RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 Bab 5

Posted on

Kota Bendungan Pristella

Penerjemah: Crestfallen Warrior

­—saat mereka datang, Subaru dan kawan-kawan disambut oleh dinding besar yang menjulang tinggi. “Ya, terlihat persis seperti dalam bayanganku ….”

Tutur Subaru sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta. Otto mengemudi. Beatrice menangkap gumaman Subaru, kepalanya juga ke luar jendela.

“Joshua bilang ini tempat wisata, tapi Betty meragukannya, ya. Lebih membuat stress alih-alih santai, ya.”

“Setuju. Maksudku, kurasa jembatan dan gerbang serta hal-hal lainnya terlihat keren.” Subaru mengangguk setuju bersama Beatrice dan menunduk.

Kereta mereka melintasi Jembatan Tigracy, yang mengarah ke gerbang depan Pristella.

Subaru geser sedikit dan melihat cakrawala, sinar matahari berkilau-kilau di air. Baginya demikian terlihat bagaikan laut, namun karena laut tidak ada di dunia ini, pasti berupa danau atau sungai.

“Pristella adalah kota yang dibangun di atas danau, ya. Daerah di dalam dinding tersebut sangat rata sampai membentuk sebuah cekungan di tengahnya, ya. Seandainya kau membayangkan kotanya sebagai perangkap tua, tentu saja pusatnya bakal kebanjiran, ya.”

“Maksudmu bagian tengah itu buat jebakan untuk beberapa Monster Iblis jahat. Emilia juga menyebutkannya. Benarkah itu?”

“Ini pertama kali aku melihatnya, dan tidak tahu pula tujuan spesifiknya, ya. Tapi sepertinya benar, karena sekarang sudah melihatnya, ya.”

Mata kebiruan Beatrice menatap gerbang kota di luar jembatan.

Dinding mencegahnya mengintip ke dalam, tapi dia pasti membayangkan rupa kotanya. Masih tidak jelas bagaimana tepatnya Perpustakaan Terlarang membicarakan dunia, namun pengetahuan luas Beatrice beberapa kali membantunya.

“… kenapa kau mengelus kepala Betty, ya.”

“Sebab itu benar. Sebisa mungkin ingin menghabiskan waktu menepuk kepalamu.”

“Omong kosong, itu namanya pelecehan, omong kosong gak guna, ya!”

Namun demikian, Beatrice tidak menampik tangan Subaru dan laki-laki tersebut mulai menepuk lagi sambil memandang bagian luar pagar jembatan, ke danau. Air jernih menampakkan dasar danau, tak satu pun sampah atau polusi kelihatan.

Jika semua danaunya seperti ini, maka etika masyarakatnya luar biasa.

“Sesungguhnya aku tak melihat sampah maupun limbah industri illegal di jalan. Mungkin karena orang-orang tidak punya banyak barang dan itu bagus sekali.”

“Peraturan sampah sembarangan sangat ketat di Pristella tuk menjaga bentang alamnya. Ada pemeriksaan sederhana di perbatasan sewaktu kita memasuki gerbang, jangan bertingkah sok tegas dan menolak dokumen mengikat yang mereka berikan padamu.”

Otto memperingatkan, setelah mendengar gumaman Subaru. Si peran utama memiringkan kepala.

“Dokumen?”

“Aku pikir kau biasanya tak perlu menerimanya kalau punya lambang di keretamu saat pergi ke Ibu Kota, tapi semua orang pada dasarnya mesti mengisi dokumen ketika memasuki Pristella.”

Subaru mengangguk, terkesan, dan kurang lebih menerimanya sebagai paspor dan pemeriksaan bea cukai. Tapi sekali lagi dia bingung terhadap kata dokumen yang mengikat.

“Memang isi kertasnya seperti akan mengatur dirimu? Kayak ada hubungannya dengan od saat menandatangani, dan tatkala melanggar persyaratan gerbangmu akan berhenti atau semacamnya ….”

“Eeehh, itu bakal menakutkan … seharusnya tak sedesak itu. Dokumen hanyalah bukti pernyataan bahwa kau takkan melakukan hal-hal buruk. Berarti konsekuensinya akan terus mengawasimu.”

“… dunia akan damai apabila semua orang setegas dirimu, Emilia-tan.”

Subaru nyengir pada idealisme Emilia, menyadari kepribadian payahnya.

Bagaimanapun, dia paham bahwa dokumen itu sebenarnya tidak mengikat.

“Ada hukum nasional yang harus ditegakkan, tapi Walikota dan Lord yang mengurus kota punya kewenangan yang agak berkuasa di sana. Banyak di Pristella yang berbeda dengan hukum nasional. Dokumennya akan menuliskan apa hukum-hukum itu, jadi tolong jangan diejek dan baca baik-baik.”

“Nyusahin banget. Coba lu yang baca dan kasih tau kami.”

“Tingkahmu itu takkan membuatmu dewasa. Setidaknya penting belajar cara membaca dokumen, bagaimana posisi sosialmu. Kau tidak bisa begitu saja menimbun hal-hal sampingan dari buku yang kau sukai.”

“Bukan nimbun hal sampingan, cuma orang yang gila dramastis. Iya gak, Kapten?” “Kau mengerti.”

Garfiel menyeimbangkan penutup kereta saat kepalanya berulang kali mengintip. Subaru mengangguk tegas sebagai jawabannya, Otto menghembuskan nafas, dan Emilia menonton gembira. Kepala Beatrice menggeleng sedih.

“Dua bocah ini sudah tak tertolong lagi, ya.” “Mereka tuh mimpi buruk buat pengembala.”

Tidak ada yang sanggup menebak hubungan pernyataan Beatrice dengan Subaru.

Sayangnya, tak seorang pun di kereta ini yang bisa berempati terhadap kesedihan dan letihnya Subaru.

—Patrasche meraung, dan semua orang melihat ke depan. Gerbang Pristella berdiri gagah persis di hadapan mereka.

Inspeksi perbatasan berakhir lancar.

Emilia dan Otto benar. Dokumennya menjelaskan persyaratan yang harus mereka turuti untuk memasuki kota, dan aturan-aturan yang harus dipatuhi.

Terlepasnya, setiap ketentuan praktisnya mustahil dilanggar secara sengaja, jadi tak perlu terlalu mengindahkannya.

Syarat masuk kota adalah membaca kertas, menulis nama, dan disetujui petugas. Para petugas tentu panik sedikit tatkala Emilia memperkenalkan diri, tapi Anastasia yang juga pernah lewat, mereka mengira terdapat suatu rencana.

“Tampaknya ini berita besar bagi dua gadis yang punya hak atas Tahkta suatu tempat.”

“Tidak menyulut banyak keributan, jadi aku rasa Anastasia sebelumnya sudah menginformasikan. Atau mungkin Joshua-kun atau Mimi-chan.”

“Joshua rasanya mungkin jika kau mengabaikan canggungnya, tapi aku sungguh-sungguh meragukan Mimi.”

Rasanya si kucing tidak sepeka itu.

Tapi bukan karena egois atau semacamnya. Bagaimana ya menjelaskannya?”

“Sebab dia imut.”

“Ya, sebab dia imut.”

Dan misteriusnya meyakinkan sekali sampai Emilia mengangguk. Subaru menyilangkan tangan, mendapati tiada kata lain yang cocok. Dan entah kenapa Beatrice menghentak kaki.

Subaru menghabiskan waktu menenangkan Beatrice, sampai Otto dan Garfiel akhirnya menyelesaikan inspeksi berlarut-larut dan bergabung dengan sisa tim di luar gerbang.

“Hei kawan-kawan. Kenapa lama?”

“Garfiel yang lama. Aku berkali-kali, terus-terusan menyuruhnya melatih kemampuan menulis, dan tetap saja ….”

“Garfiel, kau tidak bisa menulis?”

“Gua bisa. Cuman, uh, yang lu sebut amatiran, atau, ah, apalah.”

Berarti tulisan tangannya menghebohkan sangat sampai para petugas tidak bisa membacnaya.

Petugas pasti menyuruh klien buta huruf menulis, namun kebanggaan Garfiel takkan memperkenankannya.

“Aku tidak akan berkomentar apa-apa, tapi lebih baik kau belajar agar kejadian ini tak terulang lagi. Aku tahu kau menulis surat untuk Lewes-san, dan surat-surat itu wajib bisa dibaca.”

“Ha, lu bencada ye, Kapten. Dulu pas masih tinggal ama nenek. Nenek bisa baca tulisan hebat gua, padahal tangan kiri yang nulis.”

“Kau tidak berniat memperbaikinya, ya.”

Kata Subaru, mendesah lelah kepada Garfiel yang berbangga-bangga.

Nenek Garfiel, Lewes, tidak tinggal bersamanya di mansion Roswaal. Dia dan dua puluh empat duplikatnya ditugaskan berbagai kewajiban di hutan dalam daerah Roswaal.
Emilia dan Garfiel masi memegang perintah atas duplikat-duplikatnya, dan perintah mereka masih sampai di kejauhan. Tim tersebut berusaha memanfaatkannya dan meminta Lewes-Lewes berperan sebagai median penyampaian pesan.

Subaru yang mengusulkan, dan Lewes memikul tanggung jawab pekerjaan tersebut. Awalnya Garfiel menentang, tapi sekarang setuju.

Lantas Lewes dan duplikat-duplikatnya yang tinggal di Desa Arlam. Rencananya adalah pergi satu-satu, mengajari mereka segala hal yang perlu diketahui, lalu dikirim ke kota-kota dan desa-desa begitu mereka siap.

“Seolah operasi besar mata-mata, jadi kedengaran buruk ….”

Subaru enggan meninggalkan mereka di sana, luntang-lantung tanpa peran ataupun tujuan apa-apa. Mungkin rasa bersalah Subaru karena membuang mereka di perulangan sebelumnya memicu ide tersebut.

“Subaru? Mereka selesai memeriksa tas kereta, pergikah?”

Emilia memanggil Subaru yang termenung, dia buru-buru mendongak. Tersenyum tegang sedangkan Emilia menatap penasaran, dan menarik kemudi Patrasche.

Seolah merasakan kegelisahan Subaru, moncong naga hitam pandai itu menyodok leher belakangnya. Bingungnya sensasi kasar itu bisa terasa rileks.

“… makasih, atas semuanya.”

Subaru membalas pengertiannya dengan membelai sisik-sisik keras Patrasche. Naga betina itu merespon dengan moncong, dan Subaru akhirnya menarik kekang dan berangkat ke Pristella.

Mereka keluar dari gerbang depan dan menemui sungai yang mengalir di antara gerbang eksterior dan kota. Mereka menyeberangi jembatan batu di atas sungai, gerbang bagian dalam terbuka, dan Pristella mengungkap sosoknya.

“Wow ….”

Subaru menghela nafas kagum terhadap pemandangan yang terbentang di depan mata.

Dan bukan dia seorang yang bereaksi. Emilia bersama Beatrice yang duduk di sampingnya juga terheran-heran.

Subaru kudu meminta maaf lantaran menyebut penjara kepada kota akuatik ini.

Seketika Subaru pertama kali mendengar Pristella, dia membayangkan sesuatu mirip-mirip Venesia di dunia lamanya. Bayangannya benar.

Desain kota membundar, dikelilingi dinding yang melingkar.

Mengesampingkan ukurannya yang setara kota, secara fundamental bentuknya seperti stadion olahraga. Lingkar luarnya yang paling tinggi, ketinggiannya kian rendah semakin dekatnya dirimu ke pusat.

Deretan bangunan batu padat berjejeran di di tingkat kota, arsitektur bau-bau barat teridentik yang pernah dilihat Subaru.

Kanal-kanal raksasa mengaliri kota, kanal-kanal massif tersebut—tepatnya, kanal—membagi kota bundar menjadi empat bagian genap. Subaru melihat beberapa gondola mendayung di atas air, bulu kuduknya merinding sekejap sewaktu memikirkannya: gondola.

Kota Biru, Kota Air. Kota Bendungan Pristella. Masing-masing nama berdering kata benar. Pemandangannya semata-mata menghadirkan sebuah keajaiban.

“Menakjubkan ….”

Ucap Subaru, dan tak seorang pun menyangkal.

Para penjaga di gerbang tersenyum puas melihat keheranan kelompok itu. Kemungkinan besar, semua orang yang melewati gerbang sama reaksinya.

Reaksinya sama-sama memenuhi kewajiban para penjaga, dan itulah hadiah terbesar mereka. Jelas itu. Tepat langsung ke perangkap.

“Yea, ini mengagumkan. Ternyata Otto kagak boonk.”

Garfiel yang pertama pulih dari keterkejutannya dan menggosok hidung. Tapi kehebohannya belum pudar, karena pipinya merah sedikit.

Gairah maskulin dramastis pasti membara karena tempat luar biasa ini (tertuju pada sesuatu-sesuatu yang besar).

“Aku senantiasa ingin menjambangi tempat ini, terhubung dengan Dewa Pedagang, Hoshin, tapi ini sama mempesonanya. Layak dikunjungi walaupun adanya eksistensi Hoshin atau tidak.”

Tangan Otto gelisah, nampak sangat emosional.

Penyebutan Hoshin mengingatkan Subaru akan nama: Hoshin si Limbah.

“Hoshin yang itu. Pedagang lawas yang membuat harta yang besarnya sinting dari tempat kosong.”

“Sedikit salah, tapi secara keseluruhan benar. Empat ratus tahun lalu, Hoshin melakukan perjalanan ke Kararagi tak terjamah tanpa bantuan apa pun, merubahnya menjadi infrastruktur ekonomi menggunakan akalnya sendiri, dan menghasilkan banyak uang. Orang itu teladan.”

Semata-mata karena seorang pedagang, mata Otto berkobar penuh semangat seketika menceritakan kisah Hoshin. Sekiranya dia membangun fondasi empat negeri besar, Negara Kota Kararagi, lalu Subaru setuju bila legendanya diceritakan secara turun-temurun.

“Anastasia memanggil dirinya Hoshin dan menirunya.”

“Berani sekali. Aku ragu ada cara yang lebih pantas untuk menjalankan antusiasme atau tujuannya, tapi semua orang bakalan skeptis. Meskipun aku benar-benar berpikir prestasinya cukup untuk menyandang namanya.”

“Jika dia secara serius melakukan sesuatu sebagai penjamin namanya, maka … yah, merebut tahkta Lugnica tidak mustahil. Langsung menyongsong tujuannya.”

Terkesan, Subaru berhasil mengalihkan dirinya dari pemandangan indah.

Mengelus kepala Beatrice dan menarik lengan Emilia agar menjauhkan mereka dari kota memikat itu.

“Jadi, Anastasia menunggu kita di Seasylph Lodge. Entah dimana, tapi mengingat pribadinya, aku ragu tempatnya murah.”

“Mmhhmm, benar. Aku pikir dia memberi tahu petugasnya tentang kedatangan kita, jadi baguslah. Kurasa Otto-kun menyelidiki lebih lanjut tentangnya ….”

Otto mengangguk dan melompat ke tempat kusir. Dia menyentak dagu, mengisyaratkan kereta.

“Dugaanku rute ini, jadi izinkan aku memimpin. Kita tidak bisa cepat-cepat karena perahu punya prioritas lebih tinggi daripada kereta di kota ini. Aku memperhatikannya karena curiga Natsuki-san masih berusaha santai naik kereta.

“Oh ya? Misalkan Patrasche, aku bahkan tidak bilang apa-apa, menatapnya meskipun sepatu botku gemetaran, dan terserah aku keretanya ingin diapakan Patrasche, bukan?”

Subaru blak-blakan menatap Patrasche dan mengedipkan mata. Patrasche membuang muka. Entah bagaimana, rasanya si naga betina mendesau.

Reaksi tak terduga itu membuat Subaru sedih. Emilia menghibur punggungnya, sedangkan Beatrice meraih tangan dan memasukkannya ke kereta.

“Dan kita pergi!”

Umum Garfiel dari posisi barunya di atas kereta. Otto menyeringai sambil mencambuk tali kemudi, keretanya bergerak.

“Tapi dari lanskap luar jendela, benar-benar tidak terdapat banyak kereta.”

“Memang tidak ada. Dan lihat bagaimana semua jalannya cukup lebar tidak seperti jalan lurus khusus untuk kereta, jalannya berputar, karena kanal lebih diproritaskan ketimbang jalan.”

“Ah, kau benar.”

Emilia betul. Jalan setapak dan kereta memutari kanal yang menyebar ke seluruh kota. Memang merepotkan, tapi perasaannya berhenti begitu Subaru mengawasi kanal di samping kereta, dan gondola yang sekadar lewat.

“Kereta punya Divine Protection of Wind Envasion, tapi perahu punya sesuatutah? Seperti, Divine Protection of Anti Capsizing, atau Divine Protection of Seabreeze, semacamnya.”

“Aku tidak terlalu paham, tapi benar-benar berpikir perahunya tak punya Berkah apa pun. Tapi mungkin pelayarnya punya Divine Protection of Lakes atau Divine Protection of Freeying.”

“Kendati fakta ini tak terlalu luas, naga air punya Divine Protection, ya. Satunya melindungi dari efek air, seperti naga darat, ya.”

“Naga air. Tidak keberatan melihat satu. Satu saja.”

“Aku yakin pasti ada beberapa di kota ini, ya.”

Meskipun dia menjawab pertanyaan Subaru, balasan Beatrice tidak proaktif, menunjukkan ketidaksukaannya kepada hewan. Rasa canggung anehnya tak tertuju kepada Patrasche saja, tampaknya meluas ke naga air.

“Aku tidak mau memeluknya, contohnya simau1, itu tidak menyenangkan.”

“Tidak menyentuh binatang bukan berarti aku mati, ya. Betty lebih manis daripada mereka, ya.”

“Walaupun olimpiade adu imut melawan hewan tidak ada faedahnya … sebetulnya kau kekurangan beberapa hal penting jika bertarung dengan persyaratan yang sama.

Bagi Subaru, bahkan Patrasche adalah gabungan keren dan manis. Tapi jenis manisnya berbeda dengan Emilia, Rem, dan tentu saja Beatrice.

Beatrice curiga, sedangkan Emilia melompat heboh terhadap kata simau dan menatap Subaru.

“Aku juga! Menurutmu mereka akan membolehkanku menyentuh kalau minta?”

“Boleh-boleh saja pas Mimi ada di mansion. Kau jadi aneh soal itu.”

“Mimi ‘kan penunggang anjingnya, aku tidak bisa langsung menyentuh mereka. Aku tidak merasakan sensasi bulu-bulu lagi semenjak Puck pergi.”

Tampaknya bahkan bagi Emilia yang menyayangi Puck seperti keluarganya, telah tertarik oleh bulu. Subaru menanyakannya dan Emilia mulai bersenandung bahagia. Tuli pada pendapat mana pun.

Mendengar senandung jeleknya, tangan Subaru disilangkan di belakang leher dan bersandar di sikunya sembari melihat panorama kota. Dia bersandar di kaca jendela, berlutut di kursi. Subaru menimbang-nimbang apakah harus memberi tahu perilakunya buruk atau tidak, tapi dipotong ….

“Oh, Subaru. Inilah kesempatanmu, ya.”

“Hm? W—wow!”

Subaru melihat ke atas dan mendapati semprotan air dari kanal dan ikan-ikan lewat—atau tidak, bukan ikan deh. Mahluknya punya tubuh panjang, berlika-liku, anggota tubuh pendek tapi gemuk. Kulitnya biru dan licin, membangkitkan kesan-kesan ular, tapi kepalanya jelas seperti naga.

Taring-taring tajam di mulut, kumis lele memanjang dari moncong. Naga darat kelihatan bagaikan kadal bipedal, sementara naga air lebih oriental. Subaru hampir ingin menyebutnya Shenlong.

“Tapi rupanya terlihat runyam, atau tak ramah.”

“Sosoknya seperti itu bagi manusia, ya. Naga air lebih susah dijinakkan daripada naga darat, ya. Kau harus membesarkannya dari baru menetas sampai dewasa agar mengakuimu sebagai tuannya, ya.”

“Jadi pengembangbiakan mereka perlu waktu. Aku dan Patrasche sudah terikat di kali pertama bertemu.”

Membingungkan Subaru juga.

Sekalipun aslinya dia dari fraksi Crusch, dia jadi sangat dekat bersama Subaru semenjak dia memilihnya dalam penyerangan Paus Putih. Subaru yakin pada pilihannya, memilih Patrasche yang sangat asertif, adalah pilihan tepat.

Ada begitu banyak momen-momen penting yang akan gagal tanpanya.

“Hmph. Wajah murni Patrasche jauh lebih unggul.”

“Subaru. Kenapa mendadak kau bicara seperti Anne?”

Membenci naga air yang menari-nari di kanal telah menarik minat Subaru sepenuhnya. Walau si naga tak mungkin menyadari dirinya ditatap, ia melirik. Naga itu menjulurkan kepalanya dari air dan memekik. Entah kenapa Subaru mendengar kata, ‘Jangan lihat-lihat, penyelundup,’ keras dan jelas.

“Aku rasa tempik ini baru menghina kita. Berarti waktunya ….”

“Ϡ!”

Balas dendam, Subaru meniru raungan keras Monster Iblis yang dilihatnya ketika mansion lama kebakaran.

Raungan tajam nan mulia menembus air. Patrasche ikut meraung.

Merasakan pertarungan masternya dengan si naga dan ikut membalas dendam. Subaru tidak tahu maksudnya, tapi suara dan tatapannya menakuti si naga air, dia mencicit dan masuk kembali ke air. Lalu melesat dan mengangkut kapalnya cepat-cepat. Si pelayar panik karena mendadak perahu lebih cepat dan Subaru jadi bingung.

“A-apa yang terjadi?”

“—Natsuki-san, tolong larang Patrasche-chan melakukan hal aneh-aneh. Sebaiknya jangan buat perkara padahal baru saja masuk kota.”

Tegur Otto dari kursi pengemudi. Subaru melambai acuh dan bersiul agar Patrasche mendengarnya. Mereka tepatnya tak dapat berkomunkasi secara tepat lewat siulan, tapi mudah-mudahan bisa memberi tahu naga itu bahwa Subaru berterima kasih.

“Naga air keren banget, tapi Patrasche-lah yang terkeren.”

“… kami lebih baik daripada naga air tak beretika itu, ya.”

Beatrice dengan enggan setuju kepada Subaru, mungkin karena Subaru senang sekali mengatakannya.

Selagi mereka menyerabang kanal melalui jembatan, Subaru memikirkan pemandangan kota yang dipandangnya dari gerbang.

“Rasanya seolah-olah kanal-kanal ini membagi kota menjadi empat atau yang mendekatinya.”

“Memang. Kanal maha besar di tengah Pristella membagi distrik. Searah jarum jam dari gerbang utama, ada Distrik Satu, Distrik Dua, Distrik Tiga, dan Distrik Empat.”

Subaru paham.

“Penamaannya tidak kreatif. Mereka bisa saja menamakannya East Blue. Benar?”

“Gua setuju.”

“Tidak ada yang menghiraukan seleramu, ya.”

Ucap dingin Beatrice kepada pasangan bahagia itu. Emilia tersenyum saat menonton dan mengangkat jari, berbicara seakan-akan telah mengetahuinya lebih dulu ….”

“Distrik-distrik bernomor punya toko dan okupasi berbeda, dan daerah perumahan terkonsentrasi di Distrik Dua dan Tiga, letaknya jauh dari gerbang. Seasylph Lodge pasti banyak dikunjungi wisatawan, jadi tempatnya ada di Distrik Satu.”

“Berarti kita harus mendatanginya sesegera mungkin … atau sekarang.”

Kereta lambat telah berhenti seraya pembicaraan mereka. Tampaknya sampai di penginapannya. Otto melompat dari kursi pengemudi dan masuk gerbong.

“Kita sampai. Aku akan berbicara dengan karyawannya agar Frufoo dan Patrasche dipindahkan ke kandang kuda, jadi jangan sungkan … tidak, sebenarnya, tunggu saja di pintu masuk.”

“Apa yang mengubah pikiranmu? Emangnya buruk amat kalau kita masuk duluan!?”

“Itu benar. Kita tidak ingin kau bersua Anastasia-san, begitu aku kembali dia sudah memikatmu.”

Subaru mengerutkan kening terhadap kurangnya kepercayaan Otto, tapi tak seorang pun menolak mengingat rekam jejak mereka. Mengambil barang bawaan dan meninggalkan kereta seketika seorang karyawan menemani Otto ke belakang penginapan, tidak terlihat.

Subaru melihat kepergian mereka, meregangkan badan, akhirnya mengarahkan pandangan ke Seasylph Lodge.

“Sekarang, penginapan macam apa yang kita … kita.”

Subaru menganga. Emilia menyentuh pipi, kepalanya memiring.

“Bangunannya terlihat unik. Aku rasa belum pernah melihatnya di tempat mana pun.”

Garfiel dan Beatrice berbagi pikiran jujur Emilia. Namun Subaru punya kesan berbeda pada tempat ini. Tentu saja. Bagaimanapun ….

“Sebuah penginapan? Ryokan2-kah.”

Dibangun dari kayu mulus, pintu kaca geser.

Juga pagar, jalan kerikil dari gerbang sampai pintu masuk, atap ubin, tidak salah lagi.

Tepat di tengah-tengah kota barat itu, dan sepenuhnya bagian arsitektur homogen. Inilah hari-hari di mana Natsuki Subaru menyebut bangunan wafuu itu Seasylph Lodge.

“Lihat betapa terkejutnya dirimu. Pilihanku bagus ternyata memilih hotel ini.” seketika suara tenang nan ceria memotong ketertegunan Subaru.

Masih melumpuh, Subaru perlahan-lahan memindahkan pandangannya—di luar pagar, seseorang melirik kelompoknya.

Ia mengenakan gaun berbulu putih dan syal rubah menawan. Musim dingin telah berlalu, dan gaun tersebut punya kain yang cukup tipis tuk dikenakan dalam satu musim saja, tapi syalnya penting-penting juga karena masih sama seperti sebelumnya.

Sosok seksi dan rambut ungu panjang bergelombang. Senyum menyenangkan terpasang di wajah menawannya, serta mata hijau berkilat-kilat.

Tidak salah lagi. Dialah yang mengundang mereka. Sambutan secara langsung dari Anastasia Hoshin. Dan ….

“Sudah lama semenjak terakhir kali aku melihatmu. Terima kasih banyak sudah datang jauh-jauh. Pikirku perjalanannya melelahkan, bagaimana jika bersantai dan mengobrol di dalam?”

Sebelum Otto sempat kembali, dia dengan mudahnya membimbing.

—semua orang yang hadir mengetahuinya.

Catatan Kaki:

  1. Simau adalah hewan hasil persilangan singa jantan dan harimau betina, atau yang dalam bahasa Inggris disebut liger (lion-tiger). Dengan bulu cokelat khas singa tetapi bergaris hitam bak harimau, hewan ini diberi nama Tsar.
  2. Ryokan adalah tempat penginapan yang mempunyai fasilitas dan gaya bangunan dengan arsitektur Jepang. Kamar penginapan ini mempunyai ciri khas dengan beralaskan tatami (tiker).