86 JILID 3 EPILOG

Posted on

Kita Akan Bertemu Lagi

 

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

<No Face kepada jaringan area luas pertama.>

<Seluruh fase operasi selesai.>

<Operasi selesai. Seluruh Legion yang berada di jaringan area luas pertama menangguhkan pertempuran.>

<Mundur ke wilayah dalam kendali Legion.>

 

 

Dapat disimpulkan bahwa operasi gabungan multilateral pertama semenjak pecahnya perang melawan Legion berakhir sukses. Meski begitu, mereka gagal merebut kembali keseluruhan wilayah Legion, namun pendapat ketiga negara adalah lini yang mereka kuasai sepanjang Highway Corridor sampai bagian baratnya sangatlah penting dalam memperluas lingkup pengaruh mereka.

Legion gagal dalam serangan yang perlu dipersiapkan bertahun-tahun lamanya, dan dipaksa mundur, mereka sepertinya takkan sanggup memulai kembali invasi mereka dalam waktu dekat.

Jika kekuatan umat manusia berdiri bersama, mungkin saja mampu melawan Legion. Harapan samar namun monumental.

 

 

“Walau begitu, ini bukan situasi kita mesti berpuas diri.”

Di luar jendela terdapat pemandangan salju pagi turun di atas ibu kota Federasi, Sankt Jeder. Berdiri di depan meja besar dalam kantor kepresidenan, kepala staf angkatan darat front barat dan komandan Divisi Lapis Baja ke-177.

“Kita kehilangan lebih dari enam puluh persen angkatan darat front barat. Kita tidak punya pasukan standar untuk mengisi jumlahnya, jadi kita mendiskusikannya dengan seluruh akademi militer, akademi perwira khusus, dan kamp wajib militer untuk memajukan kurikulumnya, sekaligus mendesak lebih banyak pasukan cadangan. Kita pun tidak boleh memberi pelatihan tak cukup. Dan lebih mendorong masyarakat untuk bergabung kamp wajib militer nantinya menyebabkan penurunan kekuatan nasional kita.”

Selama masa perang, militer adalah jenis industri yang memakan banyak sumber daya serta tenaga kerja meskipun tidak memproduksi apa-apa. Begitu pula kelompok umur yang bertanggung jawab atas kegiatan produksi dan peningkatan populasi dipaksa menyelam ke kolam personel tentara, berangsur-angsur mengikis kekuatan nasional negara. Kerajaan Bersatu dan Aliansi kemungkinannya menghadapi kesulitan serupa. Populasi total mereka menyusut, namun situasinya makin-makin parah.

“Sebaliknya, kita mungkin telah mengurangi pasukan utama Legion, tetapi Weisel dan Admiral tetap. Dan karena mereka adalah senjata produksi massal, kecepatan reproduksi mereka terlampau cepat dibandingkan kita …. Situasi perang ke depannya akan menjadi lebih buruk.”

“Tidak usah bertele-tele, Mayor Jenderal. Maksudmu adalah semisal kita tetap menggunakan strategi maju perlahan-lahan ini, umat manusia akan diinjak dan dikalahkan sebelum berhasil merebut kembali benua …. Benar?”

“Ya. Dan maka dari itu, saya pikir kita perlu mempertimbangkan kembali strategi perang kita …”

Terlepas dari itu, jikalau ada serangan lain berskala serupa menghantam mereka, boleh jadi mereka takkan mampu bertahan.

Begitulah perspektif militer setelah, sekalipun mencapai seluruh tujuan mereka selama serangan skala besar dan operasi penghancuran Morpho, Legion masih unggul dan mengendalikan penuh mereka, memaksa mereka mengalami kerugian besar.

“Sambil mempertahankan pergerakan maju kita, kita akan mengerahkan strategi ofensif terbatas. Selagi mempertahankan lini pertahanan kita sebelumnya, kita akan membentuk dan mengerahkan pasukan khusus independen lalu melancarkan serangan terkonsentrasi pada titik-titik strategis penting bagi Legion. Dan biarpun merekalah kandidat pertama yang saya nominasikan dari seantero front barat, saya terkejut Anda mempunyai saran serupa, Pak.”

Mereka—yang tidak salah lagi para elit bahkan dalam negeri militeristik seperti Federasi.

“86. Prajurit-prajurit muda yang kita selamatkan dari perbatasan lama Republik akan menjadi pasukan serangan bergerak …. Dengan segala hormat, Pak, saya tidak pernah menyangka Anda akan menawarkan anak-anak itu tuk dikorbankan demi kedamaian negara.”
         “Biarpun aku menentangnya, mereka sendiri yang ingin mendaftar—dan apalagi sebagai prajurit lini depan. Tidak ada gunanya berdebat.”

Ernst menanggapi tenang, melihat luar jendela Sankt Jeder bersalju, di mana persiapan penuh dalam rangka Malam Ulang Tahun Suci sedang berjalan, simbol musim dingin itu sendiri.

“Mereka punya sudut pandang sendiri, dan aku tak berhak mengabaikannya hanya karena tak sejalan dengan pandanganku. Semisal mereka masih memilih medan perang, sekurang-kurangnya aku cuma bisa membiarkan mereka tetap bersama, sehubungan Shin … Kapten Nouzen, aku masih perlu menjauhkannya dari bahaya, tahu.”

Dia melihat dokumen elektronik yang ditempatkan di hologram tengah udara. Berkas personel cenayang milik Federasi punya tanda khusus yang disertakan. Berkas personel punya tanda terpampang di atasnya dengan warna mencolok dan diisi dengan banyak kolom teks, keterangan khusus mengenai urutan operasi terbaru.

“Selain membuat penyerangan terkonsentrasi pada titik-titik strategis Legion, pasukan penyerang juga akan dikirim ke negara-negara tetangga sebagai bala bantuan. Negara-negara tersebut juga akan memberikan prajurit misi mereka sendiri di unit, agar menarik perhatian luar …. Seberguna apa pun dia sebagai perangkat peringatan, takkan kubiarkan kau menggunakannya sebagai kelinci percobaan.”

Sementara sang mayor jenderal menegang terhadap pandangan samping yang tertuju kepadanya, kepala staf semata-mata mendengus.

“Sedih melihat Anda mencurigai tentara kami sebegitu tak bermoralnya, Pak.”

Bertentangan kata-katanya, kepala staf tersenyum yang tampak nyaris membanggakan kesalahannya, kemudian dia memiringkan kepala ke samping.

“Apakah Kapten Nouzen ini benar-benar menyetujui gagasan prajurit misi ini? Bukankah perwira yang dipilih untuk divisinya, yang akan menjadi atasan langsungnya, adalah salah satu persekutor lamanya?”

“Dia sudah diberi tahu kabarnya. Dia kembali kemarin untuk mengambil cuti.”

Ernst mengangkat bahu sementara kepala staf mengangkat alis. Skuadron Nordlicht—termasuk Shin—telah berpartisipasi dalam pertempuran tuk merebut kembali Sektor administratif Republik San Magnolia lama. Mereka berhasil merebut kembali semuanya hingga ke Sektor Pertama, yang mana kondisi mereka tengah dikunci, kemudian digantikan dengan pasukan lain, lalu mundur bersama sisa pasukan utama.

Para kombatan yang bertarung tanpa henti selama jangka waktu tertentu menderita penurunan kemampuan tempur mereka. Menjadi bekas negara berorientasi perang yang menghabiskan seluruh waktunya menangani perang belaka bahkan dalam inkarnasinya sekarang ini, Federasi tahu betul pentingnya pergantian pasukan secara rutin dan mengizinkan mereka beristrirahat.

Sesingkat apa pun, anak-anak ini butuh waktu istrirahat.

“Aku mencemaskannya, namun sepertinya kecemasanku tidak berdasar. Lagi pula …”

 

 

Seorang prajurit cuma mengenakan seragam mereka di acara-acara resmi, Shin menutup seragam militernya dengan mantel militer tebal seraya melangkah menyusuri jalan-jalan ibu kota Federasi. Pemakaman nasional yang menempati sebagian besar pinggiran Sankt Jeder, berkabut dengan butiran salju. Di bawah langit cerah yang diselimuti warna putih, berdirilah hutan pohon lilac1 yang mengelilingi kuburan dengan seluruh daunnya ditiup angin, memperlihatkan kulit pohon hitamnya pada kehendak angin dingin. Tabir salju berkabut tipis melukiskan gambar monokrom di atas batu nisan hitam, dan sosok-sosok tentara lain dari berbagai umur serta jenis kelamin yang baru saja kembali dari front barat, berdiri khusyuk di antaranya.

Selama musim dingin, batu-batu nisannya akan dihias serpihan salju. Musim seminya, akan didekorasi kelopak lilac; musim panasnya, oleh mawar bermekaran di bawah bayang-bayang pepohonan; dan selama musim gugur, menjadi ladang bunga selvia2. Bunga-bunga itu dijadikan persembahan kepada roh-roh pahlawan gugur.

Terlintas dalam benak Shin dia tidak pernah menjambangi pemakaman di musim-musim lain selain musim dinign. Ada banyak sekali hal yang belum dilihatnya. Dia berhenti di suatu bagian pemakaman yang dipenuhi kuburan baru, di depan satu batu nisan sederhana.

“—lama tidak bertemu, Eugene.”

EUGENE RANTZ.

Nama yang terukir di pilar batu dengan tanggal lahir dan kematiannya berbeda tujuh belas tahun saja. Salju yang telah jatuh sepanjang malam hingga pagi ini menumpuk bisu dan sunyi di atas kuburan, mengecat segalanya dengan warna lapisan pualam.

“Maaf. Butuh waktu lama sampai aku datang berkunjung.”

Eugene tak ada di sana. Dan biarpun separuh dirinya terkubur di bawah sana, keinginan dan ingatannya tak di sana lagi. Bagi Shin yang dapat mendengar suara-suara hantu—ingatan dan penggalan-penggalan hasrat yang masih tersisa di dunia orang hidup—ini bukan pertanyaan mengenai makna atau Tuhan yang dia yakini. Tidak ada surga atau neraka. Orang-orang mati sama-sama kembali ke kegelapan di kedalaman dunia ini.

Karenanya orang yang dia ajak bicara tidak lain adalah Eugene dalam ingatannya. Namun anehnya, Shin merasa masih memerlukan batu tulis umum ini yang terukir nama Eugene, agar benar-benar menghadapinya.

Saat semua orang yang mengenalnya tiada, bongkahan batu ini yang hanya mengandung nama serta tanggal lahir-mati, semata-mata menjadi catatan belaka. Namun semua orang yang mati dan kembali ke ketiadaan, apakah tentara Federasi yang meninggalkan tanda kuburan ataupun 576 rekan dari Sektor 86 yang memercayakannya nama mereka pada pecahan-pecahan logam campuran alumunium, tak pernah betul-betul menginginkan batu nisan. Mereka cuma ingin seseorang mengingat mereka ada di sini.

“Front barat sama kondisinya ketika kau masih di sana. Entah bagaimana, kami menahan barisan.”

Shin meninggalkan karangan bunga yang dibelinya di pintu masuk pemakaman depan kuburan Eugene. Karangan bunga lili putih yang ditumbuhkan di rumah kaca untuk menahan musim dingin Federasi. Menaruhnya di depan batu nisan granit hitam dipoles, bunganya menampakkan seluruh kemegahan putih indahnya.

Sewaktu seorang wanita tua penjual bunga melihat Shin seorang prajurit—barangkali dia sadari sekilas, mengingat seragam Shin—dia kurang lebih menjejalkan seikat bunga ke tangan Shin, bersikeras boleh gratis diambilnya. Seorang wanita tua, berdiri di depan pemakaman nasional sepagi ini, mendirikan kios bunga. Seakan-akan itulah misinya, dengan bibirnya terkatup dan punggung ditegakkan.

“Semua 86 yang selamat di Republik diberi perlindungan oleh Federasi, dan kini unit baru lagi diorganisir, dengan mereka sebagai pasukan inti. Unit bergerak yang khusus mengoperasikan Juggernaut. Ketika cutiku berakhir, aku pun akan ditugaskan di sana.”

Jumlah pasukannya sedikit di bawah sepuluh ribu, membuatnya seukuran brigade besar. Mayoritas para prosesor yang selamat masuk angkatan darat Federasi, mencapai keputusan sama yang Shin dan kelompoknya buat satu tahun lebih awal.

“… kau pernah bertanya apa yang aku perjuangkan.”

Tepatnya, Eugene hendak bertanya, tetapi dihentikan di tengah-tengahnya, kala itu kali terakhir mereka bertemu sebelum semuanya berakhir. Tidak Shin maupun Eugene kira itu akan menjadi percakapan terakhir mereka. Kematian setimpal mendatangi semua orang—dan sepadan mendadaknya. Oleh karena itu, setidaknya, seseorang harus menjalani setiap momennya dengan cara yang tidak disesali semua orang. Mereka, 86, berjanji untuk hidup dan bertarung sembari memegang harga diri itu. Sebab mereka tidak bisa memegang apa-apa lagi.

“Kalau boleh jujur, aku masih tidak terlalu tahu. Kami … kurasa aku belum punya semacam alasan untuk bertarung seperti yang kau pikirkan. Aku tak bisa kembali ke manapun atau pergi ke manapun. Tidak ada … dan tidak ada yang dipertahankan.”

Keluarganya tiada, dan dia tak punya budaya untuk dicari, dan semuanya ada dalam ingatan tanah airnya yang telah dihancurkan dari dulu kala. Kemudian, suara-suara hantu sebagai penanda jalannya dan ingatan tidak terhitung jumlahnya rekan-rekan yang telah terukir dalam hatinya, satu-satunya motivasi Shin bergerak maju adalah hanya ingin mengakhiri kakaknya. Dan sekarang kakaknya telah tiada, melihat masa depan masih beratnya bukan main bagi Shin. Baik masa depan nan jauh yang entah akan dia saksikan hidup-hidup atau tidak, bahkan hari esok yang terbentang tepat di depannya sama kabur dan samarnya. Dia sukar melihatnya.

Dia masih tidak punya hal untuk dinantikan atau tujuan hidup. Tapi …

“Tapi bila ada satu hal yang aku pahami … adalah aku tak ingin pemandangan yang kutunjukkan kepada mereka, semua orang yang kujanjikan bawa bersamaku, berada di medan perang lain.”

Atau kepadanya, gadis yang dia katakan satu tahun lalu bahwa dia pergi dahulu, yang bertarung sendirian sejak itu, berjuang bertahan hidup di medan perang Republik. Kepada gadis yang berusaha keras untuk menyusul mereka, menunjukkannya medan perang dirinya terbaring babak belur dan dikalahkan di penghujung semuanya akan menjadi kejam nian. Shin tak meninggalkannya perkataan itu di malam terakhir sebelum misi Pengintaian Khusus, dengan kemungkinan bahwa bantuan boleh jadi datang dan permohonan untuk terus bertarung sampai bantuannya datang, karena Shin ingin dia melihat ini.

“… dan lautan.”

Kapan Eugene berdiri di hadapannya, berkata dia ingin menunjukkan adiknya yang belum pernah melihat lautan, pemandangan tersebut?

Sesuatu yang belum pernah dilihatnya dan tak pernah ketahui?

“Masih belum bisa dibilang aku pengen melihatnya, sungguh. Tetapi aku tentu ingin menunjukkannya kepada orang lain. Menunjukkan orang lain yang mereka tidak ketahui. Sesuatu yang belum pernah mereka lihat. Pikirku itulah alasanku bertarung sekarang ini.”

Legion yang menghalangi keinginan itu. Takkan jadi kenyataan dengan dunia seperti ini. Tentu saja, batu nisannya tidak menjawab apa-apa. Hantu Eugene tidak di sana. Tetapi dia mengira masih dapat mendengar teman ramah dan baik hatinya bicara sembari tersenyum, Kedengarannya cukup bagus bagiku.

“Aku akan mengunjungimu lagi …. Dan lain kali, aku akan membawakanmu cerita akan tempat-tempat yang belum pernah kulihat sebelumnya.”

Batu nisannya tidak mengatakan apa-apa, dan seolah menggantikannya, suara kusuk hantu diam-diam merayap ke kesadarannya. Sisa-sisa kesadaran rekan-rekan gugurnya yang masih terjebak di medan perang, membisikkan momen terakhir mereka selagi mencari-cari pembebasan.

Aku juga belum melupakan kalian.

Dia berbalik tanpa bicara, seketika melihat seseorang mengangkat tangannya dari jauh. Kelihatan mirip Eugene—dan kakaknya yang telah lama meninggal—dan sewaktu dia lihat lagi, berubah menjadi sosok seorang gadis berambut panjang menghilang ke dalam selubung musim dingin bersalju. Terlihat mirip Kaie, dan di waktu yang sama, mirip gadis yang tahu-tahu sudah mencapainya. Baik yang telah mati dan yang masih berkeliaran di medan perang. Tanpa Shin sadari, mereka berdiri bersebelahan mengejar rekan-rekan yang belum berada di sana.

Pahlawan tidak terhitung jumlahnya yang berdiri di sana selamanya melihat sang Pencabut Nyawa diam meninggalkan kuburan, tertutupi salju halus.

Wanita tua yang selalu berdiri di pintu masuk makam nasional, bertanya apakah dia hendak mengunjungi kakaknya lagi dan gratis memberikannya sejumlah bunga. Memegang buket bunga lili yang kebesaran untuk dibawa tubuh mungilnya, Nina berjalan menyusuri jalan yang kini akrab menuju kuburan sang kakak. Selama enam bulan terakhir atau kurang lebihlah, Nina akhirnya menyadari kakaknya mati berarti dia tidak akan kembali lagi, dan dia tak akan pernah melihatnya lagi. Bahwa kakaknya dibunuh oleh seesorang dan takkan kembali lagi gara-gara orang itu.

Itu menyedihkan, menyakitkan penuh tak tertahankan, lantas dia lampiaskan kepada orang itu di suratnya, namun tidak datang jawaban. Mungkin orang itu mengerikan sekali sampai tidak mau membalas, atau mungkin dia tidak dapat suratnya sama sekali. Peperangan rupanya memburuk, dan banyak orang mati, jadi mungkin orang jahat itu mati pula.

Nina pikir misal orang itu ke surga, dia harus memberi tahu Eugene dia sangat merasa bersalah. Eugene itu baik, jadi kakaknya pasti akan memaafkan dia. Kemudian mereka bisa jadi teman di sana. Menyakiti seseorang membuat Nina merasa pelik dan tidak enak hati. Boleh jadi bukan hal baik untuk dilakukan.

Lantas dia mendekati kuburan kakaknya, mendapati warna susu putih berbeda dari salju. Nina tertatih-tatih mengambilnya …. Sekarang bunga lili. Saljunya belum menumpuk di atasnya, jadi mungkin baru saja ditaruh ke dekat kuburan. Dia melihat sosok surut seseorang melangkah cukup jauh di jalan setapak antara batu-batu nisan. Laki-laki, lebih tinggi sedikit dari Eugene, mengenakan seragam biru baja sama dengan pakaian terakhir kali yang dia lihat kakaknya pakai. Entah bagaimana dia kelihatan familier—seolah-olah dia pernah meihatnya dan Eugene tertawa suatu kala.

“… anu!”

Dia memanggil lirih kendati kata-katanya tidak bisa menembus tabir salju. Apa dia datang ke sini? Untuk mengenang? Atau mungkin … untuk tidak mati seperti Eugene dan kembali hidup-hidup? Nina kecil tidak tahu apa yang mendorongnya untuk menyampaikan kata-kata selanjutnya. Tetapi, dia merasa mesti mengutarakannya juga.

“Anu …. Terima kasih banyak …!”

Suara gadis kecil ini yang kurang pengalaman berteriak, tidak mampu menembus tirai putih penghalang untuk menjangkaunya. Dan biar begitu, dia melihat sosok kabur di sisi lain salju berbalik melihatnya.

 

 

Di taman musim semi kecil itulah tempat para Juggernaut dan pelayan setia mereka di ujung perjalanan beristrirahat selamanya. Seorang perwira muda Federasi, mungkin seumurannya dan berpakaian seragam biru keabuan Federasi, tersenyum damai kepadanya.

“Ini bukan pertama kalinya kita bertemu. Sekalipun, kurasa ini pertama kalinya kita bertatap muka.”

Lena masih belum tahu alasan banjirnya emosi yang terkandung pada pernyataan itu.

“Lama tak bertemu, Handler One. Namaku Shinei Nouzen: kapten militer Federasi dan mantan pemimpin skuadron Spearhead.”

Ekspresinya berubah menjadi sangat terheran-heran. Mata besar keperakan Lena melebar kaget, dia menatap pria muda yang menghadirkan dirinya. Seorang anak laki-laki seusianya, nyaris tak cukup umur untuk baru-baru ini lulus dari akademi perwira khusus tetapi sudah dipromosikan dua kali hingga menerima pangkat kapten di kerahnya.

Rambut hitam Onyx-nya dan merah tua mata Pyrope-nya. Wajah terpahatnya tampan dan putih.

Lena tidak pernah melihat wajahnya. Kualitas gambar yang dimilikinya terlalu jelek dan tidak jelas untuk melihat perawakan siapa pun. Namun suaranya … suara tenang yang lembut itu, entah bagaimana menenangkan hati walaupun kurang sopan …

 “… Shin …?”

Tentu saja, anak itu nyengir.

“Ini pertama kalinya kau memanggilku nama itu. Ya, ini aku, Mayor Milizé.”

“Kau … masih hidup …”

“Aku. Aku gagal mati lagi.”

Nada dingin itu. Cara bicara terang-terangannya. Air mata mengalir deras di mata Lena tanpa sadar, tetapi dia menahan seluruhnya sekuat tenaga. Dia tak ingin berpaling gara-gara air matanya. Lena merasa seandainya dia beralih—berkedip saja—Shin akan menghilang lagi.

Jadi, dia tersenyum tulus. Ekspresinya mungkin canggung bukan kepalang, tapi saat ini dia tidak mengindahkannya. Dia bertanya-tanya apa yang terjadi kepadanya dua tahun lamanya ini selagi Republik tetap stagnan dan akhirnya runtuh. Bagaimana mereka melintasi wilayah Legion tuk mencapai tanah asing dan datang mengenakan seragam militer berbeda.

Tapi tanpa bertanya pun, Lena tahu mereka mungkin terus bertarung selama dia tahun ini. Karena merekalah, mereka yang berangkat menempuh jalan mereka, dengan tekad terus berjuang sebagai harga diri mereka.

“… aku selalu, selalu mengejarmu.”

Senyum di mata merah Shin mendalam.

“Aku tahu.”

“Dan akhirnya aku berhasil menyusulmu.”

“Kau menyusulku.”

Entah kenapa, rasanya tidak selama itu semenjak terakhir kali dia mendengar suara tenangnya. Lena meraih tangan terulur Shin dengan kedua tangan miliknya. Air mata yang dia tahan sampai sekarang akhirnya mengalir deras, namun senyum tulusnya tak pernah goyah. Dia pikir takkan pernah menuturkan kalimat ini lantang-lantang, namun pada akhirnya dapat dia katakan sekarang.

“Mulai hari ini, aku, juga, akan bertarung bersamamu.”

 

Catatan Kaki:

  1. Syringa vulgaris (lilac atau common lilac) adalah sebuah spesies tumbuhan berbunga dalam keluarga zaitun Oleaceae, yang berasal dari Semenanjung Balkan, dimana tumbuhan tersebut tumbuh di perbukitan berbatu. Spesies tersebut banyak ditanam sebagai hiasan dan telah dibawa ke belahan Eropa lainnya (termasuk Britania Raya, Prancis, Jerman, dan Italia), serta sebagian besar Amerika Utara.
  2. Tanaman Salvia splendens / Scarlet Sage / Tanaman Bunga selvia. Salvia splendens adalah spesies tumbuhan yang tergolong ke dalam famili Lamiaceae. Spesies ini juga merupakan bagian dari ordo Lamiales. Spesies Salvia splendens sendiri merupakan bagian dari genus Salvia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *