86 JILID 3 BAB 8

Posted on

Lari di Sepanjang Medan Perang

 

Penerjemah: Shin Automata

“—mari mulai dengan menjelaskan status kita sekarang.”

Suara pertama yang terhubung ke Resonansi setelah tujuh jam hening adalah satu orang pemuda yang belum pernah Shin dengar sebelumnya.

“Perebutan kembali Highway Corridor oleh pasukan tiga negara sekarang ini hampir selesai. Kami perlu waktu untuk mendudukinya secara menyeluruh, dan kemajuan angkatan darat Kerajaan Bersatu sedikit terlambat, tapi, yah, semuanya sesuai kisaran waktu yang diwajarkan.”

Duduk dalam kokpit Undertaker selagi bersembunyi, menghindari tatapan Ameise, Shin tidak terlalu fokus mendengarkan. Unit patrol tak dekat-dekat amat hingga bisa menangkap suara Shin bicara dalam kokpit, namun mereka tidak cukup jauh sampai Shin dapat bergerak bebas.

Barangkali mempertimbangkan situasinya, orang yang berada di sisi lain Resonansi—nampaknya kepala perwira front barat—tidak menyalahkan Shin atau menyebutnya sebagai tindakan tak hormat.       Karena bagaimanapun, Shin adalah perwira kompi yang mengabaikan perintah perwira komandan.

“Maka dari itu, tujuan kedua operasi telah tercapai …. Akan tetapi, tujuan utama kita untuk mengeliminasi Morpho sayangnya belum berhasil. Oh, fakta kami tidak memperkirakan keberadaan unit kedua adalah kesalahan besar sisi markas besar perwira staf. Kalian yang berada di lapangan tidak bertanggung jawab atasnya.”

Keheningan apatis terjadi di antara rekan-rekannya yang tak berpartisipasi dalam percakapan tetapi terhubung dengan Resonansi. Lagi pula tidak ada yang memedulikannya.

“Jika kita gagal melenyapkan Morpho, seluruh operasi ini takkan berarti apa-apa. Karenanya, seluruh pasukan akan meneruskan penyerangan mereka. Kita akan batasi ruang lingkup desakan kita ke area-area yang mengelilingi rel tua kereta api kecepatan tinggi dan berangsur-angsur mempersempit jarak selagi kita berbaris mengejar Morpho.”

Shin melintasi jaringan rel tua kereta api kecepatan tinggi di peta wilayahnya, memastikan rute yang pasukan utama tempuh selagi kepala perwira menjelaskannya. Mereka harus maju 150 kilometer ke selatan di sepanjang perbatasan Kekaisaran lama lalu berbelok ke timur di pertigaan jalan.

“Kalian saat ini berada di kilometer barat tujuh puluh angkatan darat pasukan utama. Kecepatan jelajah unit kecil seperti kalian dan pasukan utama seukuran korps itu sepenuhnya berbeda. Jaraknya mungkin hanya akan memanjang dari sini, jadi aku ingin kalian memastikannya sekali lagi. Kalian yakin ingin terus lanjut mengejar Morpho?”

“… sedari awal misi ini tidak ada dukungan atau bala bantuan. Tak ada yang berubah.”

“Namun satu hal akan berubah, yaitu lamanya waktu kalian untuk berkumpul kembali bersama pasukan utama. Aku akan berterus terang. Kami tidak mampu menjamin pasukan utama akan mencapai destinasi kalian atau kalian akan bertahan hingga kami sampai sana.”

Shin mendesau ringan. Apa gunanya mengatakan itu saat sudah sejauh ini? Dari awal sudah sangat jelas buat mereka.

“Tapi tidak ada cara lain untuk melakukan ini, bukan?”

Kepala perwira tampaknya tersenyum pahit.

“Berkata demikian memojokkan kami, tahu …. Seseorang harus melakukannya, dan walaupun kalian bilang sudah siap, tidaklah adil tak memberikan kalian opsi mundur begitu situasinya berubah. Maksudku kalian boleh kembali jika mengubah pikiran.”

“Itu pasti lelucon. Seandainya kami membuang-buang waktu untuk kembali, Morpho akan mundur lebih dalam ke wilayah Legion. Melenyapkannya akan jauh semakin sulit.”

Belum gua terjamahin, lupa ehe

Shin merasa kehadiran senyum kepala staf kian lebar.

“… misal kalian mundur, kesulitan misinya takkan penting lagi untuk kalian, benar?”

“Mengingat kami ujung-ujungnya akan terbunuh apabila Morpho tidak ditangani, kita semua sama saja nasibnya. Apa gunanya kabur jika kita esok hari akan mati?”

“Begitukah …? Yah, itu saja yang mesti kami laporkan. Ada pertanyaan?”

“Tidak, pak.”

  

  

Setelah mengambil alih permukaan telah memungkinkan Federasi menyebarkan tembakan antiudara dan membakar Eintagsfliege, artinya pesawat terbang bisa saja diterbangkan ke sekitar garis depan.

“Ya ampun, anak-anak itu tidak pedulian. Atau barangkali tidak fleksibel adalah istilah benarnya. Aku tak enak hati sama mereka, tapi kalau begini, cepat atau lambat mereka akan mati dalam pertempuran.”

Segera setelahnya kepala staf mencemooh, menyerahkan Perangkat RAID-nya ke ajudan terdekat. Yakin melihat situasinya dengan mata kepala sendiri akan lebih bisa diandalkan ketimbang laporan, dia akan mendatangi lini depan yang sekarang ini sibuk dengan persiapan serta reorganisasi demi kelanjutan proses mereka.

Entah bagaimana, mereka akhirnya sampai di sebuah bukit kecil yang punya pemandangan sempurna Kota Kreutzbeck tua. Tempatnya masih penuh para penyintas yang memilih menetap di lini depan, bala bantuan yang baru datang serta orang-orang terluka dan gugur yang dikembalikan ke garis belakang. Suara tentara yang bertanggung jawab atas suplai serta reorganisasi bercampur deru mesin truk yang diisi kantong mayat. Dekat Vánagandr berasap dan rusak, truk-truk tempur lewat satu per satu diisi penuh infanteri lapis baja juga tandu memuat tentara terluka.

Dia menyipitkan mata ke tempat kosong yang menjadi sisa-sisa daerah perkotaan Kreutzbeck seusai diamuk Morpho, pura-pura tak menyadari bagaimana tentara infanteri lapis baja menjadi kaku kelelahan ketika mereka sadar ada perwira tinggi di tengah-tengah mereka.

Melihat reruntuhan Reginleif yang rusak, dia mendapati Grethe yang duduk di kokpitnya sedang meringis, nyaris tak terluka, kontras dengan mesinnya.

Ya, nyaris tak terluka. Mereka siap menerima kenyataan kematiannya begitu mereka kehilangan sinyal Nachzehrer, namun mengagetkannya, dia baik-baik saja. Kepala staf menyembunyikan fakta itu dari mayor jenderal yang terlepas dari bagaimanapun wajah depannya, dia masih mengkhawatirkan Grethe.

“Persisnya siapa yang akan mati lebih dulu atau mati nanti, Willem …? Aku yakin si letnan satu asal Republik berdarah blasteran itu merusak pemandangan bagi mantan bangsawan, Onyx berdarah murni sepertimu, tapi ayolah.”

“Pikiranku tak sesempit itu, Grethe. Mereka yang berdarah campuran punya pesona dan daya tarik tersendiri. Sepenggal keindahan aneh setiap satu generasi.”

Bibir kepala staf melengkung tersenyum.

“… dia tidak mencemaskanku. Sepertinya kau tak berhasil menjinakkannya.”

“Tentu saja dia tidak cemas. Kalau aku membuat cemas seorang bocah yang umurnya sedekade lebih muda dariku, jangankan mati oleh Legion. Rasa malunya bakalan membunuhku.”

Dan selain itu, mobilitas berbahaya Reginleif—fakta Reginleif-nya sesuai visi dan kebutuhan Grethe—diberikan kepada mereka.

“Kelihatannya keterampilanmu belum berkurang sedikit pun, Wanita Laba-Laba …. Black Widow (Janda Hitam) pembunuh Legion, ya?”

Grethe mendengus.

“Hentikan itu, Belalang Sembah. Lagian kau tahu bagaimana aku dapat julukan itu.”

Kepala staf tertawa kecil.

“Tentu saja aku tahu. Omong-omong, akulah yang membuat-buatnya. Pengantin yang harus mengenakan gaun berkabung bahkan sebelum sempat mengenakan gaun pengantin itu jarang-jarang.”

“Sampah.”

Dia mengulurkan tangan ke Grethe yang mengumpatnya, kemudian Willem membantunya turun dari Reginleif. Sepuluh bawahannya—para manusia hewan Vargus—sedang mendaki bukit. Bertukar pandang dengan sersan muda yang melihat mereka, Grethe mengangkat bahu.

“Aku melakukannya demi menghormati si bego mati itu, meninggalkan seorang wanita yang menolakku sebulan sebelum dia menjadi pengantinnya. Terutama ketika aku dan mayor jenderal bersiap-siap mengusik kalian berdua dengan menghiasi gereja memakai mawar, tahu?”

“…”

Karena marah pada orang bego yang dimaksud, mereka malah memasukkannya ke peti mati—yang bahkan tidak ada jenazahnya sebab tak bisa menjemput apa-apa—penuh kelopak bunga sialan.

“… aku tidak merasakan apa-apa soal monster itu. Tapi aku tidak suka melihatmu menangisinya. Jadi karena itulah, aku tidak terlalu ingin dia mati dalam pertempuran.”

 

 

Mereka menyembunyikan Juggernaut ke semak-semak tinggi area hutan ek hijau terpencil, tempat mereka nampaknya menghindari deteksi Ameise. Langkah kaki samar unit patrol serta rintihan penderitaan mereka pelan-pelan memudar, lalu Shin menghembuskan napas ditahannya. Melihatnya demikian, Raiden yang berada dalam Wehrwolf tidak jauh dari sana, bertanya:

“Mereka sudah pergi?”

“Iya. Tapi tunggulah sebentar lagi untuk jaga-jaga saja …. Ayo istrirahat selagi berjaga-jaga.”

Kata-kata Shin membuat ketegangan di sisi lain Resonansi mengendur sedikit. Dia merasa beberapa rekannya merileks. Kokpit Reginleif barangkali lebih mendingan daripada kokpit sesak Juggernaut Republik, tetapi tingkat kenyamanan dan bertahannya masih di prioritas paling rendah. Demi meminimalkan area yang diproyeksikan di bagian depan mesin, kokpit Feldreß disempitkan, belum lagi memperhitungkan stres pilotnya.

Seketika keluar kokpit, mereka mendapati matahari yang bahkan belum terbit sewaktu operasinya dimulai, kini hampir sampai puncaknya, sinar matahari disaring daun ek, lembut menerangi bayangan pepohonan. Sinar mentari berpotongan, melukis lingkaran tak sempurna di tempat kelima Juggernaut berada—ditemani Fido yang mengikuti mereka.

Sekarang.

Seluruh sorot mata mereka teruju ke Fido …. Lebih tepatnya, ke kontainer yang ditarik. Sebelum mereka dikerahkan, mereka sibuk sekali oleh pengarahan dan pemeriksaan Reginleif hingga tidak sempat menggeledah kontainernya. Dan benar saja, mereka belum melihat dia pagi itu.

Merasa semua orang memelototinya, Fido membunyikan Pi lirih dan bergerak dengan berat hati. Kontainernya tidak ada kacanya namun seseorang di dalam merasakan tatapan mereka dan panik bereaksi.

“M-meong …. Meong …”

“Lu goblok ya?!”

Semua orang kecuali Shin bareng-bareng balas mengejek (meski Anju sendirian yang bilang, Lu bego ya?!), walaupun suaranya lirih sebab mereka berada di wilayah musuh. Mengabaikan reaksi klise lebay, Shin bicara.

“Fido.”

Pi.”

Menggeser sensor optiknya menunjukkan rasa malu tiada gunanya, Fido menghentak kaki depannya ke tanah.

“Buka kontainernya. Itu perintah.”

“… Pi.”

“Jangan, Fido, jangan buka …. Ah—”

Di belakang kontainer terbuka, duduk meringkuk di tengah magasin selongsong 88 mm dan paket energi, adalah Frederica.

Sebelum dia bisa bilang apa-apa, Theo merogoh kontainernya dan mencengkeram kerah belakangnya kemudian ditarik keluar seakan-akan dia kucing susah diatur.

“Kau sedang apa di sini …?!”

“Aaah …?!”

Frederica tersentak mendengar suaranya.

Mereka mungkin menekan suaranya tetapi teriakannya tulus marah.

“Kau tidak tahu kita bisa saja takkan kembali?! Kenapa kau mengikuti kami ke sini?! Kalau-kalau terjadi sesuatu, nanti kau akan mati bersama kami!”

Sejenak, mata merah tua Frederica hidup kembali.

“Sikap itulah yang menakutiku, dasar orang bodoh kikuk!”

Terkejut, Theo terdiam. Menyadari bahaya yang diundang suara tingginya, kedua tangan Frederica menutup mulut. Dia mendongak gugup dan Shin menggeleng kepala. Ameise sudah menjauh dari mereka, dan dedaunan lebat menyebarkan sebagian besar suaranya, tampaknya mereka tak mendengarnya. Mereka mungkin pura-pura, tapi tidak ada pergerakan dari pasukan utama mereka pula.

“Astaghfirullah, apa maksud kalian takkan kembali? Singkirkan tekad semacam itu. Berapa lama lagi kalian berniat memegang teguh kesediaan untuk mati kapan pun itu? Berapa lama lagi kalian berniat terjebak di Sektor 86? Ernst memerintahkan kalian untuk kembali apa pun yang terjadi, benar …? Itulah takdir yang dipercayakan kepada kalian.”

Jadi, sambil mengangkat bahu kurus dan mulusnya, dia melanjutkan.

“Aku ini sandera, dimaksudkan agar kalian tidak kabur. Bukan dari medan perang, namun dari misi kembali hidup-hidup kalian …. Kalian tak ingin diri kecil, polos, lemah ini terlibat, betul?”

Wajahnya yang masih terlihat agak pucat, bibir Frederica sendiri tersenyum.

Balas menatap, Shin mendesau.

“Raiden, misal aku menyuruhmu untuk membawanya pulang …”

“Jangan minta aku, bung. Satu-satunya orang yang kemungkinan bisa melakukannya hanya kau.”

Sesuai kata Raiden. Mereka tujuh puluh kilometer jauhnya dari pasukan utama dan menuju timur; menjauhi Legion itu mustahil terkecuali tahu posisi mereka.

“Tapi kita tidak punya pilihan lain. Okelah, dia bisa tinggal dalam Reginleif-ku …. Lagian, cuma aku yang bisa membawanya.”

Gerakan Juggernaut sudah cepat sampai-sampai merusak badan manusia, dan Frederica takkan mampu bertahan berkendara bersama garda depan seperti Shin dan Theo serta aksi-aksi sinting mereka. Penembak runduk seperti Kurena tak boleh diganggu konsentrasinya, Anju juga sama yang spesialis pertarungan satu lawan banyak. Menempuh perjalanan bersama Fido yang tak punya lapis baja jelek, jadi dari proses eliminasi hanya Raiden tersisa untuk membawanya.

“Maaf.”

“Jangan lakukan ini lagi …. Biarpun kau tidak melakukan ini, kami tidak bergerak menuju kematian kami.”

“… aku paham.”

Merasakan mata merahnya beralih menghadap Raiden, Shin menatap ke kepalanya dan berkata:

“Frederica.”

Gadis itu mengangkat kepalanya, lalu Shin sembarangan melempar sesuatu ke arahnya. Frederica tangkap dengan kaget, kemudian dia membelalak seketika melihat apa yang dipegangnya.

Satu pistol otomatis.

Pistol tipe lama yang digunakan Republik, lebih besar dari model standar Federasi.

“Kau tahu cara menggunakannya, kan? Misalkan kami terbantai atau kau tidak mampu bergabung dengan pasukan utama, gunakan itu untuk bunuh diri. Legion tidak mempermainkan mangsanya, namun mereka juga tak menghabisi orang-orang yang gagal bunuh diri pula.”

Shin sudah tidak tahu berapa kali melihat rekan-rekannya yang tidak dapat diselamatkan lagi tapi tak mati dan memohon untuk dihabisi.  Dan pistol persis itulah yang mengakhiri hidup mereka. Shin tak punya keterikatan dengan Juggernaut lamanya atau seragam Republiknya, namun pistol inilah satu barang yang tidak terpisahkan.

“Kau yakin …? Ini pistol yang kau gunakan untuk melancarkan serangan terakhir kepada Eugene dan rekan-rekanmu.”

“Bukannya sudah kusuruh untuk tutup mata?”

“Bodoh. Ingatanmulah yang aku lihat. Karena kau berniat membawa semua orang bersamamu, kau …”

Menghentikan dirinya mengucapkan akhir kalimat itu, Frederica memeluk pistolnya.

“Kalau begitu, aku akan senang hati menyimpannya …. Tapi tangan mungilku tak kuat menangani alat seberat ini. Aku akan mengembalikan paksa pistol ini ke tanganmu begitu kita kembali ke pangkalan …. Jadi kita harus kembali sama-sama.”

Hari mulai larut, dan mereka tidak dapat bergerak dikarenakan unit patrol yang masih mengintai di sekitar, lantas mereka putuskan untuk memanfaatkan waktunya buat makan siang lebih awal. Mereka mulai mendirikan kamp kecil, kecuali Frederica yang sama sekali tak tahu harus melakukan apa soal berkemah. Mereka tidak boleh membuat api unggun, jadi mereka gantikan dengan ransum perang yang sudah sepaket sama perlengkapan standar Federasi. Ransumnya dipenuhi makanan yang disterilkan dan dibungkus serta, mempertimbangkan situasi seumpama tidak ada api, terlaminasi dalam pak pemanas ransum tanpa api1.

Selagi mereka mengambil ransum dipanaskan yang terpampang simbol elang berkepala dua Federasi dan penjelasan cara penggunaan dari kontainer Fido lalu dibentangkan di tanah abu-abu perkotaan yang disamarkan, Shin mendengus.

“Kurasa mereka tak menulis isi setiap ransumnya karena mereka ingin membuat makananya sedikit lebih menarik, tapi di saat-saat seperti ini, jadinya sedikit menyebalkan.”

“Bener.”

Raiden berdiri di dekatnya, mengangguk setuju, namun Frederica tak paham maksud mereka.

Ransum tempur ada 22 variasi, dan tidak mungkin tahu dapat apa kecuali kau buka. Membukanya serasa bak membuka hadiah, yang mana mungkin itulah maksudnya di sini. Namun seketika Raiden menyerahkan ransum yang dipanaskan pemanas ransum tanpa api, Frederica akhirnya menyadari maksud mereka.

“Ini lumayan panas, jadi hati-hati agar tidak kepanasan.”

“Hmm.”

Rupanya Eintagsfliege dan Rabe tidak dikerahkan di atas mereka. Entah selama apa perjalanan mereka kali ini, lantas Fido menemukan tempat dengan sinar matahari cerah bagus dan menyebarkan panel surya selagi kelompoknya membuka pak-pak mereka.

Pak terlaminasi harusnya diangkut dalam peti dan dijatuhkan dari udara, jadi barangnya kuat, tapi semua sisi selain kemasan luar dapat dibuka menggunakan tangan. Sesudah membuka paknya sendiri, Frederica menahan napas. Bau daging gosong keluar dari lubang pak.

Dia telah menghabiskan setengah hari dalam kontainer Fido. Kontainernya tak bertekanan, sebab duduk dalam Nachzehrer yang khusus penerbangan ketinggian rendah, dan tidak punya pertahanan antinuklir atau biokimia, dikarenakan kontainernya tidak pernah dimaksudkan untuk mengangkut orang. Karenanya, selama Frederica di sana, bau medan perang menyusup bebas—termasuk bau asap dan baja meleleh sebab panasnya bom juga … bau daging manusia terbakar yang berasal dari paknya membuatnya teringat dengan detail jelas.

Shin yang mengira kejadian ini mungkin terjadi, melihat Frederica menutup mulutnya dan mengajukan pertanyaan kepada keempat orang lain.

“Di sini apa ada yang paknya tidak berisi daging?”

“Oh, aku dapat ikan trout2. Ayo tukar, Frederica.”

Kurena menyabet paknya dari tangan si gadis, memberikan ransumnya sendiri ke tangan Frederica. Bau khas daging hewan memudar dan Frederica menghembus napas lega. Theo lalu bicara seraya mencemplungkan sendok yang disertakan pak ke daging rebus ala pedesaan ke dalam paknya:

“Keknya sudah jelas, tapi makanan-makanan ini dibuat dengan asumsi takkan dimakan seorang anak. Porsinya agak banyak, jadi makan saja semaumu.”

“Aye. Tapi …”

Ingatan akan bau daging hangus masih tertinggal dalam lubang hidungnya. Menusuk garpu plastik ke daging ikan abu-abu lunak yang punya kelembutan khusus yang sering kali dimiliki makanan kemasan, Frederica akhirnya angkat bicara:

“Aku heran kalian masih bisa makan daging …”

Frederica sepertinya langsung menyesali perkataannya yang hampir seolah mengkritis kemampuan stagnan mereka di hadapan banyaknya kematian yang mereka temui. Shin dan teman-teman lain kelihatannya tidak tersinggung.

“Eh. Kami sudah terbiasa.”

“Makan sehabis membawa orang-orang terluka itu tidak biasa. Kami tak terlalu mempersoalkannya, dan perut keroncongan kami sama-sama saja.”

“Awalnya, kau bahkan tidak mau melihat daging, tapi setelah beberapa waktu kau melupakannya.”

Sesudah bicara, kelima orang itu mengunyah makanan mereka dengan kecepatan mengherankan, sungguh-sungguh tidak mengaitkan horornya medan perang dengan daging masak. Di sini wilayah musuh dan mereka tak punya banyak waktu untuk bersantai-santai. Menguatkan tekadnya, Frederica berkonsentrasi makan sup ikan trout dan krimnya. Dia mengunyah, kemudian menelan.

Kurena mencibir selagi melihat ekspresi Frederica menegang merasa jijik bisu.

“Bukannya terlalu kejam buat selera beradabmu, putri?”

“… iya.”

Perlu beberapa usaha untuk membuat ransum menjadi lezat mempertimbangkan rasanya bisa memengaruhi moral, tetapi ujung-ujungnya, nilai kalori serta umur simpan paling diprioritaskan, berarti rasanya kerap kali dikorbankan. Makanan tempur Federasi biasanya disediakan oleh dapur pangkalan atau mobil dapur yang dikirim ke medan perang, dan ransum-ransum ini adalah sisaan yang normalnya ditaruh di tempat penyimpanna.

Ransumnya masih cukup enak bagi mayoritas prajurit berpangkat tinggi dan perwira non-komisioner maupun perwira junior, tetapi bagi maharani terakhir juga putri angkat presiden sementara, itu makanan paling jauh dari masakan orang kaya yang biasa dia rasakan.

Sayangnya, itu pun wajar mengingat ransumnya untuk tentara yang kelelahan di medan perang, tetapi bumbunya kelewat kental dan sangat lembut sampai-sampai teksturnya tak terasa. Aroma tak enak bahan pengawet panas menempel di lubang hidungnya.

“Maaf mengatakan ini lagi, tapi … aku heran kalian bisa makan ini …”

Untungnya mereka tidak salah paham dan menanggapi dengan cekikikan.

“Nyatanya, ransum ini satu tingkat lebih tinggi ketimbang ransum yang biasa mereka sajikan. Bernholdt bilang ransum lama rasanya seakan makan pati.”

“Lucu banget bagaimana orang selalu membandingkan makanan tidak enak sama makanan yang belum pernah kau makan selama jutaan tahun.”

Contohnya sabun, atau spons, atau tanah liat, atau kain lap yang digunakan untuk menyeka tumpahan susu …

“Tapi pati, katamu …”

Timur Jauh rupanya punya beberapa cerita rakyat atau mitos yang menceritakakan jika memakan pati burung kecil akan dihukum dengan memotong lidahnya, tapi barangkali patinya dibuat dengan cara meratakan nasi. Pati yang dibicarakan Bernholdt kemungkinan besar semacam pati untuk membuat lem sintetis …. Bukannya Frederica tertarik memakan jenis tepung jagung yang dikisahkan Timur Jauh.

“Bahkan itu mungkin seratus kali lebih baik daripada sampah yang mereka berikan kepada kami di Sektor 86. Silahkan cari di seluruh dunia, dan takkan kau temukan makanan lebih buruk.”

“Rasanya seperti apa?”

Ditanya, para 86 saling bertukar pandang dan menjawab berbarengan, termasuk Shin yang menahan lidahnya di sebagian besar percakapan. Menyadarkan Frederica bahwa, memang, boleh jadi seburuk itu …. Jika bahkan Shin yang tak mementingkan rasa makannya, menampakkan ekspresi jijik tidak jelas.

“Bahan peledak plastik.”

“…”

Rasanya, bahkan tidak mendekati kata makanan.

“Berhenti?”

Shin menyipitkan mata curiga dan membisikkannya tepat sesaat mereka hendak berangkat. Sepertinya, Morpho telah berhenti bergerak sesudah maju jauh ke timur dan tak beranjak sejak itu.

“Pemeliharaan …. Mereka mungkin mengganti laras senjatanya.”

“Mungkin.”

Apa pun masalahnya, mereka tahu ke mana harus pergi sekarang. Posisi mereka sekarang ini adalah di sudut barat laut perbatasan Kekaisaran lama. Menempuh rute terpendek menuju lokasi Morpho di sektor barat daya mengharuskan mereka untuk memotong wilayah Legion secara diagonal.

Lima Juggernaut dan satu Scavenger bergegas melewati hutan tua. Memberikan mereka banyak perlindungan alam, sebab Löwe dan Dinosauria tidak mampu melewatinya dikarenakan banyak jalinan akar dan semak belukar. Sebagaimana yang telah diputuskan di siang hari, Frederica berkendara dalam Wehrwolf. Kokpit Juggernaut punya kursi tambahan yang dapat dilipat untuk mengangkut dan merawat tentara terluka, namun dibuat untuk keadaan darurat dan tidak dimaksudkan dalam waktu lama; dengan kata lain, kursinya terlampau keras dan kecil.

Oleh sebab itu, Frederica tak lama setelahnya pindah dan sekarang tengah duduk patuh di pangkuan Raiden. Menurut perkiraan Shin, semestinya dalam waktu dekat tidak ada pertempuran, dan dengan tinggi Raiden, Frederica takkan jadi penghambat, lantas dia membiarkannya melakukan hal sesukanya …. Meskipun seandainya orang lain melihat ini, mereka kemungkinan takkan berhenti mengejeknya tentang ini seumur hidup.

Baguslah kehidupan nyata tak seperti kartun robot raksasa yang ditonton raiden ketika masih kecil, tidak ada jendela holo yang memungkinkan mereka melihat kokpit satu sama lain dalam waktu nyata, dipikir Raiden sambil mendesah.

“Begitu pertempuran dimulai, kembalilah ke kursi tambahan. Dan jangan mengatakan apa pun. Nanti lidahmu kegigit.”

“Aku tahu. Jangan anggap aku bayi.”

Tapi selagi dia katakan, Frederica terus saja teralihkan pemandangan luar layar optik, bersemangat layaknya anak kecil. Dia bisa jadi menyembunyikannya, tetapi matanya berkilau penasaran dan kegirangan.

“Oh, itu rusa! Raiden, ada rusa di sana!”

“Yoi …”

Melirik ke samping, dia mendapati dua rusa di kejauhan, mata hitam mereka tertuju ke para penyusup aneh di tengah-tengah mereka. Satu rusa tidak punya tanduk—mungkin induk betina—dan satunya berbadan kurus dan mulus. Menyadari perasaannya soal betapa lezatnya mereka terlihat barangkali takkan berakhir bagus, Raiden menyimpan pikiran itu ke dalam dirinya sendiri.

Raiden sudah melihat banyak sekali hutan gelap di Sektor 86 yang hampir bebas dari pengaruh manusia sampai-sampai kebosanan. Namun bagi Frederica, itu cerita yang sepenuhnya berbeda. Dia hanya tahu benteng terakhir Kekaisaran, kota Sankt Jeder, juga markas garis depan serta lingkungannya …. Bagi dia, pemandangan ini seluruhnya baru.

Dan hal itu bukanlah perasaan tak familier bagi Raiden.

Hampir satu tahun lalu, suatu kali ketika musim gugur tahun lalu, seketika mereka pertama kali dikirim dalam misi Pengintaian Khusus mereka. Tatkala itu mereka melihat banyak sekali pemandangan …. Melihat sesuatu yang belum pernah kau ketahui sebelumnya dengan mata kepala sendiri betul-betul hal istimewa.

Itu berlaku sama bahkan bagi Raiden yang telah ditahan dalam Sektor 85 selama lima tahun dan jarang-jarang melihat televisi. Dia semata-mata hanya dapat membayangkan bagaimana rasanya rekan-rekannya yang dilempar ke Sektor 86 sepuluh tahun lalu dan cuma mengetahui medan perang juga kamp konsentrasi.

Kapankah itu? Mereka berhenti di suatu kota tua tercampakkan entah berantah. Tiada satu pun awan kala itu, dan matahari terbenam memenuhi langit. Reruntuhan disinarkan cahaya senja yang menyapu lanskap kota yang seluruhnya dibuat dari batu putih dan memantulkan bayangan deretan pohon gingko3 disertai dedaunan musim gugur berjatuhan, menghasilkan kilau keemasan.

Kurena bermain-main senang di reruntuhan kota, tersandung daun-daun berguguran dan jatuh spektakuler. Shin tertawa saat melihatnya, dan mata Kurena langsung memerah.

Iya …. Dulu. Dia tertawa. Jadi kapan semuanya menjadi seperti ini …?

“Raiden …. Kau beneran sahabat Shinei.”

“Banget. Kami cuma tak bisa berpisah saja.”

Penegasan pernyataan teramat blak-blakan Frederica tak akan dia akui, yang hampir refleks Raiden sangkal, tapi mata bersungguh-sungguh Frederica tak goyah.

“… maksudmu sejak pertempuran tadi.”

“Tidak, maksudku semenjak serangan skala besar.”

Raiden mencemoh. Itu bukan pertama kalinya dia menyebutkan ini.

“Kami semua tidak tahu apa yang terjadi waktu itu selama serangan skala besar, jujur …. Ada banyak sekali musuh pas itu, kurasa dia cuma tidak tahu apa yang ada di sekitarnya.”

Musuh akan terus-terusan berdatangan tidak peduli sesering apa mereka ditembak hancur. Lengkingan dan ratapan para hantu tiada habisnya.

“Situasinya sekacau balau itu …. Kenapa waktu itu kau Beresonansi?”

Mereka tegas melarang Frederica Beresonansi sebelum menyerang dikarenakan mereka tak memperbolehkan gangguan macam apa pun ketika segala halnya seburuk itu. Dan mereka tidak mau Frederica mendengar siapa pun mati, belum lagi besarnya jeritan para hantu bahkan membuat Shin pucat pas. Dan dia tidak ingin melihat hati muda Frederica hancur.

 “Republik … Gran Mule runtuh. Jadi aku ingin memberitahumu …”

“…”

Si tolol itu tahu dan menyimpannya sendiri, bukan? pikir Raiden pahit. Shin mampu membedakan pergerakan Legion bahkan dari jauh sekali, lantas mustahil dia tidak tahu andai Republik dihancurkan. Dan meski Shin tak memedulikan para babi putih manja berleyeh-leyeh di Republik …

Kami pergi, Mayor.

Dia betul-betul peduli kepada Handler terakhir mereka sampai ke tingkat tidak biasa.

Frederica meringkuk, memeluk bahunya dengan tangan kurusnya seolah-olah dirinya merinding.

“Tapi dia tidak mau menjawabku. Saat itu, Shinei …. Dia sama seperti Kiriya di penghujung hidupnya.”

Itu jawaban lebih buruk dari yang diantisipasi Raiden.

“… seburuk itu, ya?”

“Shin tidak sanggup melihat apa-apa. Hanya musuh di depan matanya. Sama sebagaimana kau bertarung sebelumnya …. Tidak, jadi lebih parah seusasi serangan skala besar …”

“Iya, ini pertama kalinya dia tidak sadar kami bahkan ada di sana.”

Tidak—ada satu waktu lagi itu terjadi. Dulu di Sektor 86, selama pertempuran terakhir mereka di distrik pertama, seketika berhadapan kepala hilang yang Shin cari-cari selama lima tahun: hantu kakaknya. Dia bilang akan mengurusnya sendiri, dan lupa rekan-rekannya di sana …

… jadi ini tuh itu.

“Frederica, seandainya … seandainya kau disuruh pergi dan meninggalkan orang bodoh ini, maukah kau tetap di sini?”

Tatapan merahnya tak goyah sedikit pun ketika mengangguk.

 

 

“Kelihatannya mereka memutuskan bergerak lagi.”

Bagian dalam kendaraan kendali lapis baja yang nampak amat tidak berkelas untuk digunakan keluarga kerajaan, terlihat gelap dengan siluet sosok seseorang bersandar ke kursi komando dan seorang gadis berlutut di sampingnya hampir tidak kelihatan dari luar. Sang pangeran mahkota bicara, berdiri di depan pintu masuk kendaraan, berpakaian seragam kerah panjang militer Kerajaan Bersatu.

“Cenayang Federasi memimpin pengejaran Morpho melaporkan bahwa naga itu tampaknya berhenti di wilayah selatan atas Eaglebloom. Militer Federasi dan angkatan darat Aliansi mulai menyerang, secara bertahap mengontrol rute. Militer kita beroperasi bersama detasemen lain dari pasukan Republik untuk menekan sisi utara Eaglebloom.”

Sesaat sosok dalam kendaraan mengusap matanya dengan punggung tangan, gadis yang duduk di dalam tetap menatapnya, mata hijau bak kucingnya berbinar-binar dalam kegelapan.

“Aku ingin kau melakukan satu pekerjaan lagi …. Kau punya cukup suku cadang untuk menggantikan yang hilang?”

“Aku sudah memerintahkan garis belakang tuk mengirim apa pun seadanya terlebih dahulu, kakak Zephyr. Pasukan sebesar korps perlu bersiap sampai malam untuk kembali menyerang, jadi saat itu persiapan kita harusnya selesai.”

Putra mahkota tersenyum elegan mendengar respon bijaknya dan mengangguk.

“Sepertinya rencananya adalah memanfaatkan angkatan darat kita sebagai pengalih perhatian untuk mendukung penyerangan, tapi meski begitu, jika pasukan utama Federasi pergi ke selatan, Legion pastinya akan sadar …. Apa kita punya tindakan penanggulangannya?”

“Nampaknya militer Aliansi berencana mengeluarkan senjata antiradar yang mereka kembangkan. Antiradarnya berbentuk debu serpihan sekam4 yang membutakan Rabe dan Ameise sekaligus mengganggu komunikasi Legion. Hanya bekerja dalam waktu singkat, dan jangkauannya selebih-lebihnya hanya melingkupi wilayah selatan, namun apabila mereka gunakan seluruhnya, semestinya cukup untuk mengulur waktu hingga militer kita memutuskan tindakan.”

“Sekali lagi, Aliansi agak habis-habisan. Senjata mereka cuma efektif sekali melawan Legion, menimbang seberapa cepat monster-monster mekanis itu beradaptasi.”

“Itu keputusan natural, sebab jika kita kalah di sini, takkan ada kali lain.”

“Seusai kehendakmu kakak Zephyr …. Namun demikian—”

Akhirnya mengoreksi perikau tak sopannya sebab tidak menatap kakaknya dan menutup mata—yang lebih tinggi hak waris dan pangkat militernya—sosok itu memalingkan pandangan ke arah putra mahkota.

“Mereka mengirim tentara anak-anak ke misi bunuh diri menggunakan pesawat purwarupa yang tidak bisa terbang sendiri …. Mereka mengutuk drone tanpa awak Republik namun kelihatannya tidak mengindahkan muka mereka di publik juga.”

“Burung penyanyimu5 sama memuakkannya …. Semuanya hanya akan jadi lebih sulit mulai dari sini. Pikirkan juga penanganannya.”

“Sesuai kehendakmu.”

 

 

Sekelompok pesawat membumbung tinggi di langit merah selatan, menyisakan jejak putih di belakangnya. Pesawat-pesawat ini adalah drone tanpa awak kecil kendali jarak jauh.

Bergerak lebih cepat melebihi respon Stachelschwein, mereka meledakkan diri di tengah udara, menyebarkan massa serpihan sekam yang memantulkan sinar matahari terakhir hari itu, bercampur dan membentuk debu hitam obstruktif.

Gelombang kedua drone tanpa awak menyerbu masuk dan meledakkan diri juga, diikuti gelombang ketiga dan yang terakhir gelombang keempat yang rentan terhadap tembakan antiudara.

Debu-debu partikel sekam menyebar, sementara mematikan jaringan komunikasi Legion.

Akan tetapi, penghalang ini tak memengaruhi tipe Pengintai yang berada di luar lingkup pengaruh. Walaupun pola serangan ini tidak ada dalam basis data mereka, Legion dapat memperikarakan asalnya, kemudian semut-semut mekanik dengan rakus mengumpulkan data mengenai debunya dan drone-drone yang menyebarkannya, dilaporkan ke jaringan area luas. Sensor sensitif mereka tidak mampu melihat menembus debu dan seluruh komunikasi dengan unit kawan yang dipengaruhi debu telah terputus.

Kesimpulan—ini senjata antiradar yang memotong dan mengacak-acak seluruh cahaya juga gelombang elektromagnetik. Membutakan mata musuh adalah prosedur dasar sebelum maju menuju wilayah mereka. Tetapi betapapun jelasnya aksi ini, Legion memperkuat pertahanan mereka baik di sekitar debu logam ataupun sektor lain secara merata.

Beberapa saat seusainya, pasukan Kerajaan Bersatu dan Federasi memulai penyerangan mereka di sektor lain sebelah utara. Bagaimanapun penyerangan itu adalah pengalih. Masing-masing komandan dari kedua sektor mengirim permintaan bala bantuan.

 

 

“Mereka bergerak. Kelihatannya pengalihan ke utara berhasil; Legion mengambil umpannya.”

“Dua pengalihan, ya? Orang-orang di utara dan selatan pasti habis-habisan.”

Kamp mereka berada di sisa-sisa sebuah desa kecil dalam hutan yang mereka jambangi sepanjang hari. Terbuka jendela katedral yang berdiri di seberang posisi mereka, melempar bayangan berliku ke seluruh alun-alun tempat mereka menyembunyikan Juggernaut. Raiden menggeleng kepala.

“Kutebak pasukan utama akan bergerak sekarang juga …. Posisi mereka nanti cukup jauh dari kita sekarang.”

“Mereka berencana maju dengan bergerak sepanjang malam, jadi pikirku itu akan menutup sejumlah jarak di antara kita.”

“Ya, sudah kuduga.”

Tak seperti pasukan utama yang bisa memanfaatkan jumlahnya dan memperkenankan tentaranya beristrirahat secara bergiliran, unit kecil seperti mereka mesti berhenti untuk istrirahat atau mereka takkan bertahan. Juggernaut mereka perlu diservis setelah bergerak sepanjang hari. Mereka kuat bertahan beberapa hari tanpa tidur, tapi efisiensi dalam segala hal yang mereka lakukan—termasuk bertempur—akan menurun.

Syukurlah, Morpho nampak diam. Percaya kepada teori pemeliharaan. Morpho punya laras 800 mm, lantas memuat beberapa tonnya mungkin memerlukan jumlah sangat besar. Lapis bajanya bahkan sanggup membelokkan selongsong 88 mm, membuat setiap modul lapis bajanya teramat-amat berat, mungkin langsung bertempur begitu selesai mentransfer diagram struktur prosesor sentral berdampak pada kebutuhan perbaikan juga.

Penduduk lama desa ini telah pergi sesudah diserang Legion, atau bisa jadi lebih cepat dari itu, lantas bangunannya belum dirusak pertempuran. Boleh jadi masih ada tungku atau kompor yang masih bisa berfungsi, alhasil ketiga gadis, termasuk Frederica, masuk ke rumah-rumah untuk memeriksa dapur mereka. Theo mengunjungi rumah-rumah hunian untuk mencari kamar bagus yang bisa mereka tinggali, dan sekarang, cuma Raiden dan Shin yang ada di dekat katedral.

“… Shin.”

Shin mengarahkan pandangan tanpa emosinya ke Raiden, lalu sebelum sempat membalas dengan, apa? apatisnya, Raiden potong dengan ucapannya sendiri.

“Bawa Frederica dan kembalilah.”

Ada jeda lama sebelum Shin menjawab.

“Kenapa?”

“Untuk apa kau tanyakan kenapamu padaku? Sudah kubilang di siang hari, kaulah orang yang paling mampu melakukannya. Kau satu-satunya orang yang sanggup kembali dengan selamat di tengah Legion berkeliaran.”

“Tapi kita sedang mengejar.”

“Dia berhenti bergerak dan biarpun mulai bergerak lagi, dia cuma bisa bergerak di sepanjang rel, jadi kau beri tahu kami saja lewat Para-RAID. Dan untungnya, tak seperti terakhir kali, pasukan lain menarik perhatian besar dan memancing pandangan musuh ke arah mereka.”

Shin mendadak mencibir. Senyum setajam pisau di bibirnya.

Iya, ekspresi itu lagi.

Senyumnya mirip bilah.

Seakan gila. Bagai iblis penggila perang hendak berjalan menuju kematiannya.

Senyum sama yang dia tampakkan sebelum menantang kakaknya.

“Kau kira Legion akan benar-benar disibukkan dengan pengalihan pasukan utama? Bila konfrontasi langsung, Federasi tidak mampu menandinginya. Menyeberang wilayah harusnya cukup untuk membuktikannya.”

“Masih mendingan daripada menarikmu bersama kami …. Aku tahu kepalamu tidak beres dari awal, tapi baru-baru ini jadi lebih parah, dan pertarungan terakhir kita memastikannya.”

Bertarung bagaikan berjalan di tengah jurang antara hidup-mati, kebarbarannya yang mirip tindakan bodoh itu normal bagi Shin. Namun Shin juga senantiasa memahami anggota regunya dan berkepala dingin yang memungkinkannya mengamati situasi peperangan dari sudut pandang luas. Jadi walaupun Raiden meragukan kewarasan orang itu, dia tidak pernah merisaukannya atas hal itu.

Tetapi akhir-akhir ini keseimbangannya lamban laun runtuh. Tarian kosntan Shin di tengah jurang sama cerobohnya seperti biasa, tapi satu-satunya hal yang dapat dilihat mata Shin adalah musuh berdiri di depannya—pertempuran sengit nan sukar melawan mesin-mesin jagal bernama Legion ini yang jauh lebih terspesialisasi dan optimal untuk membunuh dan berperang melebihi manusia manapun.

Seakan-akan dia mendambakan sesuatu yang menunggu di akhir pertempuran.

“Kau hampir dibawa ke sana …. Apa yang merasukimu?”

Apakah hantu kesatria Frederica, pria yang belum pernah dia temui? Ataukah kegilaan perang itu sendiri?

“… tak ada yang spesial.”

Raiden mendecakkan lidahnya. Dia tak mau percaya itu, tapi …

“Kau pikir aku beneran percaya itu, tolol?”

Atau mungkin Shin benar-benar tidak tahu apa yang gemetar goyah di balik wajah datarnya: konflik perasaan yang menyiksanya beberapa waktu sekarang.

“… tidak percaya apa?”

“Sayangnya bagiku, aku sudah lama mengenalmu. Artinya aku bisa menyadari beberapa hal tentangmu, sekalipun kau sendiri tidak sadar.”

Kau tidak bisa melihat ekspresimu sendiri. Dan kau tak tahu sedikit pun soal tampangmu sekarang.

“Kau ini goyah seolah sedang bimbang …. Seakan kau ini kembali ke bagaimana dirimu bertahun-tahun lalu.”

Sewaktu Raiden pertama kali bertemu Shin, dia kelihatan kacaunya bukan main. Seakan menatap tong mesiu. Shin barangkali tidak punya banyak keahlian sosial belakangan ini, tapi masih peningkatan besar dibanding bertapa tetutupnya dia dulu. Dia bicara sama orang-orang hanya selama pengarahan, ketika ada pemberitahuan, dan saat menghabisi orang-orang yang sekarat di medan perang.

Dia jarang bicara dengan sesama rekan-rekan regu 86-nya atau kru pemeliharaan. Selayaknya implikasi gelarnya, dia adalah seorang pencabut nyawa yang menghadapi seseorang hanya tatkala kematian datang merenggut nyawa mereka …. Dan kemungkinan besar, kendati dia menganggap mereka rekannya, Shin tidak pernah membuka hatinya kepada siapa pun.

Dipikir kembali kala itu, itu wajar. Dia nyaris dibunuh kakaknya dan kemudian kakaknya mati tanpa pernah memaafkannya. Dia konstan ditugaskan ke sektor-sektor pertempuran paling sengit, kemudian rekan setimnya terus berguguran, meninggalkan Shin.

Kau …

Kau tidak mati, meskipun kau bersamaku, kan?

Enam bulan setelahnya, sesudah regu mereka dibubarkan, mereka naik pesawat transportasi yang membawa mereka ke tugas baru seketika itulah Shin mengatakannya. Suaranya sedikit lebih nyaring waktu itu—suara seorang anak, tatkala itu belum berubah. Pada saat itu, Raiden mengabaikannya dengan berkata, Kau ngomong apa? namun waktu itu Shin mungkin masih berpikir, di suatu tempat dalam hatinya, bahwa kematian kakaknya dan kematian rekan-rekannya entah bagaimana adalah kesalahannya.

Tapi itu bukan salahmu, bung.

Baru-baru inilah seusai Shin berhasil menerima situasinya, Raiden dapat mengatakannya kalimat itu tanpa dibalas Shin. Hanya dalam beberapa tahun terakhir ini sewaktu mereka dapat rekan Penyandang Nama yang selamat beberapa tahun di medan perang, seperti Kurena, Theo, dan Anju …. Waktu mereka dapat rekan-rekan yang tidak gampang dibunuh.

Mata merah tua Shin gemetaran bak dia menahan sesuatu, dan dia menunduk ibarat menyembunyikannya. Selanjutnya dia berkata tanpa menatap Raiden:

“Kalau begitu, kalian mestinya bawa kembali Frederica. Lebih baik aku pergi sendirian ketimbang harus membawa lebih banyak beban.”

“… kau tadi bilang apa?”

“Seandainya ada yang harus tetap tinggal, harusnya aku sendiri. Kalau kau berniat kembali, mestinya kau tak menapaki rute tanpa jalan pulang.”

“Kenapa, dasar kau …!”

Tanpa sadar tangan Raiden mengulur sendiri.

Dia meraih kerah jaket panzer6 Shin dan melangkah maju selangkah, mendorongnya ke pilar di belakang mereka, membuat suara datar dan kasar.

“… itu dia. Itu yang kubicarakan.”

Saat pertama kali mereka bertemu, ada perbedaan tinggi signifikan antara keduanya, dan sekarang tiada bedanya, sekalipun mereka beranjak dewasa.

Dia menatap tajam mata merah sama itu, ucapannya ditumpahkan dari sela-sela gigi terkatupnya.

“Berhenti berpikir mengorbankan diri sendiri akan membuat segalanya jadi lebih baik. Seandainya ada yang harus tetap tinggal? Berhenti bicara seolah kau tidak kembali dari sini.”

“… aku tidak berniat mati.”

“Iya, kuyakin tidak. Tapi kau tak sepenuhnya memegang teguh pemikiran kembali hidup-hidup, kan?!”

Kalau kau berniat kembali, tukasnya. Seakan-akan itu bukan urusan Raiden. Seolah-olah tidak masalah semisal Shin mati. Ibarat bilang seumpama dia seorang yang mati, takkan ada orang yang terlukai. Dan itu bukan hal baru. Terjadi satu tahun lalu, pada perempuran terakhir Misi Pengintaian Khusus mereka, saat dia mencoba bertindak sebagai umpan. Dan bahkan sebelum itu, di pertempuran terakhir Sektor 86, kala dia menghadapi hantu kakaknya.

Fakta Shin percaya sepenuh hati semuanya akan baik-baik saja bila semuanya berakhir ketika itu juga dan menyakitkannya terlihat jelas.

“Kenapa juga kau membunuh kakakmu? Bukannya biar kau bisa melanjutkan hidup? Kau tak hidup hanya demi membunuh kakakmu, kan …? jangan campur dua hal itu!”

“Kalau begitu …”

Suara Shin terdengar bak berderak, tapi di satu sisi, nadanya hampir mirip teriakan.

“Kalau begitu, apa tujuan semuanya? Apa yang harus aku …?!”

Shin menyela pertanyaannya, menyemburkan kata-katanya sambil hampir merasa marah, seolah-olah dia ketakutan. Shin terdiam, dia sadar begitu menanyakan pertanyaan ini, dia sama saja mengakui dirinya sendiri tak tahu jawabannya.

Ya, itu benar … akhirnya aku paham.

Orang ini … mirip bilah. Dia ditempa demi satu tujuan—dipertajam tanpa henti demi satu tujuan tersebut. Dan tatkala tujuannya selesai, bilahnya menjadi sangat rapuh sampai-sampai remuk dan hancur sehancur-hancurnya. Dialah tipe orang rapuh itu.

Kok bisa aku sampai sekarang tidak juga tahu?

“… aku tidak mau mati. Itu saja. Dan menurutku itu sudah cukup. Aku yakin yang lainnya pun merasa sama.”

Dan barangkali itulah satu-satunya alasan seseorang harus tetap hidup.

Tetapi Shin telah diserang dan dibunuh, dibilang lebih baik jika dirinya tidak ada, dan dia bertarung tanpa henti, sampai kini, untuk menebus dosa tersebut. Hidup seperti itu, Shin mungkin tidak mengizinkan dirinya hidup demi sesuatu selain demi hidup saja.

“Terserah kau memilih jalan yang mana. Tapi kau bisa mengandalkan kami juga, tahu …. Misalkan kau merasa kewalahan, boleh saja kau berhenti dan beristrirahat. Jadi …”

Seperti yang kau lakukan selama pertempuran terakhir Misi Pengintaian Khusus, di saat kau memilih bertindak sebagai umpan. Persis yang kau lakukan selama konfrontasi terakhir di Sektor 86, ketika kita menghadapi hantu kakakmu. Kala kau beraksi ibarat kami tidak di sana …

“… jangan coba-coba bertarung sendirian.”

“Kau tahu, waktu mereka menyisihkanku seperti ini, rasanya aku jadi satu orang dalam suatu kelompok yang tak dianggap sebagai pria. Yah, hal semacam itu bukan bidangku lagian, jadi tidak apa-apalah, kurasa.”

“Shin dan Raiden lagi pula sudah saling kenal dari dulu. Banyak hal terjadi di antara mereka seblum bertemu kita.”

“Kurasa.”

“Masa?”

“Keknya mereka sedang beradegan, bertarung demi persahabatan, seperti dalam komik-komik. Tanya Raiden soal itu pas dia kembali.”

… wah.

Bersembunyi di balik penutup dan berbisik satu sama lain sembari mengintip berurutan dari atas-bawah adalah Anju, Theo, dan Frederica. Penutup mereka, kebetulan adalah kontainer Fido yang telah dipindahkan sampai pintu masuk katedral.

Anggota terakhir anggota perkumpulan mereka, Kurena, tangannya ditahan Anju dan mulutnya disekap sebab dia berusaha mati-matian mengatakan sesuatu namun cuma dapat menggumam, Mmm, dan, Paah, Kurena melihat Shin dan Raiden bergelut dan bersiap melompat masuk layaknya anak anjing marah, tapi Anju menangkapnya dan menenangkannya.

Setelah memastikan pembicaraannya telah selesai dan mereka berdua pergi (Shin melepaskan diri dari cengkeraman Raiden dan menjauh sesudah perkelahiannya terlihat telah berakhir), Anju akhirnya melepas Kurena. Tiba-tiba dilepaskan di tengah perjuangan membebaskan diri, Kurena tersandung ke depan beberapa langkah lalu berbalik dan bermaksud membentak mereka, namun dibungkam Theo yang menghajarnya sampai mampus.

“Kau tahu, Kurena, kau menyela pun takkan menuntaskan apa-apa. Barangkali malah memperburuk situasinya. Tahan sedikit dirimu, gadis.”

“Apa—? Tidak …. Itu tidak mungkin!”

“Kalau kau masuk, Shin akan betul-betul pergi, mengakhiri percakapannya di situ juga.”

“Cowo punya hal-hal yang lebih baik mereka simpan mati daripada membiarkan seorang gadis melihat mereka rentan, tahu?”

“… ah, iya, Anju. Tapi misal kau bilangnya seperti itu, jadinya membuatku depresi, jadi bisakah tidak bilang begitu? Lagian, itu bukan cuma dialami cowo saja. Cewe-cewe pun mengalaminya juga.”

“Aku rasa.”

Dia tersenyum manis, Theo menanggapinya dengan mendongak dan mendesau gundah gulana.

Sepertinya semenjak Daiya mati, aku malah kedapatan serangkaian nasib sial yang biasanya menimpanya …

Meskipun itu pikiran yang tidak dituturkan Theo. Candaannya kelewat buruk, dan dia tidak boleh membiarkan Anju mendengarnya. Mereka semua menyeret bayangan orang mati, telah melihat banyak sekali rekan-rekan mereka mati.

Tapi maksud itu …

“… Shin benar-benar telah lama meneruskannya. Akhir-akhir ini dia begitu aneh.”

Theo pula tidak dapat membayangkan masa depan. Namun perihal Shin, rasanya dia sama sekali tidak melihat ke depan, bak menutup pikiran dan mencoba tidak memikirkannya. Orang mati itu masa lalu. Kau tidak bisa melakukan apa pun untuk mereka selain meratapi jenazahnya, sebab mereka hanyalah sisa-sisa seseorang yang telah lama meninggal. Jadi mencoba melihat masa depan selagi masih dihantui masa lalu …. Barangkali itu lebih sulit dari yang bisa dibayangkan siapa pun.

“… sebetulnya, dia sudah aneh semenjak pertempuran terakhir sebelum bahkan kita sampai Federasi. Walaupun dia tidak pernah membiarkan kita, atau dirinya sendiri, berangkat ke pertempuran yang dia ketahui tidak ada kemungkinan kembali dari sana …”

Dan itu dikarenakan hingga saat itu, Shin harus memastikan mengistrirahatkan jiwa kakaknya. Dia mesti bertahan hidup … demi tujuan itu.

Kurena meringis dan mengerang tak puas.

“Kurasa itu tidak benar.”

Kemudian Theo bicara sembari setengah terpejam:

“… kau harus menghadapinya langsung, Kurena. Kau tidak bisa terus mengejar punggungnya seperti ini.”

“Itu …”

“Shin sebenarnya bukan … seorang pencabut nyawa demi kita, tahu?”

Dia bukan idola untuk kita kagumi, untuk kita andalkan. Implikasi itu membungkam Kurena. Tatapannya mondar-mandir sebelum dia membuang muka canggung.

“… yaudah.”

“Kau selalu saja mengkhawatirkannya, Anju …. Kau tahu?”

Anju tersenyum pahit mendengar pertanyaannya.

“Bagaimanapun, aku juga sama … aku tahu rasanya keluarga sendiri bilang tidak menginginkanmu. Sepenuhnya mengubah pemikiranmu tentang apa anggapan dunia kepadamu.”

“…”

“Kau terus saja berpikir semuanya mungkin salahmu. Kau tahu, logisnya, tidak begitu, namun rasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri tidak pernah sirna …. Dan dalam kasus Shin, kakaknya yang bilang tidak membutuhkannya, kata-kata itu bukanlah hal paling berpengaruhnya, kan? Sesuatu semacam itu tidak hilang sendiri.”

Kurena melemaskan bahunya.

“Jadi kita bersamanya … belum cukup?”

“Ujung-ujungnya, seolah-olah dia mengatakan kita semata-mata bersamanya sampai kita mati. Kita hanya mengandalkannya sepihak, jadi kau pahamlah dia bertingkah seakan kematiannya bukan urusan kita.”

Yang artinya, hubungan mereka dengan Shin tidak setara. Dan itulah sebabnya Shin tak memperlakukannya sebanding, Theo menyadarinya seraya mendesah dalam hati. Shin membiarkan mereka mengandalkannya, memikul beban mereka … tapi bukan berarti dia bagikan apa pun kepada mereka.

“… aku ingin tahu apakah kita akan merasakan hal sama juga, kelak. Barangkali iya. Kita tidak pernah mempertimbangkan masa depan, atau apa yang akan kita perbuat setelah ini.”

Membayangkan masa lalu, tahu mereka akan mati lima tahun setelah masuk tentara, adalah belas kasih tersendiri. Mereka sanggup menahan kengerian medan perang dan kedengkian para babi putih karena mereka bisa melihat akhirnya di balik cakrawala. Andaikan mereka dapat bertahan selama itu saja, mereka akan menang. Mereka bisa bertarung hingga tetes darah penghabisan dan mati dengan senyuman. Paling tidak mereka punya martabat kecil itu.

Namun kini mereka disuruh melanjutkan hidup, untuk bertarung dan kembali hidup-hidup, tanpa melihat akhirnya. Dan seketika mereka berpikir mesti hidup selama entah berapa tahun, entah berapa dekade, untuk waktu yang sangat lama … kelangsungannya saja sudah membuat mereka membeku ketakutan.

Dapatkah mereka, yang tidak memiliki apa-apa selain harga diri, menopang diri sendiri selama itu padahal sekarang mereka telah kehilangan harga diri tersebut? Memikirkannya saja menghilangkan seluruh hasrat mereka tuk merenungkan masa depan.

“Shin punya tujuan nyata untuk mengalahkan kakaknya, dan menyadari tujuan itu pasti memaksanya memahami dirinya tidak punya tujuan di luar itu. Dan boleh jadi sama buat kita. Tidak ada yang benar-benar kita inginkan, tak ada yang kita nantikan di ujung jalan.”

Mereka dipersilahkan pergi ke mana saja, namun itu sama saja tidak punya destinasi nyata. Bagai berdiri sendirian di tengah tanah kosong.

Mereka tidak cuma tak mampu pergi ke manapun; mereka hanya bisa berdiri di satu tempat, dan sekalipun mereka merungguh lalu merana, tidak seorang pun ada untuk menolong mereka. Sama saja seperti orang yang tidak eksis.

Pada akhirnya, mereka ujungnya akan terjatuh ke dalam kehampaan melumpuhkan.

Hanya saja bagi Shin terjadi sedikit lebih awal.

Theo mendesau pahit.

“Hanya karena dia garda depan bukan berarti dia mesti mengurus hal ini sebelum kita juga …”

Artinya, sesamar apa pun, mereka masih bisa bersiap-siap ketika harus menghadapi fakta sederhana itu secara langsung. Mereka kudu menerima fakta tidak bisa hidup sesuai kehidupan mereka di medan perang Sektor 86, siap mati di hari apa pun.

“Tapi menurutku sudah tipikalnya Shin untuk terlalu merisaukan kita, meski awalnya tidak terlihat seperti itu.”

“Tentunya.”

Mengangguk, Theo melirik Kurena.

“Cuma mau bilang, Kurena, sekarang tuh kesempatan besar untukmu. Kau bisa memanfaatkan depresinya, tahu?”

“Cuma mau bilang, Theo, walau itu kesempatan besar buat dia, hanya wanita menjijikkan yang memanfaatkannya. Dan itu tidak cocok untuk Kurena.”

“Betul.”

“K-kau salah! Bukan itu yang kumak—“

“Iya, iya. Mendengarmu mengatakan itu mulai membosankan. Maksudku, kau tidak ahli menyembunyikannya.”

“Selain itu, kau sendiri sudah mengakuinya, Kurena. Apa gunanya bilang begitu sekarang?”

“Itu …”

Kurena memerah berupaya membantahnya tetapi mendadak lebih tersipu lagi. Selanjutnya bertanya dengan suara paling lirih yang bisa mereka dengar:

“… pikirmu dia sadar juga?”

“…”

Theo dan Anju saling bertukar pandang. Jawaban pertanyaan itu adalah jawaban kejam, cukup kejam sampai mereka ragu mengatakannya di depan muka Kurena.

“… aku anggap dia sadar juga dari dulu tapi mengiranya sebagai, perasaan damba kekanakan dan keinginan untuk memonopoli perhatian atau semacamnyalah.”

Dan seseorang langsung menjawabnya begitu saja.

“Dia memperlakukanmu sebagai seorang adik perempuan … adik perempuan menyusahkan, menyulitkan. Jujur saja, dia mungkin tidak menganggapmu sebagai seorang wanita.”

“…”

Ah. Apa barusan jiwa Kurena meninggalkan raganya?

Saat Anju menghadap Frederica sambil menampakkan senyum tak percaya dan meraih bahunya, Theo melirik Frederica sekilas yang menggeleng-geleng wajah memucatnya dan mencoba menyelamatkan jiwa hancur Kurena.

“Maksudku …. Ayolah. Dia tentu menganggapmu rekan yang bisa diandalkan. Bukannya untuk saat ini sudah cukup?”

“I-iya. Lagian a—aku ini penembak runduk hebat! Aku bisa diandalkan total!”

Theo mengangguk, karena itu memang benar. Bagi seorang ahli pertarungan secara langsung seperti Shin yang perlu seseorang yang mampu memberikan tembakan perlindungan akurat di tengah-tengah pertempuran kecil jarak dekat, Kurena adalah rekan tak ternilai yang sulit didapat.

… mungkin.

“Tapi tetap saja …. Yah, anu. Jadi Republik jatuh, ya …?”

Selama satu dekade, Republik telah menindas 86 dengan kebesaran dan pengaruh satu negara kemudian memerintahkan mereka untuk berbaris menuju kematian masing-masing—lalu hilang sekejap mata.

“Aku cuma melihatnya dengan mengamati Kiriya, jadi aku hanya menyaksikan Gran Mule runtuh dan pemandangan Legion membanjiri reruntuhannya. Tidak seperti Federasi, lini depan hampir langsung dihancurkan. Dan kecepatan kejadiannya …. Aku ragu mereka sanggup mempertahankan hal-hal kenegaraan di bawah kondisi itu.”

“Tentu. Republik bersedia mengorbankan 86 jika itu demi kelangsungan hidup mereka, dan mereka mendasari seluruh strategi pertahanan mereka ke sekitar itu.”

“Dan pada akhirnya, kita mesti ikutan mati bersama mereka …. Beneran deh, kelewat menjijikkan untuk diutarakan.”

Para babi putih tak peduli sedikit pun, tetapi bagi Alba yang betul-betul menganggap mereka orang, sekaligus sesama 86, fakta seluruh negeri dipaksa masuk ke kebodohan ini telah lenyap begitu saja …

Mereka sungguh-sungguh tak bisa merayakan apa pun.

Kurena mendesah sedih.

“Shin kemungkinan tahu lebih dulu …. Kendatipun dia bilang kita tetap maju.”

Itu mungkin kata-kata pertama yang dia percayakan kepada orang lain—pertama kalinya ada orang yang ingin dia percayakan sesuatu.

“Mayor tidak pernah menyusul kita, kan …?”

Mendengar suara gemerisik daun-daun berguguran, Shin berbalik dan mendapati Fido berdiri di sana. Juggernaut 86 menikmati istrirahat sejenak mereka di sudut jalan beraspal alun-alun setelah penggunaan berat sepanjang hari. Merasakan tatapan sensor optik bundar Fido kepadanya, Shin mengangkat bahu, berdiri di sebelah Juggernaut-nya.

“Kau tidak usah khawatir. Aku takkan pergi sendirian.”

“… Pi.”

“Tapinya, aku akui … pergi sendirian akan mempermudah semuanya.”

Dengan begitu, dia tidak perlu menggali kuburan lagi.

Satu-satunya orang yang mendengar sang Pencabut Nyawa menggumamkannya adalah Scavenger mekanik patuh yang senantiasa mengikuti jejaknya.

 

 

Bergerak melalui lapangan hijau-beludru berkilauan bintik-bintik putih bunga, Kiriya bergegas, menyebar kelopak bunga di belakangnya. Naga mekanik raksasa melaju melewati wilayah Legion tanpa penghalang. Melarikan diri dari hutan, dia melintasi jembatan, memotong sungai kemudian menyeberang bukit yang bagaikan gelombang pasang laut, dan akhirnya berhenti di tepi sektor tugasnya.

Walau dia kuat sendirian menghancurkan benteng, tubuh miliknya sekarang ini punya kekurangan perlunya pengisian daya yang memakan waktu lama.

Menembakkan beberapa ratus selongsong menjadikan larasnya tidak berguna, menggantinya saja butuh waktu lebih dari setengah hari …. Aspek ini takkan pernah tidak mengganggunya.

Kecepatan jelajah Feldreß putih itu mungkin setara Kiriya, tapi tidak seperti dirinya yang berkelana tanpa hambatan melintasi wilayah kawan, mereka harus menerobos garis musuh. Mereka takkan secepat itu menyusulnya.

Dia melirik unit pemeliharaan yang memulai pekerjaan mereka, lalu tatapannya teruju kepada bayangan abu-abu besar berdiri di cakrawala.

<Pale Rider kepada No Face. Melaporkan kedatangan di sektor yang ditentukan. Pengemboman akan dimulai ulang setelah pekerjaan pemeliharaan selesai, empat puluh jam dari sekarang, pada subuh hari.>

<Diterima.>

Baiklah.

Reuni dan konfrontasi tak terduga dengan kerabatnya atau pertunjukan pesta kembang api yang ‘kan menandai awal berakhirnya ras manusia. Yang mana yang lebih dulu …?

 

 

“Mayor Jenderal, waktunya bangun.”

Selagi penyerangan ketiga negeri berlangsung sepanjang malam, artinya unit-unit tempur berperang bergantian. Para personel militer masih bisa tidur. Baik di dalam jip tempur atau dalam ruang kargo Vánagandr mereka, para kombatan tidur di atas tempat tidur darurat. Itu berlaku sama untuk para perwira di Markas Besar yang maju lebih dalam ke medan perang sesuai perubahan lini depan.

Mayor Jenderal mengerutkan kening kepada kepala staf yang berdiri di pojok tenda kanvas yang berfungsi sebagai Markas Besar. Dia sudah berpakaian rapih, bahkan di jam-jam mengganggu ini, dan tatapannya tidak puas.

Pria ini bergadang bersamanya semalam, mengerjakan rencana operasi hari ini, dan barangkali tidur lebih lambat darinya, namun dia tak terlihat lebih buruk sama sekali.

“Ini perbedaan usia kita, Richard …. Atau begitulah yang ingin kukatakan, tapi kau masih tiga puluhan, bukan? Misalkan kau tidak berhati-hati, nanti kau buncit.”

“Kau masih ceria juga, Willem …? Jadi muda memungkinkanmu melakukan hal-hal di luar kemampuan. Tahu-tahu nanti kau akan sepertiku.”

“Iyakah, sekarang?”

“Boleh saja membicarakan tujuan penting. Nanti akan menyusulmu tanpa kau sadari ketika usiamu sampai tiga puluhan.”

Mungkin karena dia barusan bangun tidur, tapi suara mayor jenderal kembali ke nada tahun-tahun lalunya, sewaktu mereka masih di perguruan tinggi staf militer. Dia menggeleng kepala, mencoba mengusir pening yang gagal diangkat tidur tiga jam belaka, selanjutnya mengenakan jaket yang kepala staf lempar. Fokus pada tujuan utama mereka, dia bertanya langsung:

“Bagaimana status 86?”

“Kita akhirnya berhasil Beresonansi dengannya tak lama … teknologi Republik tentu berguna …. Bukan berarti aku mau laboratorium Kekaisaran membuat hal semacam itu.”

Dia tersenyum sedikit, memberikan kerah metalik yang dikenal sebagai Perangkat RAID. Barang komunikasi yang menghubungkan kesadaran satu manusia ke manusia lain, berarti tidak bisa menggunakan percobaan hewan. Dia bisa membayangkan jumlah orang—atau meminjam istilah sampah yang Republik gunakan, babi-babi berbentuk manusia—yang mesti dikorbankan untuk menyelesaikannya.

Dari perspektif mayor jenderal, dia lebih suka tidak mengandalkan hasil teori dan teknologi yang dibuat di atas tabiat tak manusiawi, namun kepala staf sepertinya tidak merasa demikian. Dia kemungkinan tidak memaafkan kejahatan mengerikan tanpa kemanusiaan itu, tetapi karena barangnya ada, dia masih menggunakannya bila mana berguna sebagai alat.

Tapi, selain itu …

“Kau akhirnya berhasil Beresonansi?”

“Barang ini membutuhkan kesadaran kedua pihak, jadi takkan terhubung seumpama mereka tidur. Sulit rasanya mereka bisa tidur selagi melintasi wilayah musuh dengan pasukan kecil berjumlah lima unit, tapi …”

Bagi 86 yang hidup di medan perang bahkan sebelum mereka sampai pubertas dan bertahan satu bulan di wilayah Legion, barangkali rasanya tidak lebih dari perpanjangan rutinitas sehari-hari mereka. Lantas mereka sudah terbiasa.

Mayor jenderal itu mengingat perbincangan dua bulan lalu. Dua puluh tahun sudah dia mengabdi, jika memasukkan masa-masanya di akademi militer, dan sepuluh tahun sudah berada di lini depan semenjak peperangan melawan Legion dimulai. Dan bahkan bagi dirinya, stres akan pertempuran membebani pikiran dan tubuhnya.

Namun inilah rutinitas mereka, keseharian mereka. Dan yang dianggap normal bagi Federasi rasanya abnormal menurut sudut pandang mereka.

Itu masuk akal karena mereka tidak punya cukup waktu untuk terbiasa hidup damai.

Dia butuh lima tahun untuk menjinakkan makhluk itu …. Dan kok bisa dia jinakkan?

Perkataan berikutnya kepala staf menghentikan spekulasinya.

“Menurutmu mereka kemungkinan sekarang ada di mana? 120 kilometer dari barat perbatasan nasional lama. Padahal kita harus bergerak sepanjang malam untuk sampai sejauh ini. Bukannya mengesalkan?

Menyadari maksud kepala staf, sang mayor jenderal mengangkat alis.

“Nah, itu mengejutkan. Kukira kau bermaksud menggunakan anak-anak itu di pertempuran ini sampai tak tersisa apa-apa.”

Kepala staf mengangkat bahu tidak peduli.

“Kau sepertinya salah paham. Yang aku inginkan adalah menggunakan pedang terasah ini. Kalau saja kita bisa membuatnya bertahan sebentar, bahkan lebih baik …. Namun andai mereka malah diasimilasi Legion, nanti akan lebih dari sekadar masalah. Kita perlu menjemput mereka secepatnya.”

Sesudah menghabiskan waktu lama sekali berkelana di medan perang bersama mesin-mesin mereka, pertama-tama Vánagandr lalu Reginleif, bangun pagi-pagi tanpa satu pun di samping mereka rasanya ganjil bagi Vargus. Karena mereka bersiap bergerak lagi, Bernholdt duduk bersama rekan-rekannya di sudut kamp membentuk lingkaran.

Senapan serbunya, satu-satunya benda yang dia ambil dari unit ditinggalkan, tergeletak di sampingnya selagi dia mengangkat kepalanya, menyadari Grethe mendekat.

“Semuanya, kita berangkat segera setelah subuh. Apa persiapan kalian selesai?”

“Diterima, Letnan Kolonel. Kami siap berangkat kapan pun … maksud saya—”

Dia menyiagakan senapan serbu pilot Feldreß yang bisa dilipat.

“—kita barangkat secepat mungkin dari sini.”

Senapan serbu 7.62 mm dengan tembakan yang cukup kuat hingga meledakkan anggota tubuh pria dewasa, namun melawan Legion masih belum cukup. Grethe tersenyum melihat infanteri yang masih berdiri di medan perang biarpun mereka banternya paling mampu melawan Ameise atau Grauwolf.

“Apa kau mencemaskan letnan satu, Sersan?”

“Saya arahkan kembali pertanyaan tersebut kepada Anda, Letnan Kolonel. Apa Anda mencemaskan mereka?”

“Aku sudah berbuat sebisanya. Aku cuma bisa percaya saja kepada mereka.”

“Yea, menurut saya begitu. Anda meminta orang-orang pemeliharaan untuk membawa suku cadang Reginleif dan barang reparasi untuk jaga-jaga. Anda bahkan memelintir lengan kepala staf jahat itu biar menyiapkan pesawat transportasi Anda.”

Dan Grethe membuat permohonannya segigih sebagaimana tanpa ragu-ragu membuang apa pun kesan perwira tajam berkepala dinginnya.

“Ya ampun, tapi kau memilih bertahan biarpun aku mengizinkanmu mundur ke garis belakang karena kau tidak bisa berbuat banyak di sini.”

“Yah, kita masih harus menjaga muka. Jika anak-anak ini kembali dari berburu kelabang besar itu, kita tidak boleh membiarkan kakek tua duduk manis mabuk-mabukan, benar? Takkan bisa melupakannya, tahu?”

Rasanya seakan itu masa depan paling buruk. Mendesah panjang, Bernholdt melanjutkan.

“… akan menyulitkan dengan angkatan tank sebesar ini, tapi kita harus cepat. Juggernaut Anda lumayan Letnan Kolonel, tapi tidak punya pengalaman menjalankan operasi selama ini. Kita tidak tahu persoalan apa yang mungkin muncul.”

“Benar.”

Bukan cuma Reginleif tetapi seluruh Feldreß membutuhkan waktu pemeliharaan yang setara waktu operasi mereka. Mereka tidak rapuh-rapuh amat sampai-sampai langsung berhenti berfungsi sebab kurangnya pemeliharaan, tapi Reginleif baru-baru ini dikerahkan ke pertempuran nyata. Bisa saja masih ada beberapa cacat yang belum ditemukan.

Grethe mengangguk, lalu dia tiba-tiba memberengut.

“Tapi sepertinya kalian menyebutnya Juggernaut …”

“Nama Reginleif untuk Valkyrie cantik. Tidak cocok buat para tentara bayaran gaduh seperti kami.”

Dia mengangkat alisnya ke ekspresi tidak puas letnan kolonel.

“Atau sekelompok bocah-bocah nakal yang terus melakukan aksi gila tak peduli berapa kali pun Anda memarahi mereka.”

“Ah, jancok.”

Mendengar Theo menggumam dari sisi lain Resonansi, Raiden mengalihkan perhatiannya ke Laughing Fox, mengabaikan kobaran api bangkai Ameise di depannya. Suara tembakan melesat jauh. Suaranya tak kedengaran di zona perang, tempat saling tembak-menembak, namun wilayah tak berpenghuni Legion beda cerita.

Karena alasan inilah, skuadron Nordlicht menghindari pertempuran sebisa mungkin dan dalam kasus pertempuran tak terhindari, mereka menyerbu menggunakan senjata jarak dekat untuk cepat menghabisi musuh mereka.

Dan sesaat Laughing Fox mencoba melompati sisa-sisa satu Grauwolf yang mereka habisi dengan cara sedemikian rupa, dia tiba-tiba membeku di tempat.

Rupanya, kaki depan kanan Juggernaut-nya tersangkut lapis baja Grauwolf, dan begitu dia mencoba meledakkannya dengan bubuk mesiu, tumpukannya tidak mau lepas, efektif menahannya.

“Bisa kau lepaskan, Theo?”

“Tidak bisa. Tidak bergeming …. Harus aku singkirkan.”

Menggunakan keluaran akuator untuk mengeluarkan tumpukan yang nyangkut di lapis baja logam tebal yang mengakibatkan tekanan besar ke sendi Juggernaut. Sesaat kemudian, baut listrik ledakan aktif, lalu Laughing Fox melepaskan diri, meninggalkan pemancang yang bisa dicopot.

“Jadi sekarang Laughing Fox juga rusak, ya …? Tak kusangka kerusakannya akan meningkat secepat ini.”

“… aku dan Anju ketembak pecahan peluru selama pertarungan kemarin, dan salah satu senapan mesinmu rusak ketika terhempas …”

Mereka masing-masing kehilangan senapan mesin, jangkar kawat, juga pemancang, dan seluruh kerusakan Juggernaut mereka ada di lapis baja rusak atau rangka membenjol. Selagi mereka melihat layar status, mereka melihat sisa magasin Fido, paket energi, dan suku cadang yang mulai menipis juga. Operasinya diperkirakan memakan waktu kurang dari setengah hari. Barang-barangnya ditimbun sebab ada kemungkinan mereka terisolasi, namun tidak ada cukup persediaan untuk operasi beberapa hari lamanya.

“Kurasa Shin-lah satu-satunya orang yang belum terkena serangan apa pun …. Padahal kita semua kehabisan pisau cadangan.”

“… tidak.”

Raiden mengangkat alis. Dia dan Shin belum benar-benar bicara sejak berantem semalam. Suaranya sama seperti biasa, dan dari awal Shin bukan orang pertama yang memulai perbincangan tanpa alasan, jadi rasanya dia tak menghindarinya.

“Sistem tenaga penggerakku dalam kondisi buruk sedari kemarin. Kupikir telah membebaninya dalam pertarungan pertama.”

“… kau sampai sekarang ini masih mengacaukan sistem suspensi?”

Dia punya dalih ketika mereka mempilot peti mati berjalan Republik, namun separah apa dia mendesak kendaraan perangnya bila bahkan sistem tenaga penggerak Reginleif yang dibuat tangguh mempertimbangkan pertempuran mobilitas tinggi, tak kuat mengimbangi Shin?

“Untuk saat ini, sepertinya aku bisa melakukan sejumlah pemeliharaan. Tidak parah-parah amat sampai menghentikan pergerakan.”

“Iya, tapi jika kau kelewat gila menggunakannya, tanpa sadar nanti hancur. Saat ini jangan beraksi gila dulu.”

“…”

Jadi ini satu permintaan yang tidak bisa kau respon? Kau ini apa sih, bocah nakal?

“Memperhitungkan sisa amunisi dan paket energi kita, cukup untuk pengejaran penuh besok hari, dan itu saja. Kita barangkali sudah menyusulnya sebelum kehabisan, tapi sebaiknya kita menyimpan apa pun yang bisa disimpan hingga waktu itu.”

Mendengar jawaban buruk berputar-putar, Raiden melemaskan bahunya sambil menggerutu. Dia masih menyebutnya omong kosong.

Sampai kita menyusulnya. Bukan, Sampai kita bergabung kembali dengan pasukan utama.

“… diterima.”

Duduk di kokpit Wehrwolf, Frederica membuka matanya. Kemampuan khususnya memungkinkannya melihat orang-orang terdekatnya dan sekelilingnya, ibaratnya dia berdiri di sebelah mereka. Ketika melihat masa kini, dia melihat apa yang mereka lihat sekarang, namun soal masa lalu, dia bisa melihat apa yang diingat orang itu, sekalipun secara tidak sadar.

Tampaknya seseorang tengah mengingat musim gugur tahun lalu, sewaktu mereka dipaksa Republik untuk bergerak menuju wilayah Legion sekalipun risikonya kematian. Itulah awal perjalanan mereka menuju kebebasan yang bahkan semestinya tidak bertahan satu bulan.

Ini di mana? Pemandangannya diwarnai warna daun; Feldreß berkaki empat rusak berdiri di tempat terdekat kelihatan babak belur bahkan bagi matanya yang menganggap asing Feldreß itu, ditutupi debu pertempuran dan kilat seragam kamuflase gurun. Nampaknya di penghujung perjalanan mereka, saat mereka sadar tidak mungkin bisa maju lebih jauh lagi.

Tetapi mereka masih tersenyum. Sekalipun wajah mereka pucat dan letih, mereka saling bercanda, mengobrol, dan tertawa. Dari sudut pandang Frederica, bocah berambut hitam yang berdiri memunggunginya namun masih tersenyum diingat tatapannya.

Shin tersenyum setelah berkali-kali mendapatkan dan kehilangan tujuan untuk menguburkan kakaknya, namun masih melihat jalan esok terbentang di hadapannya.

Mengapa dia kehilangan senyum itu …?

Sembari menggeleng kepalanya, Frederica menutup mata.

 

 

120 kilometer jauhnya dari Kota Kreutzbeck tua, satu Ameise yang tengah berpatroli menemukan jejak di hutan ek senantiasa hijau. Sesuatu setinggi dua meter lewat sebelumnya, menghancurkan ranting-ranting tersebut. Jejak kaki senjata berkaki empat yang bukan Legion.

Memindai daerah sekitar mencari jejak-jejak selanjutnya dengan sensor multiguna, Ameise mengirimkan laporan ke pasukan utama.

<Foxtrot 113 kepada tautan data taktis. Eksistensi elemen musuh menyusup ke wilayah telah dikonfirmasi.>

 

 

Para Reginleif bergegas melewati medan perang ditinggalkan, melintasi kaki langit timur dan menjauhinya, mengejar latar matahari ke arah selatan. Angkatan Darat Kerajaan Bersatu sukses mengusir pasukan utama Legion, seperti halnya pasukan gabungan Federasi serta Aliansi di sepanjang rel kereta kecepatan tinggi di rute selatan Eaglebloom. Kendatipun menggunakan kemampuan Shin, sanggup menghindari musuh terkecuali pertempuran pertama itu mengesankan.

Menjelajah medan perang yang anehnya damai, Frederica mendapati dirinya terpesona berkali-kali oleh pemandangan wilayah Legion yang ditampilkan layar optik. Gugusan bunga biru bermekaran indah, tumbuh massal di hutan. Sinar matahari bersinar melalui dedaunan yang tumbuh di antara pilar, membuat kelopak bunga biru langit berkilau bagaikan batu permata.

Dia melihat sebuah kota penuh tanaman hijau. Rerumputan tumbuh bebas, menembus batu ubin besar dan memenuhi pinggiran jalan, mobil-mobil otomatis yang ditinggalkan, tiang bendera serta patung orang suci. Tanaman merambat melingkar di sekitar perumahan yang terabaikan. Di atas benda-benda reruntuhan berkarat itu bermekaran bunga indah musim gugur.

Frederica melihat sebuah desa tercampakkan. Mungkin karena kualitas tanahnya, rumah-rumahnya didirikan dari batu bata dengan warna-warni pastel muda, menjadikan tempatnya bak berasal dari dunia buku bergambar dan dongeng. Di tengah-tengah semak berumput—dulunya ladang gandum—yang tumbuh liar sampai setinggi orang dewasa, berdirilah orang-orangan sawah bobrok. Di sana bersemayam, ibarat menunggu kepulangan seseorang.

Di siang hari, mereka beristrirahat panjang di reruntuhan kota terlantar.

Mereka memilih menetap di gereja yang tampaknya dirancang dengan gaya katedral gotik. Pemandangan agung nan megah. Kaca patri berdesain mencolok yang mencapai langit-langit berkilauan karena transparannya, melempar bayangan warna-warni di suaka terlantar ini dan melimpahkan berkah abadi kendati tidak seorang pun di sana menerimanya.

Seketika matahari menggapai puncaknya, hutan dan kota manapun tempat mereka berlindung telah ditinggalkan, alhasil mereka dipaksa maju melintasi sepanjang pesisir lepas sebuah danau besar biarpun posisi mereka berisiko ketahuan. Sebuah kastil terbengkalai menjulang di kejauhan, memantulkan menara dan benteng putihnya ke air sekaligus langit biru sementara kelopak merah bunga membumbung di atas kepala. Angin bertiup memasuki cerobong bangunan yang remuk, kemudian bayangan burung hitam diburu mengangkasa tinggi di atas mereka. Bahkan dari jauh sayapnya terlihat terkoyak-koyak, namun satu burung ini menunggangi angin ke tempat antah-berantah.

Pemandangannya tenteram. Dan indah.

Frederica pikir mungkin sekarang dia sedikit paham kenapa 86 pemikirannya sangat berbeda dari Federasi—bahkan dari nasib umat manusia. Jika mereka bisa terus menyaksikan pemandangan semacam ini merebut kembali pemukiman yang pernah dihuni orang, wajar saja merasa demikian …

Dunia ini tempat indah. Bahkan tanpa kehadiran manusia, dunia ini adem ayem dan ayu. Tak satu pun tempat di dunia ini yang butuh kehadiran manusia untuk tumbuh subur.

Dunia ini sungguh tak memerlukan manusia. Tiada namanya, tempat berpulang. Tidak di manapun, tidak untuk siapa pun …. Tak peduli siapa dirinya.

Akhirnya, matahari terbenam ke bawah cakrawala. Sinar terakhir mentari hari itu menyinari langit tanpa awan, mengukir bayangan panjang ke daratan di bawahnya. Jajaran pengunungan besar nan jauh menonjol dari langit arah selatan selagi Juggernaut melalui lautan rumput yang diwarnai cahaya merah, menyeret siluet-siluet bayangan di belakang mereka.

Melihat ladang disinari sinar matahari merah di satu sisi dan sisi satunya dibanjiri bayangan hitam, akhirnya Frederica membuka bibir hendak bicara. Layaknya laut, kata mereka. Itu metafora usang, tetapi gerakan bayangannya bagai gelombang surut.

“… apa kalian ada yang pernah melihat laut?”

Bukan pertanyaan ataupun monolog, oleh sebabnya, semua orang termasuk Raiden yang satu unit dengannya tidak menjawab.

“Belum. Pemandangan semacam itu asing bagiku …. Banyak sekali hal yang masih tidak kuketahui. Kalian bagaimana?”

Mata merahnya menyipit sedih selagi menatap layar optik dengan mendamba-damba.

“Aku pengen melihat lautan. Dan aku mau berenang. Ernst menunjukkanku foto bulan madunya, dari laut tertentu di selatan. Ada banyak banget orang … aku yakin di sana menyenangkan.”

Federasi tak punya lautan di perbatasannya. Selama pemerintahan Kekaisaran, terdapat satu koneksi ke laut, Pelabuhan angkatan laut di perbatasan utara. Bila seseorang ingin berenang, mereka mesti pergi ke negara tetangga, seperti pantai selatan Republik San Magnolia atau Aliansi Wald jauh di selatan, dan sekarang ini, tidak satu pun bisa diakses oleh Federasi sebab Legion menghalangi.

Seusai jeda singkat, Kurena bilang:

“Lautan … aku belum pernah melihatnya.”

“Kami semua belum benar-benar berkelana jauh-jauh dari tempat tinggal kami. Dibawa ke kamp konsentrasi barangkali pertama kalinya aku berpergian. Kurasa pernah sekali melihat laut saat mereka membawaku ke sektor baru lewat pesawat transportasi, tetapi andaikata dilihat-lihat kembali, boleh jadi aku salah ingat.”

“Di sana bukan pantai, tapi mereka mengizinkan kami main-main di dekat danau sekali waktu aku masih kecil … itu menyenangkan, kurasa. Banyak sekali orang baik datang dari segala penjuru.”

“Kurasa sekolah dasar punya acara seperti itu setiap beberapa tahun sekali, tapi perang terjadi …. Dan begitulah. Aku sendiri belum pernah melihat laut.”

Shin bisa merasakan cekikikan hampir kekanakan dari Resonansi. Dia tidak tahu cekikikan siapa.

“Laut, ya …? Aku ingin melihatnya. Ayo ke sana bareng-bareng, setelah perang berakhir.”

“Jika kita sedang membahas topik lautan, pulau selatan kedengarannya ide bagus. Kau tahu, pasir putih, terumbu karang, pohon palem, seutuhnya.”

“Atau kita bisa ke utara. Mungkin, melihat lautan membeku. Dengar-dengar ketika cuacanya jadi sangat dingin, kau dapat berjalan di atas es. Itu pasti cukup keren.”

“Sepertinya kita masih cukup puas sama lautan bintang, sekarang. Kujo terus saja ngoceh melihat bulan. Selanjutnya kita mesti bersiap-siap.”

Mereka bergerak hati-hati, tetapi sementara ini tidak terlihat musuh. Tidak lama kemudian, ketegangan mereda, dan mereka mulai mengobrolkan apa pun yang terlintas di benak. Tetapi ada satu orang di antara mereka yang tak ikut. Semua orang menyadarinya tapi memutuskan tidak membahasnya.

Perkara perkemahan kedua mereka hari itu, mereka memilih aula pameran luas yang berdiri di tengah reruntuhan sebuah kota besar. Sebelum menjadi terlalu gelap, mereka mempercepat pemeliharaan Juggernaut mereka—sehabis sepanjang hari bergerak. Begitu matahari terbenam dan makan malam kelar, sisanya adalah tidur.

Seusai mereka mengambil tempat tidur lipat dari kontainer Fido dan menyelimuti mereka sendiri, Raiden dan kawan-kawan tidur sekejap mata. Sama sekali bukan tidur nyaman, tetapi 86 bukannya tidak akrab soal istrirahat dalam kondisi keras. Di Sektor 86, tak aneh menghabiskan beberapa malam semata-mata dengan selimut tipis hangat.

Namun sukar bagi Frederica yang hingga kini setiap malam kehidupan mudanya dihabiskan di atas kasur empuk. Dia tengah berbaring dalam kegelapan gelap gulita, tak mampu tidur biarpun matanya tertutup, lalu akhirnya menyerah. Merangkak keluar dari selimutnya, dia bangkit dari alat pipa-kanvas yang jadi tempat tidur nama saja kemudian menyelipkan kakinya ke sepatu bot militer kecilnya.

Pengaturan tempat tidurnya dibuat sedemikian rupa agar kanvasnya menggantung rendah ke tanah, membuatnya sedingin beton di bawahnya, Frederica mendapati beberapa serangga yang belum pernah dia lihat sebelumnya, merayap seolah mereka pemilik tempat. Dia mundur sendikit dari makhluk aneh ini. Tidur tanpa boneka mainan selama enam bulan ini membuatnya cemas.

Mereka berada di atrium lantai atas yang mereka masuki lewat koridor lebar yang terhubung ke beberapa aula berbeda ukuran yang masing-masingnya adalah ruang pameran. Kanopi atriumnya robek, cahaya bintang tumpah ruah masuk ke ruangan.

Mereka berada di kedalaman terjauh medan perang, tanpa kelihatan secercah cahaya buatan pun, dan Frederica tidak tahu kegelapan sejati bisa … segelap ini. Di ujung koridor duduk satu Juggernaut dengan anggota badannya melipat masuk. Dan berdiri di sampingnya, mengawasi yang lainnya tidur, adalah Shin, menjadi orang pertama yang berjaga malam. Dia mengangkat kepala dan menatap tajam dirinya.

“… tidak bisa tidur?”

Dia bukan berjaga-jaga dari Legion berpatroli, namun was-was akan hewan liar.

Hewan yang lahir sesudah Legion mengontrol tanah ini selama satu dekade lalu belum pernah melihat manusia dan karena itulah, tidak takut pada mereka.

Mereka tak membedakan manusia dan hewan, melainkan mamalia homoetermik7 seukuran sama, namun mereka takut kepada Legion: makhluk yang mampu melakukan pembantaian jauh melebihi pembantaian apa pun yang bisa dilakukan manusia. Oleh karena itu, mereka cenderung menghindari bau logam dan bubuk mesiu, tapi tetap saja perlu waspada.

Di saat mereka bermalam ketika dulu harus menyeberang wilayah dan tak bisa menyalakan api unggun, mereka mengambil giliran seperti ini.

Mereka terus berjaga beberapa jam secara rotasi, dan teman-teman mungkin menugaskannya rotasi pertama (paling mudah) sebagai pertimbangan. Suara-suara Legion menjangkau Shin meski dia tidur, dan tak satu orang pun dapat membantunya menanggung beban tersebut. Lantas setidaknya, mereka ingin membiarkannya tidur paling lama.

“Aye. Maaf; aku ke sini walaupun tidak ditunjuk untuk berjaga tanpa tidur sepertimu. Aku cuma tidak bisa tidur …”

Menerima secangkir kopi instan, dia duduk di sebelahnya di tempat tidur lipat yang menjadi kursi darurat. Ransum tempur mereka berisi cukup bahan bakar padat untuk merebus kopi instan. Mereka rebus lebih awal selama makan malam, jadi sekarang hanya suam-suam hangat saja—dan manis karena dicampur gula demi menggantikan kalori yang mereka bakar selama pertempuran. Frederica menelannya.

“Tidak usah pikirkan. Kalau kami membiarkan seseorang yang bahkan tak bisa memegang senapan untuk berjaga malam, lebih baik menyuruh Fido berjaga.”

Pi.”

“… Fido. Bukannya sudah kusuruh untuk tetap dalam mode siaga sampai kami membangunkanmu besok karena terus aktif memakan paket energimu?”

Pi.”

“… yasudah. Terserah.”

Sensor optiknya berkedip-kedip seakan-akan mensinyalkan anggukan, Fido tidak ada tanda-tanda bergerak. Mungkin berniat berdiam diri di sana sampai giliran Shin selesai lalu dia bisa tidur. Melihat Shin mendesah sewaktu Fido mengikutinya bak pelayan setia—sekaligus keras kepala—membuat Frederica tersenyum … lalu mendadak mengerutkan kening.

Barangkali karena mereka berada di medan perang, namun 86—Shin termasuk, tentu saja—sering cenderung berdiri dekat-dekat Juggernaut mereka. Keempat 86 lain tidurnya ibarat merapat ke kendaraan mereka. Shin, di sisi lain, mempercayakan punggungnya kepada Undertaker selagi dimandikan cahaya bintang, berdiri berjaga malam sambil menyiagakan senapan serbu disangga bahunya. Layaknya anak kecil yang takut tidur tanpa boneka binatang favoritnya.

Keadaan mereka dibesarkan itu berbeda—di satu sisi ancaman Legion di satu sisi persekusi Republik—dikaitkan dengan cara hidup mereka seperti ini. Rumah sejati mereka adalah medan perang yang tidak menjamin hari esok, dan mereka tak dapat berpaling dari kematian yang menatap wajah mereka.

Mungkin, di satu sisi, mereka jauh lebih muda dari penampilan mereka.

“… apa?”

“Bukan apa-apa.”

Frederica sama berbeda. Dia melihat langit malam, seolah-olah mencoba kabur dari mata merah tua familier Shin.

Berbeda dengan musim dingin yang serasa mempertajam cahaya bintang, bintang-bintang musim gugur berkelap-kelip damai seperti bisikan sunyi. Cahaya bintang-bintang jauh tak terhitung jumlahnya memenuhi bidang langit. Bau jelas rerumputan yang dia nikmati sepanjang hari telah hilang. Kemudian bau bunga yang berseliweran di bawah cahaya bintang, menghadirkan kegelapan manis-lembut.

Tetapi menurut Frederica, pemandangan ini sama kejamnya sebagaimana keindahannya.

Bau bunga ini dan kegelapan yang diterangi bintang hanya ada jika tak seorang pun menodai kehadiran mereka. Andaikan ada orang di sini sebelum mereka datang, cahaya dan keributan kota akan merusak pemandangan sementara ini.

Gurun terik, gurun tidak subur, reruntuhan kumuh sampai-sampai tidak bisa ditinggali, dan pemandangan indah ini, dalam hal lain, semuanya pada dasarnya sama.

Terpencil.

Memalingkan muka, dia samar-samar melihat barang kesepian dan boneka kelinci lusuh buangan tergeletak di sudut ruangan besar.

“… apakah pemandangan ini …”

Monster-monster mekanik ini awalnya diciptakan untuk menjadi alat pembantai kejam, tapi di antaranya, walau dipaksa, menyimpan jiwa-jiwa yang dulunya manusia.

“… dunia yang Legion dambakan?”

Ucapan Frederica bukanlah pertanyaan melainkan lebih mendekati monolog, namun sesudah merenung beberapa saat, Shin menggeleng kepala.

“Siapa yang tahu?”

Shin hanya bisa berspekulasi mengenai apa yang dipikirkan Legion dari suara orang-orang mati yang terperangkap dalam diri mereka, mengulangi isi pikiran akhir mereka. Teriakan hantu mekanik yang menggapai telinganya sama-sama menginginkan hal sama—pulang.

“… mereka bisa jadi tidak mendambakan apa-apa.”

Mereka awalnya senjata—alat untuk memfasilitasi keinginan orang lain.

“Mereka itu hantu. Baik yang berwujud orang mati—dan yang tidak. Dan orang mati … tidak mendambakan apa-apa.”

“Kok tau?”

“… karena aku seperti mereka.”

Dia telah dicekik, tapi ditipu kematian. Di satu sisi, dia mungkin sudah mati. Dan semenjak hari itu, dia sungguh tak mengharapkan apa-apa. Sesudah membunuh kakaknya, tiada yang tersisa. Tak mau apa-apa ataupun ingin melihat suatu tempat. Dia tidak pernah bisa memikirkan masa depan.

Frederica sengaja tak melihat mata merah yang menatapnya. Tapi meski Shin mengabaikan sepasang mata itu, dia tetap menyadarinya.

“Lautan …”

Pemandangan yang Legion ambil dari mereka. Pemandangan yang Shin—terlahir di ibu kota Republik Kebebasan dan Keadilan kemudian dikirim ke kamp konsentrasi tanpa pintu keluar—tidak pernah lihat.

“Aku tidak bisa jujur bilang mau melihatnya. Tak ada yang ingin kudatangi atau kulihat, dan itu tidak terlalu menggangguku juga …. Namun aku tentu paham tidak punya sesuatu yang ingin kau coba, seperti yang mereka bicarakan sebeumnya, itu aneh.”

Sungguh-sungguh tidak punya kemauan yang dapat diringkas menjadi keinginan kecil sepele itu aneh bukan kepalang. Tapi musim gugur lalu, ketika mereka melintasi wilayah dari arah lain, dia sungguh menikmatinya …. Iya, dia pikir itu menyenangkan. Pemandangan alam yang cuma mereka bisa lihat, adat istiadat banyak kota-kota berbeda serta desa-desa yang mereka jambangi. Sesekali mereka mampir untuk istrirahat, dan kadang-kadang lewat, tapi apa pun yang mereka lakukan adalah pilihan sendiri.

Ini pertama kalinya mereka mencicipi kebebasan sejati. Dan kala itu, Shin benar-benar menikmatinya, sebagaimana rekan-rekan mereka. Dan itu karena dia tahu akhirnya. Suatu hari, di akhir perjalanannya, dia akan mati di pelukan peti mati alumuniumnya di sudut terpencil suatu medan perang, tanpa sampai ke mana pun atau mencapai apa pun, tanpa seorang pun yang mengisahkan ceritanya.

Dan semestinya demikian. Tetapi kakaknya menyelamatkannya, dan Federasi melindunginya. Dia bertahan lebih lama dari yang dia perkirakan dan mendadak dihadapkan masa depan lebih jauh dan lebih tidak pasti dari yang pernah dibayangkannya.

Bagi Shin yang siap mati kapan pun, itu masa depan dan tujuan yang kejauhan. Masa depan yang mereka peroleh luasnya bukan main, tanpa bangsa atau negara yang memandu mereka, kekosongan itu teramat-amat … mengerikan.

Teman-temannya pun akan sama, tapi di suatu tempat sepanjang jalannya mereka menemukan hal-hal lain yang membuat mereka terus melanjutkan hidup. Hal lain yang menjadi tujuan hidup. Dan tidak punya tujuan hidup sama saja tidak hidup.

Tidak punya tujuan hidup artinya kau tak mencoba hidup. Lantas dia satu-satunya orang yang tidak hidup.

“Aku bukan kesatriamu.”

Sekali lagi, dia mengulang perkataan yang dia lontarkan ke Frederica sebulan lalu, saat operasinya baru saja ditetapkan, lalu Frederica mendesah sedikit.

“Aku tahu itu, tapi …. Maaf. Aku memanfaatkan kesatriamu sebagai dalih.”

Dalih untuk kembali ke medan perang sebab tidak punya tempat lain untuk didatangi.

“Aku sama saja sedang menuju tujuan akhirku, tapi kakakku tak di sana lagi. Jadi aku perlu sesuatu untuk menggantikannya.”

Frederica mendengus.

“Aku yakin tidak hanya itu saja.”

“…?”

“Kau harusnya sadar caramu mengamati bayanganmu di cermin itu salah. Kau tidak sedingin atau sekejam yang kau percayai. Kau bahkan bersedia membuang hidupmu demi kedamaian orang lain. Bahkan bagi sekadar hantu …. Kau betul-betul pencabut nyawa baik hati.”

Menatap ke tempat jauh, Frederica berbisik.

“Satu hal yang pasti—karena dirimu memenuhi permintaanku, aku akan membebaskan Kiri.”

Shin mengalihkan perhatiannya ke cakrawala jauh, tempat kesatria Frederica terus meratap.

“Aku mengasihaninya, sebab dia terjebak dalam medan perang, meratapi nasib kekalnya. Aku ingin membebaskannya … aku ingin membebaskan diriku dari penderitaannya. Kau bagaimana?”

“… tidak.”

Shin boleh jadi ingin melirihkan suara-suara dari kedalaman medan perang, namun tak sekali pun dia ingin membungkam mereka.

“Bahkan aku …”

Kala itu, Frederica tersenyum, kelihatan berkaca-kaca.

“… takut mengakhiri Kiri.”

Dia takut kehilangan orang lain …

“Aku anak tidak diinginkan di Federasi ini. Kini setelah menjadi republik federal, keberadaanku dapat menjadi percikan yang menyalakan kekacauan. Aku anak malapetaka …. Ketiadaanku akan menguntungkan semua orang.”

Federasi berubah dari kediktatoran menjadi republik federal, namun beberapa mantan bangsawan yang pernah memegang kekuasaan dan memonopoli seluruh otoritas, masih mempertahankan sejumlah pengaruh laten politik. Bahkan Shin yang berada di Federasi kurang dari satu tahun dan menghabiskan mayoritas waktunya dalam militer, menyadari fakta tersebut. Begitu dia periksa segala halnya dari dekat, dia mendapati orang-orang berperingkat tinggi nyaris secara eksklusif bangsawan berdarah murni. Mayoritas jenderalnya kalau bukan Onyx ya Pyrope.

Apabila orang-orang di antara mereka yang punya ambisi tahu bahwa sang maharani—sebuah alasan untuk menumbangkan pemerintah—masih hidup …

“Tapi, aku hidup, percaya bahwa aku suatu hari nanti harus mengakhiri kesatriaku …. Tetapi begitu aku mengakhiri Kiri, aku kehilangan alasan itu. Dan itu … menakutkanku.”

“…”

Namun.

Jika dia tidak menguburkannya …. Seandainya dia tidak membenarkan semua halnya, dia takkan bisa melanjutkan hidup.

“… alasan jalan maju membuatmu sangat merinding adalah karena kau betul-betul melihat masa depan. Sebab kau sadar tengah melangkahi jalan yang tidak dilalui. Tak ada salahnya, dan meski ragu-ragu, kau mesti mengandalkan dukungan orang-orang yang berjalan di sampingmu. Karenanya rekan itu ada. Sebab itulah … orang-orang tetap bersama.”

“… Raiden juga memberitahuku hal itu.”

Tapi pikiran dingin menusukkan belati esnya ke dalam hati Shin.

Sekalipun sekarang ini mereka bersamaku, momen ini … bahkan orang-orang yang memanggilku, Pencabut nyawa kami … suatu hari kelak, pasti …

“Akan meninggalkanmu …?”

“…?”

“… lupakan.”

Pernyataan yang tedengar ambigu dibiarkan begitu saja, dan memudar ke kegelapan malam.

 

 

Cahaya pertama. Matahari mengintip dari balik cakrawala di subuh hari. Mendeteksi sinar mentari pertama yang baru menerangi daerah sekitarnya, Kiriya terbangun dari mode siaga. Bagaikan pedang penanda kuburan yang ditusukkan ke tanah, barel meriam bengkok dan kepanasan berserakan tak terhitung jumlahnya di medan perang seketika fajar datang. Tubuh membentang tanpa ujungnya, menutupi tanah bak filamen, juga terbangun dan mengudara dengan kepakan sayap-sayap mereka.

Waktunya memulai operasi sapu bersih. Eintagsfliege yang menutupinya di malam hari telah menjauh, kemudian Legion di bawah komandonya mulai bergerak dari beberapa kilometer jauhnya. Tiada tanda-tanda pergerakan pasukan musuh. Menyerang ketika fajar adalah peninggalan masa lalu ketika radar dan alat penglihatan malam tidak ada. Tetapi taktik itu masih efektif melawan musuh yang tak mampu menggunakan keduanya.

Transmisi data observasi Ameise tiba. Menggunakannya, dia mengamati struktur sensor optiknya.

Hanya sanggup melihat beberapa puluh meter ke depan, penglihatannya pas sejauh puncak cakrawala.

<Pale Rider kepada No Face. Memulai operasi sapu bersih.>

Balasan mesin tempur tanpa tidur itu segera tiba.

<No Face, diterima …. Sebuah transmisi datang dari jaringan area luas.>

… mm?

<Jejak-jejak unit musuh yang menyusup wilayah telah ditemukan. Memperhitungkan situasinya, diduga mereka sedang mengejarmu. Karena itu, mulailah aktivitas pencarian di sektor berdekatan lokasimu.>

<… diterima.>

Jadi kau sungguhan mengejarku, sanak kerabat.

Pertunjukan kembang apinya akan segera dimulai. Jadi sebelum itu terjadi … capai aku.

  

  

“Ayo berangkat.”

Hari ketiga operasi.

Terlepas hasilnya, hari ini adalah hari terakhir. Dalam kegelapan biru fajar, para Juggernaut menyelinap melalui reruntuhan kota, pasukan sebesar satu peleton bergerak dalam formasi baji. Para Juggernaut melewati jalan utama, di sana berdiri bendera lima warna yang sudah luntur dan sobek-sobek mengepak berisik. Mereka buru-buru melewati pecahan kaca yang mengotori trotoar serta sebuah patung wanita.

Tiba-tiba, langit barat bersinar, dan terdengar suara dampak dari jauh. Saat tembakan terkonsentrasi turun dari langit, awan debu menggumpal di cakrawala.

“Itu … bukan tembakan Morpho. Ini tembakan Skorpion.”

“Tembakannya cukup melenceng, sih …. Di sana bukan posisi pasukan utama Federasi. Mereka mencoba menembak apa …?”

Dan sesuai perkataan Anju, semua orang—termasuk dirinya sendiri—menahan napas sama-sama. Di balik awan debu, nyala api membara mewarnai langit di atas titik dampak dengan warna merah tua.

“Bom pembakar8 …?!”

Tembakan selongsong berisi bahan bakar dicampur pengental yang diinjeksi ke dalamnya yang akan menyebar dan menyulut seketika mengenai target. Niatnya adalah membakar musuh. Sebab Republik dan Federasi memanfaatkan arsitektur batu yang tidak mudah terbakar, Legion jarang-jarang menggunakannya, tetapi mereka adalah tipe pengebom bengis.

Bahan bakar kental di dalam selongsong dapat menempel pada korbannya selagi membara, dan biasanya tidak bisa dipadamkan air. Andaikata seorang manusia terciprat api itu, satu-satunya takdir yang menunggu mereka adalah kematian menyiksa.

Langit bersinar lagi. Dari sela-sela bangunan, mereka bisa melihat pucuk pohon hutan di kaki langit telah terbakar dalam waktu sepersekian detik.

“Sialan, mereka berusaha memasukkan kita dalam asap!”

Legion barangkali menemukan jejak-jejak penyusupan mereka ke area itu.

Bahkan Reginleif canggih tidak kuat berjalan melintasi lautan nyala api. Mereka kekurangan pendingin untuk melakukannya dan dikarenakan seluruh oksigen di udara terbakar, pilotnya pada akhirnya akan mati sesak.

Pengeboman ketiga. Tempat yang bahkan lebih dekat terbakar. Sistematis menghancurkan setiap tempat persembunyian di area itu.

“Shin!”

“Tidak ada pilihan lain. Ayo maju. Semua unit, bersiap bertempur. Kita akan mengontak lini pertama musuh dalam waktu tiga ratus detik.”

Mengonfirmasi posisi Legion di daerah tersebut, mereka bergegas melalui reruntuhan menempuh jalan yang paling sedikit perlawanannya dan terus bergerak hingga sampai dataran.

Sewaktu tipe Skorpion lagi-lagi meraung, dan pengeboman mereka menghujan turun dari langit, reruntuhan kota akhirnya memasuki kisaran tembakan mereka. Sebuah selongsong memberi dampak di area dekat, dan jalan-jalannya hampir instan terlalap api. Pohon hidup biasanya tidak mudah terbakar, tapi ketika terkena bahan bakar bertemperatur pembakaran mencapai setinggi 1.300 celcius, itu tidak jadi soal.

Areanya disiram cairan lumpur berkali-kali, mengubahnya menjadi lautan api sesaat lidah api menjilat permukaan menguap. Reruntuhan-reruntuhan berubah menjadi neraka ditutupi fajar hari, bayangan hitam-merah menari-nari di atasnya. Begitu bangunan hancur di bawah tirani api tersebut, kelompoknya nyaris tidak berhasil keluar kota.

“Ah, kita ketahuan!”

Shin melihat siluet satu Ameise berdiri di dekat kaki langit, sensornya menunjuk persis mereka. Setelahnya, Gunslinger menembaknya. Namun transmisi data kemungkinan besar sudah pindah melalui tautan data sebelum tembakan 88 mm-nya sempat mengakhiri auman Ameise itu.

Unit Legion di sekitarnya sudah disiagakan atas kehadiran mereka. Selanjutnya mereka melintasi kaki langit dan dihadapkan laskar besar yang tersebar di depan mereka bak selubung awan hitam, menghentikan napas Raiden.

“Jumlahnya apa-apaan …?! Kok bisa mereka terus datang berbondong-bondong seperti ini …?!”

“Cuma membuktikan kalau Morpho sangatlah penting bagi mereka …. Sayap kiri yang paling tipis. Terobos dengan kekuatan tempur maksimal.”

“Diterima.”

Api menari-nari di udara. Sampah dan puing-puing yang tertinggal di jalan terbakar menaikkan aliran udaranya ke langit, menyerap air dan menjadi hujan. Juggernaut-Juggernaut menjelajahi daratan yang sehitam hujan, lebatnya jelaga menyapu mereka, bergegas melalui jalan pegunungan rendah berduri. Setelah mencapai tujuannya, serangan gencar bom pembakar berakhir. Hujan selongsong howitzer9 menggantikannya sedangkan bayangan-bayangan metalik bisu mengintip dari bayangan pepohonan.

Jajaran gunung terjal membuat batang dan akar pohon saling menjalin, mencegah Löwe dan Dinosauria masuk. Tetapi Ameise yang beratnya sama dengan Juggernaut, tetap mengejar. Melewati celah-celah cabang, formasi Löwe terlihat menutup jarak dari dasar sungai yang relatif tenang. Mereka terus mengikuti posisi target berkat tautan data. Anak-anak itu sekilas melihat sebuah tebing di bawah mereka.

“Shin, targetnya seberapa jauh lagi?”

“15.000 meter, lurus di depan. Dia bergerak maju sedikit terus berhenti lagi …. Aku tidak tahu apa rencana mereka, tapi ayo manfaatkan ini dan tutup jarak.”

Selanjutnya Frederica bicara:

“Tampaknya dia membidik sesuatu …. Tapi aku tidak tahu membidik ke mana. Dia punya barisan meriam tetap; dia semestinya tak mampu memberi tembakan pelindung ke garis depan …”

Mengutarakannya, dia menelan ludah gugup. Diamnya menandakan akan terjadi sesuatu yang tidak dapat dia rasakan, namun tak ada waktu untuk mengonfirmasi.

“Mereka menembaki kita dari bawah!”

Salah satu Löwe di bawah membelokan turetnya, memutar laras 120 mm-nya ke arah mereka. Melipat kaki depannya yang tersegmentasi, memaksakan diri menembak dari sudut ketinggian tak sesuai.

“…!”

Dampaknya membentur permukaan tebing, meruntuhkan tanah antara Laughing Fox dan Snow Witch selagi mereka maju dalam formasi baji. Lumpur serta tanah beterbangan ke udara ketika selongsong Skorpion menyerang daerah terdekat, seolah-olah memastikan dua kali mereka ketembak. Selongsong 155 mm yang mampu mereduksi parit kukuh menjadi tumpukan sedimen, meledak begitu menabrak tanah, mencabut akar-akar pohon yang mendukung bukit berlumpur.

“Ah …?!”

Terjebak dalam longsoran, Snow Witch tergelincir menuruni bukit.

“Anju?!”

“Uuh …. Aku tidak apa-apa. Unitnya tidak rusak. Tapi …”

Setelah tergelincir kira-kira sepuluh meter ke tanah datar, Snow Witch menarik keluar kakinya dari tanah dan menoleh. Sensor optik merah mengamati permukaan longsor tebing, kemudian menghadap ke kiri-kanan.

Sensor optik Juggernaut beroperasi dengan melacak garis pandang pilot, berarti Anju mungkin menggeleng kepalanya.

“Gawat. Sepertinya aku tidak bisa naik. Akan kucoba menahan mereka di sini … Fido, tinggalkan semua tempat peluncur rudal cadangan yang kau miliki!”

Fido menginjak rem darurat, melaju ke depan dan mengerahkan kontainer di belakangnya, menurunkan semua tempat peluncur rudal yang dipunyainya ke permukaan tebing longsor. Sekilas menjadikan pemandangan ini perpisahan, sisa empat Juggernaut bergerak menapaki tanah padat, bergegas maju. Ameise yang mengejar mereka telah berpencar tuk menghindari tembakan Skorpion tetapi masih mendatangi mereka dari rute lain. Mereka tak boleh tinggal diam.

 Selagi Fido berusaha mengimbangi anggota kelompok lain di jalan berliku, mereka bisa mendengar ledakan datang dari dasar sungai di belakang mereka. Mereka menembakkan selongsong eksplosif anti lapis baja ke udara, sumbunya mati ketika selongsongnya menghantam Löwe, terutama titik lemah lapis baja atas mereka. Shin dan teman-teman mendengar gema deru dua-tiga kali, dari arah berbeda, namun Juggernaut—bergerak dengan kecepatan jelajah seratus kilo meter per detik kendati berada di jalan gunung tak rata—tak lama kemudian meninggalkan ledakan-ledakan tersebut.

Ameise, walaupun tidak bisa dibandingkan soal kecepatan jelajah, dapat sama gampangnya menjelajahi jalan, namun punya keuntungan tautan data yang membuat mereka menghentikan pengejaran dan meminta unit lain mengambil alih. Shin bisa merasakan patroli Legion beberapa kilometer jauhnya dari posisi mereka sekarang ini lagi mengubah arah, bergerak untuk memblokir jalan depan mereka.

Mendengar suara yang sama lewat Resonansi Sensorik, Theo menyumpah.

“Mereka masih berdatangan, bajingan gigih …. Cuma sepuluh ribu meter hingga kita sampai target. Misalkan mereka menempel kita terus seperti ini, mereka akan jadi hambatan selagi kita melawan Morpho.”

Keluar dari debu hujan tinta hitam, mereka turun gunung dengan meluncur menuruni lereng. Kaki mereka ditanam ke kaki bukit curam selagi jatuh meluncur kemudian bergegas menuju bangunan batu di kota kecil depan.

Tatkala mereka memasuki jalan utama, Laughing Fox bergerak mundur dan memutar arah. Menembakkan jangkar kawat ke sebuah bangunan sambil berputar-putar setengah lingkaran lalu dia potong dengan rangka modifikasi lain Juggernaut-nya. Bangunannya runtuh menggelegar, sembilan tahun terpapar unsur-unsur negatif, selain pilar pendukungnya dihancurkan dengan presisi tepat. Puing-puingnya berjatuhan, seolah-olah memotong Laughing Fox yang berdiri di belakang formasi, jauh dari tiga Juggernaut tersisa.

Para Legion yang menyadari getaran dan gema bangunan runtuh, mulai cepat-cepat menuju pusat kekalutan.

Mendengar suara mereka mendekatinya, Theo tertawa terbahak-bahak.

“Setelah tempat ini daerahnya datar semua, kan? Yah, aku tak berguna-berguna amat selain tempat semacam ini, jadi aku akan tinggal dan mengalihkan perhatian mereka! Kuusahakan sebaik mungkin untuk mengalihkan perhatian, jadi kalian tangani sisanya!”

 

  

Jumlah pasukan penyerang kecil nampaknya dikurangi dua, dan dua-duanya tampak telah disibukkan dan saat ini sedang melawan unit-unit kawan di sekitar.

<Diterima.>

Menerima laporan jaringan area luas, Kiriya menahan desakan untuk mendesah gusar. Bukannya dia punya paru-paru atau mulut untuk mendesah kendatipun dia ingin melakukannya. Rupanya sejumlah musuh sepele terdeteksi di salah satu gunung. Kesalahan semacam itu tak pantas bagi seseorang berdarah Nouzen di nadinya. Tapi, Kiriya memuji penilaian kepala dinginnya membiarkan rekan-rekannya tinggal di belakang sebagai umpan sedangkan dia maju, sekalipun ganjarannya pengorbanan mereka.

Bertentangan laporan tersebut, radarnya sendiri—yang punya ketelitian tinggi juga jangkauan luas demi pertahanan antiudara—telah mendeteksi kekuatan musuh yang mendekat. Terpisah dari musuh yang menyerang Löwe di gunung juga satu yang berkeliaran di reruntuhan; detasemen ketiga yang tidak dikenali jaringan area luas. Total berjumlah empat unit, dan menilai reaksi mereka, tiga di antaranya adalah Feldreß model Federasi.

<Pale Rider kepada jaringan area luas.>

Itu kesempatannya menemui kerabatnya. Dia tidak boleh membiarkan orang-orang lemah menghalanginya.

<Menjalankan jadwal pengeboman sesuai perintah. Maka dari itu, seluruh komunikasi hingga penyelesaikan objektif akan diblokir.>

Memilih untuk tidak mengirimkan informasi yang dia dapatkan, dia mengirim transmisi tunggal kemudian mematikan koneksinya. Namun sesudah dia katakan, sisi lain pun mendatangkan gangguannya sendiri. Jadi sebagai permulaan, dia harus memisahkan Shin dari mereka.

  

‡  

 

“Menjauhlah! Dia menembak!”

Frederica berteriak kepada Shin dari Resonansi hampir di waktu bersamaan ketika teriakan Morpho kian meninggi. Sesaat setelah dia refleks menarik kembali tuas kendali, sebuah selongsong mengenai titik dekat Undertaker melompat. Bergerak secepat supersonik, gelombang kejut selongsongnya menerbangkan unitnya sementara sedimen dan tanah menabrak rangka kendaraannya yang bergerak secepat peluru.

“…!”

Ledakan kedua. Rentetan tembakan yang jatuh di perbukitan kehitaman, bergelombang layaknya lautan badai, nyaris sebagaimana deretan tembakan senapan mesin—tidak, sungguh rentetan selongsong, memaksa ketiga unit berpencar seakan-akan mereka disebar kekuatan tembakannya.

Kok bisa tembakannya sangat tepat …? Sebentar, tidak mungkin.

“Itu persenjataan jarak dekatnya.”

Yang mereka saksikan di distrik pertama Republik dan tepat sebelum mereka memasuki wilayah Federasi, sekaligus tembakan terkonsentrasi yang menghancurkan FOB front barat—semuanya jauh lebih lemah dari pengeboman yang Morpho tembak langsung kepada mereka kali terakhir mereka melawannya. Komputer pendukung Shin mengkalkulasikan kecepatan awal selongsongnya delapan ribu meter per detik. Alih-alih menggunakan persenjataan utama apa adanya, barangkali mengurangi massa ledak hulu menggunakan meriam otomatis dengan lubang lebih rendah yang memberikan fungsi tembakan cepat. Bahkan sistem pertahanan anti udaranya yang sudah dipasang tuk menembak jatuh rudal mendekat dikonfigurasi berada di sekitar railgun Morpho.

Ternyata bagus Frederica menyertai mereka, Shin pahami sembari tersenyum pahit. Nampaknya perihal kesatrianya, Frederica lebih cepat menangkap serangan Morpho dari dirinya. Jarak relatif antara mereka dan Morpho adalah tujuh ribu meter, artinya selongsong Morpho akan berdampak dalam kurun waktu kurang dari satu detik Tembakan. Dalam kondisi tersebut, mengikutkannya pasti menguntungkan.

Hujan selongsong, bermuatan energi kinetik mengerikan dari proppulsi kecepatan tingginya, sekejap menghancurkan medan perang. Melompat, memberondong, dan berguling-guling, ketiga Juggernaut mesti menggunakan setiap teknik dan intuisi yang mereka punya untuk terus menghindar. Bila mana selongsong penembus lapis baja menabrak salah satu dari mereka dengan kecepatan itu, satu Vánagandr takkan kuat menahannya, apalagi lapis baja alumunium Juggernaut.

Satu-satunya pilihan mereka adalah terus menghindar.

“Dasar kau …!”

Mendecakkan lidahnya selagi memanfaatkan jeda beberapa detik yang Morpho butuhkan antar serangan agar senjatanya tidak kepanasan. Kurena mengerahkan senapan runduknya. Membidik di luar bukit dengan akurasi yang tak dapat disamakan orang lain, dia menembak, memaksa musuhnya tersentak dan menghentikan serangan.

“Aku akan alihkan perhatiannya, jadi pergilah! Ini tembakan senapan sebar, jadi tidak banyak berpengaruh!”

Kurena menembakkan beberapa tembakan pelumpuh, terus melompat tak jauh dari arah Undertaker dan Wehrwolf menghindar begitu dia menembakkan tembakan terakhir.

Rentetan selongsong lain jatuh menyembur dari langit, melenyapkan posisi mereka sebelumnya, dan garis tembakan yang diakibatkan bergerak mengejar Gunslinger.

“Cepat!”

“Maaf.”

Shin bisa merasakan kebanggaan pada senyuman Kurena.

“Aku tangani ini.”

 

 

Musuh melepaskan semburan peluru tanpa akhir ke Kiriya dari luar perbukitan. Kelihatannya berasal dari satu unit. Menghilang dari radar begitu berlindung di perbukitan, namun masih ada empat unit di posisi kali terakhir terlihat. Kalau begini, tamu-tamu tidak diundang malah akan datang ke sini, alhasil melawan musuh tak diundang sementara penembak runduk tersebut terus menembakinya itu menyebalkan. Dia harus dieliminasi, segera.

Kiriya mengangkat bagian atas tubuhnya. Memutar badannya, mengalihkan sensor optik belakangnya dan saat setelahnya, baut-baut listrik biru mulai merayap bagaikan ular di dasar laras senapannya.

 

 

Kebisingan putih tiba-tiba berderak dari layar optik mereka.

“Apa yang terjadi …?”

“Ini bukan gangguan elektronik. Kelihatannya seperti gelombang elegtromagnetik di udara.”

Dan begitu Shin katakan, dia sadar. Railgun adalah senjata proyektil yang menggunakan listrik berjumlah bersar untuk mempercepat dan meluncurkan proyektil bola. Jadi setiap kali menembak …

… menyebarkan gelombang elektromagnetik kuat ke sekitarnya.

Raungan Morpho makin menjadi-jadi.

“Kurena, cukup sudah; pergi dari sana!”

Cahaya terang bersinar dari balik perbukitan, kemudian raungan menggelegar menggema di atas lalu mendarat ke belakang Undertaker dan Wehrwolf.

“Kurena!”

“Aaaaaaaaaah!!”

Mereka bisa mendengar suara sesuatu menyerempet angin—terdengar semacam pecahan-pecahan selongsong besar yang meledak di udara kemudian menimbulkan hujan pecahan peluru intens—kemudian suara dampak. Kerlip Gunslinger hilang, berikutnya Para-RAID Kurena mati.

Sepintas, pikiran mereka berhenti. Memanfaatkan jeda sesaat ini, Morpho kembali menembakkan persenjataan jarak dekatnya. Garis tembak berbentuk kipas menghancurkan bumi.

Panah logam melaju dengan kecepatan supersonik melukis langit dengan warna logam sekilas sebelum turun menghujan secara diagonal.

Mereka tidak berpikiran menghindar. Paling-paling cuma bisa berjongkok dan mengurangi luas permukaan yang terkena selongsong. Namun tetap saja, pengebomannya menyerempet sisi samping unit Shin, meledakkan kaki kiri depan Undertaker.

“…!”

“Raiden!”

Erangan kesakitan mereda dan teriakan Frederica membekukan Undertaker di tempat selagi berusaha bangun. Melihat ke depan, dia mendapati Wehrwolf juga meringkuk di tanah, tak kuasa berdiri.

“… kau terluka.”

Itu bukan pertanyaan, melainkan pemastian. Para-RAID-nya masih terhubung, tetapi kerusakan pada unitnya parah. Dua kaki kanannya diledakkan, dan retakan di lapis bajanya menjalar luas hingga kokpit. Dan kelihatannya, orang yang duduk di dalam tak bisa lolos tanpa luka.

“K-kau melindungiku.”

“Tidak buruk amat sampai membunuhku, tapi … maaf, aku sampai sini saja di sini.”

Unit kaki banyak punya keunggulan dibanding unit tapak rantai sebab mereka bisa terus bergerak sampai batas tertentu biarpun sudah kena serangan. Tetapi jika semua kaki di salah satu sisinya hilang, tidak mungkin bisa bergerak.

… terlintas sekelebat pikiran di benak Shin.

Kurasa masih lebih baik ketimbang meninggalkannya sama Wehrwolf yang sekarang sama sekali tidak mampu bertarung.

“Fido. Bawa Frederica bersamamu.”

Fido mendekat dengan suara gemerincing. Karena dia jaga jarak tertentu dari mereka, dia tidak terkena tembakan tapi cara jalannya sempoyongan. Kakinya barangkali dirusak pecahan selongsong atau gelombang kejut. Shin sadar dalam kondisi ini, perintahnya terlalu berlebihan bagi robot pengumpul barang bekas tanpa senjata.

“Kalau aku gagal, bawa Frederica mundur. Jangan repot-repot menjemput yang lain juga. Pulangkan dia ke Federasi, apa pun yang terjadi.”

Pi.”

“Shinei!”

Fido balas bip yang rasanya seolah anggukan serius, dan Frederica berteriak protes. Shin melanjutkan, mengabaikan suaranya.

“Kau takut kehilangannya, tapi masih ingin menyelamatkannya, kan? Maka hiduplah agar kau bisa memenuhinya.”

“…”

Shin merasa Frederica mengangguk seraya menggigit bibirnya. Kanopi Wehrwolf terbuka, kemudian bayangan kecil memanjat keluar lalu masuk ke kontainer terbuka Fido. Shin mengangguk kepada bayangan tinggi tersebut, mengangkat tangannya dari kokpit sekalipun tahu Raiden tidak bisa melihatnya.

“Jangan menyerah.”

“… yea.”

Bergumam pelan, Undertaker, unit terakhir yang tersisa, menyerbu maju. Tiga ribu kilometer lagi. Dia mempercepat kecepatannya di sekitar bukit terakhir, dan …

… lapisan biru cerah tiada batas terhampar di hadapannya.

 

Catatan Kaki:

  1. Berhubung ransum di militer masih pake api dan belom pake magnesium gituan, secara resmi memang belom ada. Berhubung kasual kalimat nya lebih ke MRE FRH(flameless ratio heater), menurut gw lebih cocok ke pemanas ransum tanpa api, inggrisnya ini: laminated, water-based selfheating packets. Kepo sama bentuknya? Nih: https://www.youtube.com/watch?v=udyribOSn1s&fbclid=IwAR2ucosn-dtXj0F67MO8XX72jtx_xmjfh2v97QEOd-YnLR1mMitXSeWswME.
  2. Trout adalah nama untuk sejumlah jenis ikan air tawar genus Oncorhynchus, Salmo dan Salvelinus, semua Salmoninae subfamili dari keluarga Salmonidae. Nama Ikan ini juga digunakan sebagai bagian dari nama beberapa ikan non-salmonid seperti Cynoscion nebulosus, seperti ikan trout berbintik-bintik.
  3. Ginkgo biloba, yang dikenal sebagai ginkgo atau gingko dan juga dikenal sebagai pohon rambut gadis, adalah satu-satunya spesies yang masih hidup di divisi Ginkgophyta, semua spesies lainnya telah punah. Pohon ini dikenali mirip dengan fosil 270 juta tahun lalu. Berasal dari Tiongkok, pohon ginkgo secara luas dibudidayakan dan diperkenalkan pada awal sejarah manusia. Pohon ini juga memiliki berbagai kegunaan dalam pengobatan tradisional dan sebagai sumber makanan.
  4. Sekam atau chaff dalam dunia militer adalah alat pertahanan anti radar dan peluru kendali. Serpihan chaff yang berbentuk potongan tipis aluminium foil, serat campuran kaca-logam, atau plastik yang mengkilap disebarkan kendaraan militer untuk mengelabui sistem pemandu pada peluru kendali berpemandu radar. Nih inggrisnya: clouds of metal-foil particles.
  5. Burung penyanyi masuk dalam klad passeri dari ordo burung pengicau. Klad ini terdiri dari sekitar 4000 spesies yang dapat ditemukan di seluruh dunia.
  6. Jaket khas Jerman.
  7. Homoiterm adalah hewan berdarah panas. Pada hewan homoiterm suhunya lebih stabil, hal ini dikarenakan adanya reseptor dalam otaknya sehingga dapat mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm dapat melakukan aktivitas pada suhu lingkungan yang berbeda akibat dari kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm mempunyai variasi temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi, dan faktor jenuh pencernaan air.
  8. Bom yang menyemburkan api (untuk menimbulkan kebakaran pada bangunan dan sebagainya).
  9. Howitzer adalah salah satu bentuk artileri medan. Nama Howitzer berasal dari kata dalam bahasa Ceko houfnice (diturunkan dari bahasa Jerman: haubitze dan bahasa Belanda: houwitser), meriam dari abad ke-15 yang digunakan oleh suku Hussites dalam perang Hussite. Howitzer berbeda dari jenis meriam artileri lainnya dalam hal trayektori penembakannya. Howitzer menembak dalam sudut tinggi dan memiliki daya penghancur yang sangat besar karena proyektil yang dilontarkan. Howitzer modern dapat ditarik kendaraan militer atau berpenggerak sendiri. Howitzer kecil dapat ditarik oleh kendaraan militer ringan atau diangkut oleh helikopter.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *