RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 78

Posted on

Sisa Riak-Riak Kota Bendungan

Penerjemah: Nier Subaru

Ilustrasi: (Dah dihapus)

“Ah, Subaru. Baguslah kita tidak saling melewatkan. Aku kembali.”

“Reinhard? Cepat amat, kau barusan pergi.”

Ketika Subaru dan kawan-kawan kembali ke selter setelah menjemput Julius, mereka berpapasan dengan Reinhard yang baru kembali ke selter sama.

Subaru merespon kaget kecepatan kerjanya, dan Reinhard yang sedikit mengangkat tangannya ketika berjalan menuju mereka, tiba-tiba mengerutkan kening. Wajahnya yang merasakan kompleksi buruk Subaru serta tindak-tanduk keempat orang itu yang kelihatannya gelisah, Reinhard berkata:

“Ada apa, Subaru … ada yang salahkah?”

“Pasti ada yang salah …. Tapi, sukar memilih kata-katanya. Ada juga sesuatu yang ingin aku pastikan.”

“Jika aku bisa membantu, kau boleh meminta apa pun yang kau inginkan. Ada apa?”

Respon Reinhard ke Subaru yang suaranya melirih, terdengar tulus seperti biasa. Oleh karena itu Subaru ingin memercayai kehebatan tindakannya sejauh ini, dimulai dari pertarungan melawan Pemburu Usus hingga melawan Keserakahan.

Namun pemikiran mendapatkan suaka dengan rahmat ilahi itu—

“—apa kau tahu sesuatu tentang orang yang berdiri di sebelahku?”

“… maksudmu Beatrice-sama, kan?”

Reinhard berkata demikian sambil menatap gadis kecil bergaun yang ngumpet di samping Subaur. Subaru sendiri diam, tidak membalas kata-kata Reinhard. Dia semata-mata menatap Pedang Suci, berdoa agar jawaban yang diinginkannya kembali.

Melihat tatapan membara itu, Reinhard memandang orang lain yang berdiri di sisi Subaru, menyipitkan matanya sedikit ibarat berpikir. Tetapi …

“—maaf. Beliau adalah orang yang tidak kukenal. Melihat rupa dan penampilan beliau, kurasa beliau salah satu individu yang bertarung gagah berani dalam pertempuran ini.”

“…”

Pipi Julius menegang mendengar jawaban Reinhard.

Mereka berdua seharusnya teman dekat rekanan Ordo Pengawal Keluarga Kerajaan—sebab Namanya dimakan, koneksi pertemanan juga akhirnya terputus.

Julius menunduk muram mendengar kenyataan tersebut, dan Subaru yang melihatnya dari sebelah juga merasa sedih.

Pedang Suci sebagai orang terkuat sekerajaan, adalah pendekar pedang terampil yang bahkan menghancurkan Kultus Penyihir.

Bahkan Reinhard van Astrea tak mampu lepas dari pengaruh Wewenang Kekuasaan Kerakusan.

Atau barangkali mengira kalau Reinhard maka mungkin dia ingat, hanyalah keinginan tanpa dasar.

Keinginannya kejam dihancurkan, dan hanya menegaskan kehampaannya sendiri.

“Mohon maaf. Saya tidak tahu alasannya, namun sepertinya saya tidak dapat memenuhi harapan Anda.”

“… huh, seharusnya kami yang bilang begitu. Menurut sudut pandangmu pertanyaan itu pastinya semacam dakwaan. Sepantasnya kami yang meminta maaf atas asumsi pertimbangan itu.”

Julus sendiri yang bertanggung jawab meminta maaf kepada Reinhard.

Dia samarkan kagetnya sebab diperlakukan layaknya seorang teman. Dia melihat-lihat sekeliling selter sambil menutupi dirinya dengan perkataan menenangkan. Kemudian …

“Tampaknya sudah waktunya orang-orang penting berkumpul. Waktu tepat untuk memulai konferensi yang mencakup langkah selanjutnya.”

“… saya paham. Maksud Anda akan membicarakan diri Anda juga, kan?”
Menebak maksud di balik kata-kata Julius, Reinhard mengangkat dagunya. Faktanya, individu-individu gagah berani sebelumnya—Mereka yang terlibat dalam Pemilihan Raja bersama Para Pejabat Kota, mulai berkumpul di dalam selter.

Setelahnya, seorang wanita muda berpakaian kimono kembali dari luar selter yang sama.

“Hmm, sepertinya mereka sudah berkumpul sebelum kita meminta mereka. Bagus sekali.”

Anastasia yang selesai melihat-lihat sekelilingnya, mengatakannya seraya tersenyum sembari menarik syalnya, Echidna. Dari selter di sekitar—pada pandangannya pasti telah melihat Julius yang berdiri di samping Subaru, tetapi nampaknya dia takkan menyebut-nyebut Julius.

“Sepertinya dengan Emilia-san serta kalian semua juga Felt-san yang sedikit lagi sampai. Kalau Priscilla-san menyusul, maka itu sudah cukup. Lantas, aku akui kita bisa mulai konferensinya.”

Anastasia menyarankan sambil menepuk tangannya.

Dia mengucapkannya dengan rileks bahkan tanpa memanggil kesatria terbaiknya yang harusnya terpantul di sudut matanya.

Tempat yang ditetapkan sebagai ruang konferensi menggantikan Balai Kota adalah tempat pertemuan dekat selter.

Tempat pertemuan ini juga termasuk selter, namun layanan penyediaannya buruk karena banjir—Bencana yang membuat Pristella tetap waspada, tampaknya selter tidak dimanfaatkan selama masa kekacauan itu.

“Pertama-tama, pastinya sekarang waktu yang tepat buat orang-orang dalam selter tuk kembali ke rumah masing-masing, kan? Sebenarnya, kita pun juga mau balik ke penginapan …. Tapi, rupanya beres-beresnya masih belum berakhir.”

Soal beres-beres, apakah maksudnya penginapan atau orang-orang yang terlibat kekacauan sekarang ini?

Anastasia barangkali berkomentar demikian agar artinya bisa dua-duanya, jadinya sebagai inisiatif di antara orang-orang yang berkumpul di tempat pertemuan.

“Sebagai permulaan, biarkan aku berterima kasih kepada kerja keras kalian semua. Beruntungnya, jumlah kerusakan yang ditimbulkan serangan besar-besaran Kultus Penyihir sangatlah rendah …. Termasuk orang-orang yang ada di sini dan tidak, kuyakin begitu. Pertempuran tiada duanya.”

Orang-orang yang hadir di konferensi:

“…” membisu.

“Bahkan tanpa wajah muram itu aku pun mengerti. Kerusakannya rendah, wajah kalian bilang tidak yakin oleh kata-kata itu.”

Tampang para hadirin yang diam tanpa kecurigaan itu mengeras melebihi perkataan Anastasia yang dalam beberapa aspek terlihat tidak peduli.

Anastasia mengangkat bahunya dan melihat-lihat sekeliling ruangan.

Di tempat pertemuan, bukan hanya anggota asli yang bertempur untuk mempertahankan kesatuan kota, namun juga kolaborator-kolaborator yang ikut andil juga bergabung.

Dari Fraksi Emilia, ada Emilia, Subaru, dan Beatrice. Baik Garfiel serta Otto absen karena parahnya luka mereka.

Dari Fraksi Felt, ada Felt, Reinhard, dan Camberly yang wajah mereka memucat karena tidak tenang. Gaston dan Larkins tidak hadir sebab luka dan kelelahan mereka.

Dari Fraksi Crusch, anggota paling penting, Crusch, masih beristrirahat di tempat tidur. Jadi Felix dan Wilhelm yang berpartisipasi menggantikan nyonya mereka.

Dari Fraksi Priscilla, ada AI dan Priscilla yang wajah mereka kelihatan bosan. Di samping ada pelayan pribadi mereka, Schult, sehat sentosa. Kelihatannya keselamatan Heinkel telah dipastikan, namun dia tak datang.

Dan dari Fraksi Anastasia, ada Anastasia yang sedang berdiri di tengah seakan pengarah konferensi. Ada Tivey dan Ricardo yang juga berpartisipasi, Ricardo terbalut perban putih di sekujur tubuhnya. Serta Julius yang duduk jauh dari mereka, di Fraksi Emilia.

Akhirnya, ada Kiritaka, Liliana serta White Dragon’s Scales yang bergabung sebab keterlibatan mereka.

Hampir dua puluh orang totalnya terkait dari berbagai kejadian berkumpul dalam ruangan untuk melaksanakan konferensi pertempuran defensif.

Dan orang yang melancarkan langkah pembuka dan menyanggah pidato awal Anastasia adalah Felix, sikapnya menggelisahkan.

Mata kuningnya gemetaran kesal selagi mengangkat tangannya …

“Konferensi pasca itu penting …. Aku paham itu. Aku mengerti, tapi aku ingin membicarakan bagaimana cara menangani Uskup Agung Dosa Besarnya. Pada akhirnya, salah satu petinggi Kultus Penyihir ditangkap hidup-hidup, kan? Banyak hal yang ingin kutanyakan. Aku ingin mempercepatnya.”

“… yah, aku tahu Felix-san akan mengatakannya. Ngomong-ngomong, kondisi Crusch-san sekarang bagaimana? Apa sejak itu ada perubahan?”

“—tidak bisa dibilang dia baik-baik saja. Kita tidak dapat informasi apa pun dari Kenafsuan, jadi sekarang dia memulihkan diri lewat sihir penyembuhanku, dan mengandalkan tekadnya. Sejenak, gejalanya berkurang sedikit berkat bantuan Subaru-kun, tapi …”

Ditatap sudut mata frustasi Felix, Subaru mengarahkan pandangannya ke telapak tangan sendiri. Sebagian telapak tangannya berubah hitam, dan keadannya mengekspos ketidaksesuaian seperti luka bakar atau tanda lahir.

Perubahan serupa terjadi di paha kanan Subaru yang ditutupi celananya. Subaru tak merasakan sakit atau perasaan asing di pahanya, namun Crusch tidak demikian. Penghapusan sesuatu yang pastinya memakan kekuatannya adalah perihal prioritas tertinggi untuk menyelamatkan hidupnya.

Itu pun juga agak sulit bagi seorang wanita untuk menanggung urat nadi hitam di kulitnya. Wanita cantik seperti Crusch yang terpengaruh membuatnya semakin menyakitkan.

“Seandainya aku bicara jujur, aku ga setuju membiarkan Uskup Agung itu hidup. Makhluk itu pembawa masalah. Kalau bisa, membunuh mereka secepatnya pastilah hal terbaik.”

“—! Tapi nanti petunjuk kita hilang!”

Sementara Subaru mencemaskan urat hitam, argumen antara Anastasia dan Felix sampai titik mendidih.

Persoalan perlakuan Uskup Agung Dosa Besar yang ditangkap—Sirius, Felix keras kepala menggeleng terhadap Anastasia yang menyarankan eksekusinya. Wajar menurut sudut pandangnya.

Akan tetapi, Anastasia semata-mata balas menggeleng pada Felix yang lagi berapi-api.

“Menurutku yang terjadi kepada Crusch-san itu sangat disayangkan. Namun, itu masalah berbeda. Lagi pula, Kemarahan itu bahkan tidak tahu apa-apa tentang Kenafsuan …. Tidak, kurasa mereka pada akhirnya tidak saling mengenal. Bagiku, sepertinya sangatlah tidak mungkin Kultus Penyihir saling bekerja sama.”

“Jika mereka terhubung, lantas kenapa!? Kenapa sesuatu seperti hari ini terjadi!? Uskup Agung Dosa Besar semuanya berkumpul dan datang menyerang kota, tapi, mereka tidak bekerja sama!?”

“Tentu saja bahkan aku ga bilang tindakan mereka kebetulan saja terjadi bersamaan. Tetapi, tujuan mereka, waktu mundur dan aksi inisiasinya tidak cocok, sedikit aneh menyebutnya kerja sama …. Kultus Penyihir tidak punya kesadaran sama sekali soal hal-hal semacam kerja sama.”

“Itu cuma kesimpulannya, kan!?”

Mengangkat suaranya, Felix benar-benar membantah perkataan Anastasia. Rupanya Anastasia juga sadar sarannya sukar diterima, dan roman-romannya dia takkan membantah argumen bantahan sentimental Felix.

Maka dari itu, Subaru mengangkat tangannya pelan.

“Boleh bilang sesuatu? Aku pun punya opini, tetapi jika bisa, opini yang dekat opini Felix. Aku kira tak sia-sia mendapatkan informasi dari Kemarahan.”

“… maksudmu apa?”

“Bukan cerita yang kubanggakan, tapi beberapa waktu lalu, aku berkesempatan bicara dengan Kemarahan sebentar, di sana aku sempat mendengar sedikit tentang Kerakusan. Walaupun hanya soal panjang, kedalaman, dan kedekatan hubungan mereka, terlalu terburu-buru kalau mengatakan kita tidak bisa mendapatkan informasi apa pun darinya.”

Faktanya, Kemarahan melontarkan sejumlah kalimat peringatan kepada Subaru mengenai Kerakusan.

Berkat itu, ada bagian yang Subaru sadari kemungkinan Kerakusan memiliki beberapa individu, dan tidak melewatkan Julius seketika dirinya mencoba menjauh dari selter. Dia tidak sanggup memejamkan mata perihal hal ini. Bagaimanapun, dalam perasaan sejati Subaru, dia juga punya bagian yang setuju dengan Anastasia.

“Tapinya, kesampingkan kita bisa gunakan atau tidak dia sebagai sumber informasi, aku pun punya firasat buruk perkara membiarkan mereka ditahan …. Meski semua Uskup Agung seperti itu.”

Saat ini, biar mereka dapat ambil posisi dalam konferensi, tugas penjagaan Sirius dipercayakan kepada White Dragon’s Scales.

Sirius dalam kondisi diikat rantai tanpa ampun, dan juga telah disumpal biar berhenti bicara. Mereka juga disuruh bergiliran menjaga, sebab hati mereka berpotensi dimanipulasi bila kelamaan dekat-dekat. Tak ada yang terjadi selama konferensi ini, tetapi keresahan Subaru tidak pernah berakhir.

“Penting merasakan resah ini selagi dia ditangkap hidup-hidup. Aku tak mampu tanpa syarat membuat keputusan mengenai penanganannya.”

“Kau di pihak mana …!?”

Felix mengarahkan mata serba kebenciannya kepada Subaru yang netral. Subaru meringis melihat panasnya tatapan dan bilang:

“Aku tidak memihak. Jujur, menurutku kalian berdua itu benar …. Kemungkinan paling buruknya, aku akan mengurus urat hitam di tubuh Crusch-san menggunakan bagian tubuhku yang belum menghitam, seandainya itu menyelesaikan masalah, lantas kupikir itu tidak masalah.”

“—ha.”

“Subaru.”

Penilaian Subaru sendiri merupakan konklusi ekstrem mengenai urat hitam Crusch. Mendengar ucapannya, wajah Felix terperangah dan Emilia menatapnya dengan tatapan menegur.

Semua orang pun menoleh melihat kaget Subaru, emosi pada sorot mata mereka kompleks.

“Aku juga mendengarnya, tapi itu sungguh pilihan terakhir, kan? Sekarang ini kita tidak tahu apa yang terjadi biarpun tak berefek apa-apa, tapi bertindak seolah-olah ini normal, itu …”

“Yah, bukannya aku mau menaruh hitam tidak sehat ke tubuhku cuma untuk seru-seruan. Tapi, kita punya preseden soal Crusch-san yang sedikit meredakan gejalanya.

“…”

“Maksudku: jangan terburu-buru menarik kesimpulan. Aku memahami perasaan ketidaksabaran kalian, namun sekalipun punggung atau pantatku jadi hitam, karena tak kelihatan, aku tidak segan-segan membantu. Itu yang aku bicarakan.”

Biarpun ada jalan, membiarkannya berlalu demi dirinya sendiri akan membuatnya merasa tidak enak hati.

Crusch adalah penolong berharga baginya, dan lebih pentingnya, ada cara yang tak melibatkan hidupnya atau hidup orang lain. Subaru akan mencoba membantu sebisa mungkin walau menggelapkan kulitnya yang tidak terlihat.

“Felix, duduklah. Sementara waktu ini, Subaru-dono itu benar.”

“… aku tahu. Aku beneran tahu.”

Orang yang menarik lengan baju Felix yang kehabisan kata-kata dan menenangkannya, adalah Wilhelm. Felix menunduk dan mencoba mengujar sesuatu kepada Subaru, tetapi dia duduk saja tanpa bilang apa-apa sampai akhir.

Subaru mendesah saat melihat kondisinya; suasana ruangan yang menegang telah kembali normal. Kendati demikian, situasi sebelumnya masih berlanjut.

“Intinya, aku paham opini semua orang tentang perlakuan kepada Uskup Agung ini berbeda-beda. Mengkhawatirkan membiarkannya hidup bahkan batasan instingku dan Natsuki-kun ga keluar …. Sebetulnya, misalkan kita membunuhnya alih-alih menangkapnya, pembicaraan kita bakalan lebih cepat.”

“—apa-apaan, omongan terakhir tidak berguna tadi? Mau seberapa kali kau menatap diriku, tiada imbalan diberikan kepada pertunjukkan yang kurang nilai. Hentikan segera pandangan pengemis itu.”

Priscilla menjawab sambil menguap terhadap wajah bercanda Anastasia.

Balasan kelirunya adalah bukti Priscilla sampai sekarang tidak mendengarkan percakapannya baik-baik.

Partisipasinya dalam konferensi itu pun pasti sebab dorongan hatinya sendiri.

“Jangan bicara selicik itu. Meskipun perangaimu tidak pantas sebagai orang yang menangkap Kultus Penyihir hidup-hidup, kau sendiri, kenapa kau menangkapnya? Apa yang mengawali kejadian aneh ini?”

“Mana mungkin diriku tahu dia hidup atau mati. Sesaat aku menghujamnya serangan terakhir, Pedang Yang mengabur dan ketajamannya menghilang. Lantas, dia selamat. Orang yang menyeretnya keluar kanal adalah salah satu rakyat jelata yang menguras air untuk mencari biduanita. Tidak ada hubungannya sama diriku.”

“Apa tidak menganggu orang yang coba kau bunuh masih hidup?”

“Berbanding terbalik. Diriku membuktikan pedang itu semata-mata untuk membunuh. Apabila dia tak mati oleh itu, maka diriku tidak berniat membunuhnya lagi. Biarpun dia tidak mati oleh tanganku, rupanya jadi lebih berguna sejauh yang diriku pikirkan.”

“Hadeehhh, aku tidak mengerti, tapi oklah.”

Anastasia kelihatannya menyerah mencoba memahami Priscilla yang seperti biasa, menguraikan teori serba teka-tekinya. Subaru juga tidak tahu niatnya, namun pemikiran Priscilla bisa jadi tak dipahami orang lain.

Bahkan masih meragukan apakah AI dan Schult yang berdiri di sampingnya bisa paham.

“Paling tidak, aku menentang menghakimi Kemarahan di tempat ini. Aku tentu ingin menghormati perasaan Felix, sekaligus kesempatan unik untuk Kerajaan. Selain menjaga ketat mereka, kurasa kita harus berusaha mengorek yang dia ketahui tentang mereka.”

“… pikirku mendingan bunuh dia. Mengingat para Uskup Agung saja sudah membuat perutku mual, sepandanganku bicaranya setengah masuk akal pun tidak. Sebaiknya bunuh dia sebelum terseret ke hal bermasalah, biar dia tidak menimbulkan persoalan lagi di masa depan, mungkin.”

“Felt-sama …”

“Asal kau tahu, kali ini aku bilang begini niatnya sama sekali tidak mengesalkanmu.”

Dan dari pihak berbeda, opininya terbagi antara tuan dan pelayan.

Reinhard yang menganjurkan agar mereka membiarkan Kemarahan hidup dan Felt yang menyangkalnya. Kendatipun peendapat Felt tidak beralasan.

Felt sendiri tidak mengira pendapatnya akan diterima. Ujung-ujungnya, si Kemarahan ini akan ditahan ke Kerajaan, bau-baunya akan berakhir demikian. Dan kemungkinan terburuk, pada akhirnya penghukuman itu akan dijatuhkan pula.

“Soal tempat yang cocok untuk itu, sepertinya iya. Tapi soal ini, Felt-san ikut ke ibu kota juga? Ataukah majikan dan pelayannya berpisah …”

“Misalkan Reinhard pergi, aku ikut—Kali ini, mau bagaimana lagi.”

Wajah Reinhard terheran-heran mendengar tutur kata Felt. Felt sekilas melihat wajahnya dari samping dan wajah cantik Felt cemberut …

“Jangan salah paham. Kenyataan aku tidak tahan denganmu belum berubah. Masih sama, tapi ada waktu-waktu aku takkan melakukannya.”

“Ada waktu-waktu Anda takkan melakukannya?”

“Entahlah. Tanyakan saja dadamu sendiri. Dadaku tidak lembut-lembut amat buat menjawabnya.”

Felt menjulurkan lidah belum berkembang sesuai usianya ke Reinhard. Kesatrianya menunduk melihat tingkah tuannya kemudian mengangkat dagu tanpa komentar.

Hanya mereka sendiri yang tahu perasaan antara majikan dan pelayan. Pokoknya, terlihat Fraksi Felt juga tidak sama seperti tahun lalu.

“Y-yah, kalau begitu, saya akan …”

“Camberly, jaga Larkins dan Gaston. Begitu mereka bisa bergerak, mereka dibolehkan kembali ke mansion. Hanya saja bawa mereka ke Pak Tua Rom.”

“Y-ya pak, dimengerti.”

Ekspresi lega muncul di muka tidak nyaman Camberly saat menerima perintahnya.

Sementara waktu, berkat Reinhard yang sukarela mengajukan dirinya mereka bisa tenang perihal pengawalan Kemarahan. Yang terjadi setelahnya soal mereka dapat mengeluarkan apa dari Sirius, adalah tugas para ahli dari Kerajaan.

“Kalau begitu, mari kita beralih ke permasalahan selanjutnya? Nyonya-Nyonya dan Tuan-Tuan.”

Orang yang mengangkat tangannya setelah melihat masalah penanganan Kemarahan diputuskan adalah Kiritaka. Dia menatap wajah semua orang selagi tangannya mengatur rambut sedikit berantakannya. Dan kemudian, dia bicara …

“Pertama, mengenai pertempuran untuk melindungi kota ini … saya ingin menyampaikan terima kasih saya mewakili warganya. Jika bukan karena hadirin sekalian, kota Pristella kemungkinan besar akan jatuh ke dalam cengkeraman jahat Kultus Penyihir. Saya menyampaikan terima kasih terdalam saya atasnya.”

Kiritaka menundukkan kepalanya dan membungkuk, bertanggung jawab membicarakan konsensus umum kota. Liliana yang berada di sampingnya, punya wajah ekspresi panik, juga menundukkan kepala sebagaimana Kiritaka.

Tidak mengindahkan Kiritaka, reaksi tulus Liliana tidak sesuai dirinya. Mungkin pertarungannya melawan Kemarahan atau sesuatu sesudahnya telah mengubah sikapnya.

Bagaimanapun …

“Kami sudah ada di kota dan terlibat, kami tidak punya pilihan untuk duduk diam jadi penonton saja, lantas kau tidak harus sampai segitunya berterima kasih kepada kami. Bukankah begitu?”

“Iya. Lagian, barangkali Kultus Penyihir yang mengambil alih kota hanya bonus saja buat mereka mempertimbangkan tujuannya. Entah kita selamatkan warga kota atau warga kota menyelamatkan kita, boleh jadi kita tidak tahu yang mana yang benar.”

Emilia dan Subaru bersikeras sulit menerima pujian langsung atas serangan Kultus Penyihir. Tentu saja, bagian terbesar memukul mundur Kultus Penyihir adalah berkat para anggota yang berkumpul di sini. Akan tetapi sedari awal, incaran para Uskup Agung adalah Emilia, Roh Buatan, dan Kitab Kebijaksanaan.

Semua itu dibawa oleh orang-orang yang terlibat dari luar, dan Fraksi Emilia bertanggung jawab karena telah mengumpulkan kesemuanya. Mereka tidak bisa tulus menerima pujian warga kota Pristella.

“Sebentar. Aku tersinggung kau dengan mudahnya ngomong begitu seolah itu jawaban umum. Apa maksudmu misalkan kami tidak di sini, kalian akan menghabisi orang-orang Kultus Penyihir itu? Kurasa kita perlu membicarakan lebih jelas.”

“Ini menyebalkan, tapi aku setuju sama gadis pengemis itu. Jangan seret kami ke sikap malu-malu pemuas diri rakyat jelatamu. Jangan sesombong itu, dasar blasteran penyihir dan filistin.”

Namun duo kejam itu mengutarakan pendapat keras mereka saat mendengar ucapan Subaru dan Emilia.

Felt dan Priscilla saling menatap sesudah mereka selesai bicara, dan langsung buang muka, wajah mereka berdua kelihatan jijik. Dari awal, keduanya sudah tidak saling akur. Hanya fraksi Priscilla saja yang dekat dengan Priscilla, jadi reaksi itu cukup normal.

“Harap tenang. Saya senang mendengar kata-kata Emilia-sama, namun sebagaimana felt-sama dan Priscilla-sama katakan, pertahanan kota keseluruhannya adalah jasa Anda sekalian. Saya bersumpah akan hal ini sebagai perwakilan kota—Sementara itu, saya ingin meminjam kekuatan Anda-Anda sedikit lagi.”

“Kekuatan …. Maksudmu permasalahan selanjutnya yang kau sebutkan tadi?”

“Benar. Mengenai penduduk yang diubah oleh kekuatan jahat itu.”

“…”

Semua orang terdiam ketika mendengar nada suram Kiritaka.

Yang ingin dia kemukakan—Adalah sesuatu yang semua orang di sini pahami. Pegawai Balai Kota yang jatuh ke cengkeraman jahat Kenafsuan dan dirubah menjadi bentuk bukan manusia.

Satunya diubah menjadi naga hitam dan selusin lainnya diubah menjadi lalat besar.

Mereka masih tidak dapat berbuat apa-apa sebab pengaruh Wewenang Kekuasaan Kenafsuan, Variation and Change. Sekarang ini mereka mesti mengumpulkan mereka ke satu tempat dan menyembunyikan keberadaan mereka sih.

“Pelakunya, Kenafsuan, telah kabur …. Tidak, sekalipun kita bisa menangkap Kenafsuan dari awal, meragukan dia berniat mengembalikan mereka ke bentuk normalnya atau tidak.”

“Itu sudah pasti …. Tapi kita tidak dapat meninggalkan mereka begitu saja, kan? Adakah yang bisa kita lakukan? Apa itu bahkan mustahil buat Felix?”

Perubahan orang-orang yang tidak mampu kembali ke sosok asli mereka pada dasarnya berbeda dari luka atau penyakit.

Melihat tatapan Subaru, Felix menggeleng kepala, kemudian menggigit bibirnya.

“Bahkan aku tidak sanggup menyembuhkannya. Ini bukan perkara bisa menyembuhkan mereka atau tidak. Ini bukan luka ataupun penyakit, mereka cuma berubah menjadi makhluk semacam itu. Sihir penyembuhan hanya bisa memperbaiki kondisi mereka jika mereka terluka atau sakit. Karena itulah sihir penyembuhan sia-sia sama perubahan itu.”

“Terus terang, saya tidak tahu apakah orang-orang yang berubah menjadi lalat punya kesadaran atau tidak. Saya tidak bisa bedakan, dan seekor lalat seukuran manusia dasarnya memang tidak bisa terbang. Mereka belum belajar baik-baik cara menggunakan sayap mereka, mereka dalam keadaan tidak utuh. Tapi, jika mereka punya kesadaran …

“Semisal mereka jelas memahami situasi, mereka akan jadi gila kurasa …” duga Subaru.

Mereka kehilangan sosok sendiri.

Itu perubahan menakutkan, bahkan memikirkannya sudah menakutkan. Akan tetapi mengingat diri mereka diubah menjadi sesuatu tidak manusiawi—ke sesuatu menjijikkan, itu jadinya lebih buruk lagi. Sewaktu tubuhmu tidak bebas dan kehilangan cara mengekspresikan kehendakmu, bisa mudah kau bayangkan di akhir mereka memikirkan apa.

Tentu saja mereka akan berpikir begitu …

“Mereka yang berubah menjadi serangga keji pastinya mau mati, kubayangkan. Seumpama tidak ada kesempatan untuk mengembalikan mereka, maka bukankah melimpahkannya itu namanya belas kasih?”

“Putri, itu …”

“Diamlah, AI. Tidak ada artinya mempertahankan tapi tidak melakukan apa-apa. Diriku tidak berbelas kasih untuk menghujat babi-babi pemalas, namun membunuh mereka yang mencaci nasib setelah direndahkan hingga keadaannya absurd juga adalah kebaikan. Singkatnya, itulah artinya.”

Dengan sudut pandang bengisnya, Priscilla menghentikan AI yang secara insting hendak menyuarakan pendapatnya. Namun alasan AI tidak keberatan lagi adalah karena opini Priscilla beberapa halnya masuk akal.

Tentunya, AI pikir mereka sepantasnya tidak mati. Namun mereka telah dirubah menjadi lalat dan tiada cara yang diketahui untuk mengembalikan mereka; wajarlah mereka ingin mati.

“Tidak mungkin bernegoisasi dengan pelakunya, Kenafsuan. Sihir penyembuhan tak mengembalikan mereka. Kita harus apa?”

“Saya ingin bertanya kepada semua orang perihal hal itu. Tidak masalah walaupun hanya tebakan. Apa tak seorang pun tahu cara menyembuhkan mereka?”

Masih kelihatan memegang teguh harapan, pertanyaan Kiritaka basah baik oleh ekspektasi dan kepasrahan. Tidak, jumlah pasrahnya lebih kuat. Dan itu wajar. Sekiranya bisa memegang teguh suatu kemungkinan, seseorang sekarang pastinya sudah menyarankannya.

Dengan kata lain, pada titik ini, di mana sejauh ini tidak ada yang menyinggung-nyinggung solusi …

“—saya paham. Saya mohon maaf sebesar-besarnya atau ketidaknyamanan ini. Menangani mereka adalah persoalan Kota, setelah ini akan kami ambil alih tanggung jawabnya.”

“Mengambil alih tanggung jawab? Kalian semua akan melakukan apa?”

“Kami akan mempertimbangkan kemungkinan sesudah ini …. Kami harus memeriksa keinginan orang-orang yang terlibat, lalu mendengar setiap kesimpulan mereka. Apa pun opini akhirnya, kami akan mendengarnya hingga akhir.”

Kedengarannya bak ucapan kuat mengimplikasikan ujungnya mereka ‘kan mengakhiri hidup alih-alih memilih mengembalikan hmereka ke keadaan normal. Kesimpulan Kiritaka dari sudut pandang tertentu tidak bisa dihindari.

Tidak bisa dihindari, namun terlalu dini berkesimpulan demikian.

“Sebentar—Umm, bisakah kau serahkan itu kepadaku?”

“Emilia-sama?”

Menyadari diskusi mereka dengan persoalan itu telah berakhir, Emilia segera mengangkat tangan. Dia menatap lurus Kiritaka sambil merasakan tatapan cemas serta penuh harap pria itu menyatu padanya, kemudian bilang:

“Cara mengembalikan mereka ke kondisi normal saat ini …. Maaf, itu aku tidak tahu. Tapi, aku ingin kau jangan buru-buru membuat kesimpulan. Kita perlu lebih banyak waktu.”

“Saya memahami perasaan Anda, Emilia-sama. Namun ini tentang perkara apakah mereka memiliki waktu dalam diri mereka atau tidak. Masalah besarnya adalah seberapa lama roh mereka dapat mempertahankan keseimbangan dalam transformasi mereka …”

“Iya, aku tahu. Itulah sebabnya aku akan menyediakan waktu untuk melindungi pikiran mereka—Boleh jadi ini metode kasar, tapi pasti bisa berhasil. Cara menidurkan mereka.”

“Aku paham … Cold Sleep.”

Menyadari niat Emilia, Subaru menjentikkan jari dan meninggikan suara.

Saat merasakan orang-orang di sekitarnya memiringkan kepala bingung terhadap kata-kata tidak dikenal Subaru, dia mengangguk pada Emilia yang tengah menatapnya.

“Dengan kata lain, maksudmu sama seperti mempelai wanita di gereja, kan? Menggunakan sihir Emilia-tan, kita akan mengubah mereka ke kondisi mati suri. Barangkali hanya menunda hal tak terhindari, namun ini cukup memberi waktu lebih untuk membuat kesimpulan. Di sisi lain, kita mesti mencari solusi.”

“Membekukan dan menidurkan mereka … bisakah? Tapi bukannya mereka akan mati kedinginan dalam tidurnya?”

“Mereka baik-baik saja. Untuk sementara waktu belaka, tapi aku menggunakannya buat para pengantin wanita, jadi aku mengerti efeknya untuk kesehatan, dan lagian, aku pun menidurkan diriku sendiri selama seratus tahun.”

“Anda menidurkan diri sendiri …!?”

Meskipun keributan tak diinginkan menyebar ke seluruh tempat pertempuan, Subaru mengepalkan tinjunya terhadap kata-kata Emilia.

Tidak biasanya Emilia positif tentang sihirnya dan bersikukuh mencoba menggunakannya dengan cara ini pula. Itu hal bagus yang bahan Subaru tidak pikirkan.

Memang bukan solusi drastis pada masalahnya, tetapi mereka cuma perlu waktu untuk menemukan solusi dari suatu tempat selain Kenafsuan. Paling tidak kemungkinannya mestinya meningkat karena tidak punya batasan waktu.

Hal paling buruknya—Iya, hal paling buruknya, tetapi masih ada kemungkinan.

Subaru akan mengalahkan Kenafsuan dengan tangannya sendiri dan mengambil Gen Penyihir yang dia miliki. Atau mungkin, jika dia Subaru, tak mustahi mengembalikan mereka ke keadaan normal menggunakan kekuatan Gen Penyihir itu.

Dia baru saja mengambil Gen Penyihir Keserakahan dan boleh jadi mereproduksi Uskup Agung hanya mimpi belaka.

“… seumpama itu memungkinkan, tentu saja saya ingin meminta Anda melakukannya, tapi …”

“Biarkan aku lakukan. Kau pasti takkan menyesalinya.”

Emilia mengulang permintaannya kepada Kiritaka yang ragu-ragu, tidak tahu harus berpikir apa. Kiritaka memikirkannya keras-keras di depan tingkah tulus Emilia. Namun Liliana di sebelahnya menarik-narik manset bajunya.

Gadis cokelat itu melihat Kiritaka kemudian mengangkat lubang hidungnya …

“Kau meresahkan apa, Kiritaka-san? Kenapa tidak? Biarkan beliau mencoba! Lagi pula Emilia-sama yang bilang. Jelas ada peluang sukses!”

“Tentu saja, aku ingin bilang begitu juga, sangat, Liliana. Tapinya, ini sesuatu yang melibatkan banyak nyawa. Kita tidak bisa gampang mengambil kesimpulan …”

“Tidak usah risau! Emilia-sama takkan gagal. Karena, KareeeeeeeNNnnnaaaaAA! Pahlawan besar masa depan mampu mengatasi kesulitan besar itu tanpa masalah! Kisah-kisah heroik di mana mereka melampaui dinding penghalang manapun, tidak peduli seberapa tinggi atau tebal dindingnya! Darah mendidih dan daging membesar, kisah yang memesona semua orang diciptakan seperti itu!”

Petikan lembut Lyulyre, tidak cocok pada tempat pertemuan ini, bergema sampai seluruh tempat.

Tak satu pun gagasan idealisme Liliana punya basisnya, namun entah kenapa, idealismenya anehnya punya kekuatan persuasif aneh. Tentu saja tidak sesederhana itu hingga menyimpulkan demikian.

“Setidaknya, mari tanyakan keluarga-keluarga mereka. Semisal pegawai Balai Kota adalah korbannya, maka keluarga mereka pastilah berada di kota yang sama, kan? Kita harus mencoba mendengarkan mereka apakah diizinkan atau tidak.”

“… sehubungan pertanyaan tersebut, semestinya tidak satu orang pun terlihat meninggalkan keluarga mereka.”

“Kalau begitu kita bisa bicara nanti apakah kita serahkan ini kepada Emilia atau tidak. Dan mengenai mereka percaya Emilia atau tidak …. Yah, aku ingin mendengarnya secara spesifik dari konsensus kota.”

Kiritaka memandang Emilia yang tidak kelihatan ragu-ragu. Bila Emilia segan pada pandangannya, maka mungkin perdebatan ini akan berlanjut lebih lama.

Akan tetapi, Emilia mengangguk tanpa takut pada tatapan lekat Kiritaka.

“Serahkan padaku—akan kulakukan tanpa gagal.”

Kepercayaan diri dan keyakinan—Walaupun entah bagaimana perasaannya berbeda, Emilia bersedia menghadapi perbuatannya sendiri dengan kesadaran diri serta kesiapan kuat.

“…”

Kiritaka terdiam seribu bahasa melihat sorot mata Emilia dan ketika mendengar pernyataannya.

Bukan cuma itu pula, tatapan orang-orang di sekitar yang mengarah ke Emilia juga macam-macam reaksinya tidak terbatas seakan-akan mereka dihanyutkan gelombang emosi berbeda dari emosi lain sejauh ini.

Akhirnya, Kiritaka mendesah panjang.

“Saya me … ngerti. Pastinya, saya anggap kita harus berusaha mewujudkan keinginan kita daripada langsung cepat-cepat menyimpulkan. Karena kalau tidak, pertempuran melindungi Pristella juga awalnya akan kelihatan nekat.” ucap Kiritaka.

“Seharusnya saya yang berterima kasih …” kata Kiritaka.

Kiritaka tersenyum kecut sebab telah kehilangan posisinya. Sesudah konferensi, dan sehabis mereka diizinkan keluarga korban, sepertinya sihir Cold Sleep Emilia akan dirapalkan.

Subaru membalas anggukan Emilia dengan mengacungkan jempolnya.

Setelah menamatkan perselisihan poin kedua, yang datang berikutnya adalah topik terakhir agenda mereka.

Dan itu adalah—

“Lantas, masalah terakhir …. Ada banyak laporan tentang orang-orang tak sadarkan diri dari identitas tidak dikenal ditemukan satu per satu di berbagai penjuru kota. Saya ingin membahas masalah ini.

Kemungkinan besarnya, bagi seorang kesatria yang sampai saat ini dilupakan dan terdiam, itu masalah paling penting.


“Saat ini, jumlah orang Tanpa Nama dilaporkan ada 36. Di antara mereka bagi kita, termasuk enam orang yang nampaknya merupakan bagian White Dragon’s Scales. Terlebih lagi, sangat mungkin jumlah orang Tanpa Nama akan meningkat ke depannya.

Orang yang mengarahkan perdebatan dan memberi laporan adalah Dynas, wakil White Dragon’s Scales. Dengan jemarinya, dia menyentuh lambang naga putih yang tersulam di pakaian putihnya, ekspresi menyesal kuat memenuhi wajahnya.

Kemungkinan besar, itulah lambang yang menandakan merekalah White’s Dragon Scales. Testimoni ambigu yang dituturkannya, yang tampaknya bagian dari sesuatu pasti terkait dengan lambang itu juga.

“Amankah mengatakan orang-orang yang diserang para Uskup Agung Dosa Besar adalah orang-orang Tanpa Nama, kan? Seperti, orang-orang yang muncul entah dari mana mendadak dikalahkan.”

“Menurutku, mempertimbangkan situasinya, tidak masuk akal berpikir demikian. Seragam mereka punya jahitan sulaman sama …. Frustasinya identitas mereka sama sekali tak diketahui.”

“Lebihnya lagi ada tiga puluh orang lebih yang posisinya sama …. Sungguh-sungguh kacau. Tidak jelas mereka anggota atau bukan, sukar menilai tindakan terbaiknya apa.”

Para korban Kerakusan—berurusan dengan orang-orang yang Namanya telah dimakan, dengan kata lain, lebih sulit daripada mengatasi korban Kenafsuan. Bagaimanapun, para korban telah sepenuhnya menghilang dari ingatan orang-orang yang mengenal mereka. Selain itu, bila orang-orang tersebut tidak sadarkan diri, lantas tiada petunjuk lagi untuk menemukan identitas mereka.

Bahkan orang-orang dari White Dragon’s Scales, baguslah misal afiliasi mereka saja yang tak diketahui, tapi orang-orang hanya tahu itu saja. Mereka tak tahu orang-orang tersayangnya atau semacamnya.

“Seluruh orang Tanpa Nama yang kau temukan itu tidak sadarkan diri, kan? Apa perkiraan pengguna teknik penyembuhan yang si canti …. Bukan, perkiraan pria itu soal permasalahannya?” tanya Felt.

“… sama dengan Kenafsuan juga. Aku tak tahu mengapa mereka tidak sadar. Hasil perkiraanku adalah pikirku mereka hanya tertidur. Namun ini pun belum pasti. Orang-orang yang tidur terus makin melemah, tapi ada juga kasus seperti Rem-chan.”

Menjawab pertanyaan Felt, Felix menatap Subaru dan bicara.

Setahun lalu, menderita dampak sama dari Kerakusan, Rem didiagnosa dari Felix mirip orang-orang Tanpa Nama. Hasil perkiraannya persis sama. Dan hingga sekarang, Rem belum bangun, tetapi kesehatannya tidak memburuk.

Biarpun dia kelihatannya tidur, Felix bilang tubuhnya tidak menjalankan fungsi kehidupannya. Rambutnya tak tumbuh dan tidak ada ekskresi. Dia berada dalam kondisi tak terjelaskan.

“Sisihkan identitas mereka diketahui atau tidak, menangani orang-orang itu itu mudah. Sebaiknya mengurus orang-orang yang tertidur, kita bisa baringkan mereka ke tempat tidur …. Walaupun sebetulnya, aku inginnya mereka ditemani seseorang yang mengenal mereka.”

“Karena itu tidak mungkin, itu masalahnya, bukan? Itu hal sulit.” Ricardo angkat bicara.

Meskipun Subaru tahu mengatakannya setengah tidak berarti, Subaru telah melakukannya pada Rem. Dalam arti sebenarnya, dia tak punya pilihan lain selain mengalahkan Kerakusan demi Rem.

Kendatipun dia tahu itu, melakukan sedikit perlawanan adalah kepuasan diri Subaru.

Subaru naifnya dibantah Ricardo yang meninggikan suaranya, wajahnya tak berniat buruk sama sekali. Seketika dia berbalik melihat sekilas ke sampingnya, Ricardo sedang duduk di dua kursi yang diletakkan berdampingan, seusai menjejalkan tubuh besarnya dan berpartisipasi dalam konferensi.

Dia sepertinya masih bergelagat semangat, namun ada sesuatu berbeda di satu titik. Dan itu sejumlah besar perban yang membalutnya, juga lengan kanannya hilang dari siku sampai bawah.

“Bro, wajahmu jangan menyedihkan begitu. Benar memang aku kacau, tapi masih hidup. Kalau kau pikirkan apa yang terjadi sekarang, sejauh ini lukanya masih mending dah.”

Menyadari tatapan Subaru, Ricardo mengangkat lengan kanannya dan memamerkan taring. Kelihatannya Ricardo kehilangan lengan kanannya dari serangan Kerakusan selama pertempuran sengit di Menara Pengendali.

Dia dengar dari Julius yang bertarung di sisinya. Julius juga memberitahunya kalau Ricardo kehilangan lengan kanan demi melindunginya, dan Ricardo sendiri tidak ingat.

Seolah-olah membuktikan itu, Ricardo mengalihkan pandangan ke sisi Subaru dan berkata:

“Ngomong-nogmong, laki-laki ganteng di sebelahmu itu kenalanmu, bro? Keknya kau menemui orang yang kau cari-cari, itu melegakan bukan. Sungguh terima kasih sudah membantuku sebelumnya.”

“…”

Memanggil Julius ganteng, Ricardo sikapnya ibarat bicara sama orang asing.

 Dari alur percakapan, kelihatannya Julius berbincang-bincang sama Ricardo dengan kata-kata sama begitu awalnya pertama kali mencoba menutup-nutupi perasaan sejatinya pada Subaru.

Julius pastinya membawa Ricardo terluka ke selter, sehingga bisa dianggap ucapan terima kasih Ricardo di akhir adalah atas itu.

Namun demikian, membiarkan kesalahpahaman ini rasanya terlalu menyiksa.

Lagi pula mereka akan membahas topik Kerakusan. Waktunya mendiskusikan isinya sepertinya.

“Aku punya sesuatu yang ingin aku bicarakan sama semua orang. Ini hal penting yang berhubungan sama penanganan orang-orang Tanpa Nama.

Berdiri, Subaru menarik perhatian semua orang di aula ke dirinya sendiri.

Saat ini, orang yang punya informasi paling banyak mengenai cara menangani orang-orang Tanpa Nama adalah Subaru. Subaru merasakan tatapan semua orang yang natural penuh antusias akan solusi keadaan ini, tetapi dia menggeleng kepala.

Maaf sudah membuat kalian merasa antusias, sejujurnya, ini bukan sesuatu yang langsung menghasilkan harapan. Tapi aku harus membicarakan ini.”

“Kau tahu, misalkan kata pengantarmu berlebihan, kau pasti akan merisaukan kami. Kau mau bilang apa?”

Anastasia melontarkan beberapa kata canda kepada Subaru mencoba meredakan ketegangan tempat itu. Namun dialah yang harusnya paling siap untuk hal ini.

Jika tidak, faktanya ada potensi tuk mengubah keadaan pikiran Anastasia sekarang ini 180 derajat.

Subaru menghela napas, kemudian melihat wajah semua orang. Dan akhirnya, dia menatap Julius yang mengangguk kendati terlihat tegang.

Melihatnya, Subaru lalu menunjuk Julius dan menanyakan pertanyaan.

“Adakah seseorang yang tahu nama pria ini di sini?”

“…” reaksi semua orang.

Hening menguasai tempat pertemuan atas pertanyaan Subaru.

Tapi waktu hening ini bukannya karena kurang paham. Gara-gara semua orang merasakan maksud pertanyaan Subaru dan merenungkan posisi Julius.

Dan atas dasar tersebut, seandainya tak seorang pun bilang apa-apa, artinya tidak satu pun orang tahu identitas Julius.

“AI! Kau bagaimana? Bukannya kau ingat wajah dia?”

“Ah? Kenapa, saudara. Kenapa kau tiba-tiba menunjukku?”

Setelah namanya seketika dipanggil, AI mengangkat suaranya kaget. Perilakunya cukup membuktikan bahwa dia punya ingatan tentang Julius dalam dirinya, tapi meski begitu, dia harus memastikannya.

Subaru menaruh tangannya ke meja bundar dan bertanya kepada AI seraya mencondongkan badannya ke dia.

“Kau benar-benar tidak tahu alasannya? Itu kesamaan kau dan aku. Jadi, kau tidak ingat orang ini? Yah? Jawab aku.”

“… ah, jadi itu alasannya. Maaf, saudara. Aku tahu maksudmu, tapi rasanya aku tak dapat membantumu. Orang itu sama sekali tidak ada di kepalaku.”

“Kau betul-betul yakin? Kalau kau pikirkan lebih serius sedikit …”

“Cukup—sudah cukup, Subaru.”

Sebagai sseeorang yang ter-isekai—AI menganggap makna rentetan pertanyaan tersebut berdasarkan basis itu, namun dia belum menganggukkan kepalanya. Walau demikian, Julius sendirilah yang menghentikan Subaru tanpa henti.

Julius menepuk bahu Subaru sembari tersenyum sedih di wajahnya kemudian membungkuk ke AI.

“Aku terlalu berharap, maaf. Kami meminta maaf atas ketidaksopanan kami.”

“Kau tidak punya alasan untuk meminta maaf. Aku tidak tahu …. Apakah ada alasannya atau tidak, tapi tidak usah meminta maaf kepadaku.”

Melambai satu-satunya lengannya, AI memalingkan pandangan dari Julius.

Tiada tanda-tanda kebohongan pada reaksinya. Barangkali benar AI tak ingat Julius. Lantas, sebagian dugaan Subaru salah.

Dunia asalmu tak ada hubungannya sama efek Wewenang Kekuasaan Kerakusan.

Andai benar demikian, maka alasan paling mungkinnya adalah Gen Penyihir dalam tubuh Subaru. Dan rupanya terbatas pada isolasi dari dunia luar menurut Door Crossing Beatrice.

“Menilai ceritanya, Subaru-dono. Pemuda ini terlibat dengan kita …. Dan selain itu, aku pun menduga seseorang ini posisinya cukup penting?”

Wilhelm mengungkap deduksinya sehabis mengamati percakapan ketiganya. Orang lain kemungkinan besar bakalan sampai pada kesimpulan sama sebagaimana pendekar pedang bijak.

Subaru mengangguk kepada Wilhelm kemudian berbalik menghadap Julius.

“Ini Julius. Julius Euculius. Seperti halnya tebakan kalian semua, Namanya telah dimakan Kerakusan, dan berakhir menjadi salah satu orang-orang Tanpa Nama. Tetapi prosesnya berbeda dari orang lain yang tak sadarkan diri—Kesadarannya menetap.”

“Kita punya kasus semacam itu? Dia dilupakan orang-orang di sekitarnya, tapi ingat diri sendiri …. Jadi, apa orang ini bagian dari kita?”

Rasa tidak percaya di wajahnya, Felix bolak-balik menatap Subaru dan Julius. Mendengar kata-kata tidak percaya Felix, Reinhard bergabung dan berkata, “Sepertinya begitu.”

Sang Pedang Suci menatap Julius dengan mata tenangnya dan mengatakan:

“Sebelum konferensi, Subaru pun menanyakan pertanyaan yang sama pula. Dia … Julius kemungkinan kenalanku atau Felix. Atau boleh jadi kenalan tidak cukup untuk mendeskripsikan hubungan kami. Seorang teman, mungkin.”

“… kurang lebih, aku menganggap kalian berdua sebagai teman. Andai kalian berdua menganggapku teman, maka aku tidak bisa merasa lebih terhormat lagi.

“Teman …. Terus, Julius kau seorang kesatria juga? Salah satu Pengawal Kerajaan?”

Baik Reinhard dan Felix kebingungan karena dipanggil teman oleh orang asing. Reaksi mereka wajar, jadi Julius mengoreksinya setengah pasrah.

Dalam hati Subaru terbakar amarah selagi melihat percakapan ketiganya.

Sungguh pemandangan menyesatkan dan memuakkan.

Subaru tak tahu persisnya bagaimana mereka bertiga bertemu, bagaimana mereka bertiga berteman, dan pertemanan mereka bagaimana.

Kendati begitu, sebagai kolega, teman, mereka bertiga seharusnya sudah saling berinteraksi satu sama lain dengan sikap akrab, natural, dekat. Kini bahkan tidak tersisa jejak ikatan tertentu itu.

Sewaktu Nama Rem dimakan, dan semua orang melupakan eksistensi mereka, Subaru pikir tiada lagi hal lebih menyedihkan di dunia ini selain hal itu.

Tetapi, kondisi sekarang Julius bagaimana? Perasaan kehilangan total yang menyerbunya gara-gara ditinggalkan oleh semua orang di dunia ini; kalau itu namanya tidak menyedihkan, terus apa?

Kesedihan bukanlah sesuatu yang bisa kau bandingkan. Tapi, walau bisa kau bandingkan, perbandingan kesedihan ini terlampau kejam.

“… kurasa bukan soal dia yang seorang Pengawal Kerajaan biasa.”

Tahu-tahu, tukas Anastasia menyela pertemuan pertama menyakitkan antar teman itu.

Dia memasang ekspresi pengertian di wajah lembutnya dan menjilat bibir selagi menyentuh rahangnya. Selanjutnya menunjuk Ricardo sebelum Julius …

“Julius-san adalah orang yang membawa kembali Ricardo terluka parah di pundaknya. Segera setelah kami berbincang sedikit tentang perawatan Ricardo, dia lekas pergi mengatakan harus mencari seseorang …. Tapi, mengenai reaksinya, itu perbuatanmu, bukan?”

“Anastasia-sama …”

Ini adalah pertemuan pertama kedua kalinya antara majikan dan pelayan yang normalnya tidak terjadi. Mengingat kenangan pahit kala itu, Julius menyebutkan nama majikannya dengan kesedihan di wajahnya.

Akan tetapi, Anastasia bahkan tak menyadari hadirnya pengabdian goyah yang Julius ucapkan dalam kata-kata tersebut. Anastasia berpikir sejenak, lalu mengangkat salah satu jarinya.

“Kasus Tanpa Nama Julius-san itu tidak biasa. Entahlah sebanyak apa orang di kota yang kasusnya sama, namun bisa jadi ada kemungkinan memastikannya untuk orang lain juga yang tak sadarkan diri sebagaimana Tanpa Nama. Tidak salah lagi ini pun situasi serius. Benarkan itu?”

Memindahkan pandangannya dari Julius, Anastasia mengarahkan tema garis besar perdebatan. Sepertinya masalah identitas Julius ditunda sebagai salah satu masalah tak terselesaikan.

Itu perlakuan tidak adil nian untuk Julius sekarang ini, namun Subaru adalah satu-satunya orang dalam tempat ini yang marah karenanya.

“Mengingat masalah ini … aku punya permintaan, tidak apa-apakah?”
“Permintaan?”

Perasaan terdalam Subaru dibuang, dan perhatian konferensi sekali lagi mengarah ke Anastasia.

Di pusat perhatian, Anastasia melihat sekelilingnya, hingga menatap Subaru serta Julius.

“Para korban Kultus Penyihir …. Korban Kenafsuan dan para Tanpa Nama dari Kerakusan. Mempertanyakan para Uskup Agung tersebut perihal solusi masing-masingnya itu sia-sia, apa kita sepakat?”

“Sulit memaksa mereka bicara, dalam pengertian itu, saya rasa Anda benar. Tapi opini kelewat pesimistis justru dapat mengaburkan pandangan kita.” tutur Kiritaka.

“Itu bukan berarti aku memikirkan hal terburuk. Tapi, tidak hanya ada satu cara untuk mendapatkan jawaban, aku cuma ingin bilang itu.”

“Ada cara lain untuk mendapatkan jawaban?”

Subaru akhirnya mengulang kembali pernyataan Anastasia tanpa memahami kata-katanya.

Solusi berbeda untuk menanyakan Uskup Agung terkait yang merupakan pelaku di balik serangannya—jikalau cara itu eksis, boleh jadi selayaknya membuat kesepakatan dengan Penyihir.

Selama sepersekian detik, pilihan yang tidak boleh dibuat melintas di benak Subaru, dan bila mana ia Penyihir Keserakahan, mungkin dia tahu jawabannya.

“Lantas, maksudmu apa? Tolong beri tahu kami dengan jelas.”

Tetapi Emilia menanyakan Anastasia tentang arti sejatinya menggantikan Subaru yang sibuk menggeleng-geleng kepala menolak ide itu. Berikutnya, sembari mengetuk-ngetuk kepalanya, Anastasia melanjutkan.

“Apabila kita tidak bisa mendapatkan informasi dari para Uskup Agung itu, maka kita mesti menanyakannya kepada orang lain yang barangkali tahu—Nyatanya ada. Seseorang dari negeri ini yang tahu caranya.”

“Tidak mungkin …”

Setelah menebak maksud ucapan Anastasia, seseorang menuturkannya dengan suara serak.

Kendatipun, tak seperti orang lain di sekitarnya yang sadar maksud Echidna, Subaru tidak tahu maksud kata-katanya.

“Aku tidak paham. Jangan sok tinggi, katakan dengan jelas.”

Felt kesal memintanya dari Anastasia, pemahamannya sama seperti Subaru. Anastasia nyengir pada ucapan Felt dan meminta maaf dengan bilang, “Maaf, maaf.”

“—Sage Shaula.”

“Ah?”

“Menara Pengawas Pleiades, andai sang Sage yang semestinya berada di sana …. Andaikata ia orang melegenda yang berkuasa melihat segalanya tentang dunia, tidak aneh andaikan ia tahu, kan?”

Kata Anastasia, dan mengungkap niat sebenarnya permintaannya.

6 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 78”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *