RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 60

Posted on

Satu Akhir, Satu Pertempuran

Penerjemah: DarkSouls

Pemandangan cahaya putih.

Cahaya lembut nan hangat yang menenangkan hati seseorang.

Menyambut paginya hari dengan suasana hati tenteram yang telah lama tak hadir.

Selalu terbangun dalam keputusasaan, setiap harinya mimpi buruk tiada akhir, tak pernah ada sejejak pun kedamaian.

Sedikit demi sedikit mulai sungguhan yakin bahwa selalu dan senantiasa, kegelapan ini takkan pernah mengantarkan matahari pagi.

Justru karena inilah, barangkali sinarnya sangat menyegarkan.

“—hei, bangun.”

Mendengar suara seseorang.

Di luar cahaya putih, seseorang memanggilnya. Dipandu suara itu, dibimbing tangan itu, meninggalkan kegelapan ini.

Cahaya putih tersebut terlihat sekilas di kejauhan, akhirnya menyelimuti seluruh penglihatannya.

“Selamat pagi. Kau mau semengantuk apa, waktunya bangun, tahu.”

Membuka mata dan menatap seorang gadis berambut perak pemalu yang tertawa-tawa seraya mengatakannya.

—kata-katanya membuat pipi Sylphy ternoda air mata.

Cahaya biru langit membanjiri cakrawala, seketika es menawan terangkat.

Es yang menelan gerja setengah hancur berangsur-angsur berubah menjadi cahaya, mana menyebar dilingkari roh-roh kecil lalu menghilang.

Melihat fantasi tak terduga disusul fantasi tak terduga lain, mengukir luka menyakitkan di hati para penonton.

Meskipun tidak aneh jika meneteskan air mata terhadap pemandangan semacam itu, alasan mereka menangis dan meratap, tentu karena sesuatu lebih besar dari itu.

Dari sesuatu yang mengambil alih kehidupan mereka, mimpi buruk yang mengikat masa-masa hidup paling cemerlang dan gemerlapan—darinya, mereka telah dibebaskan.

“Ngomong-ngomong, Emilia-tan sangat menakjubkan.”

Bibir melonggar tanpa sadar, Subaru bergumam linglung.

Di depan matanya ada Emilia dan para pengantin menempel padanya sambil menangis-nangis—mantan para pengantin dalam kondisi sehat walafiat.

Jumlah wanita bergaun tepatnya ada lima puluh, tak salah hitung satu pun.

“… pas aku beri tahu jantung dia dan para pengantin menyatu, kukira tidak ada cara buat menyelamatkan para pengantin tanpa membunuh mereka.”

Merenggut nyawa pengantin-pengantin wanita, menyerahkan Lion’s Heart tanpa tempat untuk diletakkan. Sebagian Subaru serius menyerah mencari cara lain tuk menghentikan pria menjijikkan itu. Dia sudah siap pada munculnya korban.

Akan tetapi, tak seperti Subaru, Emilia belum menyerah.

Memang benar dalam pertempuran sengit dan mempertaruhkan nyawa melawan Regulus, pikirannya telah terhenti. Namun, Emilia tidak berhenti berpikir.

Dengan semua kemampuan, juga mempertimbangkan sesuatu yang mungkin bisa dilakukannya, Emilia beraksi.

Karenanya …

“Kali ini, Emilia-tan benar-benar menggendong kami, ya.”

“Itu, tidak seperti itu.”

Mendesau napas lelah, di sebelah dinding, Subaru bergumam sendiri. Mendengar napas leganya, Emilia kembali ke sisi Subaru. Gaun putihnya sobek, rambut peraknya yang mengatasi perjuangan hidup-mati telah berantakan.

Walau demikian, kini setelah pertarungan berakhir, Emilia terlihat cantik.

Pikirannya menghirupnya, Subaru menyentak dagunya.

“Orang-orang itu juga, wajah-wajahnya penuh ekspresi tak puas yang gagal menyampaikan rasa terima kasih mereka pada Emilia.”

“Jangan manfaatkan aku jadi bahan candaan. Dan aku, tidak bisa menjelaskan beberapa ideologi besar kepada mereka. Walau hanya sebentar … pilihan bunuh diri dipaksakan ke mereka.”

“Tapi tidak ada yang mati. Semuanya masih hidup—Poin ini lebih penting dari poin lain.”

Hasil ini, lebih sempurna dari yang lainnya.

Seusai menemukan jawaban yang dicari-carinya, Subaru merasa lega. Emilia menyentuh pinggulnya, lalu berteriak selagi bicara sama Subaru yang masih menganggap rendah dirinya dan lalu menyepelekan dirinya.

 “Terluka di mana-mana, memaksakan dirimu begitu … misalkan Subaru tak berusaha sangat keras, semua orang takkan berhasil sejauh ini. Lion’s Heart juga, semua berkat Subaru yang menyadarinya.”

“Kekurangan kartu truf itu hal biasa …. Pokoknya, selama ini rasanya tak enak. Tapi, alhamdulillah aku sadari. Membekukan para istri, membuat mereka mati suri.”

“Aku pun kelamaan membeku.”

Hehe, Emilia menjulurkan lidahnya sambil merasa demikian. Imut.

Biarpun, entah kenapa, konten ini sepertinya bukan untuk didiskusikan sambil tertawa.

Maka dari itu, tindakan Emilia dan kehendaknya tuk menjatuhkan Regulus, telah menghasilkan efektivitas terbesar tanpa pengorbanan tak perlu.

53 nyawa berharga para istri telah diselamatkan.

“Walaupun soal bisa aku lakukan atau tidak, aku agak kurang percaya diri.”

“Tapi ujung-ujungnya masih dilakukan. Emilia-tan, berusaha keras demi meningkatkan keterampilan dan kekuatanmu sendiri.”

“Tapi, kemungkinan mereka tetap membeku seperti ini juga ada. Membebaskan semua orang dengan sempurna seperti inilah yang akhirnya mengizinkanku rileks.”

Selanjutnya seolah-olah menyembunyikan senyum malu-malunya, dia menyentuh dada.

Di bawah telapak tangannya tersebut, rupanya memastikan hanya ada detak nadi dan jantungnya.

“Dan lagi, kalau Subaru tidak menghilangkan jantung Regulus dari dadaku, aku perlu menggunakan sihir yang sama pada diriku. Alhasil, antara Sylphy dan yang lainnya atau diriku sendiri, kurasa lebih buruk daripada meleleh seperti ini. Karena bisa memakan waktu seratus tahun lagi.

“Itu lagi—kau anggap bagaimanapun bukannya itu berlebihan?”

“…”

“Jadi ini tidak berlebihan!? Atau lebih buruk, bukannya ini ekstrimis tiada bandingnya!”

Melihat Emilia yang diam dan tersenyum pahit, Subaru merasakan kejutan tajam.

Sebab provokasi Regulus, Emilia ingin menghentikan efek Lion’s Heart padanya. Andai Emilia tidak ditangani, andaikan situasinya tidak diurus dengan benar maka bisa jadi Emilia akan berpisah dari kehidupan ini. Tentu saja, anggapan mencari cara tuk melelehkan es demi menghindari kejadian ini masih ada.

“Sesuatu kek dua wanita cantik sedang tertidur, iblis berbisaku bukan biasa-biasa saja, tolong maafkan aku.”

Kendati mengeluh, hati Subaru menenang.

Bagaimanapun, Emilia telah diselamatkan hidup-hidup, dan para istri telah dibebaskan tanpa luka. Sekalipun pertempuran melawan Regulus telah menghasilkan skala kehancuran di luar kesanggupan lawan—singkatnya, pihak mereka kurang lebih tidak mengalami kerugian.

Biar begitu, daging Subaru mengemban segala jenis beban, sekaligus takdir tak penting dengan Kultus Penyihir.

Selain itu—

“Reinhard, pergi tanpa mengobati lukanya, aku penasaran dia akan baik-baik saja atau tidak.”

Kepada Subaru yang tenggelam dalam pikirannya, Emilia mendadak bicara demikian.

Kepala Subaru terangkat, tangannya melambai.

“Tak apa, karena orang itu, biarpun pergi membiarkan luka-lukanya selama roh-roh kecil ikut dan merawatnya. Dia sendiri bilang begitu.”

“Ah, masuk akal. Awalnya ada cukup banyak roh-roh kecil di sini, tapi begitu Reinhard pergi, semuanya pergi pula … Reinhard mungkin punya bakat menjadi spiritualis.”

“Profesi sesuaiku nanti sungguhan tamat, jadi tidak mungkin begitu!”

Lalu perihal keadaan Reinhard, bahkan tanpa hal semacam itu, dia sudah cukup kuat. Kendatipun orang yang melempar Regulus untuk ditangani Reinhard adalah Subaru sendiri, sikap Reinhard dalam pertarungan yang sama saja duel terakhir, maka dingin, adalah gambaran sikapnya dengan satu kalimat.

Bisakah manusia, dengan gampangnya melompat ke atas awan. Walau mereka tidak dapat dianggap manusia, mereka semua kesatria kandidat Pemilihan Raja.

“Emilia-tan, mungkin aku ini lemah, tolong jangan buang aku.”

“—? Aku, lebih-lebih lagi mengandalkan Subaru?”

“Masa! Baiklah! Mulai dari sekarang sampai ke depannya aku pun akan berusaha paling keras!”

“Maaf, kerja keras mendadakmu sedikit membingungkan …”

Bagaimanapun, sebaiknya berhenti membandingkan ini dengan itu. Sehingga, sama saja dengan Regulus yang tak bisa melakukan sesuatu dengan tenang tanpa menggunakan orang lain sebagai titik referensi.

Meski dia disangka seorang pria tanpa kelebihan mengagumkan, tetapi wataknya diperlakukan sebagai referensi negatif berhasil dengan baik.

“… semuanya, apa mereka rukun?”

“Karena itu Reinhard dibawa. Jujur saja, sebab semua orang itu lebih kuat ketimbang aku.”

Untuk percaya satu sama lain, lebih tepatnya bergantung satu sama lain, ekspresi canggung yang dikenal sebagai Kepercayaan adalah yang paling cocok.

Sekalipun dari fraksi berbeda yang suatu hari kelak akan berkonflik dalam perebutan takhta, Subaru masih percaya pada mereka. Meskipun ada variasi kepribadian, kemampuan, dan kepercayaan.

Setidaknya, Subaru percaya dia takkan kalah dari orang-orang tercela nan menyedihkan Kultus Penyihir.

“…”

Terlebih lagi, jika ada yang gagal, sekiranya nyawa orang-orang penting—bisa dibilang sampai Subaru perlu mempertimbangkan untuk menggunakan Return by Death. Kontrak dengan Roswaal, seumpama tak eksis, selama masih ada sedikit peluang keselamatan, mereka pasti akan diselamatkan.

Rasa sakit dan penderitaan memang layak dibenci Subaru.

Tragedi tentu saja termasuk, bahkan lebih pantas untuk rasa muaknya.

“Subaru.”

“…”

Tidak tahu Subaru lagi menimbang-nimbang kematian, Emilia membungkuk dari samping Subaru yang lagi duduk.

Tubuhnya bersandar di bahu kirinya, sembari membelai lembut kepala menunduk Subaru. Gatal banget. Tapi, sulit berpisah darinya.

“Emilia-tan?”

“Saat ini, perasaanku sama seperti Subaru. Walaupun aku mencemaskan semua orang, kekuatanku sendiri habis dipakai. Bahkan menolong saja mustahil. Jadi aku pun, biarkan aku berdoa bersama Subaru? Harapannya, semua orang akan aman-aman saja.

“…”

“Tentu takkan ada masalah. Karena semua orang dibandingkan kita, itu sangaaaaat kuat, sangaaaat pintar, sangaaaat pekerja keras.”

Agar Subaru yakin, Emilia hati-hati memperhitungkan pemilihan katanya. Penggunaan katanya terdengar seperti dirinya, Subaru pun bisa rileks.

Percaya. Mempercayai semua orang. Juga Reinhard yang sudah berangkat.

Langsung setelah mengalahkan Regulus, Reinhard pergi untuk membantu rekan-rekannya. Medan perang yang dihadirinya takkan mengkhawatirkan.

Tak kehilangan satu orang pun, menyambut pagi mendatang. Karenanya, yang membuat Subaru resah hanyalah satu masalah—

“…”

Di samping Subaru yang menatap langit seolah-olah tengah berdoa, Emilia pun melihat melalui langit-langit gereja hancur tuk menatap langit malam. Ibarat mencegah Emilia melihat-lihat, Subaru mencengkeram erat dadanya.

—ditemani kematian Regulus, rasanya seolah sesuatu tanpa bentuk dan hitam, telah menyelip ke dadanya sendiri, berdenyut-denyut.

Pastinya hal serupa yang terjadi kepada Betelgeuse dulu.

Jadi dia mencegah Emilia menyadari, cuma diam semata.

Berdoa ke surga, cerah datang, hanya diam saja.

—kembali ke waktu-waktu sesaat sebelum Regulus dikalahkan.

Tatkala Subaru dan yang lainnya pergi ke Menara Pengendali, Otto yang menghantarkan mereka kemudian pergi memulihkan Kitab Kebijaksanaan, bahkan terjadi sekitar seperempat jam kemudian.

Itulah saat Otto dan Felt menemui Kerakusan dan mulai bertarung, ketika Garfiel dan Kurgan mendarat di kanal, kala Wilhelm melepas jubah Theresia, sewaktu Julius memberengut sesaat mendengar pidato kebencian yang tak diingatnya, seketika seorang pengantin tengah dipaksa bersandiwara menikah di pernikahan yang hancur setengah, detik-detik kanal utara kota mendadak terbakar sekaligus—adalah momen-momen tatkala Balai Kota yang tersisa non-kombatan di dalamnya telah diserang.

“Kyaha! Waktunya debut wanita cantik ini~!”

Di lantai teratas Balai Kota berlantai lima, kekuatan luar biasa menghancurkan dinding tanpa memberikan perlawanan.

Getaran dahsyat menghancurkan arsitektur jendela, dikombinasikan kerusakan pada fondasi bangunan di hari pasukan Subaru menyerbu telah menyebabkan kerusakan mematikan. Balai Kota Pristella, bangunan yang menjadi pusat kota dalam waktu satu hari telah di ambang kehancuran, tidak enak dipandang.

Akan tetapi, entah ambang kehancuran adalah akhirnya atau tidak, tergantung yang terjadi di sini—hasilnya pun akan ditentukan berdasarkan hasil itu.

“Empat menara sesuai empat gerbang. Mau dibuka yang manapun kotanya tetap akan banjir … tidak boleh tidak bertaruh pada kemungkinan perebutan kembali semua menara. Kendatipun kalian ini daging busuk tak berkenan, kalian masih tetap mengerahkan pasukan, jadi menggunakan kekuatan total kalian tidak boleh juga.”

Lama bertele-tele, suara yang menyerang telinga menjelaskan situasi langsung kota.

Kemudian, suara terbalik bergema.

“Semuanya! Pastikan bertahan hidup, untuk melindungi kota ini!”

“Gunakan kekuatan kita, ayo rebut kembali jalan-jalan indah ini!”

“Kita yang berdiri bersama keadilan takkan mungkin kalah!”

“Kebaikan dibayar kebaikan, dan kejahatan dibayar kejahatan. Pertempuran ini, adalah kemenangan yang kita tunggu-tunggu—!”

Suara tegas seorang pemuda.

Suara pemberani seorang pemudi.

Teriakan tegas seorang prajurit laki-laki yang telah melihat perang, tangisan naif rasional seorang wanita muda yang menyemangati semua orang.

Bagaimanapun, hanya kepolosan kehendak pantang menyerah dan tak kenal malu yang akan membuktikan kalimat wacana keras ini—hanya saja, mulut yang mengatakannya cuma satu.

“Kenapa~, begitu enggan berpikir sedikit saja~?”

Lalu dari satu mulut yang mengucapkan kata-kata efektif ini, laksana mengkhianati semua ucapan sebelumnya, menghina dan mengejek, suara yang sangat berakar dalam kedengkian berbicara seakan tak sadar punya maksud jahat mengatakannya.

Lalu si pemilik suara mendekap tubuh mungilnya ibarat melihat sesuatu menjijikkan dan mulai menggoyang bahu.

“KYahahahahaha! Hentikanhentikanhenti~kan, tolong jangan lakukan ini! Kenapa~ wanita cantik ini tak punya pilihan lain selain menyambut keadilan i~ni yang memancarkan bau yang sama~ layaknya tanah dan keringat? Da~sar daging busuk, kalian semua berkumpul sama-sama biar otak kalian bisa direbus in~dah?”

Mengangkat suaranya tinggi-tinggi, meneriakkan tawa menusuk.

Suara ini tanpa kemampuan sembunyi, tanpa niat menyembunyikan kedengkian, dan asal suara ini dari seorang gadis muda yang belum tumbuh dewasa.

Mata bundar lebar serta bibir tipis halus, rambut pirang tergerai ke bahu dan pipi memerah, ibarat konsep wujudnya imut, wajahnya nampak tak konsisten dengan kilau dan buasnya gadis muda tersebut. Terbalut kain yang praktisnya hanya pakaian dalam, lupa menjadi seorang wanita, bagi gadis muda yang karakteristik tubuh manusianya belum berkembang, pakaian ini masih terlalu terbuka. Manusia normal manapun yang melihatnya akan menyimpan perasaan ngeri jijik.

Gadis muda menakutkan ini—lebih tepatnya, tujuan monster tersebut ada di sini.

Uskup Agung Dosa Besar yang mewakili Kenafsuan, Capella Emerada Lugnica, hadir monster yang tujuannya menghina moral serta martabat manusia separah-parahnya.

“Bahwa kalian dengan delusionalnya percaya wanita cantik ini akan menaati kesopanan, kemudian patuh menunggu di menara itu praktis tidak dimengerti! Berbaik hati sampai mengizinkan kalian~ melewati hari-hari ini, itu sudah termasuk amal~ Yang disebut pertempuran bukanlah tentang membiarkan musuh melakukan hal semau mereka, alih-alih persisnya melakukan~ yang mereka tak ingin kau lakukan. Prinsip semacam ini bahkan dipahami orang-orang rentan yang sama~, dasar daging sampah sampah sampah sampah.”

Di tengah-tengah tutur ejekan kasar tak tertahankan ini, terdapat monster yang hanya manis sosoknya saja, ialah Capella.

Jari-jari monster itu menotol pipi sambil memutar-mutar tubuh, kemudian segera kembali ke wujud manusianya setelah sukses menyusup ke Balai Kota dan memasuki ruangan terdekat—yang menemui Capella di sana adalah kesatria telinga kucing yang tenggelam dalam kata-kata kasar Capella sebelumnya. Juga wanita berambut panjang yang terbaring di platform di belakangnya.

Tempat itu ada di lantai teratas aula, ruangan yang didiami Felix dan Crusch sepasang.

“Kau, Uskup Agung Dosa Besar Kenafsuan …!”

Suara teriakan Felix gemetar murka sembari melindungi tempat tidur selagi memelototi Capella. Capella memiringkan kepalanya ke Felix yang melotot padanya, lanjut memandang tempat tidur di belakangnya dan mengangguk menerima.

“Ah~ okeoke, kebencianmu dipahami. Dia faktanya me~mang kalah sama darahnya. Dari awal harusnya tidak bisa. Me~ski bisa dipercaya, sebetulnya melihat kesalahan ini tentu mengecewakan. Darah Lugnica paling mulia~ menyesatkanku dengan memberi sedikit harapan akan ekspektasinya.”

“Apa tujuanmu memaksakan sesuatu seperti ini ke Crusch-sama!? Mesti melakukan apa untuk menyelamatkan Crusch-sama! Jawab aku!”

Di hadapan Capella yang nampak seperti mendesah lesu alih-alih kecewa, wajah manis Felix berwarna merah marah saat dia berteriak. Kedua tangannya memegang pedang pendek prajurit yang dia bawa-bawa sampai sekarang.

Pedang itu diukir hiasan berbunga dan lambang singa, lebih mirip ornamen hiasan kelas satu daripada senjata perang. Selaras dengan keterampilan belum matang Felix, pedangnya kurang kemampuan untuk melancarkan serangan efektif.

“Itu mainan? Hadiah pentingkah? Yang manapun, menggunakan lengan lemahmu buat mengayunkan barang kek gin~i itu cukup ber~bahaya, gadis kecil … bukan, hmm?”

Capella menjulurkan lidahnya untuk mengejek, memotong kata-katanya di tengah lalu seketika memberengut.

“Uwah, menjijikkan. Eh? Kau~ punya tubuh yang sangat tidak wajar. Jelas-jelas seorang pria tapi tubuh itu …. Sesuatu yang harusnya dihilangkan, kok bisa~ kau menjadi seperti itu. Sekilas dasarnya berbeda dari sekadar ganti pakaian menjadi wanita elok, bukannya wanita jelita ini menghancurkan suasana hatimu sekarang?”

“—ah.”

Bukan hanya langsung tahu jenis kelamin Felix, Capella tampak jijik pada ketidakalamiannya. Monster itu pelan-pelan memeriksa Felix dari atas sampai bawah, terlihat seolah-olah tidak disengaja.

“Cara berpakaian itu, apa buat merayu pria? Bagaimanapun, kegunaannya cuma jadi pengertian betapa tak berartinya~ manusia. Semua pria itu tolol, semua wanita itu lonte, umat manusia seluruhnya sampah … begitulah yang disimpulkan wanita cantik ini dari kesukaannya.”

“Berisik banget! Hentikan hal tak berguna itu … jawab pertanyaanku saja! Kau melakukan apa pada Crusch-sama!!”

“Ah~ sungguh, menyebalkan sekali.”

Di hadapan Capella yang belum berdialog, Felix tak mampu menanggung penghinaan dan sekali lagi meraung marah. Capella yang mendengarnya menyantaikan bahu, sejenak kemudian sosok gadis mudanya menghilang.

“—!?”

Sebelum Felix menarik napas tertegun, tubuh gadis muda itu mulai lenyap dan berubah.

Perawakan pendeknya meninggi bagai sedang dalam mimpi buruk, rambut keemasan cerah mulai berubah warna. Wajah manis menggoda yang akan memprovokasi siapa pun yang ingin melindunginya mulai menegas, pakaiannya yang mirip pakaian dalam berubah menjadi gaun biru.

Sekalipun pernah mendengarnya, proses variation dan change ini masih pertama kali terjadi di depan Felix. Tubuh yang dilepas sama sekali tidak sesuai pendapat orang lain, bebas diubah-ubah sesuka arsitek mimpi buruk ini.

Selanjutnya dihadapkan kejadian ini bak mimpi buruk, Felix membeku kaget.

“Aah, uuh …”

“—apa yang membuatmu kaget begitu?”

Berkata demikian, mengelus rambut hijau panjangnya dengan wajah yang paling disayang Felix.

Sosok Capella yang berdiri di depannya tak bergerak, persis telah menjadi sosok tuan paling dicintai Felix. Membuat wajah Felix pucat pasi, bahkan tangan yang memegang pedang pendek mulai sedikit gemetaran.

“Lihat sebelah sini, keganasan sebelum-sebelumnya betul-betul telah lenyap. Wajah ini, tubuh ini, suara ini, di hadapanmu menjadi seperti sekarang ini.”

Wajah Crusch yang belum pernah Felix lihat sebelumnya telah tertawa, Capella pelan-pelan melangkah maju.

Sampai di samping Felix, berhenti pada jarak Capella bisa saja menyentuhnya jika mengulur tangan. Seakan memikirkan sesuatu, menunjuk pedang pendek yang Felix pegang ke dadanya sendiri.

Ujung pedang terletak tepat di tengah dada besar Crusch.

Maju sedikit pedangnya pasti menembus, itulah posisinya.

“Musuh yang kau benci-benci ada di hadapanmu. Balaskan aku. Rasanya sakit, sakit. Bahkan bernapas saja membuatku menderita. Mata membuka. Yang mengalir keluar dari dadaku bukan darah. Yang mengalir keluar dari sekujur tubuhku rasanya mirip racun. Jadi cepatlah, balaskan aku—Dia bilang begitu, seperti ini tahu~”

“Huuh, huu, huu …!”

Tusuk bilahnya dalam satu tarikan napas, aduk luka-lukanya seukamu dan tarik keluar sekali napas juga. Maka jantungnya akan hancur, denyut nadi berhenti, darah mengalir konstan. Kau bisa membunuhnya.”

Napas Felix mulai mencepat, tatapan mulai jelalatan.

Lebih berharga daripada emas, hidup musuh tuannya sedang ditawarkan di depan matanya. Sebagaimana ucapannya, serangan seperti ini benar-benar dapat efektif. Bisa menghancurkan jantungnya. Membunuhnya.

Akan tetapi, justru karena dia menampakkan wajah kelewat akrab itu.

“Tusuk, tusuk, tusuk, tusuk, tusuk, tusuk.”

“…”

“Tusuk—!”

“Uuh, aaaahh!!”

Diperintahkan ibarat dikutuk, pedang pendek Felix menusuk dada itu.

Bilahnya dengan mudah menusuk tubuh tersebut, menjangkau ke antara tulang-tulang tuk menghancurkan jantung di dalamnya. Dengan putaran bilah tajam, terdengar suara keras otot terputus, akhirnya bersamaan dengan darah yang menyembur keluar, pedang pendeknya dicabut.

“Ha, hah.”

Felix berusaha menghindar agar tak ternodai darah yang memancar, mundur dengan napas terengah-engah. Pedang pendeknya tergelincir lepas dari tangannya dan jatuh ke lantai, lantainya dibasahi tetesan darah.

“Hah, kah.”

Kemudian, Capella yang dadanya ditusuk berlutut di tanah, meludahkan banyak darah dari mulutnya.

Penampilannya masih memasang rupa Crusch, wajah sakit ternoda darah, mata kuning penuh ketidakpercayaan menempel pada Felix.

“Sakit, sakit …. Kenapa, kenapa kau melakukan sesuatu seperti …”

“Kau, kaulah yang membuatku menusuk …! Membuatku, melukai Crusch-sama!”

“Tidak enak banget, teramat tidak enak …. Terlampau tak termaafkan. Meskipun jelas bilang menyukaimu, mencintaimu … jelas saling mencintai …”

“—! Jangan bilang hal konyol! Hubunganku tidak seperti itu dengan Crusch-sama!”

“Ah, demikiankah? Kalau begitu, penafsiran naskahnya melenceng~”

Dengan ekspresi jujur, Capella menggunakan lengan bajunya untuk menyeka darah di wajahnya sambil berdiri.

Santainya menyeka luka di dada, kemudian luka yang barusan dibuat menghilang dalam sekejap. Raut wajah sedih dari sebelumnya menghilang pula, hanya menyisakan desau.

“Memang, main-main tidak ada gunanya kalau tak dimulai dari a~wal, seperti itulah. Master dan pengikut saling mencintai, mendesak salah satunya membunuh wanita cantik yang mirip satunya. Berikutnya terungkap kisah pembentukan cinta, yang sedari awal telah direncanakan … suatu kegagalan, memang kegagalan.”

Membuat lelucon demikian … sebetulnya apa maumu. Kau mau apa dari kami!”

“Tidak banyak? Ti~dak banyak-banyak amat maksud di baliknya, begitu pu~la sesuatu yang beneran ingin kutanyakan. Melihat seorang suami membunuh istrinya tuh seperti menghabiskan waktu. Meminta kesatria ajudan untuk mengenakan pakaian wanita, sesuatu yang motifnya dari preferensi kek gitu, pikirkan saja demikian.”

“Janjiku pada Crusch-sama, bukan hal remeh semacam itu!”

“Menempatkan kecenderungan dan seksualitas di tampang luar seperti itu, wanita cantik ini menganggapnya perbuatan ceroboh tahu~”

Perihal Ferlix yang tak bisa menahan teriakannya, Capella memiringkan kepala seraya mengujarnya. Capella lanjut mengangkat tangan kanan, dan wujud luarnya sekali lagi berubah drastis.

Telapak tangannya menjadi kelopak bunga raksasa, tentakel-tentakel memanjang menerbangkan tubuh Felix, kemudian menjeratnya dan mengangkatnya, lalu dicengkeram sembari ditabrakkan ke dinding.

“Hah, huuh …”

“Mau melihat atau merasakannya itu sama saja, betulan ba~dan ramping dan rapuh. Seandainya kau terlampau ma~u menjadi wanita, bagaimana bila dibantu wanita cantik ini? Bagi wanita cantik ini teramat-amat gampang melakukannya. Bagaimana kalau dibantu melepasnya dan membentuk lubang dalam hitungan menit?”

“Tubuh, aku tidak relevan …. Lebih pentingnya, Crusch-sama …!”

“Konyol nian. Sesuatu seperti menghargai orang lain ketimbang dirimiu sendiri, bagaimana jika kau hen~tikan dengan lancangnya mengimbuh tak manis. Omong-omong kau bertanya bagaimana memulihkan tubuh yang terinfeksi Darah Naga ke keadaan semula? Hah, andaikata metode itu ada maka wanita cantik ini ak~an lebih ingin tahu.”

Tentakelnya terus menggeliat mendesak, menyebabkan ujung badan lemah Felix mulai berdarah. Mata melebar kesakitan, suara tulang patah bergema di seluruh ruangan.

Dibanding tangan kanan yang berbentuk bunga karnivora, tangan kiri terangkat mewujud sabit belalang. Mempertahankan rupa Crusch, dia telah menjadi monster menjijikkan yang tangan kirinnya serangga dan tangan kanannya bunga.

Biar begitu, wajah Capella sama sekali tak berubah, cantik stagnannya semakin mengerikan.

“Langsung mengubahmu menjadi daging cincang pun bakal sangat menghibur, apalagi wanita cantik ini ti~dak punya banyak waktu. Sebelum pihak-pihak lain tak terkait datang, tidak ba~gus kalau tak mengur~usmu dan tuanmu.”

“—uuh, kuuh.”

“Pokoknya, kau ini hanya pria yang gobloknya melampaui batas. Tidak menduga wanita cantik ini muncul di sini, bahkan strategi serangan balik i~tu lamban. Apa faedahnya sebelumnya …”

Sesudah menuturkannya, wajah Capella yang dulu senang kini diwarnai kerutan tipis. Seakan-akan ragu dengan yang barusan dia ucapkan, Capella menyeret Felix yang masih megap-megap ke depannya.

“Bagaimanapun bukannya ini terlalu lambat? Walau mempertimbangkan wanita cantik ini menyusup dari atas, lama sekali orang-orang buat datang ke lantai atas ini.”

“… a.”

“Kau mesti merencanakan sesuatu, cepat ungkap semuanya, untuk kebaikanmu sendiri. Ka~lau tidak, Tuan-sama paling berhargamu bahkan akan mengalami transformasi lebih buruk …”

Sabit Capella memanjang dari pergelangan tangan kirinya menuju arah Crusch yang terbaring di tempat tidur, dan Felix menghadapi pilihan yang jauh lebih kejam. Merespon pertanyaan ini, jawaban gemetar Felix-lah yang dia peras keluar …

“—kau,”

“Ah~? Cara memohon belas kasihmu bagaimana …”

“Kau, betul-betul … makhluk tidak berguna.”

“Hah?”

Sepasang pupil kuning terlihat melotot jijik ke Capella, sebuah kalimat dinyatakan bagaikan ludah.

Segera setelahnya, tentakel-tentakel yang mengikat Felix mulai menyemburkan asap, kelopaknya berubah warna dan membusuk. Perkara tangan kanannya yang telah terkorosi, paras Capella tercengang.

“A~rara? Sebenarnya apa yang terjadi sama tangan wanita cantik ini …”

“Yah, anggap saja bagimu seperti kepribadian berpikir tidak unik.”

Tentakel-tentakel membusuk, tubuh Felix terbebas.

Suara lain menggantikan hingga Capella menolehkan kepalanya. Suara imut dengan irama unik. Capella melihat arah tempat tidur yang mengeluarkan suara tersebut—pada saat ini, cahaya membanjiri seluruh ruangan.

Sinar putih yang praktisnya menciptakan efek kenaikan suhu instan. Sinar energik ini membakar wajah Capella, menghancurkan seluruh bagian kiri wajahnya.

Bau daging hangus mendampingi separuh wajahnya yang berkarbonisasi, dan Capella mundur beberapa langkah. Lalu menjulurkan lidah ular untuk mengusap-ngusap permukaan luar lukanya, dia tersenyum.

“Berdiri di depan sekutu bahkan tanpa toleransi sedikit pun ya~ … wah, bukan~nya ini ada banyak efeknya. Kehadiran orang di sini sangat diharapkan, jadi bu~kan kejutan besar akhirnya jadi seperti ini.”

“Sesuatu semacam sekutu itu salah paham. Kami ini pesaing komersial … nah, lebih mirip lawan kompetitif. Lagipula bukannya kami hidup dalam kehidupan semudah itu sampai-sampai ragu menyerang pas melihat wajah lawan seperti itu.”

“Sekutu bersyarat cepat atau lambat akan menjadi musuh. Maka dari itu, apa mengincar wajah itu skema awal disengaja? Semisal benar, kepribadianmu barangkali sedikit sinting juga.”

“Sudah kubilang, tidak ada kisruh antara urusan publik dan urusan pribadi. Mengincar kepala cuma murni karena ingin tahu apakah menghancurkan wajah terbukti fatal atau tidak, sepintas harapannya kayak gitu.”

Berkata demikian, orang yang memanjat naik dari tempat tidur mendesahkan ekspektasi yang dikhianati.

Di tempat Crusch, Anastasia berbaring di tempat tidur.

Dia menyentuh rambut bergelombangnya yang diwarnai hijau, merespon sambil tersenyum sedikit pada Capella yang bahkan selamat padahal separuh wajahnya terbakar.

“Meskipun aku jelas mengharapkannya, rupanya tidak ada kematian.”

“Kenda~ti kau boleh jadi berbeda dari tipe wanita yang tersenyum sesaat melihat u~ang. Tapi sesuatu semacam ragu-ragu membakar separuh wajah wanita, kepribadian yang melebihi kepentingan pribadi, sungguh-sungguh daging wanita yang disukai wanita cantik ini!”

“Diminati orang kek dirimu, bahkan kami di sini merasa sedikit memberontak. Kau tahu, orang yang dicintai kami tuh bulu panjang yang rasanya halus kalau disentuh.”

Dengan formal, Anastasia terus terang menanggapi kata-kata monster Capella. Dengan batuk kecil, dia menghampiri Felix yang berada di dekat tempat tidur, meraih pergelangan tangannya dan membantu berdiri.

Menyaksikan Felix berlinang air mata, Anastasia berkata, Cukup sudah, sebagai awalan …

“Sama sekali tidak ada informasi yang didapatkan. Setidaknya, saat ini kesampingkan urusan Crusch.”

“… aku mengerti. Kau sudah jauh menemaniku, dalam pertaruhan berisiko ini.”

“Gara-gara situasi ini, kita di sini memegang sebagian besar tanggung jawab, jadi sebut saja begitu.”

Bahkan kemampuan Felix yang merupakan penyembuh tersohor di kerajaan, tidak dapat melakukan apa pun untuk menyembuhkan Crusch.

Untuk menyelamatkannya, tidak ada cara lain selain menemukan penyebabnya dan solusi dari orang yang menjadikannya demikian.

Adapun tuntutan Felix, Anastasia tak bisa menolak.

Anastasia-lah yang menyambut setiap kandidat ke kota Pristella. Kemudian segala halnya telah sampai ke titik ini. Karena memegang sebagian tanggung jawab atas masalahnya, Anastasia tidak bisa menyangkal permohonan Felix.

“Sesuatu seperti ini, sebut saja sia-sia namun masih berhasil mengkhianati harapan.”

“Dibebani ekspektasi begitu, mohon maaf sekali~ tetapi perasaan ini benar-benar tidak ada. Tapi, seharusnya tidak ada jaminan aku akan muncul?”

“Bukannya Natsuki-kun sudah memberi pengumuman? Rupanya, kau bertindak setelah mendengarnya.”

Mengirim pasukan tempur utama, menyisakan pangkalan tanpa penjagaan pasti akan mendorong aksi musuh. Sedari awal Kultus Penyihir tak wajib menyambut mereka dengan jujur. Sungguhan seperti pidato Capella sebelumnya.

“Natsuki-kun di sana, menjadi naif di waktu-waktu kritis.”

Walau sama sekali tidak ada jaminan memungkinkan, tegas mempertimbangkan sifat Kultus Penyihir, bisa jadi salah satu Kemarahan atau Kenafsuan akan muncul menyerang.

Lantas Anastasia telah memasang perangkap, membiarkan Balai Kota diserang. Tentu saja Crusch yang asli sudah melarikan diri ke selter terdekat bersama yang terluka.

Tentunya takkan ada orang yang akan melangkah ke lantai paling atas ini. Orang-orang masih tinggal di gedung ini, selain mereka yang berada di lantai teratas—

“… hm~ph, he~h. Orang-orang yang pikirannya bergerak sedikit lebih cepat, sedikit menyebalkan bagi orang lain. Tapilagi-lagi, bukankah kau memahami wanita cantik ini? Telinga kucing sebelah sana, wanita kecil sebelah sini, ti~dak kelihatan mirip orang yang bisa bertahan dalam pertempuran.”

“Dipanggil wanita kecil betul-betul agak memalukan. Kendatipun kami nampak seperti ini di sini, sepertinya secara teknis aku masih orang dewasa berkembang.”

Mendengar ucapan Capella, Anastasia merespon dengan menutup salah satu matanya.

“Sudah diputuskan. Wajah manis cantikmu, adalah satu-satunya yang tersisa sedangkan semua yang di bawah lehermu jadi belalang. Setelah berubah menjadi belalang coba lakukan lagi, me~lawanku menggunakan mulut kasarmu~”

“Ngeri amat … kalau begitu, lebih baik saat ini ucapkan selamat tinggal.”

“…”

Anastasia menolak, mengagetkan Capella yang merupakan pihak pengancam.

Anastasia menarik-narik rambutnya yang masih hijau, melirik sekeliling ruangan.

“Sudah kami katakan, kami menunggumu selama ini—karena itulah, kami tidak menunggu tanpa menyiapkan apa-apa.”

Begitu suaranya hilang, Anastasia mengetuk lantai lembut-lembut dengan jemarinya.

Dua bunyi dering, ibarat semacam sinyal—segera setelahnya, retakan terbentuk di lantai kaki Capella memijak, lalu tubuh hancur gadis muda itu jatuh ke bawah.

“Aduhhh.”

Bagian bawah lantai jatuh, yang muncul di lantai kejatuhannya adalah lubang serupa.

Beginilah Capella terus jatuh dari lantai ke lantai, jatuh dari ketinggian empat lantai sekali napas, mendarat langsung ke ruang bawah tanah di bawah lantai pertama.

Ceprot, tubuh Capella meledak disertai suara itu.

Tanpa daya terbanting menabrak tanah, tubuh gadis muda tersebut betul-betul rata di permukaan dingin.

Darah memancar keluar dari wajahnya, dan anggota tubuhnya terlipat-lipat dan hancur dengan wujud menyedihkan. Tetapi, tubuh yang menjadi sepotong daging, tangan dan kakinya langsung mulai bergerak lamban, dan tubuh gadis muda berdiri dalam keadaan air tak berbentuk.

Yang muncul di sana ialah sosok wanita penggoda.

Mengenakan pakaian sangat terbuka, menampilkan banyak dagingnya tanpa rasa malu, pemandangan langka rambut hitam dikepang tiga. Memancarkan aura berbahaya dan kecantikan menggelisahkan seiring bangkitnya.

Baik Felix atau Anastasia, keduanya semestinya tidak tahu siapa orang yang muncul itu. Bagaimanapun, dua orang yang menetap di lantai empat, harusnya tidak mampu melihat transformasinya.

Lantas, harusnya tak ada orang yang terheran sesaat melihat sosok ini.

“Aah, aah, beneranbeneran … bukan~nya ini malah membuatku sangat senang sekaligus bersemangat. Kyahahahaha!”

Dengan cara kematian tersiksa dan tanpa penderitaan, Capella melepaskan suaranya. Suara ringan nan halus yang tak sesuai perawakan mutasinya, bergema di seluruh ruang bawah tanah Balai Kota.

Dalam bayangan, udara dingin dan lembab. Bukan semata-mata langskap ruang bawah tanah, hanya bagian dari banyaknya kanal yang disebar ke seluruh kota—bagian fasilitas manajemen yang digunakan untuk memelihara kanal ini.

Dari suatu tempat kedengaran suara deras air, dan angin sepoi-sepoi bertiup di suatu tempat tinggi.

“Menerima sambutan hangat dan lain-lain, biarkan aku mengubah-ubah ukuran dadaku sesukaku itu mengasyikkan ‘ka~n. Memulihkan dan memeluknya erat-erat, memperbaiki asuhan mereka dalam pelukan wanita cantik ini, membuat mereka mencintai wanita cantik ini seorang …”

“Tidak bisa kembali.” ucap seseorang.

“…”

Pipi diwarnai merah tua, Capella gembira sampai gemetaran, dilarang oleh seseorang tak dikenal.

Terdengar suara berat, suara pria terendam dan merajuk.

Seraya mendengar suara itu, Capella mengangkat kepala, dari bayang-bayang bawah tanah muncul sosok seseorang.

Ekspresi Capella yang melihatnya mendadak menyinting. Ekspresi bingung yang terpampang di wajahnya hingga kini, langsung menjadi benci, selagi memelototi lawannya.

“Demi nilai-nilai estetika wanita cantik ini, yang paling tak tertahankan itu orang-orang yang berusaha menyembunyikan keburukan mereka kan?”

“Begitu. Tenang saja. Demi nilai-nilai estetikaku, perasaanmu juga tidak bisa ditoleransi.”

Menanggapi Capella dengan perilaku apatisnya, mendesah seakan sesuatu memberatkannya …

Kemudian …

“Bukankah kau sudah mendengar dari atas? Ulahmu telah diketahui oleh orang jahat di pihak kami pula. Karenanya … perihal kejahatan, bagaimana caramu menang melawan putri kami?”

Seraya bicara, berat yang terletak di suaranya pun hadir.

Pedang yang terpasang di belakangnya ditarik dari sarung, cahaya lambat terlefleksi padanya dari ruang kosong di atas kepalanya.

Seorang pria satu tangan berdiri di sana. Bayangan terbalut helm hitam. Adalah seorang pria berpakaian aneh.

Orang asing tersebut menghadap Capella, satu lengannya menghunuskan Pedang Naga Biru.

“Sekalipun aku baru menyapamu, hari ini suasana hatiku lagi buruk—Sebelum aku mati, cepat tinggalkan tempat ini. Mollusk.”

6 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 60”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *