Share this post on:

Akhir dari Permulaan

   

Penerjemah: Frisk

1

—ini benaran bakal jadi masalah.

Tidak punya uang dan tak tahu mesti berbuat apa, dia ulangi pemikiran itu berkali-kali dalam benaknya.

Yah, tidak sepenuhnya akurat mengatakan dia tidak punya uang. Dompet di sakunya penuh seluruh uang totalnya, cukup untuk berbelanja sedikit kalau perlu—dalam keadaan normal. Tapi dalam kasus ini, tidak punya uang adalah satu-satunya gambaran situasinya.

“Iya, tapi mata uang di sini berbeda seratus persen, bukan ….”

Pemuda itu menjentikkan koin sepuluh yen bertorehan langkanya ke udara kemudian mendesah.

Dia tak punya ciri-ciri menonjol. Rambutnya hitam cepak dan tingginya rata-rata, tidak pendek ataupun tinggi. Dia sedikit muskular, sih. Seolah-olah rajin latihan jasmani, dan baju olahraga abu-abu murah yang dia kenakan terlampau cocok padanya. Irisnya kecil, alhasil bagian putih matanya mencolok, tapi saat ini, pandangannya yang menunduk membuatnya tidak punya tampang kelewat agresif atau jagoan di dirinya.

Dia kelihatan biasa-biasa saja sampai-sampai mudah kehilangan dirinya di tengah keramaian … namun sekarang, sudut mata kebanyakan orang-orang lewat memandangnya seakan menatap hal aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Tapi itu wajar-wajar saja. Lagi pula, di antara semua orang, tidak ada yang rambutnya hitam, maupun mengenakan baju olahraga. Rambut mereka pirang, merah, cokelat … beberapanya bahkan biru atau hijau, di antaranya, ditambah ada yang memakai baju zirah atau jubah hitam, atau jenis kostum yang dikenakan seorang penari … semacam itu.

Selagi berdiri di hadapan gelombang tatapan terbuka, pemuda itu menyilangkan tangan dan hanya mampu menerima kenyataan.

“Pasti ini salah satu ….” Katanya, menjentikkan jari dan menunjuk kerumunan penonton. “Kejadian yang disebut-sebut, aku telah dipanggil ke dunia lain, ‘kan?” ucapnya begitu kendaraan bak gerobak sapi yang ditarik semacam kadal raksasa melintas di hadapannya.

 

2

 

Natsuki Subaru adalah anak laki-laki kelewat biasa, lahir di Bumi, planet ketiga di tata surya, dari keluarga kelas menengah di Jepang. Jika kau meringkas hampir tujuh belas tahun hidupnya, kalimat sebelumnya sudah cukup mendeskripsikannya, dan andai ingin lebih menambahkan, kalimat ekstranya, dia seorang murid kelas 3 SMA yang suka membolos, sudah cukup.

Ditaruh di persimpangan jalan kehidupan, contohnya, antara mengejar gelar sarjana atau terjun langsung ke dunia kerja, orang-orang umumnya dipaksa membuat keputusan bagaimanapun caranya. Pengambilan keputusan semacam itu adalah sesuatu yang mesti dihadapi semua orang dan bagian dari yang kita sebut kehidupan, tetapi bagi Subaru (kau mungkin menyebutnya keahliannya) dia sedikit lebih baik dari orang biasa yang kabur dari hal-hal yang tak disukainya. Demi menghindari keputusan tersebut, jumlah bolosnya menumpuk, dan tanpa sadar dirinya jadi pembolos bonafid, tipe anak yang orang tuanya tangiskan.

“Dan terlebih lagi, sekarang aku dipanggil ke dunia lain. Kurasa itu ketuk palunya. Saat ini aku anak SMA putus sekolah. Tapi serius, apa yang terjadi?”

Dia merasa bagaikan memimpikan mimpi tak masuk akal, meski sudah mencubit pipi dan membenturkan kepala ke dinding, dia tidak bangun-bangun.

Subaru mendesau. Dia telah pergi jauh dari asalnya, disorot banyak tatapan penasaran, dan kini duduk bersandar di dinding sebuah gang tak jauh dari jalan utama.

“Asumsikan aku benar-benar telah dipanggil ke dunia fantasi … keadaan peradabannya terlihat mirip latar abad pertengahan biasa. Sejauh ini, belum kulihat sesuatu apa pun yang mekanis, tapi jalannya diaspal dengan cukup baik … dan tentu saja tidak bisa menggunakan uangku yang manapun.”

Perihal bisa atau tidak dirinya berkomunikasi sama orang-orang di sini, dan perkara nilai barang, itulah sesuatu yang langsung Subaru periksa begitu sadar dirinya telah dipanggil ke dunia lain.

Untung saja, dia tak punya masalah sama komunikasi, dan dia dapat memastikan perdagangannya ditangani dalam mata uang koin mas, perak, dan tembaga. Kontak pertamanya, seorang pedagang di kios buah, tidak terlalu ramah padanya.

Mengenai alasan Subaru cepat sekali menerima dan memahami situasi sekarang ini, fakta dirinya pemuda Jepang modern yang diracuni anime serta gim ada hubungannya, dia teramat mensyukuri itu. Tidak berlebihan jika menyatakan dipanggil ke dunia lain semacam ini bagi seorang anak laki-laki adalah sesuatu yang kau impi-impikan, tetapi soal itu ….

“Tanpa sedikit pun kesejahteraan yang bisa kau andalkan, seorang pria santai sepertiku takkan mampu mengurusnya, tahu?” komplain Subaru.

Mengingat situasinya saat ini, dan peralatan awal menyedihkan, dia tak tahan lagi.

Barang-barangnya terdiri dari ponsel (yang tak lama lagi akan kehabisan baterai), dompet (dipenuhi kartu-kartu keanggotaan dari berbagai toko sewa video), secangkir ramen instan yang dia beli dari toko serba ada (tulang babi juga kecap asin), sekantung camilan renyah yang dia beli dari toko yang sama (rasa sup jagung), baju olahraga abu-abu favoritnya (belum dicuci), dan sepatu kets usang (berumur dua tahun). Itu saja.

“Aku bahkan tak dapat Excalibur satu pun? Tamat sudah. Aku harus berbuat apa dengan pakaian ini?”

 Yah, tak banyak yang bisa kau harapkan ketika dipanggil ke dunia lain di tengah jalan pulang dari toko serba ada. Terjadi dalam sekejap mata.

Rasa lapar sudah mendatanginya lalu dia makan setengah kepunyaannya yang barangkali berguna—bungkusan camilan renyah—lalu tersadar barusan menghabisi satu-satunya sumber makanan. Tetapi mencemaskan itu takkan membantunya sekarang.

Walaupun ingin menaruh harapan pada kemungkinan kejadian ini tengah dipentaskan sebagai bagian acara TV realita yang rumit, tapi gerobak kadal besar serta pandangan semua orang lewat telah mematikan harapan tersebut.

“Fakta tidak ada yang memedulikannya berarti mungkin normal … baik kadal raksasa ataupun para setengah manusia.”

Subaru menggerutu dan melihat-lihat selagi orang-orang berpakaian dan rambut berwarna-warni lewat, tetapi dari mereka semua, yang betul-betul menekankan adalah dirinya telah dipanggil ke dunia lain tempat tinggal para setengah manusia.

Tidak perlu lama melihat-lihat sampai Subaru mendapati orang-orang bertelinga anjing dan kucing, beberapanya bahkan ada yang kelihatan menyerupai manusia kadal. Tapi tentu saja ada pula manusia biasa, sama sebagaimana Subaru.

“Jadi ini dunia setengah manusia … serta mungkin peperangan dan petualangan juga. Mengenai adanya binatang yang biasa kutemui atau tidak … aku tak yakin-yakin amat, namun mempertimbangkan semacam kereta kadal itu … kelihatannya cara mereka menggunakan binatang sama seperti kami.”

Sesudah menyatukan seluruhnya, Subaru menghembuskan napas panjang-panjang, tetapi bukan desahan. Misalkan terungkap banyak hal yang dia bayangkan sebelumnya tentang pemanggilan ke dunia lain, dia semestinya sanggup menggunakan pengetahuannya soal peradaban modern untuk menguasai semua orang … tapi ada banyak hal yang masih tidak masuk akal.

“Sebenarnya, aku tidak tahu harus melakukan apa selanjutnya, dan masih tak tahu bagaimana atau alasanku dipanggil. Aku tak ingat sedang melangkah ke cermin atau jatuh di kolam, dan bilamana percaya inilah bentuk pemanggilan dunia lain yang biasa kuketahui, mana gadis cantik yang memanggilku?”

Kurangnya pemeran utama perempuan di bentuk pemanggilan dunia lain ini adalah lubang besar di suatu plot. Misal ini terjadi di dunia 2D, seseorang di departemen kreativitas betul-betul bermalas-malasan. Kalau Subaru sungguhan dipanggil tanpa alasan kemudian diabaikan seperti itu, maka dirinya ditempatkan selevel barang sekali pakai.

Kini Subaru selesai menyusun keadaan sekelilingnya, dia betulan tidak sanggup memikirkan tindakan lebih baik selain kembali ke kondisi lari dari kenyataan biasa.

“Kurasa kalau terus begini, tidak ada bedanya sama mengurung diri dalam kamar rumahku dulu.”

Pikiran tentang orang tuanya terlintas di benaknya, tapi sekarang ini dia tidak sedang dalam posisi boleh duduk manis merasa kangen rumah. Berpikir dia harus berbuat sesuatu menimbang situasinya sekarang, dia berdiri lalu berbalik ke jalan utama, tapi …. Persis sesaat Subaru hendak berjalan ke luar gang menuju ke sana, dia hampir menabrak seseorang yang tiba-tiba bergerak ke depannya.

“Oh. Maaf.” Subaru meminta maaf singkat dan berusaha melanjutkan jalannya, tapi ….

“Tunggu!”

… bahunya dicengkeram erat lalu diseret kembali ke gang. Hampir jatuh begitu berbalik, Subaru mendongak dan mendapati orang yang melemparnya kembali adalah seorang pria bertubuh besar.

Di belakang pria itu ada dua temannya, dan ketiga pria itu berdiri sedemikian rupa untuk menghalangi Subaru keluar dari gang ke jalan utama.

Cara mereka melakukannya, serasa bukan kali pertama pria-pria ini melakukannya, dan Subaru punya firasat buruk soal yang terjadi selanjutnya.

“Ummm …. Boleh bertanya kalian bertiga berencana melakukan apa padaku?”

“Oh, kayaknya yang satu ini pintar! Yah, tidak ada yang perlu dirisaukan. Serahkan saja semua yang kau miliki, dan takkan ada yang terluka.”

“Jadi begitu kesepakatannya, ya? Iya, kurasa begitu. Haha …. Ini benaran menyebalkan.”

Tatapan tiga orang itu serba cemooh dan ejekan. Mereka terlihat berumur dua puluhan, dengan kejamnya kepribadian mereka tercermin di wajah dan penampilan kotor. Mereka kelihatannya bukan setengah manusia, tapi pastinya bukan orang baik pula.

Tidak dapat kau sebut perkembangan plot antibiasa. Menemui para preman adalah cara menunjukkan bahaya kehidupan sehari-hari. Yang artinya ….

“Sial, aku memicu event1 wajib.”

 

3

 

Selagi melihat pria-pria ini menyeringai, Subaru mencoba menahan status quo dengan senyum palsu dan menimbang pilihannya. Dia sedang terjepit, tapi sejak awal, dalam cerita-cerita di mana manusia dipanggil ke dunia lain, manusia-manusia itu cenderung bisa menggunakan semacam kekuatan super. Jika Subaru dipanggil ke dunia ini di bawah kondisi serupa seperti halnya cerita-cerita yang dia ketahui, kemungkinan besar dia diberikan suatu kekuatan. Berpikir demikian, Subaru merasa tubuhnya sedikit lebih ringan dari biasanya.

“Aku mulai merasa kalau gravitasi dunia ini, kayak, cuma sepersepuluh duniaku. Aku bisa. Aku bisa! Akan kupotong kalian semua dan menjadikan ini bab pertama masa depan gemilangku! Keberadaan kalian di sini biar aku bisa menyedot poin exp dari kalian, dasar keparat!”

“Dia mengocehkan apa?” kata salah satunya.

“Entahlah, tapi kuyakin dia lagi mengolok-olok kita. Ayo bunuh dia,” jawab yang lain.

“Baru mau bilang begitu …. Kau akan menyesali ini!” balas Subaru, kemudian menyerbu sambil memukul lurus dengan tangan kanan, mengincar pria besar di depan. Tinju Subaru menabrak hidung si pria, sekaligus melukai salah satu giginya dan mulai berdarah.

—seumur-umur pertama kalinya memukul orang lain! Waw! Rasanya lebih menyakitkan dari dugaanku.

Subaru percaya diri sama kemampuan bertarungnya namun tak pernah dalam pertarungan sungguhan sebelumnya. Pria yang dipukul terjatuh ke tanah. Tanpa berhenti sejenak pun, Subaru melompat ke pria lain sebagai target berikutnya yang lengah. Tendangan melengkung mulus mendarat ke sisi kepala pria berikutnya, menghempasnya ke dinding gang.

Bahkan lebih baik dari perkiraannya, dan dia mulai yakin akan gagasan dirinya tidak terkalahkan di dunia baru ini.

“Kurasa di dunia ini statistikku lumayan bagus! Cepat banget! Sekarang kuselesaikan ini!”

Berpaling, Subaru membungkuk ke depan hendak menghajar orang terakhir, sewaktu matanya tertuju pada barang yang digenggam pria itu: pisau berkilauan.

Subaru langsung berlutut, membungkuk ke depan, dan dengan satu gerakan sujud spektakuler, menekan dahinya ke tanah.

“Maaf, perbuatanku tadi sangat buruk, aku minta maaf dan mohon bermurah hati mengampuniku!”

Sujud—itulah cara paling ekstrem di saat menyerah total dan bentuk kerendahan hati terendah Jepang. Ke mana perginya seluruh perasaan bersembangat tersebut? Subaru merasa seolah-olah bisa mendengar darah mengalir dari tubuhnya. Habis-habisan memegang teguh harapan belas kasih, dia mencoba merendah diri dan terus meminta maaf.

Melibatkan pisau, bertarung sudah tidak mungkin lagi. Entah sekuat apa melatih diri, jika kau tertikam, semuanya berakhir. Segala hal dalam hidup ini adalah sementara.

Tanpa disadari, dua orang yang Subaru pikir sudah dikalahkan telah bangkit kembali. Satunya memegangi hidung berdarah dan satu lagi menggeleng kepala ke kanan-kiri, selain itu mereka berdua mengagetkannya terlihat dalam kondisi terlampau baik.

“Apaan?! Maksudmu satu pukulan KO-ku cuma segitu saja kekuatannya?! Kekuatan superku bagaimana?”

“Tidak tahu kau membicarakan apa, tapi diamlah! Kau telah membuat kesalahan!”

Sepertinya Subaru kelewat salah tentang dipanggil ke dunia lagi disertai kekuatan sedemikian rupa. Dia tidak sungguh-sungguh lebih kuat dari sebelumnya.

Salah satu pria itu menginjak bagian belakang kepala Subaru, menggesekkan dahinya ke tanah dan membuatnya berdarah. Yang lain menendang wajahnya, lalu Subaru meringkuk sekuat mungkin selagi jadi sasaran kekerasan lebih lanjut.

Lagi pula yang memukul pertama kali adalah Subaru. Mereka bertiga tidak menahan diri sama sekali.

—sial, ini sakit banget. Rasanya, aku bisa mati. Tidak, ini serius.

Tak seperti di dunianya sendiri, tidak ada jaminan para preman ini takkan merenggut nyawanya. Kalau begini, lebih baik mencoba satu upaya terkahir untuk membalas sebelum dipukuli sampai mati ….

“Berhenti bergerak, dasar brengsek!”

“Aw! Jangan, jangan …. Aw! Aw! Aw!”

Pria memegang pisau itu menginjak tangan Subaru saat dirinya mencoba bangun, kemudian preman itu membalikkan ujung pisaunya ke arah lengan, siap menyerang.

“Setelah kami pastikan kau tidak bisa bergerak barulah kami mengambil semua barangmu. Gara-gara sok tangguh sih, dasar brengsek ….”

“K-kalau kau mencari uang atau barang berharga, maaf kau tidak beruntung. Karena, aku tak punya uang sepeser pun …!”

“Kalau begitu pakaian sama sepatu aneh itu sudah cukup. Kau berbaring saja terus jadi makanan tikus-tikus gang!”

Oh, jadi ada tikus pula di dunia ini, pikir Subaru. Kuharap mereka tidak besar semacam tikus monster atau apalah itu. Subaru melihat pisau yang hendak jatuh ibarat sama sekali tak mengganggunya, memisahkan diri dari kenyataan semampu mungkin.

Subaru tak melihat hidupnya berkelebat di depan matanya, dia juga tidak merasa waktu melambat. Ajal bisa jadi datang layaknya memotong seutas benang, pikirnya.

—tapi kala itu ….

“Hei! Minggir! Minggir! Aku bicara sama kalian! Minggir!” teriak seseorang dengan suara terdengar bingung sambil berlari masuk gang.

Seperti preman-preman yang buru-buru mendongak, Subaru berhasil melirik arah suaranya, walau tubuhnya tidak bisa bergerak.

Yang dia lihat adalah seorang gadis kecil berambut pirang panjang melintas. Dari mata merahnya kau bisa merasakan kehendak kuat, dan satu gigi taring mencuatnya membuatnya kelihatan bak orang iseng. Dia tampak lebih nakal dari siapa pun, namun Subaru merasa andai dia tersenyum pastinya kelihatan sangat manis.

Seolah-olah dipanggungkan untuk membalikkan keadaan, cahaya harapan memudar yang Subaru genggam telah menyala lagi.

Dia sedang menunggu kelanjutan kejadian seperti ini.

Gadis itu, berpakaian lusuh dan penampilan kotor, mendapati aksi percobaan pembunuhan dan perampokan! Apa yang pastinya terjadi setelah itu, adalah dengan rasa keadilan meluap-luap gadis ini akan menyelamatkan hidup Subaru, langsung dari cengkeraman kematian ….

“Waduh! Kelihatannya kau lagi dalam keadaan darurat di situ, tapi maaf! Sekarang aku sibuk! Moga beruntung! Jalani hidup sepenuh hati!”

“Bentar, apaan?! Kau serius?!”

Sayangnya, harapan itu hancur sekejap mata.

Gadis itu mengangkat tangan dengan sikap meminta maaf dan tak melambat selagi terus berlari menyusuri gang. Dia melewati orang-orang itu dan terus berjalan ke arah yang mestinya jalan buntu, menendang papan kayu yang dipasang di dinding ujung, meraih bagian atas dinding, dan ringannya melempar diri ke salah satu atap bangunan sekitarnya, di sanalah dia menghilang.

Sesudah gadis itu pergi, keheningan melanda gang tersebut. Seakan-akan badai baru saja berlalu. Baik Subaru dan orang-orang itu tercengang.

Akan tetapi, bukan berarti situasi Subaru telah membaik sepenuhnya.

“Bukankah kejadian barusan membuat amarah kalian langsung mencair dan jadinya mau berubah pikiran tentang semua ini?!”

“Lebih ke merusak suasana dan hasilnya aku sekarang lebih marah. Jangan kira kematianmu akan nikmat!”

Kaki mereka terus menginjak Subaru sehingga dia tidak bisa bergerak. Ketika Subaru melihat kilatan pisau di tangan pria tersebut, kematian yang membayang di hadapannya nampak makin nyata.

—tidak, maksudku, kau pasti bercanda. Aku tidak mungkin mati segampang ini, ‘kan?

Senyum berkedut mewujud di wajah Subaru selagi putus asa melihat sekeliling mencari-cari seseorang untuk menyangkal kematian yang ‘kan menghampirinya. Akan tetapi, tidak mungkin ada kejadian sekebetulan. Ujung pisaunya semakin mendekat.

Perasaan pasrah menyelimuti Subaru dan dia merasakan air mata mengalir. Bukan rasa takut yang membuatnya kewalahan; lebih ke perasaan hampa bahwa semua ini akan berakhir tanpa mencapai apa-apa.

Di tengah keputusasaan besar ini, merasa bak dirinya telah ditinggalkan semua orang dan segalanya ….

“Hentikan, dasar para penjahat!”

Suara itu melampaui suara bising kerumunan, hinaan vulgar para preman, napas berat Subaru sendiri, beserta semua hal, dan mengguncang dasar dunia.

 

4

 

Sewaktu orang-orang bilang, Waktu berhenti, mereka pastinya membicarakan saat-saat seperti ini.

Berdiri seorang gadis di pintu masuk gang.

Dia cantik. Rambutnya perak panjang dengan kepang yang menjulur sampai pinggul. Mata ungu bersinar cerdasnya menatap tepat Subaru. Di perawakan mulusnya terdapat elemen kecantikan muda dan dewasa. Ada pula aura berwiba tentangnya yang memberi pesona berbahaya dan menyihir.

Gadis itu sekitar sekepala lebih pendek dari Subaru, menjadikan tingginya kurang-lebih lima kaki tiga inci. Pakaian yang dipakaianya punya warna dasar putih, tidak ada hiasan terlalu mencolok darinya, tetapi di sisi lain, kesederhanaannya menegaskan kepribadiannya.

Satu hal menonjol adalah jubah putih yang dikenakan gadis tersebut. Jubahnya dihias sulaman yang menggambarkan burung pemangsa, menambah kesan keagungannya.

Biar begitu, bukan pakaiannya yang membuatnya bersinar.

 “Aku takkan tinggal diam dan menyaksikan perbuatan salahmu lagi. Cukup sudah.”

Suaranya bagaikan lonceng perak, terngiang indah di telinga Subaru, sepintas dia melupakan situasi yang dihadapinya. Dia sama sekali tak berdaya oleh kehadiran gadis berambut perak tersebut.

Preman lainnya tampak seterguncang Subaru. Apa …. Dikira kau siapa …?”

“Jika kau berhenti sekarang, akan aku lepaskan. Di satu sisi, ini salahku sebab tidak berhati-hati. Jadi lakukan hal benar dan kembalikan yang kau curi.”

“Hei, yang dia pakai nampaknya mahal. Menurutmu dia bangsawan? Sebentar, hah …? Kami mencuri apa?”

“Tolong. Itu sangat berharga bagiku. Aku bersedia menyerahkannya misalkan itu hal lain, tetapi aku sungguh-sungguh tidak bisa dalam hal ini. Kumohon. Aku takkan melakukan apa-apa pada kalian, jadi tolong kembalikan.”

Gadis itu tampaknya laksana memohon setulus mungkin.

Namun ada suatu tekanan tak terjelaskan yang bangkit pada para preman itu. Sesuatu susah digambarkan tengah terjadi.

“T-tunggu sebentar! Kami tidak tahu kau membicarakan apa!”

“… apa maksudmu?”

Orang-orang itu menunjuk Subaru yang masih diinjak.

“Kau tidak datang ke sini buat menyelamatkan dia … ya?”

“… anak itu memakai pakaian aneh. Kalian semua saling bertengkar? Kurasa tiga lawan satu itu tidak adil, tapi … kiranya kau bertanya aku mengenalnya atau tidak, aku belum pernah melihatnya dalam hidupku.” Boleh jadi karena gadis itu pikir mereka berusaha mengganti topik, tapi bisa kau dengar sejumlah kekesalan dalam suaranya. Oleh sebabnya, masing-masing preman menjelaskan sendiri.

“Tunggu sebentar! Semisal kau tak mengejar orang ini, maka kami tidak terlibat! Aku bertaruh pelakunya si gadis sebelumnya!”

“Kau bilang sesuatu dicuri darimu, ‘kan?! Dinding itu! Kau lihat dinding itu? Dia melompati dinding itu dan kabur ke atap!”

“Dia jauh ke belakang! Ke belakang dinding! Dari kecepatannya, mungkin dia tiga jalan jauhnya!”

Selagi terus menyatakan ketidakbersalahan mereka, gadis itu berbalik menghadap Subaru, ibaratnya bertanya apakah mereka mengucapkan kebenaran. Tanpa pikir dua kali, Subaru mengangguk.

“Hmm … sepertinya kalian tidak berbohong. Jadi pencurinya jauh di depan? Aku harus buru-buru ….”

Dia beralih dari Subaru dan para preman kemudian menuju jalan utama. Mereka terlihat lega. Subaru yang dihadapkan kenyataan dirinya dicampakkan, mulai syok, tetapi ….

“Tetap saja, situasi ini tidak bisa kuabaikan begitu saja.”

Saat berbalik, gadis itu mengangkat tangan, telapak tangan menghadap ke depan, lalu serangkaian cahaya bersinar mulai menari di depannya.

Kedengaran bunyi keras, mirip benda tebal menghantam daging, diikuti teriakan para pria yang terlempar ke belakang. Selanjutnya, keluar suara bernada tinggi tatkala gumpalan es seukuran kepalan tangan jatuh ke tanah di sebelah Subaru.

Gumpalan es yang kelihatannya terbentuk tanpa menghiraukan kedua musim juga hukum fisika, menguap cepat seolah dimakan udara sekitarnya.

“… sihir.”

Kata terbaik untuk menjelaskan yang baru saja terjadi langsung meluncur dari mulut Subaru.

Tidak ada mantra atau apa pun, tetapi bongkahan es tersebut tentunya keluar dari telapak tangan si gadis.

Sihir—setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri pertama kali, Subaru menyadari sesuatu.

“Sama sekali tidak sefantasi fantasi yang kubayangkan …. Jujur saja, ini agak mengecewakan.”

Subaru membayangkan akan ada lebih banyak cahaya serta energi dipantulkan. Kenyataannya, yang terjadi cuma bongkahan es yang terlihat polos mendadak muncul, digunakan layaknya benda tumpul untuk serangan fisik, lalu mendadak menghilang. Tiada perasaan atau apa pun dituangkan ke bongkahan esnya.

“Nah … kalian memilih keputusan salah.”

Terlepas perasaan Subaru sama sihir, preman-preman lain yang terkena serangan langsung gumpalan es tersebut, bangkit kembali. Sejujurnya, cuma dua orang yang berhasil berdiri. Sisanya pasti terkena di bagian kritis, karena dia masih pingsan. Namun alih-alih kebenaran ini membuat mereka membatalkan pertarungan, tampaknya kedua preman lain lebih marah. Berdiri di sebelah pria memegang pisau, satunya mengeluarkan benda tumpul menyerupai gada dan keduanya siap bertarung.

“Mau pengguna sihir atau bangsawan atau siapalah! Cukup sudah. Kami akan membunuhmu! Kau pikir bisa memenangkan pertarungan dua lawan satu?!” teriak pria berpisau memegangi wajahnya yang meneteskan darah dari hidung.

Merespon ancaman ini, si gadis menutup salah satu matanya. “Kau benar, satu lawan dua kedengarannya sedikit sulit.”

“… kalau begitu, akankah dua lawan dua sedikit lebih adil?” ibaratnya tengah menyelesaikan kalimat gadis itu, suara baru lebih cempreng yang terdengar tanpa jenis kelamin bergabung dalam keributan.

Terkejut, Subaru melihat-lihat sekeliling. Yang lain juga mengikuti, tetapi tidak ada orang di dalam atau di jalan masuk gang yang terlihat cocok dengan si pemilik suara.

Lalu seolah-olah menunjukkan jawabannya kepada Subaru dan pria lain, gadis itu mengulur tangan kiri.

Duduk di atas telapak tangan juga jari-jari putihnya, di sanalah dia.

“Saat kalian menatapku seperti itu, serba ekspektasi, itu, anu … agak memalukan.”

Seekor kucing kecil seukuran telapak tangan yang berdiri tegak ditopang kedua kaki belakangnya sedang mengusap wajah dengan cakarnya.

Rambutnya abu-abu dan telinganya terkulai. Setahu Subaru, rambutnya kelihatan paling mirip dengan rambut pendeknya orang Amerika. Begitulah, jika kau mengabaikan hidungnya merah muda dan punya ekor sepanjang tinggi tubuhnya.

Melihat kucing kecil seukuran telapak tangan, si pria memegang pisau, nampak ketakutan dan berteriak, “K-kau penyihir roh?!”

“Benar. Seandainya kau ingin pergi sekarang, takkan kukejar, tapi cepat buat pilihan. Aku lagi buru-buru.”

Demikian, mereka bergegas menggotong teman pingsan kemudian meninggalkan gang, tetapi sewaktu melewati gadis itu di tengah jalan, salah satu preman mendecakkan lidah dan berkata, “Aku ingat mukamu, dasar lonte. Kali lain menemuimu, situasinya takkan berakhir baik.”

“Semisal kalian melakukan yang tidak-tidak padanya nanti kukutuk kalian dan seluruh keturunan kalian, tahu? Meski kalian takkan punya keturunan.”

Bagi preman, itulah upaya intimidasi terbaiknya, tapi sebaliknya, respon kucing itu enteng tapi jauh lebih parah.

Si kucing tampaknya tidak betul-betul serius, namun wajah preman-preman lebih memucat melebihi sebelum-sebelumnya, terus lari ke jalan utama tanpa mengatakan apa-apa.

Setelah mereka minggat, Subaru ditinggalkan sendirian di gang bersama gadis itu dan kucingnya. Berpikir dirinya paling tidak perlu menuturkan terima kasih, Subaru melupakan rasa sakitnya dan mulai berdiri, tetapi ….

“Jangan bergerak,” kata gadis itu dengan suara dingin tanpa emosi. Melihat matanya saja kau bisa tahu dirinya tengah was-was. Walaupun tahu Subaru bukan preman, dia tak lengah, itu jelas.

Malahan reaksi Subaru yang janggal. Sekalipun gadis itu melihatnya seperti itu, Subaru tertambat mata kecubung memikat nan cantiknya. Tidak terbiasa melihat kecantikan itu, Subaru tanpa sadar merona dan berpaling.

“Lihat? Aku tahu dia merencanakan sesuatu. Kalau tak menyembunyikan apa-apa, dia takkan mengalihkan wajah seperti itu,” ucapnya.

“Aku tidak yakin-yakin amat sama perkataanmu. Sepertinya reaksinya wajar bagi seorang anak-anak laki kayak dirinya. Aku tidak merasakan niat jahat,” jawab si kucing.

“Diamlah, Puck …. Kau tahu gadis yang mencuri lencanaku, bukan?” mendiamkan kucingnya, gadis tersebut menoleh ke Subaru. Ekspresinya yang penuh percaya diri, sangat indah. Tapi ….

“Maaf mengecewakanmu seperti ini, tapi aku benar-benar tidak kenal dia, sama sekali tidak.”

“Tunggu—Apa? Masa!?”

Begitu kepercayaan diri dirampas dari wajahnya, Subaru sekilas melihat caranya mengekspresikan diri sewajarnya, yang bertentangan dengan tindakannya sekarang ini. Lenyapnya aura bermartabatnya, dia kebingungan dan berbalik cepat ke kucing yang masih bersandar di telapak tangannya.

“K-k-kita harus melakukan apa? Apa semua ini buang-buang waktu saja …?”

“Saat ini pun buang waktu … aku betulan berpikir kau harus buru-buru. Dia cepat banget pas kabur, jadi kemungkinan besar si pelaku punya semacam perlindungan aneh.”

“Aduh …. Kok kau setidak peduli ini, Puck?”

“Kaulah yang menyuruhku buat jangan terlalu terlibat, tahu? Omong-omong, kita harus mengapakannya?” kata si kucing, ibarat baru mengingat Subaru.

Ketika topik pembicaraan terpusat kembali kepadanya, Subaru tersenyum letih.

“Oh,” kata gadisnya kala akhirnya menyadari kucing itu tengah membicarakan Subaru.

Menanggapi, Subaru menunjukkan kepercayaan diri kosong dan menjawab, “Jangan khawatirkan aku. Berkat bantuanmu, aku akan baik-baik saja. Kau lagi terburu-buru, ‘kan? Kau harusnya pergi ….”

Subaru harap mengakhirinya dengan, kalau kau mau, aku tidak keberatan membantumu. Bagaimana, Non? sembari menyisir rambutnya ke belakang dan tersenyum, sayangnya ….

“… huh?”

Tahu-tahu pusing, Subaru menggapai-gapai dinding namun tidak sampai, dan jatuh dengan muka yang pertama kali menabrak tanah.

“Tunggu. Kau harusnya jangan coba berdiri dul—Yah … okelah,” datang peringatan kucing itu, tapi selangkah terlambat.

Setelah jatuh tidak berdaya, Subaru merasakan sakit tajam di saat kesadarannya menghilang.

“… jadi, kita harus melakukan apa?”

“Dia … tak ada hubungannya sama kita. Dia takkan mati gara-gara itu. Kita tinggalkan.”

Jauh dari kesadarannya yang dalam tengah melepaskan diri, Subaru sedikit menelinga percakapan keduanya.

Rasakan fantasi dunia lain. Semua orang punya pandangan lumayan keras soal konsep empati.

Apa aku akan dicampakkan di gang ini? adalah pikiran negatifnya.

Yah, tadi semestinya aku mati, tapi tidak jadi, lantas aku harusnya sangat bersyukur, adalah pikiran positifnya.

Dua pemikiran itu dalam benaknya, kesadaran Subaru melayang kian jauh … jauh dan jauh ….

“Kau yakin?”

“Aku yakin!”

Persis sebelum utas kesadaran Subaru terputus selamanya, dia sempat melihat gadis berambut perak itu, wajahnya merona lalu balik badan dan berteriak:

“Mana mungkin! Mustahil aku akan menyelamatkannya, oke?! Oke?!”

duh, saat marah pun dia benaran imut. Lanjutkanlah, fantasi dunia lain.

Dengan pemikiran terakhir itu, kali ini sungguhan, untuk selamanya, kesadaran Subaru jatuh ke kegelapan.

 

5

 

Ternyata bagi Subaru perasaan bangun itu bak ketika wajahmu terangkat dari badan air. Waktu membuka mata, cahaya matahari terletak di suatu sudut dan menyinarinya, membuatnya menyipitkan mata sebab cerahnya kemudian menggosok mata. Bangunnya agak nyaman, dan Subaru adalah tipe orang yang benar-benar terjaga ketika membuka mata.

“Oh, kau sudah bangun? Kau mencoba melewati perbatasan, ‘kan? Sama seperti kami” kata sebuah suara tepat di atas kepalanya, dengan dirinya yang masih berbaring.

Tatkala Subaru beralih untuk melihat asal suara, dia sadar dirinya masih terbaring di tanah, tetapi kepalanya dibantali sesuatu yang lembut.

“Kau harusnya tak bergerak. Kepalamu terbentur, jadi tidak tahu sudah aman atau belum.”

Suara prihatin ini pun kedengaran baik, pikirnya waktu Subaru mengingat kejadiannya tepat sebelum kehilangan kesadaran. Memperhitungkan keadaannya, dia mungkin dalam salah satu situasi diberkati yang anak laki-laki harapkan.

Kepala di atas pangkuan seorang gadis …. Menanggapi wahyu ilahi ini, Subaru pura-pura berbalik untuk menyesuaikan diri biar dapat menikmatinya seratus persen. Bergerak melingkar menggosokkan pipinya lalu mencapai perasaan bahagia mutlak, jauh melampaui ekspektasinya dia merasakan empuknya kelembutan bulu.

“Waw … gadis cantik jauh lebih berbulu dari yang kubayangkan—hei, tunggu bentar!” Subaru tergagap selagi menghadap ke atas, kali ini dengan penglihatannya yang pulih sepenuhnya menangkap kejadian terkini.

Tepat di hadapan Subaru, di pandangan terbaliknya, ada wajah seekor kucing raksasa. “Kukira paling tidak, sampai kau bangun, aku akan membuatmu merasa tenteram. Kau bisa berterima kasih padaku nanti.”

“Pertama-tama, aku ingin kau menghentikan suara falseto buruk itu. Mustahil salah anggap seekor kucing sama pemeran utama wanita.”

Subaru tentu tak pernah merasakan situasi dirinya menjadikan pangkuan kucing seukuran manusia sebagai bantal serta, yah, bukannya kau akan mengalami ini setiap hari, jadi Subaru memutuskan menikmatinya sepuas mungkin.

“Waw, ini sebenarnya betulan nyaman. Rasanya, luar biasa. Sekarang aku paham alasan orang-orang menyayangi kucing mereka sampai botak.”

“Yah, kalau kau sebahagia ini, kurasa benaran tidak sia-sia berubah jadi ukuran super …. Bukannya menurutmu seperti itu juga?”

Kucing itu menggaruk wajahnya seakan-akan malu dan mengedipkan mata laksana mencari kepastian. Di ujung pandangannya ada seorang gadis berambut perak berdiri di jalan masuk gang, terlihat tak bergeming.

Gadis yang sama apabila Subaru memercayai ingatan, mata, dan hatinya yang semuanya dicap mendalam oleh gambaran gadis tersebut persis sebelum hilang kesadaran.

“Anu … maaf soal semua ini. Kelihatannya kau jadi di sini bersamaku sampai terbangun, dan—”

“Jangan salah paham. Alasan satu-satunya aku menemani adalah karena masih ada yang mau kutanyai. Bila bukan karena itu, kau sudah kutinggalkan. Serius. Jadi jangan salah paham.”

Menggarisbawahi intinya, gadis itu sangat menekankan kata-katanya. Inilah tingkat kekuatan gadis yang tidak dapat dilawan seseorang tanpa resistansi terhadap para gadis cantik semacam itu seperti Subaru. Kuat sekali sampai-sampai Subaru hanya bisa mengangguk mengabaikan apa pun yang diutarakannya.  

“Alasan aku menyembuhkan lukamu, dan menyuruh Puck memberimu bantal sasmpai bangun—semuanya demi kepentinganku sendiri. Jadi aku akan memintamu menebusnya, oke?”

“Aku tahu kau berusaha memberi alasan atas semua hal ini, tapi seandainya pengin mengatakan sesuatu, katakan saja,” timpal Subaru.

Rupanya si gadis adalah bagian golongan orang yang mengambil hati pepatah membantu orang lain tidak cuma demi diri mereka.

Dia menatap tajam Subaru dan menggeleng kepala.

“Aku tidak bertanya, tapi memerintah. Kau tahu sesuatu soal lencanaku yang dicuri, bukan?” tanya dirinya seraya menurunkan nada suaranya. Akan tetapi, tak berbeda dari yang ditanyakan sebelumnya, Subaru mesti memiringkan kepala bingung.

Mereka pernah mengalami ini, tepat sebelum Subaru pingsan.

Dia terus menyebut benda itu lencana, pikir Subaru. Jadi semacam barang yang disimpan polisi juga detektif untuk membuktikan identitas mereka? Belum pernah kulihat hal semacam itu.

“Kau tak menabrakkan kepalaku keras-keras atau semacamnya selagi aku pingsan, ‘kan?” tanya Subaru.

“Kau baru pingsan selama sepuluh menit, dan tidak, itu tidak terjadi sama sekali. Jawab pertanyaannya.”

“Yah … andai begitu, harus kubilang, benar-benar tidak tahu. Haha ….”

Kau tidak bisa berbuat apa-apa pada hal yang tidak kau ketahui. Jawaban Subaru masih sama. Tetapi gadis bermata kecubung itu nampak terlampau kecewa, namun dia mengangguk saja.

“Yah, misalkan kau tidak tahu, yasudah. Tapi, fakta kau tak tahu sama sekali sudah jadi informasi untukku, cukup tuk membenarkan penyembuhanmu,” jawabnya, menggunakan logika tak masuk akal hingga membingungkan penipu manapun untuk menjelaskan kerugian totalnya.

Selagi Subaru menatap linglung, dia menepuk tangan seakan ingin menuntaskan sesuatu.

“Yah, aku lagi buru-buru, jadi aku akan pergi sekarang. Luka-lukamu harusnya sudah sembuh semua, ditambah aku sudah sangat mengancam orang-orang itu sampai-sampai aku ragu mereka mau mendekatimu lagi, tapi masih bahaya masuk gang semacam ini sendirian. Oh, aku tidak mengatakan ini karena merisaukanmu; ini peringatan: kiranya melihatmu di situasi serupa lagi, takkan ada gunanya aku menyelamatkanmu, jadi jangan sangka aku akan melakukannya lagi,” dia nyatakan secepat tembakan senapan mesin. Dia terka diamnya Subaru sebagai afirmasi, lalu gadis itu mengangguk kemudian berbalik pergi.

Rambut perak panjangnya melambai-lambai seiring gerakannya dan berkilau fantastis diterangi cahaya samar gang.

“Maaf soal itu. Dia tidak terlalu jujur pada dirinya sendiri. Jangan teramat menganggap aneh, oke?” tutur kucing itu yang telah kembali ke ukuran aslinya sembari tertawa dan melompat ke bahu si gadis.

Gadis itu menepuk punggung Puck seakan-akan memastikan sentuhannya, lalu kucingnya menghilang setelah menyelinap ke balik tirai rambutnya.

Tanpa menoleh ke belakang sekilas pun, gadis itu lanjut berjalan. Selagi melihat kepergiannya, Subaru memikirkan yang dikatakan kucing tersebut, tentang dirinya yang tidak jujur pada dirinya sendiri serta niatnya.

Barangnya dicuri, alhasil walaupun sedang buru-buru mengambilnya kembali, dia malah menyelamatkan Subaru. Kemudian setelah Subaru pingsan, dia menyembuhkannya lalu tepat ketika dia bangun, gadis itu melempar dalih buruk demi menunjukkan bahwa dirinya tak rugi melakukannya. Dia tidak jujur-jujur amat sama dirinya sendiri, tak cukup menjelaskan dirinya sendiri. Usahanya melakukan semua hal dikira negatif dan sulit menyaksikannya.

Dia berhak total menyalahkan Subaru yang menghambatnya, namun dia tidak sekali pun komplain, dia bahkan tak meminta permintaan maaf.

Karena baginya, satu-satunya alasannya menyelamatkan Subaru adalah demi tujuannya sendiri.

“Kalau kau hidup dengan cara itu, kau akan terus kehilangan sesuatu sampai tidak tersisa apa-apa,” kata Subaru sambil bangkit berdiri, menepuk-nepuk baju olahraganya yang tertutup debu dan tanah terus mulai berlari.

Tentu, pakaian olahraga kesayangannya dalam kondisi kelewat buruk, tetapi dalamnya, hampir seluruh rasa sakitnya sirna. Meski ditendang dan dipukul separah itu.

Lagi-lagi Subaru diingatkan betapa berbedanya sihir, sekaligus kemurahan hatinya yang biarpun terus-terusan meminta Subaru membayar budi, tidak mengambil imbalan apa-apa.

“Hei, tunggu!” panggil Subaru ke orang itu yang persis baru sampai di jalan masuk gang dan tengah berada di depan jalan utama, kelihatan tidak yakin harus pergi ke mana selanjutnya.

Dia menyentuh rambut peraknya dan terlihat sedikit kesusahan selagi berbalik. “Ada apa? Aku kasih tahu sekarang, aku tak banyak waktu untuk berurusan denganmu.”

“Kalau begitu sebentar saja tidak apa-apa?! Omong-omong, kau kehilangan barang penting, ‘kan? Biar kubantu mencarinya.”

Dia mengedipkan mata beberapa kali, kaget. “Tapi katamu tidak tahu apa-apa ….”

“Memang benar aku tak tahu nama gadis yang mencuri lencanamu, atau asalnya, tapi setidaknya aku tahu rupanya! Rambutnya pirang, mirip kayak anak kucing, dan punya gigi taring menonjol yang sukar dilewatkan. Dia lebih pendek darimu ditambah dadanya cukup rata jadi barangkali dua atau tiga tahun lebih muda darimu! Bagaimana?!”

Subaru punya kebiasaan buruk bicara cepat dan bahkan tak tahu apa yang dikatakannya ketika bingung.

Saat ini kebiasaan itu tengah terjadi dengan kecepatan maksimal, bahkan Subaru tidak mau dilibatkan sama kata-katanya sendiri.

Keheningan berikutnya terasa menyakitkan. Keringat dingin membasahi punggung Subaru, belum lagi tangan juga ketiaknya yang disusul jantung berdebar-debar, sesak napas, juga pusing, selain merasa sempoyongan, hidungnya tersumbat reaksi alergi didampingi migrain, jadi ada masalah di semua lini badannya. Tapi ….

“… kau aneh,” ucapnya sembari mengangkat tangan ke mulut, memiringkan kepala ibaratnya melihat semacam binatang langka.

Dia menatap Subaru dengan jari yang masih menutupi bibir, menilainya.

“Seharusnya kukatakan secara langsung kalau tidak bisa menawarkan balasan apa-apa atas bantuanmu. Mungkin aku tidak kelihatan begitu, tapi aku tidak punya sekeping pun tembaga.”

“Jangan khawatir, berarti kita berdua sama,” jawab Subaru.

“Bertiga, kalau kau menghitungku …. Kelompok kita lumayan jelek,” tambah suara canda rambut peraknya, tapi Subaru abaikan dan menggebuk dadanya.

“Aku tak perlu ucapan terima kasih. Akulah yang seharusnya berterima kasih. Karenanya aku mau membantu.”

“Aku belum berbuat apa-apa sampai pantas mendapat terima kasihmu. Aku sudah menerima sesuatu sebagai balasan menyembuhkanmu.”

Dia tak mau menyerah, ya? Subaru menatapnya dan sikap kepala batunya dengan senyum lemah.

“Seandainya begitu, aku akan membantumu atas dasar diriku sendiri. Alasannya … iya itu dia. Akan kugunakan proyek satu hari satu perbuatan baik!” tutur Subaru.

“Satu hari satu perbuatan baik?”

“Itu benar. Kau berbuat baik sekali sehari. Misal melakukannya, setelah kematianmu kau akan dapat tiket masuk surga langsung! Andai bisa kulakukan, maka kehidupan indah dengan sekadar makan-tidur tengah menungguku—begitulah yang kudengar! Karena itulah aku akan membantumu demi keuntunganku sendiri.”

Subaru merasa ingin menghadap dirinya sendiri dan bertanya dia lagi melakukan apa, namun sekurang-kurangnya berhasil menjelaskan maksudnya.

Dia berdiri tegak sembari merenung, mempertimbangkan perkataan Subaru, tiba-tiba kucingnya menyodok pipinya dengan cakarnya.

“Aku tak merasakan niat jahat darinya, terlebih menurutku bukan ide buruk, tahu? Mengingat betapa besarnya ibu kota, lebih baik ketimbang tidak ada petunjuk sama sekali.”

“Tapi bila aku mengaitkannya ….”

“Kau manis waktu keras kepala, tapi bodoh bila membiarkan keras kepalamu menguasai dirimu sekaligus membuatmu lupa tujuan. Aku lebih suka tak menganggap tuanku sendiri sebagai orang bodoh.”

Kucingnya menambahkan dukungannya untuk Subaru, tetapi dia masih ragu-ragu. Meresponnya, Puck melemaskan ekspresi dan melanjutkan dengan suara serius.

“Plus, matahari tak lama lagi akan menyingsing. Apabila malam tiba, aku takkan bisa membantu. Aku takkan risau jika kau sekadar mengurus satu-dua preman, tapi … lebih baik selamat daripada menyesal.”

“Yah, kayaknya kaulah yang mesti dipanggil misalkan ada bahaya! Tapi, bentar—dari kata-katamu tadi, kau tidak bisa keluar pas malam? Salah satu kesepakatan kontrakmu atau semacamnyakah?” tanya Subaru, melangkah lebih dekat.

Kucing itu menjentik kumisnya dengan cakar depannya lalu berkata, “Lebih tepatnya, mungkin aku kelihatan imut, tapi aku ini roh, tahu? Untuk mewujud saja aku butuh banyak mana. Saat malam tiba, aku kembali ke kristal yang menjadi wadahku dan mengisi energi sampai matahari terbit lagi. Kurasa bisa kau sebut pekerjaan delapan jam sempurna.”

“Delapan jam? Kedengarannya seperti kerjaan pemerintah …. Syarat menyewa roh terdengar lebih parah dari yang kuduga …!”

Subaru bisa bicara santai sama roh, tapi itu karena kekuatan analitis yang dimilikinya sebagai otaku modern, diracuni anime dan gim. Bahkan sifat-sifat yang dipandang rendah oleh publik kadang-kadang berguna.

Selagi Subaru dan kucing itu melanjutkan percakapan, si gadis terus menggalaukan keputusannya. Akan tetapi, poin terakhir tersebut rupanya mengubah situasi, lantas sesudah mengerang lama dengan banyak tapi, diam, dan momen-momen dirinya di tengah mengiyakan.

“Kuberi tahu, aku benar-benar tidak bisa membalas apa-apa, oke?”

 

6

 

Sehabis interaksi ramah Subaru di dunia lain ini—episode menghangatkan hati—satu jam telah berlalu.

“Apa artinya ini?” penyelidikan mereka tertambat.

Sewaktu Subaru menghadap tatapan dinginnya, dia menggaruk wajah dan mencoba mencari-cari jalan keluar.

“Sekalipun menggunakan seluruh pengalamanku, tidak kusangka akan sesusah ini ….”

“Kau sepertinya memandang tinggi dirimu, tapi belum melakukan apa pun untuk membuktikannya. Bagaimanapun kau mencuraikan, situasinya tidak berjalan baik!”

“Tidak ada lagi orang yang bilang, mencuraikan….”

Mengungkitnya malah memperburuk keadaan, hasilnya tatapannya semakin tajam, membuat Subaru menciut.

Kendati mereka telah melaksanakan pencarian selama satu jam kurang sedikit, entah kenapa, mereka berdua kembali ke gang. Tentu saja ada alasan bagus untuk ini. Subaru menemukan sejumlah faktor yang menyulitkan pencarian mereka.

Awalnya, Subaru tidak tahu seluk-beluk kota. Sebab dia baru dipanggil dari dunia lain, tidak bisa serta-merta menyalahkan dirinya yang mau melewatkan alasan ini. Selain itu rupanya si gadis tidak familier pula sama area ini, sedikitnya sepuluh menit terbuang sia-sia gara-gara keduanya sama-sama percaya kalau masing-masing pendampingnya sudah akrab dengan kota ini. Agak lucu sebetulnya, begitulah yang Subaru pikirkan. Tetapi gadis yang menatap Subaru sepenuhnya tidak mendapatinya lucu.

Kedua, huruf dan simbol yang tertulis di sana-sini … seratus persen tidak terbaca Subaru. Menimbang Subaru tidak kesulitan berkomunikasi dengan ucapan, dia tidak terlalu pertimbangkan, namun setelah dilihat-lihat lagi, di mana-mana ada simbol tertulis. Kecuali kesemuanya adalah semacam jimat mistis untuk menangkal sihir jahat yang cenderung popular, simbol-simbol tersebut barangkali huruf-huruf untuk bahasa umum. Dan karena dia tidak bisa memahaminya, Subaru bahkan tidak mampu membaca rambu-rambu jalan.

Dengan kata lain, biarpun keajaiban yang kerap kali terjadi di sebagian besar karya fiksi pemanggian dunia lain adalah, entah kenapa kata-kata dan kepenulisan kami bisa saling dipahami! tetapi dalam kasus Subaru, cuma sebagiannya yang nyata. Namun jikalau Subaru tidak biasa berkomunikati lewat pembicaraan maka tamatlah sudah dirinya, sulit menyebut situasinya tidak beruntung.

“Tetap saja, mengapa kau mesti meninggikan tingkat kesulitan seperti itu padaku …? Dunia ini tidak ada baik-baiknya.”

Ketimbang melakukan semua opsi, lebih ke kasus menemukan serangkaian masalah kritis padahal memulai pencarian pun belum.

Selagi putus asa karena absolut tidak membuat kemajuan selama sejam terakhir ini, Subaru mendapati rekannya, gadis itu, tidak peduli total pada dirinya selagi berdiri di dinding gang seraya memejamkan mata. Melihat bibirnya bergerak saat menggumamkan sesuatu beberapa kali, Subaru memiringkan kepala bingung.

“Penasaran dia mau melakukan apa ….”

“Oh itu? Dia lagi berkomunikasi sama roh kecil.”

Subaru mengangkat alis terkejut saat kucing abu-abu milik dirinya mendadak muncul kembali persis di depan matanya.

“Kurasa sudah lama tidak melihatmu, tapi kau tidak pulang; selama ini kau belum pergi?”

“Masih ada sedikit waktu sebelum aku pergi. Tak seperti roh-roh kecil yang sedang dia ajak bicara, aku anggap serius pekerjaanku.”

“Yah, kau lumayan terhormat …. Tapi, roh kecil ini … apa, ya?”

Dari namanya, kurasa mereka satu tingkat di bawah roh biasa? pikir Subaru.

Seolah menyetujui renungannya, kucing itu melayang-layang di udara, mengibaskan ekor panjangnya ke depan-belakang. “Roh kecil adalah makhluk dalam kondisi praroh sejati yang mulai mengembangkan sejumlah pengetahuan. Jika, seiring waktu mereka mendapatkan kekuatan dan kesadaran, mereka akan menjadi roh sepertiku.”

Selagi mengangguk mendengar penjelasan kucing itu, Subaru menyadari sekelilingnya mulai bersinar. Gadis berambut perak diselimuti cahaya samar yang terlihat bak kunang-kunang.

Jenis pemandangan yang membuat orang-orang tanpa sadar enggan campur tangan. Sebagaimana tempat suci dipengaruhi kekuatan supernatural yang hanya memperkenankan masuk sesuatu yang sudah dikuduskan.

Menanggapi pemandangan tersebut, Subaru ….

“Waw! Keren amat! Semua yang bercahaya ini roh?”

“Ah!”

… tanpa pikir panjang langsung mengganggunya, kau bisa melihat gadis itu bereaksi meneteskan air mata. Kemudian keadaan bingung gadis itu menyebar ke cahaya-cahaya di sekitarnya lalu ….

“Oh, lihat tuh. Mereka panik.”

Banyaknya cahaya mulai kabur ke sana-kemari selanjutnya berhamburan dan menghilang ke udara.

“… anu ….”

Baik Subaru dan dia membuka mulut, tercengang, mencari-cari ke mana perginya para roh kecil. Dia cepat-cepat melanjutkan perbuatannya, namun kelihatannya mereka tidak mengindahkan panggilannya lagi.

“Lihat perbuatanmu! Mereka pergi! Kau mau tanggung jawab bagaimana?!”

“Ah …. Anu …. Maaf! Ini pertama kalinya aku melihat roh-roh seperti itu dan jadi sedikit kegirangan. Maksudku, kelihatannya mereka tak berbahaya atau semacamnya.”

“Tidak bahaya karena aku kendalikan mereka. Misalkan kau lakukan itu ke penyihir roh tanpa pengalaman, hasilnya mengerikan. Kemungkinan terburuk, para roh bisa-bisa mengamuk dan …. DUAR.”

“Duar?”

Dia mencoba menegur Subaru sebab tidak menganggap serius tindakannya, tetapi menggunakan kata duar tak teramat-amat membantu.

“Oh, ayolah. Mana mungkin makhluk-makhluk gemerlap kecil itu jadi berbahaya. Kau kira aku percaya itu

“Yah, penjelasannya begini,” ucap Puck, “Aku boleh jadi kelihatan sangat manis … tapi cuma butuh dua detik buat mengubahmu jadi tumpukan debu.”

“Sial, roh menakutkan!” Subaru merinding seketika merespon ancaman kematian kucing itu yang di kuping terdengar damai. “Aku tentunya berharap kau tidak sekesal itu sampai-sampai menyuruh kucingmu melakukan sesuatu padaku atau mirip-mirip itulah ….”

“Aku takkan menyuruh Puck melakukan hal seperti itu. Andaikata aku ingin bersikap keji pada dirimu, kau kuurus sendiri …. Agh, sepertinya mereka takkan menjawabku lagi.” gagal menjalin kontak kedua sama roh kecil, dia depresi, menggeleng kepala tanpa daya.

“Kurasa tidak ada gunanya menanyakan ini karena roh-rohnya sudah pergi, tapi sebetulnya niatmu apa?”

“Aku coba mencari tahu mereka punya informasi tentang barang yang kucari-cari atau tidak. Mereka menghilang sebelum aku sempat bertanya, sih.”

“Apa, benaran?!” Subaru tak sanggup berkata-kata atas beratnya kesalahannya.

Melihatnya, gadis itu menimpali.

“Um, t-tapi … perlu waktu dan roh kecil tak punya kesadaran jelas seperti halnya roh biasa, jadi aku tak terlalu berharap banyak, tapi …. Oke, maaf, itu bohong.”

Keragu-raguan gadis itu buat berbohong bertentangan dengan hasratnya untuk tetap positif, jadi selagi mencoba, dia tak mampu melunakkan pukulannya. Malah, perjuangannya atas dirinya sendiri semakin-makin menyorot ketololan Subaru. Kalau begini, dia malah akan memperlambatnya.

Gawat, baik memikirkan hutang budiku dan fakta dirinya satu-satunya hubungan berharga di dunia ini … aku usahakan yang terbaik untuk menempel pada hubungan ini dan takkan lepaskan …!”

Dari tampangmu, kelihatannya kau merencanakan hal tidak baik, tapi … kau memikirkan sesuatu? Um ….” Di depan Subaru yang telah menemukan perasaan tekad baru yang patut ditanyakan, gadis berambut perak itu mengernyitkan alis. Tetapi kucingnyalah yang datang menyelamatkan.

“Ah, kalau dipikir-pikir, kita belum saling memperkenalkan diri, ya? Haruskah melakukannya?”

“Oh, kau benar. Baiklah, kurasa aku akan duluan!”

Dengan gaya terlampau energik, sebagiannya membantu menutupi kesalahan sebelumnya, Subaru berpose sembari menunjuk langit.

“Namaku Natsuki Subaru! Orang bego tidak punya otak, yang akan selamanya dan kekal takkan punya uang! Senang bertemu denganmu!”

“Yah, itu tak terlalu menginspirasikan kepercayaan diri, ya? Omong-omong, aku Puck. Senang bertemu denganmu.”

Begitu Subaru mengulurkan tangannya, Puck melompat menghampiri dengan seluruh tubuhnya untuk berjabat tangan. Para penonton mungkin mengira Subaru hendak meremasnya sampai mati.

Si gadis mengerjap kaget melihat interaksi berani Subaru. “Jarang-jarang melihat seseorang mau mendekati roh semudah itu … dan namamu tidak lumrah. Rambut hitam sama mata gelap seperti itu—asalmu dari mana?”

“Ha, aku menunggumu menanyakan itu. Mengingat kiasan ini, kujawab diriku berasal dari negara kecil di timur!”

Inilah pola yang sering kali muncul di fiksi dunia lain sejak dulu. Suatu karakter akan mengumumkan mereka berasal dari negeri tersembunyi di timur, yang kurang-lebih disebut Zipang. Interaksi antar negara tak terlampau banyak, jadi seumpama asalmu dari negeri itu, kebanyakan orang akan bisa memahaminya. Hal klise yang ajaibnya berguna.

“Semisal kau melihat peta benua, Lugnica adalah negara tertimur, jadi … tidak ada negeri dari timur sini.”

“Apa, serius? Kita di ujung timur?! Jadi … terus negara ini adalah Zipang yang telah lama kurindukan?!”

“Jadi kau tidak tahu ada di mana, tak punya uang, tidak bisa baca, tidak dapat mengandalkan siapa-siapa. Aku mulai berpikir kau lebih sial dariku ….”

Sementara Subaru terkejut oleh perkembangan baru ini, gadis itu pun mulai kelihatan cemas. Dari setiap tindakannya kau bisa lihat unsur kepribadiannyalah yang mendorongnya membantu orang lain. Dia barangkali tidak bisa tidak mencemaskan Subaru yang di matanya tak cuma kian terlihat lemah, tetapi sepenuhnya tanpa daya.

Dia sekali lagi menatap baik-baik Subaru dari atas ke bawah.

“Dilihat-lihat lagi, kau sebenarnya kelihatan dalam kondisi cukup baik. Anu …. Uh … Subaru.”

“Hah? Oh. Yap, Subaru. Itu namaku.”

Namanya yang dipanggil seragu-ragu itu entah apa terasa bagaikan pengalaman baru yang segar bagi Subaru, membuat responnya terbata-bata. Sehabis berdeham untuk menutupi diri terguncangnya, dia tunjukkan bisepnya. “Aku berlatih tiap hari. Karena aku hampir senantiasa mendekam di kamar, setidak-tidaknya harus melakukan ini biar tetap bugar.”

“Aku tak betul-betul mengerti maksud mendekam di kamar, tapi kau dari keluarga kelas atas, bukan? Tidakkah diajarkan semacam seni bela diri?”

“Aku sejatinya dari keluarga kelas menengah biasa garis keras, tapi … kenapa kau pikir aku dari keluarga kelas atas? Apa aku memancarkan semacam aura kebangsawanan?”

“Yah, banternya kau punya aura ingin tahu.”

Subaru mengangkat tangan bercanda laksana mengakui sanjungannya.

Tetapi mendadak tangannya diraih gadis itu, dan Subaru yang kaget oleh sentuhan tiba-tibanya, mesti menahan diri untuk mendecit.

“Juga dari jari-jarimu, tapi kulit sama rambutmu termasuk. Ini bukan tangan rakyat jelata, dan otot-ototmu tidak kelihatan hasil kerja keras.”

Subaru tersipu seketika dia terus mencolek tangannya, tetapi paham alasannya. Dia pun terkesan oleh kemampuannya mengetahui dirinya tidak hanya sekadar orang asing di negeri asing. Selagi Subaru berdiri takjub, dia melanjutkan.

Rambut hitam dan mata gelap. Aku dengar itu ciri umum para pengungsi selatan, tetapi fakta kau di Lugnica sini dengan ciri-ciri tersebut artinya kau mampu hidup dengan mewah. Dan juga, pengerjaan pakaian aneh milikmu ini indah …. Jadi, apa aku benar?”

 Kala Subaru terdiam, gadis itu tersenyum bangga. Mengaku merasa tertarik oleh suasana menyihir yang dirinya ciptakan lewat senyum indahnya, Subaru memproses makna perkataannya dan wajahnya bimbang.

“Kalau kau menanyakanku yang tadi itu salah atau benar … kau salah semua, tapi cara penyampaiannya yang tidak sampai menyakitimu adakah?”

“Kalau aku salah, bilang saja salah. Kalau tidak kau katakan, akan makin memalukan buatku.” Dia merona saat kepercayaan dirinya di awal jadi rasa malu. Selagi Subaru melihatnya terdiam, dia hendak menjelaskan asalnya.

Dia bisa saja bilang, “Aku ini pecundang yang dipanggil dari dunia lain!” tetapi memikirkan preseden yang ditetapkan fiksi fantasi tentang dunia lain, sama saja membuka gerbang dirinya dicap orang gila. Meninjau ulang perkataannya sejauh ini, dia merasa ada risiko besar ketika mengatakan kebenaran.

“Kau tidak perlu terlalu keras memikirkannya, tahu? Bila kau tidak ingin membicarakan topiknya, aku takkan bertanya lebih jauh lagi.”

Melihat Subaru kesusahan ingin menjawab apa, gadis itu menyimpulkan sendiri dan tidak mendesaknya. Karena dirinya lagi-lagi menyelamatkannya, Subaru meringis, merasa semakin tidak berguna.

“Tapi … benar-benar, kelihatannya ini tidak bagus,” gumam gadis berambut perak itu dengan nada yang kini lebih lirih, ekspresi wajahnya mendung.

“….” Melihatnya tidak sanggup lagi menyembunyikan betapa putus asa perasaannya, Subaru merasakan api lemah menyala dalam dirinya. “Aku ini apa, orang bego? Yah, iya, aku ini bego. Selama ini aku melakukan apa ….”

Persis di depan Subaru berdiri gadis yang menyelamatkan hidupnya. Bukannya dia menawarkan bantuan sehingga bisa membalasnya? Jika begitu, maka bagaimana cara menjelaskan kurangnya dukungannya?”

“Subaru?”

Menatap Subaru terdiam dan tiba-tiba terlihat kesulitan, si gadis memiringkan kepala dan menatap bingung. Gerakan menatapnya menjatuhkan rambut-rambut perak ke bahunya, Subaru berpikir sekeras-kerasnya.

Dia mencoba mengingat kejadian sewaktu si pencuri berjalan melintasi gang sementara preman-preman itu menginjak-injaknya. Memfokuskan diri pada saat itu, dia perlu mencari sesuatu, apa pun yang bisa dia manfaatkan ….

“Ada beberapa hal yang ingin kuperiksa denganmu, tidak apa-apakah?”

“Anu … oke, iya. Tanya saja.”

“Terima kasih. Aku lumayan yakin sudah beberapa kali mendengarnya, tapi ini ibu kota negara manapun kita berada … ‘kan? Jadi, pada dasarnya adalah kota yang ada kastel raja di dalamnya, dan tempat yang sungguhan besar, betulkah?” tanya Subaru, mengingat sedikit percakapannya sebelumnya dengan dirinya.

Meski Subaru tahu pertanyaannya pasti kedengaran aneh. Dia tidak menginterupsi dan mengangguk iya saja.

“Jadi ini kota besar, tampaknya ada gadis yang mencari nafkah dengan mencuri. Dari tampilan pakaiannya, dia tentu tidak terlihat kaya …. Mungkin ini sudah jelas, tapi pasti ada tempat tinggal khususnya orang-orang itu.”

“….”

“Ada tidak tempat di mana kejahatan merajalela, atau sesuatu semacam daerah kumuh di sini …? Aku yakin susah menukar barang curian sama uang tanpa koneksi, lantas kupikir ada kemungkinan dia harus kembali ke tempat seperti itu.”

Dengan bayangan pencuri itu yang tersimpan dalam ingatannya, Subaru menganalisanya dari kepala sampai kaki, selanjutnya mengerahkan seluruh pengetahuan yang dimilikinya mengenai latar fantasi untuk membantunya membentuk suatu hipotesis.

“Jadi, alih-alih mencari-cari tanpa tujuan, kita punya peluang lebih bagus misalkan hanya membidik itu, tapi …. Ada yang salah?”

“Aku heran saja. Kau benaran punya kepala bagus di pundakmu.”

“Yah, ketimbang kesimpulan logis, ini lebih mendekati tema umum fantasi abad pertengahan, tapi … jikalau cuma perlu melakukan ini biar kau berpikir lebih baik tentangku, firasatnya jalanku masih jauh ….”

Terlepas tanggapan Subaru, dia nampaknya menerima baik-baik pujian si gadis.

Selagi Subaru menggaruk sisi kepalanya supaya tak memperlihatkan betapa tersipunya, gadis itu mengangguk beberapa kali. “Kita ikuti rencanamu. Ayo kembali ke jalan utama dan tanya beberapa orang apakah mereka tahu tempat yang mirip deskripsimu.”

“Lagian kita sudah betul-betul tertinggal. Ayo cepat pergi.”

Setelah Subaru dan dirinya saling bertatapan dan mengangguk, mereka ke luar gang menuju jalan utama. Akan tetapi, tepat sebelum mereka mulai mencari tempat yang banyak dilewati orang-orang yang dapat mereka tanyai, Subaru teringat suatu hal.

“Aku kepikiran sesuatu … aku tahu nama kucingmu sekarang, tapi kurasa kau belum memberitahuku namamu, haha.”

Sekalipun Subaru berpikir membicarakan ini sekarang barangkali bukan waktu yang paling efisien, mata pemilik kucing itu sedikit membelalak terkejut. Kemudian dia menutup mata dan setelah beberapa detik hening, angkat bicara ….

“… Satella.”

“Oh?”

Subaru yang mulai mengira dirinya telah membuat kesalahan karena gadis itu terdiam, sedikit terlambat menanggapi balasan berbisiknya.

Melanjutkan, si gadis berpaling dari Subaru. “Aku tidak punya nama belakang, jadi panggil saja Satella.”

Suaranya tak punya emosi. Gara-gara tingkahnya, ibarat meskipun memperkenalkan nama, dia menolak dipanggil demikian. Dari tindakannya, gadis yang memperkenalkan namanya sebagai Satella, menciptakan jarak antara dirinya dan Subaru lebih dari sebelum-sebelumnya.

Subaru yang berpikir merasa lebih enakan memanggil nama keluarga ketimbang pribadi, merasa sama sekali tidak dapat memanggil nama itu. Sementara waktu, mencari-cari jalan ke luar, Subaru memutuskan sepenuhnya tidak memanggilnya demikian, dan malah menggunakan kata ganti belaka.

Selagi mengamati percakapan Subaru dan Satella dari samping, Puck mengatakan satu hal sebelum kembali menyelip ke dalam rambut peraknya.

“… seleramu buruk banget, tahu,” gumam Puck, walaupun suaranya bahkan tidak sampai Satella, apalagi Subaru.

 

7

 

Memanfaatkan suara kerumunan ramai sebagai penuntun, dua orang itu kembali menyusuri jalan masuk gang lalu ke luar ke jalan utama sekitar sepuluh menit kemudian.

Memindahkan-mindahkan pandangan ke sana kemari, Subaru mencari siapa yang harus mereka tanyakan terlebih dahulu, seketika Satella yang berdiri di sampingnya, menarik lengan bajunya.

“Hei, Subaru ….”

Di saat melihat kembali Satella, dia mendapati tatapannya tertuju ke sesuatu di seberang jalan. Subaru melihat ke arah yang sama dan menyadari apa yang Satella lihat.

Firasatku buruk soal ini, pikirnya.

Menambah beban ketakutannya, Satella melanjutkan dengan ekspresi wajah serius.

“… pikirmu anak itu tersesat?”

Dari segala hal yang bisa berjalan keliru dalam rencananya, hal terburuk terjadi.

“… yah, anu ….”

Salah satu dari beberapa hal yang Subaru dapati sepanjang hari ini adalah bahwasanya gadis berambut perak yang berdiri di samping Subaru itu baiknya bukan main. Tapi, entah karena kutukan atau alasan lain, dia tidak mau akui.

Subaru mendesah panjang. “Mari tenang sebentar.”

“Bagaimana nanti misalkan dia asal pergi ke suatu tempat selagi kita buang-buang waktu?! Kita harus cepat-cepat bicara dengannya ….”

“Kau tahu, kebaikanmu itu kebajikan besar, dan mengingat diriku sendiri diselamatkan kebaikan tersebut membuatku sungguh-sungguh tidak pengin mengatakan ini, tapi tahukah situasimu sekarang?”

Ke mana tatapan Satella tertuju, ke dekat bangunan-bangunan di seberang jalan, di sanalah berdiri seorang gadis muda. Dia nampak seperti berusia sekitar sepuluh tahun, dengan rambut cokelat menyentuh bahu yang sangat imut. Bila dia tersenyum, orang-orang di sekitarnya bisa jadi pasti tersenyum, tapi sayangnya, sekarang ini matanya serba kecemasan, dan dia kelihatan mau menangis.

Boleh jadi ada kemungkinan 80 atau 90 persen observasi Satella itu benar. Subaru meyakininya, namun ….

“Sebagian situasinya pun gara-gara kesalahanku, tetapi pencuri yang mencolong lencanamu semakin jauh dari kita. Bila kita menyia-nyiakan waktu di sini, pas kita menangkapnya, dia barangkali sudah menjualnya dan mustahil mengambilnya kembali.”

“Kau mungkin benar … tapi ….”

“Kalau begitu ….”

Tentu rasanya tidak enak meninggalkan gadis itu begitu saja, tapi dengan semua orang berjalan di sekitarnya, kemungkinan seseorang membantunya itu tinggi. Di sisi lain, Subaru dan Satella terdesak waktu, dan perlu mengumpulkan informasi untuk melanjutkan pencarian mereka.

Tidak peduli mau bagaimana dia pikirkan, rencana mereka saat ini sepatutnya lebih mengutamakan menolong gadis kecil itu, tapi ….

“Memangnya kau tidak lihat, Subaru? Lihat saja, dia menangis.”

“….”

“Jika kau tidak ingin lagi menemaniku, tidak apa. Terima kasih atas segalanya, Subaru. Aku akan selesaikan ini sendiri … setelah membantunya.” Selagi Subaru terdiam seribu bahasa, Satella kelihatan telah membuat keputusan itu. Cara Satella mengatakannya, bukan seolah bilang dia capek sama Subaru yang tidak memahaminya, tetapi merasa bersalah telah memaksa Subaru bermain-main dengan ketidakmasukakalannya.

Rambut perak Satella menari-nari di belakang, dia berlari ke seberang jalan menuju tempat gadis itu berdiri. Gadis kecil yang memandang ke bawah dengan mata berair, menyadari seseorang tahu-tahu menghampirinya. Ada secercah harapan di matanya seketika mengangkat pandangan, mungkin karena dia menyangka orang yang dicari-carinya telah menemukan dirinya.

“Maaf aku bukan orang yang kau cari,” ucap Satella selagi berlutut untuk bicara sama si gadis kecil yang matanya membeliak terkejut.

Tetapi matanya bukan lega, melainkan ketakutan. Dari jauh pun kau bisa tahu, diajak bicara sama orang asing menyebabkan hatinya menyusut ketakutan.

“Maaf menggangumu, tapi ayah dan ibumu di mana? Mereka tidak bersamamu?”

Sepertinya Satella tahu gadis itu makin ketakutan, dan suaranya terdengar paling lembut dari yang pernah didengar Subaru sebelumnya. Akan tetapi, tidak cukup menyampaikan kekhawatirannya pada si gadis yang entah bagaimana terpisah dengan orang tuanya dan kini tengah merinding tidak tahu mesti berbuat apa.

“Umm …. Uh …. Tolong jangan nangis. Aku takkan menyakitimu, oke?”

Satella berusaha tetap membuka hati gadis itu sebelum menutup sepenuhnya, tapi kenyataannya tidak berhasil, gadis itu menggeleng kepalanya ke depan-belakang. Air yang menggenang di matanya terlihat hendak meluap, saat itu ….

“Sekarang manjakan matamu dengan koin sepuluh yen indah ini!”

“Huh?” kata Satella, kaget oleh suara yang tahu-tahu melompat masuk, tampillah Subaru yang mengenakan pakaian olahraga abu-abunya.

Subaru pertama-tama tersenyum lemah terhadap reaksi Satella, kemudian mengalihkan senyumnya dari Satella ke si gadis kecil. Penyusup tiba-tiba itu kemudian mengulurkan tangan kanannya.

“Sekarang kau bisa lihat koin di tangan kananku ini? Aku yakin telah kelihatan! Baiklah, sekarang akan kuremas. Seperti ini … remas remas remas ….”

“Bentar, Subaru … apa yang kau …?”

“Dan tada!”

Mengabaikan interupsi Satella, Subaru menarik tinjunya yang menggenggam koin sepuluh yan lalu membuka lebar-lebar untuk diperlihatkan ke keduanya. Setelah itu, koin yang sepatutnya berada di tangannya telah hilang.

“Waw! Koin yang kuremas hilang! Ke manakah perginya …?”

Gadis kecil itu mengedipkan mata beberapa kali kemudian menatap tajam tangan kanan Subaru, tetapi melihat punggung atau telapak tangan dua-duanya, dia tidak temukan. Subaru yang semakin semangat oleh reaksi gadis tersebut, mengangguk lalu mengulurkan tangan kirinya dan jari-jarinya menyisir rambut si gadis.

“Ternyata! Jadi di sini koinnya bersembunyi.”

Ketika melihat koinnya ada di sela-sela jari tangan kiri Subaru, dia tertegun.

Satella yang tidak bisa menguraikan triknya, sama bingungnya.

Subaru membungkuk hormat di depan keduanya lalu menjatuhkan koin sepuluh yen ke tangan gadis kecil tersebut.

“Aku berikan padamu sebagai hadiah. Koin ini spesial, jadi jaga baik-baik, oke?”

Subaru menatap sembari tersenyum ketika gadis kecil tersebut memegang koinnya erat-erat dan mengangguk penuh tenaga.

Di sisi lain penampilan Subaru, Satella menusuk Subaru dari samping. “Hei, Subaru ….”

“Jangan tatap aku kayak begitu. Maksudku, kuakui yang kukatakan sebelumnya sedikit kasar tapi ….”

“Bagaimana caranya?”

“Oh, maksudmu itu? Kau tidak mempertanyakan motifku, tapi triknya?”

Subaru berjanji menjelaskan triknya nanti ke Satella yang kelihatan teramat tertarik, berikutnya berbalik kembali menghadap gadis kecil yang kelihatan amat penasaran sama koin sepuluh yen itu. Sepertinya sihir mengagumkan Subaru membantunya menenangkan keresahannya. Sewaktu Subaru berlutut dan bertanya beberapa pertanyaan, dia menjawab cepat dan jelas.

“Begitu. Jadi kau terpisah dari ibumu, ya. Tidak usah khawatir, tidak usah. Serahkan saja ke kakak-kakakmu ini. Akan langsung kami temukan!”

Sesudah menepuk lagi kepala gadis tersebut, Subaru mengulurkan tangan dan dengan enggan sedikit, dia raih.

Satella yang tengah melihatnya, melebarkan mata.

“Kau benar-benar terlihat terbiasa sama ini … Subaru, profesimu itu menjinakkan anak-anak?”

“Jika kau keluarkan dari konteks seperti itu, kedengarannya sangat, sangat buruk! Dan tidak. Aku ini pengangguran.”

Secara teknis, Subaru punya status terlampau berguna yakni sebagai seorang siswa. Namun memperhitungkan dia tidak pergi ke sekolah akhir-akhir ini, dan khususnya kini dia telah dipanggil ke dunia berbeda, dia tidak betul-betul merasa memenuhi syarat menyebut dirinya seorang siswa lagi.

Tapi, terlepas dari itu ….

“Jadi, kakak, bagaimana kalau kau pegang tangan gadis kecil kesepian ini? Dilihat-lihat bisa digenggam teman lain,” tutur Subaru sembari mengedipkan mata. Gadis kecil itu mengulurkan tangan satunya yang tidak digenggam Subaru, ke Satella.

Satella kelihatan terkejut sejenak dan menahan napas, lalu menghembuskannya dan meraih tangannya. “Betul. Jangan resah. Biarkan saja kakakmu menangani ini. Kami pasti akan menemukan ibumu, oke?” ucap Satella, tersenyum pada gadis kecil yang lagi mengangguk bisu.

Subaru dan Satella membimbing gadis itu di tengah-tengahnya, kemudian ketiganya terus melintasi jalan utama melewati gelombang orang bersama-sama.

“Kita yang sekarang, menurutmu ada orang yang melihat kita terus berpikiran kalau kita ini pasangan muda bersama buah hati? Memalukan banget!”

“… hah? Anggap saja demikian, orang-orang hanya akan menyangka dirimu dan gadis itu kakak-adik ….”

“Entah itu lelucon garing atau persis seperti yang kupikirkan!”

Tatkala Satella dan Subaru terus bicara, wajah gadis kecil di tengah-tengah mereka tersenyum tipis.

 

8

 

Untungnya, mungkin karena mereka kelompok yang sangat-sangat menonjol, tidak lama hingga mereka menemukan ibu gadis kecil tersebut. Tidak cuma Subaru yang menonjol, Satella dengan rambut perak dan kecantikan menakjubkannya juga.

“Terima kasih banyak!”

Begitu ibunya bertemu kembali dengan sang anak, dia berterima kasih pada Subaru dan Satella beberapa kali, biarpun mereka tersenyum dan pura-pura ibarat bukan apa-apa.

Tatkala ibu-anak itu pergi, si anak menoleh ke belakang dan melambai tangan beberapa kali, lalu keduanya balas melambai. Subaru berbalik menatap Satella yang berdiri di sebelahnya ikutan melambai, dan mendapati dirinya menampakkan ekspresi ceria nan cerah.

“Nah, rasanya kita membuang banyak waktu melakukan ini, tapi menurut kakak perempuan kita bagaimana? Kuyakin dia ‘kan menemukan semacam cara untuk menjelaskan perbuatan ini sebagai jembatan penghubung tujuannya!” kata Subaru dengan tingkah dibuat-buat, menjentikkan jari dan mengejek sifat terlampau baik Satella.

Tentu saja dia tidak betul-betul mengkritiknya; lebih ke cuma mengolok-olok. Bagaimanapun, Satella memberi alasan berputar-putar kalau pertemuannya dengan Subaru itu berguna, lantas laki-laki itu penasaran dengan tanggapan Satella.

“… sederhana.” Merespon ejekan Subaru, Satella tersenyum. “Sekarang suasana hati kita bakalan bagus selagi mencari lencananya.”

“….”

“Walaupun aku mendapatkan kembali lencannaya, aku yakin akan menyesal tidak membantu gadis itu. Bukannya bagimu lebih baik membantunya sekaligus mendapatkan kembali lencanaku?”

Sepertinya Satella tidak mengatakan itu hanya sekadar demi menjaga harapannya sendiri. Dia kelihatan segar sekali sampai-sampai meyakininya.

Dengan respon demikian, Subaru benar-benar tidak tahu mesti bilang apa. Dia harus memikirkan ulang pendapatnya mengenai gadis ini.

Tidak hanya tipe orang yang baik nian sampai senantiasa kehilangan segalanya, dia pun tipe orang yang mau memiliki semuanya.

“Aku mengerti. Kau benar. Berkat keputusan cepatmu, kita tidak perlu bilang, tentu, kita abaikan gadis kecil yang menangis dan gelisah serta tersesat itu sendirian, tapi berhasil mengembalikan lencananya dengan aman, hore!”

“Yah konklusimu sangat negatif,” ucap Satella yang mengerutkan kening kemudian menatap dirinya seolah teringat sesuatu. “Tapi kesampingkan itu …. Kenapa kau membantuku? Kukira kau tidak setuju membantunya, Subaru.”

“Aku cuma mau memamerkan kemampuan melakukan trik sulapku! …. Yang tentu saja itu bohong. Bukannya sudah kukatakan sebelumnya? Aku membantumu mencari lencana biar bisa berbuat baik sehari sekali supaya naik ke surga.”

“Tapi karena kau membantu gadis itu, bukankah sudah terhitung berbuat baik sehari sekali?”

“Argumennya sangat bagus! Tapi maksudku, tidak terbatas satu kali sehari. Aku bisa berbuat lebih. Jadi omong-omong, kewajiban perbuatan baik besokku dilakukan hari ini! Sebetulnya berencana menuntaskan kewajiban satu minggu di hari ini!”

Subaru berfirasat dia makin jauh dari arti sejati seluruh konsep satu perbuatan baik sehari, tapi dia masih berusaha membuat argumen. Satella berdiri, terkaget-kaget.

“Subaru … kepribadianmu yang seperti itu, kau akan kehilangan semuanya suatu hari kelak.”

“Aku paling ingin tidak mendengarnya darimu!” teriak Subaru, melempar kembali kata-katanya ke dirinya, tapi Satella memiringkan kepala bingung belaka.

Rupanya dia sungguh-sungguh tidak paham. “Kau benar-benar anak yang baik, ya?”

“Kau tahu, aku agak terganggu diperlakukan seolah lebih muda darimu. Aku tahu banyak orang mengira orang Asia Timur lebih muda dari mereka, tapi kami benaran tidak berbeda dalam hal usia, bukan?”

Subaru terka berdasarkan perkiraan kasar, Satella usianya terlihat sekitar tujuh belas hingga delapan belas tahun. Mengingat Subaru ulang tahunnya agak awal dibanding orang lain dalam kelompok usianya, dia tujuh belas tahun dan berpikir mungkin saja Satella bahkan lebih muda darinya.

Tetapi meresponnya, Satella menyipitkan mata kecubungnya sedikit dan berkata, “Mau berpikir umurku setua apa pun, kurasa kau tidak mendekati umurku …. Lagi pula, aku ini setengah elf.”

“….”

Subaru tak mampu berkata-kata. Melihat responnya, sejumlah emosi rumit melintas di mata Satella. Akhirnya, emosi yang menetap di sana adalah campuran kepasrahan dan keputusasaan tak terlukiskan.

“Begitu. Pantas saja kau imut banget. Lagian, memang fakta dunia fantasi kalau para elf itu selalu cantik.”

“… hah?

Subaru akhirnya mengangguk, setelah mencapai kesimpulannya sendiri tentang Satella yang setengah elf. Gadis itu berkedip beberapa kali. Ekspektasinya seratus persen meleset dari sasaran.

“Hmm? Apa yang salah?”

“Bukannya ada yang salah, hanya saja … maksudku … aku ini setengah elf, dan ….” “Iya … aku dengar saat pertama kali kau mengatakannya.”

Tidak yakin apa masalahnya Satella, Subaru hanya dapat menjawab demikian, namun reaksi Satella dramastis.

“… ah.”

Satella mengeluarkan suara aneh di tenggorokannya, selanjutnya mendadak berbalik dari Subaru, menghampiri dinding terdekat, berlutut di sebelahnya, dan memegangi kepala berambut peraknya.

Di hadapkan reaksi tak terjelaskan itu, Subaru tidak tahu harus mengatakan apa.  

“Makan nih!”

“Aw! Itu untuk apa?!”

Kucing abu-abu yang kelihatannya selalu datang-pergi sesuka hati, telah meninju wajahnya dengan cakar seakan memperagakan gerakan bertarung fantastis.

Puck mendengkur, menjentik kumisnya dengan cakar sama yang dia gunakan untuk meninju Subaru. “Tidak tahu, cuma merasakan frustasi berlebih dan tidak sanggup menahannya dalam diriku.”

“Seandainya itu alasan satu-satunya, akan susah menghilangkan perasaan suatu ketidakadilan besar menimpaku, tapi tinjunya lembut dan licin, jadi aku maafkan.”

“Maksudku, aku tidak benaran marah padamu atau seperti itu. Antara marah atau tidak, kataku itu sebaliknya.”

“Sebaliknya?” tanya Subaru, kebingungan. “Iya, sebaliknya,” tutur Puck sambil mengangguk. Tapi sebelum Subaru bisa bertanya maksudnya, Satella sudah kembali.

Memutar ujung rambut peraknya di jemari, dia melotot ke Subaru. “Subaru, dasar … otak udang.”

“Tidak ada lagi orang yang pakai kata otak udang, aku pun melakukan apa sampai kau hina?”

“Hmph. Kalau kau tidak mengerti, bukan masalahku. Lebih pentingnya, kita harus melanjutkan pencarian.”

Topik keabsurdan Satella dipotong tanpa kata-kata lain, Subaru tampak kesal, tetapi jengkelnya menguap begitu Satella mulai bersikap lebih bersahabat dan ramah. Subaru masih tak tahu mengapa dirinya tahu-tahu bertingkah lain, tapi ada hal lebih penting untuk dipikirkan.

“Ngomong-ngomong, episode gadis kecil tersesat itu membuatnya sangat jelas—bukannya kota ini kebesaran untuk mencari sesuatu?”

“Yah, ini ibu kota Lugnica. Kota terbesar di negara ini. Jika aku ingat benar-benar, ada sekitaran … tiga ratus ribu orang yang tinggal di sini, banyak juga yang berlalu-lalang.” Satella menjawab detail pertanyaan Subaru dengan sisipan kebanggaan pada suaranya.

“Aku mengerti, aku mengerti. Tiga ratus ribu orang, ya. Itu lumayan banyak …. Terima kasih atas semburan informasinya.”

“Urr ….” Gumam Satella. Tampaknya tebakan Subaru tepat sasaran.

Subaru mencoba memanfaatkan informasi baru tersebut untuk membayangkan ibu kota Lugnica. Jika ada populasi 300.000 orang. Maka bagi kota di latar fantasi abad pertengahan, ukurannya cukup besar. Tentu saja jumlah itu hanya menghitung orang-orang yang tinggal di kota, jadi setelah menambah pedagang keliling serta para petualang, jumlah orang di waktu tertentu barangkali lebih besar dari itu.

Sewaktu Subaru memerhatikan semua orang lewat dari sisi jalan, dia lagi-lagi tercengang oleh pemusatan keragaman dalam sekelompok manusia. Ada setengah manusia, manusia hewan, dan manusia-manusia biasa bercampur bersama-sama, dan betulan bagaikan wadah peleburan berbagai ras.

Fakta mereka tersesat di gang selama nyaris satu jam juga bukan bahan tertawaan.

Daerahnya luas sekali dan jalannya kelewat rumit sampai-sampai sungguhan tersesat.

“Dengan kata lain, kita tidak boleh melakukan kesalahan lagi. Kita sudah memberi keunggulan besar ke si pencuri, dan sekiranya terjebak lagi maka akan terlambat sepenuhnya. Jadi ayo pilih langkah berikutnya dengan hati-hati.”

“Maksudmu apa?”

“Seumpama kita berlarian tanpa rencana apa-apa, kita takkan dapat hasil. Contohnya, apabila kita kembali ke tempat kejadian, kita bisa jadi dapat lebih banyak informasi dari orang-orang. Adakah yang melihatnya?”

“Sebenarnya … kupikir mungkin saja ada.”

Satella menutup mulutnya laksana teringat sesuatu dan menjelaskannya ke Subaru.

Menurut Satella, lencananya dicuri siang bolong, tepat di tengah kerumunan orang. Jika begitu, pencurinya melakukan tindakan berani, tetapi melihat keributan di jalan di depannya, Subaru pikir pencurinya tidak membuat keputusan buruk. Kian banyak orang, makin mudah menghilang dalam kerumunan.

“Kau ingat di mana lencanamu dicuri?”

“Iya, kurasa … di sebelah sini.”

Subaru mengikuti Satella melintasi jalan. Selagi melewati kalutnya kerumunan riuh dengan banyaknya jenis orang, Subaru merasa insting perasa akan jarak dan arahnya telah diambil darinya secepat ketika mereka melewati labirin gang sebelumnya. Dia merasa ibaratnya tidak lagi tahu ke mana langkahnya membawa. Sementara tempat mereka berada seharusnya belum pernah dilihat, Subaru merasa aneh bahwa dia pernah melihatnya sebelumnya, dan perasaan itu tak mau hilang begitu saja.

“Tunggu. Tidak, aku tentu pernah melihat tempat ini.”

Melihat tempat yang Subaru datangi dibimbing Satella, dia menggaruk sisi wajahnya dan setengah tersenyum.

Tempat lencana Satella dicuri adalah sudut jalan tempat Subaru persis dipanggil ke dunia ini.

“Di tempat inilah aku sangat kebingungan yang alhasil memutuskan mendinginkan kepala di gang kosong, kemudian bertemu preman A, B, sama C ….”

Mengingat kejadian dua jam lalu, Subaru kini merenungkan bahwasanya kebetulan luar biasa semacam ini kadang-kadang terjadi.

Seandainya demikian, dia beruntung. Dia kepikiran seseorang yang bisa diajak bicara.

“Jadi begitu situasinya. Kuberi tahu dia, serahkan padaku! Terus mendatangimu, Pak Penjual Buah.”

Subaru berbalik dan menunjuk pemilik toko buah di pinggiran jalan utama. Buah yang berjajar di tokonya itu segar, melihatnya saja membuat mulutnya berair.

“… apa nih, kau lagi? Aku mengharapkan pembeli, Tuan Bokek,” balas pemilik toko dengan tatapan dingin yang kelihatannya tidak pantas diperlihatkan sehari-hari kepada pembeli.

Pria itu mengenakan bandana dan sangat berotot. Tampangnya tegas serta punya suara berat yang mengintimidasi.

Pelengkapnya, terdapat bekas luka putih yang terukir di sisi kiri wajahnya, bisa saja ditinggalkan semacam pedang. Mau kau lihat bagaimanapun, mustahil dia ini warga terhormat dan taat hukum.

Itulah sebabnya sangat mengejutkan dia berada di belakang konter toko buah.

“Oh, jangan dingin begitu, Pak. Tadi Bapak bersikap baik sekali pada saya belum lama ini.”

“Karena kupikir kau ini pembeli. Kalau aku tahu kau tidak punya uang, aku mengusirmu lebih cepat, seperti yang mau kulakukan sekarang.”

Subaru berusaha bersikap seolah mereka itu teman baik, tapi si pemilik toko tidak peduli. Dia lambaikan tangan ibaratnya mengusir serangga.

“Oh, ayolah,” Subaru mendesau, mengendurkan bahu. “Bapak yakin mau memperlakukan saya seperti ini? Tidakkah Bapak tahu saya ini berbeda dari terakhir kali datang ke sini?”

“Apa?” kata pemilik toko, tidak yakin mesti bereaksi bagaimana seketika Subaru menampakkan reaksi penuh kemenangan, lubang hidungnya melebar.

Subaru minggir dan mengulurkan kedua tangannya tuk menunjukkan Satella yang berdiri di belakangnya.

“Lihatlah! Aku bawa seseorang! Bapak mungkin telah mengusir saya begitu mengetahui saya tidak punya uang, tapi menurut Bapak bagaimana kala saya membawa seseorang yang mungkin saja jadi pembeli langganan baru?!”

“Anu, Subaru …? Maaf bilang begini padahal kau teramat-amat berharap, tapi aku tak punya uang.”

“Hah, apaan, serius? Maksudmu kita berjalan-jalan di ibu kota tanpa bawa satu koin pun?!”

Pemilik toko mendesah seraya melihat dua orang miskin di tokonya.

“Terus? Kalian berdua mau bilang apa, setelah pengemisnya jadi dua?”

“Yah, sebetulnya, kami lagi mencari-cari sesuatu, dan saya pengin bertanya Bapak bersedia mendengarkan kami atau tidak?”

“Itu caraku mengatakan tak punya waktu berurusan sama kalian! Pahami maksud tersiratnya!” teriak si pemilik toko.

Subaru merasa gendang telinganya rusak parah.

“I-ini bukan ide bagus, ‘kan?” tutur Satella, mengecil saat menarik lengan baju Subaru.

Mungkin saja benar meminta bantuan tanpa membeli apa pun itu cukup egois, tapi faktanya mereka tetap tidak punya uang untuk membeli satu objek pun.

Tepat sesaat Subaru hendak menyerah mencoba mengorek informasi apa pun darinya, dia mendengar sebuah suara.

“Hmm? Apa kalian … dua orang yang tadi?”

Subaru dan Satella berbalik. Yang berdiri di hadapan mereka adalah wanita berambut cokelat panjang. Seseorang yang sebelumnya mereka lihat; lagi pula dia tidak sendirian. Tangannya digenggam gadis kecil yang terlihat senang sekali melihat mereka.

“Betul, tapi … mengapa Anda di sini? Satu-satunya orang di sini itu pria berwajah ngeri dan tanpa perasaan.”

“Haha …. Ini toko suamiku, jadi aku merasa mau mampir dan menyapa saja.”

“Toko suami Anda?”

Subaru dan Satella saling memandang, selanjutnya berbalik melihat ke dalam toko, tatapan mereka akhirnya tertuju ke pria berwajah bekas luka yang lagi melipat tangan.

“Pak … Bapak tidak membunuh suami wanita ini dan merebut tokonya, ‘kan?”

“Kau ini bilang apa? Ini tokoku dan itu istriku!”

Dengan syok Subaru kembali menatap wanita itu yang tengah tersenyum, nampak sedikit tidak yakin mesti bereaksi bagaimana. Dia wanita cantik dengan sifat baik dan perangai lembut. Wanita ini sama pria berwajah tegas itu? Pastinya ada yang salah.

Tidak mungkin dia mengancamnya, bukan? pikir Subaru dengan wajah resah. Tapi terlepas dari dugaan songong Subaru, gadis kecil yang memegang tangan ibunya melesat melewati Subaru menuju pemilik toko itu, kemudian memeluknya dan mengangkatnya.

“Oh, lihatlah dirimu! Kau kegirangan sekali. Sekarang beri tahu aku, kau kenal dua pengemis melarat ini?”

“Pengemis? Sayang, jangan panggil mereka begitu!”

Sehabis mendengar kata-kata tajam suaminya, sang ibu gadis itu mengangkat alis dan mulai menegur suaminya. Selanjutnya menjelaskan bagaimana dirinya, anak perempuannya, Subaru, dan Satella bertemu.

Setelah mendengar kejadiannya. Pemilik toko itu menurunkan putrinya.

“Maaf soal itu. Bukan begitu caranya bicara dengan orang yang menyelamatkan putriku. Mohon maafkan aku.”

“Oh, jangan cemaskan. Maksudku, memang benar kami tak punya uang, dan …”

“Benar, pak tua! Saya harap Anda berpikir panjang dan keras mengenai tindakan Bapak …. Anu …. Wajah manismu kelihatan seram sekarang.” Satu tatapan Satella telah membungkam Subaru.

Tepat sesudahnya, gadis kecil tersebut mengulurkan tangan ke Satella. Di tangannya ada hiasan kecil berbentuk bunga merah. Satella menahan napas setelah itu bolak-balik melihat antara ornamennya dan si gadis, dengan ekspresi kesulitan sedikit.

“Tolong, ambillah,” ucap ibunya yang menempelkan tangannya ke punggung Satella, mendorongnya.

“Putriku ingin menyampaikan terima kasihnya dengan caranya sendiri.”

Satella mengangguk kecil lalu mengambil ornamen bunga dari tangan gadis kecil tersebut, setelah itu disematkan di dada kiri jubah putihnya lalu berlutut biar si gadis kecil bisa lihat.

“Terima kasih. Aku sangat menyukainya.”

Saat Subaru melihat senyum brilian Satella dari samping, dia dapati dirinya tak kuasa berpaling. Melihat senyum itu, gadis kecilnya merona dan memalingkan wajah, kemudian pemilik toko yang menonton semuanya berdeham.

“Kau menyelamatkan anakku. Aku ingin berterima kasih. Tanyakan aku apa pun yang kau mau.” Dengan anggukan kuat, pemilik toko berwajah keras itu menampakkan senyum terbaik.

Satella kaget tapi kemudian menatap Subaru dan tersenyum, namun senyumnya bukan senyum sebelumnya. Melainkan senyum kemenangan.

“Lihat, sudah kubilang. Benar-benar berbalik dan ujung-ujungnya membantu kita!” katanya, ibarat putaran takdir aneh ini adalah seluruh perbuatannya.

 

9

 

—kendatipun jalan itu hanyalah satu dari banyaknya jalan utama, suasananya suram.

Suasananya stagnan dan sunyi, tiada tanda-tanda kehidupan apa pun, apalagi jejak orang-orang di sekitarnya.

Jalan Subaru dan Satella berada tidak jauh dari jalan utama, tetapi hiruk-pikuk sebelumnya kini terasa bagaikan mimpi yang jauh.

“Kita dengar dari orang itu semisal mencari barang curian, maka akan diurus dan dijual di daerah kumuh, tapi ….” Bisik Subaru sembari mengintip jalan yang konon akan membawa mereka ke daerah kumuh, “… hawa di sini dan suasananya, belum lagi karakter umum orang-orang di sana, semuanya barangkali akan buruk nian. Kau yakin sungguh-sungguh mau pergi?”

“Dari awal kaulah yang menyarankan lencanaku boleh jadi di sini, dan pemilik toko itu bilang mungkin ada di sana pula ….”

“Kau mestinya jangan lupa tepat usai mengatakannya, dia menambahkan kita harusnya menyerah saja,” Subaru bilang, mengingat kembali perkataan pemilik toko buah dengan wajah masam.

Tiga puluh menit sesudah tak terduganya bertemu kembali dengan gadis kecil dan ibunya di toko buah, setelah itu memanfaatkan kebetulan tersebut tuk membalikkan situasi dan mendapatkan informasi berharga, Subaru bersama Satella sekrang di jalan masuk daerah kumuh yang dirumor-rumorkan, katanya tempat dibawanya sebagian besar barang curian.

Sehabis menyadari Subaru dan Satella membantu anaknya, pemilik toko berwajah galak itu bersikap hangat dan mendengarkan perkara mereka. Karenanya, mereka bisa mendapatkan informasi tentang daerah kumuhnya tetapi sekarang ragu-ragu.

“Semestinya aku menyebutkan ini lebih awal, tapi bukannya lebih baik meminta bantuan? Kayak, misalkan kita meminta polisi, atau …. Kutebak pasti ada penjaga dalam hal ini …. Kuyakin seandainya meminta bantuan orang-orang itu untuk membantu pencarian kita mereka akan mengirim tim untuk menemukannya, hasilnya ini akan diselesaikan jauh lebih cepat.”

“Tidak bisa.”

Satella langsung meneolak saran Subaru. Faktanya, dia menolak tegas sampai-sampai mengejutkan Subaru.

“Maaf, tapi … kita tidak bisa. Aku pun tidak berpikir dapat meminta para penjaga untuk menindak pencuri kecil seperti itu, dan … aku punya alasan lain jadi tidak bisa meminta bantuan penjaga,” ucap Satella, berhenti sejenak sambil menutup rapat-rapat bibirnya, lalu menatap Subaru dengan mata memohon. “Maaf, tapi tidak bisa kukatakan alasannya.”

Menyadari dirinya jelas-jelas tidak ingin ditanyai, Subaru mengangkat tangan sedikit, mengaku. “Jadi, kita harus melakukan apa? Kurasa masih mampu menggunakan taktik tim meski cuma berdua,” kata Subaru dengan nada ringan dan bercanda, mencoba mempertahankan suasana.

“Jangan lupakan aku!” jawab Puck yang muncul kembali di bahu Satella, melihat keduanya sembari mengusap-usap wajahnya dengan cakar. “Tapi kita tidak punya waktu untuk duduk manis dan bicara lagi. Walaupun kau mau mencoba taktik tim itu sama dua manusia dan seekor kucing, sisa waktuku hanya satu jam.”

Saat Puck melihat langit, Subaru mengikuti pandangannya dan melihat sebagian besar langit memuncak di atas bangunan per sisi jalan telah berganti dari biru ke jingga. Alasan daerah kumuh begitu gelap dan suram tidak hanya karena bau kemal dan tengik. Waktu terbenamnya matahari kian mendekat—yang tentu saja artinya Puck akan segera mencapai batasnya.

“Jadi antara kau memutuskan pergi atau kembali, lebih baik secepatnya membuat keputusan,” kelar Puck.

“Aku tidak tahu maksud taktik tim ini, tapi kita harus terus maju. Mustahil kita bisa membiarkan kesempatan ini dan mengambil risiko lencanaku berada di luar jangkauan selamanya,” tutur Satella, menjawab Puck. Kemudian dia beralih menghadap Subaru. “Baiklah, jadi memilih ikut, tapi … orang-orang yang hidup di sini mungkin terbiasa berkelahi, jadi aku ingin kau bahkan lebih berhati-hati. Jika kau takut, kau boleh menunggu di sini dan menungguku kembali.”

“Menunggu di sini?! Kau kira aku sepecundang apa?! Aku ikut! Aku menempel padamu kayak roh yang hidup kembali buat menghantuimu!”

“Jadi dengan kata lain kau tak mau berada di depan. Itu akan sangat-sangat memudahkanku, sih.” Satella mendesah lagi di depan kesiapan energik Subaru buat kabur.

Subaru memikirkan tentang bagaimana semenjak dirinya dan Satella bertemu, dia hanya membuat gadis itu kelihatan kesusahan. Sedikit senyumnya, alasannya tak ada hubungannya sama Subaru. Sayang sekali. Melihat betapa manisnya dia biarpun menampakkan emosi negatif, Subaru pikir akan sangat bagus semisal dia tersenyum kepadanya.

“Baiklah! Ayo! Waktunya melakukan sesuatu demi menunjukkanmu keberanianku!”

“Kenapa kau tiba-tiba sesemangat ini? Aku bisa lihat lubang hidungmu.” Kata Satella.

“Yah, cara yang bagus untuk merusak peragaan tekadku! Terima kasih!”

Sekalipun energinya dari awal mendorongnya melakukan kesalahan, Subaru memburu-burui langkahnya agar tidak ketinggalan Satella, lengannya maju-mundur saat bergegas supaya tidak tertinggal gadis yang terus berjalan ke tujuannya.

 

10

 

Kini, Subaru dan Satella memasuki tahap selanjutnya di tengah usaha penyelesaian tugas mereka—daerah kumuh. Dan nampaknya mereka akan kedapatan banyak masalah …. Itu dia, sampai muncul kejelasan kalau karakter Subaru yang paling tidak mungkin berguna telah terbukti teramat sebaliknya; amat berguna memang.

“Siapa, kau bertanya? Aku! Iya, aku! Entah kenapa, orang-orang di daerah kumuh sini baik banget denganku! Variabel entah berantah apa yang membuatnya demikian?! Apakah stat pesonaku akhirnya disesuaikan?! Belum pernah aku merasa sedicintai ini sejak masa prasekolah!”

Sebelum sekolah dulu, Subaru cukup lucu. Rambutnya panjang dan sering dikira perempuan. Gara-gara perubahan ke kondisinya saat ini cuma perlu waktu belasan tahun. Jalannya waktu benaran jahat dan tak kenal ampun.

“Apakah sesuatu dalam diriku telah berubah? Apakah aku, kayak, ada sesuatu di wajahku?”

“Yah, kau punya mata yang terlihat jahat, telinga pendek, serta hidung pesek di wajah ….”

“Aku terima-terima saja tanpa mata jahat sama hidung pesek!” balas Subaru sebelum menundukkan kepala.

Satella menaruh jari ke bibir dan berpikir. “Hmm … barangkali ada hubungannya dengan tampangmu dan pakaianmu sekarang. Kau ditutupi debu dan kotoran apalagi bekas darah. Orang-orang di sini pun hidup dengan sulit, jadi mereka pastinya menatap kasihan dirimu dan tentu bersikap baik ….”

“Sekarang bagus sekali telah membuatku merasa seburuk penampilanku! Tapi kau benar! Itu masuk akal total! Sialan!”

Sebagaimana kata orang-orang, mereka yang berpenyakit sama saling mengasihani. Kendati hebat Subaru nampaknya lebih disukai daerah kumuh dengan cara tak terduga, tingkat kesukaan Satella selalu rendah. Alasannya lagi-lagi bisa jadi sebab ada hubungannya sama cara berpakaiannya.

“Para penjahat sebelumnya berkomentar sama, tapi cara berpakaianmu cukup bagus, bukan?”

“Kurasa aku memang menonjol, ya …?” jawab Satella, menatap gugup Subaru seraya menggulung lengan jubah putihnya.

Akan tetapi, sementara mengakui masalah dengan pakaian bagusnya, Subaru kelihatannya tidak sadar jika bukan hanya pakaian, tetapi orang yang memakainya juga.

“Anu, ada sesuatu yang mau kutanyakan, tapi—”

“Apa? Ini bukan tempat jalan-jalanmu dan pakaian mewahmu, nona muda, jadi pergilah, angkat kakimu dari sini!”

Lagi, Satella kasarnya ditolak ketika mencoba meminta bantuan seseorang. Memperhitungkan tingkat keberhasilan rendahnya berkaitan dengan wajah cantik dan pakaian yahudnya, alih-alih bilang dua kali lipat dalam posisi lebih buruk, lebih cocok bilang dalam posisi buruk telak.”

Biar begitu, bukannya Subaru menyarankan biar Satella jadi kotor sepertinya.

“Paling tidak kau bisa jadi sedikit lebih baik andai melepas jubahmu ….” Subaru menyarankan.

“… aku tahu, tapi ….” Tangan Satella mencengkeram kedua bahu jubahnya, tapi dia tidak mau lepaskan. Subaru pikir responnya aneh seedikit, tapi dia tidak ungkit.

Seketika Satella melihat ke bawah, dia dengan lembutnya menyentuh hiasan bunga merah yang disematkan di dada kirinya. Subaru yang melihat Satella menemukan kedamaian pada dekorasi tersebut, tidak bisa menahan senyum, dan membuatnya ingin berusaha lebih keras demi dirinya.

Seumpama Satella tak sanggup bertanya sendiri, dia bersyukur dapat memanfaatkan penampilan kotornya buat mencari petunjuk. Kurasa artinya hal baik bisa saja datang setelah dikeroyok sekelompok preman di gang, pikirnya. “Yah, jangan terlalu resahkan. Kau bisa menyerahkannya ke diriku. Ngomong-ngomong, dari hasil kerjaku, tak lama lagi kita ‘kan memojokkannya, jadi ayo terus kejar si kriminal. Jadi ya, dengan hasil kerjaku, tak lama lagi kita ‘kan memojokkannya! Jadi! Ayo … terus … mencari!”

“Aku mengerti kau senang karena sekali ini dapat berguna, tapi payah banget kalau sampai terlalu menekankan dirimu seperti itu.”

Subaru berpose di setiap jeda kalimatnya, yang dipikirnya keren, tetapi saat Satella menyebutnya seperti itu, malah menjadikan Subaru seakan sedang melompat-lompat ibaratnya bilang, lihat aku bisa melakukan apa!

Satella menatap Subaru dengan wajah yang tampaknya bak menyesal memujinya tadi, dan Subaru hanya tanggapi dengan senyum lemah.

Sudah lebih dari dua jam semenjak mereka bertemu, tapi semisal keadannya seperti ini, Subaru sudah merasa ibaratnya dia kenal lama Satella. Namun episode kecil ini punya akhir berbeda dari beberapa episode terakhir.

“Maaf, tapi aku sudah sampai batas,” tutur lemah Puck selagi bersandar di leher Satella. Mantel abu-abunya bersinar lemah kemudian sosoknya mengabur laksana hendak hilang kapan pun.

“Caramu menghilang kayak sedang sekarat.”

“Aku berusaha bertahan lebih lama dari biasanya karena mau melindungi putri berhargaku dari orang bermata jahat yang berkeliaran di sekitarnya ini. Tapi bila bekerja keras, aku akan memudar begitu tiba waktunya menghilang.”

“Itu buruk! Tapi serahkan padaku! Takkan kubiarkan orang berbahaya manapun dekat-dekat dengannya sesudah kau menghilang!”

“Bentar, apa artinya boleh-boleh saja aku menghapusmu dari muka bumi ini sebelum menghilang?”

“Tidak! Tidak boleh!” teriak Subaru, menjauh dan mendekap dirinya sendiri. “Aku bercanda,” katanya sambil cekikikan.

Seusainya, Puck melihat Satella yang mengeluarkan sebuah kristal bersinar hijau dari saku dadanya.

“Maaf karena terlalu keras mendesakmu, Puck. Akan kuusahakan yang terbaik mulai dari sini, jadi kau istrirahatlah saja.”

Kristal hijau terus bersinar dengan cahaya samar di tangan Satella selagi dia memegangnya. Terlihat berbeda dari barang yang mungkin kau sebut permata. Setahu Subaru, kristal adalah kata yang paling pas.

Puck merangkak ke bawah lengan Satella dan menghampiri kristalnya, kemudian menjangkau dan tubuh kecilnya memeluk. Di akhir-akhir dia kembali menghadap Satella.

“Aku yakin kau sudah tahu ini, tapi berhati-hatilah, dan jangan terlalu paksakan dirimu. Andaikan terjadi sesuatu jangan ragu menggunakan od-mu untuk memanggilku.”

“Aku tahu, aku tahu. Aku bukan anak kecil. Aku bisa jaga diri.”

“Aku ingin tahu kesanggupanmu …. Putri berhargaku ini selalu merisaukanku soal hal-hal semacam ini. Aku mengandalkanmu, Subaru.”

Puck menatap Satella dengan penuh kasih sayang, tatapannya orang tua ke anaknya.

Satella merona tapi juga kelihatan kesal. Sebab percakapannya beralih ke sini, Subaru memukul dadanya. “Baiklah! Serahkan saja kepadaku. Kau bisa percayai indra keenamku. Sewaktu alarm bahaya berbunyi, akan segera aku keluarkan kalian semua!”

“Aku sungguhan tidak mengerti setengah perkataanmu, tapi baiklah. Karena tempatnya jauh dari keramaian, selamat malam …. Berhati-hatilah.”

Mengarahkan pandangan terakhir ke Satella, Puck akhirnya lenyap. Tubuh kecilnya menjadi bola cahaya kecil yang berangsur-angsur berhamburan selagi menghilang.

Selain dia kucing yang bisa bicara, inilah pertama kalinya Subaru melihat Puck melakukan sesuatu yang dilakukan roh. Kini sesudah melihat kejadian fantastis yang memenuhi dirinya dengan rasa kagum.

Selagi Subaru kegirangan sendiri, Satella pelan-pelan menyusuri tangannya ke kristal kemudian dia masukkan kembali dengan hati-hati ke saku dadanya.

Dari percakapan sebelumnya, Subaru pikir kristal itu pastinya menyimpan inti Puck sekarang.

“Sekarang tinggal kita berdua … tapi jangan aneh-aneh. Aku masih bisa menggunakan sihir, tahu.”

Nyatanya Satella menanggapi serius kata-kata terakhir Puck, dan berwaspada.

“Hei, terakhir kali aku sendirian sama gadis itu waktu SD. Aku tidak terlalu cakap melakukan apa pun. Tidakkah kau perhatikan kurangnya keahlian manusiaku sejauh ini?”

“Kau benar-benar menyedihkan, tapi lagi-lagi, aku jadi yakin …. Baiklah. Ayo lanjutkan. Tapi ingat, tanpa Puck, kita harus lebih berjaga-jaga.”

Mungkin terkejut oleh bangganya Subaru mengutarakan dia tak bernyali, Satella tidak mampu menahan kekhawatirannya, latas mengikat kembali bagian depan jubahnya dan lanjut berjalan.

“Aku yang di depan, jadi kau awasi saja bagian belakang kita. Misalkan terjadi sesuatu, langsung panggil aku. Jangan berpikir kau bisa menangani semuanya sendirian. Aku tidak mau jahat … tapi kau sangat lemah.”

“Yah, kalau katamu begitu, aku jadi susah marah ….”

Jika Satella cuma ingin menjauhi Subaru, kau betulan lemah, sudah cukup.

Karena gadis itu tidak bisa menyembunyikan perasaan sebenarnya, lubuk hatinya itu lembut … bahkan kelewatan lembut.

Subaru terus mengesalkan Satella, sekalipun dia seakan ingin mengatakan sesuatu, lalu keduanya melanjutkan pencarian.

Terlepas seluruh pembicaraan sebelumnya, pencarian mereka berlanjut sama. Metode mereka dasar. Kapan pun menemui seseorang, mereka akan menjelaskan siapa yang dicari dan apakah orang itu tahu siapa identitasnya.

Subaru yang sekarang menanyakan semua pertanyaannya, sudah semakin piawai usai berbincang dengan banyak sekali orang berbeda-beda. Subaru mulai melakukannya dengan efektif.

“Kau tahu? Bisa saja gadis Felt itu. Dia berambut pirang dan sangat cepat, ‘kan?”

Kurang dari satu jam setelah mereka masuk daerah kumuh dan mulai bertanya-tanya, akhirnya menemukan beberapa informasi bernilai.

Orang yang memberikan informasinya adalah seseorang yang Subaru datangi langsung lalu tanyakan, Hai, saudaraku, hidup bagaimana? seakan sudah berteman.

“Seandainya Felt yang kau cari, apa pun yang dicurinya barangkali berada di gudang jarahan. Dia normalnya membawa barang-barangnya ke sana, ditandai, lalu pak tua si pemilik tempat akan menjualnya di pasar di tempat lain.”

“Kedengarannya sistem yang lumayan aneh …. Tidak ada yang berpikiran pemilik gudang akan membawa semua barangnya?”

“Alasan dia jadi pemilik adalah karena orang-orang percaya padanya. Tapi, yah, biarpun kau langsung datangi dan bilang barang itu dicuri, dia boleh saja sekadar membalas, terus apa? jadi sebaiknya bersiap-siap menegosiasikan harganya untuk membelinya kembali. Bagaimanapun, dari awal salah pemilik aslinya yang bodoh karena sampai tercuri!” pria itu akhiri dengan tawa.

Subaru berhasil membuat pria itu memberitahunya lokasi gudang jarahan, jadi mereka mungkin bisa cepat menemukannya, tapi ada masalah baru. Subaru dan Satella sama-sama kantong kering.

“Orang itu bilang kita harus beli kembali, tapi misal tidak ada pinjaman, rasanya pak pemilik ini akan betul-betul menghabisi tawar-menawar kita.”

“Kenapa juga aku harus membayar untuk mendapatkan kembali barang yang kumiliki …?”

 Ketika masalahnya kembali ke kekurangan dana, Satella terlihat cemas. Dia ada benarnya, tentu saja, tapi bukan berarti mereka bisa mengharapkan pemilik gudang jarahan setuju.

Demi menuntaskan masalahnya secara damai dan dengan pasti, hal terbaiknya mengikuti saran pria itu dan mencoba bernegosiasi. Tapi ….

“Sepertinya sedikit terlambat menanyakan pertanyaan ini, tapi lencana yang kau bilang dicuri … apakah kelihatan mahal? Biarpun kita datang terus menduga akan dikenakan harga berlebihan, akan mustahil bernegosiasi tanpa tahu berapa kelayakannya.”

“… barangnya kecil, tapi ada permata dipasang di tengahnya. Aku tak tahu seberapa mahal seseorang akan membelinya, tapi aku cukup yakin jumlahnya tidak kecil.

“Permata, ya …. Kedengarannya akan jadi masalah.”

Kendatipun bagi orang yang tak tahu berapa nilai barang, permata adalah satu barang yang kebetulan bisa kau ketahui harganya sekali pandang. Subaru ragu ada teknologi untuk memproduksi sebuah tiruan di dunia ini, jadi sebagian besar benda yang menyerupai permata barangkali permata. Dengan kata lain, permatanya dihargai besar.

Sementara tak ada informasi baru yang terdengar layaknya kabar baik, Subaru pikir kata-kata Satela ada yang aneh. Biarpun lencananya mestinya miliknya, Satella bilang dia tidak tahu nilainya. Biarpun mungkin barang itu Satella dapatkan dari orang lain, namun masih tertancap di benak Subaru.

“Omong-omong, mulanya cari saja dulu gudang jarahan ini. Kita masih bisa menegosiasikan jalan keluar biar bisa membelinya dengan harga wajar ….”

Kemungkinan terburuknya, Subaru punya satu cara mengamankan dana, biarpun dia enggan menggunakannya. Dan dia tak mau memberi tahu Satella sampai persis sebelum diharuskan melakukannya.

Sambil berjalan, Subaru dan Satella menghabiskan sepuluh menit berikutnya membicarakan berbagai cara untuk mendapatkan kembali lencana, tetapi sepertinya tiada yang cocok.

Sekarang mereka di depan tempat yang disebut gudang jarahan, Subaru bersama Satella saling bertatapan.

“Tempat ini jauh lebih besar dari bayanganku. Sebaik apa pasar pencurian hari ini?” ucap Subaru.

“Aku mengerti mereka menyebutnya gudang ketimbang gubuk … bila tempat itu cuma dipenuhi barang-barang dicuri …. Pokoknya aku takya kin orang-orang di sini punya harapan akan suaka,” tambah Satella.

Tentu saja dikarenakan gudang jarahan adalah untuk tempat penyimpanan barang-barang hingga terjual, kecil kemungkinan tempat itu penuh. Bukan bangunan berlantai tinggi, tetapi cukup lebar sampai kelihatan ibaratnya dapat berfungsi sebagai tempat tinggal banyak orang. Bangunannya pas menempel di dinding pertahanan tinggi, juga berada di bagian terdalam daerah kumuh.

“Dinding tinggi di belakang bangunan … itukah—?”

“Kurasa salah satu dinding kota. Berarti kita datang jauh-jauh dari pusat kota ke pinggirannya,” jawab Satella.

Subaru mencoba mengimajinasikan sebuah peta kota didasari kata-kata Satella. Kemungkinan kotanya dibangun berbentuk persegi dan mempunyai dinding-dinding seperti ini di keempat sisinya. Tambahan, antara di pusat atau terutara pastinya ada kastel, yang artinya daerah kumuh ini akan ditempatkan di sisi terjauh.

Menimbang-nimbang waktu berlalu tiga sampai empat jam semenjak mereka berdua memulai pencarian, cakupan kota tampak sedikit lebih besar dari yang awalnya Subaru bayangkan.

“Baiklah, dari yang kudengar, semestinya ada pemilik gudang ini yang mengurus semua barang-barang curian, tapi … bagaimana cara tepat menanganinya?”

“Kita akan langsung ke inti dan jujur. Kita bilang saja, barang kami dicuri, jadi semisal bisa kau dapatkan, tolong kembalikan ke kami.”

Subaru mencoba menjelaskan bahwa cara itu takkan bekerja, namun Satella tidak dengarkan.

Dari relung hatinya, Satella terlampau blak-blakan dan jujur. Andaikata ada yang dibengkok atau dimiringkan, dia pasti akan mencoba membenarkannya. Tentu saja itulah salah satu alasan Satella menyelamatkan Subaru di awal.

“Okelah, aku mengerti. Serahkan padaku.”

Dikarenakan kepribadian Satella, Subaru terlalu yakin kondisinya akan menjadi riweh seumpama gadis itu yang bicara, lantas sang pemuda mengajukan diri.

Rencana cadangannya …. Yah, sulit menyebutnya rencana cadangan, sekiranya sudah dia pertimbangkan menggunakannya, tapi jikalau keadaan mulai meribet sebelum sempat melaksanakan rencana cadangan, itu pun akan jadi masalah. Subaru telah membuat keputusan; dia takkan ragu-ragu di saat seperti ini.

Satella nampak kaget pada Subaru yang ingin jadi pembicaranya, dan selagi dia memikirkan betapa manisnya ekspresi terkejut Satella, dia lekas mencoba memikirkan suatu balasan terhadap apa pun sanggahan penentang yang Satella miliki, tapi ….

“Baiklah. Aku serahkan kepadamu.”

“Dengar, aku paham sulit bagi dirimu membiarkanku menangani sesuatu sepenting ini, dan aku tak sebodoh itu berpikir sudah mendapat kepercayaanmu, tapi aku punya rencana, jadi apabila kau percaya saja ke diriku sekali ini—Bentar. Hah?!”

“K-kenapa kau sekaget itu?”

“Dari semua yang terjadi sejuah ini, pikirmu ini akan mensinyalkan dimulainya perdebatan, ‘kan? Aku bayangkan kau akan mengatakan sesuatu seperti, Kau kira aku biarkan orang tidak berguna sepertimu yang kemampuannya cuma mengubah oksigen ke karbon dioksida, mengurus sesuatu sepenting ini? Jangan buat aku tertawa! Aku menganggap seekor anjing pun kerjanya lebih baik dari dirimu! terus aku, yang tersakiti, akan menggunakan kesempatan ini untuk memperbarui tekadku!”

“Aku takkan mengatakan hal sejahat itu!”

Ketika Subaru mengungkap kompleksitas penganiayaan berlebihannya, Satella tidak terlihat bahagia-bahagia amat. Akan tetapi, sembari berdeham, mata kecubungnya menatap Subaru dan berkata, “Tentu saja aku bohong jika berpikir kau sama sekali tidak menahanku, dan tepat saat kupikir kau akhirnya serius, kau mengatakan hal benar-benar bodoh sampai membuatku pedar ….”

Pedar, ya? Sudah lama tidak mendengarnya,” canda Subaru. Dia menghembus napas dan mengendurkan bahu, tak dapat membantah.

“Tetap saja, biarpun terkadang kau bertingkah layaknya orang brengsek, berkat kaulah kita bisa mencegah gadis kecil itu menangis, dan kurasa kau bukan tipe orang yang berbohong atau berbuat sesuatu tanpa pikir-pikir dulu,” ucap Satella, kilas balik perjalanan sangat menyimpang mereka sejauh ini. “Jadi … aku percaya padamu … seandainya ini berhasil mungkin saja aku mengira kalau menemuimu itu ada artinya.”

“Kau tahu, sekiranya bagian yang terakhir kau ganti dengan menatapku terus bilang, tolong berusahalah yang terbaik demi aku, aku akan semangat total melakukan ini, tahu?”

“Aku tidak bisa memaksakan diri mengatakan itu, tapi …. Semoga beruntung.” Inilah gadis yang tak sanggup berbohong atas alasan apa pun.

“… baiklah, aku usahakan yang terbaik,” ucap Subaru, tersenyum selanjutnya menuju pintu masuk gudang. Kartu truf yang Subaru miliki yang tak bisa dia ceritakan ke Satella, adalah satu barang yang dia bawa dari dunia asalnya yang betul-betul dia anggap berharga. Sebab benda itu barangkali tak ada di dunia ini, ada kemungkinan dia bisa menggunakannya untuk barter. Subaru penginnya tak melakukan itu, tetapi di waktu yang sama dia cukup yakin bahwa di dunia ini lencana Satella mustahil punya harga lebih tinggi dari ponselnya, dan Subaru pikir dia takkan dapat kesempatan lain di dunia alternatif buat menggunakan ponselnya dengan cara ini.

“Anu … ada orang di rumah? … er, tunggu … pintunya terbuka.”

Bau busuk dan asam tercium dari pintu masuk gudang jarah. Subaru mengetuk pintu, tapi dari celah di dalamnya, dia lihat pintunya tak terkunci. Begitu mengintip ke dalam, dia hanya bisa melihat kegelapan pekat.

“Susah kalau tidak ada cahaya apa-apa …. Yah, fungsi tempat ini, kurasa masuk akal, bahkan mewakili metafora perasaan bersalah atas bisnis kotor.”

Subaru mengintipkan kepalanya dan mencoba melihat sekeliling, namun cahaya bulan pun tak mencapai tempat di bagian terdalam daerah kumuh ini. dia tidak bisa melihat satu inci ke depan pun.

Saat Subaru bersiap masuk, dia berbalik ke Satella. “Aku tak mendengar seseorang pun menjawab, tapi aku masuk sajalah, jadi bisa berjaga-jaga tidak?”

“Kau yakin? Bukankah lebih baik aku yang masuk …?”

“Jika tahu-tahu ada orang menyergap kita dan kau dikalahkan duluan, maka berakhir sudah. Jika kebalikannya, kau bisa membantuku dan menyerang balik. Inilah cara paling masuk akal, jadi tolong ikuti saja rencanaku, oke?”

Satella mempertimbangkan rencana Subaru. Setelah diam beberapa saat, dia mengeluarkan sebuah kristal putih dari saku dadanya yang tiba-tiba menyinarkan cahaya berwarna sama.

“Paling tidak bawa penerangan. Terus panggil aku apakah ada orang di dalam atau tidak.”

“Aku tahu, aku tahu. Puck menyuruh kita berhati-hati, jadi aku akan berhati-hati. Ngomong-ngomong, ini sangat berguna.”

“Kau bisa menemukan bijih lagmit di mana pun. Kau betul-betul bego, ya, Subaru,” ucap Satella, tak kuasa menahan syoknya selagi memberikan Subaru bijih lagmit. Kristal itu memancarkan kehangatan samar diserta cahaya yang terangnya setara lilin.

“Oke, baiklah, aku akan lihat-lihat. Kurasa takkan lama, kau boleh makan duluan tanpa diriku.”

“Oh, berhenti bertingkah bodoh. Hati-hatilah, oke?”

“Oke. Juga, Satella? Jangan masuk sampai aku panggil—mengerti?”

Keberanian yang Subaru bangun untuk mempersiapkan diri masuk gudang ini sampai-sampai memanggil namanya. Hingga sekarang, dia merasa terlalu malu memanggilnya, dan ragu-ragu. Sesudah mengepalkan tinju dan bersemangatlah dia akhirnya baru bisa menyebut namanya, dia kembali menatap Satella.

“… ada apa?”

Satella menatap Subaru membeku dengan mata lebar-lebar. Reaksi ini jauh berbeda dari yang Subaru harapkan, lantas dia memiringkan kepala bingung.

“Maaf … bukan apa-apa. Begitu mendapatkan kembali lencananya, aku akan meminta maaf baik-baik.”

“Entah kau mau meminta maaf atas apa, tapi aku lebih ingin mendengar terima kasih. Akan lebih baik lagi misal ucapan terima kasihnya ditambah senyuman.”

“Dasar bego.”

Seketika dua kata itu keluar dari mulutnya, Satella tersenyum kecil, yang mana senyumnya Subaru ingat baik-baik. Kendati candaannya bodoh, Subaru setidak-tidaknya bisa membuatnya tersenyum.

Jika ini berjalan baik, dia mau melihat senyum itu lagi di tempat lebih cerah.

“Baiklah. Akankah ular atau iblis yang muncul kali ini? Menilai latar fantasi, kedua pilihannya tidak bisa kutertawakan …” Subaru bercanda sendiri dan dengan lagmit di tangan, dia perlahan-lahan masuk ke dalam gudang.

Dalam cahaya remang-remang, Subaru bisa melihat konter di hadapannya, di seberang pintu masuk. Bangunan itu awalnya pasti seperti penginapan. Sepertinya mereka menggunakan lantai pertama barnya tanpa banyak diubah. Di atas sekaligus belakang konter—yang mungkin semacam meja resepsionis—Subaru dapat melihat banyak barang berbeda-beda berserakan dengan dempet. Ada kotak dan pot kecil, pedang beserta objek metalik murah, juga banyak variasi barang lain. Jelas bahwa semua barang ini curian, berdasarkan label kayu yang terpasang di masing-masingnya.

“Dari cara sistemnya bekerja, misalkan kau kumpulkan semua label kayu ini terus diserahkan ke penjaga, kayaknya mereka bisa menangkap semua orang sekaligus ….”

Akan tetapi, sebagaimana hal lazim dalam bisnis ini, bisa jadi ada semacam koneksi antara tempat ini dengan warga tak terlalu terhormat yang menawarkan dukungan. Subaru curiga destinasi akhir barang ini di mana. Dia melangkah lebih jauh ke gudang mencari-cari lencana Satella. Tetapi tatkala itu ….

“Hmm?”

Subaru tiba-tiba berhenti, merasakan sesuatu yang aneh di bawah sol sepatunya. Rasanya dia tidak menginjak sesuatu yang keras; sebetulnya malah sesuatu berlawanan. Seolah tanah yang dia injak menempel ke dirinya; seakan ada yang lengket-lengket di sepatunya.

Dia angkat kaki lalu menyentuh bagian bawah sepatu ketsnya. Dia merasakan sesuatu setipe cairan, sesuatu yang janggalnya lengket menempel di jari-jarinya, meregang sewaktu ditarik jauh. Sesuatu yang secara insting membuatnya gelisah.

“Apa ini …?”

Subaru mendekatkan jari-jarinya ke hidung dan mencoba mengendusnya, tetapi gara-gara bercampur udara yang berdiam diri dalam bangunan, dia tidak bisa pastikan. Tak mengherankan dia tidak berani mencicipinya.

Seusai menyeka sisa zat itu di dinding terdekat, Subaru didorong perasaan ngeri tak mengenakkan, dia taruh lagmit di depannya dan mulai berjalan melewatinya. Setelahnya dia dapati sumber lendir tersebut.

“… apa?”

Subaru tanpa sadar mengeluarkan suara konyol kala melihatnya. Di jangkauan kecil cahaya tersebut, hal nomor satu yang dia lihat tergeletak lemas di tanah adalah sepotong lengan. Jari-jarinya terulur ibarat mengambil sesuatu, namun ujung lengan lainnya, di siku, kehilangan anggota badan yang sepatutnya terhubung.

Cahayanya digerakkan menelusuri poros lengan, Subaru melihat kaki lebih jauh di depan—kaki yang menempel ke tubuh. Kecuali satu lengan, tubuh tersebut anggota badannya lengkap, walau tenggorokannya dipotong lebar. Mayat seorang pria besar.

“Eeh!” Subaru memekik tanpa daya sewaktu menyadari apa yang dia lihat.

Kala itu, pikiran Subaru mengosong. Proses berpikirnya sepenuhnya meninggalkannya, tangan-kakinya membeku di tempat.

Ada jeda, kemudian ….

“… yah, kau menemukannya. Sayang sekali. Sekarang aku tak punya pilihan, ya, sama sekali tak ada pilihan lain.”

Subaru duga suara itu dari seorang wanita. Suaranya lirih dan dingin; suara seorang wanita yang entah bagaimana rasa-rasanya sedang bersenang-senang.

“Gwah!”

Subaru tidak sempat berbalik. Seketika menghadap suara tersebut, tubuhnya dihempaskan kekuatan besar. Punggungnya membentur dinding, dan impaknya melepaskan lagmit di genggamannya, lalu kegelapan mendekat tatkala lagmitnya terlempar berguling-guling di kejauhan.

Tapi Subaru tak memikirkan itu. Yang sekarang menguasai kesadarannya adalah ….

“Guh … p-panas.”

Hawa panas menyerang Natsuki Subaru dan sepenuhnya mencengkam dirinya.

—Ini benar-benar, benar-benar gawat.

Merasakan tekstur lantai keras di wajahnya, dia sadar sedang terbaring terlentang di lantai. Dia tidak mampu bergerak meski sudah berusaha, jarinya saja tidak bisa dirasakan. Yang dia rasakan adalah semacam panas, dan panas itu merajai seluruh dirinya.

Dia batuk dan memuntahkan darah yang dia rasa naik ke tenggorokan—sumber kehidupan memudarnya. Banyak sekali yang keluar sampai-sampai ujung mulutnya berbusa. Dengan penglihatan kaburnya, dia lihat lantai di depannya ternoda merah.

—kau … pasti bercanda … semua ini darahku?

Merasa ibarat seluruh darah di tubuhnya tumpah ke luar, tangan gemetarnya meraba-raba demi mencari sumber kehangatan yang membara dalam tubuhnya. Begitu ujung jarinya mencapai goresan besar di perutnya, dia paham.

Pantas saja rasanya sangat panas. Otaknya pasti salah kira kalau ini panas. Potongan bersih yang memanjang di tubuhnya terlampau dalam hingga hampir membelahnya jadi dua. Hanya sedikit lapisan kulit yang masih menahannya.

Dengan kata lain, dia skakmat dalam permainan catur hidupnya. Seketika menyadari itu, kesadarannya mendadak mulai menjauhinya.

Saat ini, bahkan panas yang membinasakannya telah menghilang, dan perasaan tak nyaman karena menyentuh kesadarannya sendiri konstan memudar. Satu-satunya yang tertinggal adalah tubuhnya yang menolak mengikuti jiwanya.

Di depan, dia melihat sepatu bot turun, membuat riak di genangan merah darah segarnya.

Ada orang di sana, dan orang itu … barangkali yang membunuhnya.

Namun dia bahkan tak ingin melihat wajah orang itu. Tidak lagi berarti.

—hal satu-satunya yang dia harapkan adalah dirinya, paling tidak, akan baik-baik saja. “—baru?”

Dia merasa seakan-akan mendengar suara dering lonceng. Dia yang mendengar suara tersebut, bisa mendengarnya, rasanya bak suaka baginya melebihi apa pun, jadi—“!”

Dengan teriakan pendek, orang lain meringkuk di atas karpet darah.

Dirinya mendarat tepat di sampingnya. Dia terbaring di sana, dengan lemah mencoba menjangkau dirinya.

Tangan putih dirinya jatuh terkulai, tanpa daya. Genggaman bersimbah darahnya menggenggam tangan dirinya.

Dia merasakan jari-jari tangan dirinya bergerak sedikit ketika menerima genggamannya.

“Tunggu saja ….”

Dia rebut kesadaran memudarnya, mati-matian ditarik kembali demi mengulur waktu sedikit lagi.

“Aku akan ….”

—mencari cara untuk menyelamatkanmu.

Saat berikutnya, dia—Natsuki Subaru—kehilangan nyawanya.

Ketakutan, kecemasan, serta paranoia menguasai anggota tubuh dalamku—itu pun kalau punya—menghilangkan seluruh pikiranku, namun kegilaan dan kengerian bahkan tak dapat mendekam lama dalam kehampaan, lalu seketika seluruh emosi keluar, aku merasakan sensasi yang memenuhi seluruh benakku.

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments