RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 61

Posted on

Korban Wilayah

Penerjemah: Rachel 😊

Pedang Naga Biru dipegang satu tangannya, menghadap pria yang mengoceh-ngoceh tanpa jeda membuat Capella memiringkan pelan kepalanya.

Tiga kuncir gelap panjang tergerai di bahu putihnya, tangan melipat seolah-olah menekan dada montoknya, dia membungkuk maju, melempar pandangan mempesona ke pria yang mengenakan helm itu.

Memanfaatkan tatapan memikatnya tuk menggoda mata si pria, walau tahu itu jebakan, namun masih membuat naluri pria menjadi liar.

Akan tetapi, meskipun sudah memakai rencana iblis, efektif atau tidaknya tergantung pada lawan.

“Posemu memang sedikit erotis, tapi kalau tujuanmu untuk menggodaku, itu tak berguna tahu. Bagi seorang perawan tulen … biar aku sange sama onee-chan lewat, kesulitannya sangat tinggi sampai-sampai aku hampir tertawa.”

 “Merendahkan perkataanmu sendiri sekaligus sekadarnya mengekang dirimu … kesampingkan tujuan wanita cantik ini berlaku padamu atau tidak, seorang pria yang~ berkesan tak mengindahkannya, bertingkah seperti badut agar lawanmu ceroboh, terus benda keras itu buat apa?”

“Wanita harusnya tidak menyemburkan candaan kotor seperti itu. Benar-benar tidak menarik.”

“…”

Respon pria tersebut membuat paras provokatif Capella berubah menjadi ekspresi tercengang. Ukuran kejutannya cepat menghilang pula, lalu Capella tertawa seakan bahagia dari lubuk hatinya.

“Kyahahahaha! Apa tuh, ucapanmu di usia segitu dan kelakuan begitu juga. Gadis impian~mu ha~nya ada di dadamu. Ka~u pun salah satu orang-orang yang luarnya tak sesuai dalamnya bu~kan, tak salah lagi kau ini anak manja. Kya~, ko~tor banget.”

“Meskipun aku minta maaf sudah mengganggu pertunjukanmu, jangan buat aku mengatakannya berkali-kali. Hari ini suasana hatiku lagi tidak bagus. Aku tidak betul-betul bisa memberitahumu jika kau tanya hari ini suasana hati lagi bagus atau tidak, terutama hari ini.”

Capella yang mengetuk-ngetuk kakinya, menghadap orang berpose seperti itu, si pria—tingkah AI menjadi sangat kompleks dan jengkel.

Alih-alih memposisikan diri, tampaknya tidak puas pada tugas ini dari lubuk hatinya. Agak berbeda dari dua orang di atas sana, menyebabkan Capella menjadi makin ragu.

“Suasana hati tidak bagus, aku menganggapnya merepotkan, tapi tetap tidak melawan. Kata-ka~tamu sungguh penuh kontradiksi. Kalau begitu kenapa juga kau masih menemani seorang maniak keributan seperti aku?”

“Berani sekali kau bilang begitu, dasar maniak keributan.”

“Tentu saja kau bilang begitu. Menurut wanita cantik ini, bagaimanapun juga segala sesuatu di dunia ini hanyalah cara menghabiskan waktu. Kalian semua keseluruhan, pada akhirnya semata-mata objek wanita cantik ini. Cinta wanita cantik ini tak terbatas, serba belas kasih, karena apa pun selain mencari cinta dari wanita cantik ini tidaklah penting …. Hal lainnya, lakukan se~sukamu.”

Melebarkan tangan, Capella yang ekspresinya bagaikan bunga beracun tertawa manis.

AI yang tengah melihat senyum ini, menurunkan Pedang Naga Biru dengan suara wuussh. Memutar leher sehingga tulangnya berbunyi retak-retak, mendesahkan, Ah—

“Kau. Agak berbeda dari pendosa lain yang aku kenal.”

“Ya ampun, kau melihat daging lain yang busuknya lebih dari kata busuk? Daging wanita mesum yang benci kerinduannya sendiri? Bajingan perawan beranu kecil? Bocah rendahan suka makan Makanan Aneh berkarakter buruk? Atau kepalanya yang sakit, kesadarannya sakit, pikirannya mengaku-ngaku sebagai roh sakit? Entah rekan manapun mereka itu pilihan paling buruk! Bukankah orang tuamu mengajarkanmu? Hati-hati memilih rekan-rekanmu.”

“… sayangnya, teman-temanku saat ini adalah tipe yang orang tuaku peringatkan.”

“Itu masih layak dibela sungkawa. Biarpun kau~ yang demikian, akankah merangkul cinta agung wanita cantik ini?

Seditentang atau ditolak bagaimanapun, Capella yang tingkahnya mencari cinta sesuai dengan pikirannya. Kecuali pemikiran tentang cinta sepihak paling ekstrem yang tak memedulikan orang lain, paksa menjarah cinta yang kini dirujuk istilah cinta keliru.

Tentu saja menjawab cintanya yang terbilang canggung, lebih tepatnya cinta dia menggambarkan pengabaian sifat seluruh manusia.

AI mengangkat Pedang Naga Biru yang baru saja diturunkannya, perlahan-lahan menggeleng kepala.

“Maaf. Aku senang kau merasa begitu, tapi kita berdua masih tak kenal satu sama lain, bakal memalukan seandainya ada rumor aneh menyebar ke sebagian teman-temanku. Mohon terima penolakanku.”

“Sesuatu seperti memperhatikan tatapan orang luar, bu~kannya kau punya perspektif imut. Yang wanita cantik ini kekurangan—Dan di sinilah dapat kesan penolakan daging laki-laki masokis yang senang diperintah-perintah wanita.”

“… ah?”

“Mengabaikan orang lain, mata tajam. Tubuh yang bisa dibilang penuh sensualitas dan bengis. Perawakan lebih pendek dari wanita cantik ini sekarang, sejenis kulit indah yang terekspos. Walaupun kata silih berganti mengikuti suasana, karakter batin senantiasa berdalih dan yakin takkan pernah menumbuhkan kearoganan tanpa arti. Menyerahkan banyak tugas ke para bawahan, namun jarang bergantung pada para bawahannya. Tidak di~sukai tetapi juga tidak ti~dak disukai, posisi dan si wanita dua-duanya.

Seraya bercakap-cakap tanpa henti, sosok Capellla bermetamorfosis.

Masih mempertahankan dada besarnya, tinggi badan diperpendek, pakaian berubah menjadi gaun tebal yang menunjukkan bahu dan punggung. Mata di wajah berubah dari mengantuk menjadi tajam, tatapan tajamnya serba aura percaya diri.  Yang muncul adalah seorang wanita cantik berambut emas panjang terurai.

Kenalan dalam kota, meskipun bukan penampilan seseorang khusus—dari suatu tempat tak dikenal, memancarkan aura mirip seorang wanita yang AI kenal.

“….”

“Ups, bukan emas? Setidaknya karakteristik orang-orang Lugnica mencakup rambut keemasan …. Kalau begitu, hmmhmmhmm, merah … ti—jingga ‘kan.”

Mengamati sedikit reaksi AI, warna rambut Capella pelan-pelan berubah. Mengetes hitam, coklat, hijau, biru, sepintas ragu-ragu ketika menjadi merah, kemudian jingga.

Dengan ini, dia telah memberikan kesan yang teramat mirip dengan wanita yang sangat familier.

“Menakutkan nian … di mana kau bertemu putri kami?”

“Tidak pernah melihatnya tidak pernah berbincang dengannya bahkan tidak pernah menyadari keberadaannya? Hanya, menyimpulkan dari reaksimu tipe wanita yang kau sukai. Wanita cantik ini, adalah wanita yang akan memberikan semua yang kau ketahuikah? Agar disukai lawan yang sangat kusukai, tentu saja memberikan se~galanya.”

“Ngomongin reaksi, wajahku …”

“Suara, gerakan, pola bicara. Sudut leher dan garis pandang, perilaku. Dari mengobrol sudah memahami perilakumu, sifatmu, preferensimu.”

“…”

“Satu kedutan atau satu gerakan, tidak ketinggalan sedikit pun. Menaruh seluruh hati dan sukmamu untuk dicintai, beginilah cara wanita cantik ini sungguhan mengabdikan segalanya. Wanita cantik ini sudah betul-betul mengabdikan dirinya seperti ini, jadi … lihat wanita cantik ini. Lihat wanita cantik ini seorang. Jangan lihat orang lain. Wajah wanita cantik ini, tubuh, suara, perilaku, gerak tubuh semuanyasemuanya! Semestinya semuanya benar-benar selaras preferensi~mu!”

 Seraya bicara, suara Capella—Capella yang telah mengasumsikan penampilan Priscilla, perlahan-lahan memburuk. Klaimnya jelas niat menghibur lurus, namun garis lurusnya akan menjadi cinta yang ‘kan menembus sasarannya.

Sepertinya AI bahkan tidak dapat merespon dengan menggeleng kepala atau membalas dengan kata-kata. Hanya bisa mempersiapkan seluruh tubuhnya untuk melawan respon Capella. Mendengar jawaban diam ini, wajah Capella mulai putus asa dan jijik.

“Kau, daging jantan egois … aspek mana dari wanita cantik ini yang kau tidak pua~s?”

“Jangan salah paham. Aku tidak menyukai dan tidak tidak pula menyukaimu, yang manapun oke-oke saja …. Maaf, itu bohong. Sudah kuduga, kau ini menjijikkan jadi aku sungguh-sungguh tak menyukaimu.”

“—ahk! Dasar daging jantan buruk!!”

Lengan kanan Capella menginjak kakinya, bahunya mulai berubah menjadi kepala besar serigala. Kepala binatang buas galak, kecepatan melebihi kemampuan proses mata terbang menuju AI yang membeku. Seketika ujung taring-taringnya setajam bilah, sepenuhnya menghancurkan tubuh bagian atas AI dengan gigitan—sesaat sebelumnya, AI terbang maju menuju celah di antara taring serigala, terbang horizontal untuk melarikan diri.

“Jangan kira kau bisa kabur cuma dengan melakukan itu!”

“Aku juga berpikir begitu! Samping! Terus belakang!”

Dari atas AI yang berguling, serangan tangan kuat menghujam. Tangan raksasa itu setinggi manusia, tertangkap genggamannya sama saja terlitit ular.

Akan tetapi, serangan ini pun dihindari AI dengan melompat. Lalu kepala serigala yang taringnya hendak menghancurkan pinggang AI kembali datang, persis dihentikan Pedang Naga Biru yang dipegang di belakang punggungnya.

“Uwaaaaaaaahh, Dona!”

Tanpa sepenuhnya menghilangkan momentum hewan penyerang, dan mempertahankan posisi blokir Pedang Naga Birunya, tubuh AI menyelip maju. Separuh dinding bumi bangkit dari tanah, menabrak langsung ke sisi bawah lengan kanan binatang buas.

Serigala yang rahang bawahnya diserang telah meratap, dan pergeseran massa lengan kanannya menyebabkan seluruh wujud Capella roboh, AI menghindari serangan kuat lengan kiri dan menyerbu maju.

“Dona! Sisi ini juga, Dona!”

“—ahk!”

Dona yang tak henti-hentinya dilepaskan AI adalah sihir bumi tingkat paling rendah.

Baik kekuatan atau daya tahannya sebagai dinding, dua-duanya secara sempurna setingkat kodratnya sebagai sihir tingkat terendah. Biar begitu AI masih mengandalkan sihir ini, sebagai taktik terbaiknya dalam pertempuran sungguhan.

Membentuk rintangan, menghadang penglihatan, membuat pijakan—persis seperti, yang dia lakukan saat ini.
“Raaaaaah!”

Dinding bumi kokoh terbentuk, menghambat pergerakan lengan kanan-kiri Capella. Selain itu tubuh Capella sendiri diserang dinding tanah yang mengaburkan penglihatan depannya.

Selanjutnya, setelah persiapan dibuat, AI melompat ke udara—memanfaatkan kecepatan serta momentum dari bumi lalu naik dari tanah, meluncur maju seolah bersayap.

Sewaktu Capella mendengar teriakan-teriakan dari atas, sebuah kilatan muncul di leher rampingnya, kepalanya terbang jauh.

Wajah mirip Priscilla menari-nari di udara, sejumlah besar darah menyembur dari lukanya. Darah Capella punya efek tak dikenal dari sesuatu yang nampaknya beracun, alasan utama penderitaan Crusch.

Tentu saja, walaupun diperingatkan untuk tidak banyak-banyak bersentuhan dengan darahnya—

“Kau pikir lagi membodohi siapa, dasar pembohong!”

Melangkah ke kolam darah tanpa pikir panjang, AI menusuk Pedang Naga Birunya.

Ujung bilahnya tak ragu sedikit pun, menjangkau punggung tanpa kepala Capella, ditarik keluar dari sela-sela tulang dada, menambah cedera fatal lain pada lawan yang sepatutnya mati. Akan tetapi, tak sampai sini saja.

“Makan nih! El Dona!”

Menyapu tubuh tertusuk, AI terbang maju bersama momentum—setingkat lebih tinggi dari Dona, sihir tingkat El menggunakan Pedang Naga Biru sebagai titik luncur, mengawalinya dalam tubuh Capella.

Tentu saja, badan Capella tidak sanggup menekan massa yang mengembung dari dalam, kemudian menyebar menjadi ledakan.

Duar, suara konyol seolah-olah lelucon, tubuh Capella menjadi serpihan. Tangan-tangan serta kaki bergelimpangan dan beterbangan, jeroan merah muda juga merah cerah menodai seluruh ruang bawah tanah. Di udara dingin, potongan-potongan daging bahkan kelihatan memancarkan kehangatan, akhirnya menghasilkan hasil yang dapat menghentikan pertarungan.

“… gimana! Hah, hah, kalau begini …”

Bahu megap-megap selagi menarik napas, AI bicara sama Capella yang sudah jadi potongan daging.

Ini, hal semacam ini, makhluk yang mampu bertahan hidup setelah dihancurkan sampai begini sama sekali takkan ada. Menghadap deklarasi kemenangan AI, tak ada eksistensi yang bisa merespon, atau kurang lebih demikian seharusnya.

“Ah~ berle~bihan sekali~—ah. Apa pun yang terjadi, hal-hal biasa takkan se~parah ini.”

“Kampret.”

Orang yang menerima sumpah serapah jijik AI, merespon dengan suara dibuat-buat namun terdengar jahat.

Suaranya bukan dari daging, tetapi dari kepala yang awalnya terputus—dengan kata lain, dari tempat kepala Capella mendarat. Tempat tergulingnya kepala Capella, menetap di tanah sembari riang gembira menyaksikan reaksi AI.

“Menerbangkan kepalamu, menghancurkan jantungmu tidaklah cukup. Bukannya kebanyakan pelanggaran aturan di sini …”

“Kepala terbang dan jantung hancur, takkan jadi masalah sama wanita cantik ini …. Mendadak bisa begitu tanpa bilang-bilang dulu memang a~neh. Wanita cantik ini, saat ini, mestinya menggodamu dengan wajah favorit~mu, mungkinkah matamu luput? Atau bisa jadi kau ini tipe orang yang mengekspresikan cinta dengan menimbulkan rasa sakit?”

Mengungkap perasaan tak berdayanya di hadapan AI, kepala Capella melurus sendiri.

Kepala putus bergerak lamban, daging hitam yang tak mungkin ada membesut keluar. Membentuk kepala sebagai tumpu, daging gemetar menjadi anggota badan, permukaan hitam disembunyikan dari pandangan oleh kulit putih, kembali menjadi—tidak, seluruhnya bertransformasi menjadi gadis berambut emas.

“… terus potongan-potongan daging yang tersebar di sini?”

“Karena sudah tak penting, bisa hilang.”

AI memandang takjub sesaat potongan-potongan daging tersebar yang mulai membentuk tubuh Capella mulai larut dengan suara. Orang-orang serta anggota tubuh menjadi zat mirip-mirip lumpur hitam, menggelembung ketika menghilang. Bahkan metode hilangnya membuat jijik yang sangking jijiknya sampai mati rasa.

“Omong-omong, me~mang kau tanpa segan-segan memutus kepalaku. Yang di atas tadi … kek~nya palsu. Bukan~nya ada satu rekan yang tidak bisa bertarung lagi, setelah terkena darah wanita cantik ini? Bersimbah seperti itu, bukan~kah me~nyeramkan?”

“Bukan gertakan belaka. Sekalipun aku tak tahu syarat yang mesti dipenuhi, dilumuri darah tidak menamatkan hidupmu adalah sesuatu yang sudah aku uji. Menghindar selayaknya orang gila dan darahnya jadi tak berguna.”

“—? Tapi kau belum belum menunjukkan tanda-tanda usaha menghindarinya.”

“Itu sesuatu yang tak bisa kau ketahui. Kepala, jantung, misalkan dua-duanya gagal, kali berikutnya kepala terpenggal itu bakal dihancurkan. Entah sebanyak apa percobaannya.”

Desahan luar biasa lelah AI, bahkan lebih menyakitkan daripada sebelum pertempurannya dimulai. Harusnya gara-gara efek trik Capella. Beban asing diletakkan di pundaknya setelah pertemuan mereka.

Bagaimanapun, tak ada satu pun sisa-sisa kerusakan pada tubuh regenerasi baru Capella.

Selain variation and transformation, kemampuan regeneratifnya sampai-sampai menolak kematian—bahkan serangan paling fatal pada kepala dan jantung tidak efektif, benar-benar monster sungguhan.

Akan tetapi, sulit dibunuh bukannya tak terkalahkan.

“Ada juga metode seperti membekukan seluruh tubuh untuk menyegelnya, atau melemparnya ke Air Terjun Besar.”

“Putus asa~kah setelah membunuh lawan baik, kau be~neran daging sampah yang tak bisa dibetulkan lagi. Tapi, punya motivasi itu bagus, bisakah kau betulan melakukannya? Nya~tanya kau jago melakukan trik-trik kecil seperti menghindar dan kabur, bu~kankah kau kekurangan cara untuk betul-betul membunuh wanita cantik ini.”

“Benar memang kalaupun aku mati seratus kali, aku takkan mampu membunuhmu. Faktanya, aku sudah setengah jalan …. Tpai, apa kau melupakan sesuatu?”

AI menempatkan Pedang Naga Biru ke atas bahunya dan mengetuk, helmnya mengeluarkan suara dentangan, dia menghunuskan pedangnya lalu kepala Capella berputar yang tadinya beralih menyesuaikan garis hunus pedang.

AI menunjuk Balai Kota—suatu tempat di luarnya.

“Kau mulanya bermaksud mengganggu markas kami. Kami pun dapat membayangkan Menara Pengendalimu sudah diabaikan sepenuhnya. Artinya, yang menyerang Kenafsuan akan segera kembali. Selama aku mengikuti taktik ulur waktu ini, kelak kau bakal tamat.”

“…”

“Sebagaimana informasimu, kemampuanku ahli mengulur waktu, ya? Akan kucoba segala cara agar kau menetap di tempat, menjebakmu di sini. Lantas, sekiranya kau mau kabur maka kesempatanmu sekarang.”

AI terkunci dalam pertempuran melawan Capella seorang, memanfaatkan kedatangan bala bantuan tuk mencoba memaksa lawannya mundur. Seusai mendengar kata-kata tersebut, Capella mengangkat alis seolah kaget, melihat sikap bertanyanya, AI merespon, hmm?

“Apa tuh, reaksimu. Kendati kau punya keluhan tentang saranku barusan …”

“Kau sungguh-sungguh percaya wanita cantik yang datang sendirian ke wilayah musuh ini, ti~dak menyiapkan langkah-langkah melawan pasukan yang kalian~ kirim?”

“… hah?”

Daruma2 si otot dan pendekar pedang, diposisikan di tengah jalannya. Bahkan di antara boneka-boneka kami, mereka berdua hebat …. Sanggupkah bala bantuanmu benar-benar bisa lolos begitu saja?”

“Ahk.”

Perkembangan kejadian tak terduga membungkam AI yang melihat lubang besar di atas. Seakan-akan melihat isi helmnya agar melihat ekspresinya, Capella melanjutkan, Omong-omong …

“Cermin Konversasi yang kau miliki itu disegel, tahu? Jadi biarpun kau buru-buru menjalin kontak sama orang lain, kau takkan bisa menghubungi siapa-siapa.”

“Kok bisa!?”

“Alat sihir itu, pembuatnya ru~panya adalah seorang Penyihir. Rumor tentang legenda semacam itu telah lama diwariskan dalam Kultus Penyihir. Termasuk hal-hal seperti mengganggu panjang gelombang Cermin Konversasi.”

Sebab jenis gangguan tak lumrah ini, tujuan yang AI tuturkan sekarang tanpa makna.

Walaupun AI tidak punya cara untuk memastikan kebenaran kata-kata Capella, sebenarnya, dua orang yang dikirim dari Balai Kota untuk menghadapi sang Kenafsuan—Wilhelm dan Garfiel cepat atau lambat akan melawan kaki-tangan Capella. Kemungkinan kembali dari pertarungan antara monster dan manusia bisa disebut terlampau rendah.

Karenanya …

“Kurang tekad bertarung di waktu-waktu seperti ini, bukankah ini akan berakhir?”

“… tak punya apa-apa, yah takkan segitunya sampai aku bilang begitu.”

Terhadap jawaban samar AI, Capella tersenyum tipis.

Sesaat selanjutnya, senyum tipisnya meleleh. Sekali lagi, wujud gadis muda menjadi sepotong daging tanpa bentuk, seperti itulah massa Capella tumbuh secara eksponensial.

Dengan suara berdeguk, Capella menembus batas wujud manusia, semakin besar.

Gadis lembut, wanita penggoda, pria muda galak, petarung serius—tubuhnya tumbuh sangat besar dengan momentum gaib, ruang bawah tanah menggema tawa.

Sejenak kemudian muncul naga hitam yang tubuhnya berbaur bayangan.

“… begitu, bahkan kau bisa berubah jadi naga.”

Mengingat tidak cukup ruangan, bawah tanah jauh lebih luas daripada Balai Kota. Namun bahkan ruangan seperti ini tak bisa dengan mudah menampung tubuh besar naga hitam.

Mendengar suara rendah AI, naga itu menyipitkan mata keemasannya, dan Capella membuka mulut ibarat menanggapi AI. Dari mulut tersebut, datang napas panas tanpa ampun.

“—ahk.”

Napas api nampaknya menyulut udara bawah tanah, seketika cahaya putih menghampiri AI.

Mantra yang sepenuhnya diungguli suara deru, menciptakan dinding bumi dalam lingkup napasnya. Akan tetapi, dihadapkan suhu maha panas, dindingnya bahkan gagal membangun pertahanan sementara lalu runtuh oleh panas—namun tujuan AI bukan itu.

“Gah, huuh—”

Rahang naga hitam melepaskan napas, ditabrak dinding bumi yang tiba-tiba naik. Mulut yang menghasilkan napas terpaksa ditutup, malahan api sang naga hitam menghanguskan tenggorokannya sendiri.

Sekalipun begitu, api yang naga hitam ludahkan sebelum dicegat terus membakar. Punggungnya yang mencoba melepaskan diri dari jarak panas, nyala api hijau mendekat—

“Sial! Dona! Gah!?”

Merapal di samping bau terbakar, dinding bumi mendadak menabrak sisi samping AI. Memanfaatkan momentum ini, AI meluncur ke kanal terdekat dengan punggung penuh api. Kemudian seketika punggungnya menyentuh permukaan kanal, mantra lain membuat dinding bumi lain, menerbangkannya dari air.

“—siaaalll!”

AI yang basah kuyup terbang dari kanal. Sepintas, cakar pisau cukur naga hitam menyapu dasar kanal. Melempar buih-buih air, dinding yang mengeluarkan AI dari air, hancur berkeping-keping. Meskipun bermanuver mengelak, serangan ganas menuju AI berlanjut, selagi dia terus-menerus menghindar, menghindar, menghindar.

Memanfaatkan gerakan ajaib untuk mengelak dalam ruangan kelewat kecil ini, menahan serangan dari belakang yang semestinya tak terlihat, sihirnya melengkapi kekurangan kemampuan tubuhnya, sebab ia terus-menerus menghindari serangan fatal.

“Gyiiiiii!”

“Do, Do, Do, Donaaa!”

Naga yang sekarang tak sabaran memutar tubuh raksasanya, ekornya menyapu ke bawah.

Dihadapkan angin melengkung yang menghantam berkali-kali itu, AI menggunakan banyak mantra untuk membuat lima dinding bumi ke depan—sesudah mengurangi ancaman serangannya sebisa mungkin, Pedang Naga Biru digunakan tuk menangkis serangan merusak, tiarap dan berguling beberapa kali di tanah sebelum tetap berjongkok.

Gerakan memutar dramatis memperkecil jarak keduanya, dan AI berdiri dengan menyangga Pedang Naga Biru. Namun demikian, serangannya beleum diimbangi sepenuhnya.

Tergesa-gesa melewati celah di bagian bawah helm memiringnya, muntah besar tumpah-ruah.

“Kuuh, kuuh … sial, kali ini di pihak korban … betulan tidak beruntung …!”

“Ta~k terlihat seperti itu, sih. Mempertimbangkan kemampuanmu, ada semacam kebodohan tak dimengerti soal teguh berdiri bersama sekutu …”

Menghadap AI yang mendesau mengenai situasinya saat ini, sang naga hitam Capella memberi pujian tidak jelas.

Bahkan menurutnya sendiri, pertarungan defensif habis-habisan AI terdapat semacam perasaan salah mengganggu. Serangan yang mestinya tak terbaca, pengejaran yang harusnya tidak diperkirakan, AI menggunakan kemampuannya sendiri untuk bertahan hidup selama mungkin—seolah dia telah lama tahu pilihan-pilihan itu.

Tetapi, tidak ada waktu luang untuk mencecar pemikiran kosongnya saat ini.

Adapun alasannya …

“… bukannya ini, sedikit berlebihan?”

Alasan Capella yang mengangkat kepalanya berkata demikian, disebabkan getaran samar yang ditransmisi dari permukaan tanah—selanjutnya, suara pembawa bencana datang dari Balai Kota yang terus-terusan mengalami kerusakan.

Pondasi rangka yang telah mengalami banyak pertempuran besar telah menderita banyak kerusakan, dan lagi pertarungan yang terjadi di bawah tanah memberikan pukulan terakhir pada pondasinya. Alhasil, lubang untuk menjebak Capella biar jatuh secara bertahap melebar, dan retakannya menyebar tak hanya di lantai tetapi di seluruh bangunan.

Kejadian setelahnya, bahkan anak kecil pun bisa menarik kesimpulan—runtuh.

“Berhenti bercanda! Kalau wilayah ini dilepas aku bakal mati beneran!”

Melihat sebagian lantai jatuh jauh dari atas, AI berdiri sambil kesakitan, langkah mati-matiannya melompat menuju kanal mengalir.

Bersama suara air, tubuhnya menjauh mengikuti kanal bawah tanah. Dan Capella melihat kepergiannya dalam wujud naga hitam selagi menatap langit-langit yang berangsur-angsur runtuh.

“Ya~p, ketertarikanku mulai merosot. Capek main-main, jadi lupakan saja deh.”

Gumamnya serasa lesu, naga hitam menguap.

Seperti itulah, pemandangan paling langka di dunia yang tak terlihat seorang pun, terkubur di bawah puing-puing arsitektur runtuh.


“—uh.”

Di tempat reruntuhan, menggema suara dengung lirih.

Suaranya mengiringi puing-puing yang disingkirkan, beberapa batu yang seidkit lebih besar berguling turun dari gunungan puing. Berkat dampak runtuhnya gunung ini, serta celah dari reruntuhan, tangan putih menjulur.

Seolah-olah mencari sesuatu, lengan kurus tersebut buru-buru menyerang gunung puing dan menurunkannya sedikit-sedikit.

Beberapa menit selanjutnya, akhirnya berhasil membebaskan diri dari gunung kehancuran, dialah Felix yang pakaiannya compang-camping.

“Uhuk, uhuk.”

Selagi batuk, Felix meludahkan tanah dan darah dalam jumlah besar.

Pasirkah atau darah yang tersisa di celah antara lidah dan giginya. Yang mana pun, sama sekali tak berarti bagi Felix. Saat ini dia hanya ingin kumur-kumur.

“Tidak disangka Balai Kota runtuh. Ini namanya, kematian sia-sia lain …!”

Felix menggunakan bagian dalam pakaian kotornya untuk membersihkan darah dari wajahnya. Menyeka yang kotornya sedemikian rupa akan mengembalikan wajah bersih dan imutnya.

Di tengah reruntuhan tak terbayangkan yang baru beberapa menit lalu bangunan lima lantai, kini dalam keadaan siap menghancurkan manusia sampai mati yang tanpa persiapan bertahan.

“Sesuatu seperti itu … benar juga, Anastasia-sama!”

Telinga kucing menegak naik, Felix meneriakkan nama dia sembari melihat-lihat sekelilingnya.

Menjadi sukarelawan tuk tampil menggantikan Crusch, membantu pertarungan berbahaya ini dengan beraksi sebagai umpan adalah Anastasia. Sukses menghadapi penyergapan Kenafsuan sesuai antisipasi, sekalipun hasilnya dipaparkan sebagai tragedi. Namun, kolaborator tetap kolaborator.

Dalam situasi penting menentukan Anastasia mati atau tidak, juga tingkat kewajiban emosionalnya kepada Julius.

“Misal dia sepertiku, dia langsung ditindas sampai mati …”

 Melihat-lihat, memulai pencarian di antara puing-puing terdekat. Begitu bangunannya mulai roboh, Anastasia bersama Felix ada di ruangan yang sama.

Keruntuhan mendadak di bawah kaki mereka, seumpama Anastasia terjebak tanpa persiapan apa-apa dia bakal berakhir serupa. Setidaknya andai Anastasia tak mati instan, selama bisa menjadi sasaran sihir penyembuhan Felix, Anastasia akan aman-aman saja.

“Satu balasan akan membuat pencarian ini jauh lebih gampang!”

Hal-hal bertipe pencarian dan penyelamatan, tidak cocok dilakukan lengan ramping Felix.

Meskipun membantu yang terluka adalah keahlian spesial Felix, tapi Felix tak cocok untuk pekerjaan yang bukan menyembuhkan. Bahkan sebab kurangnya informasi yang didapatkan dari Kenafsuan, Felix merasakan kerja keras yang belum pernah terjadi sebelumnya, tepatnya saat ini.

“Ah, Felix, kau pun baik-baik saja.”

“—!”

Suara langkah kaki yang menendang puing-puing menghampiri, Felix yang melompat seakan kaget berbalik dan melihat sosok sendirian. Menarik-narik rambut yang diwarnai hijau, Anastasia yang dicari-carinya sedikit tersenyum.

Keliman pakaiannya yang kelihatan sulit bergerak bergoyang-goyang, langkah pelannya mendekati Felix.

“Anastasia-sama, Anda tidak apa?”

“Seperti yang kau lihat. Malahan, kita yang sepatutnya bilang begitu. Kau, Felix, alhamdulillah kau muncul tanpa terluka dari keruntuhan itu.”

“Itu …”

Biarpun secara tegas dia tak terluka, Felix menekan jawaban naluriahnya. Tak wajib menjawab, apa pun itu takkan bermanfaat topik menyenangkan. Menutup mulutnya tanpa jawaban, Felix di seberang Anastasia mengamati puing-puing dan pemandangan runtuhnya Balai Kota.

“Memberi tahu semua orang tuk pergi menuju selter dahulu, beneran keputusan sangat benar. Ini, kejadian cukup besar terjadi.”

“Kejadian besar terjadi …”

Anastasia mengerutkan kening ibarat terlihat bermasalah, dan Felix mengamati sekelilingnya.

Anastasia menyebutnya kejadian besar, bisakah mengatakannya setenang itu dalam keadaan ini. Sekalipun menyebutnya kejadian besar tak salah, rasanya bagaikan kehilangan sentuhan serius.

Apalagi penyebab keruntuhan ini persisnya—

“Menurutku, penyebabnya adalah pertarungan bawah tanah antara AI melawan Kenafsuan …”

“…”

“Terkubur sepenuhnya, menggali mengeluarkan mereka seperti ini bakal sedikit sulit. Kalau mereka berhasil masuk kanal bawah tanah, pikirku ada kemungkinan mereka kabur hidup-hidup …”

Tentu saja, dalam hal ini kemungkinan kelangsungan hidup Capella pun perlu dipertimbangkan.

Sebagaimana pengamatan Felix, kapasitas regenerasi Capella melampaui imajinasi manusia. Setengah wajahnya dihancurkan sihir Anastasia, tak memedulikannya sama sekali betul-betul aneh. Sama seperti hidup Felix berlanjut setelah melarikan diri, sepatutnya bukan hasil konstitusi tak wajar.

“Ngomong-ngomong, Anastasia-sama belajar sihir dari mana?”

“… itu, ada hubungannya?”

“Karena saya dengar Anda tidak bisa bertarung, mau bagaimana lagi saya merasa sedikit heran.”

“—topik ini, saya pun ingin tahu soal ini.”

“…”

Anastasia terdiam menanggapi pertanyaan Felix, tepat ketika itu suara orang ketiga bergabung.

Di depan dua orang yang menolehkan kepalanya, AI basah kuyup menendang puing-puing. Memutar kepalanya biar air mengalir keluar dari lubang helmnya, dia menghampiri.

“Baguslah melihatmu baik-baik saja. Lompatan sukses ke kanal?”

“Tiga kali terpikir saya mau mati. Eh, tidak berarti bermakna ujung-ujungnya. Lebih pentingnya lagi, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.”

Anastasia menghadap ke depan menyambut kembalinya petarung berjasa, tetapi AI menghunuskan Pedang Naga Birunya seraya bicara. Ujung bilah terhunus juga, Anastasia sendiri mengerutkan kening.

AI dan Anastasia berdiri saling berhadapan, dan Felix terjebak di antara keduanya.

“Tentang ini, niatmu sebenarnya apa? Kalau ini candaan maka aku tak tertawa.”

“Bukan berarti suasana hati saya lagi pengen bercanda. Kesampingkan saudara bertelinga kucing saat ini, saya sangat-sangat tak bisa tenang karena Anda selamat dari keruntuhan ini. Ditambah lagi …”

“Karena ada rencana cadangan. Menyembunyikannya memang salahku, namun sebab itulah aku tak bisa menerangkannya jelas-jelas …”

“Tentu bisa dibenarkan. Masalahnya tingkah Anda. Nyaris tidak kesampaian melarikan diri dari bangunan runtuh, kemudian bercakap santai dengan wajah tak asing di atas reruntuhan …. Dari sikap Anda rasanya ekspresi serta perasaan Anda tak sesuai situasi. Tahukah kami menyebut apa orang-orang yang bisa bercakap seperti itu.”

“…”

Mengenai AI yang mempertahankan hujan pertanyaan, Anastasia berhenti menjawab. Tetapi raut wajahnya membeku menjadi senyum licik.

Tepat di depan Felix, AI bicara dengan kalimat klarifikasi pasti.

“Orang-orang semacam itu, kami menyebutnya Penyihir.”

“… masa, bukannya penggantian frasa itu sedikit berlebihan.”

Cara respons terlalu filosofis, mengesankan lelahnya perasaan.

Senyum licik pudar, yang muncul sesudahnya adalah senyum kosong yang nampak tampilannya saja. Ibaratnya gerakan kulitnya tidak langsung diarahkan ke orang lain, tetapi menuju diri sendiri seolah mencela perorangan.

“Pengalamanku, Penyihir sama sekali bukan istilah yang digunakan untuk hal baik.”

“Mungkinkah kesan Anda saya memberi salam ringan? Kesan pertama Anda benar, dasar rubah penipu.”

“Ada apa?” tanya Felix.

Kesan dua orang yang sudah saling memahami—melihat Anastasia dan AI yang sudah mengubah cara bicaranya, Felix mencari kesempatan menyela. AI memblokir Felix dengan aksi bahu kiri tanpa lengan, pandangannya masih tertuju pada Anastasia.”

“Keknya, nona masih kelihatan seperti nona tapi dalamnya beda. Rubah berwatak jahat menggantung di leher … Echidna dalam diri beliau.”

“Hasil ini mengutamakan keselamatan hidup Ana, namun hasilnya saja yang berakhir seperti ini. Urusan yang diperbincangkan setulus ini, seakan-akan aku punya niat jahat menyedihkannya bukan main.”

Terhadap kata-kata permusuhan AI, Anastasia—Echidna menampakkan ekspresi kesulitan seraya menjawab. Lalu AI membersihkan tenggorokan dalam helmnya dengan, Hah.

“Orang yang menggantikan orang lain tak sepantasnya bicara seolah dia benar.”

“Menggantikan atau tidak itu sungguh kesalahpahaman. Asal gagasan itu dari mana?”

“Langsung dari aksen palsu Kararagimu, pura-pura melewatkannya harusnya jadi cukup bukti. Sayangnya saja, sifat asli Penyihir yang tak dipahami manusia telah aku ketahui.”

“Bertingkah lebih baik sedikit! Kalau seperti ini entah selama apa kita bicara topiknya takkan berkembang!” teriak Felix.

Pada tanggapan rinci sistematis AI kepada Echidna, Felix akhirnya meledak.

Sekalipun informasi perihal situasi yang dihadapi AI memang dapat dipercaya, yang terpenting sekarang adalah urusan tubuh Anastasia. Tubuhnya sekarang, telah dikontrol Echidna.

“Pertama-tama, Anastasia-sama baik-baik saja? Bukan semata-mata melindungi tubuh beliau, tetapi kesadaran beliau terbang entah ke mana?”

“Bukan itu yang terjadi. Bukan karena Ana tak sehat dalam jiwa dan raganya. Sebab jika bukan gara-gara itu maka tak perlu menggunakan teknik terlarang.”

“Teknik terlarang?”

“Mengacu pada kondisinya di sini. Karena gerbang Ana sedikit rumit. Gerbangnya tidak dapat digunakan secara sendirinya. Biarpun aku wakili, bebannya masih terlalu berat. Seperti itulah.”

Mengelus dada kurusnya, Echidna membuat raut wajah Anastasia suram.

Sekalipun AI masih menyangga pedangnya dengan gerak-gerik tak toleran, Felix mencegat paksa ujung mata pedangnya seraya melanjutkan percakapan dengan Echidna.

“Terus kenapa kau pura-pura jadi Anastasia-sama, untuk berkomunikasi sama kami?”

“’Kan lebih wajar untuk tak menyapa ketika melihat sekutumu baik-baik saja? Pura-pura menjadi Ana sendiri, biar mencegah kalian melihat kelemahan kami. Persis sebagaimana perkataanku, tubuh Anastasia sangat tak stabil. Lantas aku ingin menyembunyikan fakta dia sudah menyatu bersamaku … kemudian ketahuan juga.”

“Julius pun … tak tahu kemampuan ini. Lagi pula dia bahkan belum tahu keberadaanmu sebelum ini. Niatmu perihal ini apa?” tanya Felix.

“Itu masalah antara Ana dan Julius, juga Iron Fang pula. Perkara pertanyaanmu, rasanya tidak wajib menawarkan spekulasi.

Segalanya telah dihaluskan. Perasaan tak sesuai yang dirasakan Felix dari Anastasia di atas gunung-gunung puing pula, asal semuanya dari dalam diri Echidna yang balasannya tak cukup intuitif.

Selain fakta sihirnya telah melindunginya, fakta juga bahwa tubuh Anastasia memang dilindungi dari bangunan runtuh—dari dua poin ini, keraguan Felix sebelumnya hilang

“Biarpun orang di sana itu kesannya masih tak berkenan menurunkan senjatanya?”

“… cih.”

Seperti permintaan Felix, AI mendecakkan lidah saat dengan enggan menyarungkan Pedang Naga Birunya. Sesudah melihatnya, Felix sekali lagi menatap tubuh memar dan babak belur AI.

Luka bakar serta goresan, nampak benar-benar terluka.

“Baiklah, biar aku periksa dan akan segera sembuh. Uwah, yang tertangkap di sini adalah …! Hyah, tebasan ini, ajaib banget kau tidak mati karena itu?”

“Batas kemampuanku adalah mengubah luka fatal menjadi serius. Biarpun sebaiknya aku tak kalah pertaruhan … yah, terserah deh.”

“—?”

Felix memiringkan kepala, telapak tangan Felix bahkan memperbaiki fakta AI terluka.

Yang bisa dibilang berkat khasiat penyembuhan cahaya biru dan putih, sekejap mata banyak luka di tubuh AI sudah sembuh. Setelah AI memastikannya dia mengucapkan terima kasih.

“Aku sendiri, dan nona juga akhirnya selamat. Tak salah lagi Kenafsuan bangsat itu pasti masih hidup. Tidak ada yang bisa istrirahat tenang meski sedalam apa dia dikubur puing-puing.”

“Soal itu.”

Mendengar peringatan AI, Echidna mengangkat tangan. Cermin Konversasi dia pegang, tangan satunya dia ketuk pelan permukaannya.

“Sebenarnya sampai bangunan runtuh, Cermnin Konversasi berhenti membuat suara apa pun.”

“Kudengar. Kenafsuan … atau tepatnya Kultus Penyihir? Dalam Kultus Penyihir sepertinya ada semacam cara untuk melumpuhkan perangkat sihir. Kira-kira itu menekan komunikasi dengan siapa pun di luar …”

“Kupikir begitu. Hanya saja, jika Uskup Agung Dosa Besar yang menyebabkan itu dia semestinya melarikan diri sekarang.”

“… berputar-putar.” tutur AI.

“Maaf, itu kebiasaan. Dengan kata lain, fungsi Cermin Konversasi telah dipulihkan.”

Mendengar kata-kata tersebut, AI dan Felix sama-sama terkejut.

AI kaget karena Cermin Konversasi bisa menjangkau orang lain. Namun Felix terheran-heran pada penyebab kegagalannya dan menghilangkan kemungkinan penyebabnya.

“Maksudmu apa? Kenafsuan sudah tidak menganggu … artinya dia mati?”

Monster yang tanpa henti membualkan kemampuan regenerasinya, mati gara-gara terkubur puing-puing betulan tak dipercaya. Sebagaimana perkataan AI, lagian ketiga orang yang hadir di sini masih hidup.

Perihal monster abadi yang vitalitasnya istimewa, yakin dia bakal mati seperti ini beneran terlalu sulit. Bila ada pertimbangan selain kemungkinan ini—

“Terluka sampai mengganggu pekerjaan. Atau gangguannya sendiri dimaksudkan agar kita ceroboh …”

“Itu, rasanya agak tak sesuai dengan karakter mengerikannya …”

“Memang, aku pun berpikir begitu. Harusnya lebih berani ketimbang bersembunyi saja … Kek, mewujud menjadi salah satu dari kita bertiga di sini? Karena yang aslinya sudah mati, sepenuhnya menggantikan eksistensi itu. Jelas merupakan taktik yang akan dinikmati Kenafsuan.”

Spekulasi Echidna membuat Felix merinding.

Mengingat kejadian sebelum kehancuran, monster tersebut mengambil wujud identik dengan Crusch. Langsung melihat transformasinya, tak salah lagi dia palsu. Tentu saja walau dia menjadi Crusch, Felix yakin dia tahu seluk-beluknya, tetapi dua orang ini masalah lain.

Kemungkinan ini, membuat istrirahat Felix jadi sakit. Akan tetapi …

“Jangan suka mengatakan hal-hal membingungkan, sifatmu jahat banget. Kurang reaksimu memperjelasnya. Tentu Capella balik badan terus kabur. Pergi setelah bosan main, dia seperti itu saja.”

“Mengatakan sesuatu tanpa dasar atau alasan begitu …”

“Sebelum dihancurkan, monsternya menunjukkan ekspresi tak tertarik. Itulah alasannya.”

AI-lah yang menghadapi Capella sampai akhir.

Jika lawannya adalah manusia lain, kesimpulannya bakal sangat mencengangkan, tetapi bila lawannya adalah Uskup Agung yang tak menjunjung akal sehat standar. Tentu saja mengasumsikan tidak adanya peringatan.

“Lebih pentingnya lagi. Seandainya Cermin Konversasi tidak berfungsi, tidak bisakah mengontak putri? Itu yang terpenting. Cepat bantu aku menghubungkan.”

Tim yang meninggalkan Balai Kota bersama Cermin Konversasi adalah tim Wilhelm-Garfiel dan tim Priscilla-Liliana. Awalnya, AI semestinya menjadi bagian tim Priscilla tetapi perintah tuannya adalah menetap bersama tim yang tertinggal. Pikiran ingin memastikan keselamatan tuannya itu wajar.

“Aku mengerti. Tidak usah terburu-buru begitu … hmm?”

Menenangkan AI demikian, Echidna yang memegang Cermin Konversasi mengerutkan dahi.

Tepat seketika Felix mengintip hendak bertanya apa yang terjadi setelah melihat reaksi tersebut, Cermin Konversasi di tangan Echidna perlahan-lahan mulai memancarkan cahaya redup—Indikasi membangun koneksi dengan Cermin Konversasi lainnya.

Cahaya yang bersinar dalam Cermin Konversasi itu adalah—

Catatan Kaki:

  1. Daruma (だるま atau 達磨) adalah boneka sekaligus mainan asal Jepang dengan bentuk hampir bulat, dengan bagian dalam yang kosong serta tidak memiliki kaki dan tangan. Model dari benda ini adalah Bodhidharma, pendiri dari Zen. Boneka ini merupakan pembawa keberuntungan dan lambang harapan yang belum tercapai. Daruma dijual dengan kedua belah mata yang belum digambar. Orang yang ingin harapan atau cita-citanya terkabul menggambar salah satu sisi dari kedua matanya dengan kuas dan tinta. Bila harapan orang tersebut sudah tercapai, daruma akan menerima mata yang satunya lagi.

4 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 61”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *