keindahan fungsional tersendiri dari senjata yang sangat efisien. Keindahan dingin nan ganas pedang atau tombak yang ditempa dan dilunakkan demi pertempuran di masa depan.

Namun … kenapa? Entah kenapa, mengingatkannya akan Juggernaut.

Memberinya kesan buruk akan kerangka yang berkeliaran di medan perang, mencari-cari kepala hilangnya.

Tidak tahu teman atau musuh. Setahunya, boleh jadi tipe baru Legion. Namun satu hal yang pasti, itu musuh baru bertipe Artileri Jarak Jauh—Legion yang menghancurkan Gran Mule.

Oleh karenanya dia memberi tembakan pelindung. Siapa pun dia, tidak menanggapi, namun mereka berjuang bersama untuk mengalahkan satu musuh, dan tatkala dia melihat tipe Artileri Jarak Jauh melakukan penghancuran diri berupaya membawa mati Feldreß tersebut, dia bergegas keluar memastikan statusnya.

Pilotnya—jika memang ada seseorang yang mempilot drone ini—bisa saja terluka parah. Dan meski tidak pun dia ingin berterima kasih atas bantuannya. Walau ladang ranjau di jalan menuju Gran Mule telah ditembus, namun masih termasuk zona berbahaya dalam hal standar keamanan militer, hanya 80 persen ranjaunya dihancurkan. Vladilevna dibawa Juggernaut Cyclop dan diantar ke sini.

Menatap Feldreß tidak dikenal yang berdiri membisu di sana lewat sensor optik Juggernaut, prosesor Cyclop, Kapten Shiden Iida, membuka bibir hendak bicara:

“Kau harus mengamankan diri kalau-kalau terjadi sesuatu, Baginda. Jika kau berlarian di medan perang tanpa perlindungan seperti ini, nanti kau hanya akan mengganggu.”

“Tidak. Lagian, tak ada jaminan akan terjadi sesuatu.”

Dia mendekat tepat begitu pesawat tak dikenal tersebut bangkit berdiri. Nampaknya pilot tersebut, atau mungkin drone-nya sendiri, tidak teramat rusak hingga tak sanggup bergerak. Tatapannya tertuju kepada Tanda Pribadi kerangka tanpa kepala membawa sekop yang tergambar di sisi lapis baja.

Shiden merespon, “Ah …” kaget tak biasa.

“Tidak mungkin …?! Tidak, tapi itu …”

“Kapten Iida?”

“Bukannya kau tahu itu …? Ah, benar juga. Kau belum pernah beneran melihatnya, kan …?”

“…?”

Lalu Shiden terdiam. Sensor optik merah tak dikenal ciptaan itu berbalik arah.

Seorang gadis berambut merah berdiri di lautan bunga merah. Manset di seragam kerah tinggi birunya terbakar dan sobek-sobek. Senapan serbu kaku dan besar menggantung di bahu rampingnya. Matanya seperak rambutnya yang kusut oleh jelaga.

Penampilan yang kerap kali dilihatnya, kendati tak ingin melihatnya nanti atau selamanya. Satu bulan sekali, selama transportasi udara. Ditransfer ke pos baru. Orang-orang Republik. Orang-orang yang mengusir 86 ke medan perang, memindahkan mereka ke medan perang lebih sengit bila mana mereka bertahan, dan ujung-ujungnya menitahkan mereka semua untuk mati.

Rambut berkilauan itu melambai-lambai tertiup angin sepoi. Perawakan gemerlapan itu. Napas Shin tercekat ketika gadis muda—yang wajahnya tidak terlalu bisa dia lihat—entah bagaimana bercampur dengan perawakan seorang anak laki-laki seusianya, mengenakan seragam biru baja.

Kau harusnya mati saja.

Segera mengalihkan matanya, dia menahan napas sekali lagi ketika tatapannya kemudian tertuju kepada Juggernaut berlapis baja hitam—jenis sama sebagaimana peti mati alumunium rusak yang pernah dia kendarai di Sektor 86.

Dan di belakangnya, dia melihat garis kabur sebuah struktur beton buatan …. Gran Mule.

Bibirnya tersenyum sedikit.

Dia berniat maju sejauh mungkin, namun nyatanya, dia berutar-putar dan berakhir ke tempat permulaan.

Frederica menegang sewaktu melihatnya, dan Shin pura-pura tidak sadar betapa pedih ekspresinya tatkala membuka komunikasi Feldreß.

 

 

“… boleh asumsikan kau komandan militer Republik San Magnolia?”

Barangkali karena kerusakan yang dideritanya saat melawan tipe Artileri Jarak Jauh, audio pengeras suara luarnya terdengar retak-retak dan sulit dimengerti. Si pilot bicara singkat, tanpa basa-basi, dan nadanya datar.

“Itu benar. Dan kau …?”

“Aku anggota Divisi Lapis Baja ke-177 Republik Federal Giad.”

Bertentangan pernyataan sopannya, nada suara itu terdengar sangat menjaga jarak. Jika Lena ingin memercayai afiliasi orang ini, artinya si pemilik suara—Lena menyimpulkan dari suaranya dia seorang pria, meski seterganggu dan putus-putus bagaimanapun—adalah personel militer Giad, yang mana musuh negara mereka satu dekade lalu.

Mungkin ada semacam pemberontakan politik yang menyebabkan perubahan nama negara mereka, dan nampaknya mereka sama-sama musuh bagi Legion. Tapi itu sendiri bukan berarti akan menganggap militer Republik sebagai sekutu. Dia tidak memberi tahu nama atau pangkatnya, barangkali untuk mempertahankan kerahasiaan militer …. 86 tidak memberi tahu warga Republik nama mereka kecuali ditanya secara eksplisit, lantas Lena tak menganggapnya tidak sopan.

“Aku melaksanakan operasi ini untuk melenyapkan Morpho—Legion yang dilengkapi railgun—demi melindungi lini pertahanan Federasi. Aku berterima kasih atas bantuanmu dalam operasi ini.”

“Tidak perlu berterima kasih …. Tapi kau sendiriankah? Kau menerobos wilayah Legion sendirian? Kenapa kau diperintahkan melakukan operasi seburuk itu …?”

“…”

Hening yang Lena dapatkan sebagai balasannya entah bagaimana terasa dingin. Lena sadar Shiden menahan tawa di Resonansinya dan mendecakkan lidah.

Misi solo, atau mungkin kelompok kecil, maju melintasi wilayah Legion …. Para penyintas distrik pertama setiap front Republik dikirim dalam semacam misi Pengintaian Khusus di penghujung pengabdian mereka, demi dimusnahkan. Apa hak dia menyebut sesuatu yang mirip-mirip buruk …?

“… perhatianmu dihargai, namun pasukan utama front barat tengah maju menuju posisi ini dari belakang. Seharusnya aku tidak sulit bergabung kembali dengan mereka.”

“Begitu. Itu bagu—”

“Berkenan ikut bersama kami?”

“Eh?”

“Kalau hanya sejumlah kecil personel, aku yakin pasukan utama dapat menawarkan perlindungan kepadamu.”

Terbalik dengan sifat tawarannya, suara pilot tersebut terlampau tanpa emosi dan lugas. Dia bicara ibaratnya tahu bagaimana, selama dua bulan, Republik berada dalam kondisi kacau konstan, dengan garis pertahanannya dipukul mundur serta lingkup pengaruhnya dan kekuatan militer berkurang besar. Lalu pilot itu menanyakan mereka apakah mereka bersedia melarikan diri sendirian. Tetapi suaranya kedengaran hampa, tanpa ejekan atau hinaan.

Di satu waktu, Shin bicara dengan Lena seperti halnya bicara kepada seorang anak kebingungan yang dia temui, anak yang telah berjalan lama dan tegar hingga tersesat. Dan itu sedikit mengesalkan Lena. Seolah Shin sembarangan memutuskan mereka takkan bertekad bertarung dan mencemooh mereka karenanya.

“Tidak. Aku tidak bisa mengabaikan negeri ini dan rekan-rekannya yang bertarung di bawah kepemimpinanku. Walaupun kami tidak pernah menang dan hanya kekalahan yang menunggu kami … aku akan terus bertarung.”

Perwira Federasi itu cekikikan lirih mendengar deklarasi Lena.

Shin tidak bisa menahan kekehnya terhadap kata-kata berlebihan tersebut. Bertarung?

Personel militer Republik, yang mengurung diri mereka di belakang dinding-dinding mereka sampai tanah air mereka hancur? Tidak, bahkan ada pertanyaan yang lebih mendasar lagi saat ini.

“Untuk apa?”

Shin kaget ada yang selamat, namun Republik barangkali hancur-hancur juga. Satu-satunya hal yang bisa susah payah mereka kumpulkan untuk menyerang senjata taktis jarak jauh adalah sejumlah kecil meriam pencegat dan tembakan jarak dekat Juggernaut juga, menilai lambang pangkatnya, gadis ini hanyalah seorang letnan. Komandan di tempat junior yang bahkan tak selevel perwira lapangan.

Kemampuan tempur apa pun dan tenaga yang militer Republik miliki telah dihabiskan sampai nol selama dua bulan terakhir.

… seandainya mayor selamat, apa sekarang dia berada di sini?

Pikiran tersebut terlintas di benaknya, namun dia menggeleng kepala, meyakinkan dirinya sendiri tidak ada gunanya bertanya demikian kepada pribadinya. Apa pun itu, mereka tak punya alasan bertarung, atau kekuatan untuk bertarung. Namun tetap saja, gadis ini bilang mereka akan bertarung? Demi apa?

“Apa kau sedang menyerbu kematianmu …? Kalau begitu, lebih baik tidak perlu bertarung sama sekali.”

Shin tidak sanggup menahan tawa jijik bisu seraya bicara. Siapa, sebenarnya, dia mengarahkan perkataan itu?

Kalau begitu, lebih baik tidak perlu bertarung sama sekali.

Lena mengepalkan tinjunya ketika mendengar pertanyaan dingin dan blak-blakan itu yang antara mengejek atau menghina diri sendiri.

“Meski kami tidak punya kekuatan untuk bertarung …”

Apa Shin menyiratkan yang tidak berdaya seharusnya tak boleh bertarung? Bahwasanya itu sia-sia, dan mereka tidak boleh memegang teguh kehidupan? Mustahil.

Dari sudut mata Lena, dia melihat Cyclops, Juggernaut itu berdiri terlalu rapuh dan lemah dibandingkan unit Federasi. Ada beberapa orang yang bertarung sampai tetes darah terakhir, tahu mereka tak akan selamat, hanya mesin sebagai rekan mereka satu-satunya sekaligus tempat peristrirahatan terakhir. Perkataan itu adalah penghinaan terhadap semua yang mereka wakili—dan Lena takkan membiarkan penghinaan itu begitu saja!

“Kami takkan menyerah dan duduk diam, menunggu kematian mengklaim kami. Kami akan bertarung sampai akhir, sampai bahkan napas terakhir kami meninggalkan kami. Ada orang yang hidup sesuai kata-kata itu dan mereka yakin aku bisa menjadi mereka. Karenanya kami—karenanya aku—”

Andai, kelak, kau mencapai tujuan akhir kami, berkenankah kau meninggalkan bunga?

Tuk membalas kata-kata itu. Menjawab perasaan yang dia percayakan kepada Lena.

Kami pergi, Mayor.

Shin.

Itu karena kau meninggalkanku kata-kata itu jadi suatu hari nanti aku pasti akan mencapaimu.

“Demi mengejar mereka, yang selamat sampai akhir—agar aku bisa membawa mereka bersamaku dan melangkah lebih jauh lagi, aku akan bertarung …! Aku Letnan Vladilena Milizé, komandan pasukan pertahanan Republik lama, dan aku takkan, takkan pernah, berpaling dari perang ini!”

Lama sekali, drone Federasi menatapnya seakan merasa tertegun kaget.

“…?! Mayor …?!”

Suara tercengang yang keluar dari pengeras suara itu, entah kenapa, memanggilnya dengan pangkat berbeda dari yang dia perkenalkan. Republik dan Federasi kasarnya menggunakan terminologi sama, namun sesekali punya arti berbeda. Terutama berlaku untuk jargon militer. Kata sama boleh jadi tidak menentukan pangkat sama.

Sesudah hening lama, perwira Federasi tampaknya hendak mengatakan sesuatu, dia akhirnya bicara:

“… mereka tidak salah lagi sudah lama mati sekarang. Kau punya tugas apa kepada orang-orang mati?”

Nada suaranya sangat tidak wajar, seolah-olah berusaha mempertahankan penampilannya, dan di saat yang sama, seakan-akan rasanya … dia sedang memegang teguh sesuatu. Bagai anak hilang, perlahan-lahan menjangkau orang yang mereka cari-cari. Dan karena kesan itulah Lena merasa ingin menjawab.

“Mereka memintaku untuk tidak melupakan mereka.”

Itu keinginan yang dipercayakan kepada Lena pada malam hari di mana mereka berdiri di bawah langit sama, menatap bunga berwarna berbeda. Saat mereka bertukar janji mustahil tuk suatu hari melihat kembang api bersama.

Aku mungkin tidak bisa memenuhi janji itu, tapi …. Tidak, itu salah. Bukan itu saja. Itu karena aku tidak ingin melupakannya. Dia, yang entah setidak peduli bagaimanapun, meninggalkan banyak sekali hal. Aku tak ingin jejak terakhir dirinya menghilang dari dunia ini …. Selama dia mengingatku, dia akan menungguku di tujuan akhirnya.

“Itu karena mereka memperingatkanku akan bencana ini—bahwa serangan skala besar ini datang—aku bisa bertahan selama ini. Karena mereka berharap aku selamat, karena mereka memberitahuku kita akan bertemu lagi suatu hari nanti, jadi aku terus bertarung. Aku hidup, di sini sekarang, karena dia di sana.”

“…”

“Karena itulah aku mau menjawab perasaan tersebut. Mereka mungkin telah tiada, tapi aku masih berharap mencapai tujuan terakhir mereka. Mencapai tempat berakhir mereka semasa hidup, dan kali ini …. Bersama …”

Karena aku tak tidak lagi bisa berharap tinggal bersama mereka …

“… aku ingin bertarung bersama mereka—membawa mereka bersamaku. Ke luar medan perang ini.”

Jawaban itu membuat Shin melepaskan napasnya yang ditahan lama. Ucapan itu tak diarahkan kepada dirinya masa kini. Lena hanya menjawab tutur manis memalukan tak tertahankan yang dia imbuh satu tahun lalu, sewaktu dia tidak tahu apa yang diinginkannya dan apa yang ada di luar keinginan tersebut. Tapi …

Karena di sana.

Aku ingin bertarung bersama mereka.

Ucapannya membahagiakan Shin.

Senyum Shin samar. Tapi tidak ada gunanya mengungkap namanya sekarang. Sesudah Lena menghabiskan waktu satu tahun bertarung sendirian, mengikuti jejak kaki mereka, pemandangan yang menyapanya harusnya bukan di medan perang ini, tempat Shin duduk, lumpuh, dan kalah …

“… kau sama.”

“… huh?”

“Benar untukmu sebagaimana untuknya. Karena kau bertarung sampai akhir, karena kau selamat sejauh ini, kau mampu berdiri di sini hari ini.”

Matahari terbit, sinar mentari segar menerangkan wajah Lena dari depan.

“Dan menurutku itu sesuatu yang bisa kau banggakan.”

Dan pada pandangan pertama Shin memandang Lena, lewat layar optik rusak, wanita itu tersenyum lembut …

Sensor optik merah drone Federasi menatap bisu Lena. Sepertinya sedikit lebih sadar, laksana sesuatu yang merasukinya hingga kini tidak ada lagi pada tatapan buatan itu. Sesuatu yang menggantung di atasnya mirip bayangan, seperti debu pertempuran atau kelelahan, sekarang hilang.

“… mayor.”

Shin membuka bibirnya hendak bicara dengan ragu-ragu canggungnya, pengen bilang sesuatu tapi tidak yakin bilang apa. Pengeras suara eksternal suaranya statis parah, sulit menebak usianya, Lena entah bagaimana merasa pilot itu seumuran.

“Mayor, aku …”

Jeda. Tiba-tiba, orang di belakang mesin lapis baja itu menegang. Sensor optik mesin beralih ke utara jauh, di sana awan keperakan Eintagsfliege muncul cepat. Setelah jeda sebentar, suara Shiden mengerang dari dalam Cyclops, berdiri di samping Lena.

“Kabar buruk, Baginda. Aku barusan dapat laporan dari Milan, di Gran Mule …. Ada Legion mendatangi kita!”

“Oh tidak! Kau, dari Federasi, evakuasi bersama kami …”

“… tidak.”

Suara yang menusuk telinga Lena, bercampur suara statis berat, bukan dari Shiden atau perwira Federasi. Sekelompok rudal udara terbang cepat dari timur ke langit udara, menembus awan perak dan bermekaran menjadi bunga api. Tembakan kedua berbelok dan jatuh ke tanah di bawah Eintagsfliege—menuju Legion yang berkerumun di sana.

Siluet berbentuk V helikopter tempur terbang dari atas punggung bukit, rotornya bergemuruh di sekitar mereka, disertai formasi helikopter serba guna penerbangan rendah serta helikopter transportasi. Suara pilotnya berderak-derak dari pengeras suara eksternal helikopter, mengganggu udara pagi segar.

“Kerja bagus, Letnan Satu. Serahkan sisanya kepada kami.”

Helikopter serba guna mengangkut infanteri lapis baja sekaligus helikopter-helikopter transportasi lebih besar, mendarat di medan perang merah.

Kelopak bunganya robek dan tertiup angin sebab pendaratan intens mereka, menggambar pola merah di atas langit biru. Infanteri lapis baja berlengkapi senapan serbu berat berpencar, menyebar ke seluruh area.

Shin mengawasi lewat sensor layar optik retaknya saat satu skuadron bergegas menghampiri Lena dan Juggernaut, awalnya, sepertinya terkejut ketika infanteri lapis baja logam hitam mendekati Lena. Namun dia lega tatkala salah seorang membuka helmnya dan mengekspos wajahnya.

Dirinya yang menyerahkan senapan serbunya begitu saja kala diminta membuat Shin berpikir Lena sungguh belum berubah. Shin menatap linglung selagi mereka kelihatannya kesulitan beradaptasi dengan situasi yang berubah cepat dan, setelah diskusi beberapa kali, membuka kanopi Juggernaut-nya, seketika, Perangkat RAID-nya aktif.

“… kau tidak apa-apa, Shin?”

Suara seorang pria yang berbicara kepadanya bukan kepala staf atau komandan divisi.

“Kurasa kavalerinya tiba tepat waktu. Kami harus menarik pasukan cadangan dari front lain untuk mengakomodasi perubahan rencana, sih.”

Shin mendesah mendengar suara angkuh seorang pria di sisi lain Resonansi. Dia diselamatkan. Dia sungguh-sungguh, diselamatkan.

Ernst. Pas kita kembali, aku harus melempar sesuatu padamu.”

Mungkin sekaleng cat sudah cukup. Tentu saja tutupnya dibuka.

“Apaan—? Kenapa mendadak begini?! Kenapa aku pantas diperlakukan seperti ini padahal cuma mengkhawatirkan anak-anak imutku?!”

Shin memutus panggilannya. Beberapa saat kemudian, Frederica meringis padanya, menekan Perangkat RAID-nya sendiri.

“Aku bersimpati dengan perasaanmu soal ini, Shinei, beneran, tapi jawablah dia. Orang kantoran kerjaan membosankan bodoh itu terisak-isak di telingaku, dan itu menyebalkan banget.”

Shin membuang Perangkat RAID-nya sewaktu menutup panggilan, jadi dia dengan enggan menerima Perangkat RAID Frederica dan menyambung ulang.

“Kau masih ada di garis depan, Ernst?”

“Ayolah, aku ini panglima tertinggi militer Federasi. Bisa-bisanya aku tidak berada di garis depan pada waktu-waktu seperti ini?”

“Misalkan presiden, walau sementara, kena peluru nyasar selagi berlarian di medan perang, negara nanti krisis.”

“Meski sementara … jika itu terjadi, maka terjadilah, dan wakil presiden akan menggantikanku. Sepandanganmu kenapa juga kami punya peran itu?”

Mungkin masuk akal, tapi tetap saja gila mendengarnya, terutama mendengarnya seenak dan segampang mungkin dari presiden sementara suatu negara.

“Menurut laporan pasukan penyerang, kau sudah mengontak mereka …. Seusai operasi ini tuntas, militer Federasi akan memulai operasi penyelamatan Republik San Magnolia. Drone-drone yang dikerahkan Kerajaan Bersatu mencengat transmisi nirkabel mereka. Ketiga negara mengandakan konferensi, dan kami memutuskan mengabaikan mereka setelah kami menerima mereka sebagai penyintas itu tidaklah manusiawi. Dan kami pun menyadari mereka membuat Morpho kedua dan berpangkalan di wilayah berbenteng Republik, ancamannya kelewat besar.”

“…”

“Dari perspektif Federasi, ini adalah operasi penyelamatan untuk saudara-saudara kami … 86, sepertimu. Namun kurasa ini bukan tanah air tempatmu berpulang yang kau inginkan, betul? Jika kau tak mau bertarung tuk menyelamatkan para penindasmu, kami bisa mengembalikanmu setelah pasukan utama maju …”

“Tidak.”

Shin menggeleng kepalanya.

“Aku akan tinggal di sin. Aku tidak betulan mau menyelamatkan Republik …. Tapi ada orang-orang di sana yang tak ingin kutinggalkan mereka kepada nasibnya.”

“… aku mengerti.”

Di sisi lain Resonansi, dia merasa orang yang teknisnya ayah angkatnya tersenyum sedikit.

“Ya. Selain itu … semisal kau sudah menyelesaikan objektif misi, tolong laporkan dengan benar, Letnan Satu Nouzen. Kali ini tak apa-apalah tidak melapor, karena yang lainnya melapor mewakilimu.”

Shin mendongak kaget.

“Ada yang selamat?”

“… harusnya itu yang pertama kali kau tanyakan, keparat.”

Shin mendongak tidak peduli di saat suara lain memotong percakapan. Raiden.

“Percaya atau tidak, seluruh regu, letnan kolonel termasuk, selamat. Satu hal pasti, kau menjatuhkan Morpho setelah ledakan itu, aku khawatir mungkin kaulah yang mati …. Khawatir sedikit, sih.”

“Kurena menangis kek bayi lagi. Kacau dah. Rupanya, Perangkat RAID-nya rusak ketika diserang, dan dia cuma mencoba Beresonansi denganmu.”

“Aku tidak nangis!”

“Kali ini bukan cuma salahmu, tapi ini kali kedua kau membuat Kurena malang menangis, tahu? Bisakah kau berhenti beraksi gila seperti itu?”

Rekan-rekannya yang nyatanya berkumpul kembali, terus berteriak-teriak di Resonansi. Dia tidak tahu berada di surga atau neraka, namun akhirat manapun itu, nampaknya membenci orang-orang ini sebagaimana membenci Ernst. Melihat ke atas, Shin mendapati sekelompok kecil orang-orang berpakaian jas terbang sedang mencodongkan tubuh mereka dari jendela dan melambai padanya dari helikopter serba guna yang terbang di tengah udara—dan satu siluet tinggi berjalan dari bukit tiga kilometer jauhnya.

Kelihatannya kali ini tidak satu pun dari mereka … mendahuluinya.

Begitu Shin mendesah lega, seluruh kekuatan melepaskannya—dan tekanan dari konsentrasinya yang didesak sampai batas pada pertempuran terakhir—menyerangnya dalam bentuk vertigo ringan. Sesaat menutup matanya, Ernst yang sepertinya paham sempurna apa yang terjadi, bicara.

“Kerja bagus, Shin. Serahkan perebutan tempat berpijak pada kelompok penyerang dan istrirahatlah.”

“—diterima.”

“Juga, Frederica. Saat kau pulang, bersiap-siaplah kena disiplin serius.”

Frederica menelan ludah dan selagi menatap Shin seolah-olah memohon bantuan, Shin bicara ke Resonansi:

“Nanti aku kemas dia dalam kontainer dan kukirimkan.”

“Shinei?! Kau berani mengkhianatiku?!”

“Ahahaha, aku mengandalkanmu, Kakak Laki-Laki.”

Meninggalkan tawa tersebut sebagai ucapan perpisahannya, Ernst menutup Resonansi. Di sisi lain, Frederica, memalingkan wajahnya, bersikap merajuk.

“… lagian aku tidak bisa pulang sampai bertemu kembali dengan pasukan utama. Aku ‘kan pulang ketika kau kembali ke Federasi.”

“Bukan berarti kami membutuhkanmu sebagai sandera lagi.”

“Begitulah.”

Hmph tak puas, Frederica meregangkan lehernya untuk melihat Shin di atas. Gara-gara kokpitnya sempit, dia duduk dipangku lutut Shin, biar kepalanya bisa menempel ke dadanya.

“Orang kantoran bego itu memotong percakapan di waktu-waktu terburuk dan menghancurkan semuanya. Kau yakin tidak memberi tahu namamu padanya? Bukannya dia perwira atasanmu di Republik?”

“… aku tak ingat pernah memberitahumu tentang mayor.”

Shin baru sadar saat dia barusan mengatakannya.

Oh, benar juga.

“Sudah lupakah kekuatanku? Kemampuan untuk melihat masa lalu dan masa kini orang-orang yang kukenal mengalir di nadiku.”

… itu benar.

Mata merahnya berkilau bagai anak kucing yang telah memojokkan bayi tikus, membuat Shin merasa barangkali sebaiknya tidak bertanya apa yang persisnya Frederica lihat.

“Ingatan yang kulihat adalah apa pun yang diingat saat itu juga orang yang kuamati, sekalipun secara tidak sadar. Saat wanita itu menyebutkan namanya, kau terkejut tak normal. Jadinya aku melihat jenis hubungan kalian …”

Yah, ini menyebalkan.

“Aku yakin kau mengatakan sesuatu mengenai efek, Kami pergi …? Tentunya kau senang dia mengejarmu, kan? Yakin tidak apa-apa tak memberi tahu dia namamu setelah dia gagahnya mengikuti langkah kakimu?”

Melihat Frederica menyeringai kepadanya, Shin mendesau sedikit. Ada hal yang betul-betul memembuat Shin jengkel soal Frederica dengan bebas menggodanya seperti ini …. Tapi juga terasa pertama kalinya Frederica menampakkan wajah yang cocok gadis seusianya.

“… aku belum bisa memberitahunya namaku.”

Belum selagi dia cuma mencari tempat untuk mati dan tidak membaik sama sekali dari Sektor 86.

“Misalkan dia bilang sudah mencapainya, aku tidak boleh membiarkan inilah yang dia lihat di ujung jalan. Yang dia lihat di saat mencapai kami sepatutnya bukan …”

Shin berlutut di atas bumi hancur ini.

“… sepatutnya bukan medan perang ini.”

Frederica mendesah terheran-heran.

“Bagaimana bilangnya …? Kau benar-benar anak laki-laki.”

“…?”

“Kubilang kau ini semacam makhluk yang bertingkah sok di momen-momen paling ganjil.”

Meninggalkan kalimat mengesalkan tersebut, Frederica meliriknya dan mengangkat alis.

“Kebetulan, kau sadarkah? Yang baru kau katakan adalah jawabanmu.”

Mata Frederica entah kenapa berbinar bangga terhadap wajah kagetnya.

“Tujuan akhir yang dicapai gadis itu pastinya pertunjukan megah yang sebanding usahanya untuk sampai ke sana. Dan jalan yang dia ikuti adalah jalan yang kau tinggalkan …. Ingat-ingat dalam pikiranmu, kau ingin kemanakah?”

Kau sendiri baru menemukan jawaban pertanyaan itu …

Mata merah tuanya—sangat mirip matanya sendiri—balas menatap Shin, tersenyum lembut.

 

Catatan Kaki:

  1. O Datanglah Imanuel atau O come, O come, Emmanuel (Latin: Veni, veni, Emmanuel) adalah sebuah kidung Kristen untuk Advent dan Natal.

Antifon O, yang juga dikenal sebagai O Agung (the great Os) adalah antifon Magnificat yang digunakan pada ibadat sore (vesper) dalam tujuh hari terakhir dalam masa Adven dalam tradisi Kristen Barat, yang biasa disebut Hari Biasa Khusus Adven. Antifon ini juga digunakan sebagai bait pengantar injil pada hari yang sama dalam Misa Gereja Katolik Roma yang dipergunakan sejak tahun 1970.

Antifon ini disebut sebagai “Antifon O” karena masing-masing judulnya dimulai dengan partikel vokatif “O”. Masing-masing antifon adalah nama Kristus, salah satu sifat-Nya yang disebutkan dalam Kitab Suci. Antifon-antifon tersebut adalah:

  • 17 Desember: O Sapientia (O Kebijaksanaan)
  • 18 Desember: O Adonai (O Tuhan)
  • 19 Desember: O Radix Jesse (O Tunas Isai)
  • 20 Desember: O Clavis David (O Kunci Daud)
  • 21 Desember: O Oriens (O Surya Pagi)
  • 22 Desember: O Rex Gentium (O Raja Para Bangsa)
  • 23 Desember: O Emmanuel (O Imanuel)

Dalam ritus Katolik bahasa Latin, Antifon O dinyanyikan atau dibacakan dalam ibadat sore (vesper) dari tanggal 17 sampai dengan 23 Desember secara inklusif. Beberapa Gereja Anglikan (misalnya Gereja Inggris) juga menggunakannya, baik dalam cara yang sama seperti Katolik Roma modern, atau dengan cara penggunaan dalam bahasa Inggris menurut tradisi pada abad pertengahan.

Hubungannya sama 86? O Imanuel adalah kidung terakhir untuk Natal, berhubung Shin hari itu adalah perang terakhir sekaligus penentuan umat manusia, makanya judul babnya adalah O Imanuel, ini kidungnya:

Bahasa Latin:

          O Emmanuel, Rex et legifer noster,

          exspectatio Gentium, et Salvator earum:

          veni ad salvandum nos, Domine, Deus noster.

Bahasa Indonesia:

          O Imanuel, Raja dan Pemberi hukum kami,

          harapan dari semua bangsa dan keselamatan mereka:

          datang dan selamatkanlah kami, O Tuhan Allah kami.

Dari liriknya, lu pasti tahu kalau Shin adalah harapan semua bangsa dan keselamatan mereka. Btw, gua orang islam jadi gatau banyak cuma ngambil arti sebisa mungkin saja, hehe, maap kalau ada yang salah.

  1. Lycoris radiata (Hanzi: 彼岸花, Jepang: ヒガンバナ, bahasa Inggris: Red spider lily) adalah bunga dari keluarga amaryllis, Amaryllidaceae, subfamili dari Amaryllidoideae. … Bunga ini mekar pada akhir musim panas sampai awal musim gugur dan sering dikaitkan dengan hujan lebat.