RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 47

Posted on

Pendahuluan Merebut

Kembali Kota

Penerjemah: Scorpioness Najka

“Sementara ini biarkan tugas mengurus Kemarahan ditangani tim Priscilla. Reinhard telah menyetujui Divine Protection Liliana.”

Meenimpali pernyataan Subaru dan Reinhard, tatapan peserta meja bundar beralih ke Liliana. Dia tengah memain-mainkan rambutnya, memegangnya di bawah hidung seolah-olah seperti janggut ….

“Tidak~ masalah~! Tolong serahkan kepadaku! Liliana ini, ketika dia mendapat permintaan, pasti akan menyelesaikan kerjaannya. Tenang saja, aku cuma bernyanyi. Bernyanyi di waktu yang kuinginkan dan dengan lagu yang kuinginkan! Bukankah hal itu membahagiakan! Dan kalau bisa sejumlah tip juga, aku akan angkat tangan dan bersorak-sorai!”

“Kau takkan dapat tip kali ini, jadi hentikan percakapan kapitalis babi itu.”

“U-wah—!”

Liliana bersemaangat telah menciut, dan Priscilla ganti mendengus. Mata merahnya menatap Subaru dan Reinhard bergantian ….

“Padahal aku ingin tahu kalian berdua membicarakan apa, namun tampaknya kalian hanya buang-buang energi pada konsultasi tak berguna. Sudah aku pastikan bahwa si penyanyi berharga bagiku. Kami akan menghancurkan ocehan bodoh itu.”

“Meskipun begitu, kita masih harus memastikan ….”
“Dungu—Akulah yang mempertaruhkan nyawaku pada penyanyi ini. Kenapa juga aku bersikeras jika belum yakin? Seolah aku akan mengambil risiko sembrono seperti itu.”

“….”

Kata-kata Priscilla tak memperkenankan Subaru menangkal. Memang, yang menyarankan Liliana melawan Kemarahan itu sendiri adalah Priscilla. Terlepas cara bicara serta sikapnya, sudah jelas bahwa kehati-hatian dan kepintarannya luar biasa.

“Putri-san, jangan terlalu merundung saudara. Mari diam saja, kita berdua.”

“Kenapa begitu, AI? Beraninya kau menentangku, cacing? Pria seumuranmu kok merajuk layaknya seorang gadis. Jangan merendahkan dirimu di hadapanku.”

Pandangannya beralih dengan bunyi wus, AI menaruh dagunya di lengan kanan dan menjadi mode pengamat sempurna. Priscilla kembali bersandar ke kursinya dan membiarkan masalah selesai.

Akhirnya, tampaknya percakapan bisa dilanjutkan topik berikutnya.

“Maka dari itu, serangan Kemarahan diserahkan kepada tim Priscilla. Berikutnya … adalah Kenafsuan. Adapun siapa yang akan menangani satu itu, aku ingin mencalonkan Wilhelm-san.”

“Menominasikan Wilhelm-sama? Boleh bertanya apa alasanmu?”

“Aku dengan rendah hati telah memintanya dari Subaru-dono, Julius-dono.”

Menuju Julius yang bertanya-tanya, Wilhelm mengangkat tangannya dan menjawab.

Pendekar pedang tua itu memfokuskan tatapannya—dan sedikit dialihkan ke atas.

“Sebagaimana yang Anda-Anda semua tahu, nyonyaku Crusch-sama masih menderita efek kekuatan kejam Penyihir Kenafsuan. Sebagai pelayan Crusch-sama, saya berkewajiban untuk bertarung demi nyonyaku. Ini pun harapan yang melampaui tanggung jawab saya.”

“Kalau bisa, kau ingin menangkap Uskup Agungnya hidup-hidup, dan menanyakan mereka gejala-gejala itu. Apakah demikian motif Wilhelm-san?”

“Sesuai perkataan Anda. Karenanya, mohon tinggalkan penaklukan Kenafsuan kepada saya.”

Mata birunya dipenuhi kehendak gigih, menyebarkan aura pendekar pedang hingga menyelubungi ruangan.

Melihat tekad serta kesetiaan terpendam dalam tatapan Wilhelm—tiada orang yang bisa mengeluarkan kata setengah hati kepadanya.

Tiada selain darah-dagingnya sendiri.

“Sejujurnya, aku menentang itu.”

“… Reinhard.”

Selagi semua orang dikuasai aura pendekar pedang tersebut, hanya ekspresi Reinhard yang tidak berubah. Wajah seriusnya menatap Wilhelm seperti biasa ….

“Kakek saat ini sudah tidak tenang. Tentu saja, membenci Uskup Agung yang melukai Crusch-sama dapat dipahami. Akan tetapi, aku tidak yakin kakek bisa memenuhi tujuan dengan kondisi mental itu.”

“Diriku yang tidak tenang akan mengganggu tujuanku? Itukah perkataanmu?”

“Seandainya hanya demi Crusch-sama, gagal menangkap Kenafsuan takkan termaafkan. Oleh sebab itu, aku yang akan mengambil tugasnya. Paling tidak, aku sanggup menghadapinya dengan kondisi mental lebih baik.”

Reinhard benar, setidaknya perkara mengamankan kepastian sebisa mungkin. Wilhelm kelewat blak-blakan dan telah kehilangan ketenangannya, namun dia tidak salah soal itu. Tetapi, dihadapkan permintaan Reinhard, Wilhelm melonggarkan bibir.

Tanpa kelembutan sedikit pun, bagaikan senyum hewan buas.

“—tidak tenang di sini adalah berkat, Reinhard.”

“Walaupun demikian, kakek ….”

“Kau pikir kakekmu siapa? Akulah Wilhelm sang Pedang Iblis. Tujuanku satu-satunya adalah mengayunkan pedang, tetapi aku masih jatuh cinta pada wanita tercintaku … kendati cara hidupku, setengahnya menyimpang, pada akhirnya, perihal sesuatu yang perlu dilakukan, takkan aku biarkan tidak selesai!”

Senyum berani muncul pada Wilhelm yang biasanya kesannya tegas dan lunak. Mengingatkan darah, besi, serta kehidupan berapi-api, bagaikan iblis yang hatinya dihancurkan pedang.

Namun bahkan saat ini pun, masih ada sentuhan kehangatan dalam mata iblis tersebut.

“Ketika aku memutuskan menggunakan pedangku, hatiku terangkat. Hilang ketenangan atau tidak, di medan perang semuanya sama bagiku. Begitulah caraku hidup sampai usia ini. Kali ini pun, aku tidak berniat membusuk tanpa membayar kewajibanku kepada Nyonyaku.  Kekhawatiran sia-siamu tidak penting.”

“Biar begitu, bukan semata-mata masalah idealisme ….” timpal Reinhard.

“Idealisme yang digenggam hingga akhir akan menjadi keyakinan. Sekalipun butuh empat belas tahun, pedang tumpul ini masih memenuhi balas dendamku terhadap musuh yang membunuh istriku.”

Mendengar keyakinan Wilhelm yang membunuh Paus Putih dan melunasi kematian neneknya sepenuhnya, Reinhard tidak mampu mengatakan apa-apa. Namun demikian, kala itu, mata Reinhard menurun. Melihat sikap keras kepala cucunya, Wilhelm melanjutkan, “Lagipula ….”

“Ini bukan medan tempurmu. Pertempuranmu berada di tempat lain.”

“Pertempuran yang membutuhkanku ….”

“—Subaru-dono. Mohon bawa cucuku bersamamu menuju pertempuranmu. Untuk menyelamatkan Emilia-sama, kau akan bertarung melawan Keserakahan. Reinhard harus bertindak sebagai pedangmu.”

Mendadak mendengar namanya, mata Subaru membelalak. Seakan ditarik oleh Wilhelm yang mengangguk-angguk, sorot mata Reinhard pun menuju ke arahnya. Melihat itu, Subaru menggaruk kepala dan memutuskan tidak bisa dirubah.

“Aku sebetulnya ingin menunggu sampai masalah Kenafsuan selesai sebelum membahas ini …. Tapi, ya. Kekuatanmu sejujurnya adalah sesuaut yang ingin aku pinjam dalam pertarunganku melawan Keserakahan. Membunuh bajingan sinting itu, aku pikir pasti membutuhkan kekuatanmu.”

Regulus sang Keserakahan terbayang dalam benaknya.

Menurut potongan-potongan informasi kekuatan Uskup Agung, kekuatan Regulus paling berbahaya dari kesemuanya.

Sekalipun Subaru tidak bisa yakin, dalam situasi ini, dia tidak membayangkan menyebutnya dengan panggilan lain seperti Tak Terkalahkan. Tentu saja dia tak begitu saja menganggapnya eksistensi Tak Terkalahkan. Pasti ada semacam kelemahan atau batasan padanya.

“Untuk menerobos pertahanan Tak Terkalahkan Regulus, kita harus melawannya dengan ofensif setara. Kemampuan ofensif serta defensifnya barangkali yang terkuat dari Uskup Agung, pikirku. Lantas aku ingin meminjam kekuatan Reinhard saat kita menyerangnya.”

“Lawan tak tersentuh …. Tentu saja, untuk monster semacam itu, aku pilihan tepat. Akan tetapi ….”

Bahkan sesudah mendengar kekuatan absurd Regulus, keraguan Reinhard tidak hilang. Tetapi, melihat kecemasan Reinhard, terdengar suara lain.

Suara itu tidak lain asalnya dari sebelah Subaru.

“—baiklah. Kakek Wilhelm bakal pergi sama gua.”

Garfiel melangkah maju sambil menggertakkan taring tajamnya selagi menatap Reinhard. Kaget, Reinhard balas menatap seakan berkata, ‘Kau?’

“Kapten milih lu. Dan gua tahu keahlian lu juga. Jadi gua ga bakal dibutuhkan buat menyelamatkan Emilia-sama. Benar, Kapten?”

“Tidak, Garfiel …. Aku tidak bilang begitu ….”

“Gua kaga butuh hiburan. Gua bilang begini bukan berarti sedih. Malah sebaliknya. Kali ini, ada bajingan lain yang mesti gua urus.”

Alisnya mengkerut karena tingkah kasar Garfiel, Subaru akhirnya tersadar.

Memang. Di antara mereka yang telah diubah oleh Kenafsuan selama perebutan Balai Kota, ada satu orang yang dekat dengan Garfiel—orang yang berubah menjadi naga hitam. Jadi, bagi Garfiel, Kenafsuan bukan musuh yang tak terkait dengannya. Lagian—

“Betul kita ga bisa maafin itu lonte, tapi bukan itu aja. Pas gua bertarung ngelawan duo itu, Kenafsuan di sana ….”

“—”

“Karena kesalahan gua, ada orang idiot yang terluka padahal harusnya engga. Karena itu gua mesti berjuang sekuat tenaga. Jadi, gua bakal ngikut kakek.”

Menerima sorot mata tajam Garfiel, Wilhelm mengangguk diam.

Dengan ini, pendekar pedang tua bersama petarung muda bersatu untuk membalas dendam. Menuju akar semuanya, keduanya terdorong pikiran seorang wanita yang mereka pedulikan.

Melihat raut wajah Garfiel, Subaru tidak bisa bilang apa-apa lagi.

“Barangkali agak terlambat saat ini, tapi, kekuatan Kenafsuan adalah Variasi dan Perubahan. Dia mengubah dirinya sendiri dan juga mampu memaksa orang lain bermutasi. Selain itu, darahnya. Apa pun yang terjadi, jangan sampai menyentuhmu. Luka Crusch-san karena itu. Dari sisi kepribadian … mereka semua mengerikan, tapi dia sangat-sangat buruk.”

“Dimengerti.”

“Nanti kami injak mereka ampe hancur.”

Menanggapi konfirmasi akhir Subaru, baik Wilhelm maupun Garfiel sama sekali tidak berniat mundur.

Akhirnya, Subaru menatap Reinhard, bahkan sang Pedang Suci pun menghadapi keteguhan tekad mereka berdua, sepertinya tidak lagi ingin menyangkal.

“Baiklah. Aku meyakini kemampuan Garfiel. Dan bila mana kakek ikut, bersama, mereka sanggup membunuh musuh mana pun yang barangkali akan dihadapi, itu pasti.”

“Sebenarnya, kata-kata lu gak betul-betul memuaskan. Kek: Torktoi itu sederhana tapi rasanya super, tahu.”

“Aku sungguhan. Aku tidak meragukan kemenangan kakek. Aku sendiri pun akan menjadi pedang Subaru.”

Garfiel menggaruk wajahnya yang kelihatan tidak senang sementara Reinhard mengangguk ke Subaru. Mendengar kata-kata penuh andalan Pedang Suci, Subaru merasa seakan dia diperkuat pasukan sepuluh ribu orang.

“Maaf atas permintaan egois ini, Reinhard.”

“Tidak apa. Di manapun medan perangku, aku akan berusaha yang terbaik. Seandainya itu membantumu, maka aku tidak bisa berharap lebih.”

“Juga maaf karena selalu mengandalkanmu. Aku akan mengandalkan kekuatanmu, tapi … aku pun akan berusaha mengisi bagian kurang mana pun dari dirimu, jadi tolong nantikan itu.”

“….”

Mendengar kata-kata tersebut, mata Reinhard membelalak dan terdiam. Subaru memiringkan kepala melihat reaksi jarang ini, lalu Reinhard cepat tersenyum dan berkata, ‘Tidak’.

“Untukmu … tidak masalah sama sekali—Benar juga, akan aku nantikan. Kau mengisiku … bagian yang tak mampu kucapai.”

“—? Ooohh, kalau begitu serahkan padaku. Serahkan padaku. Baiklah, mungkin jelas dari aliran percakapannya, tetapi selanjutnya adalah Keserakahan ….”

“—maka, aku dan Ricardo akan menanganinya.”

Melanjutkan kalimat Subaru, suara lirih Julius berkata. Mendengarnya berbicara dengan suara kasar tidak seperti diri biasanya, Anastasia menatap cemas kesatrianya.

“Julius, kau baik-baik saja? Dari tadi, emosi rumitmu tidak bagus-bagus amat ….”

“Maaf sudah membuat Anda resah. Akan tetapi, saya baik-baik saja. Perkara baik atau tidaknya raga ini, saya tidak boleh komplain lemah di depan Subaru.”

“Itu, maksudmu apa.”

“Tentu saja, aku memikirkan kesulitan kakimu selagi aku bicara. Tolong jangan membentakku seperti itu. Dalam situasi seperti ini, aku tidak mau adu argumen denganmu.”

“Hmph ….”

Subaru menerima banyak serangan dari motif yang tidak dia pikirkan. Pada saat yang sama, Subaru punya firasat aneh mengenai sesuatu yang tidak sesuai. Penampilan Julius kelihatan aneh seperti yang Anatasia rasakan. Kenapa itu, Subaru masih tidak tahu, namun kemudian ….

“Ricardo dan aku akan bertanggung jawab atas penanganan Kerakusan. Awalnya, Subaru dan Wilhelm-san adalah musuh mereka. Karena ikatan mereka dengannya, mereka ingin melawannya sendiri. Sebab kalian memberikan tugas ini kepada kami sembari menahan perasaan itu, kami pasti akan melaksanakannya dan kalian berdua tinggal melihatnya saja.”

“… aah, seperti itu.”

Yang dirasakan Julius adalah, Subaru ingin menaklukkan Kerakusan sendiri. Wilhelm pun juga, di atas mereka sekarang Crusch masih menderita dan merasakan hal serupa.

Karena Wewenang Kekuasaan Kerakusan adalah pemakan ingatan serta nama—memikirkan Rem yang masih tertidur dan menderita keduanya, Subaru ingin menghancurkan Kerakusan sepenuhnya dengan tangannya sendiri.

Memukul, menendang, menginjak, memaksanya menyesali kekejaman atas perbuatannya, mengacak-acak wajahnya dan memaksanya membungkuk ke tanah hingga dia tobat, Subaru ingin melakukan itu.

Peran tersebut, telah dia berikan kepada orang lain—

“Tidak peduli siapa pun itu, sejujurnya, aku tak ingin menyerahkannya. Rem. Aku ingin mengembalikannya. Pengennya dia kembali ke diri lamanya. Aku yakin melakukan itu adalah peranku.”

“….”

“Tetapi, kalau itu takkan bisa kecuali aku percayakan kepada seseorang, maka akan aku serahkan kepadamu. Jangan salah paham. Ini proses eliminasi …. Bahwa dengan proses eliminasi tidak ada yang diragukan lagi, tapi akan aku serahkan padamu. Bagiku, kaulah satu-satunya orang yang bisa aku toleransi untuk mengurus peran ini, walaupun aku tidak menyukainya.”

Eksistensi dan memori Rem sedang disandera.

Kebebasan Emilia direnggut, dia dia masih menunggu datangnya bantuan.

Keduanya berharga bagi Subaru, dua-duanya adalah orang-orang berharga yang harus dia dapatkan kembali, dan Subaru ingin menunjukkan sisi kerennya kepada mereka berdua.

Akan tetapi, Subaru adalah kesatria Emilia, juga pahlawan Rem.

“Akan aku tumbangkan Keserakahan, dan aku selamatkan Emilia. Menghempas Kerakusan, aku serahkan kepadamu …. Jangan kacaukan.”

“—terhadap ekspektasimu, akan aku tanggapi. Terutama kali ini, pastinya kali ini.”

Dengan anggukan tegas, Julius menerima izin Subaru.

Kesatria yang dipanggil Terhebat lalu menatap Wilhelm, dan sedikit mencondongkan kepala.

“Wilhelm-sama.”

“Yang ingin kukatakan, Subaru-dono telah menyebutkan sebagian besarnya. Memang benar perasaanku soal Kerakusan tidak harmonis …. Dan juga, aku akan mempercayakannya kepada Julius-dono. Terlampau banyak keparat terlibat dalam hal ini.”

Pedang Iblis yang mulai menajam, Julius kelihatannya mendapat sedikit keberanian. Ricardo yang dari tadi diam saja mengamati percakapan mereka, kini berbicara:

“Apa, nih, opiniku bahkan tidak diminta dalam pembicaraan ini. Bahkan aku pun tidak terlalu dipedulikan, ya! Karena susunan pasukan sejauh ini sudah terbaik, aku menyetujuinya.”

“Ricardo sungguh-sungguh ingin perhatian. Orang besar tapi jengkel seperti itu membuatmu kelihatan imut, tahu …. Julius, aku minta hal ini darimu.”

“Santai. Pernah lihat aku berbohong? Ana-bo.”

“Gunakan gelar itu, bisa kau hentikan? Aku ini, Nona Ricardo, tahu.”

Ricardo tertawa terbahak-bahak ketika melihat wajah sebal Anastasia dan pipinya yang menggendut. Pupil hitam yang menyorot Anastasia, punya kilat-kilat baik di baliknya.

“Kalau begitu, dengan ini, susunan pasukan telah ditentukan, benar.”

—mengikuti komentar Subaru, semua orang yang hadir di meja bundar mengangguk.

“Menyerang Sirius sang Kemarahan adalah Priscilla dan AI. Menghitung Liliana, totalnya tiga.”

“Gagasan diriku menyerah pada permainan emosi, itu menggelikan. Menunjukkan lawanku yang sedari awal telah salah di waktu yang salah sembari menghadapi musuh yang salah, orang tolol tak berdaya itu layak mendapat pelajaran!”

“Aku cuma bernyanyi~, aku cuma bernyanyi~, itu aku, cuma segumpal daging yang bernyanyi! Jangan hargai hidupmu, hargai panggungnya. Oke, bagus, rasanya aku bisa. Sekarang, aku beneran merasa bisa melakukannya!”

“….”

Priscilla mengipasi dirinya sendiri sedangkan Liliana tengah menghipnotis pribadinya yang hasilnya meragukan. Raut wajah AI tidak kelihatan, tetapi kepalanya yang tidak yakin masih terlihat dari seluruh tubuhnya. Sekalipun trio itu agak merisaukan, kepercayaan diri mereka paling kuat di sini.

“Selanjutnya, menangkap Kenafsuan, Garfiel dan Wilhelm-san.”

“Ngerti. Gua yang hebat ini bakal nyekik dia sampe nangis, ampe minta maaf.”

“Mohon serahkan kepadaku—dengan kami berdua, tidak perlu khawatir.”

Pasangan yang tekad bertarungnya terbesar, mungkinkah mereka berdua?

Wilhelm sang Pedang Iblis mengemban kewajiban Nyonyanya, juga istrinya yang takkan pernah dia lupakan sesaat pun.

Adapun Garfiel, ada sesuatu dalam dirinya yang tidak dipahami, emosi yang membuat perasaannya gentar.

Barangkali kedua prajurit ini sama-sama mencari jawaban di pertempuran depan sana, dia tidak yakin perasaannya demikian atau tidak.

“Dan soal penaklukan Kerakusan, adalah kalian berdua, Julius dan Ricardo.”

“Tidak lain dari kalian berdua, kita telah dipercayakan tugas ini. Pasti akan diselesaikan. Seperti ini, karena itulah aku akan meniadakannya.”

“Keluargaku, bansat-bangsat sialan itu membuat mereka menderita. Aku sudah tahu tanpa mendengarnya. Aku tinju mereka, pukul mereka keras-keras sampai nangis.”

Pasangan ini memiliki koneksi paling tipis dengan Kultus Penyihir. Namun harapannya, mereka tidak ketinggalan jauh dari pasangan lain, karena sudah jelas mereka berdua sangat menghormati lawannya.

Bersama, Subaru sudah mengatasi kesulitan bersama mereka. Tiada keraguan pada rekan-rekan seperjuangan ini.

Oleh sebab itu, pilihan mengalahkan Kerakusan menjijikkan diserahkan kepada mereka.

“Yang terakhir adalah Keserakahan, aku dan Reinhard berpasangan. Aku mengandalkanmu?”

“—aah, serahkan kepadaku. Aku pun mengandalkanmu, Subaru.”

Mendengar permintaan Subaru, kepala Reinhard mengangguk tegas seperti biasanya. Tetapi sesuatu pada wajahnya nampak lembut, dan ketika berada di tengah pertempuran parasnya mungkin kelihatan tak tulus, namun kini perawakannya terlihat terselimuti kemanusiaan.

Mengapa kelihatan meyakinkan sekali, Subaru tidak tahu.

“Maka, dengan ini, pilihan pertarungannya telah diputuskan. Perkara memilih lokasi untuk menempatkan Cermin Konversasi sebagai pelaporan, barangnya sendiri total ada tiga. Asumsikan aku tinggalkan satu di Balai Kota …. Dan sisanya, harus diapakan?” kata Subaru.

“Secara pribadi, aku ingin seseorang mengambil satu untuk Kemarahan. Satunya Kenafsuan atau Kerakusan, salah satunya oke-oke saja, pikirku.” kata Subaru lagi.

“Alasanmu?’

“Kemarahan adalah seseorang yang mempengaruhi seluruh kota. Entah mereka termakan atau tidak, situasi kotanya akan berubah. Sebab itu, informasi adalah sesuatu yang ingin aku bagikan secara cepat.”

Perihal penggunaan Cermin Konversasi, mereka semua mengangguk seakan saran Subaru benar. Sedangkan alasan membawa Cermin satunya ke Keserakahan ….

“Tidak usah dikatakan, tetapi Reinhard akan melawan Keserakahan. Anggap hal-hal lain tentang Keserakahan selain kekuatannya yang tak diketahui itu benar, tapi aku tidak bisa bilang kemungkinan dirinya langsung diatasi itu mustahil. Seandainya begitu, aku ingin mengatur situasi di mana Reinhard dapat dikirim sebagai bala bantuan.”

“Akan tetapi, kecuali tim Keserakahan memiliki Cermin Konversasi, maka berbagi informasi tidaklah mungkin, kan? Tapi, aku tentu yakin pendapat Natsuki-san benar banget.”

“Jawabannya sederhana. Gunakan alat siaran sihir. Dengan siaran ke seluruh kota, aku ingin kita memberi tahu semua orang perihal tempat-tempat yang memerlukan bantuan. Menggunakan Cermin Konversasi, Anastasia-san akan mengatur semua informasinya, dan bertanggung jawab untuk menyampaikannya ke semua orang. Bagaimana?”

“Menurutku itu bijaksana. Kadang-kadang kepalamu jalan, Natsuki-kun.”

Anastasia tertawa dan ekspresinya terkesan, memberikan Cermin Konversasinya ke Priscilla. Priscilla menangkapnya dengan kipas, kemudian digulungkan ke depan Liliana.

“Uwa, wa, uwaah!?”

“Biduanita, ambil itu. Karena aku sendiri tidak bisa mengangkat sesuatu yang lebih berat daripada perlatan makanan.”

“Kipas itu, hampir seberat beberapa piring hidangan. Jangan sombong dong.”

“Jangan berbicara sebodoh itu, periksa desain ini. Kemewahannya terdapat emas dari luar-dalam, dan dari beratnya saja, jangan samakan dengan piring-piring hidangan.”

“Bukannya itu lebih berat dari piring hidangan ….”

Apa pun yang dikatakan Priscilla, ujung-ujungnya tak diterima Liliana. Mengabaikan Liliana yang cepat-cepat membetulkan rambutnya di depan Cermin, Cermin Konversasi terarkhir diberikan ke Wilhelm.

“Mempertimbangkan jumlah musuh, pihak Kenafsuan lebih membutuhkan Cermin ketimbang kelompok Kerakusan. Dua orang oke-oke saja, kupikir, tapi langsung hubungi Anastasia jika tampaknya berbahaya.”

“Dimengerti, aku pasti akan mengontak beliau.”

Memikirkan Julius, Wilhelm meletakkan Cermin di saku dadanya.

Akan tetapi, penilaiannya agak mengkhawatirkan. Karena, Wilhelm bisa saja tersulit amarah panas dan mengabaikan instruksinya mulai dari sekarang. Garfiel apalagi,  tipe orang yang akan meledak saat diprovokasi sedikit.

—bagaimanapun, persiapan pertempurannya telah selesai.

“Aku akan pergi, sedikit waktu lagi. Sewaktu itu berakhir kita akan memulainya, Operasi Pengambilalihan Menara Pengendali.”

Mendengar kata-kata Subaru, semua orang yang hadir menjawab dan kepala mengangguk. Namun, melihat mereka semua terdiam, penampilan tenang nan tegang mereka, Subaru pikir suasananya entah bagaimana buruk.

“Kalau wajah kalian marah, bukannya ada firasat hal-hal buruk akan semakin dekat?”

“Sekali lagi pertanda hal aneh yang dikatakan Natsuki-san akan terjadi.”

“Tidak aneh. Ini penting. Mau sebesar apa pasukan berkumpul, apabila moralnya rendah, mereka jadi tidak berguna. Aku tidak bilang moral kita rendah di sini, tapi kurasa motifku tak buruk. Jadi, ayo teriak.”

Sambil bertepuk tangan sekali, Subaru berdiri.

“Ayo habisi, semuanya! Dengan pertarungan ini, menyingkirkan bajingan-bajingan yang mengganggu kota! Kultus Penyihir akan gagal dan kita akan meraih akhir bahagia!”

“….”

Didesak Subaru, muka mereka saling memandang. Kemudian, mengangguk ….

“Hooooohhhhh—!”

Demikian, dibalas balasan moral tinggi.

Semisal mereka sanggup memberi jawaban bagus, maka mereka pasti akan baik-baik saja.

Anggota sebanyak ini, perintis sebanyak ini, bukanlah sesuatu yang bisa dipersiapkan lagi.

—perebutan kota, dimulai dengan sungguh-sungguh.

“—pertarungan ini, akan jadi kemenangan kita!”

Subaru yang mengatakan hal sesukanya, rapat meja bundar berakhir.

Pada suatu waktu kemudian, sensasi lumpuhnya memulih, perlahan-lahan kesadarannya kembali ke kenyataan.

Ketika kenyataan mulai masuk lewat indra mengantuk, perasaan di tangan dan kakinya kembali secara alami.

Kemudian, tatkala sensasi menyebar ke seluruh tubuhnya, pelukan sesuatu yang lembut adalah sensasi pertamanya.

Hangat, menenangkan bagaikan bulu binatang besar yang membungkusnya.

Dia sudah merasakan sesuatu yang mirip-mirip dulu kala. Dulu-dulu kala, sewaktu dia masih muda, saat tubuhnya tidak bisa mengikuti para peri, waktu-waktu dirinya takut tidur sendirian.

Kini jauh dari sensasi tekstur bulu itu, sudah lama waktu berlalu semenjak itu.

“—ah.”

Awalnya, matanya berkaca-kaca karena sentuhan nostalgia.

Mengesampingkan keinginan konyolnya untuk tetap merasakan kehangatan, dia berangsur-angsur membuka mata.

Bulu mata panjangnya bergetar, pupil kecubung menatap kosong dunia.

Dia berada di sebuah ruangan yang langit-langitnya tinggi, dekorasi yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Berbaring di tempat tidur sana, dia mendapati dirinya terselimuti selimut panas yang terbuat dari bulu berkualitas.

Satu orang asing duduk di sampingnya telah selesai membersihkan wajahnya dengan handuk basah.

“Kau ….?”

“….”

Ketika Emilia membuka mata dia ditatap seorang wanita cantik yang wajahnya putih bersih. Lebih tepatnya wajah yang sedikit pucat, paras cantik tanpa ekspresi bagaikan boneka. Kecantikannya seolah-olah mampu menerangi ruangan dengan senyumannya saja, namun wajah kakunya bak topeng yang tak dapat tertawa.

Bangkit berdiri, rambut panjangnya tergerai di belakang, wanita bergaun hitam seketika meninggalkan ruangan.

Emilia buru-buru memanggilnya, tapi sesaat dia cemas karena tidak tahu namanya, pintu sudah tertutup. Dan, dia kini sendirian.

“Di sini … aku penasaran ini di mana?”

Walau enggan, dia duduk di tempat tidur.

Meskipun dia sedikit lelah, tidak ada rasa sakit atau tanda-tanda kondisi buruk terasa. Beratnya pasti karena kebanyakan menggunakan sihir yang belum biasa dia gunakan, oleh karenanya itu pertanda bahwa tubuhnya tidak sanggup menahannya.

Setelah sampai sejauh itu, dia langsung ingat situasinya.

“Oh iya. Ah, di alun-alun, aku melawan orang aneh, terus ….”

Melanjutkan, kepalanya terlintas kejadian-kejadian tepat sebelum dirinya pingsan.

Monster yang wajahnya terbalut perban—dia yang Subaru panggil Kemarahan, kecakapan tempur menakutkan dan amarah yang sangat menyeramkan mengincar Emilia. Sejenak, dia unggul, namun kemudian kalah karena kekuatan api membara, dia dihempaskan—

“Kemudian, aku pasti pingsan. Tapi, aku masih hidup.”

Dan dia dikalahkan, tidak salah lagi situasinya menyedihkan.

Seseorang barangkali datang membantunya. Subaru serta Beatrice sudah ada di sana, boleh jadi dia diselamatkan mereka berdua. Lalu, hatinya dihancurkan kesedihannya sendiri.

Emilia menunjukkan sikap seperti itu ke Subaru, dan bicaranya besar sekali, bukan hanya kalah, dia dibantu pula.

“Mmmn, bukan waktunya bersedih. Biarpun aku tidak melakukannya, aku sudah terlanjur berangkat, jadi bukan waktunya untuk berhenti melangkah dan menyesal. Aku menyesal di tengah jalan saja.”

Menepuk pipinya yang seputih salju dengan kedua tangan, dia mulai lebih bersemangat. Saat-saat depresinya adalah waktu yang terbuang sia-sia.

Disediakan tempat tidur dan selimut. Bahkan diawasi penjaga, tempat ini pasti rumah seseorang yang baik hati. Karena Emilia tidak dibawa ke rumahnya sendiri, situasinya sendiri barangkali cukup parah.

“Tapi aku tidak sakit sedikit pun, lantas mungkin penyembuh terampil …. Eeh?”

Sambil berusaha berdiri, Emilia menyadari sesuatu pada dirinya sendiri.

“Aku, telanjang.”

Pas kakinya menyentuh lantai, dia menyadari bahwa tidak sehelai kain pun menutupi tubuhnya. Kepala Emilia memiring, pertama-tama dia membungkus selimut ke tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Menatap sekeliling ruangan, melihat sekitar berharap terdapat sesuatu untuk dikenakan, namun sayangnya tidak menemukan apa-apa.

“Mmn, aku harus bagaimana? Kalau meninggalkan ruangan seperti ini, tingkahku akan dianggap buruk ….”

Sebelum meninggalkan hutan, ketika dia mempelajari hal-hal di luar sana, dan belajar banyak hal dari Puck, poin itu secara energis sudah mencantol di kepalanya.

Dia tidak boleh menunjukkan kulitnya di depan orang lain. Mengikuti aturan itu, maka penampilannya sendiri sekarang jadi masalah ….

“Tetapi, karena aku mengkhawatirkan semua orang, mau bagaimana lagi karena situasinya darurat.”

Pertarungan melawan Uskup Agung Dosa Besar dan kesimpulannya, dia mesti mencari tahu secepat mungkin. Tugas tersebut sebagai pembenaran, Emilia keluar ruangan mengenakan satu selimut.

Berjalan keluar menuju koridor, jelas bukan bangunan yang pernah dia lihat sebelumnya. Hanya saja, dibanding bayangannya, bagian luar ruangan memberi kesan aneh sederhana pada lorong dingin.

 “Kupikir berada di suatu tempat mansion, tapi itu sepenuhnya salah. Mmn, apa cuma ruangan ini yang aneh?”

Berbalik, dia melihat kamar tempatnya tidur.

Tempat tidur besar, dan lemari kecil. Akan tetapi, setelah diperiksa baik-baik, dia tidak bisa lepas dari kesan bahwa ada sesuatu yang tak seimbang tentangnya. Kesan tempat tidur serta perabotan lainnya telah dibeli dan berantakan ditumpuk dalam ruangan kosong.

Mungkin itu tidak salah.

Memeriksa suasana koridor, jelas ini bukan tempat yang dimaksudkan untuk orang tinggal. Ini tempat orang bekerja. Apabila telinganya memfokus, suara air samar-samar serta sesuatu kecil dapat terdengar.

Selagi Emilia membingungkannya, di sana—

“Ah, sepertinya kau sudah sadar, melegakan sekali, betapa melegakan. Aku lega kau baik-baik saja.”

Mengucapkan demikian, Emilia berbalik.

Ketika itu di ujung koridor, seorang pria muncul. Setelah menemui Emilia, pemuda berambut putih menyeringai kepadanya.

“Tapinya, aku tidak tenang kau berjalan-jalan tepat setelah bangun tidur. Banyak hal terjadi dan besok adalah hari besarmu, lantas sekiranya ada sesuatu dalam tubuhmu, pasti itu sakit kepala. Bagian itu, aku menghimbau agar lebih hati-hati beraktivitas. Terlebih lagi karena itu bukan hanya tubuhmu, maksudku.”

“Kalau begitu, kau ….?”

Berkedip, Emilia menatap pemuda yang berbicara dengannya.

Tindakan mempersempit celah antara keduanya dengan satu langkah entah bagaimana mirip Subaru. Namun perbedaan penting antara dia dan Subaru adalah tingkahnya sama sekali tidak diperuntukkan untuk menghormati orang lain.

Kebajikan Subaru berlawanan, dan pemuda di hadapannya sama sekali tidak hormat. Seolah-olah tak merasa bersalah kepada orang lain.

—di saat yang sama, Emilia mengingat perasaan yang tak mampu diungkapkannya kepada pria muda di depannya.

“Begitukah, maaf, maaf. Bahkan aku melihat wajah tidurmu, namun ini kali pertama kau melihatku, begitukan. Bahkan aku belum mengenalkan namaku. Entah apa pun hubungamu denganku, sikap tak sopan ini tidak diperkenankan. Waktu itu aku terlalu tergesa-gesa, salahku. Sungguh, aku minta maaf saat meminta maaf. Karena aku manusia yang bisa melakukannya.”

“I-iya ….”

Emilia lumayan kasar membalas pemuda yang bicara lancarnya tidak berhenti-henti.

Alasannya adalah karena perilakunya membuat Emilia kewalahan, namun makna lebih signifikan terkandung di dalamnya. Karena, alam bawah sadar Emilia menarik minatnya.

‘—pria muda ini, entah di mana, aku ingat pernah melihatnya sebelumnya’.

“Pemandangan sia-sia, sayang sekali tempat ini kurang suasananya. Tapi aku pun yakin, ketika kau mengingat masa lalu, kau akan menganggap ini momen spesial. Andai kau menganggap ini bukan hal buruk. Kebahagiaan kecil hari demi hari itu, lebih dari cukup untuk mencerahkan jalan yang disebut kehidupan. Jikalau bersamamu, maka aku pasti dan lebih-lebih lagi berpikir demikian. Alih-alih berada di tempat buruk, meliankan melihat sisi baiknya, itu jalan hidup yang ingin dicoba. Kau berpikir seperti itukah, Emilia?”

“Aku tak ingat pernah memberitahu namaku …. Jadi, kau siapa?”

“Duh, maaf. Seketika perasaanku meninggi, tanpa sadar aku mulai berhenti memperhatikan lingkunganku, itu kebiasaan burukku. Oleh karenanya, aku sesekali membenci kepribadian penuh kasih sayangku. Boleh jadi kaulah yang membuatku merasa sepeka ini. Lalu, namaku, benar.”

Setelah jalan memutar panjang dan berliku-liku, pemuda ini nyaris memasuki gedung utama.

Kulitnya merasa kesemutan membara, Emilia tak mengalihkan pandangannya dari tingkah si pemuda. Bahwa keselamatannya sendiri berisiko, dia secara intuitif paham. Penyebab intuisi itu adalah, pria muda di hadapannya.

“Namaku Regulus Corneas. Aku menjabat posisi eksekutif dalam kelompok tertentu, namun hal itu tidaklah penting bagimu. Hal pentingnya hanyalah satu. Bahwa akulah suamimu, dan kaulah istri ke-79-ku.”

“… eeeh?”

Si pria muda menyatakan namanya—Yang Regulus katakan dengan luar biasanya, artinya tak Emilia mengerti. Emilia risau, alis indahnya mengerut. Tapi, Regulus tidak memedulikan reaksi Emilia, semata-mata menatap tubuh seorang gadis yang cuma ditutupi sehelai kain tipis.

“Penampilan itu beracun bagi mata. Akan kupesan baju ganti dan nanti segera dibawakan. Bersantailah. Situasi mereka sama sepertimu, istri-istri lainku. Mengenakan pakaian pernikahan adalah sesuatu yang biasa mereka lakukan.”

“Pakaian pernikahan, maksudmu apa? Tidak, bukan itu saja. Memanggilku istrimu, maksudmu apa?”

“Ohya, Aku melupakan hal penting! Bagi orang sepertiku, itu bahaya.”

Emilia membuka mulut dan mengajukan pertanyaan lain, tetapi Regulus tak mendengarkan. Tangannya menepuk, dan pelan-pelan meraih bahu Emilia seraya hendak bertanya. Ketika Emilia merasakan kekuatan aneh dari jemari-jemari itu, Emilia mengerutkan kening. Cukup dekat hingga menyentuh dahi Emilia, Regulus menatap matanya.

“Aku melupakan pertanyaan yang kelewat penting. Pernikahanmu akan dihelat setelah ini. Emilia, ini penting, jadi aku ingin kau menjawabnya dengan hati-hati. Demi masa depan kita, ini sungguhan penting.”

“….”

Mendengar tekanan aneh tersebut, Emilia menelan napasnya dan terdiam.

Menganggap sikapnya sebagai tanda setuju, Regulus tersenyum. Sembari tersenyum, dia bertanya:

“Emilia, apa kau masih perawan? Itu saja, ini benar-benar penting.”

Dia bertanya sambil tersenyum.

9 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 47”

  1. Nooooooooooooooooooo Regulus bajingannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn mati kau taiii anjieeeeeeeeeenggggggggggfffffffggggggggg jangan sentuh EMILIA guaaaaaaaaaaaaaaaaaaa 😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠😠

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *