86 JILID 3 BAB 7

Posted on

Sesuatu yang Diperjuangkan

Penerjemah: Lena Nier

“Mengaktifkan Roda Terbang pertama dan kedua. Tidak terdeteksi gardu induk transformator abnormal.”

“Memulai hitung mundur rel ketapel1. Perangkat pendingin beroperasi 23 persen dan semakin meningkat—”

“Kanopi dilepaskan. Mengerahkan rel ketapel.”

Shin yang beristrirahat di kokpit Undertaker sambil memejamkan mata selagi bersiaga, mengangkat kepalanya saat mendengar suara gemuruh berat dari atas. Tiga layar optiknya sekarang ini disinkronkan dengan kamera eksternal pesawat induknya. Memberikannya pandangan memiring dari hidung pesawat. Di ujung penglihatannya, dia bisa melihat kanopi terkamuflase dari lubang ketapel bawah tanah, mengekspos permukaan.

Cahaya nila-gelap fajar menerangi kokpit, tumpah dari langit melalui jendela persegi panjang. Matahari masih belum terbit dari balik cakrawala, sinarnya bercampur gelap malam, melimpahkan langit dengan warna biru indigo transparan khas. Bintang-bintang musim gugur yang namanya tak diketahui Shin, pelan-pelan menghilang.

Dengan pinggirannya yang membentang, rel ekstensi ketapel menusuk langit fajar bagaikan menentang bintang-bintangnya sendiri, lalu pekik logam merobek udara malam selagi mesin terkunci di tempat.

“Kunci sambungan pertama hingga terakhir—selesai. Nachzehrer, siap diluncurkan.”

 

  

Pertama kali ia ditunjukkan pada Shin adalah satu bulan lalu, seminggu setelah operasi penyerangan ke wilayah Legion diputuskan. “Beberapa orang menyebutnya penutup terlarang.”

Kalau dipikir-pikir, mereka belum pernah melihat penutup ini di belakang hanggar terbuka Unit Uji Coba ke-1.028 di Mabes divisi sebelumnya. Di belakang penutup tebal anti-pengeboman ini terdapat kemiringan dengan lebar lebih dari seratus meter.

Grethe berbicara selagi dia berdiri di depan panel kendali elevator yang memenuhi ruangan, melihat ke kegelapan di bawahnya. Biarpun lima belas Prosesor dan semua kru pemeliharaan, personel kontrol, dan peneliti berdiri di atasnya, mereka menempati kurang dari setengah ruang terbuka di elevator terlampau besar.

“Hanggar ini awalnya digunakan untuk menyimpan senjata eksperimen selama masa pemerintahan Kekaisaran. Kemudian perang pecah, dan kami harus meninggalkan pangkalan ini sementara waktu. Tetapi peluncuran dan uji terbangnya sudah selesai, terus kami tinggalkan dia sesaat sebelum memulai produksi masal.”

“Saya bayangkan ditaruh di fasilitas bawah tanah untuk menjaga kerahasiaannya, tetapi pangkalan ini waktu itu dekat sekali ke perbatasan. Bagaimana cara Anda melalukan uji terbangnya?”

“Tak seperti pesawat petarung dan mengebom, kemampuannya tidak dirahasiakan, dan hal paling besar yang diekspektasikan pada si kecil ini adalah dia tidak kasat mata. Kami butuh tempat luas dan kosong untuk uji coba penerbangannya, dan satu-satunya tempat sesuai adalah wilayah barat Vargus, Wolfsland. Dengan kata lain, di sini. Hanggarnya berada di bawah tanah untuk melindunginya dari serangan udara, dan lebih baiknya semua fasilitas kendali serta konstruksi terkait dengannya juga berada di bawah tanah. Berkat itu, Tausendfüßler tidak pernah berhasil menemukannya dan memilahnya.”

Pengecualian sensor Legion Ameise dan kemampuan persepsi lebih rendah. Mereka barangkali mendeteksi sebuah Feldreß atau pesawat jet tempur di sekitar, tetapi pesawat percobaan yang tersembunyi di balik penutup agar terlindung dari pengeboman telah luput dari perhatian mereka selama satu dekade kontrol mereka atas wilayah ini.

“Fasilitas terkait?”

“Dasarnya, landasan pacu …. Atau lebih tepatnya, ketapel yang melekat di landasannya. Jika dia bekerja sesuai keinginan militer, dia akan keberatan untuk lepas landas sendiri dan memerlukan ketapel listrik untuk terbang.”

Getaran halus elevator terhenti. Grethe memasuki kegelapan dengan langkah familier, bunyi klik sepatu militernya bergema jauh nan dalam. Sebuah ruangan terbuka besar, dari segi lebar, kedalaman, hingga tinggi. Seketika, setiap bola lampu di ruangannya menyala, lalu LED putih membutakan kornea matanya sejenak.

Grethe berbalik, punggung menghadapnya. Salah satu Prosesor, atau boleh jadi seseorang dari kru pemeliharaan, menelan ludah gugup. Tidak ada yang mampu mengetahui lingkup penuh makhluk yang mendekam di depan mereka. Memang sebesar itu. Panjang penuhnya kemungkinan hampir seratus meter, bahkan lebih kecil dari C-5 Hræsvelgr, pesawat transportasi terbesar di dunia dan kebanggaan angkatan udara Kekaisaran lama.

Badan pesawat metalik kusamnya memiliki komposisi planar tipikal pesawat siluman2. Rangkanya macam bumerang besar yang entah bagaimana mengesankan seekor naga tengah melebarkan sayapnya.

“Aku persembahkan kepadamu purwarupa Landkraft, XC-1 Nachzehrer.”

Nama model tidak dikenal nampaknya berdasarkan legenda tenggara Federasi, mengenai vampire yang bangkit dari kuburannya, menyeret bayangannya di sepanjang kuburan lalu membunyikan lonceng gereja. Namanya serasa agak tak cocok dengan pesawat militer yang melayang di angkasa, tetapi Grethe menjawab keresahan semua orang dengan pernyataan lanjutan.

“Dia ini pesawat luar biasa yang menggunakan gaya angkatan dinamis besar yang didapatnya dari dekat permukaan sehingga bisa terbang nyaris menyentuh tanah. Kecepatan jelajah dan muatannya sama sebagaimana pesawat biasa dan terbang lebih rendah dari rudal jelajah, terbangnya di ketinggian sangat rendah yang cuma beberapa meter di atas permukaan tanah. Membuatnya kelewat tak mudah dideteksi radar serta rudal jelajah …. Dia orisinilnya dibuat untuk transportasi skala besar dan berkecepatan tinggi secara eksklusif di sepanjang front Wolfsland. Muatan resminya adalah 250 ton, tetapi semisal kalian mengabaikan batasannya, bayi ini sanggup mengemas tiga ratus ton. Dia dirancang membawa regu yang terdiri dari empat Vánagandrs sekaligus.

Kemudian Grethe berhenti dan menyeringai kejam.

“Tapi kalau Reginleif, dia bisa membawa lima belas sekaligus …. Bayi ini dapat membawa kalian semua ke Morpho lebih cepat dan sedikit lebih aman ketimbang helikopter angkut.”

Kecepatan jelajahnya tinggi dan terbang di ketinggian rendah, melewati jaringan radar. Juga merupakan alternatif yang jauh lebih sunyi ketimbang suara berisik formasi helikopter transportasi. Selain itu, akan menurunkan risiko perjalanan menuju target.

Akan tetapi …

Theo mendengar dan bicara dengan mata setengah tertutup.

“Bisakah benda itu beneran terbang dekat banget ke tanah? Kalau hanya beberapa meter di atas permukaan tanah, nanti nabrak bangunan atau rumah.”

Menghadirkan serangkaian risiko baru.

“Area tempat operasi ini dilangsungkan bisa jadi adalah wilayah Legion sekarang, tetapi dulunya merupakan wilayah Kekaisaran. Kami punya kumpulan peta wilayah serta data topografi. Kiranya kita melawan orang, maka jadi masalah, tapi Legion tidak membangun rumah atau kota, alhasil medannya sebagian besar sama saja.”

Seandainya senjata permukaan Legion tak mampu bertarung hanya karena terpapar unsur-unsurnya, perang takkan berlangsung selama ini.

“Weisel dan Admiral itu sebesar gedung, tapi mereka takkan sedekat ini ke garis depan, dan Letnan Satu Nouzen mengetahui posisi mereka. Kita bisa menghindar jika perlu.”

“… aku mungkin tahu mereka di mana, tapi tidak tahu tipe Legion apa.”

“Kami hanya butuh itu. Kita akan terbang melewati tempat-tempat tanpa Legion.”

Barangkali susah mencegat infiltrasi penerbangan rendahnya, tetapi bila mana ada Legion yang menghalangi jalannya, tetap saja masih perlu ditembak. Apabila beberapa meter di atas tanah, bahkan Löwe yang berusaha membelokkan turetnya di sudut ketinggian, masih bisa membidik dari bawah.

“Lagian, andai perlu ketapel untuk lepas landas, bagaimana cara menggunakannya untuk kembali? Benda ini takkan bisa mengembalikan kami.”

“Seperti yang direncanakan dalam rancangan pertama operasi, skuadron Nordlicht akan dijemput pasukan utama. Hal ini pun sama. Masih lebih baik ketimbang punya helikopter pengangkut yang bersiap siaga membawa Reginleif cadangan.”

Pemimpin regu pemeliharaan tua mengangkat alis terhadap kata-kata Grethe.

“Nona, saya hampir takut bertanya, tapi … siapa yang akan mengemudikan benda ini?”

Grethe dengan tingkah kocak dan anggunnya mengulur tangan.

“Aku sendiri.”

 

  

“Saya benar-benar berpikir Anda tidak perlu datang, Letnan Kolonel.”

Shin bicara tanpa perasaan, tapi Grethe yang duduk di kokpit Nachzehrer cuma tersenyum senang di sisi lain Resonansi.

“Kau kira ada orang lain selain aku yang bisa menggerakkan bayi ini? Kebanyakan pilot Kekaisaran sudah mati sekarang, dan tidak seorang pun berpengalaman mempilot Nachzehrer selama uji coba penerbangannya kecuali aku …. Baguslah kita masih punya simulator penerbangan di kantor utama.”

Beberapa orang mengerang karena monolog tidak baiknya, tapi Grethe nampaknya tak menghiraukan, Shin pun tidak.

“Baiklah, Anda pernah menjadi pilot angkatan udara, Letnan Kolonel.”

“… kalau katamu seperti itu, kedengarannya kau hanya ingat itu, Letnan Satu.”

Shin sejujurnya tidak tertarik sama sekali dengan persoalannya, lantas Grethe tepat sasaran.

“Yah, jika kau melupakannya, aku duga kau takkan ingat ini juga. Aku menentang mengirim anak-anak seperti kalian ke medan perang …. Bertarung sampai tetes darah terakhir barangkali harga diri dan identitas kalian sebagai 86, tapi aku rela mati dengan salah satu cara ini. Apabila kalian bersikeras bertarung hingga akhir, bertarung bersama kalian sampai momen terakhir itu adalah kewajibanku.”

“…”

“Mempertaruhkan nyawamu demi negara ini yang menjangkau surga sangat jauh. Tetapi aku ingin kalian mengingat satu hal. Tidak seorang pun di negeri ini mengharapkan kematian kalian. Sebaliknya, kami semua mengharapkan kalian hidup. Aku, komandan divisi … juga beliau.”

“Lama tidak bertemu, semuanya.”

Shin berkedip kaget pada suara tenang tak terduga-duga itu. Suaranya tak datang dari Para-RAID, namun jalur komunikasi kabel luar Nachzehrer.

“Apa yang kau lakukan di sini, Ernst?”

“Uh, hei, aku ini panglima tertinggi Federasi, tahu? Ini tuh pertempuran penentu dengan warga dan wilayah Federasi sebagai taruhannya. Wajar saja aku datang menyemangati prajurit-prajuritku menuju pertempuran, kan? Terlebih lagi kaulah yang akan menjadi kunci misi ini. Betul?”

Ernst menarik napas dalam-dalam, lalu suaranya berubah menjadi suara pemimpin, seorang pria yang memerintah Federasi bertahun-tahun.

“Takdir Federasi, tetangganya, dan umat manusia sendiri bergantung pada kesuksesan skuadron Nordlicht. Hancurkan Morpho, apa pun yang terjadi …. Kami mengandalkanmu.”

“Ya, Pak.”

“Dan … aku punya misi lain yang paling penting untukmu.”

Mengangkat kepala, Ernst mengangguk sungguh-sungguh.

“Kembalilah pada kami. Kalian semua.”

Sesuatu di permintaannya serasa sangat munafik. Seolah-olah tidak terlalu mengkhawatirkan mereka karena mengkhawatirkan dirinya sendiri.

“… kami usahakan.”

“Itu belum cukup. Kembalilah, apa pun yang terjadi.”

Perasaan tak nyaman itu masih tetap sama, tetapi kontrasnya, presiden sementara Federasi dan pria yang di atas kertas merupakan ayah angkat mereka, bicara tulus.

“Kau ingin bertarung hingga akhir, bukan? Demi Federasi ini, bertarung sampai akhir bukan berarti mati. Melainkan hidup tuk melihat setelah perang. Jadi kembalilah ke kami, apa pun yang terjadi …. Kapanpun.”

“Ya. Kembalilah padaku, apa pun yang terjadi …”

Ernst bergumam sesudah menutup intercom. Dia masih di kursi panglima di markas besar front barat terpadu. Dia telah melepaskan setelan bisnis biru yang diproduksi secara masal dan menjadi ciri khasnya sebagai presiden selama satu dekade terakhir, sekarang mengenakan seragam militer biru baja.

Dia bertemu mereka pertama kalinya di sini, di front barat, meskipun tempat persisnya agak jauh. Dia datang ke medan perang untuk menyemangati pasukannya dan menerima laporan mereka menemukan prajurit anak-anak dari luar negeri ketika mengalahkan tipe Tank yang tengah dalam perburuan kepala. Mulanya dia merasa kasihan dan ingin memberi kegembiraan yang takkan pernah bisa dia berikan kepada anak tak lahirnya. Tetapi lebih dari segalanya …

Presiden sementara itu menyipitkan mata abunya saat merasa senyum dingin nan kejam tanpa perasaan di bibirnya.

Negara yang takkan menyelamatkan anak-anak terluka …. Negara yang tidak membiarkan anak-anak bahagia …. Dunia yang tak segan-segan membunuh anak-anak dan menemui akhirnya … adalah dunia paling jauh dari visi umat manusia yang dia yakini …

Ernst mendesah panjang. Layaknya naga yang menghembuskan apinya setelah lelah dengan dunia, seakan-akan berharap menjadikan segalanya dan semuanya menjadi abu …

“… kalau tidak, aku akan menghancurkan dunia.”

Hitung mundur ke awal operasi ditampilkan di layar utama kantor, saat ini berdurasi lima menit. Kepala staf yang berdiri di pusat informasi bagian bawah ruangan, Ernst meliriknya lalu mengangguk sedikit.

 

  

9 Oktober 2144. Penerbangan pertama.

Presiden sementara yang duduk di kursi panglima, mengangguk ke letnan jenderal yang menduduki kursi wakil panglima. Kepala staf mulai bicara. Dia mengenakan seragam dan topi biru baja Federasi. Tangannya bertumpu pada gagang sabel3 tipis, masih disarungkan dan diikat tali kulit, ujung sabelnya menempel lantai, bertindak sebagai tongkat konduktor dadakan.

“Perhatian, semua prajurit.”

Suara kepala staf disiarkan ke semua unit angkatan darat front barat lewat sambungan terjaga.

“Angkatan barat front barat kini mulai bergerak menuju wilayah Legion.”

Semua orang menahan napas ketika mendengar suara dingin tiu, tensi mereka naik maksimal. Semua unit telah dijelaskan tujuan operasi sekaligus peran mereka pada pengarahan pra serangan balasan. Tidak usah sampai mendetail.

Tujuan tentara front barat, militer Kerajaan Bersatu, serta pasukan Aliansi adalah merebut Highway Corridor. Lalu pasukan penyerang akan menjadi ujung tombak yang menembus kedalaman wilayah Legion kemudian menghancurkan Morpho yang bersemayam di sana.

Operasi ini sama saja menghadapi pasukan penuh Legion; baik gagal atau mundur tidak jadi pertimbangan.

“Operasi ini bukan hanya untuk kepentingan Republik Federasl Giad, Kerajaan Bersatu Roa Gracia atau Aliansi Wald. Ini operasi terbesar sepanjang sejarah umat manuia dan akan memengaruhi takdir negara tetangga kita yang mungkin selamat dari serangan Legion, begitu pula takdir ras manusia. Kalian akan bertindak sebagai perisai kukuh yang menjaga sekutu tetangga dan pedang perkasa yang ‘kan membuka jalan tuk masa depan umat manusia. Jangan lupa sang dewa perang tidak pernah berpihak kepada pecundang, melainkan memberi berkahnya kepada orang-orang gagah berani! Majulah dan pertahankan bendera elang berkepala dua dengan nyawa kalian!”

“Perhatian!”

Sepuluh kilometer di timur garis depan, sebuah unit artileri dikerahkan, moncong meriamnya dibariskan. Howitzer 155 mm berdiri megah, turet-turetnya memanjang laksana tombak menghadap langit, lalu meriam artileri swagerak 155 mm bertipe sama dimuat ke dalam truk. Hanya beberapa howitzer 105 mm tipe tua dan howitzer 203 mm mandek dikerahkan di sepanjang deretan. Sistem peluncur roket banyak5 membidikkan magasin empat puluhnya menuju arah langit barat yang gelap.

“Misi kita adalah memberi tembakan perlindungan kepada garis depan sekutu-sekutu kita! Selagi mereka merangkak melalui lumpur, ayo bantu dengan meledakkan tumpukan-tumpukan rongsokan itu langsung ke neraka!”

Para prajurit artileri yang stress melontar senyum tegang pada kata-kata yang mengejek infanteri lapis baja dan Feldreß yang bertarung dengan kepala tertunduk di rawa-rawa medan perang. Komandan pasukan artileri melihat sekeliling dan mengangguk. Rambut hitam panjang di balik topinya adalah bukti masa mudanya, dan wajah lembut pucat pasinya ditekan kaca mata bingkai hitam.

“Demi rekan-rekan kita di garis depan dan para pejuang itu yang bahkan lebih di depan lagi, teruslah menembak, apa pun yang terjadi! Kendati laras senjatanya meledak dan malaikat turun dari surga merenggut kita semua, jangan berhenti menembak! Semuanya, bersiap mengebom!”

Sementara itu, di garis depan, di suatu kamp lapis baja …

“Kita melancarkan serangan balasan setelah tembakan dukungan! Jangan takut dan menghambat kami, dengar?! Siapa pun yang selamat harus membaca keras-keras surat yang mereka tulis untuk pacar mereka! Perjaka manapun yang tidak punya pacar di kampung mesti menulis surat ke ibunya dan baca keras-keras!”

Saat suara kasar komandan unit lapis baja bergema keras, diperkuat pengeras suara, Vánagandrs bangkit dari siaganya satu per satu, dan didampingi truk-truk tempur bermuatan infanteri lapis baja yang menghidupkan mesin mereka.

Seketika paket tenaga mulai meningkatkan RPM mereka, pekikan bernada tinggi Vánagandrs bercampur stakato4 mesin diesel. Kisi harmoni menembus langit biru, masih kaya akan jejak-jejak malam.

Mereka tak repot-repot menghubungkan tautan data sejak awal. Lagi pula takkan berguna di wilayah Legion yang dipengaruhi Eintagsfliege. Menatap jajaran pesawat pendamping lewat tiga sensor optik unitnya, seorang perwira muda—hampir berusia dua puluhan—membawa penerima speaker eksternal ke mulut.

“Jangan duduk diam dan membiarkan monster Republik melindungi kalian …. Tunjukkan para pengamuk gila itu kebanggaan Federasi!”

Mendengar teriakan komandan unit lapis baja bergema di udara pagi yang ungu-gelap dari speaker luarnya, komandan infanteri lapis baja tersebut menyeringai dalam kendaraan.

“Aku bersumpah, satu hal jelas, anak-anak muda ini tahu caranya membuat semangat …”

Dia dibalut lapis baja eksoskeleton dan memanggul senapan 12,7 mm favoritnya. Helm yang menutupi wajahnya sekarang telah diangkat, memperlihatkan wajah tua persegi panjang seorang pria berusia empat puluhan. Dia pura-pura tak tahu, karena kelelahan sewaktu bawahannya bercanda dia makin tidak mirip veteran prajurit infanteri lapis baja dan lebih seperti pekerja kantoran di kereta penuh sesak.

Dia melihat-lihat sekeliling ke sosok besar bawahannya yang duduk di seprai ruangan kargo gelap, ditutupi kaca jendela lapis baja, kemudian dia membuka bibirnya tanpa antusiasme sedikit pun.

“Baiklah, bocah-bocah. Aku lewatkan semua pidato besar nan membanggakan kepada orang yang tahu cara membuatnya, tapi hari ini fokus sajalah kembali hidup-hidup …. Maka dari itu—”

Dia sepintas melirik foto istri dan anak-anaknya yang menempel di dalam kerangka lapis baja eksoskeletonnya, sembari mempertahankan wajah poker sedangkan prajurit lain mengangkat bahu.

“Kita perlu tempat berpulang kalau berencana kembali. Jadi ayo berusaha sekuat tenaga bertahan! Demi diri kita, dan …”

… demi pemuda-pemuda di unit lapis baja yang memimpin penyerangan dan sadar betul mereka kemungkinan besar akan menjadi unit pertama yang dihancurkan Legion. Juga demi prajurit-prajurit muda yang bahkan lebih jauh lagi, yang menjadi ujung tombak operasi sekalipun tahu mungkin menjadi perjalanan satu arah, yang menyelam lebih dulu ke jantung wilayah Legion terlepas dari segala resikonya.

Sentimen tak normal yang dia rasakan saat ini memaksakan senyum ke bibirnya, kemudian kapten infanteri lapis baja menurunkan helmnya menyembunyikan senyuman itu. Umpan optik yang diproyeksikan langsung ke retinanya, bercampur penglihatannya, dan di pinggir terdapat hitung mundur dimulainya operasi.

Sepuluh detik lagi …

Tiga, dua—

“Demi rekan-rekan seperjuangan kita dan tanah air tempat kita kembali.”

… nol.

Panglima front barat mengangguk balik ke kepala staf, lalu Ernst membuka bibirnya tanpa perasaan. Dia mengenakan seragam biru baja serta topi regulasi dan memakai mantelnya bak jubah di pundak.

“Mulai operasi.” “Tembaaaaaaaaakkk!”

Sesuai perintah, seluruh formasi artileri howitzer dan sistem peluncur roket banyak, sekaligus mortar unit infanteri, meraung serempak. Gelombang kejutnya meniup awan debu di belakang mereka. Selongsong-selongsong terbang ke langit bagaikan parabola anak panah menyala, menyisakan getaran di belakangnya.

Roket-roketnya menutupi langit timur bak dinding baja, menghalangi cahaya mentari pagi samar sebelum sempat sampai puncak dan turun bersuara pekik nyaring ketika menembus pertahanan Legion.

“Perintah maju diturunkan! Ayo kawan-kawan, ayo, ayo, ayo!”

“Jangan biarkan orang-orang tolol di pasukan penyerang mendahului kita, bung! Siapapun yang perlu dijemput berhak ditendang pantatnya!”

Tembakan pendukung artileri belakang masih kuat. Tidak memedulikan larasnya yang kepanasan, pengebomannya berkecamuk biarpun sudah pindah posisi. Di tengah hiruk-pikuk gempar selongsong tiada habis, satu unit lapis baja Vánagandrs masuk ke formasi rapat dan mulai maju.

Mereka sampai kecepatan maksimum sekejap mata. Mobil-mobil tempur dipenuhi infanteri yang cepat mengikuti dari belakang.

Dengan mesin dan paket teanga meraungkan seruan perang, banjir baja melanda medan perang yang direndam cahaya fajar.

 

  

Zona perang terletak di antara perbatasan wilayah Legion dan umat manusia. Di sana, selagi siluet-siluet mesin swagerak berdiri memerhatikan waktu-waktu fajar bercampur kegelapan, satu tipe Pengintai mengalihkan rangkanya ke langit timur. Tiba-tiba, sensor optik terlampau efisiennya menangkap kilat.

Momen berikutnya, pengeboman keras menghujaninya. Sekelompok hulu ledak swatempa tersebar di langit atas, masing-masing radarnya aktif dan mengunci target. Pengebomannya melesat di atas senjata lapis baja dengan kecepatan dua ribu meter per detik, menabrak unit Legion bagai palu godam.

Dampaknya diulang-ulang cepat, cukup cepat bahkan sampai menyate Dinosauria. Tanahnya bergetar tatkala tanah sedimen membumbung ke langit, membentuk tabir cokelat di atas cakrawala. Tetapi tabirnya langsung robek kala unit Vánagandrs menyerbu maju, mengejar sisa-sisa Legion seganas sekawanan serigala kelaparan.

 

  

Layar utama markas besar terpadu menampilkan perjuangan habis-habisan setiap unit saat ikon bergerak dan berbentrokan. Pasukan Legion melebihi jumlah ketiga negara yang berpartisipasi dalam operasi tersebut. Namun, pasukan ikon biru mereka maju ke lini-lini mesin swagerak, menembus pasukan mereka, menarik dan menghancurkannya.

“Mereka bergerak …. Kami memancing keluar mereka …!”

Sepasukan lapis baja Legion mulai turun dari wilayah musuh untuk mencegat mereka. Berbalik tuk memastikan kepala staf memberi izin, seorang anggota personel kontrol berbicara lewat interkom dengan suara tajam.

“Kami berhasil memancing pasukan garis depan Legion. Beralih ke Fase Dua. Ruang kendali Markas Besar Terpadu ke 1,028. Nachzehrer diizinkan lepas landas!”

“Ayo pergi!”

Begitu pekikan nada tinggi dari empat mesin jet di kedua sayap Nachzehrer mencapai telinga Shin, ketapel listrik menerbangkan badan pesawat seberat empat ratus ton ke udara.

“…!”

Akselerasi intensnya tidak biasa bagi badannya yang terbiasa pada lepas landas pesawat transportasi maupun manuver kecepatan tinggi Juggernaut. Gelombang elektromagnetik membuat suara bising di layar utamanya, lalu saat berikutnya, langit fajar biru samar menghampar di hadapannya. Melintasi landasan bawah tanah tak sampai sekejap, Nachzehrer mencondong selagi terbang di atas permukaan, membumbung dengan kekuatan akselerasinya.

Tampilan layar langit biru dingin musim gugur berganti menjadi salah satu daratan bisu, selanjutnya tertinggal di belakangnya sekejap mata. Kecepatan Nachzehrer membutakan bukan main. Disangka penerbangan ketinggian rendah bisa teramat cepat sampai-sampai memungkinkannya pemandangan itu …

“I-ini lebih ngeri dari yang kupikirkan …”

“O-orang gila mana yang berpikir menciptakan benda ini?!”

Grethe terkekeh dari kokpitnya, tawa melengking tidak seperti tingkah laku normalnya. Ibaratnya sedang dalam adrenalin tinggi, seolah darahnya terpompa karena berada di aula judi untuk pertama kalinya.

“Sungguh kehormatan prajurit tanpa kenal takut kek kalian mengatakannya! Bayi ini bisa terbang dengan kecepatan delapan ratus kilometer per jam, omong-omong, kita sudah lewat seratus kilometer dan beberapa belokan sampai ke target …. Nikmati perjalanan sembilan menit kalian selagi bisa!”

 

  

Di langit, dua ribu meter di atas wilayah Legion, satu unit Legion sedang melayang, dengan rakusnya menerima banyak laporan bentrokan dan adu tembak dengan ketiga negara. Unit induk Eintagsfliege, tipe Kontrol Pengamatan—Rabe. Mengkomandoi Eintagsfliege dan Stachelschwein, sistem peringatan dini udara ini terus mengawasi keadaan gerakan militer umat manusia dengan waspada dan melihat segalanya. Bentang sayap sepanjang 122 meternya dilengkapi panel yang dihasilkan tenaga surya. Gagak perak raksasa ini akan tetap mengudara hingga ditembak jatuh atau sampai masa hidupnya sebagai mesin swagerak berakhir.

Ekstensinya berhubungan dengan Eintagsfliege, ia juga mengintegrasikan dan menganalisis komunikasi antara Legion dan menyampaikan perintah diterimanya ke penerima sesuai, berperan ganda dalam unit delegasi Legion.

Sebab menerima banjir informasi terus-menerus, ia langsung menganalisis dan menilainya. Menyimpulkan bahwasanya jaringan di yurisdiksinya tidak cukup kekuatan untuk menahan serangan, meluncurkan permintaan dalam skala jaringan area luas6. Sesaat meluncurkan laporannya ke unit Panglima Tertinggi yang mengawasi jaringan area luas, Rabe terus mengawasi invasi pasukan musuh dan memutar sayapnya sembari melanjutkan penerbangan tinggi longgarnya.

<Diterima. No Face kepada semua unit yang terhubung ke jaringan area pertama. Invasi dari Federasi, Kerajaan Bersatu, dan Aliansi dikonfirmasi.>

Arahan unit Panglima Tertinggi diedarkan lewat jaringan area pertama yang terdiri dari pasukan militer Federasi, Republik, juga Kerajaan Bersatu, dan Aliansi mirip nada elektronik yang bergerak di udara. Bisikan tanpa suara-tanpa kata dari mesin satu ke mesin lainnya.

Unit Panglima Tertinggi adalah Gembala yang nama panggilnya adalah No Face. Ia bahkan kehilangan kemampuan melihat wajah istri dan putri tercintanya, tetapi keyakinan manusianya saja yang tetap utuh. Fakta hantu ini sanggup menikmati ironi begitu kejam merupakan bukti pendidikan yang diterimanya semasa hidup.

Unit Panglima Tertinggi menghakimi situasinya pas prediksi mereka. Jikalau senjata terpandu tidak cukup, juga mereka kekurangan senjata artileri jarak jauh untuk menandingi Legion, satu-satunya pilihan tersisa mereka adalah serangan langsung. Tampaknya ketiga negara memilih tak mematuhi pertahanan mereka dan tidak menunggu konklusi Railgun mengubah mereka menjadi abu.

Mereka berbeda dari tanah air lamanya yang memilih mengurung diri dalam dindingnya, hingga akhirnya dihancurkan beban mereka. Satu-satunya hal jelas, serangan mereka terhadap Republik berjalan sesuai jadwal.

Upaya mereka terhambat dua bulan terakhir, mereka melancarkan serangan itu setelah mengulur waktu selama serangan empat sisi. Pasukan Federasi segera dikerahkan, ibaratnya mereka telah meramalkan segalanya sampai operasi dimulai.

Kejadian ini belum pernah dialami No Face sebelumnya. Berulang kali menerima laporan dari tanah air lamanya, Republik San Magnolia. Salah satu sektor unik di mana setiap penyergapan dan serangan mendadak sepertinya gagal. Dan barangkali fakta Federasi mampu mendesak dan membalas serangan tepat melawan Railgun, walau dikerahkan seratus kilometer jauhnya dan dalam jangkauan gangguan Eintagsfliege, ada kaitannya dengan ini.

Hari ini, mereka harus mengkompensasi sejumlah kemunduran tersebut. Musuh mereka harus dimusnahkan, dengan segala cara.

<Semua unit, mode siaga non-aktif. Algoritma taktis diatur menjadi mode tempur pemusnahan.>

Naluri membunuh diprogram ke dalamnya—protokol tempur yang ditetapkan oleh Kekaisaran yang kini hancur—mendorong mereka untuk bertempur tanpa alasan atau pembenaran apa pun. Dorongan sederhana untuk membantai semua orang yang diklasifikasikan musuh akan ditransmisikan selamanya, selama mereka tidak dihancurkan.

Unit Panglima Tertinggi telah lama berpikir jika itu tidak membuahkan hasil. Dia sudah kehilangan kemampuan bicaranya bertahun-tahun lalu, ketika mati di medan perang Sektor 86.

<Mulai pemusnahan.>

 

  

“Unit garis depan mulai menyerbu. Mobil komando kepada semua kendaraan, kita juga bergerak. Percepat persiapan kalian!”

Saat pasukan penyerang bergerak melawan musuh, sudah peran unit artileri untuk menyerang bala bantuan musuh yang datang jauh dari kedalaman wilayah musuh alih-alih musuh di depan rekan-rekan mereka. Sewaktu pasukan penyerang bergerak memasuki wilayah musuh, mereka diharuskan membawa artileri berat juga, maju di sepanjang bumi yang dibumihanguskan.

“Kita majukan zona pengebomannya! Ayo ledakkan bongkahan sampah sialan itu—”

Mengintip keluar dari jendela mobil komando lapis baja yang bagian atasnya terbuka, seorang wanita muda berperan sebagai komandan unit artileri sedang meneriakkan perintah-perintah ke penerima nirkabel di tangannya tetapi dia mendadak mendongak seketika ketakutan menyelimutinya.

Sewaktu itu, langit biru menggelap tatkala roket abu-abu metalik turun tanpa suara dari langit barat. Tembakan tipe Skorpion anti-artileri. Ameise dilengkapi radar superior anti-artileri mengkalkulasikan lokasi mereka dalam waktu dua menit lalu mengirimkan datanya ke tipe Skorpion, memungkinkan mereka menembak dengan akurasi mengerikan.

“B-berlinduuuuuunggggggggg—!”

Tapi teriakannya malah memperlamban reaksinya sendiri. Komandan artileri hanya mampu menghabiskan momen terakhirnya menatap suar 155 mm kematian yang turun menghujamnya.

“Kapten!”

Pengemudi mobil komando menerjangnya, mendorong sang komandan jauh dari mobil dengan sosok besarnya membuat komandan itu jatuh ke berguling ke tanah.

Dampak.

Serangannya terdiri dari selongsong anti-lapis baja fungsi ganda. Proyektil-proyektil kecepatan tinggi melepas gelombang kejut, ledakan api, serta rentetan pecahan peluru yang gerakannya secepat delapan ribu meter per detik, membubarkan formasi artileri ke mana-mana.

Setelah menerima serangan langsung selongsong 155 mm—sanggup menghancurkan Vánagandr secara langsung—mobil komandonya meledak hancur. Kacamata hitam retak-retak kapten artileri kini dihempas ledakannya dan terbang ke udara. Dia menyaksikan dari bawah tubuh pengemudi yang tiarap di atasnya.

Dalam kasus pengeboman, jika terjadi pengeboman, menghadap arah ledakan dan tiarap akan meminimalkan luka-luka hingga batas tertentu, dibanding mengekspos diri, tubuh manusia jauh lebih tebal dan menjadi perisai lebih baik terhadap pecahan peluru. Berkat pengemudi yang menjaganya dengan tubuhnya sendiri, kapten artileri menghindari luka fatal.

Akan tetapi, pengemudinya …

Merasakan tubuh pengemudi tiba-tiba memberat, perwira itu berjuang merangkak keluar dari bawahnya ketika bebannya membebani dirinya, lalu napas di tenggorokannya tertahan.

“… Korporal—”

Kemungkinan besarnya … bentuk yang terbaring di depannya adalah sisa-sisa si pengemudi.

Mengambil kacamatanya dari tanah di dekatnya. Melihat-lihat, di tak bisa mendapati satu pun jejak formasi artilerinya lagi. Unitnya sudah dijadikan gundukan daging dan baja, menghias pemandangan neraka yang turun ke medan perang tanpa peringatan. Tanpa mikrofon di tangannya, dia berteriak sekeras-kerasnya, ada tatapan gila di matanya selagi mengisi paru-parunya dengan bau darah dan daging terbakar.

“—lapor kerusakan! Pertempurannya belum berakhir!”

Dalam gelapnya subuh kelam, padang rumput bergelombang seperti badai laut. Embun pagi dan api terpercik-percik begitu logam perak dan abu-abu metalik saling berbenturan, menembus udara malam. Unit lapis baja yang terdiri dari Vánagandrs, infanteri lapis baja, serta truk-truk tempur, menghadapi kekuatan campuran Dinosauria, Löwe, juga Ameise dalam perselisihan dan pertempuran lebur.

Dinosauria dan Löwe tak tertandingi di dataran terbuka, tanpa adanya penghalang yang menghambat mobilitas tinggi dan daya tembak mereka. Tidak ada pilihan lain selain melangkah memasuki medan perang ini terlepas inferioritasnya, Federasi melawan satu musuh dengan banyak unit, masing-masingnya mengandalkan unit pendamping sebagai pengalih yang bisa mengubah situasi hingga memihak mereka. Pertempuran biadab tak terelakkan, usaha percobaan mereka mengepung Legion yang sekali-kali berhasil, dan di lain waktu terganggu.

Dan di banyak titik buta yang terbentuk selama pertempuran itu, ada beberapa yang menunggu.

Duduk di kursi belakang Vánagandr’s, komandan unit lapis baja menyadari dari umpan sensor optik. Di tepi poros turet tank berkaki banyak, bayangan kecil mencengkeram pinggiran lapis baja unit tersebut dan memanjat naik. Sosok seorang anak sekitar tiga tahunan—pemandangan tak biasa di medan perang.

Dia berdiri terkaget-kaget tatkala sedikit terlambat menyadarinya. Sosok itu merayap ke atas turetnya, kemudian mendapati sebagian tubuh bawahnya terluka dan hilang. Seorang manusia takkan bisa bergerak dalam kondisi ini. Tidak salah lagi itu luka fatal.

Yang artinya dia bukan manusia.

Tetapi ranjau anti-tank swagerak. Ranjau-ranjau itu digunakan di awal-awal masa perang, saat masih ada warga sipil di garis depan. Mereka tertangkap perhatian prajurit-prajurit yang menyamar sebagai anak-anak.

Senapan mesin berat Vánagandr-nya dipasang di belakang turetnya, oleh sebab itu, ranjaunya berada di luar jangkauan turet. Seketika melekat di Vánagandr, tidak bisa diapa-apakan lagi. Bahan peledak berwujud bayi anak-anak merayap di atas turet. Dia menatap kepala besar tanpa wajahnya lewat sensor optik. Suara sintetik seorang anak yang dipancarkan anehnya jelas, walau tidak punya mulut.

“Ma … ma …”

“… oh, dasar bangsat.”

“Maaf, takkan kubiarkan.”

Dampak ringan mengguncang Vánagandr. Satu eksoskeleton—seratus kilogram dibanding Feldreß yang berukuran lima puluh ton—naik ke atasnya. Suara orang tua bercanda bicara kepadanya lewat sambungan langsung.

“Kalian anak-anak tidak boleh mati sebelum kami. Orang tua kalian nanti takkan berhenti menangis.”

Tidak sempat menembakkan senapan serbu berat 12,7 mm di tangannya atau bergegas menendangnya. Lantas kapten infanteri lapis baja melompat ke ranjau swageraknya. Berat kotor tubuhnya di dalam eksoskeleton jauh lebih ringan ketimbang Vánagandr, tetapi bukan beban yang dapat ditopang ranjau swagerak berukuran anak-anak. Tangannya melepaskan lapis bajanya, lalu mereka berguling turun dari turet Vánagandr bersama-sama.

Lalu, terjadi kilat cahaya.

“Kapten …?!”

Ranjaunya membawa bahan peledak yang dirancang menembus lapis baja Vánagandr. Tidak tersisa sedikit pun eksoskeleton lapis baja tipis dan tubuh lemah yang melindunginya. Sesuatu mengepak menyerempet sensor optiknya. Foto terbakar …. Foto keluarga dua orang tua bersama ketiga anak mereka.

Sialan …!

Bahkan sebelum dia sempat menggigit bibir frustasi, dia meninju bagian dalam kokpitnya karena dibutakan amarah. Kini mereka kehilangan komandan, dia mesti membawa semua orang di unit infanteri lapis baja—semua orang yang masih hidup—pulang dengan selamat.

“Unit dua dan tiga, sesuai aba-abaku! Unit infanteri, tetap di belakang kami!

… sial!”

Dia menyumpah-nyumpah dan mematikan interkom. Setelahnya melotot langit hitam—tepat di belakang Dinosauria yang menjulang di atasnya.

Sudah berhasilkah kalian, 86 sialan …?!

 

 

Pertempuran sengit tentara Federasi menjangkau Nachzehrer melalui transmisi nirkabel yang melintasi blokade. Perangkat RAID masih dalam tahap percobaan dan belum diproduksi secara masal, hanya skuadron Nordlicht yang saat ini menggunakannya.

Transmisi nirkabel, kental suara statis dan kacaunya gangguan Eintagsfliege, dikerahkan ke medan perang, sampai ke telinga Shin selagi dia duduk di Juggernaut-nya.

“Batalion Lapis Baja ke-225 sudah mencapai lini fase Zinc. Konsolidasikan wilayah pengaruh kita hingga bala bantuan tiba. Kompi Infanteri ke-417 dan Peleton Bantuan ke-139, sedang menuju ke arah kalian. Dalam proses mengembalikan semua pasukan terluka. Komandan Batalion Lapis Baja ke-32, gugur dalam tugas. Kompi Infanteri ke-775 kepada Formasi Artileri ke-828, meminta tembakan perlindungan. Ya, tak masalah, jatuhkan semuanya ke kami.”

Setiap transmisi diutarakan di tengah-tengah pertempuran liar penuh gejolak dan disampaikan dengan teriakan, ratapan, serta sumpah serapah, juga seruan perang, semuanya bersaing menenggelamkan suara-suara lain. Keberanian gagah yang menghalangi garis menuju kegilaan—dan penghabisan dahsyat.

Raiden bergumam:

“—Federasi tidak mundur.”

Kawanan Legion menyapu mereka berkali-kali, kian mengikis pasukan mereka, tetapi Federasi tidak mundur selangkah pun. Sebaliknya, selagi pertahanan unit lapis baja Legion didorong, unit-unit Federasi berikutnya mendorong maju, tidak mengindahkan garda depan mereka yang terbuka celah dan dilenyapkan di belakang mereka.

Tidak ada kata mundur. Mereka mendesak dan mendesak, seolah-olah berkata jikalau tersandung mundur selangkah pun, sesuatu berharga akan diambil dari mereka. Praktiknya, itulah yang persis terjadi; bila mana garis depan hancur, sekiranya Morpho dibiarkan maju ke posisi ini, yang berada di belakang mereka semua akan terekspos serangan ganasnya. Bagi 86, Republik bukanlah tanah air mereka, dan Alba yang tak menyebutnya takkan pernah berpikir memperjuangkannya.

“Untuk mempertahankan …”

… keluarga seseorang. Rumah seseorang. Rekan-rekan seseorang. Nilai negeri orang. Dan yang paling mendasari semuanya … adalah tempat seseorang berada.

Suara anak Alba yang pernah dia dengar tetapi takkan pernah lagi bergema di benaknya.

Adikku. Lautan.

Dia bertarung dengan harapan itu dalam hatinya … dan mati menggenggamnya.

Kenapa kau …?

Dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Sebab dia tak punya hal untuk diperjuangkan …. Tiada yang dipertahankan.

Komunikasi lain menggapai mereka. Radio menghidupkan suara unit yang mempertahankan beberapa posisi penting terisolasi, dikepung, dan diserang. Bertahan sampai mati. Bertahan sampai mati, kata mereka. Tunggu sebentar lagi saja, kalau kalian lakukan, kartu truf kita—anak-anak 86 menyebalkan itu—akan menghancurkannya demi kita. Terus kita akan menang.

Tawa gembira seseorang masuk lewat Resonansi.

“Misalkan kita menghancurkan Morpho. Di sini, sekarang …”

“Keknya kita harus memenuhi sejumlah ekspektasi, ya …? Maksudku. Lihat saja betapa keras mereka berusaha.”

Rekan-rekannya bertukar kata riang, tetapi Shin tak menjawab …. Karena dia merasakan perubahan baru dalam pergerakan pasukan Legion yang dikerahkan di depan mereka.

“Letnan Kolonel.”

“Ya, mereka mengincar kita …. Mereka mencoba memblokir rute kita.”

“Tidak bisakah kita hindari?”

“Bakalan susah. Gadis ini buruk soal berbelok.”

“Tidak bisakah kita hindari?”

“Karena Landkräfte terbang sangat dekat ke tanah, alhasil takkan mampu memiringkan rangka badannya untuk berbelok. Aku bisa memiringkan badan pesawat untuk berbelok, tetapi itu kelamaan.” selagi Grethe bicara, dia boleh jadi menaikkan tuas kendalinya, meningkatkan ketinggian untuk mengangkat batang hidung Nachzehrer. Landkräfte adalah pesawat yang dioptimalkan untuk terbang sambil meluncur ke tanah, tetapi masih tidak sanggup terbang tinggi.

Mendapat ketinggian dengan mengorbankan kecepatan, Nachzehrer sampai di ketinggian yang bisa dianggap tengah udara dalam sekejap mata. Mereka akhirnya sampai di langit yang telah dicuri dari umat manusia oleh Eintagsfliege juga Stachelschwein, di ketinggian yang membuat mereka rentan terhadap tembakan anti-udara.

“Apa yang kau …?”

“Misal kalian mendarat di sini, kalian cuma akan bertarung melawan para bajingan yang mencoba memblokir jalan kita. Tujuan awal mengalahkannya akan gagal.”

Shin bisa mendengar sirene menggelegar di sisi lain Resonansi: peringatan penguncian. Peringatan alarm mendeteksi radiasi paparan pandangan laser Stachelschwein. Dan kala itu pula, kargo belakang bersuara berat dan keras, sewaktu lubang palkanya pelan-pelan dibuka.

“Benar kataku meminta tim peneliti mempersiapkan ini untuk jaga-jaga. Pekerjaannya terburu-buru, jadi mungkin kelihatan agak rapuh, tapi semestinya berfungsi dengan baik.”

Para Prosesor seketika menyadari Reginleif tidak ditempatkan di ruang kago melainkan pada palet aneh nampak tangguh yang sampai menyelimuti palka kargo dan bahkan pagar pembatas.

“Oh, tidak usah mengkhawatirkan aku. Aku takkan melakukan hal memalukan seperti menghancurkan bayi ini, dan aku pun membawa unit cadangan buat jaga-jaga …. Sudah kubilang sebelumnya, bukan? Aku dulu seorang Operator pula. Bukan kalian para 86 doang yang benci Vánagandrs lamban itu.”

Ada lima belas Prosesor tetapi enam belas rig di kapal. Satu Reginleif berdiri jauh dalam ruang kargo, dipasang langsung ke lantai.

“… Letnan Kolonel, ada dua kompi di depan, boleh jadi pasukan lapis baja yang sebagian besarnya terdiri dari Löwe. Seumpama Anda ingin menjadi pengalih, tak usah menghadapi mereka. Berlindunglah di hutan sesudah mengontak mereka.”

“Yah, makasih buat nasehatnya, tapi … jangan remehkan aku, bocah.”

Shin terdiam, jelas tercengang, dan Grethe ketawa keras-keras, ada sedikit kasih sayang di suaranya.

“Kalau begitu sampai bertemu lagi—Semoga berhasil!”

Meninggalkan kata-kata doa kuno itu, dia menutup Resonansi, dan secara bersamaan juga Resonansinya, kunci di pagar pembatas dibuka. Lima belas Reginleif meluncur menuruni rel, suara nyaring terdengar dan percikan api beterbangan tatkala logam bergesekan logam, kemudian di saat-saat berikutnya, mereka terjun bebas.

Menjadi senjata darat, Reginlief alamiahnya tak punya cara mengurangi gravitasi. Kala mereka jatuh, mereka melihat siluet Nachzehrer di langit keemasan, meluncur ke depan selagi mencoba berbelok. Latar keperakan kota di bawah dipantulkan sayapnya begitu tembakan meriam otomatis anti-udara menyerempet langit, mencoba menjatuhkannya. Tembakannya jatuh ke sekelompok gedung pencakar langit, kemudian runtuh di antara mereka. Dan persis di luar sana, suara erangan dan tangisan kebencian berulang memenuhi kesadaran Shin.

Inikah?

Segera setelahnya, parasut yang dipasang di paletnya terbuka lebar, selanjutnya mereka mulai cepat melambat. Perlambatan tiba-tiba dari belakang mendorong para pilot nya maju ke depan, tetapi sabuk pengaman empat tirik menarik kembali mereka. Sewaktu berikutnya mereka mengangkat kepala, palet turun mendarat ke tanah.

Nachzehrer yang membumbung dan kecepatan turun yang melamban memperlunak pendaratan parasut, tetapi masih termasuk pendaratan sukar dengan kecepatan yang bagaimanapun tidak bisa dibilang aman. Kendatipun sudah dibantu sistem penyangga palet, getaran kuat bahkan mengguncang para Prosesor yang biarpun terbiasa dengan gerakan mobilitas tinggi Reginleif, harus menahan diri agar tak menggigit lidah mereka.

Memangkas padang hijau dan menghitamkannya, palet penjatuhan udara masih berdiri diam. Kuncinya secara otomatis terbuka, lima belas Reginleif terhuyung-huyung maju goyah menuju wilayah Legion. Sensor optik Fido juga tak fokus ketika menukik turun. (Memangnya AI bisa pusing?) Mereka menggeleng kepala untuk menghilangkan rasa mual lalu mengangkat kepala—di sisi lain hutan yang membatasi dataran tak berpenghuni ini, pilar asap hitam yang dihasilkan bahan bakar jet mengepul ke langit, ibaratnya menjadi saksi kekuatan api yang diciptakannya.

 

  

“S-sinyal Nachzehrer hilang! Sinyal Nachzehrere telah terputus!”

Personel kontrol Unit Uji Coba ke-1.028 praktisnya meneriakkan laporan tersebut, dan konfirmasi langsung menyusul dari markas besar terpadu. Kepala staf negara bertanya, mencoba memastikan situasinya:

“Bagaimana status skuadron Nordlicht?”

“Mereka dijatuhkan dari udara sebelum kita kehilangan sinyal Nachzehrer, dan mereka mendarat lima kilometer jauhnya dari area target …. Tapi …”

Selagi mereka melapor, perwira kendali menggigit bibir. Reginleif itu cepat. Selagi Legion mengerubuni Nachzehrer, mereka seharusnya bisa maju ke Kota Kreutzbeck.

“Letnan Satu Nouzen melapor mereka menemui musuh! Mereka saat ini tengah melawan unit Legion di sekitar Morpho!”

 

  

Deretan tembakan berat dan terampil empat turet 155 mm tank, sebuah 76 mm meriam sekunder koaksial, juga senapan mesin berputar 14 mm menyapu jalanan. Sesaat mereka menyusupi kota, Shin menyipitkan mata ketika melihat peleton Dinosauria menunggu mereka. Bagi Legion, Morpho merupakan senjata strategis yang berfungsi sebagai kartu truf anti-Federasi, anti-manusia. Wajar saja mereka memperketat pertahanan di sekitarnya, tetapi masih jadi persoalan.

Walaupun lebih baik ketimbang peti mati alumunium Republik, lapis baja Reginleif tidak mampu menahan kekuatan menggelikan selongsong tank 155 mm. Melacak bayangan putih lawan mereka yang menghindar, Dinosauria membelokkan turet-turetnya. Mengandalkan perangkat pengisian ulang otomatis ketepatan tinggi, mereka dengan kejamnya melanjutkan siklus penembakan cepat selagi mengejar para Juggernaut.

Dinding-dinding ditembus, pilar-pilar dicungkil, dan bangunan-bangunan runtuh begitu rentetan lubang peluru menembusnya. Di sisi lain, reruntuhan gemetar, empat turet mengunci peleton Bernholdt yang mencoba menyelinap ke belakang musuh mereka.

Undertaker mendarat di belakang Legion. Begitu mendarat, pedang frekuensi tinggi diayunkan menebas pelindung belakang Dinosauria kemudian menembak yang kedua. Sepintas berikutnya, Laughing Fox melompat turun dari gedung lain dan menembak selagi bermanuver jungkir balik, menjatuhkan dua musuh lain.

“—Shin! Yang selanjutnya akan datang!”

Shin tidak perlu diberi tahu.

Undertaker bersama Laughing Fox melompat ke kiri dan kanan, mengelak senapan mesin yang menyerempet tempat mereka berdiri sedetik sebelumnya. Federasi bahkan melapisi infanterinya, jadi peluru 7.62 mm normal tidak efisien melawan mereka. Karena itulah, Ameise yang menyerang malah dilengkapi senapan mesin berat 14 mm anti-lapis baja ringan.

Di waktu berikutnya, garis tembakan yang barusan dikosongkan keduanya dipenuhi rentetan tembakan Juggernaut garis belakang. Wehrwolf berposisi di antara sisa-sisa dua Dinosauria, Snow Witch menembak dari belakang reruntuhan, dan Gunslinger memanjat permukaan bangunan untuk menembak. Lengan penggenggamnya dilengkapi senapan mesin berat yang meraung-raung tanpa ampun sambil menyembur peluru. Ameise berlapis baja ringan dikoyak-koyak oleh tembakan terkonsentrasi, lantas skuadron Nordlicht memanfaatkan celahnya untuk maju lebih dalam ke wilayah musuh, bersama Shin yang memimpin.

Fido yang diam di belakang pertempuran hingga diperlukan, bergabung bersama mereka, dan beberapa waktu kemudian, Bernholdt bersama peletonnya bergabung dalam barisan.

“Kau baik-baik saja, Sersan?”

“Aku bisa menanyakanmu hal serupa. Apa sih aksi gila yang kau lakukan itu …? Yea, sejauh ini tidak ada korban, Letnan Satu. Tetapi ketika mereka memperketat pertahanan mereka sekuat ini, bahkan telinga tajammu takkan membantu meloloskan kami tanpa perlawanan.”

Sekalipun Shin bisa merasakan gerakan Legion, dengan musuh berbaring menunggu mereka, satu-satunya pilihan adalah serangan frontal.

Berada di jalan raya yang menghubungkan negara-negara tetangga serta tempat jaringan rel kereta api bertemu, Kota Kreutzbeck tua lebih menekankan penampilannya lebih dari kebanyakan kota-kota tua Kekaisaran. Gedung-gedung tinggi berbahan kaca dan logam berdiri berdekatan, dan beberapa bangunan lebih tinggi lagi dihubungkan dengan cara mirip organik membuat kotanya terlihat eksis di masa depan.

Dan di banyak tempat persembunyian tersebut, Legion mengintai. Grauwolf menginjak-injak dinding bangunan berpanel kaca, menghancurkannya di seiring laju. Löwe melintasi jalan raya atas. Ameise merangkak di celah antar bangunan, unit-unit sensor sensitifnya berkilau samar, lalu proyektil-proyektil anti-lapis baja tipe Skorpion melayang di atas gedung pencakar langit.

Menghadapi interval gerakan Legion, lima belas Juggernaut maju menyusuri reruntuhan kota, mengambil rute terpendek sebisa mungkin menuju stasiun rel kereta cepat kecepatan tinggi di pusat kota, di mana kesatria Frederica mendekam menunggu, ratapannya adalah pandu mereka.

“Aku akan membunuh mereka semua.”

Hawa membunuh buta dan hampa yang Shin terbiasa mendengarnya diarahkan kepada mereka.

“Bunuh mereka semua.”

Mereka semakin dekat. Erangan Morpho meraung di atas mereka bagaikan petir atau tembakan meriam, intensitasnya menembus tubuh mereka bak gelombang kejut. Jeritan mengerikan tersebut bergemuruh hingga perut mereka, membekukan mereka yang ketakutan dan membuat mereka mengatupkan gigi.

Apakah amukan tiada henti tanpa pikiran ini pernah memberikanmu kedamaian …?

Apakah direndahkan menjadi mesin pembunuh yang dimakan haus darat serta kegilaan berarti kau tak perlu memikirkan hal lain? Apakah itu membantu mengalihkanmu dari fakta kau tidak lagi punya apa pun untuk diperjuangkan …? Barangkali Rei seperti itu juga …

Satu keraguan. Satu pertanyaan membesit di permukaan benaknya laksana batu terlempar.

Seandainya aku mati sebelum menyusulnya …. Kiranya di medan perang terakhir Sektor 86, aku terbunuh …. Andaikan tubuhku begitu dihancurkan sampai-sampai Legion tak bisa mengambilku …. Akankah Rei kehilangan tujuannya dan menjadi hantu ini di depan sana? Monster yang hanya sanggup mengeluarkan kebencian kepada dunia itu sendiri?

Dan apabila aku kehilangan kakakku sebelum aku tembak hancur dia …. Andaikata aku tidak mampu mencapai tujuanku, akankah demikian …?

Di saat berikutnya, 86—paling pengalaman bertempur dan terbiasa dengan horor—menahan napas dan membeku ketakutan.

“… waw.”

“Apaan ini …? Besar banget …”

Ia berdiri di bundaran lalu lintas bermandikan warna anorganik, trotoar beton dilapisi lampu jalanan. Fajar seharusnya kini sudah sirna, tetapi Eintagsfliege yang dikerahkan telah menggelapkan langit, melukis segala sesuatunya dalam suram perak menakutkan.

Dan di bawah langit perak, di sanalah ia duduk, wujud yang memanjang terbentang menantang. Meringkuk, terbungkus dalam kepompong kristal buatan kubah kaca buram di atas stasiun, ukuran abnormalnya mampu meruntuhkan sebuah bangunan. Sebuah bangunan tempat tinggal bisa gampang masuk ke dalam perutnya, beserta laras meriam—yang cukup besar hingga seseorang bisa berjalan tanpa masalah di atasnya—sekarang tegak lurus di tanah.

Bagai menyaksikan naga berkepala tujuh di Kitab Wahyu. Melihatnya membuat indra penghitung skala mereka tak berfungsi. Di dekatnya saja membuat mereka merasa terancam terhadap ancaman beratnya. Membuat Shin mengingat sensasi yang dilupakannya semasa kecil.

Mengingatkannya akan pemandangan yang pernah dilihatnya di museum dulu, barangkali sebelum mereka dikirim ke kamp-kamp konsentrasi. Spesimen kerangka paus purba, cukup besar hingga memenuhi seluruh aula.

Ukuran besarnya membuat Shin muda ragu dia sedang melihat tulang makhluk yang dulunya hidup.

Dia tidak mampu membayangkan sesuatu sebesar ia hidup dan bergerak. Dia tak percaya makhluk sebesar itu berada di tempat yang sama dengan dirinya. Makhluk yang skalanya sepenuhnya berbeda. Dia cuma dapat menahan napas dan menatap. Dia tidak ingat kapan terakhir kali terperangah.

Dia membuka mulut, mencoba menghilangkan rasa takutnya.

“Ruang kontrol ke-1.028, kami mendapati visual target di atas terminal kereta api kecepatan tinggi Kreutzbeck. Bersiap bertempur.”

“Mabes Læraðr, diterima …. Drone-drone pengintai Kerajaan Bersatu juga telah tiba di dekat. Itu Railgun Sungguhan …. Ukurannya …!”

“Letnan Satu!”

Bernholdt memotong pembicaraan, suaranya serba tegang. Di atas rel ganda yang barangkali baru didirikan, di sisi lain kubah kaca buram, sensor optik biru menyala, memelototi mereka bagaikan lelatu. Bahkan suara derit-deritnya sampai di telinga mereka dari ratusan meter jauhnya, tatkala turet masif di belakangnya mulai berputar, gemuruh mekanisme interiornya menggetarkan langit keperakan.

“Sudah bergerak saja?! Apa perbaikannya selesai …?!”

“Aku tahu Legion tidak beroperasi sesuai logika kita, tapi tetap saja, ini sinting …!”

… tidak. Bagian bawah lambung Morpho dilengkapi sesuatu mirip kaki yang terlipat di dalamnya. Dia tidak bergerak. Legion menempatkan mobilitas meriam relnya ke bagian belakang pembakar dan memprioritaskan pemulihan fungsionalitas tembakannya …. Shin merasa perasaan tak nyaman menetap di balik pikirannya. Saat diperbaiki, mungkinkah mereka beneran mengubah laras berat di depan kaki yang menopangnya …?

Seketika, suara Legion di sekitar mereka menyurut seperti gelombang mundur. Sebelum bahkan Shin memikirkan alasannya, jawabannya jadi jelas. Morpho yang menatap mereka, di sisi lain tatapan yang terkunci. Suaranya …

Suara para Gembala yang bertugas sebagai komandan Legion terdengar kelewat jelas, di antara kelompok besar pun masih menonjol. Begitulah cara Shin menganggap merasakan mereka. Dan tangisan serta kutukan Morpho yang menenggelamkan erangan Legion tak terhitung jumlahnya …. Teriakan kebencian tak terhitung …

… semuanya menghilang.

Kemudian persis ketika itu juga, teriakan serupa terdengar di tempat kejauhan. Raungan benci dan niat membunuh kepada semua umat manusia, terhadap dunianya sendiri. Suara kerabat sedarahnya yang buta lagi murka. Kesatria yang belum pernah dia temui seumur hidup.

Seorang pengguna RAID baru bergabung dalam Resonansi Sensorik mereka. Jeritan putus asa gadis yang tidak bergabung bersama mereka demi misi ini bergema di telinganya.

“Tiarap, Shinei!”

Dia Frederica yang mereka tinggalkan di pangkalan.

“Makhluk yang kau lihat di sana sekarang bukan lagi Kiri!”

Sewaktu dia paham, bulu kuduk Shin naik.

Kita dikecoh.

Shin mengalihkan pandangannya, merasakan sepasang mata hitam beku pelan-pelan terbuka dan menyorot mereka. Menelusuri tatapannya, Shin memperbesar layar utama ke satu titik: celah tipis antara dua bangunan. Sesosok bayangan menjulang bersandar di tonggak menara baja yang membengkok karena beratnya, jauh di cakrawala. Ia mengangkat kepalanya ibarat dewa ular kuno dari mitos Timur Jauh, mengarahkan moncong senjata besarnya ke arah mereka.

“Semua unit! Mundur, sekarang ju—!”

Yang nampak seperti kilat moncong—faktanya, adalah kilat pelepasan melengkung—membutakan mereka. Pengeboman Railgun, tembakannya berbentuk lintasan datar, lalu meratakan seluruh bagian kota.

 

  

<Pale Rider kepada No Face. Jadwal perbaikan penembakan selesai.>

Kiriya mengirim laporannya ke unit Panglima Tertinggi dari tubuh baru tempatnya dipindahkan.

<Memancing elemen musuh baru, tanda panggil: Báleygr, sukses. Perkiraan: target tereliminasi.>

Bertahun-tahun lamanya, Gembala telah memerhatikan elemen musuh ini yang sanggup merasakan serangan datang mereka, membedakan rute-rute penyeranga, dan mengidentifikasi unit komandan. Awalnya, dia muncul di front timur Republik, tetapi setahun terakhir, dia melintasi wilayah mereka dan pindah ke front barat Federasi. Tidak terdeteksi contoh lain elemen ini; dengan kata lain, tidak menggunakan teknologi atau pengetahuan yang bisa direplikasi atau disebarkan. Kemungkinan besarnya, kemampuan unik satu orang individu. Tingkat ancamannya sangat-sangat tinggi, dan pemusnahannya ditetapkan ke prioritas tingkat maksimum.

Untungnya, Kiriya menghadapi unit bergerak yang dipilot musuh elemen ini dua kali dalam pertempuran. Walaupun dia belum mengumpulkan cukup data untuk membuat analisis sempurna, Kiriya cukup tahu membuat analisis sederhana …. Cukup mencari kelemahan elemen musuh itu.

<Hasil analisisnya benar. Báleygr tidak bisa mendeteksi unit cadangan dalam keadaan statis.>

Elemen musuh diamati memiliki fiksasi unit terhadap kelas Tank Berat. Akan tetapi, dia tidak bereaksi serupa pada unit lain yang membawa data orang mati yang sama sampai diaktifkan.

Dia tidak menyadari unit cadangan Gembala ketika dalam keadaan stasis, sebelum struktur data hancur Dinosauria dimuat ke dalamnya.

Perintah kembali dari unit Panglima Tertinggi.

<No Face kepada Pale Rider. Meminta konfirmasi eliminasi Báleygr.>

Kiriya hampir merasa ingin mengejek. Ya, Báleygr adalah duri paling menyakitkan di pihak mereka selama beberapa bulan terakhir. Menurut keputusan kernel jaringan area luas, serangan skala besar sebelumnya dan pemusnahan yang dihasilkannya memerlukan waktu tujuh hari. Kiriya mengingat kemiripan ironisnya dengan cerita Genesis. Namun bahkan rencananya gagal.

Front barat Federasi mengetahui yang semestinya merupakan serangan kejutan sempurna, kemudian tiga negara berhasil memukul mundur mereka. Gran Mule telah ditembus, tetapi kala Kiriya bersiap membantu penaklukan Republik, dia diserang balik rudal-rudal jelajah Federasi dan mengalami kerusakan parah. Fakta mereka mengetahui posisinya berarti kesadarannya tidak dapat dipindahkan ke unit cadangan, dia terpaksa menarik tubuh rusaknya selama satu bulan.

Semuanya sebab elemen musuh ini, dengan kemampuan melacak kondisi mereka, eksis di Federasi.

<Pale Rider kepada No Face. Permintaan dianggap tidak perlu. Báleygr tak terbantahkan lagi telah dihancurkan.>

<… diterima, No Face. Segera mundur dari posisi menembak dan kembali ke sektor yang ditugaskan.>

<Diterima.>

Tatapannya tiba-tiba tertuju pada sisa tonggak menara logam tempatnya bersandar. Pangkal tonggak menara kokoh itu patah akibat berat lebih dari serubu tonnya, mayatnya tergeletak di tanah di bawahnya.

Kiri.

Suara nona mudanya yang kini jauh terlintas di benaknya. Dia tidak bisa lagi mengingat wajah satu-satunya ratunya. Dia akan menangis saat saputangannya tersangkut di pepohonan halaman, mendesaknya ingin melihat sarang burung yang beristrirahat di dahannya, kemudian menyelinap melewati pengawasan pengawalnya untuk memanjat pohon, membuat pakaiannya tersangkut di sana. Setiap saat, dia bertugas memanjat untuk menurunkannya.

Tetapi dia takkan melakukannya lagi. Tidak dengan tubuh mekanis ini. Tidak di dunia tanpanya.

Seketika berbalik pergi, dia berhenti dan berbalik menghadap bekas tanah airnya.

Dia mesti cepat-cepat menghancurkan dunia terkutuk ini untuk selama-lamanya …

 

 

“Ah …”

Mereka semua terdiam sesaat.

“Dampak terdeteksi dekat stasiun Kota Kreutzbeck! Asumsi dibom Morpho …!”

Keributan yang nyaris seperti teriakan mendominasi pusat informasi.

“Mustahil!”

“Seharusnya belum sepenuhnya diperbaiki! Kok bisa menembak?!” “… tidak …”

Mata semua orang tertuju pada kepala staf yang mendadak berbisik. Dia bicara, dagu tajamnya ditopang lengan dan mata menyorot layar utama yang sedang dipenuhi pesan peringatan.

“Jika tidak diperbaiki, maka ditukar …. Seandainya mereka menyiapkan unit cadangan dari awal, maka mungkin saja. Mengingat ukurannya, mentransfer inti ke unit cadangan akan lebih baik ketimbang mengganti bagian rusak satu per satu.”

Pasti mengabaikan biaya kelewat besar yang dibutuhkan untuk membuat dua railgun serta dua meriam rel. Namun Legion bukan manusia, diberatkan perintah utama mereka untuk melenyapkan musuh-musuhnya, ini masalah sepele.

“Bisa seabsurd apa bangsat-bangsat besi tua itu …?!” “Bagaimana status skuadron Nordlicht?”

“Tidak diketahui. Semua drone pengawas Kerajaan Bersatu dihancurkan dalam pengeboman barusan.”

Data pengamatan dari sekitar kota Kreutzbeck tiba tertunda, penuh kebisingan dan dibumbui SINYAL HILANG.

“Kita harus mengarahkan rudal jelajah—” “Tidak ada gunanya.”

Mata semua orang teralih ke Ernst.

“Kita harus menembakkan rudal-rudalnya ke mana? Memangnya kita tahu dari mana posisi Morpho menembak?”

Para perwira yang menyadari alasan di balik pertanyaan itu, meringis. Kala pangkalan mereka diserang, situs-situs radar sekeliling merasakan lintasan pengeboman dan menghitung mundur untuk melihat posisi tembakan. Tetapi pengeboman ini terjadi di tengah-tengah wilayah musuh, dan tidak ada situs radar pula di dekatnya. Mereka tak tahu posisi musuh, jadi menyerang balik itu tak ada manfaatnya.

“T-tapi, Pak, musuhnya penembak meriam rel! Jika kita menghancurkan relnya, kita paling tidak bisa membatasi pergerakannya—”

“Tetapi dia masih mampu menembak sebagian besar pangkalan di front barat, bukan? Dan lagi pula, itu cuma rel; takkan perlu waktu lama hingga mereka perbaiki. Tidak ada gunanya menembakkan rudal-rudal itu.”

“Tapi karena kini skuadron Nordlicht gagal, kita tidak punya rencana lain! Sekarang seluruh front barat terbuka; entah bagaimana kita harus memecah kebuntuan ini …!”

“Kali ini bertahan sedikit lebih lama apa untungnya untuk kita? Apa yang harus kita lakukan, kirim unit lain? Kali ini tanpa kesempatan membuka jalan belakang mereka?”

“Cih …”

Beberapa rudal jelajah yang mereka kumpulkan adalah sebagai pengaman bila mana operasinya gagal sekaligus jalan keluar untuk pasukan penyerang semisal tentara Federasi tak sampai Kota Kreutzbeck. Jadi sekalipun mereka tidak sempat datang membantu pasukan penyerang, sekurang-kurangnya mereka bisa mengurangi jumlah Legion yang berdiri di rute pelarian mereka. Setidaknya tak memberi tahu anak-anak ini kalau mereka dikirim ke kematiannya dan tak diizinkan kembali …

Melihat sekeliling pusat informasi, Ernst tersenyum.

“Menurut kalian aku akan membiarkan kalian melakukan hal sememalukan mengabaikan prajurit-prajurit yang kita kirim ke wilayah musuh dan mengacaukan rencana hanya karena takut pada nyawa sendiri? Bahwa aku, presiden sementara Federasi dan panglima tertinggi militer, memperkenankannya? Itu tidak sesuai idealisme Federasi. Dan andaikan kita tidak mampu melindungi serta mematuhinya, kita memang pantas dihancurkan di sini sekarang juga.”

Hening menyelimuti pusat informasi. Kata-kata sang presiden terdengar benar. Ya, itulah idealisme yang harus dijalani orang. Keadilan terbaik. Tetapi tetap memegang teguhnya … untuk melaksanakan perintah sebaik mungkin …

Naga itu tersenyum, duduk di kursi komandan. Monster irasional ini yang tega menginjak-injak hidup manusia atas nama slogan-slogan tersebut, idealism yang semestinya basa-basi saja, tertawa selagi menunjukkan kegilaan yang bersemayam pada diriniya.

“Itu tanggung jawab kalian, sebab kalianlah yang memilihku sebagai presiden berkali-kali lagi. Semisal kalian bilang kita tidak punya pilihan lain selain melawan nilai kemanusiaan … kalian haruslah mati, merangkul idealismeku.”

Pemberitahuan pesan interkom berbunyi. Kepala staf menerima panggilannya menggantikan personel komunikasi yang duduk tercengang di tempat.

“… sepertinya kita tidak perlu menembak rudal. Kita barusan dapat laporan dari ruang kendali 1.028. Semua unit skuadron Nordlicht masih utuh. Mereka melanjutkan operasi eliminasi Morpho.”

Peringatannya tiba tepat waktu, mereka berada di pusat kota yang punya banyak bangunan relatih kokoh untuk melindungi Juggernaut adalah faktor penentu kelangsungan hidup mereka. Gelombang kejutnya masih menerbangkan Undertaker dan punggungnya duluan. Shin menggeleng kepala pusing sembari membangkitkan unitnya. Dia berada di reruntuhan kota dengan beton putih memenuhi bidang penglihatannya; bangunan-bangunan diruntuhkan. Setelah terkena tembakan terkonsentrasi, stasiun kereta api tua meriam rel kecepatan tinggi sudah betul-betul hilang tanpa jejak. Sebongkah logam tergeletak di sudut kawah, menyemburkan darah mesin mikro keperakan.

Umpan …

Bukan umpan boneka kayu bodoh Legion. Menggunakan kecerdasan buatan dan kemampuan belajar canggih, mereka terus-menerus beradaptasi dengan persenjataan dan taktik umat manusia. Lalu ada para Gembala yang membawa salinan struktur otak manusia segar dan karena itulah memiliki kecerdasan dan pengetahuan setara dengan yang mereka miliki semasa hidup.

Biar demikian, ini pertama kalinya kemampuan mendengar suara para hantu Shin digunakan melawan dirinya sendiri seperti ini.

Shin menyipitkan mata, memelototi bayangan besar yang baru saja membombardir mereka dari atas tonggak menara.

“Bajingan serangga itu apa-apaan …?!”

“Hal pastinya, dia itu kelabang. Kakinya panjang, dan agak bergeliut.”

“Aku tidak peduli itu apa …. Pokoknya menyeramkan.”

Ya, memang mirip beberapa artropoda7 karnivora. Rangkanya hitam menyerupai ular. Kaki-kaki tersegmentasi tak terhitung jumlahnya kini dilipat ke batang tubuhnya. Laras turet kaliber 800 mm terlampau besar itu panjang, sehingga kecepatan awalnya adalah delapan ribu meter per detik. Dia mirip-mirip serangga pembantai menjijikkan dan ngeri yang tak hanya digerakkan kecerdasan ataupun kehendak, melainkan insting membunuhnya juga. Fisiknya perwujudan artileri kejam tanpa perasaan—senjata yang merenggut jumlah nyawa paling akbar meskipun tak pernah menyaksikan kematian siapa pun.

Di bawah langit keperakan, di balik cahaya fajar menggelap, raksasa kayu hitam ini menjuang tinggi di atas reruntuhan. Keagungan asing tidak realistis satu mata birunya benar-benar mencitrakan naga jahat yang mampu menantang para dewa.

Sensor optik biru perlahan-lahan memindai reruntuhan, tampaknya tidak menyadari mereka yang bersembunyi di antara bangunan. Dia dengan angkuhnya mengamati kehancuran yang diperbuatnya, yakin telah memusnahkan targetnya.

“… semua unit.”

Seluruh lima belas anggota regu masih terhubung Para-RAID. Beberapa unit telah mengalami kerusakan dari pecahan batu berserakan serta gelombang kejut, tetapi tidak seorang pun gugur.

Semuanya masih sanggup bertarung.

“Perubahan target. Arah 289, jarak 5.000. Hulu ledak anti-tank eksplosif tinggi—tembak.”

Seketika itu, tembakan-tembakan terfokus pada Morpho dari sela bangunan-bangunan yang mengarah ke bantuan dasar kawah. Mengabaikan semua aturan teori artileri yang menyatakan seseorang harus pindah tempat setelah menembak untuk menghindari serangan balik, Morpho-nya masih duduk di singgasananya di atas tonggak menara selagi ditembaki peluru 88 mm.

Pelurunya lebih lamban ketimbang peluru anti-tank kecepatan tinggi tapi kecepatannya masih beberapa kali lipat lebih cepat daripada kecepatan suara—hanya perlu waktu beberapa detik saja sampai hulu ledak HEAT menempuh jarak lima kilometer menuju target mereka.

Sesuatu menyala di bagian belakang Morpho, dan secara bersamaan sistem pertahanan jarak dekatnya aktif, senapan mesinnya meraung ketika mencegat peluru 88 mm. Anju menembakkan misilnya sesaat kemudian, tetapi Morpho dengan santai membiarkan lapis bajanya menyerap ledakan bom kecil mereka, tidak satu pun menembusnya …

Shin tenang mencatat bahwa dia lebih tangguh dari yang dipikirkannya selagi menekan pelatuknya. Sisa regu pelan-pelan mendekat ke depan, dari tepian reruntuhan kota. Memanfaatkan tabir asap yang dihasilkan dari hulu ledah HEAT serta peluru anti-tank, lebih banyak lagi peluru-peluru kecepatan tinggi membumbung tinggi di langit, menghantam dekat poros turet Morpho. Sesaat api ledakan membutakan sensornya, naga besar itu tampaknya terhuyung sedikit.

“… terlalu dangkal.”

Masih belum cukup menembus lapis bajanya. Sebagian besar kekuatan peluru kecepatan tinggi berasal dari kecepatannya, jadi kian dekat menembaknya, makin bagus pula kekuatan tembusnya. Maka dari itu mereka mendekat, tapi bahkan jarak sejauh ini pun belum cukup. Dan sekiranya mereka mendekat, lantas takkan ada pelindung yang mentamengi mereka dari deret tembakan.

…?!

Persis ketika mengira dirinya menghindari peluru senapan anak-anak yang dihujani serangga penyintas, dampak seketikanya mengguncang tubuh Kiriya, mengejutkannya. Dia membelokkan sensor optiknya, pandangannya mendarat ke bayangan seputih Mutiara menghampirinya dengan kecepatan mengagetkan.

Bayangan buram laba-laba kerangka putih bersih berkaki empat tanpa kepala, merayap mencari kepala hilangnya, membawa meriam 88 mm di punggungnya.

Kedua lengan penggenggamnya dilengkapi bilah frekuensi tinggi. Bahkan Kiriya sadar betapa tidak biasanya senjata tersebut untuk Feldreß. Di medan perang yang dikuasai senjata api, menghunuskan pedang dan memegang peralatan jarak dekat sudah seperti bunuh diri sinting.

Dialah Báleygr, elemen musuh spesial berkemampuan mengamati seluruh gerakan Legion.

Dan tatkala dia melihat tanda pribadinya, Kiriya merasa napasnya tersangkut di tenggorokan yang tidak dimilikinya. Kerangka tanpa kepala membawa sekop. Kesatria kerangka tanpa kepala adalah lambang penemu keturunan Nouzen. Dan kepala keluarga pernah mengirimkannya buku bergambar bertemakan kisahnya … kepada cucunya yang lahir di Repubik.

Tak mungkin.

Diakah …?

Ah.

Kegembiraan gelap yang tak pernah diketahuiniya melonjak naik dari dalam diri Kiriya.

Dia hidup …. Tidak …

Entah bagaimana dia bertahan hidup dalam keadaan itu.

Datang komunikasi dari unit Panglima Tertinggi.

<No Face kepada Pale Rider. Percayakan penanganan unit musuh pada pasukanmu dan segera mundur.>

Kiriya kecewa penuh terhadap perintah penghambat ini.

Dia bilang apa …?!

<Pale Rider kepada No Face. Tidak bisa mematuhi perintah. Elemen musuh harus segera ditangani.>

<No Face kepada Pale Rider. Aku ulangi. Percayakan penanganan unit musuh pada pasukanmu dan segera mundur. Kehadiranmu di sektor perang ini tidak diterima.>

Bodoh sekali …!

Namun berlawanan dengan amarah membara Kiriya, sinyal peringatan berkedip-kedip di pikiran mesin mikro cairnya. Pemrograman yang tertanam dalam dirinya sangan melarang perdebatan lebih jauh. Bahkan para Gembala yang punya pikiran dan kepribadian korban perang, tidak dapat menolak perintah dari unit Panglima Tinggi.

<Pada jarak relatifmu sekarang dengan mereka, kau dalam posisi kurang menguntungkan melawan turet tank mereka: persenjataan utamanya. Di sisi lain, dengan perlengkapanmu sekarang, terdapat kemungkinan besar kau akan membunuh Báleygr. Sebab alasan yang disebutkan, pertempuran lebih lanjut di area ini tidak disetujui.>

<…>

<Kembali ke sektor yang ditunjuk hukumnya wajib. Mundur dan serang sektor yang ditunjuk.>

<… diterima.>

Insting Legion-nya melarang dirinya memberi tanggapan lain.

Tetapi … bahkan mungkin hal itu pun jadi pertanda baik bagi keinginannya tuk membakar hsabis dunia. Dia melirik sekilas puing-puing tersebut terakhir kalinya, kepada kerabat yang wajahnya tidak dia kenal. Dia telah kehilangan tanah air, mencuri keluarganya, tetapi masih melanjutkan hidup, menyedihkan.

Biarpun kau sama.

Sama seperti diriku. Kendati tidak ada tempat tuk didatangi kecuali medan perang.

… akan kutunjukkan.

Berhenti bersantai, dia melompat dari tonggak menara. Mendarat di rel yang retak sebab masifnya, dia menatap sepintas kerabatnya untuk yang terakhir kalinya, wajah dan nama yang tidak pernah dia ketahui selama hidupnya.

Kejar aku.

Aku akan membakarmu sampai habis. Rekan-rekan yang mengikutimu, negeri tempatmu kembali, segala sesuatu yang menjadikanmu manusia.

Biarkan kesendirian menguasaimu.

 

  

Dia berbalik menghadapnya, lalu Shin yang indranya menajam karena adrenalin, dapat merasakan senyum dingin pada gerakannya.

Kejar aku.

Memalingkan pandangan dari Shin, sang Morpho menggeliat-geliutkan banyak kaki tersegmentasinya kemudian mendorong maju bentuk besarnya dengan akselerasi mendadak unik bagi Legion. Suara logam aneh kaki-kaki tersegmentasinya bergerak di sepanjang rel delapan jalur yang mencabang bak derai hujan, dan dia cepat menjauh dari Shin, lekas mendapat kecepatan bak elang yang mengejar mangsanya. Bergerak dengan kecepatan tak tertandingi bahkan bagi Löwe dan Dinosauria, layaknya kereta kecepatan tinggi orisinil, bayangan jahat merayap menjauh dari reruntuhan kota.

Kau takkan kabur.

Tetapi sewaktu dia menyipitkan mata dan bersiap menekan tuas kendali …

“—Shin!”

… suara Raiden meledak, menydarkannya seakan kesadarannya ditarik kerahnya. Suara-suara menghilang itu seketika kembali kepadanya. Erangan dan ratapan Legion. Geram paket daya dan akuator Juggernaut. Laporan dan instruksi yang diperbincangkan rekan setimnya lewat Resonansi Sensorik. Keributan biasa di medan perang.

Pasukan Legion penjaga yang berpencar untuk menghindari pengeboman Morpho telah kembali, dan Shin dapat mendengar suara-suara Legion lain di dekatnya mulai menghampiri daerah itu pula. Dia mendadak tersadar misal mereka tak merespon bagaimanapun caranya, mereka akan dikepung.

“Kita harus apa? Kita kejarkah?”

Tujuan spesifik skuadron Nordlicht adalah mengeliminasi Morpho yang menduduki kota Kreutzbeck. Baik skuadron atau angkatan darat front barat memprediksi mereka mesti maju lebih dalam ke wilayah Legion.

“… ya, kita teruskan.”

“Hah, kau sudah gila?!”

Raiden mengangguk diam, tetapi yang ganti bicara, Bernholdt—ajudan Shin dan sersan paling senior di regu—memotong perkataan Shin, menuruti peran dan posisinya.

“Tujuan operasi adalah melenyapkan Morpho, tidak menekan kota ini.”

Hening sesaat menghadiri mereka, cuma diganggu suara Bernholdt meninju konsolnya yang didengar Shin lewat Resonansi.

“Sialan! Semua orang bertahan gara-gara mengharapkan kekuatan utama tiba! Mengapa kalian para 86 sebegitu ingin membuang nyawa pada negeri yang bahkan bukan tanah air kalian?!”

Bukan itu. Mereka melakukannya bukan demi negara ini atau bala tentaranya.

Satu-satunya alasan kami bertarung … adalah demi kami sendiri.

“Bangsatlah, saat aku bekerja jadi bawahanmu adalah saat-saat keberuntunganku hilang! Ngomongin hal paling sial …. Baiklah, bocah-bocah, semua unit, balik badan!”

Diperintah Bernholdt, para tentara bayaran mengubah arah sepuluh unit mereka, menghadap langsung suara-suara hantu yang menghampiri.

“Bersukacitalah, bocah-bocah! Neraka yang sangat kalian cintai sedang mendatangi kita!”

Bahkan 86 yang menjadikan medan perang rumah mereka sebagaimana Vargus, kesulitan memahami metode penyemangat berputar-putar ini. Sama saja membaut putus asa, tapi teriakan perang mereka tentu bergema keras selagi menghilang ke balik gedung tinggi.

Hanya unit Bernholdt yang tetap di belakang, sensor optiknya berputar.

“Kami akan mengurus yang ini. Kalian pergilah duluan! Kesal mengakuinya, namun kami tidak dapat mengikuti mobilitas gila kalian.”

Mayoritasnya kemungkinan berusia akhir remaja mereka, seperti 86. Mereka mungkin punya pengalaman militer sepuluh tahun lebih, tetapi tentara bayarannya menghabiskan sebagian besar pengabdian mereka mempilot Vánagandrs lapis baja berat. Mereka kurang pengalaman soal pertempuran kecepatan tinggi dan intuisi 86 karena keseringan menggunakan Feldreß amat ringan.

“Aku lebih baik mati ketimbang memperlambat anak-anak bandel …. Moga hoki di luar sana!”

 

Catatan Kaki:

  1. Katapel pesawat terbang adalah alat yang digunakan untuk meluncurkan pesawat dari kapal khususnya operator sebagai pesawat bentuk dibantu lepas landas. Ini terdiri dari track yang dibangun ke dalam dek penerbangan, di bawahnya yang merupakan piston besar atau shuttle yang terpasang melalui trek ke gigi hidung pesawat, atau dalam beberapa kasus tali kawat disebut kekang katapel melekat pada pesawat dan shuttle katapel.
  2. Pesawat siluman (bahasa Inggris: stealth aircraft) atau disebut pesawat amat senyap adalah pesawat yang dirancang untuk menyerap dan membelokkan radar menggunakan teknologi siluman, membuatnya lebih sulit untuk dideteksi. … Bagian exhaust ini biasanya dikejar oleh rudal anti-pesawat dengan sensor inframerah.
  3. Sabel atau sabre (dibaca “saber”) adalah pedang bermata satu melengkung yang berasal dari Eropa yang memiliki pelindung tangan yang besar. Di ruang lingkup TNI dan Polri, ini diketahui sebagai Pedang Pora yang dimiliki oleh setiap perwira TNI dan POLRI dan biasanya digunakan untuk keperluan upacara.
  4. Stakato adalah sebuah istilah musik, yaitu cara memainkan atau menyanyikan atau memperdengarkan suatu nada atau serangkaian nada pendek-pendek, terputus-putus. Pada naskah musik biasanya dipakai tanda titik di atas atau di bawah nada-nada yang bersangkutan. Pada Piano, untuk mendapatkan bunyi atau tempo stakato, piano dimainkan dengan cara menyentuh klaviaturnya sebentar dan segera melepaskannya lagi. Pada biola, nada stakato diperoleh dengan cara menyentuhkan tongkat penggesek sebentar pada senar atau dawainya. Memang bunyi lagu dengan stakato mengalun pendek dan menghentak-hentak.
  5. Sistem peluncur roket banyak itu maksudnya nembak roket secara bersamaan, biasanya yang dibawa ama truk-truk perang.
  6. Jaringan area luas (bahasa Inggris: Wide Area Network; WAN) merupakan jaringan komputer yang mencakup area yang besar sebagai contoh yaitu jaringan komputer antar wilayah, kota atau bahkan negara, atau dapat didefinisikan juga sebagai jaringan komputer yang membutuhkan router dan saluran komunikasi publik.
  7. Artropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan, dan hewan sejenis lainnya. Artropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan udara, termasuk berbagai bentuk simbiosis dan parasit. Kata artropoda berasal dari bahasa Yunani ἄρθρον árthron, “ruas, buku, atau segmen”, dan πούς pous (podos), “kaki”, yang jika disatukan berarti “kaki berbuku-buku”[1]. Artropoda juga dikenal dengan nama hewan berbuku-buku atau hewan beruas.