Pembaptisan Menara Penjaga
Penerjemah: DaffaNieR
“—Psst psst psst”
“—“
Subaru mau memuji dirinya sendiri karena tidak langsung berteriak ketika tersadar kembali.
Setelah kembali ke taman bunga monster iblis sesudah kematian kedua, Subaru menutup mulut sambil panik saat berpikiran begitu.
“Psst psst psst.”
Meili memanggil-manggil beruang oiran dan aroma pekat bunga memenuhi udara.
Beruang oiran yang memblokir jalan kereta naga pelan-pelan fokus kepada suara Meili sekaligus goyangan jarinya. Semua orang menahan napas dan menunggu hasilnya.
Tepat beberapa menit sebelum itu Subaru telah menyaksikan kejadian persis ini, tidak bisa berbuat apa-apa.
Menyentuh bagian tubuh yang ditembus serangan mematikan itu, Natsuki Subaru memastikan ketiadaan luka sembari menggerakkan pikirannya.
Rasanya mengejutkan tetapi dia harus buru-buru mengalihkan fokusnya. Melupakan gerombolan monster yang mengejar mereka satu menit lalu, Subaru fokus pada masalah paling mendesak sekarang.
Masalah sekarang. Masalah sekarang. Sebenarnya—sebenarnya apa? Akan terjadi apa?
Baunya, bau manis, menyebalkan, mengesalkan, geli, menyakitkan.
Yang mana?
Otaknya yang digunakan dan dipaksa bekerja terus sampai-sampai dia yakin sekali sekarang mendidih tiba-tiba menyadari suatu hal. Dadanya merasakan kembang kempis pelan dada Beatrice.
Melihatnya menyaksikan tiap gerak-gerik beruang oiran tanpa suara sedikit pun menyalakan otak Subaru.
Kematian yang dia alami dia ingat kembali, begitu pula isak tangis serta wajah berkaca-kaca Beatrice.
Iya juga, iya juga, iya juga.
Subaru sudah mati dua kali. Inilah kali ketiga dirinya mengalami momen ini.
Kali pertama adalah kematian yang tidak dia mengerti. Kedua—
Tidak, bahas itu nanti.
“Psst psst psst … pssst.”
Seketika pikirannya berputar lagi, Meili mendapati perhatian beruang oiran.
Tertarik oleh suara serta gerakan jarinya, perhatian monster iblis tersebut beralih dari kereta. Tetapi tidak cukup untuk melalui ancaman itu, semua orang pun belum bernapas lega.
Sesaat beruang oiran itu berpaling, naga darat tepat di depannya bernapas terengah-engah.
Mengatasi tekanan luar biasa dari menatap langsung monster iblis di jarak dekat juga bau bunga yang mengacaukan pikiran—ketenangan naga darat itu berangsur-angsur hilang, ketika benang terakhir terurai dan putus, dia akan mengamuk.
Jika tidak Subaru hentikan maka kematian yang sama akan terjadi.
Harus aku tenangkan. Tapi caranya?
Subaru tidak boleh bersuara. Sulit menyampaikan situasinya ke Julius yang sedang memegang kekang si naga darat.
—tidak ada waktu lagi.
Tak sempat puas dengan penemuan barunya, dia hanya perlu mengambil risiko dengan memanggil Julius.
Kematian terakhirnya melibatkan serbuan monster iblis sekaligus cahaya dari menara penjaga … ditambah air mata Beatrice—
“—Beako, aku menyayangimu.”
“—?!”
Memeluk tubuh mungilnya dari belakang, dia membisikkan itu ke telinganya. Beatrice kaget oleh pernyataan tak terduga itu tetapi tangan Subaru menutupi mulutnya makanya tidak bisa Beatrice balas.
Malah Subaru mengulurkan tangan ke naga di depannya—ke Joseph. Tangan yang menenangkannya dengan lembut, sebagaimana dia menyeka pipi Beatrice sebelum kematiannya.
—Wewenang Kekuasaan.
Subaru sibuk memberi tahu Beatrice dia menyayanginya jadi dia sebutkan nama kemampuan itu dalam benaknya.
Tahu-tahu di tengah dadanya—merasakan perasaan berbeda dengan saat Beatrice menyalurkan mana—kekuatan hitam itu bersemangat ketika dia panggil. Tangan tak terlihat dari dunia lain bersorak atas kesempatan menyelesaikan tugas mulia kemalasan menggantikan Natsuki Subaru.
“….“
Anggota tubuh hitam itu perlahan terulur dari dada Subaru ke naga darat. Seperti kekuatan orisinilnya, tiada yang bisa melihatnya selain Subaru.
Dia merasa lega sekaligus sensasi bagian dalam tubuhnya dikoyak-koyak. Masih tidak jelas bayarannya apa tapi instingnya tahu tidak boleh terlalu lama menggunakannya. Dia pun tak berniat lama-lama.
Tangan kurus yang terulur itu menepuk lembut leher tebal naga darat yang hampir mengamuk.
Dia baru tahu itulah cara terbaik untuk menenangkan spesies naga darat ini di pagi hari sebelum keberangkatan menuju padang pasir.
Tidak kusangka akan kugunakan di situasi semacam ini, kurasa aku harus selalu memerhatikan kata orang lain.
Naga darat itu bergidik saat seseorang menyentuhnya tiba-tiba tetapi nalurinya tahu tangan itu tak berniat jahat. Napas tersengal-sengalnya lama kelamaan tenang, tensi tubuhnya menurun.
“—hmm?”
Julius menyadari perubahan itu kemudian menarik tali kekang perlahan untuk menenangkan si naga. Joseph kelihatan rileks. Keahlian yang tentu saja dimiliki Julius.
Momen itu, Subaru memutus koneksi dengan tangan tak terlihatnya, setelah itu tangan hitam itu pun menghilang.
“Huh, fyuuh ….”
Paling tidak masalah saat ini telah ditangani.
Ganjarannya adalah mengandalkan kekuatan tabu, tapi cara Natsuki Subaru senantiasa menggunakan kartu apapun yang di milikinya.
Dia tidak keberatan. Namun yang mengganjal adalah efek penggunaan tangan tak terlihat itu jauh lebih kecil daripada kali terakhir dia menggunakannya.
Kali pertama dia gunakan di Sanctuary sewaktu dia gunakan pada Garfiel, rasanya separuh badannya ditarik keluar dari dirinya. Tapi kali ini akibatnya hanya napasnya sedikit berat.
“Aku bukan cuma terbiasa ….”
Subaru merasa lebih gelisah ketimbang lega karena perasaan kehilangan dan kebenciannya jauh lebih minim daripada sebelumnya.
Lebih baik begini alih-alih tidak ada pilihan, tapi tidak ada gunanya punya peluru lebih di kompartemen pistol kalau game-nya adalah rolet Russia. Kartu as yang ampuh, sih, tapi—
“… c-cukup, Subaru.”
Beatrice mulai meronta sedikit gara-gara kelamaan didekap Subaru. Cukup buat menarik perhatiannya kembali ke kenyataan. Dia baru mau meminta maaf tetapi—
“Kenapa, Beako? Kenapa menatapku begitu …?”
“Itu karena kau terus meremas rambut Betty selama ini! Kepalamu isinya apa?!”
“Hah? Iyakah?”
Beatrice dengan paiwai melirihkan suaranya ketika memarahi Subaru.
Rambut indahnya yang tadi dijalin dan diikat telah kehilangan bentuknya. Model rambut paling bergaya yang sedikit kejauhan untuk ditiru siapapun.
“Dirimu yang bahkan tidak sadar melakukannya itu menyebalkan …. Kau bahkan mungkin tidak ingat membisikkan apa ke Betty.”
“Tidak, aku ingat kok. Karena aku menyayangimu selamanya.”
“Gah!”
Wajah Beatrice langsung memerah, dia lalu menutupi kepalanya dengan jubah yang dia kenakan.
Subaru ingin sekali menikmati keimutan Beatrice sedikit lebih lama, tapi sekarang ini dia tidak bisa bermain dengannya.
Strategi berani Meili berhasil mengeluarkan mereka dari kepungan beruang oiran, mereka akhirnya sempat menarik napas dalam-dalam sejenak. Subaru melihat sekitarnya, mendapati area yang bukan bagian ladang bunga.
Saat Julius meliriknya, dia memberi isyarat untuk pergi ke sana dan berbicara.
Mundur dulu. Waktunya menyusun strategi.
“Baru saja kupikir sudah melewati bukit pasir, ini terjadi.”
“Rasanya memang kayak cara kotor maksimal Sage. Tidak ada celah dan tidak boleh lengah.”
Julius bersama Subaru mendesah sesudah menjauh dari ladang bunga ke tempat yang mereka yakini tidak akan memprovokasi beruang oiran.
Di dalam kereta naga, Emilia dan semua orang setuju. Emilia lagi menepuk-nepuk kepala Meili.
“Kalau saja Meili tidak di sana, akhirnya bakalan buruk. Terima kasih bangeeeet.”
“A-aku yang akan dalam bahaya kalau dikepung musuh sebanyak mereka. Tidak ada alasan lain.”
Meili mengalihkan pandangan dan menjawab singkat. Tapi ada sedikit rona merah di pipinya. Menggemaskan melihatnya tidak bisa menyembunyikan perasaan sebenarnya.
Pokoknya Emilia benar. Meili berkontribusi besar. Begitu pula Ram dengan caranya sendiri soal menembus waktu pasir.”
“… memangnya ini waktu yang tepat untuk mengkhawatirkanku? Kita tak sempat melakukannya.”
Ram membalas dengan suara yang agak serak. Malam gurun gelap, jadi Subaru tidak bisa melihat seluruh wajahnya. Tetapi kulit pucat Ram tampak lebih memucat, menandakan betapa lelahnya dia.
Terlepas dari itu dia tak menghiraukan tatapan Subaru dan beralih menatap Meili.
“Ladang bunga itu gimana, Meili? Bisa usir semua monster iblis itu dari jalan kita dengan kemampuanmu?”
“Sudah kubilang, susah. Misal jumlahnya cuma seratus, aku bisa lakukan sesuatu, tapi lebih dari itu bahkan aku pun kesulitan.
“Seratus, ya? Itu sudah cukup luar biasa. Sayangnya ….”
Julius melihat ladang bunga. Sekilas saja sudah jelas jumlah mereka lebih dari seribu. Lebih dari sepuluh ribu bahkan. Bukan jumlah yang sanggup dikontrol Meili.
Tatkala suasana berat menyelimuti mereka, Julius menunjukkan dua jari.
“Pilihan kita sekarang hanyalah lanjut maju atau mundur.”
“Memangnya mundur termasuk pilihan? Tidak akan menyelesaikan apa-apa.”
“Yakin tidak mundur dulu? Sangat mungkin waktu kita melewati waktu pasir itu kebetulan saja mengantar kita ke sini. Asumsikan saja kita melewati celah lain. Barangkali kita bahkan sampai di tempat lain yang lebih dekat dengan menara.”
Subaru skeptis oleh kemungkinan tersebut akan tetapi tidak punya bukti kuat untuk menyangkalnya. Faktanya ada tiga waktu pasir yang berbeda.
Mereka telah melalui waktu pasir di malam hari tetapi ada kemungkinan waktu pagi dan siang berbeda—
“… simpan saja optimisme naif itu.”
Selagi Subaru mempertimbangkannya, suara lirih Ram terngiang di telinganya.
Tak lain orang yang berusaha paling keras untuk melewati waktu pasirlah yang menatap Subaru dan Julius.
“Memangnya sang Sage yang telah segigih itu menolak orang luar benaran meninggalkan jalan mudah di sautu tempat? Mana mungkin. Mundur ke angan-angan di hadapan kenyataan menyakitkan adalah pilihan terakhir buat para pecundang yang ingin jalan lebih mudah.”
“Kau … Kami hanya membicarakan jalan yang sedikit lebih aman.”
“Kita memulai perjalanan ini dengan sadar jalannya akan bahaya. Rasa ikhlas kehilangan sesuatu itu penting demi mencapai hal lain. Ataukah rencanamu dari awal adalah menang tanpa mempertaruhkan apa-apa? Bisa sebesar apalagi kesombonganmu?”
Dihadapkan omelan sengit Ram, Subaru tertegun sejenak.
Ram sengaja mengutarakannya secara provokatif untuk mendorong mereka maju.
Ucapannya logis juga. Namun demikian kata-kata Julius pun logis. Sisanya adalah memutuskan yang mana
“Meili, gimana kalau menyingkirkan monster yang menghalangi jalan di depan kita?”
“Kurangi yang disingkirkan daripada menyingkirkan semuanya? Kalau begitu ….”
Meili fokus ke ladang bunga, mengamatinya dengan seksama.
“Misal segitu saja, kurasa bisa. Pinggiri mereka dari jalan terus menidurkan mereka begitu kita cukup jauh dari mereka …. Iya, bisa kulakukan. Bisa, kok.”
Paling tidak Meili setuju dengan Ram yang berjalan maju.
Mendengarnya, Subaru beralih ke semua orang.
“Bisa jadi kedengaran plin-plan tapi aku setuju sama Ram. Jelas saja ada kemungkinan baru semisal kita masuk ke waktu pasir berbeda, tapi jika monster iblis yang menghalangi kita, paling tidak Meili bersama kita.”
“Bisa jadi juga inilah kemungkinan yang lebih baik daripada kemungkinan lain.”
Beatrice turut mengangguk sambil merapikan rambut yang Subaru acak-acak.
“Ujung-ujungnya tidak ada pilihan lain selain mengandalkan Meili. Pilihan terburuknya jikalau monster iblis betulan bangun maka tergantung Emilia-tan dan Julius—sama aku dan Beatrice. Maaf.”
“….“
“Ups, Patrasche juga. Makasih. Aku sayang kamu juga.”
Tunggangan kesayangannya memamerkan kehadirannya, Subaru lalu berpaling ke belakang untuk menggelitik lehernya dengan penuh kasih sayang.
Kemudian Subaru menatap semua orang. Taman bunga para monster iblis tepat di depan mereka. Mereka tidak boleh kelamaan memutuskan, jadi dia mulai voting ….
“—mmhmm. Aku setuju dengan Subaru dan Ram. Aku tak mau mundur, sedetik saja tidak.”
Emilia tersenyum menenangkan, mendukung keyakinan Subaru. Ada kebulatan tekad kuat di mata ungunya setelah itu menatap menara yang terletak di balik ladang bunga.
“Jalannya lurus dan menaranya persis di hadapan—kalau-kalau terjadi sesuatu, aku akan membantu semua orang apa pun yang terjadi.”
“—tidak kusangka Emilia-tan pakai otak otot di situasi semacam ini.”
“Otak otot … eh? Maksudnya apa tiba-tiba begitu? Ahh, jangan permalukan aku.”
Emilia tetap memasang ekspresi tenang saat mengatakannya tetapi dia mulai tersipu pada komentar sinis Subaru. Dia tidak benar-benar paham arti otak otot tapi ekspresi tersipu malunya imut.
“Anehnya bagiku, otak otot bukan pujian tulus buat Emilia-tan …. Ya, kuralat, mungkin aku maksudkan sebagai pujian. Aku lagi-lagi tergila-gila. E.M.T selamanya.”
Subaru sadar lagi betapa pentingnya gadis yang tampak sangat kukuh itu baginya, betapa cintanya dia kepada Emilia.
Emilia, Ram, dan Meili di kubu maju terus—
“Jadi sisanya adalah Anastasia dan Julius kayaknya, tapi ….”
“Aku tidak bisa bicara banyak. Sudah ada suara mayoritas dan aku tidak terlalu pengen menentangnya. Tapi aku betulan ingin sedikit lebih memikirkan tempat ini benar-benar seperti kelihatannya atau tidak.”
Tangan Anastasia menopang pipinya. Mendengar jawabannya, Julius menoleh.
“Anda mencemaskan taman monster iblis ini, Nona Anastasia?”
“Tidak semendesak itu. Tapi ada celah untuk menyelinap melalui waktu pasir, ‘kan? Jadi aku penasaran apakah ada yang seperti itu juga di ladang ini. Menurutmu bagaimana, Beatrice?”
“—kenapa tanya Betty?”
Pipi Beatrice menegang saat Anastasia atau lebih tepadnya Echidna Rubah menoleh ke dirinya.
Bibir Anastasia melunak mendengar tanggapan tak ramah Beatrice.
“Sedengarku kau ahlinya sihir hitam, benar? Terus waktu membicarakan sihir hitam maka perputaran di suatu ruang tuh semacam hal krusial di sihir hitam … jadi aku bertanya-tanya dirimu menyadari sesuatu atau tidak.”
“… waktu pasir adalah gangguan natural tapi proses perputarannya mirip dengan Jalan Betty secara struktur. Itulah yang Betty rasakan begitu melewatinya.”
Menjawab pertanyaan itu dengan tenang, Beatrice melihat Subaru.
“Dulu Betty juga pernah mengucapkan mantra serupa kepada Subaru.”
“Kepadaku? Kapan.”
“… pertama kali bertemu.”
“Pertama …. Ah! Waktu aku menyelesaikan lorong yang kelihatan bak perulangan tak berujung itu di percobaan pertama! Maaf soal itu padahal kau sudah kerja keras menyiapkannya.”
“Menyebalkan rasanya melihatmu jujur meminta maaf. Lupakan saja!”
“’Kan dirimu yang mengungkitnya ….”
Pipi Beatrice cemberut sementara Subaru mengangkat bahu pasif. Tapi dia tidak bisa mengabaikan yang Beatrice dan Anastasia katakan. Bila mereka punya ide lain selain sekadar melewati ladang maka itu pilihan terbaik.
Di saat yang sama ada pula satu masalah yang mereka tidak boleh abaikan dan belum dibicarakan.
“—ada satu pertanyaan. Ada yang melihat cahaya bersinar dari menara?”
“Cahaya dari menara?”
Emilia dan yang lainnya nampak bingung mendengar pertanyaannya.
—cahaya putih yang memancar dari menara penjaga. Subaru tidak mengerti detailnya namun itulah penyebab kematian dua kali berturut-turutnya.
Kematian pertama dia bahkan tidak sempat bereaksi dan kali kedua dia terhindar dari kematian instan berkat Patrasche. Kalau bukan karena dia, Subaru sudah langsung terbunuh lagi, lalu dia kudu menghadapi perulangan ini tanpa mengetahui apa-apa soal cahaya tersebut.
Tetapi kendatipun dia membawa kembali sejumlah informasi dari kematian terakhirnya, menangani cahaya itu bukan hal sederhana.
“Aku tidak lihat apa-apa. Subaru, kau melihat cahaya bersinar dari menara penjaga?”
“Hmm, ah, iya. Kurasa aku tidak berhalusinasi. Jelas ada kilatan dari menara, terus ….”
“Apakah artinya sang Sage di menara menyadari kita?”
“Dia tidak harus menyadari kita untuk menyalakan lampu di malam hari. Mungkin begitu yang terjadi?”
“Aku mengerti. Asumsikan saja sekarang ini Sage itu sedang memerhatikan kita, barangkali sekiranya kita tunjukkan kita tidak berniat jahat, akan ada semacam kontak.”
Penjelasannya yang tidak jelas gara-gara ketidakmampuannya memberitahukan kekuatan kembali dari kematiannya menjadi senjata makan tuan.
Saat dirinya membicarakan cahaya, jelas saja mereka mulai membayangkan sesuatu seperti lampu ruangan atau lentera. Bodoh jika langsung berasumsi adanya serangan dari situ. Dia harus mencari cara untuk menyampaikan bahaya dari cahaya itu tanpa menyentuh larangan kemampuannya—
“—bagimu cahayanya bagaimana, Barusu?”
Selagi kesusahan mencari cara untuk mengganti topik perbincangan, Ram melempar pancingan. Dia menyilangkan tangan seraya memalingkan topiknya kembali ke Subaru yang perlu waktu untuk mengungkapkannya.
“Kurasa … kurasa berbahaya. Setidaknya, tidak terlihat bersahabat.”
“Ada bukti lain selain insting?”
“Yah, tidak, sih.”
Itulah bagian yang paling tak masuk akal pada penjelasan Subaru. Dengan ketiadaan bukti yang bisa dia berikan, tak punya pilihan lain selain menyebutnya insting lalu dia bikin masuk akal saja. Karenanya, dia mengira Ram dari semua orang akan kesal tetapi:
“Begitu—itu jadi masalah.”
Ram menanggapi serius jawabannya—Tidak, bukan dia seorang.
Emilia bareng Julius bahkan Anastasia memasang tampang serius.
“Hah? Apa? Barusan kubilang cuma insting. Tidak ada yang mencurigainya?”
“Okelah kalau insting biasa, tapi itu instingmu, ‘kan? Artinya lebih baik anggap serius daripada mencurigainya, menurutku.”
“Jangan terlalu rendah diri begitu. Kau telah melewati cukup banyak cobaan dan kesengsaraan. Ada insting yang hanya bisa dikembangkan orang-orang yang pernah selamat dari situasi semacam itu. Sebut saja pengalaman.”
“Tikus ladang tahu kapan harus pindah sarang sebelum hujan deras datang. Insting Barusu tak boleh diremehkan.”
“Itu sudah cukup meremehkan … tapi aku paham.”
Masing-masing dari mereka mengutarakan alasan percaya pada yang Subaru klaim sebagai sekadar intuisi. Mereka semua bilang walaupun insting saja, mereka percaya padanya.
Subaru merasa lega terhadap pendirian mereka. Bahkan dari Julius.
Mengusap hidungnya sejenak karena perasaan tersebut, Subaru memalingkan pandangan dari rekan-rekannya.
Sebab itulah dia tidak sadar. Yang pertama menyadari adalah Ram.
“Barusu, itu—“
“Eh?”
Suara Ram sangat serius. Mengikuti tatapannya, Subaru melihat Ram menatap dadanya. Ketika Subaru melihat ke bawah, dia pun melihatnya.
Ada titik cahaya merah tak biasa bersinar di jubah bagian dadanya.
“—“
Momen itu juga, satu kalimat terlintas di benaknya. Walau begitu kalimat tersebut sama sekali tidak pas dengan dunia ini.
—laser penanda.
“—ugh!”
Sekejap setelahnya semua rekannya bergerak dengan cepat.
—secercah cahaya melesat lurus dari menara penjaga menuju Subaru dengan kecepatan serta akurasi mengerikan.
Inkarnasi kematian, lintasannya lebih cepat dari angin, menusuk mangsanya. Satu serangan itu bakalan menguapkan Natsuki Subaru, membunuhnya tanpa memberikannya waktu bereaksi—
“—takkan kubiarkan terjadi!”
—seandainya Subaru sendirian tatkala cahaya itu membidiknya.
Sebuah perisai es seukuran telapak tangan muncul di dada Subaru tepat di titik cahaya merah bersinar. Sihir pertahanan yang Emilia sontak ciptakan untuk melindunginya.
Sinar cahaya itu tepat sasaran dan es Emilia mencegatnya sesuai keinginannya—
“Mustahil?!”
Sepersekian detik belaka. Cahaya putih diperlambat perisai es sesaat sebelum menguapkan penghalang dan menembusnya. Esnya tak hanya gagal menghentikan cahaya, menundanya sedetik pun tidak.
Akan tetapi sepersekian detik itu saja sudah cukup.
Sriiing—!
Julius mengayunkan pedang kesatrianya, melepaskan ayunan sekuat tenaga dengan segenap berat tubuhnya, mengenai cahaya yang hendak menusuk Subaru.

Wajahnya terlampau serius saat ia dengan sempurna mengikuti sinar cahaya yang dilemahkan sedikit dari dinding es Emilia. Cahaya itu berganti lintasan dan dibelokkan, mendarat di pasir di sebelah mereka. Asap putih mengepul dari sana.
Untuk pertama kalinya, Subaru menghindari serangan langsung dan melihat langsung bentuknya yang adalah—
“… sebuah jarum?”
Objek tak dikenal yang mencuat dari pasir itu bersinar. Di kegelapan malam terlihat bak sinar putih yang kelewat terang—mirip jarum panjang nan tipis.
Jarum itu mulai remuk dari belakang dan menghilang tertiup angin.
“Barusu! Jarum berikutnya datang!”
Subaru yang sedang mengulurkan tangan untuk meraih cahaya meredup itu diperingatkan Ram. Titik merah di dadanya masih ada. Serangan lain berdatangan.
Sampai dia mati, cahayanya akan terus—
“Beako, siap?!”
“Pertanyaan bodoh!”
Beatrice takkan bilang tidak siap terhadap pertanyaan itu. Ganti taktik, Subaru menggertakkan giginya sewaktu mendengar respon rekan andalannya kemudian mengambil keputusan.
“Emilia-tan!”
“….”
Peluru berikutnya akan datang. Tepat sebelum sampai, Subaru memanggil Emilia.
Mereka berpandangan sekilas, dan Emilia mengangguk. Mereka tidak punya waktu membahas semuanya secara detail, tapi Subaru percaya padanya.
Dia melihat kilat cahaya dari sudut matanya. Kematian tengah menghampirinya.
“Berhentiiiii!”
Dinding es berlapis-lapis terbentuk antara Subaru dan kematian tak terhindari. Misal satu lapisan saja tak cukup, maka akan dia buat enam. Lapisan pertama ditembus dengan gampang, lapisan kedua dan ketiga tidak ada gunanya. Tetapi ada perlawanan dari lapisan keempas, dan lapisan kelima bahkan bertahan nol koma satu detik.
Lapisan keenam, kecepatan jarum cahaya kelihatan jauh lebih lamban—dan kala itu, pedang sang kesatria menusuknya.
“Lagi, takkan kubiarkan!”
Apabila pertahanan pertama adalah keajaiban, pertahanan kedua merupakan kombinasi pelatihan dan teknik. Emilia bersama Julius memaksimalkan kemampuan mereka demi melindungi Subaru dari kematian yang mengincarnya.
Kala itu, Subaru dan Beatrice merapalkan sihir mereka.
“—E! M! T!”
“Ya!”
Sambil membuka tudung jubahnya, Subaru meneriakkan pujiannya kepada Emilia—lebih tepatnya, rapalan.
Di momen bersamaan, Beatrice mengumpulkan seluruh mana dari dalam diri Subaru kemudian membentuk mantra yang rumit nan misterius, sesuatu yang sepenuhnya baru dan tidak diketahui.
—yang mereka rangkai adalah salah satu dari tiga sihir yang orisinil mereka buat.
Ketika sihir itu selesai, sepancar cahaya samar mengembang dengan mereka berdua di tengah-tengahnya. Cahaya itu menyebar ibarat menciptakan bola cahaya yang menyelimuti mereka semua, lantas selesailah medan tersebut.
“Ini ….”
Julius tertegun mencoba menguraikan sihir tersebut tatkala di ujung penglihatannya dia melihat secercah cahaya lain datang ke arah Subaru. Julius langsung tegang tapi perhatiannya dicuri tak lama setelahnya oleh perubahan yang dia saksikan.
Kekuatan cahaya yang datang ke arah Subaru menghilang seketika memasuki medan cahaya.
“Kekuatannya hilang?”
Cahaya tersebut direduksi hingga sebatas anak panah. Ayunan pedang Julius membelokkannya dengan mudah.
Tentu saja sekalipun kecepatannya berkurang tetap bukan sesuatu yang bisa ditangkis dengan mudah. Biar begitu tangkisannya adalah bukti kepiawaian berpedangnya Julius. Dia pun bisa dengan mudah menahan serangan-serangan selanjutnya.
“Sihir pembatalan absolut E.M.T. Dalam medan ini, semua sihir kehilangan kemujarabannya.”
Karena dia masih memegang tangan Beatrice, Subaru menggunakan tangan satunya untuk menunjuk menara.
Medan itu adlaah salah satu dari tiga kartu truf yang dikembangkan Subaru serta Beatrice. Sihir ketiga masih belum kelar, akan tetapi dibuat dengan tujuan agar mampu bertarung melawan musuh-musuh kuat, puncak sihir hitam.
“Tapi tak akan bertahan lama. Efektif berakhir sewaktu mana-ku habis. Sekarang aku seperti ember yang bagian bawahnya berlubang menganga.”
“Efek ini tidak terbayangkan. Aku tahu akibatnya juga cukup berat. Ada rencana?!”
“Entah! Dia menyadari kita, jadi kita harus mundur dulu—“
Subaru mencari jalan mundur selagi Julius berlari menghampirinya.
Dalam situasi tegang itu, suara lirih Ram kedengaran hampir seperti transmisi cahaya.
“—dia melihat Barusu?”
Ram menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Subaru sekilas ingin tahu maksudnya namun dia tersadar Ram tengah mengaktifkan kekuatan cenayangnya—mengetahui Ram berhasil bersinkronisasi dengan seseorang di menara.
Bukan sembarang orang pula. Hanya ada satu orang yang bisa dia incar di sana.
“Sage?!”
“—ugh.”
Ram tidak merespon. Malahan ada tetesan darah dari rongga mata kanannya. Nampak semacam air mata darah yang mengalir dari mata merah mudanya.
Itu … bukan serangan. Apalah itu, tapi tampaknya seperti tolak balik kekuatannya.
“Hentikan, bego! Sekarang—“
Subaru mencoba menghentikan tindakan mata-mata Ram. Dia meraih lengannya lanjut menyeret tubuh rampingnya ke pelukannya.
“Sebentar, Barusu!”
“Tidak! Masuk kereta naga! Saat ini, kita—“
Subaru balik badan sembari memeluk Ram.
—pada saat itu, dunia di sekitar mereka hancur berkeping-keping.
“Ah—?”
“—duh! Kita salah langkah!”
Perubahan yang tidak mungkin terjadi di gurun malam selagi suara Beatrice terdengar.
“Sihir EMT mengoyah ruang yang terdistorsi!”
“Apa maksud—“
Subaru tidak sempat menyelesaikan pertanyaannya saat dia merasakan sensasi melayang dan kakinya terangkat dari tanah.
Dunia berputar kacau, berjumbai dan hancur berkeping-keping layaknya selembar kertas yang dirobek-robek. Retakan terbentuk di tanah dan langit, menelan kereta, Subaru, sekaligus semua orang.
“Sial …. Emilia?!”
“Subaru—“
Termakan kegelapan iba-tiba, Subaru berteriak waktu perasaan mengambang menerpanya. Dia tidak tahu mana atas-bawah-kanan-kiri atau kereta naganya di mana. Kendati demikian dia mendengar Emilia di kejauhan, responnya jauh sekali.
“Ini—“
Sebelum selesai mengatakan situasinya buruk, Subaru terlontar ke sisi lain langit yang hancur.
Di kejauhan, batas antara ladang bunga dan gurun runtuh, sesudahnya sesosok bayangan melihat kelompok kecil itu ditelan kehancuran.
Melihat dari jauh, bayangan itu merayap di kegelapan menara.
Meninggalkan jendela tempatnya berdiri, bayangan tersebut melangkah di lantai batu dan menuruni tangga spiral.
Langkah kaki bayangan tersebut lambat tapi lama-lama kian cepat, langkah gelisah.
“—ketemu.”
Gumam serak nan parau, laksana suara yang tak diudarakan bertahun-tahun lamanya. Tapi tak seorang pun akan menyangka emosi dalam suara itu sebagai kegembiraan.
“Ketemu.”
—paling tidak itulah hal pastinya.